Anda di halaman 1dari 41

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Profesionalisme guru saat ini masih menjadi permasalahan mendasar dalam

dunia pendidikan. Permasalahan yang dimaksud, tentu bukan hanya masalah yang

menyangkut proses belajar mengajar di kelas saja, melainkan masalah yang

dialami guru selama proses persiapan dan pengelolaan pendidikan juga diperlukan

perhatian lebih. Agar pendidikan di Indonesia berkualitas, guru harus profesional.

Guru yang profesional memegang kunci utama bagi peningkatan mutu pendidikan

masa depan. Guru merupakan tenaga profesional yang melakukan tugas pokok

dan fungsi meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik

sebagai aset manusia Indonesia masa depan.

Cara yang digunakan mengukur tingkat profesionalitas seorang guru,

diperlukan adanya uji sertifikasi guru, tetapi pada kenyataannya uji sertifikasi ini

hanya menjadi program yang diidam-idamkan oleh banyak guru yang ingin

mendapat tunjangan sertifikasi saja tanpa meningkatkan kinerja dan

profesionalitasnya sebagai pendidik. Berikut merupakan hasil Uji Kompetensi

Awal (UKA) pada uji sertifikasi guru dengan sepuluh besar nilai rata-rata tertinggi

di seluruh Indonesia menurut Dzulfikar (2012:5) :


3

Gambar 1.1.

Diagram Nilai Rata-rata UKA 2016

Data tersebut merupakan salah satu dari beberapa aspek penilaian dari

tingkat profesionalisme guru. Pada diagram tersebut dapat diketahui bahwa nilai

rata-rata tertinggi diperoleh oleh provinsi DIY, tetapi yang menjadi sorotan adalah

nilai rata-rata tertinggi tersebut hanya mencapai angka 62,36 saja. Provinsi Jawa

Tengah meraih peringkat kedua setelah DIY dengan perolehan angka 58,93. Salah

satu masalah yang menjadi faktor pendorong terjadinya penurunan profesionalitas

guru yang terdapat di lingkungan sekolah diantaranya adalah dalam pemenuhan

administrasi kelas yang kurang mendapatkan perhatian guru, yang kemudian hal
4

tersebut dapat berdampak pada kemajuan mutu pengelolaan kelas. Berdasarkan

observasi yang telah dilakukan, terdapat permasalahan yang terkait dengan

pengelolaan kelas yang terdapat di SDN Bangetayu Wetan 02 Semarang. Masalah

yang ditemukan tersebut secara tidak langsung juga akan mempengaruhi oleh cara

kerja guru terkaitseperti kemampuan dalam mengatur fasilitas belajar mengajar

dan mengatur siswa.

Tabel 1.1.
Daftar Kelengkapan Administrasi Kelas
No Administrasi Kelas Ket No Administrasi Kelas Ket
1. Tata tertib kelas √ 14 Inventaris Alat Peraga √
2. Sanksi √ 15 Inventaris buku pelajaran √
3. Organisasi kelas √ 16 Koreksi pekerjaan siswa √
4. Jadwa Pelajaran √ 17 Kejadian sehari-hari x
5. Jadwal Piket √ 18 Program co-kurikuler x
6. Buku Tamu Kelas √ 19 Bimbingan & penyuluhan √
7. Supervisi Kelas √ 20 Notula Rapat √
8. Data Usia siswa x 21 Kumpulan Nilai Semester √
9. Rekapitulasi Absen siswa √ 22 Grafik taraf serap kurikulum x
10. Rekapitulasi usia siswa √ 23 Grafik pencapaian target kurikulum √
11. Grafik Absen √ 24 Penyerahan & pengambilan rapot √
12. Daftar Mutasi Siswa x 25 Daftar kenaikan kelas x
13. Inventaris Ruang Kelas √

Timbulnya permasalahan tersebut disebabkan oleh kurang telitinya

pelaksanaan pendidikan yang pada akhirnya masalah yang seharusnya dapat

diatasi dengan mudah justru meluas hingga menjadi masalah yang dapat

diturunkan pada generasi di dunia pendidikan yang akan datang. Masalah-masalah

yang timbul tersebut tidak serta-merta menjadi patokan untuk dijadikan sebagai

penilaian untuk pendidikan di Indonesia. Kaitannya dengan permasalahan yang

terjadi dalam pemenuhan pengelolaan kelas, peneliti menemukan adanya hasil

penelitian terkait hal tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Khotimah

(2014) di SDIT Muhammadiyah Al-Kautsar Gumpang Kartasura menunjukkan


5

bahwa pada awal didirikan pengelolaan kelas masih dilakukan secara sederhana,

sarana dan prasarana yang tersedia masih terbatas dan belum memadai, sehingga

guru mengalami kesulitan berinovasi dalam pembelajaran dan metode

pembelajaran yang digunakan masih monoton. Walaupun masih sederhana, tetapi

mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan prestasi akademik juga

perkembangan dalam pengelolaan kelasnya. Dari hal tersebut, maka pendidikan

di Indonesia dapat dikatakan sudah baik, tergantung dari bagaimana pengelolaan

yang baik pula.

Guru yang merupakan kunci utama dalam ketercapaian mutu pengelolaan

tersebut tentu sudah dibekali dengan profesionalitasnya dalam menjalankan

pembelajaran. Pada dasarnya, pelaksanaan pembelajaran merupakan serangkaian

kegiatan yang dirancang khusus demi ketercapaian tujuan pembelajaran yang

selalu dikaitkan dengan dua komponen penting yaitu guru dan peserta didik.

Cakupan pada komponen tersebut terletak pada ketercapaian guru dalam

pemenuhan pembelajaran. Pembelajaran yang memang benar mengena bagi

peserta didik, tidak hanya melulu pada pembelajaran tetapi juga sebagai motivator

serta fasilitator yang baik bagi peserta didiknya. Demikian halnya dengan proses

pembentukan karakter peserta didik, dari beberapa hal tersebut tentu dapat diambil

kesimpulan bahwa guru profesional merupakan sosok yang pas untuk menduduki

posisi yang luarbiasa besar tanggungjawabnya tersebut. Kedudukan guru yang

begitu penting dalam bidang pendidikan menandakan bahwa benar seorang

pendidik memang harus profesional dalam bidangnya.


6

Guru profesional merupakan guru yang berkompeten. Kompetensi guru

berkaitan dengan profesionalisme. Adanya kompetensi tentu dapat dipastikan

setiap cakupan yang dimiliki oleh setiap guru tentu berdasarkan apa yang sudah

menjadi dasar ketentuannya. Kompetensi profesional tersebut kemudian

dicantumkan dalam UU No 14 Tentang Guru dan Dosen pada pasal 8 yang

berbunyi “Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat

pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk

mewujudkan tujuan pendidikan nasional.” Guru diperkenankan untuk bekerja di

luar tugasnya untuk memperoleh penghasilan tambahan sepanjang tidak

mengganggu tugas utamanya. Namun hal tersebut dapat disalah tafsirkan oleh

banyak pihak, sebab akan memberi kesan berkurangnya derajat profesionalisme

keguruan walaupun sebenarnya tidak mengganggu tugas utama mereka sebagai

pendidik. Hal ini dimungkinkan agar efisiensi guru dalam bekerja tidak tercampur

aduk dengan pekerjaan diluar tugasnya, salah satu diantaranya ialah tugas guru

dalam manajemen pengelolaan kelas. Keterampilan guru dalam pemenuhan

manajemen kelas tentu sangat penting dalam mendukung proses pembelajaran.

