Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS

“KATARAK SENIL IMMATUR ODS”

Pembimbing : dr. Rety Sugiarti, Sp.M

Oleh :
Nama : Karel Respati
NIM : 2011730144

SMF ILMU MATA


KEPANITERAAN KLINIK RSUD BANJAR
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Alhamdulillah karena dengan
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Laporan Kasus “Katarak Senil
Immatur ODS” ini tepat pada waktunya.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang
membaca, agar penulis dapat mengkoreksi dan dapat membuat yang lebih baik kedepannya.

Demikianlah laporan kasus ini dibuat sebagai tugas dari kegiatan klinis di stase Mata
serta untuk menambah pengetahuan bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Banjar, 6 Januari 2019

Penulis

2
BAB I

PENDAHULUAN

WHO 1972, mendefinisikan kebutaan sebagai tajam penglihatan dibawah 3/60. Kebutaan
adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius bagi setiap negara. Berdasarkan WHO (1979),
prevalensi kebutaan lebih besar pada negara berkembang. Kebutaan ini sendiri akan berdampak
secara sosial dan ekonomi bagi orang yang menderitanya. Ironisnya, 75% dari kebutaan yang
terjadi dapat dicegah atau diobati.

Indonesia sebagai negara berkembang, tidak luput dari masalah kebutaan. Disebutkan,
saat ini terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia 60% diantaranya berada di negara miskin
atau berkembang. Indonesia, dalam catatan WHO berada diurutan ketiga dengan terdapat angka
kebutaan sebesar 1,47%.

Di dunia ini 48% kebutaan yang terjadi disebabkan oleh katarak. Untuk Indonesia, survei
pada 1995/1996 menunjukkan prevalensi kebutaan mencapai 1,5% dengan 0,78% di antaranya
disebabkan oleh katara, dan yang terbesar karena katarak senilis.

Katarak adalah perubahan lensa mata yang semula jernih dan tembus cahaya menjadi
keruh, sehingga cahaya sulit mencapai retina akibatnya penglihatan menjadi kabur. Katarak
terjadi secara perlahan-lahan sehingga penglihatan penderita terganggu secara berangsur.
Perubahan ini dapat terjadi karena proses degenerasi atau ketuaan trauma mata, komplikasi
penyakit tertentu, maupun bawaan lahir.

3
BAB II

LAPORAN KASUS

II.1. Identifikasi

Nama : Ny. I
Umur : 62 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Pamarican
MRS : 3 Januari 2019
No RM : 28XXX

II.2. Anamnesis (Autoanamnesis, 3 Januari 2019)

Keluhan Utama:

Penglihatan kabur pada kedua mata

Riwayat Perjalanan Penyakit:

Pasien datang ke poliklinik mata RSUD Banjar dengan keluhan penglihatan kedua
mata kabur seperti tertutup asap sejak ± 6 bulan yang lalu, awalnya pasien masih dapat
melihat jauh namun lama kelamaan pasien hanya dapat melihat dekat dan memberat
pada 3 bulan sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluhkan sering merasa silau
jika terpapar sinar terang atau sinar matahari di siang hari pada kedua mata sehingga
pasien lebih nyaman ditempat yang sedikit cahaya. Keluhan mata merah disangkal, nyeri
disangkal, mata berair disangkal, gatal disangkal, melihat pelangi disekitar sumber
cahaya disangkal. Riwayat menggunakan kacamata sebelumnya disangkal. Riwayat
trauma pada mata pasien disangkal.

4
Riwayat Penyakit Dahulu:
 Pasien baru pertama mengalami keluhan seperti ini
 Riwayat memakai kacamata (-)
 Riwayat hipertensi (-)
 Riwayat diabetes tidak diketahui oleh pasien

Riwayat Pengobatan
Belum pernah diobati dan berobat kedokter

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga:


Riwayat DM dan HT disangkal pada keluarga

Riwayat Alergi
Tidak mempunyai alergi terhadap cuaca, makanan dan obat

Riwayat Trauma
Trauma pada bagian wajah terutama mata pada pasien disangkal
II.3. Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum: Baik

• Kesadaran : Composmentis

• Tanda Vital :

Tekanan Darah : 130/80 mmHg

Nadi : 80 x/menit

Pernapasan : 20 x/menit

Suhu : 36,8°C

5
Status Generalis

 Kulit : Warna sawo matang


 Kepala :
Mata : Refleks cahaya (+/+), pupil isokor, sklera ikterik (-/-),
konjungtiva anemis (-/-), edema palpebra (-/-)
Hidung : Normonasi, deviasi septum (-), sekret (-/-), darah (-/-), massa (-/-)
Telinga : Normotia, serumen (-/-), darah (-/-), Pembesaran KGB retro/post
auricular (-/-)
Mulut : bibir tidak sianosis, mukosa tidak pucat.
 Leher : Pembesaran KGB (-), Kaku kuduk (-)
 Thoraks:
Cor:
I: Ictus Cordis terlihat di linea mid clavicularis
P: ictus cordis teraba normal di ICS V MCL Sinistra
P: batas jantung ICS IV Parasternal dekstra sampai ICS V MCL sinistra
A: BJ 1 dan 2 reguler, gallop (-), murmur (-)
Pulmo:
I: pergerakan dinding dada simetris, tidak ada retraksi
P: Vocal premitus sama di kedua lapang paru
P: Sonor di kedua lapang paru
A: vesikuler dikedua lapang paru
 Abdomen:
I: Datar (-), distensi (-)
A: bising usus (+) normal
P: timpani
P: supel, nyeri (-)
 Ekstremitas:
Akral hangat + + Oedem - -
+ + - -

