Anda di halaman 1dari 14

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

PRAKTIKUM PRINSIP STRATIGRAFI


ACARA III : VULCANOSTRATIGRAFI

TUGAS PENDAHULUAN

OLEH :
YOUNDREE RUDY MANGALUK
D061171507

GOWA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relative serta
distribusi perlapisan batuan dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan
sejarah bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antar lapisan yang berbeda dapat
dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi atau litostratigrafi, kandungan fosil
atau biostratigrafi, dan umur relative maupun absolutnya atau kronostratigrafi.
Stratigrafi digunakan untuk mengetahui luas penyebaran lapisan batuan. Prinsip
Stratigrafi merupakan ilmu yang digunakan sebagai dasar penamaan segala sesuatu
yang menyangkut tentang pembagian batuan sedimen di muka bumi ini.
Vulkanostratigrafi merupakan ilmu yang mempelajari urutan dari rekaman kegiatan
vulkanik dengan pemahaman satuan vulkanostratigrafi, yaitu satuan – satuan lapisan
yang terpetakan terdiri dari batuan vulkanik yang terbentuk di darat (subaerial) atau
di dalam air (subaqueous) oleh proses – proses vulkanik yang penentuannya
berdasarkan sumber, jenis litologi dan genesanya (Sutikno Bronto, 1996). Batuan
gunungapi merupakan hasil kegiatan gunungapi secara langsung (primer) maupun
tidak langsung (sekunder). Kegiatan secara langsung merupakan proses keluarnya
magma ke permukaan bumi (erupsi) berupa letusan (eksplosi) dan lelehan (efusi) atau
proses yang berhubungan. Kegiatan tidak langsung (sekunder) adalah proses yang
mengikuti kejadian primer.

Deskripsi batuan atau endapan gunungapi dimaksudkan untuk memberikan nama


litologi batuan/endapan yang bersangkutan.Genesa dimaksudkan sebagai proses
terbentuknya batuan/endapan gunungapi. Genesa diwujudkan dengan istilah yang
mencerminkan cara terbentuknya seperti kubah, lava, aliran lava, jatuhan piroklastik,
dan lain-lain.Sumber adalah tempat terjadinya erupsi yang dapat berupa kawah atau
kaldera.

Berdasarkan uraian diatas maka dilakukanlah Praktikum Prinsip Stratigrafi acara


Vulcanostratigrafi untuk mengetahui bagaimana jenis batuan vulkanik dan
penyebaran litologi.
1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari praktikum Prinsip Stratigrafi ini untuk mengimplementasikan teori-


teori dan materi pada perkuliahan yang di realisasikan dengan melakukan praktikum
ini.
Adapun tujuan dari praktikum ini sebagai berikut:
1. Praktikan dapat menentukan batas satuan batuan pada peta geologi.

2. Praktikan dapat membuat sayatan geologi dengan baik dan benar.

3. Praktikan dapat membuat penampang geologi sesuai dengan sayatan geologi.

4. Praktikan dapat mengetahui litologi batuan vulkanik.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori

Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta
distribusi perlapisan batuan dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan
sejarah bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antar lapisan yang berbeda dapat
dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi (litostratigrafi), kandungan fosil
(biostratigrafi), dan umur relatif maupun absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita
pelajari untuk mengetahui luas penyebaran lapisan batuan (Allen,D. 1976).

Ilmu stratigrafi muncul untuk pertama kalinya di Britania Raya pada abad ke-19.
Perintisnya adalah William Smith. Ketika itu dia mengamati beberapa perlapisan
batuan yang tersingkap yang memiliki urutan perlapisan yang sama (superposisi).
Dari hasil pengamatannya, kemudian ditarik kesimpulan bahwa lapisan batuan yang
terbawah merupakan lapisan yang tertua, dengan beberapa pengecualian. Karena
banyak lapisan batuan merupakan kesinambungan yang utuh ke tempat yang berbeda-
beda maka dapat dibuat perbandingan antara satutempat ke tempat lainnya pada suatu
wilayah yang sangat luas. Berdasarkan hasil pengamatan ini maka kemudian Willian
Smith membuat suatu sistem yang berlaku umum untuk periode-periode geologi
tertentu walaupun pada waktu itu belum ada penamaan waktunya. Berawal dari hasil
pengamatan William Smith dan kemudian berkembang menjadi pengetahuan tentang
susunan, hubungan dan genesa batuan yang kemudian dikenal dengan stratigrafi
(Allen,D. 1976).