Guru yang mendekati manajemen kelas sebagai proses pemapanan dan

pemeliharaan lingkungan belajar efektif cenderung lebih sukses daripada guru-

guru yang memposisikan atau memerankan diri sebagai figur otoritas atau

penegak disiplin belaka.

Pengelolaan kelas adalah proses atau upaya yang dilakukan seorang guru

guna mewujudkan kondisi kelas yang dinamis dan kondusif demi menciptakan

pembelajaran yang efektif dan efisien. Berdasarkan uraian tersebut kemudian


7

peneliti melakukan observasi ke sekolah yang memiliki manajerial yang baik serta

memiliki tenaga kependidikan yang profesional, kemudian peneliti memilih untuk

meneliti SDN Bangetayu Wetan 02 Semarang karena kondisi yang sesuai untuk

memungkinkan dilakukannya penelitian di SDN Bangetayu Wetan 02 Semarang

tersebut dirasa mampu menjawab setiap pertanyaan yang ada dipikiran peneliti.

Selain itu perlunya pembuktian sudah profesionalkah guru-guru yang mengajar

dan sudahkah memenuhi standar pengelolaan kelas di tingkat sekolah dasar.

Apabila pengelolaan kelas sudah terpenuhi dengan kata lain kenyamanan juga

akan dirasakan setiap pembelajaran berlangsung, sehingga penyampaian materi

pada saat pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.

Pengelolaan kelas memang harus diutamakan untuk mendukung terciptanya

kondisi kelas yang kondusif. Hal ini dikarenakan kelas sebagai lingkungan belajar

peserta didik sehingga harus dikelola dengan baik agar tercipta suasana belajar

yang nyaman lagi tenang demi tercapainya tujuan pembelajaran. Pada pemenuhan

pengelolaan kelas sebenarnya memang menitik beratkan pada guru kelas masing-

masing, jika ingin mendapat hasil yang baik maka guru harus berpikir sedikit

lebih keras untuk mencari jalan keluarnya. Tetapi dalam pelaksanaannya seluruh

warga sekolah sebenarnya memiliki tanggung jawab yang sama dalam pemenuhan

setiap kebutuhan serta pada pengelolaan dalam jangka panjangnya. Hubungan

yang baik antara peserta didik dan guru juga akan terjalin dengan baik seiring

dengan terwujudnya kerjasama dan komunikasi yang baik pula.

Berdasarkan pemaparan tersebut sehingga peneliti memilih judul “Pengaruh

Profesionalisme Guru dalam Peningkatan Mutu Pengelolaan Kelas di SDN


8

Bangetayu Wetan 02 Semarang.” Peneliti berharap dengan terpenuhinya mutu

pengelolaan di SDN Bangetayu Wetan 02 Semarang tersebut dapat dijadikan

sebagai salah satu aspek pada tercapainya profesionalisme setiap guru yang serta

dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam meningkatkan mutu pengelolaan kelas

pada tahun-tahun selanjutnya.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang diatas, dapat diidentifikasikan

beberapa masalah sebagai berikut:

1. Masih rendahnya nilai perolehan nilai Kompetensi Awal (UKA)

2. Rata-rata PKG gugus masih dibawah standar yang ditentukan

3. Administrasi kelas yang kurang mendapatkan perhatian guru

4. Pengelolaan kelas masih dilakukan secara sederhana, sarana dan prasarana

yang tersedia masih terbatas dan belum memadai

5. Tanggung jawab pekerjaan guru tercampur aduk dengan pekerjaan diluar

tugasnya, salah satu diantaranya ialah tugas guru dalam manajemen

pengelolaan kelas.
9

1.3. Batasan masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka peneliti membatasi masalah

yang akan difokuskan pada penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Penelitian ini difokuskan pada guru yang telah mendapatkan sertifikasi

guru

2. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar

pada gugus Diponegoro Kecamatan Genuksari.

3. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah peningkatan mutu pengelolaan

kelas. Sedangkan Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan

Profesionalisme Guru.

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan latar belakang dan fokus penelitian di atas, maka

rumusan masalah yang akan dikaji adalah: “Apakah terdapat pengaruh

Profesionalisme Guru dalam Peningkatan Mutu Pengelolaan Kelas di SDN

Bangetayu Wetan 02 Semarang?”

1.5. Tujuan Penelitian

Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan

dan menganalisis peran profesionalisme guru dalam peningkatan mutu

pengelolaan kelas di SDN Bangetayu Wetan 02 Semarang.


10

1.6. Manfaat Penelitian

1.6.1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, pada penelitian ini dapat memberikan manfaat serta

tambahan referensi bagi pembaca sehingga memungkinkan terjadinya kemajuan

dalam dunia pendidikan.

1.6.2. Manfaat Praktis

1. Bagi Kepala Sekolah

Dapat memberikan tindakan terkait peningkatan mutu sekolahnya agar

dapat meningkatkan mutu pengelolaan tiap kelas.

2. Bagi Guru

Penelitian ini diharapkan mampu menambah kinerja guru, untuk lebih

meningkatkan mutu pengelolaan kelas serta sebagai acuan dalam

pemenuhan kebutuhan dalam pengoptimalan dalam kegiatan

pembelajaran.

3. Bagi Peneliti

Menambah pengalaman dalam pengelolaan untuk bekal menuju jenjang

selanjutnya.
11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kajian Teori

2.1.1 Profesionalisne Guru

Guru dalam proses pembelajaran memiliki peran yang sangat penting

dalam ketercapaian tujuan pembelajaran. Dengan kata lain, guru merupakan

pengelola pembelajaran yang memiliki tanggungjawab besar dalam penyampaian

pembelajaran. Sehingga dalam pengutan mutu pengajaran diharapkan guru

memiliki ketrampilan yang mumpuni dalam kemampuan intelektual juga

kemampuan pengelolaannya. Guru merupakan komponen yang sangat

menentukan dalam implementasi pada pelaksanaan pembelajaran. Sehingga

keberhasilan implementasi dari suatu pembelajaran tersebut dimungkinkan dapat

tercapai tergantung pada profesionalnya guru yang mengajar.

