Anda di halaman 1dari 102

BAB I

BARISAN DAN DERET

Masalah barisan sebenarnya sudah sejak zaman Yunani kuno muncul sebagai
salah satu masalah yang menarik perhatian. Sejak 2400 tahun yang lalu konsep barisan
yang kita kenal dalam matematika mulai banyak dibicarakan orang, yaitu sejak seorang
ahli filsafat Yunani yang bernama Zeno mengemukakan suatu krisis dalam matematika.
Krisis matematika itu dikenal sebagai paradoks Zeno, yaitu sebagai berikut: ”Seorang
pelari yang harus menempuh suatu jarak tertentu dengan cara melampaui setengah dari
setiap jarak yang ditempuh, sebagai akibatnya pelari ini tidak akan sampai pada ujung
dari jarak yang akan ditempuhnya.”
Permasalahan paradoks Zeno baru dapat diatasi dengan diketemukannya
masalah barisan, terutama barisan tak hingga. Selain masalah barisan ada pula cerita
yang berkaitan dengan konsep deret dalam matematika. Ada suatu cerita tentang
seorang hamba yang meminta kepada rajanya untuk diberi beras dengan cara
meletakkan 1 butir beras pada kotak pertama sebuah papan catur. Kemudian meletakkan
2 butir pada kotak kedua, 4 butir pada kotak ketiga, dan seterusnya, sehingga setiap
kotak selanjutnya harus diisi dengan beras sebanyak kuadrat dari jumlah beras yang ada
pada kotak sebelumnya. Ternyata beras seluruh negeri tidak cukup untuk memenuhi
permintaan hamba ini.
Uraian di atas, pada dasarnya merupakan salah satu barisan dan deret yang kita
kenal dalam matematika. Konsep barisan dan deret akan selalu terkait dengan bilangan-
bilangan dan aturan-aturan tertentu yang menghubungkan bilangan-bilangan tersebut.
Tentunya dalam kesempatan lain kita telah menjumpai sebarisan bilangan, dan
biasanya kita diminta untuk dapat menentukan suku-suku berikutnya. Persoalan semacam
ini kita jumpai ketika kita mengikuti tes psikologi, test intelegency quetion (IQ), tes
kemampuan umum (TKU), tes potensi akademik (TPA), atau tes-tes psikologi untuk
bidang-bidang keahlian tertentu, yaitu pada bagian tes seri (Tes Barisan dan Deret). Sebagai
contoh dalam TKU, yaitu tes untuk para mahasiswa yang ingin meneruskan ke perguruan
tinggi diminta untuk menentukan dua suku berikutnya yang mungkin dari setiap barisan di
bawah ini, dan memberikan suatu aturan yang dapat dipakai untuk menyusun barisan itu.
(a) 1, 3, 5, 7, ...
(b) 500, 400, 320, 256, ...

1
(c) 1, 2, 6, 24, 120, ...
(d) 2, 5, 10, 17, ...
(e) 1, 1/2,1/3,1/4,...

Barisan-barisan semacam itu sering kali muncul dalam kehidupan sehari-hari. Anda
mungkin pernah menjumpai sebagian dari barisan seperti :
a) Misalnya ketika mencari rumah yang bernomor 11 mungkin Anda menerka bahwa
rumah yang dicari itu ada pada sisi lain dari jalan tersebut.
b) Barisan yang memberikan gambaran hanya suatu sepeda motor dalam puluhan ribu
rupiah yang disusutkan 20% per tahun.
Sehingga barisan adalah nilai dari suatu fungsi, yaitu suatu fungsi dengan daerah
asal (domain) himpunan bilangan asli (1, 2, 3, . . . .dst).
Suku ke-n dari suatu barisan dinyatakan dengan ( Un ).

Contoh : 2, 4, 6, 8, . . . . (Barisan bilangan genap)


U1 U2 U3 . . . dst

Ada barisan yang sukunya teratur sehingga suku umumnya dapat dinyatakan
dengan satu rumus matematika dan ada barisan yang suku-sukunya tidak teratur
sehingga umumnya tidak dinyatakan dengan rumus matematika.

Contoh : Barisan (1, ½, 1/3, ¼, . . . .)


Barisan mempunyai suku teratur dimana Un : 1/n
Barisan (3, -3, 1, 2, 7, 6, . . . .)
Mempunyai suku tidak teratur dan tidak dapat dinyatakan dengan rumus
matematika

2
A. Barisan dan Deret Aritmatika
1. Barisan Aritmatika
Sekarang marilah kita perhatikan kembali beberapa contoh barisan bilangan
berikut ini.
Contoh :
(a) 1, 3, 5, 7, …
(b) 2, 6, 10, 14, …
(c) 100, 90, 80, 70, …
Jika kita perhatikan contoh (a), suku yang pertamanya u1 = 1, suku yang
kedua u2 diperoleh dengan menambahkan 2 kepada u1, suku yang ketiga u3
diperoleh dengan menambahkan 2 kepada u2, demikian seterusnya. Jadi selisih
dari tiap suku yang berurutan dari barisan ini adalah tetap, yaitu sebesar 2.
Barisan seperti ini dinamakan barisan aritmetika dan selisih yang tetap dari
barisan itu disebut beda barisan. Contoh-contoh (a), (b), dan (c) dari contoh di
atas adalah contoh-contoh dari barisan aritmatika. u1, u2, u3, ..., un ialah
barisan aritmetika , jika berlaku u2 – u1, = u3, ..., u2 = ... = un – un – 1 =
konstanta. Konstanta ini disebut beda, dan besarnya dinyatakan dengan b. (a) 1,
3, 5, 7, … bedanya ialah 3 – 1 = 5 – 3 = … = 2 (b) 2, 6, 10, 14, … bedanya ialah
6 – 2 = 10 – 6 = 14 – 10 = 4 (c) 100, 90, 80, 70, … bedanya ialah 90 – 100 = 80
– 90 = … = - 10. Jadi, dari sajian diskusi di atas jelaslah, bahwa suatu barisan
dinamakan barisan aritmetika jika dan hanya jika selisih dua suku yang
berurutan selalu tetap, atau dapat kita definisikan bahwa Barisan Aritmatika
adalah suatu barisan dimana beda (selisih) dan setiap suku yang berurutan
selalu konstan (tetap).
Sekarang kita akan mencari rumus umum suku ke-n dari barisan
aritmetika, yaitu sebagai berikut :
Jika barisan aritmatika dinyatakan dengan
U1, U2, U3, . . . . Un

Maka,
U2 – U1 = U3 – U2 = U4 – U3 = . . . . = Un – Un-1 = b (beda)

3
Bentuk umum barisan Aritmatika :
a, a+b, a+2b, a + 3b, . . . . , a + (n-1)b
Dimana = a (suku awal)
b (beda)
maka suku ke-n :

Un = a + (n-1)b

Contoh :
Carilah suku ke-100 dari barisan aritmetika 2, 5, 8, 11, …
Penyelesaian:
Di sini: a =2
b = u2 – u1 = 5 – 2 = 3
n = 100
Un = a + (n – 1)b
Un = 2 + (100 – 1)3 = 2 + (99 x 3) = 299

Contoh :
Diketahui barisan aritmetika 1, 3, 5, 7, …. Un = 225. Tentukan banyaknya
suku (n).
Penyelesaian:
a = 1, b = 2, Un = 225
Un = a + (n – 1)b
225 = 1 + (n – 1)2 = 1 + 2n - 2
226 = 2n
n = 113
Jadi banyaknya suku ada 113

2. Deret Aritmatika (Deret Hitung)


Diceritakan tentang seorang matematikawan besar (Prince of Mathematics)
Carl Friedrich Gauss (1777 – 1855), bahwa dalam masa kecilnya di sekolah
dasar guru minta para peserta didiknya menjumlahkan seratus bilangan besar
yang merupakan suku-suku berurutan dalam barisan aritmetika, dan guru itu

4
mengharapkan supaya suasana kelas tenang. Gauss memberi jawaban hanya
dalam beberapa detik. Di sini kita pakai cara yang sama untuk mendapatkan
jumlah 100 bilangan asli yang pertama, yaitu sbb:
J100 = S100 = 1 + 2 + … + 99 + 100
J100 = S100 = 100 + 99 + … + 2 + 1 +
2J100 = 101 + 102 + … + 101 + 101 = 100 x 101
J100 = 5050

Bentuk 1 + 2 + 3 + … + 100 adalah suatu contoh deret aritmetika. Jumlah deret


aritmetika ini adalah 5050.
Jika kita perhatikan ternyata, bahwa deret aritmetika yaitu jumlah suku-suku
barisan aritmatika secara berurutan
Jika barisan aritmatika dinyatakan sebagai berikut :

a, (a+b), (a+2b), . . . . + (a+nb), dan deret aritmatika dinyatakan sebagai berikut:


a + (a+b) + (a+2b), . . . . , + (a+nb)

Maka rumus jumlah / Sn :


Sn = n/2 (a + Un)
Sn = n/2 {a + a + (n – 1) b}
Sn = n/2 {2a + (n – 1) b}

Sn = n/2 { 2a + (n-1)b }

Contoh :
1) Carilah suku ke-50 dari barisan aritmatika :
1, 4, 7, 10 . . . .
Selanjutnya berapa jumlah 100 suku yang pertama dari barisan aritmatika?
Jawab :
a=1
b = Un – Un-1 = 4 – 1 = 7 – 4 = 3
Dari rumus : Un = a + (n-1) b

5
Dapat ditemukan :
U50 = 1 + (50-1) 3
= 1 + 49 (3)
= 148

Kemudian dari rumus


Sn = n/2 {2a + (n-1) b}
S100 = 100/2 {2(1) + (100-1) 3}
= 50 (299)
= 14950

2) Jika dari suatu barisan aritmatika diketahui U30 = 1000 dan U50 = 1500.
Carilah suku pertama, beda, suku ke-200 dan jumlah dari 30 suku yang
pertama.
Jawab :
U50 = 1500... U50 = a + (50 – 1) b... 1500 = a + 49b
U30 = 1000... U30 = a + (30 – 1) b... 1000 = a + 29b -
-500 = -20b
b = 25
dari 1500 = a + 49b diperoleh 1500 = a + 49b
1500 = a + 49 (25)
1500 = a + 1225
a = 1500 – 1225
a = 275

Jadi U200 = 275 + (200 – 1) 25


= 275 + 199 (25)
= 275 + 4975
= 5250

Jadi S30 = ½ . 30 (275 + 1000)


= 15 (1275)
= 19125

6
Dengan demikian :
- Suku pertama (a/U1) = 275
- Beda (b) = 25
- Suku ke-200 (U200) = 5250
- Jumlah dari 30 suku yang pertama = 19125

B. Barisan dan Deret Geometri


1. Barisan Geometri
Sekarang marilah kita perhatikan beberapa barisan dalam contoh berikut ini.
Contoh :
(a) 1, 2, 4, 8, …
(b) 27, -9, 3, -1, …
(c) -1, 1, -1, 1, …

Untuk contoh (a) ternyata tiap suku-sukunya diperoleh dengan cara mengalikan
suku sebelumnya oleh 2. Ternyata pula bahwa hasil bagi tiap suku dengan suku
sebelumnya selalu tetap, yaitu sama dengan 2. Bagaimana dengan contoh (b) dan
contoh (c)? Barisan-barisan seperti contoh ini disebut barisan geometri.
Barisan geometri dapat didefinisikan sebagai suatu barisan dimana ratio
(perbandingan) dari suku yang berurutan selalu konstan, jika barisan geometri
sebagai berikut :
U1, U2, U3 ............Un
Maka
U2/U1 = U3/U2 = U4/U3 = P (ratio)

Bentuk umum :
a, ap, ap2, . . . . . apn
a = suku awal
p = pembanding
Maka suku ke-n dinyatakan dengan :

Un = a.pn-1

7
(a) Untuk 1, 2, 4, 8, … rasionya adalah... 2/1,4/2,8/4....= 2
(b) Untuk 27, -9, 3, -1, … rasionya... -9/27,3/-9,-1/3...= -1/3
(c) Untuk -1, 1, -1, 1, … rasionya... 1/-1,-1/1,1/-1...= -1

Contoh :
Diketahui barisan geometri dengan u1 = 64 dan u4 = 1. Carilah rasionya dan
tentukan lima suku pertama dari barisan tersebut.
Penyelesaian:
Di sini a = u1 = 64,
dan un = apn-1
u4 = 64p3-1
1= 64p3
p3 = 1/64
Jadi, p = Lima suku yang pertamanya adalah 64, 16, 4, 1, 1/64

2. Deret Geometri
Adalah jumlah suku-suku barisan geometri secara berurutan dinotasikan dengan
Sn.
Jika barisan geometri sebagai berikut :
a, ap, ap2, . . . . . apn
Maka rumus jumlah n buah suku dari deret geometri adalah :

𝑎(𝑝𝑛 −1)
Sn = P>1
𝑝−1

𝑎(1−𝑝𝑛 )
Sn = P<1
1−𝑝

Contoh :
1) Dari barisan geometri : 2, 8, 32, . . . , tentukan a, r, suku yang ke 10 dan
jumlah dari 10 suku yang pertama !
Jawab :
a=2
𝑈𝑛 8
p = 𝑈𝑛−1 = 2 = 4

8
U10 = 2 . 49
= 2 (262.144)
= 524288

𝑎(𝑝𝑛 −1)
Sn = digunakan rumus tersebut karena (P = 4) > 1
𝑝−1

2(410 −1)
S10 =
𝑝−1
2(1048576−1)
=
3
= 699050

2) Dari suatu barisan geometri diketahui U2 = 8 dan U6 = 128 carilah : a, p,


U5 dan S5
Jawab :
8
U2 = 8......U2 = a.p2-1 ...... a.p = 8 a=𝑝

U6 = 128 ap5 = 128 a = 128/p5


8/p = 128/p5
8 p5 = 128p
p4 = 128/8
p4 = 16
p =±2
Untuk p = -2 maka a = 8/-2 = -4
U5 = (-4) (-2)4 = -64
Karena ((p = 12) < 1, sehingga rumus Sn yang digunakan adalah :
𝑎(1−𝑝𝑛 )
Sn =
1−𝑝

−4(1−(−2)5 )
S5 =
1−(−2)

−4−(33)
S5 = = -44
3
8 8
Untuk p = 2, maka a = 𝑃 = 2 = 4

U5 = 4.24 = 4.16 = 64

9
Karena (p = 2) > 1, maka rumus Sn yang digunakan
𝑎(𝑝𝑛 −1)
Sn =
𝑝−1

4(2𝑛 −1)
Sn =
2−1
4(32−1)
Sn =
1
Sn = 124

Latihan Barisan dan Deret :


1. Dari sebuah deret hitung yang suku pertamanya 200 dan pembeda antar suku-
sukunya 25, hitunglah :
a. U5
b. U10
c. S5
d. S10

2. Jika a = 100 dan U7 = 160, berapa :


a. b ?
b. U11
c. N untuk Un = 250
d. S16

3. Untuk U6 = 24.000 dan U10 = 18.000, hitunglah :


a. b
b. n untuk Un = 0
c. S21
d. S22

4. Untuk U5 = 70 dan S7 = 462, hitunglah :


a. a
b. b
c. U12
d. S10

10
5. Deret hitung X mempunyai nilai a = 180 dan b = -10, sedangkan deret hitung Y
mempunyai nilai a = 45 dan b= 5. Pada suku keberapa kedua deret ini
mempunyai nilai yang sama ?

6. Suku pertama deret hitung M adalah 75 dan pembedanya 10 , sementara suku


ke-6 deret hitung N adalah 145 dan pembedanya 5. Carilah n yang memberikan
nilai yang sama bagi suku-suku kedua deret tersebut !

7. Dari sebuah deret ukur yang suku-sukunya 10, 30, 90, 270,....., hitunglah :
a. U6
b. U15
c. S6
d. S15

8. Apabila suku ke-3 dan suku ke-7 dari sebuah deret ukur masing-masing adalah
800 dan 204.800, berapa :
a. a
b. p
c. U5
d. S5

9. Deret ukur mempunyai nilai a = 512 dan p = 0,5, sedangkan deret ukur Y
mempunyai nilai U3 = 16 dan p = 4. Pada suku keberap nilai suku-suku dari
kedua deret ini sama ?

10. Sebuah deret hitung memiliki nilai-nilai a = 4.484 dan b = 1.234. Sementara itu
pada saat yang sam, sebuah deret ukur mempunyai nilai-nilai U3 =486 dan
U10 = 118.098.
a. Pada suku keberpa suku-suku dari kedua jenis deret ini sama ?
b. Mana yang lebih besar antara U5 deret hitung dan U5 deret ukur dalam
kasus ini ?

11
11. Ayah Imelda telah mendepositokan uang sebanyak Rp. 4.050.000,- dalam
perkiraan cek pada permulaan tahun sekolahnya. Dia mengambil Rp. 25.000,-
pada minggu pertama; Rp. 30.000,- pada minggu kedua; Rp.35.000,- pada
minggu ketiga dan seterusnya hingga uangnya habis.
a. Berapa banyak uang yang dia ambil dari perkiraannya pada minggu
kesepuluh ?
b. Berapa banyak uang dalam perkiraan ceknya setelah 18 minggu ?
c. Berapa minggukah yang harus dia ambil agar tabungannya habis ?

12. Keuntungan dari suatu toko bahan makanan telah menunjukkan kenaikan 5 %
secara tahunan ( pertahun ). Asumsi bahwa pasar saat ini cenderung kontinu,
berapa keuntungan pertahun toko tersebut ditahun ke-3, jika diketahui bahwa
keuntungan tahun pertama Rp.150.000,-? Tentukan juga jumlah keuntungan
total untuk 5 tahun pertama !

