Anda di halaman 1dari 39

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sekolah Dasar adalah salah satu organisasi yang terdiri dari beberapa

orang. Sekolah Dasar terdapat para guru, petugas administrasi, dan penjaga

sekolah dipimpin oleh seorang kepala sekolah. Kepala sekolah mempuyai peran

sentral dalam menentukan kebijakan Sekolah. Kepala sekolah ini sebagai

pemimpin sekaligus manager bagi sekolahnya. Kemajuan suatu sekolah sangat

tergantung dari peran seorang kepala sekolah dalam memimpin sekolah tersebut.

Kepemimpinan merupakan sifat dari pemimpin dalam melaksanakan tugas

dan kewajibannya. Sifat pemimpin dalam memikul tanggung jawabnya secara

moral dan legal formal atas seluruh pelaksanaan wewenangnya telah

didelegasikan kepada orang-orang yang dipimpinnya. Jadi, kepemimpinan lebih

bersifat fugsional yang akan dibedakan dengan tipe-tipe tertentu. Kepemimpinan

juga merupakan pelaksanaan dari keterampilan mengelola orang lain sebagai

bawahannya. Mengelola sumber daya manusia dan sumber daya organisasi secara

umum. Oleh karena itu, setiap pemimpin perlu memiliki managerial skill yang

sangat berpengaruh pada kekuasaan yang dimilikinya (Hasan, 2014: 16).

Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Triyanto (2013) “kepemimpinan

dalam dunia pendidikan berkaitan dengan masalah kepala sekolah dalam

meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan

para guru dengan situasi yang kondusif.” Adanya masalah yang terkait, perilaku

kepala sekolah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan
2

rasa bersahabat, dekat dan penuh pertimbangan terhadap para guru, baik sebagai

individu dan sebagai kelompok.

Seorang pemimpin hendaknya mempunyai sifat kepemimpinan dalam

menjalankan tugasnya. Sifat yang diinginkan oleh seorang pemimpin yaitu adil,

cerdas, jujur, tegas, terbuka, memiliki kemampuan memengaruhi kehidupan

orang lain sehingga bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan, dan konsisten

dalam menjalankan tugasnya, fungsinya dan kewajibannya. Pemimpin

hendaknya memberikan motivasi terhadap bawahannya yang akan

mempertimbangkan kondisi objektif yang melingkupinya. Bukan hanya menuntut

kewajibannya saja, melainkan juga memberikan hak yang sepadan dengan

kewajiban yang dilaksanakan. Pemimpin juga hendaknya mempuyai dan

memahami tujuan yang harus dicapai oleh bawahannya. Karena seorang

pemimpin akan bergerak pada tujuannya dan akan dicapai bersama apabila

terpenuhi semua kebutuhan dasarnya. Kebutuhan dasar itu ada yang bersifat

rohani, seperti rasa aman, sosial, penghargaan dan ketenagan beribadah. Ada juga

kebutuhan dasar yang bersifat jasmani, seperti terpenuhnya sandang, pangan dan

papan. Maka dari itu seorang pemimpin harus bisa memberikan motivasi dan

contoh terhadap bawahannya, agar tercapainya tujuan yang diinginkan.

Seorang pemimpin yang bisa memberikan motivasi terhadap bawahannya

akan terjalin hubungan yang baik terhadap pekerjaannya. Misalnya, seorang

pemimpin di sekolah yaitu kepala sekolah sedang memimpin bawahannya

hendaknya bisa memperlakukan semua bawahannya dengan cara yang sama dan

adil, sehingga tidak ada rasa diskriminasi. Kepala sekolah juga dapat
3

menciptakan rasa kebersamaannya dengan guru, staf, dan para siswa.

Memberikan saran kepada bawahannya didalam melaksanakan tugasnya.

Mempunyai rasa tanggung jawab dan menciptakan rasa aman di lingkungan

sekolah, serta memberikan penghargaan kepada setiap bawahannya, seperti

kenaikan pangkat, fasilitas, dan sebagainya.

Keberhasilan seorang kepala sekolah dapat dilihat dengan mengetahui

tingkat kepedulian kepala sekolah terlibat terhadap kedua orientasi meliputi: 1)

apa yang dicapai oleh organisasi sekolah (organizational achievement) dan 2)

pembinaan terhadap organisasi sekolah (organizational maintenance).

Organizational achievement meliputi produksi, pendanaan, kemampuan adaptasi

dengan program-program inovatif, dan sebagainya.” Sedangkan organizational

maintenance, berkaitan dengan variabel kepuasan bawahan, motivasi, dan

semangat kerja.

Pendapat Rahman, dkk dari buku yang ditulis Hasan Basri: Rahman, dkk

(Hasan Basri, 2014: 40) mengemukakan bahwa "kepala sekolah adalah seorang

guru (jabatan fungsional) yang diangkat untuk menduduki jabatan struktural

(kepala sekolah) di sekolah”. Berdasarkan dari beberapa pengertian tersebut,

dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah adalah guru yang mempunyai

kemampuan untuk memimpin segala sumber daya yang terdapat didalam sekolah,

sehingga dapat digunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan bersama.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 pasal 1.1 tentang

Guru dan UU. No. 14 tahun 2005 pasal 1.1 tentang Guru dan Dosen, guru adalah

pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,


4

mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan

anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan

menengah.

Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 pasal 7.1.i disebutkan bahwa “Guru

harus memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-

hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.” Pasal 41.3 menyebutkan

“Guru wajib menjadi anggota organisasi profesi”. Ini berarti setiap guru di

Indonesia harus tergabung dalam suatu organisasi yang berfungsi sebagai wadah

usaha untuk membawakan misi dan memantapkan profesi guru.”

Seseorang akan bekerja secara profesional bilamana orang tersebut

memiliki kemampuan (ability) dan kinerja, maksudnya adalah seseorang akan

bekerjasama profesional bilamana memiliki kemampuan kerja yang tinggi dan

kesungguhan hati untuk mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Seorang guru

dapat dikatakan profesional bila memiliki kemampuan tinggi (high level of

abstrack) dan motivasi kerja tinggi (high level of commitment).

Kinerja pada setiap individu berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan

ini terjadi disebabkan adanya perbedaan karakteristik pada masing-masing

individu itu sendiri. Seseorang yang memiliki keinginan untuk berprestasi akan

menghasilkan kinerja yang optimal. Sebaliknya orang yang tidak memiliki

keinginan untuk berprestasi, cenderung menghasilkan kinerja yang rendah pula.

Situasi dan kondisi kerja yang dialami oleh setiap individu ikut adil memberikan

pengaruh terhadap pencapaian kinerja ini.

