Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT STIMULANSIA KAFEIN PADA


MENCIT JANTAN (MUS MUSCULUS) SECARA INTRAPERITONEAL

Asisten : Bu. Sur


Golongan U (Kamis pukul 10.30-12.30)
Kelompok 2
Kevin Theodore 2443016027
Shendy Fransiska 2443016016
Elisabeth Hutaminingsih 2443016020
Adeline Greselda 2443016024
Gracia Gazali 2443016126

PROGRAM STUDI S1
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Judul Praktikum


Pengujian Aktivitas Obat Stimulansia

1.2 Tujuan Praktikum


1.2.1 Memahami efek berbagai dosis kafein sebagai stimulan
1.2.2 Mengenal macam-macam alat yang dapat digunakan untuk uji efek stimulan
BAB 2
LANDASAN TEORI
Obat yang termasuk golongan obat stimulansia pada umumnya ada dua mekanisme
yaitu: memblokade sistem penghambatan dan meninggikan perangsangan sinaps. Sensasi
yang ditimbulkan akan membuat otak lebih jernih dan bisa berpikir lebih fokus. Otak menjadi
lebih bertenaga untuk berpikir berat dan bekerja keras, namun akan muncul kondisi arogan
yang tanpa sengaja muncul akibat penggunaan zat ini. Pupil akan berdilatasi(melebar). Nafsu
makan akan sangat ditekan. Hasrat ingin pipis juga akan ditekan. Tekanan darah bertendensi
untuk naik secara signifikan. Secara mental, pengguna akan mempunyai rasa percaya diri
yang berlebih dan merasa lebih senang. (Sunaryo, 1995)
Obat stimulansia ini bekerja pada sistem saraf dengan meningkatkan transmisi yang
menuju atau meninggalkan otak. Stimulan dapat meningkatkan denyut jantung, suhu tubuh
dan tekanan darah. Pengaruh fisik lainnya adalah menurunkan nafsu makan, pupil dilatasi,
banyak bicara, agitasi dan gangguan tidur. Bila pemberian stimulan berlebihan dapat
menyebabkan kegelisahan, panik, sakit kepala, kejang perut, agresif, dan paranoid. Bila
pemberian berlanjut dan dalam waktu lama dapat terjadi gejala tersebut diatas dalam waktu
lama pula. Hal tersebut dapat menghambat kerja obat depresan seperti alkohol, sehingga
sangat menyulitkan penggunaan obat tersebut. (Pendi, 2009)
2.1. Penggolongan Obat
Xanthin merupakan alkaloid yang bersifat basa lemah, biasanya diberikan dalam
bentuk garam rangkap. Untuk pemberian oral dapat diberikan dalam bentuk basa bebas atau
bentuk garam, sedangkan untuk pemberian parenteral perlu sediaan dalam bentuk garam.
2.1.1. Kafein
Disebut juga tein, merupakan kristal putih yang larut dalam air dengan perbandingan
1:46. Kafein-Na benzoat dan kafein sitrat, berupa senyawa putih, agak pahit, larut dalam air.
Yang pertama tersedia dalam ampul 2mL mengandung 500mg untuk suntikan IM, sedangkan
kafein sitrat terdapat dalam bentuk tablet 60 dan 120 mg untuk pemakaian oral. (Farmakologi
dan Terapi, 2008)
2.1.2. Teofilin.
Berbentuk kristal putih, pahit, dan sedikit larut dalam air. Di Indonesia, teofilin
tersedia dalam berbagai bentuk sediaan untuk penggunaan oral, yaitu kapsul atau kapsul
lunak teofilin 130 mg; tablet teofilin 150 mg: tablet salut selaput lepas lambat berisi teofilin
125 mg, 250 mg, dan 300 mg: sirup atau eliksir yang berisi teofilin sebanyak 50 mg/5mL,
130mg/15mL, dan 150mg/15mL. Teofilin juga tersedia dalam kombinasi tetap dengan
efedrin untuk asma bronkial. Aminofilin merupakan garam teofilin untuk penggunaan IV,
tersedia dalam ampul 10mL mengandung 24 mg aminofilin setiap mililiternya. (Farmakologi
dan Terapi, 2008)
2.1.3. Pentoksifilin (1-(5-oksoheksil)-3,7 dimetilxantin)
Di Amerika Serikat digunakan untuk klaudikasio intermiten pada penyakit pembuluh
arteri yang bersifat oklusif kronis. Pada uji klinis, pentoksifilin terbukti memperpanjang jarak
tempuh berjalan sebelum mulai timbul gejala klaudikasio: ditemukan juga bukti langsung
penambahan aliran darah pada kaki yang mengalami iskemia. Perbaikan klinis ini terutama
disebabkan oleh perbaikan fleksibilitas sel darah merah yang semula subnormal, penurunan
kadar fibrinogen dalam plasma dan penurunan viskositas darah. Respons klinik terhadap
pemberian pentoksifilin secara kronis, tidak berhubungan dengan perubahan resistensi perifer
dan denyut jantung: obat ini juga tidak bertindak sebagai vasodilator. Hasil terapi yang
menguntungkan baru terlihat 2 minggu sesudah pengobatan. Dosis pentoksifilin yaiitu 3 x
400 mg sehari per oral. (Farmakologi dan Terapi, 2008)

