Anda di halaman 1dari 3

Suasana Kondusif ` 1.

Pengertian Suasana Kondusif Marzuki dalam Supardi (2013:207),


berpendapat bahwa iklim sekolah adalah keadaan sekitar sekolah dan suasana yang sunyi
dan nyaman yang sesuai dan kondusif untuk pembelajaran yang dapat meningkatkan
prestasi akademik. Desmita (2009:301), berpendapat bahwa Iklim sekolah (school climate)
adalah situasi atau suasana yang muncul akibat hubungan antara kepala sekolah dengan
guru, guru dengan guru, guru dengan peserta didik, dan hubungan antar peserta didik, yang
mempengaruhi sikap (attitude), kepercayaan (beliefs), nilai
(values), motifasi (motifation) dan prestasi orang-orang (personalia) yang terlibat dalam
suatu (sekolah) tertentu. Sementara itu, kondusif berasal dari kata kondi yang berarti
persyaratan atau keadaan, kata kerjanya adalah mengkondisikan yang berarti membuat
persyaratan atau menciptakan suatu keadaan. Sementara kondusif sendri merupakan kata
sifat, kondusif diartikan sebagai memberi peluang pada hasil yang diinginkan yang bersifat
mendukung.

Ada dua faktor penentu terciptanya suasana kondusif. Diantaranya:

a. Suasana dalam kelas Pada umumnya kegiatan belajar-mengajar dilakukan oleh seorang
guru dan sekelompok peserta didik di dalam ruangan yang disebut kelas. Semua yang ada
pada kelas dan di dalam kelas tersebut memiliki pengaruh terhadap kondisi kelas dan
motifasi belajar peserta didik, jika penataan ruang kelas berantakan, maka suasana hati
peserta didik juga akan berantakan, dan dapat mengakibatkan buyarnya konsentrasi peserta
didik. Sebaliknya, jika kelas dengan berbagai bagian dan sarananya dapat diatur dengan baik
oleh guru sebagai manajer kelas, kelas akan menjadi sebuah tempat yang menyenangkan
dan nyaman yang akan berpengaruh pula pada peningkatan motifasi belajar
25 peserta didik. Seorang guru harus mengatur kelas dengan baik Jika seorang guru
menginginkan terbentuknya suasana kondusif untuk belajar (Wiyani, 2013:128).

b. Lingungan di sekitar kelas atau sekolah Lingkungan sekolah yang asri, indah dan penuh
dengan segala fasilitas tertentu membuat seorang siswa merasa betah dan nyaman di
sekolah, sebaliknya jika lingkungan sekolah kita buruk, serba terbatas dan kekurangan, pasti
akan membuat siswa merasa bosan, apalagi jika seorang siswa mengetahui adanya sekolah
lain yang lebih bersih, indah dan asri, hal ini akan membuat kita enggan untuk membuat
siswa utuk berangkat sekolah dikarenakan keadaan sekolah yang kurang baik. Termasuk
dalam hal ini adalah lingkungan sosialnya. Suasana kehidupan sekolah yang buruk, yang
bertentangan dengan keinginan siswa pasti akan membuat siswa bosan. Jika letak sekolah
yang terlalu berdekatan dengan pabrik atau peternakan yang berbau dan penuh polusi, jelas
hal itu akan membuat sekolah terasa membosankan dan jelas sangat tidak kondusif untuk
belajar (Didik, 2007:45).

. Faktor guru
Format belajar mengajar yang monoton
3) Kepribadian guru
faktor siswa
faktor keluarga
faktor fasilitas
sumber jurnal stain salatiga

Menurut Sardiman (1996: 45), berpikir merupakan aktivitas mental untuk dapat
merumuskan pengertian, mensintesis, dan menarik kesimpulan. Ngalim Purwanto (2007:
43) berpendapat bahwa berpikir adalah satu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan
penemuan terarah kepada suatu tujuan. Manusia berpikir untuk menemukan
pemahaman/pengertian yang dikehendakinya. Santrock (2011: 357) juga mengemukakan
pendapatnya bahwa berpikir adalah memanipulasi atau mengelola dan mentransformasi
informasi dalam memori. Berpikir sering dilakukan untuk membentuk konsep, bernalar dan
bepikir secara kritis, membuat keputusan, berpikir kreatif, dan memecahkan masalah.

