Anda di halaman 1dari 21

Peter Kasenda

Soedjatmoko
Dekan Intelektual Bebas Indonesia

le role d’un clrec n’est’pas de changer le


monde , mais de rester fidele a un ideal
don’t le mainten me semble necessaire a la
moralite de’espece humaine

Julien Benda

Kursi Dekan Intelektual Bebas Indonesia kosong . Pendengarnya tak mungkin


mendengar pandangan Soedjatmoko yang cemerlang dengan bobot kearifan yang
dilakukan hampir empat puluh tahun ini. Kini Soedjatmoko meninggalkan warisan yang
merupakan buah pikiran Soedjatmoko yang tertuang dalam lebih dari seratus tulisan
mengenai masa depan umat manusia.

Tulisan-tulisan Soedjatmoko mempunyai dimensi luas . Ia bergerak pada masalah


kebudayaan , sastra, sejarah , pembangunan , ilmu pengetahuan , politik, diplomasi ,
percaturan internasional dan agama. Perhatian Soedjatmoko yang begitu luas dan besar
menyebabkan tidak gampang bagi pendengarnya menunjukkan kotak mana Soedjatmoko
berada.

Soedjatmoko berbicara berbagai masalah ditengah arus kuat berpikir dislipiner


dengan ketat membatasi pembahasan masalah dalam bidang –bidang spesialisasi . 1 Ia
benar-benar mewaspadai apa yang dipandang sebagai spesialisasi yang berlebihan dalam
disiplin akademis dan mencoba belajar tak begitu percaya pada fragmentasi yang
mewarnai metode ilmiah . 2 Disiplin ilmu hanya merupakan konsensus yang dihasilkan
manusia. Seorang tidak boleh memutlakkan tetapi boleh menerima sehingga membatasi
kebebasan berpikir seharusnya disiplin ilmu membantu kebebasan berpikir dan bukan
mengintimidasinya dengan menetapkan batas-batas yang terlanggar 3

Kalau boleh memakai kata-kata Ignas Kleden . Tulisan Soedjatmoko lebih


menekankan pada kesungguhan menghadapi masalah ketimbang sebagai usaha
membangun suatu pemikiran atau mengadakan penerobosan dalam suatu disiplin ilmu. 4
1
Aswab Mahasin ,” Soedjatmoko dan Dimensi Manusia : Sekapur Sirih , “ dalam Dimensi Manusia dalam
Pembangunan ( Jakarta : LP3ES , 1983 ) , hal. ix – xxvii.
2
Kahtleen Newland dan Kemala Candrakirana Soedjatmoko , “ Pengantar Penyunting “, dalam ,
Sopedjatmoko , Menjelajah Cakrawala – Kumpulan Karya Visioner Soedjatmoko ( Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama bekerja sama dengan Yayasan Soedjatmoko , 1994 ) , hal. xxv – lii . .
3
Ignas Kleden , “ Soedjatmoko : Sebuah Psikologi Pembebasan “, dalam Soedjatmoko , Etika
Pembebasan ( Jakarta : LP3ES , 1984 ) hal. ix – xliii .
4
Ibid .
1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Dalam bahasa yang hampir sama . Frans von Magnis Suseno menyatakan bahwa
Soedjatmoko bukan seorang filsuf yang melahirkan suatu sistim sendiri . Atau
melahirkan sebuah bangunan intelektual yang bisa dikagumi oleh generasi berikutnya
bukan menjadi tujuan dari Soedjatmoko . Tantangan spiritual dan etis yang dihadapi
Soedjatmoko menyebabkan ia menggumuli tema-tema yang begitu luas . 5

Keadaan dunia yang sedemikian suram menyebabkan Soedjatmoko menjadi


kecewa sebagaimana tercermin dalam tulisan-tulisannya. Ia menyaksikan dunia dilanda
penderitaan , kekecewaan maupun jurang kaya-miskin terus melebar. Pertentangan
politik ,resesi ekonomi dan pencemaran lingkungan hidup melanda segenap sistim
internasional. Pertumbuhan penduduk yang memusingkan, teknologi yang mengasingkan
dan kekuatan destruktif yang mengerikan hanya membuat Soedjatmoko gusar. Tulisan-
tulisan Soedjatmoko merupakan refleksi atas prestasi upaya pembangunan pasca Perang
Dunia II.

Kendati pun demikian tak menyebabkan Soedjatmoko menjadi apatis . Ia pun


percaya bahwa langkah-langkah pertama ke arah kelangsungan hidup umat manusia
harus diambil, ketika masyarakat menyadari kerentanan yang mengancam masa depan
mereka . Soedjatmoko tak memiliki obat untuk menyelesaikan masalah-masalah dunia
karena tak percaya pada adanya obat serba mujarab. Soedjatmoko lebih menyukai
memberi jawaban yang tidak sederhana pada masalah yang begitu kompleks yang
menjadi perhatiannya. 6

Kalau bisa menggunakan kata-kata Umar Kayam 7 Dalam memberi jawaban


Soedjatmoko bukanlah seorang yang akan menjelaskan dalam perjalanan itu ada satu
lorong dimensi melainkan mengambil posisi sebagai penunjuk jalan yang
memperlihatkan ada beberapa pilihan lorong yang bisa ditempuh . Kemungkinan besar
Soedjatmoko tidak akan menjatuhkan pilihan pada satu lorong saja, tetapi yang
dikerjakan adalah membeberkan betapa rumitnya lorong-lorong itu. Melalui cara itu
membuat para pendengarnya merasa tidak kecewa tidak digurui atau diremehkan
kecerdasannya.

Soedjatmoko menghargai proses pencarian jawaban sama dengan atau mungkin


lebih daripada , hasil pencarian itu.Pendekatan semacam itu dilakukan Soedjatmoko
karena ia tak mempunyai keinginan menawarkan jalan pintas sampai ke tempat tujuan . Ia
menyadari bahwa ada kemungkinan terdapat lorong-lorong yang tersembunyi dalam
menuju suatu perjalanan . 8

5
Frans Magnis – Suseno , “ Pengantar ,” dalam Nusa Putra , Pemikiran Soedjatmoko Tentang Kebebasan ,”
( Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Bekerja Sama Dengan Yayasan Soedjatmoko , 1993 ) , hal. xiii –
xv.
6
Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko .
7
Umar Kayam, “ Sambutan ,” dalam , Soedjatmoko , Menjelajah Cakrawala – Kumpulan Karya Visioner
Soedjatmoko , hal. xix – xxiv .
8
Ibid dan Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko, op. cit.
2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Dunia Buku

Soedjatmoko merupakan anak kedua dari buah perkawinan Dr. Mohammad Saleh
dengan R.A Ismadikun Bt Tjitrokusumo .9 Ia dilahirkan di Sawahlunto , Sumatra Barat
pada tanggal 10 Januari l919 , ketika ayahnya bertugas sebagai dokter pada Rumah Sakit
Umum Sawahlunto dan kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Kediri ( tahun l922 –
1924 ). Ketika Dr. Mohammad Saleh mendapat bea siswa untuk memperdalam
keachliannya di Amsterdam , Negeri Belanda . Keluarganya dibawa serta . Soedjatmoko
hidup di lingkungan Belanda , bukan di lingkungan Jawa . Ia mulai pendidikan taman
kanak-kanak di sana, suatu pengalaman yang tidak lazim

Setelah memperoleh gelar doktor . DR. Mohammad Saleh bekerja pada Rumah
Sakit Umum Menado ( Tahun l929-1933 ). Di kota itu Soedjatmoko dimasukan sebagai
murid Europese Legere School dan mulai menunjukkan sifat mencari . Kelihatannya
betapa intens Soedjatmoko kecil menjelajahi pikiran dunia anak-anak. Bacaan yang
paling memukaunya adalah seri sejarah dunia dan kisah-kisah petualangan fiksi Jules
Verme. Ini memberi kesadaran akan sejarah dan perhatian luas terhadap pengalaman
manusia . Ketekunan dan kegemaran membaca telah membawanya pada sifat pendiam . 10

Soedjatmoko kemudian melanjutkan studinya di Hollands Burgere School


Surabaya . Soedjatmoko yang panggilan akrabnya Koko ketika itu kelihatan menonjol
karena cerdas , pintar dan rajin serta selalu tertarik dengan apa yang diajarkan . Guru-
guru HBS sering memberi perhatian khusus pada Soedjatmoko . 11 Soedjatmoko yang
aktif dalam Debating Club di HBS , tidak sempat menyelesaikan studinya di situ , sebab
Dr. Mohammad Saleh memindahkan ke Gymnasium ( Sekolah yang menitikberatkan
pada pelajaran kebudayaan dan peradaban Yunani ). 12

Ketika itu Soedjatmoko meneruskan membaca tulisan-tulisan Spinoza, Descartes,


Hegel , Marx dan Niethzche . Dalam waktu yang sama minat terhadap sejarah dan politik
mulai muncul. Buku-buku seperti Machten van deze tijd dari Jan Romein atau karangan
mengenai pengaruh minyak terhadap politik dari Antonie Zicka , mulai menarik
perhatiannya. Setiap liburan, Soedjatmoko kembali ke rumah orang tuanya yang berada
di Surakarta . Ketika itu ayahnya bertugas sebagai Kepala Dinas Kesehatan di
Kasunanan Surakarta dan mempimpin Universitas Islam Tjokroaminoto di kota yang
sama . Dasar kutu buku koleksi-koleksi DR. Mohammad Mangundiningrat yang berisi
buku-buku mengenai sejarah dunia, filsafat , perkembangan ilmu pengetahuan dan karya-
karya klasik yang terdapat dalam perpustakaan mau dilalap habis. Di sana Soejdatmoko
mempelajari buah pikiran Gandhi, Krisnamurti, Vivekanda dan Ramakrisma. 13

