Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

“PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA”

DISUSUN OLEH :

WINDY YUANDARI
DOSEN PEMBIMBING :

ETY APRIYANTI SKM, M.Kes

STIKES MERCU BAKTIJAYA PADANG


2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya
yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam “KEBIDANAN KOMUNITAS II”.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki
sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Padang, November 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah.......................................................................................................1
B. Rumusan Maslaah................................................................................................................1
C. Tujuan Penulisan ................................................................................................................1
BAB II KAJIAN TEORITIS........................................................................ ............................2
A. Pengertian PKPR..................................................................................................................3

B. Tujuan PKPR di Puskesmas..................................................................................................4

C. Ciri khas atau karakteristik PKPR.......................................................................................5

D. Kesehatan Reproduksi Remaja.............................................................................................6


E. Pengenalan Konsep Gender..................................................................................................7
F. Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Infeksi Saluran Reproduksi (ISR)...............................8

BAB III LAMPIRAN JURNAL ..............................................................................................9


BAB IV PENUTUP.................................................................................................................12
A. Kesimpulan........................................................................................................................12
B. Saran..................................................................................................................................12
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Remaja 15–24 tahun di Indonesia berdasarkan Survei Penduduk tahun 2010
berjumlah 40,75 juta (0,17%) dari seluruh penduduk yang berjumlah 237,6 juta jiwa,
sementara jumlah penduduk 10 –14 tahun berjumlah 22,7 juta (0.09%). Besarnya jumlah
penduduk kelompok remaja ini akan sangat mempengaruhi pertumbuhan penduduk di masa
mendatang. Penduduk kelompok umur 10 –24 tahun ini perlu mendapat perhatian serius
mengingat mereka akan memasuki angkatan kerja dan memasuki usia reproduksi (BKKBN,
2011). Pendapat lain juga mengatakan bahwa remaja adalah tunas bangsa, generasi penerus
bangsa, tumpuan harapan bangsa yang akan bisa melanjutkan cita-cita bangsa menuju
Indonesia yang bermartabat. Sehingga sebagai generasi penerus, kelompok remaja
merupakan aset bangsa atau modal utama sumber daya manusia bagi pembangunan bangsa di
masa yang akan datang. Kelompok remaja yang berkualitas memegang peranan penting
dalam mencapai kelangsungan serta keberhasilan tujuan pembangunan nasional, sehingga
perlu mendapat perhatian yang serius untuk meningkatkan kualitasnya (Ni Nyoman Kristina,
SKM, 2011.). Menurut Kristanti, semua remaja,baik laki-laki maupun perempuan
mempunyai hak atas informasi dan akses ke pelayanan kehamilan dan persalinan yang aman
termasuk pelayanan kontrasepsi yang disukai. Sedangkan pelayanan yang cocok untuk
remaja adalah yang berorientasi pada prinsip hak-hak anak yaitu non diskriminasi,
kepentingan terbaik bagi remaja, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang, serta
penghargaan pendapat remaja (Kristanti, 2011). Dalam perkembangan terakhir ini, dengan
permasalahan remaja yang semakin meningkat,banyak kegiatan yang sudah dilakukan oleh
Kementerian Kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan remaja, antara
lain adalah telah dilakukan pelatihan tenaga kesehatan untuk melaksanakan PKPR di Pusat
Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Sebagai dukungan pelaksanaan Komunikasi Informasi
dan Edukasi kepada remaja, Kementerian Kesehatan juga telah menerbitkan bahan dari
daerah perkotaan hingga terpencil perdesaan. Beberapa tahun terakhir mulai dilaksanakan
beberapa model pelayanan kesehatan remaja yang memenuhi kebutuhan dan "selera" remaja
di beberapa propinsi, dan diperkenalkan dengan sebutan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
atau disingkat PKPR, adopsi dari istilah dalam bahasa Inggris, Adolescent Friendly Health
Services(AFHS), yang sebelumnya dikenal dengan Youth Friendly Health Services(YFHS).
Pelayanan kesehatan pada sasaran remaja sebagaimana pada kelompok umur lainnya, juga
meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana Pelaksanaan Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) diPuskesmas
C. Tujuan Penulisan Makalah
 Tujuan Umum
Tujuan peneliatian ini secara umum adalah untuk melihatPelaksanaan Program Pelayanan
Kesehatan Peduli Remaja di Puskesmas
 Tujuan Khusus
1. Mendapatkan informasi mendalam mengenai masukan (input) pada program PKPR di
Puskesmas yang meliputi aspek tenaga, dana, sarana dan prasarana, dan metode.
2. Mendapatkan informasi mendalammengenai proses(procces) program PKPR di
Puskesmas yang meliputi perencanaan, pengorganisasian,pelaksanaan dan
pengawasan.
3. Mendapatkan informasi mendalam mengenai keluaran(output) dari program PKPR di
Puskesmas
BAB II
KAJIAN TEORITIS

