Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ekologi adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang ekosistem. Ekosistem
merupakan suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan
antara makhluk hidup dilingkungannya, oleh sebab itu ekosistem bisa dikatakan juga suatu
tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang
saling memengaruhi. Makhluk hidup dalam ekosistem tidak dapat dipisahkan dengan unsur-
unsur kehidupan baik biotik maupun abiotik.
Dalam sebuah ekosistem, terdapat kedudukan makhluk hidup yang berada dalam satu
habitat yang disebut dengan relung. Relung atau Niche tidak dapat dipisahkan dari kajian
habitat suatu ekosistem atau populasi serta individu didalamnya. Relung (Niche) menurut
Heddy (1994), menunjukkan peranan fungsional dan posisi suatu organisme dalam
ekosistem. Relung suatu organisme ditentukan oleh tempat hidupnya (habitat) dan oleh
berbagai fungsi yang dikerjakannya. Dapat dikatakan, bahwa relung adalah kedudukan
organisme dalam habitatnya.
Kedudukan organisme menunjukkan fungsi organisme dalam habitatnya. Seperti yang
kita ketahui, berbagai organisme dapat hidup pada habitat yang sama akan tetapi apabila dua
atau lebih organisme berbeda menempati relung yang sama dalam satu habitat akan terjadi
persaingan. Makin besar kesamaan dalam relung dari tiap organisme pada suatu habitat maka
semakin besar pula persaingan yang ada. Adanya kesaman relung ini disebut dengan Niche
overlap (relung tumpang tindih). Sejauh mengandalkan dua spesies yang sama jenis makanan
untuk mempertahankan populasi mereka, sejauh itu mereka bersaing dengan satu sama lain.
Organisasi bergantung pada lingkungan untuk sumber daya mereka untuk mempertahankan
diri mereka sendiri, dan sehingga organisasi populasi bersaing satu sama lain.Tingkat
persaingan di antara dua populasi adalah sebanding dengan tingkat tumpang tindih dalam
sumber daya relung mereka.
Pengetahuan tentang konsep relung dalam ekologi merupakan hal yang penting,
pengetahuan ini dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kedudukan fungsional suatu makhluk
hidup tertentu dalam komunitasnya. Konsep relung ekologi dapat diaplikasikan dalam upaya
pelestarian atau konservasi hewan langka. Manfaat relung dalam ekologi untuk aktivitas
konservasi adalah sebagai pengetahuan penggunaan sumber daya biotik dan abiotik oleh
organisme yang secara teoritis mampu digunakan oleh suatu populasi dibawah keadaan ideal,

1
sehingga dapat dijadikan sebagai bahan acuan memahami dan mengatasi masalah kondisi dan
sumberdaya yang membatasi atau secara potensian membatasi suatu populasi hewan langka
tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana berbagai jenis hewan yang terdapat di permukaan batang kayu,di
batang kayu dan dibawah kayu yang tumbang ?
2. Bagaimana hubungan antara tipe alat mulut hewan dengan habitatnya ?
3. Bagaimana hubungan antara jenis makanan hewan dengan microhabitat yang
berbeda ?
4. Bagaimana nilai kesintasan ( survive ) tertinggi dan terendah yang dimiliki hewan
?
5. Bagaimana asas Gause benar terjadi di alam berdasarkan praktikum ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui berbagai jenis hewan yang terdapat di permukaan batang kayu,di
batang kayu dan dibawah kayu yang tumbang
2. Mengetahui hubungan antara tipe alat mulut hewan dengan habitatnya
3. Mengetahui hubungan antara jenis makanan hewan dengan microhabitat yang
berbeda
4. Mengetahui nilai kesintasan ( survive ) tertinggi dan terendah yang dimiliki
hewan
5. Mengetahui apakah asas Gause benar terjadi di alam berdasarkan praktikum