Terdapat beberapa konsep yang berkaitan dengan profesionalisme, yaitu

profesi, profesionalitas, profesionalisasi, seperti pendapat dari Priansa,

(2014:113) sebagai berikut :

a. Profesi

Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut

keahlian dari para anggotanya. Artinya, suatu jabatan tidak bisa dilakukan

oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara

khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Dengan kata lain, profesi

merupakan suatu bentuk pekerjaan yang diperuntukkan kepada orang-

orang terlatih yang kompeten dibidangnya dengan aturan dan ketentuan


12

yang berlaku sehingga dapat diperhitungkan sebagai mata pencaharian.

Dari sana tentu dapat dipastikan bahwa profesi tidak dapat dimiliki oleh

sembarang orang selain terdapat syarat dan ketentuan tertentu profesi juga

berpijak pada 3 pilar, yaitu :

1) Kemampuan atau Kompetensi Tingkat Tinggi

Pada pilar ini dimaksudkan bahwa kemampuan dan kompetensi

tingkat tinggi hanya diraih melalui pendidikan kuat dasar pendidikannya,

tangguh profesionalnya, serta tinggi etos kerja yang dimilikinya.

Sehingga merujuk pada taraf kompeten juga berkualitas bagi pemegang

profesi tersebut.

2) Menerapkan Layanan Ahlinya

Pada konteks ini, seorang profesional yang dimaksud adalah

mereka yang selalu menggunakan keahliannya tidak untuk memperoleh

keuntungan pribadi semata tetapi digunakan untuk kepentingan banyak

orang atau orang lain.

3) Pengakuan Eksistensi

Diakui serta dihargai eksistensi layanan uniknya, yang

mempersyaratkan keahlian khas oleh masyarakat pemakai layanan serta

oleh pemerintah. Dengan kata lain, kedudukannya sebagai penyelenggara

layanan ahli diperoleh serta dilaksanakan berdasarkan kompetensi.

b. Profesionalitas

Seperti yang diungkapkan Karwati dan Priansa (2015:70)

“Profesionalitas mengacu pada sikap anggota profesi terhadap profesinya


13

serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki dalam rangka

melakukan pekerjaannya.” Dengan demikian profesionalitas merujuk pada

penyandng suatu profesi serta bagaimana seseorang berpenampilan dalam

melakukan pekerjaannya

Prinsip profesionalitas juga tercantum dalam Undang-Undang

Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagai

berikut : 1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; 2)

memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimana,

ketakwaan, dan akhlak mulia; 3) memiliki kualifikasi akademik dan latar

belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas; 4) memiliki kompetensi

yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; 5) memiliki tanggung jawab

atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; 6) memperoleh penghasilan yang

ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; 7) memiliki kesempatan untuk

mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar

sepanjang hayat; 8) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam

melaksanakan tugas keprofesionalan; dan 9) memiliki organisasi profesi

yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan

tugas keprofesionalan guru.

c. Profesionalisasi

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Priansa (2014:116) bahwa

“Profesionalisasi pada dasarnya merupakan serangkaian proses

pengembangan profesional (professional development), baik dilakukan

melalui pendidikan atau latihan pra-jabatan maupun dalam jabatan.” Dari


14

penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa profesionalisasi berfokus pada

proses pengembangan profesionalnya bukan pada hasil yang diperoleh

setelahnya. Hal tersebut juga sama halnya dengan maksud dari sosialisasi

yang artinya proses dalam interaksi sosial, sehingga tidak menutup

kemungkinan dari perjalanan proses tersebut dapat menjadikan seseorang

yang profesional.

d. Profesionalisme

Mengutip pendapat Alma, (2014:129) beliau mengungkapkan

bahwa “Profesionalisme menunjuk kepada komitmen para anggota suatu

profesi untuk meningkatkan kemampuan personalnya dan ... melakukan

pekerjaan yang sesuai dengan profesinya.” Selain itu terdapat pendapat lain

yang menyatakan bahwa “Profesionalisme merupakan istilah yang mengacu

pada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi

untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya.”

Suryo dalam Karwati dan Priansa (2015:70). Terdapat pula pendapat

tentang profesionalisme yang dikemukakan oleh Hoyle dalam Evans

(2008:6) yang menyatakan bahwa “profesionalism as a term use to describe

enhancement of the qulity of service.” Yang artinya bahwa profesionalisme

sebagai istilah yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan kualitas

layanan.

Pada lingkup pendidikan tentu sudah menjadi rahasia umum bahwa

guru yang profesional tentu terlahir dari latar belakang pendidikan yang

berkualitas juga. Hal ini dimungkinkan dengan semakin pesatnya


15

perkembangan pendidikan keguruan, tetapi juga tidak menutup

kemungkinan tumpang tindihnya bibit berkualitas dengan mereka yang

hanya secara kebetulan mendapat posisi tersebut. Sehingga, dengan

diadakannya proses kualifikasi yang mumpuni tentu dapat melahirkan guru-

guru yang profesional seperti yang diharapkan oleh banyak pihak.

2.1.2 Kompetensi Guru Profesional

Implementasi profesionalisme guru pada dasarnya diwujudkan melalui

kegiatan pengelolaan. Kegiatan pengelolaan kemudian diaplikasikan guru melalui

kegiatan pembelajaran, sehingga keberhasilan dalam pembelajaran tersebut

ditentukan oleh kualitas dan kemampuan guru, (Zahroh, 2015:185). Sehingga,

keberhasilan bagi peserta didik dalam pembelajaran tergantung pada posisi

strategis seorang guru sebagai pengajar, pembimbing, serta penuntun dalam

pembelajaran. Winarsih dan Mulyani (2012:44) berpendapat bahwa “guru yang

profesional dan mampu mengelola pembelajaran dengan baik, berimplikasi pada

peningkatan kemampuan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya dan

penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.”

Menurut Glickman dalam (Zahroh, 2015:97) menegaskan bahwa seorang

pekerja profesi atau guru dapat dikatakan profesional manakala pekerja tersebut

memiliki kemampuan kerja yang tinggi, semangat kerja, dan kesungguhan hati

untuk mengerjakan pekerjaan tersebut dengan sebaik-baiknya, sehingga diperoleh

hasil akhir yang memuaskan. Kompetensi sebagai agen dalam pembelajaran pada

jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:

a) Kompetensi Pedagogik, b) Kompetensi Kepribadian, c) Kompetensi Sosial


16

(PKPS), dan d) Kompetensi Profesional.

Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme. Mentari, (2017:133)

menyatakan bahwa “guru merupakan tenaga profesional yang melakukan tugas

pokok dan fungsi meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta

didik sebagai aset manusia Indonesia masa depan.” Guru yang profesional

merupakan guru yang berkompeten. Dalam hal ini kompeten yang dimaksudkan

adalah memiliki kemampuan dalam menjalankan profesi keguruannya dengan

kemampuan yang tinggi. Dengan adanya kompetensi tentu dapat dipastikan setiap

cakupan yang dimiliki oleh setiap guru tentu berdasarkan apa yang sudah menjadi

dasar ketentuannya. Kompetensi guru profesional yang harus dimiliki terdapat

empat poin yang harus dipenuhi, diantaranya sebagai berikut :

a. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang harus

dimiliki guru yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran yang

mana pada kompetensi ini guru harus dapat memiliki pemahaman

terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran,

evaliasi hasil belajar, serta dapat mengembangkan potensi yang dimiliki

peserta didik.

b. Kompetensi Kepribadian

Berdasarkan pendapat dari Hamzah dalam Priansa (2014:125) yang

menyatakan bahwa “kompetensi kepribadian adalah sikap kepribadian

yang mantap sehingga mampu menjadi intensifikasi bagi subjek yang

memiliki kepribadian yang pantas untuk diteladani.” Sehingga, guru


17

harus dapat mengarahkan peserta didik agar dapat memiliki disiplin diri

yang baik, mematuhi tata tertib, belajar terkait etika sebagai pribadi juga

sebagai anggota masyarakat. Kemudian tentu tugas guru tidak hanya

melulu pada teori semata, tetapi dapat dibuktikan dengan memberikan

teladan yang baik bagi peserta didiknya. Sebab peserta didik akan lebih

banyak meniru daripada hanya mendengarkan.

c. Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial adalah kemampuan guru dalam berkomunikasi

dan berinteraksi secara aktif dengan peserta didik, rekan sesama

pendidik, wali murid, serta masyarakat. Guru di mata peserta didik dan

masyarakat merupakan suatu panutan juga teladan yang patut untuk

dicontoh, sehingga selain dapat berkomunikasi dengan baik guru juga

dituntut untuk dapat bekerja sama, bergaul, dan mempunyai jiwa yang

menyenangkan sehingga dapat menciptakan hubungan yang harmonis

baik dengan peserta didik ataupun dengan masyarakat.

d. Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional adalah serangkaian kemampuan guru

dalam menguasai bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya,

Zahroh (2015:92). Berfokus bukan hanya pada pengajaran, kompetensi

profesional guru dimungkinkan untuk mewujudkan pemenuhan

pembelajaran yang efisien. Selain menguasai ilmu pengetahuan,

memanfaatkan teknologi, juga sebagai pembimbing yang baik bagi

peserta didik, guru juga dituntut harus profesional dalam segala hal.
18

Berikut kriteria yang dikemukakan oleh Priansa (2014:127) meliputi: 1)

Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang

mendukung mata pelajaran yang diampu; 2) Menguasai standar

kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan

yang diampu: 3) Mengembangkan materi pelajaran yang diampu secara

kreatif; 4) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk

berkomunikasi dan mengembangkan diri.

2.1.3 Indikator Kompetensi Profesional Guru

Berdasarkan pada pendapat Little (2007:9) yang menyatakan bahwa

“Profesional development is one integral feature of some collaborations targeted

to school reform.” Yang bila diartikan berarti pengembangan profesional adalah

salah satu fitur yang tidak terpisahkan dari beberapa kolaborasi yang ditargetkan

untuk reformasi sekolah. Adapun beberapa kriteria standar guru inspiratif dan

profesional menurut Usnani (2017) yaitu sebagai berikut :

1. Menguasai Materi Pembelajaran

2. Menggunakan dengan Tepat Kemampuannya dalam Mengajar dan

Belajar

3. Kemampuan Memecahkan Masalah Berkaitan dengan Instruksional

Pembelajaran

4. Kemampuan Melakukan Improvisasi

5. Memonitor Pembelajaran

6. Bertindak berdasarkan Data

7. Respek terhadap Orang Lain


19

8. Mempunyai Jiwa Mendidik

9. Memfasilitasi Murid agar Mencapai Prestasi Tertinggi

10. Memfasilitasi Murid agar Lebih Memahami Kompleksitas

2.1.4 Pengelolaan Kelas

Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung

dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai materi,

pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana, dan evaluasi yang tepat. Hal

ini yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru dalam mencegah

timbul perilaku subyek didik yang mengganggu jalannya proses belajar

mengajar, kondisi fisik belajar dan kemampuan mengelolanya.

Oleh sebab itu kegiatan guru dapat dibagi menjadi dua yaitu kegiatan

pengelolaan pengajaran dan kegiatan pengelolaan kelas. Tujuan pengajaran yang

tidak jelas, materi yang terlalu mudah atau terlalu sulit, urutan materi tidak

sistematis, alat pembelajaran tidak tersedia, merupakan contoh masalah

pembelajaran. Sedangkan subyek pendidik mengantuk, enggan mengerjakan

tugas, terlambat masuk kelas, mengganggu teman lain, Untuk menunjang

kegiatan belajar mengajar yang mengaktifkan sisa perlu diperhatikan hal-hal

sebagai berikut:

1. Aksesbilitas : siswa mudah menjangkau alat dan sumber belajar.

2. Mobilitas : siswa dengan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian lain.

3. Interaksi : memudahkan terjadi interaksi antara diri siswa maupun antar siswa.

4. Variasi kerja siswa : memungkinkan siswa bekerja secara perorangan,

berpasangan atau kelompok. mengajukan pertanyaan aneh, tempat duduk banyak


20

kutu busu, ruang kelas kotor, merupakan contoh masalah pengelolaan kelas. Dan

penanggulangan nya seorang guru harus dapat memberikan bimbingan sebab ini

secara psikologis akan menarik keterlibatan siswa. Guru bisa memulainya dengan

apa yang disukai siswa, bagaimana cara berpikir mereka dan bagaimana mereka

menyikapi hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Pada intinya ketrampilan guru dalam mengelola kelas sangat bergantung

pada kemampuannya menganalisis masalah kelas yang dihadapinya jika guru

tepat dalam mengelola kelas maka proses belajar mengajar akan efektif.

2.1.5 Pengelolaan Kelas yang Efektif

Bila kelas diberikan batasan sebagai sekelompok orang yang belajar

bersama, yang mendapatkan pengajaran dari guru, maka di dalamnya terdapat

orang-orang yang melakukan kegiatan belajar dengan karakteristik mereka

masing-masing yang berbeda dari yang satu dengan yang lainnya.

Perbedaan ini perlu guru pahami agar mudah dalam melakukan

pengelolaan kelas secara efektif. Menurut Syaiful Bahri (2005: 214) Untuk

mengelola kelas secara efektif perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Kelas adalah kelompok kerja yang diorganisasi untuk tujuan tertentu, yang

dilengkapi oleh tugas-tugas dan diarahkan oleh guru.

b. Dalam situasi kelas, guru bukan tutor untuk satu anak pada waktu tertentu,

tetapi bagi semua anak atau kelompok.

c. Kelompok mempunyai prilaku sendiri yang berbeda dengan prilaku masing-

masing individu dalam kelompok itu. Kelompok mempengaruhi individu-

individu dalam hal bagaimana mereka memandang dirinya masing-masing


21

dan bagaimana belajar.

d. Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya kepada anggota- anggota.

