Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

“UVEITIS ANTERIOR”

Pembimbing : dr. Rety Sugiarti, Sp.M

Oleh :
Nama : Karel Respati
NIM : 2011730144

SMF ILMU MATA


KEPANITERAAN KLINIK RSUD BANJAR
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2019
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
UVEITIS ANTERIOR

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Uvea merupakan lapisan vaskular di dalam bola mata yang terdiri dari iris, korpus siliar, dan
koroid. Bagian ini dilindungi oleh kornea dan sklera. Uvea ikut memasok darah ke retina. Uvea
dibagi menjadi 2 bagian yaitu uvea anterior yang terdiri dari iris dan badan siliar dan uvea
posterior yaitu koroid . Dalam tulisan ini hanya dibahas mengenai uvea anterior saja.
Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu:1
1. Sklera, yang merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata,
merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sclera disebut cornea
yang bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata.
2. Jaringan uvea, yang merupakan jaringan vaskular, yang terdiri atas iris, badan siliar dan
koroid. Pada iris didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar masuk
ke dalam bola mata yaitu otot dilatatur, sfingter iris dan otot siliar. Badan siliar yang terletak
di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor), yang dikeluarkan melalui
trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas kornea dan sklera.
3.Lapis ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan lapis
sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah sinar
menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak.
Vitreous humour atau badan kaca menempati daerah belakang lensa. Struktur ini merupakan gel
transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%), sedikit kolagen, dan molekul asam hialuronat
yang sangat terhidrasi. Badan vitreous mengandung sangat sedikit sel yang mensintesis kolagen
dan asam hialuronat.Berfungsi mengisi ruang untuk meneruskan sinar darilensa ke retina.
Kebeningan badan vitreous disebabkan tidak terdapatnya pembuluh darah dan sel. Pada
pemeriksaan tidak terdapatnya kekeruhan badan vitreous akan memudahkan melihat bagian
retina pada pemeriksaan oftalmoskopi.1

B. UVEA
Uvea, berasal dari bahasa Latin “uva” yang berarti anggur dan terdiri atas beberapa
kompartmen mata yang berperan besar dalam vaskularisasi mata, yaitu iris, badan siliar dan
koroid yang secara anatomis tidak terpisah.Uvea merupakan dinding kedua dari bola mata yang
terletak di tengah dan merupakan lapisan vaskuler di dalam bola mata yang terletak antara
korneosklera dan neuroepitelium. Uvea merupakan lembaran yang tersusun oleh pembuluh-
pembuluh darah, serabut saraf, jaringan ikat, otot dan pupil yang merupakan bagian iris yang
berlubang. 2,3

