Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

SISTEMATIKA HEWAN VERTEBRATA


IDENTFIKASI MORFOLOGI DAN KUNC DETERMINASI KELAS
ACTYNOPTERYGII

OLEH:

KELOMPOK IA
NABILLAH HAZIMAH (1710423009)
DEA SYARANNITA (1710421003)
TITIEK RUKMINI (1710421027)
PANJI CHRISTY (1710422007)
MELDA YUNITA SARI (1710422017)
RESA ELITA (1710423029)

ASISTEN PJ: UMMI KURNIA PUTRI


THORIQ ALFATH

LABORATORIUM TEACHING IV
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2018
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan merupakan kelompok vertebrata terbesar (terbanyak), yaitu sekitar 17.000 jenis

atau 42,6% dari keseluruhan vertebrata di dunia yang berjumlah sekitar 37.600 jenis.

Secara umum, ikan dapat diartikan sebagai kelompok vertebrata akuatik poikilotermal

(berdarah dingin) yang memiliki insang untuk bernapas dan bergerak dalam air dengan

bantuan alat berupa sirip. Penyebaran ikan sangat luas, ikan dapat di temukan hampir

seluruh bagian dunia mulai dari ketinggian 3800 meter di atas permukaan laut yaitu

pegunungan Andes sampai kedalaman 10 km di Samudera Pasifik (Ario, 2010: 32).

Tubuh ikan umumnya ditutupi oleh sisik, yaitu tulang tipis tersusun seperti genteng.

Kulit luar pada ikan berlendir untuk memudahkan bergerak di dalam air (Irianto,

2009).

Ikan tersebar di seluruh perairan dunia yaitu 5% di laut, 41% di air tawar dan

1% di estuari. Pengamatan yang menunjang upaya konservasi dan pemanfaatan ikan

secara lestari pun masih sangat langka, bahkan upaya untuk menelusuri kembali

kumpulan spesies yang telah dikenal dalam publikasi-publikasi yang ada belum

tersedia. Akibatnya sangat sulit untuk mengetahui keberadaan ikan tersebut. Indonesia

merupakan negara kepulauan dengan keanekaragaman ikan yang sangat beragam yaitu

sekitar 8 jenis ikan dalam 428 famili (Julian, 2000).

Dalam mengenal dan mengelompokkan ikan, para ahli taksonomi juga

memerlukan ciri-ciri morfologi dari ikan tersebut. Bentuk dan ciri morfologi dari kelas

Pisces ini berbeda-beda, sesuai dengan kondisi lingkungan yang menjadi habitatnya.

Berbagai bentuk ciri morfologi mendorong kita untuk mempelajarinya sehingga

mampu mengidentifikasi jenis-jenis ikan yang ada. Selain itu, tidak semua jenis ikan

bisa dikonsumsi manusia. Ada beberapa jenis ikan memiliki bagian tubuh yang

berbahaya. Dengan mempelajari ciri morfologi ikan ini, kita mampu menghindari
bagian tubuh ikan yang berbahaya tersebut. Tidak hanya itu saja, pentingnya ilmu

morfologi ikan ini juga dapat membantu kita untuk mengetahui umur ikan. Jumlah

garis-garis melingkar pada sisik ikan dinamakan garis pertumbuhan. Hal ini ditemukan

pada sisik ikan mas (Djuhanda, 1983).

Bentuk umum tubuh ikan bervariasi seperti fusiform, compresi form,

depressiform, anguiliform, sagittiform dan glabiform. Variasi juga ditemukan pada

tipe sirip ekor, letak mulut dan sisik. Berdasarkan bentuknya, sirip ekor dibedakan atas

tipe rounded, truncate, emirginate, lunate, dan forked. Tipe mulut berdasarkan

letaknya yaitu tipe inferior, superior, terminal, dan subterminal. Berdasarkan bentuk

sisik dibedakan atas sisik placoid, ganoid, ctenoid, dan cycloid (Tim Praktikum

Taksonomi Hewan Vertebrata, 2012).

Untuk mengetahui tingkatan atau klasifikasi dari masing-masing dari spesies

ikan terlebih dahulu harus diketahui kunci determinasi. Kunci determinasi berisi sifat

dan ciri-ciri ikan. Identifikasi hendaknya dimulai dari yang umum ke khusus. Sifat dan

tanda-tanda ikan terlebih dahulu harus dilakukan pengukuran. Sifat yang ingin

diidentifikasi harus disesuaikan dengan bagian-bagian dari nomor satu dan selanjutnya

pekerjaan dilanjutkan pada nomor yang tercantum pada bagian belakang bagian yang

sesuai dengan sifat ikan tersebut dan begitulah selanjutnya (Saanin, 1984).