Pengaruh yang jelek dapat dibatasi oleh usaha guru dalam membimbing

mereka di kelas di kala belajar.

e. Praktik guru waktu belajar cenderung terpusat pada hubungan guru dan

siswa. Makin meningkat keterampilan guru mengelola secara kelompok,

makin puas anggota-anggota di dalam kelas

f. Struktur kelompok, pola komunisi, dan kesatuan kelompok ditentukan oleh

cara mengelola, baik untuk mereka yang tertarik pada sekolah maupun bagi

mereka yang apatis, masa bodoh atau bermusuhan.

Pengelolaan kelas yang efektif guru sering melibatkan dan

memperhatikan isyarat siswa, memfasilitasi transisi yang efektif antara tahapan

yang berbeda antar kelas, pengaturan dan memelihara catatan murid yang baik.

mengembangkan dan menggunakan pengelolaan kelas yang efektif, dapat

membantu siswa merasa nyaman, aman, dihormati, menantang, dan mengarah ke

pemberdayaan siswa.

2.1.6 Indikator Kegiatan Pengelolaan Kelas

Kegiatan pengelolaan kelas meliputi dua kegiatan yang secara garis

besar terdiri dari:

a. Pengaturan Subyek Belajar

Pengaturan subyek belajar adalah bagaimana mengatur dan menempatkan

siswa dalam kelas sesuai dengan potensi intelektual dan perkembangan

emosionalnya. Siswa diberikan kesempatan untuk memperoleh posisi dalam


22

belajar yang sesuai dengan minat dan keinginannya.

b. Pengaturan Fasilitas

Pengaturan fasilitas adalah kegiatan yang harus dilakukan siswa, sehingga

seluruh siswa terfasilitasi dalam aktifitasnya di dalam kelas. Pengaturan fisik

kelas diarahkan untuk meningkatkan efektifitas belajar siswa sehingga siswa

merasa senang, nyaman, aman, dan belajar dengan baik (Ade Rukmana,

2006: 33).

Untuk lebih jelasnya, pengaturan siswa dan fasilitas kelas dapat dilihat di

bagan!.

Kegiatan Pengelolaan Kelas

Mengatur Orang (kondisi Mengatur Fasilitas Belajar-


emosional Mengajar (kondisi fisik)

 Tingkah laku  Ventilasi


 Kedisiplinan  Pencahayaan
 Minat/perhatian  Kenyamanan
 Gairah belajar  Letak duduk
 Dinamika kelompok  Penempatan siswa

Gambar 1. Bagan Kegiatan Pengelolaan Kelas

Menurut Hamid (2011), pengaturan bangku mempunyai peranan

penting dalam konsentrasi belajar siswa. Pengaturan bangku dapat dilakukan

secara fleksibel dengan memposisikan sedemikian rupa, sesuai dengan kebutuhan

pengajaran yang efektif dan efisien. Hal yang dilakukan agar semua siswa
23

mampu menangkap pelajaran yang diberikan dengan merata, seksama, menarik,

tidak monoton, dan mempunyai sudut pandang bervariasi terhadap pelajaran

yang tengah diikuti.

Sebagaimana diketahui kemampuan siswa tidak sama. Ada yang cepat

untuk menangkap materi dan ada yang agak lambat, bahkan adayang sangat

lambat. Karena itu, perlu ada sebuah setrategi jitu untuk menyeimbangkan

masalah ini. Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah mengatur kapan siswa

bekerja secara perorangan, berpasangan, atau klasikal.

Pengaturan bangku tersebut dapat dilakukan untuk memenuhi empat

tujuan pembelajaran, yakni aksebilitas yang membuat siswa mudah menjangkau

alat atau sumber belajar yang tersedia, mobilitas yang membuat siswa dan guru

mudah bergerak dari satu bagian ke bagian lain dalam kelas, interaksi yang

memudahkan terjadinya komunikasi antar guru, siswa, maupun antar siswa, dan

bervariasi kerja siswa yang memungkinkan siswa bekerja secara perorangan,

berpasangan, atau kelompok.

Pengaturan bangku kelas tentu menjadi alternatif menarik bagi

terciptanya konsep edutainment dalam pembelajaran. Dengan variasi tempat

duduk sesuai dengan tujuan pembelajaran dan dinamisnya gerak siswa dan guru

dalam ruangan kelas, tentu saja siswa akan merasakan kenyamanan, sehingga ia

akan mudah menyerap pembelajaran dengan baik.

Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan bermacam-macam, ada

yang satu tempat duduk dapat di duduki oleh seorang siswa, dan satu tempat

yang diduduki oleh beberapa orang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu
24

mudah di ubah-ubah formasinya yang disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan

pembelajaran. Untuk ukuran tempat dudukpun sebaiknya tidak terlalu besar

ataupun terlalu kecil sehingga mudah untuk diubah-ubah dan juga harus

disesuaikan dengan ukuran bentuk kelas.

Sebenarnya banyak macam posisi tempat duduk yang biasa digunakan

di dalam kelas seperti berjejer ke belakang, bentuk setengah lingkaran,

berhadapan, dan sebagainga. Biasanya posisi tempat duduk berjejer kebelakang

digunakandalam kelas dengan metode belajar ceramah. Dan untuk metode

diskusi dapat menggunakan posisi setengah lingkaran atau berhadapan. Dan

sebagai alternatif penataan tempat duduk dengan metode kerja kelompok atau

bahkan bentuk pembelajaran kooperatif, maka menurut Lie (2007: 52) ada

beberapa model penataan bangku yang biasa digunakan dalam pembelajaran

kooperatif, diantaranya seperti:

 Meja tapal kuda, siswa bekelompok di ujung meja

 Penataan tapal kuda, siswa dalam satu kelompok ditempatkan berdekatan

 Meja Panjang

 Meja Kelompok, siswa dalam satu kelompok ditempatkan berdekatan

 Meja berbaris, dua kelompok duduk berbagi satu meja


25

Gambar 2. Desain tempat duduk

2.2. Penelitian Yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Nur Laili Maulidah (2014) yang

berjudul “Peran Guru Dalam Manajemen Kelas (Studi Kasus Pada Kelas

Bawah Di MI Al-Islam PK Kartasura Tahun Pelajaran 2013/2014)” dengan

hasil penelitian yang menunjukkan bahwa:

a. Persepsi guru tentang makna manajemen kelas secara garis besar

merupakan kegiatan yang mengandung inovasi dan variasi, dan

mengenai aspek individu dan sosial pada siswa.

b. Peran guru dalam manajemen kelas dimulai dengan kegiatan

perencanaan. Kegiatan perencanaan ini menggunakan fungsi peran guru

sebagai perancang yang dituangkan dalam bentuk RPP.

c. Tujuan manajemen adalah terwujudnya situasi dan kondisi yang

mendukung siswa untuk belajar, dan fungsinya merupakan implementasi

dari fungsi manajemen.

d. Pelaksanaan manajemen kelas menggunakan fungsi guru sebagai

pendidik dan penggerak. Pelaksanaan manajemen kelas mencakup


26

pengembangan aspek individu dan aspek sosial.

e. Dalam manajemen kelas muncul hambatan berupa masalah, hambatan

manajemen kelas pada kelas bawah di MI Al-Islam PK Kartasura seperti

yang diuraikan guru-guru kelas, yang menyepakati bahwa hambatan

dalam manajemen kelas yang terjadi biasanya berkaitan dengan orangtua.

f. Pelaksanaan evaluasi manajemen kelas menerapkan fungsi peran guru

sebagai evaluator dan motivator. Guru melakukan penilaian atas kegiatan

yang telah dilaksanakan. Untuk pembelajaran cara melakukan penialain

dengan teknik tes dan non-tes, sedangkan masalah diluar pembelajaran

dengan usaha preventif dan korektif.