Pernyataan tersebut sejalan dengan kutipan Husaini Usman dari jurnal yang
5

di tulis Syamsul Bahri: Husaini Usman (Syamsul Bahri, 2011: 4) mengemukakan

bahwa “kinerja adalah hasil interaksi antara motivasi dan kemampuan yang

dikenal dengan teori harapan (expectancy theory). Untuk menghasilkan kinerja

yang tinggi seseorang tentu harus mempunyai motivasi dan kemampuan yang

tinggi, sebaliknya apabila seseorang mempunyai kemampuan dan motivasi yang

rendah maka kinerja yang dihasilkan rendah pula”.

Berikut adalah hasil perolehan nilai Penilaian Kinerja Guru (PKG) yang

dilakukan oleh kepala sekolah :

Tabel 1.1.
Hasil PKG GuruTahun 2018
No Nama Guru Nilai PKG
1 DWI PUTRI SRI ZUHRIYAH, S.Pd.SD 85,71
2 LATIF HIDAYAT, S.Pd.I 83,93
3 QURRATU A'YUN, S.Pd.SD 83,93
4 YEREMIA SUHARTO, S.Ag. 83,93
5 ULYA MUFIDAH, S.Pd.SD 83,93
6 AM. SUHARSONO 83,93
7 DINIK YUNI ASTUTI, S.Pd. 85,71
8 EFREM ARYAN WICAKSONO, S.Pd. 83,93
9 ENDANG AGUS DWIKORALIN, S.Pd.SD 85,71
10 ENI SRI SUSILOWATI, S.Pd. 85,71
11 IRA HERAWATI, S.Pd.SD 85,71
12 MOCHAMAD SOLIKIN, S.Pd.SD 85,71
13 NANIK SULISTIAWATI, S.Pd.SD 85,71
14 PONIRAH, S.Pd.SD 85,71
15 PUJI KURNIA, S.Pd.SD 85,71
16 SARWINI, S.Pd.SD 85,71
17 SITI HIDAYAH, S.Pd.SD 85,71
18 SUTOPO BUDI HARSONO 83,93
19 TRI LESTARI, S.Pd.SD 85,71
20 TRISNASARI WIGATI, S.Pd.SD 85,71
21 UMMI RIYADLOH, S.Pd.I 83,93
RATA-RATA 85,03

Rendahnya kinerja guru terhadap proses pembelajaran, berdasarkan hasil

wawancara dan observasi yang peneliti lakukan, tampak sebagian guru belum

bisa menunjukkan kinerja dengan baik dalam menjalankan tugas dan fungsinya,
6

artinya belum bisa menjalankan tugas pokoknya dan fungsi sebagai guru, seperti:

kegiatan dalam merencanakan program pengajaran, melaksanakan kegiatan

dalam proses pembelajaran, pengembangan pengajaran yang menjadi tanggung

jawabnya. Sebagai gambaran cara pengajarannya, guru belum sepenuhnya

menguasai bahan yang akan diajarkan. Penggunaan media belajar sebagai bahan

ajarjuga belum maksimal, guru terkesan lebih aktif berceramah sehingga materi

kurang dipahami siswa. Selain itu guru dalam mengelola kelas guru tampak

belum maksimal dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan permasalahan tersebut maka diperlukan pemimpin yang

mampu mengarahkan bawahannya kedalam tujuan yang diinginkan. Pemimpin

akan memberikan dorongan dan motivasi terhadap bawahannya. Seorang

pemimpin hendaknya memiliki sifat kepemimpinan yang cukup tinggi. Mampu

menggerakkan pengikutnya untuk berlomba dalam kebaikan menurut bakatnya.

Kepala sekolah juga sebagai pemimpin hendaknya menggerakkan mental yang

tinggi untuk membantu dalam urusan kebaikan.

Kepala sekolah akan membimbing, memotivasi dan mengarahkan

bawahannya cara mengajar dengan efektif, tidak monoton seperti halnya zaman

dahulu. Kepala sekolah dapat mempengaruhi bawahannya, hendaknya

memahami apa yang menjadi kebutuhan bawahannya. Keberhasilan pengelolaan

sekolah ditentukan oleh kegiatan pemberdayaan sumber daya manusia. Jadi,

kepala sekolah hendaknya memberikan bimbingan, motivasi arahan kepada guru

agar dapat melaksanakan tugas mereka sesuai dengan aturan dan pengarahan,

pada akhirnya akan tercapai sebuah tujuan yang diiginkan bersama.


7

Oleh karena itu agar memperoleh kualitas pendidikan yang sesuai dengan

tujuan yang telah ditetapkan, maka guru dituntut untuk selalu memiliki kinerja

yang tinggi. Masalah kinerja guru perlu mendapatkan perhatian yang serius.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti bermaksud melaksanakan

penelitian tentang kinerja guru ditinjau dari pelaksanaan fungsi kepemimpinan

kepala sekolah.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang dipaparkan di atas, maka yang

menjadi fokus perhatian dan sekaligus menjadi problem adalah sejauh mana

kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru. Masalah

pokok tersebut teridentifikasi sebagai berikut:

1.2.1. Kinerja Guru di Sekolah Dasar (SD) Negeri Karangroto Kecamatan

Genuk Kota Semarang menunjukkan kurang optimal dalam

melakukan tugasnya.

1.2.2. Kinerja Guru juga akan ditentukan oleh Kepemimpinan Kepala

Sekolah selaku figur sentral dalam suatu sekolah.

1.2.3. Kepemimpinan Kepala Sekolah yang baik dalam memimpin dan

memberdayakan sumber daya manusia khususnya guru akan

mempengaruhi kinerja guru.

1.2.4. Guru dalam melaksanakan tugasnya akan ditentukan oleh faktor,

dalam penelitian ini kinerja guru akan dipengaruhi oleh

kepemimpinan kepala sekolah yang melekat pada kinerja guru.


8

1.3 Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini dapat dilakukan lebih fokus, dan mendalam, maka

penulis memandang permasalahan penelitian yang diangkat perlu dibatasi

variabelnya. Oleh sebab itu, penulis membatasi diri hanya berkaitan dengan

“kinerja guru kurang optimal dalam menjalankan tugas, kepemimpinan kepala

sekolah”. Kinerja guru dipilih karena peningkatan kinerja guru akan membawa

kemajuan bagi sekolah.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah yang telah penulis pilih maka dapat

dirumuskan permasalahan penelitian ini sebagai berikut “Apakah terdapat

pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru pada SD Negeri

Karangroto di Kecamatan Genuk Kota Semarang?”