Tujuan Berpikir Kritis Menurut Sapriya (2011: 87), tujuan berpikir kritis ialah untuk menguji
suatu pendapat atau ide, termasuk di dalamnya melakukan pertimbangan atau pemikiran
yang didasarkan pada pendapat yang diajukan. Pertimbangan-pertimbangan tersebut
biasanya didukung oleh kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan.

Berikut ini beberapa keterampilan yang harus ditekankan pada level pengembangan
abstraksi dalam mengajarkan pemecahan masalah dan berpikir kritis menurut Jensen (2011:
199-200):
“1) Mengumpulkan informasi dan memanfaatkan sumber daya; 2) Mengembangkan
fleksibilitas dalam bentuk dan gaya; 3) Meramalkan; 4) Mengajukan pertanyaan bermutu
tinggi; 5) Mempertimbangkan bukti sebelum menarik kesimpulan; 6) Menggunakan metafor
dan model; 7) Menganalisis dan meramalkan informasi; 8) Mengkonseptualisasikan strategi
(misalnya pemetaan pikiran, mendaftarkan pro dan kontra, membuat bagan); 9)
Bertransaksi secara produktif dengan ambiguitas, perbedaan, dan kebaruan; 10)
Menghasilkan kemungkinan dan probabilitas (misalnya brainstroming, formula, survei,
sebab dan akibat); 11) Mengembangkan keterampilan debat dan diskusi; 12)
Mengidentifikasi kesalahan, kesenjangan, dan ketidak-logisan; 13) Memeriksa pendekatan
alternatif (misalnya, pergeseran bingkai rujukan, pemikiran luar kotak); 14)
Mengembangkan strategi pengujian-hipotesis; 15) Menganalisis risiko; 16) Mengembangkan
objektivitas; 17) Mendeteksi generalisasi dan pola (misalnya, mengidentifikasi dan
mengorganisasikan informasi, menterjemahkan informasi, melintasi aplikasi); 18)
Mengurutkan peristiwa.”

Berikut ini beberapa keterampilan yang harus ditekankan pada level pengembangan
abstraksi dalam mengajarkan pemecahan masalah dan berpikir kritis menurut Jensen (2011:
199-200):
“1) Mengumpulkan informasi dan memanfaatkan sumber daya; 2) Mengembangkan
fleksibilitas dalam bentuk dan gaya; 3) Meramalkan; 4) Mengajukan pertanyaan bermutu
tinggi; 5) Mempertimbangkan bukti sebelum menarik kesimpulan; 6) Menggunakan metafor
dan model; 7) Menganalisis dan meramalkan informasi; 8) Mengkonseptualisasikan strategi
(misalnya pemetaan pikiran, mendaftarkan pro dan kontra, membuat bagan); 9)
Bertransaksi secara produktif dengan ambiguitas, perbedaan, dan kebaruan; 10)
Menghasilkan kemungkinan dan probabilitas (misalnya brainstroming, formula, survei,
sebab dan akibat); 11) Mengembangkan keterampilan debat dan diskusi; 12)
Mengidentifikasi kesalahan, kesenjangan, dan ketidak-logisan; 13) Memeriksa pendekatan
alternatif (misalnya, pergeseran bingkai rujukan, pemikiran luar kotak); 14)
Mengembangkan strategi pengujian-hipotesis; 15) Menganalisis risiko; 16) Mengembangkan
objektivitas; 17) Mendeteksi generalisasi dan pola (misalnya, mengidentifikasi dan
mengorganisasikan informasi, menterjemahkan informasi, melintasi aplikasi); 18)
Mengurutkan peristiwa.”