Anda di halaman 1dari 61

PELATIHAN

GELS
( GENERAL EMERGENCY LIFE SUPPORT )

PPGD
(PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT )

MATERI MEDIS TEKNIS STANDARD

RSU DR. SOETOMO - FK UNAIR


SURABAYA
2007

i
MEDIS TEHNIS STANDART

GELS
GENERAL EMERGENCY LIFE SUPPORT
PPGD ~~~~
PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT
Edisi IX -- Januari 2007

Editor:
Dr. Koeshartono, SpAnKJC

Kontributor :

Prof. Karjadi Wirjoatmodjo, SpAnK.IC


Dr. Koeshartono, SpAnK.IC
Prof. DR.dr. Eddy Rahardjo, SpAnK.IC
Dr. Tommy Soenartomo, SpAnK.IC
Dr. Teguh Sylvaranto, SpAnK.IC
Dr. April Poerwanto Basoeki, SpAn

LayOut :
Dr. April Poerwanto Basoeki, SpAn

Design Sampul:
Senja Setiaka, AMd.Kep.

Peragaanoleh :
Bebaion, Senja, Fatikh , Wiwiek , Titiek, Edo, Ida , Ainur, dokter BSB Surabaya dan para dokter muda.
SEPATAH KATA PENGANTAR

Sehari-hari
Di mana dan kapan saja tidak jarang dijumpai seorang manusia atau beberapa orang manusia
telah menjadi korban dari suatu peristiwa gawat darurat.
Tanpa disadari korban tersebut akan mengalami gangguan fungsi organ yang sangat penting
dalam kehidupannya.
Yang berakhir dengan kematian.

Keadaan ini dapat terjadi atau dialami oleh kawan, sahabat, atau orang lain yang sama sekali
belum pernah anda kenal,
Bahkan menimpa anda sendiri, isteri, anak maupun famili.
Kita sebagai manusia yang beradab akan berdiam dirikah menghadapi masalah tersebut?
Kematian memang ditangan Tuhan

Ada saat-saat dimana hal ini dapat diusahakan untuk menolong mereka dengan batas
kemampuan manusia yang diciptakan-Nya.
Lebih baik berusaha daripada tidak samasekali.
Dengan niat yang suci!

Kita mengharapkan anda semua sebagai bangsa Indonesia dapat menanggulangi atau
memberikan pertolongan yang sifatnya sementara pada detik-detik pertama atau saat-saat kritis
dari penderita gawat darurat yang mengalami musibah.
Bukan tidak mungkin dengan pertolongan anda sebuah nyawa telah anda selamatkan!
Hal yang lain, bertambah beratnya penyakit yang mengakibatkan cacad seumur hidup dapat pula
decegah atau minimal anda telah mengurangi penderitaannya.

Kemajuan suatu pembangunan hampir selalu diikuti dengan kemajuan teknologi. Hal yang positif
ini mau tidak mau akan menimbulkan suatu masalah baru yang lazim disebut kecelakaan atau
accident, di samping penyakit yang timbulnya mendadak dan menimbulkan kematian antara lain,
seperti halnya serangan jantung. Kesemuanya merupakan masalah darurat yang umumnya
sering dalam kondisi gawat.

Pengertian dari suatu kegawat daruratan yang jelas bukanlah suatu kejadian yang disangaja.
Pada umumnya timbul secara mendadak dan apabila tidak segera mendapat pertolongan, tidak
sedikit yang akan berakibat kematian pada si korban. Orang yang menangani korban kecelakaan
adalah tenaga-tenaga medis (dokter, paramedis) yang pada umumnya tidak selalu berada di
tempat kejadian. Sering harus menunggu beberapa jam untuk kedatangan tenaga medis.
Apa yang dapat diperbuat jika dijumpai kasus semacam itu.

Diharapkan semua masyarakat dapat memberikan pertolongan pertama pda si korban sebelum
tenaga medis datang. Dalam hal ini perlu dimengerti dan difahami dengan seksama cara-cara
atau tindakan pencegahan dan memberikan perlindungan bagi korban, dari gangguan-gangguan
terhadap fungsi organ tubuh yang sangat penting untuk kehidupannya.

Dengan usaha dan kemampuan yang ada pada masyarakat, mudah-mudahan korban-korban
kematian dan cacad akibat kegawat daruratan dapat dihindari.

Editor

in
SAMBUTAN
DEKAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA

Assalamu'alaikum Wr. Wb
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas
perkenanNYA maka buku materi Pelatihan
Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) -
General Emergency Life Support(GELS) telah selesai
disusun.
Kami menyadari bahwa keadaan gawat darurat dapat terjadi pada siapa
saja dan dimana saja, untuk itu dalam upaya memberikan bantuan
kedaruratan hams diberikan dengan cepat dan tepat oleh orang yang berada
dekat penderita tersebut. Yang dimaksud dengan orang terdekat dapat orang
awam, awam khusus, perawat maupun dokter.
Upaya penanggulangan penderita gawat darurat sehari-hari maupun
sebagai akibat bencana ditingkat Pra Rumah Sakit dan Intra Rumah Sakit
atau upaya rujukan antar Rumah Sakit, hams dilaksanakan melalui suatu pola
yang konseptual dan sistematis agar pasien terhindar dari kematian dan atau
kecacatan permanen.
Sebagai pimpinan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga kami
sangat menghargai penyusunan buku materi Pelatihan Penanggulangan
Penderita Gawat darurat (PPGD) - General Emergency Life Support (GELS).
Semoga buku materi Pelatihan PPGD / GELS dapat dijadikan acuan bagi
mahasiswa maupun peserta didik lain untuk melengkapi bekal nantinya
sebagai pelaksana tugas yang terkait langsung didalam pelayanan penderita
gawat darurat.
Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih kepada Tim
Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) - General Emergency Life
Support (GELS) atas segala upaya sehingga buku ini dapat tersusun dengan
baik.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

DEKAN

Prof. Dr.H.M.S Wiyadi.dr.Sp.THT (K)


NIP: 130325828f
SAMBUTAN
DIREKTUR RSU DR. SOETOMO SURABAYA

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Sebagai rumah sakit rujukan dan pusat pendidikan,
RSU Dr. Soetomo berpotensi untuk mengembangkan upaya
Penanggulangan Penderita Gawat Darurat baik kejadian
sehari-hari maupun keadaan bencana. Mengacu kepada
kebijakan nasional tentang Sistem Penanggulangan
Penderita Gawat Darurat, Departemen Kesehatan telah
mengembangkan konsep Sistem Penanggulangan Penderita Gawat Darurat
Terpadu Sehari-hari (SPGDT-S) dan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat
Terpadu Bencana (SPGDT-B) beserta peraturan-peraturan pendukungnya
agar seluruh jajaran kesehatan terkait memiliki persepsi dan langkah yang
sama guna meningkatkan efisiensi dan efektivitas upaya penanggulangan
penderita gawat darurat.
Dalam pelaksanaannya, RSU Dr. Soetomo akan bekerjasama
dengan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (BAKORNAS
PB), MABES TNI, Perhimpunan Profesi Terkait dan Lingkungan Departemen
Kesehatan secara terarah dan terpadu.
Dengan tersusunnya buku Pelatihan Penanggulangan Penderita
Gawat Darurat (PPGD) / General Emergency Life Support (GELS), kami
mengharapkan dapat menjadi pedoman dan menambah wawasan bagi
petugas kesehatan khususnya medis dan paramedis di tingkat RS sampai
kepada pelaksana terdepan (Puskesmas).
Terima kasih kami sampaikan kepada Tim Penyusun dan semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan buku Penanggulangan Penderita Gawat
Darurat (PPGD) / General Emergency Life Support (GELS). Semoga tidak
terhenti sampai disini tetapi selalu berkembang seiring kemajuan teknologi
kesehatan.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Dr. H. Slamet Riyadi Ytiwono, DTM&H, MARS


DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN 1

II. KEGAWATAN 2

III. TRIAGE 4

IV. PRIMARY SURVEY 8

V. SECONDARY SURVEY 10

VI. MATERI TEHNIS MEDIS STANDART 12

a. Airway Management- Pengelolaan jalan nafas 15


b. Breathing Management- Pengelolaan Fungsi Pernafasan 18
c. Circulation Management —Pengelolaan sirkulasi 23
d. Resusitasi jantung paru 27
e. Drug Management - Penggunaan Obat 28
f. Terapi cairan 31
g. Defibrilasi - Penggunaan defibrilator 32
h. Disability- Evaluasi Neurologik 33
i. Differential diagnosis - Diagnosa banding 35
j. Elektrokardiografi- EKG 36