13. Pengeluaran dari perusahaan Herman untuk mengawasi polusi udara adalah
Rp.125.000,- ditahun 1995. Asumsi bahwa pengeluaran meningkat 6% secara
tahunan. Berapakah pengeluaran tahunan perusahaan tersebut ditahun 2000?
Tentukan jumlah total yang dikeluarkan dari tahun 1995 sampai tahun 2000 ?

14. Susan berlari 2 mil hari pertama, kemudian dia meningkatkan larinya dengan
0,5 mil setiap hari. Berapa mil yang akan dia tempuh/berlari pada hari ke-10 ?
Berapa jauh yang telah dia tempuh/berlari dari permulaan sampai pada akhir
hari ke-15?

15. Nita memulai suatu perkiraan tabungan dengan mendepositokan Rp. 200.000,-
pada minggu pertama, dan pada setiap minggu berikutnya dia mendepositokan
lebih dari Rp. 50.000,- dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Berapakah
uang yang akan dia peroleh dari perkiraan setelah 10 minggu ? (tanpa bunga)

12
C. Penerapan Ekonomi
1. Model Perkembangan Usaha
Untuk menganalisis variabel-variabel tertentu dalam kegiatan usaha, seperti
produksi, biaya, pendapatan, penggunaan tenaga kerja dan penanaman modal.
Case-1 :
Perusahaan con-block memproduksi 10.000 buah pada minggu pertama
produksinya. Karena adanya penambahan tenaga kerja dan peningkatan
produktivitasnya, ia mampu memproduksi sebanyak 100 buah setiap
minggunya. Apabila perkembangan produksinya konstan, berapa buah con-
block yang dihasilkan pada minggu keempat? Berapa buah con-block yang
dihasilkan sampai minggu keempat tersebut?
Penyelesaian :
a = 10.000
b = 100
n =4
Un = a+ (n – 1) b
U4 = 10.000 + (4-1) 100
= 10.000 + 300
= 10.300

Sn = n/2 (a + Un)
S4 = 4/2 (10.000 + 10.300)
= 2 (20.300)
= 40.600
Jumlah produksinya pada minggu keempat adalah 10.300 buah, sedangkan
jumlah seluruh con-block yang diproduksi sampai minggu keempat adalah
40.600 buah.

Case-2
Dari hasil penjualan barangnya pada tahun kesepuluh “PT Langgeng”
memperoleh penerimaan sebesar Rp. 100 juta. Sedangkan pada tahun kelima
belas memperoleh penerimaan sebesar Rp. 125 juta. Jika pola perkembangan
penerimaan perusahaan tersebut mengikuti deret aritmatika (deret hitung).

13
Berapa perkembangan penerimaan pertahunnya dan berapa besarnya
penerimaan pada tahun pertama?
Pada tahun keberapa besarnya penerimaan mencapai Rp. 160 juta?
Penyelesaian :
U10 = 100 a + 9b = 100
U15 = 125 a + 14 b = 125
-5 b = -25
b = 5
Jadi perkembangan penerimaan setiap tahunnya adalah Rp. 5 juta
a + 9b = 100
a + 9(5) = 100
a + 45 = 100
a = 100 - 45
a = 55
Sedangkan, penerimaannya pada tahun pertama sebesar Rp. 55 juta
Un = a + (n-1) b 160 = 55 + (n-1)5
160 = 55 + 5n – 5
160 = 50 + 5n
5n = 110
n = 22
Jadi penerimaan sebesar Rp. 160 juta diterima pada tahun ke-22.

2. Model Bunga Majemuk


Kalau kita membicarakan mengenai bunga tunggal, prinsipal ( modal ) akan
selalu sama. Namun apabila bunga ditambahkan pada prinsipal pada akhir
setiap akhir periode bunga, sehingga prinsipal bertambah banyak maka bunga
seperti ini disebut bunga berbunga ( compounded ).
Penerapan deret ukur digunakan dalam menganalisis kasus simpan pinjam dan
investasi, misal : modal pokok sebesar P dibungakan secara majemuk dengan
bunga pertahun setingkat i, maka jumlah akumulatif modal tersebut dimasa
datang setelah n tahun (Fn) :

14
1) Bila bunga dihitung dibayarkan 1 kali dalam 1 tahun
Fn = P (1 + i)n
P = Jumlah sekarang (preset value)
i = tingkat bunga/tahun
n = jumlah tahun
(1 + i) = faktor bunga majemuk (Compouding Interest)

2) Bila bunga dihitung dibayarkan lebih dari 1 kali dalam setahun, misalnya :
m kali masing-masing 1/m pertermin
Maka jumlah dimasa datang
1
Fn = P (1 + 𝑚)m.n

Case – 3
Seorang petani menabung uangnya di BPR sebanyak 1.500.000 dengan
bunga 12%/tahun. Berapa uang petani tersebut 3 tahun yang akan datang
apabila pembayaran bunga dilakukan :
a) Setiap akhir tahun
b) Setiap akhir semester
Jawab :
a) Bunga dibayarkan setiap akhir tahun
F3 = 1.500.000 (1 + 0,12)3
= 1.500.000 (1,404928)
= 2.107.392

b) Bunga dibayarkan setiap akhir semester


F3 = 1.500.000 (1 + 0,12/2)3x2
= 1.500.000 (1,4185191)
= 2.127.778,7

15
Case-4
Berapa uang yang harus ditabung bila ingin mendapatkan sebanyak
Rp. 13.310,- pada 3 tahun yang akan datang apabila bunga pertahun adalah
10% dan bunga dibayarkan setiap akhir tahun?
Jawab
𝐹𝑛
P=
(1+𝑖)𝑛
13.310
P=
(1+0,1)3

P = 10.000
Jadi untuk mendapatkan sejumlah Rp.13.310,- harus menabung Rp.10.000,-
setiap tahun selama 3 tahun.

3. Pertumbuhan dan Penyusutan


Dibidang ekonomi teori deret sering diterapkan dalam kasus yang menyangkut
pertumbuhan dan penyusutan, misalnya : pertumbuhan jumlah penduduk,
pertumbuhan produksi, perkembangan biaya produksi, pendapatan dan
penyusutan gedung / kendaraan
Jika pola pertumbuhan/penyusutan seirama pertumbuhan nilai suatu deret,
maka dapat diperkirakan besarnya pada masa datang :

Pn = Po (1 + i)n

Pn = nilai P pada akhir periode ke-n dan (1 + i) merupakan faktor pertumbuhan

Sedangkan untuk penyusutan dirumuskan :

Pn = Po (1 - i)n

dimana, Pn = nilai P pada akhir periode ke-n dan (1 - i) merupakan faktor


penyusutan.

16
Case-5
Penduduk kota A pada tahun 1990 berjumlah 1.000.000 jiwa.
Jika tingkat pertumbuhan 2%/tahun. Hitung jumlah penduduk pada tahun 1995
Jawab :
Pn = Po (1 + i)n
= 1.000.000 (1 + 0,02) 5
= 1.104.080
Jadi jumlah penduduk pada tahun 1995 = 1.104.080 jiwa.

Case-6
Sebuah mobil harga tunainya Rp. 5.000.000,-. Jika tiap tahun harganya susut
10% dari harga pada tahun sebelumnya, maka hitunglah harganya setelah tahun
ke-4 (permulaan tahun ke-5)!
Jawab
Pn = Po (1 - i)n
= 5.000.000 (1 – 0,1) 4
= 5.000.000 (0,6561)
= 3.280.500

4. Anuitas
Adalah suatu rangkaian pembayaran menurut interval yang teratur untuk
periode waktu tertentu, Anuitas berupa gaji bulanan, cicilan pinjaman, polis
asuransi

1− (1+𝑖)𝑛
Sn = P ( )
𝑖

P = Present Value
i = Tingkat bunga yang berlaku setiap periode konversi
n = Periode Pembayaran

17
Case-7
Donna ingin mendepositokan uang Rp. 600.000,- setiap tahun selama 4 tahun
ke dalam anuitas dengan harga 7% pertahun secara mahemuk. Pembayaran
pertama dibuat pada tanggal 1 Januari 1992 dan terakhir 1 Januari 1995.
Tanggal Deposito Nilai dari setiap deposito pada 1 Januari 1995
1 Januari 1992 (600.000) (1,07)3 = 735.030
1 Januari 1993 (600.000) (1,07)2 = 686.940
1 Januari 1994 ((9(9(600.000) (1,07) = 642.000
1 Januari 1995 (600.000) (1,07)3 = 600.000
Total Anuitas 1 Januari 1995 Rp. 2.663.970,-

Atau dengan memakai rumus


(1+0,07)4 −1
Sn = 600.000 ( )
0,07

= 2.663.970

5. Present Value Anuitas


Present value anuitas adalah jumlah semua value masing-masing pembayaran
dan masing-masing didiskontrakan pada permulaan anuitas

1− (1+𝑖)−𝑛
P = An ( )
𝑖

Dimana i adalah tingkat bunga untuk setiap periode konversi.

Case-8
Hitung present value anuitas biasa sebesar Rp. 2.000.000,- setiap tahun selama
5 tahun pada tingkat bunga majemuk 24% !
Jawab
Present value pembayaran pertama = 2.000.000 (1,24)-1
Present value pembayaran kedua = 2.000.000 (1,24)-2
Present value pembayaran ketiga = 2.000.000 (1,24)-3
Present value pembayaran keempat = 2.000.000 (1,24)-4
Present value pembayaran kelima = 2.000.000 (1,24)-5
= Rp. 5.490.768,80

18
Atau dengan rumus :
1− (1+𝑖)−𝑛
P = An ( )
𝑖
1− (1+0,24)−5
= 2.000.000 ( )
0,24

= 2.000.000 (2,7454)
= 5.490.768,80

6. Sinking Fund
Banyak organisasi bisnis mempunyai sejumlah uang dikasnya pada akhir
periode waktu tertentu untuk membayar obligasi atau jenis-jenis utang lainnya.
Uang yang digunakan untuk pembayaran utang-utang tersebut dalam jumlah
yang sudah ditentukan disebut sebagai sinking fund ( dana cadangan untuk
pembayaran utang tertentu ).
Suatu pertanyaan dalam bisnis yang relevan adalah bagaimana menentukan
pembayaran perperiode yang dibutuhkan untuk suatu jumlah akumulasi total.
Pembayaran yang dibutuhkan ini dapat diperoleh dengan cara dibagi dengan
rumus nilai sekarang dari suatu anuitas sederhana. Jadi, untuk menentukan
pembayaran P secara periodik yang dibutuhkan adalah :

P = Fn
(1 + i)n - 1
i

Contoh :
Suatu perusahaan ingin menyisihkan dana setiap kuartal selama 5 tahun yang
akan menghasilkan sejumlah nilai masa datang yang cukup untuk membayar
pinjaman Rp. 600.000,- pada akhir periode. Pembayaran akan dibayar kedalam
suatu perkiraan yang menghasilkan tingkat bunga tahunan 16% dimajemukkan
secara kuartal.
Penyelesaian :
Diketahui : Fn = Rp. 600.000,-
i = 0,16
m=4
n =5

19
Karena dimajemukkan secara kuartal, maka i = 0,16/4 = 0,04 dan n = (5)(4)
= 20.
Selanjutnya angka-angka ini didistribusikan kedalam rumus, sehingga :

P = Fn
(1 + i)n - 1
I

P = 600.000
(1 + 0,04)20 - 1
400

P = 600.000
( 2,191123 - 1)

P = 600.000 = 20.149,05
29,77808

Jadi, perusahaan harus mendepositokan Rp. 20.149,05 setiap kuartal kedalam


perkiraan agar supaya mencapai Rp.600.000,- pada akhir tahun kelima.

20
Soal untuk dikerjakan :

1. Hitunglah Compount amount yang akan diperoleh apabila invesasi sebesar


Rp. 1000.000,- atas dasar bunga 18% dengan bunga berbunga bulanan selama
2 tahun !

2. Nana mendapat pinjaman sebesar Rp. 1.000.000,-. Pinjaman tersebut akan


dikembalikan setelah 3 bulan dengan bunga tunggal 12% pertahun. Berapakah besar
hutang Nana pada akhir 3 bulan tersebut ?

3. Suatu deret ukur mempunyai ratio = 2, jika suku kesebelas 10.240. hitunglah suku
pertama, suku kelima dan jumlah pada suku kesepuluh!

4. Perusahaan batu bata awal produksi menghasilkan 5000 batu bata untuk bulan
selanjutnya dapat meningkat 5.050 buah. Berapa produksi pada akhir bulan kedua
belas? Berapa jumlah keseluruhan untuk 1 tahun?

5. Data penjualan perusahaan tegel “Kencana” untuk bulan kelima Rp. 900.000 dan
bulan kesembilan Rp. 1.300.000,- Berapa besar penerimaan pada bulan kesepuluh?

6. Jika Rp. 1.500.000,- diinvestasikan pada tingkat bunga 6% setahun. Berapa nilai
masa datang setelah 8 tahun jika dibungakan secara majemuk.
a. Tahunan
b. Kuartal
c. Bulanan

7. Sebuah perusahaan memiliki sebuah gedung. Pada saat diresmikan gedung bernilai
Rp. 500.000.000,- bila mempunyai penyusutan sebesar 1% tahun. Berapa nilai
gedung untuk 50 tahun yang akan datang?

21
8. Carilah jumlah uang yang harus diinvestasikan supaya mencapai Rp. 2.000.000,-
pada akhir tahun ke-3 dengan tingkat bunga 18% dimajemukkan secara :
a. Tahunan
b. Semester
c. Kuartal

9. Seorang wanita berdarah Indo-Jerman telah membeli sebuah rumah dikawasan real
estate dengan cara membayar tiap bulannya Rp. 10.000.000,- selama 2 tahun, dengan
tingkat bunga tahunan 12%. Tentukan nilai masa datang dari anuitas secara :
a. Bulanan
b. Kuartal

10. Penduduk kota Wonosobo pada taun 1975 = 153.000 jiwa. Pada tahun 1985
berjumlah 186.506 jiwa. Jika pada tahun 1974 dianggap tahun basis
a) Berapa % tingkat pertumbuhan penduduk tersebut?
b) Berapa jumlah penduduk tahun 1974?
c) Pada tahun berapa jumlah penduduk mencapai 172.305 jiwa?

11. Pak Sastro membuat sumur dengan ketentuan biaya penggalian :


1 m pertama Rp. 3.000,-
1 m kedua bertambah Rp. 500,-
1 m ketiga bertambah Rp. 500,- lagi
Jika penggalian seluruhnya habis Rp. 150.000,- (Sn) maka berapa meterkah
kedalaman sumur?

12. Pabrik kecap Nambewan memproduksi 24.000 botol kecap pada tahun ke-6
operasinya. Karena persaingan keras dari kecap merek-merek lain, produksinya
terus menerus turun secara konstan sehingga pada tahun ke-10 hanya memproduksi
18.000 botol. Ditanyakan :
a) Berapa botol penurunan produksinya pertahun ?
b) Pada tahun keberapa pabrik kecap Nambewan tidak berproduksi lagi (tutup) ?
c) Berapa botol kecap yang ia hasilkan selama operasinya ?

22
13. Andrian berencana untuk mengadakan deposito sebesar 5 juta rupiah pada akhir
setiap bulan selama 8 tahun di Bank. Jika tingkat bunga 6 persen pertahun, tentukan
nilai masa datang dari anuitas secara :
a) Bulanan
b) Kuartal

14. Tentukan nilai sekarang dari suatu anuitas yang pembayarannya Rp. 500.000,- pada
akhir setiap periode bulan keenam selama 15 tahun jika tingkat bunga 5 persen
pertahun dimajemukkan secara semi tahunan ( semester ) !

15. Carilah jumlah uang yang harus didepositokan supaya mencapai Rp. 5 juta pada
akhir tahun ke lima, dengan tingkat bunga 15% dimajemukkan secara :
a) Tahunan
b) Semester
c) Kuartal
d) Bulanan

23
BAB II
FUNGSI EKSPONEN DAN LOGARITMA

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa fungsi elementer dapat dikelompokkan


menjadi dua bagian besar, yaitu fungsi aljabar dan fungsi transenden. Khusus dalam
kesempatan pembahasan ini, kita akan membicarakan dua buah fungsi transenden yang
elementer, yaitu fungsi eksponen dan fungsi logaritma. Namun tentunya sebelum
membahas kedua konsep fungsi transenden ini haruslah kita terlebih dahulu memahami
konsep eksponennya dan konsep logaritmanya.

