Anda di halaman 1dari 7

A.

Penatalaksanaan
Tujuan terapi adalah membatasi jumlah paroksismal, untuk mengamati keparahan
batuk, memberi bantuan bila perlu, dan memaksimalkan nutrisi, istirahat, dan penyembuhan
tanpa sekuele. Tujuan rawat inap spesifik, terbatas adalah untuk menilai kemajuan penyakit
dan kemungkinan kejadian yang mengancam jiwa pada puncak penyakit, mencegah atau
mengobati komplikasi, dan mendidik orang tua pada riwayat alamiah penyakit dan pada
perawatan yang akan diberikan di rumah. Untuk kebanyakan bayi yang tanpa komplikasi,
keadaan ini disempurnakan dalam 48-72 jam (Sarah, 2000).
Pengobatan suportif yang bisa dilakukan diantaranya menghindarkan faktor-faktor
yang menimbulkan serangan batuk, mengatur hidrasi dan nutrisi, oksigen dapat diberikan pada
distres pernapasan akut/kronik, dan penghisapan lendir terutama pada bayi dengan pneumonia
dan distres pernapasan. Beberapa agen terapeutik atau medikamentonsa yang digunakan pada
pasien pertussis adalah sebagai berikut :

1. Agen Antimikroba
Agen antimikroba selalu diberikan bila pertussis dicurigai atau diperkuat karena
kemungkinan manfaat klinis dan membatasi penyebaran infeksi. Eritromisin, 40-50
mg/kg/24 jam, secara oral dalam dosis terbagi empat (maksimum 2 g/24 jam) selama
14 hari merupakan pengobatan baku. Beberapa pakar lebih menyukai preparat estolat
tetapi etilsuksinat dan stearat juga manjur. Penelitian kecil eritromicin etilsuksinat yang
diberikan dengan dosis 50 mg/kg/24 jam dibagi menjadi dua dosis, dengan dosis 60
mg/kg/24 jam dibagi menjadi tiga dosis, dan eritromicin estolat diberikan dengan dosis
40 mg/kg/24 jam dibagi menjadi dua dosis menunjukkan pelenyapan organisme pada
98% anak. Azitromisin, Claritomisin, Ampisillin, Rifampin, Trimethoprim-
Sulfametoksasol cukup aktif tetapi sefalosporin generasi pertama dan ke-2 tidak. Pada
penelitian klinis, eritromicin lebih unggul daripada amoksisilin untuk pelenyapan B.
pertussis dan merupakan satu-satunya agen dengan kemanjuran yang terbukti.

2. Salbutamol
Sejumlah kecil trial klinis dan laporan memberi kesan cukup pengurangan
gejala-gejala dari stimulan 2-adrenergik salbutamol (albuterol). Tidak ada trial klinis
tepat yang telah menunjukkan pengaruh manfaat, satu penelitian kecil tidak
menunjukkan pengaruh. Pengobatan dengan aerosol memicu paroksismal.

3. Kortikosteroid
Tidak ada trial klinis buta acak cukup besar yang telah dilakukan untukan
mengevaluasi penggunaan kortikosteroid dalam manajemen pertussis. Penelitian pada
binatang menunjukkan pengaruh yang bermanfaat pada manifestasi penyakit yang tidak
mempunyai kesimpulan pada infeksi pernafasan pada manusia. Pengguanaan klinisnya
tidak dibenarkan.

Tabel Regimen Antibiotik untuk Terapi dan Profilaksis Pertussis (Snyder dan Fisher,
2012)
Obat Dosis dan sediaan
Azitromisin - < 6 bulan: 10 mg/kg selama 5 hari
- ≥6 bulan: 10 mg/kg (max 500 mg) selama 1 hari, diikuti 5 mg/kg selama
1 hari, kemudian 250 mg/ hari selama 2 – 5 hari
- Dewasa: 500 mg selama 1 hari, dilanjutkan 250 mg/hari selama 2 – 5 hari
Claritromisin - < 1 bulan: tidak direkomendasikan
- > 1 bulan: 15 mg/kg/hari (max 1g/hari) dibagi dalam 2 dosis selama 7 hari
- Dewasa: 1 g/hari dibagi dalam 2 dosis selama 7 hari
Eritromisin - < 1 bulan: 40 – 50 mg/kg/hari dibagi dalam 4 dosis. Monitoring ketat
karena beresiko stenosis pylorica
- > 1 bulan: 40 – 50 mg/kg/hari (max 2 g/hari) dibagi dalam 4 dosis selama
14 hari
- Dewasa: 2 g/hari dibagi dalam 4 dosis selama 14 hari
TMP – SMX - < 2 bulan: kontraindikasi
- >2 bulan: TMP 8 mg/kg/hari, SMX 40 mg/kg/hari, dibagi dalam 2 dosis
selama 14 hari
- Dewasa: TMP 320 mg/hari, SMX 1600 mg/hari, dibagi dalam 2 dosis
selama 14 hari

