Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pendidikan merupakan kebutuhan yang penting untuk dipenuhi sama halnya

dengan kebutuhan pangan-sandang-papan. Pendidikan dibutuhkan manusia sejak

usia dini sampai dengan usia lanjut. Tanpa pendidikan yang diembannya, manusia

akan sulit menjalankan kehidupannya pada saat ia dihadapi oleh permasalahan

yang bersifat formal dan terstruktur. Maka dari itu, berdasarkan Peraturan

Pemerintah No. 47 Tahun 2008, seluruh warga Negara Indonesia diwajibkan

untuk melaksanakan wajib belajar 9 (Sembilan ) tahun yang merupakan program

pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga Negara Indonesia atas

tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Sekolah Dasar (SD) merupakan salah satu bentuk satuan pendidikan formal

yang menyelenggarakan pendidikan awal pada jenjang pendidikan dasar sebagai

lanjutan dari TK, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar

yang diakui sama/setara TK. Sekolah dasar lebih memprioritaskan dasar- dasar

dari semua pelajaran yang baru dikenal oleh para muridnya. Berhasilnya para

murid Sekolah Dasar dalam mempelajari pelajaran yang baru mereka kenal tidak

luput dari besarnya pengaruh peran dari guru-guru yang mendidik mereka.

Guru merupakan komponen paling menentukan dalam pendidikan secara

keseluruhan yang harus mendapat perhatian sentral pertama dan utama, figur yang

satu ini akan senantiasa menjadi sorotan strategis ketika berbicara masalah

pendidikan, karena guru selalu terkait dengan komponen manapun dalam system

1
2

pendidikan, guru memegang peran utama dalam membangun pendidikan,

khususnya yang diselenggarakan secara formal di sekolah, guru juga sangat

menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses

belajar mengajar.

Kinerja guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran,

merupakan faktor utama dalam pencapaian tujuan pengajaran. Guru di tuntut

untuk memilki kinerja yang tinggi, dengan kinerja yang tinggi maka tingkat

sumber daya manusia di Indonesia akan mulai sedikit demi sedikit meningkat

terutama para generasi muda Indonesia. Sehingga terciptalah bangsa yang cerdas

dan mampu menghadapi tantangan-tantangan masa depan.

Salah satu hal yang mempengaruhi kinerja guru adalah disiplin. Tanpa

adanya disiplin, maka segala kegiatan yang akan dilakukan akan mendatangkan

hasil yang kurang memuaskan dan tidak sesuai dengan harapan. Hal ini dapat

mengakibatkan kurangnya pencapaian sasaran dan tujuan organisasi serta dapat

juga menghambat jalannya program organisasi yang dibuat. Jika dilihat secara riil,

faktor kedisiplinan memegang peranan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari para

guru. Seorang guru yang mempunyai tingkat kedisiplinan yang tinggi akan tetap

bekerja dengan baik walaupun tanpa diawasi. Seorang guru yang disiplin tidak

akan mencuri waktu kerja untuk melakukan hal-hal lain yang tidak ada kaitannya

dengan pekerjaan.

Peran kepala sekolah sebagai pemimpin di SDN Bangetayu Wetan sangatlah

penting dan yang bertanggungjawab menyangkut disipin kerja guru seperti

melakukan pengawasan yang baik, menciptakan lingkungan kerja yang baik, serta
3

pembinaan pada guru yang kurang produktif juga melaksanakan evaluasi dan

prosedur pelatihan untuk membentuk tindakan disiplin.

Akan tetapi dalam praktek sehari-hari untuk jam masuk setelah istirahat

masih ada guru yang terlambat namun hal tersebut masih mejadi toleransi kepala

sekolah, namun terkadang kepala sekolah juga memberikan teguran guru yang

telah melampaui toleransi yang diberikan agar kembali tepat waktu dalam

mengajar. Dengan demikiian akan tercipta kedisiplinan sehingga dapat terwujud

pencapaian tujuan yang telah ditetapkan bersama. Berdasarkan fenomena yang

terjadi pada sekolah, nampak bahwa salah satu faktor yang mengakibatkan

penurunan kinerja sekolah disebabkan karena sekolah mempunyai masalah yang

kompleks dalam hal sumber daya manusia, khususnya mengenai masalah kurang

kedisiplinannya guru. Dimana masih ada guru yang belum mentaati disiplin jam

kerja, seperti mereka datang kesekolah setelah jam 08.00 Wib dan pulang sebelum

jam 13.15 Wib, selain itu masih ada guru yang tidak mentaati peraturan dan tata

tertib yang berlaku pada sekolah, sehingga mengakibatkan kinerja guru

mengalami penurunan. Sehingga dengan menurunnya kinerja guru maka sekolah

harus menerapkan kedisiplinan guru, yakni dengan mematuhi segala peraturan

atau tata tertib yang akan menjadi rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh seluruh

guru dalam sekolah.

Berdasarkan latar belakang dan fenomena yang telah diuraikan di atas

terlihat betapa pentingnya faktor kedisiplinan dalam meningkatkan kinerja guru,

maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kinerja guru pada

SDN Bangetayu Wetan tentang “Pengaruh Kedisiplinan Terhadap Kinerja Guru


4

Pada SDN Bangetayu Wetan ”

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka

masalah yang dapat di identifikasi sebagai berikut :

1. Kinerja Guru di SDN Bangetayu Wetan menunjukkan kurang optimal

dalam melakukan tugasnya.

2. Kinerja Guru juga akan ditentukan oleh kedisiplinan dalam menyadari dan

mematuhi aturan serta peraturan sekolah

3. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam penelitian ini berfungsi sebagai

pengawasan yang baik, menciptakan lingkungan kerja yang baik, serta

pembinaan pada guru yang kurang produktif juga melaksanakan evaluasi

dan prosedur pelatihan untuk membentuk tindakan disiplin

4. Guru dalam melaksanakan tugasnya akan ditentukan oleh faktor, dalam

penelitian ini kinerja guru akan dipengaruhi oleh kedisiplinan yang sangat

mempengaruhi kinerja guru

1.3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah diuraikan diatas, maka

penulis dapat merumuskan permasalahan dalam penelitian sebagai berikut:

Apakah kedisiplinan berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru pada SDN

Bangetayu Wetan?
5

1.4. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang sudah dikatakan diatas, maka tujuan

penulis mengadakan penelitian ini adalah :Untuk mengetahui adakah pengaruh

kedisiplinan terhadap kinerja guru di SDN Bangetayu Wetan.

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian sebagai berikut :

1. Aspek Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan manfaat teoritis

adalah dapat memberikan sumbangan pemikiran dan tolak ukur kajian

pada penelitian lebih lanjut yaitu berupa usaha meningkatkan kedisiplinan

dan kinerja guru.

2. Aspek Praktis

a. Bagi penulis,

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan yang lebih

luas mengenai kedisiplinan dan kinerja guru.

b. Bagi sekolah,

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu sekolah dalam

pertimbangan pengambilan keputusan pemecahan masalah

kedisiplinan yang dihadapi sekolah, serta memberikan sumbangan

pemikiran tentang pemahaman kedisiplinan dan kinerja guru.

c. Bagi Peneliti

Dapat dijadikan pengetahuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan

baru yang sebelumnya belum pernah didapatkan


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Kinerja Guru

2.1.1.1.Pengertian Kinerja Guru

Kinerja merupakan singkatan dari kinetika energi kerja yang

padanannya dalam bahasa inggris adalah performance.Kinerja adalah

keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator-indikator

suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu tertentu (Wirawan, 2009:

5).

