Anda di halaman 1dari 6

legal audit merupakan suatu uji tuntas dari segi hukum terhadap segala aspek hukum

perusahaan. Di sini konsultan hukum melakukan kegiatan pemeriksaan secara


seksama dari segi hukum terhadap suatu perusahaan untuk memperoleh
informasi/fakta material yang dapat menggambarkan kondisi suatu perusahaan
tersebut.
Bila sampai ditemukan adanya pelanggaran, kelalaian, ketentuan-ketentuan yang tidak
lazim dalam dokumen perusahaan maupun ditemukan informasi/fakta lain yang secara
material dapat menimbulkan risiko bagi perusahaan, maka konsultan hukum wajib
memberitahukannya.
Pertama-tama akan dilakukan pemeriksaan menyeluruh atas dokumen perusahaan.
Pemeriksaan ini meliputi Anggaran Dasar perusahaan (beserta segala perubahannya),
notulen rapat (RUPS dll), komposisi saham dan permodalan, direksi dan dewan
komisaris (apakah punya masalah hukum / tidak), ijin-ijin dan persetujuan yang harus
dimiliki perusahaan, aset perusahaan (misalnya sertifikat tanah), asuransi (bila
perusahaan terlibat dalam perjanjian asuransi), ketenagakerjaan (apakah perusahaan
memenuhi ketentuan yang ada), perjanjian-perjanjian material yang mengikat
perusahaan (dengan supplier, klien dll), pemeriksaan atas perkara yang melibatkan
perusahaan (bila ada) dan laporan keuangan dan management letter serta dokumen
pajak perusahaan (bekerjasama dengan auditor keuangan). Selain pemeriksaan atas
dokumen, konsultan hukum juga dapat melakukan site visit maupun tanya jawab
dengan berbagai komponen perusahaan.
Setelah segala pemeriksaan tuntas, konsultan hukum akan membuat laporan pendapat
hukum (legal opinion) yang menjadi salah satu dokumen yang disyaratkan bila
perusahaan mau melakukan go public. Disarankan agar PT yang hendak menjalani
legal audit memastikan bahwa perusahaannya mematuhi semua peraturan dan
mempunyai dokumen yang lengkap.

Tujuan dilakukannya legal audit atau LDD yaitu:

1. Memperoleh status hukum atau penjelasan hukum terhadap dokumen yang


diaudit atau diperiksa;
2. Memeriksakan legalitas suatu badan hukum/badan usaha;
3. Memeriksa tingkat ketaatan suatu badan hukum/badan usaha;
4. Memberikan pandangan hukum atau kepastian hukum dalam suatu kebijakan
yang dilakukan oleh perusahaan.

Tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk melakukan LDD adalah:


1. Tanda tangan Confidentiality Agreement (dalam hal akuisisi);
2. Pembentukan Tim Due Diligence;
3. Persiapan Due Diligence Request List;
4. Pemeriksaan Dokumen.

Sehubungan keperluan suatu Legal Audit tersebut di atas, maka dokumen-dokumen


yang diperlukan, antara lain, sebagai berikut:
a. Anggaran dasar perusahaan, antara lain berupa akta pendirian perusahaan,
berita acara rapat pemegang umum saham, daftar pemegang saham perusahaan,
struktur organisasi perusahaan, daftar bukti penyetoran modal perusahaan dan
anggaran dasar perusahaan yang telah disesuaikan dengan Undang-Undang No.
1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas;
b. Dokumen-dokumen mengenai asset perusahaan, antara lain berupa sertifikat-
sertifikat tanah, surat-surat tanda bukti kepemilikan kendaraan bermotor,
dokumen-dokumen kepemilikan saham pada perusahaan lain, da sebagainya;
c. Perjanjian-perjanjian yang dibuat dan ditandatangani oleh perusahaan
dengan pihak ketiga, antara lain berupa perjanjian hutang piutang, perjanjian
kerja sama, perjanjian dengan (para) pemegang saham, perjanjian-perjanjian
dengan supplier, dan sebagainya;
d. Dokumen-dokumen mengenai perizinan dan persetujuan perusahaan, antara
lain berupa surat keterangan domisili perusahaan, tanda daftar perusahaan,
perijinan dan persetujuan yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah, dan
sebagainya;
e. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan permasalahan kepegawaian
perusahaan, antara lain berupa peraturan perusahaan, dokumen mengenai
jaminan social tenaga kerja (jamsostek), dokumen mengenai ijin tenaga kerja
asing, dokumen mengenai perijinan dan kewajiban pelaporan mengenai
kepegawaian, dokumen mengenai upah tenaga kerja, dokumen mengenai
kesepkatan kerja bersama, dan sebagainya;
f. Dokumen-dokumen mengenai asuransi perusahaan, antara lain berupa polis
asuransi gedung, polis kendaraan, polis mengenai gangguan usaha, polis untuk
pihak ketiga (misalnya konsumen), polis koperasi, polis dana yang tersimpan, dan
sebagainya;
g. Dokumen-dokumen mengenai pajak perusahaan, antara lain berupa nomor
pokok wajib pajak (NPWP) perusahaan, dokumen mengenai pajak bumi
bangunan, dokumen mengenai pajak-pajak terhutan, dan sebagainya;
h. Dokumen-dokumen yang berkenaan dengan terkait atau tidak terkaitnya
perusahaan dengan tuntutan dan/atau sengketa baik di dalam maupun di
luar Pengadilan.

