Anda di halaman 1dari 4

Mengambil Pelajaran Dari Kisah Nabi

Musa, Bani Israil dan Sapi Betina


Ada pelajaran menarik bagi diri ku dan kaum muslimin tentang kisah yang apik, bijak, yang
tertulis indah dalam Al Qur’an. Di dalam Al Qur’an tepatnya pada surah Al Baqarah ayat
67 – 71 ada kisah tentang nabi Musa alaihis salam dengan Bani Israil, kisah tentang Bani
Israil yang disuruh oleh Musa alaihis salam untuk menyembelih sapi betina. Silahkan anda
buka Al Qur’an dan bacalah kisah itu.

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh
kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak
menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak
menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.”

Mereka menjawab: ” Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan
kepada kami; sapi betina apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman
bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan
antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan
kepada kami apa warnanya.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa
sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi
menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan
kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih)
samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk
memperoleh sapi itu).”

Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina
yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi
tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu
menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya
dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Sebenarnya kisah ini sudah sering ku baca tetapi karena keterbatasan ku, kisah ini kurang
dapat ku pahami maksud dan tujuannya. Tetapi dalam buku Tafsir Fi-Zhilalil karya Sayyid
Quthb menjelaskan secara jelas dan mudah diterima. Sayyid Quthb mentafsirkan kisah itu
adalah kejahilan dan pembangkangan Bani Israil yang melakukan tawar menawar perintah
Allah Azza wa jal kepada nabi Musa alaihis salam.

Ketika terjadi pembunuhan di antara kalangan Bani Israil, mereka saling tuduh di antara
mereka. Tidak adanya saksi peristiwa pembunuhan tersebut membuat mereka saling
tuduh tanpa bukti nyata. Kemudian Allah Azza wa jal memerintahkan untuk menyembelih
sapi betina kepada Bani Israil, dan di akhir cerita Allah menyuruh memukul mayat itu
dengan salah satu bagian dari sapi betina yang telah disembelih tadi. Si mayat yang
terbunuh tadi hidup dan memberitahukan siapa yang membunuh dia sebenarnya.

Tetapi kisah menarik terjadi ketika Bani Israil rewel dan melakukan tawar menawar ketika
perintah Allah Azza wa jal turun langsung melalui nabi Musa untuk menyembelih sapi
betina, justru Bani Israil menganggap perintah itu adalah sebuah ejekan kepadanya.

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh
kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak
menjadikan kami buah ejekan?”

Nabi Musa alaihis salam sudah menjelaskan dengan santun dan jelas perintah kepada
Bani Israil untuk menyembelih sapi betina. Tetapi kebodohan sepertinya mendominasi isi
otak Bani Israil dan menganggap perintah Allah dan ucapan nabi adalah sebuah ejekan.
Jika melihat mujizat dibelahnya laut merah dan diselamatkannya Bani Israil dari kejamnya
Firaun, seharusnya mereka sudah beriman dan taat.

Apakah karena dulu mereka menyembah sapi betina menjadikan mereka ragu dan
sungkan karena menyebelih tuhan palsu mereka dahulu, padahal mereka sudah
diperintah oleh Tuhan yang menyelamatkan mereka dari Firaun yaitu Allah Azza wa jal ,
keimanan mereka sedang diuji.

Melihat jawaban Bani Israil yang membangkang terhadap perintah Allah Azza wa jal , nabi
Musa menjawab dengan sindiran karena kebodohan Bani Israil.

Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari
orang-orang yang jahil.”

Nabi Musa alaihis salam mengetahui sikap mereka yang menganggap perintah Allah Azza
wa jal sebuah ejekan adalah kejahilan atau tindakan bodoh yang seharusnya tidak pantas
ditunjukan.

Kebodohan Bani Israil sebenarnya juga menyakiti umat Islam saat ini, bisa kita lihat di
negara kita sendiri. Allah Azza wa jal sudah memerintahkan dengan jelas hukuman bagi
pencuri adalah dipotong tangannya, tetapi hukum itu dianggap sepele dan tidak dijadikan
rujukan. Mereka menganggap perintah Allah Azza wa jal sebuah aturan yang tak sesuai
jaman mengganti dengan hukuman penjara paling lama 5 tahun. Bukankah ini sebuah
kejahilan dimana nabi Musa berlindung kepada Allah Azza wa jal dari sifat itu?

Bani Israil tetaplah Bani Israil tak ada yang berubah, sifat bodoh masih menjangkiti pikiran
mereka. Kini kobodohan mereka semakin menjadi jadi dan mencoba menawar perintah
Allah Azza wa jal melalui nabi Musa.

Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan
kepada kami; sapi betina apakah itu.”

Bani Israil berkata Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, sebuah kata kata seolah
olah bahwa Allah Azza wa jal adalah Tuhan nabi Musa alaihis salam saja dan bukan tuhan
mereka. Apakah mereka tidak mengakui Allah Azza wa jal sebagai satu satunya Tuhan
dan masih menganggap ada tuhan yang lain. Allahu ‘alam.
Allah Azza wa jal telah memerintahkan kepada Bani Israil untuk menyembelih sapi, tetapi
sifat mereka yang menawar perintah Allah Azza wa jal justru mempersulit dirinya sendiri.
Padahal jika mereka taat dan patuh, dan langsung segera melaksanakan perintah itu
mereka akan mendapatkan sapi betina dengan mudah. Tetapi mereka mencoba menawar
dan justru syarat sapi betina yang disembelih semakin rumit.

Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina
yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu.”

Nabi Musa alaihis salam menjawab pertanyaan mereka, mereka harus menyembelih sapi
betina yang tidak tua dan tidak muda. Dan nabi Musa alaihis salam memberi sebuah
penegasan untuk segera mengerjakan perintah itu, maka kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu. Tetapi lagi-lagi sifat menawar dan mengulur-ngulur
dipertunjukan lagi di hadapan nabi Musa alaihis salam oleh Bani Israil.

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan
kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih)
samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk
memperoleh sapi itu).”

Lagi lagi Bani Israil berkata Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, kebodohan
mereka dilakukan ke dua kalinya. Mereka seolah olah berfikiran perintah menyembelih
sapi betina hanya untuk nabi Musa alaihis salam saja bukan untuk mereka. Walaupun
telah diterangkan dengan jelas oleh nabi Musa, mereka masih mencoba menawar
perintah Allah Azza wa jal dan mengulur waktu. Nabi Musa alaihis salam dengan
kesabarannya menjelaskan lagi kepada mereka dan kini semakin berat lagi syarat sapi
betina yang akan disembelih itu.

Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina
yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi
tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.”

Lihat setelah Bani Israil mencoba menawar perintah perintah Allah Azza wa jal untuk
menyembelih sapi betina, kini syaratnya bertambah, sapi betina, tidak tua dan tidak muda,
belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak
bercacat, tidak ada belangnya.

Kini mereka dihadapkan dengan syarat yang lebih sulit dari sebelumnya, untuk
mendapatkan sapi seperti itu mereka akan kesulitan untuk menemukannya. Melihat syarat
yang semakin berat kini mereka taat dan patuh mencari sapi betina itu.

Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang
sebenarnya.”

Setelah sekian lama Bani Israil tawar menawar dan setiap tawar menawar perintah Allah
Azza wa jal justru syaratnya semakin memberatkan diri mereka sendiri. Mereka bersegera
mencari sapi betina untuk disembelih dan hampir saja mereka tidak dapat menemukannya
karena tingginya syarat sapi betina itu.
Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah
itu.

Menurut Sayyid Quthb apa yang dilakukan Bani Israil dalam kisah ini tadi adalah sebuah
ciri pembangkangan, kebandelan, mengulu ulur respon dan mencari cari alasan, yang
menjadi ciri khas mereka.

Demikianlah kisah Bani Israil yang mencoba tawar menawar, mengulur waktu terhadap
perintah Allah Azza wa jal, yang mengakibatkan mereka memperberat diri dengan banyak
bertanya, maka Allah Azza wa jal memberatkan mereka. Jika saja dari awal mereka
mentaati perintah Allah Azza wa jal dan melaksanakan petunjuk nabi Musa alaihis salam
maka mereka bisa saja mengambil sapi betina mana saja lalu menyembelihnya.

Diri ku sendiri dan umat Islam harus dapat mengambil pelajaran ini tadi untuk tidak tawar
menawar dalam perintah Allah Azza wa jal. Sehingga tindakan kita dalam menawar
perintah Allah Azza wa jal akan berakibat memberatkan diri kita sendiri di dunia maupun di
akhirat nanti.

Sebagai contoh sifat pembangkangan mencari solusi lain untuk menghukum pencuri,
alhasil aksi pencurian masih terus terjadi, bahkan koruptor semakin hari semakin
bertambah. Dan akhirnya apa jika hukum Allah Azza wa jal dikesampingkan dampaknya
akan memberatkan diri mereka sendiri seperti kisah Bani Israil.

Jika saja pencuri / koruptor dipotong tanganya, bagaimana mereka akan mencuri lagi?
Menggunakan tangan satunya, jika mereka tertangkap otomatis mereka akan kehilangan
kedua tangannya lagi. Dan lagi jika tanganya terpotong bagaimana dia bisa menikmati
hasil curiannya? Walaupun punya 100 M tapi klo gak bisa cebok habis buang hajat apa ya
enak? Gak bisa ngupil, gak bisa makan.

Ketika dilarang berzina jika kita tidak taat dan mencari cari hujjah atau mengelabui sistem
pernikahan seperti perilaku kawin kontrak / kawin mut’ah yang dilakukan orang Syiah
berakibat mereka akan terjangkiti penyakit kelamin.

Ketika diperintahkan untuk wanita mengenakan niqab, tetapi mereka tidak taat dan
mencari cari alasan yang penting hatinya berjilbab. Akhirnya mereka terkena aksi
pelecehan seksual, menarik lawan jenis untuk pacaran akhirnya zina, hamil, aborsi. Lihat
semakin menolak perintah Allah Azza wa jal justru akan memberati diri kita sendiri sadar
atau tidak sadar.

Contoh lain lagi melakukan tidakan bid’ah seperti selamatan 1000 hari orang yang sudah
mati, justru akan memberatkan diri mereka sendiri yang harus mengeluarkan waktu, ruang
dan biaya untuk hal yang tidak diridhoi oleh Allah Azza wa jal.

Sekiranya ini sudah cukuplah sebagai nasehat kepada diri saya sendiri untuk tidak berlaku
seperti sifat Bani Israil terhadap nabi Musa alaihis salam. Serta taat dan patuh terhadap
perintah Allah Azza wa jal.

Wallahu ‘alam