Anda di halaman 1dari 18

CRITICAL BOOK REPORT

“PELURUHAN ALFA (α), BETA (β), GAMMA (γ)”

Disusun untuk memenuhi tugas terstruktur dalam

Mata Kuliah Pendahuluan Fisika Inti

Dosen Pengampu :

Muhammad Aswin Rangkuti,S.Pd, M.Pd

Disusun Oleh :

Kelompok 5

NAMA : DEVI MAY C PANGARIBUAN (4163321004)


KHOIRUNNISA BATUBARA (4163321013)
NOVITA PATRICIA SEMBIRING (4163321021)
YULIANA LASTINUS SILITONGA (4163321031)
KELAS : EKSTENSI

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018
KATA PENGANTAR

Penulis bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya
sehingga penulisan Critical Book Report ini dapat dikerjakan dan diselesaikan.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Muhammad Aswin
Rangkuti,S.Pd, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Pendahuluan Fisika Inti
yang telah membimbing kami.

Makalah ini berjudul Critical Book Report. Penulisannya bertujuan untuk


memenuhi tugas mata kuliah Pendahuluan Fisika Inti dan meningkatkan
pemahaman pembaca tentang Peluruhan Alfa (α), Beta (β), dan Gamma (γ).
Makalah ini tidak luput dari kekurangannya. Oleh karena itu, saran
konstruktif yang berguna untuk penyempurnaan isi makalah ini, akan disambut
dengan senang hati.
Akhir kata, penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah berjasa
memberi motivasi dan bantuan kepada penulis sehingga penulisan makalah ini,
dapat dirampungkan

Medan, 25 Oktober 2018

Kelompok 5

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................i


DAFTAR ISI ...................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................1
1.1 Latar Belakang ...........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................1
1.3 Tujuan ........................................................................................................1
BAB II IDENTITAS DAN RINGKASAN BUKU .......................................2
2.1 Identitas Buku ............................................................................................2
2.2 Ringkasan Buku .........................................................................................2
BAB III PEMBAHASAN ..............................................................................11
3.1 Hasil Analisis Buku....................................................................................11
BAB IV PENUTUP ........................................................................................13
4.1 Kesimpulan ................................................................................................13
4.2 Saran...........................................................................................................13
Daftar Pustaka................................................................................................14

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam proses belajar mengajar, buku teks pelajaran merupakan faktor
penunjang bagi mahasiswa dan merupakan media pembelajaran yang sangat
penting. Buku teks dipandang sebagai suatu sarana untuk mengkomunikasikan
ilmu pengetahuan. Artinya buku yang digunakan oleh dosen dan mahasiswa
harus secara jelas dapat mengkomunikasikan informasi, konsep, pengetahuan,
dan mengembangkan kemampuan sedemikian sehingga dapat dipahami oleh
mahasiswa.
Critical book adalah hasil kritik atau bandingan tentang suatu topik materi
terhadap buku. Penulisan critical book ini pada dasarnya adalah untuk
mengetahui kelemahan dan kelebihan buku. Setiap buku yang dibuat oleh
penulis tertentu pastilah mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-
masing. Suatu buku dengan kelebihan yang lebih dominan dibanding dengan
buku lainnya artinya buku ini layak untuk dipakai dan dijadikan sumber
referensi bagi mahasiswa dan khalayak ramai.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat diambil beberapa
rumusan masalah yaitu :
1. Apakah isi buku cukup bermanfaat sebagai salah satu sumber belajar ?
2. Bagaimanakah isi dan konsep penyajian buku ?
3. Apa kelebihan dan kekurangan buku ?
1.3 Tujuan
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, tujuan dari makalah ini
adalah :
1. Menganalisis isi buku.
2. Mengetahui isi dan konsep penyajian buku.
3. Menganalisis apa saja kekurangan dan kelebihan buku.
BAB II

1
IDENTITAS DAN RINGKASAN BUKU

2.1 Identitas Buku


2.1.1 Identitas Buku I
Judul Buku : Fisika Modern
Penulis : Halliday
Penerjemah : Pantur Silaban, Ph.D
Tahun Terbit : 1990
Penerbit : Erlangga
Kota Terbit : Jakarta
2.1.2 Identitas Buku II
Judul Buku : Fisika Umum 2
Penulis : Drs.Mulyatno, M.Si
Tahun Terbit : 2002
Penerbit : Universitas Terbuka
Kota Terbit : Jakarta

2.2 Ringkasan Buku

2.2.1 Ringkasan Buku I


Peluruhan Alfa

238
U, sebuah pemancar alfa yang khas, meluruh secara spontan menurut skema

238 234
U Th + 4He

dan umur paruhan peluruhan itu adalah 4,47 x 109 y.