1. PEDOMAN PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA (PKPR)


A. Pengertian PKPR
Pelayanan kesehatan yang ditujukan dan dapat dijangkau oleh remaja, menyenangkan,
menerima remaja dengan tangan terbuka, menghargai remaja, menjaga kerahasiaan, peka
akan kebutuhan terkait dengan kesehatannya, serta efektif dan efisien dalam memenuhi
kebutuhan tersebut.Singkatnya, PKPR adalah pelayanan kesehatan kepada remaja yang
mengakses semua golongan remaja, dapat diterima, sesuai, komprehensif, efektif dan efisien.
B. Tujuan PKPR di Puskesmas

Tujuan Umum : Optimalisasi pelayanan kesehatan remaja di Puskesmas.

Tujuan Khusus :
1. Meningkatkan penyediaan pelay
anan kesehatan remaja yang berkualitas.
2. Meningkatkan pemanfaatan Puskesmas oleh remaja untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan.
3. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam pencegahan masalah
kesehatan khusus pada remaja.
4. Meningkatkan keterlibatan remaja dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
pelayanan kesehatan remaja.

C. Ciri khas atau karakteristik PKPR


Berikut ini karakteristik PKPR merujuk WHO (2003) yang menyebutkan agar
Adolescent Friendly Health Services (AFHS) dapat terakses kepada semua golongan remaja,
layak, dapat diterima, komprehensif, efektif dan efisien, memerlukan:
1. Kebijakan yang peduli remaja.
Kebijakan peduli remaja ini bertujuan untuk:
 Memenuhi hak remaja sesuai kesepakatan internasional.
 Mengakomodasi segmen populasi remaja yang beragam, termasuk kelompok yang
rapuh dan rawan.
 Tidak membatasi pelayanan karena kecacatan, etnik, rentang usia dan status.
 Memberikan perhatian pada keadilan dan kesetaraan gender dalam menyediakan
pelayanan.
 Menjamin privasi dan kerahasiaan.
 Mempromosikan kemandirian remaja, tidak mensyaratkan persetujuan orang tua, dan
memberikan kebebasan berkunjung.
Menjamin biaya yang terjangkau/gratis. Perlu kebijakan pemerintah daerah misalnya
pembebasan biaya untuk kunjungan remaja.
2. Prosedur pelayanan yang peduli remaja.
 Pendaftaran dan pengambilan kartu yang mudah dan dijamin kerahasiaannya.
 Waktu tunggu yang pendek.
 Dapat berkunjung sewaktu-waktu dengan atau tanpa perjanjian terlebih dahulu. Bila
petugas PKPR masih merangkap tugas lain, berkunjung dengan perjanjian akan lebih
baik, mencegah kekecewaan remaja yang datang tanpa bisa bertemu dengan petugas
yang dikehendaki.
3. Petugas khusus yang peduli remaja.
 Mempunyai perhatian dan peduli, baik budi dan penuh pengertian, bersahabat,
memiliki kompetensi teknis dalam memberikan pelayanan khusus kepada remaja,
mempunyai keterampilan komunikasai interpersonal dan konseling.
 Termotivasi bekerja-sama dengan remaja.
 Tidak menghakimi, merendahkan, tidak bersikap dan berkomentar tidak
menyenangkan.
 Dapat dipercaya, dapat menjaga kerahasiaan.
 Mampu dan mau mengorbankan waktu sesuai kebutuhan.
 Dapat ditemui pada kunjungan ulang.
 Menunjukkan sikap menghargai kepada semua remaja dan tidak membedakannya.
 Memberikan informasi dan dukungan cukup hingga remaja dapat memutuskan pilihan
tepat untuk mengatasi masalahnya atau memenuhi kebutuhannya.
4. Petugas pendukung yang peduli remaja.
 Bagi petugas lain yang berhubungan pula dengan remaja, misalnya petugas loket,
laboratorium dan unit pelayanan lain juga perlu menunjukkan sikap menghargai
kepada semua remaja dan tidak membedakannya.
 Mempunyai kompetensi sesuai bidangnya masing-masing.
 Mempunyai motivasi untuk menolong dan memberikan dukungan pada remaja.
5. Fasilitas kesehatan yang peduli remaja.
 Lingkungan yang aman. Lingkungan aman disini berarti bebas dari ancaman dan
tekanan dari orang lain terhadap kunjungannya sehingga menimbulkan rasa tenang
dan membuat remaja tidak segan berkunjung kembali.
 Lokasi pelayanan yang nyaman dan mudah dicapai. Lokasi ruang konseling tersendiri,
mudah dicapai tanpa perlu melalui ruang tunggu umum atau ruang-ruang lain
sehingga menghilangkan kekhawatiran akan bertemu seseorang yang mungkin
beranggapan buruk tentang kunjungannya (stigma).