A. Fungsi Eksponen
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa notasi eksponen atau notasi pangkat
sangat berguna untuk menuliskan hasil kali sebuah bilangan dengan bilangan itu
sendiri dalam bentuk yang lebih ringkas, misalnya :
(1) 34 = 3 x 3 x 3 x 3
(2) -25 = (-2) x (-2) x (-2) x (-2) x (-2)

Sekarang sudah menjadi kelaziman untuk menuliskan perkalian sembarang


bilangan real a sebanyak n kali, yaitu a x a x a x … x a sebagai an. Dengan kata lain
didefinisikan bahwa untuk setiap a €R (himpunan bilangan real) dengan n bilangan
bulat positif, notasi an adalah hasil kali n buah faktor a, atau
an = a x a x a x … x a.
Tentunya kita masih ingat dengan baik, bahwa bentuk an dibaca “a pangkat n” atau „
a eksponen n”. Bilangan a dinamakan bilangan pokok atau basis, sedangkan
bilangan n dinamakan pangkat atau eksponen atau indeks.
Fungsi eksponen adalah suatu fungsi yang mempunyai satu konstanta baris dan satu
variabel eksponen.
Misal : y = a n adalah fungsi eksponen dengan a adalah basis (Bilangan pokok) dan n
sebagai eksponen/pangkat/derajat.
Bila a riil dan n bilangan asli, maka :
Kaidah dalam eksponensial :
1. X0 = 1 (X ≠ 0) 30 = 1
2. X1 = X 31 = 3

24
3. 0x = 0 03 = 0
1 1 1
4. X1 = 𝑋 𝑎 3-2 = 32 = 9
𝑏 5 5
5. Xa/b = √𝑋 𝑎 32/5 = √32 = √9 = 1.55
6. (X1)b = Xab (32)4 = 32.4 = 38 = 6561
7. Xa . Xb = Xa+b 32 . 34 = 32+4 = 36 = 729
8. Xa . Ya = (XY)a 32 . 5 = (3 – 5)2 = 152 = 225
9. Xa : Xb = Xa-b 32 : 34 = 32-4 = 3-2 = 1/9

Kaidah eksponensial yang dinyatakan dalam bentuk Akar


𝑏 3
1. √𝑋 = X1/b √64 = 641/3 = 4
𝑏 3 3 3
2. 𝑏√𝑥. 𝑦 = √𝑥 . 𝑏√𝑦 √8.64 = √8 . √64 = 2.4 = 8
𝑏 3
𝑏 𝑥 √𝑥 3 8 √8 2
3. √ = 𝑏 √ = 3 = = 0,5
𝑦 √𝑦 64 √64 4

Latihan fungsi eksponensial :


1. Jika diketahui 3x2-1 = 27(x+3), maka x= ?

2. (4 /5)-x = 125/64 , harga x yang memenuhi persyaratan tersebut ?

2
1 −𝑥
3. 9(2x-2) = (3) , berapa nilai dari x?

25
B. Logaritma
Dalam bagian ini kita akan mengingat kembali tentang pengertian logaritma
dan sifat-sifatnya. Pengetahuan prasyarat ini akan kita gunakan pada bahasan-
bahasan berikutnya dalam kegiatan pembelajaran buku ini.
Sekarang kita perhatikan pernyataan a x b = c. Bagaimanakah menyatakan a
dalam b dan c ? Jawabnya adalah a = c/b dengan b ≠ 0. Kemudian kita perhatikan
pernyataan 32 = 9. Bagaimanakah menyatakan 3 dalam 2 dan 9 ?
Jawabnya 3 = 2√9. Bagaimanakah menyatakan 2 dalam 3 dan 9 ? Jawabnya 2 adalah
pangkat dari 3 sehingga 32 = 9. Jika kita ambil secara umum ay = x, maka y adalah
eksponen dari a sehingga ay = x, dan pernyataan untuk y ini bisa ditulis dalam
bentuk y = alog x dengan a adalah bilangan dasar atau basis dan y adalah
eksponennya.
Logaritma pada hakekatnya merupakan kebalikan dari proses pemangkatan
dan atau pengakaran. Ia dapat dipakai untuk menyederhanakan operasi-operasi
perkalian, pembagian, pencarian pangkat dan penarikan akar. Logaritma dari suatu
a
bilangan b dengan bilangan pokok (dasar) a dilambangkan dengan notasi log b
dimaksudkan untuk mencari bilangan c demikian sehingga ac = b

a
log b = C ac = b

Simbol-simbol (notasi)
a
1. log b ; logaritma b dengan bilangan pokok a
2. a disebut bilangan pokok (dasar)
b disebut numerus, yaitu bilangan yang dicari harga logaritmanya
3. Jika bilangan pokok (dasar) / a tidak ditulis berarti bilangan pokok = 10

Ketentuan-ketentuan :
1. a = bilangan pokok positif (a > 0 / a ≠ 1)
2. Logaritma bilangan negatif / nol tidak ada :
Contoh :
Log – 3
Log 0 tidak ada

26
10
3. Logaritma Brigg : bilangan pokoknya 10 (Biasa tidak ditulis) log 1000 atau
log 1000
4. Logaritma Napier (Ln) dengan e = 2.718
e
ln e = 1
e
ln e2 = 2

Kaidah-kaidah logaritma :
x
1. log xr = r
Contoh :
10
a) log 102 = 2
3
b) 3 log 27 = log33 = 3

a
2. log b.c = alog b + alog c
Contoh :
10 10 10
a) log(100)(1000) = log100 + log1000
10
= log102 + 10
log103
= 2 + 3
= 5

a
3. log b/c = alog b - alog c
Contoh :

10 10 10
a) log 10.000/100 = log10.000 - log100
10
= log104 - 10
log102
= 4 - 2
= 2

3
b) log27/3 = 3log27 - 3log3
= 3log33 - 1
=3 - 1
=2

27
4. calog b = alog bc
Contoh :
10
a) log10.0002 = 210log10.000
= 210log104
= 2 . 4
= 8
b) 3log92 = 23log9 = 23log32
= 2 . 2
= 4
c) 3log9-5 = -53lo9
= -53log32
= -5 . 2
= -10

a
5. log b. blog c = alog c
Contoh :
10 100 10.000
a) log100 . log10.000 . log10 = 2 . 2 . ¼ = 1
2
b) log4 . 4log16 . 16
log2 = 2 . 2 . ¼ = 1

a
6. log2b = (alog b)2
Contoh :
10
a) log210 = (10log10)2 = 12 = 1
10
b) log2100 = (10log102)2 = 22 = 4

a log 𝑏
7. log b = log 𝑎

Contoh :
10
a) log100 = log100 / log10 = 2/1 = 2
10
b) log10000 = log104 / log10 = 4/1 = 4

28
a 1
8. log b = 𝑏
log 𝑎

Contoh :
10
a) log100 = 1/ 100log10 = 1 : ½ = 2
10
b) log10000 = 1/10000log10 = 1 : ¼ = 4

C. Penyelesaian persamaan dengan logaritma


Untuk menyelesaikan sebuah persamaan eksponensial dengan
menggunakan logaritma, pertama-tama logaritmakan dulu dua ruas persamaan
kemudian selesaikan bilangan anunya berdasarkan persamaan. Logaritmik yang
baru terbentuk.
Contoh :
1. Hitunglah x untuk 3x+1 = 27
Dengan melogaritkmakan kedua ruas :
log 3x+1 = log 27
log 27 1,4314
x+1= = 0,4771 = 3
log 3

2. Carilah x jika (0,32 + x)15 = 789


(0,32 + x)15 = 789
log (0,32 + x)15 = log 789
15 log (0,32 + x) = 2,8971
log (0,32 + x) = 0,1931
(0,32 + x) = antilog 0,1931
(0,32 + x) = 1,56
x = 1,56 – 0,32 = 1,24

3. Selesaikan x untuk log (3x + 298) = 3


log (3x + 298) = 3
(3x + 298) = 103
3x = 1.000 – 298
3x = 702
x = 234

29
Latihan fungsi logaritmik :
1. Pecahkanlah persamaan berikut ini untuk memperoleh nilai X :
a) 2x = 1
b) 2x = 4
c) 3x = 27
d) 5x = 125
e) 16x = 128
f) 25x = 125
g) 5x = 0,008
h) 10x = 0,0001
i) 7x = 1/343
j) 4-2x = 1/256

2. Gunakanlah log biasa untuk memperoleh nilai X :


a) 10x = 84
b) 10x = 34,6
c) 10x = 3,46
d) 10x = 0,00346

D. Distribusikan Pendapatan Pareto


Menurut pendapat Vilfredo Pareto, seorang ekonom Italia sejumlah
penduduk dari suatu populasi a yang memiliki pendapatan melebihi x adalah :
N = a/xb
Dimana “b” merupakan suatu parameter atau besaran populasi tertentu kecuali
ditentukan lain, nilai “b” = 1,5

Case 1
Hitunglah berapa 8 juta penduduk DKI Jakarta yang berpendapat melebihi Rp.
800.000,-. Berapa orang yang berpendapatan antara Rp. 480.000 – Rp. 640.000,-
dengan asumsi (misalnya kurs US $ 1 = Rp. 2.000,-) ?
x = Rp. 800.000 = US $ 400
N = 8.000.000/4001.5 = 1.000 orang
x = Rp. 480.000 = US $ 240

30
N = 8.000.000/2401.5 = 2.152 orang
x = Rp. 640.000 = US $ 320
N = 8.000.000/3201.5 = 1.398 orang
Jadi terdapat 1000 orang yang berpendapatan melebihi Rp. 800.000,- sedangkan
yang berpendapatan antara Rp. 480.000 – Rp. 640.000 ada 754 orang (2152 –
1398 = 754).

E. Kurva Gompertz
Kurva Gompertz biasanya dinyatakan oleh persamaan :

N = caRt

Dimana :
N = Jumlah penduduk pada tahun t.
R = tingkat pertumbuhan ( 0 < R < 1 )
a = Proporsi pertumbuhan awal
c = tingkat pertumbuhan dewasa

Kurva Gompertz ini dapat digunakan secara luas oleh psikolog untuk
menggambarkan aspek-aspek pertumbuhan dan pembangunan manusia, termasuk
bidang pendidikan. Ahli organisasi menggunakan kurva Gompertz ini untuk
menggambarkan pertumbuhan organisasi. Kurva ini juga dapat digunakan dalam bidang
ekonomi dan bisnis seperti fungsi pendapatan dan produksi.

Contoh :
Pertumbuhan jumlah tenaga kerja sebuah perusahaan diperkirakan akan mengikuti
kurva Gompertz :
N = 100 (0,02)0,5t
Carilah jumlah tenaga kerja pada awal tahunnya dan pada akhir tahunnya sesudah 3
tahun ?

31
Penyelesaiaan :
Jumlah tenaga kerja pada awal tahun,
N = 100(0,02)(0,5).0 = 100 (0,02) = 2 orang
Jumlah tenaga kerja pada akhir tahun ke-3,
N = (100)(0,02)(0,5).3
Log N = log100 + (0,5)3log0,02
= 2 + (0,125)(-1,6989)
= 2 - 0,2124
= 1,7876
N = 61,31 atau dibulatkan 61 tenaga kerja

32
Soal untuk dikerjakan :

1. log 4 + log 25 – log 2 + log 6 – log 3 =


7
2. log 49 + 5log 125 + 8log 512 =
3
3. log 1/3 + 3log V3 + 9log V3 =
4. log 2 = 0,301
log 3 = 0,4771
log 5 = 0,699
log 7 = 0,8451
log 81 + log 6125 + log 49 – log 8 =

9
5. log 8 = a

6. Distribusikan parenta pada suatu perusahaan


10.000.000
N= 𝑋2

a. Berapa banyak karyawan yang memperoleh pendapatan Rp. 1.000/lebih?


b. Berapa pendapatan terendah dari 10 orang berpendapatan tertinggi?
c. Berapa jumlah karyawan yang mempunyai penghasilan antara 5 sampai
20?

7. Diketahui jumlah penduduk tahun 1986 = 120.000 jiwa, tingkat


pertumbuhan 3%/tahun. Jumlah rumah yang sudah terbangun 20.500 buah
dengan pertumbuhan 150 buah/tahun. Bila satu rumah rata-rata dihuni 5
jiwa, berapa jumlah kekurangan rumah yang harus dibangun lagi pada tahun
2000 ?

8. Penghasilan setiap bulan dari suatu perusahaan dapat dimasukkan rumus :


R = 10.000 (0,10)0,8P
Dimana P adalah jumlah pengeluaran promosi. Berapa besar pendapatan bila
pengeluaran untuk promosi sama dengan nol. Berapa besar pula penghasilan
total bila Rp.200,- dikeluarkan untuk promosi.

33
BAB III
FUNGSI LINEAR

A. Pengertian
Fungsi : hubungan antara dua variabel atau lebih yang saling mempengaruhi
Fungsi Linear : fungsi dengan independent variabel paling tinggi berpangkat 1,
fungsi linear digambarkan dalam bentuk garis lurus.

Variabel :
Yaitu unsur pembentuk fungsi yang mencerminkan atau melambangkan faktor
tertentu, dinyatakan dengan huruf atau simbol-simbol lain. Menurut sifatnya ada
2 variabel, yaitu :
 Variabel bebas ( independent variabel ) ialah variabel yang nilainya tidak
tergantung pada variabel lain.
 Variabel terikat ( dependent variabel ) ialah variabel yang nilainya
tergantung pada variabel lain.

Koefisien :
Yaitu bilangan atau angka yang terkait pada suatu varibel dalam sebuah fungsi.

Konstanta :
Yaitu bilangan atau angka yang (kadang-kadang) turut membentuk sebuah fungsi
dan tidak terkait pada sebuah variabel.

B. Jenis-jenis Fungsi
Fungsi dapat digolong-golongkan menjadi beberapa kelompok. Secara garis
besarfungsi dikelompokkan atas kelompok fungsi aljabar dan kelompok non fungsi
non aljabar. Rincian jenis-jenis fungsi selengkapnya dapat dilihat pada skema
berikut :

34
FUNGSI

FUNGSI ALJABAR FUNGSI NON ALJABAR


(TRANSEDEN)

F. IRRASIONAL F. EKSPONENSIAL
F. RASIONAL
F. LOGARITMIK
F. TRIGONOMETRI
F. HIPERBOLIK

F. POLINOM F. PANGKAT
F.LINIER
F. KUADRAT
F. KUBIK
F. BIKUADRAT

Fungsi polinom ialah fungsi yang mengandung banyak suku ( polinom ) dalam
variabel bebasnya. Bentuk umum persamaan polinom adalah : y = a0 + a1x +
a2x2 + ..... + anxn. Pangkat tertinggi pada variabel suatu fungsi polinom
mencerminkan derajat polinomnya, sekaligus juga mencerminkan derajat
persamaan atau fungsi tersebut.

Fungsi linier ialah fungsi polinom khusus yang pangkat tertinggi dari variabelnya
adalah pangkat satu, oleh karenanya sering juga disebut fungsi berderajat satu.

Fungsi-fungsi lain yang pangkat tertinggi dari variabelnya lebih dari satu, secara
umum disebut fungsi non linier, ini meliputi fungsi kuadrat, fungsi kubik, fungsi
bikuadrat dan seterusnya.

Fungsi kuadrat ialah fungsi polinom yang pangkat tertinggi dari variabelnya adalah
pangkat dua, sering juga disebut fungsi berderajat dua.

Fungsi berderajat n ialah fungsi yang pangkat tertinggi dari variabelnya adalah
pangkat n ( n = bilangan nyata ).

35
Fungsi pangkat ialah fungsi yang variabel bebasnya berpangkat sebuah bilangan
nyata bukan nol.
Bentuk umumnya : y = nx x = bilangan nyata bukan nol.

Fungsi eksponensial ialah fungsi yang variabel bebasnya merupakan pangkat dari
suatu konstanta bukan nol.
Bentuk umumnya : y = nx x >0

Fungsi logaritmik ialah fungsi balik ( inverse ) dari fungsi eksponensial, variabel
bebasnya merupakan bilangan logaritmik.
Bentuk umumnya : y = nlog x

Fungsi trigonometrik dan fungsi hiperbolik ialah fungsi yang variabel bebasnya
merupakan bilangan-bilangan geonometrik.
Contoh persamaan trigonometrik : y = sin 5x
Contoh persamaan hiperbolik : y = arc cos 2x.