2.2. Farmakokinetika Obat (ADME)


Metilxantin cepat diabsorpsi setelah pemberian oral, rektal atau parenteral. Sediaan
bentuk cair atau tablet tidak bersalut akan diabsorpsi secara cepat dan lengkap. Absorpsi juga
berlangsung lengkap untuk beberapa jenis sediaan lepas lambat. Absorpsi teofilin dalam
bentuk garam yang mudah larut, misalnya teofilin Na glisinat atau teofilin kolin tidak lebih
baik.
Sediaan teofilin parenteral atau rektal ternyata tetap menimbulkan keluhan nyeri
saluran cerna, mual dan muntah. Rupanya gejala ini berhubungan dengan kadar teofilin
dalam plasma. Keluhan saluran cerna yang disebabkan oleh iritasi setempat dapat
dihindarkan dengan pemberian obat bersama makanan, tetapi akan terjadi penurunan absorpsi
teofilin.
Dalam keadaan perut kosong, sediaan teofilin bentuk cair atau tablet tidak bersalut
dapat menghasilkan kadar puncak plasma dalam waktu 2 jam, sedangkan kafein dalam waktu
1 jam.
Saat ini tersedia teofilin lepas lambat, yang dibuat sedemikian rupa agar dosis teofilin
dapat diberikan dengan interval 8, 12 atau 24 jam. Ternyata sediaan ini bervariasi kecepatan
maupun jumlah absorpsinya antar pasien; khususnya akibat pengaruh adanya makanan dan
waktu pemberian.
Pada umumnya adanya makanan dalam lambung akan memperlambat kecepatan
absorpsi teofilin tetapi tidak mempengaruhi derajat besarnya absorpsi.
Dari penelitian didapatkan bahwa bioavailabilitas sediaan lepas lambat tertentu
menurun akibat pemberian bersama makanan sedang penelitian lain mendapatkan yang
sebaliknya. Absorpsi juga dapat menurun bila pasien dalam keadaan berbaring atau tidur.
Faktor-faktor ini yang menyebabkan kadar teofilin dalam darah sukar bertahan dalam
keadaan konstan sepanjang hari. Juga sulit mendapatkan kadar konstan untuk pengobatan
asma kronis. Untunglah diketahui bahwa serangan asma biasanya paling berat menjelang pagi
hari sehingga dapat diatur pemberian regimen dosis teofilin untuk mengatasi keadaan
tersebut.
Larutan teofilin yang diberikan sebagai enema diabsorpsi lebih lengkap dan cepat,
sedangkan sediaan supositoria diabsorpsi lambat dan tidak menentu. Pemberian teofilin IM
harus dihindarkan karena menimbulkan nyeri setempat yang lama.
Metilxantin didistribusikan ke seluruh tubuh, melewati plasenta dan masuk ke air susu
ibu. Volume distribusi kafein dan teofilin ialah antara 400 dan 600 mL/kg; pada bayi
prematur nilai ini lebih tinggi. Derajat ikatan protein teofilin ternyata lebih besar daripada
kafein. Dalam kadar terapi ikatan teofilin dengan protein kira-kira 60% tetapi pada bayi baru
lahir dan pada pasien sirosis hati ikatan protein ini lebih rendah (40%).
Eliminasi metilxantin terutama melalui metabolisme dalam hati. Sebagian besar
diekskresi bersama urin dalam bentuk asam metilurat atau metilxantin. Kurang dari 20%
teofilin dan 5% kafein akan ditemukan di urin dalam bentuk utuh. Waktu paruh plasma
kafein antara 3-7 jam, nilai ini akan menjadi 2 kali lipat pada wanita hamil tua atau wanita
yang menggunakan pil kontrasepsi jangka panjang. Sedangkan waktu paruh plasma teofilin
pada orang dewasa 8-9 jam dan pada anak muda kira-kira 3,5 jam. Pada pasien sirosis hati
atau edema paru akut, kecepatan eliminasi sangat bervariasi dan berlangsung lebih lambat,
pernah dilaporkan lebih dari 60 jam. Pada bayi prematur, kecepatan eliminasi teofilin dan
kafein sangat menurun; waktu paruh kafein rata-rata 50 jam, sedangkan teofilin pada
berbagai penelitian berkisar antara 20-36 jam. (Farmakologi dan Terapi, 2008)