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis besarnya pengaruh

kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru pada SD Negeri di

Kecamatan Genuk Kota Semarang.


9

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis

sebagai berikut:

a. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan dan memperkaya

teori- teori berkaitan dengan Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap

Kinerja Guru Di SDN Karangroto 04 Semarang.

b. Manfaat Praktis

Secara praktis, manfaat yang dapat diperoleh melalui temuan penelitian

ini adalah sebagai berikut:

1) Bagi Dinas Pendidikan, khususnya UPTD Dinas Pendidikan

Kecamatan Genuk Kota Semarang diharapkan dapat sebagai bahan

pertimbangan dan membina guru sekolah dasar dan pengaruh

kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SDN

Karangroto 04 Semarang.

2) Dapat memberikan motivasi tehadap guru sekolah dasar agar

menjadikan guru yang diingginkan dan guru yang bermutu tinggi.


10

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kajian Teori

2.1.1 Kepemimpinan Kepala Sekolah

Menurut John A. Ross dan Peter Gray (2006: 801) mengemukakan bahwa

“kepemimpinan tindakan yang berkontribusi terhadap keampuhan guru meliputi

penekanan prestasi. Sutomo, (2006: 81) mengemukakan bahwa “pemimpin

adalah orang yang memimpin, orang yang memegang tangan sambil berjalan

untuk menuntun, menunjukan jalan orang yang dibimbing, orang yang

menunjukkan jalan dalam arti kiasan, orang yang melatih, mendidik, mengajari

supaya akhirnya dapat mengerjakan sendiri”.

Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Hasan, (2014: 12)

mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah sikap pemimpin dalam

menjalankan fungsinya. Adapun sifat yang diharapkan dimiliki seorang

pemimpin adalah sebagai berikut:

a. Adil, yaitu sifat utama yang harus dimiliki pemimpin.

b. Cerdas, yaitu seorang pemimpin harus cerdas secara intelektual,

emosional, dan spiritual.

c. Jujur, yaitu semua pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan

memberikan kemaslahatan bagi masyarakat atau bawahannya.

d. Tegas, yaitu tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan demi


11

kemaslahatan umum yang lebih kuat dibandingkan dengan demi

kepentingan pribadi atau kelompoknya.

e. Terbuka, yaitu menyampaikan segala permasalahan tanpa direkayasa

sehingga masyarakat mengetahui semua persoalan yang dihadapi seorang

pemimpin dan turut serta memberikan sumbangan pemikiran, pendapat,

ataupun harta benda demi tercapainya tujuan.

f. Memiliki kemampuan mempengaruhi kehidupan orang lain sehingga

besedia bekerja sama untuk mencapai tujuan.

g. Konsisten menjalankan tugas, fungsi dan kewajiban.

Mulyasa, (2004, 107) mengemukakan bahwa “kepemimpinan dapat

diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan

terhadap pencapaian tujuan organisasi.”

Jadi pengertian kepemimpinan menurut beberapa ahli dapat disimpulkan

bahwa kepemimpinan adalah suatu hal yang sangat penting dalam manajemen

berbasis sekolah. Kepemimpinan berkaitan dengan masalah kepala sekolah dalam

meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan

para guru dalam situasi yang kondusif.

2.1.2 Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah

Yahya (2013, 82) mengemukakan bahwa “kepala sekolah adalah seorang

dengan kualifikasi dan standar tertentu ditunjuk untuk mengepalai satuan

pendidikan.” Mulyasa (2004, 127) mengemukakan bahwa “kepala sekolah

merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan sekolah, yang akan

menentukan bagaimana tujuan-tujuan sekolah dan pendidikan pada umumnya


12

direalisasikan.”

Karwati, E dan Priansa, D.J (2013). “Kepala sekolah merupakan tenaga

fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah, tempat

diselenggarakannya proses belajar mengajar atau tempat terjadinya interaksi antar

guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.”

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah adalah

pimpinan tertinggi di sekolah. Pola kepemimpinannya akan sangat berpengaruh

bahkan sangat menentukan terhadapa kemajuan sekolah. Oleh karena itu, dalam

pendidikan modern kepemimpinan kepala sekolah merupakan jabatan strategis

dalam mencapai tujuan pendidikan.

Gaya kepemimpinan adalah cara yang dipergunakan pemimpin dalam

mempengaruhi para pengikutnya (Mulyasa, 2004). Dalam hal ini usaha

menserasikan persepsi diantara orang yang akan mempengaruhi perilaku dengan

yang akan dipengaruhi menjadi amat penting kedudukannya.

Menurut Hasan Basri (2014: 22) mengemukakan bahwa ada beberapa tipe

kepemimpinan, diantaranya sebagai berikut:

a. Kepemimpinan yang Otokratis

Seorang pemimpin yang otokratis memiliki ciri-ciri khusus:

1) Menganggap organisasi sebagai milik pribadi.

2) Menggidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organis.

3) Menganggap bawahan sebagai alat semata.

4) Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat.

5) Terlalu bergantung ada kekuasaan formalnya.


13

6) Dalam tindakan penggerakkannya sering mempergunakan

approach, yang mengandung unsur paksaan dan punitif (bersifat

menghukum).

b. Kepemimpinan yang Demokratis

Pemimpin bertipe demokratis memiliki ciri-ciri berikut:

1) Mengembangkan kreativitas kepada bawahan.

2) Memberian kesempatan kepada bawahan untuk mengambil

keputusan.

3) Mengutamakan musyawarah dan kepentingan bersama.

4) Mengambil keputusan sesuai dengan tujuan organisasi.

5) Mendahulukan kepentingan yang darurat demi keselamatan jiwa

anak buahnya dan keselamatan organisasi yang dipimpinnya.

6) Mengembangkan regenerasi kepemimpinan.

7) Perluasan kaderisasi agar anak buahnya lebih maju dan menjadi

pemimpin masa depan.

8) Memandang semua masalah daapat dipecahkan dengan usaha

bersama.

c. Gaya Kepemimpinan Karismatik

Ciri-ciri dari gaya kepemimpinan karismatik, yaitu:

1) Memiliki kewibawaan alamiah.

2) Memiliki banyak pengikut.

3) Daya tarik yang metafisikal terhadap para pengikutnya.

4) Terjadi ketidaksadaran dan irasional dari tindakan pengikutnya.


14

5) Tidak dibentuk oleh faktor eksternal yang formal, seperti aturan

legal formal, pelatihan atau pendidikan, dan sebagainya.

