Anda di halaman 1dari 15

Fisiologi Sel

Laporan Praktikum
Fisiologi Hewan
Disusun untuk memenuhi tugas praktikum mata kuliah Phanerogamae
yang diampu oleh :
Dra. Soesy Asiah Soesilawaty, M.S.
Dr. Saefudin, M.Si.

Disusun oleh:
Kelompok 1B 2016
Aldi Maulana Azis 1605737
Ayu Siti Latifah 1600747
Mita Juwita 1601922
Rina sumarni 1603887
Triara Noerhandayani 1604092

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2018
A. Judul
Fisiologi Sel
B. Tujuan
1. Mempelajari transpor aktif pada Tubulus uriniferus pada ginjal katak.
2. Membuktikan adanya enzim Katalase di dalam sel hewan khususnya sel
hati.
3. Mempelajari adanya proses oksidasi dalam masa respirasi.
C. Waktu dan Tempat
Hari, tanggal : Senin, 10 dan 17 September 2018
Waktu : 07.00 s.d. 09.30 WIB
Tempat : Laboratorium Struktur Tumbuhan FPMIPA A UPI.
D. Landasan Teori
Fisiologi sel adalah bidang biologi yang berfokus pada mempelajari
fungsi sel, dan bagaimana sel berinteraksi satu sama lain dan dengan organisme
yang lebih besar yang mereka huni. Kata sel berasal dari bahasa Latin yaitu cella
berarti ruang kecil, sel ditemukan oleh Robert Hooks. Berikut merupakan
beberapa teori yang di kemukakan para ahli mengenai sel :
1. Gregor Mendel (1822) mengemukakan bahwa sel merupakan satuan
hereditas makhluk hidup.
2. Mathias Schneider dan Theodor Schwann (1830), mengemukakan
bahwa sel merupakan satuan struktural makhluk hidup
3. Robert Brown (1831) menemukan benda kecil yang melayang di
protoplasma (Nukleus) yang berfungsi mengatur aktivitas didalam sel.
4. Rudolf Virchow (1858) mengemukakan bahwa sel merupakan satuan
reproduksi makhluk hidup
5. Max Schultze, Huxley, dan Hertwig (1874) mengemukakan bahwa sel
merupakan satuan fungsional makhluk hidup.
Sel sebagai satuan struktural dan fungsional dari suatu makhluk hidup
tersusun atas membran plasma, sitoplasma, nukleus, dan organel – organel sel.
Pada sel terjadi aktivitas metabolisme yang dapat menghasilkan energi bagi
kehidupan dan sintesis yaitu pembentukan berbagai materi pembangun tubuh
dan untuk mengatur aktivitas tubuh.
Semua sel menggunakan oksigen sebagai salah satu zat utama untuk
membentuk energi, oksigen akan bergabung dengan karbohidrat, lemak atau
protein untuk mengeluarkan energi yang diperlukan untuk fungsi sel.
Sel dapat hidup dan tumbuh disebabkan adanya nutrien yang tersedia dari
cairan – cairan di sekitarnya. Zat – zat tersebut dapat melalui membran sel
melalui tiga cara difusi/osmosis, transfor aktif dan endositosis. Didalam sel juga
ada mekanisme untuk menguraikan racun (H2O2) menjadi H2O yang dapat larut
dalam tubuh. Selain itu sel juga melakukan respirasi untuk menghasilkan energi.
Pada praktikum kali ini akan dilakukan percobaan terkait transfor aktif,
aktivitas enzim katalase, dan proses oksidasi dan proses respirasi.
a. Transfor aktif
Transpor aktif adalah pergerakan atau pemindahan yang
menggunakan energi untuk mengeluarkan dan memasukkan ion-ion
dan molekul melalui membran sel yang bersifat permeabel dengan
tujuan memelihara keseimbangan molekul kecil di dalam sel.
Transpor aktif adalah jenis transpor membran sel yang
membutuhkan energi dalam melakukan aktivitasnya. Energi yang
digunakan di dalam transpor aktif sel adalah ATP atau adenosin
trifosfat.
Sifat utama transpor aktif adalah melawan gradien
konsentrasi. Artinya, pada transpor aktif akan terjadi pemompaan
yang memaksa zat untuk melewati membran dengan melawan gradien
konsentrasinya. Transpor aktif ada dua macam yaitu endositosis dan
ektositosis
b. Aktivitas enzim katalase.
Di dalam sel terdapat badan mikro salah satunya adalah
peroksisom, peroksisom merupakan badan mikro yang mengandung
enzim katalase dan oksidase, yang berfungsi sebagai katalisator untuk
menguraikan hidrogen peroksida yang bersifat racun menjadi air dan
oksigen. Untuk mengubah lemak menjadi karbohidrat, untuk
mengubah purin dan untuk foto respirasi.
c. Proses oksidasi dan respirasi sel
Respirasi selular adalah proses yang digunakan sel untuk
memecah makanan untuk digunakan sebagai energi. Respirasi selular
aerobik menggunakan oksigen dan menghasilkan lebih banyak
molekul ATP dari respirasi sel anaerob, yang tidak menggunakan
oksigen, dan hanya menghasilkan 2 molekul ATP.
Ada tiga tahap dalam proses transformasi glukosa menjadi
ATP: glikolisis, siklus asam sitrat, dan rantai transpor elektron.
Sebagian besar proses berlangsung di pembangkit tenaga listrik sel,
mitokondria. Hasil akhir dari respirasi selular aerobik maksimal 38
molekul ATP, energi yang dibutuhkan oleh sel untuk melakukan
fungsi yang diperlukan yang memungkinkan kita untuk hidup.

