Anda di halaman 1dari 6

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA

KELOMPOK 2
IVANIA HANDINI
SYIFA FAUZIAH
DARMAWAN
AFWAN FADILAH
FAIZAL FAHMI
CITRA WIDIASTUTI R
INDAH BASORI
ROBI FIRMANSYAH
Pengertian
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dalam pleura berupa transudat
atau eksudat yang diakibatkan terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi di kapiler
dan pleura viseralis.
Efusi pleura merupakan salah satu kelainan yang menganggu sistem pernapasan. Efusi pleura
bukanlah didiagnosis dari suatu penyakit, melainkan hanya merupakan suatu gejala atau komplikasi
dari suatu penyakit. Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga
pleura, jika kondisi ini dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya.

Etiologi
Efusi pleura adalah akumulasi cairan pleura akibat peningkatan kecepatan produksi cairan,
penurunan kecepatan pengeluaran cairan atau keduanya, ini disebabkan oleh satu dari lima
mekanisme berikut :
1. Peningkatan tekanan pada kapiler subpleura atau limfatik
2. Peningkatan permeabilitas kapiler
3. Penurunan tekanan osmotic koloid darah
4. Peningkatan tekanan negative intrapleura
5. Kerusakan drainase limfatik ruang pleura
Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura dibagi-bagi menjadi transudat, eksudat, dan
hemoragi.
1. Transudat, disebabkan oleh cairan bocor ke dalam ruang pleura. Kebocoran tersebut mungkin
karena berbagai alasan tetapi yang paling umum adalah gagalnya ventrikel kiri dalam hati
manusia. Orang yang menderita komplikasi setelah operasi jantung, juga sering didiagnosa
menderita efusi pleura transudatif. dapat disebabkan juga oleh kegagalan jantung kongestif
(gagal jantung kiri), sindrom nefrotik, asites (oleh karena sirosis hepatis), sindrom vena kava
superior, tumor dansindrom Meigs.
2. Eksudat, disebabkan oleh pembuluh darah bocor, yang selanjutnya disebabkan terutama
karena penyakit paru-paru. Dan dapat disebabkan oleh infeksi, TB, pneumonia, tumor, infark
paru, radiasi dan penyakit kolagen.
3. Efusi hemoragi, dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infark paru, dan tuberkulosis.
Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, efusi dibagi menjadi unilateral dan bilateral. Efusi
unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan penyakit penyebanya akan tetapi efusi
bil;ateral ditemukan pada penyakit kegagalan jantung kongesif, sindrom nefrotik, asites, infark paru,
lupus eritematotus sistemis, tumor, dan tuberkulosis .
Infeksi
1. Tuberculosis
2. Pneumonitis
3. Abses paru
4. Perforasi esophagus
5. Abses subfrenik
Noninfeksi
1. Karsinoma paru
2. Karsinoma pleura
3. Karsinoma mediastinum
4. Tumor ovarium
5. Bendungan jantung
6. Gagal hati
7. Gagal ginjal
8. Hipotiroidisme
9. Kilotoraks
10. Emboli pari

Tanda dan Gejala

Gejala klinis efusi pleura bervariasi dan seringkali bergantung pada penyakit yang mendasari. Gejala
yang paling sering ditemui adalah sesak napas, batuk, dan nyeri dada. Batuk pada penderita efusi
pleura umumnya ringan dan tidak berdahak. Nyeri dada disebabkan oleh iritasi pleura, dapat bersifat
ringan sampai berat, dirasakan sebagai nyeri yang tajam, dan memburuk dengan tarikan napas dalam
(nyeri dada pleuritik). Nyeri dapat menyebar ke bahu di sisi yang sama atau perut bagian atas.

Adanya gejala lain menujukkan penyakit yang mendasari efusi pleura. Pembengkakan tungkai, sesak
saat berbaring, dan riwayat terbangun tiba – tiba karena sesak merupakan gejala gagal jantung.
Tuberkulosis paru menyebabkan gejala keringat malam, demam, batuk darah, dan penurunan berat
badan. Batuk darah juga dapat ditemui pada keganasan, gangguan saluran napas, dan kematian
jaringan paru. Efusi pleura pada radang paru – paru (pneumonia) menimbulkan gejala demam, batuk
berdahak, dan sesak napas.