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 TINJAUAN TEORITIS

Niche (relung) ekologi mencakup ruang fisik yang diduduki organisme , peranan
fungsionalnya di dalam masyarakatnya (misal: posisi trofik) serta posisinya dalam kondisi
lingkungan tempat tinggalnya dan keadaan lain dari keberadaannya itu. Ketiga aspek relung
ekologi itu dapat dikatakan sebagai relung atau ruangan habitat, relung trofik dan relung
multidimensi atau hypervolume. Oleh karena itu relung ekologi sesuatu organisme tidak
hanya tergantung pada dimana dia hidup tetapi juga apa yang dia perbuat (bagaimana dia
merubah energi, bersikap atau berkelakuan, tanggap terhadap dan mengubah lingkungan fisik
serta abiotiknya), dan bagaimana jenis lain menjadi kendala baginya. telah membedakan
antara niche pokok (fundamental niche) dengan niche yang sesungguhnya (relized niche).
(Wirakusumah,2003)
Niche pokok didefinisikan sebagai sekelompok kondisi-kondisi fisik yang
memungkinkan populasi masih dapat hidup. Sedangkan niche sesungguhnya didefinisikan
sebagai sekelompok kondisi-kondisi fisik yang ditempati oleh organisme-organisme tertentu
secara bersamaan Relung menurut Resosoedarmo adalah profesi (status suatu organisme)
dalam suatu komunitas dan ekosistem tertentu yang merupakan akibat adaptasi struktural,
fungsional serta perilaku spesifik organisme itu. Berdasarkan uraian diatas relung ekologi
merupakan istilah lebih inklusif yang meliputi tidak saja ruang secara fisik yang didiami oleh
suatu makhluk, tetapi juga peranan fungsional dalam komunitas serta kedudukan makhluk itu
di dalam kondisi lingkungan yang berbeda.
(Odum, 1993).
Populasi beraneka jenis hewan yang berkoeksistensi dalam habitat yang sama
mempunyai keserupaan pula dalam kisaran toleransinya terhadap beberapa faktor lingkungan
dalam mikrohabitat. Berdasarkan konsep relung ekologi menurut Hutchinson keserupaan
menunjukkan adanya keselingkupan dalam satu atau beberapa dimensi relung.
(Kramadibrata, 1996)
Sebagaimana definisi-definisi pada umumnya, definisi relung ekologi (niche) pun
juga bermacam-macam. Menurut Kandeigh (1980), relung ekologi adalah suatu populasi /
spesies hewan adalah status fungsional hewan itu dalam habitat yang ditempatinya berkaitan

3
dengan adaptasi-adaptasi fisiologis, struktural atau morfologi, dan pola perilaku hewan itu.
relung ekologi merupakan posisi atau status suatu organisme dalam suatu komunitas dan
ekosistem tertentu yang merupakan akibat adaptasi struktural, tanggap fisiologis serta
perilaku spesifik organisme itu. Jadi relung suatu organisme bukan hanya ditentukan oleh
tempat organisme itu hidup, tetapi juga oleh berbagai fungsi yang dimilikinya. Dapat
dikatakan, bahwa secara biologis, relung adalah profesi atau cara hidup organisme dalam
lingkungan hidupnya.
(Darmawan, 2005)
Relung atau niche ekologi suatu hewan merupakan status fungsional hewan tersebut
di dalam habitat yang ditempatinya berdasarkan adaptasi- adaptasi fisiologis,structural dan
perilakunya. Di alam kita sering menemukan beberapa populasi hewan berkoeksistensi dalam
habitat yang sama dan mempunyai kemiripan dalam kisaran toleransi,bahkan memiiki
keiripan dalam jenis sumberdaya yang dimanfaatkannya.
(Prastowo,2016)
Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup (biotik) dan tak hidup (abiotik) yang
berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur.Keteraturan itu terjadi karena adanya
arus materi dan energi, yang terkendali oleh arus informasi antara komponen dalam
ekosistem. Masing-masing komponen mempunyai fungsi (relung). Selama masing-masing
komponen tetap melakukan fungsinya dan bekerjasama dengan baik, keteraturan ekosistem
tetap terjaga. Apabila kita hanya melihat fungsinya,suatu ekosistem terdiri atas dua
komponen
a) Komponen autotrofik: organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis
makanannya sendiri berupa bahan organik dan bahan-bahan anorganik dengan bantuan
energi matahari atau klorofil. Oleh karena itu semua organisme yang mengandung klorofil
disebut organisme autotrofik.
b) Komponen heterotrofik: organisme yang mampu memanfaatkan bahan-bahan organik
sebagai bahan makanannya. Bahan makanan itu disintesis dan disediakan oleh organisme
lain.
Apabila dilihat dari segi penyusunannya,maka dapat dibedakan menjadi 4 komponen
yaitu:
a. Bahan tak hidup (abiotik,non hayati) : komponen fisik dan kimia, misalnya : tanah, air,
matahari,dll. Komponen ini merupakan medium (substrat) untuk berlangsungnya
kehidupan.
b. Produsen : organisme autotrofik (tumbuhan hijau)