6) Tidak dilatarbelakangi oleh faktor internal dirinya, misalnya

fisik, ekonomi, kesehatan, dan ketampanan.

d. Partisipatif

Kepemimpinan yang partisipatif adalah cara memimpin yang

memungkinkan para bawahan turut serta dalam proses pengambilan

keputusan. Model partisipasi pemimpin adalah model kepemimpinan

yang memberikan seperangkat aturan untuk menentukan ragam dan

banyaknya pengambilan keputusan partisipatif dalam situasi-situasi

yang berlainan.

2.1.3 Jabatan Kepemimpinan Kepala Sekolah

Seorang kepala sekolah tidak hanya bertugas sebagai pemimpin di sekolah,

melainkan kepala sekolah juga jadi panutan untuk bawahannya. Jabatan kepala

sekolah sebagai seorang pemimpin adalah memperhatikan dan mempraktikkan

kepemimpinannya dalam kehidupan sekolah.

Mengutip pendapat Mulyasa dari buku yang ditulis Mahmud: Mulyasa

(Mahmud, 2013: 85) mengemukakan bahwa “dalam Paradigma Baru Manajemen

Pendidikan, kepala sekolah harus mampu berfungsi sebagai berikut:

a. Edukator, meliputi:

1) Mengikutsertakan guru dalam berbagai penataran untuk menambah

wawasan para guru.

2) Menggerakkan tim evaluasi hasil belajar peserta didik untuk lebih giat
15

bekerja.

3) Menggunakan waktu belajar secaraefektifdisekolah.

b. Manajer, meliputi:

1) Memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama.

2) Memberikesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan

profesinya.

3) Mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan.

c. Administrator, meliputi:

1) Tahapan perencanaan

2) Pengorganisasian

3) Pengarahan

4) Pengoordinasian

5) Pengawasan

d. Supervisior, meliputi:

1) Diskusi kelompok

2) Kunjungan kelas

3) Pembicaraan individual

4) Simulasi pembelajaran

e. Leader,

Menunjukkan kepemimpinan dan keteladanan kepada seluruh

tenaga kependidikan dan warga belajar.

1) Inovator,

Menunjukkan secara kontruktif, kreatif, delegatif, integratif,


16

rasional, objektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, adaptable, dan

fleksibel.

2) Motivator,

Memaksimalkan pengaturan lingkungan fisik, pengaturan

suasana belajar, disiplin, dorongan, dan penghargan.

2.1.4 Indikator Kepemimpinan

Menurut Mokhtar Abdullah et al. (2013) mengemukakan bahwa

nilai indikator berbasis nilai kepemimpinan meliputi:

a. Nilai Kejujuran

Pemimpin kita mengambil risiko untuk setiap keputusan yang

diambil tanpa rasa takut atau nikmat untuk menjamin kesuksesan

bisnis / organisasi.

b. Nilai Kepercayaan

Pemimpin kami akan memastikan bahwa apa pun tugas yang

ditugaskan akan diselesaikan sesuai rencana / terjadwal /

dianggarkan oleh organisasi.

c. Nilai Ketulusan

Tindakan yang dilakukan oleh pemimpin kita selalu menjadi

kepentingan terbaik seluruh organisasi.

d. Nilai Rasa Arah

Tindakan yang dilakukan oleh pemimpin kita sejalan dengan tujuan

organisasi.

e. Nilai Komitmen
17

Pemimpin kita secara konsisten memberikan bimbingan, sarana dan

dorongan bagi masyarakat untuk meraih kesuksesan.

f. Nilai Kompetensi

Pemimpin kita mampu merencanakan, mengatur, memimpin dan

mengendalikan organisasi.

Kepemimpinan kepala sekolah dalam penelitian ini diukur

menggunakan indikator :

a. Mempengaruhi kinerja guru

b. Memotivasi guru

c. Menggerakan guru

d. Membimbing guru

e. Memberikan keteladanan kepada guru

2.1.5 Pengertian Kinerja Guru

Pendapat Hasibuan dari jurnal yang ditulis Karweti: Hasibuan (Engkay

Karweti, 2010: 80) mengemukakan bahwa kinerja sebagai prestasi kerja

mengungkapka bahwa “prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapi

seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang

disandarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu”.

Menurut Adam E (2006: 206) mengungkapkan bahwa “guru adalah satu

kelompok yang SE telah diteliti secara luas. Penelitian telah menunjukkan bahwa

guru SE, yang mencerminkan kemampuan yang dirasakan untuk menghasilkan

perbaikan positif di antara siswa”.

Kinerja Guru pada dasarnya merupakan kinerja atau unjuk kerja yang
18

dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik

(Suharsaputra, 2010). Dunda (Rahman dkk: 2005:72) menyatakan bahwa,

“kinerja guru dapat dinilai dari aspek kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh

seorang guru yang dikenal dengan sebutan “kompetesi guru”.

Dari beberapa pengertian dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah hasil

kerja seseorang atau sekelompok guna melaksanakan tugas kerja sesuai dengan

wewenang dan tanggung jawab dalam rangka mencapai tujuan yang dicapai.

Untuk melihat kinerja seseorang harus mengacu pada aktifitas seseorang selama

melaksanakan tugas pokokna dan tanggung jawabnya. Maksudnya dilihat dari

tingkat kualifikasi kinerja seseorang dikaitkan dengan tugas-tugas yang

dikerjakannya. Kaitannya dengan kinerja guru dalam kesehariannya tercermin

pada peran dan fungsinya. Kinerja guru dalam kegiatannya seperti

merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses belajar mengajar yang

dilandasi oleh sikap mental dan profesionalisme guru.

2.1.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Kinerja Guru pada dasarnya merupakan unjuk kerja yang dilakukan oleh

guru dalam melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai seorang pendidik.

Kualitas guru sangat menentukan hasil dari pendidik, karena guru merupakan

seorang pendidik yang langsung berhadapan dengan peserta didik dalam lembaga

kependidikan.

Menurut Euis, K dan Donni, J.P (2013: 220) mengungkapkan bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja kepala sekolah dalam melaksanakan

supervisi:
19

a. Kondisi Pribadi Kepala Sekolah

Kondisi pribadi meliputi kemampuan intelektual, fisiologis, sikologis,

motivasi, personalitas, waktu, dan nilai.

b. Organisasi Sekolah

Organisasi sekolah meliputi sistem organisasi, peran organisasi,

kelompok-kelompok yang ada dalam organisasi, perilaku yang

berhubungan dengan pengawasan dan iklim organisasi yang ada di

sekolah.

c. Lingkungan Eksternal

Lingkungan eksternal meliputi keluarga, kondisi ekonomi, kondisi hukum,

nilai-nilai sosial, peranan kerja, perubahan teknologi, dan perkumpulan-

perkumpulan.