C. Bentuk Umum Fungsi Linier

Y = mx + c

Y : Fungsi linear (dependent variabel)


m : koefisien arah /slope/gradien/kemiringa
x : independent variabel
c : konstanta

36
Contoh :
Y = f(x)
Y = 10 + 0,2x Sebuah fungsi :
Y = Variabel terikat
X = Variabel bebas
0,2 = Koefisien variabel x
1 = Koefisien variabel y
10 = Konstanta

D. Koefisien arah/gradien

m>0 m=0 m<0


a) Kemiringan positif b) kemiringan nol c) kemiringan negarif

B
A (x2, y2)
(x1, 4y1) C

mAB = tg α

𝐵𝐶
m = , maka :
𝐴𝐶

𝑌2−𝑌1 𝑑𝑦
m = 𝑋2−𝑋1 = 𝑑𝑥

37
E. Penggambaran fungsi linier
Garis (kurva) dari setiap persamaan sebuah fungsi dapat dilukiskan dengan cara
menghitung koordinat titik-titik yang memenuhi persamaannya dan kemudian
dipindahkan kebidang sepasang sumbu silang.
a. Meletakkan variabel bebas (independent variabel/x) pada sumbu horisontal
(absis)
b. Meletakkan variabel terikat (dependetn variabel/y) pada sumbu vertikal
(ordinat)

Contoh :
a. y = 3x + 1
x 0 1 2 3 4 5
y 1 4 7 10 13 16

b. y = 3x
x 0 1 2 3 4 5
y 0 3 6 9 12 15

38
c. y = -2x + 10
x 0 1 2 3 4 5
y 10 8 6 4 2 0

F. Pembentukan persamaan linier


a. Metode koordinat – lereng (slope – koordinat)
Dari sebuah titik dan buah lereng dapat dibentuk sebuah persamaan linear yang
memenuhi titik dan lereng tersebut.
Apabila diketahui koordinat titik A (x,y) dan slope adalah m, maka
persamaannya :

y – y1 = m (x – x1)

Contoh :
1. Carilah persamaan garis yang melalui titik (5,8) dan mempunyai slope 0,2
Jawab :
(x,y) = (5,8) dan m = 0,2
y – y1 = m (x – x1)
y – 8 = 0,2 (x – 5)
y – 8 = 0,2 x -1
y = 0,2 x + 7

39
2. Tentukanlah persamaan garis yang melalui titik A(-3, 4) dengan gradien -2.
Penyelesaian:
Titik A(-3, 4) berarti x1 = -3, y1 = 4.
Gradien -2 berarti m = -2.
Persamaan garis dengan gradien m dan melalui titik (x1, y1) adalah:
y – y1 = m(x – x1)
⇔ y – 4 = -2 (x – (-3))
⇔ y – 4 = -2 (x + 3)
⇔ y – 4 = -2x – 6
⇔ y = -2x – 6 + 4
⇔ y = -2x – 2
Jadi, persamaan garis yang melalui titik A(-3, 4) dan bergradien -2 adalah
y = -2x – 2.

b. Metode dwi koordinat (bi – coordinates)


Jika (x1, y1) dan (x2, y2) adalah dua titik yang terletak pada garis lurus yang
𝑦2−𝑦1
tidak vertikal, maka slope m = 𝑥2−𝑥1

Karena slope itu konstan, maka :

𝑦−𝑦1 𝑥−𝑥1
= 𝑥2−𝑥1
𝑦2−𝑦1

Contoh :
Tentukan persamaan garis yang melalui titik (2,5) dan (4,9)
Jawab :
𝑦−𝑦1 𝑥−𝑥1
=
𝑦2−𝑦1 𝑥2−𝑥1
𝑦−5 𝑥−2
= 4−2
9−5
4
y-5 = 2 (x – 2)

y–5 = 2 (x – 2)
y–5 = 2x – 4
y = 2x – 4 + 5
y = 2x + 1

40
G. Variasi dalam garis :

a. 2 garis berpotongan b. 2 garis berpotongan tegak lurus

b. 2 garis sejajar d. 2 garis berhimpit

Contoh :
 Tentukan persamaan garis yang melalui titik A(6, 2) dan sejajar dengan garis
yang melalui titik P(2, -5) dan Q(-6, 3).
Penyelesaian:
Garis yang melalui P(2, -5) dan Q(-6, 3).
P(2, -5) berarti x1 = 2, y1 = -5.
Q(-6, 3) berarti x2 = -6, y2 = 3.
Misalkan gradien garis yang melalui titik P(2, -5) dan Q(-6, 3) adalah m1 maka:
m1 = y2 - y1 = 3 - (-5) = 8/-8 = -1
x2 - x1 -6 - 2
Misalkan pula gradien garis yang melalui titik A(6, 2) adalah m2.
Karena persamaan garis yang melalui titik A(6, 2) dengan garis yang melalui
titik P(2, -5) dan Q(-6, 3) adalah sejajar, maka
m1 = m2 = -1.
Sehingga persamaan garis dengan gradien m2 = -1 dan melalui titik A(6, 2)
adalah:
y – y1 = m2 (x – x1)
⇔ y – 2 = -1(x – 6)
⇔ y – 2 = -x + 6
⇔ y = -x + 6 + 2
⇔ y = -x + 8
41
Jadi, persamaan garis yang melalui titik A(6, 2) dan sejajar dengan garis yang
melalui titik P(2, -5) dan Q(-6, 3) adalah y = -x + 8.

 Carilah titik potong y = 10 – 2x dan y = x + 2.


Penyelesaian:
Titik potong kedua persamaan diperoleh jika kedua persaman tersebut
dipersamakan. Sehingga:
10 – 2x = x + 2
⇔ 3x = 8
⇔ x = 8/3.
Untuk x = 8/3, maka diperoleh y = (8/3) + 2 = 14/3.
Sehingga diperoleh titik potong kedua persamaan tersebut adalah (8/3, 14/3).

H. Sudut-sudut istimewa
a. tg 300 = 1/3 √3
sin 300 = ½
cos 300 = 1/2 √3

b. tg 600 = √3
sin 600 = ½ √3
cos 600 = ½

c. tg 450 = 1
sin 450 = 1/2 √2
cos 450 = 1/2 √2

42
I. Pencarian akar-akar fungsi
Mencari akar-akar fungsi maksudnya adalah menghitung besarnya nilai variabel-
variabel tertentu di dalam sebuah fungsi, dengan kata lain menghitung harga dari
bilangan tak diketahui (bilangan anu) dalam persamaan tersebut.
Dapat dilakukan dengan menggunakan tiga cara :

a. Cara substitusi
b. Cara eliminasi
c. Cara determinasi (akan dibicarakan pada bab selanjutnya).

1) Cara substitusi
Dua persamaan dengan dua bilangan anu dapat diselesaikan dengan cara
menyelesaikan terlebih dahulu sebuah persamaan untuk salah satu bilangan anu,
kemudian mensubstitusikan ke dalam persamaan yang lain.
Contoh :
Carilah nilai variabel x dan y dari dua persamaan berikut :
2x + y = 10 dan x + 3y = 15
Jawab :
2x + y = 10
y = 10 – 2x kemudian ini disubstitusikan ke dalam persamaan kedua
x + 3 (10 – 2x) = 15
x + 30 – 6x = 15
-5x = 15 – 30
-x = 15
x = 3, untuk memperoleh harga y, masukkan harga x tadi ke dalam salah satu
persamaan semula
2x + y = 10 atau x + 3y = 15
2 – 3 + y = 10 3 + 3y = 15
6+y = 10 3y = 12
y =4 y =4

43
2) Cara eliminasi
Dua persamaan dengan dua bilangan anu dapat diselesaikan dengan cara
menghilangkan untuk sementara (mengeliminasi) salah satu bilangan anu yang
ada, sehingga dapat dicari nilai atau harga dari bilangan anu yang lain.
Contoh :
Carilah nilai-nilai variabel x dan y dari dua persamaan berikut :
2x + y = 10 dan x + 3y
Jawab :
Misalkan bilangan anu yang akan dihilangkan untuk sementara adalah x maka
kalikan persamaan pertama dengan 1 dan persamaan kedua dengan 2
2x + y = 10 x1 2x + y = 10
x + 3y = 15 x2 2x + 6y = 30
agar x bisa hilang, maka kedua persamaan baru ini harus dikurangkan
2x + y = 10
2x + 6y = 30
-5y = -20
y =4

Untuk memperoleh nilai x, masukkan hasily ini ke dalam salah satu persamaan
semula
2x + y = 10
2x + 4 = 10
2x =6
x =3
jadi akar persamaan tersebut adalah x = 3 dan y = 4

44
Soal untuk dikerjakan :

1. Tentukan persamaan garis melalui titik (3,6) dan m = 2


2. Persamaan garis melalui (3,4) dan membentuk sudut 600 terhadap sumbu x
positif adalah . . . .
3. Gradien garis g = - ½ bila garis g tersebut melalui titik A (2,3) dan B (k,6)
maka nilai k . . . .
4. Garis g membentuk sudut α dengan sumbu x positif bila diketahui cost α =
5/13, maka persamaan garis g . . . . .
5. Carilah persamaan garis melalui titik (-2,2) dan sejajar dengan y = 3x + 4
serta gambarkan kurvanya!
6. Tentukan nilai potong dan garis yang melalui A (2,1) dan slope m = 3
dengan garis melalui B (-2,4) dan tegak lurus y = ½ x + 6 ! gambarkan
grafiknya!
7. Tentukan koordinat titik potong antara garis melalui A (2,2) tegak lurus y = -
1/2 x + 2 dan garis melalui titik B (1,2) dan sejajar y = -2x + 3! Gambarkan
grafiknya
8. Berapakah koordinat titik potong dari garis melalui titik A (4,6) dan titik B
(3,5) dengan garis melalui titik pusat dan sejajar dengan y = 4x + 5

45
BAB IV
FUNGSI PERMINTAAN, PENAWARAN DAN KESEIMBANGAN PASAR

A. Pengertian Permintan
Permintaan adalah berbagai jumlah barang yang diminta oleh konsumen pada
berbagai tingkat harga pada periode tertentu.
Hukum permintaan menjelaskan bahwa apabila harga suatu barang naik,
maka jumlah barang yang diminta akan turun, ceteris paribus. Sedangkan apabila
harga suatu barang turun, maka jumlah barang yang diminta akan naik. Oleh sebab
itu hubungan antara harga dan jumlah barang yang diminta adalah negatif.

Fungsi Permintaan
Fungsi permintaan adalah persamaan yang menunjukkan hubungan antara
jumlah barang yang diminta dengan semua faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan konsumen sangat banyak,
diantaranya adalah harga, pendapatan, selera, musim, jumlah penduduk dan lain-
lain.
Secara matematis fungsi permintaan ditunjukkan oleh persamaan berikut ini:
QdA = f (PA, PS, PK, I, T, A, N, E…)

Dimana :
QdA = jumlah barang A yang diminta konsumen
QdA merupakan variabel terikat (dependent variable) dimana besar kecilnya sangat
dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang disebut variabel bebas (independent
variable).
Yang dimaksud dengan variabel bebas pada persamaan di atas adalah variabel
variabel yang terdapat pada ruas kanan, yaitu: PA, PS, PK, I, T, A, N, E…

Dimana :
PA = Harga barang A.
Hubungan antara harga barang dengan jumlah barang yang diminta adalah negatif.
Artinya, bila harga naik maka jumlah barang yang diminta turun dan sebaliknya.

46
I = Income / pendapatan konsumen
Hubungan antara income dengan jumlah barang yang diminta adalah positif.
Artinya, bila income naik maka jumlah barang yang diminta akan naik dan
sebaliknya.

Ps = Harga barang S (barang substitusi)


Hubungan antara harga barang substitusi dengan jumlah barang yang diminta
adalah positif. Artinya, bila harga barang substitusi naik maka jumlah barang yang
diminta naik dan sebaliknya.

Pk = Harga barang K (barang komplementer)


Hubungan antara harga barang komplementer dengan jumlah barang yang diminta
adalah negatif. Artinya, bila harga barang komplementer naik maka jumlah barang
yang diminta turun dan sebaliknya.

T = Taste (selera)
Hubungan antara selera dengan jumlah barang yang diminta adalah positif. Artinya,
bila selera masyarakat terhadap barang tersebut naik maka jumlah barang yang
diminta naik dan sebaliknya.

A = Advertensi (iklan)
Hubungan antara iklan dengan jumlah barang yang diminta adalah positif. Artinya,
bila iklan naik maka jumlah barang yang diminta naik dan sebaliknya.

N = Jumlah penduduk
Hubungan antara jumlah penduduk dengan jumlah barang yang diminta adalah
positif. Artinya, bila jumlah penduduk naik maka jumlah barang yang diminta naik
dan sebaliknya.

E = Expectation (ramalan)
Hubungan antara ramalan dengan jumlah barang yang diminta adalah positif.
Artinya, bila masyarakat memperkirakan harga-harga barang akan naik maka
kenaikan harga diikuti dengan kenaikan permintaan.

47
Pengaruh masing-masing faktor yang mempengaruhi permintaan suatu barang
dapat disajikan secara ringkas sebagai berikut :

No Nama Variabel Notasi Hubungan


1 Harga barang P Negatif
2 Pendapatan konsumen I Positif
3 Harga barang substitusi Ps Positif
4 Harga barang komplementer Pk Negatif
5 Selera konsumen T Positif
6 Advertensi / iklan A Positif
7 Jumlah penduduk N Positif
8 Ekspektasi E Positif

B. Pengertian Penawaran
Penawaran adalah jumlah komoditi atau output baik berupa barang maupun
jasa yang akan dijual oleh penguasaha kepada konsumen.
Hukum penawaran menjelaskan bahwa apabila harga suatu barang naik, maka
jumlah barang yang ditawarkan akan naik, ceteris paribus. Sedangkan apabila
harga suatu barang turun, maka jumlah barang yang ditawarkan akan turun. Oleh
sebab itu hubungan antara harga dan jumlah barang yang diminta adalah positif.

Fungsi Penawaran
Fungsi penawaran adalah persamaan yang menunjukkan hubungan antara jumlah
barang yang ditawarkan dengan semua faktor yang mempengaruhinya. Secara
matematis fungsi penawaran ditunjukkan oleh persamaan berikut ini:
QSA = f (PA, PS, PK, Pi, T, …)

Dimana :
QSA = Jumlah barang A yang ditawarkan

48
PA = Harga barang itu sendiri
Sesuai dengan hukum penawaran, semakin tinggi harga suatu barang maka jumlah
barang yang ditawarkan akan semakin banyak.
Sebaliknya jika harga barang semakin rendah maka jumlah barang yang ditawarkan
semakin sedikit. Hubungan antara keduanya adalah hubungan positif.

PS = Harga barang substitusi


Hubungan antara harga barang substitusi dengan jumlah barang yang ditawarkan
adalah positif. Artinya, bila harga barang substitusi naik maka jumlah barang yang
ditawarkan juga naik.

PK = Harga barang komplementer


Hubungan antara harga barang komplementer dengan jumlah barang yang
ditawarkan adalah negatif. Artinya, bila harga barang komplementer naik maka
jumlah barang yang ditawarkan turun.

Pi = Harga barang input


Barang-barang input adalah sejumlah barang yang dibutuhkan produsen untuk
memproduksi suatu komoditi, misalnya tenaga kerja, capital, bahan mentah dan
lain-lain. Hubungan antara harga barang input dengan jumlah barang yang
ditawarkan adalah negatif. Artinya, bila harga barang input naik maka jumlah
barang yang ditawarkan turun.

T = Teknologi
Semakin maju teknologi maka semakin terciptanya efisiensi dalam suatu proses
produksi. Dengan teknologi yang maju, produksi barang yang dihasilkan dapat
ditingkatkan dengan cepat dan semakin lama biaya produksi yang dikeluarkan
semakin murah. Karena itu, kemajuan teknologi mempunyai hubungan positif
dengan jumlah barang yang ditawarkan di pasar.

49
Pengaruh masing-masing faktor yang mempengaruhi penawaran suatu barang dapat
disajikan secara ringkas sebagai berikut :
No Nama Variabel Notasi Hubungan
1 Harga barang P Positif
2 Harga barang substitusi Ps Positif
3 Harga barang komplementer Pk Negatif
4 Harga barag input i Negatif
5 Teknologi T Positif

C. Keseimbangan Pasar
Adalah tingkat harga maupun jumlah barang yang diminta dalam keadaan
seimbang dimana tidak ada kekuatan/kecenderungan untuk berubah. Harga
equilibrium adalah harga yang terjadi pada saat jumlah yang diminta sama dengan
jumlah barang yang ditawarkan.
Pada harga berapapun di bawah harga equilibrium maka akan menyebabkan
kelebihan permintaan, sedangkan bila harga terjadi di atas harga equilibrium maka
akan terjadi kelebihan penawaran.

Empat Hukum Keseimbangan Pasar


Apabila terjadi perubahan pada faktor-faktor selain harga, baik pada kurva
permintaan maupun kurva penawaran maka akan menyebabkan pergeseran
pergeseran pada kurva tersebut. Akibat pergeseran-pergeseran tersebut maka
mempengaruhi harga dan kuantitas keseimbangan.

50
Tabel berikut menunjukkan berbagai kemungkinan pergeseran pada kurva
permintaan maupun penawaran yang lebih dikenal sebagai 4 hukum permintaan dan
penawaran.
Kondisi Perubahan Pergeseran Permintaan atau Pengaruh Terhadap Harga dan
Penawaran Kuantitas Keseimbangan
Bila permintaan Kurva permintaan bergeser Harga dan kuantitas
meningkat ke kanan keseimbangan meningkat
Bila permintaan Kurva permintaan bergeser Harga dan kuantitas
menurun ke kiri keseimbangan menurun
Bila penawaran Kurva penawaran bergeser Harga menurun sedangkan
meningkat ke kanan kuantitas meningkat
Bila penawaran Kurva permintaan bergeser Harga meningkat sedangkan
meningkat ke kiri kuantitas menurun

Hukum-hukum permintaan dan penawaran yang terdapat pada tabel di atas dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Apabila jumlah permintaan meningkat akan menyebabkan jumlah barang
menjadi berkurang sehingga para pembeli berani membeli dengan harga yang
lebih tinggi. Harga yang lebih tinggi ini merangsang produsen untuk
memproduksi komoditi tersebut lebih banyak. Hal tersebut akan meningkatkan
harga maupun jumlah equilibrium.
2. Apabila jumlah permintaan menurun maka persediaan barang menjadi
berlimpah sehingga harga turun. Harga yang rendah menyebabkan produsen
enggan memproduksi barang tersebut sehingga jumlah produk di pasaran
berkurang. Pada posisi keseimbangan yang baru baik harga maupun jumlah
barang sama-sama menurun.
3. Kenaikan jumlah penawaran menyebabkan harga turun. Penurunan harga ini
merangsang konsumen untuk membeli barang tersebut. Oleh sebab itu
ekuilibrium yang baru terjadi pada harga yang lebih rendah sedangkan jumlah
barang meningkat daripada sebelumnya.
4. Turunnya penawaran menyebabkan harga menjadi lebih tinggi. Dampak dari
kenaikan harga tersebut menyebabkan jumlah barang yang diminta berkurang.
Sehingga equilibrium yang baru terjadi pada harga yang lebih tinggi sedangkan
jumlah barang lebih rendah.