B. pertussis secara sendirinya dapat hilang secara spontan dari nasofaring dalam
waktu 2 sampai 4 minggu pasca infeksi. Ketika mulai di awal perjalanan penyakit, selama
tahap katarhal, antibiotik dapat mempersingkat gejala dan mengurangi keparahan pertusis.
Setelah tahap paroksismal antibiotic tidak efektif dalam mengubah perjalanan penyakit.
Dengan ini tahap, manifestasi klinis penyakit yang disebabkan oleh toksin Bordetella
pertussis, dan dengan demikian tidak terpengaruh oleh terapi antimikroba. Meskipun
perjalanan klinis pertusis tidak mudah dipengaruhi oleh pengobatan, penggunaan
antibiotik namun dapat mengurangi masa penularan (Snyder dan Fisher, 2012).
Antibiotik yang direkomendasikan untuk tatalaksana pertusis untuk anak berusia
lebih dari 1 tahun adalah makrolid, seperti eritromisin, claritromisin, dan azitromisin.
Sedangkan untuk anak berusia kurang dari 1 tahun lebih direkomendasikan menggunakan
azitromisin atau claritromisin intravena (Bayhan et al., 2012).
Studi terbaru menurut Snyder dan Fisher (2012) menunjukkan azitromisin adalah
obat yang memiliki efek samping gastrointestinal yang lebih sedikit, karena tidak
menghambat sistem sitokrom P450. Selain itu, eritromisin telah dikaitkan dengan
peningkatan risiko stenosis pilorus bila diberikan untuk bayi di pertama 2 minggu setelah
kelahiran. Sementara menurut Bayhan et al. (2012), claritromisin sangat efektif dan aman
untuk terapi pada pasien dengan apnea, hipoksia dan kesulitan makan.
Altuniaji (2012) menunjukkan bahwa pemberian antibiotik untuk pengobatan
pertussis efektif dalam mengeliminasi B.pertussis agar tidak menular tetapi tidak
mengubah perjalanan klinis dari penyakit. Regimen antibiotik yang efektif antara lain:
 Azitromicin (10 mg/kgBB) single dose selama 3 hari
 Azitromicin (10mg/kgBB pada hari pertama terapi dan 5 mg/kgBB sekali sehari pada
hari kedua hinga hari ke-15 terapi).
 Clarithrimycin (7,5mg/kgBB/dosis 2x/hari) selama 7 hari
 Eritromicin (60mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis) selama 7-14 hari
 Eritromicin (60mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis) selama 14 hari
 Oxytetracyclin (50mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis) selama 7 hari
 Kloramfenikol (50mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis) selama 7 hari
Regimen terbaik untuk microbiological clearance dengan sedikit efek samping adalah
sebagai berikut :
 Azitromicin (10mg/kgBB) single dose selama 3 hari
 Azitromicin (10mg/kgBB pada hari pertama terapi dan 5mg/kgBB sekali sehari pada
hari kedua hingga hari ke-15 terapi), atau
 Claritromycin (7,5mg/kgBB/dosis) dua kali sehari selama 7 hari

