Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

HIDRAMNION

A. Konsep Dasar Medis


1. Definisi

Hidramnion ringan didefinisikan sebagai kantong-kantong yang berukuran vertical


8 sampai 11 cm terdapat pada 80% kasus dengan cairan berlebihan. Hidramnion
sedang didefinisikan sebagai kantong-kantong yang hanya mengandung bagian-
bagian kecil dan berukuran 12-15 cm dijumpai pada 15%, hidramnion berat
didefinisikan sebagai adanya janin mengambang bebas dalam kantong cairan yang
berukuran 16 cm atau lebih (F. Gary dkk, 2005).

Hidramnion atau poli hidramnion adalah suatu kondisi dimana terdapat keadaan
dimana jumlah air ketuban melebihi dari batas normal. Untuk keadaan normal air
ketuban berjumlah sebanyak antara 1-2 liter, sedangkan kasus hidramnion melebihi
batas dari 2 liter yaitu antara 4-5 liter. Hidramnion ini adalah kebalikan dari oligo
hidramnion yaitu kekurangan air ketuban. (Rustam Muchtar, 1998)

2. Etiologi

Menurut dr. Hendra Gunawan Wijanarko, Sp.OG dari RSIA Hermina Pasteur,
Bandung (2007) menjelaskan bahwa hidromnion terjadi karena:
a) Produksi air jernih berlebih
b) Ada kelainan pada janin yang menyebabkan cairan ketuban menumpuk, yaitu
hidrocefalus, atresia saluran cerna, kelainan ginjal dan saluran kencing
kongenital
c) Ada sumbatan / penyempitan pada janin sehingga dia tidak bisa menelan air
ketuban. Alhasil volume ketuban meningkat drastis
d) Kehamilan kembar, karena adanya dua janin yang menghasilkan air seni.
e) Ada proses infeksi.
f) Ada hambatan pertumbuhan atau kecacatan yang menyangkut sistem syaraf
pusat sehingga fungsi gerakan menelan mengalami kelumpuhan
g) Ibu hamil mengalami diabetes yang tidak terkontrol
h) Ketidak cocokan / inkompatibilitas rhesus
3. Patofisiologi

Pada awal kehamilan, rongga amnion terisi oleh cairan yang komposisinya sangat
mirip dengan cairan ekstrsel. Selama paruh pertama kehamilan, pemindahan air dan
molekul kecil lainnya berlangsung tidak saja melalui amnion tetapi juga menembus
kulit janin. Selama trimester kedua, janin mulai berkemih, menelan, dan menghirup
cairan amnion (Abramovich dkk. 1979; Duenhoelter dan Pritchard, 1976). Proses-
proses ini hampir pasti secara bermakana mengatur pengendalian volume cairan.
Walaupun pada kasusu hidramnion epitel emnion sering dianggap sebagai
sumberutama cairan amnion belum pernah ditemukan adanya perubahan histologik
pada amnion atau perubahan kimiawi pada cairan amnion.

Karena dalam keadaan normal janin menelan cairan amnion, diperkirakan bahwa
mekanisme ini adalah salah satu cara pengaturan volume cairan ketuban. Teori ini
dibenarkan dengan kenyataan bahwa hidramnion hampir selalu terjadi apabila janin
tidak dapat menelan, seperti pada kasus atresia esophagus. Pros ini jelas bukan satu-
satunya mekanisme untuk mencegah hidramnion. Pritchard (1966) dan Abramovich
(1970) mengukur hal ini dan menemukan bahwa pada beberapa kasus hidramnion
berat, janin menelan cairan amnion dalam jumlah yang cukup banyak.

Hidramnion terjadi bila produksi air kutuban bertambah , bila pengaliran air ketuban
ternganggu atau kedua duanya. diduga air ketuban dibentuk dari sel-sel amnion, Di
samping itu ditambah oleh air kencing janin dan cairan otak pada anensefalus. Air
ketuban yang dibentuk secara rutin dikeluarkan dan diganti dengan yang baru. Salah
satu cara pengeluarannya ialah ditelan oleh janin, di absorpsi kemudian dialirkan ke
plasenta untuk akhirnya masuk peredaran darah ibu. Ekresi air ketuban akan
terngangu bila bayi susah menelan seperti pada atresia esophagus atau tumor tumor
plasenta. pada anencepalus disebabkan pula karena transudat cairan dari selaput
otak dan sumsum tulang belakang dan berkurangnya hormone antideuretik.