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan praktikum ini yaitu untuk mengetahui morfologi dari hewan kelas

actinopterygii dan dapat mengetahui ukuran serta jumlah bagian-bagian tubuh dari

kelas pisces tersebut, Praktikum ini juga bertujuan untuk mengetahui cara identifikasi

dan membuat klasifikasi serta membuat kunci determinasi dari objek praktikum.
II.TINJAUAN PUSTAKA

Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di air dan

bernapas dengan insang, dan berenang menggunakan sirip serta memiliki sisik. Ikan

merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies

lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok

Paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan biasanya ikan

dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan

ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan

pari), (kelas Osteichthyes) dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (Prawirohartono

1994).

Pisces adalah sebutan umum yang dipakai untuk ikan atau sebagai nama super

kelas, dan nama ini diambil dari kata latin. Ichtyes berasal dari kata Yunani berarti

ikan dan kata ini dipakai dalam Ichtyologi yang berarti ilmu yang mempelajari tentang

ikan. Tubuh ikan berskeleton keras, terbungkus oleh kulit yang bersisik, berbentuk

seperti torpedo, berenang dengan sirip dan bernafas dengan insang. Bermacam spesies

terdapat di dalam air tawar atau air bergaram (Jasin, 1984).

Filum pisces dapat dibagi menjadi beberapa kelas yaitu : kelas Agnatha,

Placodermi, Chondrichtyes, dan Osteichtyes. Semua hewan yang mempunyai ciri-ciri

umum subfilum vertebrata, tetapi tidak mempunyai rahang tergolong pada kelas

Agnatha. Seluruh jenis hewan ini tidak mempunyai rahang dan tidak mempunyai sirip

kembar. Ikan yang tidak mempunyai rahang merupakan vertebrata yang paling tua dan

paling primitif. Sehingga ikan ini sedikit diketahui oleh orang awam. Hal ini

disebabkan karena adanya prediksi yang mengatakan bahwa hewan ini telah punah

(Djuhanda, 1983).

Osteichthyes atau ikan bertulang sejati, terdiri atas kurang lebih 25000 spesies

baik dalam hal jumlah individu maupun dalam jumlah spesies. Tubuh berukuran antara
1 cm dan lebih dari 6m, ikan bertulang keras sangat melimpah di laut dan hampir setiap

habitat air tawar dan merupakan vertebrata yang paling sukses, dan yang berkembang

menjadi vertebrata darat atau tetrapoda (Kottelat, 1993).

Ciri-ciri Kelas Osteichthyes (Ikan Bertulang Sejati) yaitu kulit ditutupi dengan

sisik dermal yang pipih atau plat tulang, tapi kadang-kadang tidak bersisik. Rahang

merupakan struktur yang kompleks dibangun oleh sejumlah tulang sejati terutama

tulang dermal (unsur tulang rawan yang direduksi). Pada umumnya rangka terdiri atas

tulang sejati, tapi tulang rawan terdapat pada beberapa golongan (Coelacanthiformes

dan Acipenseridae). Ruang insang ditutupi dengan tiga tulang dermal yang besar

disebut operculum. Tiap lengkung insang berfilamen (septum direduksi dan tidak

melebihi panjang filamen). Paru-paru atau gelembung renang berkembang sebagai

penonjolan keluar dari saluran pencernaan makanan (Alamsjah,1974).

Bagian-bagian tubuh ikan dilihat dari pengenalan struktur ikan tidak terlepas

dari morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan yang merupakan ciriciri yang mudah dilihat

dan diingat dalam mempelajari jenis-jenis ikan. Sirip-sirip pada ikan umumnya ada

yang berpasangan dan ada yang tidak. Sirip punggung, sirip ekor, dan sirip dubur

disebut sirip tunggal atau sirip tidak berpasangan. Macam-macam sirip ekor dapat

dibedakan berdasarkan bentuk sirip tersebut. Bentuk sirip ekor ikan ada yang simetris,

apabila lembar sirip ekor bagian dorsal sama besar dan sama bentuk dengan lembar

bagian ventral, ada pula bentuk sirip ekor yang asimetris (Kottelat et al.,1993).

Antara jenis yang satu dengan jenis lainnya berbeda-beda bentuk tubuhnya.

Perbedaan bentuk tubuh ini pada umumnya disebabkan oleh adanya adaptasi terhadap

habitat dan cara hidupnya. Adapun bentuk-bentuk tubuh ikan tersebut dibagi dua,

yakni ikan yang bersifat simetri bilateral dan non simetri bilateral. Selain itu, ada

empat jenis tipe mulut ikan, pertama bentuk seperti tabung (tube like), kedua bentuk

seperti paruh (beak like), ketiga bentuk seperti gergaji (saw like) dan keempat bentuk

seperti terompet. Selain itu posisi mulut pada ikan juga bervariasi tergantung dimana
letak habitat makanan yang akan dimakannya. Ada empat macam posisi mulut ikan

yakni posisi terminal, sub terminal, inferior dan superior (Saanin, 1960).

