Anda di halaman 1dari 31

Subyek Hukum

POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN


DIPLOMA III AKUNTANSI REGULER
1
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena atas rahmat-Nya
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Subyeh Hukum”
yang merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Hukum Perdata
Penulis menyadari bahwa makalah ini tidak akan selesai dengan baik tanpa
bimbingan, dorongan semangat dan sumbangsih pikiran dari semua pihak. Untuk
itu, kami ucapkan terima kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Ramadhana Anindyajati Bachry S.H M.H selaku Dosen Hukum Perdata
2-16 Politeknik Keuangan Negara STAN yang telah memberikan tugas dan
petunjuk kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas ini.
2. Teman-teman yang telah membantu
3. Keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta
pengertian yang besar kepada penulis dalam menyelesaikan makalah ini
4. Semua pihak yang tidak disebutkan satu persatu yang telah memberikan
bantuan dalam penulisan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak
sangat penulis harapkan agar dapat menyempurnakan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua
pihak yang terkait serta semoga Allah SWT. Memberikan imbalan yang setimpal
pada mereka yang telah memberikan bantuan dan dapat menjadikan bantuan
tersebut sebagai ibadah. Amin Yaa Robbal ‘Alamin.

Tangerang Selatan, 17 Februari 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................2

DAFTAR ISI ....................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................4

1.1. Latar Belakang ...................................................................................................4

1.2. Rumusan Masalah ..............................................................................................4

1.3. Tujuan Makalah .................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................................6

2.1. Definisi Subyek Hukum ..........................................................................................6

2.1.1. Macam Macam Subyek Hukum ..........................................................................7

2.1.2. Obyek Hukum ......................................................................................................8

2.2. Arti Nama dan Kewarganegaraan............................................................................9

2.3. Domisili dan Macamnya ....................................................................................... 17

2.3.1 Alasan Pentingnya Domisili ................................................................................ 20

2.3.1. Pasal 2 KUHPer ................................................................................................. 20

2.4. Kewenangan Berhak ............................................................................................. 21

2.5. Kecakapan Berbuat ............................................................................................... 23

2.6. Akibat Hukum ....................................................................................................... 24

2.7 Pendewasaan ......................................................................................................... 25

2.8. Pengampuan .......................................................................................................... 26

2.9 Perwalian................................................................................................................ 28

BAB III PENUTUP ........................................................................................................ 30

3.1. Kesimpulan ...................................................................................................... 30

3.2. Saran ............................................................................................................... 30

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 31

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Negara kita adalah Negara berdasarkan hukum, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari kita diatur oleh hukum. Hukum adalah peraturan yang mengikat dan
mengatur setiap tindakan manusia atau masyarakat, sehubungan dengan hal
tersebut maka manusia merupakan subjek hukum yang harus selalu mematuhi
hukum yang berlaku. Subjek hukum adalah segala sesuatu yang dapat mempunyai
hak dan kewajiban untuk bertindak dalam hukum. Sedangkan objek hukum adalah
segala sesuatu yang bermanfaat bagi subjek hukum dan dapat menjadi objek dalam
suatu hubungan hukum. Objek hukum berupa benda atau barang atau hak yang
dimiliki dan bernilai ekonomis.

Subjek Hukum terdiri atas subjek Hukum Manusia dan Subjek Hukum
Badan Usaha. Dan Objek Hukum memiliki dua jenis yang berdasarkan 503-504
KUH Perdata, disebutkan bahwa benda dapat dibagi menjadi dua yakni, benda yang
bersifat kebendaan (Materiekogoderen), dan benda yang bersifat tidak kebendaan
(Immateriekogoderan). Oleh karena itu tujuan dari penulisan makalah ini atau yang
melatarbelakangi penyusunan makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui unsur-
unsur yang terdapat dalam subjek hukum dan untuk mengetahui sejauh mana
hubungan hukum antara peristiwa dan perbuatan hukum agar tidak adalagi
masyarakat yang tidak cakap terhadap hukum dan tidak mengetahui haknya dan
kewajibannya dalam hukum.

1.2.Rumusan Masalah
1) Apakah hakekat subyek hukum sebenarnya ?
2) Bagaimana status manusia atau orang sebagai subyek hukum ?
3) Bagaiman membedakan subyek hukum manusia yang cakap dan tidak
cakap dalam melakukan perbuatan hukum ?
4) Apakah definisi dari perwalian ?

4
1.3.Tujuan Makalah
1) Mengetahui hakekat subyek hukum
2) Mengetahui status manusia atau orang sebagai subyek hukum
3) Mengetahui membedakan subyek hukum manusia yang cakap dan tidak
cakap dalam melakukan perbuatan hukum ?
4) Mengetahui definisi dari perwalian

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi Subyek Hukum


Indonesia merupakan negara hukum yang mengakui setiap orang
sebagai manusia terhadap undang-undang yang artinya bahwa setiap orang
diakui sebagai subyek hukum. Pasal 27 UUD 1945 menetapkan segala
warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan
dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada
kecualinya.

Hukum perorangan menurut Subekti ialah peraturan-peraturan


tentang manusia sebagai subyek dalam hukum, peraturan-peraturan perihal
kecakapan untuk memiliki hak-hak dan kecakapan untuk bertindak sendiri
melaksanakan hak-haknya itu serta hal-hal yang mempengaruhi kecakapan-
kecakapan itu. Hukum perorangan menurut Van Apeldoorn, hukum purusa
adalah seluruh peraturan tentang purusa atau subyek-subyek hukum.
Hukum purusa mempunyai peraturan kewenangan hukum
(Rechtbevoegdheid) dan kewenangan bertindak (handelingsbevoegheid).

Hukum mengatur hubungan antara anggota masyarakat dan


antara subyek hukum. Pengertian Subyek hukum ialah siapa yang dapat
mempunyai hak dan cakap untuk bertindak di dalam hukum atau dengan
kata lain siapa yang cakap menurut hukum untuk mempunyai hak. Ada
beberapa pengertian tentang subyek hukum menurut para sarjana:

a. Subyek hukum menurut Subekti adalah pembawa hak atau


subyek di dalam hukum yaitu orang.

b. Subyek hukum menurut Mertokusumo adalah segala sesuatu


yang dapat memperoleh hak dan kewajiban dari hukum. Hanya
manusia yang dapat menjadi subyek hukum.
c. Subyek hukum menurut Syahran adalah pendukung hak dan
kewajiban.

6
d. Subyek hukum menurut Chaidir Ali adalah manusia yang
berkepribadian hukum, dan segala sesuatu yang berdasarkan
tuntutan kebutuhan masyarakat demikian itu dan oleh hukum
diakui sebagai pendukung hak dan kewajiban.
e. Subyek hukum menurut Agra adalah setiap orang yang
mempunyai hak dan kewajiban sehingga mempunyai wewenang
hukum atau disebut dengan Rechtsbevoegdheid.
Berdasarkan pendapat para sarjana di atas dapat disimpulkan
bahwasannya subyek hukum adalah segala sesuatu yang dapat
memperoleh hak dan kewajiban dari hukum sehingga segala sesuatu yang
dimaksud dalam pengertian tersebut adalah manusia dan badan hukum.
Jadi, manusia oleh hukum diakui sebagai penyandang hak dan kewajiban
sebagai subyek hukum atau sebagai orang.