Jika energi dilepaskan di dalam tiap-tiap peristiwa peluruhan seperti itu,


238
mengapa inti U tidak meluruh segera setelah inti itu diciptakan? Proses
penciptaan tersebut barangkali terjadi di dalam ledakan besar bintang-bintang
leluhur (super nova), yang mendahului pembentukan tata surya kita. Mengapa inti
ini menunggu sangat lama sebelum inti ini menghilangkan kelebihan energinya

2
dengan memancarkan sebuah partikel-α? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka
kita harus mengkaji mekanisme peluruhan alfa tersebut secara rinci.

Kita memilih sebuah model di dalam mana kita membayangkan terdapat


partikel- α yang terbentuk sebelumnya di dalam inti tersebut sebelum partikel- α
itu melepaskan diri.

Gambar diatas memperlihatkan fungsi energi potensial U(r) secara


234
aproksimasi untuk partikel- α itu dan inti Th residu sebagai fungsi dari jarak
234
pemisahan antara partikel-α dan inti Th. Gambar itu adalah kombinasi sebuah
sumur potensial yang diasosiasikan dengan gaya nuklir kuat (yang bersifat
menarik) yang beraksi di bagian dalam inti (daerah α) dan sebuah potensial
Coulomb yang diasosiasikan dengan gaya elektrostatik (yang bersifat menolak)
yang beraksi di antara dua partikel setelah peluruhan itu terjadi (daerah b).

Garis horisontal yang ditandai Qα = 4,26 MeV memperlihatkan energi


disintegrasi untuk proses tersebut. Perhatikan bahwa garis ini memotong kurva
energi potensial di dua titik, R1 dan R2. Sekarang lihat mengapa partikel- α itu
238
tidak segera dipancarkan dari inti U. Inti tersebut dikelilingi oleh sebuah
rintangan potensial yang cukup besar (impresif), yang diperlihatkan oleh luas
yang dinaungi di dalam gambar tersebut. Pandanglah rintangan ini sebagai sebuah
kulit bola yang jari-jari dalamnya adalah R1 dan jari-jari luarnya adalah R2, dan
volumenya adalah daerah terlarang bagi partikel- α dibawah hukum-hukum fisika
klasik. Jika partikel- α itu menemukan dirinya berada di dalam daerah volume
tersebut maka energi potensialnya U akan melebihi energi totalnya E, yang secara

3
klasik akan berarti bahwa energi kinetiknya K (= E – U) akan negatif, dan hal
seperti ini adalah situasi yang tak mungkin.

238
Bagaimana inti U akan pernah memancarkan sebuah partikel- α?
Partikel- α kelihatannya secara permanen terperangkap di dalam inti oleh
rintangan.

Jawabnya adalah bahwa, seperti yang kita pelajari, di dalam mekanika


gelombang selalu ada peluang bahwa sebuah partikel dapat menerobos sebuah
rintangan yang secara klasik tidak dapat diatasi. Cukup menarik, bahwa
keterangan mengenai peluruhan alfa dengan menggunakan penerobosan rintangan
mekanika gelombang adalah salah satu dari penerapan paling pertama dari fisika
kuantum yang baru itu.

238
Untuk peluruhan U yang berumur panjang, rintangan itu sebenarnya
tidak mudah “bocor”. Kita dapat memperlihatkan bahwa partikel- α itu, yang
diperkirakan bergerak bolak-balik di dalam inti harus menghadirkan dirinya di
permukaan sebelah dalam rintangan itu kira-kira 1038 kali sebelum berhasil
menerobos. Ini kira-kira 1020 kali per detik untuk selama kira-kira 109 tahun.
Sudah tentu, kita menungg di luar permukaan, dengan hanya mencatat partikel- α
yang berhasil melepaskan diri.

Nuklid Umur Paruhan

4,26 MeV 4,9 x 109 y

6,81 MeV 550 s

Kita dapat menguji keterangan penerobosan rintangan ini mengenai


peluruhan alfa dengan memandang pemancar alfa lain, untuk mana rintangan itu
akan berbeda. Untuk mempertentangkannya secara ekstrim, tinjaulah peluruhan
228
alfa dari isotop uranium lain, yakni U, yang dapat diperlihatkan mempunyai
energi disintegrasi Q’α sebesar 7,43 MeV, kita dapat memperlihatkan ini sebagai
sebuah garis lurus terputus-putus dalam gambar diatas.

