Anda di halaman 1dari 44

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Promosi Kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat
melalui proses pembelajaran bersama masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan di
sekolah. Promosi kesehatan ini dilakukan agar mereka dapat menolong dirinya sendiri,
serta mengembangkan kegiatan yang bersumber pada masyarakat, sesuai dengan kondisi
sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan secara internal maupun
lingkungannya yang berwawasan kesehatan. Dalam konteks menolong diri sendiri
dimaksudkan bahwa masyarakat sekolah mampu berperilaku mencegah timbulnya
masalah-masalah kesehatan, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan serta
mampu pula mengatasi apabila masalah kesehatan tersebut terlanjur terjadi di lingkungan
mereka.
Menggosok gigi adalah tindakan yang perlu diajarkan kepada anak-anak sehingga
dapat menjadi suatu kebiasaan yang baik dan sehat. Menggosok gigi merupakan cara
yang paling mudah dan efektif untuk menjaga kebersihan gigi dan gusi dari plak dan sisa
makanan. Menyikat gigi harus dilakukan dengan baik dan benar agar debris atau sisa
makanan benar-benar dapat dihilangkan dari permukaan gigi (Karinta, 2011).
World Health Organization (WHO) pada tahun 2003 menyatakan bahwa angka
kejadian karies pada anak – anak adalah sebesar 60-90% (Kompas, 2009) .Berdasarkan
Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT, 2004), prevelansi karies di Indonesia mencapai
90,05% dan ini tergolong lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya.
Jumlah penderita karies di Indonesia didominasi oleh anak kelompok usia kurang dari 12
tahun sebesar 76,2% atau delapan dari sepuluh anak Indonesia mengalami masalah gigi
berlubang yang disebabkan oleh kebiasaan menyikat gigi yang salah (Dumiyani, 2012).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Notohartojo (2011) kebiasaan menyikat gigi 90%
berpengaruh terhadap risiko kejadian karies gigi. Selain itu Cacingan : 40-60% (Profil
Dep Kes Tahun 2005), Anemia : 23,2 % (Yayasan Kusuma Buana Tahun 2007).
Kesehatan gigi dan mulut sangat penting karena gigi dan gusi yang rusak dan tidak
dirawat akan menyebabkan rasa sakit, gangguan pengunyahan dan dapat mengganggu
kesehatan tubuh lainnya. Banyaknya karies, gingivitis dan gigi berjejal harus segera
ditangani dan semuanya dapat dicegah. Memelihara kesehatan gigi dan mulut sangat
penting untuk memperoleh kesehatan tubuh kita. Khususnya pada anak-anak, karena pada

1
masa anak- anak sangat penting karena kondisi gigi susu (gigi decidui) saat ini sangat
menentukan keadaan gigi-gigi permanent penggantinya.Untuk mencapai kesehatan gigi
dan mulut yang optimal, maka harus dilakukan perawatan secara berkala. Perawatan
dapat dimulai dari memperhatikan diet makanan, dan jangan terlalu banyak makanan
yang mengandung gula dan makanan yang lengket. Pembersihan plaks dan sisa makanan
yang tersisa dengan menyikat gigi, teknik dan caranya jangan sampai merusak struktur
gigi dan gusi. Pembersihan karang gigi dan penambalan gigi yang berlubang oleh dokter
gigi, serta pencabutan gigi yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi dan merupakan fokal
infeksi. Kunjungan berkala ke dokter gigi setiap enam bulan sekali balk ada keluhan
ataupun tidak ada keluhan.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, maka akan dicapai suatu kesehatan gigi dan
mulut yang optimal. Dengan demikian akan meningkatkan kesehatan tubuh secara
keseluruhan dan akan meningkatkan etos kerja yang lebih baik lagi. Sehingga kesehatan
jasmani dan rohani seperti yang diharapkan akan tercapai.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan promosi kesehatan pada anak usia
sekolah dengan metode simulasi.

1.2.2 Tujuan Khusus


a. Menjelaskan definisi, tujuan, sasaran, jenis-jenis kegiatan, prinsip, ruang
lingkup, strategi, dan metode promosi kesehatan
b. Menjelaskan karakteristik dan perkembangan anak usia sekolah
c. Menjelaskan masalah kesehatan anak usia sekolah.
d. Menjelaskan metode promosi kesehatan simulasi.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Promosi Kesehatan


2.1.1 Pengertian Promosi Kesehatan
Promosi Kesehatan Adalah segala bentuk kombinasi pendidikan
kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik, dan organisasi,
yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang
kondusif bagi kesehatan. (Lawrence Green, 1984). Sebagaimana tercantum
dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1114 /MENKES/SK/VII/2005
tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah, promosi
kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui
pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat
menolong diri sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya
masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung kebijakan publik
yang berwawasan kesehatan. Sedangkan menurut WHO (1984), promosi
kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkan kontrol
terhadap, dan memperbaiki kesehatan mereka.
2.1.2 Tujuan Promosi Kesehatan
Menurut Green (1991) tujuan promosi kesehatan terdiri dari tiga
tingkatan yaitu (Maulana, 2009)

a. Tujuan Program
Refleksi dari fase sosial dan epidemiologi berupa pernyataan tentang
apa yang akan dicapai dalam periode tertentu yang berhubungan dengan
status kesehatan. Tujuan program ini juga disebut tujuan jangka panjang,
contohnya mortalitas akibat kecelakaan kerja pada pekerja menurun 50 %
setelah promosi kesehatan berjalan lima tahun.
b. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah pembelajaran yang harus dicapai agar
tercapai perilaku yang diinginkan. Tujuan ini merupakan tujuan jangka
menengah, contohnya: cakupan angka kunjungan ke klinik perusahaan
meningkat 75% setelah promosi kesehatan berjalan tiga tahun.

3
c. Tujuan Perilaku
Gambaran perilaku yang akan dicapai dalam mengatasi masalah
kesehatan. Tujuan ini bersifat jangka pendek, berhubungan dengan
pengetahuan, sikap, tindakan, contohnya: pengetahuan pekerja tentang
tanda-tanda bahaya di tempat kerja meningkat 60% setelah promosi
kesehatan berjalan 6 bulan.
2.1.3 Sasaran Promosi Kesehatan
Sasaran promosi kesehatan yang dilaksanakan oleh perawata adalah
individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Agar promosi kesehatan dapat
lebih tepat sasaran, maka sasaran tersebut perlu dikenal secara lebih khusus,
rinci, dan jelas melalui pengelompokan sasaran promosi kesehatan meliputi
sasaran utama (primer), sasaran antara (sekunder), dan sasaran penunjang
(tersier).
a. Sasaran primer adalah mereka yang diharapkan akan menerapkan perilaku
baru.
b. Sasaran sekunder adalah mereka yang dapat memengaruhi sasaran primer.
c. Sasaran tersier adalah mereka yang berpengaruh terhadap keberhasilan
kegiatan, seperti para pengambil keputusan atau penyandang dana.
Contohnya, promosi kesehatan yang dilakukan oleh perawat kesehatan
masyarakat di keluarga dengan balita gizi buruk, maka sasaran utamanya
adalah balita gizi buruk tersebut, sasaran sekundernya adalah anggota keluarga
dan sasaran penunjangnya adalah kader kesehatan, lurah, camat, toko
masyarakat, dan lainnya. (Efendi, Ferry & Makhfudli, 2009)
2.1.4 Jenis-jenis Kegiatan Promosi Kesehatan
Berdasarkan DepKes RI 2007,menyatakan bahwa hal-hal berikut
merupakan jenis dari kegiatan promosi kesehatan, yaitu:

a. Pemberdayaan Masyarakat
Merupkan upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian
masyarakat.
b. Pengembangan Kemitraan
Merupakan upaya membangun hubungan para mitra kerja berdasarkan
kesetaraan, keterbukaan dan saling memberi manfaat.

4
c. Upaya Advokasi
Merupakan upaya mendekati, mendampingi, dan mempengaruhi pembuat
kebijakan secara bijak agar mereka memberi dukungan terhadap
pembangunan kesehatan.
d. Pembinaan Suasana
Merupakan kegiatan untuk membuat iklim yang mendukung dalam
terwujudnya perilaku sehat dengan mengembangkan opini public yang
positif melalui media massa, tokoh masyarakat dan figur publik.
e. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
Merupakan kegiatan yang meliputi pendidikan, pelatihan, dan pertemuan,
bertujuan untuk meingkatkan wawsan, kemauan, dan keterampilan baik
petugas kesehatan maupun kelompok-kelompok potensial masyarakat.
f. Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Merupakan kegiatan yang bertujuan untuk selalu mengembangkan IPTEK
dalam bidang promosi, informasi, komunikasi, pemasaran, dan advokasi
yang selalu tumbuh dan berkembang.
g. Pengembangan Media dan Sarana
Merupakan kegiatan yang bertujuan mempersenjatai diri dengan
penyediaan media dan sarana yang diperlukan dalam mendukung kegiatan
promosi kesehatan.
h. Pengembangan Infrastruktur
Merupakan kegiatan penunjang promosi kesehatan, seperti
kesekretariatan, tim promosi dan berbagai perangkat promosi kesehatan
lainnya. (Maulana,2009)
2.1.5 Prinsip Promosi Kesehatan
Prinsip-prinsip Promosi Kesehatan menurut Keith Tones and Jackie Green
(2004):
a. Promosi Kesehatan (Health Promotion) adalah proses pemberdayaan
masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi
kesehatannya, lebih luas dari Pendidikan atau Penyuluhan Kesehatan.
Promosi Kesehatan meliputi Pendidikan/ Penyuluhan Kesehatan, dan di
pihak lain Penyuluh/Pendidikan Kesehatan merupakan bagian penting
(core) dari Promosi Kesehatan.

