Anda di halaman 1dari 4

RESUME JURNAL

Judul Jurnal dan “VISUAL FUNCTIONS AND DISABILITY IN DIABETIC


edisi RETINOPATHY PATIENT”
Gauri Shankar Shrestha, Raju Kaiti
2014
Latar Belakang
Tunanetra sekunder akibat retinopati diabetik merupakan suatu
masalah kesehatan masyarakat yang utama. Terdapat 83% kebutaan
terjadi antara orang-orang muda dengan onset baru diabetes dan 33%
di antara orang tua dengan onset lama diabetes. Diabetes sendiri dapat
meningkatkan risiko kebutaan 25 kali. Diabetik retinopati dapat
terjadi sekitar 7-29% dari pasien yang memperoleh pengobatan yang
cukup. Sekitar dua pertiga dari penderita diabetes memiliki
kemungkinan meningkat dari gangguan penglihatan setelah 35
tahunmenderita penyakit tersebut dan 25 kali lebih mungkin untuk
mengalami kebutaan, dibandingkan dengan kondisi kesehatan
lainnya.
Pasien dengan tajam penglihatan yang rendah akan mengalami
penurunan status fungsional, kegiatan hidup sehari-hari dan kualitas
hidup. Seseorang dengan penurunan tajam penglihatan karena
retinopati diabetes sering mengalami kesulitan terhadap kegiatan
seperti mengidentifikasi wajah, membaca nomor bus dari kejauhan,
membaca huruf kecil dan cetak kontras rendah, menulis dalam garis
lurus, intoleransi cahaya dan kesulitan dalam bergerak di luar ruangan
setelah senja, belanja, memasak dan menemukan makanan, melihat
waktu pada saat menonton, atau membedakan koin dan kertas dalam
ukuran yang sama.
Gangguan penglihatan pada penderita diabetes memiliki
kebutuhan khusus untuk ditangani. Karena mereka harus mampu
melihat dengan cukup baik dalam hal mengisi jarum suntik insulin,
membaca label obat-obatan oral dan untuk melihat indikator tingkat
gula darah mereka. Mereka juga mungkin memiliki neuropati yang
sudah mempengaruhi kaki mereka. Oleh karena itu, memanfaatkan
penglihatan menjadi hal terpenting pada beberapa kasus.
Tujuan
Penelitian ini dilakukan untuk menemukan korelasi antara fungsi
visual dan disabilitas visual pada pasien dengan retinopati diabetik.

Metodologi Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian cross-sectional