9
Solichin Salam , “ In Memoriam Prof. Dr. KRT Saleh Mangundiningrat ,” Berita Buana , 1 Desember
1989 .
10
Aswab Mahasin , op.cit dan MATRA No. 45 – April 1990 .
11
Memoar Roeslan Abdulgani , “ Dunia Tidak Hitam Putih ,” Tempo , 24 Juni 1989 , hal. 51 – 55.
12
Wawancara Seno Gumira Ajidarma dengan Soedjatmoko , “ Soedjatmoko – Horison Yang Jauh , “
JAKARTA-JAKARTA , No. 39 , 31 Oktober 1986 , hal. 80 - 87 .
13
Aswab Mahasin , op.cit dan Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko , op.cit.
3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Dunia pergerakan nasional menjadi perhatian Soedjatmoko dan ada keinginan


untuk mengetahui lebih mendalam mengenai masalah itu . Soedjatmoko remaja minta
tambahan uang saku pada ayahnya , agar ia bisa berlangganan majalah nasionalis yang
berbahasa Belanda, Nationale Comentaren pimpinan DR. Sam Ratulangi . Permintaan
Soedjatmoko ternyata ditolak sehingga ia menggugat ayahnya , “ Dulu Bapak yang
mengajari saya, atau sering membicarakan masalah kemerdekaan politik maupun
kemerdekaan batin , kenapa saya tidak boleh berlangganan majalah nasional
itu ? “ Menghadapi gugatan DR. Mohammad Saleh Mangundiningrat menjelaskan
kepada anak laki-lakinya yang mempunyai keprihatinan terhadap nasib bangsanya bahwa
ayahnya setuju kalau Soedjatmoko remaja suatu saat terjun dalam kancah pergerakan
nasional. Setelah Soedjatmoko mau belajar bagaimana berjuang tanpa kebencian . Ketika
itu Soedjatmoko tak mengerti apa yang dimaksud ayahnya dan baru dia mengerti apa
maksudnya di kemudian hari . 14

DR. Mohammad Saleh Mangundiningrat merupakan salah seorang yang


berpengaruh dalam hidup Soedjatmoko . Ia juga merupakan seorang intelektual yang
yang sekaligus seorang yang mendalami kebatinan Jawa . Ia mengajarkan pada
Soedjatmoko mengenai gagasan bahwa pada dasar manusia harus berusaha untuk meraih
kebebasan . Itulah inti pendidikan yang diberikan pada Soedjatmoko. Kebebasan akal
budi dan jiwa menempati jenjang yang lebih tinggi dalam skala nilainya ketimbang
kebebasan politik . Ia juga yang pertama-tama yang menanamkan bibit spiritual ,
humanisme dan kehausan dakan pengetahuan dalam diri Soedjatmoko.15

Menentang Fasisme

Dalam usia 18 tahun , Soedjatmoko melanjutkan studi pada Sekolah Tinggi


Kedokteran di Jakarta pada tahun l940 . Kemungkinan langkah ini dilakukan
Soedjatmoko karena kagum pada ayahnya yang sukses sebagai dokter atau mungkin
memang ia menghendaki mempelajarai dunia kedokteran . Tetapi yang jelas ayahnya tak
pernah mengarahkan Soedjatmoko ke arah sana . 16 Di sana Soedjatmoko mulai mengenal
para pemimpin pergerakan nasional seperti Soekarno , M. Hatta , Sutan Sjahrir dan Amir
Sjarifuddin . Ia mulai masuk lingkaran puncak pergerakan itu .

Ketika itu untuk pertama kali Soedjatmoko menyaksikan wajah kemiskinan yang
ekstrem. Pada saat Soedjatmoko mengunjungi daerah perkampungan yang kumuh atas
ajakan seorang kawan . Ia melihat pria, wanita dan anak-anak hidup di jalanan dan di
gerbong-gerbong malam demi malam. Kenyataan hidup ini memberi kejutan yang besar
bagi Soedjatmoko . “ Saat itulah ya, baru pada saat itulah ,” kata Soedjatmoko ,” Saya
menyadari bahwa kemiskinan semacam itu. Diskriminasi ( sistim kolonial ) Belanda
menjadi jelas ,” Pengalaman yang menyakitkan hati itu menyebabkan ia bertekad untuk

14
Wawancara Seno Gumira Ajidarma dengan Soedjatmoko , loc . cit .
15
Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko , op.cit.
16
Editor , No. 17 / Tahun III / 30 Desember 1989 .
4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

berjuang melawan kemiskinan dan ketimpangan struktural . Sebagai prasyarat untuk


mencapai maksud tersebut adalah kemerdekaan nasional .17

Ketika Perang Dunia II berlangsung, Balatentara Jepang berhasil mengusir


Belanda dari Indonesia dan mengambil alih kontrol terhadap wilayah Nusantara.
Balatentara Jepang datang dengan janji kemerdekaan bagi Indonesia. Kebanyakan orang
ketika itu memandang Jepang sebagai kekuatan yang bisa mengakhiri kolonialisme .
Soedjatmoko memandang kancah internasional itu dari sudut konflik yang mendasar
antara fasisme dan demokrasi dan ia menempatkan Jepang dalam kubu fasis. 18Sebagian
besar kalangan pergerakan nasional yang radikal menerima Jepang dengan tangan
terbuka karena terdorong kebencian buta mereka terhadap Belanda . 19

Soedjatmoko yang menjadi anggota Unitas Studiosorum Indonesia bersama


Soedarpo Sastrosastomo , Andi Zainal Abidin dan Amir Hamzah dalam waktu singkat
menjadi anggota kelompok studi yang diorganisasikan oleh Amir Sjarifuddin . Setiap dua
kali seminggu mereka mengadakan pertemuan untuk menginformasikan jalannya perang
serta mendiskusikan aksi politik di masa mendatang . Tetapi Amir Sjarifuddin keburu
ditangkap oleh Jepang sehingga kelompok ini membubarkan diri .

Sikap anti Jepang Soedjatmoko diperlihatkan di ruang kuliah dan asrama


mahasiswa kedokteran . Ia berusaha mendorong mahasiswa-mahasiswa yang lain untuk
memperlihatkan sikap keras melawan Jepang dan mencari cara-cara sederhana untuk
mempertebal rasa kemandirian mereka dalam kaitannya menentang Jepang. Soedjatmoko
menunjukkan salah satu cara dengan mendorong mereka untuk berbicara lantang di
koridor-koridor dan tempat lainnya dalam rangka membangun keberanian .20

Pada tahun l943 , Soedjatmoko , Soebadio dan Soedarpo Sastrosastomo kecewa


dengan adanya kerjasama antara Soekarno dengan penguasa baru itu. Mereka bertiga ke
tempat kediaman Soekarno di Pegangsaan Timur 56 , Jakarta. Mereka menunggu dan
ketika bertemu dengan Soekarno .Mereka menyatakan menarik kembali loyalitas mereka
terhadap Soekarno. Tentu saja Soekarno kaget dan bertanya “ Kamu siapa dan dari
mana ? “. Soedjatmoko menjawab “ Tidak mewakili siapa-siapa . Kenapa Bung Karno
berkerjasama dengan Jepang . Tokoh pergerakan nasional itu menjelaskan mengapa
diperlukan adanya kerjasama dengan Jepang. Sebab Jepang menjanjikan kemerdekaan,
adanya parlemen dan membentuk tentara . Sesuatu hal yang dianggap oleh Soekarno
tidak pernah diperoleh dari penguasa lama. Soedjatmoko mengajukan argumentasinya
bahwa sebenarnya Jepang akan kalah. Sebab kapal Jepang banyak yang tenggelam dan
hancur . Kalau pun Sekutu mengalami serupa tetapi Sekutu bisa dengan cepat mengatasi
kekurangan kapal itu . Akhir pembicaraan Soekarno menyatakan dengan nada menantang
‘” Nanti tunggu 5 tahun lagi. Kalau kita masih hidup siapa benar, kau atau saya “. 21

17
Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko , op.cit.
18
J.D. Legge , Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan – Peranan Kelompok Sjahrir , ( Jakarta :
PT Pustaka Utama Grafiti Perss , 1993 ) , hal. 84 – 101.
19
Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko , op.cit.
20
JD Legge , op.cit.
21
Ibid dan wawancara Seno Gumira Ajidarma dengan Soedjatmoko , op.cit.
5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Perjalanan hidupnya sebagai pejuang pembela kebebasan mungkin bisa dikatakan


dimulai secara nyata sewaktu Soedjatmoko memprotes terhadap penguasa baru dengan
mogok kuliah . Sebagai penolakan digunduli rambutnya menurut gaya serdadu Jepang
yang dianggap sebagai penghinaan terhadap harkat manusia. Soedjatmoko ditangkap
polisi militer Jepang . Ada sejumlah orang yang dijebloskan ke dalam penjara selain
Soedjatmoko. Antara lain, Soedarpo, Daan Yahya, Subianto Djojohadikusumo Suroto
Koento , Sanjoto, Kartodirdjo dan Petit Muharto . Mereka ditahan selama 4 minggu .Di
tempat itulah Soedjatmoko diperlakukan secara semena-mena .22 Kejadian yang hampir
saja merengut nyawanya , di kemudian hari diceritakan Soedjatmoko kepada tiga anak
muda yang sering berkunjung kerumahnya dan sambil memberi nasehat yang sangat
berguna tentang apa yang harus dipersiapkan sebagai seorang intelektual .

