Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebutuhan makanan pada ibu hamil mutlak harus dipenuhi karena kekurangan

nutrisi dapat menyebabkan anemia. Hal penting yang harus diperhatikan

sebenarnya adalah cara mengatur menu dan pengolahan menu tersebut dengan

berpedoman pada Pedoman Umum Gizi Seimbang. Status gizi ibu yang kurang

baik sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab utama dari berbagai

persoalan kesehatan yang serius pada ibu dan bayi (Sulistyawati A, 2014: 107).

Banyak wanita hamil yang menderita anemia karena kebutuhan akan zat gizi

umumnya meningkat tetapi konsumsi makanannya tidak memenuhi syarat gizi,

dimana ibu hamil dianjurkan banyak makan sayuran berdaun hijau, hati ayam atau

sapi, kacang merah, dan kedele karena jenis makanan ini kaya akan kandungan

asam folat (Khomsan A, 2010: 7). Anemia pada wanita hamil merupakan problem

kesehatan yang dialami oleh wanita di seluruh dunia terutama di negara

berkembang (Indonesia). Menurut WHO kematian ibu di negara berkembang

berkaitan dengan anemia pada kehamilan dan kebanyakan anemia pada kehamilan

disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut, bahkan tidak jarang

keduanya saling berinteraksi (Rukiyah AY, 2011: 114). Anemia kehamilan disebut

“potential danger to mother and child” (potensial membahayakan ibu dan anak)

karena itu anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait

dalam pelayanan kesehatan pada lini terdepan (Manuaba IDC, 2013: 237).

Fenomena yang ditemukan pada ibu hamil di Puskesmas Plumpang banyak ibu

hamil yang makan hanya sesuai dengan selera meraka tanpa memikirkan

1
2

kecukupan gizi atau nutrisi sesuai dengan kebutuhan usia kehamilan seperti tidak

suka makan sayur-sayur hijau dan telur karena setiap makan merasa mual.

Menurut World Health Organization (WHO), 40% kematian ibu di negara

berkembang berkaitan dengan anemia dalam kehamilan (Saifuddin AB, 2013:

281). Dari data Profil Kesehatan Indonesia tahuan 2017 angka prevalensi ibu

hamil anemia di Indonesia menurut Riskesdas 2013 terdapat 37,1% ibu hamil

anemia. Rata-rata prevalensi anemia di Provinsi Jawa Timur sebesar 5,8%.

Prevalensi anemia di Provinsi Jawa Timur tersebut masih dibawah target Nasional

yaitu sebesar 28% (RPJMN 2015-2019). Data dari Dinas kesehatan Tuban jumlah

ibu hamil dengan anemia sebanyak 3,5%. Dari hasil laboratorium Puskesmas

Plumpang Kabupaten Tuban pada tahun 2018 jumlah ibu hamil yang mengalami

anemia sebanyak 63 orang.

Anemia dalam kehamilan merupakan kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di

bawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar kurang dari 10,5 gr % pada

trimester II (Saifudin AB, 2013: 281). Penyebab anemia pada ibu hamil adalah

defisiensi zat-zat nutrisi, yang paling mendasar adalah kurangnya asupan, absorpsi

yang tidak adekuat bertambahnya zat gizi yang hilang, kebutuhan yang berlebihan

dan kurangnya utilisasi nutrisi hemopoetik. Namun, sekitar 75% anemia dalam

kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi, penyebab yang tersering kedua adalah

anemia megaloblastik yang disebabkan kekurangan asam folat dan vitamain B12.

Penyebab anemia lainnya yang jarang ditemui adalah hemoglobinopati, proses

inflamasi, toksisitas zat kimia dan keganasan (Sunarya SR, 2015: 31). Serta

menurut Marmi dkk, (2015: 51) penyebab anemia umumnya adalah kurang gizi

(malnutrisi), kurang zat besi dalam diet, malabsorbsi, kehilangan darah yang

banyak. Dampak anemia dalam kehamilan bagi ibu hamil bisa menyebabkan
3

abortus, partus prematurus, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah

terjadi infeksi, ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6 gr%), mola hidatidosa,

hiperemesis gravidarum, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Bahaya saat

persalinan yaitu bisa menyebabkan gangguan his, kekuatan mengejan, kala

pertama dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar, kala dua berlangsung

lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi

kebidanan, kala tiga dapat diikuti retensio plasenta dan perdarahan post partum

akibat atonia uteri, kala empat dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan

atonia uteri. Akibat anemia pada janin antara lain adalah abortus, kematian

intrauteri, persalinan prematuritas tinggi, Berat Badan Lahir Rendah, kelahiran

dengan anemia, dapat terjadi cacat bawaan, bayi mudah mendapat infeksi sampai

kematian perinatal dan Intelegensia rendah (Manuaba, 2015: 38-39).