2.3. Struktur Obat

Nama Kimia : 1,3,7-trimethylxanthine


Rumus Molekul : C8H10N4O2 (anhydrous)
Berat Molekul : 194,19
Pemerian : Serbuk putih atau putih,berkilauan bentuk jarum berkilau, tidak berbau dan rasa
pahit. Netral terhadap lakmus,
Kelarutan : Sedikit larut dalam air dan dalam alkohol, praktis larut dalam kloroform, sedikit
larut dalam eter.
Kadar Bahan Aktif : Kafein mengandung tidak kurang dari 98,5 % dan tidak lebih dari
101,0% C8H10N4O2, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan
Titik lebur : 235°-237,5°
(The US Pharmacopeia, 1970)

2.4. Farmakodinamika Obat


Teofilin, kafein dan teobromin mempunyai efek farmakologi sama yang bermanfaat
secara klinis. Obat-obat ini menyebabkan relaksasi otot polos, terutama otot polos bronkus,
merangsang SSP, otot jantung, dan meningkatkan diuresis. Teobromin tidak bermanfaat
secara klinis karena efek farmakologisnya rendah.
Xantin merangsang SSP, menimbulkan diuresis, merangsang otot jantung, dan
merelaksasi otot polos terutama bronkus. Intensitas efek xantin terhadap berbagai jaringan ini
berbeda, dan dapat dipilih senyawa xantin yang tepat untuk tujuan terapi tertentu dengan
sedikit efek samping. (Farmakologi dan Terapi, 2008)