VII. RANGKUMAN TINDAKAN PERTOLONGAN DAN


PENANGANAN PASIEN GAWAT DARURAT 111

VIII. KOMUNIKASI 114

IX. TRANSPORT ASI 125

X. PEMBEBATAN dan PEMBIDAIAN 149

XI. SPGDT 164

XII. GUIDELINES 2005 revisi GUIDELINES 2000 169

XIII. DAFTAR PUSTAKA 175

iv
Lampiran

1. Pengelolaan jalan nafas, tanpa alat 38


2. Pengelolaan jalan nafas, dengan alat 46
3. Persiapan alat bantu jalan nafas & oksigenasi 55
4. Terapi oksigen, alat2 59
5. Resusitasi Jantung Paru . 61
6. Ventilator Mekanik / respirator 69
7. Pemasangan jalur intravena 73
8. Pemasangan jarum intraoseus 77
9. Cara menghentikan perdarahan 78
10. Alat bantu sirkulasi dan alat bantu lain 80
11. Shock, trauma status, klasifikasi dehidrasi dan 81
terapi cairan
12. Mengatasi gangguan pernafasan - pneumotoraks 84
13. Mengatasi gangguan hemodinamik - tamponade 87
14. Penggunaan defibrilator 89
15. Drug (obat-obatan) pada gawat darurat 95
16. Pembuatan , pembacaan EKG 100
17. Algoritma henti nafas, henti jantung, ventrikel 107
fibrilasi

_ap2007_
Setelah Mempelajari Serta Mengikuti Pendidikan Dan Pelatihan
Peserta didik diharapkan :

1. Tahu dan mengerti arti Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu


sehari - hari pada bencana dan pengungsi ( SPGDT S - B / P ) dan
mampu melakukan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD)
2. Tahu dan mengerti arti kegawatdaruratan dan dapat menilai derajat
kegawatan
3. Tahu dan mengerti gawat jalan nafas, gawat pernafasan, gawat sirkulasi'
dan gawat kesadaran - otak
4. Mampu merencanakan triage dan tindakan resusitasi
5. Mampu mendiagnosa sumbatan jalan nafas dan pengelolaannya
6. Mampu mendiagnosa gawat nafas dan pengelolaannya
7. Mampu mendiagnosa gawat sirkulasi dan pengelolaannya
8. Mampu merencanakan resusitasi dan melakukan resusitasi pada henti
jantung dan henti nafas
9. Mengenal, memahami irama EKG yang mengancam jiwa
10. Mengenal, memahami dan dapat menggunakan obat darurat yang
diperlukan dan defibrilator
11. Mengenal, menyiapkan dan mampu menggunakan alat untuk life
support sesuai dengan prosedur
12. Mampu mengelola terapi cairan sederhana
13. Mampu melakukan pembebatan dan pembidaian dengan benar
14. Mengerti dan mampu melaksanakan transportasi dan rujukan penderita
gawat darurat
15. Mengenal, dapat menggunakan dan mampu melakukan komunikasi
dengan radio medik
No. TIU TIK
Sistem Penanggulangan Gawat 1. Mengerti arti SPGDT sehari -
Darurat Terpadu pada bencana hari pada bencana dan
dan pengungsi ( SPGDT S- B / pengungsi
P ) dan mampu melakukan 2. Memahami perlunya koordinasi
Penanggulangan Penderita lintas profesi, disiplin dan sektor
Gawat Darurat (PPGD) 3. Mampu menyelamatkan pasien
dengan tepat dan cepat
4. Mampu melakukan komunikasi
5. Mampu memindahkan dan
merujuk
Kegawatan 1. Mengerti arti kegawatdaruratan
2. Mampu menilai derajait
kegawatan
Mampu mengetahui sumbatan Mengetahui tanda dan gejala
jalan nafas dan pengelolaannya sumbatan jalan nafas
Mengenali keadaan-keadaan
klinis yang potensial akan
mengakibatkan sumbatan jalan
nafas
Menjelaskan teknik-tehnik
membebaskan dan menjaga jalan
nafas
Menjelaskan dan dapat
menggunakan jalan nafas definitif
Mampu mengetahui gawat nafas 1. Mengetahui tanda dan gejala
dan pengelolaannya gawat nafas
2. Mengenali keadaan klinis yang
potensial
3. Menjelaskan teknik-teknik
pengelolaan gawat nafas
4. Menjelaskan dan dapat
melakukan terapi oksigen

Vll
No. TIU TIK
5. Mampu meng9tahui gawat 1. Mengetahui tanda dan gejala
sirkulasi dan p9ng9lolaannya gawat sirkulasi/shock
2. Mengenali keadaan klinis yang
potensial akan menyebabkan
gawat sirkulasi
3. Menjelaskan dan dapat
melakukan terapi gawat sirkulasi
/shock
6. Mampu m9r9ncanakan triage Mengetahui tatacara seleksi /
dan penanganannya pengelompokan korban berdasarkan
kegawatan
7. Mampu merencanakan resuistasi 1. Mampu menjelaskan hal-hal
pada henti jantung dan henti yang dapat mengakibatkan
nafas terjadinya henti jantung atau
henti nafas
2. Mampu merencanakan secara
pro aktif pencegahan agar tidak
sampai terjadi henti jantung atau
henti nafas
3. mampu merencakan dan
melakukan pertolongan pijat
jantung dan nafas buatan tahap
dasar maupun lanjut pada pasien
henti jantung dan nafas : baik
bayi, anak maupun dewasa oleh
satu atau dua penolong
4. Memahami dan dapat menilai
efektifitas dari tindakan resusitasi
5. Memahami dan dapat
merencanakan perawatan pasien
pasca resusitasi

viii
No. TIU TIK
8. Mampu mengetahui gambaran 1. Mengetahui tatacara perekaman
EKG yang mengancam jiwa EKG
2. Mengetahui gambaran EKG yang
dapat mengancam jiwa
9. Mengenal, menyiapkan dan Dapat menyiapkan dan
mampu menggunakan menggunakan defibrilator
defibrilator
10. Mengenal, memahami dan 1. Mengenal obat-obat darurat
menggunakan obat darurat yang adrenalin, amiodaron, lidocain
diperlukan untuk resusitasi dan sulfas atropin
jantung, paru, otak. (RJPO) 2. Dapat menyiapkan, memberikan
dengan benar sesuai dgn macam
, dosis serta cara pemberian
11. Mengenal, menyiapkan dan Memahami, dapat menyiapkan,
menggunakan alat sesuai dapat menggunakan alat-alat dan
dengan prosedur untuk life melaksanakan sesuai prosedur
support dengan aman untuk life support
1. Alat penyelamat fungsi jalan
nafas
2. Alat penyelamat fungsi
pernafasan
3. Alat penyelamat fungsi sirkulasi
12. Mampu mengelola terapi cairan 1. Memahami gangguan
sederhana keseimbangan cairan dan shock
2. Melakukan transfusi secara
rasional

IX
No. T1U TIK
13. Mampu melakukan pembebatan 1. Mengerti arti bebat, bidai dan
dan pembidaian dan transportasi transportasi
pasien yang benar
2. Mengenal jenis/macam bebat,
bidai dan transportasi
3. Mengerti fungsi dan kegunaan
bebat, bidai dan transportasi
4. mampu melakukan pembebatan
dan pembidaian dan trasnportasi
pasien dengan benar
14. Rujukan dan transportasi 1. Memahami masalah rujukan
penderita gawat darurat 2. Mampu membantu
merencanakan persiapan pra
rujukan dan transportasi
3. Mampu merujuk penderita gawat
darurat
15. Komunikasi dengan radio medik 1. Memahami pentingnya
komunikasi pra dan pasca
rujukan
»•

2. Mengenal dan dapat


menggunakan radio medik
3. Melakukan komunikasi dan
koordinasi dengan radio medik

X
PENDAHULUAN

PRINSIP PPGD

1. Istilah

"Kasus Gawat Darurat"


Perlu pertolongan segera karena ancaman kematian.

"Critical ILL Patient


a. Immediatelly life threatening.
b. Potentially life threatening.

"Kasus Gawat Darurat"


"Emergency Patient"
(Perlu pertolongan segera).

2. Tindakan PPGD

a. Oleh siapa saja (dokter, perawat, awam) yang pertama mengetahui.

b. Tindakan pertolongan pertama (first action) bukan terapi definitif.

c. Terdiri dari BHD (Bantuan Hidup Dasar)/Sas/c Life Support dan BHL
(Bantuan Hidup Lanjut) /Advanced Life Support.

d. Penanganan melibatkan multi disiplin, multi profesi dan lintas sektoral


bukan merupakan penjumlahan masing-masing disiplin/spesialisasi.

e. Pendekatan dalam upaya pertolongan berdasarkan problem dan


pendekatan fungsi-fungsi.

f. Bila resusitasi yang bersifat life saving berhasil, diperlukan pengetahuan


tambahan (spesialistis) sesuai kasus untuk menunggu rujukan.

g. Kegiatan meliputi:
- Pra rumah sakit.
- Intra rumah sakit.
- Antar rumah sakit.

I
KEGAWATAN
DEFINISI :

Suatu k8adaan yang m8nimpa ses8orang yang dapat


m8nyebabkan sesuatu yang mengancam jiwanya dalam arti
memerlukan pertolongan tepat, cermat dan cepat bila tidak maka
seseorang tersebut dapat mati atau menderita cacat.

PRIORITAS UTAMA PENYEBAB KEGAWATAN :

Banyak sebab dapat berakibat kematian atau cacat dalam waktu


singkat dapat berupa sebab-sebab bidang medik ataupun trauma.

