Anda di halaman 1dari 72

Dr.

Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 1

Literatur :
1. Jan Jaques, Mathematics for Economics and Business, Addison Wesley Longman Inc,
New York
2. Alpha C. Chiang, Fundamental Methods Of Mathematical Economics, McGraw Hill
Inc
3. Dumairy, Matematika Terapan Untuk Bisnis Dan Ekonomi, UGM Yogyakarta
4. Kemeny, Finite Mathematic, McGraw Hill Inc. New York
5. Supranto, Pengantar Matrik, Lembaga Penerbit Univeritas Indonesia
6. Robert Markland and James Sweigart : Quantitative Methods, Application to
Managerial Decision Making, Mc Draw Hill

ANALISIS PENAWARAN DAN PERMINTAAN (SUPPLY AND DEMAND ANALYSIS)

Ilmu ekonomi mikro merupakan ilmu yang terkonsentrasi menganalisis tentang analisis teori
dan kebijakan ekonomi individu, perusahaan dan pasar. Pada bagian ini membahas tentang
menentukan ekuilibrium pasar dengan keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

Fungsi (f)
Contoh : Y=2x+3
Jadi, f(x) = 2x+3

5 13
Double and add 3

In out
-17 Double and add 3 -31

f(5) = 13 Read ‘f of 5 equals 13’

f(-17) = -31 Read ‘f of -17 equals -31’

Keterangan : x = incoming value


y = outgoing value
Example :
Gambarkan kurva fungsi permintaan : P = -2Q + 50. Tentukan nilai dari :
a) P jika Q = 9
b) Q jika P = 10

Solusi :
Jika P = 0, maka Q = 25
Jika Q = 0, maka P = 50
a. P = -2Q + 50
P = -2(9) + 50
P = -18 + 50
P = 32, (9,32)
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 2

b. P = -2Q + 50
10 = -2Q + 50
-40 = -2Q
Q = 20 (20,10)

P
50

32

P = - 2Q + 50
10

9 20 25 Q

Model Fungsi Permintaan Konsumen

Q = f (P, Y, Ps, Pc, A, T )


Keterangan :
Q = Jumlah barang yang diminta
P = Harga barang
Y = Pendapatan konsumen
Ps = Harga barang substitusi
Pc = Harga barang komplementer
A = Biaya iklan
T = Selera konsumen

Example :
Diketahui fungsi penawaran dan fungsi permintaan sebagai berikut :
P = -2Qd + 50
P = 1/2Qs + 25
Tentukan :
a. Harga barang dan jumlah barang equilibrium
b. Efek pada equilibrium pasar jika pemerintah menetapkan pajak $5 untuk
setiap barang

Solusi :
Fungsi Permintaan P = -2Qd + 50
Jika P = 0, maka Q = 25
Jika Q = 0, maka P = 50
Fungsi Penawaran P = 1/2Qs + 25
Jika P = 0, maka Q = -50
Jika Q = 0, maka P = 25
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 3

a. Equilibrium Pasar
Permintaan = Penawaran
-2Qd + 50 = 1/2Qs + 25
-4 Qd + 100 = Qs + 50
-5Q = -50
Q = 10

Substitusikan nilai Q untuk mendapatkan nilai P


P = -2Q + 50
P = -2(10) + 50
P = -20 + 50
P = 30, Titik Equilibrium (10,30)

b.Jika pemerintah menetapkan pajak sebesar $5 untuk setiap barang, maka fungsi
penawaran menjadi:

P - 5 = 1/2Qs + 25
P = 1/2Qs + 30

b. Equilibrium Pasar
Permintaan = Penawaran
-2Qd + 50 = 1/2Qs + 30
-4 Qd + 100 = Qs + 60
-5Q = -40
Q=8
Substitusikan nilai Q untuk mendapatkan nilai P
P = -2Q + 50
P = -2(8) + 50
P = -16 + 50
P = 34, Titik Equilibrium (8,34)

Supply curve after tax


50
Supply curve before tax

30
25

Demand curve

25 Q

Example :
Diketahui fungsi penawaran dan permintaan untuk 2 komoditi sebagai berikut :
Qd1 = 10 – 2P1 + P2
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 4

Qd2 = 5 + 2P1 – 2P2


Qs1 = -3 + 2P1
Qs2 = -2 + 3P2
Tentukan : harga barang dan jumlah barang equilibrium untuk model persamaan 2 komoditi
tersebut !

Solusi :
Qd1 = Qs1 dan Qd2 = Qs2
Qd1 = Qs1
10 – 2P1 + P2 = -3 + 2P1
-4P1 + P2 = -13……….(a)

Qd2 = Qs2
5 + 2P1 - 2P2 = -2 + 3P2
2P1 - 5P2 = -7…………(b)

Persamaan (a) dan (b) di eliminasi :


-4P1 + P2 = -13
2P1 - 5P2 = -7

-4P1 + P2 = -13
4P1 - 10P2 = -14 +
-9 P2 = -27
P2 = 3

Substitusikan nilai P2 ke salah satu persamaan


-4P1 + P2 = -13
-4P1 + 3 = -13
-4P1 = -16
P1 = 4

Maka diperoleh :
Qd1 = 10 – 2P1 + P2
Qd1 = 10 – 2(4) + (3)
Qd1 = 10 – 8 + 3
Qd1 = 5

Qd2 = 5 + 2P1 – 2P2


Qd2 = 5 + 2(4) – 2(3)
Qd2 = 5 + 8 – 6
Qd2 = 7

Qs1 = -3 + 2P1
Qs1 = -3 + 2(4)
Qs1 = -3 + 8
Qs1 = 5

Qs2 = -2 + 3P2
Qs2 = -2 + 3(3)
Qs2 = -2 + 9
Qs2 = 7
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 5

General Market Equilibrium

Dalam model pasar tertutup, kondisi ekuilibrium yang terdiri dari satu persamaan Qd = Qs
atau E = Qs – Qd = 0, dimana E adalah ekses demand.
Jika terjadi satu set harga Pi pada jumlah Qi yang sesuai, s.r.s semua persamaan yang berada
dalam kondisi ekulibrium akan memenuhi persamaan simultan.

Model pasar dua komoditi (Two commodity market model )


Sebagai ilustrasi akan dianalisis satu model sederhana dengan dua komoditi yang saling
berhubungan. Misalkan fungsi demand dan fungsi suplai dengan dua komoditi yang
diasumsikan linier. Dalam persamaan matematis, modelnya dapat ditulis sbb :
Untuk produk 1
Qs1 – Qd1= 0
Qd1 = ao + a1 P1 + a2 P2
Qs1 = bo + b1 P1 + b2 P2
Untuk produk 2
Qs2 – Qd2= 0
Qd2 = αo + α1 P1 + α2 P2
Qs2 = βo + β1 P1 + β2 P2
Dimana : a dan b adalah koefisien fungsi demand dan supply dari barang pertama
α dan β adalah koefisien fungsi demand dan supply dari barang kedua

Selanjutnya dapat dilakukan eliminasi


(ao - bo) + (a1 – b1)P1 + (a2 - b2)P2 = 0
(αo - βo) + (α1 - β1) P1 + (α2 - β2)P2 = 0

ςi = ai - bi
γi = αi - βi (dimana i = 0, 1, 2)

ς1P1 + ς2P2 = - ς0 ......... 1)


γ1P1 + γ2P2 = - γ0 ........ 2)
dari persamaan pertama diperoleh P2 = - (ς0 + ς1P1)/ ς2
sehingga P1 = (ς2γ0 - ς0γ2)/ (ς1γ2 - ς2γ1), dan
P2 = (ς0γ1 - ς1γ0)/ (ς1γ2 - ς2γ1)
Dalam kasus ini ς1γ2 ≠ ς2γ1

Contoh : Qd1 = 10 – 2P1 + P2


Qs1 = -2 + 3 P1
Qd2 = 15 + P1 – P2
Qs2 = -1 + 2P2

ς0 = 10 - (-2) = 12 ς1 = -2 - 3 = -5 ς2 = 1- 0 =1
γ0 = 15 - (-1) = 16 γ1 = 1 - 0 = 1 γ2 = -1 - 2 = -3

P1 = 52/ 14 P2 = 92/ 14
Q1 = 64/ 7 Q2 = 85/ 7

Untuk kasus n komoditi (n – commodity case)


Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 6

Qdi = Qdi (P1, P2, P3, ........... Pn)


Qsi = Qsi (P1, P2, P3, ............ Pn)
dimana i = 1, 2, 3, ............. n
Ini berarti Qsi – Qdi= 0
Jika persamaan ini ditambahkan dengan persamaan di atas maka akan diperoleh n persamaan
simultan

Qdi (P1, P2, P3, ........... Pn) - Qsi (P1, P2, P3, ............ Pn) = 0
Ei = Qdi – Qsi
Ei (P1, P2, P3, ......... Pn) = 0
Penyelesaian secara simultan terhadap n persamaan ini akan menentukan n harga equlibrium
Pi. Sedangkan kuantitas Qi bisa diturunkan dari fungsi demand dan fungsi supply

Analisis keseimbangan pendapatan nasional (Equilibrium in national income analysis)


Y = C + Io + Go, sedangkan C = a + bY
Y = a + bY + Io + Go
Y – bY = a + Io + Go
Y (1 – b) = a + Io + Go

Dengan demikian, nilai Y (equlibrium national income)


Y = (a + Io + Go)/ (1-b)

C = a + bY
C = a + [ b(a + Io + Go) / (1 – b) ]

C = [a(1- b) + b(a + Io + Go] / (1-b)


C = [a + b(Io + Go)] / (1 – b)
dimana b = marginal propensity to consumpt

Analisis Investasi Pada Suatu Proyek.


Untuk proyek-proyek yang belum ada, analisis kelayakan ekonomis (economic feasibility
analysis) menjadi dasar pertimbangan apakah proyek tersebut layak dibangun atau
dikembangkan. Misalnya, suatu proyek mungkin saja memiliki keunggulan fisik, tapi hanya
memberikan manfaat yang kecil secara ekonomis, maka dalam kasus seperti ini harus dibuat
pertimbangan yang matang dari pimpinan perusahaan sehingga dapat diambil keputusan
apakah proyek tersebut bisa dijalankan atau dibatalkan. Demikian pula untuk proyek-proyek
yang sudah ada, pertimbangan-pertimbangan ekonomi sangat perlu dilakukan dan menjadi
dasar untuk analisis kelayakan operasional dari suatu proyek.
Dalam operasional proyek, banyak rancangan alternatif yang dapat dibuat untuk penerimaan
(manfaat ekonomi) dan pengeluaran berupa biaya-biaya, sepanjang umur proyek. Oleh karena
itu, untuk memaksimumkan keuntungan maka penerimaan total dan biaya total perlu
dikendalikan selama umur proyek tersebut. Analisis inivestasi ini dapat diterapkan untuk
proyek-proyek baru seperti pembangunan suatu industri baru dan pembangunan areal
pertanian baru, atau proyek pengembangan dari suatu indstri yang sudah ada seperti :
pengembangan kapasitas pabrik sebagai akibat adanya kenaikan permintaan pasar terhadap
produk yang dihasilkan industri manufaktur tersebut.
Analisis proyek investasi ini pada dasarnya merupakan suatu pengkajian manfaat ekonomi
yang dilakukan secara komprehensif, yang meliputi : analisis pasar, analisis teknik, dan
analisis ekonomi. Alternatif pemilihan suatu proyek didasarkan pada dua aspek utama, yaitu :
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 7

a. Aspek teknis, meliputi studi yang berkaitan dengan proses produksi, karakteristik
produksi, sistem usaha, dan lokasi dari unit produksi. Aspek teknik ini perlu diperhatikan
pada tahap awal proyek dijalankan, seperti : memilih mesin dan peralatan yang sesuai
dengan karakteristik pekerjaan, yang tentunya berkaitan dengan proses produksi dan skala
output (returns to scale) yang diharapkan. Juga perlu dipilih proses produksi dan cara
memproduksi yang tepat dari beberapa alternatif yang ada, serta memilih lokasi proyek
yang tepat
b. Aspek ekonomis, berkaitan dengan pendugaan penerimaan total dan biaya total per
satuan waktu. Pendugaan penerimaan total dan biaya total pada masa datang dapat
menggunakan pendekatan peramalan (forecasting)

Pembahasan lebih lanjut akan diarahkan pada analisis investasi proyek yang bertujuan untuk
memilih proyek investasi yang paling menguntungkan. Metode analisis yang biasa digunakan
untuk memilih alternatif proyek investasi ini adalah : nilai bersih sekarang (net present value
= NPV), rasio manfaat biaya (benefit cost ratio = BCR), tingkat pengembalian hasil internal
(internal rate of returns = IRR), analisis pulang pokok (break event point = BEP), dll