2.5. Efek Samping Obat dan Toksisitas Obat


2.5.1. Efek Samping Obat
Bila diminum lebih dari 10 cangkir kopi dapat berupa debar jantung, gangguan
lambung, tangan gemetar, gellisah, ingatan berkurang dan sukar tidur.
2.5.2. Toksisitas Obat
Pada manusia, kematian akibat keracunan kafein jarang terjadi. Gejala yang biasanya
paling mencolok pada penggunaan kafein dosis berlebihan ialah muntah dan kejang. Kadar
kafein dalam darah pascamati ditemukan antara 80 μg/mL sampai lebih dari 1 mg/mL.
Walaupun dosis letal akut kafein pada orang dewasa. antara 5-10 gr, namun reaksi yang tidak
diinginkan telah terlihat pada penggunaan kafein 1 g (15 mg/kgBB) yang menyebabkan kadar
dalam plasma di atas 30 μg/mL. Gejala permulaan berupa sukar tidur, gelisah dan eksitasi
yang dapat berkembang menjadi delirium ringan. Gangguan sensoris berupa tinitus dan
kilatan cahaya sering dijumpai. Otot rangka menjadi tegang dan gemetar sering pula
ditemukan takikardia dan ekstrasistol, sedangkan pernapasan menjadi lebih cepat.
Intoksikasi yang fatal lebih sering dijumpai pada penggunaan teofilin dibanding
dengan kafein. Keracunan teofilin biasanya terjadi pada pemberian obat berulang secara oral
maupun parenteral. Aminofilin IV harus disuntikkan perlahan-lahan, selama 20-40 menit
untuk menghindari gejala keracunan akut, misalnya sakit kepala, palpitasi, pusing, mual,
hipotensi dan nyeri prekordial. Suntikan 500 mg IV yang cepat dapat menyebabkan kematian
karena aritmia jantung. Gejala keracunan lain berupa takikardi, gelisah hebat, agitasi dan
muntah. Gejala ini biasanya berhubungan dengan kadar teofilin dalam plasma yang melebihi
20 μg/mL.
Kejang lokal atau umum dapat pula terjadi, kadang-kadang tanpa didahului gejala
keracunan. Kejang ini terjadi bila kadar dalam obat plasma melebihi 40 μg/mL, namun
demikian kejang dan kematian dapat pula terjadi pada kadar 25 μg/mL. Kejang akibat
keracunan metilxantin biasanya dapat diatasi dengan diazepam, walaupun pada beberapa
kasus serangan kejang tidak dapat diatasi dengan diazepam IV, fenitonin dan fenobarbital.
Bayi prematur relatif lebih tahan terhadap keracunan teofilin; kadar obat dalam plasma
sampai 80 μg/mL hanya menimbulkan gejala keracunan yang berupa takikardi. (Farmakologi
dan Terapi, 2008)
2.6. Indikasi Klinis Obat
ASMA BRONKIAL. Senyawa teofilin merupakan salah satu obat yang diperlukan
pada serangan asma yang berlangsung lama (status asmatikus).
Dalam mengatasi status asmatikus diperlukan berbagai tindakan termasuk
penggunaan oksigen, aspirasi mukus bronkus, pemberian obat simpatomimetik,
bronkodilator, ekspektoran dan sedatif.
Salah satu bronkodilator yang paling efektif ialah teofilin. Selain itu teofilin
digunakan sebagai profilaksis terhadap serangan asma.
Pada pasien asma, diperlukan kadar terapi teofilin sedikitnya 5-8 μg/mL, sedangkan
efek toksik mulai terlihat pada kadar 15 μg/mL dan lebih sering pada kadar diatas 20 μg/mL.
Karena itu pada pengobatan asma diusahakan kadar teofilin dipertahankan kira-kira 10
μg/mL. Karena variasi yang cukup besar dalam kecepatan eliminasi teofilin maka dosis perlu
ditentukan secara individual berdasarkan pemantauan kadarnya dalam plasma. Selain itu
respon individual yang juga cukup bervariasi menyebabkan teofilin perlu diawasi
penggunaanya dalam Therapeutic Drug Monitoring. Untuk mengatasi episode spasme
bronkus hebat dan status asamtikus, perlu diberikan aminofilin IV dengan dosis muat
(loading dose) 6 mg/kgBB yang ekuivalen dengan teofilin 5 mg/kgBB. Obat ini diberikan
secara infus selama 20-40 menit. Bila belum tercapai efek terapi dan tidak terdapat tanda
intoksikasi, maka dapat ditambahkan dosis 3 mg/kgBB dengan infus perlahan-lahan.
Selanjutnya efek yang optimal dapat dipertahankan dengan pemberian infus aminofilin 0,5
mg/kgBB/jam untuk dewasa normal dan bukan perokok. Anak dibawah 12 tahun dan orang
dewasa perokok memerlukan dosis lebih tinggi yaitu 0,8-0,9 mg/kgBB/jam. Dengan dosis ini
diharapkan dapat dipertahankan kadar terapi teofilin. Dosis pemeliharaan ini harus
diturunkan pada pasien dengan penurunan/gangguan perfusi hati. Tanpa mengetahui besarnya
kadar obat dalam plasma, pemberian infus tidak boleh melebihi 6 jam. Menurut Hendeles dan
Weinberger dosis awal teofilin oral bagi orang dewasa adalah 400 mg/hari, yang dapat
ditambahkan 25% dengan interval 3 hari sehingga dicapai dosis maksimum kira-kira 13
mg/kgBB/hari pada orang dewasa dan 24 mg/kgBB/hari pada anak umur 1-9 tahun. Sebagai
petunjuk penyesuaian dosis harus diperhatikan gejala intoksikasi yaitu mual, muntah, sakit
kepala; respon klinik dan kadar teofilin dalam plasma.
Pemberian larutan aminofilin secara rektal/ supositoria absorpsinya sangat variabel
sehingga cara ini tidak dianjurkan.
Kombinasi dengan agonis ß2- adrenergik misalnya metaproterenol atau terbutalin
ternyata meningkatkan efek bronkodilatasi teofilin sehingga dapat digunakan dosis dengan
risiko efek samping yang lebih kecil. Sedangkan kombinasi dengan efedrin masih
kontroversial, ada pendapat yang menyatakan bahwa kombinasi ini tidak menghasilkan efek
yang lebih baik daripada teofilin sendiri, sehingga kombinasi tetap kedua obat ini dianggap
irasional. Penambahan barbiturat dengan tujuan melawan efek teofilin terhadap SSP,
sebenarnya akan menimbulkan resiko peningkatan kecepatan eliminasi teofilin, selain juga
dapat mempengaruhi hasil pengukuran kadar teofilin plasma. Penggunaan minuman atau obat
yang mengandung kafein selama pengobatan teofilin dilarang untuk menghindarkan : (1) efek
aditif kafein pada SSP, kardiovaskular dan saluran cerna; (2) pengaruh kafein terhadap
eliminasi teofilin, karena keduanya dimetabolisme oleh enzim yang sama; dan (3)
kemungkinan pengaruh kafein terhadap hasil pene tapan kadar teofilin menurut cara tertentu.
PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (COPD). Teofilin juga banyak
digunakan pada penyakit ini dengan tujuan yang sama dengan pengobatan asma. Tetapi,
gejala lain menyangkut sistem kardiovaskular akibat penyakit paru obstruktif kronik ini
misalnya hipertensi pulmonal, payah jantung kanan pada Cor pulmonale, tidak diperbaiki
oleh teofilin. Teofilin tidak menyebabkan dilatasi langsung arteri pulmonalis, namun dapat
membantu mengurangi hipoksemia yang mungkin merupakan penyebab utama terjadinya
hipertensi pulmonal.
APNEA PADA BAYI PREMATUR. Pada byi prematur sering terjadi episode apnea
yang berlangsung lebih dari 15 detik yang disertai bradikardi. Hal ini dapat menimbulkan
hipoksemia berulang dan gangguan neurologis, yang mungkin berhubungan dengan penyakit
sistemik yang cukup berat. Berbagai penelitian menunjukkkan bahwa pemberian teofilin oral
atau IV dapat mengurangi lamanya apnea. Untuk itu teofilin cukup diberikan dlaam dosis
yang mencapai kadar plasma 3-5 μg/ml yaitu 2,5-5 mg/kgBB dan selanjutnya dipertahankan
dengan dosis 2mg/kgBB per hari.
KEGUNAAN YANG LAIN. Kafein jarang sekali digunakan untuk pengobatan
keracunan obat depresi SSP. Kalau digunakan biasanya diberikan 0,5g kafein Na benzoat.
Sedangkan penggunaan teofilin sudah ditinggalkan.
Kombinasi tetap kafein dengan analgetik misalnya aspirin digunakan untuk
pengobatan berbagai sakit kepala. Hanya sedikit data yang dapat memperkuat indikasi ini.
Kafein juga digunakan dalam kombinasi dengan alkaloid ergot untuk pengobatan migren;
perbaikan ini didasarkan atas kemampuan metilxantin menyebabkan vasokonstriksi
pembuluh darah serebral. (Farmakologi dan Terapi, 2008)
2.7. Daftar Produk Dagang Obat
Berikut merupakan daftar nama dagang obat dan industri pembuatnya:
2.7.1. Hemaviton energy drink carbonated – Tempo Scan Pacific
2.7.2. Hemaviton energy drink (original) – Tempo Scan Pacific
2.7.3. Refagan – Bayer
(ISO vol 46, 2012)
BAB 3
METODE PENGUJIAN AKTIVITAS OBAT