Hidramnion yang sering terjadi pada diabetes ibu selama hamil trimester ketiga
masih belum dapat diterangakan. Salah satu penjelasannya adalah bahwa
hiperglikemia ibu menyebabkan hiperglikemia janin yang menimbulkan diuresis
osmotik. Barhava dkk (1994) membuktikan bahwa volume air ketuban trimester
ketiga pada 399 diabetes gestasional mencerminkan status glikenik terakhir. Yasuhi
dkk. (1994) melaporkan peningkatan produksi urin janin pada wanita diabetic yang
puasa dibandingkan dengan control nondiabetik. Yang menarik, produksi urin janin
meningkat pada wanita nondiabetik setelah makan, tetapi hal ini tidak dijumpai
pada wanita diabetik.
4. Tanda dan Gejala
1) Tanda

a. Ukuran uterus lebih besar disbanding yang seharusnya

b. Identifikasi janin dan bagian janin melalui pemeriksaan palpasi sulit dilakukan

c. Djj sulit terdengar

d. Balotemen janin jelas

2) Gejala

a. Sesak nafas dan rasa tak nyaman di perut

b. Gangguan pencernaan

c. Edema

d. Varises dan Hemoroid

e. Nyeri abdomen (Hanifa, 2005)


5. Penatalaksanaan
1) Waktu hamil
a. Hidromnion ringan jarang diberi terapi klinis, cukup diobservasi dan
berikan terapi simptomatis.
b. Ajarkan klien untuk melaporkan setiap tanda ruptur membrane atau
kontraksi uterus.
c. Bantu klien untuk menghindari konstipasi dengan cara meningkatkan
masukan serat dalam diet atau dengan menggunakan pencahar sesuai resep
karena terdapat kemungkinan terjadi rupture membran akibat peningkatan
tekanan uterus.
d. Ingat bahwa agens antiinflamasi nonsteroid seperti indometachin dapat
efektif dalam menurunkan pembentukan cairan amnion.
e. Persiapkan tokolisis dengan magnesium sulfat untuk mencegah atau
menghentikan persalinan premature.
f. Pada hidromnion yang berat dengan keluhan-keluhan, harus dirawat
dirumah sakit untuk istirahat sempurna. Berikan diet rendah garam. Obat-
obatan yang dipakai adalah sedativa dan obat diuresis. Bila sesak hebat
sekali disertai sianosis dan perut tengah, lakukan pungsi abdominal pada
bawah umbilikus. Dalam satu hari dikeluarkan 500cc per jam sampai
keluhan berkurang. Jika cairan dikeluarkan dikhawatirkan terjadi his dan
solutio placenta, apalagi bila anak belum viable. Komplikasi pungsi dapat
berupa :
1. Timbul his
2. Trauma pada janin
3. Terkenanya rongga-rongga dalam perut oleh tusukan
4. Infeksi serta syok
5. bila sewaktu melakukan aspirasi keluar darah, umpamanya janin
mengenai placenta, maka pungsi harus dihentikan.

2) Waktu partus
a. Bila tidak ada hal-hal yang mendesak, maka sikap kita menunggu.
b. Persiapkan tokolisis dengan magnesium sulfat untuk mencegh atau
menghentikan persalianan premature.
c. Bila keluhan hebat, seperti sesak dan sianosis maka lakukan pungsi
transvaginal melalui serviks bila sudah ada pembukaan. Dengan memakai
jarum pungsi tusuklah ketuban pada beberapa tempat, lalu air ketuban akan
keluar pelan-pelan.
d. Bila sewaktu pemeriksaan dalam, ketuban tiba-tiba pecah, maka untuk
menghalangi air ketuban mengalir keluar dengan deras, masukan tinju
kedalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar
pelan-pelan. Maksud semua ini adalah supaya tidak terjadi solutio placenta,
syok karena tiba-tiba perut menjadi kosong atau perdarahan post partum
karena atonia uteri.

3) Post partum
a. Harus hati-hati akan terjadinya perdarahan post partum, jadi sebaiknya
lakukan pemeriksaan golongan dan transfusi darah serta sediakan obat
uterotonika.
b. Untuk berjaga-jaga pasanglah infus untuk pertolongan perdarahan post
partum
c. Jika perdarahan banyak, dan keadaan ibu setelah partus lemah, maka
untuk menghindari infeksi berikan antibiotika yang cukup.
d. Kaji bayi baru lahir dengan cermat terhadap factor yang dapat
membuatnya tidak mampu menelan in utero.

6. Pemeriksaan Penunjang

1. Foto rontgen (bahaya radiasi)


2. USG
Banyak ahli mendefinisikan hidramnion bila indeks cairan amnion (ICA)
melebihi 24-25 cm pada pemeriksaan USG. Berdasarkan pemeriksaan USG,
hidramnion terbagi menjadi :
a. Mild Hydramnion (hidramnion ringan), bila kantung amnion mencapai 8-11
cm dalam dimensi vertical. Insiden sebesar 80% dari semua kasus yang terjadi
b. Moderate Hydramnion (hidramnion sedang), bila kantung amnion mencapai
12-15 cm dalamnya. Insiden sebesar 15%.
c. Severe Hydramnion (hidramnion berat), bila janin ditemukan berenang dengan
bebbas dalam kantung amnion yang mencapai 16 cm atau lebih besar. Insiden
sebesar 5%.