Berdasarkan dari asal katanya, stratigrafi tersusun dari 2 (dua) suku kata, yaitu
kata “strati“ berasal dari kata “stratos“, yang artinya perlapisan dan kata “grafi” yang
berasal dari kata “graphic/graphos”, yang artinya gambar atau lukisan. Dengan
demikian stratigrafi dalam arti sempit dapat dinyatakan sebagai ilmu pemerian
lapisan-lapisan batuan. Dalam arti yang lebih luas, stratigrafi dapat didefinisikan
sebagai ilmu yang mempelajari tentang aturan, hubungan, dan pembentukan (genesa)
macam-macam batuan di alam dalam ruang dan waktu (Allen,D. 1976).
2.2 Satuan Vulkanostratigrafi
Vulkanostratigrafi merupakan ilmu yang mempelajari urutan dari rekaman
kegiatan vulkanik dengan pemahaman satuan vulkanostratigrafi, yaitu satuan – satuan
lapisan yang terpetakan terdiri dari batuan vulkanik yang terbentuk di darat
(subaerial) atau di dalam air (subaqueous) oleh proses – proses vulkanik yang
penentuannya berdasarkan sumber, jenis litologi dan genesanya (Sutikno Bronto,
1996).
Satuan morfostratigrafi merupakan penggolongan stratigrafi dengan
penglompokan batuan menurut berbagai cara untuk mempermudah hubungan lapisan
satu terhadap lapisan lain. Penggolongan stratigrafi berdasarkan kenampakan
morfologinya, bentang alam dari endapan maupun batuan gunung api dari berbagai
fase erupsi secara berturut – turut akan saling tindih menindih, sehingga mempunyai
nilai stratigrafi.
Sebagai satuan dasar konsep satuan morfostratigrafi adalah Morfoset (morphocet
:morphological dan facet). Morfoset adalah suatu bentang alam yang tersusun dari
suatu endapan atau komplek endapan gunungapi hasil dari erupsi tufa seerupsi, yang
mempunyai ciri-ciri bentang alam tertentu, yang dapat dibedakan dengan bentang
alam yang tersusun dari suatu endapan atau komplek endapan gunung api hasil erupsi
atau fase erupsi sebelumnya, sesudah nya atau system gunung api lainya.
Jika suatu morfoset tersusun dari suatu komplek batuan seperti lava, breksi
atau tuff, dan apabila setiap batuan tersebut secara sendiri memiliki bentang alam
tertentu yang bias dibedakan satu dengan lainnya, maka bentang alam dari setiap
batuan tersebut dinamai Morfonit (morphonit :morfological unit). Jadi morfonit
merupakan bagian dari morfoset, yaitu suatu bentang alam yang mencirikan suatu
batuan tertentu dan biasanya dibedakan satu dengan yang lainya.
Gabungan dari beberapa morfoset yang membentuk bentang alam tertentu
dinamakan Morfotem (morphotem : morphological sistem). Morfotem adalah suatu
bentang alam yang dihasilkan oleh suatu rangkaian proses atau system gunungapi.
Satuan volkanostratigrafi adalah satuan-satuan lapisan yang terpetakan yang
terpetakan terdiri dari batuan vulkanik yang terbentuk di darat (subaerially) atau di
dalam air (subaqueously) oleh proses vulkanik.

2.3 Macam-macam satuan Vulkanostratigrafi


Beberapa macam satuan vulkanostrigrafi yang dikenalyaitu :
1. Aliran lava, lava banjir, aliran lava pahoehoe, aliran lava aa, aliran lava bongkah.
2. Endapan subaqueous dan interglasial (basalt).
3. Lahar, terbentuk dari breksi tuff, batu breksi lapili, dan tuff lapili dengan berbagai
komposisi.
4. Endapan debris avalanche, endapan bongkah dan abu dengan komposisi mirip
lahar.
5. Aliran lapapiroklastik, mirip dengan endapan aliran lumpur dan avalanche, tetapi
prosentase fragmen yang lebih kasarberkomposisi silica lebih sedikit.
6. Ignimberite, aliran abu terdiri dari batuapung, abu, kadang-kadang cinder basalt,
yang terbentuk endapan tefra.