Subyek hukum mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat


penting dalam hukum, khususnya hukum keperdataan karena subyek
hukum tersebut yang dapat mempunyai wewenang hukum. Dalam
lapangan hukum perdata mengenal subyek hukum sebagai salah satu
bagian dari kategori hukum yang merupakan hal yang tidak dapat
diabaikan karena subyek hukum adalah konsep dan pengertian (concept
en begriff) yang mendasar.

2.1.1. Macam Macam Subyek Hukum


Dewasa ini telah berkembang hokum lingkungan modern yang
berorientasi pada lingkungan (environment- Oriented law). Kini ruang
lingkup hukum lingkungan sangat luas, yakni mengatur tingkah laku
manusia dalam hubungannya dengan lingkungan, serta melindungi dan
memelihara lingkungan sebagai wadah tempat hidup manusia dalam arti
lingkungan mempunyai hak untuk dilindungi dan dilestarikan.
Berdasarkan pandangan tersebut maka tidak saja manusia dan badan
hokum sebagai subjek hukum, tetapi sekarang lingkungan dapat juga
dikatakan sebagai subjek hukum atau sebagai pendukung hak dan
kewajiban.

7
Orang sebagai subyek hukum dibedakan dalam 2 (dua)
pengertian, yaitu:

a. Natuurlijke persoon atau menselijk persoon yang disebut orang


dalam bentuk manusia atau manusia pribadi.
b. Rechts persoon yang disebut orang dalam bentuk badan hukum
atau orang yang diciptakan hukum secara fiksi atau persona
ficta. Sedangkan badan hukum (Rechts persoon) dibedakan pula
dalam 2 macam yaitu:
1. Badan hukum publik (Publiek Rechts Persoon) yang
sifatnya terlihat unsur kepentingan publik yang ditangani
oleh negara.
2. Badan hukum prifat (privaat Rechts persoon) yang
sifatnya unsur-unsur kepentingan individu dalam badan
hukum swasta.
2.1.2. Obyek Hukum
Objek hukum menurut pasal 499 KUH perdata, yakni benda.
Benda adalah segala sesuatu yang berguna bagi subjek hukum atau segala
sesuatu yang menjadi pokok permasalahan dan kepentingan bagi para
subjek hukum atau segala sesuatu yang dapat menjadi objek dari hak milik
(eingdom)
Pengertian benda dalam arti luas dianut oleh KUH Perdata,
sebagai KUH mana yang tercantum di dalam Pasal 499 KUH Perdata.
Pasal 499 Perdata berbunyi: "Kebendaan ialah tiap-tiap barang dan tiap-
tiap hak yang dapat dikuasai oleh hak milik Benda sebagai objek hukum
dapat dibedakan menjadi dua macam: benda yang berwujud, dan (2)
benda yang tidak dapat diraba. Benda yang berwujud adalah benda yang
dapat dilihat dan diraba dengan pancaindra, seperti tanah, rumah,
binatang. dan lain-lain, sedangkan benda yang tidak dapat diraba
merupakan hasil pikiran dari seseorang, seperti hak pengarang, hak
octroi, dan semua hak-hak tagihan (piutang), dan sebagainya. Namun,
pengertian benda sebagai objek hukum yang dianut di dalam KUH
Perdata adalah benda berhubungan dengan hak-hak yang melekat pada

8
barang, dan (2) hak- hak yang bersifat inmateriil (tak dapat diraba),
seperti hak pengarang hak octroi, dan hak-hak semacam itu, tidak diatur
di dalam Buku Il KUH Perdata tetapi diatur di dalam UU tersendiri
Macam-Macam Benda di dalam Pasal 503. 504, dan Pasal 505 KUH
Perdata telah entukan pembagian benda Benda di dalam ketentuan itu dibagi
dua macam, yaitu:
a. menjadi benda bertubuh dan tidak bertubuh:
b. benda bergerak dan tidak bergerak
Di dalam berbagai literatur dikenal empat macam benda. Yaitu
a. benda yang dapat diganti (contoh uang) dan yang tidak dapat diganti
contoh seekor kuda
b. benda yang dapat diperdagangkan (praktis semua barang dapat
diperdagangkan dan yang tidak dapat diperdagangkan atau di luar
perdagangan (contoh jalan dan lapangan umum)
c. benda yang dapat dibagi (contoh beras) dan tidak dapat dibagi (contoh
kerbau)
d. benda bergerak dan tidak bergerak (Subekti, 1984: 61: Vollmar, 1983)
Dari keempat pembagian itu, maka pembagian yang paling penting
adalah pembagian benda dalam benda bergerak dan tidak bergerak.

2.2. Arti Nama dan Kewarganegaraan


Pengertian kewarganegaraan dapat dibedakan dalam dua arti yaitu
kewarganegaraan dalam arti formal dan kewarganegaraan dalam arti
material. Kewarganegaraan dalam arti formal menunjuk pada hal ikhwal
masalah kewarganegaraan yang umumnya berada pada ranah hukum
publik. Kewarganegaraan dalam arti formal membicarakan hal ikhwal
masalah kewarganegaraan seperti siapakah warga negara, bagaimana cara
memperoleh kewarganegaraan, pewarganegaraan, bagaimana kehilangan
kewarganegaraan, dan seterusnya.
Sedangkan kewarganegaraan dalam arti material adalah akibat
hukum dari pengertian kewarganegaraan itu sendiri. Kewarganegaraan
dalam arti material menunjuk pada akibat hukum dari status

9
kewarganegaraan yaitu adanya hak dan kewajiban warga negara.
Kewarganegaraan dalam arti material ini merupakan isi dari
kewarganegaraan itu sendiri yaitu masalah hak dan kewajiban warga
negara.
Kewarganegaraan seseorang mengakibatkan orang tersebut
memiliki pertalian hukum serta tunduk pada hukum negara yang
bersangkutan.
A. Penentuan Kewarganegaraan
Dalam menentukan kewarganegaraan seseorang dikenal dengan
adanya asas kewarganegaraan yaitu asas ius soli dan asas ius sanguinis. Asas
ius adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang menurut
daerah atau negara tempat dimana orang tersebut dilahirkan.Asas ius soli
disebut juga asas daerah kelahiran. Sedang asas ius sanguinis ialah asas yang
menentukan kewarganegaraan seseorang menurut pertalian daerah atau
keturunan dari orang yang bersangkutan. Asas ius solidan asas ius sanguinis
dianggap sebagai asas yang utama dalam menentukan status hukum
kewarganegaraan. Pada sekarang ini umumnya negara menganut kedua asas
tersebut secara simultan.
Negara-negara imigran yaitu negara yang sebagian besar warganya
merupakan kaum pendatang atau cenderung didatangi orang asing, maka
kecenderungannya menggunakan asas ius soli sebagai asas
kewarganegaraannya. Adapun dasar pertimbangannya adalah negara
menghendaki warga baru segera melebur diri sebagai warga negara di
negara tersebut. Contoh: Amerika Serikat menerapkan asas ius soli , yaitu
menentukan kewarganegaraan berdasarkan faktor tanah kelahiran.
Sebaliknya negara-negara emigran yaitu negara yang warganya
cenderung keluar dari negara, maka kecenderungannya lebih menggunakan
asas ius sanguinis. Penentuan asas kewarganegaraan yang berbeda-beda
oleh setiap warga negara dapat menimbulkan masalah kewarganegaraan
bagi seorang warga. Masalah kewarganegaraan tersebut adalah timbulnya
apatride dan bipatride.