Yang mengakibatkan kegawatan menyangkut:

JALAN NAFAS DAN FUNGSI NAFAS


FUNGSI SIRKULASI
FUNGSI OTAK DAN KESADARAN
PENYEBAB MEDIK ANTARA LAIN :
PENYAKIT

Infeksi otak : Gangguan kesadaran


Gangguan pusat-pusat vital.
Diabetes : Koma diabetikum
Hepar : Koma hepatikum
Ginjal : Koma uremikum
Jantung : Serangan jantung
Tek. Darah tinggi : Serangan otak
Kelemahan otot : Tidak dapat bernafas

OBAT-OBATAN

Narkotika : tidak dapat bernafas


(henti nafas)
Anafilaksis : shock berat
(henti jantung)

2
PENYEBAB TRAUMA

Trauma kepala : Gangguan kesadaran


Trauma muka : Gangguan jalan nafas
Trauma dada : Perdarahan : Shock
Pneumothorak : Sesak
Patah tulang dada
atau iga : sesak, nyeri
Trauma perut : Perdarahan : Shock
Trauma anggota gerak : Perdarahan/nyeri : Shock
Trauma pada kehamilan : Bahaya untuk ibu dan bayi
Terbakar : sesak, shock

3
TRIAGE

DEFINISI: Pengelompokan korban yang berdasarkan atas berat-ringannya


trauma / penyakit serta kecepatan penanganan/pemindahannya

MACAM: KORBAN MASAL (Multiple Patient)


Kejadian atau timbulnya kedaruratan yang mengakibatkan
lebih dari 1 korban yang harus dikelola oleh lebih dari satu
penolong, bukan akibat bencana

KORBAN BENCANA (Mass Casualty Disaster)


Kedaruratan yang memerlukan penerapan Sistem
Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu Sehari-hari dan
Bencana (SPGDT-S dan SPGDT-B)

PRINSIP: Seleksi korban berdasarkan

1. Ancaman jiwa yang dapat mematikan (dalam ukuran


menit)
2. Dapat mati (dalam ukuran jam)
3. Ruda paksa ringan
4. Sudah meninggal

PRIORITAS

I. Biru
II. Merah
III. Kuning
IV. Hijau
V. Hitam

PEDOMAN:

Pemimpin triage hanya melakukan :


a Primary survey
• Menentukan prioritas penanganan dan pemindahan
• Menentukan pertolongan apa yang harus diberikan

4
Tanggung jawab tim triage

a Mencegah kerusakan berlanjut/bertambah parah


a Memilah-milah korban
• Melindungi korban

CATATAN
a Dalam hal bencana lebih baik meminta bantuan lebih dari
pada kurang.
a Utamakan pertolongan untuk korban yang potensial
selamat.
a Pikirkan kemungkinan yang jelek sehingga dapat
mempersiapkan lebih baik.

5
PRIORITAS

DEFINISI : Penentuan mana yang hams didahulukan mengenai penanganan


dan pemindahan yang mengacu tingkat ancaman jiwa yang
timbul.

TINGKAT PRIORITAS :

1. Prioritas Pertama, (I, Tertinggi, Emergency).


Mengancam jiwa / mengancam fungsi vital.
Penanganan dan pemindahan bersifat SEGERA.
2. Prioritas Kedua (II, Medium, Urgent).
Potensial mengancam jiwa/fungsi vital bila tidak segera
ditangani dalam waktu singkat.
Penanganan dan pemindahan bersifat JANGAN TERLAMBAT.
3. Prioritas Ketiga (III, Rendah, non Emergency)
Perlu penanganan seperti pelayanan biasa.
Tidak perlu segera.
Penanganan dan pemindahan bersifat TERAKHIR.

PENILAIAN
Primary Survey (A,B,C)
Menghasilkan prioritas I dan selanjutnya
Secondary Survey (Head to Toe)
Menghasilkan prioritas I,II,III, selanjutnya
Monitoring korban atau pasien kemungkinan terjadinya
perubahan-perubahan pada
a. Jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi
b. Derajat kesadaran
c. Tanda-tanda vital yang lain
Perubahan prioritas yang dikarenakan berubahnya kondisi
korban atau pasien

PERHATIAN KHUSUS

1. Meningkatnya derajat distres nafas, shock


2. Turunnya kualitas nadi/pu/se pressure
3. Cepatnya penurunan derajat kesadaran
4. Koma yang timbul setelah lucidperiode
5. Timbulnya masalah jalan nafas dan rongga thorak
6. Perubahan mendadak hemodinamik/ hipotensi, mungkin
perdarahan internal
7. Luka tembus kepala, dada, perut

6
CATATAN
1. Perlu adanya team leader serta anggota tim yang telah terdidik
dan terlatih
2. Prioritas, menggambar tingkat bahaya yang mengancam jiwa.

CONTOH-CONTOH PRIORITAS DAN KODE WARNA

PRIORITAS I MERAH

1. Sumbatan jalan nafas atau distress nafas


2. Luka tusuk dada
3. Hipotensi/shock
4. Perdarahan pembuluh nadi
5. Problem kejiwaan yang serius
6. Tangan/kaki yang terpotong dengan perdarahan
7. Combustio Tk II>25%
8. Combustio Tk 111>25%

PRIORITAS II KUNING

1. Combustio Tk ll/Tk lll>25%


2. Patah tulang besar
3. Trauma thorak/abdoment
4. Laserasi luas
5. Trauma bola mata

PRIORITAS III HIJAU

1. Contusio dan laserasi otot ringan


2. Combustio Tk. II < 20 % ( kecuali daerah muka dan
tangan

PRIORITAS 0 HITAM

1. Henti jantung yang kritis


2. Trauma kepala yang kritis
3. Radiasi tinggi

7
PRIMARY SURVEY

DEFINISI : Deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang


mengancam jiwa

CARA PELAKSANAAN :
JALAN NAFAS
Lihat, Dengar, Raba (Look, Listen, Feel)
Buka jalan nafas, yakinkan adekuat.
Atasi segera, bebaskan jalan nafas.
(Head Tilt, Chin Lift, Jaw Thrust, hati-hati pada korban
trauma)
Penghisapan (Suctioning)

PERNAFASAN
Apakah pertukaran hawa panas adekuat ?
a. Tidak ada, lakukan resusitasi
b. Frekuensi
c. Kualitas
d. Teratur/tidak
e. Capillary Refill Time

PERDARAHAN

Eksternal
Hentikan segera:
: Dengan bebat tekan pada luka
: Elevasi
: Kompres es
: Tourniquet
(hanya pada luka / trauma khusus)
Internal
Segera kirim (lihat protokol khusus)

TULANG BELAKANG

Apakah sadar ? (lihat protokol khusus)


Adakah trauma kepala? (lihat protokol khusus)
Stabilisasi leher dan tulang belakang sebelum dikirim

8
SHOCK
Tanda-tanda shock (lihat protokol khusus)
Stabilitas segera dikirim

Primary survey harus selalu dilaksanakan pada tiap


pasien/korban saat itu.

Hindari hal-hal yang dapat mengancam jiwa penolong setiap akan


memberikan pertolongan
SECONDARY SURVEY

DEFINISI : Mencari perubahan-perubahan yang dapat berkembang menjadi


lebih gawat dan dapat mengancam jiwa apabila tidak segera
diatasi.

PERALATAN : Stetoscope, tensi meter, jam, lampu pemeriksaan, gunting,


thermometer, catatan, alat tulis

CARA PELAKSANAAN:

1. Periksa kondisi umum menyeluruh

a. Posisi saat ditemukan


b. Tingkat kesadaran
c. Sikap umum, keluhan
d. Ruda paksa, kelainan
e. Keadaan kulit

2. Periksa kepala dan leher

a. Rambut dan kulit kepala


Perdarahan, pengelupasan, perlukaan, penekanan cedera
tulang belakang
b. Telinga
Perlukaan, darah, cairan
c. Mata
Perlukaan pembengkaan, perdarahan,
Refleks pupil, kondisi kelopak mata, kemerahan perdarahan
sclera/alrian antrum anterior, benda asing, pergerakan
abnormal
d. Hidung
Perlukaan, darah, cairan, nafas cuping hidung kelainan
anatomi karena ruda paksa
e. Mulut
Perlukaan, darah, muntahan, benda asing, gigi, bau, dapat
buka mulut / tidak
f. Bibir
Perlukaan, perdarahan, cyanosis, kering
g. Rahang
Perlukaan, stabilitas, krepitasi

10
h. Kulit
Perlukaan, basah / kering, darah, warna goresan-goresan,
suhu
i. Leher
Perlukaan, bendungan vena, deviasi trachea, spasme otot,
stoma, tag, stabilitas tulang leher

3. Periksa Dada
Flailchest, nafas diafragma, kelainan bentuk, tarikan antar iga,
nyeri tekan, perlukaan, suara ketuk, suara nafas

4. Periksa Perut
Perlukaan, distensi, tegang, kendor, nyeri tekan, undulasi

5. Periksa tulang belakang


Kelainan bentuk, nyeri tekan, spasme otot

6. Periksa peivic/genetalia
Perlukaan, nyeri, pembengkaan, krepitasi, priapismus,
inkontinensia

7. Periksa ekstermitas atas dan bawah


Perlukaan, angulasi, hambatan pergerakan gangguan rasa,
bengkak, denyut nadi, warna luka

CATATAN

1. Perhatikan tanda-tanda vital


2. Pada kasus trauma, pemeriksaan setiap tahap selalu dimulai
dengan pertanyaan adakah : D-E-C-A-P-B-L-S
D Deformitas
E Ekskoriasi
C Contusi
A Abrasi
P Penetrasi
B Bullae/Burn
L Laserasi
S Swe///A7g/Sembab

1. Pada dugaan patah tulang, pemeriksaan setiap tahun selalu


dimulai dengan pertanyaan
Adakah : P-l-C
P Pa/n/nyeri
I Instabilitas
C Crepitasi
MATERI MEDIS TEKNIS STANDAR

Materi medis teknis standard ini merupakan rangkuman yang disajikan sebagai
panduan instruksional dan diharapkan dapat mudah dimengerti dan mudah
dilakukan. Materi tersebut meliputi "cara memberikan bantuan hidup dasar
(BHD) atau disebut juga BLS (Basic Life Support) dan cara memberikan bantuan
hidup lanjut (BHL) atau disebut juga ALS (Advanced Life Support)" yang
merupakan satu kesatuan dalam penanganan PPGD.

