Anda di halaman 1dari 27

BR €S E u r o p e S u s ii’uM.

s A s s e m b ly
Corporation »i }0C-« ?af»rt*i»h"'d<

PANDUAN PELAYANAN AM BULANCE


DI RUM AH SAKIT UM UM BALI ROYAL

TAHUN 2018
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM BALI ROYAL
No : 179/BROS/SK-DIR.RS/III/2018
TENTANG
PANDEAN PELAYANAN AMBULANCE
DI RUMAH SAKIT UMUM BALI ROYAL

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM BALI ROYAL


Menimbang a. bahwa dalam upaya meningkatan mutu pelayanan di rumah sakit
diperlukan adanya Panduan Pelayanan Ambulance di Rumah Sakit
Umum Bali Royal.
b. bahwa sehubungan dengan pertimbangan dengan pertimbangan humf
a diatas, dipandang perlu menetapkan Pemberlakuan Panduan
pelayanan ambulance di RSU Bali Royal dengan Keputusan Direktur
RSU Bali Royal.

Mengingat 1. Undang-Undang No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 5063);
2. Undang-Undang No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana;
4. Kepmenkes Nomor 143/Menkes-kesos/SK/II/2001 tentang
standarisasi Kendaraan Pelayanan,
5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 856/ Menkes/ SK/ IX/ 2009
tentang Standar Instalasi Gavvat Darurat (IGD) Rumah Sakit;
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/ Menkes/ SK/ XH/ 1999
tentang Standar Pelayanan RumahSakit;
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/ Menkes/ SK/II/ 2008
tentang Standar Pelayanan Minimal RumahSakit;
8. Undang-undang No 22 tahun 2009 tentang Lalulintas dan Angkutan
Jalan;

BAL I ROYAL H O S P I T A L
II. Letda Tarrtular no. 6. Denpasar. Bali/T 0361.247.499. F. 0361.226.051 / E mfo@baHroyalhnspital.co.id /W. www.haliroyalliospilal.co.id
HOS P I T AL
9. Surat Keputusan Direktur PT. Putra Husada Jaya Nomor:
001/PT.PHJ/SK.Dir/I/2018 tertanggal 2 Februari 2018 tentang
Pengangkatan Direktur RSU Bali Royal;
10. Surat Keputusan Direktur PT. Putra Husada Jaya Nomor:
003/PT.PHJ/SK.Dir/II/2018 tentang Struktur Organisasi dan Tata
Kelola di RSU Bali Royal;

MEMUTUSKAN
Menetapkan
Kesatu Keputusan Direktur RSU Bali Royal tentang Panduan Pelayanan
Ambulance di RSU Bali Royal.
Kedua Panduan Pelayanan Ambulance sebagaimana dimaksud diktum kesatu
sebagaimana tercantum dalatn lampiran keputusan ini dan harus dijadikan
acuan dalam memberikan pelayanan di RSU Bali Royal.
Ketiga Keputusan Direktur Utama RSU Bali Royal Nomor: 299/BROS/SK-
DlRliT/Xll/2014 tentang Panduan Pelayanan Ambulance di RSU
Bali Royal tidak berlaku lagi.
Keenipat Keputusan ini berlaku mulai tanggal ditetapkan dan apabila dikemudian
hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan dirubah dan diatur
kembali sebagaimana mestinya

Ditetapkan di : Denpasar
Pada tanggal : 20 Maret 2018
Rumah Sakit Umum Bali Royal,

BALI ROYAL H O S P I T A L
jl. Letda Tantular no. 6, Denpasar, Bali / T. 0361.247.499, F. 0361.226.051 / E. info@ baliroyalhospital.co.icl / W. w w w .baliroyalhospital.co.id
D a fta r Isi

D afta r Isi................................................................................................................................................................ i

BAB 1....................................................................................................................... 1

DEFINISI.................................................................................................................. 1

BAB II...................................................................................................................... 2

RUANG LINGKUP................................................................................................... 2

BAB III..................................................................................................................... 6

TATA LAKSANA PELAYANAN AMBULANCE......................................................6

A. TATA TERTIB A M B U L A N C E ............................................................................................................6

B. PERSIAPAN PEMERIKSAAN A M B U LA N C E ................................................................................ 7

BAB IV....................................................................................................................23

DOKUMENTASI PELAYANAN AMBULANCE..................................................... 23

LAMPIRAN : STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL......................................24

ft

I
Keputusan Direktur Utama Rumah Sakit
Umum Bali Royal
Nomor : 179/BROS/SK-DIR.RS/III/2018
Tanggal: 20 Maret 2018
Tentang : Panduan Pelayanan Ambulance
di Rumah Sakit Umum Bali
Royal.