4
Perhatikan bahwa dalam kasus ini rintangannya lebih tipis dan lebih
rendah, jika pengertian kita mengena penerobosan rintangan adalah betul, maka
kita akan mengharapkan peluruhan alfa itu terjadi lebih mudah untuk nuklid ini
238
daripada untuk U. Sesungguhnya memang demikian, seperti yang diperlihatkan
oleh tabel diatas, perubahan paruhnya hanya 550 s.

Peluruhan Beta

Sebuah inti yang meluruh secara spontan dengan memeancarkan sebuah


elektron (baik positif maupun negatif) dikatakan mengalami peluruhan beta.

Mungkin kelihatannya aneh bahwa inti dapat memancarkan elektron (dan


neutrini) dari segi kenyataan bahwa kita telah mengatakan bahwa inti itu hanya
terbuat dari neutron dan proton. Akan tetapi, kita telah melihat sebelumnya
bahwa atom memancarkan foton, dan kita sudah tentu tidak mengatakan bahwa
atom mengandung foton. Kita mengatakan bahwa foton diciptakan selama proses
pemancaran.

Demikian juga halnya dengan elektron dan neutrino yang dipancarkan dari inti
selama peluruhan beta. Kedua duanya diciptakan selama proses pemancaran,
dimana sebuah neutron mengubah dirinya menjadi sebuah proton di dalam inti itu
atau sebaliknya:

n→p+e-+v peluruhan β_

p→n+e++v peluruhan β+

Ternyata, kedua proses inilah yang merupakan yang merupakan proses


peluruhan beta dasar. Di dalam peluruhan alfa, partikel yang dipancarkan
mempunyai energi yang di definisikan secara tajam, yang sangat cocok
pemahaman kita bahwa jumlah energi yang sama dilepaskan di dalam tiap-tiap
proses peluruh alfa individu. Akan tetapi, di dalam peluruhan beta,energi elektron
yang dipancarkan di distribusikan kedalam sebuah spektrum kontinu dari nol.

5
Pauli-lah yang menyarankan bahwa suatu partikel lain harus dipancarkan
selama peluruhan beta, untuk menerangkan energi yang hilang tersebut dan
secara insidentil, untuk memecahkan sebuah teka-teki yang sama seriusnya, yang
melibatkan momentum sudut yang hilang.

Neutrino tersebut benar-benar merupakan sebuah partikel yang sukar


dipahami. Telah di hitung bahwa jalan bebas rata-rata dari sebuah neutrino ber
energi tinggi di dalam air tidak kurang dari beberapa ribu tahun cahaya. Matahari
memancarkan neutrino secara berlebihan.

Kendati pun sifat neutrino itu sukar untuk dipahami, namaun neutrini telah
di deteksi didalam laboratorium, pertama tama pada tahun 1953 oleh F.Reines dan
C.L. Cowan, dan neutrino yang mereka ukur dihasilkan di dalam sebuah reaktor
nuklir berdaya tinggi. Meskipun pendeteksiannya sangat sukar, namun fisika
neutrino eksperimental sekarang ini telah merupakan cabang fisika yang
ekstrimental berkembang dengan baik, dengan orang orang-orang praktisnya yang
sangat keranjingan di beberapa laboratorium besar diseluruh dunia.

Nuklid-nuklid pada dinding kepala lembah sebuah daerah yang


dipergerakkan, meluruh kedalam lembah tersebut terutama melalui rantai
peluruhan alfa dan melalui fisi spontan. Nuklid-nuklid pada sisi lembah yang kaya
protonnya meluruh ke dalam lembah tersebut dengan memancarkan elektron
positif, dan nuklid-nuklid pada sisi lembah yang kaya neutronnya meluruh
kedalam lembah tersebut dengan memancarkan elektron negatif.

2.2.2 Ringkasan Buku II

Peluruhan Alfa ( α )
Partikel α terdiri ats dua proton dan neutron dan sering pula disebut sebagai
inti Helium (2He4), maka radionuklida yang mengalami peluruhan α akan
kehilangan dua proton dan dua neutron, dan membentuk nuklida baru. Peristiwa
peluruhan α ini dapat ditulis secara simbolik melalui reaksi inti sebagai berikut:

zxA z–2
α-4
+ 2He4

6
Dalam ketidakstabilan inti, energy atau massa suatu inti induk adalah lebih
besar dari energy atau massa inti anak ditambah massa inti. Perbedaan massa
tersebut muncul sebagai energy kinetic yang dibawa oleh inti anak dan partikel α.
Energi kinetic yang muncul sebagai akibat terjadinya peluruhan disebut energy
peluruhan (Q), yang besarnya adalah

Q = (M1 – MA mα) c2 ,

dimana M1 adalah massa inti induk, MA adalah massa inti anak, mα adalah massa
partikel dan c adalah kecepatan cahaya.