Dapat digunakan sebagai pedoman bagi dokter, perawat, petugas ambulans


maupun orang awam. Dalam kaitan makin meningkatnya jumlah bidang
keahlian, ketrampilan dasar sangat diperlukan oleh dokter yang hams
menangani pasien gawat darurat selama dokter ahli belum ada ditempat.
Hams diakui bahwa dokter, termasuk pula mahasiswa, perawat dan paramedik
hams mampu melakukan resusitasi pada pasien yang mengalami henti jantng
maupun nafas.

Langkah-langkah dalam melakukan PPGD dimulai dengan melakukan


pengenalan kasus kegawatan. Pengenalan keadaan ini meliputi pengenalan
awal untuk dapat memberikan pertolongan pertama (early treatment) yang
selanjutnya diikuti dengan evaluasi awal untuk mengetahui pertolongan lanjutan
yang diperlukan.

Bila kasus yang dihadapi adalah kasus henti nafas dan henti jantung, maka
resusitasi jantung paru (RJP) merupakan pilihan tindakan yang hams diikuti
dengan evaluasi tindakan, Tetapi yang hams diikuti dengan evaluasi tindakan.
Tetapi selain itu sebenarnya diharapkan para pelaksana PPGD dapat melakukan
tindakan yang lebih dini (proaktif), yaitu pengenalan yang cermat agar dapat
dilakukan pencegahan memburuknya keadaan pasien atau sebelum terjadinya
henti nafas dan henti jantung.

Pencegahan merupakan serangkaian usaha maupun antisipasi yang perlu


dipikirkan sebelumnya dan dilaksanakan dalam penanganan kemungkinan
terjadinya henti nafas/jantung; agar jangan sampai seseorang betul-betul jatuh
dalam keadaan henti nafas maupun henti jantung.
Pencegahan sendiri akan memberikan hasil jauh lebih baik dari pada hams
melakukan resusitasi jantung paru.

12
Pencegahan dapat dikelompokkan sebagai berikut ;

1. PENCEGAHAN PRIMER
Usaha-usaha mengindentifikasi faktor-faktor resiko dan menghilangkan
faktor-faktor tersebut jika dimungkinkan.
Jika tidak mungkin, maka diupayakan untuk mengurangi jumlah atau beratnya
faktor resiko tersebut.
Minimal melakukan monitoring dengan sangat hati-hati agar faktor resiko
tersebut tidak berkembang menjadi pencetus terjadinya henti jantung dan
atau henti nafas

2. PENCEGAHAN SEKUNDER
Melakukan diagnosa dini dan tindakan dini pada kejadian-kejadian atau
masalah-masalah yang akan berkembang menuju henti jantung dan atau
henti nafas.

3. PENCEGAHAN TERTIER
Apabila terjadi henti jantung dan henti nafas segera melakukan resusitasi
jantung paru dengan tepat cermat dan cepat, untuk mencegah kematian dan
kecacatan.

Pada kasus henti nafas dan henti jantung hal yang penting untuk diingat adalah
melakukan tindakan dengan cepat dan tepat sebelum terjadi kekurangan suplai
oksigen, karena kekurangan oksigen lebih dari 4-8 menit akan menyebabkan
kerusakan jaringan otak yang irreversible.

Tetapi pengelolaan dini yang dilakukan sebelum terjadinya henti nafas dan henti
jantung akan memberikan hasil yang lebih baik.

Kasus gawat darurat terutama kasus-kasus dengan

a Permasalahan pada Jalan Nafas (Airway).


• Permasalahan pada Ventilasi Pernafasan (Breathing).
Q Permasalahan pada Sirkulasi Darah (Circulation).

yang akan menyebabkan kematian dalam waktu singkat maka penanganan


pertama ditujukan kepada ketiga permasalahan tersebut diatas (life threatening).

Untuk memudahkan mempelajari penanganan kasus gawat darurat tersebut


maka digunakan singkatan berupa huruf A-B-C dan seterusnya. Maka
penanganannyapun menggunakan urutan A-B-C (untuk Bantuan Hidup Dasar)
yang mungkin hams dilanjutkan dengan urutan D-E (untuk Bantuan Hidup
Lanjut).

13
Tindakan Medis
Penangguiangan Penderita Gawat d a r u r a t - PPGD

A = Airway Management
(Pengelolaan gangguan jalan nafas)

B = Breathing Management
(Pengelolaan gangguan ventilasi/pernafasan)

C = Circulation Management
(Pengelolaan gangguan sirkulasi)

D= Drug (Penggunaan obat-obat kasus GD)


Defibrilator (Mengatasi fibrilasi jantung)
Disability/Dysfunction of CNS (Mengatasi gangguan SSP)
Differential Diagnosis (Diagnosa banding)

E= EKG (Mengetahui gambaran EKG yang mengancam jiwa)


Exposure & Environment Control

14
A : AIRWAY MANAGEMENT

( PENGELOLAAN JALAN NAFAS )

TUJUAN :

Memb9baskan jalan nafas untuk menjamin pertukaran udara secara normal.

DIAGNOSA :

Cara melakukan diagnosis terhadap adanya gangguan jalan nafas dapat


diketahui dengan cara

L = Look
L = Listen yang dilakukan secara simultan, dengan satu gerak.
F = Feel

L = melihat gerakan nafas/pengembangan dada dan adanya retraksi sela iga.


L = mendengar aliran udara pernafasan.
F = merasakan adanya aliran udara pernafasan.

TINDAKAN :

I. Tanpa alat:

1. Membuka jalan nafas

Dapat dilakukan :
• head-tilt (dorong kepala ke belakang).
• chin-lift manouver (tindakan mengangkat dagu).
• jaw-thrust manouver (tindakan mengangkat sudut rahang bawah).

Cara melakukan lihat lampiran - 1 halaman 38

Tetapi pada pasien dengan dugaan cedera leher dan kepala, hanya
dilakukan jaw-thrust dengan hati-hati dan menceqah gerakan leher.

15
a Bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing dalam rongga
muli.it dilakukan pembersihan manual dengan sapuan jari.
• Kegagalan membuka jalan nafas dengan cara ini perlu dipikirkan hal
lain yaitu adanya sumbatan jalan nafas daerah faring atau adanya
henti nafas (apnea)
a Bila hal itu terjadi dan pasien menjadi tidak sadar, iakukan peniupan
udara melalui mulut, bila dada tidak tampak mengembang, maka
kemungkinan adanya sumbatan pada jalan nafas dan dilakukan
Heimlich Manouver (perasat Heimlich).

2. Membersihkan jalan nafas

Sapuan jari {finger sweep)


Dilakukan bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing dalam
rongga mulut belakang atau hipofaring (gumpalan darah, muntahan,
benda asing lainnya) dan hembusan nafas hilang.

Cara melakukannya
• Miringkan kepala pasien (kecuali pada dugaan fraktur tulang leher)
kemudian buka mulut dengan jaw thrust dan tekan dagu kebawah. Bila
otot rahang lemas {emaresi manouvre).
• Gunakan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah) yang bersih atau
dibungkus dengan sarung tangan/kassa untuk membersihkan
mengorek/mengait semua benda asing dalam rongga mulut.

3 Mengatasi sumbatan nafas parsial

Dapat digunakan tehnik manual thrust


• Abdominal thrust.
• Chest thrust.
• Back blow.

Cara melakukan lihat lampiran -2 halaman 46.

lil Dengan menggunakan alat:

Cara ini dilakukan bila pengelolaan tanpa alat tidak berhasil sempurna.

a. Pemasangan pipa (tube)


a Dipasang jalan nafas buatan (pipa orofaring, pipa nasofaring). Bila
dengan pemasangan jalan nafas tersebut pernafasan belum juga baik,
dilakukan pemasangan pipa endotrachea

16
a Pemasangan pipa endotrachea akan menjamin jalan nafas tetap
terbuka, menghindari aspirasi dan memudahkan tindakan bantuan
pernafasan.

b. Pengisapan benda cair (suctioning)

Bila terdapat sumbatan jalan nafas karena benda cair, maka dilakukan
pengisapan (suctioning).
- Pengisapan digunakan dengan alat bantu pengisap (pengisap manual
portable, pengisap dengan sumber listrik).

c. Membersihkan benda asing padat dalam jalan nafas

Bila pasien tidak sadar dan terdapat sumbatan benda padat di daerah
hipofaring yang tak mungkin dilakukan dengan sapuan jari, maka
digunakan alat bantu berupa :
- laringoskop
- alat pengisap (suction)
- alat penjepit (forcep)

Cara : lihat lampiran- 2 halaman 46.

d. Mempertahankan jalan nafas agar tetap terbuka

Penggunaan pipa orofaring : yang digunakan untuk mempertahankan


jalan nafas tetap terbuka dan menahan pangkal lidah agar tidak jatuh ke
belakang yang dapat menutup jalan nafas terutama untuk pasien-pasien
tidak sadar.

e. Membuka jalan nafas dengan krikotirotomi

Dapat dilakukan 2 jenis krikotirotomi

- Krikotirotomi dengan jarum.