BAB I
DEFINISI
Pelayanan ambulance adalah bagian dari manajemen penatalaksanaan
penderita gawar darurat yang memerlukan keseragaman organisasi dan pedoman
yang baik, sehingga mortalitas dan morbiditas dapat ditekan serendah mungkin.
Pelayanan ambulance merupakan rangkaian yang berkesinambungan dan terdiri
dari beberapa tahap yaitu :
1. Rescue / Extrikasi
2. Resusitasi / Stabilisasi
3. Retrieve / Evakuasi
Pertolongan pertama saat terjadi cedera dapat dilakukan oleh siapapun, proses
pertolongan sangat beragam dan sering kali dijumpai masalah karena niat baik
menolong dilakukan dengan cara yang tidak benar / salah, sehingga sering kali
terjadi cedera bertambah berat. Focus perhatian sering kali tidak memperhatikan
saluran nafas/aiway dan C-Spain control, pernafasan / breathing, ventilation dan
sirkulasi/circulation yang sangat berpotensi menimbulkan kematian.
Resusitasi dilakukan di tempat kejadian (pra rumah sakit) atau di rumah sakit,
resusitasi mencangkup 3 (tiga) hal yaitu resusitasi nafas/airway, resusitasi
breathing dan ventilasi serta peredaran darah/circulation. Tindakan ini dilakukan
oleh paramedic di pra rumah sakit, kompetensi penatalaksanaan penderita gawat
darurat pada umumnya.
Setelah penatalaksanaan resusitasi, penderita selanjutnya melewati proses
rujukan /transper. Rujukan tersebut menyangkut ketersediaan tenaga medis
(kompetensi yang dimiliki), saranan maupun prasarana yang tersedia untuk tujuan
rujukan {the right patient to the right hospital by the right ambulance at the right
time)
2
BAB n
RUANG LINGKUP
Ambulance RSU Bali Royal mengacu pada standar kendaraan pelayanan medis
dari departemen kesehatan yang terdiri dari:

a. Ambulance Transportasi
b. Ambulance gawat darurat (Basic dan Advanced)

Matrik persyaratan teknis ambulance transportasi dan gawat darurat berdasarkan


standarisasi depkes :

NO JENIS AMBULANCE TRANSPORTASI GAWAT DARURAT


I Hard Ware
A Jenis kendaraan Roda 4 Roda 4
B Warna cat kendaraan Merah Metalik Silver
C Perlengkapan kendaraan V V
1 Pendingin ruangan V V
2 Sirine (1-2 nada) V V
3 Lampu rotator warna Merah V V
4 Sabuk pengaman pengemudi V V
5 Sabuk pengaman petugas V V
D Isi dan luas ruangan kendaraan
1 Penempatan alat medis V V
2 Almari obat V V
3 Lampu penerangan V V
Sumber listrik 12volt DC (stop
4 V V
kontak)
1 stretcher 1 stretcher
5 Luas ruang kendaraan
1 petugas duduk 1 petugas duduk
Cukup terang
6 Lampu ruangan Cukup terang Dapat bergerak dan
dilipat
7 Tambahan - Temapat sampah

3
E Perlengkapan petugas (APD) V
F Kualifikasi petugas
1 Dokter ATCLS dan lain-lain ATCLS dan lain-lain
Paramedis BTCLS dan lain-lain BTCLS dan lain-lain
Non medis BHD BHD
G Perlengkapan medis
Pemeriksaan Umum
Tensimeter, stethoscope,
1 V V
thermometer dan senter
Airway — V
1 Tongue Spatel metal — V
2 Magil forceps — V
3 Portable suction, suction electric — V
4 Chateter suction — V
5 OPA (Gudel) — V
6 NPA — V
7 LMA — V
8 ETT — V
9 Laringoscope Dewasa — V
10 Mandrein / Stylet — 'J
11 Ky Jelly — V
12 NGT — V
Breathing — V
Tabung 02, regulator &
1 V V
humidifier (statis)
Tabung 02 portable dan Regulator
2 — V
portable
3 Ambu Bag Dewasa & Anak — V
Sungkup Ambu bag Dewasa &
4 — V
Anak
5 Conector Ambu bag —
V

