Anda di halaman 1dari 15

Critical Book Report

KARTOGRAFI
“Kartografi Dasar dan Ilmu Proyeksi Peta”

Oleh :

TAMIMA AZRI ADILA


NIM : 3161131050
C REGULER
Dosen : ROHANI, S.Pd, M.Si

PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat Karunia
dan rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Kartografi ini dengan
baik dan tepat waktu. Adapun judul buku yang akan saya kritik yaitu “Kartografi Dasar dan
Ilmu Proyeksi Peta”.
Pembuatan Critical Book Report ini bertujuan sebagai tugas individu mata kuliah
Kartografi.
Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Ibu Rohani selaku dosen pengampu
yang telah membimbing saya dalam pembuatan Critical Book Report ini.
Critical Book Report ini saya yakini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak
kekurangannya seperti pepatah yang mengatakan “tak ada gading yang tak retak”, baik isi
maupun penyusunannya. Atas semua itu dengan rendah hati saya harapkan kritik dan saran
yang membangun guna menyempurnakan tugas Critical Book Report ini. Semoga tugas
Critical Book Report ini dapat bermanfaat.

Medan, 20 Maret 2017

Tamima Azri Adila

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ i


DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
a. Informasi Bibliografi buku utama........................................................... 1
b. Informasi Bibliografi buku pembanding ................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN SECARA UMUM BUKU ...................................... 2
a. Ringkasan Buku Utama .......................................................................... 2
b. Ringkasan Buku Pembanding ................................................................. 6
BAB III PEMBAHASAN CRITICAL BOOK REPORT ........................... 10
a. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 10
b. Kajian Teori/Konsep ............................................................................. 10
c. Metode .................................................................................................. 10
d. Analisis Critical Book Report ............................................................... 10
BAB IV PENUTUP ......................................................................................... 12
a. Kesimpulan ........................................................................................... 12
b. Saran ..................................................................................................... 12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

a. Informasi Bibliografi Buku Utama


Judul Buku : Kartografi Dasar
Penulis : Dewi Liesnoor Setyowati, dkk
ISBN : 978-602-258-203-8
Penerbit : Ombak
Tahun terbit : 2014
Urutan cetakan : Pertama
Tebal buku : 131 halaman

b. Informasi Bibliografi Buku Pembanding


Judul Buku : Ilmu Proyeksi Peta
Penulis : Soetomo Wongsotjitro
ISBN :-
Penerbit : Yayasan Kanisius
Tahun terbit : 1982
Urutan cetakan : Pertama
Tebal buku : 264 halaman

1
BAB II
PEMBAHASAN SECARA UMUM BUKU

a. Ringkasan Buku Utama (Kartografi Dasar)


BAB I
Kartografi berasal dari bahasa Yunani karto atau carto yang berarti permukaan dan
graft yang berarti gambaran atau bentuk, sehingga kartografi adalah gambaran permukaan
atau gambaran permukaan bumi. Pengertian lain, kartografi merupakan ilmu tentang
membuat peta.
Tujuan kartografi mengumpulkan dan menganalisis data dari hasil ukuran dari
berbagai pola/unsure permukaan bumi dan menyatakan secara grafis dengan skala yang
sedemikian rupa sehingga unsure-unsur tersebut dapat terlihat dengan jelas, mudah
dimengerti dan dipahami.
Peta merupakan hasil pencerminan secara sistematis dari suatu ruang geografis
(geographical space). Menurut Erwin Raisz (1962), peta adalah gambaran konvensional
permukaan bumi yang diperkecil dengan berbagai kenampakan dan ditambah tulisan-
tulisan sebagai tanda pengenal.
Berdasarkan isi peta, dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar, yaitu :
1) Peta Umum
2) Peta Khusus
3) Peta Navigasi
Ditinjau dari maksud dan tujuannya ada banyak sekali macam peta. Misalnya : Peta
tanah, peta geologi, peta kadaster, peta ekonomi, peta kependudukan, peta iklim, peta tata
guna lahan, peta pendidikan, peta ilmu pengetahuan, peta pariwisata, peta perjalanan, peta
aplikasi teknik, peta-peta perencanaan, dan lain sebagainya.