3.1 Jenis Obat


3.1.1 Kafein sitrat 1,5% dosis 25mg/70kgBB (IP)
3.1.2 Kafein sitrat 1,5% dosis 50mg/70kgBB (IP)
3.1.3 Aqua steril 1,5% dosis 75g/70kgBB (IP)
3.1.4 Kafein sitrat 1,5% dosis 75mg/70kgBB (IP)

3.2 Pemberian Dosis Obat pada Mencit


3.2.1 Kelompok 1
Bobot mencit : 31 gram
Dosis obat : 25mg/70kgBB
Konversi : 0,0026

Perhitungan : (1/15) x ((25x0,0026)/20) x 31 = 0,0067


: Diencerkan 8x : 8 x 0,0067 = 0,0536

3.2.2 Kelompok 2
Bobot mencit : 38 gram
Dosis obat : 50mg/70kgBB
Konversi : 0,0026

Perhitungan : 50mg x 0,0026 = 0,13mg


: 0,13mg/20g = X/38g
X = 38x0,13/20
X = 0,247mg
Pengenceran : 0,247mg x 1:(1:1500mg/100)
: 0,247mg x 0,0667 = 0,01646 ml
*Konsentrasi yang tersedia di lab 1,5%
*Dilakukan pengenceran 4x, sehingga jumlah yang disuntikkan adalah 0,06584 ml