Jika inti induk mempunyai massa kurang dari massa inti anak ditambah
massa partikel α, dan(Q<0), maka tidak terjadi peluruhan. Untuk peluruhan
spontan harus dipenuhi Q>0, sehingga

M1 c2 > MA c2 - mα c2 , atau M1 > MA + mα

Maka hanya inti-inti dengan A ≥ 200 yang memenuhi syarat untuk terjadinya
peluruhan.

Peluruhan Beta ( )

Transmutasi inti juga terjadi bila inti meluruh oleh karena peluruh , yaitu
dengan memancarkan electron atau partikel . Pada waktu itu ditunjukkan bahwa
beberapa isotope radioaktif alam memancarkan partikel yang bermuatan negatif.
Pemantapan neutrino secara langsung baru mungkin dilakukan setelah adanya
scintillator cairan. Sedangkan percobaan peluruhan yang menyangkut orientasi
nuklir, baru dapat dikembangkan setelah teknologi temperatur rendah dapat
dikuasai. Perkembangan yang lambat dari peluruhan dapat dimengerti karena
menyangkut bukan saja struktur inti, tetapi juga gaya yang menyebabkan
peluruhan tersebut.

Peluruhan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu peluruhan yang

- +
terdiri dari atas partikel yang sifat-sifatnya sama dengan electron. Peluruhan

+
yang terdiri atas partikel yang massanya sama dengan massa electron tapi

-
bermuatan listrik positif sebesar muatan electron disebut positron. Partikel yang

7
dinyatakan sebagai -1e0 dan partikel +
dinyatakan sebagai -1e0. Sehingga

-
peristiwa peluruhan dapat dituliskan sebagai berikut :

zXA Z+1 YA + -1e0

-
syarat terjadinya peluruhan misalnya inti zXA adalah M1 , massa inti Z+1 YA
adalah MA dan massa diam electron adalah me.

dari hukum kekelan energy:

M1c2 = MAc2 + KA + me c2 + Ke = MAc2 + me c2 + Q

Dimana Q = KA + Ke adalah energy peluruhan, sehingga

Q = M1c2 - MAc2 - me c2

Q = (M1 - MA - me ) c2

Apabila M (Z) dalah massa sebuah atom dengan nomor atom Z dan nomor massa
A, maka

M(Z) = M1 + Z me

M1 = M(Z) – Z me

Sehingga massa sebuah atom dengan nomor atom Z + 1 adalah

(M1 + Z) = MA + (Z+1) me

MA = M(Z+1) – (Z+1) me

Q = [M(Z) – Z me – M (Z+1) + (Z+1) me - me 1 c2

Q = [M(Z) – M (Z+1)] c2

+
Sedangkan peluruhan atau positron adalah

z XA Z-1 YA + +1e0

+
seperti halnya pada peluruhan , untuk terjadinya peluruha berlaku pula syarat
yang sama, yaitu

Q = (M1 - MA - me ) c2

8
Q = [M(Z) – Z me – M (Z-1) + (Z-1) me - me 1 c2

Q = [M(Z) – M (Z-1) 2 me] c2

Selain peluruhan partikel β dan β+ dalam peluruhan partikel β juga dikenal


adanya penangkapanelektron (electron capture). Ha ini terjadi apabia elektron
dalam kulit K masuk ke dalam inti dan di tangkap. Elektron yang ditangkap
tersebut meninggalkan lubang pada kulit K. maka lubang yang ditinggalkan oleh
elektron pada kulit K tersebut akan diisi oleh elektron dari kuli L sehingga terjadi
transisi elektron pada kulit L untuk mengisi lubang (lihat gambar 6.4). Akibat
transisi itu maka dipancarkan sinar-X yang energinya adalah

hfK = EK - EL

dimana EK dan EL masing-masing adalah energi elektron di kulit K dan L.

Kadang-kadang sinar-X yang dipancarkan berinteraksi dengan elektron lain


sehingga dipancarkan elektron yang akan dinamakan elektron Auger. Energi
kinetik elektron dari kulit L dapat dihitung sebagai berikut:

Gambar 6.4 penangkapan elektron K dan pemancaran elektron Auger dari kulit L

Ke = hfK - EL

= EK - EL - EL

= EK – 2 EL

Syarat terjadinya penangkapan elektron adalah

Q = [M(Z) – M(Z-1)]c2>0

Atau

M(Z)>M(Z-1)

Peluruhan Gamma (γ)

9
Peluruhan gamma adalah proses peluruhan radioaktif dengan memancarkan
sinar gamma yang meruoakan radiasi elektromagnetik. Peluruhan gamma terjadi
pada nuklida yang dihasilkan dari peluruhan α dan β yang berada dalam keadaan
tereksitasi, yaitu nuklida yang memiliki tingkat energi di atas tingkat energi
terendahnya (energi dasar). Tingkat energi dasar nuklida adalah energi ikat total
dari nuklida stabil.