BAB II
Suatu peta merupakan gambaran secara grafis atau bentuk skala (perbandingan) dari
konsep mengenai bumi. Kartografi merupakan ilmu dan seni dalam pembuatan peta.
Pertama kali, peta dibuat oleh bangsa babylonia berupa lempengan berbentuk tablet dari
tanah liat sekitar 2300 SM. Peta kuno tersebut berupa sebuah ukiran peta kota suci bangsa
babylonia yaitu Nippur yang dibuat pada periode Kassite (abad 14-12 SM). Konsep dari

2
Aristoteles bahwa bumi berbentuk bola bundar telah dikenal oleh para ahli filsafat (sekitar
30 SM) dan mendapat kesepakatan dari semua ahli bumi.
Sebelum era tahun 1990-an, peta dibuat dalam media kertas untuk menggambarkan
lokasi dan data statistic. Peta dari kertas ini menjadi alat yang penting untuk pengguna
atau peneliti dalam mempelajari data geospasial.

BAB III
Peta merupakan penyajian grafis dari bentuk ruang dan hubungan keruangan antara
berbagai perwujudan yang diwakili. Menurut ICA, peta adalah gambaran konvensional
yang dibuat dengan menggambarkan elemen-elemen yang ada dipermukaan bumi dan
gejala yang ada hubungannya dengan elemen-elemen tersebut.
Atlas merupakan kumpulan peta-peta yang dirancang untuk disimpan dalam bentuk
jilid ataupun dalam keadaan lepas-lepas tetapi dikumpulkan menjadi satu. Pada
hakekatnya atlas adalah sebuah buku acuan atau referensi.
Globe adalah suatu peta pada medan bulat sebagai tiruan bumi (Erwin Raisz, 1948).
Kegunaan globe pertama-tama hanya sebagai penghias ruangan, kemudian berkembang
sebagai alat peraga ilmu pengetahuan dan akhirnya sebagai media pendidikan. Globe
adalah gambaran yang paling tepat dan benar mengenai bumi.

BAB IV
Komponen peta merupakan informasi yang ada pada suatu peta, meliputi judul peta,
orientasi peta, skala peta, garis tepi peta, koordinat peta, inset peta, sumber peta, nama
pembuat peta, dan legenda peta. Komponen peta diatur sedemikian rupa disebut
komposisi atau tata letak peta. Pengaturan komponen peta pada suatu peta harus
memperhatikan aspek selaras, serasi, seimbang atau disingkat aspek 3-S.

BAB V
Tata letak peta merupakan unsure terpenting dalam mengatur informasi tepi peta.
Informasi tepi peta adalah semua keterangan yang terdapat di tepi peta, pada bagian atas,
bawah atau samping kanan dan kiri peta. Factor utama yang perlu diperhatikan dalam
mengatur tata letak peta adanya keseimbangn (balance) dalam tata letak informasi-
informasi tepi peta.

3
Tata letak pada peta tematik dapat dibuat dengan mempertimbangkan asas keserasian,
keseimbangan, keselarasan, dan kerapian, sehingga menghasilkan tampilan peta yang
menarik.