Hal-hal yang termasuk ke dalam katagori Legal Audit antara lain, yaitu:
1. Penelitian secara fisik atau penelitian area, peninjauan lapangan dan pengamatan
terhadap suatu obyek untuk memastikan kebenaran;
2. Penelitian dokumen yang berkaitan dengan obyek;
3. Penelitian yang didasarkan pada sumber informasi lainnya, misalnya pengadilan, laporan
keuangan, keterangan direksi, dan sebagainya.
Fase-fase tingkatan modus operandi “legal audit”
Tingkat pertama
“Legal audit” dimulai dengan sebuah kuisioner yang detail dan komprehenship atau
dalam bentuk feedback tertulis yang diperoleh dari tim manajemen perusahaan atau
dapat pula dalam bentuk check-list yang sederhana atau dalam bentuk agenda formal
untuk perusahaan-perusuhaan kecil.

Tingkat kedua
“Legal audit” meninjau/ memperhatikan:

1. pokok-pokok atau hal-hal yang menunjukkan dampak yang merugikan atau


mengganggu perusahaan yang tertuang dalam bentuk aturan-aturan hukum yang
relevan.
2. bentuk regulasi-regulasi yang berlaku dalam suatu negara.
3. kegagalan dari suatu perusahaan yang tidak memperhatikan dengan baik dan
akurat tentang pembukuan pemasukan, catatan-catatan yang baik, prosedur-
prosedur, dan rencana atau strategi pembuatan keputusan.
4. peningkatan deviasi dari kebijakan yang bertentangan dengan hukum-hukum tanah
(yang berlaku), atau pelanggran terhadap aturan-aturan internal perusahaan dan
aturan-aturan hukum yang ditunjukkan dalam memorandm dan pasal-pasal dari
asosiasi perusahaan.
Tingkat ketiga
“Legal audit” memperhatikan saran-saran (masukan) yang mungkin untuk dikerjakan
atau solusi-solusi yang ditawarkan untuk memindahkan atau menghilangkan resiko
hokum atau kekosongan hokum dalam bentuk dokumentasi atau formula-formula
perjanjian atau kolaborasi perjanjian atau alokasi dana, investasi dan biaya
pemeliharaan asset perusahaan serta saham perusahaan dan investor.

Tingkat keempat
“Legal audit” menjamin implementasi dari masukan-masukan yang diberikan dalam
rangka melindungi legitimasi kepentingan perusahaan sehingga perusahan dapat
bebas dari proses litigasi yang tidak penting dan menghindari pengeluaran biaya-biaya
untuk aturan atau regulasi yang tidak dibutuhkan.

Terakhir adalah “Legal audit” menjamin kerahasiaan dokumen perusahaan dalam


bentuk yang sistematik dan metodik.

Penting dan perlunya “legal audit”.


Legal audit merupakan suatu keharusan bagi individu, partner perusahaan,
perusahaan, bank atau perusahaan keuangan lainna, peminjam atau penjamin, dan lain
sebagainya. Oleh karena itu, legal audit dapat dipandang dapat meneliminasi atau
meminimalisasi resiko hukum atau menurunkan biaya perkara yang harus dikeluarkan
karena diakibatan oleh defisiensi/kekosongan/anomaly dokumen-dokumen tertulis.
Sebagai contohnya legal audit HR. Dalam hal ini, legal audit menyediakan suatu
kesempatan yang tersaji transparan untuk menemukan apakah HR – organisasi
memiliki kapabilitas dan mempunyai sumber daya manusia yang memadai untuk
mendukung kinerja organiasi yang tertuang dalam bentuk strategi perusahaan.
Disamping itu, legal audit juga wajib memahami apakah para professional
melaksanakan kewajiban dan tanggungjawabnya sesuai dengan kebijakan dan
program yang dicantumkan dalam prosedur atau modus dari HR perusahaan dalam
rangka mempromosikan pengembangan optimum HR untuk kepentingan nasional.

Pada kenyataanya, check-list atau agenda formal legal audit meliputi keseluruhan
dokumen, kebijakan keuangan, arena operasional, misi, tujuan, asset, paten, merek,
dan hak cipta yang dimiliki olh perusahaan termasuk didalamnya press release.

Manfaat “legal audit”.