Saya ditempeleng dan dihantam pasukan Jepang sampai tidak sadarkan diri, luka dan
pingsan . Tentara Jepang juga tidak puas . Mereka mengguyuir tubuh saya beberapa
ember air supaya saya terbangun . Sejak itu saya percaya dan sadar betapa pentingnya
seorang intelektual memiliki kekuatan fisik tahan menghadapi penyiksaaan .

Nah, kalian bertiga hendaknya bersiap menghadapi kemungkinan penyiksaan. Sekarang


dan masa mendatang kalian mesti menghadapi cobaan apa pun. Kaum intelektual akan
mengalami tantangan lebih pelik dan berani mati menghadapi tekanan , mungkin
penyiksaan fisik yang kalah beratnya dengan zaman Jepang 23

Pengalaman mendekam di penjara merupakan trauma bagi Soedjatmoko . Suatu


pengalaman yang terus-menerus bercokol dalam dirinya selama hidupnya serta
menegaskan pemahaman mengenai rapuhnya pribadi manusia. Soedjatmoko di pecat dari
Sekolah Tinggi Kedokteran dan tidak boleh memasuki sekolah apa pun .

Setelah pembebasannya dari penjara Soedjatmoko pergi kerumah orang tuanya di


Surakarta , di mana ia tinggal sampai proklamasi kemerdekaan Ketika itu Soedjatmoko
yang berusia 21 tahun praktis tidak mempunyai kawan “ Tak ada yang berani mengajak
saya ngomong . Saat itulah saya berpikir, Saya gila apa masyarakat yang edan “, kata
Soedjatmoko. Hanya kawan ayahnya yang mau mengajak Soedjatmoko berbicara ,
seperti Brojonegoro ( ayah Sumantri Brojonegoro , bekas Menteri P& K ) , Djaksonegoro
( kemudian dikenal sebagai pengarang musik Jawa, teater, filsafat dan mistik ) dan lain-
lain. Soedjamoko kemudian membuat group kecil yang terdiri dari orang-orang tua itu .
Di situ Soedjatmoko berbicara mengenai masa setelah Jepang kalah, sebab ia percaya
bahwa Jepang akan kalah . Ketika itu Soedjatmoko menggugat pemimpin aliran
kebatinan yang berpengaruh ., Ki Ageng Suryamentaram. Soedjatmoko tidak habis
mengerti . Mengapa tokoh semacam itu tak mau berbicara , ketika semua orang tak
menghadapi penguasa Jepang.24 Mungkin terasa lancang . Maklum Soedjatmoko masih
22
Wawancara Seno Gumira Ajidarma , ibid.
23
Sugeng , Eko dan Hardi , “ Kenangan Bersama Soedjatmoko ,” Media Indonesia , 24 Dsember 1989 .
Perlakukan semena-mena terhadap intelektual muda dewasa ini . Lihat . Bertarung Demi Demokasi –
Kumpulan Eksepsi Pengadilan Mahasiswa Bandung 1989 , Komite Penangan dan Pemulihan Aktifitas
Kemahasiswaan Forum Ketua Himpunan Jurusan Institut Tehnologi Bandung , 1950 .
24
Wawancara dengan Seno Gumira Ajidarma , op.cit.
6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

muda.

Hampir selama tiga tahun Soedjatmoko terpencil di Surakarta . Pengembaran


pikiran dalam keadaan pengucilan tentu terasa sebagai paradoks yang sangat mencekam .
Dunia ide yang terbentang luas berhimpit dengan dunia sosial yang pahit. Dalam keadaan
hilang kontak dengan dunia luar , ia menemukan keasyikan dalam buku-buku loakan
yang dibelinya dari Pasar Klewer; Bergson, Max Scheler, Karl Japers, Martin Haidegger
dan mempelajari pula mistik Islam , Katolik dan alam kebatinan Jawa. 25

Soedjatmoko berada dalam dunia sosial yang menyebabkan ia merasa dirinya


asing di alam sekitarnya . Terasa sulit untuk menentukan pilihan hidup meneruskan cita-
citanya sebagai dokter atau mmemenuhi panggilan zaman yang sedang sakit itu .
Bagaimana pun juga ia harus menemukan diri. Suatu penyelesaian harus diketemukan .
Rasa keterasingan semakin memuncak dan malahan krisis pun demikian. Akhir dari
kejadian itu mengantar Soedjatmoko tak mau membaca selama enam bulan.
Keterpencilan Soedjatmoko jelas menjadi total.

Ia tak bisa berbicara dengan dunia ide atau dengan siapa pun “ Jalannya sakit
betul, kadang-kadang saya merasa putus asa . Saya kehilangan jalan “, kata
Soedjatmoko.Namun di ujung kegelapan selalu ada cahaya. Krisis itu membawa
Soedjatmoko kepada semacam kesadaran baru mengenai makna pengetahuan . Ia mulai
memahami betapa pengetahuan sebagai penjelmaan dorongan batin dan itu pun akhirnya
mengkahiri rasa keterasingan yang ada.

Setelah proses pencarian diri yang sedemikian sulit. Soedjatmoko mulai merasa “
terbebaskan dari cengkraman dan dominasi pengetahuan . Semua pengetahuan yang
diterima dalam penjelajahan . Apakah itu Barat, Timur, Islam “. Akhirnya menjadi batu-
batu penyusunan bangunannya sendiri, tetapi bangunan itu sendiri lain dari batu-batu itu.
Ini merupakan titik balik dalam perkembangan Soedjatmoko sebagai pemikir. Sejak itu ia
memandang dirinya sebagai manusia budaya Indonesia yang menjadi warga dunia.26

Mencari Jawaban

Setelah Proklamsi Kemerdekaan , Presiden Soekarno menunjuk Amir


Syarifoeddin yang saat itu sangat populer di mata masyarakat sebagai Menteri
Penerangan Republik Indonesia . Salah satu tugas Kementerian Penerangan adalah
memberi penerangan ke luar negeri tentang kemerdekaan RI dan cita-cita revolusi . 27
Untuk merealisir keinginan tersebut , Soedjatmoko ditunjuk sebagai Kepala Deputi
Hubungan Luar Negeri Kementerian Penerangan . Di sana Soedjatmoko sering

25
Aswab Mahasin , op.cit.
26
Ibid .
27
Frederick Djara Wellem , Amir Sjarifoeddin : Pergumulan Imannya dalam Perjuangan Kemerdekaan ,
( Jakarta : Sinar Harapan , 1984 ) , hal. 180 – 182.
7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

berhubungan dengan koresponden-koresponden luar negeri yang datang meliputi


Revolusi Indonesia . 28

Tahun berikutnya , Soedjatmoko mendapat tawaran dari Perdana Menteri Sutan


Sjahrir , sebagai editor kepala dari sebuah mingguan berbahasa Belanda Het Inzicht dari
Republik yang diterbitkan untuk mengimbangi Uitzicht terbitan NICA-Van Mook .
Maksudnya untuk mempengaruhi masyarakat Belanda serta menjelaskan sikap bangsa
Indonesia. Sebenarnya Soedjatmoko awam mengenai dunia media massa bahkan belum
pernah menulis ketika itu. Ia mulai mempelajari dunia itu setelah memimpin mingguan
tersebut . 29

Pengalaman jurnalistik ini segera terputus untuk sementara waktu ketika Perdana
Menteri Sutan Sjahrir menugaskan Soedjatmoko, Soedarpo Sastrosastomo, Agus Salim
dan Soemitro Djojohadikusmo untuk membantu L.N Palar dalam sidang-sidang Dewan
Keamanan PBB di Lake Suecces, New York dan Washington . Sutan Sjahrir menganggap
bahwa kemerdekaan Indonesia sebagian harus diperjuangkan melalui perang propaganda
di tengah masyarakat AS ( kerukunan gereja, kerukunan intelektual, kerukunan wanita)
dan pemimpin mereka yang berpengaruh di Kongres AS ) Mereka berhasil menjalankan
misinya. Dengan biaya seminimal mungkin, tetapi dibekali semangat menyala-nyala .
Mereka berhasil menangkal propaganda Belanda di Amerika Serikat . 30

Setelah bangsa Indonesia mendapat pengakuan internasional pada tahun l949.


Soedjatmoko kemudian membantu misi diplomatik Indonesia yang pertama untuk PBB ,
Amerika Serikat dan Inggris Raya . Ketika berada di luar negeri Soedjatmoko
meluangkan waktu untuk mengenyam pendidikan selama satu semester di Universitas
Harvard (AS) sebelum ia ditunjuk sebagai Counsellor Kedutaan Besar RI di London.
Selama 7 tahun Soedjatmoko berada di luar negeri dengan demikian ia melewati dua
masa agresi militer, melalui masa perundingan yang menghasilkan pengakuan
kedaulatan pada tahun l949 dan tahun-tahun pertama RI.