Patofisiologi
Normalnya hanya terdapat 10-20 ml cairan dalam rongga pleura. Jumlah cairan di rongga pleura tetap,
karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cmH2O. Akumulasi cairan pleura dapat
terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun (misalnya pada penderita hipoalbuminemiadan
bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses peradangan atau neoplasma, bertambahnya
tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung) dan tekanan negatif intrapleura apabila terjadi ateletasis
paru (Alsagaf, 1995).
Efusi pleura berarti terjadi penumpukan sebagian besar cairan bebas dalam kavum pleura.
Kemungkinan proses akumulasi cairan di rongga pleura terjadi akibat beberapa proses yang meliputi
(Guyton dan Hall, 1997)
1. Adanya hambatan drainase limfatik dari rongga pleura.
2. Gagal jantung yang mengakibatkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat
tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang sangat berlebihan kedalam rongga
pleura.
3. Menurunnya tekanan osmotik koloid plasma juga memungkinkan terjadinya transudasi cairan
yang berlebihan.
4. Adanya proses infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari
rongga pleura dapat menyebabkan pecahnya membran kapiler dan memungkinkan pengaliran
protein plasma dan cairan kedalam rongga secara cepat.
BAGAN BELUM
Infeksi pada tuberkulosis paru disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang masuk
melalui saluran pernapasan menuju alveoli, sehingga terjadilah infeksi primer, dari infeksi pime
ini, akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal) dan diikuti juga
dengan pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfangitis regional).
Peradangan pada saluran getang bening akan memengaruhi permeabilitas membran. Permeabilitas
membran akan meningkat dan akhirnya menimbulkan akumulasi cairan dalam rongga pleura.
Kebanyakan terjadinya efusi pleura akibat dari tuberkulosis paru melalui fokus subpleura yang
robek atau melalui cairan getah bening. Sebab lain dapat juga diakibatkan dari robeknya
pengkijuan kearah saluran getah bening yang menuju rongga pleura, iga, atau kolumna vetebralis.
Adapun bentuk cairan efusi akibat tuberkulosis paru adalah eksudat yang berisi protein dan
terdapat pada cairan pleura akibat kegagalan aliran protein getah bening. Cairan ini biasanya
serosa namun kadang-kadang bisi juga hemarogi.

Pengkajian Keperawatan
1. Anamnesis
Identitas klien yang harus diketahui perawat meliputi nama, umur, jenis kelamin,
alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai, status
pendidikan, pekerjaan klien, dan asuransi kesehatan.
Keluhan utama merupkan faktor utama yang mendorong klien mencari pertolongan
atau berobat ke rumah sakit. Biasanya pada klien dengan efusi pleura didapatkan
keluhan berupa sesak napas, rasa berat pada dada, nyeri pleuritis akibat iritasi pleura
yang bersifat tajam dan teralokasi terutama pada saat batuk dan bernapas serta non
produktif
2. Riwayat penyakit saat ini
Klien dengan efusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya keluhan seperti
batuk, sesak napas, nyeri pleuritis, rasa berat pada dada, dan berat badan menurun.
Perlu juga ditanyakan sejak kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah
dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan-keluhan tersebut.
3. Riwayat penyakit dahulu
Perlun ditanyakan pulka apakah klien pernah menderita penyakit TB paru,
pneumonia, gagal jantung, trauma, asetis dan sebagainya.hal ini perlu diketahui untuk
melihat ada tidaknya kemungkinan faktor predisposisi.
4. Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit-penyakit
yang mungkin dapat menyebabkan efusi pleura seperti kanker paru, asma, TB paru,
dan lain sebagainya.