Vaskularisasi uvea berasal dari arteri siliaris anterior dan posterior yang berasal dari arteri
oftalmika. Vaskularisasi iris dan badan siliaris berasal dari sirkulus arteri mayoris iris yang
terletak di badan siliaris yang merupakan anastomosis arteri siliaris anterior dan arteri siliaris
posterior longus. Vaskularisasi koroid berasal dari arteri siliaris posterior longus dan brevis.
Pendarahan uvea bagian anterior yang diperdarahi oleh 2 buah arteri siliar posterior longus yang
masuk menembus sklera di temporal dan nasal dekat tempat masuk saraf optik dan 7 buah arteri
siliar anterior yang terdapat dua pada setiap otot superior, medial inferior, satu pada otot rektus
lateral. Uvea posterior mendapat pendarahan dari 15-20 buah arteri siliar posterior brevis yang
menembus sklera di sekitar tempat masuk saraf optik. 2,3,4
C. IRIS
Iris merupakan kelanjutan dari badan silier yang berarti pelangi karena warna iris berbeda
sesuai etnik dan ras manusia. Iris berpangkal pada badan siliar yang merupakan pemisah antara
bilik mata depan dengan bilik mata belakang, yang masing-masing berisi humor aqueus. Iris
mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk ke dalam mata. Iris merupakan membran yang
berwarna, berupa suatu permukaan pipih, berbentuk sirkular yang ditengahnya terdapat lubang
yang dinamakan pupil.2,3,4
Permukaan depan iris warnanya sangat bervariasi dan mempunyai lekukan-lekukan kecil
terutama sekitar pupil yang disebut kripti. Di dalam stroma iris terdapat sfingter dan otot-otot
dilator. Kedua lapisan berpigmen pekat pada permukaan posterior iris merupakan perluasan
neuroretina dan lapisan epitel pigmen retina ke arah anterior. Jaringan otot iris tersusun longgar
dengan otot polos yang berjalan melingkari pupil (sfingter pupil) dan radial tegak lurus pupil
(dilator pupil). Kedua otot tersebut memelihara ketegangan iris sehingga tetap tergelar datar.
Dalam keadaan normal, pupil kanan dan kiri kira-kira sama besarnya, keadaan ini disebut
isokoria. Apabila ukuran pupil kanan dan kiri tidak sama besar, keadaan ini disebut anisokoria. 2,4
Pembuluh darah di sekeliling pupil disebut sirkulus minor dan yang berada dekat badan
siliar disebut sirkulus mayor. Pasok darah ke iris adalah dari circulus major iris. Kapiler-kapiler
iris mempunyai lapisan endotel yang tak berlobang sehingga normalnya tidak membocorkan
fluoresein yang disuntikkan secara intravena. Iris dipersarafi nervus nasosiliar cabang dari saraf
kranial III yang bersifat simpatik untuk midriasis dan parasimpatis untuk miosis. 2,4
D. BADAN SILIER
Badan silier merupakan bagian uvea yang terletak di antara iris dan koroid. Badan silier
mengandung banyak pembuluh darah dan vena. Badan siliar dimulai dari pangkal iris ke
belakang sampai koroid. Badan siliar berbentuk cincin yang terdapat di sebelah dalam dari
tempat tepi kornea melekat di sklera. Secara kasar berbentuk segitiga pada potongan melintang,
membentang ke depan dari ujung posterior khoroid ke pangkal iris (sekitar 6 mm). Korpus
siliaris terdiri dari suatu zona anterior yang berombak-ombak, pars plikata, dan zona posterior
yang datar, pars plana. Processus siliaris berasal dari pars plikata. Ada dua lapisan epitel siliaris
satu lapisan tanpa pigmen di sebelah dalam, yang merupakan perluasan neuroretina ke anterior;
dan lapisan berpigmen di sebelah luar, yang merupakan perluasan dari lapisan epitel pigmen
retina. Pembuluh-pembuluh darah yang mendarahi korpus siliare berasal dari lingkar utama iris.
Saraf sensorik iris adalah melalui saraf-saraf siliaris.2,4
Badan siliar merupakan susunan otot melingkar dan mempunyai sistem eksresi
dibelakang limbus. Badan siliar terdiri atas otot-otot siliar dan prosesus siliaris. Muskulus siliaris
tersusun dari gabungan serat longitudinal, sirkuler, dan radial. Otot-otot siliar (serat-serat
sirkuler) berfungsi untuk akomodasi. Jika otot-otot ini berkontraksi ia menarik prosesus siliar
dan koroid ke depan dan ke dalam, mengendorkan zonula Zinn sehingga mengubah tegangan
pada kapsul lensa dan lensa menjadi lebih cembung, sehingga lensa dapat mempunyai berbagai
focus baik untuk objek berjarak dekat maupun yang berjarak jauh dalam lapangan pandang.
Fungsi prosesus siliar adalah memproduksi aqueous humor. Humor akuos ini sangat menentukan
tekanan bola mata (tekanan intraocular = TIO). Humor akuos mengalir melalui kamera okuli
posterior ke kamera okuli anterior melalui pupil, kemudian ke angulus iridokornealis, kemudian
melewati trabekulum meshwork menuju canalis Schlemm, selanjutnya menuju kanalis kolektor
masuk ke dalam vena episklera untuk kembali ke jantung. Radang badan siliar akan
mengakibatkan melebarnya pembuluh darah di daerah limbus, yang akan mengakibatkan mata
merah yang merupakan gambaran karakteristik peradangan intraokular.2,4