Pada peluruhan gamma tidak terjadi perubahan jumlah proton atau jumlah
neutron melainkan hanya perubahan energi. Jadi secara simbolik nuklida
radioaktif yang mengalami peluruhan gamma dapat dituliskan sebagai berikut:

ZXA+ Z XA + γ

Tanda * menunjukkan bahwa nuklida tersebut tidak stabil (tereksitasi)

Partikel-partikel hasil peluruhan nuklida yang telah diuraikan tadi (α, β, dan γ )
mempunyai sifat khusus, yaitu :

Partikel α

1. Partikel α adalah inti atom helium dan bermuatan listrik positif sebesar 2
kali muatan elektron.
2. Daya ionidsdi α sangat besar, kira-kira 100 kali daya ionisasi sinar β dan
10.000 kali daya ionisasi sinar
3. Karena daya ionisasi partikel α sangat besar maka jarak jangkaunya di
udara sanga pendek, berkisar antara 3,4 – 8,6 cm tergantung energinya
4. Karena bermuatan listrik, maka berkas partikel α akan dibelokkan jika
melewati medan magnet atau medan listrik
5. Partikel α dipancarkan dari nuklida radioaktif dengan kecepatan yang
bervariasi antara 1/100 hingga 1/10 kecepatan cahaya

Partikel β

1. Terdiri atas 2 macam sinar β, yaitu β- (elektron) dan β+ (positron)


2. Daya ionisasi di udara1/100 kali daya ionisasi partikel α
3. Kecepatan partikel γ antara 1/100 hingga 99/100 kali kecepatan cahaya.

10
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Hasi Analisis Buku


No Aspek yang Dinilai Hasil Analisis

1. Tampilan Buku a. Tampilan sampul buku I dan II baik


b. Isi buku I dan II baik.
c. Setiap bab diawali dengan pendahuluan
yang berisi pernyataan yang jelas
mengenai tujuan bab.

2. Konsep / Teori Konsep/Teori dalam buku I dan II ini sudah cukup


lengkap yang membuat pembaca mudah dalam
memahami teori dikarenakan kalimat atau
bahasanya yang mudah dipahami oleh pembaca.
Dari bab mengenai peluruhan alfa, beta dan
gamma yang dibahas, buku I tidak menjelaskan
mengenai peluruhan gamma.
3. Rumus Rumus yang dimuat pada buku I dan II ini sudah
cukup jelas. Namun dalam bab mengenai
peluruhan alfa, beta dan gamma buku II
menampilkan rumus yang lebih lengkap dari buku
I.
4. Gambar Gambar yang disajikan dalam buku ini sangat
banyak. Gambar ditampilkan untuk mendukung
atau menunjang materi. Setiap gambar yang
disajikan akan dijelaskan dengan sangat jelas dan
menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.
Dalam bab yang di kritik, buku I lebih banyak
menampilkan gambar atau grafik-grafik daripada
buku II.
5. Kelengkapan Buku Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan
oleh penulis mengenai kedua buku tersebut, buku

11
I dan II memiliki kelemahan dan kelebihan
masing-masing. Buku I tidak membahas mengenai
peluruhan gamma, sedangkan buku II
menjelaskan ketiga peluruhan yaitu alfa, beta, dan
gamma. Namun buku I menampilkan grafik-grafik
lebih banyak daripada buku II.

12
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa buku I dan II
memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Buku I tidak membahas
mengenai peluruhan gamma, sedangkan buku II menjelaskan ketiga peluruhan
yaitu alfa, beta, dan gamma. Namun buku I menampilkan grafik-grafik lebih
banyak daripada buku II. Sehingga penggunaan kedua buku dapat menjadi
referensi bagi mahasiswa.
4.2 Saran
Buku I dan II ini sudah menyajikan defenisi yang baik, akan tetapi lebih baik
jika adanya penambahan contoh soal sehingga pembaca dapat lebih mengerti
untuk menjawab soal-soal.

13
DAFTAR PUSTAKA

Halliday. (1990). Fisika Modern. Jakarta:Erlangga

Mulyatno.(2002). Fisika Umum 2. Jakarta:Universitas Terbuka

14