6
II.4. Foto Klinis

Okuli dextra Okuli sinistra

II.5. Status Oftalmologicus

1. STATUS OFTALMOLOGI

OD OS

Lensa keruh Lensa keruh


sebagian sebagian

7
Okuli Dekstra (OD) Okuli Sinistra (OS)

Visus 6/30, PH : 6/20 3/60, PH : 6/30

Kedudukan bola mata Orthoforia Orthoforia


Gerak bola mata Baik ke segala arah Baik ke segala arah

Supra cilia
Madarosis Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada

Palpebra superior
Edema Tidak ada Tidak ada
Hiperemi Tidak ada Tidak ada
Enteropion Tidak ada Tidak ada
Ekteropion Tidak ada Tidak ada
Benjolan Tidak ada Tidak ada

Palpebra inferior
Edema Tidak ada Tidak ada
Hiperemi Tidak ada Tidak ada
Enteropion Tidak ada Tidak ada
Ekteropion Tidak ada Tidak ada
Benjolan Tidak ada Tidak ada

Punctum Lakrimal
Edema - -
Hiperemis - -
Benjolan - -
Fistel - -

Konjungtiva palpebra superior


Sekret mata Tidak ada Tidak ada
Hiperemi Tidak ada Tidak ada

8
Folikel Tidak ada Tidak ada
Papil Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Benjolan Tidak ada Tidak ada
Lain-lain Tidak ada Tidak ada

Konjungtiva palpebra inferior


Sekret mata Tidak ada Tidak ada
Hipermi Tidak ada Tidak ada
Folikel Tidak ada Tidak ada
Papil Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Benjolan Tidak ada Tidak ada

Konjungtiva bulbi
Kemosis Tidak ada Tidak ada
Hiperemi
- Konjungtiva Tidak ada Tidak ada
- Silier Tidak ada Tidak ada
- Episklera Tidak ada Tidak ada
Perdarahan subkonjungtiva Tidak ada Tidak ada

Pterigium Tidak ada Tidak ada


Tidak ada Tidak ada
Pingueculae
Sklera
Arkus senilis Ada Ada
Lain-lain Tidak ada Tidak ada

Kornea
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Infiltrat Tidak ada Tidak ada
Ulkus Tidak ada Tidak ada

9
Keratik presipitat Tidak ada Tidak ada

Bilik Mata Depan


Kedalaman Normal Normal
Hypema Tidak ada Tidak ada
Hipopion Tidak ada Tidak ada

Iris
Warna Hitam Hitam
Kriptae + +
Sinekia - -
Iris bombe - -

Pupil
Bentuk Bulat, reguler Bulat, reguler
Ukuran Ø 3mm Ø 6mm
Letak Sentral Sentral
Warna Cokelat kehitaman Cokelat kehitaman
Refleks cahaya langsung + +
Refleks cahaya tidak langsung + +

Lensa Keruh Sebagian Keruh Sebagian


Subluksasi Tidak ada Tidak ada
Dislokasi Tidak ada Tidak ada
Tes bayangan iris (Shadow Test) + +

Non Contact Tonometry (NCT) 12 10

10
II.6 Resume
Subyektif:

Pasien datang ke poliklinik mata RSUD Banjar dengan keluhan penglihatan kedua
mata kabur seperti tertutup asap sejak ± 6 bulan yang lalu, awalnya pasien masih dapat
melihat jauh namun lama kelamaan pasien hanya dapat melihat dekat dan memberat
pada 3 bulan sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluhkan sering merasa silau
jika terpapar sinar terang atau sinar matahari di siang hari pada kedua mata sehingga
pasien lebih nyaman ditempat yang sedikit cahaya. Keluhan mata merah disangkal, nyeri
disangkal, mata berair disangkal, gatal disangkal, melihat pelangi disekitar sumber
cahaya disangkal. Riwayat menggunakan kacamata sebelumnya disangkal. Riwayat
trauma pada mata pasien disangkal.

Obyektif:

OD OS
6/30, PH : 6/20 Visus 3/60, PH: 6/30

Normal Palpebra Normal


Tenang Konjungtiva Tenang
Tenang Sklera Tenang
Normal Kornea Normal
Normal BMD Normal

Iris bombe (-) Iris Iris bombe (-)


Bulat, reguler Pupil Bulat, reguler
Sinekia (-) Sinekia (-)
Refleks langsung dan Refleks langsung dan
tidak langsung (+) tidak langsung (+)
Keruh sebagian Lensa Keruh Sebagian
Shadow test (+) Shadow test (+)
NCT 12 10

11
II.7 Diagnosa Kerja

Katarak senil immatur okuli dextra dan sinistra

1I.8 Saran Pemeriksaan

- Slit Lamp
- Funduskopi

II.9 Penatalaksanaan
Non medika Mentosa :

 Menjelaskan kepada pasien mengenai katarak dan menjelaskan terapi terbaik dan
satu-satunya pada katarak adalah dengan operasi.
 Menganjurkan untuk dilakukan operasi pada mata sebelah kanan dan kiri.
 Konsul Kacamata untuk membantu sementara penglihatan pasien yang buram.

Operatif:
Rencana Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular (EKEK) ODS dan pemasangan Intra Ocular
Lens (IOL) atau Fakoemulsifikasi dengan pemasangan Intra Ocular Lens (IOL).

II.10 Prognosis
Qua ad vitam : Bonam
Qua ad sanationem : Bonam
Qua ad visum : Bonam
Qua ad kosmeticum : Bonam

II.11 SARAN
Pemeriksaan pre-operasi
a. Pemeriksaan mata : retinometri, keratometri,
b. Pemeriksaan sistemik : tanda vital, EKG, pemeriksaan darah (darah rutin, kadar
gula darah, PTT dan PTTK), elektrolit, ureum, kreatinin.

12
I1.12 EDUKASI
1. Menjelaskan pada pasien bahwa pandangan kedua mata yang kabur disebabkan katarak
pada bagian lensa mata.
2. Menjelaskan pada pasien bahwa katarak tidak dapat diobati dengan obat tetapi dapat
disembuhkan dengan operasi dan pemberian lensa tanam pada mata,
3. Menjelaskan pada pasien mengenai pentingnya operasi ekstraksi katarak, jenis tindakan,
persiapan, kelebihan dan kekurangan,
4. Menjelaskan tentang komplikasi yang akan terjadi apabila tidak dioperasi, kemungkinan
lensa akan mencair, isi lensa akan keluar, menimbulkan reaksi peradangan dan
peningkatan tekanan bola mata,
5. Menjelaskan tentang komplikasi yang mungkin timbul selama operasi dan pascaoperasi.