E. KOROID
Koroid merupakan bagian uvea yang paling luas yang berupa membran berwarna coklat
tua dan terletak antara retina dan sklera merupakan bagian dari segmen posterior uvea,
terbentang dari ora serata sampai ke papil saraf optik. Koroid melekat erat ke posterior ke tepi-
tepi nervus optikus. Ke anterior, koroid bersambung dengan korpus siliaris. Koroid adalah
jaringan vascular yang terdiri atas anyaman pembuluh darah, kaya pembuluh darah dan berfungsi
untuk memberi nutrisi kepada retina bagian luar. Koroid di sebelah dalam dibatasi oleh
membrana Bruch dan di sebelah luar oleh suprakoroidal (di bagian luarnya lagi terdapat sklera).
Retina tidak menempati (overlapping) seluruh koroid, tetapi berhenti beberapa millimeter
sebelum badan siliar. Bagian koroid yang tidak terselubungi retina disebut pars plana. Koroid
tersusun dari tiga lapisan pembuluh darah koroid yaitu pembuluh darah besar, sedang, dan kecil.
Semakin dalam pembuluh terletak di dalam koroid, semakin lebar lumennya. Bagian dalam
pembuluh darah koroid dikenal sebagai khoriokapilaris. Darah dari pembuluh darah koroid
dialirkan melalui empat vena vorteks, satu di masing-masing kuadran posterior. Agregat
pembuluh darah koroid memperdarahi bagian luar retina yang mendasarinya. Vaskularisasi
koroid berasal dari arteri siliaris posterior longus dan brevis. 2,3,4

Gambar 1. Anatomi Mata

UVEITIS ANTERIOR
Uveitis anterior adalah radang pada iris (iritis), badan siliar (siklitis) dan dapat terjadi
bersama yang disebut sebagai iridosiklitis. Uveitis anterior atau iridosiklitis merupakan penyakit
yang mendadak yang biasanya berjalan selama 6 sampai 8 minggu, dan pada stadium dini
biasanya dapat sembuh dengan tetes mata saja.Uveitis anterior kronik adalah peradangan
berulang pada uvea anterior, berlangsung selama bulanan atau tahunan tanpa penyembuhan yang
sempurna antara serangan yang pertama dan kekambuhan.1,5
Uveitis anterior dapat dibedakan lagi dalam bentuk uveitis granulomatosa dan non
granulomatosa. Uveitis granulomatosa merupakan pembagian berdasarkan gambaran
patologinya, dimana pada uveitis granulomatosa ditandai dengan adanya sel-sel radang pada tepi
pupil (Koeppe Nodules), pada permukaan iris (Bussaca Nodules) serta sel-sel radang pada
endotel kornea atau keratik presipitat yang bila bentuknya besar dan berminyak disebut mutton
fat keratic precipitate.1,5,10
Biasanya perjalanannya dimulai dengan gejala iridosiklitis akut. Penyebab uveitis anterior
akut non granulomatosa dapat oleh trauma, diare kronis, penyakit Reiter, herpes simplex,
sindrom Posner Schlosman, pascabedah, infeksi adenovirus, parotitis, influenza, dan chlamydia.
Penyebab uveitis anterior kronis non granulomatosa dapat disebabkan oleh artritis reumatoid dan
fuchs heterokromik iridosilitis. Sedangkan penyebab uveitis anterior granulomatosa akut
antara lain: sarkoiditis, sifilis, tuberkulosis, virus, jamur (histoplasmosis) atau parasit
(toksoplasmosis). Pada proses akut dapat terjadi miopisi akibat rangsangan badan siliar dan
edema lensa. Pada proses peradangan yang lebih akut, dapat dijumpai penumpukan sel-sel
radang berupa pus di dalam COA yang disebut hipopion, ataupun migrasi eritrosit ke dalam
COA, dikenal dengan hifema. Apabila proses radang berlangsung lama (kronis) dan berulang,
maka sel-sel radang dapat melekat pada endotel kornea, disebut sebagai keratic precipitate
(KP).1,5
Ada dua jenis keratic precipitate, yaitu : 10
 Mutton fat KP : besar, kelabu, terdiri atas makrofag dan pigmen-pigmen yang difagositirnya,
biasanya dijumpai pada jenis granulomatosa.
 Punctate KP : kecil, putih, terdiri atas sel limfosit dan sel plasma, terdapat pada jenis non
granulomatosa.
Apabila tidak mendapatkan terapi yang adekuat, proses peradangan akan berjalan terus
dan menimbulkan berbagai komplikasi. Sel-sel radang, fibrin, dan fibroblas dapat menimbulkan
perlekatan antara iris dengan kapsul lensa bagian anterior yang disebut sinekia posterior, ataupun
dengan endotel kornea yang disebut sinekia anterior. Dapat pula terjadi perlekatan pada bagian
tepi pupil, yang disebut seklusio pupil, atau seluruh pupil tertutup oleh sel-sel radang, disebut
oklusio pupil. Perlekatan-perlekatan tersebut, ditambah dengan tertutupnya trabekular oleh sel-
sel radang, akan menghambat aliran akuos humor dari bilik mata belakang ke bilik mata depan
sehingga akuos humor tertumpuk di bilik mata belakang dan akan mendorong iris ke depan yang
tampak sebagai iris bombans (iris bombe). Selanjutnya tekanan dalam bola mata semakin
meningkat dan akhirnya terjadi glaukoma sekunder. Pada uveitis anterior juga terjadi gangguan
metabolisme lensa yang menyebabkan lensa menjadi keruh dan terjadi katarak komplikata.
Apabila peradangan menyebar luas, dapat timbul endoftalmitis (peradangan supuratif berat
dalam rongga mata dan struktur di dalamnya dengan abses di dalam badan kaca) ataupun
panoftalmitis (peradangan seluruh bola mata termasuk sklera dan kapsul tenon sehingga bola
mata merupakan rongga abses).1,5,10
Bila uveitis anterior monokuler dengan segala komplikasinya tidak segera ditangani,
dapat pula terjadi symphatetic ophtalmia pada mata sebelahnya yang semula sehat. Komplikasi
ini sering didapatkan pada uveitis anterior yang terjadi akibat trauma tembus, terutama yang
mengenai badan silier