5
b. Promosi Kesehatan adalah upaya perubahan/perbaikan perilaku di bidang
kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhi lingkungan atau hal-hal
lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan perilaku dan kualitas
kesehatan
c. Promosi Kesehatan juga berarti upaya yang bersifat promotif
(peningkatan) sebagai perpaduan dari upaya preventif (pencegahan),
kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan) dalam rangkaian upaya
kesehatan yang komprehensif.
d. Promosi kesehatan, selain tetap menekankan pentingnya pendekatan
edukatif yang selanjutnya disebut gerakan pemberdayaan masyarakat,
juga perlu dengan upaya advokasi dan bina suasana (social support).
e. Promosi kesehatan berpatokan pada PHBS yang dikembangkan dalam 5
tatanan yaitu: where we live, where we learn, where we work,where we
play and do everything, and where we get health services
f. Pada promosi kesehatan, peran kemitraan lebih ditekankan lagi, yang
dilandasi oleh kesamaan (equity), keterbukaan (transparancy) dan saling
memberi manfaat (mutual benefit). Kemitraan ini dikembangkan antara
pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta dan Lembaga Swadaya
Masyarakat, juga secara lintas program dan lintas sektor.
g. Promosi Kesehatan sebenarnya juga lebih menekankan pada proses atau
upaya, dengan tanpa mengecilkan arti hasil apalagi dampak kegiatan. Jadi
sebenarnya sangat susah untuk mengukur hasil kegiatan, yaitu perubahan
atau peningkatan perilaku individu dan masyarakat. Yang lebih sesuai
untuk diukur: adalah mutu dan frekwensi kegiatan seperti: advokasi, bina
suasana, gerakan sehat masyarakat, dll.
2.1.6 Ruang Lingkup Promosi Kesehatan
Tahun 1986 di Ottawa, Canada dilangsungkan Konferensi International
pertama, menghasilkan, Deklarasi Ottawa (Ottawa Charter) yang merumuskan
5 (lima) pilar utama atau 5 (lima) ruang lingkup promosi kesehatan, yaitu :
a. Build Healthy Public Policy (membangun kebijakan public yang
berwawasan kesehatan)
Setiap pembuat kebijakan publik harus memeprhatikan dampak kesehatan
dari setiap keputusan yang dibuatnya. Demikian juga harus dibangun

6
kebijakan publik yang menguntungkan kesehatan. Kebijakan publik antara
lain berbentuk peraturan perundang-undangan, kebijakan fiskal,
kebiajakan pajak, dan pengembangan organisasi dan kelembagaan.
Contoh : kebijakan kawasan tanpa rokok, pembatasan merokok,
pembatasan iklan rokok, pemakaian helm dan sabuk pengaman, ada dinas
kesehatan di propinsi/kab/kota dengan unit promosi kesehatan.
b. Create supportive environment (menciptakan lingkungan yang
mendukung).
Lingkungan sosial yang mendukung sangat besar perannya dalame
mempengaruhi kesehatan dan perilaku seseorang. Contoh: lingkungan
yang mendukung dengan penyediaan tempat khusus untuk menyusui bayi
di tempat-tempat umum, penyediaan tempat sampah, pengembangan
tempat konseling remaja dll.
c. Strengthen, community action (memperkuat gerakan masyarakat).
Promosi kesehatan mendorong dan memfasilitasi upaya masyarakat dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatan. Contoh: mendorong
terbentuknya yayasan/lembaga konsumen kesehatan, mendorong
pembentukan posyandu, mendorong pembiayaan kesehatan
bersumberdaya masyarakat dll.
d. Develop personal skill (mengembangkan keterampilan individu).
Agar masyarakat mampu membuat keputusan yang efektif mengenai
kesehatannya, masyarkat perlu informasi, pendidikan/pelatihan dan
berbagai keterampilan. Tugas promosi kesehatan adalah memberdayakan
masyarakat agar dapat mengambil keputusan dan alih tanggungjawab
kesehatan berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki,
mengembangkan keterampilan individu akan lebih efektif bila dilakukan
melalui tetatan-tatanan rumah tangga, sekolah, tempat kerja, dan tatan lain
yang sudah ada di masyarakat.
e. Reorient health service (menata kembali arah pelayanan kesehatan).
Upaya-upaya preventif dan promotif lebih diutamakan tanpa
mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif (DepKes RI 2008).

7
2.1.7 Strategi Promosi Kesehatan
Berdasarkan rumusan yang dibuat oleh WHO pada Ottawa Charter for Health
Promotion (1994), strategi promosi kesehatan secara global dibagi menjadi
tiga, yaitu :
a. Advokasi (Advocacy)
Advokasi adalah kegiatan dimana untuk meyakinkan orang lain agar
orang lain tersebut membantu atau mendukung terhadap apa yang
diinginkan. Pendekatan advokasi ialah sasaran kepada para pembuat
keputusan atau penentu keputusan sesuai sektornya. Intinya adalah strategi
advokasi kesehatan merupakan pendekatam yang dilakukan dengan
pimpinan atau pejabat dengan tujuan mengembangkan kebijakan publik
yang berwawasan kesehatan. Kegiatan advokasi ini ada dalam bentuk
formal dan informal. Advokasi dalam bentuk formal misalnya : penyajian
presentasi, seminar, atau suatu usulan yang dilakukan oleh para pejabat
terkait. Advokasi informal misalnya : Suatu kegiatan untuk meminta dana,
atau dukungan dalam bentuk kebijakan kepada para pejabat yang relevan
dengan kebijakan yang diusulkan. Intervensi yang dapat dilakukan secara
perseorangan kepada pejabat ialah dengan : lobi, dialog, negosiasi dan
debat. Sehingga diharapkan mendapatkan hasil adanya tindakan yang
nyata, kepedulian, serta pemahaman atau kesadaran dari pejabat sehingga
terjadi kelanjutan kegiatan.
b. Dukungan sosial (Social Support)
Dukungan sosial adalah suatu strategi yang digunakan untuk mencari
dukungan sosial melalui tokoh-tokoh masyarakat. Dimana tujuannya
dengan menggunakan tokoh masyarakat sebagai jembatan antara sektor
kesehatan atau pengembang kesehatan dengan masyarakat. Intervensi
keperawatan yang diberikan dalam stretegi dukungan sosial ialah :
pelatihan bagi para tokoh masyarakat, lokakarya, bimbingan bagi para
tokoh masyarakat, sehingga hasil yang diharapkan adalah adanya
peningkatan jumlah para tokoh masyarakat yang berperan aktif dalam
pelayanan kesehatan, jumlah individu dan keluarga dimana meningkat
pengetahuannya tentang kesehatan, adanya pemanfaatan fasilitas
kesehatan yang ada misalnya posyandu.

8
c. Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment)
Pemberdayaan adalah strategi promosi kesehatan yang langsung
kepada masyarakat. Pemberdayaan ini bertujuan untuk mewujudkan
kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan
masyarakat itu sendiri. Intervensi keperawatan dalam pemberdayaan
masyarakat adalah dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat ini dapat
berupa : penyuluhan kesehatan, posyandu, pos obat desa, dan lain
sebagainya. Hasil yang diharapkan adalah sumber daya manusia yang
berperan dalam peningkatan dan pemeliharaan kesehatan.
2.1.8 Metode Promosi Kesehatan
Metode dalam pelaksanaan promosi kesehatan harus dipertimbangkan
secara cermat dengan memperhatikan materi atau informasi yang akan
disampaikan, keadaan penerima informasi (termasuk sosial budaya) atau
sasaran, dan hal-hal lain yang merupakan lingkungan komunikasi seperti
ruang dan waktu. Masing–masing metode memiliki keunggulan dan
kelemahan, sehingga penggunaan gabungan beberapa metode sering dilakukan
untuk mamaksimalkan hasil. Metode Promosi Kesehatan dapat digolongkan
berdasarkan teknik komunikasi, sasaran yang dicapai dan indera penerima dari
sasaran promosi. (Notoatmodjo 2012)
Metode berdasarkan teknik komunikasi: (Notoatmodjo 2012)
a. Metode Penyuluhan Langsung
Dalam hal ini para penyuluh langsung berhadapan atau bertatap
muka dengan sasaran antara lain: kunjungan rumah, pertemuan diskusi,
pertemuan di balai desa pertemuan di posyandu, dll.
b. Metode Penyuluhan Tidak Langsung
Dalam hal ini para penyuluh tidak langsung berhadapan secara tatap
muka dengan sasaran, tetapi ia menyampaikan pesannya dengan perantara
media. Contohnya : publikasi dalam bentuk media cetak, melalui
pertunjukkan film dan sebagainya berdasarkan jumlah sasaran yang dicapai.
Metode berdasarkan jumlah sasarannya (Notoatmodjo, 2012):
a. Metode Pendidikan Individual (Perorangan)
Metode yang bersifat individual digunakan untuk membina perilaku
baru atau membina seseorang yang mulai tertarik kepada suatu perubahan
perilaku atau inovasi. Setiap orang memiliki masalah atau alasan yang

9
berbeda-beda sehubungan dengan penerimaan atau perilaku baru tersebut.
Bentuk pendekatannya :
1) Bimbingan dan penyuluhan (Guidence and counceling)
Perubahan perilaku terjadi karena adanya kontak yang intensif
antara klien dengan petugas dan setiap masalahnya dapat diteliti dan
dibantu penyelesainnya.
2) Wawancara (interview)
Untuk mengetahui apakah klien memiliki kesadaran dan
pengertian yang kuat tentang informasi yang diberikan (prubahan
perilaku ynag diharapkan).
b. Metode Pendidikan Kelompok
Dalam memilih metode pada kelompok,yang harus diperhatikan
adalah besarnya kelompok sasaran dan tingkat pendidikan formalnya.
Besarnya kelompok sasaran mempengaruhi efektifitas metode yang
digunakan.
1) Kelompok besar
a) Ceramah
Sasaran dapat berpendidikan tinggi maupun rendah.
Penceramah harus menyiapkan dan menguasai materi serta
mempersiapkan media. Metode dengan menyampaikan informasi
dan pengetahuan saecara lisan. Metode ini mudah dilaksanakan
tetapi penerima informasi menjadi pasif dan kegiatan menjadi
membosankan jika terlalu lama.
b) Seminar
Metode seminar hanya cocok untuk sasaran kelompok besar
dengan pendidikan formal menengah ke atas. Seminar adalah suatu
penyajian (presentasi)dari suatu ahli atau beberapa ahli tentang
suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat
di masyarakat.
2) Kelompok kecil
a) Diskusi kelompok
Metode yang dilaksanakan dalam bentuk diskusi antara
pemberi dan penerima informasi, biasanya untuk mengatasi masalah.
Metode ini mendorong penerima informasi berpikir kritis,