BAB VI
Lettering adalah semua tulisan dan angka-angka yang tertera dalam suatu peta.
Lettering berfungsi untuk mempertegas arti dari symbol-simbol peta. Lettering jangan
terlalu banyak dan biasanya ditulis dengan huruf cetak kecil yang representative terhadap
besarnya peta. Fungsi lain dari lettering adalah untuk mempertebal arti dari symbol peta
yang ada. Panduan penting penggunaan lettering untuk obyek tertentu, yaitu :
1. Obyek Hipsografi ditulis dengan huruf tegak, contoh penulisan nama kota : Surakarta
2. Obyek Hidrografi ditulis dengan huruf miring, contoh penulisan nama laut : Laut
Jawa

BAB VII
Skala adalah perbandingan jarak antara dua titik sembarang di peta dengan jarak
sebenarnya dipermukaan bumi, dengan satuan ukuran yang sama. Skala sangat erat
kaitannya dengan data yang disajikan.
Secara umum skala dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
1. Skala angka/numeric; skala yang berupa angka-angka. Misalnya skala peta 1:200.000,
skala peta 1:1.000.000 dan sebagainya.
2. Skala garis/grafik; skala yang ditunjukkan dengan membuat garis linier dengan
membuat perbandingan pada setiap ruasnya.
3. Skala kalimat/verbal; skala yang menggunakan kalimat baku sebagai petunjuk skala.
Jenis skala ini banyak dipakai di eropa yang biasanya menggunakan satuan inci dan
mil. Contoh : One inch to two miles, atau 1 inch to 3 miles.

BAB VIII
Bentuk bumi bulat berukuran tiga dimensi, sedangkan peta berbentuk datar berukuran
dua dimensi. Proyeksi peta merupakan cara memindahkan letak titik-titik pada
permukaan bumi ke bidang datar. System proyeksi diperlukan untuk memindahkan
kenampakan bumi yang bulat pada bidang datar. Proyeksi peta didefinisikan sebagai ilmu
yang mempelajari cara pemindahan data topografi dari permukaan bumi ke atas
permukaan peta. Secara sederhana proyeksi peta dapat diartikan sebagai cara pemindahan
4
garis parallel dan meridian dari globe (bidang lengkung) ke bidang datar. Artinya
proyeksi merupakan suatu system yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di
bumi dan di peta.
Secara khusus pengertian dari proyeksi peta adalah cara memindahkan system parallel
(garis lintang) dan meridian (garis bujur) berbentuk bola (globe) ke bidang datar (peta).

BAB IX
Simbol adalah suatu media komunikasi grafis, berupa gambar atau tanda. Secara
sederhana symbol diartikan sebagai suatu gambar atau tanda yang mempunyai makna
atau arti sebagai alat untuk melakukan komunikasi antara pembuat dan pengguna peta.
Symbol merupakan jembatan antara pembuat peta dengan penggunanya. Simbol peta
memegang peranan sangat penting, karena symbol peta merupakan media komunikasi
grafis antara pembuat peta (map made) dengan pengguna peta (map users).
Syarat pembuatan symbol adalah :
1. Sederhana
2. Symbol mudah digambar
3. Symbol mudah dibaca
4. Dapat mencerminkan data dengan benar
5. Bentuknya seragam
6. Bersifat umum

BAB X
Relief merupakan tinggi rendahnya permukaan bumi. Penggambaran relief pada peta
dapat digambarkan melalui bidang datar, contohnya:
1. Gunung tinggi, dalam penggambarannya di peta tidak harus digambarkan seperti
dalam bentuk sesungguhnya, tapi dapat diwakili dalam bentuk sebagai garis kontur,
titik tinggi.
2. Dataran tinggi, dalam penggambarannya di peta dapat diwujudkan dalam bentuk
symbol-simbol garis kontur, symbol hachuring, plastic shading.
Contour atau disebut kontur atau tranchis atau isohypse atau garis tinggi, merupakan
garis khayal yang menghubungkan titik-titik atau tempat-tempat pada peta yang
mempunyai ketinggian yang sama. Peta kontur merupakan suatu peta yang
menggambarkan relief atau bentuk permukaan bumi yang bersifat alami menggunakan
metode kontur atau garis ketinggian dengan interval (ci) tertentu.
5
BAB XI
Ada tiga tahap dalam penggunaan peta yaitu:
1. Membaca peta
2. Anilisis peta
3. Interpretasi peta
Hal-hal yang dapat dibaca dari peta antara lain:
1. Jarak
2. Arah
3. Lokasi/letak : letak geografis, letak astronomis, letak administratif
4. Luas
5. Tinggi
6. Lereng
7. bentuk