51
D. Bentuk Umum Fungsi Permintaan dan Penawaran

 Fungsi permintaan :
P = a – bQ

kurva permintaan

Q
0

 Fungsi Penawaran :
P = a + bQ

kurva penawaran

Q
0

52
Hukum :
Bila harga naik maka jumlah yang diminta akan berkurang dan sebaliknya
Bila harga naik maka jumlah yang ditawarkan akan bertambah dan sebaliknya
Keterangan
P = Harga
a = Konstanta
b = Slope
Q = Jumlah

Rumus :

𝑃−𝑃1 𝑄−𝑄1
=
𝑃2−𝑃1 𝑄2−𝑄1

Keterangan
P = Harga
P1 = Harga kondisi 1
P2 = Harga kondisi 2
Q = Jumlah
Q1 = Jumlah kondisi 1
Q2 = Jumlah kondisi 2

53
Market Equilibrium (EQ) / Keseimbangan Pasar
F. Demand = F. Supply
8–Q =2+½Q
6 =½Q+Q
6 =1½Q
Q = 2/3 . 6, Q = 4
P =8–4
P =4

Jadi market equlibrium terjadi pada harga 4 dan kuantitas 4 unit .

54
Soal untuk dikerjakan :

1. Carilah harga dan jumlah keseimbangan pasar secara aljabar dan buktikanlah
secara geometri dari soal-soal berikut ini :
a) Fungsi permintaan P = 10 – 2Q dan fungsi penawaran P = 3/2Q + 1
b) Fungsi permintaan P = 12 – 5Q dan fungsi penawaran P = 4Q + 4
c) Fungsi permintaan Q = 10-P dan fungsi penawaran Q = 2P -5
d) Fungsi permintaan P = 6 dan fungsi penawaran Q=3P-3
e) Fungsi permintaan P = 260 – 2Q dan fungsi penawaran P = 1,2Q + 82
f) Fungsi permintaan P = 24 – 0,16Q dan fungsi penawaran P = 0,48Q + 1
g) Fungsi permintaan P = 1,5 – 0,6Q dan fungsi penawaran P = 0,5Q + 0,6
h) Fungsi permintaan 6Q = 80 – 10P dan fungsi penawaran Q = 4P - 8
i) Fungsi permintaan P = 10 – 2Q dan fungsi penawaran P = 3/2Q + 1
j) Fungsi permintaan 8P = 40 – 12Q dan fungsi penawaran Q = 4P - 6

2.
Harga (Rp) Permintaan (Unit) Penawaran (Unit)
15 50 10
20 40 20
25 30 30
30 20 40

Ditanyakan
a. Fungsi demand dan fungsi supply?
b. Harga (P) dan kuantitas (Q) pada market equilibrium?
c. Grafik!

2. Permintaan barang dipasar bila diminta 20 unit barang, maka harga perunit
Rp. 80, dan bila diminta 60 unit, harga per uni Rp. 40,- sedang penawaran yang
terjadi jika ditawarkan 120 unit maka harga perunit Rp. 160,- tetapi jika
ditawarkan 80 unit barang maka harga akan turun menjadi Rp. 110,- perunit.
Bagaimanakah fungsi permintaan, fungsi penawaran, kondisi keseimbangan
pasar, serta gambar kurvanya !

55
3. Kejadian yang diamati dipasar. Bila barang tidak ada dipasar (Q = 0), maka
harga perunit yang diminta dapat mencapai Rp. 120,-. Tetapi bila barang ada
sebanyak 20 unit harga yang ditawarkan sebesar Rp. 60,- perunit. Market
equilibrium terjadi pada harga Rp. 80,- dan kuantitas 40 unit, ditanyakan fungsi
permintaan, fungsi penawaran serta grafik!

4. Fungsi permintaan fulpen dari suatu merek dicerminkan oleh gejala sebagai
berikut : Jika dijual seharga Rp. 5000,- perbuah laku 3000 buah, sedangkan jika
dijual dengan harga Rp.4000,- akan laku sebanyak 6000 buah. Ditanyakan :
a) Rumus fungsi permintaanya, serta gambarkan kurvanya !
b) Berapa jumlah fulpen yang dimnta seandainya barang ini diberikan
secara cuma-Cuma ?
c) Berapa harga maksimum fulpen tersebut agar masih ada konsumen yang
bersedia membelinya ?

5. Sebutir lampu merek Edison bila dijual seharga Rp. 300,- akan laku sejumlah
1000 butir. Pada setiap kenaikan harga sebesar Rp.100,- jumlah penjualannya
bertambah 400 butir.
a) Bagaimana fungsi penawaran bola lampu tersebut ?
b) Gambarkan kurva penawarannya !

6. Jumlah permintaan akan suatu komoditas tercatat sebanyak 26 unit jika


harganya 5, sedangkan pada tingkat harga ini, kalangan produsen hanya
bersedia menawarkan barangnya sejumlah 8 unit. Pada setiap kenaikan harga
sebesar 10, jumlah akan menurun sebanyak 20, tetapi jumlah penawarannya
akan bertambah sebanyak 40. Berapa harga keseimbangan dan jumlah
keseimbangan pasar atas komoditas tersebut ?

56
BAB V
PENGARUH PAJAK, SUBSIDI TERHADAP PERMINTAAN
DAN PENAWARAN

Pengenaan pajak atau pemberian subsidi atas suatu barang yangdiproduksi/dijual


akan mempengaruhi keseimbangan pasar barang tersebut, mempengaruhi harga
keseimbangan dan jumlah keseimbangan.
Pajak yang dikenakan atas penjualan suatu barang menyebabkan harga jual
barang tersebut naik. Setelah dikenakan pajak, maka produsen akan mengalihkan
sebagian beban pajak tersebut kepada konsumen, yaitu dengan menawarkan harga jual
yang lebih tinggi. Akibatnya harga keseimbangan yang tercipta di pasar menjadi lebih
tinggi daripada harga keseimbangan sebelum pajak, sedangkan jumlah keseimbangan
menjadilebihsedikit.

Definisi
A. Pajak
Pajak merupakan pungutan yang ditarik oleh pemerintah dari wajib pajak. Bila
dilihat dari obyeknya pajak dibagi menjadi 2 :
a. Pajak langsung, contoh pajak pendapatan dan pajak perseorangan
b. Pajak tidak langsung, contoh : pajak penjualan, cukai rokok, pajak tontonan.

Menurut jenisnya dibagi menjadi pajak/unit dan pajak prosentase, pengenaan pajak
atas suatu barang yang diproduksi/dijual akan mempengaruhi keseimbangan pasar
barang tersebut. Pajak yang dikenakan atas penjualan suatu barang menyebabkan
harga jual barang tersebut naik, sebab setelah dikenakan pajak produsen akan
berusaha mengalihkan sebagian beban ajak tersebut kepada konsumen.
Pengenaan pajak sebesar t atas setiap unit barang yang dijual menyebabkan kurva
penawaran bergeser ke atas. Jika sebelum pajak penawarannya P = a + bQ, maka
sesudah pajak menjadi P = a + bQ + t

57
1. Pajak/unit
Pajak ini besarnya tetap untuk tiap unitnya. Pengaruhnya akan menggeser fungsi
penawaran naik sebesar pajak/unit
- Fungsi penawaran (S) sebelum pajak
P = a + bQ
- Fungsi penawaran setelah pajak
P = a + bQ + pajak/unit

Contoh 1 :
Fungsi permintaan dan penawaran gula diberikan sebagai berikut, pemerintah
mengenakan pajak sebesar 4 pada setiap unit yang diproduksi. Tentukan :
1. Nilai keseimbangan pasar sebelum pajak !
2. Nilai keseimbangan pasar setelah pajak !

Jawab :
1. Akan ditentukan nilai keseimbangan pasar sebelum pajak.
Dengan menyamakan harga yang diminta dan harga barang yang ditawarkan,
didapat :
12 Q 2 Q
Q 5
Subtitusikan Q = 5 ke dalam fungsi permintaan, diperoleh
P 12 5
P 7
Jadi nilai keseimbangan pasar adalah Q = 5 dan P = 7.

58
2. Akan ditentukan nilai keseimbangan pasar setelah pajak.
Setelah dikenakan pajak sebesar 4 per unit, maka fungsi penawaran menjadi
P 2 Q4
P 6 Q
Dengan menyamakan harga yang diminta dan harga barang yang ditawarkan
setelah pajak, didapat
12 Q 6 Q
Q 3
Subtitusikan Q = 3 ke dalam fungsi permintaan, diperoleh
P 123
P 9
Jadi nilai keseimbangan pasar setelah pajak adalah Q = 3 dan P = 9.

Contoh 2
Diketahui : F Penawaran (s) P = ¼ Q + 4
F Permintaan (D) P = -1/4 Q + 25
Pajak/unit Rp. 6,-
Ditanyakan :
1) Harga dan kuantitas pada market Ekuilibrium sebelum pajak?
2) Harga dan kuantitas pada market Ekulibrium setelah pajak?
3) Besarnya total pajak, pajak ditanggung konsumen serta pajak ditanggung
produsen?
4) Grafik

Jawab :
1) Sebelum pajak FS = FD
¼ Q + 4 = -¼ Q + 25
2/4 Q = 21
Q = 42
P =¼Q+4
P = ¼ (42) + 4
P = 14,5

59
2) Setelah pajak : FS’ = FD
¼ Q + 4 + 6 = -¼ Q + 25
¼ Q + 10 = -¼ Q + 25
2/4 Q = 15
Q’ = 30
P = ¼ Q + 10
P = ¼ (30) + 10
P = 17,5

3) Total pajak = pajak/unit x Q’ (Quantitas setelah pajak)


= 6 x 30
= 180
Pajak ditanggung konsumen : kenaikan harga per-unit karena pajak x
Quantitas setelah pajak
= (P’ – P) x Q
= (17,5 – 14,5) x 30
= 90

Pajak ditanggung produsen = total pajak – pajak ditanggung konsumen


= 180 – 90
= 90

60
2. Pajak prosentase
Pajak yang dikenakan sebesar % terhadap penerimaan penjualan produk.
Pengaruhnya akan menggeser fungsi penawaran naik sebesar % untuk setiap
jumlah produksi yang ditawarkan

- Fungsi penawaran sebelum pajak (S)


FS P = a + bQ

- Fungsi penawaran setelah pajak (S’)


FS P = (a + bQ) (1 + pajak %)

Contoh 2
Diketahui Fungsi penawaran (S) p = ¼ Q + 10
Fungsi permintaan (D) P = -1/2 Q + 30
Ditanyakan :
1) Harga dan kuantitas pada Market Equilibrium sebelum pajak?
2) Harga dan kuantitas pada Market Equilibrium setelah pajak?
3) Besarnya total pajak, pajak ditanggung konsumen serta pajak ditanggung
produsen?
4) Gambar grafik

Jawab :
1) FS = FD
¼ Q + 10 = -¼ Q + 30
¾Q = 20
Q = 26,67
P = ¼ Q + 10
P = ¼ (26,67) + 10
P = 16,67
Jadi harga pada keseimbangan sebelum pajak sebesar 16,67 dan kuantitas
26,67 unit.

61
2) Fungsi penawaran setelah pajak (S’)
P = (14 Q + 10) (1 + 20%)
P = (1/4 Q + 10) (6/5)
P = 3/10 Q + 12
Maka FS’ = FD
3/10 Q + 12 = -1/2 Q + 30
0,3 Q + 12 = -1/2 Q + 30
0,8 Q = 18
Q’ = 22,5
P’ = (0,3 Q + 12)
P’ = (0,3 (22,5) + 12)
P’ = 18,75
Jadi harga pada keseimbangan setelah pajak sebesar 18,75 dan kuantitas
22,5 unit.

3) Untuk menghitung total pajak, pajak konsumen dan pajak produsen harus
diubah dari pajak prosen diubah menjadi pajak/unit.

𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘
Pajak/unit = P’ (100+𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘)
20
= 18,75 (100+20) = 18,75 x 1/6

= 3 1/8

Total pajak = pajak/unit x kuantitas setelah pajak (Q’)


= 3 1/8 x 22 ½
= 70,31

Pajak ditanggung konsumen = (P’ – P) x Q’


= (18 ¾ - 16 2/3) x 22 ½
= 46,88

62
Pajak ditanggung produsen = total pajak – pajak konsumen
= 70,31 – 46,88
= 23,43

B. Subsidi
Adalah bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada produsen/distributor
terhadap produk sehingga biaya produk atau pemasaran ditanggung pemerintah
agar harga dijual lebih rendah dari semula.
Akibatnya harga keseimbangan menjadi lebih rendah dan kuantitas
keseimbangan menjadi lebih banyak. Jenis subsidi hanya satu yaitu subsidi/unit.
Pengaruhnya terhadap fungsi penawaran yaitu akan menggeser turun, sedangkan
fungsi permintaan tetap.
- FS sebelum subsidi

P = a + bQ

- FS sesudah subsidi

P = a + bQ – s/unit

63
Contoh :
Diketahui FS P = ¼ Q + 10
FD P = - ¼ Q + 25
Subsidi/unit Rp. 6,-
Ditanyakan :
1. Harga dan kuantitas pada Market Equilibrium sebelum subsidi?
2. Harga dan kuantitas pada Market Equilibrium sesudah subsidi?
3. Total subsidi, subsidi yang diterima konsumen maupun produsen?
4. Grafik

Jawab :
1. FS = FD
¼ Q + 10 = - ¼ Q + 5
2/4 Q = 15
Q = 30
P = ¼ Q + 10
P = ¼ (30) + 10
P = 17,5
Jadi keseimbangan sebelum subsidi terjadi pada harga 17,5 dan kuantitas
30 unit

2. FS’ = FD
¼ Q + 10 – 6 = - ¼ Q + 25
2/4 Q + 4 = - ¼ Q + 25
½Q = 21
Q’ = 42
P’ =¼Q+4
P’ = ¼ (42) + 4
P’ = 14,5
Jadi keseimbangan setelah subsidi terjadi pada harga 14,5 dan kuantitas 42 unit

64
3. Total subsidi = subsidi/unit x quantitas setelah subsidi
= 6 x 42
= 252

Subsidi diterima konsumen = (P – P’) x Q’


= (17 ½ - 14 ½) x 42
= 126

Subsidi diterima produsen = total subsidi – subsidi konsumen


= 252 – 126
= 126

65
Soal untuk dikerjakan :

1. Fungsi permintaan dan penawaran gula diberikan sebagai berikut :


P 12 Q
P 6 Q
Pemerintah mengenakan pajak sebesar 3 pada setiap unit yang diproduksi.
Tentukan :
a) Nilai keseimbangan pasar sebelum pajak.
b) Nilai keseimbangan pasar setelah pajak.

2. Fungsi permintaan dan penawaran gula diberikan sebagai berikut :


P 12 4Q
P 7 3Q
Pemerintah memberikan subsidi sebesar 7 pada setiap unit yang diproduksi.
Tentukan :
1. Nilai keseimbangan pasar sebelum subsidi.
2. Nilai keseimbangan pasar setelah subsidi.

3. Fungsi permintaan anak suatu barang ditujukan oleh persamaan P = 15 – Q


sedangkan penawarannya P = 3 + 0,5Q
Terhadap barang tersebut dikenakan pajak sebesar 25% dari harga jual, berapa
harga keseimbangan dan jumlah keseimbangan sebelum pajak dan berapa pula
keseimbangan dan jumlah keseimbangan sesudah pajak? Hitung pula pajak total!

4. Fungsi permintaan (D) P = 70 – 2Q


Fungsi penawaran (S) P = Q + 10, tentukan :
a. Keseimbangan pasar
b. Apabila pemerintah memberikan subsidi sebesar 5 per-unit, maka tentukan
keseimbangan pasar yang baru
c. Berapa total subsidi yang dikeluarkan pemerintah
d. Berapa subsidi yang diterima konsumen
e. Berapa subsidi yang diterima produsen
f. Gambar grafiknya
66
5. Bila diketahui fungsi permintaan 2Q = 10 – P dan fungsi penawaran 3Q = 2P – 2
a) Carilah harga dan jumlah keseimbangan pasar yang baru, bila pemerintah
mengenakan pajak sebesar Rp. 2,- perunit barang ?
b) Berapa besar beban pajak yang ditanggung konsumen dan produsen ?
c) Carilah harga dan jumlah keseimbangan pasar yang baru, bila pemerintah
memberikan subsidi sebesar Rp. 1,- perunit barang !
d) Berapa besar subsidi yang diterima oleh konsumen dan produsen ?
e) Berapa besar penerimaan pemerintah dari pajak ?
f) Berapa besar subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah ?
g) Gambarkan pertanyaan a, b, c dan d dalam satu diagram !

6. Bila diketahui fungsi permintaan Q = 11 – P dan fungsi penawaran Q = 2P – 4


a) Carilah harga dan jumlah keseimbangan pasar yang baru, bila pemerintah
mengenakan pajak sebesar Rp. 3,- perunit barang ?
b) Berapa besar beban pajak yang ditanggung konsumen dan produsen ?
c) Berapa besar penerimaan pemerintah dari pajak ?
d) Gambarkan pertanyaan a, b dan c dalam satu diagram !

7. Bila diketahui fungsi permintaan Q = 20 – 2P dan fungsi penawaran Q = 2P – 8


a) Carilah harga dan jumlah keseimbangan pasar yang baru, bila pemerintah
mengenakan subsidi sebesar Rp. 2,- perunit barang ?
b) Berapa besar beban subsidi yang diterima oleh konsumen dan produsen ?
c) Berapa besar pengeluaran subsidi oleh pemerintah ?
d) Gambarkan pertanyaan a, b dan c dalam satu diagram !