4
c. Konsumen : organisme heterotrofik, misalnya : manusia, hewan yang makan organisme
lainnya.
d. Pengurai (perombak atau dekomposer) : organisme heterotrofik yang mengurai bahan
organik yang berasal dari organisme mati. Habitat dan relung, dua istilah tentang
kehidupan organisme.
Habitat adalah tempat hidup suatu organisme. Habitat suatu organisme dapat juga
disebut “alamat”. Relung (niche atau nicia) adalah profesi atau status suatu organisme dalam
suatu komunitas dan ekosistem tertentu, sebagai akibat adaptasi struktural, tanggal fisiologis
serta perilaku spesifik organisme itu. Penyesuaian diri disebut adaptasi. Makin besar
kemampuan adaptasi makin besar kementakan kelangsungan hidup organisme.
( Paskalis,2002 )
Pengkajian tentang trofik level ( trophic level ), relungekologi ( niche ecology ) yang
dinyatakan dalam luas relung ( niche breadth) dan tumpang tindih relung ( niche overlap )
pada komunitas ikan karang sangat diperlukan mengingat fungsi penting komunitas ikan
tersebut dalam menyokong ekosistem dan merupakan organisme terbanyak di ekosistem
terumbu karang. Konsep tingkat trofik dan relung ekologi terkait dengan jejaring makanan (
food chain ) sehingga dapat menjadi gambaran posisi species/individu dalam suatu rantai
makanan dalam suatu komunitas.Pendekatan tingkat trofik dan luas relung beserta tumpang
tindihnya dapat digunakan untuk menggambarkan pemanfaatan sumber daya perairan oleh
komunitas ikan dan toleransi antar organisme dalam memanfaatkan sumber daya yang
tersedia ( niche overlap ) terkait kompetisi yang terjadi di dalamnya. Luas relung ( niche
breadth ) makanan menunjukkan proporsi sumber daya makanan alami yang dimanfaatkan
oleh organisme. Selain itu, luas relung juga dapat menggambarkan selektivitas makanan.
Hasil analisis luas relung makanan komunitas ikan target yang tertangkap disekitar terumbu
buatan perairan Teluk Saleh secara kualitatif. Berdasarkan luas relungnya, jenis ikan target
yang ada dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar. Kelompok I merupakan kelompok ikan
yang mempunyai tingkat trofik berkisar 2,0-2,5 dan merupakan kelompok herbivora yang
bersifat spesialis. Relung Ekologi Beberapa Ikan Target Hasil Teluk Saleh, Nusa Tenggara
Barat. Kelompok ini hanya memanfaatkan fitoplankton dan alga sebagai makanannya.
Kelompok I hanya terdapat satu spesies, yaitu Scarus ghobban. Kelompok II merupakan
kelompok ikan yang mempunyai tingkat trofik berkisar antara 2,5 – 3,0 dan merupakan
kelompok omnivora. Kelompok ini memanfaatkan fitoplankton, alga, detritus, zooplankton,
moluska,koral dan udang sebagai makanannya sehingga cenderung bersifat generalis. Jenis
ikan ini memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap fluktuasi ketersedian makanan