Sebelum kembali ke Indonesia pada tahun l952, Soedjatmoko melakukan dua


buah perjalanan intelektual . Perjalanan pertama menuju bagian Selatan Amerika Serikat.
Di sana ia menemukan banyak hal yang pantas dikagumi dan juga bersikeras
menyaksikan realitas rasisme Amerika dan dampaknya terhadap kondisi kehidupan
warga kulit hitam . Perjalanan yang kedua , Soedjatmoko pergi mengelilingi Eropah
Barat dan Timur. Ia mencoba menyaksikan dunia pasca perang dunia II yang terbelah
menjadi dua kubu ideologi dan ingin menemukan bagi dirinya sendiri apa yang dapat
ditawarkan oleh masyarakat maupun pemimpin kedua kubu itu bagi bangsanya.
Eropah Timur mendapat perhatian khusus dari Soedjatmoko , karena ideologi kiri
mempunyai tempat tersendiri di kalangan nasionalis dan yang dekat dengan dirinya.
Adalah benar ia memandang dirinya sebagai seorang sosialis , kendati ketika itu ia tidak
merasa pasti lagi apa artinya menjadi seorang sosialis . Ia merasa perlu menentukan
posisi politiknya sebelum kembali ke Indonesia .
28
Rosihan Anwar , Menulis Dalam Air – Sebuah Otobiografi , ( Jakarta : Sinar Harapan , 1983 ) , hal. 110
– 111.
29
Wawancara Seno Gumira Ajidarma , op.cit.
30
Juwono Sudarsono , “ Soedjatmoko dan Hubungan Internasional ,” Kompas , 31 Maret 1990 .
8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Perjalanan ini ternyata mengguncangkan hatinya. Ia menjadi kecewa. Tampaknya


Eropah menjadi lelah akibat perang dan terkoyak berbagai “ isme” saling bersaing
tampak kehabisan inspirasi untuk masa depan . Ia merasakan adanya kesenjangan antara
ideologi dan realitas . Ia sama sekali tidak menemukan visi yang tampak relevan bagi
Indonesia. Kekecewaannya agak terobati ketika Soedjatmoko bertemu dengan Milovan
Djilas ( Intelektual dari Yugolslavia ) yang menganggap bahwa kedua negara adi daya
tidak akan bisa melakukan monopoli selamanya dan bangsa-bangsa lain akan belajar dari
kedua kubu itu dan akan melangkah maju dengan jalan-jalan yang dipilih. Setelah
mengadakan percakapan dengan Djilas, Soedjatmoko telah menemukan beberapa
jawaban yang ia cari . Soedjatmoko akhirnya siap kembali ke tanah airnya .31

Mengambil Peran

Soedjatmoko kembali ke Indonesia dengan keyakinan tidak ada resep yang mudah
bagi masa depan Indonesia. Ia merasakan kalau revolusi telah dikhianati kaum birokrat
dan untuk sementara waktu ia menjauhkan diri dari peristiwa-peristiwa . Ia tidak berdinas
dalam pemerintahan dan percaya bahwa dirinya tidak mencapai apa-apa dalam karir
politik . 32

Ia mulai mengambil peran intelektual yang lebih aktif di Indonesia . Ia menjadi


editor haraian Pedoman dan kemudian juga di majalah mingguan politik Siasat .
Melalui kesempatan ini maupun lainnya , Soedjatmoko berbagi pelajaran dengan apa
yang ia peroleh dari perjalanannya mengelilingi Eropah, bahwa jawaban terhadap
persoalan Indonesia tak terbatas pada pilihan antara Kapitalisme dan Komunisme. Dalam
mengatasi situasi krisis yang melanda masyarakat Indonesoa , Soedjatmoko menyatakan
perlunya adanya penyesuaian kreatif . Ia menawarkan kemungkinan adan keharusan
untuk senantiasa menggali menyelami serta menciptakan kembali dari masa silam kita
dan budaya tradisional . Cara ini menjawab pertanyaan mengenai penyesuaian kreatif
sebagai jawaban yang khas bersifat Indonesia 33

Ketika itu situasi Indonesia ditandai dengan pertikaian politik di mana semua
orang tenggelam dalam pergulatan ideologi dan pertikaian antar partai. Dalam suasana
semacam itu , Soedjatmoko menyatakan bahwa tidak bisa tidak pembangunan ekonomi
merupakan prasyarat untuk mengatasi berbagai persoalan atas berbagai harapan baru
sebagai akibat tercapainya kemerdekaan dan keruntuhan yang terjadi dalam berbagai
aspek kehidupan masyarakat selama masa penjajahan sampai tercapainya kemerdekaan.
Ia menulis bahwa isi kemerdekaan kita ditentukan oleh cara-cara kita membangun
ekonomi. Kekuataan ekonomi yang benar merupakan jaminan mutlak bagi penentuan
nasib sendiri. Kemerdekaan dann kemungkinan untuk menentukan nasib sendiri
tergantung dari kesanggupan meluncurkan pembangunan ekonomi yang proposional dan
31
Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko , op.cit.
32
JD Legge , op.cit., hal. 234 – 237.
33
Soedjatmoko , Etika Pembebasan , op.cit, hal. 3 – 14.
9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

kecepatannya sepadan dengan urgensi serta luasnya masalah ini. Soedjatmoko menyadari
kalau pembangunan ekonomi belum dirasakan oleh kebanyakan orang . Kenyataan ini
merupakan kesukaran yang disebabkan oleh berbagai rintangan kebudayaan yang
berpengaruh dalam masyarakat . Oleh karena itu Soedjatmoko menganggap perlunya
melihat pembangunan sebagai persoalan kebudayaan yang mengharuskan adanya
perubahan mentalitas , perubahan pandangan hidup .34

Meskipun curiga terhadap ideologi, Soedjatmoko bergabung dengan PSI pada


tahun l955 dan dipilih sebagai anggota Konsituante setahun kemudian. Ia terlibat dalam
perdebatan mengenai dasar negara dalam Majelis Konsituante . Ketika itu ada yang
menginginkan Sosial-Ekonomi sebagai dasar negara, Islam atau tetap mempertahankan
Panacsila sebagai dasar negara . PSI yang merupakan partainya Soedjatmoko menerima
Pancasila sebagai dasar negara menurut tafsirannya sendiri . 35 Perdebatan di Majelis
Konsituante tak menghasil keputusan sehingga pembuatan undang-undang dasar
menjadi terbengkalai . Suatu kemacetann konsitusional yang serius pun terjadi. Presiden
Soekarno dengan dukungan militer mengeluarkan dekrit untuk kembali pada UUD l945
dan sekaligus membubarkan Majelis Konsituante . 36

Ketika berlangsung perdebatan seru di Majelis Konsituante , Soedjatmoko


melangsungkan pernikahannya dengan gadis pujaannya , Ratmini pada tanggal l5
Oktober l957 di Banyumas, Jawa Tengah . Perkenalan kedua insan manusia ini terjadi
pada tahun l956, yang berlangsung secara kebetulan . Ratmini ikut rapat sebagai anggota
Perkumpulan Olahraga Layar Pulau Seribu , di rumah Ali Budiardjo , yang menjadi ketua
organisasi itu. Sedangkan Soedjamoko berada di situ , karena Soedjatmoko kakak ipar
tuan rumah . Soedjatmoko yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Buku Pembangunan
mengetahui kalau Ratmini bekerja sebagai guru menggambar pada sebuah kursus
pendidikan kesejahteraan keluarga . Lantas menawarkan pada Ratmini agar bisa
membuat illustrasi untuk buku-buku yang mau diterbitkan . Pekerjaan Ratmini sebagai
illustrator itu tak pernah jadi dan yang pasti mereka menikah dan mendiami rumah di
jalan Tanjung 18, Menteng – Jakarta Pusat .Pasangan ini dikaruniai tiga putri bernama
Kemala Chandrakirana , Isna Marifa dan Galuh Wandita 37

Sebuah Pilihan

Mungkin pengalamannya yang segudang itu menyebabkan Presiden Soekarno


memanggil Soedjatmoko untuk duduk dalam sebuah kabinet 100 Menteri. Ia diminta
mengisi formulir yang salah satu pertanyaan mengenai bersedia atau tidak duduk dalam
kabinet . Soedjatmoko memberi jawaban malah ia mengajukan sejumlah prasyarat .
Presiden Soekarno marah besar melihat apa yang ditulisnya dan membuang formulir itu.

34
Soedjatmoko , Dimesi Manusia dalam Pembangunan , hal. 1 – 22 .
35
Ahmad Syafii Maarif , Islam dan Masalah Kenegaraan , ( Jakarta :LP3ES , 1985 ) , hal. 147.
36
Ibid, hal. 175 – 176.
37
MATRA , op.cit.
10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Presiden Soekarno mengutus Subandrio beberapa hari kemudian , untuk menyatakan


betapa marahnya Presiden Soekarno atas perlakukan Soedjatmoko itu.38

Ketika itu Soedjatmoko menyaksikan terjadinya pembusukan sistim politik


Indonesia. Penciptaan masyarakat yang demokratis yang merupakan tujuan akhir dari
pergerakan nasional telah ditinggalkan dan diganti dengan otorianisme. Di dalam
masyarakat terjadi konflik yang semakin meningkat tanpa ada penyelesaian . Kemiskinan
yang dipikir bisa diatasi dengan berakhirnya sistim kolonial ternyata masih merajalela .
Penarikan untuk memasuki lingkaran kekuasaan merupakan petunjuk yang jelas
pemihakannya terhadap rakyat . Dengan itu kredibilitas moral sebagai intelektual terjaga .
Sukmanya tak “ terjual “ oleh sikap membuta-tulikan akibat menggelagaknya hasrat
akan kekuasaan . Konflik dan dilemma moral bisa dipecahkannya. Soedjatmoko percaya
bahwa dengan duduknya ia dalam kabinet hanya akan menjadi sejenis tukang cap atau
pujangga kraton yang diminta melegitimasi beroperasinya kekuasaan .39

Tindakan Presiden Soekarno dengan menetapkan Demokrasi Terpimpin banyak


menimbulkan dilemma di kalangan PSI. Beberapa pemimpinnya bergabung dalam
Pemeberontakan PRRI pada tahun l958 mencela pemerintahan Soekarno dengan kata-
kata yang pedas. Kebanyakan lebih senang menyesuaikan diri dengan penuh bahaya
antara mengorbankan prinsip dan menghadapi sambil memelihara pengaruhnya yang
sangat kecil sebagai pengeritik yang matang terhadap rezim itu. Soedjatmoko menolak
bergerak di bawah tanah , karena ia menaruh keyakinan pada proses politik terbuka.
Tetapi ia juga dalam berupaya menciptakan perubahan melalui Liga Demokrasi .
Soedjatmoko percaya bahwa intelektual harus memainkan peranan aktif dalam
memperlancar dialog di dalam kelompok yang terlibat konflik , daripada ikut ambil
bagian dalam politik partisipasi. 40

Ketika Presiden Soekarno mengumumkan Penemuan Revolisi Kembali .