2.4 Fasies gunung api


Fasies gunung api dapat dibagi menjadi fasies sentral, fasies proksimal, fasies
medial, dan fasies distal berdasarkan komposisi batuan penyusunnya (Bogie &
Mackenzie, 1998) (Gambar ).

Gambar 2.4 .Pembagian fasies gunung api menjadi fasies sentral, fasies proksimal, fasies
medial, dan fasies distal beserta komposisi batuan penyusunnya (Bogie & Mackenzie, 1998).

Fasies sentral merupakan bukaan keluarnya magma dari dalam bumi kepermukaan.
Oleh sebab itu daerah ini dicirikan oleh asosiasi batuan beku yang berupa kubah lava
dan berbagai macam batuan terobosan semi gunung api (subvolcanic intrusions)
seperti halnya leher gunung api (volcanic necks), sill, retas, dan kubah bawah
permukaan (cryptodomes). Batuan terobosan dangkal tersebut dapat ditemukan pada
dinding kawah atau kaldera gunungapi masakini, atau pada gunung api purba yang
sudah tererosi lanjut. Selain itu, karena daerah bukaan mulai dari conduit atau
diatrema sampai dengan kawah merupakan lokasi terbentuknya fluida hidrotermal,
maka hal itu mengakibatkan terbentuknya batuan ubahan atau bahkan mineralisasi.
Apabila erosi di fasies sentral ini sangat lanjut, batuan tua yang mendasari batuan
gunung api juga dapat tersingkap.
Fasies proksimal merupakan kawasan gunungapi yang paling dekat dengan
lokasi sumber atau fasies pusat. Asosiasi batuan pada kerucut gunungapi komposit\
sangat didominasi oleh perselingan aliran lava dengan breksi piroklastik da
aglomerat. Kelompok batuan ini sangat resistan, sehingga biasanya membentuk
timbulan tertinggi pada gunungapi purba.
Fasies medial, karena sudah lebih menjauhi lokasi sumber, aliran lava dan
aglomerat sudah berkurang, tetapi breksi piroklastik adan tuf sangat dominan, dan
breksi lahar juga sudah mulai berkembang.
Sebagai daerah pengendapan terjauh dari sumber, fasies distal didominasi
oleh endapan rombakan gunungapi seperti halnya breksi lahar, breksi fluviatil,
konglomerat, batupasir, dan batulanau. Endapan primer gunungapi di fasies ini
umumnya berupa tuf. Ciri-ciri litologi secara umum tersebut tentunya ada
kekecualian apabila terjadi letusan besar sehingga menghasilkan endapan aliran
piroklastika atau endapan longsoran gunungapi yang melampar jauh dari sumbernya.
Pada pulau gunungapi atau pungunung api bawah laut, di dalam fasies distal ini
batuan gunung api dapat berselang-seling dengan batuannon gunungapi, seperti
halnya batuan karbonat.

2.5 Sebaran Satuan Stratigrafi Gunungapi

Batas satuan batuan/endapan gunungapi adalah sentuhan antara dua satuan atau
lebih yang berlainan, dibedakan berdasarkan sumber erupsi, ciri batuan/endapan
genesa, daur letusan atau waktu kejadiannya.Sentuhan antara dua satuan dapat berupa
bidang horizontal, miring atau tegak dan perubahannya dapat tegas maupun
berangsur.Satu atau lebih satuan batuan/endapan gunungapi dapat dihasilkan oleh
satu letusan (monogenetik) atau beberapa peristiwa letusan (poligenetik) (Sandi
Stratigrafi, 1996).
Batas daerah hukum (geografi) tidak dapat dipergunakan sebagai batas
berakhirnya penyebaran satuan batuan/endapan gunungapi. Sebaran lateral satuan
stratigrafi gunungapi dapat berupa jangkauan tubuh gunungapi atau benturan dengan
satuan lainnya, baik secara stratigrafis maupun struktur.

