Anda di halaman 1dari 15

OTONOMI KHUSUS PAPUA DAN PAPUA BARAT

SERTA PROPLEMATIKANYA

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu mata kuliah

“SISTEM PEMERINTAHAN OTONOMI KHUSUS”

Dosen pengampu :

Yusron Munawir, S.H.I, M.H.

Disusun oleh kelompok 9 :

1. Hendri Wahyu Lestari (17104163081)


2. Rismadyana Nur Indah Safitri (17104163079)

HTN C – SMT 6

JURUSAN HUKUM TATA NEGARA

FAKULTAS SYARIAH DAN ILMU HUKUM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG

FEBRUARI 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa
atas berkat rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik walaupun masih banyak kekurangan
didalamnya.

Makalah ini akan membahas mengenai “OTONOMI KHUSUS PAPUA


DAN PAPUA BARAT SERTA PROBLEMATIKANYA”. Kami juga berharap
semoga pembuatan makalah ini tentunya tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak. Untuk itu kami ucapkan terimakasih kepada :

1. Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung Prof. Dr. H.


Maftukhin, M.Ag.

2. Dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan


makalah ini Yusron Munawir, S.H.I, M.H.

3. Teman – teman dan seluruh pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyelesaian
makalah.

Tiada gading yang tak retak, itu kata pepatah tiada satupun manusia yang
luput dari kesalahan, oleh karena itu kami berharap pemberian maaf yang
sebesar-besarnya. Atas kekurangan dan kesalahan, baik yang disengaja maupun
yang tidak disengaja. Saran dan kritik sangat kami harapkan agar kami dapat
memperbaiki makalah-makalah selanjutnya.

Penyusun

Tulungagung, 17 Februari 2019

ii
DAFTAR ISI

JUDUL ……………………………………………………………………… i
KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................. 1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2
C. Tujuan Penulisan ................................................................................ 2
BAB II. PEMBAHASAN .............................................................................. 3
A. Pengertian Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat ......................... 3
B. Implementasi Otonomi Khusus Papua dan papua Barat ................... 3
C. Problematika Perda Manokwari “Kota injil” .................................... 7
BAB III. PENUTUP ...................................................................................... 11
A. Kesimpulan ......................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Otonomi khusus (Otsus) bagi Provinsi Papua dan Papua Barat pada
dasarnya adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan bagi provinsi
dan rakyat Papua untuk mengatur dan mengurus sendiri dalam kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Kewenangan khusus berarti memberikan
tanggung jawab yang lebih besar bagi provinsi dan rakyat Papua untuk
menyelenggarakan pemerintahan dan mengatur pemanfaatan kekayaan alam di
Provinsi Papua untuk sebesar besarnya bagi kemakmuran rakyat Papua sebagai
bagian dari rakyat Indonesia sesuai dengan peraturan perundang–undangan.
Kewenangan ini berarti pula kewenangan untuk memberdayakan potensi sosial
budaya dan perekonomian masyarakat Papua termasuk memberikan peran yang
memadai bagi orang–orang asli Papua melalui para wakil adat, agama, dan kaum
perempuan yang diwujudkan dalam Majelis Rakyat Papua.

Kebijakan Otsus Papua dan Papua Barat juga telah memberi peluang
bagi orang asli Papua untuk mengaktualisasikan diri melalui simbol–simbol
budaya lokal (cultural) sebagai wujud kemegahan jatidiri, pengakuan terhadap
eksistensi hak ulayat, adat, masyarakat adat, hukum adat, dan sebagainya.
Berdasarkan kebijakan Undang–Undang No.21 tahun 2001 tentang otsus bagi
Provinsi Papua, maka kebijakan pembangunan kabupaten/kota provinsi Papua
dan Papua Barat diarahkan pada empat titik krusial, mencakup sektor
pendidikan, kesehatan, ekonomi rakyat, dan infrastruktur perhubungan rakyat.
Di daerah otonomi khusus ini mampukah pemerintah mengimplementasikan
berbagai kebijakan pelayanan publik tersebut, tentunya pemerintah masih
diperhadapkan pada problematika yang amat serius.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud otonomi khusus Papua dan Papua Barat?
2. Bagaimana implementasi otonomi khusus Papua dan Papua Barat?
3. Bagaimana problematika Perda Manokwari “Kota injil”?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian otonomi khusus Papua dan Papua Barat.
2. Mengetahui implementasi otonomi khusus Papua dan Papua Barat.
3. Mengetahui problematika Perda Manokwari “Kota injil”.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat


Istilah “otonomi” dalam Otonomi Khusus haruslah diartikan sebagai
kebebasan bagi rakyat Papua untuk mengatur dan mengurus diri sendiri,
sekaligus pula berarti kebebasan untuk berpemerintahan sendiri dan mengatur
pemanfaatan kekayaan alam Papua untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
Papua dengan tidak meninggalkan tanggung jawab untuk ikut serta mendukung
penyelenggaraan pemerintahan pusat dan daerah-daerah lain di Indonesia yang
memang berkekurangan. Hal ini yang tidak kalah penting adalah kebebasan
untuk menentukan strategi pembangunan social, budaya, ekonomi dan politik
yang sesuai dengan karakteristik dan kekhasan sumber daya manusia serta
kondisi alam dan kebudayaan orang Papua. Hal ini penting sebagai bagian dari
pengembangan jati diri orang Papua yang seutuhnya yang ditunjukkan dengan
penegasan identitas dan harga dirinya.
Istilah “khusus” hendaknya diartikan sebagai perlakuan berbeda yang
diberikan kepada Papua karena kekhususan yang dimilikinya. Kekhususan
tersebut mencakup hal-hal seperti tingkat sosial ekonomi masyarakat,
kebudayaan dan sejarah politik. Dalam pengertian praktisannya, kekhususan
otonomi Papua berarti bahwa ada hal-hal mendasar yang hanya berlaku di Papua
dan mungkin tidak berlaku di daerah lain di Indonesia, dan ada hal-hal yang
berlaku di daerah lain di Indonesia yang tidak diterapkan di Papua.

B. Implementasi Otonomi Khusus di Papua dan Papua Barat


Pemberlakuan Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dan Provinsi Papua
Barat (Otsus Papua) didasarkan pada UU No. 21 Tahun 2001 jo UU No. 35
Tahun 2008, adalah sebuah hasil kompromi politik antara masyarakat Papua
dan pemerintah pusat untuk menyelesaikan konflik multidimensi yang
berkepanjangan sejak tahun 1962. Melalui kompromi politik tersebut
pemerintah bersedia melakukan koreksi untuk tidak mengulang lagi berbagai
kebijakan dan bentuk pendekatan pembangunan dimasa lalu yang umumnya
tidak berpihak kepada orang Papua, dan berimplikasi pada keterpinggiran dan

3
ketertinggalan orang Papua di segala bidang pembangunan, sehinga
berakumulasi pada menguatnya keinginnan/aspirasi untuk memisahkan diri dari
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Perjalanan implementasi Otsus Papua selama 8 tahun lebih ternyata
belum menunjukkan capaian hasil yang maksimal sebagaimana diharapkan
semua pihak sehingga menimbulkan kesan seakan-akan pemerintah pusat
maupun provinsi dan kabupaten/kota beserta seluruh jajarannya termasuk aparat
TNI dan Polri belum menunjukkan komitmen yang kuat untuk secara konsisten
melaksanakan amanat undang-undang Otsus secara efektif, jujur, dan
komprehensif. Beberapa kebijakan pemerintah pusat justru dianggap
mengingkari hasil kompromi tersebut. Bilamana pemerintah dan para pihak
penyelenggara negara termasuk provinsi dan kabupaten/kota benar-benar
menunjukkan kesungguhan dalam melaksanakan amanat undang-undang Otsus,
maka akan terjadi perubahan yang signifikan kearah kemajuan dan perbaikan
kualitas kehidupan rakyat Papua dalam berbagai aspek kehidupan menuju
kearah tercapainya suasana kehidupan bersama yang aman, damai, sejahtera dan
berkeadilan seperti yang diamanatkan UUD Negara RI dan akan memberi
sumbangan yang signifikan pula bagi integrasi bangsa dan negara yang semakin
kokoh.
Pada dasarnya Otsus Papua adalah solusi bagi penyelesaian masalah
Papua di waktu lalu, sekarang, dan di waktu mendatang yang bersifat
multidimensi. Oleh karena itu UU Otsus Papua sebagai landasan legal formal
pemberian kewenangan khusus oleh negara kepada pemerintah dan rakyat di
provinsi Papua dan provinsi Papua Barat serta komitmen mengalokasikan
sejumlah sumber-sumber pendanaan yang bersifat afirmatif bagi kedua provinsi
tersebut sebagaimana diatur di dalam Pasal 34 s/d 36 UU Otsus Papua,
sesungguhnya merupakan peluang bagi pemerintah dan masyarakat provinsi
Papua dan provinsi Papua Barat untuk memacu proses-proses :
1. Akselerasi pembangunan di berbagai bidang, baik fisik maupun non fisik.
2. Peningkatan mutu penyelenggaraan pemeritahan dan pelayanan publik.
3. Pengembangan inisiatif percepatan pembangunan secara kreatif dan yang
relevan dengan kekhususan serta keunggulan sosial, ekonomi, budaya,