5
yang ada. Kelompok III merupakan kelompok ikan yang mempunyai tingkat trofik lebih
besar dari 3,0 dan cenderung bersifat spesialis serta berperan sebagai ikan karnivor atau ikan
predator. Sejumlah spesies yang hidup bersama dalam suatu komunitas yang seimbang
tergantung pada beberapa faktor, antara lain jumlah total macam-macam sumber daya yang
dimanfaatkan oleh sekelompok organisme (luas relung), toleransi kesamaan antar kelompok
organisme dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia, dan jumlah total sumber daya
yang dimanfaatkan oleh komunitas organisme tersebut. Luas relung ( niche breadth ) dapat
menggambarkan pemanfaatan sumber daya makanan suatu komunitas organisme
(Giller,1984). Luas relung makanan dapat membantu dalam menentukan posisi suatu spesies
ikan di dalam rantai makanan yang berguna dalam pengelolaan sumber daya ikan ( Krebs,
1989 ). Ikan-ikan yang memiliki luas relung makanan yang kecil atau sempit menandakan
bahwa ikan tersebut melakukan seleksi terhadap sumber daya makanan yang tersedia di
perairan atau bersifat spesialis. Ikan yang memakan beragam sumber daya makanan diduga
luas relung makanannya akan meningkat,walaupun sumber daya yang tersedia menurun
karena bersifat generalis.
( Agus Arifin Sentosa,2011 )
Luas relung pakan menggambarkan proporsi jumlah jenis sumber daya makanan yang
dimanfaatkan oleh suatu jenis ikan ( Giller,1984 dalam Tjahjo,2000 ). Luas relung pakan
dianalisis dengan menggunakan indeks Levin yang dirumuskan pada nformasi data
kebiasaan makan ( Hheispenheide,1975 dalam Tjahjo,2000 ). Ikan yang bersifat spesialis
yaitu sangat selektif dalam mencari sumber makanan yang berupa fitoplankton,dengan
tingkat trofik sebesar 2,06 termasuk kelompok herbivora.
( Lena tresna,2012 )

6
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 ALAT DAN BAHAN


3.1.1 ALAT
NO NAMA ALAT SPESIFIKASI JUMLAH

1 Botol sampel - 3 Buah

2 Parang - 1 Buah

3 Pinset - 1 Buah

4 Alat Tulis - Secukupnya

3.1.2 BAHAN
NO NAMA BAHAN SPESIFIKASI JUMLAH

1 Alkohol 70 % - Secukupnya

2 Kertas Label - Secukupnya

3 Batang pohon yang - Secukupnya


tumbang

3.2 PROSEDUR KERJA


NO PROSEDUR KERJA

1 Memilih batang pohon yang tumbang yang terletak di permukaan tanah dan mulai
membusuk

2 Mengamati dan mengoleksi hewan yang terletak dipermukaan atas batang pohon dan
hewan yang ada dimasukkan kedalam botol sampel yang sudah berisi alcohol 70 % dan
diberi tanda dengan kertas label.

3 Mengangkatlah batang kayu tersebut dan mengamati serta koleksi emua hewan yang
terdapat pada bagian bawah dari batang kayu dan yang terletak di permukaan tanah

7
bekas batang kayu. Hasil koleksi dimasukkan ke dalam botol sampel yang telah diberi
alkohol 70 % dan diberi tanda dengan kertas label.

4 Membongkarlah kulit kayunya. Mengamati dan koleksi semua hewan yang di temukan
pada batang kayu tersebut. Hasil koleksi dimasukkan ke dalam botol sampel yang telah
diberi alkohol 70 % dan diberi tanda dengan kertas label.

5 Mengidentifikasi jenis hewan yang berhasil dikoleksi dan mengamati tipe mulutnya.
Dengan bantuan literatur,identifikasi jenis makanannya. Memasukkan data yang anda
peroleh ke dalam tabel.

6 Berdasarkan cara makan dan jenis makanannya,kelompokkan hewan yang berhasil di


koleksi ke dalam guild-nya.

7 Membuatlah catatan tentag faktor kimia lingkungannya ( jenis pohon,diameter


batang,suhu udara,kelembaban udara ).

3.3 HASIL DAN PEMBAHASAN


3.3.1 HASIL PENGAMATAN
1) Tabel mikrohabitat,tipe mulut dan jenis makanan hewan
JENIS JENIS KELOMPOK
NO MIKROHABITAT HEWAN TIPE MULUT MAKANAN GUILD
Penggigit-
1.Semut pengunyah Omnivora O-GK
Permukaan atas 2.Kodok Pelengket Carnivora C-L
1
batang kayu 3.Nyamuk Penusuk-Pengisap Carnivora C-TH
4.Laba-
laba Pengisap Carnivora C-H
Penggigit-
1.Lipan penguyah Carnivora C-GK
Batang Kayu dan
2 Penggigit-
Kulit kayu
2.Semut Pengunyah Omnivora O-GK
3.Cicak Pelengket Carnivora C-L
3 Permukaan bawah 1.Rayap Pengunyah Herbivora H-K

8
batang kayu Penggigit-
2.Lipan Penguyah Carnivora C-GK
3.Cacing Pengisap Saprofit S-H
Penggigit-
4.Sp X penguyah Herbivora H-GK

2) Tabel hasil pengamatan di lapangan/dokumentasi


NO MIKROHABITAT DOKUMENTASI KETERANGAN

1 Permukaan atas batang Salah satu hewan


kayu yang berada di
permukaan atas
batang kayu.