10
mengekspresikan pendapatnya secara bebas, menyumbangkan
pikirannya untuk memecahkan masalah bersama, mengambil satu
alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk
memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan yang seksama.
b) Curah pendapat (Brain storming)
Ketika setiap anggota mengusulkan dengan cepat semua
kemungkinan pemecahan yang dipikirkan. Kritik evaluasi atas
semua pendapat tadi dilakukan setelah semua anggota kelompok
mencurahkan pendapatnya. Metode ini cocok digunakan untuk
membangkitkan pikiran yang kreatif, merangsang, partisipasi,
mencari kemungkinan pemecahan masalah, mendahului metode
lainnya, mencari pendapat-pendapat baru dan menciptakan suasana
yang menyenangkan dalam kelompok.
c) Bola salju (snow balling)
Metode ini dilakukan dengan membagi secara berpasangan
(satu pasang- dua orang). Setelah pasangan terbentuk, dilontarkan
suatu pernyataaan atau masalah, setelah kurang lebih 5 menit setiap
2 pasangan bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan
masalah yang sama dan mencari kesimpulannya. Selanjutnya, setiap
2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi
dengan pasangan lainnya, demikian seterusnya akhirnya terjadi
diskusi seluruh kelas.
d) Kelompok-kelompok kecil (Buzz group)
Kelompok dibagi menjadi kelompok kecil untuk
mendiskusikan masalah kemudian kesepakatan di kelompok kecil
disampaikan oleh tiap kelompok dan kemudian di diskusikan untuk
diambil kesimpulan.
e) Memainkan peranan (role play).
Dalam metode ini beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai
pemegang peran tertentu untuk memainkan peranan.
f) Permainan simulasi (simulation game)
Merupakan gabungan antara role play dan diskusi kelompok.
Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa bentuk permainan
seperti permainan monopoli, menggunakan dadu, petunjuk arah dan

11
papan monopoli. Beberapa orang menjadi pemain dan sebagian
lainnya berperan sebagai narasumber.
3) Metode pendidikan massa
Media surat kabar

2.2 Kelompok Anak Usia Sekolah


2.2.1 Karakteristik Anak Usia Sekolah
Anak usia sekolah merupakan anak yang berumur 6-18 tahun
(Soetjiningsih, 1995). Namun usia rata-rata anak Indonesia saat masuk sekolah
dasar adalah 6 tahun dan selesai pada usia 12 tahun. Kalau mengacu pada
pembagian tahapan perkembangan anak, berarti anak usia sekolah berada
dalam dua masa perkembangan, yaitu masa kanak-kanak tengah (6-9 tahun),
dan masa kanak-kanak akhir (10-12 tahun).
Anak-anak usia sekolah ini memiliki karakteristik yang berbeda
dengan anak-anak yang usia nya lebih muda. Ia senang bermain, senang
bergerak, senang bekerja dalam kelompok, dan senang merasakan atau
melakukan sesuatu secara langsung.
Menurut Havighurst, tugas perkembangan anak usia sekolah dasar
meliputi:
a. Menguasai ketrampilan fisik yang di perlukan dalam permainan dan
aktivitas fisik.
b. Membina hidup sehat.
c. Belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok.
d. Belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin.
e. Belajar membaca, menulis, dan berhitung agar mampu berpartisipasi dalam
kelompok.
f. Memperoleh sejumlah konsep yang diperlukan untuk berfikir efektif.
g. Mengembangkan kata hati, moral dan nilai-nilai.
h. Mencapai kemandirian pribadi.
2.2.2 Perkembangan Anak Sekolah
a. Perkembangan fisik
Sampai dengan usia sekitar 6 tahun telihat bahwa badan anak bagian
atas berkembang lebih lambat daripada bagian bawah. Anggota-anggota badan
relatif masih pendek, kepala dan perut relatif masih besar. Selama masa akhir

12
anak-anak, tinggi bertumbuh sekitar 5% hingga 6% dan berat bertambah
sekitar 10% setiap tahun. Pada usia 6 tahun tinggi rata-rata anak adalah 46
inchi dengan berat 22,5 kg. Kemudian pada usia 12 tahun tinggi anak
mencapai 60 inchi dan berat 40-42,5 kg (Mussen, Conger & Kagan, 1969).
Jadi, pada masa ini peningkatan berat badan anak lebih banyak
daripada panjang badannya. Peningkatan berat badan anak selama masa ini
terjadi terutama karena bertambahnya ukuran sistem rangka dan otot, serta
ukuran beberapa organ tubuh. Pada saat yang sama, masa dan kekuatan otot-
otot seacar berangsur-angsur bertambah. Pertambahan kekuatan otot ini adalah
karena faktor keturunan dan latihan (olahraga). Karena perbedaan jumlah sel-
sel otot, maka umumnya anak laki-laki lebih kuat daripada anak perempuan
(Santrock, 1995).
b. Perkembangan kognitif
Menurut pada teori kognitif Piaget, pemikiran anak-anak usia sekolah
dasar masuk dalam tahap pemikiran konkret-operasional (concrete operational
thought), yaitu masa dimana aktifitas mental anak terfokus pada objek-objek
yang nyata atau pada berbagai kejadian yang pernah dialaminya. Ini berarti
bahwa anak usia sekolah dasar sudah memiliki kemampuan untuk berpikir
melalui urutan sebab akibat dan mulai mengenali banyaknya cara yang bisa
ditempuh dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Anak usia ini
juga dapat mempertimbangkan secara logis hasil dari sebuah kondisi atau
situasi serta tahu beberapa aturan atau setrategi berpikir, seperti penjumlahan,
pengurangan, penggandaan, mengurutkan sesuatu secara berseri dan mampu
mememahami operasi dalam sejumlah konsep (Jhonson & Medinnus, 1974).
Dalam upaya memahami alam sekitarnya mereka tidak lagi terlalu
mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indra, karena ia mulai
kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan
kenyataan yang sesungguhnya, dan antara yang bersifat sementara dengan
yang bersifat menetap. Pemahaman tentang waktu dan ruang (spatial relations)
anak usia sekolah dasar juga semakin baik. Anak usia SD telah memiliki
struktur kognitif yang memungkinkannya dapat berpikir untuk melakukan
suatu tindakan, tapi ia sendiri bertindak secara nyata. Hanya saja, apa yang
dipikirkan oleh anak masih terbatas pada hal-hal yang ada hubungannya
dengan sesuatu yang konkret, suatu realitas secara fisik, benda-benda yang

13
benar-benar nyata. Sebaliknya, benda-benda atau peristiwa peristiwa yang
tidak ada hubungannya secara jelas dan konkret secara realitas, masih sulit
dipikirkan oleh anak.

Keterbatasan lain yang terjadi dalam kemampuan berfikir konkret anak


ialah egosentrisme. Artinya, anak belum mampu membedakan antara
perbuatan-perbuatan dan objek-objek yang secara langsung dialami dengan
perbuatan-perbuatan yang objek-objek yang hanya ada dalam pikirannya.
Terlepas dari keterbatasan tersebut, pada masa akhir usia sekolah (10-12
tahun) atau pra-remaja, anak-anak terlihat semakin mahir menggunakan
logikanya. Hal ini diantaranya terlihat dari kemahirannya dalam menghitung
yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

c. Perkembangan Konsep Diri


Pada awal-awal masuk sekolah dasar, terjadi penurunan dalam konsep
diri anak. Hal ini disebabkan oleh tuntutan baru dalam akademik dan
perubahan sosial yang muncul di sekolah. Sekolah dasar banyak memberikan
kesempatan kepada anak-anak untuk membandingkan diri dengan temannya,
sehingga penilaian dirinya menjadi realistis. Anak-anak yang secara rutin lebih
mungkin untuk melakukan langkah-langkah yang dapat mempertahankan
keutuhan harga dirinya. Mereka sering memfokuskan perhatian pada bidang
dimana mereka unggul seperti olahraga atau hobi, dan kurang perhatiannya
pada bidang yang memberi kesukaran pada dirinya. Hal itu disebabkan karena
mereka telah menguasai sejumlah bidang dan pengalaman untuk
memperhitungkan kekuatan dalam penampilan diri mereka, maka kebanyakan
anak berusaha mempertahankan kestabilan harga diri mereka selama
bersekolah.
Penelitian F. Abound dan S. Skerry (1983), menemukan bahwa anak-
anak kelas dua jauh lebih cenderung menyebutkan karakteristik psikologisnya
(seperti sifat-sifat kepribadian). Dalam pendefenisian diri mereka dan kurang
cenderung menyebutkan karakterisrik fisik (seperti warna mata atau
pemilikan).
d. Perkembangan Spiritual
Sebagai anak yang tengah berada dalam tahap pemikiran operasional
konkret, maka anak-anak usia sekolah dasar akan memahami segala sesuatu

14
yang abstrak dengan interpretasi secara konkret. Hal ini juga berpengaruh
terhadap pemahamannya mengenai konsep-konsep keagamaan. Misalnya
gambaran tentang tuhan, pada awalnya anak-anak akan memahami tuhan
sebagai subuah konsep konkret yang mempunyai perwujudan real, serta
memiliki sifat pribadi seperti manusia. Namun seiring perkembangan
kognitifnya, konsep ketuhanan yang bersifat konkret ini mulai berubah
menjadi abstrak. Dengan demikian, gagasan-gagasan keagamaan, yaang
bersifat abstrak dipahami secara konkret, seperti tuhan itu satu, tuhan itu amat
dekat, tuhan itu ada dimana-mana, mulai dapat di pahami.
e. Perkembangan Bahasa
Usia SD merupakan berkembang pesatnya mengenal pembendaharaan
kata. Pada awal masa sekolah, anak menguasai kurang lebih 2500 kata dan
pada masa akhir sekolah menguasai kurang lebih 30.000 kata. Sehingga pada
anak ini mulai gemar membaca dan berkomunikasi dengan orang lain.
Faktor yang mempengaruhi komunikasi pada masa sekolah yaitu
kematangan organ bicara dan proses belajar. Pada usia SD perkembangan
bahasa telah mencapai tingkatan :
1) Dapat membuat kalimat yang lebih sempurna.
2) Dapat membuat kalimat yang lebih majemuk.
3) Dapat menyusun dan mengajukan pertanyaan.