 Fasilitas yang baik, menjamin privasi dan kerahasiaan. Suasana semarak berselera
muda dan bukan muram, dari depan gedung sampai ke lingkungan ruang pelayanan,
merupakan daya tarik tersendiri bagi remaja agar berkunjung. Hal lain adalah adanya
kebebasan pribadi (privasi) di ruang pemeriksaan, ruang konsultasi dan ruang tunggu,
dipintu masuk dan keluar, serta jaminan kerahasiaan. Pintu dalam keadaan tertutup
pada waktu pelayanan dan tidak ada orang lain bebas keluar masuk ruangan.
Kerahasiaan dijamin pula melalui penyimpanan kartu status dan catatan konseling di
lemari yang terkunci, ruangan yang kedap suara, pintu masuk keluar tersendiri, ruang
tunggu tersendiri, petugas tidak berteriak memanggil namanya atau menanyakan
identitas dengan suara keras.
 Jam kerja yang nyaman. Umumnya waktu pelayanan yang sama dengan jam sekolah
menjadi salah satu faktor penghambat terhadap akses pelayanan. Jam pelayanan yang
menyesuaikan waktu luang remaja menjadikan konseling dapat dilaksanakan dengan
santai, tidak terburu-buru, dan konsentrasi terhadap pemecahan masalah dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
 Tidak adanya stigma. Pemberian informasi kepada semua pihak akan meniadakan
stigma misalnya tentang kedatangan remaja ke puskesmas yang semula dianggap pasti
mempunyai masalah seksual atau penyalahgunaan NAPZA.
 Tersedia materi KIE. Materi KIE perlu disediakan baik di ruang tunggu maupun di
ruang konseling. Perlu disediakan leaflet yang boleh dibawa pulang tentang berbagai
tips atau informasi kesehatan remaja. Hal ini selain berguna untuk memberikan
pengetahuan melalui bahan bacaan juga merupakan promosi tentang adanya PKPR
kepada sebayanya yang ikut membaca brosur tersebut.
6. Partisipasi/keterlibatan remaja.
 Remaja mendapat informasi yang jelas tentang adanya pelayanan, cara mendapatkan
pelayanan, kemudian memanfaatkan dan mendukung pelaksanaannya serta menyebar
luaskan keberadaannya.
 Remaja perlu dilibatkan secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian
pelayanan. Ide dan tindak nyata mereka akan lebih mengena dalam perencanaan dan
pelaksanaan pelayanan karena mereka mengerti kebutuhan mereka, mengerti “bahasa”
mereka, serta mengerti bagaimana memotivasi sebaya mereka. Sebagai contoh ide
tentang interior design dari ruang konseling yang sesuai dengan selera remaja, ide
tentang cara penyampaian kegiatan pelayanan luar gedung hingga diminati remaja,
atau cara rujukan praktis yang dikehendaki.
7. Keterlibatan masyarakat.
Perlu dilakukan dialog dengan masyarakat tentang PKPR ini hingga masyarakat:
 Mengetahui tentang keberadaan pelayanan tersebut dan menghargai nilainya.
 Mendukung kegiatannya dan membantu meningkatkan mutu pelayanannya.
8. Berbasis masyarakat, menjangkau ke luar gedung, serta mengupayakan pelayanan
sebaya.
Hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan jangkauan pelayanan. Pelayanan sebaya
adalah KIE untuk konseling remaja dan rujukannya oleh teman sebayanya yang
terlatih menjadi pendidik sebaya (peer educator).atau konselor sebaya(peer counselor)
9. Pelayanan harus sesuai dan komprehensif.
 Meliputi kebutuhan tumbuh kembang dan kesehatan fisik, psikologis dan sosial.
 Menyediakan paket komprehensif dan rujukan ke pelayanan terkait remaja lainnya.
Harus dijamin kelancaran prosedur rujukan timbal balik. Kurang terinformasikannya
keberadaan PKPR di puskesmas pada institusi yang ada di masyarakat mengakibatkan
rujukan tidak efektif. Sebaliknya kemitraan yang kuat dengan pemberi layanan
kesehatan dan sosial lainnya akan melancarkan proses rujukan timbal balik.
 Menyederhanakan proses pelayanan, meniadakan prosedur yang tidak penting.
10. Pelayanan yang efektif
 Dipandu oleh pedoman dan prosedur tetap penatalaksanaan yang sudah teruji.
 Memiliki sarana prasarana cukup untuk melaksanakan pelayanan esensial.
 Mempunyai sistem jaminan mutu bagi pelayanannya.
11. Pelayanan yang efisien
12. Mempunyai SIM (Sistem Informasi Manajemen) termasuk informasi tentang biaya
dan mempunyai sistem agar informasi tersebut dapat dimanfaatkan.