Tubuh ikan mengandung lendir hingga menjadi sangat licin. Lendir bersifat

antiseptik sehingga memudahkan ikan bergerak di dalam air. Sirip sebagai alat gerak

ikan memiliki bentuk yang berbeda- beda pada setiap jenis ikan. Sirip tersebut ada

yang tunggal dan ada pula yang berpasangan (Djuhanda, 1982).

Ikan merupakan kelompok Vertebrata yang pada umumnya bernafas dengan

insang. Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu

lembab. Bagian terluar dari insang berhubungan dengan air, sedangkan bagian dalam

berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dari

sepasang filamen, dan tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis yang disebut

dengan lamela. Pada filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler

sehingga memungkinkan O2 berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar. Insang pada

ikan bertulang sejati ditutupi oleh tutup insang yang disebut operkulum, sedangkan

insang pada ikan bertulang rawan tidak ditutupi oleh operkulum (Munshi, 1996).

Ikan bertulang sejati bernafas melewatkan air melalui empat atau lima pasang

insang Air disedot ke dalam mulut, melalui faring, dan keluar diantara celah insang

karena pergerakan operkulum dan kontraksi otot yang mengelilingi ruang insang

tersebut. yang terletak di dalam ruangan-ruangan yang tertutup oleh suatu penutup

pelindung yang disebut operkulum. Proses ini memungkinkan seekor ikan bertulang

untuk bernafas saat diam atau tidur. Adaptasi lain dari sebagian besar ikan bertulang

keras yang tidak ditemukan pada hiu adalah gelembung renang suatu kantung udara

yang membantu mengontrol pengambangan ikan tersebut. Perpindahan gas-gas antara

kantung renang dan darah mengubah volume kantong itu dan menyesuaikan kerapatan

ikan. Akibatnya, banyak ikan bertulang keras, berlawanan dengan sebagian besar hiu,

dapat menghemat energi dengan cara tidak bergerak (Storer, 1957).


Ikan bertulang sejati umumnya adalah perenang yang dapat mengontrol arah,

siripnya yang lentur lebih sesuai untuk pengendalian dan pendorongan dibandingkan

dengan sirip hiu yang lebih kaku. Ikan bertulang keras yang paling cepat, yang dapat

berenang dalam jarak pendek dengan kecepatan mencapai 80 km/jam, memiliki bentuk

badan dasar yang sama dengan hiu. Ternyata, bentuk tubuh ini yang disebut fusiform

(yang meruncing pada kedua ujung), sangat umum ditemukan pada semua ikan

perenang cepat dan mamailia air seperti anjing laut dan paus. Air kurang lebih ribuan

kali lebih rapat dibandingkan dengan udara dan dengan demikian tonjolan sedikit saja

yang menyebabkan gesekan akan lebih mengganggu pada ikan dibandingkan pada

burung. Terlepas dari asal usul mereka yang berbeda, kita seharusnya memperkirakan

bahwa ikan perenang cepat da mamalia laut memiliki bentuk yang langsing karena

hukum hidrodinamika bersifat universal. Inilah contoh lain evolusi kovergen (Sjafei,

1989.)

Rincian mengenai reproduksi ikan bertulang keras sangat bervariasi. Sebagian

besar spesies adalah hewan ovivar, yang bereproduksi dengan fertilisasi eksternal

setelah betina melepaskan sejumlah besar telur kecil. Namun demikian, fertilisasi

internal dan kelahiran merupakan karakteristik spesies yang lain (Bond, 1979)

Baik ikan bertulang rawan maupun ikan bertulang keras menjadi sangat

beranekaragam selama masa Devon dan Karboniferus, tetapi jika hiu pertama kali

muncul dilaut, ikan bertulang keras muncul pertama kali di air tawar. Gelembung

renang telah termodifikasi dari paru-paru sederhana yang telah membantu

memperbesar pertukaran gas pada insang, mungkin di dalam kolam atau rawa yang

tenang dengan kandungan oksigen yang rendah. Kedua kelompok utama (subclass)

ikan bertulang keras yang ada saat ini telah memisah di akhir masa Devon (Rahardjo,

1980)
III.PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada Jum’at, 30 Oktober 2015 di Laboratorium Pendidikan

I, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Andalas, Padang.

2.2 Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum diantaranya bak bedah, penggaris, dan

alat tulis. Bahan atau objek yang di pakai adalah ikan mas (Cyprinus carpio), ikan lele

(Clarias bathracus), ikan nila (Oreochromis niloticus), ikan cue (Caranx sp), belut

(Monopterus albus), ikan tongkol (Sarda orientalis), ikan pinang-pinang (Upenenus

sp), ikan baledang (Trichiurus sp) dan ikan guppy (Poecilia reticulata).