- Krikotirotomi dengan pembedahan (dengan pisau).

Cara ini dipilih bila pada kasus pemasangan pipa endotracheal tidak
mungkin dilakukan, dipilih tindakan krikotirotomi dengan jarum. Untuk
petugas medis yang terlatih dan terampil dapat melakukan krikotirotomi
dengan pisau.

Cara : lihat lampiran 2 halaman 51.

17
B : BREATHING MANAGEMENT

( PENGELOLAAN FUNGSI PERNAFASAN )

TUJUAN
Memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara memberikan pernafasan buatan untuk
menjamin kebutuhan oksigen dan pengeluaran gas C0 2 .

DIAGNOSA :
Ditegakkan bila tidak didapatkan tanda-tanda adanya pernafasan pada
pemeriksaan dengan metode Look Listen Feel dan telah dilakukan pengelolaan
pada jalan nafas, tetapi tetap tidak didapatkan adanya pernafasan.

TIN DAK AN :

I. Tanpa alat:
Memberikan pernafasan buatan dari mulut ke mulut atau dari mulut ke
hidung sebanyak 2 (dua) kali tiupan awal dan diselingi ekshalasi.

II. Dengan menggunakan alat:

Memberikan pernafasan buatan dengan alat "ambu bag" {self inflating bag).
Pada alat tersebut dapat pula ditambahkan oksigen.

Pernafasan buatan dapat pula diberikan dengan menggunakan ventilator


mekanik {ventilator/respirator).

Bantuan pernafasan dan terapi oksigen :


a. Penggunaan masker.
b. Penggunanan pipa bersayap {flange tube).
c. Penggunaan balon otomatis & katup searah
{The self inflating bag and valve device).
d. Penggunaan ventilator mekanik.

Cara : lihat lampiran 3 halaman 55.

Untuk kasus-kasus henti nafas disertai henti jantung dilakukan resusitasi


jantung paru (memberikan pernafasan buatan dengan/tanpa alat disertai
tindakan pijat jantung luar)
Lampiran 5 halaman 61.

18
TERAPI OKSIGEN

DEFINISI; Pemberian tambahan oksigen pada pasien agar kebutuhan


oksigennya, <Untuk kehidupan sel-sel yang
mempertanggungjawabkan sempurnanya fungsi organ> dapat
terpenuhi.

Kondisi yang memerlukan oksigen antara lain :


Sumbatan jalan nafas
Henti nafas
Henti jantung
Nyeri dada
Trauma thorax
Tenggelam
Hypoventilasi (< 10 kali permenit)
Distres nafas
Hyperthermia
Shock
Stroke (CVA)
Keracunan gas, asap, CO
Pasien tidak sadar

PERALATAN :

Nasal kanula
Face mask
Partial rebreather mask
Non rebreather mask
Venturi mask
Bag Valve mask
Flowmeter, regulator
Oksigen

Konsentrasi oksigen tergantung dari jenis alat dan flowrate (liter permenit) yang
diberikan. Kondisi pasien menentukan keperluan alat dan konsentrasi oksigen
yang diperlukan.

19
JENIS ALAT KONSENTRASI ALIRAN
OKSIGEN OKSIGEN

Nasal kanula 24% - 32% 2-4 LPM


Simple Face Mask 35% - 60% 6-8 LPM
Partial Rebreather 35% - 80% 6-10 LPM
Non Rebreater 50%-95/100% 8-12 LPM
Venturi 24% - 50% 4-10 LPM

Bag. Valve Mask:


Tanpa Oksigen 21%(udara)
Dengan Oksigen 40% - 60% 8-10 LPM
Dengan Reservoir 100% 8-10 LPM

PERHATIAN
Pemberian oksigen atas indikasi tepat.
Awas pasien muntah, siapkan penghisap
Pantau pemafasan & aliran oksigen (Ipm)

CATATAN
Oksigen menyebabkan mukosa kering
Pergunakan hummidifier pada pemberian 02> 30 menit
Terangkan pada pasien apa yang diterapkan

20
PERALATAN UNTUK PEMBERIAN OKSIGEN
DAN MANAGEMENT BREATHING

DEFINISI : Berbagai komponen peralatan untuk memberikan oksigen, baik


yang fixed, mobile maupun portable unit

KOMPONEN:

1. SILINDER OKSIGEN tekanan 2000 PSI

UKURAN VOL (LITER) KONSTANTE DURASI


DURASI /KECEPATAN.
ALIRAN

Kecil 300 0.16 29 menit


Sedang 650 0.28 50 menit
Besar 3000 1.56 4 jam 41 menit

Perhitungan Lama Pemakaian

(Tek .pada manometer - 200) X konstante


= Menit
Kecepatan AN ran

2. REGULATOR TEKANAN
• Yang menurunkan tekanan dari dalam tangki
• Jarum manometer menunjukan sisa tek. dalam tangki
• Atur flowmeter untuk flowrate (0-15 LPM)

3. HUMIDIFIER
• Untuk kelembaban oksigen

4. ALATPENGISAP
• Untuk menghisap / membersihkan jalan nafas dari
darah, muntahan, lendir
• Dihidupkan dengan listrik, manual, vacum / gas
• Fixed / portable

21
PERHATIAN:

Jangan bekerja tanpa perlengkapan oksigen yang lengkap dan


berfungsi
Jangan melakukan pengisapan > 15 detik.

INGAT : Pergunakan humidifier pada pemberian 0 2 > 30 menit

PERHATIKAN UNTUK KESELAMATAN

a Jangan pergunakan minyak / pelumas pada alat-alat oksigen (silinder,


regulator, fitting, valve, kran)
• Dilarang merokok dan nyalakan api dekat area oksigen
a Jangan simpan oksigen pada > 125° F
a Pergunakan sambungan-sambungan regular/ valve yang tepat
• Tutup rapat-rapat katup / kran bila tak dipakai
• Jaga silinder tidakjatuh
a Pilih posisi yang tepat pada saat menghubungkan katup / kran
a Yakinkan oksigen selalu ada
a Periksa dan pelihara alat-alat yang sedang dalam perbaikan
a Pakailah oksigen dengan benar (USP-United States Pharmacopeia)

22
C : CIRCULATION
( PENGELOLAAN SIRKULASI)

TUJUAN

Mengembalikan fungsi sirkulasi darah.

DIAGNOSA :

Gangguan sirkulasi yang mengancam jiwa terutama bila terjadi henti jantung dan
shock.

• Diagnosis henti jantung ditegakkan dengan tidak adanya denyut nadi karotis
dalam 5 - 1 0 detik.
Henti jantung dapat disebabkan karena kelainan jantung (primer) dan
kelainan jantung di luar jantung (sekunder) yang harus segera dikoreksi.
a Diagnosis shock secara cepat dapat ditegakkan dengan tidak teraba atau
melemahnya nadi radialis/nadi karotis, pasien tampak pucat, perabaan pada
ekstremitas mungkin teraba dingin, basah dan memanjangnya waktu
pengisian kapiler (capilary refill time > 2 detik).

TINDAKAN :

1. Pada henti jantung lakukan pijat jantung luar minimal 100 kali/menit.

2. Pada pasien shock, letakkan pasien dalam "posisi shock" yaitu mengangkat
kedua tungkai lebih tinggi dari jantung.
• Bila pasien shock karena perdarahan, lakukan penghentian sumber
perdarahan yang tampak dari luar dengan melakukan penekanan, di atas
sumber perdarahan kemudian dilakukan pemasangan jalur intra vena (iv
access). Dan pemberian cairan infus kristaloid berupa ringer lactat atau
larutan garam faali (NaCI 0,9 %).
• Pada pasien dewasa pemasangan jalur vena dilakukan dengan pilihan
menggunakan jarum besar ( > 16 G) di daerah lengan atas - ante cubiti
(lokasi lebih proximal). Sebaiknya dipasang 2 jalur intra vena bila terdapat
perdarahan masif.

Catatan :
• Pada pasien-pasien trauma dengan fraktur tulang extremitas, maka
pemasangan jalur intra vena tak dilakukan pada bagian distal trauma
tersebut.

23
a Bagi petugas medis terlatih dan terampil dapat dilakukan pemasangan
jalur intravena pada vena subclavia / vena jugularis untuk itu harus
diketahui komplikasinya.
• Pada pasien anak dengan kesulitan melakukan pemasangan jalur
intravena dapat dilakukan segera pemasangan jalur intraosseus pada
tuberositas tibia.

Catatan : perhatikan arah jarum tak menuju ke sendi lutut.


Cara : lihat lampiran - 8, halaman 77.