2.1.7 Indikator Kinerja Guru

Kinerja guru dalam penelitian ini adalah hasil yang dicapai oleh

guru dalam melaksanakan tugas-tugas dalam pembelajaran yang

dibebankan kepadanya. Menurut Supardi (2013: 49) yang dapat dijadikan

indikator standar kinerja guru diantaranya:

Standar 1: Knowledge, Skills, and Dispositions (Pengetahuan,

kemampuan dan karakter seseorang secara alami)

Standar 2: Assesment System and Unit Evaluation (Sistem penilaian dan

standar penilain)

Standar 3:Field Experienceand Clinical Practice (Pengalaman lapangan

secara nyata)
20

Standar 4: Divercity (Pemahaman lingkungan)

Standar 5:Faculty Qualification, Performance, and Development

(Kualitas kemampuan, penampilan dan pengembangan)

Standar 6: Unit Govermance and Resources (Standar Pemerintahan dan

penggunaan sumber)

Indikator tersebut menunjukkan bahwa standar kinerja guru

merupakan suatu bentuk kualitas atau patokan yang menunjukkan adanya

jumlah dan mutu kerja yang harus dihasilkan guru.

Dalam penelitian ini, indikator yang ingin diteliti mengenai kinerja

guru yaitu sebagai berikut:

1.1 Menguasai bahan yang akan diajarkan

2.1 Kemampuan mengelola kelas

3.1 Merencanakan pembelajaran

4.1 Melaksanakan kegiatan pembelajaran

5.1 Menilai hasil belajar

6.1 Menggunakan media/sumber pelajaran

2.2. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian Kasidah

et.al (2017) yang meneliti judul kepemimpinan kepala sekolah dalam

meningkatkan kinerja guru pada sekolah dasar luar biasa negeri banda aceh. Hasil

penelitiannya didapati Gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan

kinerja guru pada Sekalah Dasar Luar Biasa Negeri Banda Aceh
21

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian milik

Firmawati (2017) Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Motivasi Kerja

Terhadap Kinerja Guru. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa ada pengaruh

yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru.

2.3. Kerangka Berfikir

Kegiatan utama pendidikan yaitu mewujudkan tujuan kegiatan

pembelajaran, sehingga aktivitas yang ada disekolah mencapai efisiensi dan

efektifitas pembelajaran. Untuk mewujudkan tujuan kegiatan pembelajaran maka

kompetensi kepala sekolah perlu ditingkatkan. Maka dari itu diperlukan peran

kepala sekolah dan rekan-rekan guru untuk menjadikan tercapainya tujuan yang

diinginkan.

Salah satu tugas kepala sekolah yaitu memimpin bawahannya, yaitu

memimpin staff (guru-guru, pegawai, dan karyawan), membimbing kerjasama

dengan cara harmonis antar anggota staff sehingga menimbulkan semangat kerja,

motivasi dari seorang pemimpin juga sangat diperlukan agar terjadi peningkatan

pendidikan. Kepemimpinan yang bagus, kerjasama yang semangat dan motivasi

yang meningkat akan menjadikan staff menjadi senang untuk menjalankan tugas

dengan sebaik-baiknya. Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang

mempengaruhi, membimbing, menunjukkan dan mengarahkan sekelompok orang

untuk mencapai tujuan. Maka dari itu kepemimpinan sekolah adalah kemampuan

para pemimpin sekolah untuk mempengaruhi, membimbing, dan mengarahkan

guru, pegawai, siswa, dan segenap warga sekolah untuk mencapai tujuan sekolah.

Memimpin guru dan staff pegawai memiliki fungsi kepemimpinan masing-


22

masing. Fungsi yang digunakan oleh seorang guru adalah menciptakan perubahan

secara efektif di dalam kepemimpinan dan menggerakkan orang lain sehingga

secara sadar orang lain tersebut melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.

Keberhasilan pendidikan di sekolah bukan hanya ditentukan oleh kepemimpinan

kepala sekolah, melainkan guru dan staff-staff pegawai lainnya juga dapat

menjadikan peranan penting didalam sekolahan. Kepemimpinan para kepala

sekolah pada umumnya ingin merefleksi tujuan dari bawahannya. Kepemimpinan

dan bawahan juga sering sebut dengan kelompok atau organisasi. Keberhasilan

organisasi sangat di tentukan oleh keberhasilan seorang pemimpin dengan

kepemimpinannya dalam melaksanakan tugasnya dengan baik. Pelaksanaan

seorang pemimpin tidak terlepas dari perilaku yang diterapkan oleh pemimpin

dalam mempengaruhi bawahannya, sehingga bawahannya akan menjalankan

tugas secara efektif dan produktif dan kinerja guru terhadap kepemimpinan

kepala sekolah akan sangat baik.

Dasar-dasar yang ditentukan didalam kinerja meliputi tiga hal yaitu

kemampuan, keinginan, dan lingkungan. Kinerja mengajar juga dipengaruhi oleh

beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah motivasi kerja dan

kompetensi pedagogik guru. Motivasi kerja akan berpengaruh terhadap kinerja

mengajar guru, karena motivasi kerja merupakan kondisi yang membangkitkan,

mendorong, menggerakkan, mengarahkan, dan memelihara tingkah laku dalam

bekerja di lingkungan kerja. Selain dipengaruhi oleh faktor motivasi kerja,

kinerja mengajar guru juga dapat dipengaruhi oleh faktor kompetensi pedagogik

guru yang bersangkutan. Hal tersebut dapat berdampak pada prestasi kerja, teori
23

diatas dapat dikemukakan bahwa terdapat pengaruh antara kepemimpinan kepala

sekolah terhadap kinerja guru.

Berdasarkan landasan teori dan kerangka pikir yang dikemukakan, maka

penelitian ini dapat dilihat pada paradigma penelitian pada gambar dibawah ini.

Kepemimpinan Kepala Kinerja Guru


Sekolah
a. Mempengaruhi a. Menguasai bahan
kinerja guru yang akan diajarkan
b. Memotivasi guru b. Kemampuan
c. Menggerakan guru mengelola kelas
d. Membimbing guru c. Merencanakan
e. Memberikan pembelajaran
keteladanan kepada d. Melaksanakan
guru kegiatan pembelajaran
e. Menilai hasil belajar
f. Menggunakan
media/sumber
pelajaran

Gambar 2.1
Model Hubungan Antar Variabel Penelitian

2.4. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan tinjauan pustaka diatas, maka hipotesis penelitian ini dapat

dirumuskan hipotesis yaitu

H0 = Tidak terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja

guru pada SD Negeri Karangroto di Kecamatan Genuk Kota Semarang.”