13
BAB III
PEMBAHASAN

Pasien wanita, berusia 62 tahun, berdasarkan anamnesis dapatkan gejala yaitu


penglihatan kedua mata kabur seperti tertutup asap sejak ± 6 bulan yang lalu, pasien juga
mengeluhkan sering merasa silau jika terpapar sinar terang atau sinar matahari di siang hari pada
kedua mata sehingga pasien lebih nyaman ditempat yang sedikit cahaya. Penghlihatan yang
seperti tertutup kabut atau buram merupakan salah satu gejala klinis dari katarak. Hal ini terjadi
karena pada katarak, akibat dari usia (penuaan), maka akan terjadi perubahan struktur korteks,
perubahan dari struktur korteks ini lama-lama akan menyebabkan kerusakan dari sel korteks,
kerusakan dari sel korteks ini akan menyebabkan hidrasi (penambahan cairan dilensa), akibat
bertambahnya cairan di lensa, maka kepadatan lensa akan berkurang sehingga lensa pasien
katarak akan semakin cembung dan indeks refraksi akan berubah karena daya biasnya bertambah
dan mata menjadi myopia, sehingga penglihatan menjadi buram atau seperti tertutup kabut.
Pasien lebih nyaman di tempat yang sedikit cahaya juga merupakan gejala klinis dari katarak, hal
ini terjadi karena pupil terbuka lebih lebar sehingga memungkinkan cahaya masuk melalui
bagian perifer lensa.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan visus pasien kurang dari 6/6, yaitu OD 6/30 dan OS
3/60, terdapat kekeruhan pada kedua lensa yang jika disinari dengan menggunakan senter pada
kemiringan 45o menimbulkan bayangan iris. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang
menyatakan bahwa pada lensa normal yang tidak terdapat kekeruhan, sinar dapat masuk kedalam
mata tanpa ada yang dipantulkan. Jika kekeruhan lensa hanya sebagian saja, maka sinar obliq
yang mengenai bagian yang keruh ini, akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan, terlihat
dipupil, ada daerah yang terang sebagai reflek pemantulan cahaya pada daerah lensa yang keruh
dan daerah yang gelap, akibat bayangan iris pada bagian lensa yang keruh. Keadaan ini disebut
bayangan iris (+). Adanya bayangan iris mengarah kepada katarak senilis imatur. Dari hasil
anamnesa dan pemeriksaan fisik, didapatkan diagnosis yang sesuai adalah katarak senilis imatur.
Usulan pemeriksaan yang dilakukan pada pasien ini adalah pemeriksaan funduskopi dan
slit lamp untuk lebih memastikan kekeruhan yang terjadi pada lensa dan segmen posterior bola
mata serta menilai keadaan retina pasien.
Penatalaksanaan pada katarak imatur adalah penggunaan kaca mata sehingga pasien
mampu beraktivitas dengan baik. Namun jika hal ini masih dirasa mengganggu oleh pasien,

14
dapat dilakukan ekstraksi lensa.Ekstraksi lensa dapat dilakukan dengan metode ECCE + IOL
atau Fakoemulsifikasi + IOL. Dimana pemilihan teknik operasi ini juga diserahkan pada pasien,
namun sebelumnya harus memberikan edukasi mengenai kelebihan ataupun kekurangan dari
masing-masing teknik tersebut. Pada ECCE + IOL, pembedahan yang dilakukan lebih lebar
dibandingkan dengan teknik fakoemulsifikasi sehingga proses penyembuhan akan berlangsung
lebih lama dan kemungkinan terjadinya astigmatisma juga lebih besar. Sementara teknik
fakoemulsifikasi memiliki komplikasi astigmatisma yang lebih kecil hanya saja biayanya lebih
mahal dibandingkan dengan ECCE.
Prognosis pasien ini baik, hal ini disebabkan karena katarak merupakan suatu kekeruhan
pada lensa yang dapat diperbaiki. Sehingga tajam penglihatan pasien setelah dioperasi akan lebih
baik dibandingkan dengan sebelum dioperasi.

15
BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

4.1.1 Anatomi Lensa

Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna, dan hampir
transparan semua.Berbentuk cakram bikonveks dan terletak di bilik mata belakang.
Tebalnya sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Di belakang iris, lensa terfiksasi pada serat
zonula (zonulla zinn)yang berasal dari badan siliar.Serat zonula tersebut menempel dan
menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan posterior dari kapsul lensa.Kapsul lensa
merupakan membran dasar yang elastis dan transparan tersusun dari kolagen tipe IV yang
berasal dari sel-sel epitel lensa.Kapsul ini mengandung isi lensa serta mempertahankan
bentuk lensa pada saat akomodasi.Bagian paling tebal kapsul berada di bagian anterior dan
posterior zona preekuator, dan bagian paling tipis berada di bagian tengah kutub posterior.
Kapsul ini merupakan membran dasar yang melindungi nukleus, korteks, dan epitel
lensa. 65% lensa terdiri atas air, sekitar 35% protein (kandungan protein tertinggi diantara
jaringan-jaringan tubuh) dan sedikit mineral. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa
daripada di kebanyakan jaringan lain.Tepat dibelakang kapsul anterior lensa terdapat satu
lapis sel-sel epitel.Sel-sel epitel ini dapat melakukan aktivitas seperti yang dilakukan sel-
sel lainnya, seperti sintesis DNA, RNA, protein dan lipid.Sel-sel tersebut juga dapat
membentuk ATP untuk memenuhi kebutuhan energi lensa. Sel-sel epitel yang baru
terbentuk akan menuju equator lalu berdiferensiasi menjadi serat lensa. Sel-sel berubah
menjadi serat, lalu serat baru akan terbentuk dan akan menekan serat-serat lama untuk
berkumpul di bagian tengah lensa. Serat-serat yang baru akan membentuk korteks dari
lensa.