Tujuan Analisis Proyek


Dalam aktivitas bisnis, ada dua kenyataan yang selalu dihadapi yaitu :
a. Sumber daya yang terbatas/ langka
b. Kegiatan-kegiatan yang berbeda atau kegiatan yang sama dalam lingkungan yang
berbeda bisa memberikan hasil yang yang berbeda
Seorang pengusaha akan membatalkan rencana investasinya dalam suatu proyek jika sejak
awal ia sudah memperhitungkan bahwa proyek tsb tidak menguntungkan.
Tujuan analisis proyek, adalah :
1. Mengetahui tingkat keuntungan yang dapat dicapai melalui investasi dalam suatu
proyek
2. Menghindari pemborosan-pemborosan sumber daya, yaitu dengan menghindari
aktivitas dalam pelaksanaan proyek yang tidak menguntungkan
3. Mengadakan penilaian terhadap kesempatan investasi yang ada sehingga kita bisa
memilih satu alternatif proyek yang paling menguntungkan
4. Menentukan prioritas investasi

Langkah langkah pemilihan proyek


Ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan suatu proyek,
1. Aspek teknis dibagi dua yaitu penyediaan sumber daya dan pemasaran hasil produksi.
Secara rinci aspek teknis meliputi pemilihan lokasi, prasarana jalan, persediaan air, tenaga
listrik, ketersediaan bahan baku (lokal atau impor), tenaga kerja dengan kualifikasi
ketrampilan tertentu, sumber pendanaan/ kredit, kemana hasil produksi dipasarkan, dan
adakah fasilitas penyimpanan dan pengiriman hasil produksi
2. Aspek institusional, meliputi masalah kebijakan pemerintah dan lembaga
kemasyarakatan
3. Aspek sosial, dimana pembangunan suatu proyek harus memberikan manfaat sosial
yang khusus bagi masyarakat
4. Aspek eksternalitas, berupa dampak positip dan dampak negatif dari proyek yang
dibangun

Analisis Privat dan Analisis Sosial


Dalam analisis privat (analisis finansial), dihitung benefit dan biaya proyek dilihat dari sudut
pandang individu yang berkepentingan dalam proyek. Sedangkan dalam analisis sosial
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 8

(analisis ekonomi), dihitung benefit dan biaya-biaya proyek dari sisi kepentingan pemerintah
dan masyarakat. Secara mendasar, kedua bentuk analisis ini berbeda dalam 5 hal, yaitu :
1. Jenis harga yang digunakan. dimana analisis sosial menggunakan shadow prices,
sedangkan analisis privat menggunakan harga pasar
2. Pajak yang dikenakan, dalam analisis privat, pajak merupakan bagian keuntungan
yang dibayakan kepada pemerintah. Dlm analisis sosial, pajak merupakan transfer,
bagian dari benefit proyek yang diserahkan kepada pemerintah untuk digunakan demi
kepentingan masyarakat
3. Subsidi, adalah transfer yang perhitungannya kebalikan dari pajak. Dlm analisis
privat, subsidi yang diterima akan mengurangi biaya yang ditenggung pemilik
proyek. Dalam analisis sosial, subsidi yang diberikan untuk proyek menjadi beban
masyarakat, sehingga tidak mengurangi biaya proyek
4. Biaya investasi dan pelunasan pinjaman
5. Bunga, dalam analisis privat, bunga atas pinjaman merupakan biaya proyek.
Sedangkan dalam analisis sosial, bunga dianggap sosial benefit

Pengukuran dan perhitungan benefit pada suatu proyek


Pada dasarnya, suatu proyek akan menggunakan banyak sekali jenis bahan baku, dan dapat
menghasilkan lebih dari satu jenis hasil produksi. Untuk benefit ini ada 3 hal yang perlu
dihitung,
a. Mengukur jumlah benefit
b. Menentukan harga hasil produksi
c. Hasil tidak langsung dan akibat sampingan

Dalam analisis perhitungan biaya proyek, dikenal beberapa jenis biaya, yaitu :
1. Modal 6. Penyusutan/ depresiasi
2. Tanah 7. Sunk cost
3. Tenaga kerja 8. Salvage value
4. Bahan mentah dan bahan setengah jadi 9.Negative externalities/corporate
social responsibility (CSR)
5. Pelunasan hutang dan bunga

Pengaruh Waktu Terhadap Nilai Uang


Proyek adalah suatu kegiatan investasi yang berjangka panjang, sehingga aliran kas (cash
flow) yang ada akan terdiri dari beberapa waktu sesuai dengan umur ekonomis dari proyek
tersebut. Dalam kaitan ini perlu diperhatikan nilai uang sebagai manfaat ekonomis dari
proyek tersebut yang diperkirakan akan diterima pada masa datang (future value), tidak sama
dengan nilai uang yang diterima pada saat sekarang (present value), karena adanya factor
interest rate tertentu. Oleh karena itu, untuk keperluan perhitungan, semua nilai uang tersebut
harus dievaluasi pada satu waktu tertentu, yaitu waktu sekarang Dengan demikian, semua
nilai uang, apakah sebagai penerimaan total atau sebagai biaya total sepanjang waktu umur
proyek harus dievaluai pada nilai sekarang (present value of money). Pengaruh waktu dan
interest rate menjadi fokus perhatian dalam analisis investasi suatu proyek.
Jika uang sejumlah yang diinvestasikan sekarang dengan interest rarte sebesar i per tahun,
maka uang itu akan bertambah setiap tahun seperti ditunjukkkan dalam tabel berikut :

Tahun Investasi pada awal tahun Interest yang diterima Nilai uang pada akhir tahun
1 P Pi P + Pi = P(1+ i)
2 P(1+ i) [P(1+ i)] i P(1+ i) +[P(1+ i)] i = P(1+ i)2
3 P(1 + i)2 [P(1 + i)2] i P(1+ i) +[P(1 + i)2]i = P(1+ i)3
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 9

: : :
: : :
n P(1 + i)n-1 [P(1 + i)n-1] i P(1+ i) +[P(1 + i)n-1]i = P(1+ i)n

Misal suatu modal pokok sebesar Rp 1.000 (P) dibungakan secara majemuk dengan suku
bunga i = 10% per tahun, maka besarnya modal tersebut di masa datang (F) dapat dihitung
sebagai berikut :
Setelah satu tahun : F1 = 1000 + (1000 x 0,10 ) = 1100
F1 = P + Pi = P(1 + i )
F2 = 1100 + (1100 x 0,10) = 1210
F2 = (P + Pi) + (P + Pi) i = P + Pi + Pi +Pii
= P + 2Pi + Pi2 = P (1 + 2i + i2)
= P (1 + i ) 2
Setelah tiga tahun : F3 = P (1 + i) ; berarti setelah n tahun : Fn = P(1 + i)n
3

Dengan demikian, nilai uang yang diinvestasikan dan akan diterima dimasa datang dari suatu
jumlah pada masa sekarang adalah :

Fn = P (1 + i ) n

Untuk rumus di atas diasumsikan bahwa bunga dibayarkan satu kali dalam 1 tahun. Tetapi
jika bunga dibayarkan lebih dari satu kali (misal : m kali) dalam setahun, maka nilai dimasa
depan menjadi :
i
i nm nilai ( 1 + i ) dan (1 + )
Fn  P(1  ) m
m Dalam ilmu ekonomi, bilangan bunga ini dinamakan bunga
majemuk (Compounding interest factor), yaitu suatu bilangan yang
lebih besar dari 1 yang bisa dipakai untuk mengalikan suatu jumlah
yang ada sekarang untuk menentukan nilai di masa datang.

Dari rumus di atas , dengan manipulasi matematis, dapat pula dihitung besarnya nilai
sekarang apabila yang diketahui jumlahnya di masa datang. Nilai sekarang dari suatu jumlah
dimasa datang adalah :
F 1
P  F.
(1  i ) n
(1  i ) n

Selanjutnya, jika bunganya dibayarkan lebih dari satu kali (misal : m kali) dalam satu tahun,
mka nilai sekarang tersebut menjadi :
1 1
F 1 dan
P  F. Nilai (1  i ) n
i
i i (1  ) nm
(1  ) nm (1  ) nm m
m m Dalam ilmu ekonomi nilai ini disebut faktor
diskonto (Discount factor), yaitu bilangan lebih
kecil dari satu yang dapat dipakai untuk
mengalikan suatu jumlah di masa datang demi
menentukan nilainya pada saat sekarang.

Catatan :
P = Nilai/ jumlah pada masa sekarang (present value)
F = Nilai uang di masa datang (future value)
i = suku bunga pertahun
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 10

n = jumlah tahu
m = frekuensi pembayaran dalam setahun

Bisnis yang dilakukan oleh setiap individu atau kelompok biasanya memanfaatkan peraturan
dari fasilitas pinjaman dan peluang-peluang investasi yang ada. Dalam konteks ini
perhitungan nilai uang yang diinvestasikan harus mempertimbangkan berbagai informasi
yang dimiliki sehingga bisa dipilih satu alternatif di antara bermacam-macam kemungkinan
yang ada.
Andaikata seseorang memberi anda pilihan menerima $500 sekarang atau $500 pada 3 tahun
kemudian. Maka alternatif yang dipilih adalah akan mengambil uang tersebut sekarang.
Dengan pilihan ini, maka anda dapat menggunakan untuk memenuhi kebutuhan saat itu, tetapi
diakui juga bahwa $500 itu adalah harga hari ini lebih baik dibandingkan 3 tahun yang akan
datang. Jika kita mengabaikan efek-efek investasi, maka secara pasti kita akan menambah
nilai lebih selama 3 tahun. Dalam mengkaji permintaan modal investasi, maka kita perlu
mengetahui tingkat suku bunga dan batas waktu dengan suatu perhitungan yang matang.

Contoh
Modal sebesar $ 500 diinvestasikan selama 3 tahun pada tingkat bunga majemuk 10%/ tahun.
Hitunglah tingkat bunga dan bertambahnya jumlah nilai invest pada setiap akhir tahun.
Jika jumlah awal adalah $ 500, setelah 1 ( satu ) tahun tingkat bunga adalah
10 % dari $ 500 ialah
1
10 % x $ 500 = x$500  50
10
Selanjutnya jumlah $500 meningkat menjadi $ 550, apa yang di dapat dari jumlah pada akhir
tahun ke 2 dengan bunga juga $50 ?
Inilah fakta dari persoalan yang harus dihadapi jika investasi dilakukan dengan bunga tidak
majemuk, artinya jika jumlah bunga diterima 1 kali untuk semua tahun investasi. Dengan
bunga majemuk kita akan memperoleh bunga di atas bunga. Pada umumnya investasi
keuangan akan selalu menggunakan bunga majemuk daripada bunga tidak majemuk. Karena
investor memerlukan penghargaan jika ia memutuskan untuk tidak mengambil / menarik
pembayaran bunga dari dananya setiap tahun.
Pada bunga majemuk tahunan memperoleh pada akhir tahun ke 2 adalah 10% dari jumlah
investasi awal tahun, ini tidak hanya terdiri dari $500 tetapi juga $50 siap diterima bunga pada
1
tahun pertama invest konsekuensinya kita menerima tambahan x$550  $55
10
Selanjutnya jumlah total meningkat $ 55 menjadi $ 605
1
Pada 3 tahun terakhir bunganya adalah x$605  $60.5
10
Maka jumlah investasi adalah $665.5, dan ini berarti investor akan menerima kelebihan
$165.5 jika mengambil $500 sekarang untuk diinvestasikan selama 3 tahun.