Upaya yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam mencegah adanya anemia

dalam kehamilan melalui dengan memberikan penyuluhan kepada ibu hamil

tentang pencegahan anemia dengan perbaikan gizi yaitu dengan menjelaskan

mengenai pola nutrisi yang baik bagi ibu hamil. Serta untuk pencegahan dapat

dilakukan dengan pemberian suplemen Fe dosisrendah 30 mg pada trimester

ketiga ibu hamil non anemik (Hb lebih/=11g/dl), sedangkan untuk ibu hamil

dengan anemia defisiensi besi dapat diberikan suplemen Fe sulfat 325 mg 60-65

mg, 1-2 kali sehari (Dila P, 2012). Nutrisi yang baik adalah cara terbaik untuk

mencegah terjadinya anemia jika sedang hamil. Makan makanan yang tinggi

kandungan zat besi (seperti sayuran berdaun hijau, daging merah, sereal, telur dan

kacang tanah) dapat membantu memastikan bahwa tubuh menjaga pasokan besi

yang diperlukan untuk berfungsi dengan baik. Pemberian vitamin untuk

memastikan bahwa tubuh memiliki cukup asam besi dan folat. Pastikan tubuh
4

mendapatkan setidaknya 27 mg zat besi setiap hari (Proverawati A, 2011: 137).

Pada tingkat polindes, penanganan anemia dalam kehamilan yaitu dengan

membuat diagnosis klinik dan rujukan pemeriksaan laboratorium, memberikan

terapi oral besi 60 mg per hari serta memberikan penyuluhan gizi ibu hamil dan

menyusui (Saifudin AB, 2013: 284).

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

dengan judul “Hubungan konsumsi makanan dengan anemia pada ibu hamil di

Puskesmas Plumpang Kabupaten Tuban tahun 2018”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan perumusan masalah

sebagai berikut: Apakah ada hubungan konsumsi makanan dengan anemia pada

ibu hamil di Puskesmas Plumpang Kabupaten Tuban tahun 2018?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan umum

Mengetahui hubungan konsumsi makanan dengan anemia pada ibu hamil di

Puskesmas Plumpang Kabupaten Tuban tahun 2018.

1.3.2 Tujuan khusus


1. Mengidentifikasi konsumsi makanan ibu hamil di Puskesmas Plumpang

Kabupaten Tuban.
2. Mengidentifikasi kejadian anemiapada ibu hamil di Puskesmas Plumpang

Kabupaten Tuban.
3. Menganalisa hubungan konsumsi makanan dengan anemia pada ibu hamil di

Puskesmas Plumpang Kabupaten Tuban.


1.4 Manfaat Penelitian
5

1.4.1 Manfaat Praktis

1. Bagi ibu hamil

Dari hasil penelitian ini ibu hamil dapat mengaplikasikan dalam

menyusun menu sehari-hari yang memenuhi kriteria gizi seimbang bagi ibu

hamil yaitu makanan yang tinggi kandungan zat besi (seperti sayuran berdaun

hijau, daging merah, sereal, telur dan kacang tanah) sehingga dapat

meningkatkan kesehatan ibu dan diharapkan dapat mencegah kejadian anemia.

2. Bagi Profesi Perawat

Sebagai masukan dan pertimbangan dalam memberikan penyuluhan

kepada ibu hamil tentang faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian

anemia pada ibu hamil.

1.4.2 Manfaat Teoritis

1. Bagi Peneliti

Pengalaman yang berharga bagi peneliti untuk menambah wawasan,

pengetahuan dan pengalaman serta mengembangkan diri khususnya dalam

menerapkan kepustakaan dibidang ilmu keperawatan maternitas.

2. Bagi institusi pendidikan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan dan dapat

digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian berikutnya tentang

faktor lain yang berpengaruh pada kejadian anemia