Adapun konsep yang dikemukakan oleh Nuchiyah (2007 : 7)

tentang kinerja guru, “kinerja adalah tampilan perilaku guru dalam

melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendidik yang tentu memiliki

latar belakang relefan dengan tugas yang dihadapi dan hubungannya

interaksi dengan lingkungan”. Mengingat betapa pentingnya

pendidikanm dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, selain faktor

kepala sekolah yang cukup memegang pengaruh penting dalam

pencapaian prestasi belajar siswa, juga kinerja mengajarguru.Pentingnya

kinerja mengajar dalam meningkatkanprestasi belajar siswa yang

optimal, merupakan salah satu kekuatan eksternal yang dapat digunakan

oleh seorang guru.

6
7

Berdasarkan beberapa pengertian tentang kinerja diatas, dapat

disimpulkan bahwa kinerja guru adalah kemampuan kerja seorang guru

dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnyasehingga dapat

mencapai tujuan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

2.1.1.2.Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Guru

Keberhasilan pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh kinerja

gurunya. Kinerja guru pada dasarnya merupakan kinerja atau unjuk kerja

yang dilakukan oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai

seorang pendidik.Sebagaimana yang dikemukakan oleh Pratiwi (2013: 2)

bahwa “Seorang guru yang mempunyai kinerja tinggi seharusnya

mempunyai sikap positif terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung

jawabnya”.

Kualitas seorang guru akan sangat menentukan hasil dari

pendidikan, karena guru merupakan pihak yang berhubungan langsung

dengan peserta didik dalam proses pendidikan atau pembelajaran di

lembaga pendidikan sekolah. Keberadaan guru dalam melaksanakan

tugas dan kewajibannya tidak lepas dari pengaruh faktor internal maupun

faktor eksternal yang membawa dampak pada perubahan kinerja

guru.Faktor internal yang mempengaruhi kinerja guru yakni

kompetensi guru, status sosial ekonomi guru, komitmen profesional

guru dan perilaku ekonomi guru. Selain faktor internal adapun

faktor eksternal, faktor eksternal yang mempengaruhi kinerja guru

yaitu sarana dan prasarana sekolah, kepemimpinan kepala sekolah,


8

proses penataran, dan iklim yang kondusif. Adapun faktor-faktor yang

mempengaruhi kinerja guru menurut Kasmir (2016: 189-193) yaitu

sebagai berikut:

1) Kemampuan dan keahlian, kemampuan atau skill yang dimiliki

seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Semakin memiliki

kemampuan dan keahlian maka akan dapat menyelesaikan

pekerjaannya secara benar, sesuai dengan yang telah ditetapkan.

2) Pengetahuan, maksudnya adalah pengetahuan tentang

pekerjaan.Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang pekerjaan

secara baik akan memberikan hasil pekerjaan yang baik, demikian

pula sebaliknya.

3) Rancangan kerja, merupakan rancangan pekerjaan yang akan

memudahkan karyawan dalam mencapai tujuannya. Artinya jika

suatu pekerjaan memiliki rancangan kerja yang baik, maka akan

memudahkan untuk menjalankan pekerjaan tersebut secara tepat dan

benar. Sebaliknya, jika suatu pekerjaan tidak memiliki rancangan

pekerjaan yang baik maka akan sulit untuk menyelesaikan

pekerjaannya secara tepat dan benar.

4) Kepribadian, yaitu kepribadian seseorang atau karakter yang dimiliki

seseorang. Setiap orang memiliki kepribadian atau karakter yang

berbeda satu sama lainnya. Seseorang yang memiliki kepribadian atau

karakter yang baik, akan dapat melakukan pekerjaan secara sungguh-

sungguh penuh tanggung jawab sehingga hasil pekerjaaannya juga


9

baik. Demikian pula sebaliknya bagi karyawan yang memiliki

kepribadian atau karakter yang buruk, akan bekerja secara tidak

sungguh-sungguh dan kurang bertanggung jawab dan pada akhirnya

hasil pekerjaannya pun tidak atau kurang baik.

5) Motivasi kerja, motivasi kerja merupakan dorongan bagi seseorang

untuk melakukan pekerjaan. Jika karyawan memiliki dorongan yang

kuat dari dalam dirinya atau dorongan dari luar dirinya (misalnya dari

pihak perusahaan), maka karyawan akan terangsang atau terdorong

untuk melakukan sesuatu yang dengan baik.

6) Kepemimpinan, merupakan perilaku seorang pemimpin dalam

mengatur, mengelola dan memerintah bawahannya untuk

mengerjakan sesuatu tugas dan tanggung jawab yang diberikannya.

7) Gaya kepemimpinan, merupakan gaya atau sikap seorang pemimpin

dalam menghadapi atau memerintahkan bawahannya. Sebagai contoh

gaya atau sikap seorang pemimpin yang demokratis tentu berbeda

dengan gaya pemimpin yang otoriter.

8) Budaya organisasi, merupakan kebiasaan-kebiasaan atau norma-

norma yang berlaku dan dimiliki oleh suatu organisasi atau

perusahaan. Kebiasaan-kebiasaan atau norma-norma ini mengatur

hal-hal yang berlaku dan diterima secara umum serta harus dipatuhi

oleh segenap anggota suatu perusahaan atau organisasi.

9) Kepuasaan kerja, merupakan perasaan senang atau gembira, atau

perasaan suka seseorang sebelum dan setelah melakukan suatu


10

pekerjaan. Jika karyawan merasa senang atau gembira atau suka

untuk bekerja, maka hasil pekerjaannya pun akan berhasil baik.

10) Lingkungan kerja, merupakan suasana atau kondisi di sekitar lokasi

tempat bekerj. Lingkungan kerja dapat berupa ruangan, layout, sarana

dan prasarana, serta hubungankerja dengan sesama rekan kerja.

11) Loyalitas, merupakan kesetiaan karyawan untuk tetap bekerja dan

membela perusahaan di mana tempatnya bekerja. Kesetiaan itu

ditunjukkan denga terus bekerja sungguh-sungguh sekalipun

perusahaannya dalam kondisi yang kurang baik.

12) Komitmen, merupakan kepatuhan karyawan untuk menjalankan

kebijakan atau peraturan perusahaan dalam bekerja.

13) Disiplin kerja, merupakan usaha karyawan untuk menjalankan

aktivitas kerjanya secara sungguh-sungguh. Disiplin kerja dalam hal

ini dapat berupa waktu, misalnya masuk kerja selalu tepat waktu.

Sedangkan menurut Yamin (2010: 129) faktor-faktor yang

mempengaruhi kinerja yaitu sebagai berikut :

1) Faktor personal, meliputi : pengetahuan, keterampilan, kepercayaan

diri, dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu guru

2) Faktor kepemimpinan, meliputi : aspek kualitas manajer dan tim

leader dalam memberikan dorongan, arahan, dan dukungan kerja

pada guru

3) Faktor tim, meliputi : dukungan dan semangat yang diberikan oleh

rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap anggota tim, dan


11

kekompakan anggota tim dalam bekerja

4) Faktor sistem, meliputi : sistem kerja, fasilitas kerja yang diberikan

oleh pimpinan sekolah, dan kultur kerja dalam organisasi sekolah

5) Faktor konstektual (situasional), meliputi : tekanan dan perubahan

lingkungan eksternal.