• Pada pasien-pasien dengan shock terdapat beberapa hal yang harus


diketahui setelah dilakukan pemasangan jalur intravena yaitu

a. Karakteristik dari jenis-jenis shock.


b. Pada shock hipovolemik terutama karena pedarahan (terdapat
klasifikasi berat-ringannya) dan karena dehidrasi (muntah, diare).

Jenis - Jenis Shock

1. Shock hipovolemik

Penvebab:
a Muntah, diare yang sering (frekuensi).
• Dehidrasi karena berbagai sebab.
• Luka bakar gr ll-lll yang luas.
a Trauma dengan perdarahan.
a Perdarahan masif karena sebab lain.

Diaqnosa :
• Perubahan pada perfusi ekstremitas : dingin, basah dan pucat.
a Takikardia.
• Pada keadaan lanjut.
• Takipneu.
• Penurunan tekanan darah.
• Penurunan produksi urine.
• Tampak pucat, lemah, apatis.

Tindakan :
Pemasangan 2 jalur intravena dengan jarum besar dan diberikan infus cairan
kristaloid (jumlah lebih dari yang hilang).

24
Catalan :
Untuk pendarahan dengan shock kelas lll-IV selain diberikan infus kristaloid
sebaiknya disiapkan tranfusi darah segera setelah sumber perdarahan
dihentikan.
Klasifikasi shock lihat lampiran -11, halaman 81.

2. Shock kardiogenik

Penvebab:
Dapat terjadi pada keadaan-keadaan antara lain :
• Kontusio jantung.
• Tamponade jantung.
• Tension pneumotoraks.

Diaqnosa:
• Hipotensi disertai gangguan irama jantung.
• Mungkin terdapat peninggian tekanan vena jugularis (JVP).
• Lakukan pemeriksaan fisik pendukung pada tamponade jantung (bunyi
jantung menjauh/redup), pada tension pneumotoraks (hipersonor dan
pergeseran trakea).

Tindakan :
• Pemasangan jalur intravena dan pemberian infus kristaloid (hati-hati
dengan jumlah cairan).
• Pada aritmia mungkin diperlukan obat-obat inotropik.
• Perikardiosentesis untuk tamponade jantung dengan monitoring EKG.
• Pemasangan jarum torakostomi pada ICS II untuk mengurangi udara
dalam rongga pleura.

Cara lihat lampiran - 12, halaman 84.

Catatan :
Pada pembagian jenis shock ada pula yang membagi bahwa shock
kardiogenik hanya karena gangguan pada fungsi myokard (misal : karena
kontusio jantung) sedangkan tamponade jantung dan tension pneumotoraks
dikelompokkan dalam shock obstruktif (shock karena obstruksi mekanik).

25
3. Shock Septik

Penyebab:
Karena proses infeksi berlanjut.

Diaqnosa:
a. Fase dini tanda klinis hangat, vasodilatasi.
b. Fase lanjut tanda klinis dingin, vasokontriksi.

Tindakan :
Ditujukan agar tekanan sistolik > 90 - 100 mmHg (Mean Arterial Pressure 60
mmHg).
• Tindakan awal.
Infus cairan kristaloid, pemberian antibiotik, membuang sumber infeksi
(pembedahan).
• Tindakan lanjut.
Penggunaan cairan koioid lebih baik dengan diberikan vasopresor
(Dopamine atau dikombinasi dengan Noradrenalin).

4. Shock anafilaktik

Penyebab:
• Reaksi anafilaktik berat.

Diaqnosa :
• Tanda-tanda shock (penurunan tekanan darah yang tiba-tiba) dengan
riwayat adanya alergi (makanan atau hal-hal lain) atau setelah pemberian
obat-obatan.

Tindakan :
• Resusitasi cairan dan pemberian epinefrin subcutan.

Catatan :

Tak semua kasus hipotensi adalah tanda-tanda shock.


Tetapi denyut nadi abnormal, irama jantung abnormal dan bradikardia
biasanya merupakan tanda hipotensi.

Cara-cara penanganan shock: lihat lampiran 11 halaman 81-82 .

;
• •

26
RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)

TUJUAN
Untuk mengatasi henti nafas dan henti jantung.

PENYEBAB :

• Henti nafas (Respiratory arrest) : henti nafas yang bukan dikarenakan


gangguan pada jalan nafas dapat terjadi karena gangguan pada sirkulasi
(asistole, bradikardia, fibrilasi ventrikel).
• Henti jantung {Cardiac arrest) dapat disebabkan oleh beberapa hal antara
lain:
a. Hipoksemia karena berbagai sebab.
b. Gangguan elektrolit (hipokalemia, hiperkalemia, hipomagnesia).
c. Gangguan irama jantung (aritmia).
d. Penekanan mekanik pada jantung (tamponade jantung, tension
pneumotoraks).

DIAGNOSA :
• Tidak terdapat adanya pernafasan (gunakan cara Look-Listen-Feel).
• Tidak teraba denyut nadi karotis.

Catatan:
Pada pasien yang telah terpasang monitoring EKG dan terdapat gambaran
asistole pada layar monitor, hams selalu dicek denyut nadi karotis untuk
memastikan adanya henti jantung.

TINDAKAN :
*
I. Tanpaalat
• 1 (satu) orang penolong : memberikan pernafasan buatan dan pijat
jantung luar dengan perbandingan 2 : 30 dalam 2 menit ( 5 siklus ).
• 2 (dua) orang penolong : memberikan pernafasan buatan dan pijat jantung
luar yang dilakukan oleh masing-masing penolong secara bergantian
dengan perbandingan sama dengan 1 penolong 2 : 30 dalam 2 menit (7
- 8 ) siklus .

II. Dengan alat


Untuk mencapai hasil RJP yang lebih baik, hams segera diusahakan
pemasangan intubasi endotracheal.

Cara: RJP pada dewasa, anak dan bayi


lihat lampiran - 5 , halaman 61 - 68.

27
D : DRUG MANAGEMENT

( PENGGUNAAN OBAT)

TUJUAN
Memberikan obat-obatan terutama untuk mengembalikan fungsi sirkulasi pada
saat resusitasi dilakukan.

Obat-obatan ini harus diberikan melalui jalur intravena, kecuali adrenalin, atropin
dan lidokain dapat juga diberikan intratracheal atau transtracheal dengan dosis 2
- 2,5 x dosis intra vena.

JENIS OBAT:

a. Obat-obatan untuk resusitasi jantung paru

Epinephrin
• Dosis 1 mg i.v. dapat diberikan / diulang setiap 3 - 5 menit.
Dapat diberikan intra-trakheal atau trans-trakheal dengan dosis 3 - 10 x
dosis intra venous.
• Pemberian ini dimaksudkan merangsang reseptor adrenergik dan
meningkatkan aliran darah ke otak dan jantung.
• Indikasi : pada asistole, P.E.A. (Pulseless Electrical Activity, fibrilasi
ventrikel dan pulseless ventrikel takikardia.

Lidocaine (lignocaine, xylocaine)


• Dosis 1 - 1 , 5 mg/kg.BB bolus i.v. dapat diulang dalam 3-5 menit sampai
dosis total 3 mg/kg.BB dalam 1 jam pertama.
• Pemberian ini dimaksudkan untuk mengatasi gangguan irama antara lain
VF/VT (Ventrikel Fibrilasi/Ventrikel Takikardi), PVC yang multipel,
multifocal, salvo R on T.

Atropin
• Dosis 1 mg IV dapat diulang dalam 3-5 menit sampai dosis total 0,3 - 0,4
mg/kg BB.
• Digunakan untuk bradikardi (denyut nadi < 60 x/menit) dan asistole yang
dimaksudkan untuk menurunkan tonus vagal dan memperbaiki sistim
konduksi atrioventrikular.

28
b. Obat-obatan untuk perbaikan sirkulasi

Cara pemberian biasanya dilakukan melalui cara titrasi pada jalur intra vena.

Dopamine
• Dosis 5 - 10 ug (dosis inotropik) untuk merangsang efek alfa dan beta
adrenergik agar kontraktilitas miokard, curah jantung (cardiac output) dan
tekanan darah meningkat.
Dosis 10 - 15 ug (efek vasopresor).

Dobutamine
• Dosis 2 - 1 0 ug/kg.BB ( Maksimal 20 ug/kg.BB/menit).

Metaraminol (aramine)
• Dosis : 0,4 mg/ml (100 mg/250 ml) digunakan untuk memperbaiki
sirkulasi.

Noradrenalin (levoped)
• Dosis : titrasi 25 -400 nano/kg/ menit digunakan untuk memperbaiki
sirkulasi karena berefek simpatomimetik.

c. Lain-lain

Morphin
• Dosis 2-5 mg dapat diulang 5 - 3 0 menit digunakan sebagai analgetik
kuat, baik digunakan untuk edema paru setelah cardiac arrest.

Kortikosteroid
• Digunakan untuk perbaikan paru yang disebabkan gangguan inhalasi dan
untuk mengurangi edema cerebri.

Natrium Bicarbonat
• Dosis 1 m Eq/kg.BB dapat diulang dengan dosis setengahnya.
• Diberikan pada dugaan hiperkalemia dengan henti jantung lama.

Kalsium Giuconat
• Dosis 4-8 mg/kg.BB, Kalsium Klorida 2 - 4 mg/kg.BB.
• Cara pemberian hams dilakukan perlahan-lahan.
• Penggunaan ditujukan untuk perbaikan kontraksi otot jantung.