D. Strategi pelaksanaan dan pengembangan PKPR di Puskesmas.


Mempertimbangkan berbagai keterbatasan Puskesmas dalam menghadapi hambatan
untuk dapat memenuhi elemen karakteristik tersebut diatas, maka perlu digunakan
strategi demi keberhasilan dalam pengembangan PKPR di puskesmas, sebagai
berikut:
1. Penggalangan kemitraan, dengan membangun kerjasama atau jejaring kerja.
Meskipun keempat aspek upaya kesehatan (promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif) menjadi tugas keseharian Puskesmas, namun melihat kompleks dan
luasnya masalah kesehatan remaja, kemitraan merupakan suatu hal yang esensial
khususnya untuk upaya promotif dan preventif. Penggalangan kemitraan didahului
dengan advokasi kebijakan publik, sehingga adanya PKPR di puskesmas dapat pula
dipromosikan oleh pihak lain, dan selanjutnya dikenal dan didukung oleh masyarakat.
Selain itu, kegiatan di luar gedung, yang menjadi bagian dari kegiatan PKPR, amat
memerlukan kemitraan dengan pihak di luar kesehatan. Kegiatan berupa KIE, serta
Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat/PKHS (life Skills Education/LSE) seperti
ceramah, diskusi, role play, seperti halnya konseling, dapat dilakukan oleh petugas
terlatih di luar sektor kesehatan dan LSM.
2. Pemenuhan sarana dan prasarana dilaksanakan secara bertahap.
Strategi penahapan ini penting, memperhatikan urgensi dilaksanakannya PKPR
dan keterbatasan kemampuan pemerintah, hingga PKPR dapat segera
dilaksanakan, sambil dilakukan penyempurnaan dalam memenuhi kelengkapan
sarana dan prasarana.
3. Penyertaan remaja secara aktif.
Dalam semua aspek pelayanan mulai perencanaan, pelaksanaan pelayanan dan
evaluasi, remaja secara aktif diikut-sertakan. Dalam menyertakan remaja
dianjurkan dipilih kelompok remaja laki-laki dan perempuan yang dapat
“bersuara“ mewakili Puskesmas untuk informasi penyediaan pelayanan kepada
sebayanya dan sebaliknya mewakili sebayanya meneruskan keinginan, kebutuhan,
dan harapannya berkaitan dengan penyediaan pelayanan. Selain itu dengan
keterlibatan remaja ini, informasi pelayanan dapat cepat meluas, menjangkau baik
remaja laki-laki maupun perempuan,serta memperkenalkan lebih awal konsep
keadilan dan kesetaraan gender.
4. Penentuan biaya pelayanan serendah mungkin.
Pada awal pelaksanaan diupayakan biaya pelayanan serendah mungkin, bahkan
kalau mungkin gratis.
5. Dilaksanakannya kegiatan minimal.