Gambar 2. Anatomi Lensa

16
4.1.2 Fisiologi Lensa

Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Mekanisme yang
dilakukan oleh mata untuk mengubah fokus dari benda jauh ke benda dekat disebut akomodasi.Akomodasi
terjadi akibat perubahan lensa oleh badan siliar terhadap serat-serat zonula. Setelah umur 30 tahun,
kekakuan yang terjadi di nukleus lensa secara klinis mengurangi daya akomodasi.

Akomodasi Tanpa Akomodasi

Muskulus Cilliaris Kontraksi Relaksasi

Ketegangan Serat Zonular Menurun Meningkat

Bentuk Lensa Lebih cembung Lebih pipih

Tebal Axial Lensa Meningkat Menurun

Dioptri Lensa Meningkat Menurun

Terjadinya akomodasi dipersarafi oleh saraf simpatik cabang Nervus Occulomotorius.Obat-obat


parasimpatomimetik (pilocarpin) memicu akomodasi, sedangkan obat-obat parasimpatolitik (atropin)
memblok akomodasi.Obat-obatan yang menyebabkan relaksasi otot ciliar disebut cyclopegik.

A. Metabolisme Lensa Normal

Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation (natrium dan
kalium). Kedua kation berasal dari humour aqueous dan vitreous. Kadar kalium di bagian
anterior lensa lebih tinggi di bandingkan posterior. Dan kadar natrium di bagian posterior
lebih besar. Ion K bergerak ke bagian posterior dan keluar ke aqueous humour, dari luar
Ion Na masuk secara difusi dan bergerak ke bagian anterior untuk menggantikan ion K dan
keluar melalui pompa aktif Na-K ATPase, sedangkan kadar kalsium tetap dipertahankan di
dalam oleh Ca-ATPase.
Metabolisme lensa melalui glikolisis anaerob (95%) dan HMP-shunt (5%). Jalur
HMP shunt menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak dan ribose, juga untuk
aktivitas glutation reduktase dan aldose reduktase. Aldose reduktse adalah enzim yang

17
merubah glukosa menjadi sorbitol, dan sorbitol dirubah menjadi fructose oleh enzim
sorbitol dehidrogenase.

4.2 KATARAK

4.2.1 DEFINISI

Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa terjadi akibat kedua-duanya.
Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia
diatas 50 tahun.

4.2.2 EPIDEMIOLOGI

Berbagai studi cross-sectional melaporkan prevalensi katarak pada individu


berusia 65-74 tahun adalah sebanyak 50% dan meningkat hingga 70% pada individu di
atas 75 tahun. Jelas dapat disimpulkan insiden tertinggi pada katarak terjadi pada populasi
yang lebih tua. Diketahui kebutaan di Indonesia berkisar 1,5 % dari jumlah penduduk
Indonesia. Dari angka tersebut presentasi angka kebutaan utama ialah :
 Katarak 0,78 %
 Kelainan kornea 0,13 %
 Penyakit glaukoma 0,20 %
 Kelainan refraksi 0,14 %
 Kelainan retina 0,03 %
 Kelainan nutrisi 0,02 %

4.2.3 ETIOLOGI

Etiologi katarak kongenital yang paling umum termasuk infeksi intrauterin,


gangguan metabolisme, dan sindrom genetik ditransmisikan. Sepertiga dari katarak
pediatrik sporadis, mereka tidak berhubungan dengan penyakit sistemik atau mata.
Namun, mereka mungkin mutasi spontan dan dapat menyebabkan pembentukan katarak

18
pada keturunannya. Sebanyak 23% dari katarak kongenital adalah familial. Cara
transmisi yang paling sering adalah autosomal dominan dengan penetrasi yang lengkap.
Jenis katarak mungkin muncul sebagai katarak total, katarak polar, katarak lamelar, atau
opasitas nuklear. Semua anggota keluarga dekat harus diperiksa. Infeksi penyebab
katarak termasuk rubella (yang paling umum), rubeola, cacar air, cytomegalovirus, herpes
simplex, herpes zoster, poliomyelitis, influenza, virus EpsteinBarr, sifilis, dan
toksoplasmosis.
Penyebab terjadinya katarak senilis hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Patofisiologi
di balik terjadinya katarak senilis amat kompleks dan belum sepenuhnya dimengerti.
Namun ada beberapa kemungkinan di antaranya terkait usia lensa mata yang membuat
berat dan ketebalannya bertambah, sementara kekuatannya menurun.

4.2.4 KLASIFIKASI

Katarak dapat diklasifikasikan menurut beberapa aspek, yaitu :

i. Menurut usia :
1) Katarak kongenital ( terlihat pada usia dibawah 1 tahun )
2) Katarak juvenil ( terlihat sesudah usia 1 tahun )
3) Katarak senile ( setelah usia 50 tahun )
ii. Menurut lokasi kekeruhan lensa :
1) Nuklear
2) Kortikal
3) Subkapsular (posterior/anterior)  jarang
iii. Menurut derajat kekeruhan lensa :
1) Insipien
2) Imatur
3) Matur
4) Hipermatur
iv. Menurut etiologi :
1) Katarak primer
2) Katarak sekunder