BAB XII
Sketsa adalah gambar yang dibuat tanpa pengukuran di lapangan atau hanya
menggunakan perkiraan ukuran pada obyek. Sketsa sangat penting untuk menggambarkan
objek-objek geografi di permukaan bumi.
Unsure-unsur sketsa, yaitu:
1. Judul sketsa, biasanya cakupannya lebih sempit daripada peta.
2. Orientasi arah sketsa digambar menggunakan anak panah, tetapi lebih fleksibel karena
tidak ada aturan baku, dan boleh dibuat tanpa arah utara.
3. Garis tepi, berfungsi sebagai pembatas daerah, agar sketsa lebih focus serta terlihat
rapid an indah.
4. Simbol, symbol sketsa lebih sederhana daripada symbol peta. Umumnya berbentuk
garis, persegi, segitiga, dan lain-lain.
5. Keterangan, berisi tentang arti dari symbol yang digambarkan pada sketsa.

b. Ringkasan Buku Pembanding (Ilmu Proyeksi Peta)


BAB I
Bentuk bumi pada ilmu kartografi akan dibuat bayangan di atas bidang datar (=peta)
daripada sebagian besar atau sebagian kecil dari permukaan bumi, maka haruslah
diketahui dahulu, bagaimanakah bentuk permukaan bumi itu. Bentuk yang digunakan

6
dalam ilmu geodesi dan ilmu-ilmu lainnya mempunyai hubungan erat dengan ilmu
geodesi dan bentuk yang telah disempurnakan untuk bumi adalah ellipsoid yang didapat
dengan memutar suatu elips dengan sumbu kecilnya 2b sebagai sumbu putar.
Indonesia menggunakan ellipsoid dari Bessel, karena pekerjaan triangulasi di
Indonesia dimulai pada kira-kira tahun 1860, dan pada waktu itu ellipsoid dari Bessel
adalah yang terbaru.
Dalam ilmu proyeksi peta umumnya cukup digunakan bulatan sebagai bentuk
permukaan bumi, terutama pada pembuatan peta dengan skala yang kecil seperti peta-peta
geografi.

BAB II
Membagi peta menurut macamnya, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Mengingat
skala, didapat peta-peta topografis, geografis, ikhtisar. Peta dibagi dalam peta-peta
lalulintas, pelayaran, pengairan dan sebagainya. Yang penting dalam ilmu kartografi atau
ilmu proyeksi peta adalah cara memindahkan keadaan dari permukaan bumi ke bidang
datar peta. Pekerjaan memindahkan ini dinamakan “memproyeksikan” dalam perkataan
mana kata proyeksi tidak mempunyai arti yang lazimnya telah diketahui.
Untuk cara proyeksi pentinglah pula letaknya suatu garis-garis yang tertentu terhadap
sumbu bumi. Garis lurus tertentu ini dinamakan garis karakteristik, sedang titik potong
garis karakteristik ini dengan permukaan bumi dinamakan titik karakteristik.

BAB III
Suatu bidang dalam ruang dapat dinyatakan dengan persamaan-persamaan:
x=f1 (u,v) y=f2 (u,v) z=f3 (u,v)
Di dalam persamaan-persamaan mana x,y dan z adalah koordinat. Koordinat suatu
titik yang terletak di bidang itu, sedangkan u dan v adalah perubah-perubah bebas yang
dinamakan parameter-parameter dari gauss.
Persamaan-persamaan itu akan menyatakan suatu bidang dengan syarat bahwa dua
dari ketiga fungsi f1, f2 dan f3 tidak tergantung satu dengan lainnya, atau dengan perkataan
lain.