Pendapat serupa yang dikemukakan oleh Suhardiman (Kompri,

2014: 163) mengenai faktor yang mempengaruhi kinerja guru, “ada tiga

faktor yaitu : (1) kemampuan, (2) upaya dan (3) peluangatau

kesempatan”.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor

yang mempengaruhi kinerja guru diantaranya tingkat pendidikan guru,

program penataran, iklim yang kondusif, sarana dan prasarana, kondisi

fisik dan mental guru, gaya kepemimpinan kepala sekolah, jaminan

kesejahteraan, peluang atau kesempatan, dan lain-lain. Untuk melihat

kinerja seseorang harus mengacu pada aktifitas orang tersebut selama

melaksanakan tugas pokok yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam

kaitannya dengan kinerja guru dalam kesehariannya tercermin pada peran

dan fungsinya tersebut. Maka kinerja guru dalam kegiatannya seperti

merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses belajar mengajar

yang intensitasnya dilandasi oleh sikap mental dan profesionalismenya

sebagai seorang guru.


12

2.1.1.3.Manajemen Kinerja Guru dalam Sistem Organisasi

Setiap organisasi memerlukan sumber daya untuk mencapai

tujuannya. Begitu juga organisasi dalam dunia pendidikan yaitu sekolah,

sekolah juga memerlukan sumber daya. Sumber daya yang diperlukan

dalam organisasi sekolah yaitu sumber daya manusia. Sumber daya

manusia dalam organisasi sekolah ada kepala sekolah, guru, dan para

staff. Dalam melaksanakan tugasnya, kepala sekolah, guru, dan para staff

membutuhkan manajemen agar kualitas kerjanya dapat tersusun dan

sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Manajemen yang dimaksud

yaitu manajemen kinerja. “Manajemen kinerja merupakan suatu proses

yang dirancang untuk memperbaiki kinerja organisasional, kelompok,

dan individual” (Kirana, 2017: 165).

Manajemen kinerja dapat diartikan sebagai suatu proses yang

disusun untuk meningkatkan kinerja organisasi, kinerja tim, dan kinerja

individu, yang dikendalikan oleh manajemen. Menurut Dharma (2011:

25) “manajemen kinerja adalah suatu cara untuk mendapatkan hasil yang

lebih baik bagi organisasi, kelompok dan individu dengan memahami dan

mengelola kinerja sesuai dengan target yang telah direncanakan, standar

dan persyaratan kompetensi yang telah ditentukan”. Sedangkan

manajemen kinerja menurut Wibowo (2013: 7) adalah “seni

melaksanakan pekerjaan melalui orang-orang dalam suatu organisasi”.

Organisasi menggunakan pendekatan manajemen kinerja berbasis

perilaku memandang tokoh pelaksana kinerja (guru) sebagai penentu


13

keberhasilan organisasi.

Dalam perspektif manajemen, agar kinerja guru dapat selalu

ditingkatkan dan mencapai standar tertentu, maka dibutuhkan suatu

manajemen kinerja. Manajemen kinerja menurut Yamin(2010: 129)

adalah “proses komunikasi yang berlangsung terus-menerus, yang

dilaksanakan kemitraan antara seorang guru dengan siswa”. Dengan

terjalinnya proses komunikasi yang baik antara kepala sekolah dengan

guru, guru dengan siswa dalam proses pembelajaran dapat lebih

mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh

guru. Dari ungkapan tersebut, maka manajemen kinerja guru terutama

berkaitan erat dengan tugas kepala sekolah untuk selalu melakukan

komunikasi yang berkesinambungan, melalui jalinan kemitraan dengan

seluruh guru di sekolahnya.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa

manajemen kinerja guru dalam sistem organisasi sekolah merupakan

usaha sistematis untuk mengelola kinerja guru dengan tujuan untuk

meningkatkan kinerjanya baik secara individu maupun kelompok dan

guna meningkatkan kinerja organisasi sekolah secara keseluruhan. Selain

itu, manajemen kinerja guru dalam sekolah sangat mengutamakan sistem

komunikasi terbuka dalam relasi kemitraan antara kepala sekolah sebagai

pimpinan dan para guru sebagai staf pendidik di sekolah. Dimana

komunikasi tersebut dilaksanakan melalui kepemimpinan untuk

menetapkan tujuan dari pendidikan, rencana kerja, memberi umpan balik,


14

penilaian kinerja serta pengembangan sekolah.

2.1.1.4.Indikator Kinerja Guru

Kinerja guru dalam penelitian ini adalah hasil yang dicapai oleh

guru dalam melaksanakan tugas-tugas dalam pembelajaran yang

dibebankan kepadanya. Menurut Supardi (2013: 49) yang dapat dijadikan

indikator standar kinerja guru diantaranya:

Standar 1: Knowledge, Skills, and Dispositions (Pengetahuan,

kemampuan dan karakter seseorang secara alami)

Standar 2: Assesment System and Unit Evaluation (Sistem penilaian dan

standar penilain)

Standar 3:Field Experienceand Clinical Practice (Pengalaman lapangan

secara nyata)

Standar 4: Divercity (Pemahaman lingkungan)

Standar 5:Faculty Qualification, Performance, and Development

(Kualitas kemampuan, penampilan dan pengembangan)

Standar 6: Unit Govermance and Resources (Standar Pemerintahan dan

penggunaan sumber)

Indikator tersebut menunjukkan bahwa standar kinerja guru

merupakan suatu bentuk kualitas atau patokan yang menunjukkan adanya

jumlah dan mutu kerja yang harus dihasilkan guru.

Dalam penelitian ini, indikator yang ingin diteliti mengenai kinerja

guru yaitu sebagai berikut:

1.1 Menguasai bahan yang akan diajarkan


15

2.1 Kemampuan mengelola kelas

3.1 Merencanakan pembelajaran

4.1 Melaksanakan kegiatan pembelajaran

5.1 Menilai hasil belajar

6.1 Menggunakan media/sumber pelajaran

2.1.2. Disiplin

2.1.2.1.Pengertian Disiplin

Disiplin merupakan modal yang diperlukan dalam mencapai tujuan

yang diinginkan. Sehingga keberadaan disiplin kerja amat diperlukan

dalam suatu perusahaan, karena dalam suasana disiplin sebuah organisasi

atau instansi akan dapat melaksanakan program-program kerjanya

mencapai sasaran yang telah ditetapkan.

Guru yang disiplin dan menaati tata tertib, menaati semua norma-

norma dan peraturan yang berlaku dalam sekolah atau instansi akan dapat

meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas. Sedangkan sekolah

atau intansi yang mempunyai guru yang tidak disiplin, akan sulit sekali

melaksanakan program- programnya untuk meningkatkan produktivitas,

dan akan tidak mungkin untuk dapat merealisasikan pencapaian tujuan

yang telah ditetapkan sebelumnya.

Oleh sebab itu seorang pemimpin yang baik harus berusaha agar

para bawahannya mempunyai disiplin yang baik dan juga harus

memberikan contoh dalam menjalankan disiplin yang baik dalam suatu


16

organisasi.

Beberapa pengertian disiplin oleh para ahli diantaranya adalah

sebagai berikut:

Menurut Siagian (2002:305): “Disiplin adalah suatu bentuk

pelatihan yang berusaha memperbaiki dan membentuk pengetahuan,

sikap dan perilaku pegawai sehingga para pegawai tersebut secara

sukarela berusaha bekerja kooperatif dengan para pegawai yang lain serta

meningkatkan prestasi kerja”.

Hasibuan (2005:193) memberikan defenisi Kedisiplinan adalah

kesadaran atau kesediaan seseorang mentaati semua peraturan organisasi

atau perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku.

Disiplin dapat diartikan jika:

a. Pegawai selalu datang dan pulang tepat pada waktunya.

b. Mengerjakan semua pekerjaan dengan baik.

c. Mematuhi semua peraturan perusahaan dan norma-norma

sosial yang berlaku.