EPIDEMIOLOGI
Penderita umumnya berada pada usia 20-50 tahun. Uveitis menyumbang 10-15% kasus
kebutaan di negara maju dan uveitis sering terjadi di negara berkembang dibandingkan dengan
negara maju karena prevalensi infeksi yang dapat mempengaruhi mata seperti toksoplasmosis
dan tuberkulosis adalah lebih besar.

ETIOLOGI
1. Uveitis endogen.
Akibat infeksi mikroorganisme atau agen lain dari pasien sendiri. Sering berhubungan
dengan :
a) Penyakit sistemik : spondilitis ankilosa
b) Infeksi bacteria : tuberculosis
c) Jamur : kandidiasis
Banyak pada penderita dengan kelemahan sistem imun.
d) Virus : herpes Zoster
Menyerang nervus optikus dan banyak terjadi pada orang tua.
e) Protozoa : Toxoplasma
f) Cacing : Toxokariasis
Kondisi lain yang termasuk dalam uveitis endogen adalah uveitis spesifik idiopatik (sindrom
uveitis Fuch) dan uveitis nonspesifik idiopatik.5
2. Uveitis eksogen.
a) Trauma eksternal
b) Invasi mikroorganisme/agen lain dari luar.

KLASIFIKASI
1. Klasifikasi Anatomi:1,5,7
a) Uveitis anterior
Juga disebut iritis jika inflamasi mengenai bagian depan iris dan iridosiklitis jika
inflamasi mengenai iris dan bagian anterior badan silier. Merupakan inflamasi yang
terjadi terutama pada iris dan korpus siliaris atau keduanya yang disebut juga dengan
iridosiklitis.
b) Uveitis intermedia
Peradangan mengenai bagian posterior badan silier dan bagian perifer retina.
c) Uveitis posterior
Peradangan mengenai uvea di belakang vitreous. Juga disebut korioretinitis bila
peradangan koroid lebih menonjol, retinokoroiditis bila peradangan retina lebih
menonjol, koroiditis, retinitis dan uveitis diseminata.
d) Panuveitis / Uveitis difus
Merupakan uveitis anterior, intermedia, dan posterior yang terjadi secara bersamaan.

Urutan uveitis dari yang paling sering terjadi adalah uveitis anterior, posterior, panuveitis dan
intermedia.