7. Komplikasi

Hidramnion dapat menimbulkan komplikasi lanjut seperti :


1. Malpresentasi janin (bokong janin berada di posisi terendah di dalam
panggul contoh : sungsang dan melintang )
2. Pelepasan plasenta premature (abrusio)
3. Disfungsi uterus selama persalinan
4. Perdarahan pasca partum segera sebagai akibat atoni uterus dari overdistensi
5. Prolapps tali pusat
6. Persalinan premature (Varney, helen.2011)

B. Konsep Dasar Keperawatan


1. Pengkajian
1.1 Identitas pasien
Dalam pengkajian, hal-hal yang perlu dikaji seperti : nama pasien, umur, alamat,
pekerjaan, agama, suku, nama penanggung jawab, hubungan penanggung jawab
dengan klien dan sebagainya.
1. 2 Keluhan utama
Merupakan alasan utama pasien masuk atau datang ketempat pelayanan kesehatan
dan apa-apa saja yang dirasakan pasien. dalam kasus polihidramnion ini keluhan
utama yang biasa ditemui :
a. perut lebih berat dan lebih besar dari biasanya
b. mengeluh sesak nafas
c. mual muntah
d. nyeri pada ulu hati dan perut karena tegangnya uterus
1.3 Riwayat kesehatan
a. Lalu : mengetahui kemungkinan pasien ada menderita penyakit jantung,
hipertensi, diabetes melitus, hepatitis dan TBC.
b. Sekarang : mengetahui kemungkinan ibu sedang menderita penyakit jantung,
hipertensi, diabetes melitus, hepatitis, TBC. Yang harus diperhatikan yaitu penyakit
jantng dan diabetes melitus karena polihidramnion sering berkaitan degan
keduanya.
c. Keluarga : mengetahui kemungkinan dalam anggota keluarga ada yang menderita
penyakit menular, menahun dan keturunan, riwayat kehamilan kembar.
d. Riwayat pernikahan
e. Riwayat menstruasi
f. Riwayat kehamilan dan persalinan
g. Riwayat Kontrasepsi
Mengetahui apa jenis kontrasepsi yang digunakan ibu, berapa lamanya, apa
masalahnya, atau efek samping yang dirasakan ibu, serta apa alasan ibu untuk
berhenti memakai kontrasepsi.
1. 4 Pemeriksaan fisik
1) Aktifitas
a. kelelahan,
b. aktivitas menurun karena perut terasa tegang dan lebih berat dari biasanya
2) Sirkulasi
a. TD dan nadi mungkin menurun yang berhubungan dengan kompresi vena
kava
b. DJJ sulit terdengar
c. Waspada terhadap adanya deselerasi variebel yang dapat berindikasi
prolaps tali pusat
d. Sionasis
3) Integritas ego
Kehamilan biasanya direncanakan.
4) Eliminasi
a. Konstipasi,
b. Oliguria berat
5) Makanan dan carian
Sirkulasi pada daerah ekstremitas bawah menurun, sehingga kemungkinan
ada edema karena uterus yang terus menerus menegang akan menekan
diafragma dan pembuluh darah pelvis
6) Neurosensori
Dapat mengalami kesulitan fungsi otot ( misal sklerosis multiple, miastenia
gravis, paralisis)
7) Pernapasan
Sesak nafas yang parah
8) Seksualitas
a. Fundus uteri lebih tinggi dari tuanya kehamilan sesungguhnya
b. Vulva dan perineum membengkak
c. Kaji diameter pelvis

1. 5 Pemeriksaaan diagnostik
1). USG : AFI di atas 25 cm atau poket lebarnya di atas 8 cm.
2). Tes toleransi glukosa : untuk mengetahui adanya indikasi diabetes gestasional.
Ibu yang mengalami diabetes gestasional beresiko tinggi mengalami hidramnion.
3). Jumlah trombosit : Pada ibu dengan riwayat perdarahan jumlah trombosit
meningkat
4). Urinalisis : Mendeteksi bakteriuria
5). Pemeriksaan koagulasi (APPT. PPT, PT) : Mengidentifikasi kelainan
pembekuan bila ada perdarahan. Pada Kehamilan dengan hidramnion, resiko
terjadinya perdarahan sangat tinggi.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Kerusakan pertukaran gas b/d tekanan pada diafragma, sekunder akibat
hidramnion

b. Anxietas b/d hasil kehamilan yang tidak diketahui

c. Intoleransi aktivitas b/d dispneu

3. Intervensi Keperawatan
Dx1 : Kerusakan pertukaran gas b/d tekanan pada diafragma, sekunder akibat
hidramnion

Tujuan : setelah dilakukan intervensi, gangguan pertukaran gas teratasi

Kriteria Hasil :

a. Pasien tidak sesak lagi

b. RR normal (18-20 x/menit)

c. Klien merasa nyaman

Intervensi Dx1 :