29
Nitropruside (Niprid)
• Dosis 0,1 ug/kg.BB/menit dengan cara titrasi sampai efek yang
dikehendaki.
• Merupakan vasodilator perifer, untuk kasus-kasus hipertensi (hati-hati bila
dosis > 3 ug/kg.BB/menit, karena risiko adanya intoksikasi).

Nitroglycerin (NTG)
• Dosis awal 1 0 - 2 0 ug/menit dengan cara titrasi, diianjutkan 1 0 - 2 0
ug/menit merupakan vasodilator terutama untuk mengatasi angina
pektoris.

Diuretik (furosemide)
• Dosis 20 - 40 mg intra vena.
• Digunakan untuk mengurangi edema paru dan edema otak.
• Efek samping yang dapat terjadi karena diuresis berkelebihan adalah
hipotensi dan dehidrasi.
• Efek samping yang dapat terjadi karena diuresi berlebih adalah hipotensi,
dehidrasi dan hypokalemia.

PADA ANAK-ANAK
Obat-obatan pada anak-anak harus memperhatikan dosis.

Epinephrin
• Dosis 0,01 mg/kg.BB dapat diulang 3-5 menit dengan dosis 0,01
mg/kg.BB I.V (1:1000).

Atropin
• Dosis 0,02 mg/kg.BB I.V. (minimal 0,1 mg) dapat diulang dengan dosis 2
kali tetapi maksimal 1 mg.

Lidocaine (lignocaine, xylocaine)


• Dosis 1 mg/kg.BB I.V.

Natrium Bicarbonat
• Dosis 1 m eq/kg.BB I.V.

Kalsium Klorida
• Dosis 20-25 mg/kg.BB I.V pelan-pelan.

Kalsium Gluconat
• Dosis 60-100 mg/kg.BB I.V pelan-pelan.

30
TERAPI CAIRAN

Pada saat resusitasi sering diperlukan terapi cairan. Pemilihan jenis cairan dapat
dilakukan bila diketahui isi cairan yang digunakan.

Untuk kasus-kasus gawat darurat dapat dipilih :

1. Cairan kristaloid (Ringer Laktat, NaCI 0,9%)


• Cairan ini baik untuk tujuan mengganti kehilangan volume terutama
kehilangan cairan intertitial.
• Harganya murah, tak memberikan reaksi anafilaktik tetapi tidak dapat
bertahan lama di intravaskular.
• Pemberian berlebih dapat menyebabkan edema paru dan edema perifer.

2. Cairan koloid (darah, albumin, fresh frozen plasma, dextran, HES, Hemacel,
dll).
• Cairan ini baik untuk mengganti volume intravaskuler.
• Harganya mahal, dapat menyebabkan reaksi anafilaktik mempunyai
molekul besar dan menimbulkan tekanan onkotik.
• Pemberian berlebih juga dapat menyebabkan edema paru tetapi tak akan
menyebabkan edema perifer.

31
D : DEHBRILATION

(PENGGUNAAN DEFIBRILATOR)

TUJUAN

Menghentikan fibrilasi ventrikel (VF = Ventricular Fibrilation) atau takikardia


ventrikel (VT = Ventricular Tachycardia) tanpa adanya denyut nadi.

1NDIKASI

Defibrilasi unsynchronized cardioversion.


1. Fibrilasi ventrikel.
2. Takikardia ventrikel tanpa denyut (Pulseless Ventricular Tachycardia).

Defibrilator dapat pula digunakan untuk kardioversi (synchronized


cardioversion)
1. Pada takikardia ventrikular yang stabil.
2. Pada takikardia supraventrikular tidak stabil dan sulit dikelola dengan obat-
obatan.

CARA :

• Digunakan DC shock unsynchronized, single shock 360 joule.


• Bila tetap VF/VT, defibrilasi 360 joule dilakukan berulang bergantian dengan
pijat jantung
• Epinephrine 1 mg dimasukkan setiap 3 - 5 menit
• Lidocaine atau amiodarone dapat diberikan apabila setelah pemberian 3
shock dan irama tetap VT / VF

What :algoritma lihat lampiran - 17, halaman 109 dan lampiran halaman 174.

Komplikasi penggunaan defibrilator


• Luka bakar bila jelly (pelumas) yang digunakan tidak cukup atau kontak yang
kurang baik antara paddle dengan dinding dada.
• Shock listrik (Shock electric).
Terjadinya sengatan listrik oleh karena kebocoran arus listrik.

Catatan :
• Untuk mengetahui jenis-jenis kelainan irama jantung hams diketahui dari
monitor EKG.

32
D : DISABILITY
( EVALUASI NEUROLOGIK)

TUJUAN
Menilai adanya gangguan fungsi otak dan kesadaran (penurunan suplai oksigen
ke otak).

DIAGNOSA :

Secara cepat pada saat awal dapat digunakan penilaian yang sederhana.

• Menggunakan metoda AVPU

Alert,
Verbal stimulation,
Pain stimulation,
Unresponsive

dan penilaian ukuran serta reaksi pupil.

• Penilaian lebih lanjut digunakan metode Penilaian Derajat Skala Koma


Glasgow GCS (GCS = Glasgow Coma Scale - Score).

E - Score (kemampuan membuka mata / eye opening responses)

Nilai 4 : membuka mata spontan (normal).


3 : dengan kata-kata akan membuka mata bila diminta.
2 : membuka mata bila diberikan rangsangan nyeri.
1 : tak membuka mata walaupun dirangsang.

V- Score (memberikan respon jawaban secara verbal/verbal responses)

Nilai 5 : memiliki orientasi baik karena dapat memberi jawaban dengan


baik dan benar pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
(nama, umur, dll).
4 : memberikan jawaban pada pertanyaan tetapi jawabannya seperti
bingung (confused conversation).
3 : memberikan jawaban pada pertanyaan tetapi jawaban hanya
berupa kata-kata yang tak jelas (inappropriate words).
2 : memberikan jawaban berupa suara yang tak jelas bukan
merupakan kata (incomprehensible sounds).
1 : tak memberikan jawaban berupa suara apapun.

--/
33
M - Score (menilai respon motorik ekstremitas/motor responses)

6 : dapat menggerakkan seluruh ekstremitas sesuai dengan


permintaan.
5 : dapat menggerakkan ekstremitas secara terbatas karena nyeri
(localized pain).
4 : respon gerakan menjauhi rangsang nyeri (withdrawal).
3 : respons gerak abnormal berupa fleksi ekstremitas.
2 : respons berupa gerak ekstensi.
1 : tak ada respons berupa gerak.

TINDAKAN :

• Pada dasarnya ditujukan pada optimalisasi aliran darah sistemik dan aliran
darah otak (perfusi otak) dengan cara mencegah hipotensi, hipoksia dan
mencegah kenaikan tekanan intrakranial.
• Bila disebabkan oleh hipertermia, diberikan obat anti piretik dan pendinginan
(cooling).
• Bila disebabkan oleh hipertensi ensefalopati (sistole > 200 mmHg) diberikan
obat antihipertensi.

34
D : DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
( DIAGNOSA BANDING )

TUJUAN

Mencari kemungkinan penyebab henti jantung antara lain : hipovolemia,


hipoksia, tamponade jantung, tension pneumotoraks, hipotermia, hiperkalemia,
emboli paru, overdosis obat-obatan, asidosis dan infark miocard akut.

DIAGNOSA :

Diagnosa banding obstruksi jalan nafas


• Trauma dengan koma (perhatikan lidah akan jatuh ke belakang).
• Anafilaksis (karena edema pada jalan nafas).
• Iritasi jalan nafas.

Diagnosa banding pada henti nafas


• Depresi pusat pernafasan.
• Kegagalan syaraf eferen.
• Kegagalan gerak otot pernafasan.
• Kegagalan pengembangan paru.

Diagnosa banding gangguan sirkulasi


• Kelainan jantung primer.
• Penurunan kontraktilitas jantung.
• Gangguan otomat dan konduktor miokard.
• Gangguan mekanik pada jantung.

TINDAKAN :
• Pada hipovolemia : pemberian cairan infus NaCI 0,9% atau Ringer Lactat.
• Pada hipoksia : diberikan nafas buatan dan oksigen 100%.
• Pada tamponade jantung : dilakukan perikardiosentesis.
• Pada tension pneumotoraks : dilakukan torakosentesis.
• Pada hipotermia : dilakukan penghangatan tubuh.
• Pada hiperkalemia : diberikan Ca gluconas.
• Pada overdosis obat, bila ada antidotumnya dapat diberikan antidote-nya.
• Pada asidosis diberikan Na bikarbonat.

35
••
E : ELEKTROKARDIOGRAFI (EKG )

TUJUAN

Pada pertolongan penderita gawat darurat membaca EKG untuk mengenali dan
mengatasi aritmia yang mengancam jiwa.

DIAGNOSA :

• Mengetahui gambaran EKG normal


Membaca EKG harus dimulai dengan :
1. Gambaran EKG tersebut laik dibaca/tidak.
2. Tentukan frekuensi jantung.
3. Tentukan ada/tidaknya gelombang P.
4. Tentukan interval PR.
5. Tentukan komplek QRS.
6. Aksis.
7. Lihat kelainan yang ada, misalnya :
- tanda-tanda hipertrofi.
- tanda-tanda infark miokard.