10
Apatride berasal dari kata a yang artinya tidak dan patride yang
artinya kewarganegaraan. Jadi patride adalah orang-orang yang tidak
memiliki kenegaraan. Apatride ini bisa dialami oleh orang yang dilahirkan
dari orang tua yang negaranya menganut asas ius soli dinegara atau dalam
wilayah negara yang menganut asas ius sanguinis. Kemudian Bipatride
berasal dari kata bi yang artinya dua dan patride yang berarti
kewarganegaraan. Jadi bipatride adalah orang-orang yang memiliki
kewarganegaraan rangkap (ganda). Bipatride ini bisa dialami pada orang
yang dilahirkan dari orang tua yang negaranya menganut asas ius sanguinis
didalam wilayah negara yang menganut asas ius soli. Oleh negara asal orang
tuanya orang itu dianggap sebagai warga negara karena ia adalah keturunan
dari warga negaranya.
B. Cara Memperoleh dan Kehilangan Kewarganegaraan
Ada beberapa cara orang memperoleh status kewarganegaraan dan
kehilangan kewarganegaraan. Cara memperoleh kewarganegaraan adalah:
Citizenship by birth, memperoleh kewarganegaraan karena kelahiran. Jadi
setiap orang yang lahir diwilayah negara dianggap sah sebagai warga negara
karena suatu negara menganut asas ius sanguinis.
1. Citizenship by descent, memperoleh kewarganegaraan karena keturunan.
Jadi orang yang lahir diluar wilayah negara dianggap sebagai warga
negara apabila orangtuanya adalah warga negara dari negara tersebut
karena negaranya menganut asas ius sanguinis.
2. Citizenship by naturalization, pewarganegaraan orang asing atas
kehendak sendiri atas permohonan menjadi warga negara suatu negara
dengan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
3. Citizenship by registration, pewarganegaraan bagi mereka yang telah
memenuhi syarat-syarat tertentu yang dianggap cukup dilakukan melalui
prosedur asministrasi yang lebih sederhana dibandingkan naturalisasi.
4. Citizenship by incorporation of territory, proses kewarganegaraan karena
terjadi perluasan wilayah negara.
Selanjutnya orang dapat kehilangan kewarganegaraan karena tiga
kemungkinan/cara, yaitu:

11
1. Renunciation, tindakan sukarela seseorang untuk meninggalkan status
kewarganegaraan yang diperoleh di dua negara atau lebih.
2. Termination, penghentian status kewarganegaraan sebagai tindakan
hukum karena yang bersangkutan mendapat kewarganegaraan negara
lain.
3. Deprivation, pencabutan secara paksa status kewarganegaraan karena
yang bersangkutan dianggap telah melakukan kesalahan, pelanggaran
atau terbukti tidak setia kepada negara berdasar undang-undang.
C. Warga Negara Dan Kewarganegaraan Di Indonesia
a. Warga Negara Indonesia
Negara Indonesia telah menetukan siapa saja yang menjadi warga
negara di dalam konstitusinya. Ketentuan tersebut tercantum dalam
pasal 26 UUD 1945 yang berbunyi sebagai berikut:
1. Yang menjadi warga negara adalah orang-orang bangsa
indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan
dengan undang-undang sebagai warga negara”.
2. Penduduk ialah warga indonesia dan orang asing yang bertempat
tinggal di indonesia”.
3. Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan
undang-undang”.
Ketentuan pasal 26 ayat 1 tersebut memberikan penegasan bahwa untuk
orang-orang bangsa indonesia asli secara otomatis merupakan warga
negara, sedangkan bagi orang-orang bangsa lain untuk menjadi warga
negara indonesia harus disahkan terlebih dahulu dengan undang-
undang.
Orang-orang bangsa lain yang dimaksud adalah orang-orang
peranakan seperti peranakan Belanda, Tionghoa, dan Arab yang
bertempat tinggal di indonesia, yang mengakui indonesia sebagai
tumpah darahnya dan bersikap setia kepada Republik Indonesia.
b. Asas Kewarganegaraan Indonesia
Asas-asas umum yang dianut dalam UU No.12 tahun 2006 adalah sebagai
berikut:

12
1. Asas ius sanguinis (Law Of The Blood) adalah asas yang
menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan
bukan berdasarkan negara tempat kelahiran.
2. Asas ius soli (Law Of The Soil) secara terbatas adalah asas yang
menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara tempat
kelahiran, yang diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai dengan
ketentuan yang diatur dalam UU ini.
3. Asas kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menentukan satu
kewarganegaraan bagi setiap orang.
4. Asas kewarganegaraan ganda terbatas adalah asas yang menentukan
kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan
yang diatur dalam UU ini.
c. Cara Memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia
Berdasarkan UU No. 12 tahun 2006 kewarganegaraan Republik
Indonesia dapat di peroleh melalui:
1. Kelahiran
Setiap anak yang lahir dari orang tua (ayah atau ibunya) berkewargaan
negara indonesia akan memperoleh kewarganegaraan Republik
Indonesia.
2. Pengangkatan
Anak warga negara asing yang berumur 5 tahun yang diangkat secara
sah menurut penetapan pengadilan sebagai anak oleh warga negara
negara indonesia memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia.
3. Perkawinan/Pernyataan
Orang asing yang menikah dengan warga negara indonesia dapat
memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia apabila memenuhi
persyaratan sebagaimana diatur dalam pasal 19.
4. Turut Ayah atau Ibu
Anak yang belum berusia 18 tahun atau belum kawin, berada dan
bertempat tinggal diwilayah negara Republik Indonesia, dari ayah atau
ibu yang memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia dengan
sendirinya berkewarganegaraan Republik Indonesia.