dilakukan pada 38 orang tunanetra akibat retinopati diabetes di Low
Vision Clinic dari B.P. Koirala Lions Pusat Studi Kedokteran mata,
Kathmandu. Subyek menjalani penilaian jarak dan ketajaman
penglihatan dekat, refraksi obyektif dan subjektif , sensitivitas
kontras, penglihatan warna dan penilaian lapang pandang pusat dan
perifer. Disabilitas visual setiap subjek dinilai dalam kehidupan
sehari-hari dievaluasi menggunakan kuesioner. Kemudian
dilakukan analisis regresi berganda antara fungsi visual dan
disabilitas visual.
Hasil Mayoritas subyek (42,1%) adalah dari kelompok usia 60-70
tahun. Koreksi terbaik pada ketajaman penglihatan ditemukan 0,73
± 0,2 pada mata yang lebih baik dan 0,93 ± 0,27 pada mata yang
buruk. Perbedaan yang signifikan yaitu p = 0,002. Skor disabilitas
visual secara signifikan lebih tinggi untuk keterbatasan dalam
membaca huruf (1,2 ± 0,3) dan kalimat (1,4 ± 0,4), dan juga untuk
pakaian (0,7 ± 0,3). Indeks disabilitas visual untuk keterbacaan
huruf dan kalimat secara signifikan berkorelasi dengan ketajaman
penglihatan dekat dan lapang pandang penglihatan perifer.
Sensitivitas kontras juga berkorelasi dengan indeks disabilitas
visual dan skor total.
Kesimpulan Penurunan ketajaman penglihatan dekat, sensitivitas kontras
dan lapang pandang penglihatan perifer berkorelasi atau
berhubungan secara signifikan dengan berbagai jenis disabilitas
visual. Oleh karena itu, uji klinis ini harus menjadi bagian integral
dari penilaian visual mata diabetes.
Rangkuman dan
Karakteristik sampel dalam penelitian ini disajikan pada Tabel
Hasil
1. Sebagian besar subyek (42,1%) berada pada kelompok usia 60-70
Pembelajaran
tahun yang menghadiri klinik low vision, rasio pria : perempuan
adalah 2,4: 1. diabetes non-proliferasi retinopathy severe terdapat
38,2% dari subyek dan 50 % dari subyek telah menderita diabetes
selama 10 - 20 tahun.
Hasil analisis fungsi penglihatan disajikan dalam Tabel 2.
Kecuali penglihatan warna (p
= 0,5), semua komponen dari fungsi penglihatan berbeda secara
signifikan antara mata yang lebih baik (BE) dan mata buruk (WE).
Penglihatan warna tidak dapat dinilai pada 7,9% subyek karena
ketajaman penglihatan yang buruk. Penglihatan warna ditemukan
normal pada 13,2% dari kelompok BE dan 23,7% dari WE
kelompok. CVD tidak menunjukkan baris tertentu dari cacat dalam
26,3% di BE, dan 21% di WE. 15 subyek (39,5%) disajikan dengan
kacamata selama penilaian. Satu orang memiliki satu mata afakia
(9,00) dan mata lainnya 2,00 hyperopia. Delapan mata (21%) adalah
bilateral pseudofakia dan 24 subyek (63,1%) unilateral pseudofakia.
Penelitian terbaru menunjukkan hubungan antara gangguan
fungsi visual dan disabilitas visual pada orang dengan retinopati
diabetes. berkurangnya ketajaman visual pada penderita diabetes
dapat dikaitkan dengan retinopati proliferatif, edema makula,
katarak, kornea kabut, jaringan fotokoagulasi untuk diabetes edema
makula dan variasi dalam refraksi yang disebabkan oleh fluktuasi
gula darah. Meskipun saat dikoreksi ketajaman visual (Tabel 2)
secara signifikan meningkat pada BE (p <0,05) dan WE (p <0,05)
dibandingkan dengan ketajaman visual tanpa koreksi, tingkat
perbaikan tidak cukup untuk sebagian besar subjek.
Penurunan visus pada penderita diabetes dapat mempengaruhi
kegiatan kehidupan sehari-hari mereka dalam mengelola obat
diabetes, pola makan, masalah kesehatan, dan kesejahteraan
psikologis. Tingkat glukosa darah ditentukan dengan
membandingkan warna tes-strip ke bagan warna atau dengan
memasukkan strip ke meter reflektansi (Cooke, 2001). Untuk tujuan
ini, pasien diabetes memerlukan tajam penglihatan dekat yang cukup
baik serta penglihatan warna utuh.
Mantyjarvi melaporkan gangguan penglihatan warna dengan
uji Farnsworth-Munsell 100-rona pada 50% subyek, dengan 80%
dari mereka memiliki cacat dalam aksis biru/kuning. Gangguan
penglihatan warna tritan hadir dalam 52,6% dari BE dan di 47,4%
dari WE dalam penelitian kami. Namun, korelasi antara visi warna
dan disabilitas visual tidak bisa dilakukan. Agaknya tes penglihatan
warna menjadi sulit pada beberapa orang tua dan tunanetra. Warna
yang digunakan untuk ini tes dirancang untuk digunakan dalam
klinik mata biasa.
Bahkan dengan ketajaman visual utuh dan baik, banyak orang
tua mungkin penglihatannya terganggu pada perubahan tingkat
cahaya, pengenalan wajah, membaca, silau. Sensitivitas Kontras
(CS) sering berkurang pada pasien dengan diabetes retinopati.
Kontras sensitivitas biasanya menurun pada frekuensi menengah dan
rendah. Edema makula, pengembangan awal katarak dan pengobatan
fotokoagulasi laser memiliki efek pada kontras sensitivitas. Dalam
penelitian kami, penurunan kontras sensitivitas merupakan hal kedua
yang paling signifikan berkorelasi dengan disabiliatas visual.
Penilaian penglihatan lapang pandang sentral merupakan hal
penting untuk memahami status tajam penglihatan dekat pasien dan
membantu praktisi selama membuat keputusan. Dalam Kooyong
LVC Studi, 30,6% (N = 43) dari mata memiliki gangguan pada
lapang pandang. Lapang pandang sentral terjadi dalam bentuk
metamorphopsia dan scotoma terdapat pada 34,2% subyek BE dan
pada WE sebanyak 47,4% dari subyek didalam penelitian kami.
Gagguan Lapang pandang sentral tidak signifikan berkorelasi dengan
disabilitas visual.