4
Selang 02 nasal canul dewasa dan
6
anak
V
Selang 02 non Rebreathing mask
7
dewasa dan anak
— V
8 Ventilator portable —
Circulation
1 IV Cateter —
2 Tranfiision set —
3 Infusion set makro & Mikro — V
Cairan kristaloid, koloid dan
4 — V
dextrose
5 Foley Chateter & Urine bag — V
Spuit, Wing Needle, threeway
6 — V
stopcock
7 Tourniquet — V
8 Monitor pasien — V
9 AED chest electrode — V
Trauma Set
1 Collar neck — V
2 Wound toilet — V
3 Gunting Verband — V
4 Kasa steril, verban balut — V
5 Plaster, hipapix —
V
6 Elastis bandage —
V
7 NaCL 0,9% —
V
Spalk kaki & tangan dewasa &
8 — V
Anak
Transport / Evakuasi
1 Stretcher V V
2 Long spine board V V
3 Scope stretcher — V

5
4 Incubator transport V
Obat-obatan
1 Obat Bantuan Hidup Dasar — V
2 Obat-obat stabilisasi — V
3 Obat-obat definitive — V
4 Cairan cristaloid — V
H Alat Komonikasi
1 Radio medic V V
2 Mobile Phone V V
II Soft Ware
A Kendaraan
1 Buku Operasional Kendaraan V V
2 Buku Pemeliharaan Kendaraan V V
B Peralatan medis
1 Buku Operasional V V
2 Buku Pemeliharaan alat medis V V
C SPO
1 Penanganan Pasien V V
2 Operasional Ambulance V V
3 Komonikasi dan Informasi V V
Pemeriksaan Kesiapan Alat Medic
4 V V
Ambulance
Membersihkan dan dekontaminasi
5 V V
ambulance
Penilaian kebutuhan transportasi
6 V >/
pasien

6
BAB III
TATA LAKSANA PELAYANAN AMBULANCE

A. TATA TERTIB AMBULANCE

1. Pada saat menuju tempat pasien boleh menggunakan sirine dan lampu
rotator
2. Pada saat mengangkut pasien hanya boleh mengunakan lampu rotator
3. Semua peraturan lalulintas harus di taati
4. Kecepatan maksimum 40 km / jam di jalan biasa dan 80 km / jam di
jalan bebas hambatan
5. Petugas membuat laporan keadaan penderita selama transportasi, yang
disebut dengan lembar catatan penderita yang mencakup identitas
pasien waktu dan keadaan penderita
6. Petugas memakai seragam dengan identitas yang jelas
7. Setelah selesai melakukan transportasi harus langsung menuju Rumah
Sakit.
8. Penggunaan ambulance harus sesuai fungsi dari masing-masing
ambulance
a. Ambulance transport
Pengangkutan penderita yang tidak memerlukan perawatan khusus
/ tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa dan diperkirakan
tidak akan timbul kegawatan selama dalam perjalanan.
b. Ambulance gawat darurat
Pengangkutan penderita gawat darurat yang sudah di stabilkan ke
tempat pelayanan devinitive. Pasien memerlukan pengawasan
medik khusus dan memungkinkan tindakan resusitasi dalam
perjalanan rujukan
9. Penggunaan ambulance untuk transportasi diluar ketentuan tsb seperti
antar jemput dokter, atau perawat dan lain-lain harus mendapat
persetujuan Direktur.
10. Tarif pelayanan mengacu pada tarif pelayanan ambulance yang
dikeluarkan oleh rumah sakit

7
B. PERSIAPAN PEMERIKSAAN AMBULANCE

1. Mesin mati
- Periksa seluruh bodi ambulance
- Periksa roda / ban tekanan
- Periksa spion dan jendela, pastikan spion bersih dan berada di
posisi yang tepat
- Periksa fungsi setiap pintu dan kursi
- Periksa bagian system pendingin
- Periksa jumlah cairan kendaraan termasuk minyak mesin, air
radiator, pelumas, rem air aki, dan pelumas setir
- Periksa portal indicator aki dan tanda-tanda korosi
- Periksa kebersihan kabin termasuk dashboard
- Periksa fungsi j endela
- Tes fungsi klakson
- Tes fungsi sirene
- Periksa sabuk pengaman
- Posisikan kursi pengemudi senyaman mungkin
- Periksa jumlah bahan bakar dan bila perlu isi bahan bakar

2. Mesin Hidup
Nyalakan mesin dan keluarkan ambulance dari ruang penyimpanan
dan pemeriksaan sebagai berikut:
- Tes fungsi indicator di dashboard
- Periksa meteran yang terletak di dashboard
- Tes fungsi rem
- Tes fungsi rem tangan
- Tes fungsi stir
Periksa fungsi wifer
Tes fungsi lampu
- Periksa fungsi pendingin baik di komponen pasien