E. Alat dan Bahan


Tabel E1. Alat praktikum transpor aktif.
Jumlah
No Alat

1. Petridish 3 buah

2. Pisau bedah 1 buah

3. Mikroskop 1 buah

4. Pipet tetes 3 buah

5. Kamera HP 1 buah

6. Baik bedah 1 buah

7. Jarum 5 buah
Tabel E2. Bahan praktikum transpor aktif
No Bahan Jumlah

1. Ginjal katak 1 buah

2. Larutan Ringer's 5 ml

3. Larutan Glukosa 0.2 % 5 ml

4. Larutan Phenol red 0,03% 5 ml

5. Es batu 20 cm

Tabel E3. Alat raktikum aktivitas enzim katalase


No Alat Jumlah

1. Tabung reaksi 2 buah

2. Lumpang porselen 1 buah

3. Pipet tetes 2 buah

4. Kertas saring 2 buah

Tabel E4. Bahan praktikum aktivitas enzim katalase


No Bahan Jumlah

1. Hati ayam 1 ml

2. Hati katak 1 ml

3. Hidrogen peroksida 1 ml

4. Aquades -

Tabel E5. Alat praktikum proses oksidasi dan proses respirasi sel
No Alat Jumlah

1. Tabung reaksi 4 buah

2. Pemanas air 1 buah

3. Thermometer 1 bauh
4. Pipet tetes 2 buah

5. Rak tabung reaksi 1 bauh

Tabel E6. Bahan praktikum proses oksidasi dan respirasi sel


No Bahan Jumlah

1. Larutan Gist 1 ml

2. Metilen blue 1 ml

3. Larutan glukosa 10% 1 ml

F. Langkah Kerja
Diagram 1. Langkah Kerja Transport Aktif

•alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum dipersiapkan


1.

•dua buah cawan Petri masing-masing diisi dengan larutan Ringer's


sebanyak 5 ml
•satu buah cawan Petri diisi dengan larutan glukosa 0,2% sebanyak 5 ml
2. •satu buah cawan Petri diisi dengan larutan fenol red 0,003% sebanyak 5
ml

•ginjal katak yang baru dibedah diambil dan diletakkan ke dalam cawan
3. Petri yang berisi larutan Ringer's

•tubulus uriniferus ginjal katak dilepaskan dan dimasukan kedalam media


yang tadi telah disiapkan
4. •langkah ini harus dilakukan dengan cepat agar pembuluh uriniferusnya
masih hidup