1. legal audit dijamin menguntungkan, efisien, dan dapat mengoptimalkan
pertumbuhan perusahaan berupa operasional, tujuan, dan pencapaian (prestasi)
yang merupakan cita-cita hokum perusahaan.
2. legal audit dapat meminimilasi resiko-resiko hokum atau menghindari biaya-biaya
perkara dan litigasi yang tidak penting dan bebas dari hukuman (penalty) atau
denda yang dijatuhkan oleh pemerintah atau pengadilan.
3. legal audit membantu untuk memindahkan/menghilangkan beberapa klause pasal
yang tidak sesuai atau tidak menguntungkan, dan dapat pula membantu untuk
menghindari pembayaran kerugian atau klaim kompensasi dan factor-faktor resiko
lainnya dengan tingkat akurasi yang tertuang dalam bentuk dokumen hukum.
4. legal audit memungkinkan untuk meng-update pendaftaran, records (catatan-
catatan) dan lisensi.
5. legal audit dapat menyarankan cara terbaik untuk menurunkan tanggungjawab
pajak/ komitmen keuangan dari kreditor atau pemerintah dengan meningkatkan
pendekatan dan kepedulian yang tercantim dalam operasional perusahaan.
6. legal audit membantu pengembalian uang (iuran) dari peminjam atau konsumen
melalui drafting perjanjian yang baik tanpa harus kepengadilan untuk
mengembalikan uang tersebut.
7. legal audit dapat menawarkan solusi teraik terhadap masalah-masalah
kepegawaian yang potential ada seperti praktek perburuhan yang tidak sehat,
kasus-kasusklaim kompensasi, sengketa upah dan gaji, pembayaran lembur, dan
lain sebagainya.
8. legal audit dapat membantu untuk mereview dan memeriksa dengan seksama
perwalian, surat wasiat, rencana pensiun dan atau memeriksa upaya perusahaan
untuk menghindari klaim yang sangat besar jumlahnya atau untuk melindungi salah
satu pihak dalam perkaran kematian, perceraian, pembatalan perjanjian dengan
mitra perusahaan.
Legal Audit untuk Perseroan Terbatas
No Pemeriksaan Tujuan Pemeriksaan
Pemeriksaan atas akta pendirian berikut perubahannya, pendaftaran di
pengadilan dan pengumuman dalam berita negara, pasal-pasal
menyangkut kegiatan usaha, permodalan, pemegang saham dan
Anggaran Dasar ketentuan-ketentuan dalam AD tidak bertentangan dengan peraturan
Perusahan perundang-undangan.

1.
Pemeriksaan terkait keabsahan kepengurusan direksi dan komisaris
atas dasar akta pendirian dan perubahannya, wewenang, RUPS,
Direksi dan quorum, pemanggilan sesuai dengan AD dan peraturan perundang-
Komisaris undangan.

2.
Pemeriksaan jumlah modal dasar, modal yang ditempatkan atau modal
yang disetor, termasuk jenis saham yang dikeluarkan dan susunan
pemegang saham serta prosentase kepemilikan sesuai dengan daftar
Struktur pemegang saham, riwayat permodalan dan kepemilikan saham
Permodalan meliputi setiap perubahan/mutasi sesuai dengan AD dan perundang-
undangan

3.
Pemeriksaan atas kelengkapan perijinan atau persetujuan yang dimiliki
Perijinan
4.
Pemeriksaan keabsahan atas kepemilikan tanah, bangunan, lisensi,
Haki, Paten, anak perusahaan atau saham pada perusahaan lain
Aset Perusahaan
5.
Perlindungan asuransi yang dimiliki, mencakup jenis asuransi, objek,
jumlah pertanggung, jangka waktu mulai dan berakhirnya pertanggung
Asuransi dan pihak perusahaan asuransi sebagai penanggung

6.
Pemeriksaan atas kelengkapan pendaftaran tenaga kerja, peraturan
perusahaan, penggunaan tenaga kerja asing, penyertaan BPJS
Ketenagakerjaan Ketenagakerjaa, penyertaan Jaminan Hari Tua, pemenuhan upah
minimum, keberadaan dan legalitas serikat pekerja, ijin-ijin khusus
7. bidang ketenagakerjaan
Pemeriksaan perjanjian-perjanjian yang menyangkut hutang piutang
dengan bank maupun dengan pihak lain atau perjanjian lisesni dan
Perjanjian- kontrak-kontrak dagang yang dibuat oleh direksi. Memastikan
Perjanjian perjanjian tersebut sah dan tidak bertentangan dengan hukum.

8.
Kepastian ada tidanya perusahaan selaku kelembagaan terlibat dalam
suatu perkara perdata atau pidana di pengadilan dan atau sengketa
Proses Hukum
ketenagakerjaan, perkara perpajakan, arbitrase yang menyangkut
9. direksi atau komisaris yang dapat mempengaruhi jalan perusahaan.