Pengkajian psikososial
pengkajian psikososial meliputi apa yang dirasakan klien terhadap penyakitnya,
bagaimana cara mengatasinya, serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang
dilakukan terhadap dirinya.
Penatalaksanaan Medis
Pengelolaan efusi pleura ditujukan untuk pengobatan penyakit dasar dan pengosongan cairan
(thorakosentesis). Indikasi untuk melakukan thorakosentesis adalah:
a. Menghilangkan sesak napas yang disebabkan oleh alumulasi cairan dalam rongga pleura.
b. Bila terapi spesifik pada pnyakit primer tidak efektif atau gagal
c. Bila terjadi reakumulasi cairan
Pengambilan pertama cairan pleura tidak boleh lebih dari 1000cc, karena pengambilan cairan
pleura dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang banyak dapat menimbulkan edema paru yang
ditandai dengan batuk dan sesak.
Kerugian dari thorakosentesis adalah:
a. Dapat menyebabkan kehingan protein yang berada dalam cairan pleura.
b. Dapat menyebabkan infeksi di rongga pleura.
c. Dapat terjadi pneumothoraks.

Diagnosis Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder
terhadap pemumpukan cairan dalam rongga pleura.
2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan sekresi mukus yang kental,
kelemahan, upaya batuk buruk, dan edema trakheal/faringeal.
3. Gangguan petukaran gas yang berhubungan dengan penurunan kemampuan ekspansi paru dan
kerusakan membran alveoral kapiler
4. Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang yang berhubungan dengan
peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan akibat sesak napas sekunder
terhadap penekanan struktur abdomen.
5. Gangguan ADL (Activity Daily Living) yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum dan
keletihan sekunder akibat adanya sesak napas.
6. Cemas yang berhungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan
(ketidakmampuan untuk bernapas).
7. Gangguan pola tidur dan istirahat yang berhubungan dengan batuk yang menetap dan sesak
napas serta perubahan suasana lingkungan.
8. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat mengenai
proses penyakit dan pengobatan.

Rencana Intervensi
Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder
terhadap pemumpukan cairan dalam rongga pleura.

Tujuan:
Dalam waktu 2x24 jam setelah diberikan intervensi klien mampu mempertahankan fungsi paru
secara normal
Kriteria evaluasi:
Irama, frekuensi dan kedalaman pernapasan berada dalam batas normal, pada pemeriksaan
Rontgen thoraks tidak ditemukan adanya akumulasi cairan, dan bunyi napas terdengar jelas.
Rencana Intervensi Rasional
Identifikasi faktor penyebab . Dengan mengidentifikasi penyebab, kita dapat
menentukan jenis efusi pleura sehingga dapat
mengambil tindakan yang tepat.
Kaji kualitas, frekuensi, dan kedalam Dengan mengkaji kualitas, frekuensi, dan
pernapasan, serta melaporkan setian perubahan kedalam pernapasan, kita dapat mengetahui
yang terjadi. sejauh mana peubahan kondisi pasien.
Baringkan klien dengan kondisi yang nyaman, Penurunan diafragma dapat memperluas daerah
dalam posisi duduk, dengan kepala tempat dada sehingga ekspasi paru bisa maksimal.
tidurditinggikan 60-90 derajat atau miringkan Miringkan ke arah yang sakit dapat
kearah sisi yang sakit . menghindari efek penekanan grafitasi ncairan
sehingga ekspansi dapat maksimal.
Obsevasi tanda-tanda vital (nadi dan Peningkatan frekuensi napas dan takikardi
pernapasan). merupakan indikasi adanya penurunan fungsi
paru.
Lakukan auskultasi suara napas setiap 2-4 jam. Auskultasi dapat menentukan kelainan suara
napas pada bagian paru.
Bantu dan ajarkan klien untuk batuk dan napas Menekan daerah yang nyeri ketika batuk atau
dalam yang efektif. napas dalam.otot-otot dada seta abdomen
membuat batuk lebih efektif.
Kolaborasi dengan tim medis lain untuk Pemberian O2 dapat menurunkan beban
pemberian O2 dan obat-obatan serta fto pernapasan dan mencegah terjadinya sianosis
thoraks. akibat hipoksia.
Dengan foto thoraks, dapat dimonitor kemajuan
dari berkurangnya cairan dan kembalinya daya
kembang paru
Kolaborasi untuk tindakan thorakosentesis Tindakan thorakosentesis atau fungsi pleura
bertujuan untuk menghilangkan sesak napas
yang disebabkan oleh akumulasi cairan dalam
rongga pleura