Soedjatmoko melontarkan sejumlah kritik sambil; mengulas Dr. Zhivago, karya
Sastrawan Rusia Boris Pasternak . Soedjatmoko menyatakan bahwa proses sejarah bukan
sebagai suatu usaha perkembangan menurut garis yang dapat ditentukan oleh kaum
revolusioner melainkan suatu proses yang tak selalu dan seluruhnya dikendalikan
menurut kehendak manusia. Ia memperingatkan bahwa filsafat politik tidak dapat
mencakup kehidupan manusia . Hidup ini senatiasa terelakan dari perangkap akal
manausia . Ia membela kehidupan manusia yang lebih kuat dan kaya akan kompleksitas .
41

Tulisan Soedjatmoko itu memperlihatkan posisi humanismenya. Suatu proses


yang diperolehnya dari pengembaraan yang jauh kedunianya serta pertemuan yang
tarumatik dengan revolusi. Demikian kata Aswab Mahasin . Sebagian yang telah dia
lakukan ketika mengelilingin Eropa yang mana ia pulang tanpa membawa suatu isme
karena kapitalisme dan sosialisme tak bisa menjawab persoalan-persoalan zamannya.
Memang Soedjatmoko tak mengabdi pada sesuatu isme melainkan mengabdi pada
38
Ibid .
39
Moehamad Somary , “ Koko Historis dan Koko Mitologis ,” Kompas , 5 Februari 1994.
40
Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko , op.cit.
41
Soedjatmoko ,. Etika Pembebasan , op.cit., hal. 35 – 42 .
11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

kemanusiaan yang mengandung segala yang baik dari sekalian isme . Ia bertemu dengan
manusia kongkrit .

Sebenarnya babak pertama dalam perjalanan intelektual Soedjatmoko , ia lebih


banyak bergerak dalam bidang kebudayaan . Kendati ia tak termasuk Sastrawan
Angkatan ‘ 45 atau bukan pendiri Lingkaran Gelanggang . Tulisannya mengenai sastra
dan kebudayaan sangat mendalam dan memperoleh sambutan . Tulisannya mengenai
krisis sastra awal tahun 1950-an mengundang perdebatan di mana ketika itu sedang
ramai-ramainya mempersoalkan Humanisme Universal karena dianggap bersemboyan “
Seni untuk Seni “ , Suatu tuduhan yang tak berlaku pada diri Soedjatmoko karena dia
menginginkan seni yang berisi. Soedjatmoko mungkin bisa dikatakan orang yang sangat
berpengaruh di kalangan humanis, karena latar belakangnya sebagai editor Siasat dan
kemudian melibatkan diri pada Lingkaran Gelanggang sebagai pengasuh budaya setelah
Chairil Anwar meninggal . Karena itu tulisan-tulisan kebudayaannya bercorak humanis.42

Ketika hiruk pikuk dan kemelut diakhiri dengan dekrit revolusi yang jauh
memecahkan persoalan pasca kemerdekaan . Iklim politik yang baru justru
menghidupkan mitos lama dan memperarak-arakan politik massa di tengah polarisasi
yang semakin tajam didalamnya. Dalam situasi yang tak cocok itu Soedjatmoko
menyatakan buah pikirannya dalam seminar tentang – Daya Cipta dan Pembangunan
yang diselenggarakan Majelis Ilmu Pengetahuan Umum di Bogor pada bulan Agustus
l961 .

Melalui tulisan Daya Cipta sebagai Unsur Mutlak dalam Pembangunan ,


Soedjatmoko mengeritik pembangunan yang mengarah pada ekonomi belaka. Ia
menyarankan suatu rancangan yang pragmatis dan dialektis dalam proses pembangunan
sambil menunjukkan betapa pentingnya penggunaan ilmu pengetahuan. Ia menjelaskan
bahwa revolusi ilmu pengetahuan merupakan kekuatan revolusioner yang paling
menentukan dalam kehidupan manusia di dunia ini karena telah melalui perubahan-
perubahan yang dashyat. Persoalan yang krusial adalah bagaimana menggunakan ilmu
pengetahuan untuk kepentingan pembangunan serta mengembangkan daya cipta kreatif
bangsa. Untuk mencapai tujuan itu ia menegaskan bahwa manusia dan daya ciptanya
harus dijadikan tujuan pembangunan . Untuk menciptakan daya cipta itu hanya bisa
dilakukan dengan suasana yang bebas. Kebebasan secukupnya perlu diberikan pada
aktivitas ilmiah agar bisa berkembang sesuai dengan hukum-hukumnyua yang otonom.
Sarjana dapat atau perlu diberikan kebebasan untuk bekerja sesuai dengan sifatnya agar
daya kreatifitas ilmiah bisa berkembang dan berguna bagi masyarakat. Berkaitan dengan
pendidikan ia menganggap perlu membebaskan pikiran para mahasiswa calon sarjana
dari segala kecenderungan ke arah absolutisme dan dogmatisme .43

Tulisan Soedjatmoko itu menimbulkan perdebatan yang mana menyebabkan MIPI


tidak berani menggandakan kepada peserta diskusi. Ada keinginan dari pihak pemerintah
untuk membahas tuklisan itu tetapi rupanya tidak jadi dilakukan .

42
Aswab Mahasin , op.cit.
43
Soedjatmoko , Dimensi Manusia dalam Pembangunan , hal. 23 – 62.
12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Satu bulan kemudian , Soedjatmoko menuju Amerika Serikat untuk memenuhi


undangan sebagai Visiting Profesor pada Universitas Cornell. Soedjatmoko dan
keluarganya berangkat ke negeri Paman Sam dan tinggal di sana selama setengah tahun .
Ketika itu kawan-kawannya antara lain Sutan Sjahrir , Soebadio Sastrosastomo dan
Mochtar Lubis dituduh melakukan perbuatan makar terhadap pemerintah Soekarno dan
dijebloskan dalam tahanan . Soedjatmoko kebetulan mengajar Sejarah Indonesia di
universitas terkenal di AS , ia tak ikut ditangkap. Ketika Soedjatmoko pulang,
pemerintahan Soekarno tak berminat menangkapnya.44

Ketika Soedjatmoko kembali ke Indonesia, ia mendapatkan kenyataan bahwa


harian Pedoman dan mingguan Siasat telah dibreidel oleh Pemerintah Soekarno.
Soedjatmoko praktis menganggur selama empat tahun sampai keruntuhan Pemerintahan
Soekarno dan ia mendapati kehidupan intelektual Indonesia telah lumpuh dan harus
digairahkan kembali Dalam situasi semacam itu Soedjatmoko mengambil prakrasa untuk
mengadakan diskusi-diskusi mengenai masalah modernisasi meskipun ketika itu bisa
dikategorikan oleh para juru bicara Demokrasi Terpimpin – Musuh Revolusi . Peserta
diantaranya Soe Hok Gie, Hazil, Zainal Zakse, Gunawan Mohammad , Onghokham,
Rosihan Anwar dan Maruli Silitonga. 45 Buku bacaan peserta diskusi di antaranya adalah
Daniel Lerner , The Passing of Traditional Society Modernizing in the Middle East (l958)
, Albert O’Hirschman , The Strategy Economic Development (l960) , W.N. Rostow ,
View from the Seventh Floor (l964) dan Eric Toffer, The Ordeal of Change (l963 ). 46

Soedjatmoko melihat kaum intelektual di masa pergerakan nasional mempunyai


tugas merebut kemerdekaan dengan solidaritas pada rakyat. Tetapi setelah kemerdekaan
tugasnya berubah menjadi mengintegerasikan Indonesia ke dalam suatu Indonesia baru
yang bersatu dan mengadakan pembangunan ekonomi secepat-cepatnya supaya tingkat
kehidupan bisa meningkat . Ketika itu kaum intelektual tidak tahu bagaimana
mengerahkan tenaga-tenaga rakyat sehingga tugasnya mengalami kegagalan . Kaum
intelktual tidak tahu cara bagaimana harus menjalankan dharmanya setelah pasca
kemerdekaan . Demikian pula dengan masa Demokrasi Terpimpin yang merupakan salah
usaha untuk mencapai suatu masyarakat adil dan makmur . Kaum intelektual pendukung
demokrasi terpimpin mencoba menyusun suatu susunan baru dari masyarakat Indonesia
tetapi tujuannya tidak tercapai karena tidak mengerti persoalan . Oleh karena itu
Soedjatmoko menganggap tugas kaum intelektual harus mencari , menelaah kembali
persoalan sebenarnya dari Indonesia . Diskusi merupakan salah satu media untuk
mencapai tujuan itu. 47