Total kalkulasi investasi


Akhir tahun Bunga Investasi
1 $50 $550
2 $55 $605
3 $60,5 $665,5

Masalah 1 :
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 11

Hitung nilai investasi sebesar $1000 dalam 10 tahun dengan tingkat bunga majemuk tahunan
sebesar 8%.
Penyelesaian :
Akhir Bunga Invest Akhir Bunga Invest
thn thn
1 (8/100)x $1000 = 80 1080 6 (8/100)x $1469,33 = 117,55 1586,88
2 (8/100)x $1080 = 86,4 1166,4 7 (8/100)x $1586,88 = 126,93 1713,83
3 (8/100)x $1166,4 = 93,31 1259,71 8 (8/100)x $1713,83 = 137,11 1850,94
4 (8/100)x $1259,71 = 100,78 1360,49 9 (8/100)x $1850,94 = 148,07 1999,01
5 (8/100)x $1360,49 = 108,84 1469,33 10 (8/100)x $1999,01 = 159,92 2158,93

Perhitungan pendapatan bunga setiap tahun dan penambahan total akumulasi pada awal tahun,
dapat diketahui pada soal di atas. Tentu saja, perhitungan akumulasi investasi akan menjadi
agak sulit, jika investasi dilakukan dalam jangka waktu panjang. Dalam kondisi nyata,
dibutuhkan metode perhitungan dengan menggunakan pendekatan skala faktor. Untuk
ilustrasi perhitungan ini, lihat pada soal berikut.
Investasi $500 dengan tingkat bunga majemuk 10% per tahun. Nilai awal dari uang disebut
pokok dan ditunjukkan dengan P1 (Present value) dan total akhir disebut nilai akan datang
ditunjukkan dengan F (Future value).
Skala faktor dengan pertambahan 10 % adalah 1 + (10/100)= 1,1

Selanjutnya pada akhir tahun pertama total invest adalah P (1,1),


setelah 2 tahun diperoleh
P (1,1) x (1,1) = P (1,1)2
dan nilai 3 tahun ke depannya adalah
F = P (1,1)2 x (1,1) = P (1,1)3
Untuk P = $ 500
Maka F = P (1,1)2 = 500 (1,1)3
= $ 665,5

Rumus untuk tingkat bunga majemuk r % per tahun, dengan skala faktor :
r
1
100 ; setelah n tahun maka nilai akan datang adalah :
r
F  P(1  )
100

Masalah 2 :
r n
-
Gunakan Formula : F  P(1  )
100
-
Hitung nilai investasi $1000 dengan tingkat bunga majemuk 8% / tahun dalam
jangka waktu 10 tahun.
Jawab :
r n
F  P(1  )
100
8 10
 1000(1  )
100

 1000(1  0,08) 10
= 1000 ( 1,08 )10
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 12

= 1000 ( 2,15893 )
= 2.158,93

Contoh
Modal pokok sebesar $25.000 diinvestasikan dengan tingkat bunga majemuk sebesar 12%
per tahun, setelah beberapa tahun nilai investasi awal menjadi $ 250.000. Hitung berapa tahun
modal tersebut diinvestasikan ?
Jawab
Jika menerima simpanan sebesar $ 250.000 dengan invest awal $ 25.000, masalahnya berapa
tahun di simpan dengan asumsi bunga tetap sebesar 12 % selama invest. Formula untuk bunga
majemuk adalah :
r n
F  P(1  )
100
Gunakan rumus tersebut dengan pendekatan logaritma ( log )
F = $ 250.000
P = $ 25.000
r = 12 %
r n
F  P(1  )
100
12 n
250.000 = 25.000 (1 + )
100
10 = 1 (1 + 0,12 ) n
10 = 1 (1.12 ) n
Log 10 = log (1.12 )n
Log 10 = n log (1.12) log 6x m = m log 6x

log(10)
N= log(1.12)

1
=
0.049218023
= 20,3

Sekarang diketahui bahwa n itu adalah angka untuk jangka waktu investasi, karena
bunga hanya bertambah pada setiap akhir tahun, diasumsikan pembayaran bunga
pertama pada 12 bulan dari awal investasi, dan selanjutnya setiap 1 bulan kedepan,
sedangkan jawaban n = 20.3 ≠ 20. Artinya selama 20 tahun jumlah investasi
bertambah menjadi
F = $ 25.000 ( 1.12 )20 = $ 241 157.33
Sedangkan pada waktu 21 tahun
F = $ 25.000 ( 1,12 )21 = $ 270 096.21
Jadi, nilai $250.000, adalah jumlah investasi selama 20,3 thn berada diantara F(20)
dan F(21)

Masalah 3 :
Sebuah perusahaan mengestimasi bahwa penjualannya akan naik 3% setiap tahun, dan
untuk mencapai break event diperlukan penjualan paling sedikit sebesar 10.000 unit
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 13

produk tiap tahun jika perusahaan berharap ingin memperoleh keuntungan. Diketahui
juga bahwa realisasi penjualan saat ini hanya 9000 unit. Berapa tahun kondisi ini akan
terjadi sebelum perusahaan mencapai BEP ?

Perhatikan soal-soal sebelumnya yang menggunakan tingkat bunga majemuk tahunan,


dimana tingkat bunga akan terus menambah besarnya nilai investasi. Sebagai contoh,
andaikata modal awal $500 di investasikan untuk 3 tahun pada tingkat bunga majemuk
10%, dengan perhitungan triwulan. Apa yang dimaksudkan dengan bunga majemuk
triwulan 10% ? Jadi kita menerima bunga 10% setiap 3 bulan, artinya 10% di bagi atas 4
bagian, setiap bagian 3 bulan dari bunga yaitu :

10% 2.5
 2.5%  (1  )
4 100

Tiga bulan pertama menerima = $ 500 ( 1 + 0.025 )


= $ 500 (1.025)
Tiga bulan kedua menerima = $ 500 (1.025)2
Jika dalam jangka waktu 12 tahun = $ 500 (1.025)12 = $ 672.44
Contoh
Modal $10 diinvestasikan dengan bunga 12% selama 1 th. Tentukan bunga ke depan jika
bunga yang dibayar adalah bunga majemuk
a. Setiap tahun d. Tiap bulan
b. Tiap semester e. Tiap minggu
c. Triwulan

Penyelesaian
Rumus untuk menghitung bunga majemuk adalah

r n
F  10(1  )
100
a. Jika bunga adalah compounded setiap tahun maka r = 12 , n = 1 jadi
F = $ 10 (1.12 )1 = $ 11.20

b. Jika bunga adalah compounded semi setiap tahun maka bunga dari 12/2 = 6% adalah
ditambah setiap 6 bulan dan maka dari itu masa 2 x 6 bulan dalam setahun.
F = $ 10 (1.06 ) 2 = $ 11.24

c. Jika bunga adalah compounded setiap triwulan maka bunga dari 12/4 = 3 % adalah
ditambah setiap 3 bulan dan maka dari itu masa 4 x 3 bulan dalam setahun.
F = $ 10 ( 1.03 )4 = $ 11.26

d. Jika bunga adalah compounded tiap bulan maka bunga dari 12/12 = 1% adalah
ditambah setiap bulan dan maka dari itu 12 bulan dalam setahun.
F = $ 10 ( 1.01)12 = $ 11.27

e. Jika bunga adalah compounded tiap minggu maka bunga dari 12/52 =0,23 % adalah
ditambah setiap minggu dan maka dari itu 52 minggu dalam setahun.
F = $ 10 ( 1.0023 )52 = $ 11.27
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 14

Pada contoh diatas dapat dilihat kenaikan nilai pada masa datang dikarenakan kecepatan
kenaikan bunga majemuk, karena dasar keistimewaan dari bunga majemuk adalah kita akan
menerima bunga dari bunga pada waktu sebelumnya.

F = Pet i/100
Dimana e adalah angka 2.718 281 828 atau e = 2,7182818

Jika
r = 12
t=1
P = 10
Lalu rumus ini memberikan

F = $ 10e12 x1/100 = $ 10e0.12 = $ 11.27


Nilai ini sesuai dengan nilai batas yang diperoleh dalam contoh sebelumnya.

Contoh
Biaya pokok dari $2000 dengan bunga majemuk 10% terus menerus, setelah beberapa
hari investasi pertama akan melebihi $ 2100 ?

Penyelasaian
Kita akan menyimpan sebesar $2100 yang dimulai dengan investasi sebesar $2000,
masalahnya menentukan angka membutuhkan berapa hari lamanya dengan asumsi tingkat
bunga majemuk 10% kontinue (terus menerus). Formula untuk bunga majemuk terus
menerus adalah : F = Pet r/100
F = $2100
P = $ 2000
r = 10%
2100 = 2000et.(0/100)
1.05 = e10t/100
1.05 = e0.1t
Contoh di atas dapat diselesaikan dengan menggunakan logaritma, misal :
M = en ; n = lnM
1.05 = e 0.1t
M = 1.05 ; n = 0.1t
0.1t = ln (1,05) = 0.0487902
0.0487902
t= = 0.488
0.1
t adalah faktor tidak tetap yang terlihat pada formula majemuk yang kontinue.
Selanjutnya kita kalikan dengan 365 hari (asumsikan 1 tahun = 365 hari) maka
diperoleh : t = 365 x 0.488 = 178.1
Jadi dapat diketahui untuk investasi awal hingga mencapai $2100 adalah selama 179
hari.
Biasanya perusahaan menggunakan bunga majemuk tahunan, semua perusahaan yang
melakukan investsi atau menggunakan fasilitas kredit diharuskan memberikan bunga
tahunan efektif, ini sering disebut Annual Percentage Rate yang disingkat APR. APR
adalah tingkat bunga yang apabila bunga majemuk tahunan menghasilkan sama dengan
hasil tingkat bunga nominal.
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 15

Contoh
Menentukan tingkat bunga tahunan dari deposito yang mempunyai nominal bunga 8%
bunga majemuk /bulan

Penyelesaian
APR adalah tingkat bunga secara keseluruhan yang dapat dihitung menggunakan skala
faktor, jika pemilik modal menawarkan perputaran 8% bunga majemuk / bulan, maka
setiap bulan bunganya adalah

8/ 12 = 2/ 3 = 0,67
1 + 0,67/ 100 = 1,0067

(1.0067)12 =1.0834
1 + 8,34/ 100
Jadi APR nya adalah 8,34 %

Kriteria Evaluasi Proyek


Kriteria yang biasa digunakan untuk mengevaluasi proyek ialah tingkat keuntungan ekonomis
(profitability). Dengan demikian jika suatu proyek telah memenuhi persyaratan teknik, perlu
ditentukan tingkat keuntungan ekonomis yang bisa diperoleh dari proyek tersebut. Dalam
konsep ekonomi manajerial, suatu proyek dikatakan memiliki keuntungan ekonomis apabila
memenuhi persamaan berikut :
π = TR – TC > 0
dimana π = keuntungan ekonomis
TR = penerimaan total (total revenue)
TC = biaya total (total costs), merupakan jumlah biaya eksplisit (explicit costs)
ditambah dengan biaya implisit (implicit cost or opportunity cost)
Untuk suatu proyek yang yang memiliki umur ekonomis t tahun (dimana t = 1, 2, 3, …… n),
maka konsep penerimaan total (TR) dan biaya total (TC) dapat dinyatakan sebagai berikut :
TR = ∑ Bt
TC = Co + ∑ Ct (dimana t – 1, 2, 3, … n)
Note : Bt adalah penerimaan tahunan yang merupakan manfaat ekonomi dari suatu proyek.
Co adalah biaya yang dikeluarkan pada awal investasi berupa pembuatan studi
kelayakan, pembelian tanah, pembangunan pabrik, pembelian mesin, dll). Ct adalah
biaya tahunan yang dikeluarkan untuk menjalankan aktivitas proyek.
Dengan demikian konsep keuntungan ekonomis dari suatu proyek yang memiliki umur
ekonomis tahunan dapat dinyatakan sebagai berikut :
π = TR – TC
π = ∑ Bt – [Co + ∑ Ct], dimana :t = 1, 2, 3, …. n
Persamaan keuntungan ekonomis ini bisa juga ditulis dalam bentuk :
π = TR / TC
π = ∑ Bt / [Co + ∑ Ct],
Konsep keuntungan ekonomis di atas belum memperhitungkan faktor interest rate, padahal
seorang investor ingin menginvestasikan modalnya pada sproyek karena adanya faktor
interest rate dari investasi tersebut. Interest rate atau rate of return adalah konsep periodik
yang mengukur tingkat pengembalian investasi (return of investment = ROI) relatif terhadap
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 16

jumlah investasi selama periode waktu tertentu. Dengan demikian, interest rate merupakan
rasio antara hasil yang diterima dengan jumlah dana yang diinvestasikan pada suatu peoyek.
Penentuan besarnya interest rate yang akan diperhitungkan dalam analisis investasi proyek
dapat menggunaan infomasi berdasarkan tingkat suku bunga bank yang berlaku saat itu, atau
berdasarkan tingkat pengembalian hasil atraktif minimum yang diharapkan oleh investor atau
sering disebut MARR yang diharapkan (Expected minimum attractive rate of return =MARR)
atau dapat juga berdasarkan tingkat diskon social (social discount rate) apabila proyek-proyek
itu merupakan proyek untuk kepentingan masyarakat (public projects)

Analisis Investasi Proyek Untuk Pilihan Tunggal


Apabila investor hanya memiliki satu alternatif pilihan, misal : apakah proyek yang
direncanakan bisa dilaksanakan atau tidak, atau apakah kapasitas pabrik perlu diperluas
dengan penambahan mesin atau tidak, tanpa ada pilihan lain yang dijadikan sebagai
pembanding, maka dapat dikatakan bahwa investor tersebut mempunyai pilihan tunggal.