2.6 Tingkat-Tingkat Satuan Stratigrafi Gunungapi

Tingkatan satuan stratigrafi gunungapi masing-masing dari kecil ke besar


adalahGumuk, Khuluk, Bregada, ManggaladanBusur (Sandi Stratigrafi, 1996).
a) Gumuk gunungapi, merupakan bagian dari khuluk yang terbentuk sebagai hasil
suatu erupsi pada tubuh gunungapi tersebut, baik sebagai hasil erupsi pusat
maupun erupsi samping.Gumuk gunungapi merupakan bagian dari khuluk
gunungapi akan tetapi khuluk gunungapi tidak selalu mempunyai gumuk
gunungapi. Batas sebaran lateral suatu gumuk gunungapi tidak melampaui batas
pelamparan khuluk gunungapi. Gumuk Gunungapi harus mempunyai nilai
stratigrafi/geologi yang penting dan lazimnya dapat dipetakan pada skala
1:50.000 atau lebih besar.ContohnyayaituGumukKukusandanGumukPencu.
b) Khuluk, merupakan kumpulan batuan/endapan yang dihasilkan oleh satu atau
lebih titik erupsi yang membentuk satu tubuh gunungapi. Khuluk gunungapi
tersingkap di permukaan dan dapat berkelanjutan ke bawah permukaan. Khuluk
gunungapi harus mempunyai nilai stratigrafi/geologi, meliputi daerah yang luas,
dan lazimnya dapat dipetakan dengan skala 1:50.000 atau lebih besar.
c) Bregada, merupakan satuan stratigrafi gunungapi yang mencakup sebaran
endapan/batuan gunungapi hasil letusan yang terdiri dari dua atau lebih khuluk
gunungapi atau yang berhubungan dengan pembentukkan kaldera. Bregada
gunungapi harus mempunyai nilai stratigrafi/geologi yang penting dan lazimnya
dapat dipetakan dengan skala 1:100.000 atau lebih besar.
d) Manggala, merupakan satuan stratigrafi gunungapi yang mencakup sebaran
batuan/endapan hasil letusan-letusan gunungapi yang mempunyai lebih dari satu
kaldera pada satu atau lebih tubuh gunungapi.Manggala gunungapi harus
mempunyai lebih dari satu bregada gunungapi. Manggala gunungapi harus
mempunyai nilai stratigrafi/geologi yang penting dan lazimnya dapat dipetakan
dalam skala 1:100.000 atau lebih besar.
e) Busur, merupakan satuan stratigrafi gunungapi yang terdiri dari kumpulan
Khuluk, Bregada, dan Manggala gunungapi dan mempunyai kedudukan tektonik
yang sama.Busur gunungapi merupakan rangkaian kesatuan gunungapi yang
mempunyai kedudukan tektonik yang sama.Busur gunungapi lazimnya dapat
dipetakan dengan skala 1:100.000 atau lebih besar.

 2.7 Tingkat-Tingkat Satuan Stratigrafi Gunungapi

Tingkatan satuan stratigrafi gunungapi masing-masing dari kecil ke besar

adalahGumuk, Khuluk, Bregada, ManggaladanBusur (Sandi Stratigrafi, 1996).

f) Gumuk gunungapi, merupakan bagian dari khuluk yang terbentuk sebagai hasil

suatu erupsi pada tubuh gunungapi tersebut, baik sebagai hasil erupsi pusat

maupun erupsi samping.Gumuk gunungapi merupakan bagian dari khuluk

gunungapi akan tetapi khuluk gunungapi tidak selalu mempunyai gumuk

gunungapi. Batas sebaran lateral suatu gumuk gunungapi tidak melampaui batas

pelamparan khuluk gunungapi. Gumuk Gunungapi harus mempunyai nilai

stratigrafi/geologi yang penting dan lazimnya dapat dipetakan pada skala

1:50.000 atau lebih besar.ContohnyayaituGumukKukusandanGumukPencu.