3.2.3 Kelompok 3
Bobot mencit : 30 gram
Dosis obat : 75mg/70kgBB
Konversi : 0,0026

Perhitungan : 75mg x 0,0026 = 0,195


: 0,195 untuk 20gram
: 30 gram (bobot uji) butuh 0,2925
Pengenceran : 0,2925x(100/1500) = 0,0195ml
*Dilakukan pengenceran 3x, sehingga jumlah yang disuntikkan adalah 0,06 ml
3.3 Bahan Penginduksi
Kafein Sitrat

3.4 Klasifikasi Mencit


Klasifikasi mencit adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Mammali
Anak kelas : Theria
Bangsa : Rodentia
Sub bangsa : Myomorpha
Suku : Muridae
Anak suku : Murinae
Marga : Mus
Jenis : Mus musculus (Ballenger, 1999)

Mencit yang digunakan untuk praktikum ini adalah galur Swiss webster. Mencit liar
dan mencit laboratorium merupakan hewan semarga. Mencit laboratorium merupakan
turunan dari mencit liar sesudah melalui peternakan selektif. Mencit telah dianggap dewasa
setelah berumur 35 hari dengan bobot 20-30 g. Mencit yang digunakan adalah mencit jantan
karena tidak dipengaruhi hormon esterogen. Pemilihan mencit sebagai hewan coba
didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu harga yang relatif murah, ukurannya yang kecil
dan dasar fisiologinya yang dekat dengan manusia. Kualitas makanan dan faktor lingkungan
hidup dapat mempengaruhi kemampuan mencit untuk tumbuh, berbiak, dan atau reaksi
terhadap pengobatan. Cara pemberian obat pada mencit, dapat secara oral (melalui mulut),
subkutan (di bawah kulit), intramuskuler (ke dalam otot), Intravena (ke dalam vena), dan
intraperitoneal (ke dalam rongga perut) (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).
3.5 Alat-alat yang Digunakan
3.5.1. Holeboard
Dilakukan pengamatan terhadap jumlah gerakan spontan dari mencit yaitu
memasukan kepala hingga kedua telinga juga ikut masuk pada lubang-lubang papan kayu
dengan diameter 1 cm dan kedalaman 2 cm secara berulang yang mengindi-kasikan suatu
perilaku eksplorasi (File and Wardril, 1975).

3.5.2. Rotarod
Mencit diletakkan pada balok silinder berdiameter 3 cm yang berputar dengan
kecepatan lambat dan konstan (10 putaran per menit) pengamatan dila-kukan pada berapa
lama waktu mencit bertahan di atas balok silinder yang sedang berputar (Dunhan dan Miya,
1957).

3.5.4. Platform

Mencit diletakkan di atas platform sambal dilakukan pengamatan terhadap


aktivitasnya dalam menjengukkan atau menundukkan kepala sampai keluar dari tepi
platform. Dilakukan pencatatan terhadap jumlah jengukan pada tepi platform (Harun et al.,
1986)
BAB 4
SKEMA KERJA PRAKTIKUM

Tiap kelompok mendapat 1 ekor mencit, lalu di timbang

Menghitung dosis dan volume pemberian untuk mencit

Siapkan alat suntik yang sudah berisikan obat sesuai perhitungan dosis

Lakukan penyuntikan pada mencit di daerah abdomen intraperitoneal

Setelah itu, perlakuan pertama mencit di taruh di atas platform

Di amati aktivitas, sikap tubuh, jumlah jengukan/menit, dan kecepatan nafas/menit masing-masing
pada menit ke-5, 10, dan 15.

Dan di amati pula toxic response seperti straub effect, agresivitas, piloereksi, dan kewaspadaan
pada lingkungan

Perlakuan kedua, mencit di letakkan di atas rotaroad selama 20 menit

Di amati selisih waktu saat mencit di letakkan hingga jatuh dari rotaroad

Perlakuan ketiga, di masukkan ke dalam activity cage sesegera mungkin setelah penyuntkan

Di lakukan pengamatan jumlah aktivitas pada menit ke-5, 10 dan 15

Perlakuan keempat, mencit di letakkan di tengah hole board

Di lakukan penghitungan jengukankepala mencit ke dalam lubang selama 5 menit

Semua data yang di peroleh di masukkan ke dalam tabel


BAB 5

PEMBAHASAN
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.

