Anda di halaman 1dari 2

Balada Menggigit Kuku

Thariq Ibnu Tarmizi1, Kartika Artha Rini1, Firmansyah Adi Pradana1


1
Program Studi Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember

DESKRIPSI
Berbagai aktivitas akan dilakukan seseorang saat mengalami kecemasan atau rasa
gelisah. Salah satu aktivitas yang sering dilakukan sebagai pelampiasan rasa cemas
adalah kebiasaan menggigit kuku atau onychophagia, kebiasaan ini sering terjadi pada
anak – anak dan beberapa orang dewasa. Kebiasaan ini tidak terlihat sebelum usia 3
atau empat tahun, dan sebagian besar terlihat pada usia 4 dan 6 tahun.[1,2] American
Academy of Dermatology (AAD) menyebutkan bahwa awal dari kebiasaan menggigit
kuku dikarenakan adanya kulit kuku yang robek, merasa cemas, atau bosan. Oleh
karena itu menggigit kuku dianggap sebagai cara ampuh untuk mengatasi kecemasan,
ketegangan, dan stress yang dialami. Kebiasaan ini juga bisa merupakan gejala dari
gangguan psikologis berupa kecemasan berlebihan, ditandai dengan pikiran-pikiran
negatif seperti kegelisahan, dan ketakutan, yang disebut dengan Obsessive
Compulsive Disorder (OCD).[1]
Kebiasaan tersebut juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Kuku jari
dapat menjadi sarang bakteri yang berbahaya bagi kesehatan, terlalu sering menggigit
kuku membuat bakteri dengan mudah masuk ke dalam tubuh dan menimbulkan
berbagai macam penyakit, seperti masalah pada pencernaan dan pada rongga mulut.
Kebiasaan menggigit kuku terutama pada anak – anak berisiko maloklusi pada gigi
anterior. Gaya yang berasal dari menggigit kuku juga dapat mempercepat resorpsi
akar. Pemeriksaan gigi pasien yang memiliki kebiasaan ini dapat menunjukkan
adanya gigi berjejal, rotasi (berputar), dan atrisi (pengurangan) pada sudut incisal dari
insisivus rahang bawah, serta protrusi pada insisivus rahang atas. Maloklusi ini
disebabkan akibat tekanan dari kebiasaan onychophagia. Kebiasaan menggigit kuku
yang terus menerus menyebabkan kerusakan tulang alveolar pada gigi yang terlibat.
Menggigit kuku yang kronis dapat menghasilkan fraktur kecil di tepi gigi seri dan
gingivitis. Tingkat keparahan tersebut dipengaruhi oleh durasi, intensitas dan
frekuensi dari kebiasaan tersebut. [1]
Untuk menghentikan kebiasaan ini perlu beberapa hal sederhana, memberikan
edukasi, mengajarkan kebiasaan baik, membiasakan untuk menjauhkan tangan dari
mulut seperti bermain alat musik atau dengan menggunakan “rubber bite pieces”
dapat mengurangi kebiasaan tersebut.[1] Kemudian dengan mengunyah permen karet
bebas gula dapat mengalihkan perhatian agar mulut tidak tergoda untuk mengigit
kuku. Selain itu, selalu menjaga kuku agar tampilannya tetap pendek.[3]

DAFTAR PUSTAKA:
1. Sachan A, Chaturvedi TP. Onychophagia (Nail Biting), Anxiety, and
Malocclusion. Indian J Dent Res 2012;23:680-2.
2. Shahraki, et al. Abnormal Oral Habits: A Review. Journal of Dentistry
and Oral Hygiene. 2012;4(2):pp12-15.
3. Magid M, et al. Onychophagia and Onychotillomania Can Be
Effectively Managed. J Am Acad Dermatol. 2017;77:e143–e144.