Dari beberapa definisi diatas disimpulkan bahwa disiplin adalah

sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk mematuhi dan mentaati

segala peraturan dan tata tertib yang berlaku disekitarnya. Penempatan

disiplin dalam kehidupan suatu sekolah ditujukan agar semua guru yang

dalam sekolah bersedia dengan sukarela mematuhi dan mentaati segala

peraturan dan tata tertib yang berlaku tanpa paksaan. Setiap para guru

dalam sekolah tersebut dapat mengendalikan diri dan mematuhi norma


17

yang berlaku dalam sekolah, maka hal ini akan menjadi modal utama

yang amat penting dalam pencapaian tujuan yang diinginkan. Disiplin

juga akan tercipta apabila guru dapat mematuhi ketentuan-ketentuan yang

berlaku pada sekolah, dan hal tersebut dapat di ukur.

Menurut Simamora (2005:611), yang dimaksud Disiplin adalah

“bentuk pengendalian diri pegawai dan pelaksanaan yang teratur

menunjukan tingkat kesungguhan tim kerja dalam suatu organisasi”.

Disiplin sangat diperlukan untuk mengontrol manajemen. Idealnya harus

disajikan sebagai sebuah mekanisme perbaikan untuk menciptakan dan

memelihara produktif dan mau mendengarkan tenaga kerja.

Menurut Saydam (2000:208) tentang bentuk disiplin kerja yang

baik akan tergambar pada suasana:

a. Tingginya rasa kepedulian pegawai terhadap pencapaian tujuan yang

ingin dicapai.

b. Tingginya semangat dan gairah kerja dan inisiatif kerja pegawai dalam

melakukan kerjanya.

c. Besarnya rasa tanggungjawab para pegawai untuk melaksanakan tugas

sebaik-baiknya.

d. Berkembangnya rasa memiliki dan rasa solidaritas yang tinggi

dikalangan pegawai.

e. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.


18

Menurut Dharma (2004:388) perilaku tidak disiplin sering dijumpai

ditempat kerja adalah sebagai berikut:

a. Melanggar peraturan jam istirahat dan peraturan kerja lainnya.

b. Melanggar peraturan keamanan dan kesejahteraan.

c. Terlambat masuk kerja, mangkir dari pekerjaan.

d. Berkembang rasa tidak puas, saling curiga dan saling melempar rasa

tanggungjawab.

e. Bekerja dengan ceroboh dan merusak peralatan.

f. Terang-terangan menunjukan ketidakpatuhan, seperti

menolak melaksanakan tugas yan seharusnya dilakukan.

g. Sering terjadi konflik antara pegawai dan pimpinan.

Dalam usaha menegakkan kedisiplinan, maka perlu dikeluarkan

aturan- aturan berupa sanksi hukuman bagi para pegawai yang melanggar

tatatertib dan tidak melaksanakan kewajiban dengan baik, sehingga pada

akhirnya menimbulkan suasana tertib dalam melaksanakan pekerjaan.

Tujuan sanksi dan hukuman tersebut adalah memperbaiki dan

mendidik guru untuk tidak melakukan pelanggaran disiplin, sehingga

diharapkan tercipta tata tertib kelancaran tugas guru. Strategi yang perlu

diupayakan dalam penegakan disiplin adalah menciptakan kebiasaan-

kebiasan yang positif seperti kita ketahui bahwa pemberlakuan suatu

disiplin tidak mungkin terwujud dalam waktu mendadak, tetapi hanya

dapat dilakukan secara berangsur-angsur dan dibiasakan.


19

Disiplin adalah prosedur yang mengoreksi atau menghukum

bawahan karena melanggar peraturan dan prosedur. Disiplin merupakan

bentuk pengendalian diri guru dan pelaksanaan yang teratur dan

menunjukan tingkat kesungguhan tim kerja guru didalam suatu sekolah.

Oleh sebab itu, menumbuhkan disiplin membutuhkan kebiasaan-

kebiasaan positif dilingkungan dalam suatu sekolah, sehingga dengan

kebiasaan positif itu para guru akan terbiasa dengan berdisiplin tanpa

merasa terpaksa atau tekanan dari luar.

2.1.2.2.Jenis-Jenis Disiplin

Pemimpin organisasi harus mampu mengenal dan mempelajari

perilaku dan sifat guru-gurunya. Hal ini dapat membantu pemimpin

dalam memilih jenis motivasi kerja mana yang sesuai dengan gurunya.

Selain itu, perilaku dan sifat guru juga berpengaruh terhadap pemilihan

jenis pendisiplinan mana yang dapat diterapkan kepada guru.

Menurut Handoko (2008:208) Terdapat beberapa tipe kegiatan

pendisiplinan, antara lain :

1) Disiplin Preventif

Adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk mendorong para karyawan

agar mengikuti berbagai standar dan aturan, sehingga penyelewengan-

penyelewengan dapat dicegah.

2) Disiplin Korektif

Adalah kegiatan yang diambil untuk menangani pelanggaran terhadap

aturan-aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran-


20

pelanggaran lebih lanjut.

3) Disiplin Progresif

Adalah memberikan hukuman-hukuman yang lebih berat terhadap

pelanggaran-pelanggaran yang berulang.

Sasaran pokok dari disiplin preventif adalah untuk mendorong

disiplin diri di antara para guru. Dengan cara ini para guru dapat menjaga

disiplin diri mereka bukan semata-mata karena dipaksa pemimpin.

Pemimpin harus mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan suatu

iklim disiplin preventif di mana berbagai standar diketahui dan dipahami.

Bila para guru tidak mengetahui standar- standar apa yang harus dicapai,

mereka cenderung menjadi salah arah. Di samping itu, pemimpin

hendaknya menetapkan standar-standar secara positif dan bukan secara

negatif. Para guru biasanya perlu mengetahui alasan-alasan yang melatar

belakangi suatu standar agar mereka dapat memahami dan

menjalankannya. Sedangkan pada disiplin korektif kegiatannya biasanya

dapat diaplikasikan dalam suatu bentuk hukuman atau disebut juga

sebagai tindakan pendisiplinan (disciplinary action). Tindakan

pendisiplinan ini dapat berupa peringatan maupun skorsing.

Adapun sasaran tindakan pendisiplinan menurut Handoko

(2008:209) dapat dibagi menjadi tiga, antara lain sebagai berikut :

1) Untuk memperbaiki pelanggar,

2) Untuk menghalangi para guru yang lain melakukan kegiatan-kegiatan

yang serupa,
21

3) Untuk menjaga berbagai standar kelompok tetap konsisiten dan efektif.

Sasaran-sasaran tindakan pendisiplinan hendaknya bersifat positif,

bersifat mendidik dan mengoreksi. Sasaran tindakan pendisiplinan bukan

merupakan tindakan negatif yang dapat menjatuhkan guru yang berbuat

salah. Maksud pendisiplinan itu sendiri adalah untuk memperbaiki

kegiatan di waktu yang akan datang bukannya malah menghukum

kegiatan di masa lalu. Pendekatan negatif dalam menerapkan disiplin

kerja guru yang bersifat menghukum biasanya mempunyai berbagai

pengaruh sampingan yang merugikan, seperti hubungan emosional

terganggu, absensi guru meningkat, dan juga ketakutan yang dapat

menganggu kinerja guru.