1. Kriteria Nilai Bersih Sekarang (NPV)


Kriteria nilai bersih sekarang (Net Present Value = NPV) untuk menganalisis
investasi proyek yang memiliki umur ekonomis t (t = l, 2, 3, ..., n) tahun didasarkan
formula berikut :

di mana:
NPV(i) = Nilai bersih sekarang pada tingkat interest rate i per tahun
Bt = Penerimaan total (manfaat ekonomi) dari proyek industri pada
periode waktu ke-t (t = 1, 2, 3, .., n)
CO = Biaya investasi awal dari proyek industri
C- = Biaya total yang dikeluarkan untuk proyek industri pada
periode waktu ke-r_ (t = 1, 2, 3, .., n)
(1 + i)-t = Faktor nilai sekarang (PF) atau faktor diskon (DF) yang
merupakan faktor koreksi pengaruh waktu terhadap nilai uang
pada periode ke-t dengan interest rate i per tahun
Formula NPV(i) di atas dapat juga dinyatakan dalam bentuk lain, sebagai berikut:
NPV(i) = {  PFt (B t )} - {  PFt (Ct)}
disini t = 0, l, 2, .., n, sedangkan PF c adalah faktor nilai sekarang,
yaitu: PF t = (1 + i)-t

Suatu proyek dikatakan memiliki keuntungan ekonomis, sehingga layak untuk


dilaksanakan, apabila nilai NPV (i) lebih besar dari pada nol. Jika nilai NPV (i) lebih
kecil dari nol maka proyek itu akan mengakibatkan kerugian ekonomis apabila
dilaksanakan. Dalam kondisi ini, tentu saja setiap manajer harus menolak proyek yang
memiliki keuntungan ekonomis negatif. Untuk menjelaskan implemnetasi konsep NPV
dalam menganalisis investasi proyek, perhatikan kasus hipotesa berikut.
Contoh PT. Ersa adalah perusahan industri manufaktur yang memproduksi suku
cadang tertentu untuk satu jenis mobil. Misal PT. Ersa memperoleh penawaran kerja
sama dengan perusahaan mobil tertentu untuk memasok suku cadangnya. Mengingat
kapasitas produksi dari PT. Ersa pada saat ini telah penuh, maka apabila penawaran
kerja sama itu diterima, berarti PT. Ersa harus melakukan investasi berupa
penambahan mesin baru. Berdasarkan pertimbangan teknik, penambahan mesin baru
dianggap layak dan memungkinkan, namun pertimbangan ekonomi harus dievaluasi.
Manajemen PT. Ersa memperhitungkan umur ekonomis dari mesin baru adalah lima
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 17

tahun, dengan biaya investasi awal berupa pembelian sebuah mesin berharga Rp.
50.000.000. Perkiraan aliran kas (cash flow) berupa penerimaan total dan biaya total
selama lima tahun dari penambahan sebuah mesin produksi di tunjukkan dalam Tabel
1.

Tabel 1. Perkiraan Aliran Kas dari Penambahan Sebuah Mesin Baru


Tahun Biaya Total C, Penerimaan Total B t
(dalam jutan) (dalam jutaan)
0 50 0
1 15 25
2 20 30
3 10 65
4 10 75
5 5 50

Jika biaya pembelian sebuah mesin baru itu merupakan pinjaman dari bank dengan
tingkat bunga kredit sebesar 18% per tahun, apakah keputusan investasi berupa
pembelian sebuah mesin baru itu layak berdasarkan pertimbangan ekonomi ?
Analisis menggunakan konsep NPV adalah sebagai berikut:
NPV (i=0.18) = {  [ Bt / ( 1+0.18) t ] – { Co +  [Ct / (1+0.18 ) t ] }

Hasil perhitungan ditunjukkan dalam Tabel 2

Tabel 2 Lembar Kerja Perhitungan NPV (i=0.18)


Tahun PFt Ct Bt PFt(Ct) PFt(Bt) NPV
(1) (2) (3) (4) (5) = (2) x (3) (6)= (2) x (4) (7) = (6)-(5)

0 1,0000 50 0 50,00 0,00 -50,00


1 0,8475 15 25 12,71 21,19 8,48
2 0,7182 20 30 14,36 21,55 7,19
3 0,6086 10 65 6,09 39,56 33,47
4 0,5158 10 75 5,16 38,69 33,53
5 0.3471 5 50 2.19 21.86 19.67
90,51 142,85
NPV (i)=0,18) =  NPVt = 52.34
Catatan: PF t = (1+i)-t = (1+0.18) -t ; t = 0, 1, 2, 3, 4, 5.
Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan konsep NPV diketahui bahwa ke-
untungan ekonomis dari pembelian sebuah mesin baru adalah 52,34 (Rp 52.340.000).
Karena nilai NPV lebih besar dari nol, maka diputuskan untuk membeli mesin baru,
karena layak berdasarkan pertimbangan ekonomi.

2. Kriteria Rasio Manfaat - Biaya ( BCR )


Kriteria rasio manfaat-biaya (Benefit-Cost Ratio = BCR) untuk menganalisis inves tasi
proyek industri yang memiliki umur ekonomis t (t = 1, 2, 3, ..., n) tahun dilaku kan
berdasarkan formula berikut:
BCR (i) = {  [ Bt / ( 1+i ) } / { Co +  [ Ct / ( 1+i )t ] }
di mana :
BCR(i) = Nilai rasio manfaat-biaya pada tingkat interest rate (i) per tahun
Bc = Penerimaan total (manfaat ekonomi) dari proyek industri pada
periode waktu ke-t (t = 1, 2, 3, .., n)
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 18

Co = Biaya investasi awal dari proyek industri


Ct = Biaya total yang dikeluarkan untuk proyek industri pada
periode waktu ke-t (t = 1, 2, 3, ..., n)
(1 + i)-t = Faktor nilai sekarang (PF) atau faktor diskon (DF) yang
merupakan faktor koreksi pengaruh waktu terhadap nilai
uang pada periode ke-t dengan interest rate i per tahun

Formula BCR (i) di atas dapat juga dinyatakan dalam bentuk lain, sebagai berikut :
BCR(i) = { ∑ PFt ( Bt ) } / { ∑ PFt ( Ct ) }
disini t = 0, 1, 2, .., n, sedangkan PF t adalah faktor nilai sekarang, yaitu: PF t =
(1+i)-t.

Suatu proyek dikatakan memiliki keuntungan ekonomis, dan layak untuk


dilaksanakan, apabila nilai BCR (i) lebih besar daripada satu. Jika nilai BCR (i) lebih
kecil dari satu, maka proyek akan menimbulkan kerugian ekonomis apabila
dilaksanakan. Dalam kondisi ini, tentu saja manajer harus menolak proyek industri
yang memiliki keuntungan ekonomis negatif. Apabila kasus hipotesis dari PT Ersa
tentang studi kelayakan pembelian sebuah mesin baru dilakukan dengan
menggunakan konsep BCR, dengan perhitungan sbb :
'
 t (Bt) = 21,19 + 21,55 + 39,56 + 38,69 + 21, 86 = 142,85
PF
 PFt (Ct) = 50,00 + 12,71 + 14,36 + 6,09 + 5,16 + 2,19 = 90,51
BCR(i) = {  PFt (Bt)} /  PFt (Ct)} = 142,85 / 90,51 = 1,58
Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan konsep BCR diketahui bahwa investasi
pembelian sebuah mesin baru adalah layak berdasarkan pertimbangan ekonomi. Nilai
BCR = 1,58 dapat diinterprestasikan sebagai nilai manfaat total ekonomi dari
pembelian mesin baru ialah sebesar 1,58 kali lebih besar dari nilai biaya total, pada
tingkat interest rate sebesar 18%. Dengan kata lain setiap rupiah yang diinves tasikan
PT. Ersa pada pembelian mesin baru akan memberikan hasil sebesar 1,58 rupiah.

3. Kriteria Internal Rate of Return (IRR)


Internal Rate of Return (IRR) atau sering juga disebut sebagai rate of return
merupakan suatu indeks keuntungan (profitability index) yang telah dipergunakan
secara luas dalam analisis investasi suatu proyek. Internal Rate of Return (IRR) dapat
didefinisikan sebagai suatu interest rate (i) yang membuat nilai sekarang dari alir an
kas proyek tersebut menuju nol. Dengan demikian IRR merupakan suatu interest rate
yang membuat nilai NPV sama dengan nol. Dalam analisis investasi proyek, nilai IRR
dapat dijadikan sebagai suatu kriteria untuk menunjukkan sejauh mana nilai IRR dari
proyek industri itu berbeda dengan MARR yang diharapkan (expected minimum
attractive rate of return) oleh investor. Suatu proyek dianggap memenuhi kelayakan
ekonomi, dalam arti mampu memberikan keuntungan ekonomis, apabila nilai IRR
lebih besar daripada MARR yang diharapkan oleh investor. Apabila semua dana untuk
membiayai proyek industri diperoleh berdasarkan pinjaman dari bank, proyek industri
itu dianggap memenuhi kelayakan ekonomi apabila nilai IRR dari proyek industri itu
lebih besar daripada tingkat bunga pinjaman dari Bank.
Perhitungan nilai IRR dari suatu proyek industri dilakukan secara coba-coba (trial and
error) melalui suatu proses bertahap, bukan secara langsung sebagaimana per hitungan
NPV dan BCR. Hal ini disebabkan tidak bisa diketahui secara pas ti interest rate yang
membuat nilai NPV sama dengan nol, sehingga perhitungan harus dilakukan secara
bertahap melalui perubahan nilai interest rate sampai memperoleh ni lai NPV sama
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 19

dengan nol. Penerapan konsep IRR dalam analisis investasi pembelian mesin baru
oleh PT Ersa dilakukan secara bertahap, sebagai berikut :
Berdasarkan perhitungan pada interest rate sebesar 18%, diketahui hahwa nilai NPV =
52,34 (juta rupiah). Nilai NPV ini jauh lebih besar dari nol, sedangkan IRR adalah
interest rate yang membuat nilai NPV sama dengan nol. Hal ini berarti nilai interest
rate yang membuat nilai NPV = 0, harus lebih besar daripada 18%. Masalahnya
adalah bagaimana menentukan nilai IRR itu. Dalam hal ini kita mencoba
menggunakan interest rate yang lebih besar dari 18%, misalnya kita menggunakan
interest rate sebesar 24% (i = 0,24). Perhitungan NPV menggunakan interest rate 24%
dilakukan seperti perhitungan NPV pada interest rate 18%, dan ditunjukkan dalam
Tabel 3.

Tabel 3. Lembar Kerja Perhitungan NPV(i = 0,24)


Tahun PFt Ct (3) Bt PFt(Ct) PFt(Bt) NPV
(1) (2) (4) (5) = (2) x (3) (6)= (2) x (4) (7) = (6)-(5)

0 1,0000 50 0 50,00 0,00 -50,00


1 0,8065 15 25 12,10 20,16 8,06
2 0,6504 20 30 13,01 19,51 6,50
3 0,5245 10 65 5,25 34,09 28,84
4 0,4230 10 75 4,23 31,73 27,50
5 0,3411 5 50 1,71 17,06 15,32
NPV (i)=0,18) =  NPVt = 36,22
Catatan: PF t = (1+i)-t = (1+0.24) -t ; t = 0, 1, 2, 3, 4, 5.

Oleh karena nilai NPV pada interest rate 24% sama dengan 36,22; masih jauh lebih
besar dari nol, maka kita perlu melakukan perhitungan NPV lagi melalui
meningkatkan interest rate, misalnya dengan menggunakan interest rate 36% (i =
0.,36). Perhitungan NPV dengan cara yang sama ditunjukkan dalam Tabel 4.
Tabel 4. Lembar Kerja Perhitungan NPV (i)=0,18)
Tahun PFt Ct (3) Bt PFt(Ct) PFt(Bt) NPV
(1) (2) (4) (5) = (2) x (3) (6)= (2) x (4) (7) = (6)-(5)
0 1,0000 50 0 50,00 0,00 -50,00
1 0,7353 15 25 11,03 18,38 7,35
2 0,5407 20 30 10,81 16,22 5,41
3 0,3975 10 65 3,98 25,84 21,86
4 0,2923 10 75 2,92 21,92 19,00
5 0,2149 5 50 1,07 10,75 9,68
NPV (i)=0,18) =  NPVt = 13,30
-t
Catatan: PF t = (1+i)-t = (1+0.36) ; t = 0, 1, 2, 3, 4, 5.