Ha = “Terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja

guru pada SD Negeri Karangroto di Kecamatan Genuk Kota Semarang.”


24

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, karena penelitian

kuantitatif itu suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data

berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin

diketahui. Tujuan dipilihnya pendekatan kuantitatif mengacu pendapat Sugiyono

(2015: 14) mengemukakan bahwa “metode penelitian kuantitatif dapat diartikan

sebagai metode penelitian yang berlandasan pada filsafat positivisme, digunakan

untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel

pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan

instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif / statistik dengan tujuan

untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.”

Penelitian ini bersifat ex-post facto karena perubahan variabel bebas itu

telah terjadi, peneliti dihadapkan kepada masalah bagaimana menetapkan sebab

dari akibat yang sedang diamati. “Penelitian ex-post factomeneliti hubungan

sebab-akibat yang tidak dimanipulasi atau tidak diberi perlakuan oleh peneliti

(Baso Intang, 2010: 105)”. Penelitian ex-post facto mirip dengan penelitian

eksperimen, hanya pada penelitian ex-post facto tidak ada pengontrolan variabel,

variabel bebas tidak dimanipulasi, dan tidak ada perlakuan.

Pendapat Furchan dari jurnal yang ditulis Baso Intang: Furchan (Baso
25

Intang, 2010: 106) mengemukakan bahwa “Untuk dapat menyimpulkan adanya

hubungan kausal, maka diperlukan beberapa bukti, yaitu: (1) hubungan statistik

antara X dan Y telah ditetapkan, (2) X terjadi lebih dahulu daripada Y, dan (3)

faktor-faktor lain tidak ikut menentukan Y”. Jenis penelitian ini dipilih karena

peneliti bermaksud untuk mengungkapkan seberapa besar pengaruh variabel

bebas (kepemimpinan kepala sekolah) terhadap variabel terikat (kinerja guru).

Berdasarkan penelitian seperti diatas, maka dapat dikembangkan bahwa

metode penelitian kuantitatif digunakan untuk mendapatkan data yang

mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang

sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu nilai di balik data yang

tampak. Oleh karenanya penelitian kuantitatif tidak menekankan pada

generalisasi, tetapi lebih menekankan pada makna.

3.2. Populasi Penelitian

Menurut Sundayana (2016:15) populasi didefinisikan sebagai keseluruhan

subyek atau objek yang menjadi sasaran penelitian yang mempunyai karakteristik

tertentu. Menurut Sugiyono (2015: 117) populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas obyek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-

benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada

obyek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang

dimiliki oleh subyek atau obyek itu. Adapun jumlah guru pada masing-masing

sekolah yang dijadikan anggota populasi adalah sebesar 13, di SD Negeri


26

Karangroto di Kecamatan Genuk Kota Semarang Jadi keseluruhan jumlah

populasi penelitian yaitu sebesar 13.

3.2.1. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang

diteliti). Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai

sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi. Adapun penentuan jumlah

sampel yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah dengan metode

sensus berdasarkan pada ketentuan yang dikemukakan oleh Sugiyono (2002 : 61-

63 ), yang mengatakan bahwa: “Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel

bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Istilah lain dari sampel

jenuh adalah sensus.”

Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode sampel jenuh. Metode sampel jenuh adalah teknik penentuan sampel bila

semua anggota populasi digunakan menjadi sampel.

3.3. Teknik Pengambilan Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang memiliki karakteristik yang

relatif sama dan dianggap bisa mewakili populasi. Sampel merupakan bagian dari

jumlah dan karakterisitik yang dimiliki oleh suatu populasi yang akan diteliti.

Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan jenis Non Probability

Sampling. Non Probability Sampling jenis sampel ini tidak dipilih secara acak.

Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa

dipilih menjadi sampel.

Menurut Sugiyono (2001: 60) nonprobability sampling adalah teknik yang


27

tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota

populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Teknik Non Probability Sampling yang dipilih yaitu dengan Sampling

Jenuh (sensus) yaitu metode penarikan sampel bila semua anggota populasi

dijadikan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan apabila jumlah populasi kecil,

kurang dari 30 orang (Supriyanto dan Machfudz, 2010: 188).

Dalam penelitian ini sampel yang akan diambil adalah semua guru yang

mengajar di SD Negeri Karangroto di Kecamatan Genuk Kota Semarang jadi

keseluruhan jumlah populasi penelitian yaitu sebesar 12 guru dan 1 orang kepala

sekolah. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan metode sampel jenuh.

Metode sampel jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota

populasi digunakan menjadi sampel.

3.4. Instrumen Penelitian

1) Penyusunan Instrumen

Menurut Sugiyono, (2015:102) instrumen penelitian adalah suatu

alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang

diamati. Secara spesifik fenomena ini disebut variabel penelitian. Dalam

penelitian ini instrumen yang digunakan adalah instrumen angket.

Kuesioner (Angket) merupakan teknik pengumpulan data yang

dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan

tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Sugiyono, (2015:142).

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan angket tertutup. Angket

tertutup yaitu angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa


28

sehingga responden tinggal memberikan tanda centang pada kolom atau

tempat yang sesuai. (Suharmi Arikunto, (2006:149). Dengan

digunakannya angket tertututup, responden tidak dapat memberikan

jawaban lain kecuali ada jawaban alternative lain yang tersedia. Dalam

pengukurannya, setiap responden diminta pendapatnya mengenai suatu

jawaban. Pada umumnya opsi jawaban terdiri atas lima dan masing-

masing mempunyai nilai yang berbeda. Skala yang digunakan dalam

penelitian ini menggunakan skala Likert.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Skala Likert kategori

pilihan genap, yaitu empat pilihan kategori. Menurut Sukardi,

(2003:147), menyatakan bahwa untuk menskor skala kategori Likert,

jawaban diberi bobot atau disamakan nilai 4,3,2,1 untuk empat pilihan

pernyataan positif dan 1,2,3,4 untuk pernyataan negatif.

Tabel 3.3 Rentang Skala Likert

Pernyataan Sangat Setuju Setuju Tidak Sangat


Setuju Tidak Setuju
Positif 4 3 2 1
Negatif 1 2 3 4
(Sukardi, 2003:147)

Instrumen penelitian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana

instrumen yang digunakan memiliki kualitas yang baik, karena

instrumen sebuah penelitian sangat berpengaruh terhadap kualitas data

dari penelitian tersebut. Instrument pada penelitian pada umumnya

memiliki dua syarat yaitu validitas dan reliabilitas.