Gambar 2. Klasifikasi Uveitis Berdasarkan Anatomi

Tabel Klasifikasi Anatomi dari Uveitis

Lokasi Perjalanan Penyakit Patologi Faktor


Penyabab

Anterior Akut, Subakut Granulomatosa Infeksi

Intermediate Kronis Non- Autoimun


Granulomatosa

Posterior Rekuren Sistemik

2. Klasifikasi klinis:1,5
a) Uveitis akut
Apabila gejala timbul tiba-tiba dan berlangsung selama 6 minggu atau kurang dan
bila sembuh tidak kambuh lagi
b) Uveitis subakut
Lamanya peradangan antara uveitis akut dan kronik, ada kekambuhan tetapi ada fase
kesembuhan
c) Uveitis kronik
Peradangan berulang, berlangsung selama > 6 minggu (selama bulanan atau tahunan),
tanpa penyembuhan yang sempurna antara serangan yang pertama dan kekambuhan.
seringkali onset tidak jelas dan bersifat asimtomatik.
3. Klasifikasi patologi. 1,5
a) Non granulomatosa
Paling sering, di duga akibat alergi karena tidak pernah ditemukan kumannya dan
sembuh dengan pemberian kortikosteroid. Timbulnya sangat akut. Reaksi vaskuler
lebih hebat dari seluler sehingga injeksinya hebat (banyak pembuluh darah). Di iris
tidak tampak benjolan. Sinekia posterior halus-halus, oleh karena hanya mengandung
sedikit sel. Cairan COA mengandung lebih banyak fibrin daripada sel. Badan kaca
tidak tampak kekeruhan. Rasa sakit hebat juga fotofobia dan visus banyak terganggu.
Pada stadium akut karena mengandung fibrin dapat terbentuk hipopion. Lebih banyak
mengenai uvea anterior. Patologi anatomis di iris dan badan siliar didapatkan sel
plasma dan sel-sel mononuklear
b) Granulomatosa
Disangka akibat invasi mikrobakteri yang patogen ke jaringan uvea, meskipun
kumannya sering tidak ditemuklan, sehingga diagnosa ditegakkan berdasarkan
keadaan klinis saja. Timbulnya tidak akut, reaksi seluler lebih hebat dari vaskuler.
Karenanya injeksi silier tidak hebat. Iris bengkak, menebal, gambaran benjolannya
disebut Koepe Nodul. Keratik presipitat besar-besar kelabu disebut mutton fat
deposit. COA keruh seperti awan, lebih banyak sel dari fibrin. Keruh rasa sakit
ringan-sedang, fotofobi sedikit. Visus terganggu hebat oleh karena media yang dilalui
cahaya banyak terganggu. Keadaan ini terutama mengenai Uvea posterior, di koroid
dominan sel epiteloid dan sel raksasa multinukleus dengan nyeri, injeksi silier,
hiperemia dan lakrimasi akibat banyaknya sitokin yang keluar serta fotofobia.
Penglihatan kabur karena adanya permeabilitas pembuluh darah naik maka terjadinya
transudasi ke bilik mata depan.

Tabel 2. Perbedaan uveitis non granulomatosa dengan uveitis granulomatosa

Non granulomatosa Granulomatosa

Onset Akut Tersembunyi

Sakit Nyata Tidak ada atau ringan

Fotofobia Nyata Ringan

Penglihatan kabur Sedang Nyata

Merah sirkum corneal Nyata Ringan

Keratik presipitat Putih halus Kelabu besar

Pupil Kecil dan tidak teratur Kecil dan tidak teratur

Sinekia posterior Kadang Kadang

Nodul iris Kadang Kadang

Tempat Uvea anterior Uvea anterior dan


posterior

Perjalanan Akut Kronik

Rekurens Sering Kadang


4. Klasifikasi berdasarkan penyebab yang diketahui6
a) Bakteri : tuberculosis. sifilis
b) Virus : herpes simpleks, herpes zoster, sitomegalovirus, penyakit Vogt-Koyanagi-
Harada, sindrom Bechet.
c) Jamur : kandidiasis
d) Parasit : toksoplasma, toksokara
e) Imunologik : Lens-induced iridosiklitis, oftalmia simpatika
f) Penyakit sistemik : penyakit kolagen, arthritis rematoid, multiple sclerosis,
sarkoidosis, penyakit vaskuler.
g) Neoplastik : limfoma, reticulum cell sarcoma
h) Lain-lain : AIDS

MANIFESTASI KLINIK

Pada anamnesa penderita mengeluh:


1. Mata terasa ngeres seperti ada pasir.
2. Mata merah disertai air mata.
3. Nyeri, baik saat ditekan ataupun digerakkan. Nyeri bertambah hebat bila

telah timbul glaukoma sekunder.