8
- Periksa perlengkapan komunikasi
Untuk memudahkan pemeriksaan dapat juga menggunakan akronim
(EWAGON)
a. Enggine : Periksa mesin baik / tidak
b. Water : Periksa air radiator, wiper, air cadangan
radiator, air accu sesuai dengan petunjuk
pemakaian.
c. Air : Periksa tekanan udara ban cukup atau
tidak, AC dan blower berfimgsi baik atau
tidak
d. Gas : Periksa bahan bakar minyak (solar /
premium) sesuai petunjuk pemakaianatau
tidak
e. Oil Periksa indicator oli mesin dan minyak
rem sesuai petunjuk pemakaian
f. Noise : Dengarkan suara mesin normal atau tidak
g. Elektrikal system : Periksa dan lihat lampu dekat, lampu jauh,
sign hazard, rotator, sirine, lampu kabin
depan dan belakang, dan lampu-lampu
indicator menyala atau tidak dan pecah
atau tidak.
h. Body : Periksa seluruh bodi mobil bersih dan
mulus, ada kerusakan atau tidak
i. Alat penunjang : periksa toolkit, dongkrak, ban serep,
triangle hazard, dan APAR tersedia pada
tempatnya
j. Kondisi ban : Periksa kondisi ban mobil, kembang ban
baik atau sudah gundul, apakah retak atau
sobek
k. Sabuk pengaman : Pemeriksaan dan coba sabuk pengamanan
masih dalam kondisi baik atau tidak, kain
sabuk pengaman sobek atau tidak.

9
3. Pemeriksaan persediaan dan perlengkapan kompartemen pasien
a. Periksa tekanan tabung oksigen
b. Periksa semua perlengkapan oksigen dan ventilasi berfungsi
dengan baik
c. Bersihkan debu dan cari tanda-tanda kerat pada alat rescue
d. Nyalakan semua peralatan bertenaga aki untuk memastikan
kinerjanya
e. Lakukan pemeriksaan tambahan pada alat khusus seperti monitor
pasien, suction electric dan AED (Automated External
Defibrillation)
f. Lenkapi laporan pemeriksaan, Perbaiki kerusakan, ganti barang-
barang yang hilang.
g. Bersihkan kompartmen untuk menghindari resiko infeksi

4. Standar kelengkapan alat ambulance gawat darurat ( Advance)


1. Alat Non Medis
a. Kunci inggris Ada / tidak
b. Alat kebersihan Lengkap / tidak
c. Alat tenun Bersih / kotor
d. Administrasi & dokumentasi Ada / tidak
e. Alat komonikasi Baik / rusak
f. Alat teknik untuk ambulance Lengkap / tidak
g. Alat Perlindungan diri (APD) Lengkap / tidak
Alat Medis
a. Airway Lengkap / tidak
b. Breathing Lengkap / tidak
c. Circulation Lengkap / tidak
d. Alat proteksi diri (APD) Lengkap / tidak
Penunjang Evakuasi dan transportasi
a. Stretcher Baik / rusak
b. Scope stretcher Baik / rusak

10
c. Safety belt : Baik / rusak
d. Long spine board : Baik / rusak
e. Neck collar, bidai : Lengkap / tidak
5. Mengoperasikan Ambulance
a. Syarat pengemudi ambulance
1. Sehat secara fisik
2. Sehat secara mental
3. Bisa mengemudi di bawah tekanan
4. Memiliki keyakinan positif atas kemampuan diri
5. Bersikap toleran selalu ingat bahwa pengemudi lain akan
bereaksi berbeda ketika mengetahui kendaraan gawat darurat.
6. Tidak dalam pengaruh obat-obatan berbahaya, terlarang dan
obat penenang
7. Mempunyai SIM yang masih berlaku
8. Jika dibutuhkan, kacamata dan lensa kontak haras selalu di
pakai
9. Evaluasi keadaan diri sendiri berdasarkan respon terhadap
tekanan, kelelahan dan rasa kantuk
10. Mempunyai sertifikat paramedic level 1 (basic) atau BHD
b. Operasional Ambulance
1. Setiap hari ambulance yang disiapkan untuk operasional
berjumlah 3 buah
2. Penentuan layak tidaknya ambulance untuk operasional
ditentukan oleh coordinator sopir ambulance dan penanggung
jawab medis ambulance dengan memperhatikan ceklist yang
di buat oleh perawat dan sopir.
c. Aturan di jalan
Ambulance memiliki hak-hak khusus saat menggunakan
jalan, jika digunakan untuk respon gawat darurat. Hak-hak khusus
tidak berlaku jika tidak dalam respon gawat darurat. Menurat UU
No. 22 Tahun 2009 pasal 134, pengguna jalan yang memperoleh
hak utama untuk didahulukan sesuai dengan uratan berikut:

11
1. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang
melaksanakan tugas
2. Ambulance yang mengangkut orang sakit
3. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada
kecelakaan lalu lintas
4. Kendaraan pimpinan lembaga Negara Republik Indonesia
5. Kendaraan pimpinan dan pejabat Negara Asing serta
lembaga internasional yang menjadi tamu Negara.
6. Iring-iringan pengantar jenasah
7. Konvoi dan kendaraan untuk kepentingan tertentu
menurut pertimbangan petugas kepolisian Negara
Republik Indonesia.
8. Respon gawat darurat ini haras di tunjukkan dengan
menghidupkan alat peringatan (warning device) berapa
sirene dan lampu rotator. Sebagaimana bunyi UU No.22
tahun 2009
9. Resiko kecelakaan tetap ada, sehingga pengemudi tetap
haras memiliki kewaspadaan tinggi, memperdulikan
keselamatan pengemudi lain dan tidak ceroboh.
10. Hak-hak khusus ini meliputi:
- Memarkir kendaraan dimanapun selama tidak
membahayakan orang lain dan tidak merasak hak
milik orang lain.
- Melewati lampu merah dan tanda berhenti lain
- Melewati batas kecepatan maksimum yang
diperbolehkan selama tidak membahayakan nyawa
orang lain
- Mendahului kendaraan lain di daerah larangan,
mendahului setelah member sinyal yang tepat,
memastikan jalur aman dan menghindari hal-hal
yang dapat membahayakan nyawa dan harta benda

12
Mengabaikan arah jalur dan aturan belokan setelah
memberi sinyal yang tepat.

d. Penggunaan Alat Peringatan (Warning Device)


Alat peringatan bukanlah segalanya, penelitian
membuktikan bahwa pengemudi lain tidak melihat rotator atau
mendengar sirene sampai jarak antara 15-30meter.
e. Sirine
1. Sirine adalah alat peringatan audio
2. Gunakan sirine dengan bijak dan hanya ketika perlu. Sirine
hanya digunakan saat respon gawat darurat. Suara sirine
dapat menambah rasa takut dan cemas pasien. Jika terlalu
sering digunakan, pengemudi lain cenderung tidak memberi
jalan karena dianggap sebagai penyalahgunaan.
3. Selalu waspada meski sudah membunyikan sirine. Adanya
bangunan, pepohonan, semak belukar dan radio tape dapat
menghalangi bunyi sirine
4. Selalu waspada terhadap manuver aneh pengemudi lain yang
menjadi panic karena suara sirine.
5. Jangan membunyikan sirine secara tiba-tiba di dekat
kendaraan lain, gunakan klakson.
6. Jangan gunakan sirine untuk menakut-nakuti orang.
f. Lampu rotator
1. Berdasarkan UU No 22 tahun 2009 tentang lalulintas dan
angkatanjalanpasal 59 ayat 5
2. Lampu isyarat-isyarat yang digunakan oleh ambulance
adalah berwarna merah
3. Rotator, lampu peringatan dan semua lampu lain harus
dinyalakan pada respon gawat darurat.

13
g. Kecepatan dan keselamatan
1. Kecepatan yang berlebihan dapat meningkatkan
kemungkinan terjadinya kecelakaan
2. Kecepatan yang tinggi membutuhkan jarak yang lebih
panjang untuk berhenti
3. Pastikan pengemudi dan semua penumpang menggunakan
sabuk pengaman saat ambulance berjalan.
h. Kendaraan Pengiring dan Forwarder
1. Keadaan iring-iringan kendaraan meningkatkan risiko
kecelakaan karena jarak yang terlalu dekat, berhenti
mendadak dan respon pengemudi lain
2. System EMS tidak merekomendasikan iring-iringan
ambulance dengan kendaraan lain kecuali lokasi tujuan tidak
diketahui.
i. Jalur Alternatif
1. Perkiraan waktu sampai tujuan / estimated time of arrival
(ETA) harus diketahui dengan baik, sehingga pertimbangan
untuk mencari jalur alternative dapat segera di buat.
2. Dapatkan peta detail wilayah pelayanan untuk segera
mencari jalur alternative
j. Posisi Parkir di Lokasi Kejadian / Bencana
1. Lakukan penilaian lokasi kejadian dengan cepat termasuk
menentukan area bahaya dan jalur evakuasi
2. Ambulance di parkir sekurangnya 30meter dari lokasi
kejadian Jika ada tanda bahaya seperti nyala api atau
kebocoran cairan dan asap. Jika tidak ada tanda bahaya
ambulance di parkir sekurangnya 15 meter .
3. Rem tangan harus ditarik dan sebaiknya di tambah penggajal
roda
4. Jika anda kendaraan penolong yang pertama datang parkir di
belakang lokasi kejadian (dari arah datang). Sehingga lampu