Karena nilai NPV pada interest rate 36% sama dengan 13,30; masih jauh lebih be -
sar dari nol, maka kita perlu melakukan perhitungan NPV lagi melalui mening katkan
interest rate, misalnya dengan menggunakan interest rate 45% (i = 0,45). Perhitungan
NPV dengan cara yang sama ditunjukhan dalam Tabel 5.
Tabel 5. Lembar Kerja Perhitungan NPV (i = 0,45)
Tahun PFt Ct (3) Bt PFt(Ct) PFt(Bt) NPV
(1) (2) (4) (5) = (2) x (3) (6)= (2) x (4) (7) = (6)-(5)
0 1,0000 50 0 50,00 0,00 -50,00
1 0,6897 15 25 10,35 17,24 6,89
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 20

2 0,4756 20 30 9,51 14,27 4,76


3 0,3280 10 65 3,28 21,32 18,04
4 0,2262 10 75 2,26 16,97 14,71
5 0,1560 5 50 0,78 7,80 7,02
NPV (i)=0,18) =  NPVt = 1.42
-t
Catatan: PF t = (1+i) = (1+0.45) -t ; t = 0, 1, 2, 3, 4, 5.

Oleh karena nilai NPV pada interest rate 45% sama dengan 1,42; masih lebih
besar dari nol, maka kita perlu melakukan perhitungan NPV lagi melalui
meningkatkan interest rate, misalnya dengan menggunakan interest rate 48% (i =
0,48). Perhitungan NPV dengan cara yang sama ditunjukkan dalam Tabel 6.

Tabel 6. Lembar Kerja Perhitungan NPV (i=0,48)


Tahun PFt Ct (3) Bt PFt(Ct) PFt(Bt) NPV
(1) (2) (4) (5) = (2) x (3) (6)= (2) x (4) (7) = (6)-(5)

0 1,0000 50 0 50,00 0,00 -50,00


1 0,6757 15 25 10,14 16,89 6,75
2 0,4565 20 30 9,13 13,70 4,57
3 0,3085 10 65 3,09 20,05 16,96
4 0,2084 10 75 2,08 15,63 13,55
5 0,1408 5 50 0,70 7,04 6,34
NPV (i)=0,18) =  NPVt = -1.83
Catatan: PF t = (1+i)-t = (1+0.48) -t ; t = 0, 1, 2, 3, 4, 5.

Oleh karena nilai NPV pada interest rate 48% sama dengan -1,83; telah lebih kecil
daripada nol, maka kita menghentikan proses perhitungan NPV. Apabila hasil
perhitungan NPV pada berbagai interest rate dikumpulkan, akan tampak sebagai
berikut :
NPV ( i = 0.18 ) = 52.34
NPV ( i = 0.24 ) = 36.22
NPV ( i = 0.36 ) = 13.30
NPV ( i = 0.45 ) = 1.42
NPV ( i = 0.48 ) = -1.83
Karena nilai NPV (i = 0,48) telah negatif, selang atau interval nilai interest rate 45%
dan 48% telah mencakup nilai IRR proyek yang membuat NPV = 0. Perkiraan
terhadap IRR proyek pembelian mesin baru dilakukan melalui penetapan satu nilai
diantara selang interest rate 45% dan 48%. Dengan menggunakan interpolasi linear,
nilai IRR dapat diperkirakan, sebagai berikut :
i = 0,45 →> NPV = 1,42
i = 0,48 →> NPV = -1,83
IRR = 0,45 + {(1,42 – 0) / [1,42 - (-1,83)]} (0,48 - 0,45)
= 0,45 + 0,0131 = 0,4631 = 46,31 %
Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa nilai IRR dari. proyek pembelian mesin
baru adalah sekitar 46,31%, karena pada interest rate 46,31%, NPV sama dengan nol.
Tampak bahwa penentuan nilai IRR dari proyek industri dilakukan secara bertahap
dan merupakan nilai perkiraan (bukan merupakan nilai. yang unik). Secara
matematik, perkiraan IRR berdasarkan interpolasi linear mengandung kelemahan, ka -
rena fungsi yang sesungguhnya antara NPV (i) dan interest rate (i) mengikuti bentuk
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 21

fungsi non-linear (polinomial). Hal ini dapat ditunjukkan melalui hasil NPV yang di -
peroleh melalui perhitungan pada berbagai interest rate, sebagai berikut :
NPV (i = 0.18) = 52.34
NPV (i = 0.24) = 36.22
NPV (i = 0.36) = 13.30
NPV (i = 0.45) = 1.42
NPV (i = 0.45) = -1.83
Tampak melalui perbandingan antara NPV (i = 0.18) = 52,34 dan NPV (i = 0.24) = 36,22;
dalam hal ini peningkatan interest rate sebesar 6% (dari 18% menjadi 24%) akan
menurunkan NPV sebesar 52,34 - 36.22 = 16,12 (dalam juta rupiah). Perhatikan lagi
nilai-nilai NPV (i = 0,24) = 36,22 dan NPV (i = 0,36) = 13,30 , di mana dalam hal ini
peningkatan interest rate sebesar 12% (dari 24% menjadi 36%) menyebabkan
penurunan nilai NPV sebesar 36,22 -13,30 = 22,92 (dalam juta rupiah). Tampak
bahwa penurunan nilai NPV tidak berbanding lurus dengan peningkatan interest rate,
sehingga menunjukkan bahwa hubungan antara nilai NPV dan interest rate adalah
non-linear seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.

“Intrest Rest” (Persen )

Gambar 1. Hubungan Imterest Rate dan NPV dari


Proyek Pembelian Mesin Baru

Dengan demikian berdasarkan kriteria IRR diketahui bahwa pembelian mesin


baru akan memberikan IRR = 46,31%, dan karena nilai ini lebih besar daripada
MARR yang diharapkan yaitu sesuai tingkat bunga pinjaman dari Bank sebesar 18%,
maka disimpulkan bahwa pembelian mesin baru oleh PT Ersa adalah layak
berdasarkan pertimbangan ekonomi. Berdasarkan analisis kelayakan ekonomi
terhadap rencana investasi pembelian mesin baru dari PT Ersa diperoleh nilai-nilai :
NPV(i = 0,18) = Rp. 52.340.000, BCR (i = 0,18) = 1,58 dan IRR = 46,31%. Semua kriteria
menunjukkan bahwa pembelian mesin baru adalah layak berdasarkan pertimbangan
ekonomi, sehingga manajer PT. Ersa seyogyanya melaksanakan keputusan pembelian
mesin baru itu.

Inverse Matrik

Dalam Bab ini kita diharapkan mampu dan memahami :


 Menuliskan matrik identitas 2 x 2 dan 3 x 3
 Menentukan matrik singular atau non singular
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 22

 Menghitung determinan dan invers natrik 2 x 2


 Menghitung determinan dan invers matrik 3 x 3
 Menggunakan kofaktor untuk menemukan determinan dan invers matrik 3 x 3
 Menggunakan matrik invers dalam memecahkan persoalan persamaan linier yang
muncul dalam kegiatan ekonomi.

Matrik Identitas

Dalam ilmu aljabar misalkan :

a. 1 = a dan 1.a = a a-1. a = 1 dan a.a-1 = 1

Jika ditemukan masalah matrik 2 x 2 , maka angka 1 diartikan matrik I = identitas


Maka :
AI = A dan IA = A

1 0
dimana I =  maka matrik I disebut Matrik Identitas
0 1

a b 1 d  b
A=  maka A-1 =
c d  ad  bc  c a 

Dari bentuk diatas ditemukan persamaan :

A-1A = I dan AA-1 = I

Matrik A-1 disebut matrik Invers dari A


1
disebut dengan skalar dan ad-bc disebut dengan determinan A
ad  bc
a b
Dituliskan dengan det (A) atau  atau
c d

Jika ditemukan  = 0, maka matrik ini disebut dengan matrik singular sebaliknya jika
  0 , maka matrik tersebut adalah matrik non singular
1 2 2 5 
Contoh : Tentukan Invers matrik berikut ini A=   B=  
3 4  4 10

Jawabnya pertama dimulai dengan menentukan determinan matriknya, untuk


1 2 1 2
A=   det (A) = = 1(4) – 2 (3) = 4 – 6 = -2
3 4 3 4
Karena det (A)  0 , maka matrik ini disebut dengan matrik non singular dan kita akan
mendapatkan A-1 dengan cara kita tukar posisi anggota diagonal dari kiri kekanan bawah
matrik A yaitu 1 dan 4 , kemudian merubah tanda dari anggota diagonal dari kanan ke kiri
bawah dari matrik A yaitu 2 dan 3, setelah itu kita bagi dengan determinannya -2 ,
sehingga kita dapat hasilnya sbb :
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 23

1 4  2 2 1 
A-1 = = 
2  3 
1  3 / 2  1 / 2

Hasil menjadi benar jika matrik dikalikan dengan matrik A sendiri adalah matrik
-1 -1
Identitas A A atau A A adalah = I
2 1  1 2 1 0
A-1A =  = 
3 / 2  1 / 2 3 
4 0 1

Untuk matrik :
2 5 2 5
B=  , karena det (B) = = 2(10) – 5(4) = 20 – 20 = 0
4 10 4 10

Maka dikatakan bahwa matrik B adalah matrik singular, karena det (B) = 0

Untuk memecahkan persoalan persamaan matrik dalam bentuk persamaan linear alajabar
untuk matrik 2 x 2 berikut ini diberikan contoh :
ax + by = e
cx + dy = f
dapat dituliskan Ax = b
dimana :
a b  x e
A=  x =   b =  
c d   y f
Dari persamaan Ax = b jika dikalikan dengan A-1 maka

A-1 (A x) = A-1 b --- ( A-1 A) x = A-1 b ( bentuk asosiatif perkalian )

Ix = A-1 b ( Matrik Invers) x = A-1 b (rumus)

Contoh :

Titik equilibrium Harga P1 dan P2 untuk dua jenis barang ditunjukkan oleh persamaan
berikut :

-4P1 + P2 = -13

2P1 + 5P2 = -7

Dapat dituliskan sbb:

 4 1  P1   13
 2 =   Ax = b
 5 P2
  7

Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 24

4 1
Det (A) = = (-4)(-5) – (1)(2) = 20 – 2 = 18
2 5

Invers Matriknya
1  5  1
A-1 = ----- x = A-1 b maka didapatkan
18  2  4

1  5  1   13
x =
18  2  4   7 

1 72  4
= =   Dengan demikian P1 = 4 dan P2 = 3
18 54  3

Dalam model makro ekonomi untuk model 2 sektor dituliskan dalam persamaan
Y = C + I*
C = aY + b
Dimana a dan b parameter dengan besaran 0 < a < 1 dan b > 0, dan I* adalah besaran
Investasi, maka formula dalam bentuk invers adalah sbb :
Y - C = I* ………. (1)
-aY + C = b ……... (2)

Persamaan dalam bentuk matriknya menjadi


 1  1 Y   I *
 a    =    x = A-1 b
 1  C  b

1 1
Det (A) = = 1(1) – (-1)(-a) = 1 – a nilai det (A) tidak mungkin 0
a 1

karena a < 1
1 1 1
maka A-1 = a , akhirnya untuk menentukan nilai x
1 a  1

x = A-1 b
1 1 1  I * 1  I * b 
= a  =
1 a  1  b  1  a aI * b 
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 25

sehingga :
I * b aI * b
Y= dan C =
1 a 1 a
Jika Investasi berubah dari I* menjadi ∆ I* atau I* + ∆ I*, dengan b konstan maka nilai
I *  I * b a( I *  I *)  b
Y dan C menjadi : Y = C=
1 a 1 a

mengakibatkan perubahan nilai Y dan nilai C


I *  I * b I * b
∆Y = -
1 a 1 a

 1 
=  I *
1 a 

a ( I *  I *)  b aI * b
∆C = -
1 a 1 a

 a 
=  I *
 1  a 

Dengan kata lain untuk mendapatkan perubahan nilai Y dan nilai C, masing-masing Investasi
(I*) dikali dengan faktor pengali
1 a
perubahan investasi untuk Y perubahan investasi untuk C
1 a 1 a

 1 1 
 1 a
A-1 = 1  a
a 1 
 
1  a 1 a

Konsep Matrik Determinan, Invers Matrik dan Matrik Identitas untuk Matrik ordo 3 x
3

1 0 0
 0
I = 0 1 AI = A dan IA = A
0 0 1
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 26

Berbeda dengan matrik ordo 2 x 2, maka untuk matrik ordo 3 x 3 ini harus dipahami tanda
masing-masing elemen dan mengenali kofaktor, tanda masing-masing elemen seperti berikut :
  
  
 

