Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH OBAT-OBAT ANTIDIABETIK TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH

MENCIT(Mus musculus)

Astri Hardiyanti, Andi Ayu Lestari, Nur Amalia Wuleho, Nurul Heria
Muh Ridwan Amin, Ummu Sumayyah

Asisten : Ismail S.Si., Apt


Kelompok 6
Golongan Senin

Laboratorium Biofarmasi Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin, Makassar

ABSTRAK
Telah dilakukan pengujian mengenai pengaruh obat-obatan antidiabetik oral terhadap kadar
glukosa darah dari hewan coba yaitu mencit (Mus musculus). Dalam pengujian ini digunakan 15 ekor
mencit dengan bobot badan yang berbeda-beda. Percobaan ini dibagi menjadi 5 kelompok dimana
mencit dari 4 kelompok diberikan 4 macam obat antidiabetik oral yang berbeda (Gibenklamid, Metformin,
Akarbose dan Glucofenac) secara oral dan mencit dari kelompok yang tersisa diberikan NaCMC sebagai
kontrol. Hasil pengujian kadar glukosa mencit setelah pemberian obat metformin, gibenklamid, akarbose,
glucovance dan NaCMC selama 30 menit berturut-turut mengalami peningkatan kadar gula sebesar
26,37%, 50,67%, 23,08%, 267,06% dan 155,68%. Sedangkan hasil pengukuran kadar gula setelah 60
menit pemberian obat untuk obat metformin mengalami peningkatan sebesar 65,67% dari kadar glukosa
awal, obat glibenklamid mengalami penurunan sebesar 6,79% dari kadar glukosa awal, obat akarbose
mengalami peningkatan 18,42% dari kadar glukosa awal, obat glucovance mengalami peningkatan
157,32% dari kadar glukosa awal dan NaCMC mengalami peningkatan sebesar 164,39% dari kadar
glukosa awal.