4. Fotofobia, penderita menutup mata bila terkena sinar
5. Blefarospasme.
6. Penglihatan kabur atau menurun ringan, kecuali bila telah terjadi katarak

komplikata, penglihatan akan banyak menurun.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan:


- Kelopak mata edema disertai ptosis ringan.
- Konjungtiva merah, kadang-kadang disertai kemosis.
- Hiperemia perikorneal, yaitu dilatasi pembuluh darah siliar sekitar limbus,
dan keratic precipitate.
- Bilik mata depan keruh (flare), disertai adanya hipopion atau hifema bila
proses sangat akut. Sudut BMD menjadi dangkal bila didapatkan sinekia.
- Iris edema dan warna menjadi pucat, terkadang didapatkan iris bombans.
Dapat pula dijumpai sinekia posterior ataupun sinekia anterior.
- Pupil menyempit, bentuk tidak teratur, refleks lambat sampai negatif.
- Lensa keruh, terutama bila telah terjadi katarak komplikata.
- Tekanan intra okuler meningkat, bila telah terjadi glaukoma sekunder.

PEMERIKSAAN ANJURAN

 Oftalmoskopi
 Tonometri
 Slitlamp
 Pemeriksaan laboratorium.

Penderita uveitis anterior akut dengan respon yang baik terhadap pengobatan non spesifik,
umumnya tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut. Sementara bagi
penderita yang tidak responsif , diusahakan untuk menemukan diagnosis etiologinya
melalui pemeriksaan laboratorium.
Pada penderita ini sebaiknya dilakukan skin test untuk pemeriksaan tuberkulosis dan
toksoplasmosis. Untuk kasus-kasus yang rekurens (berulang), berat, bilateral, atau
granulomatosa, perlu dilakukan tes untuk sifilis, foto Rontgen untuk mencari kemungkinan
tuberkulosis atau sarkoidosis. Penderita muda dengan arthritis sebaiknya dilakukan tes
ANA. Pada kasus psoriasis, uretritis, radang yang konsisten, dan gangguan pencernaan,
dilakukan pemeriksaan HLA-B27 untuk mencari penyebab autoimun. Pada dugaan kasus
toksoplasmosis, dilakukan pemeriksaan IgG dan IgM.

PENATALAKSANAAN

Tujuan utama dari pengobatan uveitis anterior adalah untuk mengembalikan atau
memperbaiki fungsi penglihatan mata. Apabila sudah terlambat dan fungsi penglihatan
tidak dapat lagi dipulihkan seperti semula, pengobatan tetap perlu diberikan untuk
mencegah memburuknya penyakit dan terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan.
Adapun terapi uveitis anterior dapat dikelompokkan menjadi :
Terapi non spesifik
1. Penggunaan kacamata hitam
Kacamata hitam bertujuan untuk mengurangi fotofobi, terutama akibat

pemberian midriatikum.

2. Kompres hangat
Dengan kompres hangat, diharapkan rasa nyeri akan berkurang, sekaligus

untuk meningkatkan aliran darah sehingga resorbsi sel-sel radang dapat

lebih cepat.

3. Midritikum/ sikloplegik
Tujuan pemberian midriatikum adalah agar otot-otot iris dan badan silier

relaks, sehingga dapat mengurangi nyeri dan mempercepat

panyembuhan. Selain itu, midriatikum sangat bermanfaat untuk

mencegah terjadinya sinekia, ataupun melepaskan sinekia yang telah ada.


Midriatikum yang biasanya digunakan adalah:
- Sulfas atropin 1% sehari 3 kali tetes
- Homatropin 2% sehari 3 kali tetes
- Scopolamin 0,2% sehari 3 kali tetes

4. Anti inflamasi
Anti inflamasi yang biasanya digunakan adalah kortikosteroid, dengan

dosis sebagai berikut:


Dewasa : Topikal dengan dexamethasone 0,1 % atau prednisolone 1 %.
Bila radang sangat hebat dapat diberikan subkonjungtiva atau periokuler :
- Dexamethasone phosphate 4 mg (1 ml)
- Prednisolone succinate 25 mg (1 ml)
- Triamcinolone acetonide 4 mg (1 ml)
- Methylprednisolone acetate 20 mg
Bila belum berhasil dapat diberikan sistemik Prednisone oral mulai 80 mg per hari sampai
tanda radang berkurang, lalu diturunkan 5 mg tiap hari.
Anak : prednison 0,5 mg/kgbb sehari 3 kali.

