Anda di halaman 1dari 8

B.

Infus Ringer Laktat (USP)

I. Kekuatan Sediaan
Volume sediaan : 500 mL
Setiap 500 mL mengandung asam laktat, NaOH, NaCl, KCl, dan CaCl
II. Preformulasi Zat Aktif

1. Asam Laktat (Rowe et al, 2009:355)

Pemerian : Cairan kental non volatil, tidak berwarna atau agak


sedikit kunig, tidak berbau,

Kelarutan : bercampur dengan etanol 95%, air, eter, partisi


tidak larut dalam kloroform

Titik lebur/ titik didih : 17°C/122°C

pH larutan : 5-6

pKa : 4,14 pada suhu 22,5°C

Stabilitas :Higroskopis, akan membentuk produk kondensasi


seperti poli asam laktat yang kontak dengan air.
Keseimbangan antara poli asam laktat dengan asam
laktat adalah tergantung dari suhu dan konsentrasi.
Pada suhu yang tinggi asam laktat akan terbentuk
laktat dan akan segera terhidrolisis kembali jadi
asam laktat.

Inkompatibilitas :inkompatibel dengan albumin, iodida, agen


pengoksidasi, bereaksi dengan keras dengan asam
nitrat dan asam fluorida.

III. Pengembangan Formula


Berdasarkan penggunaan zat yang digunakan dalam formula sediaan
injeksi (infus) ini, praktikan memilih zat tersebut karena mengacu terhadap
formularium nasiomal yang ada (Ditjen POM,1978:206).
1. Asam Laktat

Alasan digunakannya Asam laktat adalah karena sebagaimana pada

literatur yang ada yang menjelaskan bahwa zat aktif asam laktat yang

digunakan untuk sediaan infus ringer laktat.

2. Natrium Hidroksida

Alasan digunakannya digunakan Natrium Hidroksida karena sebagaimana

yang tertera pada literatur yaitu Formularium Nasional bahwa Injeksi

Ringer Laktat mengandung natrium hidroksida, yang diinjeksikan secara

infusi (DENPOM, 1978: 206). Kemudian Natirum hidroksida dapat

sebagai zat peng-Adjust pH, dimana pH infus ringer laktat yaitu 5,0-7,5

(Dirjen POM,2014:905) maka di Adjust hingga pH Pengaturan pH

dilakukan dengan ditambahkan asam atau basa agar dapat cepat

menyesuaikan dengan pH darah. Hal ini diperlukan karena agar mendekati

pH darah manusia yaitu 7,4 dan pH stabilitas sediaan zat aktif agar

isohidris dengan pH darah. (Ditjen POM,1995:1165) (KALAU pH infus

nya aja 5-7,5 berarti engga usah di adjust atuh?)

3. Natrium Klorida

Alasan digunakan Natrium Klorida karena sebagaimana yang tertera pada

literatur yaitu Formularium Nasional bahwa Injeksi Ringer Laktat

mengandung natrium klorida, yang diinjeksikan secara infusi (DENPOM,

1978: 206). Kemudian natrium klorida berfungsi juga sebagai zat


pengisotonis karena pada sediaan injeksi yang praktikan buat memiliki

tonisitas yaitu hipotonis sehingga diperlukan zat pengisotonis. Alasan

digunakannya NaCl karena NaCl tidak inkompatibilitas dengan zat yang

terdapat pada formula sediaan infus.

4. Kalium Klorida

Alasan digunakan kalium klorida karena sebagaimana yang tertera pada

literatur yaitu Formularium Nasional bahwa Injeksi Ringer Laktat

mengandung kalium klorida, yang diinjeksikan secara infusi (DENPOM,

1978: 206)

5. Kalsium Klorida

Alasan digunakan kalsium klorida karena sebagaimana yang tertera pada

literatur yaitu Formularium Nasional bahwa Injeksi Ringer Laktat

mengandung kalsium klorida, yang diinjeksikan secara infusi (DENPOM,

1978: 206)

6. Aquabidest Bebas Pirogen

Alasan menggunakan aquabidest yang disterilkan adalah karena zat aktif

yang digunakan dapat bercampur dalam air. Selain itu, aquabidest bebas

pirogen merupakan pembawa umum dalam sediaan infus. Aquabidest

bebas pirogen digunakan untuk menggenapkan kekurangan volume selama

proses dibuat.

7. Karbon Adsorben

Alasan digunakan ditambahkan Karbon aktif dalam sediaan Infus Ringer

Laktat ini, karena karbon aktif adalah salah satu senyawa yang dapat
menghilangkan pirogen. Karbon aktif ini akan menyerap pirogen yang

dapat membahayakan tubuh jika sampai masuk bersama aliran darah.

Karbon aktif yang digunakan sebanyak 0,1% dari volume total kemudian

dipanaskan selama 10-15 menit dengan suhu 60-70ºC sambil diaduk.