14
peringatan kita dapat memperingatkan kendaraan lain yang
mendekat sebelum tanda lain diletakkan
5. Jika lokasi kejadian telah di amankan, parkirlah di depan
lokasi kejadian untuk mencegah ambulance anda tertabrak
arus lalulintas dari belakang.
6. Ambulance sebaiknya tidak berjalan mundur, tetapi jika
terpaksa harus ada orang lain yang memandu, karena
pengemudi ambulance memiliki keterbatasan pandangan kea
rah belakang.

k. Memindahkan pasien ke ambulance


1. Pasien harus sudah di periksa kondisinya, dilakukan
prosedur penanganan gawat darurat jika dibutuhkan, di
stabilisasi dan kemudian barn di pindahkan ke ambulance.
2. Pada kasus tertentu yang tidak mungkin intervensi di tempat,
seperti lokasi yang berbahaya, atau pasien memerlukan
prioritas tinggi, maka pemindahan dapat dilakukan terlebih
dahulu.
3. Jika curiga cedera spinal, stabilisasi harus segera dilakukan.
Cervical collar harus terpasang dan pasien harus di
mobilisasi dengan spinal board.
l. Stabilisasi
1. Stabilisasi adalah urutan tindakan untuk mempersiapkan
pasien sebelum di pindah.
2. Stabilisasi meliputi:
a. Kondisi ABCD
b. Perawatan luka dan cidera lain
c. Pemasangan balut dan bidai
d. Pemakaian selimut untuk menjaga suhu tubuh
e. Alat pengangkut harus terfiksir kepada pasien dengan
baik, tali pengikat minimal diletakkan di tiga tempat.
v'' Setinggi dada

15
y Setinggi pinggang atau panggul
S Setinggi tungkai
y Pada prinsipnya pemindahan harus dilakukan secepat
mungkin mengingat kondisi pasien
6. Langkah-langkah sebelum transportasi pasien
a. Penilaian awal
1. Pastikan keselamatan diri sendiri dan lingkungan, gunakan
sarung tangan, pakaian pelindung, kaca mata
2. Jumlah pasien
Minta bantuan jika diperlukan
3. Mekanisme cedera
Curigai cedera / penyakit yang spesifik
4. Dapatkan kesan umum tentang umur, jenis kelamin, berat
badan, posisi, cidera minor dan mayor yang kelihatan.
5. Dapatkan informasi mengenai data-data korban, riwayat
penyakit
b. Tingkat kesadaran
1. A = Alert
2. V = Verbal
3. P =Pain
4. U = Unresponsive
c. Primeri Survey
1. Airway
y Pastikan dan amankan saluran nafas
y Jika tidak ada respons, bebaskan jalan nafas
y Imobilisasi tulang leher jika trauma
2. Breathing
y Periksa pernafasan : lihat, dengar, dan rasakan
y Jika bemafas perhatikan frekuensi dan dalamnya
pernafasan
y Jika tidak bernafas segera lakukan pernafasan buatan
y Berikan oksigen

16
3. Circulation
V Periksa arteri karotis
V Periksa perdarahan
V Hentikan perdarahan
V Lakukan RJP
4. Disability
V GCS
V Pupil
5. Exsposure
V Periksa bagian belakang dengan tehnik log roll
V Cegah hipotermi
6. Five Intervention
V Perencanaan laboratorium
V Perencanaan rontgn
V Pasang catheter
V Pasang NGT
V Pasang heart monitor
7. Give comport
V Intervensi nyeri
V Intervensi mual, muntah
d. Secondary survey
1. History / anamnesa dengan SAMPLE
2. Head to toe / pemeriksaan fisik
3. Vital sign
7. TRANSPRORTASI
a. Penentuan Tujuan
1. Pasien kritis dapat dapat dipindahkan ke rumah sakit lain
dengan fasilitas gawat darurat terdekat
2. Termasuk dalam kategori diatas adalah :
> Henti nafas atau henti jantung
> Sumbatan jalan nafas yang tidak dapat diatasi
> Kejang berulang atau sedang terjadi