2.3 Cara Kerja

Ikan diletakkan di atas Difoto panjang


gabus hitam, posisi keseluruhan ikan.
kepala menghadap ke Diamati dan diukur
kiri. dengan penggaris

Diukur sesuai Diamati dan diukur


parameter yang teah bagian bagiannya
ditentukan dengan penggaris
Dicatat di data sheet Dicatat di data sheet
actinopterygii actinopterygii
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Ikan Air Tawar

4.1.1 Oreochromis niloticus

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Osteichtes

Sub Kelas : Acanthoptherigii

Ordo : Percomorphii

Famili : Cichlidae Gambar 1. Oreochromis niloticus

Genus : Oreochromis

Spesies : Oreochromis niloticus

Author : Linnaeus

Sumber : Fish Base, 2016

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan didapatkan (PT): panjang total 23,5 cm,

(PS) : panjang standar 19 cm, (PK): panjang kepala 6 cm,(PBE) : panjang batang ekor

3 cm, (PM): panjang moncong 1,8 cm, (TBE): tinggi batang ekor 2,7 cm, (PPr):

panjang predorsal 6 cm, (PdSD): Panjang dasar sirip dorsal 11 cm, (TB): tinggi badan

7 cm, (PdSa): panjang dasar sirip anal 3,5 cm, (PSP): panjang sirip perut 5,3 cm,

(PsPe): panjang sirip pelvis 3,5 cm, (PDT) : panjang sirip dorsal terpanjang 3,3 cm,

(LK): lebar kepala 6,3 cm, (DM):diameter mata 1 cm, (PRA): panjang rahang atas 1,7

cm, (JDD): jumlah duri dorsal DXV,11 , (JDLd) : jumlah duri lunak dorsal tidak ada,

(DA): duri anal AIII,10 , (DLA): Duri lunak anal tidak ada , (DPT) : duri pectoral P24 ,

(JSG) : jumlah sisik gurat sisi 31 buah, Warna abu-abu, tidak memiliki sungut. Ikan

mas memiliki tipe mulut terminal, tipe ekor rounded dan tipe sisik cycloid.

Morfologi ikan nila (Oreochromis niloticus) menurut Saanin (1968),

mempunyai ciri-ciri bentuk tubuh bulat pipih, punggung lebih tinggi, pada badan dan
sirip ekor (caundal fin) ditemukan garis lurus (vertikal). Pada sirip punggung

ditemukan garis lurus memanjang. Ikan Nila (Oreochormis niloticus) dapat hidup

diperairan tawar dan mereka menggunakan ekor untuk bergerak, sirip perut, sirip dada

dan penutup insang yang keras untuk mendukung badannya. Nila memiliki lima buah

Sirip, yaitu sirip punggung (dorsal fin), sirip data (pectoral fin) sirip perut (ventral fin),

sirip 3 anal (anal fin), dan sirip ekor (caudal fin). Sirip punggungnya memanjang dari

bagian atas tutup ingsang sampai bagian atas sirip ekor. Terdapat juga sepasang sirip

dada dan sirip perut yang berukuran kecil dan sirip anus yang hanya satu buah

berbentuk agak panjang. Sementara itu, jumlah sirip ekornya hanya satu buah dengan

bentuk bulat.

Ikan nila pada umumnya mempunyai bentuk tubuh panjang dan ramping,

perbandingan antara panjang dan tinggi badan rata-rata 3 : 1. Sisik-sisik ikan nila

berukuran besar dan kasar. Ikan nila berjari sirip keras, sirip perut torasik, letak mulut

subterminal dan berbentuk meruncing. Selain itu, tanda lainnya yang dapat dilihat

adalah dari ikan nila adalah warna tubuhnya yang hitam dan agak keputihan. Bagian

bawah tutup insang berwarna putih, sedangkan pada nila lokal putih agak kehitaman

bahkan ada yang kuning. Sisik ikan nila besar, kasar, dan tersusun rapi. Sepertiga sisik

belakang menutupi sisi bagian depan. Tubuhnya memiliki garis linea lateralis yang

terputus antara bagian atas dan bawahnya. Linea lateralis bagian atas memanjang

mulai dari tutup insang hingga belakang sirip punggung sampai pangkal sirip ekor.

Ukuran kepalanya relatif kecil dengan mulut berada di ujung kepala serta mempunyai

mata yang besar (Merantica 2007).

4.1.2 Cyprinus caprio

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Class : Actinopterygii

Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Gambar 2. Cyprinus carpio
Genus : Cyprinus

Spesies : Cyprinus caprio

Author : Linnaeus

Sumber : Fish Base, 2016

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan didapatkan (PT): panjang total 13 cm, (PS)

: panjang standar 10,5 cm, (PK): panjang kepala 3,8 cm,(PBE) : panjang batang ekor

1,7 cm, (PM): panjang moncong 1 cm, (TBE): tinggi batang ekor 1,6 cm, (PPr):

panjang predorsal 5,5 cm, (PdSD): Panjang dasar sirip dorsal 4 cm, (TB): tinggi badan

4,5 cm, (PdSa): panjang dasar sirip anal 1 cm, (PSP): panjang sirip perut 2 cm, (PsPe):

panjang sirip pelvis 1,2 cm, (PDT) : panjang sirip dorsal terpanjang 1,6 cm, (LK): lebar

kepala 3 cm, (DM):diameter mata 0,6 cm, (PRA): panjang rahang atas 0,6 cm, (JDD):

jumlah duri dorsal DI,15 , (JDLd) : jumlah duri lunak dorsal tidak ada, (DA): duri anal

AI,6 cm, (DLA): Duri lunak anal tidak ada , (DPT) : duri pectoral P22 , (JSG) : jumlah

sisik gurat sisi 35 buah, Warna orange, memiliki sungut. Ikan mas memiliki tipe mulut

terminal, tipe ekor forked dan tipe sisik cycloid.