IV. Perhitungan Tonisitas

PAKE OSMOLARITAS YANG DI MODUL

ITUNG NaCl yang dibutuhkan

V. Formula Akhir

Asam Laktat 0,012%

NaOH

KCl 0,01 gram

CaCl2 10%

Aqua Pro Injection Ad 500 mL (Pelarut)

VI. Preformulasi Eksipien

1. Natrium Hidroksida (Ditjen POM., 2014: 898)


Pemerian : Putih atau praktis putih, keras, rapuh dan
menunjukkan pecahan hablur. Jika terpapar di
udara, akan cepat menyerap karbon dioksida dan
lembab. Massa melebur, berbentuk pelet kecil,
serpihan atau batang atau bentuk lain.
Kelarutan : Mudah larut dalam air dan dalam etanol.
Stabilitas : Natrium hidroksida harus disimpan dalam wadah
non-plastik kedap udara di tempat yang sejuk dan kering. Ketika terkena
udara, natrium hidroksida cepat menyerap kelembaban dan mencairkan,
tetapi kemudian menjadi padat lagi karena penyerapan karbon dioksida
dan pembentukan natrium karbonat.
Inkompatibilitas : Natrium hidroksida adalah basa kuat dan tidak
sesuai dengan senyawa apa pun yang mudah mengalami hidrolisis atau
oksidasi. Ini akan bereaksi dengan asam, ester, dan eter, terutama dalam
larutan berair
(Rowe et al, 2009: 649)

2. Natrium Klorida (Ditjen POM., 2014: 898)


Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa asin
Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air
mendidih, dan dalam lebih kurang 10 bagian
gliserol P, sukar larut dalam etanol 95% P.
Titik lebur/ titik didih : 804° C / 1413°C
Bobot jenis : 2,17 g/cm3
pH Larutan : 6,7-7,3
Inkompatibilitas : Larutan NaCl bersifat korosif terhadap besi. Akan
bereaksi dengan timah, garam merkuri, perak.
Kelarutan metil paraben akan menurunkan
kelarutan larutan NaCl
Stabilitas : NaCl stabil tetapi bisa karena pemisahan partikel
kaca dari jenis wadah kaca tertentu. Larutan ini
bisa disterilisasi dengan autoklaf atau filtrasi
material padat akan stabil apabila disimpan dalam
wadah kaca tertutup dan di tempat kering
Khasiat : Zat pengisotonis
(Rowe et al, 2009: 638)
3. Kalium Klorida (Ditjen POM., 2014: 583)
Pemerian : Hablur bentuk memanjang, prisma atau kubus,
atau serbuk granul putih; tidak berbau; tidak
berwarna; rasa asin; stabil di udara; larutan
bereaksi netral terhadap lakmus.
Kelarutan : Mudah larut dalam air; tidak larut dalam etanol.
Wadah dan penyimpanan :Dalam wadah tertutup baik.
Penandaan : Jika digunakan untuk hemodialisis harus tertera pada
etiket.
Stabilitas : Tablet potassium klorida menjadi semakin keras
pada penyimpanan pada kelembaban rendah. Namun, tablet yang disimpan
di 76% kelembaban relatif tidak menunjukkan peningkatan atau hanya
sedikit peningkatan kekerasan. Penambahan pelumas, seperti 2% w / w
magnesium stearat, mengurangi kekerasan dan kekerasan tablet pada
penuaan. Larutan kalium klorida berair dapat disterilkan dengan autoklaf
atau dengan penyaringan. Kalium klorida stabil dan harus disimpan dalam
wadah tertutup di tempat yang sejuk dan kering.
Inkompatibilitas : Kalium klorida bereaksi hebat dengan bromin
trifluorida dan dengan campuran asam sulfat dan kalium permanganat.
Kehadiran asam klorida, natrium klorida, dan magnesium klorida
mengurangi kelarutan kalium klorida dalam air. Larutan berair dari bentuk
kalium klorida mengendap dengan timbal dan garam perak. Larutan
kalium klorida berair intravena tidak sesuai dengan hidrolisat protein.
(Rowe et al, 2009: 572)

4. Kalsium Klorida (Ditjen POM., 2014: 593)


Pemerian : Granul atau serpihan putih; keras; tidak berbau.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air mendidih; mudah larut
dalam air, etanol, dan etanol mendidih.
pH : Antara 4,5 dan 9,2; lakukan penetapan menggunakan
larutan zat (1 dalam 20).
Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal, sebaiknya dari
kaca Tipe I.
Penandaan : Pada etiket dicantumkan kadar osmolar total dalam
mOsmol per liter. Jika volume kurang dari 100 ml,
atau tertera tidak untuk injeksi langsung tetapi harus
diencerkan terlebih dahulu, pada etiket dicantumkan
kadar osmolar total dalam mOsmol per ml.
Stabilitas : Kalsium klorida stabil secara kimia; Namun, itu harus
dilindungi dari kelembaban. Simpan dalam wadah kedap udara di tempat
yang sejuk dan kering.
Inkompatibilitas : Kalsium klorida stabil secara kimia; Namun, itu harus
dilindungi dari kelembaban. Simpan dalam wadah kedap udara di tempat
yang sejuk dan kering.
(Rowe et al, 2009: 89)

5. Arang Jerap / Karbo Adsorben (Ditjen POM., 2014: 130)


Pemerian : serbuk halus, bebas dari butiran; hitam; tidak berbau;
tidak berasa
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol.
Batas mikroba : Tidak boleh mengandung Salmonella sp dan
Escherichia coli.
Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup.
6. Aquabidest

VII. Perhitungan dan Penimbangan

VIII. Sterilisasi Zat dan Alat

IX. Prosedur Pembuatan


X. Evaluasi

XII. Wadah dan Kemasan

XIII. Daftar Pustaka

Ditjen POM., 2014. Farmakope Indonesia. Edisi Kelima. Jakarta: Departemen


Kesehatan RI, hal: 898 130, 593, 583, 898

Rowe, R.C., Paul, J.S., dan Marian, E.Q. 2009. Handbook of Pharmaceutical
Excipients Sixth Edition. Chicago, London: Pharmaceutical Press, page:
335, 649, 89, 572, 638, 649, 355

Fornas