B. Pencegahan
1. Imunisasi aktif (Tejpratap, 2015):
Dosis total 12 unit protektif vaksin pertussis dalam 3 dosis yang seimbang
dengan jarak 8 minggu. Imunisasi dilakukan dengan menyediakan toksoid pertussis,
difteria dan tetanus (kombinasi). Jika pertusis bersifat prevalen dalam masyarakat,
imunisasi dapat dimulai pada waktu berumur 2 minggu dengan jarak 4 minggu. Anak-
anak berumur > 7 tahun tidak rutin diimunisasi
Imunitas tidak permanen oleh karena menurunnya proteksi selama adolesens
infeksi pada penderita besar biasanya ringan tetapi berperan sebagai sumber infeksi B.
pertussis pada bayi-bayi non imun. Vaksin pertusis monovalen (0.25 ml,i.m) telah
dipakai untuk mengontrol epidemi diantara orang dewasa yang terpapar
Efek samping sesudah imunisasi pertussis termasuk manifestasi umum seperti
eritema, indurasi, dan rasa sakit pada tempat suntikan dan sering terjadi panas,
mengantuk, dan jarang terjadi kejang, kolaps, hipotonik, hiporesponsif, ensefalopati,
anafilaksis. Resiko terjadinya kejang demam dapat dikurangi dengan pemberian
asetaminofen (15mg/kg BB, per oral) pada saat imunisasi dan setiap 4-6 jam untuk
selama 48-72 jam
Imunisasi pertama pertussis ditunda atau dihilangkan jika penyakit panas,
kelainan neurologis yang progresif atau perubahan neurologis, riwayat kejang. Riwayat
keluarga adanya kejang, Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau reaksi berat
terhadap imunisasi pertussis bukanlah kontra indikasi untuk imunisasi pertussis.
Kontraindikasi untuk pemberian vaksin pertussis berikutnya termasuk ensefalopati
dalam 7 hari sebelum imunisasi, kejang demam atau kejang tanpa demam dalam 3 hari
sebelum imunisasi, menangis 3 jam, “high picth cry” dalam 2 hari, kolaps atau
hipotonik/hiporesponsif dalam 2 hari, suhu yang tidak dapat diterangkan 40.5 C
dalam 2 hari, atau timbul anafilaksis
2. Kontak dengan penderita (Tejpratap, 2015) :
Eritromisin efektif untuk pencegahan pertussis pada bayi-bayi baru lahir dan
ibu-ibu dengan pertussis. Eritromisin 50 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis, peroral
selama 14 hari. Anak yang berumur > 7 tahun yang telah mendapatkan imunisasi juga
diberikan eritromisin profilaksis. Pengobatan eritromisin awal akan mengurangi
penyebaran infeksi eliminasi B. pertussis dari saluran pernafasan dan mengurangi
gejala-gejala penyakit.
Orang-orang yang kontak dengan penderita pertussis yang belum mendapat
imunisasi sebelumnya, diberikan eritromisin selama 14 hari sesudah kontak diputuskan.
Jika ada kontak tidak dapat diputuskan, eritromisin diberikan sampai batuk penderita
berhenti atau mendapat eritromisin selama 7 hari. Vaksin pertussis monovalen dan
eritromisin diberikan pada waktu terjadi epidemi
Belum ada bukti ilmiah yang cukup yang membuktikan bahwa terapi profilaksis
pertussis memberikan keuntungan. Profilaksis dengan antibiotik berhubungan dengan efek
samping dan tidak secara signifikan memperbaiki gejala klinis, whoop, batuk paroksismal,
jumlah kasus yang berkembang menjadi kultur positif B. pertussis atau batuk paroksismal
lebih dari 2 minggu. Karena resiko tinggi terjadinya morbiditas dan kematian pada bayi <
6 bulan yang belum diimunisasi lengkap, profilaksis kontak direkomendasikan untuk
keluarga. Pilihan antibiotik dan dosisnya sama dengan regimen terapi (Altuniaji, 2012).
Menurut Zepp et al. (2011), penyebaran infeksi hanya dapat dicegah dengan
meningkatkan cakupan imunisasi di atas 92%. Menurut Witt et al., (2013), pertusis
merupakan salah satu penyakit terbanyak di dunia yang kejadiannya dapat dicegah dengan
vaksinasi. Vaksin pertusis ada 2 jenis yaitu whole pertussis (wP) dan acellular pertussis
(aP). Vaksin wP terbukti lebih baik dibandingkan vaksin aP karena memiliki efektifitas
yang lebih tinggi dan waktu perlindungan yang lebih lama dibandingkan aP.
Sejalan dengan hal tersebut, penelitian oleh Glansz et al. (2013) menunjukkan bahwa
pencegahan pertussis dapat dilakukan dengan vaksinasi DTaP tepat waktu. Dalam
penelitian Glansz et al. (2013) disebutkan bahwa status undervaccination terhadap vaksin
DTaP menempatkan bayi dan anak-anak pada peningkatan resiko terjadinya pertussis. Hal
tersebut juga mengancam populasi sekitarnya yang beresiko tinggi untuk terjadinya
komplikasi serius dari pertussis.
Vaksinasi memiliki peran yang sangat penting dalam pencegahan pertusis. Pada
tahun 2008, WHO menyatakan terjadi sekitar 16 juta kasus pertusis di seluruh dunia, 95%
diantaranya terdapat di negara berkembang, dan terjadi sekitar 195.000 kematian. Pada
tahun tersebut, imunisasi telah berhasil mencegah sekitar 680.000 kematian (Gabutti dan
Rota, 2012).
Menurut Tiwari et al. (2015), selama wabah pertussis, perlu dilakukan vaksinasi
pertussis dosis pertama tepat waktu pada usia 6 minggu dan segera diberikan terapi
antibiotik yang sudah direkomendasikan secara dini Rekomendasi tersebut berlaku secara
global, khususnya di negara-negara dimana vaksinasi DTP/DaTP rutin dimulai pada usia
6 minggu. Bayi yang tidak memenuhi syarat usia untuk vaksinasi akan mendapatkan
keuntungan dan tercegah dari paparan B. pertussis.
Imunitas terhadap pertusis, baik yang diperoleh secara alami maupun didapat dengan
imunisasi tidak bertahan seumur hidup, imunitas yang didapat dari vaksin hanya
melindungi selama 4 – 12 tahun saja (Gabutti dan Rota, 2012). Sedangkan imunitas yang
diperoleh secara alami bertahan 4 – 20 tahun (Zepp et al., 2011). Di Amerika Serikat,
setiap anak mendapatkan 5 dosis vaksin difteri, tetanus dan pertusis aseluler (DTaP)
sebelum usia 7 tahun dan kekebalannya mulai menghilang setelah 5 tahun (Klein et al.,
2012). Menurut penelitian oleh McGirr dan Fisman (2015), vaksinasi pertussis perlu
diulang saat dewasa, hal tersebut juga termasuk untuk menjaga agar cakupan populasi yang
tercover dengan vaksin tetap tinggi. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa durasi
imunitas protektif terhadap pertussis setelah dosis kelima DaTP adalah 3-4 tahun, dengan
rata-rata perlindungan selama 3 tahun dengan sumsi efikasi vaksin 85%. Dengan hilangnya
perlindungan oleh vaksin, diperkirakan bahwa hanya 10% anak yang divaksinasi DaTP
akan terlindung 8,5 tahun setelah vaksin terakhir. Dengan diberikannya booster untuk anak
prasekolah usia 4-6 tahun diperkirakan akan sangat sedikit anak > 10 tahun yang terlindung
dari pertussis, sehingga diperlukan booster Tdap untuk remaja awal.