Hal tersebut bertujuan untuk :

1) Agar dapat berkomunikasi dengan orang lain


2) Anak dapat menyatakan isi hati dan perasaannya
3) Memahami atau terampil mengolah informasi yang diterima
4) Melatih berfikir atau meyatakan gagasan
5) Mengembangkan kepribadiannya
6) Perkembangnan Sosial.
f. Perkembangan Emosi
Anak SD mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar
tidak dapat diterima dalam masyarakat, maka mereka mulai belajar
mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya. Kemampuan mengontrol
emosi pada anak, dipengaruhi oleh suasana kehidupan ekspresi emosi didalam

15
keluarga. Berbagai emosi yang dialami anak usia sekolah adalah marah, takut,
cemburu, rasa ingin tahu dan kegembiraan yang meluap.
g. Perkembangan Motorik
Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang, maka
perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Pada
masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktifitas motorik. Oleh karena
itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar ketrampilan yang
berkaitan dengan motorik, seperti menulis, menggambar, melukis, berenang,
main bola, dan atletik. Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu
faktor penentu kelancaran proses belajar, baik dalam bidang pengetahuan
maupun ketrampilan.
h. Perkembangan moral
Pada usia sekolah dasar anak sudah dapat mengikuti pertautan atau
tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini anak
sudah dapat memahami alasan mendasari suatu peraturan. Di samping itu,
anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep
benar-salah atau baik-buruk.
2.2.3 Tugas-tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah
Tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul pada
periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu
dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam
menuntaskan tugas berikutnya, sementara apabila gagal maka akan
menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan,
menimbulkan penolakan masyarakat dan kesulitan dalam menuntaskan tugas
berikutnya (Yusuf 1992:3).
Munculnya tugas-tugas perkembangan, bersumber pada faktor-faktor
berikut:
a. Kematangan fisik, misalnya belajar berjalan karena kematangan otot-otot
kaki, belajar bertingkah laku, bergaul dengan jenis kelamin yang berbeda
pada masa remaja karena kematangan organ-organ seksual.
b. Tuntutan masyarakat secara kultural, misalnya belajar membaca, belajar
menulis, belajar berhitung, belajar berorganisasi.
c. Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri, misalnya memilih
pekerjaan, memilih teman hidup.

16
d. Tuntutan norma agama, misalnya taat beribadah kepada Allah SWT,
berbuat pada sesama manusia.
Masa sekolah merupakan masa yang penting bagi manusia, terutama
menyangkut pembentukan mental dan sosialnya. Tugas-tugas perkembangan
pada masa ini ialah:
a. Belajar memperoleh ketrampilan fisik untuk melakukan permainan.
Pada masa sekolah anak sudah sampai pada taraf penguasaan otot,
sehingga sudah dapat berbaris, senam pagi, dan permainan-permainan
ringan.
b. Membentuk sikap-sikap sehat terhadap dirinya demi kepentingan
organismenya yang sedang tumbuh.
Hakikat tugas ini ialah :

1) Mengembangkan kebiasaan untuk memelihara badan.


2) Mengembangkan sikap positif terhadap jenis kelaminnya dan juga
menerima dirinya.
c. Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya.
Belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru serta
teman-teman sebayanya. Pergaulan anak di sekolah atau teman sebayanya
mungkin diwarnai perasaan senang atau tidak senang.
d. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
Apabila anak sudah masuk sekolah, perbedaan jenis kelamin akan
semakin tampak. Dari segi permainan akan tampak bahwa permainan
yang dilakukan akan berbeda antara laki-laki dan perempuan.
e. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung.
Pada usia 6-12 tahun disebut masa sekolah karena pertumbuhan jasmani
dan perkembangan rohaninya sudah cukup matang untuk menerima
pengajaran.
f. Belajar mengembangkan konsep sehari-hari.
Ingatan mengenai pengamatan yang telah lalu disebut konsep (tanggapan).
Semakin bertambah pengetahuan, semakin besar pula konsep yang
diperoleh.

17
g. Mengembangkan kata hati.
Hakikat tugas ini ialah, mengembangkan sikap dan perasaan yang
berhubungan dengan norma-norma agama. Hal ini menyangkut
penerimaan dan penghargaan terhadap peraturan agama disertai dengan
perasaan senang untuk melakukan atau tidak melakukannya.
h. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
Hakikat tugas ini ialah, utnuk dapat menjadi orang yang berdiri sendiri,
dalam arti dapat membuat rencana, berbuat untuk masa sekarang dan masa
yang akan datang dari pengaruh orangtua dan orang lain.
i. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial dan
lembaga-lembaga.
Hakikat tugas ialah mengembangkan sikap sosial yang demokratis dan
menghargai orang lain.
2.3 Masalah Kesehatan Anak usia Sekolah
KEMENKES RI masih giat dalam upaya penanggulangan masalah kesehatan
anak usia sekolah di Indonesia. Tiga masalah utama yang jadi fokus utama ialah
kebiasaan merokok pada usia sekolah, kurang makan sayur dan buah, dan perilaku
mencuci tangan agar bisa mencegah penyakit. Menurut perbandingan Riskesdas tahun
2007 dan 2010, ditemukan kejadian anak merokok pada usia sekolah ialah usia tahun
lima sampai sembilan, anak merokok pada usia sekolah meningkat dari 1.2 persen
menjadi 1.7 persen. Kemudian, kategori 10 sampai dengan 14 tahun dari 10.3 persen
meningkat menjadi 17.5 persen dan makin tinggi dikategori umur selanjutnya.
Kemudian, prevalensi anak usia sekolah kurang makan buah dan sayur masih di
angka 93.6 persen dari 100 persen untuk kategori umur 10 sampai dengan 14 tahun.
Sementara perilaku benar dalam cuci tangan ialah masih sebatas 17 persen di umur 10
sampai 14 tahun dari 100 persen. Semua itu tengah menjadi fokus pada Kemenkes RI
agar tahun depan bisa ditekan dari tahun ke tahun. (Nawawi, 2013)
Dalam penelitian (Luthviatin, Rokhmah, & Andrianto, 2011)Beberapa
penyakit menular seperti diare dan kecacingan lebih sering terjadi pada perilaku
masyarakat yang kurang menjaga kebersihan diri dan lingkungan, sehingga menjadi
tempat perkembangbiakan dan sumber penularan penyakit. Penyakit tersebut adalah
penyakit yang ditularkan melalui berbagai media. Penyakit jenis ini merupakan
masalah kesehatan yang besar di hampir semua negara berkembang karena angka
kesakitan dan kematiannya yang relatif tinggi dalam waktu relatif singkat. Menurut

18
data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, untuk angka kejadian diare golongan
usia anak sekolah juga mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2008
jumlah kasus diare sebesar 12.157, pada tahun 2009 kasus diare sebesar 12.511, dan
pada tahun 2010 terjadi peningkatan sebesar 12.802. Sedangkan wilayah yang
memiliki angka kejadian diare tertinggi untuk usia anak sekolah adalah di wilayah
Kecamatan Rambipuji yaitu sebesar 621 kasus atau sebesar 4,85% dari total kasus
seluruhnya sebanyak 12.802 kasus.
2.4 Metode Promosi Kesehatan: Simulasi
2.4.1 Definisi Simulasi
Simulasi adalah suatu metode pembelajaran yang menyajikan pelajaran
dengan menggunakan situasi atau proses nyata, dengan peserta didik terlibat
aktif dalam berinteraksi dengan situasi di lingkunganya. Peserta didik
mengaplikasikan pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya. Hal ini
berguna untuk memberikan respo (membuat keputusan dan melakukan
tindakan) untuk mengatasi masalah/ situasu dan menerima umpan balik
tentang respon tersebut. (Rheba de dan Martha A. Thompson, 1987)
Simulasi adalah sebagai suatu model sistem dimana komponennya di
presentasikan oleh prosesor prosesor aritmatika dan logika yang di jalankan
komputer untuk memperkirakan sifat sifat dinanamis sistem tersebut.
(Emshoff dan simun , 1970)
Simulasi merupakan proses aplikasi membangun model dari sistem
nyata atau usulan sistem, melakukan eksperimen dengan model tersebut untuk
menjelaskan perilaku sistem,mempelajari kinerja sistem atau untuk
membangun sistem baru sesuai dengan kinerja yang diinginkan. (Khosnevis,
1994)
2.4.2 Tujuan Simulasi
Membantu Peserta didik Mempraktikan keterampilan dalam membuat
keputusan dan penyelesaina masalah, mengembangkan kemampuan
berinteraksi antar manusia serta memberikan kesempatan peserta didik untuk
menerapkan berbagai prinsip teori, serta untuk meningkatkan kemampuan
kognitif, afektif, dan psikomotor.
Tujuan Simulasi yang lain yaitu:
a. Melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi
kehidupan sehari-hari,

19
b. Memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip,
c. Melatih memecahkan masalah,
d. Meningkatkan keaktifan belajar,
e. Memberikan motivasi belajar kepada siswa,
f. Melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok
g. Menumbuhkan daya kreatif siswa, dan
h. Melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.
2.4.3 Jenis simulasi
a. Bermain Peran (role playing)
Dalam proses pembelajarannya metode ini mengutamakan pola
permainan dalam bentuk dramatisasi. Dramatisasi dilakukan oleh kelompok
siswa dengan mekaanisme pelaksanaan yang diarahkan oleh guru untuk
melaksanakan kegiatan yang telah ditentukan/direncanakan sebelumnya.
Simulasi ini lebih menitik beratkan pada tujuan untuk mengingat atau
menciptakan kembali gambaran masa silam yang memungkinkan terjadi
pada masa yang akan datang atau peristiwa yang actual dan bermakna bagi
kehidupan sekarang.
b. Sosiodrama
Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk
memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial,
permasalahannya yang menyangkut hubungan antara manusia. Dalam
pembelajarannya yang dilakukan oleh kelompok untuk melakukan aktivitas
belajar memecahkan masalah yang berhubungan dengan masalah individu
sebagai makhluk sosial. Misalnya, hubungan anak dan orang tua, antara
siswa dengan teman kelompoknya.
c. Permainan simulasi (simulasi games)
Dalam pembelajarannya siswa bermain peran sesuai dengan peran
yang ditugaskan sebagai belajar membuat suatu keputusan.
d. Peer Teaaching
Peer teaching merupakan latihan mengajar yang dilakukan oleh siswa
kepada teman-teman calon guru
2.4.4 Prosedur Simulasi
Menurut Sri Anitah, W. dkk (2007) prosedur yang harus ditempuh
dalam penggunaan metode simulasi adalah :

20
a. Menetapkan topik simulasi yang diarahkan oleh fasilitator,
b. Menetapkan kelompok dan topik-topik yang akan dibahas,
c. Simulasi diawali dengan petunjuk dari fasilitator tentang prosedur, teknik,
dan peran yang dimainkan,
d. Proses pengamatan pelaksanaan simulasi dapat dilakukan dengan diskusi,
e. Mengadakan kesimpulan dan saran dari hasil kegiatan simulasi.
Menurut Udin (2001), model ini memiliki 4 tahap sebagai berikut:

Tahap I. Orientasi

a. Menyediakan berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan


diintegrasikan dalam proses simulasi.
b. Menjelaskan prinsip simulasi dan permainan.
c. Memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi.