Khuluk, merupakan kumpulan batuan/endapan yang dihasilkan oleh satu atau

lebih titik erupsi yang membentuk satu tubuh gunungapi. Khuluk gunungapi

tersingkap di permukaan dan dapat berkelanjutan ke bawah permukaan. Khuluk

gunungapi harus mempunyai nilai stratigrafi/geologi, meliputi daerah yang luas,

dan lazimnya dapat dipetakan dengan skala 1:50.000 atau lebih besar.

Bregada, merupakan satuan stratigrafi gunungapi yang mencakup sebaran

endapan/batuan gunungapi hasil letusan yang terdiri dari dua atau lebih khuluk

gunungapi atau yang berhubungan dengan pembentukkan kaldera. Bregada

gunungapi harus mempunyai nilai stratigrafi/geologi yang penting dan lazimnya

dapat dipetakan dengan skala 1:100.000 atau lebih besar.

Manggala, merupakan satuan stratigrafi gunungapi yang mencakup sebaran

batuan/endapan hasil letusan-letusan gunungapi yang mempunyai lebih dari satu

kaldera pada satu atau lebih tubuh gunungapi.Manggala gunungapi harus

mempunyai lebih dari satu bregada gunungapi. Manggala gunungapi harus

mempunyai nilai stratigrafi/geologi yang penting dan lazimnya dapat dipetakan

dalam skala 1:100.000 atau lebih besar.

Busur, merupakan satuan stratigrafi gunungapi yang terdiri dari kumpulan

Khuluk, Bregada, dan Manggala gunungapi dan mempunyai kedudukan tektonik

yang sama.Busur gunungapi merupakan rangkaian kesatuan gunungapi yang

mempunyai kedudukan tektonik yang sama.Busur gunungapi lazimnya dapat

dipetakan dengan skala 1:100.000 atau lebih besar.

BAB III
METODOLOGI

3.1 Metode
1. Batas Satuan Batuan

Pada problem set diberikan peta yang memuat kedudukan batuan di tiap stasiun.

Hal yang pertama kali dilakukan adalah mewarnai simbol litologi di setiap stasiun.

Setelah itu melakukan penarikan batas satuan batuan dengan berlandaskan hukum V.

Perhatikan pula garis kontur yang ada, dimana bila kedudukan batuan yang

kemiringannya semakin mendekati 0 maka batas satuan batuannya relatif mengikuti

garis kontur. Perlu diingat bahwa umumnya dip selalu mengarah ke batuan yang

berumur lebih muda, maka dalam penarikan batas satuan batuan selalu

memperhatikan lekukan garis apakah cembung atau cekung. Lekukan garis yang

cekung menunjukkan batuan tersebut lebih tua atau ditindih oleh batuan yang lebih

muda, sedangkan bila lekukan garis yang cembung menunjukkan batuan tersebut

lebih muda atau menindih batuan yang lebih tua.

2. Garis Sayatan

Untuk membuat garis sayatan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain

adalah garis sayatan harus tegak lurus dengan strike atau sejajar dengan kemiringan

batuan, garis sayatan harus melewati semua litologi (jika tidak melewati semua

litologi dapat membuat garis sayatan tambahan), garis sayatan pertama adalah sayatan

A-B sedangkan yang kedua adalah C-D, garis sayatan harus mewakili ketebalan

semua litologi.

3. Penampang Geologi

Untuk membuat penampang geologi terlebih dahulu kita harus mengoreksi dip tiap

kedudukan batuan, hal ini dimaksudkan untuk memastikan nilai dip yang

sesungguhnya. Pertama perpanjang garis strike hingga memotong garis sayatan. Dari

hasil perpotongan tersebut didapatkan empat sudut, hitunglah sudut terkecilnya.

Sudut terkecil itulah yang disebut dengan sin bearing (sin β).

Untuk mencari dip terkoreksi rumusnya adalah:


Dip terkoreksi = tan dip x sin β

Selanjutnya mengukur nilai garis kontur yang memotong di garis sayatan

menggunakan kertas kosong. Nilai garis kontur yang ada kemudian dibuatkan

penampang geologi sesuai dengan nilai ketinggian pada kertas grafik. Titik

ketinggian yang ada kemudian dihubungkan, maka jadilah penampang geologi.