•pergerakan zat warna fenol red yang dihisap jaringan tubulus uriniferus
5. diamati dengan mikroskop

•dua cawan Petri berisi larutan fenol red diberi perlakuan suhu rendah dan
tinggi dengan ditetesi air es atau air hangat
6. •kemudian dibandingkan kecepatan pergerakan zatnya
Diagram 2. Langkah Kerja Aktivitas Enzim Katalase

Diberi label A dan Ditimbang hati katak Ditumbuk hati katak


B pada tabung dan hati ayam dan hati ayam secara
reaksi hingga sama banyak terpisah

Diteteskan 10 tetes Di saring di kertas


aquades pada tabung saring hingga menjadi Ditambahkan
reaksi A dan B ekstrak aquades sampai 8ml

Di teteskan ekstrak Diteteskan ekstrak hati Di amati banyaknya


hati ayam pada tabung katak dengan jumlah gelembung yang
reaksi A hingga yang sama pada tabung muncul pada tabung
timbul gelembung reaksi B reaksi A dan B
udara

Diagram 3. Langkah Kerja Oksidasi dan Respirasi sel


Mengambil larutan
Mengambil larutan gist gist yang masih
Menyiapkan 4
yang sudah dididihkan, dingin tanpa
tabung reaksi dan
masukkan masing- dipanaskan,
memberi tanda A, B,
masing 1 ml pada masukkan masing-
C dan D
tabung A dan B masing 1 ml pada
tabung C dan D

Menambahkan ke
Tabung B dan D Semua tabung
dalam setiap tabung 1
dibiarkan terbuka diencerkan dengan
ml larutan glukosa
sedangkan tabung A akuades sebanyak 5
dan methylen blue
dan C tertutup ml. Sumbat dengan
secukupnya sampai
dengan alumunium ibu jari dan kocok ke
warna biru sama
foil 4 tabung tersebut
setiap tabungnya

Semua tabung
Melakukan pengamatan
reaksi dimasukkan Mencatat dan
mengenai perubahan
kedalam penangas mendokumentasikan
warna setiap 10 menit
air dengan suhu hasil pengamatan
sekali
40°C
G. Hasil Pengamatan
Tabel G1. Hasil Pengamatan Praktikum Transport Aktif
No Perlakuan Gambar Pengamatan

Sebelum ditetesi fenol red (suhu


1.
normal/ruangan)

Gambar 1.Tubulus uriniferus


sebelum ditetesi fenol red (suhu
normal/ruangan)
(Dok. Kelompok 5, 2018)

Sesudah ditetesi fenol red (suhu


2.
normal/ruangan)

Gambar 2. Tubulus uriniferus


setelah ditetesi fenol red (suhu
normal/ruangan)
(Dok. Kelompok 5, 2018)

3. Sebelum ditetesi fenol red (suhu dingin)

Gambar 3. Tubulus uriniferus


sebelum ditetesi fenol red (suhu
dingin)
(Dok. Kelompok 5, 2018)
No Perlakuan Gambar Pengamatan

4. Sesudah ditetesi fenol red (suhu dingn)

Gambar 4. Tubulus uriniferus


setelah ditetesi fenol red (suhu
dingin)
(Dok. Kelompok 5, 2018)

Tabel G2. Hasil Pengamatan Praktikum Aktivitas Enzim Katalase


Jumlah
Keadaan gelembung yang
Hewan tetesan Foto hasil pengamatan
dihasilkan
ekstrak

Gelembung yang dihasilkan sudah


1 tetes 2,5 cm dengan ukuran yang besar
dan renggang

Gambar 5. Hasil Praktikum


Enzim katalase
(Dok. Kelompok 5, 2018)

Ayam

Gelembung yang dihasilakan


2 tetes mencapai 4 cm dengan ukuran
sedang dan agak rapat
Gambar 6. Hasil Praktikum
Enzim katalase
(Dok. Kelompok 5, 2018)
Jumlah
Keadaan gelembung yang
Hewan tetesan Foto hasil pengamatan
dihasilkan
ekstrak