Cara merekam dan membaca EKG : lihat lampiran - 16, halaman 100.

• Mengetahui gambaran EKG yang dapat mengancam jiwa yang dapat


disebabkan oleh :

1. Adanya gangguan pembentukan impuls pada SA Node, Atrium, AV Node,


Ventrikel.
2. Adanya gangguan sistim konduksi pada SA Node, AV Block, Bundle
Branch Block.
3. Adanya gangguan keseimbangan elektrolit
Hipo/hiperkalemia
Hipomagnesia
Hipo/hipercalcemia
4. Adanya pengaruh obat-obatan (digitalis, antiaritmia).

Contoh-contoh kelainan lihat gambar lampiran - 16 halaman 105.

36
*-
TINDAKAN :

Pada PVC multiple, multifocal, salvo R on T diberikan Lidocaine.


Pada VF/VT tanpa nadi dilakukan DC shock unsynchronized, RJPO.
Pada SVT dengan hemodinamik stabil baik diberikan obat (verapamil, Beta
blocker, digitalis, adenosin).
Pada SVT tidak stabil diberikan Cardioversion (DC shock Synchronized)
Pada asistol diberikan adrenalin, pijat jantung nafas buatan
Pada bradikardi dan AV blok diberikan atropin, pacu jantung.

37
Lampiran 1

PENGELOLAAN JALAN NAPAS

TANPA ALAT

1. Membuka jalan napas : Head Tilt


Chin Lift
Jaw Thrust
HEAD TILT

Dilakukan bila jalan napas tertutup oleh lidah pasien.

Cara ; Letakkan 1 telapak tangan di dahi pasien dan tekan ke


bawah, sehingga kepala menjadi tengadah dan penyangga
lidah tegang akhirnya lidah terangkat ke depan.

Perhatian :
Cara ini sebaiknya tidak dilakukan pada dugaan adanya patah
tulang leher.

Tidak sadar : posisi kepala f leksi

Head Tilt

38

*
CHIN LIFT

Dilakukan dengan maksud mengangkat otot pangkal lidah ke depan.

Cara ; Gunakan jari tengah dan jari telunjuk untuk memegang tulang
dagu pasien, kemudian angkat dan dorong tulangnya ke
depan.

2-3 Jari tangan menahan tulang mandibula

Chin L i f t

39
JAW THRUST

Walaupun head tilt dan chin lift sudah dilakukan seringkali jalan napas
belum terbuka sempurna, maka teknik/'aw thrust ini hams dilakukan.

Cara : Dorong sudut rahang kiri dan kanan ke arah depan sehingga
barisan gigi bawah berada di depan barisan gigi atas. Atau
gunakan ibu jari ke dalam mulut dan bersama dengan jari-jari
lain tarik dagu ke depan.

Catatan :
Pada dugaan patah tulang leher yang dilakukan adalah modifikasi jaw
thrust dan fiksasi leher (agar tak ada gerak berlebih).

40
2. Menqatasi sumbatan parsial napas (Heimlich Manouvre)

2.1 Abdominal thrust


Untuk penderita sadar dengan sumbatan jalan napas parsial boleh
dilakukan tindakan Abdominal thrust (pada pasien dewasa).

Bantu / tahan penderita tetap berdiri atau condong ke depan


dengan merangkul dari belakang.

a. Lakukan hentakan mendadak dan keras pada titik silang garis


antar belikat dan garis punggung tulang belakang (Back
Blows).

*
Tersedak Tersedak Back blow Back blow

b. Rangkul korban dari belakang dengan ke dua lengan dengan


mempergunakan kepalan ke dua tangan, hentakan mendadak
pada ulu hati (abdominal thrust).
Ulangi hingga jalan napas bebas atau hentikan bila korban jatuh
tidak sadar, ulangi tindakan tersebut pada penderita terlentang.
c. Segera panggil bantuan.

w
n
Heimlich AAanouvre-Abdominal Thrust pada posisi berdiri

41
i
Penderita tidak sadar:

1. Tidurkan penderita terlentang.


2. Lakukan back blow dan chest thrust.
3. Tarik lidah dan dorong rahang bawah untuk melihat benda
asing
a. Bila terlihat, ambil dengan jari-jari.
b. Bila tak terlihat, jangan coba-coba dikait dengan jari.
4. Usahakan memberikan napas (menghembuskan udara).
5. Bila jalan napas tetap tersumbat, ulangi langkah tersebut di
atas.
6. Segera panggil bantuan setelah pertolongan pertama dilakukan
selama 1 menit.

Back blow pada korban tidak sadar

Heimlich Manouvre- Abdominal Trust pada korban tidak sadar

42
2.2. Back blow (untuk bayi)

Penderita sadar:
1. Bila penderita dapat batuk keras, observasi ketat.
2. Bila napas tidak efektif/berhenti.
Lakukan Back blow 5 kali (hentakan keras mendadak pada
punggung korban di titik silang garis antar belikat dengan tulang
punggung/vertebra).

Lima kali hentakan pada punggung


Dua jari tangan membuka mulut bayi

43
3. Membersihkan jalan napas dengan sapuan jari (finger sweep)

Pada sumbatan jalan napas di rongga mulut belakang/hipofaring oleh


adanya benda asing (gumpalan darah, muntahan, benda asing
lainnya) dan tak terdapat hembusan udara pernapasan maka lakukan
teknik sapuan jari.

Cara : Miringkan kepala pasien, buka mulutnya dengan jaw thrust dan
tekan dagu ke bawah bila otot rahang lemas (emarasi
manouvre). Gunakan 2 jari kita yang bersih (bungkus dengan
kassa/kain/sarung tangan) untuk mengorek/mengait/menyapu
semua benda asing dalam mulut dan keluarkan. Setelah bersih
pasang pipa orofaring.

Finger Sweep jangan dilakukan pada dugaan trauma leher

45
Lampiran 2

II. DENGAN ALAT

1. Membuka jalan napas dengan menggunakan jalan napas buatan

a) Pipa orofaring
1. Buka mulut pasien (chin lift atau gunakan ibu jari & telunjuk).
2. Siapkan pipa orofaring yang tepat ukurannya.
• Bersinkan dan basahi agar licin.
• Arahkan lengkungan menghadap ke langit-langit (ke palatal).
• Masuk separo, putar lengkungan mengarah ke bawah lidah.
• Dorong pelan-pelan sampai posisi tepat.
3. Yakinkan lidah sudah tertopang pipa orofaring. Lalu, lihat,
dengar, dan raba napasnya.

Perhcttikan cara memasukkan orof aringeai tube ke dalam mulut

46
.
b) Penggunaan pipa nasofaring

1. Nilai lubang hidung, septum nasi, ukuran.


2. Pakai sarung tangan.
3. Beri jelly pada pipa dan kalau perlu tetesi lubang hidung dengan
vasokonstriktor.
4. Hati-hati dengan kelengkungan tube yang menghadap ke arah
depan, ujungnya diarahkan ke arah telinga.
5. Dorong pelan-pelan hingga seluruhnya masuk, lalu pasang
plester (kalau perlu).

Perhatikan arah irisan lubang nasofaringeal tube, dan perhatikan arah masuk
tube tersebut

47
.
c) Penggunaan pipa endotrakheal untuk intubasi endotrakheal

Peralatan :

1. Pipa oro/nasofaring.
2. Suction/a\at pengisap.
3. Kanula dan masker oksigen.
4. Ambu bag.
5. Pipa endotrakheal dan stylet.
6. Pelumas (jelly).
7. Forcep magill.
8. Laringoscope (handle dan blade, selalu periksa baterai)
9. Obat-obatan sedatif i.v.
lO.Sarung tangan.
11. Plester dan gunting.
12.Bantal kecil tebal 10 cm (bila tersedia)

Perlengkapan untuk tindakan intubasi

48
TINDAKAN :

a. Intubasi orotrakheal
1. Sebelum intubasi berikan oksigen, sebaiknya gunakan bantal
dan pastikan jalan napas terbuka (hati-hati pada cedera leher).
2. Siapkan endotracheal tube (ETT), periksa balon {cuff), siapkan
stylet, beri pelumas (Jelly).
3. Siapkan laringoskop (pasang blade pada handle), lampu harus
menyala terang.
4. Pasang laringoskop dengan tangan kiri, masukkan ujung blade
ke sisi kanan mulut pasien, geser lidah pasien ke kiri.
5. Tekan tulang rawan krikoid (untuk mencegah aspirasi).
6. Lakukan traksi sesuai sumbu panjang laringoskop (hati-hati
cedera gigi, gusi, bibir).
7. Lihat adanya pita suara. Bila perlu isap lendir/cairan lebih
dahulu.
8. Keluarkan stylet dan laringoskop secara hati-hati.
9. Kembangkan balon (cuff) ETT.
10. Pasang pipa orofaring (mayo/guedel tube).
11. Periksa posisi ETT apakah masuk dengan benar (auskultasi
suara pernapasan atau udara yang ditiupkan). Hubungkan
dengan pipa oksigen.
12.Amankan posisi (fiksasi) ETT dengan plester.

49
Urutan tindakan saat melakukan intubasi orotrakheal
' • • : •

•••••.

50