4
kondisi geografi serta potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh kedua
provinsi ini.

Otsus Papua akan mempunyai prospek yang suram dan tidak mampu
menjadi sarana solusi permasalahan dan penawar berbagai konflik di Papua,
serta menjadi sarana pencapaian kehidupan yang bermanfaat bagi orang Papua
didalam NKRI bilamana :
1. Pemerintah baik pusat dan daerah dapat mengubah paradigm pembangunan
Papua yang selama ini berorientasi pada pendekatan keamanan kepada
pendekatan yang difokuskan pada pencapaian kesejahteraan sesuai dengan
tujuan otsus.
2. Menghentikan dan menyelesaikan semua bentuk pelanggaran HAM di
Papua termasuk apabila pelanggaran-pelanggaran HAM diwaktu lalu gagal
diselesaikan secara adil dan bermartabat,
3. Meningkatkan kapasitas dan integritas pemerintah Papua sesuai dengan jiwa
dan amanat UU No 21 Tahun 2001 memberikan kesempatan untuk
menciptakan perubahan bagi peningkatan berbagai aspek kehidupan
masyarakat Papua dan penataan kembali pemerintahan di Papua.
4. Pemerintah dalam artian yaitu provinsi dan kabupaten/kota mendiseminasi
atau mengkomunikasikan berbagai informasi mengenai penggunaan
anggaran dana Otsus sampai ke tingkat paling bawah. Informasi yang
diseminasi haruslah sesuai dengan kenyataan.
5. Penegakan hukum terhadap penyelenggara Negara (birokrat dan anggota
parlemen di tingkat provinsi dan kabupaten/kota) di Papua yang
menyalahgunakan kedudukannya.

Kehadiran UU Otsus bagi provinsi Papua dan provinsi Papua Barat


menjadi landasan legal yang kuat bagi pemerintah untuk melakukan koreksi dan
perbaikan atas kesalahan maupun kelemahan diwaktu lalu agar masyarakat
Papua dapat menikmati suasana kehidupan yang lebih baik, lebih maju serta
diperlakukan secara adil dan bermartabat dalam suasana kehidupan yang aman
dan bebas dari rasa takut. Oleh karena itu diperlukan optimalisasi dan efektivitas

5
pemanfaatan Otsus secara tepat, ketersediaan berbagai perangkat peraturan
pelaksanaan undang-undang Otsus yaitu Perdasus dan Perdasi, dan kesiapan
serta kesungguhan dari stakeholder otonomi khusus Papua yaitu pemerintah
provinsi, kabupaten/kota (DPRP, DPRD) termasuk MRP serta dukungan
berbagai komponen masyarakat sipil di Papua. Peran pemerintah pusat juga
sangat penting untuk mendukung dan mengawasi serta memberi pendampingan
secara efektif kepada kedua provinsi di Papua agar UU Otsus Papua berjalan
efektif dan efesien serta sungguh-sungguh berdampak bagi kemajuan dan
kesejahteraan masyarakat Papua.1
Otonomi khusus di Papua dan Papua Barat, diatur dalam Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus
Bagi Provinsi Papua. Dalam undang-undang ini, diberikan berbagai kekhususan
dalam penerapan otonomi daerah.
Dalam pasal 5 Undang-undang ini, di provinsi Papua dibentuk Majelis
Rakyat Papua (MRP) yang merupakan representasi kultural orang asli Papua
yang memiliki kewenangan tertentu dalam rangka perlindungan hak-hak orang
asli Papua. MRP bekerja dengan berlandaskan pada penghormatan terhadap
adat dan budaya, pemberdayaan perempuan, dan pemantapan kerukunan hidup
beragama. MRP ini berkedudukan di Jayapura sebagai ibukota Papua. MRP
beranggotakan orang-orang asli Papua yang terdiri atas wakil-wakil adat, wakil-
wakil agama, dan wakil-wakil perempuan yang jumlahnya masing-masing
sepertiga dari total anggota MRP.
Selain MRP, di Papua juga memiliki persyaratan khusus bagi gubernur.
Berdasar pasal 12, diatur bahwa yang dapat dipilih menjadi Gubernur dan Wakil
Gubernur adalah Warga Negara Republik Indonesia dengan syarat-syarat orang
asli Papua. Demikian juga dengan Walikota di Papua juga harus dari orang asli
Papua. Dalam penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), juga disediakan
formasi khusus yang hanya bisa diisi oleh putera daerah Papua.
Selain dalam struktur pemerintahan, dalam ekonomi, Papua memiliki
perimbangan penghasilan dengan pemerintah pusat yang besar. Misalnya,

