Anda di halaman 1dari 11

SUPLEMENT PENAMBAH PROKDUTIVITAS AYAM KAMPUNG

PROPOSAL

Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah

Enterpreneurship 1

Yang dibina Drs. Agus Dharmawan, M.Si

Oleh :

Offering H

Kelompok 1

1. Aulia Qori L (1603426062

2. Dina (1603426062

3. Dinda Tri Yunisa (160342606229)

4. Faris Nizarghazi (160342606288)

5. Rima Girinita Sari (160342606230)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGATAHUAN ALAM

PRODI BIOLOGI

MEI 2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Ayam kampung atau ayam buras sudah banyak dikenal oleh masyarakat dan banyak
dibudidayakan di pedesaan. Karena perawatannya tergolong mudah, daya tahan hidupnya
cukup tinggi, adaptasi dengan lingkungan dan makanan mudah serta banyak digemari
masyarakat karena baik daging maupun telurnya memiliki cita rasa yang lebih disukai
dibandingkan ayam ras ( Krista dan Bagus, 2010 ). Rasa daging ayam kampung jauh lebih
lezat. Harga jual ayam kampung pun jauh lebih mahal dibandingkan dengan ayam ras. Telur
yang dihasilkan harga jualnya lebih tinggi daripada telur ayam ras. Padahal, ukuran telur
ayam kampung lebih kecil. Hal ini dikarenakan telur ayam kampung dipercaya memiliki
khasiat yang baik untuk kesehatan (Nawawi dan Nurrohmah 2013).

Selain kelebihan-kelebihan tersebut, ayam kampung juga memiliki beberapa kelemahan,


antara lain sulitnya memperoleh bibit yang baik dan produksi telurnya yang lebih rendah
dibandingkan ayam ras, pertumbuhannya relatif lambat sehingga waktu pemeliharaannya
lebih lama, keadaan ini terutama disebabkan oleh rendahnya potensi genetik (Suharyanto,
2007). Dan produktivitas ayam kampung masih relatif rendah karena sistem pemeliharaan
dan manajemen pakan yang kurang baik. Sementara ayam lokal dan produknya merupakan
komoditi andalan strategis yang berpotensi dan berpeluang yang menjanjikan baik secara
ekonomis maupun sosial, sehingga perlu penanganan dan pengembangan yang lebih intensif.
Ternak ayam lokal bagi masyarakat perdesaan di Indonesia merupakan komoditi andalan
strategis yang berpotensi dan berpeluang di masa depan, baik secara ekonomi maupun sosial.,
sehingga perlu dipikirkan penanganan serta pengembangannya. Namun produktivitasnya
masih relatif rendah, karena sistem pemeliharaan dan manajemen pakan yang kurang baik
(Iskandar et al., 1992). Oleh karena itu perlu dilakukan suatu strategi dengan membuat
suplement penambah produktivitas ayam kampung.

1.2 Tujuan
1. Untuk meningkatkan produktivitas ayam kampung.
2. Untuk mengembangkan potensi dalam pembuatan suplement penambah produktivitas
ayam kampung.
1.3 Output

Dari usaha ini didapatkan total output sebesar :

= (total biaya variabel + 5% biaya tak terduga)

= (Rp. 94.960 + Rp. 48.000)

= Rp. 142.690
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Ayam Kampung

Ayam kampung merupakan plasma nutfah Indonesia yang mempunyai potensi untuk
dikembangkan karena memiliki daya adaptasi tinggi.Ayam kampung mempunyai peranan
penting dalam pembangunan peternakan, terutama untuk penyediaan daging yang
mempunyai rasa dan tekstur yang khas. Hal ini dapat dilihat dari potensinya dalam
menyumbangkan daging dan telur di Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh dari
Direktorat Jenderal Peternakan (2010), populasi ayam kampung pada tahun 2005 sampai
dengan 2009 berturut-turut 278.953.778 ekor, 291.085.191 ekor, 272.251.141 ekor,
243.423.389 ekor, 261.398.127 ekor, sedangkan untuk produksi telur ayam kampung
tahun 2005 sampai dengan 2009 berturut-turut 301.427 ton, 341.254 ton, 294.889 ton,
273.546 ton, 282.692 ton. Namun, kualitas telurnya masih harus ditingkatkan. Salah
satunya adalah kualitas eksterior telur yang berhubungan dengan bobot telur (gram) dan
indeks telur (%) (Melviyanti 2013).