Disiplin progresif dijalankan dengan tujuan untuk memberikan

kesempatan kepada guru untuk mengambil tindakan korektif sebelum

hukuman yang lebih serius diberikan. Disiplin progresif memungkinkan

pemimpin untuk membantu guru memperbaiki kesalahannya. Tindakan

pendisiplinan dapat diberikan berurut, misalnya :teguran secara lisan oleh

pimpinan, setelah itu teguran tertulis, dengan catatan dalam file

personalia, skorsing dari pekerjaan dalam jangka waktu tertentu,

penurunan jabatan (demosi), dan yang terakhir pemecatan. Tindakan ini

sering dikatakan sebagai kegagalan manajemen sumber daya manusia,

tetapi pandangan tersebut tidaklah realistik. Tidak ada pemimpin maupun

guru yang sempurna, sehingga hampir pasti ada saja berbagai masalah

yang tidak dapat dipecahkan.


22

2.1.2.3.Bentuk dan Pelaksanaan Sanksi Disiplin

Disiplin yang baik adalah disiplin diri. Kecenderungan orang

normal adalah melakukan apa yang menjadi kewajibannya dan

menempati aturan permainan. Suatu waktu orang mengerti apa yang

dibutuhkan dari mereka, dimana mereka diharapkan untuk selalu

melakukan tugasnya secara efektif dan efisien dengan senang hati. Kini

banyak orang mengetahui bahwa kemungkinan yang terdapat di balik

disiplin adalah meningkatkan diri dari kemalasan.

Pengenaan sanksi kepada para pelanggar disiplin, tergantung pada

tingkat pelanggaran yang telah dilakukan. Pelanggaran disiplin berupa

sering terlambat tentu lebih ringan sanksinya daripada sanksi yang

dikenakan kepada guru yang sering mangkir tidak masuk kerja. Sanksi

bagi guru yang tidak mau bekerja tentu lebih berat daripada sanksi bagi

pelanggar disiplin yang tidak mau memakai pakaian seragam dan

sebagainya.

Dengan demikian, penerapan sanksi itu sebaiknya diatur dengan

menampung usulan atau masukan yang berasal dari para guru sendiri.

Sehingga bila mereka diikut sertakan dalam menyusun sanksi itu sedikit

banyak akan dapat mengurangi ketidakdisiplinan itu sendiri.

Sanksi yang paling tepat dan bisa diterapkan adalah sanksi berupa

pengurangan hak-hak imbalan guru itu sendiri, seperti pengurangan gaji,

penurunan gaji, dan sebagainya sehingga bagi mereka benar-benar akan

terasa pengaruh sanksi itu bagi diri dan keluarganya.


23

Dengan adanya bentuk disiplin kerja yang baik akan tergambar

pada suasana :

1) Tingginya rasa kepedulian guru terhadap pencapaian tujuan organisasi.

2) Tingginya semangat dan gairah kerja dan inisiatif para guru dalam

melakukan pekerjaan.

3) Besarnya rasa tanggungjawab para guru untuk melaksanakan tugas

dengan sebaik-baiknya.

4) Berkembangnya rasa memiliki dan rasa solidaritas yang tinggi di

kalangan guru.

5) Meningkatnya efisiensi dan produktivitas para guru.

Menurut Sastrohadiwiryo (2002 : 293) bahwa sanksi disiplin kerja

terbagi menjadi 3, yaitu:

1) Sanksi Disiplin Berat

Sanksi disiplin berat misalnya:

a) Demosi jabatan yang setingkat lebih rendah dari jabatan/pekerjaan

yang diberikan sebelumnya.

b) Pembebasan dari jabatan/pekerjaan untuk dijadikan sebagai tenaga

kerja biasa bagi yang memegang jabatan.

c) Pemutusan hubungan kerja dengan hormat atas permintaan sendiri

tenaga kerja yang bersangkutan.

d) Pemutusan hubungan kerja tidak dengan hormat sebagai tenaga

kerja di organisasi.
24

2) Sanksi Disiplin Sedang

Sanksi disiplin sedang misalnya:

a) Penundaan pemberian kompensasi yang sebelumnya telah

dirancangkan sebagaimana tenaga kerja lainnya.

b) Penurunan upah sebesar satu kali upah yang biasanya diberikan,

harian, mingguan atau bulanan.

c) Penundaan program promosi bagi tenaga kerja yang bersangkutan

pada jabatan yang lebih tinggi.

3) Sanksi Disiplin Ringan

Sanksi disiplin ringan misalnya:

a) Teguran lisan kepada tenaga kerja yang bersangkutan.

b) Teguran tertulis.

c) Pernyataan tidak puas secara tertulis.

Mangkunegara (2009:131) mengatakan bahwa Pelaksanaan sanksi

terhadap pelanggar disiplin dengan memberikan peringatan, harus segera,

konsisten, dan impersonal.

a. Pemberian Peringatan

Guru yang melanggar disiplin kerja perlu diberikan surat peringatan

agar guru yang bersangkutan menyadari pelanggaran yang telah

dilakukannya.

b. Pemberian Sanksi Harus Segera

Guru yang melanggar disiplin kerja harus segera diberikan sanksi

sesuai dengan peraturan sekolah yang berlaku. Kelalaian pemberian


25

sanksi akan memperlemah disiplin yang ada.

c. Pemberian Sanksi Harus Konsisten

Pemberian sanksi kepada guru tidak disiplin harus konsisten agar guru

sadar dan menghargai peraturan-peraturan yang berlaku di sekolah.

Setiap orang yang melakukan pelanggaran yang sama akan dihukum

sesuai dengan hukum yang berlaku.

d. Pemberian Sanksi Harus Impersonal

Pemberian sanksi pelanggaran disiplin harus tidak membeda-

bedakan guru, tua-muda, pria-wanita tetap diberlakukan sama sesuai

dengan peraturan yang berlaku.

2.1.2.4.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan Guru

Guru sangat banyak makna dan artinya, ada yang bilang guru juga

arti guru di gugu terus ditiru yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah

dipercaya dan dicontoh. Guru dari bahasa sansekerta guru yang juga

berarti guru, tetapi artinya harafiahnya adalah “berat” adalah seorang

pengajar suatu ilmu.

Menurut WJS poerwadarminta (2007) dalam kamus umum bahasa

Indonesia yang disususnnya mengartikan bahwa guru adalah orang yang

pekerjaannya mengajar.McLeod (1989) dalam Hendry (2003) berasumsi

guru adalah seseorang yang pekerjaannya mengajar orang lain.

Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini

jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan

menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi


26

formal. Dalam defenisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajar suatu

hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. Jadi penegrtian guru

adalah tnaga pendidik yang pekerjaan utamanya mengajar(UUSPN tahun

1989 Bab VII pasal 27 ayat 3)

IG Wursanto (2004:146) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor

yang menyebabkan merosotnya disiplin guru antara lain :

a. Faktor kepemimpinan

Kepemimpinan adalah mengarahkan, membimbing, mempengaruhi

atau mengawasi pikiran, perasaan atau tindakandari tingkah laku

orang lain

b. Faktor kebutuhan

Pegawai tidak hanya menuntut terpenuhi kebutuhan ekonomis, tetapi

kebutuhan sosial dan psikologis perlu diperhatikan pula.

c. Faktor pengawasan

Faktor pengawasan sangat penting dalam usaha mendapatkan disiplin

kerja yang tinggi.

Suroso (2003:55) menjelaskan, Untuk menegakkan disiplin kerja

guru perlu dilaksanakan pengawasan yang sifatnya membantu setiap

porsenel agar selalu melaksanakan kegiatan sesuai dengan tugas dan

tanggung jawab masing- masing.