1
Polhukam, Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, Peluang, Tantangan, dan
Harapan, https://polkam.go.id/otonomi-khusus-provinsi-papua-dan-provinsi-papua-barat-peluang-
tantangan-dan-harapan/, diakses Minggu, 17 Februari 2019 pukul 21:24 WIB.

6
penghasilan Pajak Bumi dan Bangunan sebesar 90% (sembilan puluh persen)
dan penghasilan dari Kehutanan sebesar 80% (delapan puluh persen) serta
Perikanan sebesar 80% (delapan puluh persen).

C. Problematika Perda Manokwari “Kota Injil”


Kehadiran berbagai Perda (Peraturan Daerah) bernuansa agama di
Indonesia pada umumnya memang tidak secara terang-terangan menamakan
dirinya sebagai Perda agama. Namun, melihat isinya yang memuat nilai-nilai
agama tertentu jelas menunjukkan bahwa itu adalah sebuah Perda agama. Perda
ini biasa disebut Perda yang melanggar hak-hak asasi manusia karena isinya
terindikasi mendiskriminasikan agama-agama lain. Perda bernuansa agama
sukses diberlakukan di beberapa provinsi di Indonesia. Berbekal dukungan
mayoritas.
Perda bernuansa agama itu setidaknya telah diberlakukan di tingkat
provinsi, kabupaten, kota. Pengalaman sukses menghadirkan Perda agama itu
ternyata telah mendorong agama-agama lain yang terdiskriminasikan untuk
juga menghadirkan Perda agama pada daerah di mana agamaagama tertentu
menjadi mayoritas, seperti misalnya terkait kehadiran Perda Kota Injil di
Manokwari yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.2
Timbul pertanyaan, apakah kehadiran Perda Manokwari Kota Injil yang
awalnya merupakan usulan tokoh-tokoh agama Kristen tentang “Raperda
Pembinaan Mental dan Spiritual” yang kemudian direspon oleh pemerintah
daerah Manokwari, dan dituangkan dalam Rancangan Peraturan Daerah
(Raperda) itu bisa disebut sebagai bagian dari strategi gereja dalam merespon
maraknya Perda-Perda syariah di berbagai daerah di Indonesia? Dan apakah
konsekuensinya bagi gereja-gereja di Indonesia.
Pemicu yang paling kuat lahirnya usulan kontroversial tokoh-tokoh
agama Kristen di Papua dalam bentuk Perda Injil adalah pembangunan Masjid
Raya, sebuah masjid yang berada pada tempat yang strategis, dekat lapangan
udara Manokwari, dan dianggap berpotensi menghapus tanda-tanda Manokwari

2
Binsar A. Hutabarat, Perda Manokwari Kota Injil: Makna dan Konsekuensi Bagi Gereja-Gereja di
Indonesia, Jurnal Societas Dei, Vol. 2, No. 1, April 2015, hlm. 129.