BAB IV
Pada ilmu proyeksi peta akan dibayangkan titik-titik yang terletak di atas permukaan
bumi yang harus dianggap sebagai bidang bola atau bidang ellipsoid yang tidak dapat
7
didatarkan, maka pemindahan keadaan dari bidang bola atau bidang ellipsoid ke bidang
datar, akan selalu disertai dengan perubahan-perubahan. Perubahan-perubahan yang dapat
terjadi adalah mengenai sudut, jarak dan luas.
Dalil dari tissot, salah satu tokoh pertama dalam ilmu proyeksi peta. Dalil dari tissot
berkata: Di tiap-tiap di atas permukaan bidang lengkung (bola atau ellipsoid) ada dua
jurusan yang terletak saling tegaklurus yang sebagai proyeksi mempunyai dua jurusan
yang terletak saling tegaklurus pula.

BAB V
Diketahui dari ilmu geodesi diferensial bahwa hanya di dapat proyeksi yang
ekuidistan dari bidang lengkung yang dapat didatarkan. Maka jarak-jarak yang ada di atas
bola atau ellipsoid yang tidak dapat didatarkan tak mungkin dapat diproyeksikan
ekuidistan.
Pada proyeksi ekuivalen elemen luas yang terletak di atas permukaan bumi
diproyeksikan sama besar, sehingga tidak dapat perubahan luas.
Pada proyeksi yang conform suatu bentuk di atas permukaan bumi tidak berubah di
atas proyeksi. Maka elemen lingkaran di suatu titik di atas permukaan bumi akan
diproyeksikan sebagai lingkaran pula atau dengan perkataan lain indikatriks menjadi
suatu lingkaran.

BAB VI
Pada proyeksi kerucut sebagai proyeksi diambil bidang kerucut umumnya
disinggungkan pada bulatan bumi dan mempunyai poros (=garis karakteristik) yang
melalui titik pusat bumi P. Lingkaran singgung antara kerucut dengan bulatan bumi
dinamakan lingkaran dasar dan lingkaran dasar ini umumnya diambil melalui titik tengah
M daerah yang akan diproyeksikan.
Ekuidintansi merupakan satu syarat dari ketiga syarat yang diperlukan. Umumnya
yang diproyeksikan ekuidistan adalah jarak di bidang utama.

BAB VII
Proyeksi azimutal dapat dianggap sebagai proyeksi kerucut dengan sudut
puncaknya=180o dan n=1. Pada proyeksi azimutal yang normal (garis karakteristik
berimpit dengan poros bulatan bumi) dan yang dinamakan pula proyeksi kerucut yang
poler, maka bidang proyeksi diletakkan tegak lurus pada poros bulatan bumi. Semua
8
meridian diproyeksikan sama panjang sebagai garis lurus dan semuanya melalui proyeksi
titik kutub (=titik karakteristik).
Pada proteksi azimutal transversal, bidang proyeksi diletakkan tegak lurus pada
bidang ekuator. Pada proyeksi ini ekuator dan bidang dasarnya diproyeksikan sebagai
garis-garis lurus, sedang meridian dan parallel yang dikeluarkan diproyeksikan sebagai
garis-garis lengkung.

BAB VIII
Pada proyeksi silinder semua titik di atas permukaan bumi diproyeksikan pada bidang
silinder yang kemudian didatarkan. Suatu titik di atas permukaan bumi dianggap lagi
sebagai titik potong dua garis yang terletak diatas permukaan bumi: satu garis lengkung
(lingkaran atau elips) yang terletak di bidang yang melalui karakteristik (bidang utama),
garis lengkung mana dinamakan garis utama dan satu garis lengkung (lingkaran) yang
terletak di bidang yang tegak lurus pada garis karakteristik (bidang mendatar), garis mana
dinamakan garis mendatar.
Proyeksi garis utama adalah garis potong antara bidang utama dengan bidang silinder
dan proyeksi garis mendatar adalah garis potong antara bidang mendatar dan bidang
silinder.