Pada pemberian kortikosteroid, perlu diwaspadai komplikasi-komplikasi yang mungkin


terjadi, yaitu glaukoma sekunder pada penggunaan lokal selama lebih dari dua minggu, dan
komplikasi lain pada penggunaan sistemik.

Terapi spesifik
Terapi yang spesifik dapat diberikan apabila penyebab pasti dari uveitis anterior telah
diketahui. Karena penyebab yang tersering adalah bakteri, maka obat yang sering diberikan
berupa antibiotik, yaitu :
Dewasa : Lokal berupa tetes mata kadang dikombinasi dengan steroid
Subkonjungtiva kadang juga dikombinasi dengan steroid secara per oral dengan
Chloramphenicol 3 kali sehari 2 kapsul.
Anak : Chloramphenicol 25 mg/kgbb sehari 3-4 kali.
Walaupun diberikan terapi spesifik, tetapi terapi non spesifik seperti disebutkan diatas
harus tetap diberikan, sebab proses radang yang terjadi adalah sama tanpa memandang
penyebabnya.

Terapi terhadap komplikasi


1.Sinekia posterior dan anterior
Untuk mencegah maupun mengobati sinekia posterior dan sinekia anterior,

perlu diberikan midriatikum, seperti yang telah diterangkan sebelumnya.

2.Glaukoma sekunder
Glaukoma sekunder adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada
uveitis anterior. Terapi yang harus diberikan antara lain:
Terapi konservatif :
Timolol 0,25 % - 0,5 % 1 tetes tiap 12 jam
Acetazolamide 250 mg tiap 6 jam

Terapi bedah :
Dilakukan bila tanda-tanda radang telah hilang, tetapi TIO masih tetap tinggi.
- Sudut tertutup : iridektomi perifer atau laser iridektomi, bila telah terjadi

perlekatan iris dengan trabekula (Peripheral Anterior Synechia atau PAS)

dilakukan bedah filtrasi.


- Sudut terbuka : bedah filtrasi.

3. Katarak komplikata
Komplikasi ini sering dijumpai pada uveitis anterior kronis. Terapi yang

diperlukan adalah pembedahan, yang disesuaikan dengan keadaan dan

jenis katarak serta kemampuan ahli bedah.


DAFTAR PUSTAKA

1. Prof. dr. Suharjo, SU, SpM(K), dr. Siti Sundari SpM, MKes, dr. Muhammad. Bayu
Sasongko. Kelainan palpebra, konjungtiva, kornea, skllera dan sistem lakrimal. Ilmu
Kesehatan Mata. 1. 2007. 34-40, 44-5
2. Prof. dr.H.Sidarta Ilyas, SpM. Mata merah dengan penglihatan normal. Ilmu Penyaakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 3. 2010. 121-37, 140, 143-6.
3. Prof. dr. Sidarta Ilyas SpM, Prof. Dr. dr. H.H.B Mallangkay SpM, Prof. dr. Hilman Talm
SpM, dr Raman R Saman SpM, dr Monang Simarmata SpM, dr Purbo S Widodo SpM.
Radang Uvea. Ilmu Penyakit Mata. 2. 2010. 114-5, 120-31.
4. Prof. dr.H.Sidarta Ilyas, SpM. Mata merah dengan penglihatan turun mendadak. Ilmu
Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 3. 2010. 147-58
5. Prof. dr. Suharjo, SU, SpM(K), dr. Muhammad. Bayu Sasongko, dr. Santi Anugrahsari.
Uveitis. Ilmu Kesehatan Mata. 1. 2007. 63-76.
6. Prof. dr. Sidarta Ilyas SpM, Prof. Dr. dr. H.H.B Mallangkay SpM, Prof. dr. Hilman Talm
SpM, dr Raman R Saman SpM, dr Monang Simarmata SpM, dr Purbo S Widodo SpM.
Radang Uvea. Ilmu Penyakit Mata. 2. 2010. 159-75.