13
5. Pemberian
Orang asing yang telah berjasa kepada negara Republik Indonesia atau
dengan alasan kepentingan negara dapat diberi kewarganegaraan
Republik Indonesia oleh presiden setelah memperoleh petimbangan
DPR Republik Indonesia, kecuali dengan pemberian kewarganegaraan
tersebut mengakibatkan yang bersangkutan berkewarganegaraan ganda
(pasal 20).
6. Pewarganegaraan
Syarat dan tatacara memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia
melalui pewarganegaraan diatur dalam pasal 9 s/d 18 Undang-Undang
ini.
d. Kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia
Perihal kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia diatur dalam
pasal 123 UU No.12 tahun 2006 yang menyatakan bahwa warga negara
indonesia kehilangan kewarganegaraannya jika yang bersangkutan:
1. Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri.
2. Tidak menolak atau tidak melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan
orang yang bersangkutan mendapatkan kesempatan untuk itu.
3. Dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh Presiden atas
permohonannya sendiri, yang bersangkutan sudah berusia 18 tahun atau
sudah kawin, bertempat tinggal diluar negeri, dan dengan dinyatakan
hilang kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi tanpa
kewarganegaraan.
4. Masuk dalam dinas tentara asing tanpa ijin terlebih dahulu dari presiden.
5. Secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan semacam
itu di indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan hanya
boleh dijabat oleh warga negara indonesia.
6. Secara sukarela menyatakan sumpah atau janji setia kepada negra asing.
7. Tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat
ketatanegaraan untuk suatu negara asing.

14
8. Mempunyai paspor dari negra asing atau surat yang dapat diartikan
sebagai kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain atas
namanya.
9. Bertempat tinggal diluar wilayah negara republik indonesia selama 5
tahun terus menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang
sah dan dengan sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap
menjadi warga negara indonesia sebelum jangka waktu 5 tahun itu
berakhir, dan setiap 5 tahun berikutnya yang bersangkutan tidak
mengajukan pernyataan ingin tetap menjadi warga negara indonesia
kepada perwakilan negara republik indonesia.
e. Cara Memperoleh Kembali Kewarganegaraan Republik Indonesia
Dalam pasal 31 UU No.12 tahun 2006 dinyatakan bahwa
seseorang yang kehilngan kewarganegaraan Republik Indonesia dapat
memperoleh kembali kewarganegaraannya melalui procedur
pewarganegaraan dengan mengajukan permohonan tertulis pada
Menteri. Bila pemohon bertemapat tinggal diluar wilayah negara
indonesia, permohonan disampaikan melalui perwakilan negara
Republik Indonesia yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal
pemohon.
Permohonan untuk memperoleh kembali kewarganegaraan
Republik Indonesia dapat juga diajukan oleh perempuan atau laki-laki
yang kehilangan kewarganegaraannya akibat perkawinan dengan
orang asing sejak putusnya perkawinan. Kepala Perwakilan Republik
Indonesia akan merumuskan permohonan tersebut kepada Menteri
dalam waktu paling lama 14 hari setelah menerima permohanan.
D. Hak Dan Kewajiban Warga Negara Indonesia
Warga negara adalah anggota dari suatu negara. Sebagai anggota dari
negara, warga negara mempunyai hubungan dengan negaranya. Warga negara
mempunyai sejumlah hak dan kewajiban terhadap negara. Demikian sebagian
negara mempunyai sejumlah hak dan kewajiban terhadap warganya.
Pengaturan tentang hak dan kewajiban ini umumnya tertuangkan dalam
berbagai peraturan perundang-undangan negara.

15
1. Hak Warga Negara Indonesia
Berikut akan disebutkan beberapa hak warga negara indonesia yang diatur
dalam pasal 27 sampai dengan 34 UUD 1945, yaitu:
a. Hak persamaan kedudukan didalam hukum dan pemerintahan.
b. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.
c. Hak ikut serta dalam pembelaan negara.
d. Hak berpendapat, berkumpul, dan berserikat.
e. Hak untuk hidup dan mempertahankan hidup dan kehidupannya.
f. Hak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunannya melalui
pernikahan yang sah.
g. Hak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
h. Hak untuk mendapat kesejahteraan.
i. Hak untuk mendapatkan pendidikan.
j. Hak atas status kewarganegaraan.
k. Hak kebebasan memeluk agama dan beribadat sesuai dengan
keyakinannya
2. Kewajiban Warga Negara Indonesia
Kewajiban warga negara indonesia antara lain diatur diatur dalam pasal 27
ayat 1 dan 3,pasal 28 J,pasal 30 ayat 2 UUD 1945 yaitu:
1. Wajib menjunjung/mentaati hukum dan pemerintahan.
2. Wajib membela negara.
3. Wajib menghormati hak asasi manusia.
4. Wajib tunduk pada pembatasan yang di tetapkan dengan undang-undang.
5. Wajib ikut serta dalam upaya pertahanan dan keamanan negara.
6. Wajib untuk mengikuti pendidikan dasar.
Kewajiban warga negara ini pada dasarnya adalah hak negara. Oleh
karena negara memiliki sifat memaksa dan mencakup semuanya, maka
negara memiliki hak untuk menuntut warga negaranya untuk mentaati dan
melaksankan hukum-hukum yang berlaku dinegara tersebut.
Sedangkan hak warga negara merupakan kewajiban negara terhadap
negaranya. Hak-hak warga negara wajib diakui, wajib dihormati,
dilindungi, dan difasilitasi, serta dipenuhi oleh negara. Negara didirikan

16
dan dibentuk memang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup
warganya.

2.3. Domisili dan Macamnya


A. Pengertian domisili

Domisili adalah terjemahan dari domicile yang artinya tempat tinggal.


Dalam pengertian yudiris, tempat tinggal (domicilie) ialah tempat seseorang
yang dianggap senantiasa berada / selalu hadir untuk melaksanakan hak –
haknya dan untuk menunaikan kewajiban – kewajibannya, juga apabila pada
suatu waktu benar – benar tidak dapat hadir di tempat tersebut.

Menurut Sri Soedewi Masjchoen Sofwan domisili atau tempat


kediaman adalah “tempat diman seseorang dianggap hadir mengenai hak –
haknya dan memenuhi kewajibannya juga meskipun kenyataannya tidak di
tempat tersebut”. Sedangkan menurut Vollmar, tempat tinggal merupakan
tempat seseorang melakukan Perbuatan Hukum, adapun disebut Perbuatan
Hukum adalah suatu yang menimbulkan akibat hukum. Misalnya, jual –
beli, sewa – menyewa, tukar – menukar, hibah, leasing, dsb.

Tujuan dari penentuan domisili adalah untuk mempermudah para pihak


dalam mengadakan hubungan hukum dengan pihak lainnya. Berdasarkan
defenisi diatas terkandung unsur – unsur dalam rumusan domisili, yaitu :

a. Adanya tempat tertentu yang sifatnya tetap atau sementara,

b. Adanya orang yang selalu hadir pada tempat tersebut,

c. Adanya hak dan kewajiban,

d. Adanya prestasi.