Hole Hole
board Platform (...../5 menit) board Rota road
(...../5 Kelompok (...../ 5
menit) Praktikum Perlakuan ..../5' ..../10' ..../15' menit) (...... Menit) Keterangan :
Jengukan 18 19 33
Caffein Straub RR sebelum :
25 Effect 0 0 0 116/menit
Kelompok mg/70k RR sesudah :
37 I gBB Piloereksi 0 0 0 56 > 30 menit 99/menit
Jengukan 24 7 5
Straub RR sebelum :
Effect 0 0 0 100/menit
Caffein mulai
50 terjadi pada tetap
Kelompok mg/70k pilo menit piloer 7 menit 12 RR sesudah :
10 II gBB Piloereksi ereksi ke 7 eksi 13 detik 140/menit
Jengukan 5 7 9
Straub RR sebelum :
Effect 0 0 0 113/menit
Kelompok 4 menit 3 RR sesudah :
18 III Kontrol Piloereksi 0 0 0 12 detik 126/menit
Jengukan 18 6 3
Caffein Straub RR sebelum :
75 Effect 0 0 0 186/menit
Kelompok mg/70k 3 menit 1 RR sesudah :
54 IV gBB Piloereksi 0 0 0 18 detik 216/menit

Pada pemberian caffein 25 mg/70kgBB, mencit mengalami straub effect. Ekor mencit
menjadi kaku/hampir berdiri, akan tetapi hanya membentuk sudut yang kurang lebih sebesar
10o . Hal tersebut menunjukkan besarnya perangsangan dari caffein terhadap sistem saraf
pusat pada mencit. Pada pengamatan berikutnya, melihat jengukan setiap 5 menit, mencit
mengalami peningkatan jengukan. Hal ini mungkin disebabkan dari efek obat yang dituju
telah tercapai, memberikan efek stimulan. Respiratory Rate ``
Pada pemberian caffein 50 mg/70kgBB, mencit juga mengalami hal sama. Terjadi
straub effect akan tetapi tidak membentuk sudut 90o, kurang lebih membentuk sudut 30o. Ini
membuktikkan bahwa terjadi perangsangan yang lebih besar daripada pemberian 25
mg/70kgBB terhadap sistem saraf pusat mencit. Pada pengamatan yang kedua, dengan
mengamati jengukan setiap 5 menit, mencit mengalami penurunan jengukan. Hal ini
dikarenakan mencit yang cenderung diam.
Pada pemberian caffein 75 mg/70kgBB, mencit mengalami peningkatan Respiratory
Rate, akan tetapi mengalami penurunan jumlah jengukan. Hal tersebut mungkin disebabkan
karena mencit cenderung diam sebelum pemberian caffein.
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Pada pemberian obat sedatif hipnotik dosis tinggi akan semakin memberikan efek
sedatif hipnotik yang besar pula. Namun, pada praktikum ini efek tersebut sangat
nampak pada saat di rotaroad dimana mencit hilang keseimbangannya.

6.2 Usulan Penelitian


Sebaiknya tikus yang digunakan dicek apakah kondisinya sama semua untuk
digunakan pada semua perlakuan
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Farmakologi dan Terapi. 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Goodman, Gilman. 2008. Manual of Pharmacology and Therapeutics. The Mc Graw Hill,
USA.
McEvoy. 2011. AHFS Drug Information. American Society of Health System Pharmacists,
Bethesda.
Siswandono dan Bambang Soekardjo. 2000. Kimia Medisinal edisi 2. Airlangga University
Press, Surabaya.
Tjay ,T.H.,Rahardja,K. 2002. Obat-obat penting: Khasiat Penggunaan dan Efek Sampingnya.
Edisi VI. PT Alex Media Komputindo, Jakarta.
Golongan : U
Hari : Kamis
Jam praktikum : 10.30-12.30
Kelompok pembuat laporan :
1. Kevin Theodore 2443016027
2. Shendy Fransiska 2443016016
3. Elisabeth Hutaminingsih 2443016020
4. Adeline Greselda 2443016024
5. Gracia Gazali 2443016126