  

 a11 a12 a13 


 a 23 
Misalkan tentukan kofaktor (A23) dari matrik A = a 21 a 22 
 a 31
 a 32 
a 33 

a11 a12
a23 tandanya adalah (-), maka kofaktornya adalah A 23 = -
a 31 a 32

= - (a11a32 – a12a31)  = -a11a32 + a12a31

Contoh Cari semua minor kofaktors dari matrik


2 4 1
 7 
A = 4 3
2 1 3

3 7
A11 = + = + [3(3)-7(1)] = 9 – 7 = 2
1 3

4 7
A12 = - = - [4(3)-7(2)] = -(12 –14) = 2
2 3

Seterusnya :
4 3 4 1 2 1
A13 = + = -2 A21 = - = -11 A22 = + =4
2 1 1 3 2 3

2 4 4 1 2 1
A23 = - =6 A31 = + = 25 A32 = - = -10
2 1 3 7 4 7

2 4
A33 = + = -10
4 3

Untuk mencari determinan matrik 3 x 3 cukup kofaktors koresponding dari 3 elemen atau
anggota misalnya Det (A) = a11A11 + a12A12 + a13A13,
Hasilnya akan sama jika kita mencari Det (A) = a 12A12 + a22A22 + a32A32
Contoh : Tentukan Determinan dari matrik berikut ini
2 4 1
4 3 7 
A= 
2 1 3
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 27

Kita bebas menggunakan pilihan melalui baris atau kolom, misalkan kita gunakan baris kedua
sebagai acuan. Kofaktor yang sesuai (corresponding) dari baris kedua 4, 3, 7 kita dapatkan
-11, 4, 6 dengan demikian kita temukan nilai dari determinannya
2 4 1
Det (A) = 4 3 7 = 4(-11) + 3 (4) + 7(6) = 10
2 1 3

Untuk menguji apakah dengan kolom sebagai acuan hasilnya akan sama berikut ini kita
contohkan elemen kolom 1, 7, 3 dengan kofaktors -2, 6, -10, maka kita dapat hasilnya berikut
ini : det (A) 1(-2) +7(6) + 3 (-10) = 10

Mencari Invers Matrik ordo 3x3


 a11 a12 a13 
 a 23 
Invers matrik A = a 21 a 22 
 a 31
 a 32 
a 33 

 11  21  31 
1  12
-1
A =    22  32 


 13  23 33 

 11  21  31
 1
Matrik  12  22  32 
 disebut Adjoin Matrik disebut skalar


 13  23 33 

Invers Matrik tidak bisa dihitung atau dilanjutkan jika det (A) = 0
Adjoin Matrik diperoleh dengan memindahkan baris menjadi kolom atau kolom menjadi baris
dari matrik minor kofaktor
Contoh :
Tentukan invers matrik dibawah ini :
2 4 1
4 3 7 

2 1 3

Jawab Dari hitungan sebelumnya ditemukan minor kofaktor dari matrik di atas:
A11 = 2, A12 =2 A13 = -2
A21 = -11 A22 = 4 A23 = 6
A31 = 25 A32 = -10 A33 = -10
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 28

 2 2 2
 11 4 6   lakukan transpose

 25  10  10

 2  11 25 
 2 4  10

 2 6  10

Dari perhitungan sudah ditemukan bahwa determinan dari matrik tersebut adalah 10 maka :
 2  11 25   1/ 5  11 / 10 5 / 2
1 
-1
A = 2 4  10 =  1 / 5
 2/5  1 
10 
 2 6  10  1 / 5 3/ 5  1 

Untuk mengecek apakah invers matrik yang kita hitung itu sudah benar, maka dilakukan
dengan pengalian A-1A
 1/ 5  11 / 10 5 / 2 2 4 1 1 0 0
  1  4 7  = 0 0 = I
A A =  1/ 5
-1 2/5  3 1
 1 / 5 3/ 5  1  2 1 3 0 0 1

2 4 1  1/ 5  11 / 10 5 / 2 1 0 0
 7   1/ 5  1  = 0 0 = I
AA = 4-1 3  2/5 1
2 1 3  1 / 5 3/ 5  1  0 0 1 

Penggunaan Matrik ordo 3x3 Pada Persamaan Linier


a11x + a12y + a13z = b1
a21x + a22y + a23z = b2 dapat dituliskan seperti Ax = b, dimana
a31x + a32y + a33z = b3
 a11 a12 a13   x  b1 
 a 23    
A = a 21 a 22  x =  y b =  b2 

 a 31 a 32 a 33 
 
z 
 b3 

Koefisien x (vektor x) tidak diketahui, tetapi bisa dicari dengan mengalikan invers matrik
A-1 dengan vektor b dituliskan seperti berikut : x = A-1 b
Misal : Tentukan Equilibrium Harga dari 3 jenis barang dari persamaan berikut :
2P1 + 4P2 + P3 = 77
4P1 + 3P2 + 7P3 = 114
2P1 + P2 + 3P3 = 48
Jawab: notasi matrik dituliskan seperti Ax = b
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 29

2 4 1  P1   77 
4 3 7     
A=  x =  P2  b = 114 
2 1 3 
 P3 
 
 48 

 1/ 5  11 / 10 5 / 2
  1 
A =  1/ 5
-1 2/5 dengan demikian
 1 / 5 3/5  1 

 P1   1/ 5  11 / 10 5 / 2  77  10
 P2    1  114   
  =  1/ 5 2/5   = 13

 P3 
  1 / 5 3/5  1  
 48 
 
5
Jadi besaran Harga (P) dari tiga jenis barang tersebut adalah :
P1 = 10, P2 =13 P3 = 5

Analisis Input Output

Tujuan dari bab ini kita akan dapat :


 Mengerti apa yang dimaksud dengan koefisien matriks teknis (matriks teknologi)
 Menghitung permintaan akhir
 Menghitung total output
 Menghitung angka pengganda di dalam model input output model
Model paling sederhana dari makro-ekonomi mengasumsikan bahwa hanya ada dua sektor
yaitu sektor rumahtangga dan perusahaan. Aliran uang diantara kedua sektor ini diilustrasikan
di dalam grafik 7.1

Perusahaan

Rumah tangga

Kotak yang dinamai perusahaan melakukan sejumlah aktivitas ekonomi. Perusahaan


menukar barang dan jasa diantara mereka sendiri demikian juga dengan barang dan jasa yang
dikonsumsi rumahtangga. Contohnya, industri baja menggunakan bahan baku seperti biji besi
dan batu bara untuk memproduksi baja. Pada putaran berikutnya, baja dibeli oleh perusahaan
teknik untuk memproduksi mesin-mesin. Mesin-mesin ini digunakan oleh perusahaan lain
termasuk industri yang memproduksi baja. Jadi sangat menungkinkan bagi sebuah usaha
untuk menggunakan hasil atau outputnya sebagai input. Contohnya pada sektor pertanian,
sebuah usahatani akan menggunakan tanah yang baik untuk ditanami untuk menghasilkan
biji-bijian, yang sebagian diantaranya diolah kembali sebagai makanan ternak. Output yang
ditujukan untuk rumahtangga disebut permintaan akhir. Output yang digunakan sebagai input
oleh perusahaan lain disebut output antara. Upaya dalam mengidentifikasi perusahaan barang-
barang individu dan perusahaan, dan menelusuri arus uang diantara perusahaan ini disebut
dengan analisis input output.
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 30

Jika dianggap hanya ada dua industri, I 1 dan I2 dan bahwa output dari I 1 sebesar $ 1
membutuhkan input sebesar 10 sen dari I 1 dan 30 sen dari I2. Output dari I2 seharga $ 1
membutuhkan input sebesar 50 sen dari I1 dan 20 sen dari I2. Informasi ini dapat ditunjukkan
dalam bentuk tabel berikut
0,1 0,5
A=
0,3 0,2
Matriks ini disebut koefisien matriks teknologi. Kolom pada A memberikan input yang
diperlukan untuk memproduksi sebesar $1 output. Secara umum jika ada n industri dengan
order matriks koefisien teknis n x n. Elemen aij memberikan input yang diperlukan dari
industri ke i untuk memproduksi $1 output industri ke j.

Output
I1 I2
I1 0,1 0,5
Input I2 0,3 0,2
1,0 1,0

Ada asumsi penting bahwa fungsi produksi untuk setiap industri di dalam model
menunjukkan “return to scale”. Artinya bahwa koefisien teknis dapat diartikan sebagai
proporsi yang mana independen terhadap level output. Contohnya, katakan bahwa kita akan
memproduksi 500 output dari I1 . Kolom pertama dari A menunjukkan bahwa input yang
diperlukan :
0,1 x 500 = 50 unit untuk I1
0,3 x 500 = 150 unit untuk I2

Sejalan dengan itu, kita memproduksi 400 unit dari I2, kemudian kolom kedua dari A
memperlihatkan bahwa kita menggunakan
0,5 x 400 = 200 unit untuk I1
0,2 x 400 = 80 unit untuk I2

Dalam situasi ini, 500 unit I1 yang diproduksi kembali sebanyak 50 unit ke I 1 dan 200
digunakan oleh I2. Ini artinya bahwa ada 250 unit tersisa yang tersedia untuk permintaan
eksternal. Dengan cara yang sama, 400 unit I2 yang diproduksi, 230 unit digunakan sebagai
output antara meninggalkan 170 unit yang digunakan untuk permintaan eksternal. Untuk
kasus umum dari n industri kita dapat menggunakan matriks koefisien teknis untuk
menjawab pertanyaan berikut.

Pertanyaan 1 : Berapa banyak output yang tersedia untuk permintaan akhir yang
diberikan pada tingkat total output
Pertanyaan 2 : Berapa banyak total output yang dibutuhkan untuk memenuhi tingkat
permintaan akhir
Pertanyaan 3 : Berapa perubahan yang diperlukan untuk membuat total output ketika
Permintaan akhir berubah karena adanya sejumlah permintaan

Ketiga pertanyaan di atas dapat dijawab dengan menggunakan satu persamaan matriks dasar
yang sekarang kita dapatkan. Kita mulai dengan kembali ke model sederhana dua industri
dengan matriks koefisien teknis
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 31

0,1 0,5
A=
0,3 0,2
Mari kita tunjukkan permintaan akhir untuk I 1 dan I2 dengan d1 dan d2, berturut-turut dan
menunjukkan total output dengan x1 dan x2. Output total dari I1 digunakan dalam tiga cara
berbeda. Pertama, sebagian output dari I1 digunakan sebagai input untuk I 1. Proporsi yang
tepat di tunjukkan oleh elemen

a11 = 0,1

Jadi I1 menggunakan 0,1x1 unit dari outputnya sendiri. Kedua, beberapa output dari I1
digunakan sebagai input dari I2. Elemennya

a12 = 0,5

diberikan sejumlah I1 yang digunakan untuk membuat 1 unit I 2. Kita membuat total x2 unit
dari I2, jadi kita menggunakan 0,5x2 unit dari I1 dengan cara ini. Ketiga, beberapa output dari
I1 digunakan untuk permintaan akhir, yang kita notasikan sebagai d 1. Sejumlah total dari I1
yang digunakan menjadi
0,1x1 + 0,5x2 + d1

Jika kita asumsikan bahwa total output dari I1 dapat mencukupi permintaan ini maka
x1 = 0,1x1 + 0,5x2 + d1

Dengan cara yang sama, jika I 2 memproduksi output yang dapat memenuhi permintaan input
dari dua industri sebanyak permintaan akhir maka

x2 = 0,3x1 + 0,2x2 + d2

Di dalam notasi matriks kedua persamaan dapat ditulis sebagai

 x1   0,1 0,5   x1   d1 
 x 2 = 0,3 0,2  +  
    x 2  d 2

Sehingga

x = Ax + d

dimana x adalah vektor total output

 x1 
 x 2
 

dan adalah vektor permintaan akhir

 d1 
d 2
 

Untuk kasus umum dari n industri kita dapat menulis x 1 dan d1 untuk output total dan
permintaan akhir. Dari x1 unit output industri yang diproduksi,
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 32

a11x1 digunakan sebagai input untuk industi 1


a12x1 digunakan sebagai input untuk industi 2
:
:
Ainxn digunakan sebagai input untuk industri n

dan
d1 digunakan sebagai permintaan eksternal

sebab itu
x1 = ai1x1 + ai2x2 + …… + ainxn + d1

di dalam matriks, persamaan total yang didapatkan dengan seting i = 1,2……….n,


dapat ditulis sebagai

 x1   a11 a12 ... a1n   x1   d1 


 x 2  a 21 a 22 ... a 2n   x 2  
 =    +  d 2
 :   : : :   :   : 
       
 xn  am1 am2 ... amn   xn   dn 

yang merupakan
x = Ax + d

dimana A adalah n x n koefien matriks teknologi, x adalah n x 1 vektor total output dan d
adalah n x 1 vektor permintaan akhir

Ketiga pertanyaan sekarang dapat terjawab


Pertanyaan 1 : Berapa banyak output yang tersedia untuk permintaan akhir yang
diberikan pada tingkat total output
Jawaban 1
Dalam kasus ini vektor x diasumsikan telah diketahui dan kita ingin mengkalkulasikan vektor
d yang tidak diketahui. Persamaan matriks

x = Ax + d
atau
d = x – Ax
dan sisi kanan dengan mudah dievaluasi untuk mendapatkan d

contoh
tingkat output dari mesin-mesin, alat-alat listrik dan minyak dari suatu negara berturut-turut
adalah 3000, 5000 dan 2000.
Setiap unit dari mesin-mesin membutuhkan input 0,3 unit alat-alat listrik dan 03, unit minyak.
Setiap unit dari alat-alat listrik membutuhkan input 0,1 unit mesin-mesin dan 0,2 unit minyak.
Setiap unit dari industri minyak membutuhkan input sebanyak 0,2 unit mesin-mesin dan 0,1
unit alat-alat listrik. Tentukan mesin-mesin, alat-alat listrik dan industri minyak yang tersedia
untuk ekspor.