Memiliki mulut kecil yang membelah bagian depan kepala, sepasang mata,

sepasang lubang hidung terletak di bagian kepala, dan tutup insang terletak di bagian

belakang kepala. Seluruh bagian tubuh ikan mas ditutupi dengan sisik yang besar, dan

berjenis cycloid yaitu sisik halus yang berbentuk lingkaran. Ikan Mas memiliki lima

buah sirip, yaitu sirip punggung yang terletak di bagian punggung (dorsal fin), sirip

dada yang terletak di belakang tutup insang (pectoral fin), sirip perut yang terletak

pada perut (pelvic fin), sirip dubur yang terletak di belakang dubur (anal fin) dan sirip

ekor yang terletak di belakang tubuh dengan bentuk cagak (caudal fin) (Santoso,

2011).

Secara morfologi, ikan mas mempunyai bentuk tubuh agak memanjang dan

memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian anterior
mulut terdapat dua pasang sungut berukuran pendek. Sisik ikan berukuran relatif besar

dan digolongkan dalam tipe sisik cycloid berwarna hijau, biru, merah, kuning

keemasan sesuai dengan rasnya (Agus, 2005).

4.1.3 Monopterus albus ( belut )

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Actinopterygii

Ordo : Synbranchiformes

Family : Synbranchidae

Genus : Monopterus
Gambar 3. Monopterus albus
Spesies : Monopterus albus

Author : Linnaeus

Sumber : Fish Base, 2016

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan didapatkan (PT): panjang total 27 cm, (PS)

: panjang standar 23 cm, (TB): tinggi badan 1,2 cm, (DM):diameter mata 0,1 cm,

(PRA): panjang rahang atas 0,8 cm, (JDD): jumlah duri dorsal D I,15 , (JDLd) : jumlah

duri lunak dorsal tidak ada, (DA): duri anal AI,6 cm, (DLA): Duri lunak anal tidak ada

, (DPT) : duri pectoral P22 , (JSG) : jumlah sisik gurat sisi 35 buah, Warna orange,

memiliki sungut. Ikan mas memiliki tipe mulut terminal, tipe ekor forked dan tipe sisik

cycloid.

Belut adalah sekelompok ikan berbentuk mirip ular yang termasuk dalam suku

Synbranchidae. Suku ini terdiri dari empat genera dengan total 20 jenis. Ikan ini tidak

memiliki sirip, kecuali sirip ekor yang tereduksi, sementara sidat masih memiliki sirip

yang jelas. Ciri khas belut yang lain adalah tidak bersisik (atau hanya sedikit), dapat

bernapas dari udara, bukaan insang sempit, tidak memiliki kantung renang dan tulang

rusuk (Bardach, 1972).


Belut (Monopterus albus) memiliki ciri tubuh panjang seperti ular, tidak

bersisik, kulit licin dan berlendir, mata kecil hampir tertutup oleh kulit dengan bibir

berupa lipatan kulit yang lebar disekeliling mulutnya. Hal inilah yang menyebabkan

pada praktikum diameter mata belut tidak diukur karena matanya yang kecil dan

tertutup oleh kulit. Habitat belut pada umumnya diparit atau sungai yang dekat dengan

persawahan atau didalam area persawahan. Belut sawah (Monopterus albus) adalah

sejenis ikan anggota famili Synbranchidae (belut), ordo Synbranchiiformes, yang

mempunyai nilai ekonomi dan ekologi (Bleeker, 1860).

4.1.4 Claris batrachus

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Actinopterygii

Ordo : Siluriformes

Famili : Claridae
Gambar 3.Claris batrachus
Genus : Claris

Spesies : Claris batrachus

Author :

Sumber : Fish Base, 2016

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan didapatkan (PT): panjang total 18 cm, (PS)

: panjang standar 16 cm, (PK): panjang kepala 3 cm,(PBE) : panjang batang ekor 1

cm, (PM): panjang moncong 0,2 cm, (TBE): tinggi batang ekor 1,5 cm, (PPr): panjang

predorsal 5,6 cm, (PdSD): Panjang dasar sirip dorsal 10,4 cm, (TB): tinggi badan 2,6

cm, (PdSa): panjang dasar sirip anal 6,5 cm, (PSP): panjang sirip perut 1,7 cm, (PsPe):

panjang sirip pelvis 1,5 cm, (PDT) : panjang sirip dorsal terpanjang 1,4 cm, (LK): lebar

kepala 1,3 cm, (DM):diameter mata 0,3 cm, (PRA): panjang rahang atas 2,5 cm,

(JDD): jumlah duri dorsal DXI,III , (JDLd) : jumlah duri lunak dorsal tidak ada, (DA):
duri anal AXXIV,15 cm, (DLA): Duri lunak anal tidak ada , (DPT) : duri pectoral P16 ,

(JSG) : jumlah sisik gurat sisi tidak ada, Warna abu-abu kehitaman, dan memiliki

sungut.

