Anda di halaman 1dari 3

https://kemenag.go.

id/berita/read/506786/indonesia-amerika-jajaki-kerja-sama-sertifikasi-
produk-halal

Sukoso juga menjelaskan bahwa selain pencantuman label halal, untuk produk non halal juga
wajib mencantumkan label non halal, hal ini dimaksudkan untuk melindungi konsumen.
Menurutnya, jika label non halal tidak tercantum pada kemasan produk, hal ini akan membuat
konsumen bingung, karena tidak semua konsumen mengerti istilah-istilah yang tercantum dalam
komposisi suatu produk. Ketika ditanyakan mengenai kisaran biaya untuk mengurus sertifikasi
halal, Sukoso menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih menyusun Peraturan Menteri Agama
(PMA) yang akan mengatur prosedur sertifikasi halal.

Dalam kesempatan tersebut, Sekjen Nur Syam menyarankan agar pihak AS sudah mulai
mengidentifikasi produk-produknya agar dapat didaftarkan untuk memperoleh sertifikasi halal
pada tahun 2019 mendatang dan mulai menyiapkan poin-poin yang akan dituangkan dalam nota
kesepahaman (MoU).

"Kita masih punya waktu satu tahun karena pada 17 Oktober 2019 mendatang semua produk
yang masuk ke Indonesia harus memperoleh sertifikat halal," ujar Sekjen

https://kemenag.go.id/berita/read/508915/kemenag-susun-rpma-tata-cara-permohonan-dan-
pembaruan-sertifikat-halal

Jakarta (Kemenag) --- Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama
tengah menyusun Rancangan Peraturan Menteri Agama tentang Tata Cara Permohonan dan
Pembaruan Sertifikasi Halal. RPMA ini dibahas bersama dalam Focus Group Discussion (FGD)
yang berlangsung di Jakarta, 1- 3 Oktober 2018.

Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal, Siti Aminah menjelaskan bahwa tatacara penerbitan
sertifikat halal diatur pada Bab V UU No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. RPMA ini
akan menjabarkan hal-hal detail terkait dengan tatacara permohonan dan pembaruan sertifikasi
halal.

Menurutnya, ada beberapa tahap yang akan diatur dalam RPMA Ini terkait penerbitan sertifikasi
halal. Pertama, pengajuan permohonan oleh pelaku usaha. “Pelaku Usaha mengajukan
permohonan Sertifikat Halal secara tertulis kepada BPJPH, dengan menyertakan dokumen: data
Pelaku Usaha, nama dan jenis Produk, daftar Produk dan Bahan yang digunakan, dan proses
pengolahan Produk,” terang Aminah di Jakarta, Senin (01/10).

Kedua, pemilihan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Menurut Aminah, pelaku usaha diberi
kewenangan untuk memilih LPH yang akan memeriksa dan/atau menguji kehalalan produknya.
Sebagai lembaga yang bertugas memeriksaan dan/atau menguji kehalalan produk, LPH dapat
didirikan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat.

“LPH yang dipilih oleh pelaku usaha kemudian akan ditetapkan oleh BPJPH,” kata Aminah.

“Penetapan LPH, paling lama lima hari sejak hasil verifikasi dokumen permohonan dinyatakan
lengkap dan sesuai,” sambungnya.

Tahapan ketiga adalah pemeriksaan produk. Pemeriksaan dilakukan oleh Auditor Halal LPH yang
telah ditetapkan oleh BPJPH. Pemeriksaan kehalalan produk dilakukan di lokasi usaha pada saat
proses produksi.

“Pengujian kehalalan produk di laboratorium dapat dilakukan jika dalam pemeriksaan produk
terdapat bahan yang diragukan kehalalannya,” ujar Aminah.

“Hasil pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan produk kemudian diserahkan kepada BPJPH,”
imbuhnya.

Keempat, Penetapan Kehalalan Produk. BPJPH menyampaikan hasil pemeriksaan dan/atau


pengujian kehalalan produk yang dilakukan LPH kepada MUI untuk dibahas dalam sidang fatwa
halal MUI untuk memperoleh keputusan penetapan halal produk dari MUI.

“Sidang Fatwa Halal digelar paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak MUI menerima hasil
pemeriksaan dan/atau pengujian Produk dari BPJPH,” jelasnya.

Kelima, Penerbitan sertifikat halal. Sidang fatwa MUI yang menghasilkan keputusan penetapan
halal produk akan menjadi dasar bagi BPJPH untuk menerbitkan sertifikat halal. Penerbitan
sertifikat halal ini paling lambat 7 hari sejak keputusan penetapan halal produk diterima dari
MUI.

"Pelaku usaha yang memperoleh sertifikat halal akan langsung memperoleh label halal dan wajib
mencantumkan label halal pada kemasan produk,” ujarnya.

Siti Aminah menambahkan, BPJPH juga akan mempublikasikan penerbitan Sertifikat Halal setiap
produk. "Untuk produk yang dinyatakan tidak halal, BPJPH mengembalikan permohonan
Sertifikat Halal kepada pelaku usaha disertai dengan alasan,” tuturnya.

Sementara terkait pembaruan, Aminah mengatakan bahwa sertifikat halal wajib diperpanjang
oleh pelaku usaha. Caranya, pelaku usaha mengajukan pembaruan sertifikat halal paling lambat
3 (tiga) bulan sebelum masa berlaku sertifikat halal berakhir. (Adi)

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/18/10/18/pgrnem366-menag-
minta-bpjph-selesaikan-3-hal-untuk-sertifikasi-halal

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan,


berdasarkan undang-undang Nomor 33 Tahun 2014, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal
(BPJPH) memiliki tenggat waktu untuk melakukan sertifikasi produk halal hingga 17 Oktober
2019. Menurut dia, saat itu semua produsen yang memproduksi bahan makanan, obat-obatan,
atau produk kosmetik sudah harus memiliki sertfikasi halal.