67
BAB VI
PENGARUH KONSUMSI, TABUNGAN DAN PENDAPATAN

Dalam circular flow diagram sederhana (2 sektor), terdapat dua pelaku penting,
yaitu rumah tangga dan perusahaan. Dari circular flow diagram tersebut dapat
disimpulkan beberapa hal berikut :
a. Perusahaan menggunakan factor produksi yang dimiliki oleh rumah tangga.
Factor produksi ini memperoleh balas jasa berupa; gaji, upah, sewa, bunga, dan
laba.
b. Balas jasa tersebut oleh rumah tangga digunakan untuk konsumsi, membeli
barang dan jasa yang diproduksi perusahaan
c. Tidak semua pendapatan dibelanjakan oleh rumah tangga. Sisa pendapatan
biasanya di tabung di bank (lembaga keuangan lainnya)
d. Jika pengusaha ingin melakukan investasi, maka perusahaan akan meminjam
tabungan rumah tangga yang dikumpulkan oleh lembaga keuangan tersebut

Fungsi konsumsi : suatu fungsi yang menunjukkan besarnya pengeluaran untuk


konsumsi dan sejumlah pendapatan yang diperoleh. Fungsi konsumsi terhadap suatu
besaran disebut dengan Marginal Propensity to Consume (MPC) yang menunjukkan
besarnya tambahan konsumi karena adanya tambahan pendapatan. Jadi dengan
bertambahnya pendapatan maka jumlah konsumsi juga akan bertambah besar.
Fungsi Tabungan (saving) : suatu fungsi yang menunjukkan besarnya tabungan
yang dilakukan dan besarnya tabungan. Tabungan tersebut diambilkan dari sisa
pendapatan setelah digunakan untuk konsumsi Marginal Propensity to Save (MPS) yang
akan menggambarkan kenaikan tabungan karena naiknya pendapatan.
Konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor terpenting
adalah pendapatan disposable (disposable income), atau pendapatan yang dapat
dibelanjakan. Pendapatan seseorang berpengaruh terhadap pola konsumsi seseorang.
Orang yang berpendapatan tinggi tentu memiliki pola konsumsi dengan orang yang
berpendapatan rendah. Semakin tinggi tingkat pendapatan, maka tingkat konsumsi juga
akan semakin tinggi.

68
Sementara itu, tingkat konsumsi seseorang berpengaruh terhadap tingkat
tabungan seseorang. Semakin banyak bagian dari pendapatan yang digunakan untuk
konsumsi, maka sisa uang yang ditabung akan menjadi lebih sedikit
Keynas seorang pakar ekonomi berpendapat tentang hubungan fungsi konsumsi,
fungsi tabungan dan pendapatan. Ia berpendapat bahwa makin tinggi tingkat pendapatan
maka konsumsi akan bertambah tinggi begitu pula tabungan yang merupakan sisa
pendapatan setelah digunakan untuk konsumsi akan bertambah besar pula.

A. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi dan tabungan


Telah disebutkan sebelumnya bahwa konsumsi dan tabungan ditentukan oleh
disposable income. Namun, masih terdapat factor lain yang mempengaruhi konsumsi
dan tabungan. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kekayaan yang terkumpul
Orang yang tidak memiliki kekayaan sebelumnya, cenderung lebih giat
menabung untuk masa depan sehingga kecenderungan menabung lebih besar.
Orang yang memiliki kekayaan tidak mau lagi menabung sehingga sebagian
besar pendapatannya digunakan untuk konsumsi.
b. Sikap berhemat
Sikap hemat mempengaruhi kecenderungan menabung dan mengonsumsi (MPS
dan MPC). Pada masyarakat yang suka berhemat MPC-nya cenderung rendah,
sedangkan MPS nya tinggi. Sebaliknya pada masyarakat yang tidak berhemat,
MPC-nya selalu tinggi daripada MPS-nya.
c. Suku bunga
Pada saat suku bunga tinggi, orang akan bergairah untuk menabung dan
mengurangi kegiatan konsumsi. Sebaliknya, pada saat suku bunga rendah, orang
akan enggan menabung dan meningkatkan konsumsinya.
d. Kondisi perekonomian
Pada saat kondisi perekonomian stabil dan kesempatan kerja penuh, orang akan
cenderung membelanjakan uangnya lebih banyak. Sebaliknya, pada saat
perekonomian berada dalam kondisi yang tidak stabil, orang akan cenderung
hati-hati dalam membelanjakan uangnya dan berusaha untuk menabung.

69
e. Program dana pensiun pemerintah
Program dana pensiun dijalankan di berbagai Negara. Apabila dana pension
tersebut dapat memenuhi kebutuhan hari tua, maka penerima pension akan
kurang memperhatikan tabungan

B. Hubungan matematis konsumsi, tabungan dan pendapatan


Ciri-ciri khusus hubungan antara disposable income, konsumsi, dan
tabungan adalah sebagai berikut:
a. Pada saat disposable income rendah, rumah tangga akan memanfaatkan
tabungannya untuk memenuhi konsumsi (dissaving)
b. Pada saat disposable income tinggi dan melebihi tingkat konsumsi, rumah
tangga akan menabung (saving) .

Terdapat hubungan yang erat antara pendapatan disposable dengan


konsumsi dan tabungan. Dalam perekonomian satu sektor, hubungan pendapatan,
konsumsi, dan tabungan dapat dirumuskan sebagai berikut:
Y=C+S

Dalam perekonomian dua sector, pendapatan, konsumsi, dan investasi digambarkan


sebagai berikut:
Y=C+I

1. Fungsi konsumsi
Fungsi konsumsi yang menyatakan hubungan antara konsumsi dan pendapatan
C = f(Y)
Bentuk umumnya : C = a + bY
Keterangan :
C : Konsumsi
a : Konsumsi autonomous atau besarnya konsumsi pada saat pendapatan 0
b : MPC Marginal Propensity to Consume yaitu besarnya tambahan
konsumsi yang diakibatkan oleh bertambahnya pendapatan
Y : Pendapatan

70
Kecenderungan mengonsumsi dibedakan menjadi 2, yaitu kecenderungan
mengonsumsi marjinal dan kecenderungan mengonsumsi rata-rata.
Kecenderungan mengonsumsi marjinal atau marginal propencity to consume
(MPC) adalah perubahan konsumsi (ΔC) sebagai akibat perubahan disposable
income (ΔYd) . MPC dapat dirumuskan sebagai berikut:

MPC = ΔC
Δyd

Kecenderungan mengonsumsi rata-rata atau average propencity to


consume (APC) adalah perbandingan antara tingkat konsumsi (C) dengan tingkat
pendapatan disposabel saat konsumsi itu dilakukan. APC dapat dirumuskan
sebagai berikut:

APC = C
Yd

2. Fungsi Tabungan
Pendapatan seseorang tidak semuanya dikonsumsi tetapi ada sebagian yang
ditabung sehingga dapat dinyatakan :
Y =C+S
S =Y–C
= Y – (a + bY)
= -a + (1 – b) Y
(1 – b) : MPS : Marginal Propensity to Save atau tambahan tabungan yang
diakibatkan oleh bertambahnya pendapatan.

Kecenderungan menabung juga dibedakan menjadi kecenderungan


menabung marjinal atau Marginal Propensity ti Saving(MPS) dan
kecenderungan menabung rata-rata atau Average Propensity to Saving (APS).
Kecenderungan menabung marjinal (MPS) adalah perubahan tabungan sebagai
akibat perubahan disposable income. Dalam bentuk rumus, MPS dapat ditulis
sebagai berikut:

71
MPS = ΔS
Δyd

Sementara APS adalah total tabungan (S) dibagi dengan disposable income
(Yd). APS dapat ditulis sebagai berikut:
APS = S
Yd

Apa yang dapat disimpulkan dari perhitungan MPC, APC, MPS, dan
APS? Ternyata bila dijumlahkan MPC dengan MPS akan menghasilkan nilai 1.
Demikian juga bila APC dijumlahkan dengan APS, jumlahnya juga akan sama
dengan 1.
MPC + MPS = 1
APC + APS = 1

Grafik Konsumsi dan Tabungan

Garis yang membuat sudut 450 adalah garis penolong yang penting. Setiap titik
pada garis tersebut mempunyai jarak yang sama dengan sumbu vertikal dan
horizontal.

Titik E merupakan perpotongan antara garis impas (C = Y) dengan garis


konsumsi (C) pada titik tersebut semua pendapatan habis dikonsumsi sehingga
sisa pendapatan = 0

72
Case 1 :
Jika tingkat pendapatan suatu daerah Rp. 500 juta, konsumsi sebesar Rp. 450
juta, dan jika pendapatan meningkat mencapai Rp. 600 juta, maka tabungan
masyarakat mencapai 70 juta.
Ditanyakan :
a. Fungsi konsumsi dan tabungan?
b. Tingkat keseimbangan pendapatan?
c. Gambarkan grafik fungsi tersebut?

Jawab :
Y1 = 500 juta, C1 = 450 juta
Y2 = 600 juta, C2 = 530 juta
a. Fungsi konsumsi melalui titik (500,400) dan (600,530)
𝐶 − 𝐶1 𝑌 − 𝑌1
=
𝐶2 − 𝐶1 𝑌2 − 𝑌1
𝐶 − 450 𝑌 − 500
=
530 − 450 600 − 500
𝐶 − 450 𝑌 − 500
=
80 100
100C – 45.000 = 80Y – 40.000
Maka fungsi konsumsi : C = 4/5 Y + 50

b. Tingkat keseimbangan pendapatan


Y =C
Y = 4/5 Y + 50
Y – 4/5Y = 50
1/5Y = 50
Y = 250
Maka tingkat keseimbangan pendapatan adalah Y = 250

73
c. Grafik

Case 2 :
Seseorang pegawai bank pada saat pendapatan = 0, ia membutuhkan konsumsi
untuk kebutuhan pokoknya sebanyak 50.000 per-bulan. Andaikata pegawai bank
ini menyisihkan tabungan sebesar Rp. 10.000,- per-bulan dengan Marginal
Propensity to Consume (MPC) sebesar 75%. Berapakah penghasilan yang harus
diperolehnya dan tentukan tingkat keseimbangan pendapatannya kemudian
gambar grafiknya!

Jawab :
C = a + bY
Untuk Y = 0, C = 50.000
MPC = 75% = ¾ = b
Fungsi konsumsi = C = 50.000 + ¾ Y
Penghasilan yang diperoleh = Y
S = -a + (1 – b) Y
10.000 = -50.000 + (1 – ¾) Y
10.000 = -50.000 + ¼ Y
Y = 240.000

Keseimbangan pendapatan
Y =C
Y = 50.000 + ¾ Y
Y – ¾ Y = 50.000
Y = 200.000 rupiah

74
Grafik

75
Soal untuk dikerjakan :

1. Diketahui fungsi konsumsi C=100+0,8Y maka fungsi tabungannya adalah …

2. Pola konsumsi Andi adalah C = 2.500.000 + 0, 6 Y, Pendapatan Andi adalah


Rp 6.500.000, maka besarnya tabungan Andi adalah …

3. Ketika pendapatan sebesar Rp. 10.000, maka tabungan sebesar Rp. 2.500, dan
ketika pendapatan sebesar Rp. 8.000 tabungan sebesar Rp. 1.500. Dari data
tersebut, maka konsumsi otonom sebesar?

4. Diketahui tungsi C = 200.000 + 0,6Y. Pada tingkat Y sebesar Rp. 2.000.000, hitung
besarnya C !

5. Pada saat pendapatan Rp 2.000.000 besamya konsumsi Rp 1.600.000. Ketika


pendapatan naik menjadiRp 3.000.000 besamya konsumsi Rp. 2.000.000,-
Berdasarkan data tersebut maka hitung besamya MPC !

6. Diketahuifungsi C = 250.000 + 0,8Y, maka hitung rumusan yang benar untuk


fungsi tabungan !

7. Fungsi konsumsi masyarakat adalah C = 60 mityar + 0,7 Y. Jika pendapatan


nasionalnya Rp. 300.000 milyar maka hitung besarnya tabungan masyarakat !

8. Jika diketahuifungsikonsumsi S = -100 + 0,25 Y maka tentukan besamya MPC !

9. Fungsikonsumsidinyatakan dengan persamaan C= 250 + 0,8 Y, Tentukan

besarnya tabungan pada saat pendapatan 3.000

10. Jika diketahui fungsi konsumsi C = 10 + 0,75Y.


a. Carilah persamaan fungsi tabungan !
b. Berapakah besamyakonsumsi padasaat tabungan sama dengan nol ?
c. Gambarkan fungsi konsumsi dan tabungan tersebut !

76
11. Diketahui : tingkat pendapatan pada tahun 2008 sebesar 1.000 dan tingkat
konsumsi 700. Pada trahun 2009 tingkat pendapatan sebesar 1.500 dan tingkat
konsumsi 1.000.Diminta:
a. Fungsi konsumsi
b. Gambar grafik fungsi konsumsi

12. Bila diketahui pada pendapatan Rp. 2.800 juta konsumsi yang dikeluarkan Rp. 2,2
juta, dan pada pendapatan Rp. 2 juta konsumsi ikut menurun menjadi Rp. 1,8 juta.
Bagaimana fungsi konsumsi, fungsi tabungan dan berapa pendapatan pada
equilibrium? Gambarkan grafiknya!

13. Diketahui fungsi konsumsi (C) = 20 + 0,8Y berapa besar konsumsi pada tabungan
(S) = 0 , dan berapa pendapatan pada titik impas? Gambarkan grafik fungsi
konsumsi dan fungsi tabungan!

14. Pak Harno mempunyai pendapatan Rp. 100.000,- ia tidak dapat menabung (S) = 0,
tetapi bila pendapatan Rp. 200.000,- ia dapat menabung Rp. 20.000,-. Bagaimana
bentuk fungsi konsumsi (C) dan fungsi tabungan (S)?

15. Jika fungsi konsumsi ditunjukkan oleh persamaan C = 15 + 0,75Yd. Pendapatan


disposible Rp.30 miliar.
a. Berapa nilai konsumsi agregate, bila pendapatan disposible Rp. 30 Miliar ?
b. Berapa besar keseimbangan pendapatan nasional ?
c. Gambarkan fungsi konsumsi dan tabungan secara bersama-sama !

77
BAB VII
ANALISIS BREAK EVEN

A. Pengertian dan Kegunaan Analisis


Analisa break even adalah suatu cara atau teknik untuk mengetahui kaitan antara
produksi, penjualan, harga jual, biaya, laba dan rugi. Dengan mengetahui perkaitannya,
analisa break even dapat digunakan untuk membantu menetapkan sasaran perusahaan
atau organisasi jasa. Kegunaan lainnya antara lain :
1. Sebagai dasar untuk merencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai
laba tertentu. Jadi dapat digunakan untuk perencanaan laba atau ”profit
planning”.
2. Sebagai dasar untuk mengendalikan kegiatan yang sedang berjalan, yaitu untuk
alat pencocokan antara realisasi dengan angka – angka dalam perhitungan break
even atau dalam chart break even atau sebagai alat pengendalian atau
”controlling”.
3. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual, yaitu setelah
diketahui hasil – hasil perhitungannya menurut analisa break even dan laba yang
ditargetkan.
4. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan dengan terlebih dulu
melihat berapakah titik break even-nya.

Suatu perusahaan dikatakan mencapai ”break even” apabila setelah dibuat


perhitungan rugi – laba dari suatu periode kerja dari suatu kegiatan usaha tertentu,
perusahaan itu tidak memperoleh laba, tetapi juga tidak menderita kerugian atau jika
perusahaan itu memperoleh hasil dari penjualan atau seluruh penghasilan dijumlahkan,
jumlah itu sama besarnya dengan seluruh biaya yang telah dikorbankan.

B. Asumsi dalam Analisis Break Even


Asumsi – asumsi yang diperlukan supaya dapat menganalisa break even adalah :
a. Bahwa biaya – biaya yang ada harus dapat diidentifikasikan atau ditetapkan
sebagai biaya tetap dan biaya variabel. Biaya yang meragukan apakah sebagai
biaya variabel atau sebagai biaya tetap harus tegas – tegas dimasukkan kedalam

78
salah satu ”variabel” atau ”tetap”. Biaya semi variabel dimasukkan ke biaya
variabel, biayasemi tetap dimasukkan kedalam biaya tetap.
b. Bahwa yang ditetapkan sebagai biaya tetap itu akan tetap konstan, tidak
mengalami perubahan meskipun volume produksi atau volume kegiatan berubah
selama batas–batas tertentu.
c. Biaya variabel per unit konstan, berapapun jumlah barang yang diproduksi. Jika
kegiatan produksi berubah, biaya variabel itu berubah proporsional dalam
jumlah seluruhnya, sehingga biaya per unitnya akan tetap sama. Tetapi, dalam
kenyataannya biaya variabel itu tidak harus proporsional dengan volume
kegiatan. Dapat degresif dapat pula progresif.

Biaya Tetap
Biaya tetap adalah jenis – jenis biaya yang selama satu periode kerja adalah
tetap jumlahnya dan tidak mengalami perubahan. Satu periode kerja bisa berupa 1
minggu, 1 bulan, atau 1 tahun. Biaya tetap biasanya dikaitkan dengan waktu atau
dengan perjanjian. Oleh karena itu biaya tetap biasanya dikaitkan pengeluarannya
dengan periode maka kadang–kadang ada yang menyebutnya sebagai biaya periode atau
”period cost”.
Biaya ini merupakan time cost karena biaya ini dapat berubah dengan
adanyaperubahan waktu sehingga jumlah biaya tetap harus dihubungkan dengan suatu
periode waktu tertentu. Perubahan-perubahan biaya tetap dapat terjadi apabila didalam
suatu organisasi terjadi, misalnya perubahan struktur dasar, perubahan metode operasi
dan perubahan kebijaksanaan manajemen.
Biaya tetap memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Biaya tetap jumlah totalnya tetap konstan tidak dipengaruhi oleh perubahan
volume kegiatan atau aktivitas sampai dengan tingkatan tertentu.