PENDAHULUAN
Diabetes merupakan suatu grup Berbagai penelitian epidemiologis di Indonesia
sindrom heterogen yang semua gejalanya menunjukkan bahwa prevalensi nasional
ditandai dengan peningkatan gula darah yang diabetes melitus tahun 2007 pada penduduk
disebabkan oleh defisiensi insulin relative atau yang berusia lebih dari lima belas tahun adalah
absolute. Diabetes melitus (DM) juga dikenal sebesar 5,7%. Melihat pola pertambahan
sebagai non communicable disease adalah penduduk saat ini, diperkirakan pada tahun
salah satu penyakit sistemik yang paling 2030 nanti sebesar 21,3 juta penduduk di
memprihatinkan di Indonesia saat ini. Setengah Indonesia menderita diabetes melitus.
dari jumlah kasus diabetes melitus tidak
terdiagnosis karena pada umumnya diabetes Diabetes dapat dibagi menjadi dua grup
tidak disertai gejala sampai terjadinya berdasarkan kebutuhan atas insulin, yaitu ;
komplikasi. Penyakit diabetes melitus semakin
hari semakin meningkat dan hal ini dapat dilihat a. Diabetes Tipe I
dari meningkatnya frekuensi kejadian penyakit Penyakit ini ditandai dengan defisiensi
tersebut di masyarakat. Pada tahun 2003, insulin absolute yang disebabkan oleh lesi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atau nekrosis sel β berat. Hilangnya fungsi
memperkirakan 194 juta jiwa atau 5,1% dari 3,8 sel β mungkin disebabkan oleh invasi virus,
milyar penduduk dunia yang berusia 20 - 79 kerja toksin kimia atau umumnya melalui
tahun menderita diabetes melitus.2 Menurut kerja antibody autoimun yang ditujukan
WHO jumlah penderita diabetes melitus di untuk melaswan sel β. Akibat dari destruksi
Indonesia jumlahnya sangat besar. Pada tahun sel β, pancreas gagal berespon terhadap
2000 jumlah penderita diabetes melitus telah masukan glukosa dan diabetes Tipe I
mencapai 8,4 juta jiwa, pada tahun 2003 jumlah menunjukkan gejala klasik defisiensi insulin
penderita 13.797.470 jiwa sedangkan pada (polidipsia, polifagia, dan poliurea).
tahun 2005 jumlahnya telah mencapai sekitar 24
juta orang. Jumlah ini diperkirakan akan terus b. Diabetes Tipe II
meningkat pada tahun-tahun berikutnya.3
Pada DM Tipe II, pancreas masih intestine. Dengan menghambat kerja enzim
mempunyai beberapa fungsi sel β, yang α-glikosidase di brush border intestine,
menyebabkan kadar insulin bervariasi yang dapat mencegah peningkatan glukosa
tidak cukup untuk memelihara homeositas plasma pada orang normal dan pasien DM
glukosa. Diabetes Tipe II sering (2).
dihubungkan dengan resistensi organ target Dari uraian diatas maka dilakukan
yang membatasi respon insulin endogen percobaan untuk menentukan obat antidiabetik
dan eksogen. Pada beberapa kasus, oral yang paling efektif dalam menurunkan
resistensi insulin disebabkan oleh kadar glukosa darah.
penurunan jumlah atau mutasi reseptor
insulin. Walaupun begitu, cacat yang tak
terbatas pada peristiwa yang terjadi setelah METODE PENELITIAN
insulin terikat pada reseptor, dipercaya
menyebabkan resistensi pada kebanyakan Alat
penderita. (1)
Peralatan yang digunakan pada
Ada 5 golongan antidiabetik oral (ADO) percobaan ini adalah spoit 1 ml (one med®),
yang dapat digunakan untuk DM dan telah kanula, needle (one med®), lap kasar,
dipasarkan di Indonesia yakni golongan : erlenmeyer (iwaki®).
sulfonylurea, meglitinid, biguanid, penghambat
α-glikosidase, dan tiazolidinedion. Kelma Bahan
golongan obat ini dapat diberikan pada DM tipe
2 yang tidak dapat dikontrol hanya dengan diet Bahan yang digunakan adalah glukosa
dan latihan fisik saja. 10%, metformin, glibenklamid, akarbose,
glukovance, dan Na CMC.
a. Golongan sulfonilurea : merupakan insulin
secretagogues, kerjanya merangsang Hewan Coba
sekresi insulin dari granul sel-sel β
Langerhans pankreas. Contoh obat Hewan uji yang digunakan adalah
golongan ini adalah sulfonilurea generasi 1 mencit (Mus musculus) sebanyak 15 ekor
(tolbutamid, tolazamid, asetoheksimid dan mencit dengan bobot 20-30 gram yang diperoleh
klorpropamid) dan sulfonilurea generasi 2 dari Laboratorium Biofarmasi Universitas
(gliburid/glibenklamid, glipizid, gliklazid, dan Hasanuddin.
glimepirid).
b. Golongan Meglitinid : cara kerjanya sama Pemberian Perlakuan dan Pengamatan
dengan sulfonilurea hanya saja berbeda
stuktur kimianya. Contoh obat golongan ini Untuk percobaan diabetes melitus
adalah repaglinid dan meglitinid. digunakan obat dengan dosis 0,1 ml/10 gram.
c. Golongan biguanid : sebenarnya bukan obat Pada percobaan ini, digunakan 3 mencit untuk
hipoglikemik tetapi suatu antihiperglikemik, tiap kelompok dimana pengujian terbagi menjadi
tidak menyebabkan rangsangan sekresi 5 kelompok. Mencit yang digunakan adalah
insulin dan umumnya tidak menyebabkan mencit telah dipuasakan. Pada awal percobaan,
hipoglikemia. Contoh obat golongan ini gula darah mencit diukur dengan menggunakan
adalah fenformin, buformin, dan metformin. glukometer dengan cara ujung ekor mencit
d. Golongan Tiazolidinedion : merupakan dipotong 1 mm menggunakan gunting, lalu