Proses pengambilan
sampel.

9
2 Batang kayu dan kulit Salah satu hewan
kayu yang ada di kulit
kayu.

Pengambilan
specimen.

3 Dibawah permukaan Salah satu hewan


batang kayu yang ada di kulit
kayu.

Pengambilan
specimen

10
3) Grafik kelompok guild pada microhabitat

3.3.2 PEMBAHASAN
 Pengertian Relung
Relung menurut Resosoedarmo (1992) adalah profesi (status suatu organisme) dalam
suatu komunitas dan ekosistem tertentu yang merupakan akibat adaptasi struktural,
fungsional serta perilaku spesifik organisme itu. Berdasarkan uraian diatas relung ekologi
merupakan istilah lebih inklusif yang meliputi tidak saja ruang secara fisik yang didiami oleh
suatu makhluk, tetapi juga peranan fungsional dalam komunitas serta kedudukan makhluk itu
di dalam kondisi lingkungan yang berbeda. Relung ekologi merupakan gabungan khusus
antara faktor fisik (mikrohabitat) dan kaitan biotik (peranan) yang diperlukan oleh suatu jenis
untuk aktivitas hidup dan eksistensi yang berkesinambungan dalam komunitas . Konsep
relung (niche) dikembangkan oleh Charles Elton (1927) ilmuwan Inggris, dengan pengertian
relung adalah “status fungsional suatu organisme dalam komunitas tertentu”. Dalam
penelaahan suatu organisme, kita harus mengetahui kegiatannya, terutama mengenai sumber
nutrisi dan energi, kecepatan metabolisme dan tumbuhnya, pengaruh terhadap organisme lain
bila berdampingan atau bersentuhan, dan sampai seberapa jauh organisme yang kita selidiki
itu mempengaruhi atau mampu mengubah berbagai proses dalam ekosistem.
 Pengertian Kesintasan
Kesintasan adalah istilah ilmiah yang menujukkan tingkat kelulusan hidup ( survival) dari
suatu populasi dalam jangka waktu tertentu.Istilah ini biasanya dipakai dalam konteks
populasi individu muda yang harus bertahan hidup hingga siap untuk berkembangbiak.
 Jenis-jenis kompetisi

11
Ada dua bentuk persaingan yang ditakrifkan menurut Birch (1957) yaitu :
1. Persaingan sumber daya (resource competition) terjadi bila sejumlah mahluk ( yang sama
atau berbeda spesies) menggunakan sumber daya bersama yang ketersediaanya sedikit.
2. Persaingan saling merugikan (interference competition) terjadi bilamana mahluk dalam
mencari sumber daya akan saling merugikan walaupun sumber daya tersebut ketersediaanya
tidak sedikit. Perlu diingat bahwa persaingan tersebut dapat interspesifik (antara dua atau
lebih spesies) atau intraspesifik (antara anggota spesies yang sama).

 Hewan yang memiiki kesintasan tertinggi dan terendah


a) Menurut praktikum serta pengamatan yang kami lakukan dilapangan yaitu di batang
pohon yang sudah tumbang dengan kesintasan tertinggi yaitu Semut dan Lipan,karena kedua
hewan ini mampu berada serta bertahan hidup di permukaan,ditengah ataupun dibawah
pohon sehingga kedua hewan ini mampu bertahan hidup lebih lama serta kelangsungan hidup
yang lebih terjamin dibandingkan dengan hewan yang lain ,disamping dengan tipe mulutnya
yang menjamin kelangsungan hidupnya juga kedua hewan ini memiliki daya tahan hidup
yang lebih baik dibandingkan dengan hewan yang lain.
b) Menurut praktikum dan pengamatan yang kami lakukan bahwa hewan dengan
kesintasan terendah yaitu ada pada nyamuk,cicak.Karena misalnya saja pada nyamuk yang
berada di atas permukaan batang pohon yang secara umum tidak memiliki makan yang
memadai sehingga perkembangan ataupu populasi hewan ini yang kami dapat dipermukaan
batang juga sangat sedikit.Jadi hewan dengan nilai kesintasan terendah adalah hewan yang
memiliki asupan makanan yang terbatas diserta dengan kemapuan fisiologis yang lemah atau
tidak bisa menyesuaikan dengan lingkungan.
 Hukum Gause
Menurut praktikum yang kami amati bahwa dari tiap-tiap microhabitat terdapat
perbedaan hewan yang ada di atas,tengah dan bawah namun dari hewan tersebut ada juga
yang memiliki niche yang sama yaitu berupa tipe alat mulut seperti lipan dan semut yang
memiliki tipe alat mulut penggigit dan penguyah.Dan kedua spesies ini pun ada pada dua
daerah microhabitat yang berbeda,jadi hukum Gause menurut kami tidak sesuai dengan
praktikum atau pengamatan yang kami lakukan.