27

2.1.2.5.Indikator disiplin kerja

Pengertian disiplin adalah kewajiban, ketaatan kepada ketentuan,

peraturan, yang berkaitan dengan pekerjaan yang ditekuninya sebagai

seorang guru yang dapat dikukur dengan menggunakan indikator

meliputi: :1). Kehadiran, 2) pelaksanaan tugas ( kegiatan ), 3) program

tindak lanjut, 4) Bentuk-bentuk disiplin kerja guru Dirjen Dikdasmen,

(1996: 10-17)

2.1.2.6.Hubungan Disiplin dan Kinerja Guru

Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab

seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini

mendorong gairah kerja, semangat kerja dan terwujudnya tujuan sekolah

dan guru-gurunya. Oleh karena itu pemimpin selalu berusaha agar

bawahannya selalu mempunyai disiplin yang baik. Seorang pemimpin

dikatakan efektif dalam kepemimpinannya, jika bawahannya berdisplin

baik. Untuk memelihara dan meningkatkan kedisiplinan yang baik adalah

hal yang sulit, karena banyak faktor mempengaruhinya. gKedisiplinan

harus ditegakkan dalam lingkungan sekolah. Tanpa dukungan disiplin

guru yang baik, sekolah sulit untuk mewujudkan tujuannya yaitu

pencapaian kinerja optimal. Dengan demikian disiplin kerja guru dapat

berpengaruh terhadap disiplin kerja guru.


28

2.2. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu skripsi hasil penelitian

oleh Nugraheni & Rahmayanti dengan judul “Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap

Kinerja Guru di MI Al Islam Tempel dan MI Al Ihsan Medari“, menyimpulkan

bahwa disiplin kerja terhadap kinerja guru di MI Al Islam Tempel dan MI Al

Ihsan Medari. Besarnya pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja guru ialah

sebesar 0,686 atau 68,9% sedangkan sisanya 31,1% kinerja guru dipengaruhi

oleh faktor-faktor lain di luar disiplin kerja. Hal ini dibuktikan dengan regresi

linier melalui SPSS versi 21.

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu skripsi hasil penelitian

oleh Amin (2016) dengan judul “Pengaruh Professionalitas Dan Kedisiplinan

Guru Terhadap Prestasi Kinerja Guru Sma Negeri 1 Pademawu Kabupaten

Pamekasan”, menyimpulkan bahwa kedisiplinan guru secara signifikan

berpengaruh terhadap kinerja guru. Hasil penelitian menunjukan kedisiplinan

guru menyumbang pengaruh sebesar 26,8%, 63,9% dipengaruhi oleh

profesionalitas guru dan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar

profesionalisme dan disiplin kerja. Hal ini dibuktikan dengan regresi linier

melalui SPSS versi 16.

Penelitian lain yang relevan dengan penelitian ini yaitu skripsi hasil

penelitian oleh Saifullahudi , dkk (2017) dengan judul “Pengaruh Sertifikasi

Guru, Disiplin Kerja Dan Religiusitas Terhadap Kinerja Guru”, menyimpulkan

bahwa disiplin kerja memiliki peranan yang sangat penting dalam mengarahkan

kehidupan manusia untuk mencapai tujuan dan keberhasilannya dalam bekerja,


29

karena tanpa disiplin maka orang tersebut tidak memiliki patokan tentang apa

yang baik dan buruk dalam perilakunya sehingga mampu mendukung

peningkatan kinerja guru yang pada gilirannya akan berdampak pada

peningkatan kinerja organisasi / institusi secara keseluruhan.

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu skripsi hasil penelitian

oleh Hasbullah dengan judul “Pengaruh Profesionalisme, Motivasi Dan

Penghargaan Terhadap Kekerasan Terhadap Disiplin Kerja Dan Implikasinya

Pada Kinerja Guru: Studi Empirik Pada Guru Sekolah Tinggi Di Kabupaten

Karawang”, menyimpulkan bahwa disiplin kerja mampu memediasi parsial

profesionalisme, motivasi berprestasi dan pemberdayaan pada kinerja Guru. Hal

ini dibuktikan dengan alat analisis menggunakan Structural Equation Model

(SEM)

2.3. Kerangka Teoritis

Guru merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan proses belajar

mengajar di sekolah. Dikatakan demikian karena guru merupakan individu yang

berhadapan langsung dengan para siswanya. Tinggi rendahnya prestasi siswa

berkaitan erat dengan kinerja guru yang sehari-hari mendampingi siswanya.Oleh

karena itu guru yang memiliki kinerja yang baik merupakan guru yang

diharapkan oleh lembaga maupun siswanya untuk terus melakukan tugasnya

dengan baik. Kinerja merupakan perasaan dorongan yang diinginkan oleh guru

dalam bekerja.
30

Peningkatan kinerja guru perlu didukung dengan adanya disiplin kerja

guru. Disiplin timbul dari kebutuhan untuk mengadakan keseimbangan antara

apa yang ingin dilakukan oleh individu dan apa yang diinginkan oleh orang lain,

sampai batas-batas tertentu dan memenuhi tuntunan orang lain dari dirinya

sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan tuntunan dari perkembangan

yang lebih luas

Peran kepala sekolah sebagai pemimpin di SDN Bangetayu Wetan

sangatlah penting dan yang bertanggungjawab menyangkut disipin kerja guru

seperti melakukan pengawasan yang baik, menciptakan lingkungan kerja yang

baik, serta pembinaan pada guru yang kurang produktif juga melaksanakan

evaluasi dan prosedur pelatihan untuk membentuk tindakan disiplin. Tanpa

adanya hal tersebut, mustahil upaya menjadikan pendidikan berkualitas dapat

tercapai.

Secara sistematis dapat dibuat skema kerangka pemikiran dalam penelitian

ini sebagai berikut:

Kedisiplinan
Kinerja Guru

Gambar II.1 Kerangka Berpikir


31

2.4. Perumusan Hipotesis

Untuk memperlancar penelitian, maka perlu dirumuskan hipotesis.

Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara

terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.

Berdasarkan kajian teori dan kerangka pemikiran yang dikemukakan diatas,

maka dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut:

Ada hubungan yang signifikan antara kedisiplinan dengan kinerja guru Guru di

SDN Bangetayu Wetan.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Desain penelitian

menggunakan One Shoot Case Study, dengan model regresi linier sederhana yang

digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel

terikat. Sundayana, (2016:190) mengungkapkan “analisis regresi digunakan

sebagai alat untuk melihat hubungan fungsional antar variabel untuk tujuan

peramalan, dimana dalam model tersebut ada satu variabel bebas (independent

variabel) diberi notasi x dan variabel terikat (dependent variabel) diberi notasi y”.

X : Kedisiplinan

Y : Kinerja Guru Pada SDN Bangetayu Wetan

Analisis regresi data harus berskala rasio atau interval. Pengumpulan data

variabel bebas melalui pengamatan (observasi) sedangkan variabel terikat melalui

angket. Penelitian ini menggunakan model regresi linier sederhana, yaitu bentuk

regresi dengan model yang bertujuan untuk mempelajari hubungan antara dua

variabel, yakni variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat)”.

penelitian ini akan mencari ada tidaknya hubungan antara kedisiplinan terhadap

kinerja guru di SDN Bangetayu Wetan

32
33

3.2. Populasi dan Sample

3.2.1. Populasi Penelitian

Menurut Sundayana (2016:15) populasi didefinisikan sebagai keseluruhan

subyek atau objek yang menjadi sasaran penelitian yang mempunyai karakteristik

tertentu. Menurut Sugiyono (2015: 117) populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas obyek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-

benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada

obyek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang

dimiliki oleh subyek atau obyek itu. Adapun jumlah guru pada masing-masing

sekolah yang dijadikan anggota populasi adalah sebesar 13, di SDN Bangetayu

Wetan Jadi keseluruhan jumlah populasi penelitian yaitu sebesar 13.