Solusi
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 33

Mari kita tentukan output total untuk mesin-mesin,alat-alat listrik dan indsutri minyak
berturut-turut adalah x1, x2 dan x3 kemudian

x1 = 3000 x2 = 5000 x3 = 2000

Kalimat kedua dari pernyataan masalah, memperlihatkan detail input yang dibutuhkan untuk
mesin-mesin. Untuk memproduksi 1 unit mesin-mesin kita menggunakan 0 unit mesin-
mesin,0,3 unit alat-alat listrik dan 0,3 unit industri minyak. Kolom pertama dari koefisien
matrik teknologi menjadi

 0 
0,3
 

0,3

Demikian juga, kalimat ketiga dan keempat menginformasikan kebutuhan input untuk alat-
alat listrik dan industri minyak,jadi matriks yang lengkap menjadi

 0 0,1 0,2
 0,1 
A = 0,3 0
0,3 0,2 0 

Dari persamaan
d = x – Ax
kita melihat bahwa vektor permintaan akhir adalah

 d1  3000   0 0,1 0,2 3000 


 d 2    0,1  5000 
  = 5000  - 0,3 0  
 d 3  2000 0,3 0,2 0   2000

3000   900 
  1100 
= 5000 -  
 2000 1900

 2100
 
= 3900
 100 
Dengan demikian negara tersebut mempunyai berturut-turut 2100, 3900 dan 100 unit mesin-
mesin, alat-alat listrik dan minyak yang tersedia untuk ekspor.

Pertanyaan 2
Berapa banyak output total yang dibutuhkan untuk memenuhi tingkat permintaan akhir yang
diketahui ?

Jawaban 2
Dalam kasus ini vektor d diasumsikan diketahui dan kita ingin menghitung vektor x yang
tidak diketahui.
Persamaan matriks
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 34

x = Ax + d
diubah menjadi
x – Ax = d
atau sama dengan
(I – A)x = d
Karena
(I – A)x = Ix –Ax = x – Ax

Persamaan ini menggambarkan sebuah sistem dari persamaan linear yang berupa koefisien
matriks I – A dan pada sisi kanan vektor adalah d. Kita dapat menyelesaikan penghitungan ini
dengan mengalikan invers dari matriks koefisien dengan sisi kanan vektor untuk mendapatkan

x = (I – A)-1d
Dalam konteks analisis input output, matriks (I – A)-1 disebut dengan invers Leontief.

Contoh
Diketahui matriks koefisien teknologi

 0,3 0,1 0,1 


 0,2
A = 0,2 0,2
0,4 0,2 0,3

untuk tiga industri, I1, I2 dan I3. Tentukan output total yang diperlukan untuk memenuhi
permintaan total berturut-turut 49, 106 dan 17.

Solusi
Untuk menyelesaikan problem ini kita ingin mengetahui invers matriks I – A dan untuk
mengalikan vektor permintaan akhir. Matriks I – A adalah

1 0 0  0,3 0,1 0,1   0,7  0,1  0,1 


0 1 0 - 0,2 0,2 0,2 =  0,2
 0,8  0,2

0 0 1  0,4 0,2 0,3  0,4  0,2 0,7 

Invers dari matriks ini kemudian diketahui dengan menghitung co-faktornya. Jika kita sebut
ini sebagai matriks B kemudian kofaktornya, B ij berhubungan dengan elemen bij yang berupa

B11 = 0,52 B12 = 0,22 B13 = 0,36


B21 = 0,09 B22 = 0,45 B23 = 0,18
B31 = 0,10 B32 = 0,16 B33 = 0,54

Dengan mengembangkan sepanjang baris pertama kita lihat bahwa

B = 0,7(0,52) + (-0,1)(0,22) + (-0,1)(0,36) = 0,306

Selanjutnya
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 35

 0,52 0,09 0,10 


1 0,22
-1
B = (I – A) -1
= 0,45 0,16 
0,306  

 0,36 0,18 0,54

Kita ketahui bahwa

 49 
 
d = 106

 17 

jadi dari persamaan x = (I – A)-1d

 x1   0,52 0,09 0,10   49  120 


 x 2 1 0,22
  = 0,306  0,45 0,16 

106


 = 200


 x3 
 
 0,36 0,18 0,54 
 17 
 150 

Pertanyaan 3
Perubahan apa yang harus dilakukan pada total output ketika permintaan akhir berubah ?

Jawab 3
Dalam kasus ini kita asumsikan bahwa vektor output total x, dipilih untuk memenuhi vektor
permintaaan akhir eksisting d, dengan demikian

x = Ax + d atau sama dengan

x = (I – A)-1d

Andaikan bahwa vektor permintaan akhir berubah karena tambahan ∆d jadi vektor
permintaan akhir yang baru adalah d + ∆d. Untuk memenuhi permintaan yang baru maka
vektor total output, x + ∆x, menjadi

x + ∆x = (I – A)-1 (d + ∆d)
= (I – A)-1 d + (I – A)-1 ∆d

Bagaimanapun juga, dari persamaan di atas kita ketahui bahwa

x = (I – A)-1d kemudian

x + ∆x = x + (I – A)-1 ∆d

dan jika x dibagi dengan kedua sisi maka

∆x = (I – A)-1 ∆d

Catat bahwa persamaan ini tidak memiliki unsur d atau x . Ini memperlihatkan bahwa
perubahan pada output, ∆x, tidak tergantung pada permintaan akhir eksisting atau output total
eksisting. Ia hanya tergantung pada perubahan ∆d.
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 36

Contoh
Perhatikan tabel antar industri berikut ini

Output Permintaan
I1 I2 akhir
I1 200 300 500
Input I2 100 100 300

Asumsikan bahwa output total cukup untuk memenuhi kebutuhan input dan permintaan akhir.
Tuliskan
a) Vektor output total
b) Matriks koefisien teknis
Selanjutnya hitung vektor total output yang baru yang dibutuhkan ketika permintaan
akhiruntuk I1 meningkat sebesar 100 unit

Solusi
a) Untuk menghitung output total yang baru untuk I 1 dan I2, yang harus kita lakukan
adalah menambah bersama-sama angka-angka sepanjang baris pada tabel. Baris pertama
menunjukkan bahwa I1 menggunakan 200 unit I1 sebagai input, I2 menggunakan 300 unit
I1 sebagai input dan 500 unit I 1 digunakansebagai permintaan akhir. Jumlah unit I 1
kemudian
200 + 300 + 500 = 1000

Asumsikan bahwa output total dari I1 secara tepat sama dengan permintaan
Dapat kita katakan
x1 = 1000

selanjutnya, dari baris kedua tabel


x2 = 100 +100 + 300 = 500

jadi vektor output total adalah

1000
x=  
 500 

b) Kolom pertama dari matriks koefisien teknis memperlihatkan input yang diperlukan
untuk memproduksi 1 unit I1. Kolom pertama dari tabel arus antar industri memberikan
input yang diperlukan untuk memproduksi output total yang baru dari I1, yang kita
temukan dalam bagian a, sebesar 1000. Dalam semua model input output kita asumsikan
bahwa produksi bersifat “constant return to scale” jadi kita membagi kolom pertama dari
tabel arus antar industri dengan 1000 untuk mendapatkan input yang diperlukan untuk
memproduksi 1 unit output. Dalam bagian a output total untuk I2 menjadi 500,jadi kolom
kedua dari matriks koefisien teknis dihitung dengan membagi kolom tabel arus antar
industri kedua dengan 500. Selanjutnya
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 37

 200 300 
 500 
A = 1000
100 100 
 
1000 500 

0,2 0,6
= 
 0,1 0,2

Jika permintaan untuk I1 meningkat sebesar 100 unit dan permintaan untuk I2 tetap, maka
vektor yang memberikan perubahan pada permintaan akhir adalah

100
∆d =  
 0 

Untuk menentukan hubungan perubahan pada output, digunakan persamaan berikut

∆x = (I – A)-1 ∆d

Dengan mengurangi A dari matriks indentitas memberikan

1 0 0,2 0,6  0,8  0,6


I–A=  - = 
0 1  0,1 
0,2  0,1 0,8 

Yang memiliki determinan

I  A = (0,8)(0,8) – (-0,6)(-0,1) = 0,58


Invers dari I – A kemudian

1 0,8 0,6
(I – A)-1 =
0,58  0,1 0,8 

Sehingga

1 0,8 0,6 100 138


∆x =  0  =  17 
0,58  0,1 0,8     

Ada terdapat penambahan pada total output I 2 meskipun faktanya bahwa permintaan akhir
untuk I2 tetap tidak berubah. Hal ini memang diharapkan karena untuk memenuhi
pertambahan pada permintaan akhir untuk I1, diperlukan untuk menambah output dari I1
dalam putaran berikutnya diperlukan lebih banyak input baik I 1 dan I2. Perubahan hanya pada
satu industri mempunyai pengaruh pada semua industri di dalam model.

Dari bagian a, vektor total output yang baru menjadi

1000
x=  
 500 
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 38

jadi vektor total output yang baru menjadi

1000 138 1138 


x + ∆x =  +  17  =  517 
 500     

Kita simpulkan bab ini dengan penenekanan kembali hubungan antara konsep multiplier
dengan invers matriks. Andaikan bahwa kita memiliki tiga industri model dan invers Leontief,
(I – A)-1 , ditunjukkan dengan

 b11 b12 b13 


b 21 b 22 b 23
 
b31
 b32 b33

Persamaan x = (I – A)-1d
Kemudian menjadi

 x1   b11 b12 b13   d1 


 x 2  b 23  d 2
  = b 21 b 22   

 x3 
 
b31 b32 b33  d 3

Sehingga
x1 = b11d1 + b12d2 + b13d3
x2 = b21d1 + b22d2 + b23d3
x3 = b31d1 + b32d2 + b33d3

Persamaan pertama menunjukkan bahwa x1 adalah fungsi dari tiga variabel d1, d2 dan d3.
Akibatnya kita dapat menuliskan tiga bagian turunannya
x1 x1 x1
= b11 = b21 = b13
d1 d 2 d 3
Dengan cara yang sama, persamaan kedua dan ketiga berupa
x 2 x 2 x 2
= b21 = b22 = b23
d1 d 2 d 3
x3 x3 x3
= b31 = b22 = b33
d1 d 2 d 3
Diketahui dari bab 5 bahwa bagian turunan menentukan angka pengganda di dalam model
ekonomi. Kesembilan bagian turunan memperlihatkan bahwa jika kita menghubungan
permintaan akhir sebagai variabel eksogen dan output total sebagai variabel endogen maka
angka pengganda adalah elemen di dalam matriks (I – A)-1 Lebih tepatnya pengganda dari
variabel xi karena perubahan di dalam dj adalah elemen bij yang tergantung pada baris ke I
dan kolom ke j dari (I – A)-1 Hasil ini dapat juga dilihat secara langsung dari persamaan
∆x = (I – A)-1 ∆d

Jika kita menaruh ∆x = [∆x1 ∆x2 ∆x3]T dan ∆d = [∆d1 ∆d2 ∆d3]T maka persamaan matriks
ini menjadi
∆x1 = b11∆d1 + b12∆d2 + b13∆d3
∆x2 = b21∆d1 + b22∆d2 + b23∆d3
∆x3 = b31∆d1 + b32∆d2 + b33∆d3
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 39

Kita lihat dari persamaan ke I bahwa kontribusi untuk mengubah ∆x i karena perubahan ∆dj
adalah bij∆dj. Dengan kata lain, jika dj berubah karena ∆d j dan semua permintaan akhir yang
lain tetap maka kita dapat menghitung perubahan hubungan di dalam xi dengan mengalikan
∆dj dengan bij.