 BAHAN DISKUSI
1. Apa yang dimaksud dengan relung ? Jelaskan !

12
Jawaban : Relung menurut Resosoedarmo (1992) adalah profesi (status suatu organisme)
dalam suatu komunitas dan ekosistem tertentu yang merupakan akibat adaptasi struktural,
fungsional serta perilaku spesifik organisme itu. Berdasarkan uraian diatas relung ekologi
merupakan istilah lebih inklusif yang meliputi tidak saja ruang secara fisik yang didiami oleh
suatu makhluk, tetapi juga peranan fungsional dalam komunitas serta kedudukan makhluk itu
di dalam kondisi lingkungan yang berbeda. Konsep relung (niche) dikembangkan oleh
Charles Elton (1927) ilmuwan Inggris, dengan pengertian relung adalah “status fungsional
suatu organisme dalam komunitas tertentu”. Dalam penelaahan suatu organisme, kita harus
mengetahui kegiatannya, terutama mengenai sumber nutrisi dan energi, kecepatan
metabolisme dan tumbuhnya, pengaruh terhadap organisme lain bila berdampingan atau
bersentuhan, dan sampai seberapa jauh organisme yang kita selidiki itu mempengaruhi atau
mampu mengubah berbagai proses dalam ekosistem.
2. Macam-macam kompetisi hewan. Jelaskan !
Jawaban : Ada dua bentuk persaingan yang ditakrifkan menurut Birch (1957) yaitu :
1. Persaingan sumber daya (resource competition) terjadi bila sejumlah mahluk ( yang sama
atau berbeda spesies) menggunakan sumber daya bersama yang ketersediaanya sedikit.
2. Persaingan saling merugikan (interference competition) terjadi bilamana mahluk dalam
mencari sumber daya akan saling merugikan walaupun sumber daya tersebut ketersediaanya
tidak sedikit. Perlu diingat bahwa persaingan tersebut dapat interspesifik (antara dua atau
lebih spesies) atau intraspesifik (antara anggota spesies yang sama).

3. Pengertian kesintasan. Jelaskan !


Jawaban : Kesintasan adalah istilah ilmiah yang menujukkan tingkat kelulusan hidup (
survival) dari suatu populasi dalam jangka waktu tertentu.Istilah ini biasanya dipakai dalam
konteks populasi individu muda yang harus bertahan hidup hingga siap untuk
berkembangbiak.

4. a. Hewan yang memiliki kesintasan tinggi


b. Hewan yang memiliki kesintasan
Jelaskan penyebabnya !
Jawaban : a. Hewan dengan kesintasan tertinggi yaitu Semut dan Lipan,karena kedua hewan
ini mampu berada serta bertahan hidup di permukaan,ditengah ataupun dibawah pohon
sehingga kedua hewan ini mampu bertahan hidup lebih lama serta kelangsungan hidup yang
lebih terjamin dibandingkan dengan hewan yang lain,disamping dengan tipe mulutnya yang

13
menjamin kelangsungan hidupnya juga kedua hewan ini memiliki daya tahan hidup yang
lebih baik dibandingkan dengan hewan yang lain.
b. hewan dengan kesintasan terendah yaitu ada pada nyamuk,cicak.Karena misalnya saja
pada nyamuk yang berada di atas permukaan batang pohon yang secara umum tidak memiliki
makan yang memadai sehingga perkembangan ataupu populasi hewan ini yang kami dapat
dipermukaan batang juga sangat sedikit.Jadi hewan dengan nilai kesintasan terendah adalah
hewan yang memiliki asupan makanan yang terbatas diserta dengan kemapuan fisiologis
yang lemah atau tidak bisa menyesuaikan dengan lingkungan dan kesintasan terendah pada
hewan diukur dari jumlah atau fungsi hewan itu apakah dia bisa ada di atas atau bawah.