19
a. Katarak Menurut Usia
i. Katarak Kongenital
Katarak Kongenital katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah
lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Kekeruhan sebagian pada lensa yang
sudah didapatkan pada waktu lahir umumnya tidak meluas dan jarang sekali
mengakibatkan keruhnya seluruh lensa. Letak kekeruhan tergantung pada saat
mana terjadi gangguan pada kehidupan janin.
ii. Katarak Juvenil
Katarak juvenil adalah katarak yang lunak dan terdapat pada orang muda,
yang mulai terbentuknya pada usia lebih dari 1 tahun dan kurang dari 50 tahun.
Merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah lahir yaitu kekeruhan
lensa yang terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa
sehingga biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft
cataract. Biasanya katarak juvenil merupakan bagian dari suatu gejala penyakit
keturunan lain. Pembedahan dilakukan bila kataraknya diperkirakan akan
menimbulkan ambliopia.
Tindakan untuk memperbaiki tajam penglihatan ialah pembedahan.
Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan seduah mengganggu pekerjaan
sehari-hari. Hasil tindakan pembedahan sangat bergantung pada usia penderita,
bentuk katarak apakah mengenai seluruh lensa atau sebagian lensa apakah disertai
kelainan lain pada saat timbulnya katarak, makin lama lensa menutupi media
penglihatan menambah kemungkinan ambliopia.
iii. Katarak Senil
Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia
lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun kadang-kadang pada usia 40 tahun. Perubahan
yang tampak ialah bertambah tebalnya nukleus dengan berkembangnya lapisan
korteks lensa. Secara klinis, proses ketuaan lensa sudah tampak sejak terjadi
pengurangan kekuatan akomodasi lensa akibat mulai terjadinya sklerosis lensa
yang timbul pada usia dekade 4 dalam bentuk keluhan presbiopia.

20
b. Katarak Menurut Lokasi Kekeruhan
Dikenal 3 bentuk katarak senil, yaitu katarak nuklear, kortikal, dan subkapsular
posterior.
i. Katarak Nuklear
Inti lensa dewasa selama hidup
bertambah besar dan menjadi sklerotik.
Lama kelamaan inti lensa yang mulanya
menjadi putih kekuningan menjadi cokelat
dan kemudian menjadi kehitaman.
Keadaan ini disebut katarak brunesen atau
nigra.

ii. Katarak Kortikal


Pada katarak kortikal terjadi penyerapan
air sehingga lensa menjadi cembung dan
terjadi miopisasi akibat perubahan indeks
refraksi lensa. Pada keadaan ini penderita
seakan-akan mendapatkan kekuatan baru
untuk melihat dekat pada usia yang
bertambah.
iii. Katarak subcapsularis

Kekeruhan mulai dari kecil, daerah opak hanya dibawah capsul, tepat pada
jalur jalan sinar masuk dan biasanya ada di belakang lensa. Pasien merasa sangat
terganggu saat membaca di cahaya yang terang dan biasanya melihat halo pada
malam hari. Dibagi menjadi katarak subcapsularis posterior dan subcapsularis
anterior.Pada subcapsularis posterior biasanya terdapat pada pasien DM, Myotonic
Dystrophy dan penggunaan steroid.Sedangkan pada subcapsularis anterior
biasanya terdapat pada Glaukoma sudut tertutup akut, toksisitas amiodaron,
miotic, dan Wilson disease.

21
iv. Katarak Capsularis

Dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :


 Anterior Capsular
1. Congenital : Kelainannya di membran pupil yang tidak dapat lepas pada
waktu lahir.
2. Acquired : Pseudoexfloation syndromes, Chlorpromazine, yang disertai
dengan sinekia posterior.
 Posterior Capsular
1. Congenital : Persisten hyaloid membran. Seperti ada hubungan kapsul
posterior dengan retina yang seharusnya menghilang sejak lahir.

c. Katarak Menurut Derajat Kekeruhan


Katarak berdasarkan kekeruhan yang sudah terjadi dapat dibedakan menjadi 4
macam, yaitu:
i. Katarak Insipien
Kekeruhan yang tidak teratur seperti bercak-bercak yang membentuk gerigi
dasar di perifer dan daerah jernih membentuk gerigi dengan dasar di perifer dan
daerah jernih di antaranya. Kekeruhan biasanya teletak di korteks anterior atau
posterior. Kekeruhan ini pada umumnya hanya tampak bila pupil dilebarkan.
Pada stadium ini terdapat keluhan poliopia karena indeks refraksi yang tidak
sama pada semua bagian lensa. Bila dilakukan uji bayangan iris akan positif.
ii. Katarak Imatur
Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi tidak
atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang
jernih pada lensa.
Pada stadium ini terjadi hidrasi korteks yang mengakibatkan lensa menjadi
bertambah cembung. Pencembungan lensa ini akan memberikan perubahan
indeks refraksi dimana mata akan menjadi miopik. Kecembungan ini akan
mengakibatkan pendorongan iris ke depan sehingga bilik mata depan akan lebih
sempit.

22
Pada stadium intumensen ini akan mudah terjadi penyulit glaukoma. Uji
bayangan iris pada keadaan ini positif.
iii. Katarak Matur
Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air
bersama-sama hasil disintegrasi melalui kapsul. Di dalam stadium ini lensa akan
berukuran normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan akan
mempunyai kedalaman normal kembali. Kadang pada stadium ini terlihat lensa
berwarna sangat putih akibat perkapuran menyeluruh karena deposit kalsium. Bila
dilakukan uji bayangan iris akan terlihat negatif.
iv. Katarak Hipermatur
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa sehingga korteks mengkerut dan
berwarna kuning. Akibat pengeriputan lensa dan mencairnya korteks, nukleus
lensa tenggelam ke arah bawah (katarak morgagni). Lensa yang mengecil akan
mengakibatkan bilik mata menjadi dalam. Uji bayangan iris memberikan
gambaran pseudopositif.
Akibat masa lensa yang keluar melalui kapsul lensa dapat menimbulkan
penyulit berupa uveitis fakotoksik atau glaukom fakolitik.