Gelembung yang dihasilkan


3 tetes mencapai 5 cm dengan ukuran
kecil dan rapat

Gambar 7. Hasil Praktikum


Enzim katalase
(Dok. Kelompok 5, 2018)

Gelembung yang dihasilkan sudah


1 tetes mencapai 2,5 cm dengan ukuran
sedang dan rapat

Gambar 8. Hasil Praktikum


Enzim katalase
(Dok. Kelompok 5, 2018)

Gelembung yang dihasilkan 4 cm


Katak 2 tetes dengan ukuran lebih besar dari
pertama dan lebih renggang

Gambar 9. Hasil Praktikum


Enzim katalase
(Dok. Kelompok 5, 2018)

Gelembung yang dihasilkan 6 cm


3 tetes dengan ukuran yang lebih besar
dan lebih renggang

Gambar 10. Hasil Praktikum


Enzim katalase
(Dok. Kelompok 5, 2018)
Tabel G3. Hasil Pengamatan Praktikum Oksidasi dan Respirasi Sel
Selang Perubahan yang terjadi
waktu Gambar hasil pengamatan
Tabung A Tabung B Tabung C Tabung D
tiap 10’

Warna Warna
Warna Warna Biru Biru
10’ (1) Biru Biru (++++) (++++)
(+++++) (+++++) Gelmbung Gelmbung
(++) (+)
Gambar 11. Perubahan Warna
(Dok. Kelompok 5, 2018)

Warna Warna
Warna Warna
Biru (+++) Biru (+++)
10’ (2) Biru Biru
Gelmbung Gelmbung
(+++++) (+++++)
(+++) (+)

Gambar 12. Perubahan Warna


(Dok. Kelompok 5, 2018)

Warna Warna
Warna Warna
Biru (++) Biru (++)
10’ (3) Biru Biru
Gelmbung Gelmbung
(+++++) (+++++)
(+++) (++)
Gambar 13. Perubahan Warna
(Dok. Kelompok 5, 2018)

Warna Warna
Warna Warna
Biru (-) Biru (+)
10’ (4) Biru Biru
Gelmbung Gelmbung
(+++++) (+++++)
(+++) (++)
Gambar 14. Perubahan Warna
(Dok. Kelompok 5, 2018)
H. Pembahasan
1. Praktikum Transpor Aktif
Dari hasil percobaan yang dilakukan dapat diketahui bahwa penyerapan
fenol red sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, salah satu diantaranya
adalah suhu. Pada saat percobaan, cawan Petri I yang disimpan diatas es,
tubulus uriniferus melakukan transport aktif dengan kecepatan relatif lebih
lamban dibandingkan dengan cawan Petri II dengan suhu normal/ruangan.
Hal ini dipengaruhi oleh protein carrier yang merupakan salah satu faktor
dalam proses transpor aktif peka terhadap suhu.
Sementara itu pada teori disebutkan, baik pada suhu rendah atau tinggi
seharusnya tidak akan mempercepat proses transpor aktif, karena saat suhu
rendah maka protein akan inaktif, sebaliknya bila suhu terlalu tinggi maka
protein akan denaturasi. Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi
transpor aktif yaitu:
a. Suhu; transpor aktif terjadi pada suhu normal
b. Energi; proses transportasi memerluka ATP untuk melawan gradien
gerakan molekul dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi
c. Fasilitator; molekul air dan ion mengangkut molekul dari membran
plasma bagian luar ke dalam, kemudian dilepaskan ke sitoplasma
Kami melakukan beberapa kali percobaan, namun pada percobaan
terakhir larutan tidak berdifusi ke dalam rongga tubulus seminiferus. terlihat
hal ini dapat disebabkan oleh sel yang sudah lama dibiarkan di luar jaringan
tubuh katak, sehingga sel lama kelamaan tidak bekerja lagi atau mati.
Protein carrier yang membantu dalam proses transpor aktif pun sudah tidak
berfungsi lagi dan ATP pun sudah tidak dihasilkan lagi oleh sel, sehingga
mekanisme transpor aktif pun tidak dapat terjadi.
2. Aktivitas Enzim Katalase
Dalam sel hewan terdapat enzim katalase khusunya pada organ hati,
enzim kataase ini berfungsi untuk enguraikan H2O2 menjadi H2O (air)
dan O2 (oksigen). Hal tersebut dapat dibuktikan dengan praktikum
aktivitas enzim katalase yang telah dilakukan, dimana setelah H2O2
ditetesi ektrak hati maka akan timbul gelembung yang menandakan
H2O2 diuraikan menjadi oksigen. H2O2 dihasilkan tubuh sebagai
produk sampingan dari metabolisme aerob misanya pada pemecahan
asam amino dan asam lemak.
Salah satu yang menentukan banyaknya gelembung adalah dari
kesegaran hati yang di ekstrak, dalam praktikum ini ekstrak hati katak
lebih banyak menghasilkan gelembung karena masih segar dari katak
yang baru dibedah, sedangkan hati ayam yang diekstrak sudah
didiamkan terlebih dahulu.