Menurut kitab undang-undang hukum perdata tempat kediaman


seringkali disebut dengan rumah, bahkan kadang kotanya. Oleh karena itu,
dapat disimpulkan bahwa setiap orang dianggap selalu mempunyai temapt
tinggal dimana dalam kesehariannya melakukan kegiatannya atau dimana
tempat kediaman pokoknya. Kadang – kadang menetapkan tempat
kediaman seseorang sulit, karena bisa saja berpindah – pindah (banyak

17
rumahnya). Dalam memudahkan hal ini dibedakan antara tempat tinggal dan
kediaman yang sesungguhnya.

Tempat kediaman hukum adalah “tempat dimana seseorang dianggap selalu


hadir berhubungan dengan hal melakukan hak-haknya serta kewajibannya,
meskipun sesungguhnya mungkin bertempat tinggal di lain tempat”.

C. Macam – macam domisili

Menurut KUHPerdata domisili/tempat tinggal itu ada dua jenis, yaitu:

1. Tempat tinggal sesungguhnya yaitu tempat yang bertalian dengan hak-


hak melakukan wewenang seumumnya. Tempat tinggal sesungguhnya
dibedakan antara lain :
• Tempat tinggal sukarela/bebas yang tidak terikat/tergantung hubungannya
dengan orang lain. Pasal 17 KUHPdt menyatakan bahwa setiap orang
dianggap mempunyai tempat tinggal di mana ia menempatkan kediaman
utamanya. Dalam hal seseorang tidak mempunyai tempat kediaman utama
maka tempat tinggal dimana ia benar-benar berdiam adalah tempat tinggal
nya.
• Tempat tinggal yang wajib/tidak bebas yaitu yang ditentukan oleh hubungan
yang ada antara seseorang dengan orang lain.

Misalnya :

- wanita bersuami mengikuti suaminya

- anak di bawah umur mengikuti tempat tinggal orang tuanya/walinya .

- orang dewasa yang ada di bawah pengampuan mengikuti curatornya.

- pekerja /buruh mengikuti tempat tinggal majikannya .

2. Tempat tinggal yang dipilih, yaitu tempat tinggal yang berhubungan


dengan hal-hal melakukan perbuatan hukum tertentu saja. Tempat tinggal
yang dipilih ini untuk memudahkan pihak lain atau untuk kepentingan
pihak yang memilih tempat tinggal tersebut. Tempat tinggal yang dipilih
ada dua macam, yaitu :

18
• Tempat tinggal yang terpaksa dipilih ditentukan undang-undang (pasal
106:2 KUHPdt)

• Tempat kediaman yang dipilih secara bebas misalnya tempat tinggal


yang dipilih secara sukarela harus dilakukan secara tertulis artinya harus
dengan akta (pasal 24:1 KUHPdt), bila ia pindah maka untuk tindakan
hukum yang dilakukannya ia tetap bertempat tinggal di tempat yang lama.

Dilihat dari segi terjadinya peristiwa hukum, tempat tinggal itu dapat
digolongkan empat jenis, yaitu :

1. Tempat tinggal yudiris

Tempat tinggal yudiris terjadi karena peristiwa hukum, seperti :


kelahiran, perpindahan (mutasi). Tempat tinggal yudiris dibuktikan dengan
KTP / SIM atau akta pendirian untuk suatu penbentukan badan hukum.
Tempat tinggal yudiris merupakan tempat tinggal utama.

2. Tempat tinggal nyata

Tempat tinggal nyata terjadi karena peristiwa hukum, keberadaan


yang sesungguhnya dibuktikan dengan kehadiran yang terus menerus di
tempat tersebut.

3. Tempat tinggal pilihan

Tempat tinggal pilihan terjadi karena peristiwa hukum (adanya


perjanjian) karena dipilih oleh pihak – pihak yang membuat perjanjian
tersebut.

4. Tempat tinggal ikut orang lain

Tempat tinggal ikutan ditentukan oleh suatu peristiwa hukum yang timbul
karena undang-undang menghendaki demikian. Tempat tinggal istri atau anak,
mengikuti tempat tinggal suami atau orang tuanya. (UU No 1 Tahun 1974 pasal
32 dan 47)

19
2.3.1 Alasan Pentingnya Domisili

• Berguna dalam menentukan dimana subjek hukum (seseorang) harus


dipanggil dan ditarik di muka pengadilan.

• Domisili juga berguna untuk menentukan pengadilan mana yang berhak


berkuasa terhadap subjek hukum (seseorang) tersebut. Hal ini berhubungan
dengan suatu peraturan bahwa pengadilan yang berwenang mengadili
seseorang dalam perkara perdata adalah pengadilan dalam wilayah hukum
di mana penggugat atau tergugat berdomisili (Pasal 118 ayat 1 dan 2 H.I.R)

Dalam perkawinan ternyata domisili juga diperlukan karena domisili


digunakan untuk menentukan dimana seseorang harus melakukan sebuah
perkawinan, hal ini terhubung dengan suatu peraturan bahwa perkawinan
harus dilaksanakan di tempat salah satu pihak (Pasal 76 KUH Perdata).

2.3.1. Pasal 2 KUHPer


Orang merupakan subyek hukum disamping badan hukum. Ini
merupakan hukum yang berlaku secara universal dalam sistem hukum
manapun. Berlakunya seseorang sebagai pembawa hak (subyek hukum)
dimulai pada saat ia dilahirkan dan berakhir pada saat ia meninggal dunia.
Terhadap hal ini terdapat suatu pengecualian, dimana anak yang berada
dalam kandungan seorang perempuan dianggap sebagai telah dilahirkan.
Apabila kepentingan si anak menghendakinya (Pasal 2 ayat (1) KUH
Perdata).

Pasal 2 KUH Perdata ini dapat dikatakan rechts fictie yaitu


anggapan hukum. Anak yang berada dalam kandungan seorang wanita
sudah dianggap ada pada waktu kepentingannya memerlukan, jadi yang
belum dianggap ada (fictie) dan Pasal 2 KUH Perdata juga merupakan
suatu norma sehingga disebut sebagai fixatie (penetapan hukum).

Penjelasan mengenai Pasal 2 KUH Perdata apabila ia mati


sewaktu ia dilahirkan, maka ia dianggap tak pernah ada. Menurut
Hardjawidjaja adalah kalau bayi ketika lahir dalam keadaan hidup makan

20
si bayi akan memperoleh hak-hak dan kewajibannya sebagai subyek
hukum. Kemampuan akan mempunyai hak-hak ini tidak tergantung pada
lamanya anak itu hidup. Apabila ia hanya hidup satu jam atau dua jam
maka ia dapat memperoleh hak-hak, yang dengan matinya akan menjadi
pewaris keluarganya. Bayi telah dianggap dilahirkan hidup apabila ia
sewaktu dilahirkan bernafas.