agonist potent dan selektif PPARγ, darah mencit diteteskan pada alat glukometer
mengaktifkan PPARγ membentuk kompleks dan dicatat angka yang muncul pada layar
PPARγ-RXR dan terbentuklah GLUT baru. glukometer. Kemudian obat diberikan secara
Di jaringan adipose PPARγ mengurangi peroral dan dihitung waktunya dari awal
keluarnya asam lemak menuju otot, dan pemberian hingga 30 menit. Setelah 30 menit
karenanya dapat mengurangi resistensi maka glukosa diberikan secara i.p pada mencit.
insulin. Contoh obat golongan ini adalah Dihitung waktu dari awal pemberian glukosa
troglitazon, pioglitazon, dan rosiglitazon. hingga 30 menit, lalu diukur kadar gluosa mencit
e. Penghambat enzim α-glikosidase. Obat dan pada menit ke 60 maka kadar glukosa
golongan ini memperlambat absorpsi dalam mencit pun diukur menggunakan
polisakarida, dekstrin, dan disakarida di glukometer.
insulin atau dikenal dengan istilah Insulin
HASIL DAN PEMBAHASAN Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Penyebab
diabetes mellitus tipe I adalah infeksi virus atau
reaksi autoimun (rusaknya sistem kekebalan
HASIL PENGAMATAN
tubuh). Auto-imun yang rusak tersebut
menyerang sel β pankreas secara menyeluruh.
Tabel 1. Efek obat antidiabetik oral terhadap Sel β pankreas berfungsi untuk memproduksi
insulin, oleh karenanya bila sel β pankreas
kadar gula darah mencit rusak, maka tidak tersedia lagi insulin bagi tubuh
untuk mengatur kadar gula dalam darah.
KELOMP PERLAKUAN AWAL 30’ 60’ Diabetes tipe II adalah dimana hormon insulin
OK dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan
1&6 124 159 164
METFORMIN 106 138 186
semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin
108 133 210 Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Seluruh
Rata-rata 112.67 143, 186,6
penderita diabetes mellitus, jumlah penderita
3 7 diabetes mellitus tipe II adalah yang paling
2&7 169 197 128 banyak yaitu 90 – 99 %.. Pada diabetes mellitus
GLIBENKLAMID 103 199 150 tipe II, insulin masih diproduksi namun insulin
111 181 79
tidak dapat bekerja secara adekuat (retensi
Rata-rata 127,67 192, 119 insulin). Diabetes tipe II tidak mutlak
3
3&8 150 164 157 memerlukan suntikan insulin seperti penderita
AKARBOSE 138 224 236 penderita diabetes tipe I. Obat yang diberikan
163 167 141 pada penderita diabetes mellitus tipe II adalah
Rata-rata 150,3 185 178 obat untuk memperbaiki kerja insulin dan obat
4 83 224 158 untuk memperbaiki fungsi sel β pankreas dalam
GLUCOVANCE® 64 181 138 memproduksi insulin.
19 194 116
Dalam diagnosis DM juga dikenal T es
Rata-rata 55,3 199, 137,3
67 Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dan Toleransi
5 39 196 207 Glukosa Terganggu (TGT). TTGO adalah
NaCMC 33 322 339
192 157 152 pemeriksaan yang dilakukan dengan
Rata-rata 88 225 232,6 memberikan larutan glukosa khusus untuk
7 diminum. Sebelum meminum larutan tersebut
akan dilakukan pemeriksaan kadar glukosa
darah, lalu akan diperiksa kembali 1 jam dan 2
Grafik 1. Efek obat antidiabetik oral terhadap jam setelah meminum larutan tersebut.
Pemeriksaan ini sudah jarang dipraktekkan.
kadar gula darah mencit Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) adalah
suatu keadaan dimana kadar glukosa darah
meningkat tetapi belum mencapai parameter
250
untuk didiagnosis sebagai DM (10).
200
metformin
Proses pengkondisian mencit menjadi
150 DM digunakan 2 jenis obat yaitu alloxan dan
glibenklami
d streptozotocin. Pengkondisian mencit menjadi
100
akarbose dalam keadaan DM tipe 2 dilakukan teknik
50 injeksi alloxan dengan dosis 70 mg/kg berat
glucovance badan secara intravena. Sedangkan untuk obat
0 streptozotocin digunakan dosis 55 mg/kg berat
awal 30' 60' badan mencit yang diberikan secara intra
peritonial. Adapun mekanisme kerja dari Alloxan
yaitu secara selektif menghambat sekresi insulin
Diabetes tipe I adalah diabetes yang yang diinduksi oleh glukosa melalui
disebabkan karena pankreas tidak dapat penghambatan khusus oleh sensor glukosa di
menghasilkan insulin sama sekali. Penderita dalam sel β pankreas (glukokinase). Efek
diabetes tipe I harus mendapatkan suntikan lainnya yaitu menginduksi diabetes dengan cara
menginduksi pembentukkan ROS (Reactive dihepar dan meningkatkan sensitivitas jaringan
Oxygen Species), sehingga meningkatkan stres otot dan adipose terhadap insulin. Efek ini terjadi
oksidatif di dalam sel yang menyebabkan karena adanya aktivasi kinase di sel (AMP-
rusaknya DNA sampai nekrosis sel-sel β activated protein kinase).
pankreas. Kedua proses ini dapat terjadi karena Sedangkan untuk obat Glibenklamid menaikkan
alloxan merupakan senyawa kimia yang tidak glukosa darah awal sebesar 50,67% dan
stabil dengan bentuk molekul yang serupa menurunkan kadar glukosa akhir sebesar
glukosa. Alloxan dan glukosa memiliki sifat yang 38.118%. Hal ini membuktikan glibenklamid
sama yaitu hidrofilik dan tidak mampu melewati dapat menurunkan kadar glukosa darah pada
lipid bilayer pada membran plasma. Secara menit ke enam puluh. Glibenklamid merupakan