Tahap II. Latihan bagi peserta

a. Membuat skenario yang berisi aturan, peranan, langkah, pencatatan, bentuk


keputusan yang harus dibuat, dan tujuan yang akan dicapai.
b. Menugaskan para pemeran dalam simulasi
c. Mencoba secara singkat satu episode

Tahap III. Proses simulasi

a. Melaksanakan aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut.


b. Memperoleh umpan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terhadap
performan si pemeran.
c. Melanjutkan permainan/simulasi

Tahap IV. Pemantapan dan debriefing

a. Memberikan ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul selama


simulasi.
b. Memberikan ringkasan mengenai kesulitan-kesulitan dan wawasan para
peserta.
c. Menganalisis proses
d. Membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata.
e. Menghubungkan proses simulasi dengan isi pelajaran.

21
f. Menilai dan merancang kembali simulasi.
2.4.5 Kelebihan dan Kekurangan Metode Simulasi
Menurut Sri Anitah, W. DKK (2007) mengemukakan tentang
keunggulan dan kelemahan metode simulasi sebagai berikut:
a. Kelebihan
1. Peserta dapat melakukan interaksi sosial dan komunikasi dalam
kelompoknya,
2. Aktivitas peserta cukup tinggi dalam pembelajaran sehingga terlibat
langsung dalam pembelajaran,
3. Dapat membiasakan peserta untuk memahami permasalahan sosial
(merupakan implementasi pembelajaran yang berbasis kontekstual),
4. Dapat membina hubungan personal yang positif,
5. Dapat membangkitkan imajinasi,
6. Membina hubungan komunikatif dan bekerja sama dalam kelompok.
b. Kekurangan
1. Relatif memerlukan waktu yang cukup banyak,
2. Sangat bergantung pada aktivitas peserta,
3. Cenderung memerlukan pemanfaatan sumber belajar,
4. Banyak peserta yang kurang menyenangi sosiodrama sehingga
sosiodrama tidak efektif.
Wina Sanjaya (2007) menyatakan bahwa terdapat beberapa kelebihan
dan kelemahan dengan menggunakan simulasi antara lain :
a. Kelebihan
1. Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi peserta dalam menghadapi
situasi yang sebenarnya kelak, baik dalam kehidupan keluarga,
masyarakat, maupun menghadapi dunia kerja.
2. Simulasi dapat mengembangkan kreativitas peserta, karena melalui
simulasi peserta diberi kesempatan untuk memainkan peranan sesuai
dengan topik yang disimulasikan.
3. Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri peserta.
4. Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan
dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.
5. Simulasi dapat meningkatkan gairah peserta dalam proses
permbelajaran.

22
b. Kekurangan
1. Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan
sesuai dengan kenyataan di lapangan.
2. Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan sebagai alat
hiburan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
3. Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering memengaruhi
peserta dalam melakukan simulasi.

23
BAB 3
KASUS DAN PERENCANAAN PROMOSI KESEHATAN DI SEKOLAH

3.1 Analisis Situasi


Sekolah Dasar X yang berada di papua dengan jumlah keleuruhan siswa 33
siswa dengan pembagian 18 siswa dan 15 siswi. Di sekolah dasar ini ditemukan
banyaknya kejadian yang berhubungan dengan masalah kesehtan gigi seperti
ditemukanya beberapa siwa maupun siswi yang mengalami karies gigi maupun gigi
berlubang. Setidaknya di sekolah ini dalam setiap bulanya dapat dipastikan setidaknya
tidak kurang dari 4 orang yang mengalami masalah kesehatan gigi. Menurut
pengamatan dan juga pengkajian yang dilakukan hal ini dapat terjadi karena UTS
yang sudah ada tidak dapat menjalankan programnya secara efektif.

3.1.1 Diagnosa Masalah


Fase 1 : Diagnosis Sosial
Berdasarkan data yang didapatkan pada bulan Oktober di SD. X Papua, didapatkan
data banyak anak yang mengalami masalah kesehatan gigi seperti karies gigi dan gigi
berlubang. Program UKS sudah ada namun tidak efektif dalam prosesnya.
Fase 2 : Diagnosis epidemiologi
a. Umur
Penderita karies gigidan gigi berlubang di SD X Papua adalah :
Kelas 1 : 9 siswa
Kelas 2 : 8 siswa
Kelas 3 : 7 siswa
Kelas 4 : 5 siswa
Kelas 5 : 3 siswa
Kelas 6 : 1 siswa
b. Jenis Kelamin
Penderita karies gigi dan gigi berlubang di SD. X adalah :
Laki-laki : 18 siswa
Perempuan: 15 siswa
c. Morbiditas
Dari hasil survei ditemukan bahwa hampir setiap bulanya terdapat lebih dari 4
siswa yang tidak masuk dikarenakan sakit gigi.

24
d. Tanda dan gejala
Siswa yang mengalami sakit gigi menunjukkan tanda nyeri dan gejala penurunan
nafsu makan sehingga badan tampak lemas.
e. Penanggulangan
Pihak sekolah telah menginformasikan mengenai gosok gigi yang benar melalui
poster di majalah dinding sekolah namun hanya sedikit siswa yang memperhatikan
hal tersebut. Selain itu, belum adanya penyuluhan dan edukasi mengenai
pentingnya menggosok gigi pada pagi hari setelah sarapan dan sebelum tidur dari
pihak sekolah maupun UKS karena UKS sudah tidak berjalan selama satu tahun
terakhir.
f. Mortalitas
Tidak ditemukannya siswa yang meninggal diakibatkan sakit gigi.
Fase 3 : Diagnosis Perilaku dan Lingkungan
a. Perilaku kesehatan dan masalah lingkungan (fisik dan psikososial)
Menurut hasil observasi pada lingkungan sekolah, SD. X Papua memiliki
lingkungan sekolah yang bersih, tidak ada sampah yang berserakan, dan memiliki
ruangan kelas yang bersih. Saat istirahat, siswa bermain di halaman sekolah dan
membeli jajanan dari kantin sekolah dan penjual makanan diluar pagar disamping
jalan raya. Kebanyakan siswa membeli jajan yang mengandung gula seperti
permen dan coklat.
b. Indikator perilaku :
1) Pemanfaatan pelayanan kesehatan yang ada
Program UKS sudah tersedia namun tidak berjalan selama satu tahun terakhir.
2) Upaya preventif
Tindakan pencegahan yaitu terdapat pendidikan kesehatan mengenai gosok
gigi hanya melalui poster yang tertempel di mading sekolah.
3) Upaya pemeliharaan kesehatan sendiri
Rendahnya perilaku siswa dalam mempraktikan gosok gigi yang benar.
Fase 4 : Diagnosis Pendidikan Organisasional
a. Faktor predisposisi
Rendahnya perilaku dalam mempraktikan gosok gigi yang benar dan jajanan yang
mengandung gula.
b. Faktor pemungkin

25
Rendahnya perhatian siswa terhadap pendidikan kesehatan mengenai cara
menggosok gigi yang benar.
c. Faktor penguat
Belum adanya pendidikan kesehatan mengenai gosok gigi dengan metode selain
ceramah oleh pihak sekolah dan UKS.
Fase 5 : Diagnosis Administratif dan kebijakan
Dalam menangani permasalahan ini, program UKS harus kembali dijalankan secara
maksimal dan melakukan kerjasama dengan pihak sekolah untuk memberikan edukasi
dan pelatihan cara menggosok gigi yang benar kepada siswa di SD.X. Selain itu perlu
diadakan pendidikan kesehatan kepada para penjual jajanan baik di kantin maupun di
sekitar sekolah tersebut mengenai pentingnya memilih jajanan yang baik untuk
kesehatan gigi pada anak dengan masa pertumbuhan serta kebersihan makanan untuk
anak usia sekolah. Orang tua juga perlu dilibatkan dalam menurunkan angka kejadian
karies gigi dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang cara menggosok gigi
yang benar dan kapan seharusnya dilakukan. Namun hambatan yang dihadapi dalam
melaksanakan program ini yaitu menjalankan kembali program UKS yang berarti
harus melibatkan pihak Puskesmas sehingga memerlukan waktu yang cukup lama.
3.1.2 Menetapkan Prioritas Masalah
Masalah yang perlu ditangani terlebih dahulu untuk mengurangi kejadian karies gigi
di SD X yaitu meningkatkan kesadaran dan kemampuan cara menggosok gigi yang
benar dengan memberikan edukasi dan mengajarkan seluruh siswa cara menggosok
gigi yang baik dan benar.