3. Oksidasi dan Respirasi Sel


Setiap selang waktu sepuluh menit pertama sampai dengan sepuluh
menit ke-empat pemanasan larutan, tabung A dan B tidak mengalami
banyak perubahan warna dan tidak terdapat gelembung karena
organisme pada larutan gist yang melakukan respirasi mati pada saat
proses pemanasan gist. Sedangkan pada tabung C dan D mulai dari
pemanasan larutan pada sepuluh menit pertama sampai sepuluh menit
ke-empat, larutan mengalami perubahan warna serta terdapat
gelembung karena organisme pada larutan gist aktif melakukan
respirasi.

I. Kesimpulan
1. Praktikum Transpor Aktif
Berdasarkan percobaan yang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwa:
1) Terjadi transpor aktif glukosa melewati membran tubulus uriniferus
pada ginjal katak.
2) Suhu mempengaruhi pada proses transpor aktif, dimana transport aktif
terjadi lebih cepat pada suhu rendah dan lebih lambat pada suhu tinggi.
2. Berdasarkan praktikum Aktivitas enzim katalase, dalam sel tubuh hewan
terdapat enzim katalase yang berfungsi untuk menguraikan H2O2 menjadi
air dan oksigen, yang dapat dibuktikan dengan uji aktivitas enzim katalase.
H2O2 sendiri dihasilkan tubuh sebagai produk sampingan metabolisme
aerob.
3. Berdasarkn praktikum Oksidasi dan respirasi, maka:
- Pada tabung A dan B organisme tidak melakukan respirasi, karena pada
saat pemanasan gist organisme tersebut mati, ditandai dengan tidak
berubahnya warna pada larutan setelah dipanaskan dalam penangas air.
Pada tabung C dan D organisme melakukan respirasi, ditandai dengan
perubahan warna larutan saat dipanaskan dalam penangas air.
- Pada tabung A dan C menunjukkan terjadinya respirasi Anaerob,
sedangkan pada tabung B dan D menunjukkan terjadinya respirasi
Aerob.
- Ketersediaan oksigen (Ketersediaan O2 yang terbatas akan
mempengaruhi laju respirasi yang ditandai dengan perubahan warna
yang semakin cepat dan banyaknnya gelembung).
4. Kesimpulan umum
Dari semua praktikum yang telah dilakukan, maka daat diketahui bahwa
didalam sel terjadi berbagai proses biologi, kimi dan fisika yang saling
berkaitan dan menunjang keberlangsungan hidup suatu sel dan makhluk
hidup. Proses-proses dan zat yang ada didalam sel tentunya menjadi
spesialisasi dan menjadi karakter suatu sel yang disesuaikan dengan
fungsinya.
Daftar Pustaka

Isnaeni, Wiwi. (2006). Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius

Winatasasmita, Djamhur.dkk. (2018). Pedoman praktikum Fisiologi Hewan.


Bandung:Tidak diterbitkan