3.2.2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang

diteliti). Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai

sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi. Adapun penentuan jumlah

sampel yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah dengan metode

sensus berdasarkan pada ketentuan yang dikemukakan oleh Sugiyono (2002 : 61-

63 ), yang mengatakan bahwa: “Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel

bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Istilah lain dari sampel

jenuh adalah sensus.”

Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah


34

metode sampel jenuh. Metode sampel jenuh adalah teknik penentuan sampel bila

semua anggota populasi digunakan menjadi sampel.

3.2.3. Teknik Pengambilan Sampel

Sampel adalah sebagian dari pupolasi yang memiliki karakteristik yang

relatif sama dan dianggap bisa mewakili populasi. Sampel merupakan bagian dari

jumlah dan karakterisitik yang dimiliki oleh suatu populasi yang akan diteliti.

Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan jenis Non Probability

Sampling. Non Probability Sampling jenis sampel ini tidak dipilih secara acak.

Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa

dipilih menjadi sampel.

Menurut Sugiyono (2001: 60) nonprobability sampling adalah teknik yang

tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota

populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Teknik Non Probability Sampling yang dipilih yaitu dengan Sampling

Jenuh (sensus) yaitu metode penarikan sampel bila semua anggota populasi

dijadikan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan apabila jumlah populasi kecil,

kurang dari 30 orang (Supriyanto dan Machfudz, 2010: 188).

Dalam penelitian ini sampel yang akan diambil adalah semua guru yang

mengajar di SDN Bangetayu Wetan Jadi keseluruhan jumlah populasi penelitian

yaitu sebesar 12 guru dan 1 orang kepala sekolah. Teknik pengambilan sampel

dengan menggunakan metode sampel jenuh. Metode sampel jenuh adalah teknik

penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan menjadi sampel.


35

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah teknik yang digunakan peneliti untuk

mengumpulkan data penelitianya. Teknik dalam pengumpulan data dalam

penelitian ini yaitu angket.

1) Kuesioner (Angket)

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada

responden untuk dijawabnya. Sugiyono, (2015:142). Dalam penelitian ini

kuesioner yang akan diberikan peneliti adalah mengenai pengaruh

kedisiplinan terhadap kinerja guru di SDN Bangetayu Wetan. Adapun

langkah-langkah pengumpulan data dengan angket dalam penelitian ini,

adalah sebagai berikut:

a. Menyusun kisi-kisi angket dengan merumuskan indikator pertanyaan.

b. Menyusun pernyataan dengan pernyataan berstruktur dengan jawaban

tertutup.

c. Membuat pedoman atau petunjuk untuk menjawab pertanyaan guna

memudahkan responden untuk menjawab pertanyaan.

d. Jika angket sudah tersusun dengan baik maka dapat dipergunakan..

2) Interview (Wawancara)

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti

ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang

harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari

responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit.


36

Sugiyono, (2015:137). Wawancara melibatkan percakapan yang dilakukan

oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan

terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.

Ketika melakukan wawancara, pewawancara mendengarkan dengan teliti

atas jawaban yang diberikan oleh narasumber yang selanjutnya dicatat

sebagai bahan data. Penelitian ini wawancara dilakukan di SDN

Bangetayu Wetan dilakukan dengan pedoman wawancara yang berisi

pertanyaan, sehingga proses wawancara berjalan dengan terstruktur.

Pedoman wawancara dibuat terkait kedisiplinan dan kinerja guru di SDN

Bangetayu Wetan. Adapun langkah-langkah pengumpulan data dengan

wawancara adalah sebagai berikut:

a. Merumuskan tujuan wawancara

b. Membuat kisi-kisi dan pedoman wawancara

c. Menyusun pertanyaan sesuai data yang diperlukan

d. Melakukan wawancara
37

3.4. Instrumen Penelitian

1) Penyusunan Instrumen

Menurut Sugiyono, (2015:102) instrumen penelitian adalah suatu

alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang

diamati. Secara spesifik fenomena ini disebut variabel penelitian. Dalam

penelitian ini instrumen yang digunakan adalah instrumen angket.

Kuesioner (Angket) merupakan teknik pengumpulan data yang

dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan

tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Sugiyono, (2015:142).

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan angket tertutup. Angket

tertutup yaitu angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa

sehingga responden tinggal memberikan tanda centang pada kolom atau

tempat yang sesuai. (Suharmi Arikunto, (2006:149). Dengan

digunakannya angket tertututup, responden tidak dapat memberikan

jawaban lain kecuali ada jawaban alternative lain yang tersedia. Dalam

pengukurannya, setiap responden diminta pendapatnya mengenai suatu

jawaban. Pada umumnya opsi jawaban terdiri atas lima dan masing-

masing mempunyai nilai yang berbeda. Skala yang digunakan dalam

penelitian ini menggunakan skala Likert.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Skala Likert kategori

pilihan genap, yaitu empat pilihan kategori. Menurut Sukardi,

(2003:147), menyatakan bahwa untuk menskor skala kategori Likert,

jawaban diberi bobot atau disamakan nilai 4,3,2,1 untuk empat pilihan
38

pernyataan positif dan 1,2,3,4 untuk pernyataan negatif.

Tabel 3.3 Rentang Skala Likert

Pernyataan Sangat Setuju Tidak Sangat


Setuju Setuju Tidak Setuju
Positif 4 3 2 1
Negatif 1 2 3 4
(Sukardi, 2003:147)

Instrumen penelitian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana

instrumen yang digunakan memiliki kualitas yang baik, karena

instrumen sebuah penelitian sangat berpengaruh terhadap kualitas data

dari penelitian tersebut. Instrument pada penelitian pada umumnya

memiliki dua syarat yaitu validitas dan reliabilitas.

Pada kisi-kisi angket kedisiplinan butir soal no 1-10 merupakan

pernyataan tertutup. Butir pernyataan angket dinyatakan dalam

pernyataan positif dan negatif. Adapun kisi kisi angket kedisiplinan

adalah sebagai berikut:

Tabel 3.4. Kisi-Kisi Angket Kedisiplinan

No Sub Indikator No. Jumlah


Butir
1 Kehadiran, 2,9 2
2 pelaksanaan tugas ( kegiatan ), 3, 6, 8 3
3 program tindak lanjut, 1, 10 2
4 Bentuk-bentuk disiplin kerja guru. 4, 5, 7 3

Pada kisi-kisi angket kinerja guru dalam pembelajaran butir soal no

11-25 merupakan pernyataan tertutup. Butir pernyataan angket

dinyatakan dalam pernyataan positif dan negatif. Adapun kisi kisi angket

kinerja guru adalah sebagai berikut:


39

Tabel 3.5Kisi-kisi Angket Kinerja Guru

No Sub Indikator No. Butir Jumlah


1 Menguasai bahan yang akan diajarkan 12, 14, 22 4
2 Kemampuan mengelola kelas 13, 17, 21 2
3 Merencanakan pembelajaran 15, 23 1
4 Melaksanakan kegiatan pembelajaran 16,25 1
5 Menilai hasil belajar 11, 20,24 2
6 Menggunakan media/sumber pelajaran 18, 19 2

Berikut adalah penjelasan cara uji instrumen tes soal uji coba

penelitian

a. Uji Validitas

Sebuah instrumen evaluasi dikatakan memiliki validitas

konstruk jika butir soal yang membangun instrumen tersebut

mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam

tujuan evaluasi (Arikunto, 2013: 83). Pembuktian validitas

konstruk dapat dilakukan dengan cara, yaitu exploratory factor

analysis (EFA). Penelitian ini menggunakan metode EFA untuk

membuktikan validitas konstruk instrumen dan dibantu program

SPSS 22.0. Beberapa langkah yang dilakukan dalam metode EFA

adalah sebagai berikut: Pengujian KMO and Bartlett’s Test Pada

langkah ini, analisis faktor layak dilakukan apabila nilai Kaiser-

Meyer-Olkin measure of sampling adequacy (KMO) lebih dari 0,5.