Hal di atas dikemukakan juga oleh Soediman Kartohadiprodjo


yang mengatakan bahwa manusia itu merupakan orang kalau ia hidup tidak
pandang berapa lama hidupnya, meskipun barangkali hanya satu detik saja.
Sehingga si anak sewaktu dilahirkan harus hidup walaupun hanya
sebentar. Hal ini perlu karena untuk menentukan peranannya sebagai
pendukung hak dan kewajiban (subyek hukum). Sistem di negeri Belanda
tidak mengadakan syarat ini sesuai dengan hukum Romawi dan hukum
Jerman.

2.4.Kewenangan Berhak
Kewenangan berhak adalah suatu upaya hukum berupa kewenangan
memiliki, menerima, atau meneruskan haknya sejak lahir hingga akhir
hayatnya. Kewenangan berhak tidak dapat ditiadakan atas suatu dasar
ataupun upaya hukum apapun (KUHPer Pasal 2 & 3 Bab I tentang Menikmati
dan Kehilangan Hak Kewargaan). Setiap pribadi memiliki kewenangan
berhak secara sah oleh hukum, akan tetapi dirinya belum tentu memiliki
kewenangan untuk berbuat/bertindak secara sah oleh hukum. Orang dapat
dikatakan oleh hukum memiliki kewenangan berhak sekaligus kewenangan
berbuat apabila orang tersebut telah cakap hukum atau memiliki status
dewasa dari pendewasaan penuh/seluruhnya.

Orang mempunyai kewenangan berhak semenjak dilahirkan,


bahkan sejak dalam kandungan ibunya asalkan dia lahir hidup apabila
kepentingannya mengendaki (Pasal 2 KUH Perdata). Kewenangan
berhak berlangsung hingga akhir hayat. Kewenangan berhak setiap orang
tidak dapat ditiadakan oleh suatu hukum apapun yang dapat

21
mengakibatkan kematian perdata atau kehilangan hak keperdataan
seseorang (Pasal 3 KUH Perdata).

Ada beberapa hal yang membatasi kewenangan berhak


meskipun menurut hukum meskipun menurut hukum setiap manusia
adalah pembawa hak tanpa terkecuali, yaitu:

a. Kewarganegaraannya, hanya Warga Negara Indonesia (WNI) yang dapat


mempunyai hak milik (Pasal 21 ayat (1) Undang-Undang No 50 tahun
1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria).
b. Tempat tinggal, hanya orang yang bertempat di kecamatan yang sama
dengan letak tanah pertanian itulah yang dapat menjadi pemiliknya (
Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang No 50 tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok Agraria).
c. Kedudukan atau jabatan, bagi seorang hakim dan pejabat hukum lainnya
tidak boleh memperoleh barang-barang yang masih dalam perkara.
d. Tingkah laku dan perbuatan, lihat Pasal 49 dan Pasal 53 Undang-Undang
Nomor 1 tahun 1974, isinya kekuasaan orang tua dan wali dapat dicabut
dengan keputusan pengadilan dalam hal ia sangat melalaikan kewajiban
sebagai orang tua atau wali atau berkelakuan buruk sekali.
e. Usia dan jenis kelamin, misalnya Pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 tahun
1974 tentang batas usia kawin dan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 1
tahun 1974 tentang waktu tunggu.
Ada beberapa faktor yang membatasi seseorang itu wenang
berbuat atau tidak yaitu umur, kesehatan, dan perilaku. Wenang berbuat
ada dua pengertiannya, yaitu:

a. Cakap atau mampu berbuat karena memenuhi syarat hukum (bekwaam,


capable), kecakapan atau kemampuan berbuat karena memenuhi syarat
hukum (bekwaam, capacity)
b. Kuasa atau berhak berbuat karena diakui oleh hukum walaupun tidak
memenuhi syarat hukum (bevoedgd, competent), kekuasaan atau
kewenangan berbuat (bevoegdheid, competence).

22
2.5.Kecakapan Berbuat
dddddddSetiap penyandang hak dan kewajiban tidak selalu berarti
mampu atau cakap melaksanakan sendiri hak dan kewajibannya. Pada
umumnya sekalipun setiap orang mempunyai kewenangan hukum, tetapi
ada golongan orang yang yang dianggap tidak cakap melaksanakan
beberapa hak atau kewajiban. Subyek hukum orang yang pada dasarnya
mempunyai kewenangan hukum dan dianggap cakap bertindak sendiri
tetapi, ada subyek hukum yang dianggap tidak cakap bertindak sendiri.
Hal merupakan anggapan hukum yang memungkinkan adanya bukti
lawan. Golongan orang yang tidak cakap bertindak disebut personae
miserabile.
Dalam prespektif hukum berarti tidak setiap subyek hukum
orang dapat menyandang kewenangan hukum serta dapat berwenang
bertindak sendiri dalam melakukan perbuatan hukum. Subyek hukum
dapat berwenang dan bertindak sendiri apabila dirinya oleh hukum
dianggap telah cakap, mampu, atau pantas untuk bertindak dalam
melakukan perbuatan hukum. Namun sebaliknya, subyek hukum orang
yang cakap melakukan perbuatan dapat saja dikatakan tidak cakap
melakukan perbuatan hukum.

Pasal 1330 KUH Perdata mengemukakan tentang yang tidak cakap


untuk membuat perjanjian ialah Orang-orang yang belum dewasa dan
orang yang ditaruh di bawah pengampuan (curatele). Kedewasaan
seseorang menjadi tolak ukur dalam menentukan apakah seseorang
tersebut dapat atau belum dapat dikatakan cakap bertindak untuk
melakukan suatu perbuatan hukum. Sehingga kedewasaan seseorang
menurut hukum menjadi syarat agar seseorang dapat dan boleh
dinyatakan cakap bertindak dalam melakukan segala perbuatan hukum.
Penjelasan dari Pasal 1330 KUH Perdata tentang orang yang dinyatakan
tidak cakap melakukan perbuatan hukum, yaitu:

1) Orang-orang yang belum dewasa atau belum cukup umur, yaitu


mereka yang belum mencapai umur genap 18 (delapan belas) tahun
atau tidak lebih dahulu melangsungkan perkawinan (Pasal 1330

23
KUH Perdata junto Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974).
2) Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan, yaitu orang-orang
dewasa yang selalu berada dalam keadaan kurang ingatan, sakit
jiwa (orang gila), mata gelap, dan pemboros (433 KUH Perdata).
3)
Hal ini terjadi karenakan gangguan jiwa seperti sakit saraf dan
gila menyebabkan perbuatannya menjadi tidak normal. Kemudian
pemabuk atau pemboros mengakibatkan perbuatan orang tersebut
merugikan dan menelantarkan keluarga dan anak-anak dalam kehidupan,
pendidikan, dan lain-lain.