Hasil penelitian Khusnul Khotimah (2014) yang berjudul

“Pengelolaan Kelas dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa (Studi

Empiris di SDIT Muhammadiyah Al-Kautsar Gumpang Kartasura Tahun

Pelajaran 2013/2014” dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa

pada awal didirikan pengelolaan kelas masih dilakukan secara sederhana,

sarana dan prasarana yang tersedia masih terbatas dan belum memadai,

sehingga guru mengalami kesulitan berinovasi dalam pembelajaran dan

metode pembelajaran yang digunakan masih monoton. Walaupun,

pengelolaan kelas masih dilakukan dengan cara yang sederhana, prestasi

yang dicapai dari sisi akademik sudah cukup baik. Pada perkembangannya

pengelolaan kelas di SDIT Muhammadiyah Al- Kautsar terus berkembang

menjadi lebih baik, sehingga memberikan hasil yang positif terhadap

perkembangan prestasi siswa, baik prestasi dalam bidang akademik maupun


27

non-akademik. Adapun faktor pendukung pengelolaan kelas di antaranya

lokasi yang strategis, aman, jauh dari keramaian, lingkungan yang bersih,

sosialisasi wali kelas terhadap masyarakat, guru yang berkompeten, dan

sarana prasarana yang mendukung. Faktor penghambat, yaitu keragaman

karakteristik siswa, guru/wali kelas yang berbeda pemahaman dalam

pengelolaan kelas. Sedangkan solusi dalam mengatasi hambatan yang

dihadapi, yaitu berkaitan dengan karakteristik siswa yang berbeda dengan

membuat aturan tertentu yang disepakati bersama dalam bentuk tata tertib

kelas sebagai kontrak belajar.

Kedua penelitian tersebut menjelaskan bahwa pemenuhan

manajemen juga pengelolaan kelas merupakan tugas dan kewajiban oleh

guru. Sehingga pada pelaksanaan tersebut juga terdapat kelebihan juga

kekurangan masing-masing, sehingga perlu kerjasama juga komunikasi

yang baik pula dalam pelaksanaannya. Sebab jika adanya kerjasama dan

komunikasi yang terjalin antara siswa, guru, juga kelapa sekolah tentu akan

dapat meminimalkan adanya kekurangan sehingga kelebihan yang akan

lebih jelas terlihat.


28

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Desain penelitian

menggunakan One Shoot Case Study, dengan model regresi linier sederhana yang

digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel

terikat. Sundayana, (2016:190) mengungkapkan “analisis regresi digunakan

sebagai alat untuk melihat hubungan fungsional antar variabel untuk tujuan

peramalan, dimana dalam model tersebut ada satu variabel bebas (independent

variabel) diberi notasi x dan variabel terikat (dependent variabel) diberi notasi y”.

X : Profesionalisme Guru

Y : Keterampilan Guru dalam Mengelola Kelas

Analisis regresi data harus berskala rasio atau interval. Pengumpulan data

variabel bebas melalui pengamatan (observasi) sedangkan variabel terikat melalui

angket. Penelitian ini menggunakan model regresi linier sederhana, yaitu bentuk

regresi dengan model yang bertujuan untuk mempelajari hubungan antara dua

variabel, yakni variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat)”.

penelitian ini akan mencari ada tidaknya pengaruh profesionalisme guru terhadap

keterampilan guru dalam mengelola kelas.


29

3.2. Populasi dan Sample

3.2.1. Populasi Penelitian

Menurut Sundayana (2016:15) populasi didefinisikan sebagai keseluruhan

subyek atau objek yang menjadi sasaran penelitian yang mempunyai karakteristik

tertentu. Menurut Sugiyono (2015: 117) populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas obyek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-

benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada

obyek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang

dimiliki oleh subyek atau obyek itu. Adapun jumlah guru pada masing-masing

sekolah yang dijadikan anggota populasi adalah sebesar 13, di SDN Bangetayu

Wetan Jadi keseluruhan jumlah populasi penelitian yaitu sebesar 13.

3.2.2. Sampel Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian sampel karena tidak semua populasi

dalam penelitian dijadikan sumber data, tetapi hanya sebagian dari anggota

populasi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Syaodih (2013: 251) menyatakan

bahwa penentuan sampel dari suatu populasi disebut penarikan sampel atau

“sampling”. Peenelitian menggunakan sampel ini lebih menguntungkan

dibandingkan dengan penelitian terhadap populasi, kecuali kalau jumlah

populasinya sedikit atau lingkupnya sangat sempit. Dalam penelitian ini

pengambilan sampel menggunakan teknik probability sampling yaitu dengan

simple random sampling. Penelitian ini seluruh guru mendapat kesempatan yang
30

sama untuk dipilih sebagai sampel, pengambilan sampel secara random dilakukan

melaui undian. Populasi diberi nomor terlebih dahulu, kemudian diundi untuk

mengambil sampel. Menurut Sujarweni (2014: 65) menyatakan bahwa “bagian

dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang digunakan untuk

penelitian”. Untuk menentukan ukuran sampel, peneliti menggunakan rumus yang

dikembangkan Slovin yaitu sebagai berikut:

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah teknik yang digunakan peneliti untuk

mengumpulkan data penelitianya. Teknik dalam pengumpulan data dalam

penelitian ini yaitu angket.

1) Kuesioner (Angket)

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada

responden untuk dijawabnya. Sugiyono, (2015:142). Dalam penelitian ini

kuesioner yang akan diberikan peneliti adalah mengenai pengaruh

kedisiplinan terhadap kinerja guru di SDN Bangetayu Wetan. Adapun

langkah-langkah pengumpulan data dengan angket dalam penelitian ini,

adalah sebagai berikut:

a. Menyusun kisi-kisi angket dengan merumuskan indikator pertanyaan.

b. Menyusun pernyataan dengan pernyataan berstruktur dengan jawaban

tertutup.

c. Membuat pedoman atau petunjuk untuk menjawab pertanyaan guna

memudahkan responden untuk menjawab pertanyaan.


31

d. Jika angket sudah tersusun dengan baik maka dapat dipergunakan..