Selain itu, harus dipenuhi syarat bahwa nilai signifikansi kurang

dari 0,01. Dengan demikian, hasil tersebut menunjukkan bahwa

sampel yang digunakan pada analisis faktor telah cukup

(Retnawati, 2016: 47).


40

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas instrumen penelitian adalah suatu alat yang

memberikan hasil yang tetap sama (konsisten, ajeg), hasil

pengukuran harus tetap sama (relatif sama) jika pengukurannya

diberikan pada subyek yang sama meskipun dilakukan oleh orang

yang berbeda, waktu yang berlainan, dan tempat yang berbeda

pula, tidak terpengaruh oleh pelaku, situasi dan kondisi. Alat ukur

yang reliabilitasnya tinggi disebut alat ukur yang reliabel (Sundaya,

2016 : 69). Adapun pengujian uji reliabilitas dapat menggunakan

rumus sebagai berikut :

Rumus Spearman Brown


2𝑟
𝑟𝑖 = 1+𝑟𝑏
𝑏

Dimana

𝑟𝑖 = reliabilitas internal seluruh instrument

𝑟𝑏 = korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua

Selanjutnya untuk mengukur koofisien reliabilitas yang

dihasilkan dapat menggunakan kriteria sebagai berikut :

Tabel 3.1. Klasifikasi Koefisien Reliabilitas

Koofisien Reliabilitas (r) Interprestasi


0,00 ≤ r < 0,20 Sangat Rendah
0,20 ≤ r < 0,40 Rendah
0,40 ≤ r < 0,60 Sedang/Cukup
0,60 ≤ r < 0,80 Tinggi
0,80 ≤ r < 1,00 Sangat tinggi
41

3.5. Teknis Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kuantitatif merupakan kegiatan setelah data

dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis

data adalah: mengelompokan data berdasarkan variabel dan jenis responden,

mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data

tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan

masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.

(Sugiyono:2015:147).

Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik.

Terdapat beberapa dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam

penelitian, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Sugiyono, (2015:147).

Penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif menurut

Sugiyono, (2015:147) adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data

dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul

sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk

umum atau generalisasi.

Sugiyono (2008:243) menjelaskan bahwa analisis regresi linier sederhana

didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal satu variabel independen

dengan satu variabel dependen.

1. Analisis Data Awal

Analisis data awal digunakan agar peneliti mengetahui kondisi awal kelas

sampel, data yang dianalisis oleh peneliti yaitu data hasil angket tentang

kedisiplinan terhadap kinerja guru SDN Bangetayu Wetan. Dalam analisis ini
42

peneliti memasukan hasil perolehan angket responden kedalam tabel distribusi

frekuensi untuk memudahkan perhitungan dalam pengolahan data selanjutnya.

Adapun analisis data dapat menggunakan uji normalitas.

Uji normalitas dapat dilakukan agar peneliti mengetahui data yang hendak diteliti,

penggunaan uji normalitas untuk mengetahui sampel yang digunakan berdistribusi

normal atau tidak normal. Hipotesis yang dapat digunakan sebagai berikut:

Ho : (data berditribusii normal)

Ha : (data tidak berdistribusi normal)

Penelitian ini, akan menggunakan Uji Liliefors, uji ini biasanya digunakan

pada data distrik yaitu dalam bentuk sebaran atau tidak dalam bentuk interval.

Langkah langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Menghitung nilai rata-rata dan simpangan bakunya

2. Susunlah dari data yang terkecil sampai data yang terbesar pada tabel

3. Mengubah nilai x pada nilai z dengan rumus:

4. Menghitung luas z dengan menggunakan tabel

5. Menentukan nilai proporsi data yang lebih kecil atau sama dengan data

tersebut

6. Menghitung selisih luas z dengan nilai proporsi

7. Menentukan lurus maksimum (Lmaks ) dari langkah sebelumnya

8. Menentukan luas tabel Liliefors ( Ltabel), (Ltabel ) = (n-1)

9. Kriteria kenormalan, jika Lmaks ≤ Ltabelmaka data berdistribusi normal.

(Sundayana, 2016:83)
43

2. Analisis Data Akhir

Data akhir yang akan dianalisis dalam penelitian ini berupa hasil angket sikap

siswa. Analisis data akhir dilakukan untuk menguji hipotesis.

a) Uji Normalitas

Uji normalitas pada tahap akhir digunakan untuk mengetahui bahwa

data berdistribusi normal atau tidak. Jika data berdistribusi normal maka

digunakan statistik parametrik untuk pengujian hipotesis. Adapun

hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:

Ho : Data berdistribusi normal

Ha : Data tidak berdistribusi normal

Penelitian ini akan menggunakan Uji Liliefors, uji ini biasanya

digunakan pada data distrik yaitu dalam bentuk sebaran atau tidak dalam

bentuk interval. Langkah langkahnya adalah sebagai berikut:

1) Menghitung nilai rata-rata dan simpangan bakunya

2) Susunlah dari data yang terkecil sampai data yang terbesar pada tabel

3) Mengubah nilai x pada nilai z dengan rumus:

4) Menghitung luas z dengan menggunakan tabel

5) Menentukan nilai proporsi data yang lebih kecil atau sama dengan data

tersebut

6) Menghitung selisih luas z dengan nilai proporsi

7) Menentukan lurus maksimum (Lmaks ) dari langkah sebelumnya

8) Menentukan luas tabel Liliefors ( Ltabel), (Ltabel) = (n-1)

9) Kriteria kenormalan, jika Lmaks ≤ Ltabel maka data berfrekuensi normal.


44

(Sundayana, 2016:83)

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan taraf signifikan 5% bila

harga lebih kecil , maka distribusi dinyatakan normal, dan bila lebih besar

dikatakan tidak normal.

b) Uji Hipotesis.

Persamaan Regresi digunakan untuk memprediksi seberapa tinggi

nilai variabel dependen dan variabel independen dimanipulasi, uji

hipotesis dapat menggunakan rumus regresi linier sederhana, adapun

rumus dari regresi linier sederhana adalah sebagai beriku :

𝑌 ′ = a+b X

(Sugiyono, 2015:262)

Dimana

Y’ : Nilai yang diprediksi (kinerja guru)

a : Konstanta

b : Koefisiensi Regresi

X : Nilai variabel independen (kedisiplinan)


45

Nilai a dan b dapat dihitung dengan menggunakan Rumus

dibawah ini :

Nilai a dan b dapat dicari dengan rumus

(∑𝑌)(∑𝑥 2 )−(∑𝑋)(∑𝑋𝑌)
a= 𝑛∑𝑥 2 − (∑𝑋)2

𝑛(∑𝑋𝑌)−(∑𝑋)(∑𝑌)
b= 𝑛∑𝑋 2 −(∑𝑋)2

3.6. Jadwal Penelitian

Tabel 3.9

Jadwal Penelitian

No Kegiatan Tahun 2017/ 2018


Nov 2018 Des 2018 Jan 2019 Feb 2019 Mar 2019
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Tahap persiapan
penelitian
a. Penyusuan
dan
pengajuan
judul
b. Pengajuan
Proposal
c. Perijinan
Penelitian
2. Tahap
Pelaksanaan
a. pengumpula
n data
b. Analisis Data
3. Tahap
penyusunan
Laporan
4. Seminar
Proposal