3.2 Pengembangan Rencana Kegiatan Promosi Kesehatan di Sekolah


1. Latar belakang
Penyakit gigi dan mulut adalah suatu penyakit yang tidak kalah pentingnya
dengan penyakit lain. Penyakit gigi dan mulut yang paling banyak terjadi adalah
karies gigi (Zelvya, 2003). Menurut Sondang (2008) perilaku anak Indonesia di
dalam menjaga kesehatan rongga mulut masih rendah. Perawatan gigi dianggap
tidak terlalu penting, padahal manfaatnya sangat vital dalam menunjang kesehatan
dan penampilan (Pratiwi, 2007).
Setiap orang perlu menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan cara menyikat
gigi dengan benar untuk mencegah terjadinya karies gigi. Hasil Riset Kesehatan
Daerah (RISKESDAS) tahun 2013 tentang perilaku menyikat gigi bertujuan untuk

26
mengetahui kebiasaan dan waktu menyikat gigi yang dilakukan pada kelompok
umur ≥10 tahun berjumlah 835.256 responden. Definisi berperilaku benar dalam
menyikat gigi adalah kebiasaan menyikat gigi setiap hari sesudah makan pagi dan
sebelum tidur malam. Didapatkan proporsi penduduk umur ≥10 tahun sebagian
besar (93,8%) menyikat gigi setiap hari. Provinsi dengan proporsi tertinggi adalah
DKI Jakarta (98,1%) dan terendah Papua (49,6%). Sebagian besar penduduk juga
menyikat gigi pada saat mandi sore, yaitu sebesar 79,7 persen dengan urutan
tertinggi di Bengkulu sebesar 94,2 persen, dan yang terendah di Sulawesi Selatan
sebesar 43,2 persen. Sebagian besar penduduk menyikat gigi setiap hari saat mandi
pagi atau mandi sore. Kebiasaan yang keliru hampir merata tinggi di seluruh
kelompok umur. Kebiasaan benar menyikat gigi penduduk Indonesia hanya
2,3persen, Provinsi tertinggi untuk perilaku menyikat gigi dengan benar adalah
Sulawesi Barat yaitu 8,0 persen.Hasil Riset Kesehatan Daerah (RISKESDAS)
tahun 2007 oleh Departemen Kesehatan RI menunjukkan prevalensi anak yang
mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut berdasarkan karakteristik umur
adalah 5-9 tahun sebesar 21,6%, umur 10-14 tahun sebesar 20,6% dan terjadi di
pedesaan sebesar 24,4 %.
Pemilihan pola makan yang salah dan pengaruh gaya hidup modern juga dapat
menyebabkan timbulnya karies gigi pada anak. Pemilihan pola makanan yang
terlalu banyak mengandung gula disamping kurangnya perhatian orangtua tentang
perilaku menggosok gigi secara rutin dan benarpada anak merupakan dampak dari
gaya hidup. Lebih parahnya lagi orangtua justru sering tidak memperdulikan
tentang cara menggosok gigi dengan baik dan benar serta manfaat menggosok gigi
dan pentingnya kebersihan mulut bagi anak. Hal ini disebabkan kurangnya
pengetahuan orangtua terutama ibu tentang pemilihan jenis makanan bagi anaknya,
dan kurangnya pengetahuan orangtua terutama ibu tentang perawatan gigi yang
benar bagi anaknya terutama anak-anak usia prasekolah (Eliza, 2002).
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari kepala sekolah SDN Dawu 2 dan
SDN Gelung 3 pendidikan kesehatan gosok gigi dengan metode permainan
simulasi belum pernah diberikan oleh guru ataupun petugas kesehatan setempat
sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di 2 SDN tersebut.
2. Menentukan Tujuan
a. Tujuan Umum

27
Prevalensi karies gigi pada siswa SD X Papua menurun atau tidak mengalami
peningkatan.
b. Tujuan Khusus
1) Peningkatan pengetahuan siswa, warga, dan masyarakat sekolah serta
masyarakat di sekitarnya tentang karies gigi, pencegahan dan
penanganannya sebesar 50% setelah program berjalan 3 bulan.
2) Peningkatan kebiasaan perilaku siswa untuk menggosok gigi dengan cara
yang benar sebesar 75% setelah program berjalan 1 tahun.
3. Menentukan Sasaran Promosi Kesehatan di Sekolah
a. Sasaran primer : seluruh siswa SD.X
b. Sasaran sekunder : warga sekolah (guru, kepala sekolah, dan staff sekolah
lainnya),masyarakat sekolah (penjual makanan dan penjaga sekolah) dan
masyarakat sekitarnya, termasuk orang tua siswa.
c. Sasaran tersier : Komite Sekolah, Tim Pembina dan pelaksana UKS,
dan penentu kebijakan seperti PGRI, kepala dinas pendidikan, kepala dinas
kesehatan.
4. Menentukan Metode Promosi Kesehatan di Sekolah
a. Penyuluhan
Metode penyuluhan langsung merupakan metode awal yang perlu
dilakukan dalam promosi kesehatan di SD. X sebelum tahap simulasi. Tujuan
dari penyuluhan ini adalah diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan
sasaran mengenai menggosok gigi yang benar. Pada tahap penyuluhan sasaran
akan diberikan materi mengenai definisi, manfaat, waktu yang tepat untuk
menggosok gigi, serta cara melakukan gosok gigi dengan benar. Penyuluhan
dilakukan di aula sekolah dan juga akan disajikan video mengenai pentingnya
menggosok gigi serta pemberian contoh langsung cara menggosok gigi oleh
fasilitator. Dalam penyuluhan nantinya akan terdapat metode menggunakan
media permainan ular tangga sehingga terjadi peningkatan pengetahuan. Pada
akhir penyuluhan, fasilitator akan memberikan kesempatan pada peserta untuk
bertanya mengenai materi yang belum dipahami.
b. Simulasi games
Metode utama yang digunakan yaitu simulasi jenis games, dalam
games tersebut kami menggunakan media ular tangga dengan sebuah dadu
yang terbuat dari kardus. Para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok

28
dengan masing-masing 5-6 siswa tiap kelompok, kemudian tiap kelompok
diperintahkan untuk mengocok dadu secara bergiliran. Ketika dadu dilembar
dan behenti diangka yang muncul saat dilempar, siswa harus berjalan sesuai
besarnya angka dadu dan berhenti diangka tersebut. Lalusiswa akan diberikan
pertanyaan sesuai di nomor perhentian mereka dalam ular tangga. Peserta
wajib menjawab dan bisa ditambahkan oleh peserta lainnya. Peserta yang
menjawab akan mendapatkan reward dari fasilitator. Setelah peserta
menjawab fasilitator akan memberikan penjelasan dan feedback. Metode ini
dapat sekaligus digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa
terhadap menggosok gigi yang benar khususnya setelah materi yang
disampaikan pada penyuluhan sebelumnya.
c. Pemasangan poster
Metode selanjutnya yang akan dilakukan adalah pemasangan beberapa
poster di beberapa sudut SD. X dengan bantuan guru-guru disekolah tersebut.
Poster akan dipasang di depan wastafel, kantin dan pada masing-masing kelas.
Tujuan dari pemasangan poster tersebut adalah agar para sasaran dapat tetap
mengingat pengetahuan tentang cara menggosok gigi yang benar, yang
sebelumnya telah disampaikan.
5. Menentukan Media Promosi Kesehatan di Sekolah
a. Poster
Media promosi kesehatan yang digunakan yaitu dengan poster yang
akan dipasang di depan wastafel, kantin dan pada masing-masing kelas. Pada
poster tersebut berisi materi mengenai SOP cara menggosok gigi yang benar,
kapan waktu yang baik untuk menggosok gigi. Poster tersebut akan di desain
semenarik mungkin dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan sasaran
khususnya siswa SD. X sehingga informasi yang ingin disampaikan melalui
poster dapat dipahami oleh sasaran.
b. Video
Media promosi kesehatan melalui video akan digunakan pada saat
penyuluhan berlangsung. Pemutaran video tersebut bertujuan agar terjadi
perubahan sikap sasaran menjadi secara konsisten melakukan penggosokan
gigi. Video yang akan ditayangkan berisi tentang pentingnya menggosok gigi
yang benar. dari segi manfaat dan dampak jika tidak melakukan cara
menggosok gigi yang benar.

29
c. Slide presentasi
Media ini juga digunakan saat penyuluhan yang memiliki tujuan yaitu
untuk menunjang materi yang akan disampaikan fasilitator kepada sasaran.
Slide tersebut berisi tentang semua materi yang terdiri atas definisi, manfaat,
waktu yang tepat saat menggosok gigi, dan cara menggosok gigi yang benar.
Slide tersebut dapat berupa power point yang disambungkan pada layar LCD
untuk dapat ditampilkan dan dilihat oleh para sasaran.
d. Permainan Game “Ular Tangga”
Media Promosi Kesehatan yang digunakan disini adalah sebuah papan
ular tangga yang mempunyai nomer 1 – 50 untuk sampai puncaknya. Dimana
di setiap 10 kotak terdapat beberapa point pertanyaan yang harus dijawab oleh
peserta. Pertanyaan yang ada tersebut berhubungan dengan kesehatan gigi.
Tujuan penggunaaan media ini adalah agar anak-anak dapat belajar tentang
kebersihan gigi namun juga dapat bermain, dan tidak terlalu merasa ditekan.
Disini juga kitamencoba mereview kemabali hal-hal yang telah diterangkan
sebelumnya. Apakah anak-anak ini telah mengerti atau belum dengan masalah
kesehatan gigi, media ini juga dapat digunakan sebagai media evaluasi
seberapa tingkat pengetahuan mereka yang telah mendapatkan promosi
kesehatan sebelumnya apakah mengalami peningkatan atau tidak. Yaitu
dengan cara apakah anak tersebut dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang ada di ular tangga tersebut. Jika sang anak tidak dapat menjawab suatu
pertanyaan di Ular tangga tersebut maka fasilitator akan membantu untuk
menjawab pertanyaan tersebut.
Lampiran Pertanyaan Ular tangga:
1. Apaitugosokgigi yang benar?
2. Kapankitaharusmenggosokgigi yang benar?
3. Apaakibatnya apabila menggosok gigi dengan cara yang salah?
4. Mengapakitaharusmenggosokgigi yang benar?
5. Bagaimanacaramenggosokgigi yang benar?
6. Apa manfaat gosok gigi?
7. Alat apa saja yang dibutuhkan untuk mengosok gigi?
8. Apa saja yang dapat menyebabkan sakit gigi?
9. Makanan apa saja yang menyebabkan karies gigi?
10. Bagaimana pencegahan agar tidak terjadi karies gigi?