79
Grafik biaya tetap :

Rp

Biaya

Biaya tetap

Unit

Volume Kegiatan

2. Tingkat kekonstanan total biaya tetap terbatas dalam jarak kapasitas yang
dinamakan jarak relevan (relevant range).
3. Biaya tetap per satuan (unit cost) berbanding terbalik dengan perubahan volume
kegiatan yaitu, semakin tinggi volume kegiatan semakin rendah biaya satuan dan
semakin rendah volume kegiatan akan semakin tinggi biaya satuan.
4. Alokasi ke bagian-bagian sering dilakukan berdasarkan keputusan pimpinan
atau berdasarkan suatu metode alokasi.
5. Pengawasan atas terjadinya biaya terletak pada pimpinan eksekutif dan bukan
pada pimpinan operasional.
Macam-macam biaya tetap :
a. Commited Fixed Cost adalah biaya-biaya dalam perusahaan dan pabrik yang
timbul secara terus menerus dan tidak dapat dikurangi karena ini menyangkut
tujuan jangka panjang perusahaan. Contohnya : misalnya penetapan luas
bangunan pabrik apakah 100m2, 5000m2 atau lebih besar lagi, jadi menyangkut
keputusan jangka panjang. Untuk lebih mengerti fixed cost maka dapat dilihat
dengan cara mengasumsikan volume kegiatannya adalah nol dan organisasi
mengharapkan untuk mencapai kapasitas normal.
b. Discretionary Fixed Cost = umumnya disebut dengan fixed cost yang terkendali
(managed) timbul sebagai akibat dari hasil keputusan manajer dengan periode
relatif satu tahun. Contohnya adalah biaya iklan, biaya penelitian dan
pengembangan, serta program pengembangan manajemen. Faktor kunci dari
discretionary fixed cost adalah manajemen tidak terpaku pada keputusan yang

80
telah dibuat yang menyangkut biaya pada suatu budget dalam satu periode saja
tetapi juga dalam periode-periode lainnya, dimana dalam setiap periode
keputusan atas discretionary fixed cost selalu dievaluasi oleh manajer.

Perbedaan antara commited fixed cost dan discretionary fixed cost adalah :
a) Discretionary bersifat relatif jangka pendek (biasanya satu tahun) dari segi
perencanaannya.
b) Pada keadaan tertentu maka biaya discretionary fixed cost dapat dikurangi,
pengurangan ini tentu akan mempengaruhi keadaan organisasi dalam jangka
panjang, seperti misalnya karena jumlah murid yang sedikit, maka besarnya
biaya untuk gaji guru bisa dikurangi.

Besarnya biaya tetap yang sudah direncanakan akan tergantung pada kegiatan
organisasi secara keseluruhan. Apabila terdapat kegiatan operasional yang meningkat
maka program dan rencana akan diperluas sehingga dapat mencakup berbagai bidang
yang tidak mungkin dicakup pada pola tingkat kegiatan yang rendah. Sebagai contoh,
jika organisasi/perusahaan menginginkan peningkatan penjualan maka dana advertising
yang dibutuhkan akan jauh lebih besar dibandingkan jika perusahaan tidak menetapkan
peningkatan penjualan seperti yang direncanakan. Jadi biaya tetap akan meningkat
seperti anak tangga apabila tingkat kegiatan perusahaan meningkat.

Biaya Variabel
Biaya variabel ialah jenis biaya-biaya yang berubah berdasarkan volume
kegiatan, jika volume kegiatan bertambah maka bertambahlah biaya variabel, jika
volume kegiatan turun maka turunlah biaya variabel.
Asumsi yang digunakan dalam analisa break even adalah naik turunnya biaya
variabel proposional dengan volume kegiatan. Didalam kenyataannya biaya variabel itu
tidak harus proposional dengan volume kegiatan, dapat degresif dapat pula progresif.
Dikatakan degresif apabila volume produksi naik, naik pula biaya variabel akan tetapi
kenaikannya dibawah proporsional dengan kenaikan volume kegiatan. Sebaliknya,
biaya variabel dikatakan progresif apabila kenaikannya diatas proporsionalnya.

81
Biaya variabel memiliki karakteristik sebagai berikut :
1) Biaya variabel jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume
kegiatan, semakin besar volume kegiatan semakin besar pula jumlah total biaya
variabel, dan semakin rendah volume kegiatan semakin rendah pula jumlah total
biaya variabel.
Grafik biaya variabel

Rp
Biaya variabel

Biaya

Biaya tetap

Unit

Volume Kegiatan

2) Biaya variabel per satuan (unit cost) tidak dipengaruhi oleh perubahan volume
kegiatan .
3) Dapat dengan mudah dialokasikan pada bagian-bagian operasional.
4) Pemakaian dan pengawasannya dapat dilimpahkan pada bagian yang
bersangkutan.

C. Menghitung Break Even Point


Data yang digunakan adalah data laporan keuangan. Data laporan keuangan
tersebut harus dikelompokkan terlebih dahulu menjadi biaya tetap dan biaya variabel
agar bisa dihitung nilai brak evennya. Secara matematis tingkat break even dapat
ditentukan dengan berbagai rumus, yaitu dengan pendekatan matematis. Dalam Break
Even dikenal adanya istilah BEP (Break Even Point) dimaksudkan sebagai suatu titik
yang menunjukkan keadaan perusahaan tidak laba dan tidak rugi.

BEP Total Revenue (TR) = Total Cost (TC)

82
- Total Cost : Jumlah biaya terdiri atas biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel
(variabel cost)
- Fixed Cost (FC) : jumlah biaya yang secara totalitas tetap walaupun terjadi volume
produksi/penjualan
- Variabel Cost (VC) : Suatu jenis biaya yang secara proporsional berubah-ubah sesuai
dengan volume produksi/volume penjualan. Bila volume kegiatan naik maka biaya
makin besar, begitu pula sebaliknya.
- Total Renenue (TR) : jumlah pendapatan yang diperoleh dari penjualan yang
merupakan hasil kali harga dengan unit produk yang terjual (sifat juga variabel)
makin besar unit terjual makin besar pula TR-nya.

Rumus-rumus :
1. Total Revenue (TR) = Harga Jual (P) x φ unit
2. Total Cost (TC) = FC + (VC/unit x φ unit)
3. Break Even Point (BEP) TR = TC
4. Laba (Profit) = TR – TC / TR > TC
5. Rugi (Loss) = TC – TR / TC > TR

Perubahan grafik
1. Harga jual/unit berubah, unsur lain tetap :

83
2. Biaya variabel/unit berubah, unsur lain tetap :

3. Biaya Tetap (FC) berubah, unsur lain tetap :

Case 1
Biaya total yang dikeluarga perusahaan ditunjukkan oleh persamaan TC = 15.000 + 25φ
dan penerimaan totalnya TR = 100φ. Pada tingkat produksi berapa unit perusahaan ini
berada dalam posisi pulang pokok? Bila ia memproduksi 250 unit apa yang terjadi?
Jawab
Pulang pokok : TR = TC
100φ = 15.000 + 25 φ
75 φ = 15.000
Φ = 200
Jika φ = 250, maka :
TC = 15.000 + 25 φ
= 15.000 + 25 (250)
= 15.000 + 6250
= 21.250

84
TR = 100 φ
= 100 (250)
= 25.000
Keutungan = TR – TC
= 25.000 – 21.250
= 3.750

Case 2
Pak Karno membuka warung bakso dirumahnya. Biaya yang dikeluarkannya per-hari
adalah biaya tetap Rp. 300.000,- dan biaya per-mangkok (biaya variabel) Rp. 200,-
Harga bakso per-mangkok Rp. 450,- Hitung BEP dan grafik!

Jawab :
BEP TR = TC
450 φ = 300.000 + 200 φ
450 φ - 200 φ = 300.000
250 φ = 300.000
Φ = 1.200
TR = P.φ
= 450 (1200)
= 540.000

85
Jadi BEP terjadi pada kuantitas 1200 unit, TR dan TC sama sebesar 540.000,-

Case 3
Karena kenaikan harga bahan baku maka harga bakso dinaikkan menjadi Rp. 500,-.
Hitung BEP baru dan grafiknya!

Jawab
TR = TC
500 φ = 300.000 + 200 φ
500 φ - 200 φ = 300.000
300 φ = 300.000
Φ = 1.000
TR = 500 φ
= 500 (1000)
= 500.000

86
Soal untuk dikerjakan :

1. Perusahaan Ice Cream membuka usaha dengan biaya produksi yang dikeluarkan
adalah biaya tetap Rp. 800.000,- dan biaya variabel per-unit Rp. 400,- harga jual
per-unit sebesar Rp. 800,- diminta!
a. Hitung BEP dan gambar grafiknya!
b. Bila biaya tetap naik menjadi Rp. 875.000,- Hitung BEP dan gambar
grafiknya yang baru !

2. Harga jual produk tusuk gigi adalah Rp. 25,- per-unitnya! Cari persamaan dan
tunjukkan kurva penerimaan total dari perusahaan ini. Berapa total
penerimaannya jika tusuk gigi yang terjual sebanyak 1.000.000 unit?

3. Biaya tetap produksi kain adalah Rp. 450.000,- biaya variabel Rp. 1.500,-
permeternya dan barang tersebut dijual dengan harga Rp. 2.500,- permeternya.
Berapa meter kain harus diproduksi untuk mencapai pulang pokok?

4. Biaya tetap yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan sebesar Rp. 10.000.000,-
sedangkan biaya variabelny ditunjukkan oleh perusahaan VC = 4 φ. Bagaimana
persamaan dan kurva biaya totalnya. Berapa biaya totalnya, bila perusahaan
tersebut memproduksi 1000 unit outputnya?

5. Biaya total yang dikeluarkan perusahaan ditunjukkan oleh perusahaan TC =


20.000 + 100 φ dan penerimaan totalnya TR = 200 φ. Pada tingkat produksi
berapa unit perusahaan ini berada dalam posisi pulang pokok? Apa yang terjadi
jika ia berproduksi sebanyak 300 unit?

6. Seorang pengusaha kecil menghasilkan produk “Kacang Goyang” dengan harga


jualnya Rp. 4.500,- per Kg. Biaya tetap yang dikeluarkan adalah Rp.102.500,-
sedangkan biaya variabel per Kg adalah Rp. 4.000,-. Berapa Kg Kacang Goyang
yang harus dihasilkan agar pengusaha tersebut mengalami pulang pokok ?

87
7. Seorang pengrajin kayu menghasilkan lemari dengan harga jualnya
Rp. 60.000,- perunit. Biaya variabel perunit adalah Rp. 35.000,-. Sedangkan
biaya tetap yang dikeluarkan adalah Rp. 650.000,- . Berapa unit lemari yang
harus dijual agar pengrajin tersebut mengalami pulang pokok ?

8. Misalkan biaya tetap yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu barang adalah
Rp.45.000,-. Harga jual perunit barang tersebut adalah Rp. 1.500,- dan biaya
variabel perunit adalah 60% dari harga jual perunit. Hitunglah titik pulang
pokok dan gambarkanlah dalam satu diagram !

9. Seorang produsen menjual produknya seharga Rp. 50,- perunit. Biaya variabel
setiap unit produk 40% dari harga jual, dan biaya tetapnya Rp. 30.000,-
a) Berapa unit produsen pulang pokok ? Tunjukkan dalam gambar !
b) Berapa labanya jika produk terjual 10.000,- unit
c) Berapa unit produksi pulang pokok, jika harga jualnya berubah menjadi Rp.
75,-
d) Berapa labanya jika produk yang terjual 10.000,-

10. Biaya variabel rata-rata yang dikeluarkan oleh seorang produsen adalah 60%
dari harga jual produknya, sedangkan biaya tetapnya keseluruhan Rp. 3000,-.
Harga jual produk per unit Rp. 20,-
a) Berapa jumlah produk yang harus dihasilkan agar produsen tadi pulang
pokok ( break even ) ?
b) Berapa profitnya jika memproduksi 400 unit ?

11. Harga jual suatu barang Rp. 50,-. Biaya tetap rata-ratanya Rp.10,- dan biaya
variabel rata-ratanya Rp. 25,-
a) Berapa unit barang harus dihasilkan jika produsen ingin mendapatkan laba
Rp.6000,- ?
b) Berapa unit barang yang dihasilkan, kalau ternyata ia tidak memperoleh
keuntungan tapi juga tidak menderita kerugian ?
c) Berapa pula barang yang ia hasilkan bila ternyata ia merugi sebesar
Rp.1500,-
88
12. Penerimaan total sebuah perusahaan dari memproduksi barang yang harga
jualnya Rp. 250,- perunit adalah Rp.150.000,-. Biaya tetap totalnya Rp. 30.000,-
sedangkan biaya variabelnya Rp. 200,- perunit. Berapa unit barang harus
diproduksi agar ia memperoleh keuntungan ?

13. Seorang produsen menjual produknyaseharga Rp. 50,- perunit. Biaya variabel
setiap unit produk = 40% dari harga jual, dan biaya tetapnya = Rp. 30.000,-
a) Berapa unit produksi pulang pokok ? Tunjukkan dengan gambar !
b) Berapa labanya jika produk yang terjual 10.000 unit ?
c) Berapa unit produksi pulang pokok yang baru jika harga jualnya naik
menjadi Rp. 75,-
d) Berapa labanya jika produk yang terjual 10.000 unit ?

14. Seorang peternak ayam Broiler memelihara 1000 ekor ayam. Setelah berusia
empat bulan semua ayamnya terjual dengan harga Rp. 800,- / ekor. Biaya tetap
yang dikeluarkan sebelum ia memulai usahanya tercatat sebesar Rp. 80.000,-.
Sedangkan biaya variabel selama empat bulan tersebut Rp. 600.000,-
a) Tunjukkan fungsi biaya variabel, biaya total dan penerimaan totalnya !
b) Berapa ekor tingkat pulang pokok usahanya ?
c) Bagaimana kalau ia memelihara 350 ekor ayam ?

15. Seorang pedagang memperoleh keuntungan sebesar Rp. 15.000,- dari menjual
barang dagangannya sebanyak 400 unit. Penerimaan totalnya sebesar
Rp. 120.000,- sedangkan biaya tetap total yang harus dibayarkan Rp. 25.000,-
a) Berapa rupiah harga perunit barang dagangannya ?
b) Tentukan fungsi biaya total dan biaya variabel totalnya !
c) Pada produksi berapa unit pedagang tadi mengalami pulang pokok ?
d) Berapa keuntungan / kerugian bila ia hanya menjual 200 unit ?
e) Gambarkan hasil-hasil perhitungan diatas !

89
BAB VIII
PROGRAMASI LINIER

Programasi linier ( linear programming ) merupakan pengembangan lebih lanjut


dari konsep-konsep aljabar linier. Model ini dikembangkan oleh George B. Dantzig,
seprang matematisian Amerika Serikat, pada tahun 1947. Benih-benih model ini
sesungguhnya sudah ditemukan jauh sebelumnya. Seorang matematisian Rusia bernama
L.V. Kantorovich memperkenalkan penerapan programasi linier dalam bidang produksi
pada tahun 1939. Lebih dari seabad sebelumnya, pada tahun1826, Fourier yang
matematisian Perancis juga telah merumuskan masalah programasi linier. Akan tetapi
baru setelah Dantzig mengembangkan dan mempopulerkannya, model ini memperoleh
perhatian yang berarti. Dantzig pulalah yang dikenal dunia sebagai “Bapak Programasi
Linier”.
Semula model ini dimanfaatkan dibidang kemiliteran, khususnya oleh angkatan
Udara amerika Serikat ( USAF ), untuk merencanakan dan memecahkan masalah-
masalah logistik dimasa perang. Kemudian dibidang transportasi dan bisnis. Sekarang
penggunaan programasi linier sudah sangat meluas, terutama dibidang bisnis. Berbagai
masalah dalam aspek-aspek kegiatan perusahaan – seperti masalah produksi,
pembiayaan, pemasaran, periklanan dan penyampaian barang. Semakin lazim
dipecahkan dengan programasi linier. Bab ini hanya menguraikan konsep-konsep dasar
programasi lin Mengingat pengajaran materi programasi linier dalam mata kuliah
matematika bersifat hanya sebagai perkenalan, tidak semua aspek daro model tersebut
dikupas disini. Seluk beluk yang lebih terinci mengenai programasi linier biasanya
diberikan didalam mata kuliah “Operation Research” atau Metode Kuantitatif untuk
manajemen. Oleh karenanya bahasan yang lebih lengkap tentang model ini akan dapat
dijumpai didalam buku-buku teks mengenai operations reserch, atau buku yang khusus
membahas programasi linier.