29

Pada kisi-kisi angket kepemimpinan butir soal no 1-10 merupakan

pernyataan tertutup. Butir pernyataan angket dinyatakan dalam

pernyataan positif dan negatif. Adapun kisi kisi angket kepemimpinan

adalah sebagai berikut:

Tabel 3.4. Kisi-Kisi Angket Kepemimpinan

No Sub Indikator No. Jumlah


Butir
1 Mempengaruhi kinerja guru 2,4, 7 1
2 Memotivasi guru 3, 9 2
3 Menggerakan guru 1, 10 2
4 Membimbing guru 5 1
5 Memberikan keteladanan kepada guru 6, 8 2

Pada kisi-kisi angket kinerja guru dalam pembelajaran butir soal no

11-20 merupakan pernyataan tertutup. Butir pernyataan angket

dinyatakan dalam pernyataan positif dan negatif. Adapun kisi kisi angket

kinerja guru adalah sebagai berikut:

Tabel 3.5Kisi-kisi Angket Kinerja Guru

No Sub Indikator No. Butir Jumlah


1 Menguasai bahan yang akan diajarkan 12, 14 4
2 Kemampuan mengelola kelas 13, 17 2
3 Merencanakan pembelajaran 15 1
4 Melaksanakan kegiatan pembelajaran 16 1
5 Menilai hasil belajar 11, 20 2
6 Menggunakan media/sumber pelajaran 18, 19 2
30

Berikut adalah penjelasan cara uji instrumen tes soal uji coba

penelitian

1. Uji Validitas

Menurut Suryabrata,(1998: 60) mendefinisikan uji validitas

yaitu sejauh mana suatu instrument merekam atau mengukur apa

yang dimaksudkan untuk diukur. Secara teori terdapat tiga macam

validitas instrument, yaitu validitas isi, validitas construct dan yang

terakhir yaitu validitas berdasarkan kriteria. Untuk menguji validitas,

alat ukur dalam penelitian ini adalah validitas isi (Content Validity).

Validitas isi menunjukkan sejauh mana item-item yang

dilihat dari isinya dapat mengukur apa yang dimaksudkan untuk

diukur. Validitas isi alat ukur ditentukan melalui pendapat

professional dalam proses telaah soal. Sehingga item- item yang

telah dikembangkan memang mengukur apa yang dimaksudkan

untuk diukur Menurut Suryabrata,(1998: 61). Tentang uji validitas

ini dapat disampaikan hal-hal pokoknya, sebagai berikut:

a. Uji ini sebenarnya untuk melihat kelayakan butir-butir pertanyaan

dalam kuisioner tersebut dapat mendefinisikan suatu variabel.

b. Daftar pertanyaan ini pada umumnya untuk mendukung suatu

kelompok variabel tertentu.

c. Uji validitas dilakukan dalam setiap butir soal. Hasilnya

dibandingkan dengan r tabel / df= n – k dengan tingakt kesalahan

5%.
31

d. Jika r tabel < r hitung, maka butir soal disebut valid.

Ada tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur

validitas:

a. Content (face) Validity, merupakan salah satu konsep pengukuran

validitas dimana suatu instrument dinilai memiliki content

validity. Jika mengandung butir-butir pertanyaan yang memadai

dan representatif untuk mengukur construct sesuai dengan yang

diinginkan peneliti. Suatu instrument dinilai memiliki (face)

Validity, jika menurut penilaian subjektif diantara para profesional

bahwa instrument tersebut menunjukkan secara logis dan

merefleksikan secara akurat sesuatu yang harus diukur.

b. Criterion-related Validity, konsep pengukuran validitas yang

menguji tingkat akurasi dari instrumen yang baru dikembangkan.

Uji Criterion-related Validity ini, dilakukan dengan cara

menghitung koefisien korelasi antara skor yang diperoleh dari

penggunaan instrumen baru dengan skor dari penggunaan

instrumen lain yang telah ada sebelumnya dan memilki kriteria

relevan. Instrumen baru yang memiliki validitas yang tinggi jika

koevisien korelasinya tinggi. Ada dua jenis Criterion-related

Validity, yaitu:

a. Concurrent Validity, jika pengujian korelasi dilakukan

terhadap skor instrumen baru dengan instrumen yang

mempunyai kriteria relevan.


32

b. Predictive Validity, jika korelasi skor kedua instrumen

merupakan hasil pengukuran sebelum pengukuran pada saat

yang berbeda. Dimana pengukuran instrumen yang baru

dilakukan sebelum pengukuran instrumen lain yang memilki

kriteria relevan.

c. Construct Validity, suatu instrument dirancang untuk menukur

contruct tertentu. Construct Validity merupakan konsep

pengukuran validitas dengan cara menguji apakah suatu

instrumen mengukur construct sesuai dengan yang diharapkan.

Ada dua cara pengujian Cinstruct Validity, yaitu:

1) Convergent Validity, dimana validitas suatu instrumen

ditentukan berdasarkan konvergensinya dengan instrumen

lain yang sejenis dalam mengukur construct.

2) Discriminant Validaty, dimana validitas suatu instrumen

ditentukan berdasarkan rendahnya korelasi dengan

instrumen lain yang digunakan untuk mengukur construct

lain.

2. Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas terhadap hasil skala dilakukan bila

item-item yang terpilih lewat prosedur yang terpilih melalui analisis

item diatas telah dikomplikasi menjadi satu. Reliabilitas mengacu

kepada konsistensi atau kepercayaan hasil ukur, yang mengundang

makna kecermatan pengkuran Menurut (Sugiyono, 2009:83).


33

Uji reliabilitas alat ukur ini menggunakan pendekatan

konsistensi internal, yaitu suatu bentuk tes yang hanya melakukan

satu kali pengenaan tes tunggal pada sekelompok individu sebagai

subjek dengan tujuan melihat konsistensi antar item atau antar

bagian skala. Penghitungan koefisien reliabilitas dalam uji coba

dilakuan menggunakan program SPSS version 15,0for Windows.

Tentang uji reliabilitas ini dapat disampaikan hal-hal

pokoknya, sebagai berikut:

a. Untuk menilai kestabilan ukuran dan konsistensi responden dalam

menjawab kuesioner. Kuesioner tersebut mencerminkan construct

sebagai dimensi suatu variabel yang disusun dalam bentuk

pertanyaan.

b. Uji reliabilitas dilakukan secara bersama-sama terhadap seluruh

pertanyaan.

c. Jika nilai alpha> 0.60 akan disebut reliable.