2) Interview (Wawancara)

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti

ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang

harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari

responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit.

Sugiyono, (2015:137). Wawancara melibatkan percakapan yang dilakukan

oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan

terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.

Ketika melakukan wawancara, pewawancara mendengarkan dengan teliti

atas jawaban yang diberikan oleh narasumber yang selanjutnya dicatat

sebagai bahan data. Penelitian ini wawancara dilakukan di SDN

Bangetayu Wetan dilakukan dengan pedoman wawancara yang berisi

pertanyaan, sehingga proses wawancara berjalan dengan terstruktur.

Pedoman wawancara dibuat terkait kedisiplinan dan kinerja guru di SDN

Bangetayu Wetan. Adapun langkah-langkah pengumpulan data dengan

wawancara adalah sebagai berikut:

a. Merumuskan tujuan wawancara

b. Membuat kisi-kisi dan pedoman wawancara

c. Menyusun pertanyaan sesuai data yang diperlukan

d. Melakukan wawancara
32

3.4. Instrumen Penelitian

1) Penyusunan Instrumen

Menurut Sugiyono, (2015:102) instrumen penelitian adalah suatu

alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang

diamati. Secara spesifik fenomena ini disebut variabel penelitian. Dalam

penelitian ini instrumen yang digunakan adalah instrumen angket.

Kuesioner (Angket) merupakan teknik pengumpulan data yang

dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan

tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Sugiyono, (2015:142).

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan angket tertutup. Angket

tertutup yaitu angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa

sehingga responden tinggal memberikan tanda centang pada kolom atau

tempat yang sesuai. (Suharmi Arikunto, (2006:149). Dengan

digunakannya angket tertututup, responden tidak dapat memberikan

jawaban lain kecuali ada jawaban alternative lain yang tersedia. Dalam

pengukurannya, setiap responden diminta pendapatnya mengenai suatu

jawaban. Pada umumnya opsi jawaban terdiri atas lima dan masing-

masing mempunyai nilai yang berbeda. Skala yang digunakan dalam

penelitian ini menggunakan skala Likert.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Skala Likert kategori

pilihan genap, yaitu empat pilihan kategori. Menurut Sukardi,

(2003:147), menyatakan bahwa untuk menskor skala kategori Likert,

jawaban diberi bobot atau disamakan nilai 4,3,2,1 untuk empat pilihan
33

pernyataan positif dan 1,2,3,4 untuk pernyataan negatif.

Tabel 3.3 Rentang Skala Likert

Pernyataan Sangat Setuju Setuju Tidak Sangat


Setuju Tidak Setuju
Positif 4 3 2 1
Negatif 1 2 3 4
(Sukardi, 2003:147)

Instrumen penelitian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana

instrumen yang digunakan memiliki kualitas yang baik, karena

instrumen sebuah penelitian sangat berpengaruh terhadap kualitas data

dari penelitian tersebut. Instrument pada penelitian pada umumnya

memiliki dua syarat yaitu validitas dan reliabilitas.

Pada kisi-kisi angket kedisiplinan butir soal no 1-20 merupakan

pernyataan tertutup. Butir pernyataan angket dinyatakan dalam

pernyataan positif dan negatif. Adapun kisi kisi angket kedisiplinan

adalah sebagai berikut:

Tabel 3.4. Kisi-Kisi Angket Profesionalisme Guru

No Sub Indikator No. Butir Jumlah


1. Menguasai Materi Pembelajaran 2,9 2
2. Menggunakan dengan Tepat Kemampuannya 3, 6, 2
dalam Mengajar dan Belajar
3. Kemampuan Memecahkan Masalah Berkaitan 1, 10 2
dengan Instruksional Pembelajaran
4. Kemampuan Melakukan Improvisasi 4, 5, 2
5. Memonitor Pembelajaran 8,11 2
6. Bertindak berdasarkan Data 7,13 2
7. Respek terhadap Orang Lain 12,17 2
8. Mempunyai Jiwa Mendidik 15,19 2
9. Memfasilitasi Murid agar Mencapai Prestasi 14,18 2
Tertinggi
10.Memfasilitasi Murid agar Lebih Memahami 1620 2
Kompleksitas
Pada kisi-kisi angket keterampilan guru dalam mengelola kelas
34

dalam pembelajaran butir soal no 21-45 merupakan pernyataan tertutup.

Butir pernyataan angket dinyatakan dalam pernyataan positif dan

negatif. Adapun kisi kisi angket kinerja guru adalah sebagai berikut:

Tabel 3.2.
Tabel Kisi-kisi Intrumen Keterampilan Guru dalam Mengelola Kelas

Variabel Faktor Indikator Nomor Butir


Pernyataan
Keterampilan Mengatur fasilitas 1. Mengatur tempat 21-22
guru dalam belajar mengajar duduk dan tata ruang
mengelola (kondisi fisik) yang sesuai dengan
kelas strategi yang
digunakan
2. Menentukan 23-24
alokasi penggunaan
waktu belajar-
mengajar
3. Menentukan cara 25-26
mengorganisasi siswa
agar terlibat secara
aktif dalam kegiatan
belajar mengajar
Mengatur siswa 1. Menunjukkan sikap 27-28
(kondisi emosional) tanggap
2. Interaksi yang baik 29-30
dengan siswa
3. Membagi perhatian 31-32
4. Memusatkan 33-34
perhatian kelompok
5. Memberikan 35-36
petunjuk-petunjuk
yang jelas
6. Menegur 37-38
7. Memodifikasi 39-40
tingkah laku
8. Pengelolaan 41-43
kelompok
9. Menemukan dan 44-45
memecahkan tingkah
laku yang
menimbulkan masalah

Berikut adalah penjelasan cara uji instrumen tes soal uji coba
35

penelitian

a. Uji Validitas

Sebuah instrumen evaluasi dikatakan memiliki validitas

konstruk jika butir soal yang membangun instrumen tersebut

mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam

tujuan evaluasi (Arikunto, 2013: 83). Pembuktian validitas

konstruk dapat dilakukan dengan cara, yaitu exploratory factor

analysis (EFA). Penelitian ini menggunakan metode EFA untuk

membuktikan validitas konstruk instrumen dan dibantu program

SPSS 22.0. Beberapa langkah yang dilakukan dalam metode EFA

adalah sebagai berikut: Pengujian KMO and Bartlett’s Test Pada

langkah ini, analisis faktor layak dilakukan apabila nilai Kaiser-

Meyer-Olkin measure of sampling adequacy (KMO) lebih dari 0,5.

Selain itu, harus dipenuhi syarat bahwa nilai signifikansi kurang

dari 0,01. Dengan demikian, hasil tersebut menunjukkan bahwa

sampel yang digunakan pada analisis faktor telah cukup

(Retnawati, 2016: 47).