5. Apakah asas Gause “one spesies one niche’’ benar-benar dapat terjadi di alam ?
Berikan alasannya.
Jawaban : Asas Gause yang berkata”One Spesies One Niche” tidaklah benar karena pada
praktikum dijumpai ada juga hewan yang berbeda namun tipe mulutnya sama. Tiap-tiap
microhabitat terdapat perbedaan hewan yang ada di atas,tengah dan bawah namun dari hewan
tersebut ada juga yang memiliki niche yang sama yaitu berupa tipe alat mulut seperti lipan
dan semut yang memiliki tipe alat mulut penggigit dan penguyah.Dan kedua spesies ini pun
ada pada dua daerah microhabitat yang berbeda.

14
BAB IV
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
1. Hewan-hewan yang ada di bagian atas batang pohon ( Kodok,Nyamuk, Semut,dan
Laba-laba), tengah (Lipan, Semut,cicak ) dan bawah pohon ( Cacing,Rayap dan lipan )
cukup beragam walaupun pada beberapa spesies dijumpai ada juga yang sama.
2. Serangga yang tipe mulutnya sebagai penguyah dan penggigit berada di habitat dengan
bahan makanan yang kering seperti kayu yang rapuh,serangga dengan tipe mulut
pengisap dan penusuk berada di habitat yang memiliki kadar udara yang cukup serta
adanya sumber makanan yang bersifat cair seperti darah,serangga dengan tipe mulut
penjilat dan pengisap berada di habitat yang lembab seperti bawah-bawah kayu untuk
menghisap nutrient dan saprofit berada di bawah sebagai pembusuk atau pengurai
makanan.
3. Ketersedian makanan dari ketiga daerah yang diamati juga berbeda.Dibagian atas kayu
tersedia makanan yang baku yang masih perlu diolah secara mekanik sehingga hewan
yang ada dengan tipe mulut pengunyah,dibagian tengah sumber makanan sudah mulai
banyak yang berasal dari cambium kayu sehingga sudah mulai muncul hewan yang tipe
mulut pengisap,dan dibagian bawah makanan yang tersedia sudah berupa zat-zat
anorganik yang peru diuraian sehingga hewan-hewan saprofit banyak didaerah ini
4. Kesintasan tertinggi pada hewan diukur dari keberadaan hewan itu di habitat yang
berbeda dengan spesies yang sama contoh semut berada di atas dan tengah sehingga
kesintasannya semakin tinggi. Kesintasan terendah pada hewan diukur dari jumlah atau
fungsi hewan itu apakah dia bisa ada di atas atau bawah.
5. Asas Gause yang berkata”One Spesies One Niche” tidaklah benar karena pada
praktikum dijumpai ada juga hewan yang berbeda namun tipe mulutnya sama.

3.2 SARAN
Seharusnya lokasi untuk segregasi relung hewan diperluas lagi,misalnya disetiap fakultas.
Sehingga hewan lebih variasi lagi yang kita temukan di pohon tumbang.

15
DAFTAR PUSTAKA

Darmawan,Agus. 2005. Ekologi Hewan. Malang : Universitas Negeri Malang


Kramadibrata, H. (1996). Ekologi Hewan. Bandung : Institut Teknologi Bandung Press.
Odum, Eugene P (1971) Fundamentals of Ecology. Saunders College Publishing.
Riberu,Paskalis.2002.Pembelajaran ekologi. Jurnal Pendidikan Penabur.Vol 1 No 01
Sentosa, Agus Arifin .2011.RELUNG EKOLOGI BEBERAPA IKAN TARGET
HASIL TANGKAPAN BUBUDI SEKITAR TERUMBU BUATAN PERAIRAN
TELUK SALEH,NUSA TENGGARA BARAT. J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 3
Tim dosen ekologi hewan.2018.Panduan Praktikum Ekologi Hewan.Medan : FMIPA
UNIMED
Tresna,lena.2012.KEBIASAAN MAKANAN DAN LUAS RELUNG IKAN DI HULU
SUNGAI CIMANUK KABUPATEN GARUT,JAWA BARAT.Jurnal Perikanan
dan Kelautan. Vol 3 No 3. ISSN : 2088-3137
Wirakusumah, Sambas (2003) Dasar-Dasar Ekologi. Jakarta : UI Press

16