Ketika hegemoni demokrasi terpimpin dirasakan mulai mendekati keruntuhan ,


Soedjatmoko sebagai salah seorang yang menganjurkan tatanan politik baru mulai secara
diam-diam berusaha mempengaruhi Jendral Achmad Yani dan kelompoknya di Markas

44
Wawancara Seno Gumira Ajidarma dengan Soedjatmoko , loc. cit.
45
Arief Budiman , “ Mas Koko Dalam Hidup Saya ,” Kompas , 3 Januari 1990 dan DA Peransi , “ Bung
Koko Menjadi Oase ,” Suara Pembaruan , 23 Desember 1989 .
46
Rosihan Anwar , op.cit., hal. 285 – 295.
47
Soe Hok Gie , Catatan Seoranmg Demonstran , ( Jakarta : LP3ES , l983 ) , 146 – 149 .
13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Besar AD serta berusaha mempengaruhi intelektual agar universitas-unisveritas tetap


bebas dari pengaruh Soekarnois maupun Komunis. 48

Juru Bicara

Polarisasi masyarakat mencapai puncaknya pada tahun l965 dengan suatu


peristiwa pergolakan yang paling berdarah dalam sejarah modern. Sekitar setengah juta
dibunuh dalam pembantaian antar kelompok setelah peristiwa G30S/PKI . Pembunuhan
massal itu menjejalkan sebuah pelajaran yang menyakitkan hati bagi Soedjatmoko
mengenai kerapuhan struktur sosial dalam masyarakat majemuk . Betapa mudahnya
terjadi diintegrasi dan kekerasan mengalahkan proses perubahan yang teratur. Suatu
keyakinan yang kuat mengenai perlunya mekanisme efektif bagi penyelesaian konflik
dan ketangguhan sosial, ketika ia menyadari adanya konsekwensi yang sama sekali tidak
dimaksudkan ini. 49

Persoalan yang penting dalam awal orde baru adalah rehabilitasi , konsolidasi dan
stabilisasi . Dalam keperluan membiayai pembangunan diperlukan bantuan luar negeri .
Pergolakan yang menelan korban jiwa ratusan ribu orang , inflasi merajela hingga 650
persen setahun, pemerintahan baru yang dicap sebagai rejim yang didominasi oleh
fasisme Soeharto dan Nasution telah memberi citra yang kurang menguntungkan bagi
Indonesia. 50 Jendral Soeharto selaku Ketua Presedium Kabinet memutuskan agar
Indonesia bergabung kembali dengan PBB dan memulihkan hubungan dengan dengan
lembaga-lembaga keuangan internasional. Sri Sultan diberi tugas mengurus kembalinya
ke World Bank dan IMF sedangkan Adam Malik mengusahakan Indonesia masuk
kembali ke PBB . Untuk keperluan diplomasi tenaga Soedjatmoko dibutuhkan dan
ditugaskan sebagai wakil ketua delegasi Sidang Umum PBB ( l966) , Penasehat Delegasi
(l967) dan kemudian menjadi Penasehat Menteri Luar Negeri Adam Malik ( l968 –
1978 ).

Keberhasilan Soedjatmoko menjalankan tugasnya dengan baik, mengantarnya


untuk mendapat tugas sebagai duta besar untuk Amerika Serikat . Penerimaan tugasnya
sebagai duta besar ini berdasarkan keyakinan bahwa bangsanya hanya sebagian bisa
ditolong pihak luar . Tugas utamanya di sana , antara lain , adalah memenangkan
kredibilitas Orde Baru, termasuk di kalangan beberapa universitas seperi Cornell , yang
memicingkan mata terhadap kehadiran pemerintahan Soeharto . 51

Ketika itu dalam penampilan keluar, Adam Malik seorang sipil ditunjuk sebagai
Menteri Luar Negeri , sedangkan Soedjatmoko memangku jabatan kunci sebagai duta

48
Ulf Sundhaussen , Politik Militer Indonesia 1945 – 1966 , ( Jakarta : LP3ES , 1983 ) , hal. 392 – 393.
49
Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko , op.cit.
50
Juwono Audarsono , loc. cit.
515I
Ibid.
14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

besar di negara Paman Sam. Suatu wajah sipil yang diperlihatkan pada dunia luar karena
pentingnya memulihkan kepercayaan internasional atas gambaran yang baik terhadap
negara-negara Barat yang memberi bantuan keuangan dan pentingnya posisi AS
mengingat posisi kepemimpinannya di kalangan negara kapitalis dan badan
ienternasional seperti IMF dan World Bank , sudah merupakan keharusan bagi Indonesia
mengambil hati AS. Tentu saja menjadi tugas Soedjatmoko untuk mengangkat posisi
Indonesia dalam daftar prioritas penerima bantuan AS terutama dengan membentuk suatu
lobby di Washington . 52

Tugasnya sebagai duta besar dijalankan dengan efektif . Presiden Nixon dan
Sekretaris Negara Henry Kisinger menaruh perhatian atas pandangan-pandanganya yang
penuh pemahaman mengenai politik internasional. Banyak anggota Kongres AS yang
memberi perhatian karena perjalanan-perjalanannya di seluruh negeri Paman Sam.

Di sana ia mendapatkan waktu untuk tujuan-tujuan intelektual . Sebagai duta


besar Soedjatmoko bisa mengundang siapa pun untuk makan malam bersama. Dalam
kesempatan itu ia melibatkan diri dalam tukar pikiran dengan pemikir dan pembuat
keputusan yang ia kagumi seperti Edward Shils, Robert Nc Namara , Zbigniew Brenziki
dan Thomas Merthon, untuk menyebut sejumlah dari banyak orang dengan siapa
Soedjatmoko berhubungan . Selain itu teman dialognya meliputi wartawan senior ,
praktisi pembangunan , pembuat keputusan internasional dan para intelektual yang
berada di lingkungan perguruan tinggi . Keingintahuan Soedjatmoko mengenai dimensi
militer dalam tatanan politik dunia ia memprakarsai diskusi-diskusi dengan orang-orang
di Pentagon dan Rand Corporation .53

Sebagai seorang intelektual yang bekerja sebagai duta besar , ia mempunyai


kegemaran meminta staf kedutaannya membaca , memberi komentar dan mendiskusikan
pidato yang mau disampaikan di berbagai lembaga dalam berbagai kesempatan. 54 Salah
satu rintisan yang dilakukan adalah membuka rumah dinas maupun kedutaan besar
sebagai – Wisma Terbuka , di mana diskusi terbuka dilakukan oleh para warga negara
Indonesia di Washington dan sekitarnya . Bagi kebanyakan kalangan muda Indonesia ,
pertemuan dengan Soedjatmoko menambah gairah dan semangat memacu untuk
memperoleh sesuatu yang lebih baik 55

Pembawaan Soedjatmoko telah menimbulkan rasa hormat kaum intelektual di


sana . Perspektif Kebudayaan dan kesejarahan , penjelajahan yang jauh dalam filsafat
Eropah dan dunia manusia . Pembawaan yang tak navistik menerbitkan rasa hormat
orang lain dan membuka cakrawala yang lebih segar . Dua tahun berturut-turut dua
universitas AS memberinya gelar doktor honoris causa . Doctor of Law (l969) dari
Universitas Cedar Crest dan Doctor of Humanities (l970) dari Universitas Yale dan

52
Michael Leifer , Politik Luar Negeri Indonesia ( Jakarta : Gramedia , 1986 ), hal. 190 dan Harlod
Crouch , Militer dan Politik , ( Jakarta : Sinar Harapan , 1986 ) , hal. 269 – 272 dan Mochtar Mas’oed ,
Ekonomi dan Struktur Politik , ( Jakarta : LP3ES , 1989 ) , hal. 73-74.
53
Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko .
54
Umar Kayam ,” Koko – Soedjatmoko ,” Tempo, 30 Desember 1989 , hal. 82.
55
Juwono Sudarsono , loc.cit .
15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

tahun ketiga , ia diangkat menjadi anggota kehormatan American Academy of Arts and
Science (l971 ). 56

Ketika ia masih menjabat duta besar , Soedjatmoko diminta berbicara di depan


The Asia Society di New York (l970) mengenai dunia dalam intelektual dunia negera
berkembang . Soedjatmoko yang berada dalam stuktur kekuasaan melalui ceramah
Cendikiawan di negara berkembang menjelaskan dilemma yang dihadapi seorang
intelektual . Menurut Soedjatmoko pilihan seorang intelektual tidak mutlak terbatas pada
kedua ekstrem – menggabungkan diri daripada kandang inetelektual yang membebek
kepada diktaktor atau masuk penjara . Kelonggaran ini disebabkan karena dikebanyakan
negara berkembang struktur kekuasaan tidak stabil dan bersifat tidak effisien . Biarpun
secara resmi kebebasan dihambat , namun beberapa keadaan seorang intelektual daoat
bekerja dengan suatu taraf effektifitas , sekalipun tidak secara terbuka . Ia akan
menggantikan serangan umum yang menyeluruh dengan suntikan-suntikan yang terarah
ke dalam sela-sela struktur kekuasaan dan masyarakat pada umumnya. Peranan mana
yang dipilihnya, intelektual kita harus membayar harganya. Seorang intelektual yang
berada di luar maupun di dalam kemelut politik harus berusaha menyusun didalam materi
yang tersedia . Untuk melakukannya bisa jadi ia terpaksa mengotori tangannya ,
melibatkan diri di dalam situasi yang menjadikan sasaran kritik dan tertawaan , dan
dalam mengikuti arah ini ia mungkin kehilangan jiwanya. 57