Pengukuran reliabilitas dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Repeated Measure atau pengukuran ulang. Disini sesorang

akan disodori pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda,

dan kemudian dilihat apakah ia tetap konsisten dengan

jawabannya.

2. One Shot atau pengukuran sekali saja. Disini pengukuran

hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan


34

pertanyaan lain atau mengukur korelasi atau jawaban

pertanyaan. SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur

reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpa(α). Suatu

constract atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan

nilai Cronbach Alpa(α) > 0.60

Selanjutnya untuk mengukur koofisien reliabilitas yang

dihasilkan dapat menggunakan kriteria sebagai berikut :

Tabel 3.1. Klasifikasi Koefisien Reliabilitas

Koofisien Reliabilitas (r) Interprestasi


0,00 ≤ r < 0,20 Sangat Rendah
0,20 ≤ r < 0,40 Rendah
0,40 ≤ r < 0,60 Sedang/Cukup
0,60 ≤ r < 0,80 Tinggi
0,80 ≤ r < 1,00 Sangat tinggi

3.1. Teknis Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kuantitatif merupakan kegiatan setelah data

dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis

data adalah: mengelompokan data berdasarkan variabel dan jenis responden,

mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data

tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan

masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.

(Sugiyono:2015:147).

Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik.

Terdapat beberapa dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam
35

penelitian, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Sugiyono, (2015:147).

Penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif menurut

Sugiyono, (2015:147) adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data

dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul

sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk

umum atau generalisasi.

Sugiyono (2008:243) menjelaskan bahwa analisis regresi linier sederhana

didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal satu variabel independen

dengan satu variabel dependen.

1. Analisis Data Awal

Analisis data awal digunakan agar peneliti mengetahui kondisi awal kelas

sampel, data yang dianalisis oleh peneliti yaitu data hasil angket tentang

kepemimpinan terhadap kinerja guru SDN Bangetayu Wetan. Dalam analisis ini

peneliti memasukan hasil perolehan angket responden kedalam tabel distribusi

frekuensi untuk memudahkan perhitungan dalam pengolahan data selanjutnya.

Adapun analisis data dapat menggunakan uji normalitas.

Uji normalitas dapat dilakukan agar peneliti mengetahui data yang hendak diteliti,

penggunaan uji normalitas untuk mengetahui sampel yang digunakan berdistribusi

normal atau tidak normal. Hipotesis yang dapat digunakan sebagai berikut:

Ho : (data berditribusii normal)

Ha : (data tidak berdistribusi normal)

Penelitian ini, akan menggunakan Uji Liliefors, uji ini biasanya digunakan

pada data distrik yaitu dalam bentuk sebaran atau tidak dalam bentuk interval.
36

Langkah langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Menghitung nilai rata-rata dan simpangan bakunya

2. Susunlah dari data yang terkecil sampai data yang terbesar pada tabel

3. Mengubah nilai x pada nilai z dengan rumus:

4. Menghitung luas z dengan menggunakan tabel

5. Menentukan nilai proporsi data yang lebih kecil atau sama dengan data

tersebut

6. Menghitung selisih luas z dengan nilai proporsi

7. Menentukan lurus maksimum (Lmaks ) dari langkah sebelumnya

8. Menentukan luas tabel Liliefors ( Ltabel), (Ltabel ) = (n-1)

9. Kriteria kenormalan, jika Lmaks ≤ Ltabelmaka data berdistribusi normal.

(Sundayana, 2016:83)

2. Analisis Data Akhir

Data akhir yang akan dianalisis dalam penelitian ini berupa hasil angket sikap

siswa. Analisis data akhir dilakukan untuk menguji hipotesis.

a) Uji Normalitas

Uji normalitas pada tahap akhir digunakan untuk mengetahui bahwa

data berdistribusi normal atau tidak. Jika data berdistribusi normal maka

digunakan statistik parametrik untuk pengujian hipotesis. Adapun

hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:

Ho : Data berdistribusi normal

Ha : Data tidak berdistribusi normal

Penelitian ini akan menggunakan Uji Liliefors, uji ini biasanya


37

digunakan pada data distrik yaitu dalam bentuk sebaran atau tidak dalam

bentuk interval. Langkah langkahnya adalah sebagai berikut:

1) Menghitung nilai rata-rata dan simpangan bakunya

2) Susunlah dari data yang terkecil sampai data yang terbesar pada tabel

3) Mengubah nilai x pada nilai z dengan rumus:

4) Menghitung luas z dengan menggunakan tabel

5) Menentukan nilai proporsi data yang lebih kecil atau sama dengan data

tersebut

6) Menghitung selisih luas z dengan nilai proporsi

7) Menentukan lurus maksimum (Lmaks ) dari langkah sebelumnya

8) Menentukan luas tabel Liliefors ( Ltabel), (Ltabel) = (n-1)

9) Kriteria kenormalan, jika Lmaks ≤ Ltabel maka data berfrekuensi normal.

(Sundayana, 2016:83)

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan taraf signifikan 5% bila

harga lebih kecil , maka distribusi dinyatakan normal, dan bila lebih besar

dikatakan tidak normal.

b) Uji Hipotesis.

Persamaan Regresi digunakan untuk memprediksi seberapa tinggi

nilai variabel dependen dan variabel independen dimanipulasi, uji

hipotesis dapat menggunakan rumus regresi linier sederhana, adapun

rumus dari regresi linier sederhana adalah sebagai beriku :

𝑌 ′ = a+b X

(Sugiyono, 2015:262)
38

Dimana

Y’ : Nilai yang diprediksi (kinerja guru)

a : Konstanta

b : Koefisiensi Regresi

X : Nilai variabel independen (kepemimpinan)

Nilai a dan b dapat dihitung dengan menggunakan Rumus

dibawah ini :

Nilai a dan b dapat dicari dengan rumus

(∑𝑌)(∑𝑥 2 )−(∑𝑋)(∑𝑋𝑌)
a= 𝑛∑𝑥 2 − (∑𝑋)2

𝑛(∑𝑋𝑌)−(∑𝑋)(∑𝑌)
b= 𝑛∑𝑋 2 −(∑𝑋)2
39

a. Jadwal Penelitian

Tabel 3.7 Jadwal Penelitian

No Kegiatan Bulan 2018-2019


Nov Des Jan Feb Mar
1. Tahap Persiapan
Penelitian
a. Penyusunan dan
pengajuan judul
b. Pengajuan
proposal
c. Perijinan
penelitian
2. Tahap Pelaksanan
a. Pengumpulan
Data
b. Analisis Data
3. Tahap Penyusunan
Laporan