Bentuk tubuh ikan lele dumbo memanjang, agak silindris (membulat)

dibagian depan dan mengecil ke bagian ekornya. Kulitnya tidak memiliki sisik,

berlendir, dan licin. Jika terkena sinar matahari, warna tubuh ikan lele dumbo

berubah menjadi pucat dan jika terkejut warna tubuhnya otomatis menjadi loreng

seperti mozaik hitam-putih. Mulut ikan lele dumbo relatif lebar, yaitu sekitar ¼

dari panjang total tubuhnya (Khairuman dan Khairul, 2002).

4.2 Ikan Air Laut

4.2.1 Upeneus sulphureus (ikan pinang-pinang)

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Ordo : Perciformes

Famili : Mullidae

Genus : Upeneus Gambar 5. Upeneus sulphureus


Spesies : Upeneus sulphureus

Author :

Sumber : Fish Base, 2016

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan didapatkan (PT): panjang total 13,5 cm,

(PS) : panjang standar 111 cm, (PK): panjang kepala 2 cm,(PBE) : panjang batang ekor

2,3 cm, (PM): panjang moncong 0,5 cm, (TBE): tinggi batang ekor 1,3 cm, (PPr):

panjang predorsal 2 cm, (PdSD): Panjang dasar sirip dorsal 2,2 cm, (TB): tinggi badan

3,3 cm, (PdSa): panjang dasar sirip anal 2,5 cm, (PSP): panjang sirip perut 1,5 cm,

(PsPe): panjang sirip pelvis 1,1 cm, (PDT) : panjang sirip dorsal terpanjang 1,2 cm,

(LK): lebar kepala 2,1 cm, (DM):diameter mata 0,8 cm, (PRA): panjang rahang atas
0,6 cm, (JDD): jumlah duri dorsal DVII,9 , (JDLd) : jumlah duri lunak dorsal tidak ada,

(DA): duri anal AVIII,4 cm, (DLA): Duri lunak anal tidak ada , (DPT) : duri pectoral P14

, (JSG) : jumlah sisik gurat sisi 33, Warna orange kecoklatan, dan memiliki sungut.

Ikan pinang-pinang memiliki tipe mulut subterminal, tipe ekor forked dan tipe sisik

cycloid.

Dari segi morfologinya ikan pinang-pinang memiliki bentuk tubuh bundar,

warna tubuh terang polos dengan gurat sisi berwarna kekuningan-kuningan yang

dimulai dari tutup insang sampai ekor. Ikan ini memiliki sisik yang sangat jelas dengan

tipe cycloid. Dengan tipe mulut subterminal, ikan ini terdapat di daerah dasar perairan

air laut atau payau dengan jenis makanannya berupa ikan-ikan kecil. Menurut

Kumaran (1984), ikan ini hidup pada kedalaman 10-90 m di daerah tropikal. Dan

memiliki tipe ekor forked.

Gigi-gigi pada rahang runcing-runcing dan tersebar merata. Sirip punggung

dan sirip anus bersisik sedikit, mulutnya besar, dapat disembulkan ke muka, ujung

belakang dari rahang atas terletak dibawah sudut depan dari mata. Keping tulang

lengkung insang depan berlekuk. pada bagian bawah kepala didekat tenggorakan

terdapat sepasang sungut (Djuhanda, 1981).

4.2.2 Sarda orientalis (ikan tongkol)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Class : Pisces
Ordo : Perciformes
Family : Scombidae
Gambar 6. Sarda orientalis
Genus : Sarda
Species : Sarda orientalis
Author : Linnaeus
Sumber : Fish Base, 2011

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan didapatkan (PT): panjang total 27 cm, (PS)

: panjang standar 25,5 cm, (PK): panjang kepala 6,5 cm,(PBE) : panjang batang ekor

6 cm, (PM): panjang moncong 2 cm, (TBE): tinggi batang ekor 0,5 cm, (PPr): panjang

predorsal 3 cm, (PdSD): Panjang dasar sirip dorsal 2,5 cm, (TB): tinggi badan 6 cm,

(PdSa): panjang dasar sirip anal 1,5 cm, (PSP): panjang sirip perut 3 cm, (PsPe):

panjang sirip pelvis 1,5 cm, (PDT) : panjang sirip dorsal terpanjang 3 cm, (LK): lebar

kepala 4 cm, (DM):diameter mata 1,5 cm, (PRA): panjang rahang atas 2,5 cm, (JDD):

jumlah duri dorsal Dx,7 , (JDLd) : jumlah duri lunak dorsal tidak ada, (DA): duri anal

Av,7 cm, (DLA): Duri lunak anal tidak ada , (DPT) : duri pectoral P19 , (JSG) : jumlah

sisik gurat sisi tidak ada, Warna abu-abu, tidak memiliki sungut. Ikan tongkol memiliki

tipe mulut terminal, tipe ekor forked dan tipe sisik cycloid.