Berumah di Angin

Ketika Soedjatmoko kembali dari Washington ke Indonesia, dia mendapati


Indonesia telah dikendalikan dengan pemikiran tunggal menuju arah pertumbuhan
ekonomi dan stabilitas politik. Pertumbuhan ekonomi dan stabilitas diprioritaskan
terhadap keadilan, kontrol menggantikan kebebasan , partisipasi rakyat ditinggalkan demi
effisiensi . Apa yang disaksikan hanya membuat hatinya risau . Ketimpangan struktural
yang menjadi pusat perhatiannya ditangani setengah hati. Model-model ekonomi yang
mendominasi pengambil keputusan dipertanyakan dan dianggap tidak memperhitungkan
dinamisme yang kompleks dari perubahan sosial . Pembawaannya yang kritis
menyebabkan ia jauh dari ruang-ruang pengambil keputusan dan memberi dorongan pada
karir internasional .58

Kendati ia berada pada tepi kekuasaan politik , sebagaimana yang ia inginkan .


Sebagai layaknya seorang intelektual , ia tetap memberi saran-saran ke dalam sentrum –
sentrum politik , mungkin semua itu diterima sebagai rasa hormat ketimbang didengar
atau dijalankan . Ketika peran politiknya berada di bawah, justru peranan sebagai
intelektual semakin memuncak . Soedjatmoko diterima dunia intelektual dengan rasa

56
Aswab Mahasin , op.cit.
57
Soedjatmoko , Etika Pembebasan , op.cit, hal. 233 – 249 .
58
Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana oedjatmoko , op.cit.
16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

hormat . Ia diminta hadir di hampir semua pertemuan ilmiah yang penting untuk
memberi wawasan yang kadangkala menjadi kunci dan pemberi arah . 59

Soedjatmoko mengingatkan pada sesama intelektual , ketika dalam perjalanannya


keliling Asia dalam berbagai pelajaran yang ia dapatkan dari upaya pembinaan bangsa
yang dilakukan oleh Indonesia bahwa pembangunan tidak hanya berarti pertumbuhan
yang lebih besar dan effisiensi, tetapi juga berarti dislokasi sosial dan politik. Perubahan
sosial yang pesat menyertainya bisa juga menyebabkan disorientasi , frustasi dan
keputusasaan meskipun pembinaan bangsa memunculkan harapan dan visi masa depan
yang lebih cerah . Ia menekankan perlunya upaya untuk menjaga keseimbangan dinamis
antara pertumbuhan, keamanan dan keadilan sosial, setelah menyaksikan betapa
rapuhnya struktur sosial di dalam masyarakat majemuk yang penuh konflik . Ia
menegaskan bahwa “ kondisi meterial di mana kebebasan manusia menjadi bermakna “
merupakan tujuan dari pencapaian kemerdekaan politik dan pelaksanaan upaya
pembangunan .

Ia menganggap model-model yang ditawarkan oleh ideologi Barat tidak pas untuk
pembangunan di kawasan Asia . Ia berbagi keyakinan bahwa peradaban Asia dapat
menyanjikan model pembangunan alternatif – suatu konsep pembangunan yang tidak
bertujuan pada kemakmuran , tetapi kecukupan , dan konsep hak-hak serta pemilikan
perseorangan yang dibatasi oleh kepentingan umum. Soedjatmoko menggarisbawahi
terus berlangsungnya kesenjangan internasional antara bangsa-bangsa di Utara dan
Selatan . Suatu pernyataan yang disampaikan kepada sesama intelektual di Barat dan ia
menganggap perlunya redefinisi hubungan Utara-Selatan dengan menciptakan tata
internasional

Dapat memungkinkan perubahan-perubahan struktural yang besar yang diperlukan untuk


menjamin kelangsungan kebebasan , keadilan dan tata hidup yang beradab dalam dunia
penuh kekurangan , tanpa merusak pluralisme yang merupakan prasyarat penting bagi
kelangsungan sistim ienternasional 60

Keanggotaannya dalam komunitas inteletual dunia memberikan kepadanya suatu


tempat khusus di kalangan cerdik pandai di Indonesia. Ketajaman dan keleluasaan
intelektual serta pembawaannya menimbulkan pesona pada komunitas intelektual di luar
maupun dalam negeri . Hanya sedikit orang yang mendengar dia yang tidak terkesan .
Mungkin tak ada pemikir Indonesia yang mencapai kedudukan sebagaimana yang
Soedjatmoko peroleh secara internasional . Sejak ia berbicara mengenai “ dunia dalam “
intelektual dunia ketiga di depan The Asia Society dan memperoleh penghargaan di
negara Paman Sam telah menyebabkan Soedjatmoko banyak diminta dalam serentetan
konferensi, pertemuan dan peristiwa-peristiwa politik.

Rupanya popularitasnya yang diperoleh telah memberi rasa kecewa yang


mendalam , ketika ia mulai dipandang sebagai ancaman terhadap mereka yang
menganggap debat publik sebagai tantangan . Ia dituduh mendalangi Peristiwa Malari

59
Aswab Mahasin , op.cit .
60
Kathlen Newland dan Kemala Chndra Kirana Soedjatmoko , op.cit .
17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

pada tahun l974 . Ia menjalani beberapa minggu interogasi yang intensip dan tidak jadi
dijebloskan dalam penjara tetapi dilarang meninggalkan Indonesia selama dua setengah
tahun. Selama itu Soedjatmoko terus-menerus menulis dengan perhatian pada masalah
pendidikan agama, kebudayaan maupun kemiskinan struktural serta perkembangan
negara birokrat yang otoriter dan tersentralisasikan .61

Kertas kerja Soedjatmoko yang berjudul National Policy of the Basic Need
Model ,Yang diselenggarakan Dewan Penasehat untuk Kerjasama Pembangunan , pada
bulan Februari l978 , telah mengantarkan Soedjatmoko memperoleh hadiah Magsaysay .
Alasan diberikan anugerah tersebut kerena dia dianggap seorang sejarawan sosial dan
Soedjatmoko “ telah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam merangsang
orang Asia dan bangsa-bangsa lainnya untuk melihat lebih seksama cara-cara hidup
rakyat pedesaan , yang akan mereka modernisir , ia telah melakukan usaha –usaha
meningkatkan kesadaran essensil dimensi kemanusian bagi semua segi pembangunan” (
62

Dalam kertas kerjanya yang mendapat penghargan tinggi di kalangan para


pemikir masalah pembangunan internasional , ia membahas mengenai kemampuan suatu
siteim politik untuk menangani kebutuhan pokok dasar dan mengenai sifat perubahan
sosial serta landasan ideologis dalam menentukan kebutuhan pokok dasar. 63 Ketika ada
yang bertanya , hadiah uang sebesar 20 ribu dollar dari Yayasan Hadiah Magsay-say akan
dipergunakan untuk apa saja ? Soedjatmoko dengan polos menyatakan bahwa dia tidak
tahu harus dipergunakan untuk apa, karena baru pertama kali ia menerima uang
sebanyak itu. 64

Dunia Ilmu

Pertengahan tahun l980 , Soedjatmoko dipercaya sebagai Rektor Universitas


PBB. Sebenarnya ia bimbang mendapat tawaran itu “ Saya kuatir akan tercerabut dari
akar bumi saya Indonesia , Sumber inspirasi saya sebenarnya .” kata Soedjatmoko . 65
Kemudian dia memutuskan untuk menerima tawaran itu . Universitas yang dipimpinnya
berbeda dengan universitas lain pada umumnya. Universitas ini hanyalah pusat kegiatan ,
yang sumbernya dari masyarakat ilmuwan dari segala penjuru dunia. Tugas semacam itu
bukan merupakan suatu yang asing bagi Soedjatmoko yang pernah terlibat dalam
kegiatan penelitian, diantaranya anggota Club of Roma, Adv. Council International
Institut for Environment and Development (London ) dan Aspen Institut for Humanistic
Studies ( Colorado ).

Tugas universitas PBB yang mempelajari berbagai masalah dan berusaha mencari
jalan keluar . Masalah yang menjadi perhatiannya , ketika ia menjadi Rektor Universitas
61
Ibid .
62
Sinar Harapan , 1 September 1978 .
63
Soedjatmoko , Manusia dalam Dimensi Pembangunan , op. cit, hal. 125 – 155 .
64
Sinar Harapan , 2 Agusrus dan 1 September 1978 .
65
Suara Pembaruan , 11 Juli 1987 dan Kompas , 16 Oktober 1987 .
18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

PBB di Tokyo . (1) Perdamaian keamanan – Pemecahan konflik dan transformasi


menyeluruh ; (2) Ekonomi yang menyeluruh ‘ (3) Kelaparan, Kemiskinan , Sumber alam
dan lingkungan ; (4) Pengembangan manusia, sosial dan koeksistensi bangsa , sistim
budaya dan sosial ; (5) Ilmu teknologi , implikasi sosial dan etis . 66 .