BAB IX
Proyeksi pseudo ialah proyeksi yang tidak murni, berarti bahwa keadaannya tidak
seperti yang dinyatakan oleh rumus-rumus yang biasa. Semua proyeksi pseudo adalah
tidak conform, karena mendapat proyeksi conform, garis-garis proyeksi harus saling
terletak orthogonal dank arena umumnya hanya garis-garis lurus sebagai proyeksi garis
meridian dapat memotong proyeksi garis-garis parallel yang melengkung tegak lurus, bila
proyeksi garis-garis parallel menjadi lingkaran-lingkaran yang konsentris. Kebanyakan
dari proyeksi pseudo adalah ekuivalen.

9
BAB III
PEMBAHASAN CRITICAL BOOK REPORT

a. Latar Belakang
Peta dapat didefinisikan sebagai : “media penyajian informasi dari unsure-unsur alam
dan buatan manusia pada permukaan bumi yang dibuat secara kartografis (informasi yang
bereferensi geografis) pada bidang datar menurut proyeksi tertentu dan skala tertentu”.
Peta yang baik adalah peta yang mempunyai nilai informative, komunikatif, artistic, dan
estetik. Sedang pengetahuan khusus mempelajari peta disebut kartografi.
Informasi tentang permukaan bumi begitu banyak (misalnya; vegetasi, sungai, jalan,
pemukiman, topografi/bentuk lapangan), sehingga tidak mungkin disajikan seluruhnya
sesuai bentuk dan ukuran aslinya dalam selembar peta yang mempunyai keterbatasan
ruang dan ukuran. Oleh karenanya, informasi tersebut digambarkan dalam bentuk
symbol-simbol. Sehingga peta sering disebut bahasa symbol.

b. Kajian Teori/Konsep
Konsep yang dipakai penulis dalam mengritik buku ini adalah konsep deskriptif.
Konsep ini dipakai agar memudahkan pembaca dalam memahami arti dari tulisan ini.

c. Metode
Metode yang digunakan adalah metode analitis. Bertujuan untuk mengajarkan pelajar
agar lebih kritis lagi dalam memilih buku yang baik untuk dibaca.

d. Analisis Critical Book Report


Kelebihan Buku Utama (Kartografi Dasar)
1. Cover buku menarik
2. Buku mencatumkan identitas yang lengkap, tidak menyulitkan pembaca untuk
mengetahui informasi bibliografi
3. Setiap BAB terdapat gambar
4. Isi buku lengkap

10
Kelemahan Buku Utama (Kartografi Dasar)
1. Gambar yang terdapat didalam buku tidak berwarna sehingga sangat sulit untuk
memahami gambar tersebut

Kelebihan Buku Pembanding (Ilmu Proyeksi Peta)


1. Di dalam setiap BAB juga menambahkan sub-sub judul yang secara rinci yang
terkait dengan BAB tersebut
2. Isi buku lengkap
3. Rumus-rumus didalam buku lengkap

Kelemahan Buku Pembanding (Ilmu Proyeksi Peta)


1. Terdapat kata-kata yang masih bersalahan penulisannya
2. Isi buku lengkap hanya saja sulit untuk dipahami
3. Cover buku tidak menarik

11
BAB IV
PENUTUP

a. Kesimpulan
Kartografi adalah suatu teknik yang secara mendasar dihubungkan dengan kegiatan
memperkecil keruangan suatu daerah yang luas sebagian atau seluruh permukaan bumi,
atau benda-benda angkasa dan menyajikan dalam suatu bentuk yang mudah diobservasi,
sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan komunikasi.

b. Saran
Sebaiknya kita lebih dalam lagi mempelajari tentang kartografri agar kita dapat
mengerti mengenai peta. Dan semoga dengan adanya tugas critical book report ini dapat
menambah wawasan dan pengetahuan kita mengenai Kartografi terkhusus bagi jurusan
pendidikan geografi dan bagi siapa saja yang membacanya.

12