Daftar pustaka

Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (2005). Pertusis. Staf pengajar I.K.Anak FKUI :
Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta, Indonesia. FKUI, 1997. Jilid 2. h: 564-566.

Altunaiji SM, Kukuruzovic RH, Curtis NC, Massie J (2012). Antibiotics for whooping cough
(pertussis) (Review). Evid.-Based Child Health 7:3: 893–956

Bayhan GI, Tanir G, Otgun SN, Teke TA, Timur OM, Oz FN (2012). The clinical
characteristics and treatment of pertussis patients in a tertiary center over a four-year
period. The Turkish Journal of Pediatrics, 54 : 596-60

Gabutti G, Rota MC (2012). Pertussis: A Review of Disease Epidemiology Worldwide and in


Italy. International Journal of Environmental Research anf Public Health, 9: 4626-4638
Glanz JM, Narwaney KJ, Newcomer SR, Daley MF, Hambidge SJ, Rowhani-Rahbar A, Lee
GM, Nelson JC, Naleway AL, Nordin JD, Lugg MM, Weintraub ES (2013). Association
Between Undervaccination With Diphtheria, Tetanus Toxoids, and Acellular Pertussis
(DTaP) Vaccine and Risk of Pertussis Infection in Children 3 to 36 Months of Age. JAMA
Pediatr. 167(11):1060-1064

Klein NP, Bartlett J, Rahbar AR, Fireman B, Baxter R (2012). Waning Protection after Fifth
Dose of Acellular Pertussis Vaccine in Children. The New England Journal of Medicine,
367: 11

S. Long, Sarah. (2000). Pertusis. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol II. Jakarta : EGC. 181: 960-
965

Snyder J, Fisher D (2012). Pertussis in Childhood. Pediatrics in Review, 33 : 412

Tejpratap Tiwari. (2005). Recommended Antimicrobial Agents for the Treatment and
Postexposure Prophylaxis of Pertussis. CDC Guideline.
http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr5414a1.html.

Tiwari TSP, Baughman AL, Clark TA (2015). First Pertussis Vaccine Dose and Prevention of
Infant Mortality. Pediatrics, 135 (6) : 1-12

Witt MA, Arias L, Katz PH, Truong ET, Witt DJ (2013). Reduced Risk of Pertussis Among
Persons Ever Vaccinated with Whole Cell Pertussis Vaccine Compared to Recipients of
Acellular Pertussis Vaccines in a Large US Cohort. Clinical Infectious Disease, 56: 1248
– 1254

Zeep F, Heininger U, Mertsola J, Bernatowska E, Guiso N, Roord J, Tozzi AE, et al (2011).


Rationale for pertussis booster vaccination throughout life in Europe. The Lancet, 2011
(11) : 557 – 570