Soedjatmoko yang kesukannya akan rawon , soto babat dan paruh goreng itu
mengaku bahwa pekerjaannya di sana sangat menyita waktunya dan waktu luang yang
diperoleh ketika berada di pesawat terbang “ Seumur hidup saya belum pernah bekerja
berat seperti sekarang . Padahal , saya anggap diri saya rajin setengah mati ‘, kata
Soedjatmoko . Kendati pun demikian ia menyukai pekerjaan yang penuh dengan
tantangan dan inovasi itu . 67

Pada tahun-tahun Soedjatmoko menjabat sebagai Rektor Universitas PBB . Ada


tiga bukunya yang diterbitkan . Buku pertama berjudul “ Development and Fredom
( Tokyo; The Simul Press, l980 ), Buku tersebut merupakan rangkaian ceramah
Soedjatmoko pada acara ceramah Ishizaka di Jepang pada bulan Maret l979. Buku kedua
dan ketiga berjudul “ Dimensi Manusia dalam Pembangunan ( Jakarta : LP3ES, l983 )
dan Etika Pembebasan ( Jakarta ; LP3ES, l984 ) Kedua buku tersebut merupakan
kumpulan tulisan Soedjatmoko yang tersebar di berbagai kesempatan .

Menelaah kembali tulisan-tulisannya, konsistensi yang luar biasa bisa


diketemukan dalam nada dan tema-tema yang menjadi perhatiannya sejak tulisannya
yang paling awal dan akhir . Tulisan dibangun berdasarkan pengalaman , pengamatan ,
permenungan , perbandingan dan upaya pencarian pemahaman yang tidak kenal lelah .
Soedjatmoko tetap optimis mengenai adanya kemungkinan untuk membasmi perilaku
destruktif , kemiskinan, kebodohan, ketidakamanan dan ketakutan terhadap segala seuatu
yang tidak dikenal. Meskipun ia mengetahui bahwa umat manusia tengah ambil bagian
secara aktif dalam proses penghacuran dirinya. Ia percaya pada upaya pemeliharaan
keutamaan-keutamaan masyarakat beradab , seperti sikap menahan diri, keberadaan
toleransi , harga diri dan penghargaan terhadap orang lain . 68

Berakhirnya jabatan sebagai Rektor PBB setelah dua kali menjabat ( l987 )
Soedjatmoko memutuskan untuk kembali ke Indonesia meskipun ia meperoleh tawaran
dari Institut of Advanced Studie , Princenton University untuk bermukim di sana sebagai
Resident Schollar dan menulis buku mengenai masalah apa saja yang ia sukai .
Soedjatmoko sadar bahwa bangsa Indonesia sedang menggumuli masalah-masalah besar
karena dampak kemajuan pembangunan . Perubahan-perubahan besar sedang terjadi di
masyarakat Indonesia justru karena usaha pembangunan yang terus-menerus dan
perubahan-perubahan besar yang terjadi dunia karena dampak kemajuan teknologi ,
khususnya teknologi komunikasi . Pemerintahan Soeharto tak menyediakan jabatan
formal bagi seseorang yang berusia diatas 65 tahun keatas . Soedjatmoko sendiri
beranggapan bahwa sebaiknya tak semua intelektual masuk dalam lingkaran kekuasaan .

66
Ibid.
67
Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko , op.cit.
68
Kathlen Newland dan Kemala Chandra Kirana Soedjatmoko , op.cit.
19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Ada yang harus berada di luar gelanggang agar perimbangan antara negara dan
masyarakat terjaga .

Soedjatmoko yang pertugas di Jepang itu memperoleh The Grand Gordon of


The Order of the Sacred Treasure ( Bintang Tanda Jasa Harta Suci Agung ) dari kaisar
Jepang pada tahun l988 . Ia dianggap memperkokoh hubungan antara Universitas PBB
dengan Jepang , misalnya melalui pembentukan suatu Komite Pertimbangan untuk
memajukan kerjasama antara Universitas PBB dan kelompok Ilmu dari Jepang dan jasa
lain adalah peningkatan pengertian masyarakat Jepang atas masalah-masalah dunia ketiga
. Tulisan-tulisan yang berjudul Development and Fredom . Tulisan ini menarik
perhatian masyarakat Jepang karena Soedjatmoko membicarakan masalah peranan yang
harus dimainkan Jepang dalam menatap masa depan . Ia mendesak Jepang untuk
memainkan peranan yang lebih aktif dalam suatu masyarakat global . 69

Titik Akhir

Setelah Soedjatmoko kembali dari Jepang ke Indonesia , Soedjatmoko


memperoleh kehormatan umtuk berceramah “ Tanggung Jawab dan Tantangan Zaman “
dalam acara peringatan Nuzul Q’uran pada tahun l949 H yang diselenggarakan pada
tanggal 22 April l989 di Masjid Istiqal , Jakarta . Soedjatmoko mulai menyadari bahwa
sebenarnya dia adalah orang Islam , ketika ia mendengar suara azan subuh pada waktu
dia menghadiri pertemuan Agha Khan Foundation di Tengiers, Maroko pada tahun l985 .
Ketika itu hatinya tergetar dan lalu menangis . Kejadian itu dianggap Soedjatmoko ,
karena Sang Pencipta tidak membiarkan hambanya berada dalam kebimbangan .
Meskipun sebelumnya Soedjatmoko , Ratmini dan kakaknya Siti Wahyunah pernah
melakukan ibadah umroh .70 Dalam ceramahnya Soedjatmoko menjelaskan sejumlah
keprihatinan pada umat manusia sekarang yang memberi suatu peranan baru kepada
agama-agama di dunia ini . Tanggung jawab agama-agama di dunia harus mampu
mengindentifikasikan segi etis atau sosial , dan harus mampu membina kaummnya dalam
penalaran etis atau ijtihad supaya masyarakat bisa berkembang sebagai hasill
pembangunan yang tidak berbeda dengan yang diidam- idamkan oleh masyarakat . 71
Soedjatmoko dimasa tuanya sering berbicara masalah agama dan etika sehingga
pengeritiknya menyebutkan kemungkinan Soedjatmoko frustasi di tengah dunia yang
semakin totaliter . Terlepas jawaban itu yang bisa diberikan . Tetapi yang jelas
Soedjatmoko menyadari benar bahwa ideologi dunia yang besar yang turut menentukan
jalan sejarah telah ambruk . Hanya puing-puing ideologi yang berserakan . Soedjatmoko
sedang mencoba mencari bagaimana agama dan etika bisa menjadi jalan keluar atas
semua kekalutan dan kehancuran ideologi besar . 72

69
Tempo, op.cit.
70
Rosahan Anwar , Menulis Dalam Air , op.cit dan Matra , loct . cit dan Tempo, op.cit.
71
Kompas , 22 April 1989 dan Soedjatmoko , Tanggung Jawab Agama dan Tantangan Zaman , “ Jawa
Pos , 24 April 1989 .
72
Kompas, 3 Januari 1992 .
20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Prestasi yang diraih Soedjatmoko selama ini benar-benar menganggumkan. Ia


hanya mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran yang dipecat dan mengeyam pendidikan
selama satu semester di Universitas Harvard (AS) pada awal tahun l950-an. Ia
memperoleh pengetahuan internasional yang begitu tinggi . Suatu prestasi yang belum
tentu bisa diperoleh seorang cendikiawan yang mempunyai pendidikan tinggi dalam
suatu era teknorat di mana kecakapan diperoleh melalui pendidikan yang lama.

Meskipun ia memperoleh reputasi terhormat dalam komunitas intelektual . Ia


memperoleh kritik dari negerinya sendiri yang mengatakan bahwa ia tidak pernah
menjalankan apa yang dipikirkan menjadi kenyataan dalam kehidupan . Soedjatmokop
menganggap bahwa sumbangan pada perdebatan mengenai dunia yang lebih baik dan
tidak memperoleh kesempatan untuk mempraktekan gagasan yang dikembangkan itu “
Apakah kita secara pribadi akan pernah mendapat kesempatan untuk turut mengatur
negara ini . Itu soal lain ,” kata Soedjatmoko. 73 Ia hanya bertugas menjelaskan mengenai
dunia pada masyarakatnya .

Di tengah dunia yang menghadapi suatu perubahan yang begitu mendasar dan
memberi suatu perangkat tantangan yang baru sama sekali , yang belum pernah dihadapi
umat manusia sebelumnya dan dan memberi dampak yang dirasakan di semua sektor
kehidupan . Soedjatmoko yang tetap gelisah dan mencoba mencari jawaban –jawaban
dalam menghadapi tantangan zaman . Dihadapan sejumlah intelektual yang kebanyakan
lulusan Barat di kota Yogyakarta pada tanggal 21 Desember l989., Soedjatmoko
mengeritik kaum intelektual Indonesia yang terpenjara oleh keadaan zaman ketika ketika
itu dan dinggap segan memikirkan keadaan 25 tahun mendatang . Itu pesan terakhir
Soedjatmoko kepada kaum intelektual Indonesia . Ketika Soedjatmoko sedang
berbicara , Soedjatmoko jatuh pingsan . Kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Prof
Soedjito . Di sana ,Soedjatmoko menghembuskan nafas terkahir. Soedajtmoko tak pernah
berbicara lagi . Walaupun masih banyak pendengarnya ingin mendengar pikiran-pikiran
Soedjatmoko yang cemerlang dengan bobot kearifan . Kini kursi Dekan Inteletual Bebas
Indonesia kosong.

73
Mochtar Buchori , “ Dia Seorang Moralis Besar , “ Amanah , No. 91 , 29 Desember 1989 .
21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com