1. Kaji kelainan pernapasan yg dapat mempengaruhi fungsi paru, seperti asma atau
tuberkulosis, frekuensi pernapasan, atau upaya ibu dan munculnya bunyi nafas.
Rasional : Kondisi ini, baik yg ada sebelum atau selama kehamilan, yang
meenurunkan atau mempengaruhi kapasitas pertukaran oksigen, menganggu
pertukaran gas normal.

2. Perhatikan kondisi yg menimbulkan perubahan vaskular/penurunan sirkulasi


plasenta (mis : diabetes, masaalah jantung) atau yg mengubah kapasitas
pembawa oksigen (mis : anemia, hemoragi)
Rasional : Luasnya masalah vaskular maternal dan penurunan kapasiatas
pembawa oksigen berpengaruh langsung pada sirkulasi dan pertukaran gas
uteroplasenta.
3. Pantau TD dan nadi
a. Tingkatkan istirahat di tempat tidur/kursi pada posisi tegak atau semifowler bila
upaya pernafasan menurun
b. Anjurkan pasien u/ melakukan posisi miring kiri.
c. Tinjau ulang sumber vitamin C, zat besi,dan protein. Identifikasi zat-zat yg
membantu absorbsi zat besi (asam sedang, vit. c) dan yg menurunkan absorbsi
(alkalin sedang, susu)
Rasional :
1. Peningkatan TD dpt menandakan HAK; penurunan TD dan peningkatan nad dpt
menyertai hemoragi.
a. Menurunkan upaya pernapasan dan meningkatkan konsumsi oksigen sesuai
penurunan diafragma, meningkatakan diameter dada vertikal.
b. Meningkatkan perfusi ginjal/plasenta, juga merupakan posisi efektif untuk
mencegah syndrom hipotensi terlentang.
c. Ketidakadekuatan nutrsi dapat mengakibatkan anemia defisiensi zat besi dan
dapat menimbulkan masalah transpor oksigen.

4. Beri obat-obat sesuai indikasi :


a. Teofilin
b. Besi dekstran (inferon)
c. Beri oksigen supplemental
Rasional :
Pemberian parenteral mungkin perlu pada adanya anemia defisiensi zat besi berat
untuk meningkatkan oksigen ibu.

Dx. 2 : Anxietas b/d hasil kehamilan yang tidak diketahui

Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan ansietas berkurang atau hilang

Kriteri Hasil

a. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas

b. Kecemasan pasien berkurang atau hilang

c. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh menunjukan kurangnya kecemasan

Intervensi :

1. Perhatikan tingkat ansietas dan derajat pengaruh terhadap kemampuan untuk


membuat keputusan
Rasional : Stres yg tidak diatasi dapat mempengaruhi penyelesaian tugas-tugas
kehamilan dengan penerimaan normal dari kehamilan atau janin.

2. Berikan kehangatan secara emosional dan situasi medukung dan terima


klien/pasangan seperti adanya mereka.

Rasional : Memudahkan perkembangan hubungan saling percaya.

3. Berikan akses 24 jam pada tim perawat kesehatan.

Rasional : Ansietas dapat dikurangi apabila informasi atau bantuan telah ada.

4. Kaji tingkat stres klien/pasangan berkenaan dengan komplikasi medis.

Rasional : Hubungan keluarga yg buruk dan tidak tersedianya sistem pendukung


dapat meningkatkan tingkat stres

5. Kaji respon fisilogis terhadap ansietas (TD, nadi)

Rasional : Anxietas/stres dapat disertai dgn pelepasan katekolamin, menciptaka


respon fisik yg mempengaruhi rasa sejahtera klien dan kemudian meningkatkan
anxietas.

Dx.3 : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum

Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan klien mampu beraktivitas seperti


biasa

Kriteria Hasil

a. Mampu melakukn aktivitas sehari-hari secara mandiri

b. Tanda-tanda vital normal

c. Mampu berpindah: dengan atau tanpa bantuan alat

d. Pasien merasa lebih nyaman dengan keadaannya

Intervensi :

1. Anjurkan klien mengikuti aktifitas dengan istirahat yg cukup.


2. Anjurkan istirahat yg adekuat dan penggunaan posisi miring kiri.
3. Anjurkan menghindari perjalanan dan perubahan ketinggian pada trimester ke-3
4. Tekankan pentingnya aktifitas hiburan yg tenang.
5. Anjurkan tirah baring yg dimodifikasi/komplit sesuai indikasi