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas instrumen penelitian adalah suatu alat yang

memberikan hasil yang tetap sama (konsisten, ajeg), hasil

pengukuran harus tetap sama (relatif sama) jika pengukurannya

diberikan pada subyek yang sama meskipun dilakukan oleh orang

yang berbeda, waktu yang berlainan, dan tempat yang berbeda


36

pula, tidak terpengaruh oleh pelaku, situasi dan kondisi. Alat ukur

yang reliabilitasnya tinggi disebut alat ukur yang reliabel (Sundaya,

2016 : 69). Adapun pengujian uji reliabilitas dapat menggunakan

rumus sebagai berikut :

Rumus Spearman Brown


2𝑟
𝑟𝑖 = 1+𝑟𝑏
𝑏

Dimana

𝑟𝑖 = reliabilitas internal seluruh instrument

𝑟𝑏 = korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua

Selanjutnya untuk mengukur koofisien reliabilitas yang

dihasilkan dapat menggunakan kriteria sebagai berikut :

Tabel 3.1. Klasifikasi Koefisien Reliabilitas

Koofisien Reliabilitas (r) Interprestasi


0,00 ≤ r < 0,20 Sangat Rendah
0,20 ≤ r < 0,40 Rendah
0,40 ≤ r < 0,60 Sedang/Cukup
0,60 ≤ r < 0,80 Tinggi
0,80 ≤ r < 1,00 Sangat tinggi

3.5. Teknis Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kuantitatif merupakan kegiatan setelah data

dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis

data adalah: mengelompokan data berdasarkan variabel dan jenis responden,

mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data

tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan


37

masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.

(Sugiyono:2015:147).

Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik.

Terdapat beberapa dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam

penelitian, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Sugiyono, (2015:147).

Penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif menurut

Sugiyono, (2015:147) adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data

dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul

sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk

umum atau generalisasi.

Sugiyono (2008:243) menjelaskan bahwa analisis regresi linier sederhana

didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal satu variabel independen

dengan satu variabel dependen.

1. Analisis Data Awal

Analisis data awal digunakan agar peneliti mengetahui kondisi awal kelas

sampel, data yang dianalisis oleh peneliti yaitu data hasil angket tentang

kedisiplinan terhadap kinerja guru SDN Bangetayu Wetan. Dalam analisis ini

peneliti memasukan hasil perolehan angket responden kedalam tabel distribusi

frekuensi untuk memudahkan perhitungan dalam pengolahan data selanjutnya.

Adapun analisis data dapat menggunakan uji normalitas.

Uji normalitas dapat dilakukan agar peneliti mengetahui data yang hendak diteliti,

penggunaan uji normalitas untuk mengetahui sampel yang digunakan berdistribusi

normal atau tidak normal. Hipotesis yang dapat digunakan sebagai berikut:
38

Ho : (data berditribusii normal)

Ha : (data tidak berdistribusi normal)

Penelitian ini, akan menggunakan Uji Liliefors, uji ini biasanya digunakan

pada data distrik yaitu dalam bentuk sebaran atau tidak dalam bentuk interval.

Langkah langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Menghitung nilai rata-rata dan simpangan bakunya

2. Susunlah dari data yang terkecil sampai data yang terbesar pada tabel

3. Mengubah nilai x pada nilai z dengan rumus:

4. Menghitung luas z dengan menggunakan tabel

5. Menentukan nilai proporsi data yang lebih kecil atau sama dengan data

tersebut

6. Menghitung selisih luas z dengan nilai proporsi

7. Menentukan lurus maksimum (Lmaks ) dari langkah sebelumnya

8. Menentukan luas tabel Liliefors ( Ltabel), (Ltabel ) = (n-1)

9. Kriteria kenormalan, jika Lmaks ≤ Ltabelmaka data berdistribusi normal.

(Sundayana, 2016:83)

2. Analisis Data Akhir

Data akhir yang akan dianalisis dalam penelitian ini berupa hasil angket sikap

siswa. Analisis data akhir dilakukan untuk menguji hipotesis.

a) Uji Normalitas

Uji normalitas pada tahap akhir digunakan untuk mengetahui bahwa

data berdistribusi normal atau tidak. Jika data berdistribusi normal maka
39

digunakan statistik parametrik untuk pengujian hipotesis. Adapun

hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:

Ho : Data berdistribusi normal

Ha : Data tidak berdistribusi normal

Penelitian ini akan menggunakan Uji Liliefors, uji ini biasanya

digunakan pada data distrik yaitu dalam bentuk sebaran atau tidak dalam

bentuk interval. Langkah langkahnya adalah sebagai berikut:

1) Menghitung nilai rata-rata dan simpangan bakunya

2) Susunlah dari data yang terkecil sampai data yang terbesar pada tabel

3) Mengubah nilai x pada nilai z dengan rumus:

4) Menghitung luas z dengan menggunakan tabel

5) Menentukan nilai proporsi data yang lebih kecil atau sama dengan data

tersebut

6) Menghitung selisih luas z dengan nilai proporsi

7) Menentukan lurus maksimum (Lmaks ) dari langkah sebelumnya

8) Menentukan luas tabel Liliefors ( Ltabel), (Ltabel) = (n-1)

9) Kriteria kenormalan, jika Lmaks ≤ Ltabel maka data berfrekuensi normal.

(Sundayana, 2016:83)

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan taraf signifikan 5% bila

harga lebih kecil , maka distribusi dinyatakan normal, dan bila lebih besar

dikatakan tidak normal.

b) Uji Hipotesis.

Persamaan Regresi digunakan untuk memprediksi seberapa tinggi


40

nilai variabel dependen dan variabel independen dimanipulasi, uji

hipotesis dapat menggunakan rumus regresi linier sederhana, adapun

rumus dari regresi linier sederhana adalah sebagai beriku :

𝑌 ′ = a+b X

(Sugiyono, 2015:262)

Dimana

Y’ : Nilai yang diprediksi (kinerja guru)

a : Konstanta

b : Koefisiensi Regresi

X : Nilai variabel independen (kedisiplinan)


41

Nilai a dan b dapat dihitung dengan menggunakan Rumus

dibawah ini :

Nilai a dan b dapat dicari dengan rumus

(∑𝑌)(∑𝑥 2 )−(∑𝑋)(∑𝑋𝑌)
a= 𝑛∑𝑥 2 − (∑𝑋)2

𝑛(∑𝑋𝑌)−(∑𝑋)(∑𝑌)
b= 𝑛∑𝑋 2 −(∑𝑋)2

3.6. Jadwal Penelitian

Tabel 3.9

Jadwal Penelitian

No Kegiatan Tahun 2017/ 2018


Nov 2018 Des 2018 Jan 2019 Feb 2019 Mar 2019
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Tahap persiapan
penelitian
a. Penyusuan
dan
pengajuan
judul
b. Pengajuan
Proposal
c. Perijinan
Penelitian
2. Tahap
Pelaksanaan
a. pengumpula
n data
b. Analisis Data
3. Tahap
penyusunan
Laporan
4. Seminar
Proposal