Ayam kampung sering juga disebut ayam bukan ras yang disingkat ayam buras.
Secara umum, istilah ayam buras mengacu pada ayam yang tidak lagi memiliki ras
tertentu karena perkawinan yang liar. Yang dimaksud ayam liar adalah ayam yang sudah
kawin dengan ayam lain yang tak jelas lagi keturunanya (Nawawi dan Nurrohmah 2013).

2.2 Pakan Ayam Kampung

Pakan atau feed adalah segala sesuatu yang dapat di makan oleh ternak untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Pakan dan pangan mempunyai banyak kemiripan,
perbedaannya terletak pada cara pemanfaatan dan pengolahannya. Pada dasarnya, pakan
ternak mengandung empat golongan zat makanan, yaitu karbohidrat, protein, lemak, dan
zat-zat mineral. Adapun energi sebagai unsur vital yang mendukung kehidupan ternak
diperoleh dari karbohidrat, lemak, protein. Energi yang terkandung dalam pakan tersebut
berfungsi untuk melangsungkan reaksi fisika dan biologi, aktivitas kehidupan ( misalnya,
bergerak, bernapas, pengaturan suhu tubuh, mencerna makanan, dan bereproduksi),
melangsungkan pertumbuhan dan perkembangan, serta memproduksi daging, susu, telur
dan tenaga(Nawawi dan Nurrohmah 2013).
Persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu bahan pakan adalah bahan baku pakan
tidak boleh bersaing dengan bahan baku pangan. Produk utama pertanian yang
merupakan bahan baku pakan sebaiknya di pilih dalam bentuk produk sampingan dan
limbahnya. Hal tersebut dimaksudkan agar bahan baku dapat diperoleh dengan harga
yang murah secara berkelanjutan. Sebagai contoh, produk samping dan limbah
pengolahan padi menjadi beras merupakan bahan baku yang berlimpah untuk pakan,
misalnya dedak, menir, sekam, dan jerami; harus tersedia dalam waktu yang lama
(berkesinambungan); produksi bahan baku pakan yang dapat menjamin ketersediaannya;
harga murah dan berkualitas baik. Bahan baku pakan yang memiliki kandungan yang
jelek tidak akan digunakan meskipun harga absolutnya murah, ketersediaannya banyak,
dan berkelanjutan. Persaingan untuk mendapatkan bahan baku pangan manusia dan
pakan ternak telah memberikan pilihan-pilihan yang harus dilakukan oleh pabrik pakan.
Tujuannya agar bahan baku pakan mudah di peroleh dengan harga murah dan
ketersediaannya berkelanjutan, baik jumlah maupun kualitasnya(Nawawi dan
Nurrohmah 2013).

Bahan pakan sumber energi dapat berupa jagung kuning (>50%), bekatul, tapioka,
polar atau wheat bran, minyak nabati dan lemak hewan. Protein nabati dapat diperoleh
dari bungkil kedelai atau SBM (soybean meal), CGM (corn gluten meal), bungkil kacang
tanah, bungkil kelapa, ampas kecap dan biji kapuk. Protein hewani diperoleh dari MBM
(meat bone meal), tepung ikan dan PBM (poultry by product meal). Selain itu, dalam
pakan juga mengandung zat-zat, seperti zat aditif (pencampuran atau premiks), vitamin,
asam amino, pemacu pertumbuhan, koksidiostat, antijamur, antioksidan, perekat,
pigmen, dan rasa (Retnani 2011).