4. Ketebalan

Perhitungan ketebalan dilakukan untuk mengetahui tebal lapisan tiap batuan.

Untuk menghitung ketebalan digunakan rumus sebagai berikut:

Ketebalan = Panjang batas litologi pada penampang x skala peta

5. Kolom Stratigrafi

Membuat kolom litostratigrafi (sesuai aturan stratigrafi dalam Sandi Stratigrafi

Indonesia, 1996).Membuatkolomlitostratigrafisesuaidengan format yang diberikan,

masukkaninformasimengenaiformasi, umur, satuan, ketebalantiaplapisan, ukuran

butir dan struktur sedimen, litologi, pemerian, dan lingkungan pengendapan .pada

kolom masing-masing.

6. Sejarah Geologi

Pembuatan sejarah geologi dilakukan untuk merekonstruksi asal mula

pembentukan batuan lingkungan pengendapannya. Hal ini dapat dilakukan dengan

menginterpretasi kolom litostratigrafi yang telah dibuat meliputi waktu awal

pembentukan, material pembentuknya, batuan yang terbentuk, serta waktu akhir

pengendapan.

3.2 Tahapan Praktikum

Adapun prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum acara penampang


terukur ini berupa:
A. Membuat Arah Lintasan
Pembuatan arah lintasan dilakukan berdasarkan data-data yang di dapatkan dari
problem set yaitu berupa arah, strike/dip dan litologi.
B. Menghitung Koreksi Dip
Perhitungan koreksi dip dilakukan setelah arah lintasan telah selesai. Dengan
memanfaatkan arah lintasan untuk membuat garis bayangan agar dapat
menentukan sudut bearing (sudut bearing adalah sudut terkecil yang dibentuk
antara garis strike dan garis bayangan), yang kemudian di lakukan perhitungan
koreksi dip per litologi berdasarkan rumus:
Tan (Dip Terkoreksi)-1 = Tan Dip x Sin Bearing
C. Menghitung Jarak Datar dan Beda Tinggi
Dalam pembuatan penampang profil linasan, diperlukan beberapa data yakni
jarak datar dan beda tinggi dari setiap stasiun. Data-data tersebut diperoleh
dengan menggunakan rumus:
Jarak Datar = Jarak Lapangan x cos slope
Beda Tinggi = jarak lapangan x sin slope
D. Membuat penampang profil lintasan
Dalam pembuatan penampang profil lintasan dengan H:V = 1:1 dimulai pada
stasiun 1 dengan titik 10 cm pada kertas grafik. Untuk stasiun selanjutnya
disesuaikan dengan data jarak datar dan beda tinggi.
E. Menghitung Ketebalan Lapisan
Perhitungan ketebalan lapisan dapat dilakukan dengan beberapa cara, namun
pada praktikum ini, kami menggunakan rumus:
Ketebalan = Panjang mistar x skala
F. Membuat Penampang Stratigrafi Terukur
Penampang stratigrafi dapat di buat berdasarkan data-data litologi yang
didapatkan pada problem set dan Ketebalan.

Membuat arah
lintasan

Menghitung koreksi
DIP
Menghitung jarak
datar dan beda
tinggi

Membuat
penampang profil
lintasan

Menghitung
ketebalan lapisan

Membuat
penampang
stratigrafi terukur

Gambar 3.2 Bagan Diagram Alir

3.3 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan demi kelancaran Praktikum Penampang
Stratigrafi Terukur antara lain :
1. Alat Tulis Menulis
2. Milimeter Block
3. Kalkulator
4. Pensil Warna
5. DoubleTip
6. Busur Derajat
7. Penggaris

DAFTAR PUSTAKA

Allen,D. 1976. Proses Distribusi Partikel Sediment. Petroleum association, Jakarta.


Boggs, Sam. 2006. Principle of Sedimentology and Stratigraphy. Pearson prentice
Hall, USA.

Noor, D. 2009. Pengukuran Stratigrafi Prinsip Stratigrafi. Teknik Geologi Pakuan,


Bogor.