17
> Trauma mayor
> Amputasi
> Pasien luka bakar
> Persalinan iminen
> Sempat infark miokard pada pasien lebih dari 40 tahun
dengan nyeri dada hebat.
3. Pasien yang stabil dapat dipindahkan ke RS yang menjadi
pilihannya atau berdasarkan keputusan DPJP
4. Gunakan rute dan kecepatan yang sesuai menuju RS tujuan.
Pilih rute alternative yang sesuai jika rute normal tidak
memungkinkan pasang sabuk pengaman. Gunakan sirine dan
lampu sesuai kondisi.
5. Jika pasien memburuk selama perjalanan dan kemungkinan
hidup menuju RS yang dituju meragukan maka pasien dapat di
transport ke IGD rumah sakit yang mampu melakukan
pertolongan sesuai kondisi pasien.
b. Sebelum berangkat
1. Sebelum transportasi, pastikan hal-hal berikut
a) Kondisi vital meliputi jalan nafas, pemafasan dan sirkulasi,
pastikan ikatan pada alat pengangkut / stretcher tidak
menyebabkan pasien kesulitan bernafas jika pasien tidak
sadar,pastikan pasien mendapatkan pertukaran udara yang
cukup.
b) Keamanan posisi alat pengangkut di dalam ambulance
2. Persiapkan jika timbul perburukan kondisi pernafasan dan
sirkulasi dengan meletakkan spine board pendek atau papan
RJP di bawah matras
3. Longgarkan pakaian yang ketat
4. Periksa posisi balut dan bidai
5. Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani
pasien. Mereka harus di tempatkan di kabin pengemudi dan

18
memakai sabuk pengaman dengan baik agar tidak
mempengarugi peruses perawatan pasien.
6. Naikkan barang pribadi seperti dompet, koper,dan tas serta
pastikan barang-barang tersebut aman di ambulance jika
memungkinkan, beritahu petugas keamanan tentang hal ini.
c. Selama perjalanan
1. Lengkapi riwayat penyakit dan secondary survey
2. Lanjutkan perawatan kegawat daruratan yang dibutuhkan
3. Catat dan monitoring vital sign secara terns menerus
4. Lakukan monitoring dan observasi berkelanjutan yang berfokus
pada airway, breathing, circulation dan tingkat kesadaran.
5. Jika terjadi kondisi perburukan pada salah satu atau lebih
komponen ABCD lakukan ulang primary survey dan laukan
resusitasi
6. Yakinkan alat yang anda perlukan terjangkau dan siapkan alat
yang mungkin anda perlukan sesuai kondisi pasien
7. Pertahankan komonikasi dengan pasien untuk memeriksa
respon pasien
8. Jika pasien gelisah
a. Perbaiki ABCD
b. Lakukan restrain jika pasien membahayakan diri sendiri
dan orang lain.
9. Koordinasikan dengan pengemudi tentang kondisi pasien dan
cara mengemudinya. Pengemudi perlu menyesuaikan
kecepatan dan cara mengemudinya sesuai kebutuhan pasien.
10. Jika teijadi henti jantung RJP haras dilakukan dalam kondisi
ambulance berhenti, pastikan DPJP dan fasilitas rajukan
mengetahui kejadian ini.

19
d. Sampai di tempat rujukan
1. Jika kondisi tempat rujukan cukup ramai, jangan terburu-buru
menurunkan pasien, lanjutkan penanganan pasien di atas
ambulance sampai ada petugas yang siap mengambil alih.
2. Dampingi petugas yang akan mengambil alih
> Lakukan operan / komunikasikan dengan petugas penerima
dengan tehnik SBAR
> Serahkan barang pribadi pasien
> Minta diri untuk meninggalkan tempat rujukan
3. Kembalikan peralatan ambulance ke tempat semula
4. Tukar barang-barang yang melekat pada pasien dengan milik
rumah sakit jika memungkinkan
> Prinsifnya adalah “satu untuk satu”
> Termasuk dalam hal ini: balut steril, verban, masker
oksigen, sarung tangan, alat bantu nafas.
> Jika ada program pertukaran yang baik dengan rumah sakit,
bidai spinal dapat langsung di tukar dengan logistic rumah
sakit, bidai, spinal board,
> Keuntungannya adalah
• Tidak ada resiko perburukan cidera pasien akibat
proses tukar-menukar
• Kru ambulance tidak perlu berlama-lama di rumah
sakit
> Segera periksa kelengkapan dan fungsi barang yang
ditukar, dan Iaporkan jika kerusakan.
5. Segera setelah tidak menangani pasien, buat laporan tertulis
sebainya mencari tempat tenang untuk melakukan ini
e. Kembali dari tempat rujukan
1. Dalam perjalanan kembali selalu isi ulang bahan bakar hingga
penuh
2. Bersihkan dengan cepat kopartemen pasien menggunakan
sarung tangan