30
6. Menyusun Rencana Evaluasi
Evaluasi akan dilakukan setelah 3 bulan berjalannya program, sasaran yang
akan dievaluasi yaitu siswa dan warga SD.X terutama guru serta petugas UKS.
Indicator yang perlu dievaluasi diantaranya adalah terpasangnya poster pada sudut
yang telah ditentukan, kebiasaan siswa menggosok gigi 2 kali sehari, pengetahuan
siswa dalam menggosok gigi sudah baik dilihat dari jawaban-jawaban saat simulasi
game. Kemudian dilihat dari sikap atau cara menggosok gigi, siswa mempunyai
ketrampilan/perilaku yang baik dalam hal menggosok gigi, prevalensi kejadian
karies gigi pada siswa di SD. X sudah berkurang melalui penyuluhan dan simulasi
game.
7. Menyusun Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
No. Nama Kegiatan Tanggal Pelaksanaan PJ Kegiatan
1. Pembuatan proposal 25 Agustus 2014 Shilvy Dwi Purnama Sari
kegiatan
2. Pengajuan proposal 15 September 2014 Toni Subarkah
kegiatan pada Dinas
Pendidikan Kota
3. Penyuluhan 27 November 2014 Sevina Ramahwati dan
Ersy Rosantri Fa’ah
4. Simulasi games 4 Desember 2014 Hannik Rahmaningrum
dan Dwi Adinda
Mukhalladah
5. Pemasangan poster 5 Desember 2014 Suryo Hermawan
7. Evaluasi 7 Maret 2015 Mirna Lidyana

3.3 Kasus
SD.X berlokasi di Papua, berdasarkan data yang didapatkan pada bulan Oktober,
didapatkan data banyak anak yang mengalami masalah kesehatan gigi seperti karies gigi
dan gigi berlubang. Program UKS sudah ada namun tidak efektif dalam prosesnya.
Menurut hasil observasi pada lingkungan sekolah, SD. X Papua memiliki lingkungan
sekolah yang bersih, tidak ada sampah yang berserakan, dan memiliki ruangan kelas yang
bersih. Saat istirahat, siswa bermain di halaman sekolah dan membeli jajanan dari kantin

31
sekolah dan penjual makanan diluar pagar disamping jalan raya. Kebanyakan siswa
membeli jajan yang mengandung gula seperti permen dan coklat.

3.4 Pelaksana (Satuan Acara Kegiatan Simulasi)


SATUAN ACARA KEGIATAN SIMULASI
Pokok Bahasan : Kesehatan Komunitas Anak Usia Sekolah
Sub Pokok Bahasan : Cara Menggosok Gigi yang Benar
Sasaran : Siswa Kelas 2 SD.X
Hari / Tanggal : Kamis/ 14 November 2014
Waktu : 09.00-10.00 WIB (60 Menit)
Ruangan : Aula sekolah SD.X

A. Tujuan Intruksional Umum


Setelah mendapatkan penjelasan dan simulasi kesehatan tentang cara menggosokgigi
dengan benar diharapkan peserta (siswa) dapat
melakukancaramenggosokgigidenganbenarsesuaidenganlangkah-langkah yang
dijelaskan.
B. Tujuan Intruksional Khusus
Setelah mendapatkan simulasi peserta mampu:
1. Mengetahui definisi menggosokgigi yang benar
2. Menyebutkan manfaat menggosokgigi yang benar
3. Melakukan caramenggosokgigi yang benar
4. Menyebutkan kapan menggosokgigi yang benar
5. Menyebutkan alat apa saja yang digunakan untuk menggosok gigi
6. Menyebutkan penyebab dari sakit gigi
7. Menyebutkan makanan yang menjadi penyebab karies gigi
8. Meyebutkan cara pencegahan karies gigi
C. Metode
Penjelasan materi disampaikan dengan metode ceramah dengan bantuan media
poster dan video tentang gosok gigi. Setelah materi disampaikan, dilanjutkan dengan
simulasi games ular tangga. Gamesular tangga sebagai bentuk evaluasi pemahaman
siswa terhadap materi gosok gigi yang disampaikan oleh pemateri.
D. Media
1. Poster

32
2. Video
3. Alat yang diperlukan:
a. Manekingigi, sikatgigi, pasta gigi.
b. Ulartangga gigi sehat
c. Dadu (Kardus)
E. Isi Materi
1. Definisi menggosokgigi yang benar
2. Manfaat menggosokgigi yang benar
3. Caramenggosokgigi yang benar
4. Akibat mengosok gigi yang salah
5. Waktuuntukmenggosokgigi
6. Peralatan gosok gigi
7. Penyebab dari kerusakan gigi (gigi berlubang, karies gigi, sakit gigi)
8. Makanan-makanan yang dapat menjadi masalah untuk gigi
9. Pencegahan dari karies gigi
F. Proses Pelaksanaan Penyuluhan
No TahapWaktu Kegiatan
1. Introduksi 1. Fasilitator akan memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kegiatan
(10 menit) penyuluhan kepada siswa. Tujuan penyuluhan adalah, menyampaikan
materi gosok gigi.
Penyuluhan 2. Penyuluhan materi gosok gigi. Fasilitator menyampaikan materi tentang
(15 menit) gosok gigi yang benar. Isi dari materi tersebut diantaranya adalah :
a. Definisi menggosok gigi yang benar
Kegiatan b. Manfaat menggosok gigi yang benar
Peserta: c. Caramenggosok gigi yang benar
mendengarkan d. Waktu untukmenggosok gigi
e. Peralatan gosok gigi
Pelaksana: f. Penyebab dari kerusakan gigi (gigi berlubang, karies gigi, sakit
Fasilitator gigi)
g. Makanan-makanan yang dapat menjadi masalah untuk gigi
h. Pencegahan dari karies gigi

3. Tujuan Simulasi

33
Setelah melakukan simulasi peserta mampu:
4. Mengetahui definisi menggosok gigi yang benar.
5. Menyebutkan manfaat menggosok gigi yang benar.
6. Melakukan cara menggosok gigi yang benar.
7. Menyebutkan kapan menggosok gigi yang benar.
2. Enactment Permainan Games Ular tangga. Permainan games ular tangga adalah
(30 menit) serangkaian kegiatan dari acara penyuluhan ini. Setelah dilaksanakan
penyampaian materi melalui metode cerah dilanjutkan dengan games ular
Kegiatan tangga. Peserta akan dipilih 5 orang volunteer untuk mengikuti permainan
Peserta: ini. Fasilitator akan menjelaskan terlebih dahulu bagaimana proses
Memperhatikan berjalannya game. Langkah permainan dari games ini adalah :
fasilitator dalam a. Dipilih 5 orang peserta
penjelasan b. Menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama
games yang untuk melempar dadu.
akan dimainkan c. Setiap dadu yang dilempar, akan menunjukan angka yang kemudian
peserta akan melangkahkan bidaknya sesuai nomor yang keluar pada
Pelaksana: dadu. Apabila peserta mendapatkan angka 6, peserta akan
Fasilitator mendapatkan kesempatan untukmelempar dadu kembali dan
melangkahkan bidaknya sesuai angka yang didapat.
d. Apabila bidak peserta mengenai tangga, maka diwajibkan untuk naik.
Sebaliknya, apabia bidak mengenai kepala ular maka bidak peserta
diwajibkan untuk turun.
e. Apabila bidak peserta mengenai bintang pada kotak ular tangga,
peserta diwajibkan mengikuti perintah dari soal yang tertera pada
kotak nomor yang ada di ular tangga tersebut. Perintah dari soal
dapat berupa menjawab pertanyaan, melakukan gerakan yang
diperintahkan, menyebutan sesuatu yang ditanyakan.
f. Peserta akan bergantian melempar dadu sesuai dengan nomor urutan
yang didapatkan. Nomor urutan peserta 1, 2, 3, 4 dan 5.
g. Peserta yang bidaknya lebih dulu mencapai angka 50, maka peserta
akan dinyatakan menang,

Daftar pertanyaan pada undian yaitu:

34
11. Apa itu gosok gigi yang benar?
12. Kapan kita harus menggosok gigi yang benar?
13. Apaakibatnya apabila menggosok gigi dengan cara yang salah?
14. Mengapa kita harus menggosok gigi yang benar?
15. Bagaimanacara menggosok gigi yang benar?
16. Apa manfaat gosok gigi?
17. Alat apa saja yang dibutuhkan untuk mengosok gigi?
18. Apa saja yang dapat menyebabkan sakit gigi?
19. Makanan apa saja yang menyebabkan karies gigi?
20. Bagaimana pencegahan agar tidak terjadi karies gigi?

Jawaban Dari pertanyaan:


1. Gigi adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan gigi dengan
menggunakan sikat gigi dan pasta gigi.
2. Pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.
3. Menyikat gigi dengan waktu yang singkat, akan membuat kuman masih
tertinggal. Akibat dari menggosok gigi dengan cara yang salah, dapat
menyebabkan gusi berdarah, area yang banyak kuman belum tersentuh.
Memilih sikat gigi yang salah dapat menyebabkan gusi bisa terluka atau
lecet yang akhirnya dapat memicu kuman berkembang biak.
4. Supaya tidak terjadi sakit gigi/karies gigi. Gosok gigi yang benar
mencegah kuman menumpuk di mulut dan membuat gigi tetap sehat.
5. Gosok gigi yang benar adalah:
a. Tempatkan sikat gigi pada sudut 450 ke gusi. Pindahkan secara
bergantian ke arah gigi yang lain.
b. Sikat permukaan luar, permukaan bagian dalam, dan permukaan
tenga gigi (pengunyah gigi)
c. Untuk membersihkan celah gigi bagian bagian depan, arahkan sikat
dengan posisi vertikal kemudian gosok ke bawah dan ke atas secara
bergantian
d. Sikat lidah untuk menghilangkan bakteri dan menjaga nafas tetap
segar
6. Manfaat gosok gigi

35
a. Mencegah gigi berlubang
b. Mencegah gigi hilang/copot
c. Membuat gigi lebih cerah dan bersih
d. Menyegarkan nafas
e. Meningkatkan kesehatan bagi tubuh
f. Hemat
7. Peralatan gosok gigi
a. Gelas atau wadah penampung air untu berkumur
b. Pasta gigi
c. Sikat gigi
d. Handuk
8. Hal yang dapat menyebabkan karies gigi
a. Faktor makanan
b. Sikat gigi berawal dari gusi yang bengkak
c. Jarang gosok gigi
d. Gosok gigi yang tidak benar
9. Makanan yang dapat menyebabkan karies gigi
Permen manis, Kue, Jajanan mengandung gula dan Coklat
10. Pencegahan karies gigi
a. Gosok gigi sekurang-kurangnya dua kali sehari pada waktu yang
tepat yaitu, sesudah makan dan sebelum tidur
b. Pilih sikat gigi yang berbulu halus
c. Untuk anak yang masih kecil dan belum dapat menggunakan sikat
gigi dengan benar, dapat digunakan kain pembersih yang tidak
terlalu tipis untuk membersihkan bagian depan dan belakang gigi,
gusi serta lidah. Cara mempergunakan yaitu dengan melilitkan pada
jari kemudian digosokkan pada gigi.