7
sebagai Kota Injil. Tokoh-tokoh agama Kristen di Papua umumnya sepakat
bahwa kehadiran Masjid Raya di Manokwari telah melukai perasaan umat
Kristen Papua, dan menimbulkan perasaan terdiskriminasikan. Penolakan
terhadap Masjid Raya itu dating dari berbagai kalangan umat Kristen di Papua.
Kekecewaan ini selalu saja dihembuskan tokoh-tokoh agama Kristen di Papua,
bahkan ini juga diutarakan oleh pejabat-pejabat lembaga pemerintahan yang
beragama Kristen di Papua, baik eksekutif, maupun legislatif.
Bagi pemimpin-pemimpin gereja Papua, pembangunan Mesjid Raya itu
bertentangan dengan kondisi Manokwari yang sejak lama diakui sebagai Kota
Injil, sekalipun sebutan Kota Injil itu belum diformalkan. Masjid Raya yang
besarnya melampaui gereja-gereja yang pernah ada di Manokwari
dikhawatirkan akan merusak keindahan Manokwari sebagai Kota Injil. Apalagi
usaha tersebut ternyata melibatkan pejabat pemerintahan daerah. Penolakan
umat Kristen terhadap pembangunan Masjid Raya juga didasarkan pada
kenyataan bahwa umat Muslim di Manokwari tidak sedang kekurangan tempat
untuk beribadah.
Kota Manokwari setiap tahun ada perayaan besar agama Kristen yang
dirayakan setiap 5 Februari, hari perayaan masuknya Injil ke Tanah Papua yang
dipusatkan di Pulau Mansinam. Sejarah melaporkan bahwa dua orang
missionary Jerman, pada tanggal 5 Februari 1855, bernama Johann Gottlob
Geissler dan Carl Wilhelm Ottow ketika pertama kalinya menjejakkan kaki di
Pulau Mansinam, pulau yang berada di Kabupaten Manokwari, kedua
missionari itu mengucapkan kata-kata penting yang sampai saat ini dipegang
oleh masyarakat Kristen Papua, “Im Namen Gottes betreten wir dieses Land”‚
Dengan nama Tuhan kami menginjak tanah ini.3
Pernyataan dua missionari yang digelari “Rasul Papua” itu oleh
masyarakat Kristen Papua dipercaya sebagai suatu penetapan Tuhan untuk
Papua, yaitu sebagai tanah milik Tuhan, yang kemudian mereka sebut Kota Injil
atau daerah Injil, karena Manokwari adalah pintu gerbang masuknya Injil ke
Tanah Papua. Perayaan masuknya Injil ke Tanah Papua dirayakan oleh orang

3
B. Dimara, Sejarah 52 Tahun GKI Sesudah 152 Tahun Zending di Mansinam Tanah Papua, (Jakarta:
Yayasan Triton Papua, 2007), hlm. 11.

8
Kristen Papua. Mereka biasanya, dari berbagai daerah di Papua, tumpah ruah di
Pulau Mansinam. Pemerintah juga ikut terlibat memberikan bantuan dalam
penyelenggaraan acara akbar itu. Tokoh-tokoh agama Papua menyesalkan,
“mengapa di tempat itu harus dibangun Mesjid Raya yang besarnya melampaui
gereja-gereja yang ada di Kota Manokwari”.
Tokoh-tokoh agama Papua kemudian bergerak lebih jauh dengan
mengusulkan aturan-aturan yang dapat dituangkan dalam bentuk Perda yang
bersifat memaksa orang Kristen untuk hidup selaras dengan aturan Injil demi
melestarikan Manokwari sebagai Kota Injil sebagaimana layaknya Perda-Perda
syariah yang memaksa umat muslim menaati syariah. Pada bulan Mei 2008
pemerintah daerah Manokwari kemudian mengakomodasi usulan tokoh-tokoh
agama Kristen tersebut, dan lahirlah “Raperda Tentang Penataan Manokwari
Sebagai Kota Injil”.
Menurut pemikiran Kristen, undang-undang yang menaungi kehidupan
orang banyak itu harus berisi nilai-nilai yang bersifat universal, atau nilai-nilai
kebaikan bersama. Di sana tidak ada pembenaran terhadap diskriminasi agama,
semua agama berhak untuk memberikan kontribusinya, dan agama-agama harus
mendorong agama-agama lain untuk dapat memberikan kontribusi bersama
dalam pembentukan undang-undang.4
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa apa yang dimuat
dalam draft Raperda Pembinaan Mental dan Spiritual yang kemudian berubah
menjadi Draft Raperda Injil, atau Penataan Manokwari Sebagai daerah Injil,
bukan hanya isinya yang tidak sesuai dengan pandangan iman Kristen. Tapi
keberadaan Perda Injil itu sendiri bertentangan, karena itu merupakan hegemoni
agama Kristen terhadap agama-agama lain. Agama berusaha memakai negara
untuk kepentingan privat agama, dan akibatnya akan melahirkan diskriminasi
terhadap agama-agama lain.
Dengan demikian jelaslah kehadiran Perda Manokwari Kota Injil
ternyata telah memosisikan gereja ketika menjadi mayoritas cenderung
mendiskriminasikan agama-agama lain. Itu terbukti dari pasal-pasal
diskriminatif yang tertuang dalam Perda Manokwari Kota Injil, baik berupa