Berdasarkan ketentuan subyek hukum adalah orang yang


dianggap cakap bertindak untuk melakukan perbuatan hukum apabila
dirinya telah dewasa, sehat pikiran dan jiwanya, tidak berada di bawah
kekuasaan orang lain serta tidak dilarang oleh hukum (Undang-Undang)
untuk melakukan perbuatan hukum tertentu. Bagi mereka yang dianggap
tidak cakap bertindak dalam melakukan perbuatan hukum, maka dalam
melakukan perbuatan hukum di dalam dan di luar pengadilan diwakili
oleh orang lain yang ditunjuk oleh hakim pengadilan seperti orang
tuanya, walinya, atau pengampunya.

2.6.Akibat Hukum
A. Akibat Ketidak wenangan berhak.
1. Tidak dapat melakukan suatu perikatan atau perjanjian
2. Perikatan atau perjanjian yang dibuat dapat dinyatakan “cacat hukum”
dan dapat dibatalkan.
3. Sebagai subyek hukum untuk melakukan perbuatan hukum harus
dilakukan oleh pengampunya.
( Pasal 1331 BW : “……..orang-orang yang dinyatakan tidak cakap
dalam membuat perikatan boleh menuntut pembatalan…….dst.”)
B. Akibat hukum ketidak cakapan berhak

24
Kewenangan dan kecakapan, keduanya merupakan hal yang serupa.
Kewenangan dan kecakapan menjadi penting ketika dihadapkan pada
sahnya subjek hukum dalam melakukan perbuatan hukum tertentu.

Orang yang cakap (berwenang melakukan perbuatan hukum )


menurut UU adalah:

1) Orang yang dewasa ( diatas 18 tahun) atau pernah melangsungkan


perkawinan
2) Tidak dibawah pengampuan, yaitu orang dewasa tapi dalam keadaan dungu,
gila, pemboros, dll.
3) Tidak dilarang oleh UU, misal orang yang dinyatakan pailit oleh UU
dilarang untuk melakukan perbuatan hukum adalah meniadakan keadaan
belum dewasa kepada seseorang agar dapat melakukan perbuatan hukum.

2.7 Pendewasaan
Merupakan suatu upaya hukum untuk menempatkan seseorang yang
berstatus belum dewasa menjadi sama dengan orang-orang yang telah
dewasa, baik secara keseluruhan maupun pada hal-hal tertentu saja.
Menurut KUHPer Pasal 419 hingga Pasal 432 Bab XVI tentang
Pendewasaan, dijelaskan bahwa pendewasaan dilakukan dengan melibatkan
pihak-pihak berikut:
- Anak (orang berstatus belum dewasa);
- Orang tua/wali/keluarga yang sedarah atau semenda dari anak;
- Mahkamah Agung;
- Pengadilan Negeri.
Pendewasaan yang telah diatur dalam KUHPer, terbagi menjadi dua
macam, yakni pendewasaan terbatas dan pendewasaan penuh/keseluruhan:
1. Pendewasaan Terbatas
Orang yang belum berstatus dewasa, apabila dikenai upaya
pendewasaan secara terbatas maka dirinya berhak melakukan tindakan
hukum tertentu setingkat orang dewasa. Syarat seseorang untuk
memperoleh pendewasaan terbatas ialah berusia 18 tahun, mendapat
persetujuan dari orang tua/wali, dan permohonan tersebut diterima oleh

25
Pengadilan Negeri. Status tersebut dapat dicabut oleh Pengadilan Negeri
apabila disalahgunakan oleh pihak yang terkait atau terlibat dugaan
penyalahgunaan menggunakan status pendewasaan tersebut. (KUHPer
Pasal 419 dan Pasal 426)
2. Pendewasaan Penuh/Keseluruhan
Orang yang belum berstatus dewasa, apabila dikenai upaya
pendewasaan penuh maka dirinya secara hukum sama dengan orang
dewasa atau berhak memiliki tindakan hukum selayaknya orang
dewasa seutuhnya. Seseorang dapat dikatakan memperoleh pendewasaan
penuh ketika ia telah berusia 20 tahun, memperoleh persetujuan atas
pertimbangan dan nasihat dari Mahkamah Agung, persetujuan oleh orang
tua/wali, dan bukti berupa akta kelahiran serta diterbitkannya venia actatis
(surat pernyataan dewasa) oleh MA. (KUHPer Pasal 420 hingga Pasal 432,
kecuali Pasal 426).

2.8.Pengampuan
a. Pengertian Pengampuan
Pengampuan (Curatele) adalah suatu daya upaya hukum untuk
menempatkan seseorang yang telah dewasa menjadi sama seperti orang
yang belum dewasa. Orang yang ditaruh dibawah pengampuan disebut
curandus, pengampunya disebut curator. Menurut pasal 433 KUHPer,
setiap orang dewasa yang menderita sakit ingatan, boros, dungu, dan mata
gelap harus ditaurh dibawah pengampuan. Setiap anak yang belum dewasa
yang berada dalam keadaan dungu, sakit ingatan atau mata gelap, tak boleh
ditaruh dibawah pengampuan, melainkan tetaplah ia dibawah pengawasan
bapak dan ibunya atau walinya (pasal 462 KUHPer).
b. Pengajuan permohonan pengampuan
Pengampuan ini terjadi karena adanya keputusan hakim yang
didasarkan dengan adanya permohonan pengampuan. Yang dapat
mengajukan permohonan pengampuan adalah :
1) Keluarga sedarah terhadap keluarga sedarahnya, dalam hal keadaan
keadaan dungu, atau mata gelap (pasal 434 ayat 1 KUHPer)

26
2) Keluarga sedarah dalam garis lurus dan oleh keluarga semenda dalam garis
menyimpang sampai dengan derajat keempat, dalam hal karena
keborosannya (pasal 434 ayat 2 KUHPer).
3) Suami atau isteri boleh meminta pengampuan akan isteri atau suaminya
(pasal 434 ayat 3 KUHPer)
4) Diri sendiri, dalam hal ia tidak cakap mengurus kepentingannya sendiri
(pasa 434 ayat 4 KUHPer)
5) Kejaksaan, dalam hal mata gelap, keadaan dungu, atau sakit ingatan (pasal
435 KUHPer).
Setiap permintaan akan pengampuan, harus diajukan ke Pengadilan Negeri
dimana orang yang dimintakan pengampuannya itu berdiam (pasal 436
KUHPer). Pengampuan mulai berlaku sejak putusan atau penetapan
diucapkan (pasal 446 ayat 1 KUHPer).
c. Akibat Hukum Pengampuan
Akibat hukum dari orang yang ditaruh dibawah pengampuan adalah:
1) Ia sama dengan orang yang belum dewasa (pasal 452 ayat 1 KUHPer)
2) Segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh orang yang ditaruh dibawah
pengampuan, batal demi hukum (pasal 446 ayat 2 KUHPer)
Disamping kedua hal diatas, terdapat pengecualiannya, yaitu :
1) Orang yang ditaruh dibawah pengampuan karena boros, masih boleh
membuat surat wasiat (pasal 446 ayat 3 KUHPer)
2) Orang yang ditaruh dibawah pengampuan karena boros, masih bisa
melangsungkan perkawinan dan membuat perjanjian kawin yang dibantu
oleh pengampunya (pasal 452 ayat 2 KUHPer)
d. Berakirnya pengampuan
Pengampuan ini berakhir apabila sebab-sebab yang mengakibatkannya
telah hilang (pas 460 KUHPer). Pengampuan juga berakhir apabila si
curandus meninggal dunia.