2.3 Kandungan Suplement


BAB III

3.1 METODE

3.2 Teknik Produksi

a. Alat dan Bahan

 Alat :
1. Wajan
2. Timbangan digtal
3. Kompor gas
4. Wajan
5. Spatula
6. Saringan
 Bahan
1. Susu murni
2. Air kelapa tua
3. Tetes 1 liter
4. Vitamin C
5. Temulawak
6. Kunir
7. Tepung Ca
b. Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Menimbang semua bahan sesuai dengan takaran.
3. Dikupas kulit temulawak dan kunir.
4. Diparut temulawak dan kunir sampai halus.
5. Diperas hasil parutan dengan saringan.
6. Setelah semua bahan siap, dimasukkan semua bahan ke dalam wajan.
7. Dinyalakan kompor untuk memanaskan bahan dengan api sedang.
8. Diaduk dengan menggunkan spatula sampai menjadi mengering (menjadi serbuk).
BAB IV

ANALISIS USAHA

Analisis Usaha

No Uraian Satuan Jumlah Harga Rupiah


satuan (Rp)
(Rp)
BIAYA VARIABLE
1 Air kelapa tua Liter 1 8.000 8.000
2 Tetes Liter 1 13.000 13.000
3 Vitamin C Gram 1 3.000 3.000
4 Temulawak Kg 1 8.000 8.000
5 Kunir Kg 1 13.000 5.000
6 Tepung kalsium Kg 1 20.000 20.000
7 Plastik Bungkus 133 150 19.959
8 Elpiji 3 Kg Kg 1 18.000 18.000
TOTAL 94.950
BIAYA TETAP
8 Parut Buah 1 7.500 7.500
9 Timbangan Buah 1 30.000 30.000
digtal
10 Kompor gas Buah 1 230.000 230.000
11 Wajan Buah 1 30.000 30.000
12 Sepatula Buah 1 5.000 5.000
TOTAL 302.000

A. Biaya Variable
Total biaya variable yang dikeluarkan dalam usaha ini sebanyak Rp. 94.950
B. Biaya Tetap
Total biaya tetap yang dikeluarkan dalam usaha ini sebesar Rp. 302.000
C. Total Biaya Produksi
Total biaya produksi keseluruhan = (Total biaya variable + Total biaya tetap) + biaya
tak terduga 5%
= (Rp. 94.950 + Rp. 302.000) + Rp. 20.500
= Rp.396.950 + Rp. 20.500
= Rp. 417.450

Pendapatan =Jumlah kemasan yang dihasilkan 200 biji.

1 biji x Rp.1000

=Rp.1000x 200

=Rp.200.000

D. Keuntungan Produksi
Pendapatan - biaya-biaya = Rp.200.000,00 – Rp. 94.950,00
=Rp. 87.950,00
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

a) Ayam kampung memiliki pertumbuhan yang lambat dengan bobot yang kurang.
Dengan adanya suplement ini maka dapat membantu meningkatkan produktivitas
dalam jangka yang normal.
b) Pembuatan suplement untuk menambah produktivitas ayam kampung menggunakan
bahan-bahan yang mudah didapat dan tidak mengeluarkan biaya yang cukup banyak.
Bahan yang digunakan juga mengandung gizi atau pertubuhan yang baik untuk ayam
kampung agar produktivitas yam kampung tercapai.

5.2 Saran

a) Perlu dikembangkan lagi bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan suplement


agar lebih maksimal dalam penambahan produktifitas ayam kampung.
b) Pemerintah lebih memperhatikan untuk pengembangan dari suplement dalam skala
kecil ini.
Daftar pustaka

Iskandar, S. dan D. Zainuddin. 2004. Pengaruh pola ransum terhadap pertumbuhan


ayam kampung yang diseleksi untuk mengurangi sifat mengeram. Prosiding Seminar
Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Peternakan.Bogor.
Krista, Bambang dan Bagus Harianto. 2010. Buku Pintar Berbisnis dan Beternak Ayam
Kampung. Jakarta : Trubus.
Melviyanti MT, Iriyanti N, Roesdiyanto. 2013. Penggunaan pakan fungsional mengandung
omega 3, probiotik dan isolat antihistamin N3 terhadap bobot dan indeks telur ayam
kampung.Jurnal Ilmiah Peternakan. 1(2): 677-683.
Nawawi T, Nurrohmah. 2013. Pakan Ayam kampung. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Retnani Yuli. 2011. Proses Produksi Pakan Ternak. Bogor(ID): Ghalia Indonesia.