4
Ibid, hlm. 154.

9
larangan melakukan kegiatan publik pada hari Minggu untuk agama-agama
lain, pelarangan penggunaan jilbab, pelarangan azan, dan keharusan
pemasangan atribut-atribut Kristen pada gedung-gedung pemerintah.
Di samping itu kehadiran Perda Manokwari Kota Injil telah melahirkan
kontroversi di dalam Gereja itu sendiri. Kontroversi terjadi antara mereka yang
setuju dan mereka yang menolak kehadiran Perda Manokwari Kota Injil. Perda
Manokwari Kota Injil bisa menyebabkan terjadinya perpecahan di dalam gereja,
bukan hanya di Papua, tetapi juga pada gereja-gereja di luar Papua.
Kehadiran Perda Manokwari Kota Injil jelas mencerminkan adanya
kemunduran gereja, yakni adanya ketidakmampuan gereja untuk menafsirkan
Injil secara benar, dan kemudian membawanya pada konteks Indonesia. Ini juga
membuktikan bahwa gereja ternyata tidak mampu memahami Pancasila sebagai
dasar bagi kehidupan bersama, rumah bersama bagi agama-agama yang ada di
Indonesia. Gereja bias dianggap mengingkari nilai-nilai dari Pancasila.

10
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Istilah “otonomi” dalam Otonomi Khusus haruslah diartikan sebagai


kebebasan bagi rakyat Papua untuk mengatur dan mengurus diri sendiri,
sekaligus pula berarti kebebasan untuk berpemerintahan sendiri. Istilah “khusus”
hendaknya diartikan sebagai perlakuan berbeda yang diberikan kepada Papua
karena kekhususan yang dimilikinya.

Perjalanan implementasi Otsus Papua selama 8 tahun lebih ternyata


belum menunjukkan capaian hasil yang maksimal sebagaimana diharapkan
semua pihak sehingga menimbulkan kesan seakan-akan pemerintah pusat
maupun provinsi dan kabupaten/kota beserta seluruh jajarannya termasuk aparat
TNI dan Polri belum menunjukkan komitmen yang kuat untuk secara konsisten
melaksanakan amanat undang-undang Otsus secara efektif, jujur, dan
komprehensif.

Apa yang dimuat dalam draft Raperda Pembinaan Mental dan Spiritual
yang kemudian berubah menjadi Draft Raperda Injil, atau Penataan Manokwari
sebagai daerah Injil, bukan hanya isinya yang tidak sesuai dengan pandangan
iman Kristen. Tapi keberadaan Perda Injil itu sendiri bertentangan, karena itu
merupakan hegemoni agama Kristen terhadap agama-agama lain. Agama
berusaha memakai negara untuk kepentingan privat agama, dan akibatnya akan
melahirkan diskriminasi terhadap agama-agama lain.

11
DAFTAR PUSTAKA

Dimara, B. 2007. Sejarah 52 Tahun GKI Sesudah 152 Tahun Zending di Mansinam
Tanah Papua. Jakarta: Yayasan Triton Papua.

Hutabarat, Binsar A. 2015. Perda Manokwari Kota Injil: Makna dan Konsekuensi
Bagi Gereja-Gereja di Indonesia. Jurnal Societas Dei, Vol. 2, No. 1.

Polhukam. Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, Peluang,
Tantangan, dan Harapan. https://polkam.go.id/otonomi-khusus-provinsi-
papua-dan-provinsi-papua-barat-peluang-tantangan-dan-harapan/. diakses
Minggu, 17 Februari 2019 pukul 21:24 WIB.

12