20
> Bersihkan darah, muntahan dan cairan tubuh lain yang
mongering di permukaan mobil termasuk stretcher
> Buang sampah medis termasuk verban dan pembalut yang
sudah terbuka dan belum digunakan
> Bersihkan sampah kotoran non medis
> Gunakan pengharum ruangan untuk menetralkan bau yang
ada
3. Bersihkan dan desinfeksi peralatan medis
> Bersihkan dan lakukan prosedur disinfeksi pada barang non
disposable
> Ganti barang-barang sekali pakai (disposable) dengan
cadangan
4. Mengecek fungsi stretcher ambulance
f. Penolakan perawatan
1. Pasien / keluarga harus sudah dijelaskan tentang kondisi
penyakit, tindakan / transper yang harus dilakukan dan
resikonya serta resiko jika tindakan / transper tidak dilakukan
2. Inform consen harus di dokumentasikan dengan benar
GO

Jika orang tua atau wali menolak sedangkan kondisi cidera /


penyakit bersifat mengancam jiwa, maka perawatan dan
transportasi dapat dilakukan tanpa persetujuan mereka. Tujuan
transportasi harus di sampaikan, situasi ini harus dicatat dengan
baik
4. Jika orang tua wali menolak tindakan dan kondisinya tidak
mengancam jiwa maka harus dijelaskan dan di yakinkan
tentang kemungkinan yang akan terjadi, jika tetap menolak
bantuan perawat dan transportasi harus di hentikan dan
kejadian ini harus di dokumentasikan.
g. Pasien dengan gangguan emosional
1. DPJP bertanggung jawab untuk menentukan keamanan petugas
ambulance dan transper pasien.

21
2. Petugas ambulance dapat memutuskan untuk menunda
tindakan sampai ada jamianan keamanan
3. jika pasien gangguan jiwa itu cukup sadar dan memutuskan
untuk meminta pertolongan serta DPJP melihat bahwa tindakan
cukup aman dilakukan, transportasi dapat dilakukan tanpa
jaminan keamanan
h. Kematian yang belum di pastikan
1. Jika timbul kondisi kematian yang belum di tetapkan, tindakan
resusitasi harus tetap dilakukan
2. Jika kematian sudah ditetapkan, kejadian harus dicatat dengan
baik, ter masuk waktu, tempat dan nama petugas yang ada
3. DPJP dan rumah sakit rujukan harus diberitahu secepatnya

i. Bencana masal
1. Jarak aman ambulance dari tempat kejadian adalah 30-50meter
2. Berlawanan dengan arah angin
3. Command dan control bersama- sama dengan security dan
rescue
4. APO Ambulance Parking Officer bertugas mengatur lokasi
ambulance dan kendaraan lain yang datang ke lokasi
5. ALO-Ambulance Loading Officer bertugas menentukan korban
yang akan di evakuasi (dirujuk)
6. Ado - Ambulance Dispatch Officer bertugas mencatat
identitas, data korban dan rumah sakit rujukan sesuai dengan
warna kartu triage.

Ambulance Gawat Darurat RSU Bali Royal akan merespon


setiap kejadian bencana ataupun korban masal apabila kondisi
bencana / korban masal tersebut memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Terjadinya structure collaps / Kerusakan infrastruktur
2. Terjadinya fungsional collaps / tidak ada personil / petugas di
rumah sakit atau di tempat korban bencana / korban masal.

22
3. Terjadinya penurunan kualitas pelayanan medis di tempat
bencana / korban masal.

23
BAB IV
DOKUMENTASI PELAYANAN AMBULANCE

1. Buku Operasional Kendaraan

2. Buku Pemeliharaan kendaraan

3. Buku pemakaian dan operan dan alat medis

4. Form monitoring pasien dalam ambulance

5. SPO Pemakaian Kendaraan

6. SPO Dekontaminasi Ambulance

7. Ceklist Kesiapan Ambulance

Ditetapkan di : Denpasar
Pada Tanggal : 20 Maret 2018
Rum&|i Sakit Umum Bali Royal

V dr. Dwi Ariawan


''Direktur
T Rumah
^ iro lH -n r T Sakit Umum Bali Royal
?nm ah Q

24