Habitat sarda yaitu termasuk ikan yang hidup pada perairanLaut lepas namun

dekat dengan garis pantai. Ikan-ikan muda sering masuk ke dalam teluk atau

pelabuhan. Gerombolannya terbentuk bersamaspesies lain, terdiri dari 100 sampai

5.000 ekor. Termasuk predator oportunistik dengan jenis makanan dari ikan kecil

(ClupeidaedanEngraulidae),Cumi-cumi,Crustacea sampai Zooplankton (Carpenter, K.

E., & V.H. Niem, 1999).

Ikan tongkol masih tergolong pada ikan Scombridae. Sirip dada melengkung,

ujungnya lurus dan pangkalnya sangat kecil. Sirip-sirip punggung, dubur, perut, dan

dada pada pangkalnya mempunyai lekukan pada tubuh, sehingga sirip-sirip ini dapat

dilipat masuk kedalam lekukan tersebut, sehingga dapat memperkecil daya gesekan

dari air pada waktu ikan tersebut berenang cepat. Dan dibelakang sirip punggung dan

sirip dubur terdapat sirip-sirip tambahan yang kecil-kecil yang disebut finlet

(Djuhanda, 1981).
4.2.3 Caranx sp. (Ikan maco)
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Fillum : Chordata
Kelas : Osteichtyes
Ordo : Percomorphi
Famili : Carangidae
Genus : Caranx
Spesies : Caranx sp. Gambar 7. Caranx sp.
Author : Linnaeus

Sumber : Fish Base, 2016

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan didapatkan (PT): panjang total 7 cm, (PS)

: panjang standar 6 cm, (PK): panjang kepala 1 cm,(PBE) : panjang batang ekor 1 cm,

(PM): panjang moncong 0,2 cm, (TBE): tinggi batang ekor 8,4 cm, (PPr): panjang

predorsal 1,4 cm, (PdSD): Panjang dasar sirip dorsal 1 cm, (TB): tinggi badan 2,6 cm,

(PdSa): panjang dasar sirip anal 3 cm, (PSP): panjang sirip perut 0.9 cm, (PsPe):

panjang sirip pelvis 0.5 cm, (PDT) : panjang sirip dorsal terpanjang 0.7 cm, (LK): lebar

kepala 1,5 cm, (DM):diameter mata 0,5 cm, (PRA): panjang rahang atas 0.3 cm,

(JDD): jumlah duri dorsal DVIII,0 , (JDLd) : jumlah duri lunak dorsal tidak ada, (DA):

duri anal AXIII,6 cm, (DLA): Duri lunak anal tidak ada , (DPT) : duri pectoral tidak ada

, (JSG) : jumlah sisik gurat sisi, Warna silver, dan tidak memiliki sungut. Ikan maco

memiliki tipe mulut terminal, tipe ekor forked dan tipe sisik cycloid.

Ikan maco hidup di air asin, bentuk tubuh kecil pipih datar dan warna tubuhnya

terang, tanpa sisik dan licin, tipe ekor pada ikan maco adalah forked dan apabila ikan

ini ditangkap, ikan ini akan banyak tertangkap karena hidupnya berkelompok. Ikan

maco sering dijumpai di lingkungan dasar (demersal) perairan payau ataupun laut.

Bentuk tubuhnya pipih ramping dengan warna tubuhnya silver (terang polos). Tipe
mulut ikan ini superior, sehingga terdapat di bagian tengah perairan dengan jenis

makanannya berupa ikan-ikan kecil, kepiting, dan kerang (Djuhanda, 1982).

Pada ikan-ikan yang masih muda terdapat garis-garis menggelombang

melintang di bagian atas badan. Ikan ini dapat mencapai panjang 140 mm, umurnya

60-120 mm (Djajadiredja, 1979).