A. Persoalan Linear Programing


Beberapa contoh persoalan linear programing yang berhubungan dengan
masalah optimasi dapat saja terjadi seperti contoh-contoh berikut ini. Untuk keperluan
pembangunan, pemerintah memerlukan barang-barang modal yang harus diimpor
dengan menggunakan devisa. Devisa diperoleh melalui ekspor, khususnya barang-

90
barang pertanian. Agar diperoleh jumlah devisa yang maksimum, di dalamnya perlu
menentukan produksi barang-barang ekspor tersebut. Pemerintah menghadapi beberapa
pembatasan misalnya tersedianya tanah yang cocok untuk menanam sejenis tanaman
ekspor tertentu, tersedianya bibit, tersedianya pupuk, tersedianya air, tersedianya tenaga
kerja, besarnya permintaan barang ekspor tersebut, dan sebagainya.
Pemilik perusahaan yang mempunyai beberapa jenis bahan mentah ingin
menentukan besarnya produksi dari beberapa jenis barang agar supaya diperoleh suatu
hasil penjualan yang maksimum. Di dalam memproduksi barang-barang tersebut
pemilik perusahaan dihadapkan kepada tersedianya bahan mentah yang terbatas, waktu
penggunaan mesin yang terbatas, ruang gudang untuk menyimpan barang yang terbatas
serta pembatasan-pembatasan lainnya.
Direktur pemasaran suatu perusahaan akan mengangkut suatu jenis barang
tertentu (minyak, bahan isolasi kabel listrik, tembaga untuk pembuatan kawat listrik,
pupuk, semen, beras, telur, dan lain sebagainya) dari beberapa tempat asal (pabrik, pusat
produksi) kebeberapa tempat tujuan (pasar,tempat proyek, dan lain sebagainya).
Didalam mengangkut barang tersebut harus diatur sedemikian rupa sehingga jumlah
biaya transportasi minimum dengan memperhatikan bahwa suplai barang tersebut dari
setiap tempat asal terbatas, sedangkan permintaan barang dari setiap tempat tujuan harus
memenuhi sejumlah tertentu.
Tiga contoh persoalan tersebut diatas yaitu memperoleh jumlah devisa yang
maksimum, jumlah hasil penjualan yang maksimum dan jumlah biaya pengangkutan
yang minimum dengan memperhatikan batasan-batasan yang ada disebut persoalan
optimasi (optimation problems). Pada dasarnya persoalan optimasi adalah suatu
persoalan untuk membuat nilai suatu fungsi beberapa variabel menjadi maksimum atau
minimum dengan memperhatikan pembatasab-pembatasan yang ada. Biasanya
pembatasan-pembatasan tersebut meliputi tenagakerja (men), uang (money) material
yang merupakan input serta waktu dan ruang.
Persoalan programming, pada dasarnya berkenaan dengan penentuan alokasi
yang optimal dari padasumber-sumber yang langka (limited resources) untuk memenuhi
suatu tujuan (objektive). Misalnya bagaimana mengkombinasikan beberapa sumber
yang serba terbatas seperti tenaga kerja, material, mesin, tanah, pupuk, air sehingga
diperoleh output yang maksimum.

91
Persoalan Linear Programing (L.P) ialah suatu persoalan untuk menentukan
besarnya masing-masing nilai variabel sedemikian rupa sehingga (s.r.s) nilai fungsi
tujuan atau objektife (objektife fungtion) yang linear menjadi optimum (maksimum atau
minimum) dengan memperhatikan pembatasan-pembatasan yang ada yitu pembatasan
mengenai inputnya, Pembatasan-pembatasan ini pun harus dinyatakan dalam pertidak
samaan yang linear (linear inequalities).

B. Ide Dasar Programasi Linier


Programasi Linear adalah suatu model optimasi persamaan linear berkenaan
dengan kendala-kendala linear yang dihadapinya. Masalah programasi linear berarti
adalah masalah pencarian nilai-nilai optimum (maksimum atau minimum) sebuah
fungsi linear pada suatu sistem atau sehimpun kendala linear. Fungsi linear yang hendak
dicari nilai optimumnya disebut fungsi tujuan. Sedangkan fungsi linear yang harus
terpenuhi dalam optimasi fungsi tujuan tadi dapat berbentuk persamaan maupun
pertidaksamaan disebut sebagai fungsi kendala.
Agar suatu masalah optimasi dapat diselesaikan dengan programasi linier, ada
beberapa syarat atau karakteristik yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Masalah tersebut harus dapat diubah menjadi permasalahan matematis. Ini
berarti bahwa masalah tadi harus bisa dituangkan kedalam bentuk model
matematik, dalam hal ini model linier, baik berupa persamaan maupuntidak
persamaan.
2. Keseluruhaan sistem permasalahan harus dapat dipilah-pilah menjadi satuan-
satuan aktivitas, sebagai misal : a11 X1 + a12X2 ≤ k1, dimana X1 dan X2
adalah aktivitas.
3. Masing-masing aktivitas harus dapat ditentukan dengan tepat baik jenis maupun
letaknya dalam model programasi.
4. Setiap aktivitas harus dapat dikuantifikasikan sehingga masing-masing nilainya
dapatdihitung dan dibandingkan.
Perumusan model programasi linear metode grafik dapat dilakukan melalui
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Gambarkan fungsi-fungsi kendalanya
2. Tentukan area laik (feasible area) bagi masalah yang bersangkutan, yakni area
yang dibatasi oleh garis-garis kendala

92
3. Gambarkan fungsi tujuannya dengan menetapkan sembarang nilai z
4. Lakukan pergeseran-pergeseran seperlunya atas kurva atau garis tujuan, dengan
mengubah-ubah nilai z, agar dapat ditentukan titik penyelesaian optimal.
5. Titik penyelesaian optimal adalah titik sudut terjauh dari area laik yang dapat
dicapai oleh garis tujuan. Dalam masalah maksimasi, sudut area laik terjauh
biasanya berupa sudut teratas atas terkanan, sedangkan dalam masalah minimasi
sudut area laik terjauh biasanya berupa sudut terbawah atau terkiri (tergantung
pada lereng garis tujuan)

Sebelum memulai dengan contoh-contoh kasus, ada baiknya terlebih dahulu diketahui
cara menyajikan pertidaksamaan linier secara grafik. Perhatikan ketiga gambar dibawah
ini dan kalimat-kalimat fungsinya.

y
A.

5x + 4y = 20

x
0
4

93
B. y

5
5x + 4y ≥ 20

x
0
4

C.
y

5x + 4y ≤ 20

x
0
4

Gambar panel A memperlihatkan gambar dari sebuah persamaan. Wilayah


persamaan 5x + 4y = 20 adalah titik-titik sepanjang garis yang bersangkutan.
Sedangkan panel B dan C memperlihatkan gambar dari sebuah pertidaksamaan.
Tanda garis-garis pada panel B mengisyaratkan bahwa bidang disebelah atas/
kanan garis termasuk wilayah pertidaksamaan 5x + 4y ≥ 20. Panel C anak
panah disitu menjelaskan wilayah yang termasuk didalam pertidaksamaan
5x + 4y ≤ 20

94
Case-1
Sebuah pabrik genteng memproduksi genteng kualitas A dan kualitas B. Untuk
menghasilkan genteng kualitas A diperlukan 4 unit bahan 1 dan 3 unit bahan II,
sedangkan genteng kualitas B memerlukan 2 unit bahan I dan 4 unit bahan II. Kapasitas
maksimal untuk bahan I sebanyak 100 unit dan untuk bahan II 120 unit. Hasil yang
dicapai dari genteng kualitas A diperkirakan 5.000 rupiah dan genteng kualitas B
sebanyak 6.000 rupiah. Berapa unit masing-masing genteng sebaiknya diproduksi agar
tercapai keuntungan yang optimal?

Penyelesaian :
Maksimumkan fungsi tujuan z = 5.000a+ 6.000b
Terhadap kendala-kendala 4a + 2b < 100
3a + 4b < 120
a,b > 0

Mengubah pertidaksamaan kendala menjadi bentuk persamaan :


4a + 2b = 100
3a + 4b = 120
a, b > 0

koordinat B = 4a + 2b = 100 x 2
3a + 4b = 120 x 1

8a + 4b = 200
3a + 4b = 120
5a = 80
a = 16

95
3 (16) +4b = 120
4b = 120 – 48
4b = 72
b = 18
Koordinatnya titik B (16,18)

Z optimum = 5.000a + 6.000 b


A (0,30) 5.000 (0) + 6.000 (30) = 180.000
B (16,18) 5.000 (16) + 6.000 (18) = 188.000
C (25,0) 5.000 (25) + 6.000 (0) = 125.000

Kondisi optimal terletak dititik B


Jadi untuk menghasilkan produksi genteng yang optimal diperlukan 16 unit output
genteng kualitas A dan 18 output genteng kualitas B yang akan menghasilkan
keuntungan Rp. 188.000,-

96
Soal untuk dikerjakan :

1. Tentukan secara grafik nilai-nilai dari X1 dan X2 yng memaksimumkan setiap fungsi
tujuan dengan kendala-kendala linier yang telah ditentukan berikut ini :
a) Л = 5X1 + 3X2
2X1 + 4X2 ≤ 80
5X1 + 2X2 ≤ 80
X1 ≥ 0, X2 ≥ 0
b) Л = 15X1 + 10X2
3X1 + 2X2 ≤ 80
2X1 + 3X2 ≤ 70
X1 ≥ 0, X2 ≥ 0
c) Л = 6X1 + 4X2
X1 + 2X2 ≤ 240
3X1 + 2X2 ≤ 300
X1 ≥ 0, X2 ≥ 0
d) Л = 16X1 + 8X2
6X1 + 4X2 80
5X1 + 2X2 ≤ 80
X1 ≥ 0, X2 ≥ 0

2. Terdapat 2 produk x dan y, produk x dibuat melalui tahapan pengerjaan 2 menit


untuk mesin I dan 5 menit untuk mesin II. Proses pembuatan produk y diperlukan
waktu 3 menit untuk mesin I dan 3 menit untuk mesin II. Waktu maksimal yang
tersedia untuk mesin I sebanyak 4 jam dan mesin II sebanyak 5 jam. Produk x akan
menghasilkan profit sebesar Rp. 1.500,-/unit dan produk y sebesar Rp. 2.000,-/unit .
Gunakan metode grafik untuk menentukan keuntungan maksimum dari kombinasi
kedua produk tersebut !

3. Perusahaan Olivia menghasilkan pintu kaca dan jendela kaca. Setiap pintu kaca
memerlukan 6 jam pekerja di departemen I dan 2 jam pekerja didepartemen II,
setiap jendela kaca membutuhkan 4 jam pekerja di departemen I dan 3 jam pekerja
di departemen II. Profit pada setiap pintu kaca dan jendela kaca adalah Rp. 25.000,-

97
dan Rp.20.000,- secara berturut-turut. Terdapat 60 jam pekerja yang tersedia di
departemen I dan 30 jam pekerja yang tersedia di departemen II. Gunakan linier
programing secara grafik untuk menentukan kombinasi optimal dari pintu kaca dan
jendela kaca yang akan memaksimumkan profit!

4. Dari tabel permasalahan dibawah ini hitunglah aktivitas yang dapat mengoptimalkan
keuntungan perusahaan.
Kapasitas/Sat. Produk Jumlah
Proses
X Y Kapasitas
I 5 3 300
II 0 1 60
III 4 5 400
Keutungan Rp. 500,- Rp. 1.000,-

5. Proses operasional untuk TV dan DVD


Produk TV :
Departemen I : 2 jam Tk
Departemen II : 2 jam Tk
Departemen III : 1 jam Tk
Produk DVD :
Departemen I : 3 jam Tk
Departemen II : 1 jam Tk
Departemen III : 4 jam Tk
Kapasitas max sumber daya perusahaan
Departemen I : 24 jam Tk
Departemen II : 16 jam Tk
Departemen III : 24 jam Tk
Bila harga jual produk TV : Rp. 1.000.000,-/unit, produk DVD Rp. 800.000,-/unit,
serta adanya biaya untuk produk TV Rp. 200.000,-/unit dan produk DVD Rp.
100.000,-/unit. Berapa keuntungan terbesar dapat diperoleh dan berapa jumlah
penjualannya?

98
6. Sebuah pabrik membuat dua jenis radio, model 1 dan model 2. Proses pembuatan
model 1 memerlukan 2 jam di departemen A, 2 jam di departemen B dan 1 jam
didepartemen C. Akan tetapi, model 2 membutuhkan 1,5 jam di departemen A, 0,5
jam di departemen B dan 2 jam di departemen C. Profit pada masing-masing unit
dari model 1 dan model 2 adalah Rp. 45.000,- dan Rp. 20.000,- secara berturut-
turut. Jika terdapat 60 jam yang disediakan di departemen A, 40 jam di departemen
B dan 60 jam di departemen CC, tentukanlah secara grafik kombinasi optimal dari
produk tersebut yang akan memaksimumkan profit/laba !

7. Nona Elly butuh untuk mempersiapkan sarapan yang akan memberikan kepada dia
paling sedikit 7 unit vitamin A dan paling sedikit 11 unit vitamin B. Kebutuhan ini
dapat dipenuhi dari dua jenis makanan. Setiap unit makanan I mengandung 1 unit
vitamin A dan 2 unit vitamin X dan 1 unit vitamin B dan biaya Rp. 12.000,-.
Tentukan secara grafik kombinasi terbaik yang mungkin dari dua jenis makanan
yang akan meminimumkan biaya bilamana memenuhi kebutuhan nutrisi/gizi.

8. Perusahaan Hanny membuat dua produk. Setiap unit dari produk A memerlukan 1
jam pada mesin I dan 1 jam pada mesin II, sedangkan setiap unit dari produk B
memerlukan 2 jam pada mesin I dan 1 jam pada mesin II. Profit dari produk I dan II
masing-masing adalah Rp.25.000,- dan Rp. 20.000,-. Jika terdapat 40 gram yang
tersedia pada mesin I dan 24 jam pada mesin II, berapakah kombinasi optimal dari
produk A dan B yang akan memaksimumkan profit ? Gunakan metode grafik untuk
menyelesaikan masalah tersebut !

9. Sebuah pabrik membuat dua produk, masing-masing memerlukan waktu pada 3


mesin yang berbeda. Setiap unit dari produk A memerlukan 10 menit pada mesin I,
6 menit mesin II dan 9 menit mesin III, sedangkan setiap unit dari produk B
memerlukan 5 menit mesin I, 12 menit pada mesin II dan 9 menit pada mesin III.
Mesin I dan mesin III masing-masing tersedia 7,5 jam dan mesin II tersedia 8 jam.
Profit untuk produk A dan B masing-masing adalah Rp.5000,- dan Rp. 3000,-
secara berturut-turut. Gunakan metode grafik untuk menentukan kombinasi dari
kedua produk yang akan memaksimumkan profit !

99
10. Terdapat dua jenis makanan yang tersedia untuk sarapan. Setiap ons makanan jenis
I mengandung 1 unit vitamn A dan 2 unit vitamin B dan biayanya Rp.1000,-
sedangkan setiap ons makanan jenis II mengandung 4 unit vitamin A dan 3 unit
vitamin B dan biayanya Rp.2000,-. Berapa ons dari masing-masing jenis makanan
yang harus dibeli untuk memenuhi kebutuhan minimum harian dari 10 unit vitamin
A dan 15 unit vitamin B dengan biaya minimum ? Gunakan metode grafik untuk
menyelesaikan masalah tersebut !

11. Dua produk A dan B dihasilkan oleh perusahaan Connie dan Christian. Masing-
masing unit produk A memerlukan 3 jam pada mesin I, 2,5 jam pada mesin II dan 1
jam pada mesin III, masing-masing unit produk B memerlukan 2 jam pada setiap
mesin I, II dan III. Mesin I tidak bisa digunakan lebih dari 20 jam, mesin II tersedia
18 jam dan mesin III dapat digunakan selama 12 jam. Produk A memberikan profit
Rp.16.000,- dan produk B memberikan profit Rp.14.000,-. Gunakan metode grafik
untuk menentukan kombinasi dari kedua produk yang akan memaksimumkan profit
perusahaan tersebut !

12. Nona Susan butuh untuk menyiapkan dua makanan sehingga memberikan pada
dirinya dengan paling sedikit 750 gram protein dan 975 gram karbohidrat. Setiap
unit makanan I mengandung 12 gram protein dan 15 gram karbohidrat serta biaya
Rp.3500,- setiap unit makanan II 9 gram protein dan 12 gram karbohidrat serta
biaya Rp. 4000,-. Berapa gram dari setiap makanan yang akan dibeli untuk
memenuhi kebutuhan harian dengan biaya minimum ?

100
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Allen, R.G.D (1960), Mathematical Analysis for Economics, London : Macmilan.

Ari Sudarman dan Algifari (1991) : Ekonomi Mikro – Makro. Edisi Ketiga, BPFE,
Yogyakarta.

Chiang. C. Alpha (1984) : Fundamental Methods of Mathematical Economics, Third


Edition, Mc. Grow – Hill, Singapore

Dumairy (1988) : Matematika Terapan untuk Bisnis dan Ekonomi, Edisi Kedua, BPFE,
Yogyakarta.

Hebderson, J.M dan R.E. Quandt (1980), Microeconomics Theory : A Mathematical


Approach, 3rd Edition, New York : Mc Graw-Hill Book Company.

I Agus Wantoro (1995) : Matematika untuk Bisnis dan Ekonomi, Edisi Pertama, Andi
Offset, Yogyakarta.

Nicholson, H. Robert (1986), Mathematical for Business and Economics, International


Edition, Singapore : Mc Graw-Hill.

Weber, E. Jean (1982), Mathematical Analysis : Business and Economics Application,


Fourth Edition, New York: Harper & Row, Publisher, Inc.

Yosef B. Kalangi (1997) : Matematika untuk Bisnis dan Ekonomi, Edisi Pertama, BPFE,
Yogyakarta.

101
102

Anda mungkin juga menyukai