struktural, alloxan serupa dengan glukosa obat golongan sulfonylurea generasi kedua yang
sehingga mampu berikatan dengan GLUT-2 di memiliki potensi hipoglikemik 200x lebih kuat
membran plasma sel β pankreas dan akan dari tolbutamid. Mekanisme kerja yaitu
dibawa menuju sitosol. Oleh karena itu, alloxan merangsang sekresi insulin dari granul sel – sel
mampu masuk ke dalam sel β dalam jumlah beta langerhans pancreas. Rangsangannya
yang tidak terbatas (Lenzen, 2007). Sedangkan melalui interaksinya dengan ATP-sensitive K
streptozotocin merupakan analog dari glukosa channel pada membrane sel-sel beta yang
toksis yang terakumulasi dalam sel beta menimbulkan depolarisasi membrane dan
pankreas melalui transporter glukosa GLUT2. keadaan ini membuka kanal Ca
Streptozotocin menghambat sekresi insulin, Untuk Obat akarbose menaikkan kadar
streptozotocin merupakan nitrosourea di mana glukosa darah awal sebesar 23,08% dan
N-metil-N-nitrosourea (MNU) bagian terkait pada menurunkan kadar glukosa akhir 3,78%. Hal ini
karbon-2 dari heksosa. Kerja streptozotocin dan membuktikan akarbose cukup memberikan efek
senyawa kimia yang berkaitan alkilasi farmakodinamik pada mencit walaupun tidak
membutuhkan serapan ke dalam sel secara signifikan. Acarbose bekerja sebagai
inhibitor bagi enzim α-glucosidase. Fungsi dari
Pada percobaan ini dilakukan enzim α-glucosidase adalah sebagai pengurai
pengamatan untuk melihat perubahan kadar karbohidrat dan gula lainnya menjadi glukosa
glukosa pada mencit yang diukur dengan yang kemudian dapat diserap oleh usus halus.
menggunakan alat glukometer, dimana kadar Enzim α-glucosidase berada di usus halus,
gula glukosa yang diukur adalah kadar glukosa setelah pancreatic alpha-amylase melakukan
awal dan kadar glukosa 30 menit dan 60 menit penguraian terhadap gula yang dicerna menjadi
setelah penginduksian glukosa 10% secara oligosakarida di lumen usus halus. Enzim α-
intraperitonial. Sedangkan obat- obat yang glucosidase kemudian mengubah oligosakarida
diberikan pada mencit terbagi menjadi dua tersebut menjadi glukosa dan monosakarida
kelompok yaitu kelompok negative (NaCMC) lainnya. Acarbose sendiri merupakan
dan kelompok perlakuan (Gibenklamid, oligosakarida buatan manusia yang bersifat
Metformin, Akarbose dan Glucovance) yang kompetitif inhibitor yang menghambat kerja
diberikan secara per oral. Adapun dosis yang enzim α-glucosidase. Penghambatan enzim ini
diberikan sebesar 0,1ml/ 10 mg berat badan menyebabkan perlambatan pencernaan
mencit. Hasil yang didapatkan kemudian senyawa karbohidrat. Pada percobaan ini
dibandingkan dengan kontrol. mencit dipuasakan terlebih dahulu sebelum
dilakukan perlakuan sehingga kadar karbohidrat
Berdasarkan percobaan yang telah yang akan diurai oleh enzim α-glucosidase
dilakukan didapatkan hasil yaitu Untuk Obat sangat sedikit sehingga dalam hal ini efek
metformin menaikkan kadar glukosa darah awal farmakodinamik dari akarbose dalam
sebesar 27% dan akhir 30,25% dengan antidiabetik tidak terlalu berefek.
demikian obat metformin tidak memberikan efek Untuk Obat Glucovance menaikkan
farmakodinamik pada mencit karena glukosa kadar glukosa awal sebesar 261,06% den
darah mencit tetap naik. Metformin merupakan menurunkan kadar glukosa akhir sebesar
obat golongan biguanid yang memiliki waktu 31,23%. Hal ini membuktikan glucovance dapat
paruh sekitar dua jam Metformin oral akan memberikan efek farmakodinamik secara
mengalami absorpsi di intestine , dalam darah signifikan.Glucovance adalah obat kombinasi
tidak terikat dengan protein plasma, ekskresinya yang mengandung glyburide (sulfonilurea
melalui urin dalam keadaan utuh. Mekanisme generasi 2) dan metformin HCl (biguanid)
kerja metformin yaitu menurunkan produksi gula dengan perbandingan dosis 1 : 200 untuk dosis
awal. kombinasi dua macam Obat antidiabetik Patients With Type 2 Diabetes Mellitus
yang mempunyai mekanisme kerja berbeda (UKPDS 49). JAMA 1999;281:2005-2012.
memberikan efek sinergis dan hasil kontrol
glikemik yang lebih baik dibanding dengan 5. Glucovance. Setting New Standards In
monoterapi. Pemberian glucovance Control. Glucovance R workshop Merck
menyebabkan HbA1c menurun secara Lipha s.a France. 2001.
bermakna dibanding dengan monoterapi
metformin. Pemeriksaan HbA1c yang normal 6. Alarcon-Aguilar,F.J., Roman-Ramos, R.,
mencerminkan kadar glukosa darah puasa dan Flores-Saenz, J.L., Aguirre-Garcia, F., 2002.
2 jam postprandial dalam batas-batas normal Investigation on the Hypoglycaemic Effects
Sedangkan untuk NaCMC of Extracts of Four Mexican Medicinal Plants
meningkatkan kadar glukosa darah awal in Normal and Alloxan-diabetic Mice.
maupun akhir. NaCMC merupakan senyawa Phytotherapy Research 16, 383 – 386.
inert yang bertindak sebagai kontrol dalam
percobaan ini sehingga dapat menaikkan darah 7. Niedzielski,K.2002. Effect of Coccinea indica
secara normal pada mencit. on blood glucose levels in alloxan-induced
diabetic mice. Journal of Biology cell
Research ,3, 60-65.