4.2.4 Trichiurus lepturus (ikan layur)

Klasifikasi Trichiurus lepturus (ikan layur)

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Ordo : Perciformes

Famili : Trichiuridae

Genus : Trichiurus
Gambar 8. Trichiurus lepturus.
Spesies : Trichiurus lepturus (Linnaeus, 1758)

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan didapatkan (PT): panjang total 35,5 cm,

(PS) : panjang standar 45 cm, (PK): panjang kepala 7 cm,(PBE) : panjang batang ekor

10 cm, (PM): panjang moncong 3 cm, (TBE): tinggi batang ekor 0,6 cm, (PPr): panjang

predorsal 1 cm, (PdSD): Panjang dasar sirip dorsal 41 cm, (TB): tinggi badan 3,5 cm,

(PdSa): panjang dasar sirip anal cm, (PSP): panjang sirip perut cm, (PsPe): panjang

sirip pelvis 2,5 cm, (PDT) : panjang sirip dorsal terpanjang 7,5 cm, (LK): lebar kepala

7,5 cm, (DM):diameter mata 1,1 cm, (PRA): panjang rahang atas 3 cm, (JDD): jumlah

duri dorsal D, (JDLd) : jumlah duri lunak dorsal tidak ada, (DA): duri anal A, (DLA):

Duri lunak anal tidak ada , (DPT) : duri pectoral tidak ada , (JSG) : jumlah sisik gurat

sisi, Warna coklat, dan tidak memiliki sungut. Ikan layur memiliki tipe mulut terminal.

Ikan layur (Trichiurus) mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut badan

sangat panjang, gepeng, ekornya panjang bagai cemeti. Kulitnya tidak bersisik,

warnanya putih seperti perak, sedikit kekuningan. Sirip perut tidak ada, sedangkan
sirip duburnya terdiri dari sebaris duri-duri kecil. Rahang bawah lebih panjang

daripada rahang atasnya. Mulutnya lebar dan kedua rahangnya bergigi yang kuat dan

tajam. Ikan ini bersifat karnivor. Ukuran panjangnya bisa sampai lebih 100 cm

(Nontji, 2007).
BAB V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktiku yang dilaksanakan didapatkan kesimpulan sebagai berikut:

1) Oreochromis niloticus memiliki mulut dengan tipe terminalis, sisik bertipe

cycloid dan tipe ekor rounded.

2) Cyprinus carpio memiliki mulut dengan tipe terminalis, sisik bertipe cycloid

dan tipe ekor forked

3) Monopterus albus memiliki sungut, mulut dengan tipe terminalis, sisik bertipe

cycloid dan tipe ekor forked.

4) Claris batrachus memiliki sungut yang sangat panjang dan jelas, sisik tidak

terlihat jelas karena tubuh ditutupi lender dan berwarna abu kehitaman.

5) Upeneus sulphureus memiliki tipe mulut subterminal, bentuk ekor forked dan

tipe sisik cycloid.

6) Sarda orientalis memiliki tipe mulut terminal, bentukekor forked dan tipe sisik

cycloid.

7) Caranx sp. Memiliki tipe mulut terminal, sisik bertipe cycloid dan tipe ekor

yaitu forked.

8) Trichiurus lepturus memiliki tipe mulut terminal.

5.2 Saran

Dalam praktikum ini sangat diperlukan ketelitian karena kita menggunakan penggaris

sebagai alat bantu dalam melakukan pengukuran. Diharapkan seluruh praktikan paham

dengan penggunaan alat ini. Dalam melakukan pengamatan dan pengukuran morfologi

ikan lakukan pembagian tugas antar praktikan dalam satu kelompok sehingga lebih

mengefisienkan waktu, dan hal yang tidak dipahami dapat ditanyakan langsung kepada

asisten yang mendampingi.


LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

Alamsjah, Z. 1974. Ichthyologi I. Departemen Biologi Perairan. Fakultas Perikanan.

Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Bond, C.E. 1979. Biology of Fishes. W.B. Saunders Company, Philadelphia.

Djuhanda, T. 1982. Anatomi dari Empat Spesies Hewan Vertebrata. Amico. Bandung.

Djuhanda, T. 1983. Analisa Struktur Vertebrata Jilid I. Armico : Bandung.

Fishbase, Amico. 2011. Species Summary. http : // www. Fishbase.

Org/summary/spesies summary, php 9 Maret 2011.

Irianto, K. 2009. Sukses Budidaya Hewan Air. Bandung: Sarana Ilmu Pustaka.

Jasin, M. 1994. Zoologi Vertebrata. CV Sinar Wijaya. Surabaya.

Kottelat, M, A. J.Wittern, S. N. S. Kartika ,S.Wirjoatmodjo. 1993. Fresh Water Fishes

Of Indonesia and Sulawesi. Periplus Plus ed Limited. Indonesia.

Prawirohartono, Slamet. 1994. Sains Biologi. Bumi Aksara : Jakarta.

Rahardjo, M.F. 1980. Ichthyologi. Departemen Biologi Perairan. Fakultas Perikanan.

Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Saanin, H. 1960. Kuntji Identifikasi Ikan jilid I. Binatjipta. Jakarta.

Storer, T.J. and R.L. Usinger. 1957. General Zoology. McGraw Hill Book Company,

Inc., New York.

Tim Taksonomi Hewan Vertebrata. 2012. Penuntun Praktikum Hewan Vertebrata.

Universitas Andalas. Padang.