Insipien Imatur Matur Hipermatur


Visus 6/6 ↓ (6/6 – 1/60) ↓↓ (1/300-1/~) ↓↓ (1/300-1/~)
Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan Lensa Normal Bertambah Normal Berkurang
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik Mata Normal Dangkal Normal Dalam
Depan
Sudut Bilik Normal Sempit Normal Terbuka
Mata
Shadow Test Negatif Positif Negatif Pseudopositif
Penyulit - Glaukoma - Uveitis +
Glaukoma
Tabel 2. Perbedaan derajat kekeruhan katarak

23
d. Katarak Menurut Etiologi
a. Katarak Primer
Katarak primer merupakan katarak yang terjadi karena proses penuaan
atau degenerasi, bukan karena penyebab yang lain, seperti penyakit sistemik atau
metabolik, traumatik, toksik, radiasi dan kelainan kongenital.
b. Katarak Sekunder
1) Katarak Metabolik
Katarak metabolik atau disebut juga katarak akibat penyakit sistemik,
terjadi bilateral karena berbagai gangguan sistemik berikut ini : diabetes
melitus, hipokalsemia (oleh sebab apapun), defisiensi gizi, distrofi miotonik,
dermatitis atopik, galaktosemia, dan sindrom Lowe, Werner, serta Down.
2) Katarak Traumatik
Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh trauma benda asing pada
lensa atau trauma tumpul pada bola mata. Peluru senapan angin dan petasan
merupakan penyebab yang sering; penyebab lain yang lebih jarang adalah
anak panah, batu, kontusio, pajanan berlebih terhadap panas (glassblower’s
cataract), dan radiasi pengion. Di dunia industri, tindakan pengamanan
terbaik adalah sepasang kacamata pelindung yang bermutu baik.
Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing karena lubang
pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueous dan kadang-kadang vitreus
masuk ke dalam struktur lensa. Pasien sering kali adalah pekerja industri yang
pekerjaannya memukulkan baja ke baja lain. Sebagai contoh, potongan kecil
palu baja dapat menembus kornea dan lensa dengan kecepatan yang sangat
tinggi lalu tersangkut di vitreus atau retina.
3) Katarak Komplikata
Penyakit intraokular atau penyakit di bagian tubuh yang lain dapat
menimbulkan katarak komplikata. Penyakit intraokular yang sering
menyebabkan kekeruhan pada lensa ialah iridosiklitis, glukoma, ablasi retina,
miopia tinggi dan lain-lain. Katarak-katarak ini biasanya unilateral.

24
Pada uveitis, katarak timbul pada subkapsul posterior akibat gangguan
metabolisme lensa bagian belakang. Kekeruhan juga dapat terjadi pada tempat
iris melekat dengan lensa (sinekia posterior) yang dapat berkembang
mengenai seluruh lensa.
Glaukoma pada saat serangan akut dapat mengakibatkan gangguan
keseimbangan cairan lensa subkapsul anterior. Bentuk kekeruhan ini berupa
titik-titik yang tersebar sehingga dinamakan katarak pungtata subkapsular
diseminata anterior atau dapat disebut menurut penemunya katarak Vogt.
Katarak ini bersifat reversibel dan dapat hilang bila tekanan bola mata sudah
terkontrol.
Ablasio dan miopia tinggi juga dapat menimbulkan katarak komplikata.
Pada katarak komplikata yang mengenai satu mata dilakukan tindakan bedah
bila kekeruhannya sudah mengenai seluruh bagian lensa atau bila penderita
memerlukan penglihatan binokular atau kosmetik.
Jenis tindakan yang dilakukan ekstraksi linear atau ekstraksi lensa
ekstrakapsular. Iridektomi total lebih baik dilakukan dari pada iridektomi
perifer.
Katarak yang berhubungan dengan penyakit umum mengenai kedua mata,
walaupun kadang-kadang tidak bersamaan. Katrak ini biasanya btimbul pada
usia yang lebih muda. Kelainan umum yang dapat menimbulkan katarak
adalah diabetes melitus, hipoparatiroid, miotonia distrofia, tetani infantil dan
lain-lain.
Diabetes melitus menimbulkan katarak yang memberikan gambaran khas
yaitu kekeruhan yang tersebar halus seperti tebaran kapas di dalam masa
lensa.
Pada hipoparatiroid akan terlihat kekeruhan yang mulai pada dataran
belakang lensa, sedang pada penyakit umum lain akan terlihat tanda
degenerasi pada lensa yang mengenai seluruh lapis lensa.
4) Katarak Toksik
Katarak toksik atau disebut juga katarak terinduksi obat, seperti obat
kortikosteroid sistemik ataupun topikal yang diberikan dalam waktu lama,

25
ergot, naftalein, dinitrofenol, triparanol, antikolinesterase, klorpromazin,
miotik, busulfan. Obat-obat tersebut dapat menyebabkan terjadinya kekeruhan
lensa.
5) Katarak Ikutan (membran sekunder)
Katarak ikutan merupakan kekeruhan kapsul posterior yang terjadi setelah
ekstraksi katarak ekstrakapsular akibat terbentuknya jaringan fibrosis pada
sisa lensa yang tertinggal, paling cepat keadaan ini terlihat sesudah 2 hari
pasca ekstraksi ektrakapsular. Epitel lensa subkapsular yang tersisa mungkin
menginduksi regenerasi serat-serat lensa, memberikan gambaran telur ikan
pada kapsul posterior (mutiara Elschnig). Lapisan epitel berproliferasi tersebut
dapat membentuk banyak lapisan dan menimbulkan kekeruhan yang jelas.
Sel-sel ini mungkin juga mengalami diferensiasi miofibroblastik. Kontraksi
serat-serat tersebut menimbulkan banyak kerutan kecil di kapsulposterior,
yang menimbulkan distorsi penglihatan. Semua faktor ini dapat menyebabkan
penurunan ketajaman penglihatan setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular.
Katarak ikutan merupakan suatu masalah besar pada hampir semua pasien
pediatrik, kecuali bila kapsul posterior dan vitreus anterior diangkat pada saat
operasi. Dulu, hingga setengah dari semua pasien dewasa mengalami
kekeruhan kapsul posterior setelah mengalami ekstraksi katarak
ekstrakapsular. Namun, tehnik bedah yang semakin berkembang dan materi
lensa intraokular yang baru mampu mengurangi insiden kekeruhan kapsul
posterior secara nyata.
4.2.5 GEJALA KLINIS