DAFTAR PUSTAKA 8. Ptak, W., Klimek, M., Bryniarski, K., Ptak, N.


& Majcher, P. 1998. Macrophage function in
1. Mycek, Mary J dkk. 2001. Farmakologi alloxan diabetic mice : Expression of
Ulasan Bergambar Edisi 2. Jakarta : Widya adhesion molecules, generation of
Medika monokines and oxygen and NO radicals.
Clin ExpImmunol,114,13-18.
2. Staff Departement Farmakologi dan
Teraupetik. 2007. Farmakologi dan Terapi. 9. Suharmiati. 2005. Pengujian bioaktivitas anti
Jakarta : Departement Farmakologi dan DM tanaman obat. Cermin dunia
Teraupetik UI. Kedokteran,140, 8-13.

3. Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan 10. Regina. 2012. Gejala Diabetes Melitus.
Klinik edisi 8 buku 2. Penerbit Salemba Available from : http://
Medika : Jakarta. www.diabetesmelitus.org/gejala-diabetes-
4. UKPDS Group. Glycemic Control with Diet, melitus/
Sulfonylurea, Metformin, or Insulin In
LAMPIRAN

Skema kerja

Mencit
Ukur Glukosa dengan Glukometer

Metformin p.o Glibenklamid p.o Akarbose p.o Glucovance p.o NaCMC p.o

Induksi Glukosa 10% i.p

Ukur kadar glukosa dengan glukometer 30’ dan 60’

Data Pengamatan

Tabel Hasil Pengamatan

Tabel 1. hasil pengamatan dengan menggunakan obat metformin

Kadar Glukosa (mg/dL)


Bobot Hewan Uji (g)

Awal 30’ 60’


I 20 124 159 164

II 20 106 138 186

III 25 108 133 210

Tabel 2. hasil pengamatan dengan menggunakan obat Glibenklamid

Kadar Glukosa (mg/dL)


Bobot Hewan Uji (g)
Awal 30’ 60’
I 20 169 197 128
II 20 103 199 150

III 20 111 181 79

Tabel 3. hasil pengamatan dengan menggunakan obat Akarbose

Bobot Hewan Kadar Glukosa (mg/dL)


Uji (g)
Awal 30’ 60’
I 24 150 164 157

II 27 138 224 236

III 24 163 167 141

Tabel 4. hasil pengamatan dengan menggunakan obat Glucovance

Bobot Hewan Kadar Glukosa (mg/dL)


Uji (g)
Awal 30’ 60’
I 20 83 224 158

II 20 64 181 138

III 30 179 199 116

Tabel 4. hasil pengamatan dengan menggunakan obat Na CMC

Bobot Hewan Kadar Glukosa (mg/dL)


Uji (g)
Awal 30’ 60’
I 20 39 196 207

II 20 33 322 339

III 20 192 157 152