3. Review 1. Melakukan review pengalaman bersimulasi


(20 menit) 2. Mengidentifiasi kejadian yang berkesan dalam simulasi
Kegiatan 3. Menganalisis kesan yang didapat oleh peserta
Peserta: 4. Menyimpulkan kegiatan acara
Aktif bertanya

36
dan
memperhatikan
Pelaksana:
Fasilitator

G. Setting Tempat
Di awalpenyuluhansiswadudukmemperhatikanmateri yang
diberikan.Setelahpemberianmaterisiswaberdirimelingkardanmelaksanakanpermainans
esuaidengangames yang ditentukan.
H. Pengorganisasian
1. Perawat 1 : sebagaifasilitator yang mengarahkanjalannyapermainan
2. Perawat 2 : sebagaifasilitator yang
mengatursimulasidanmenjelaskanmateri yang sekiranyabelumdipahamiolehsiswa
3. Guru : membantumengkondisikanjalanyapermainan
4. Siswa : sebagaiobyek yang melaksanakanpermainan
I. Evaluasi
Evaluasidilaksanakan di
saatsiswamelakukansimulasigamesdanmenjawabpertanyaanselamagamesdanketikape
nutupandenganmelemparkanpertanyaansertamencobakemampuananakdalammelaksan
akanpraktikcaramenggosokgigi yang benardidepankelas.

3.5. Isi Materi


1. Pengertian menggosok gigi
Menggosok gigi adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan gigi dengan
menggunakan sikat gigi dan pasta gigi. Menggok gigi merupakan upaya yang
dilakukan untuk menjaga agar gigi tetap dalam keadaan bersih dan sehat.
2. Manfaat Menggosok Gigi
a. Mencegah Gigi berlubang.
Gigi yang terdapat plak menjadi penyebab utama kerusakan gigi. Palak
tersebut bersifat asam yang akan menggrogoti enamel gigi dan jika dibiarkan
tanpa pengawasan akan menyebabkan gigi berlubang. Plak yang menempel pada
gigi dapat dihilangkan dengan menyikat gigi dan pemeriksaan gigi.
b. Mencegah gigi copot/hilang.

37
Penyakit gusi yang dimulai dari menumpuknya plak gigi merupakan penyebab
utama copotnya/hilangnya gigi. Dalam perkembangan penyakit gusi tersebut,
plak akan bergerak lebih ke bawah gigi di mana pak tesebut dapat
menghancurkan tulang penopang gigi yang berada dalam rahang. Hal tersebut
akan menyebabkan gigi yang menancap di rahang akan melonggar dan rontok.
Untungnya hal ini dapat dikurangi melalui menggosok gigi secara teratur dan
dikombinasikan dengan kebersihan mulut.
c. Membuat gigi lebih cerah dan senyuman menjadi indah.
Makan coklat dan teh terlalu sering dapat menodai gigi. Dengan menggosok
gigi akan menghapus noda. Hasilnya, gigi lebih putih dan senyum indah.
d. Menyegarkan nafas
Menggosok gigi dengan teratur akan menjaga kebersihan mulut. Menggosok
gigi akan mencegah bau mulut. Gogok gigi yang teratur akan membuat gigi
bersih dan nafas tidak bau.
e. Meningkatkan kesehatan bagi tubuh
Penelitian telah menunjukan hubungan antara kesehatan mulut dengan
kesehatan tubuh secara keseluruhan. Periksan gigi dan gosok gigi secara teratur
dapat membantu menurunkan resiko untuk mengalami beberapa penyakit, seperti
penyakit jantung dan stroke. Banyak kondisi medis, beberapa dari mereka akan
mengancam jiwa.
f. Hemat
Menggosok gigi dengan teratur akan membuat hemat. Bagaikan sebuah
investasi, menggosok gigi adalah cara termudah untuk mencegah dari penyakit
misalnya gigi berlubang dan gigi rontok. Gosok gigi dapat dilakukan secara rutin
agar gigi sehat tanpa mengelurkan uang untuk mendapat kesembuhan.
3. Cara Menggosok Gigi yang benar

Tempatkan sikat gigi pada sudut 450 ke


gusi. Pindahkan secara bergantian ke
arah gigi yang lain

38
Sikat permukaan luar, permukaan bagian dalam,
dan permukaan tenga gigi (pengunyah gigi)

Untuk membersihkan celah gigi bagian


bagian depan, arahkan sikat dengan posisi
vertikal kemudian gosok ke bawah dan ke
atas secara bergantian

Sikat lidah untuk menghilangkan bakteri


dan menjaga nafas tetap segar

4. Akibat mengosok gigi yang salah


Menyikat gigi dengan waktu yang singkat, akan membuat kuman masih tertinggal.
Akibat dari menggosok gigi dengan cara yang salah, dapat menyebabkan gusi
berdarah, area yang banyak kuman belum tersentuh. Memilih sikat gigi yang salah
dapat menyebabkan gusi bisa terluka atau lecet yang akhirnya dapat memicu kuman
berkembang biak.

5. Waktu untuk menggosok gigi


American Dental Association merekomendasikan menyikat gigi minimal dua kali
sehari.

39
a. Pagi hari 30 menit setelah sarapan
b. Malam hari sebelum tidur
6. Peralatan Gosok gigi
a. Gelas atau wadah penampung air untuk berkumur
b. Pasta gigi
c. Sikat gigi
d. Handuk
7. Hal-hal yang menjadi penyebab sakit gigi
a. Faktor makanan
b. Sakit gigi berawal dari gusi yang bengkak
c. Jarang gosok gigi
d. Gosok gigi yang tidak benar
8. Makanan yang dapat menyebabkan karies gigi
Bahan makanan (karbohidrat) dapat memicu terjadinya karies gigi harus
kontak dengan permukaan gigi dalam waktu cukup lama. Karbodidrat ini apabila
terdapat dalam jumlah cukup besar, sering dikonsumsi, terutama jenis yang lengket
atau melekat pada gigi , maka kemungkinan terjadinya karies juga cukup tinggi. Ada
jenis karbohidrat yang dijumpai, yaitu : tepung polisakarida, sukrosa dan glukosa,
dimana sukrosa paling mudah menyebabkan terjadinya karies atau lubang gigi.
Karbohidrat ini dapat dijumpai pada hampir semua makanan, sedangkan
makanan atau pada jajanan yang disukai pada anak-anak banyak dijumpai pada
makanan : permen, coklat, kue-kue dan gula. Sedangkan karbohidrat dalam buah-
buahan tidak menimbulkan karies, karena jumlahnya tidak banyak. Meskipun
karbohidrat dapat menyebabkan karies, namun demikian kita tidak perlu takut untuk
mengkonsumsinya, asalkan kita rajin membersihkan dan merawat gigi kita dengan
baik dan benar.
9. Pencegahan Karies gigi
Perawatan mulut dilakukan dengan mempraktekkan intruksi berikut :
a. Gosok gigi sekurang-kurangnya dua kali sehari pada waktu yang tepat yaitu,
sesudah makan dan sebelum tidur.
b. Pilih sikat gigi yang berbulu halus
c. Untuk anak yang masih kecil dan belum dapat menggunakan sikat gigi dengan
benar, dapat digunakan kain pembersih yang tidak terlalu tipis untuk

40
membersihkan bagian depan dan belakang gigi, gusi serta lidah. Cara
mempergunakan yaitu dengan melilitkan pada jari kemudian digosokkan pada
gigi.

41
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Promosi Kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan
intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik, dan organisasi, yang dirancang
untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi
kesehatan. Promosi kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkan
kontrol terhadap, dan memperbaiki kesehatan mereka. Metode promosi kesehatan
adalah metode penyuluhan langsung dan metode penyuluhan tidak langsung.
KEMENKES RI masih giat dalam upaya penanggulangan masalah kesehatan
anak usia sekolah di Indonesia. Tiga masalah utama yang jadi fokus utama ialah
kebiasaan merokok pada usia sekolah, kurang makan sayur dan buah, dan perilaku
mencuci tangan agar bisa mencegah penyakit.
Salah satu metode promosi kesehatan yang cocok digunakan untuk anak usia
sekolah adalah simulasi. Simulasi adalah suatu metode pembelajaran yang
menyajikan pelajaran dengan menggunakan situasi atau proses nyata, dengan peserta
didik terlibat aktif dalam berinteraksi dengan situasi di lingkunganya. Jenis simulasi
adalah bermain peran (role playing), sosiodrama, permainan simulasi (simulasi
games), peer teaaching.

4.2 Saran
Makalah ini diharapkan dapat menambah danmengembangkan referensi untuk
mahasiswa tentang promosi kesehatan pada kelompok anak usia sekolah dengan
metode simulasi. Perawat khususnya di tatanan komunitas penting untuk mengetahui
dan memahami pelaksanaan promosi kesehatan yang tepat dengan tujuan untuk
meningkatkan derajat kesehatan dan pengetahuan khususnya pada anak usia sekolah.

42
DAFTAR PUSTAKA

Anitah, Sri, W, dkk. 2007. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Efendi Ferry, Makhfudli. 2009. KeperawatanKesehatanKomunitas

:TeoridanPraktikdalamKeperawatan.Jakarta :SalembaMedika

Maulana, Herry. 2007. Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC

Maulana, Heri. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC

Nawawi, Q. (2013, 12 5). Tiga Masalah Kesehatan Anak Usia Sekolah di Indonesia.

Retrievedfrom

Okezone:http://lifestyle.okezone.com/read/2013/12/05/482/907644/tiga-masalah-

kesehatan-anak-usia-sekolah-di-indonesia

Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.Jakarta : Rineka Cipta.

Nursalam, Efendi 2008. Pendidikan Dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba medika

Sanjaya, Wina. 2007.Stategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.


Bandung.Kencana

Tones, Keith and Green, Jackie. 2004. Health Promotion: Planning and Strategies. Health

Education Research Vol.20 no.3 Oxford University Press

Winataputra, Udin S. 2001. Model-model pembelajaran Inovatif. Universitas Terbuka,


Jakarta.

http://www.depkes.go.id/resources/download/promosi-kesehatan/panduan-promkes-dbk.pdf

diakses tanggal 20 Oktober 2015 jam 21.00 WIB

Carr, Alan 2013, ‘When and how often should you brush your teeth?’, Mayo Clinic, 14 Mei diakses
pada 24 Oktober 2015,
http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/expert-answers/brushing-
your-teeth/faq-20058193

‘6 things a dental cleaning can do for you’ 2015, Delta Dental of California, diakses pada 24
Oktober 2015, https://www.deltadentalins.com/oral_health/teeth_cleaning.html

43
‘How to Brush’ 2015, American Dental Asociation, diakses pada 24 Oktober 2015,
http://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/b/brushing-your-teeth

44