Katarak biasanya terbentuk secara perlahan sehingga terkadang gejala yang


timbul tidak dirasakan oleh penderitanya. Gejala yang sering dikeluhakan oleh penderita
katarak antara lain:
 Penglihatan berawan, kabur atau berkabut
 Lebih nyaman saat melihat jarak dekat
 Perubahan persepsi warna
 Fotosensitif baik pada malam hari maupun siang hari

26
 Penglihatan ganda (double vision)
 Perubahan ukuran kacamata yang signifikan

4.2.6 PATOFISIOLOGI

Semakin bertambah usia lensa, maka akan semakin tebal dan berat sementara
daya akomodasinya semakin melemah. Ketika lapisan kortikal bertambah dalam pola
yang konsentris, nukleus sentral tertekan dan mengeras, disebut nuklear sklerosis. Ada
banyak mekanisme yang memberi kontribusi dalam progresifitas kekeruhan lensa. Epitel
lensa berubah seiring bertambahnya usia, terutama dalam hal penurunan densitas
(kepadatan) sel epitelial dan penyimpangan diferensiasi sel serat lensa (lens fiber cells).
Walaupun epitel lensa yang mengalami katarak menunjukkan angka kematian apoptotik
yang rendah, akumulasi dari serpihan-serpihan kecil epitelial dapat menyebabkan
gangguan pembentukan serat lensa dan homeostasis dan akhirnya mengakibatkan
hilangnya kejernihan lensa. Lebih jauh lagi, dengan bertambahnya usia lensa, penurunan
rasio air dan mungkin metabolit larut air dengan berat molekul rendah dapat memasuki
sel pada nukleus lensa melalui epitelium dan korteks yang terjadi dengan penurunan
transport air, nutrien dan antioksidan. Kemudian, kerusakan oksidatif pada lensa akibat
pertambahan usia mengarahkan pada terjadinya katarak senilis.

Perubahan
Faktor resiko
struktur
katarak:
korteks
- Usia
(penuaan)
- Paparan Kerusakan
sinar UV sel-sel
- Infeksi
intrauteri Hidrasi sel-sel
ne

Kepadatan
Sinar lensa
sejajar berkurang
masuk
Tidak bisa Lensa
difokuskan menjadi
Penurunan visus keruh
penglihatan
27
4.2.7 DIAGNOSIS
Diagnosa katarak dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan laboratorium preoperasi dilakukan untuk mendeteksi adanya penyakit-
penyakit yang menyertai.

Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui


kemampuan melihat pasien. Pemeriksaan slit lamp tidak hanya difokuskan untuk
evaluasi opasitas lensa tetapi dapat juga struktur okuler lain, misalnya konjungtiva,
kornea, iris, bilik mata depan. Ketebalan kornea harus diperiksa dengan hati-hati,
gambaran lensa harus dicatat dengan teliti sebelum dan sesudah pemberian dilator pupil,
posisi lensa dan intergritas dari serat zonular juga dapat diperiksa sebab subluksasi lensa
dapat mengidentifikasi adanya trauma mata sebelumnya, kelainan metabolik, atau katarak
hipermatur. Kemudian lakukan pemeriksaan shadow test untuk menentukan stadium pada
katarak senilis. Selain itu, pemeriksaan oftalmoskopi direk dan indirek dalam evaluasi
dari integritas bagian belakang harus dinilai. Masalah pada saraf optik dan retina dapat
menilai gangguan penglihatan.

4.2.8 PENATALAKSANAAN

Satu-satunya terapi katarak adalah tindakan bedah. Indikasi operasi katarak secara
umum adalah untuk rehabilitasi visus, mencegah dan mengatasi komplikasi, tujuan
terapeutik dan diagnostik, mencegah ambliopia dan tujuan kosmetik. Saat ini terapi bedah
katarak sudah mengalami banyak perkembangan.
Dahulu bedah katarak dilakukan dengan teknologi yang disebut ECCE dan ICCE
masih memerlukan sayatan lebar untuk mengeluarkan lensa secara utuh, sehingga pasien
pun harus mendapatkan jahitan yang cukup banyak pada matanya yang mengakibatkan
proses pemulihan matanya menjadi lama. Sekarang dengan teknologi fakoemulsifikasi
sayatan pada mata menjadi sangat kecil dan seringkali tidak memerlukan jahitan.

I. Metode “Ekstraksi intrakapsuler (ICCE)”, yang jarang lagi dilakukan


sekarang adalah mengangkat lensa in toto yakni didalam kapsulnya melalui
limbus superior 140-160 derajat. ICCE dilakukan pada negara-negara dimana

28
terdapat keterbatasan mikroskop untuk melakukan operasi katarak. ICCE
diindikasikan pada kasus-kasus katarak tidak stabil, intumesen, hipermatur, dan
katarak luksasi. Kontraindikasi absolut ICCE adalah katarak pada anak dan
dewasa muda serta katarak traumatik dengan ruptur kapsul. Kontraindikasi relatif
ICCE adalah miopi tinggi, sindrom Marfan, katarak Morgagni.
II. Metode ”Ekstraksi ekstra kapsuler (ECCE)”, yang saat ini masih sering
dipakai juga memerlukan insisi limbus superior. Bagian anterior kapsul dipotong
atau diangkat, nukleus diekstraksi dan korteks lensa dibuang dari mata dengan
irigasi dengan atau tanpa aspirasi, sehingga meninggalkan kapsul posterior. ECCE
diindikasikan untuk operasi katarak yang diiringi dengan pemasangan IOL atau
penambahan kacamata baca, terjadinya perlengketan luas antara iris dan lensa,
ablasi atau prolaps badan kaca. Kontraidikasi ECCE adalah pada keadaan dimana
terjadi insufisiensi zonula zinni.