27
2.9 Perwalian
Perwalian merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh cakap hukum
untuk mewakili seorang tidak cakap hukum (pengampuan) dan atau menjadi
seorang wakil dari orang yang belum berstatus dewasa secara yuridis.
Selain itu, perwalian juga merupakan bentuk pengawasan terhadap
anak yang belum dewasa yang tidak di bawah kekuasaan orang tua, serta
pengurusan benda atau kekayaan anak yang diatur oleh Undang-Undang.
Perwalian dapat dilakukan terhadap anak syah yang orang tuanya tidak
cakap melakukan perbuatan hukum,atau tidak diketahui tempat tinggal atau
keberadaannya Pasal 33 ayat (1), anak syah yang kedua orang tuanya telah
dicabut kekuasaannya sebagai orang tua, anak syah yang orang tuanya telah
bercerai, anak yang lahir diluar perkawinan (Natuurlijk Kind).
Orang yang dapat ditunjuk oleh Pengadilan Negeri setempat ialah
keluarga dari anak yang bersangkutan (UU Perkawinan Pasal 49 ayat (1)
Bab XI tentang Kedudukan Anak), salah satu dari kedua orang tuanya,
keluarga anak dalam garis keturunan lurus ke atas, saudara kandung yang
sudah dewasa, orang lain atau Badan Hukum (Pasal 49 ayat (1) UUP, Pasal
33 UU Perlindungan anak), pejabat yang berwenang, orang lain yang bukan
pejabat yang wenang serta Balai Harta Peninggalan berkedudukan sebagai
wali pengawas/Dewan Perwalian.
Selain itu, mereka yang ditunjuk sebagai wali harus memenuhi
persyaratannya, yakni:
1. Sudah Dewasa;
2. Berpikiran sehat;
3. Dapat berlaku adil;
4. Berkelakuan baik;
5. Tidak sedang dicabut kekuasaannya sebagai orang tua;
6. Wali harus memiliki agama yang sama dengan agama anak.
Dan wali memiliki kewajiban untuk:
1. Wajib mengurus anak dan kekayaannya dengan sebaik-baiknya;
2. Wajib menghormati agama dan kepercayaan anak;
3. Wajib membuat daftar kekayaan dan perubahan kekayaan anak;

28
4. Wali wajib bertanggung jawab atas kepengurusan harta kekayaan anak serta
kerugian yang timbul karena kesalahan atau kelalaiannya.
Serta, jika suatu keadaan tertentu yang terkait dengan hukum yang
mengikat wali dan anak yang bersangkutan/yang diperwalikan,
menyebabkan pencabutan hak perwalian, yang ditandai dengan:
1. Anak yang diwabah perwalian sudah mencapai usia 18 tahun atau sudah
kawin;
2. Kekuasaan wali dicabut( karena wali tidak cakap melakukan perbuatan
hukum atau menyalahgunakan kekuasaannya sebagai wali);
3. Wali atau anak di bawah perwalian meninggal dunia.

29
BAB III

PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Subyek hukum adalah segala sesuatu yang dapat memperoleh hak
dan kewajiban dari hukum sehingga segala sesuatu yang dimaksud dalam
pengertian tersebut adalah manusia dan badan hukum. Pengertian
kewarganegaraan dapat dibedakan dalam dua arti yaitu kewarganegaraan
dalam arti formal dan kewarganegaraan dalam arti material.
Kewarganegaraan dalam arti formal menunjuk pada hal ikhwal masalah
kewarganegaraan yang umumnya berada pada ranah hukum publik.

Domisili adalah terjemahan dari domicile yang artinya tempat tinggal.


Dalam pengertian yudiris, tempat tinggal (domicilie) ialah tempat seseorang
yang dianggap senantiasa berada / selalu hadir untuk melaksanakan hak –
haknya dan untuk menunaikan kewajiban – kewajibannya, juga apabila pada
suatu waktu benar – benar tidak dapat hadir di tempat tersebut.

Kewenangan berhak adalah suatu upaya hukum berupa kewenangan


memiliki, menerima, atau meneruskan haknya sejak lahir hingga akhir
hayatnya. Kewenangan berhak tidak dapat ditiadakan atas suatu dasar
ataupun upaya hukum apapun (KUHPer Pasal 2 & 3 Bab I tentang
Menikmati dan Kehilangan Hak Kewargaan). Perwalian merupakan suatu
tindakan yang dilakukan oleh cakap hukum untuk mewakili seorang tidak
cakap hukum (pengampuan) dan atau menjadi seorang wakil dari orang
yang belum berstatus dewasa secara yuridis.

3.2.Saran

Dengan selesainya makalah ini, kami mengucapkan banyak terimah


kasih kepada semua pihak yang ikut andil dalam penulisan ini. Tak lupa
kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik selalu kami tunggu dan kami
perhatikan.

30
DAFTAR PUSTAKA
L.J. Van Apeldoorn. 2001. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: PT Pradya Paramita

Kansil,C.S.T.1986.Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Laksana Hukum Indonesia.


Jakarta: Balai Pustaka.

Dirdjosisworo, Soedojo. 2003.Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: RajaGrafindo


Persada

Mertokusumo, Sudikno. 2005. Mengenal Hukum (Suatu Pengantar). Yogyakarta :


Liberty Yogyakarta.

Duswara M, Dudu. 2003. Pengantar Ilmu Hukum. Bandung : PT. Refika Aditama.

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/02/subjek-hukum-objek-hukum (diakses
27 Februari 2019 )

http://vanezintania.wordpress.com/2011/05/13/hak-kebendaan-yang-bersifat-
sebagai-pelunasan-hutang-hak-jaminan/ ( diakses 20 Februari 2019 )

http://badanedukasi.blogspot.com/2016/11/makalah-hukum-perdata-tentang-
domisili.html ( diakses 23 Februari 2019 )

http://kumpulanmakalahr.blogspot.com/2016/12/makalah-hukum-perdata-
domisili-dalam.html ( diakses 24 Februari 2019 )

http://artikelfakta.blogspot.com/2013/07/domisili-hukum-perdata.html ( diakses 22
Febrauari 2019 )

https://hukumperdataleo.blogspot.com/2015/10/makalah-tentang-subjek-hukum-
orang.html ( diakses 23 Februari 2019 )

http://www.ensikloblogia.com/2016/08/pengertian-subjek-hukum-dan-macam-
macam.html ( diakses 25 Februari 2019)

https://www.academia.edu/4929559/SUBJEK_dan_OBJEK_HUKUM

31