Gambar 5. Teknik ECCE

III. Metode fakoemulsifikasi yaitu dengan sayatan kecil dan tidak memerlukan
benang. Ada berbagai keuntungan dari metode tersebut, antara lain tanpa dijahit.
Ini karena sayatannya kecil. Kalaupun perlu jahitan hanya satu jahitan.
Fakofragmentasi atau fakoemulsi dengan irigasi atau aspirasi atau keduanya
adalah teknik ekstrakapsuler yang menggunakan getaran-getaran ultrasonik untuk
mengangkat nukleus dan korteks melalui incisi limbus yang kecil (2-5mm),

29
sehingga mempermudah penyembuhan luka operasi dan keluhan mata merah
tidak lama.11,12

Gambar 6. Teknik Fakoemulsifikasi

Setelah operasi semua pasien membutuhkan koreksi kekuatan tambahan untuk


memfokuskan benda dekat dibandingkan untuk melihat jauh. Akomodasi hilang dengan
diangkatnya lensa. Kekuatan yang hilang pada sistem optik mata tersebut harus
digantikan oleh kacamata afakia yang tebal, lensa kontak yang tipis atau implantasi lensa
plastik (IOL) di dalam bola mata.

IOL adalah sebuah lensa jernih berupa plastik fleksibel yang difiksasi ke dalam
mata atau dekat dengan posisi lensa alami yang mengiringi ECCE. Sebuah IOL dapat
menghasilkan pembesaran dan distorsi minimal dengan sedikit kehilangan persepsi dalam
atau tajam penglihatan perifer.
IOL bersifat permanen, tidak membutuhkan perawatan dan penanganan khusus
dan tidak dirasakan pasien atau diperhatikan orang lain. Dengan sebuah IOL kacamata
baca dan kacamata untuk melihat dekat biasanya tetap dibutuhkan dan umumnya
dibutuhkan kacamata tipis untuk penglihatan jauh.
Kontraindikasi implantasi IOL antara lain adalah uveitis berulang, retinopati
diabetik progresif, rubeosis iridis dan glaukoma neovaskuler.
Tentunya setiap tindakan operasi memiliki resiko, yang paling buruk adalah
hilangnya penglihatan secara permanen. Setelah dilakukan operasi masih mungkin
muncul masalah pada mata, sehingga diperlukan kontrol post operasi yang teratur.

30
4.2.9 KOMPLIKASI

Jangka Pendek Jangka Panjang


 Infeksi pada mata  Fotosensitif
 Perdarahan pada kornea (hifema)  Dislokasi IOL
 Edema papil  Kekeruhan pada kapsul lensa
 Edema kornea  Ablasio retina
 Rupture kapsul lensa  Astigmatisma
 Ablasio retina  Glaukoma
 Ptosis13
Tabel 4. Efek Operasi Katarak

4.2.10 PROGNOSIS

Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan


tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak dewasa. Adanya ambliopia dan kadang-
kadang anomali saraf optikus atau retina membatasi tingkat pencapaian penglihatan pada
kelompok pasien ini. Prognosis untuk perbaikan ketajaman penglihatan setelah operasi
paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak kongenital
bilateral inkomplit yang progresif lambat.
Sedangkan pada katarak senilis jika katarak dapat dengan cepat terdeteksi serta
mendapatkan pengobatan dan pembedahan katarak yang tepat maka 95 % penderita dapat
melihat kembali dengan normal.

31
BAB V

KESIMPULAN

Katarak adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, yang menghalangi sinar masuk
ke dalam mata. Katarak masih merupakan penyebab kebutaan paling banyak di Indonesia.
Terjadinya kekeruhan pada lensa ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain usia,
trauma, lingkungan, obat-obatan, dan infeksi. Biasanya para penderita katarak kerap kali
mengeluhkan pandangan berkabut seperti tertutup asap atau pandangannya mulai kabur.
Patofisiologi terjaidnya kekeruhan lensa pada katarak, secara garis besar disebabkan oleh
perubahan struktur korteks lensa yang mengakibatkan perubahan komponen lensa dan pada
akhirnya terjadi kekeruhan lensa.

Satu-satunya terapi untuk katarak adalah dengan jalan operasi. Saat ini dikenal 3 model
operasi, yaitu ICCE, ECCE, dan fakoemulsifikasi. Katarak yang didiagnosis dan ditangani
dengan tepat dan segera akan memberikan prognosis yang lebih baik bagi fungsi penglihatan
penderitanya.

32
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2007. Hlm 172-3, 199,
200-13.
2. Sitorus Rita. Buku Ajar Oftalmologi, edisi ke-1. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2017. Hlm, 197.
3. Hiller R, Sperduto RD, Ederer F. Epidemiologic Associations With Cataract in The 1971-1972
National Health and Nutrition Examination Survey. Am J Epidemiol 1983; 118 : 239-49.
4. Berson, Frank G. Basic Ophtalmology for medical students and Primary Care Residents. Sixth
Edition. American Academy of Ophtalmology. 1993.
5. Kanski, Jack J. Clinical Ophtalmology, A Systemic Approach, second edition. Oxford: Butterworth-
Heinemann, 1993, 234-251.
6. Gerhard, Lang. Ophtalmology A Short Textbook. New York :Thieme stutrgart, 2000.
7. Johns J.K Lens and Cataract. Basic and Clinical Science Section 11. American Academy of
Ophthalmology. 2011.
8. Vaughan, Daniel G., Taylor Asbury, Paul Riordan-Eva. Oftalmologi Umum, edisi 17. Jakarta: EGC,
2007, p169-176.
9. Husain R, Tong L, Fong A, Cheng JF, How A, Chua WH, Lee L, Gazzard G, Tan DT, Koh D, Saw
SM. Prevalence of Cataract in Rural Indonesia. Ophthalmology, Jul 2005; 112(7): 1255-62

33