Program Linier (Linier Progamming)

Di dalam program linier terdapat 3 bagian


1. Fungsi tujuan (objective function) yang dinyatakan dengan notasi Z
 Maximum Z, untuk mencari laba, penerimaan, harga jual, dll
 Minimum Z, untuk mencari biaya, resiko, dll
2. Fungsi batasan (constraints) adalah sekelompok sumber daya bahan baku dan bahan
pembantu yang terdiri dari berbagai jenis. Misalnya: berbagai jenis bahan baku untuk
membuat kue, lemari dll
3. Fungsi batasan yang non negatif, artinya tidak ada produksi yang bernilai negatif

Dalam memformulasikan model program linier, ada beberapa asumsi dasar yang harus
dipenuhi, yaitu :
1. Linearity
Parameter xj semuanya berpangkat 1
2. Deterministik
Semua parameter dalam model program linier seperti a ij, bi, cj, dan xj dapat
diperkirakan dengan pasti, meskipun jarang terjadi dengan tepat
3. Divisibility
Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi dapat dibagi menjadi bilangan
pecahan, dan output yang dihasilkan dapat berupa bilangan pecahan
4. Proporsionality
Turun naiknya penggunaan sumber yang tersedia akan merubah niai fungsi tujuan Z
secara proporsional. Penggunaan satu unit aij akan menambah satu unit xj
5. Additivity
Kenaikan nilai fungsi tujuan Z diakibatkan oleh penambahan nilai dari produk yang
dihasilkan

Formulasi Dasar Model Program Linier


 Ada n macam barang yang masing-masing diproduksi sebanyak X 1, X2 … Xn
 Xj adalah banyaknya produksi barang ke j, dimana j = 1, 2 , 3 …. n
 Cj adalah harga/ profit/ biaya/ resiko per unit barang ke j
 Ada m macam bahan baku. masing-masing tersedia sebanyak b 1, b2, b3, ……. bm
 bi adalah banyaknya persediaan bahan baku ke i, dimana i = 1, 2, 3 ……. m
 aij adalah banyaknya bahan baku ke i yang dibutuhkan untuk memproduksi satu unit
barang ke j.

Max Z / min Z = c1 x1 + c2 x2 + c3 x3 ……………….. cn xn Objective function

s/ t a11 x1 + a12 x2 + a13 x3 …………….. a1n xn ≤ b1

a21 x1 + a22 x2 + a23 x3 …..………… a2n xn ≤ b2


: : : Constraints
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 40

: ::
: ::
am1 x1 + am2 x2 + am3 x3 .………….. amn xn ≤ bm

xj ≥ 0 Non negative constraint

Dalam bentuk yang lebih sederhana bisa ditulis menjadi


Max Z / Min Z = Σ cj xj
s/ t Σ aij xj ≤ bj
xj ≥ 0

Dalam bentuk matrik ditulis menjadi


Max Z/ min Z = C X’
s/ t Aij Xj ≤ bj
xj ≥ 0

Contoh 2.4
A farmer owns 200 pigs that consume 90 lb of special feed daily. The feed is prepared as a
mixture of corn and soybean meal with the following compositions :
----------------------------------------------------------------------------------
Pounds per pound of feedstuff
Feedstuff calcium protein fiber Cost (dollars lb)
Corn 0.001 0.09 0.02 0,20
Soybean meal 0.002 0.60 0.06 0,60
----------------------------------------------------------------------------------
The dietary requirements of the pigs are :
- At most 1% calcium
- At least 30% protein
- At most 5% fiber
Determine the daily minimum cost feed mix

Jawab : Jagung = x1
Kedelai = x2

Min Z = 0.20 x1 + 0.60 x2


S/t 0.001x1 + 0.002 x2 ≤ 1% (90) kalsium
0.09 x1 + 0.60 x2 ≥ 30% (90) protein
0.02 x1 + 0.06 x2 ≤ 5% (90) serat
x1 + x2 = 90
x1, x2 ≥ 0

Contoh 2.28
Four products are processed successively on two machines. The manufacturing time in hours
per unit of each product are tabulated for the two machines :
--------------------------------------------------------------------------------
Time per unit (hour)
Machine Product 1 Product 2 Product 3 Product 4
I 2 3 4 2
II 3 2 1 2
---------------------------------------------------------------------------------
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 41

The total cost of producing 1 unit of each product is based directly on the machine time.
Asume that the cost per hour machines 1 and 2 is $10 and $5, respectively. The total hours
budgeted for all the products on machines 1 and 2 are 500 and 380. If the sales price per unit
for product 1, 2, 3, and 4 are $65, $70, $55, and $45. Formulate the problem as a linier
programming model to maximize the total net profit. Analyze the optimum solution

Misal : Produk 1 = x1 Produk 3 = x3


Produk 2 = x2 Produk 4 = x4

Propit margin = Harga jual – total biaya

Produk 1 = 65 – [ (2 x 10) + (3 x 5)]


65 – 35 = 30
Produk 2 = 70 – [ (3 x 10) + (2 x 5)]
70 – 40 = 30
Produk 3 = 55 – [ (4 x 10) + (1 x 5)]
55 – 45 = 10
Produk 4 = 45 – [ (2 x 10) + (2 x 5)]
45 – 30 = 15

Dengan demikian, model program liniernya adalah :


Max Z = 30 x1 + 30 x2 + 10 x3 + 15 x4
S/t 2 x1 + 3 x2 + 4 x3 + 2 x4 ≤ 500
3 x1 + 2 x2 + x3 + 2 x4 ≤ 380
x1, x2, x3, x4 ≥ 0

Dr soal 2.28 yang sama, formulasikan model program linier jika perusahaan tsb
ingin :
a. Menghitung biaya produksi
b. Meningkatkan pendapatan

Metode Aljabar

Max Z = 4x1 + 3x2


s/t 5x1 + 3x2 ≤ 45
2x1 + 2x2 ≤ 26
x1, x2 ≥ 0

Bentuk baku :
Max Z = 4x1 + 3x2 + 0s1 + 0s2
s/t 5x1 + 3x2 + s1 = 45
2x1 + 2x2 + s2 = 26
x1, x2, s1, s2 > 0
Jd-1
Misal : x1 = x2 = 0
Kendala 1 : 5x1 + 3x2 + s1 = 45 Kendala 2: 2x1 + 2x2 + s2 = 26
5(0) + 3(0) + s1 = 45 2(0) + 2(0) + s2 = 26
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 42

s1 = 45 s2 = 26
Max Z = 4x1 + 3x2 + 0s1 + 0s2
4(0) + 3(0) + 0(45) + 0(26) = 0 (tidak ada produksi)

Jd-2
Misal : x1 = s1 = 0
Kendala 1 : 5x1 + 3x2 + s1 = 45 Kendala 2: 2x1 + 2x2 + s2 = 26
5(0) + 3x2 + 0 = 45 2(0) + 2(15) + s2 = 26
x2 = 15 s2 = -4 (infeasible)

Jd-3
Misal : x1 = s2 = 0
Kendala 1 : 5x1 + 3x2 + s1 = 45 *Kendala 2: 2x1 + 2x2 + s2 = 26
5(0) + 3(13) + s1 = 45 2(0) + 2x2 + 0 = 26
s1 = 3 x2 = 13
Max Z = 4x1 + 3x2 + 0s1 + 0s2
4(0) + 3(13) + 0(3) + 0(0) = 39

Jd-4
Misal : x2 = s1 = 0
Kendala 1 : 5x1 + 3x2 + s1 = 45 Kendala 2: 2x1 + 2x2 + s2 = 26
5x1 + 3(0) + 0 = 45 2(9) + 2(0) + s2 = 26
x1 = 9 s2 = 8
Max Z = 4x1 + 3x2 + 0s1 + 0s2
4(9) + 3(0) + 0(0) + 0(8) = 36

Jd-5
Misal : x2 = s2 = 0
Kendala 1 : 5x1 + 3x2 + s1 = 45 *Kendala 2: 2x1 + 2x2 + s2 = 26
5(13) + 3(0) + s1 = 45 2x1 + 2(0) + 0 = 26
s1 = -20 (infeasible) x1 = 13

Jd-6
Misal : s1 = s2 = 0

a) 5x1 + 3x2 = 45 dikali 2 : 10x1 + 6x2 = 90


b) 2x1 + 2x2 = 26 dikali 3 : 6x1 + 6x2 = 78
Diperoleh x1 = 3 dan x2 = 10

Max Z = 4x1 + 3x2 + 0s1 + 0s2


4(3) + 3(10) + 0(0) + 0(0) = 42

Kondisi optimal diperoleh pada Z = 42


x1 = 3 s1 = 0
x2 = 10 s2 = 0
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 43

Note :
 Untuk pembatas yang bertanda ≤, diberi var. surplus S dgn tanda +
 Untuk pembatas yang bertanda =, diberi var. artificial R dgn tanda +
 Untuk pembatas yang bertanda ≥, diberi var. surplus S dgn tanda –
dan var. artificial R dgn tanda +

Metode Simplek

Algoritma metode Simplek


1. Buat tabel awal yang minimal terdiri dari m+1 baris dan n+ n+1 kolom
2. Cari pada baris fungsi tujuan Z j – Cj, nilai yang positip terbesar untuk persoalan
minimum atau nilai yang negatip paling jauh dari nol untuk persoalan maksimum. Kalau
ada lebih dari satu nilai tersebut yang sama besarnya, pilih salah satu diantaranya. Kalau
tidak ada lagi nilai tersebut berarti kondisi optimal sudah tercapai. Nyatakan kolom dgn
nilai yang dipilih ini sebagai kolom basis
3. Cari rasio, caranya adalah membagi nilai pada kolom solusi dgn nilai pada kolom
basis. Pilih rasio yang positip terkecil (berlaku untuk maximum atau minimum). Kalau
ada dua nilai rasio yang sama besarnya, pilih salah satu diantaranya. Nyatakan baris
dengan nilai rasio yang dipilih tersebut sebagai baris basis.
4. Cari arj‘ = arj / ark , yang akan menjadi dasar perhitungan untuk baris-baris yang
lainnya. Nilai ark adalah nilai sel perpotongan antara baris basis dan kolom basis
5. Cari nilai-nilai baru dari setiap baris, yaitu nilai lama dikurangi dengan hasil kali
antara arj‘ dengan nilai yg sesuai pd kolom basis
6. Ulangi step 2

Contoh
Max Z = 25x1 + 15x2
s/t 3x1 + 3x2 ≤ 24
2x1 + 4x2 ≤ 20
3x1 ≤ 21
x1, x2 ≥ 0

Bentuk baku :
Max Z - 25x1 - 15x2 - 0s1 - 0s2 - 0s3 = 0
s/t 3x1 + 3x2 + s1 = 24
2x1 + 4x2 + s2 = 20
3x1 + s3 = 21
x1, x2, s1, s2, s2 > 0

Tabel 1
VD x1 x2 s1 s2 s3 Solusi
Zj-Cj -25 -15 0 0 0 0 Rasio

s1 3 3 1 0 0 24 24:3 = 8
s2 2 4 0 1 0 20 20:2 = 10
s3 3 0 0 0 1 21 21:3 = 7
x1 masuk, s3 keluar

Cara mencari nilai-nilai pada table 2


Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 44

Untuk kolom basis, pilih kolom x1


Untuk baris basis, dipilih baris s3,
arj = 3 0 0 0 1 21
ark = 3
arj’ = 1 0 0 0 1/3 7

arj1 │ -25 -15 0 0 0 0


+ (25 arj’) │ 25 0 0 0 25/3 175 +
arj1’ │ 0 -15 0 0 25/3 175

arj2 │3 3 1 0 0 24
- (3arj’) │3 0 0 0 1 21 –
arj2’ │0 3 1 0 -1 3

arj3 │ 2 2 0 1 0 20
- (2 arj’) │ 2 0 0 0 2/3 14 –
arj3’ │ 0 2 0 1 -2/3 6

Tabel 2
VD x1 x2 s1 s 2 s3 Solusi
Zj-Cj 0 -15 0 0 25/3 175 Rasio

s1 0 3 1 0 -1 3 3:3=1
s2 0 4 0 1 -2/3 6 6 : 4 = 1,5
x1 1 0 0 0 1/3 7 7:0=
x2 masuk, s1 keluar

Cara mencari nilai-nilai pada table 3


Untuk kolom basis, pilih kolom x2
Untuk baris basis, dipilih baris s1,
arj = 0 3 1 0 -1 3
ark = 3
arj’ = 0 1 1/3 0 -1/3 1

arj1 │ 0 -15 0 0 25/3 175


+ (15 arj’) │ 0 -15 5 0 -5 15 +
arj1’ │ 0 0 5 0 10/3 190

arj3 │0 4 0 1 -2/3 6
- (4arj’) │0 4 4/3 0 -4/3 4 –
arj2’ │0 0 -4/3 1 2/3 2

arj4 │ 1 0 0 0 1/3 7
- (0 arj’) │0 0 0 0 0 0–
arj3’ │ 1 0 0 0 1/3 7

Tabel 3
VD x1 x2 s1 s2 s2 Solusi
Zj-Cj 0 0 5 0 10/3 190
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 45

x2 0 1 1/3 0 -1/3 1
s2 0 0 -4/3 1 2/3 2
x1 1 0 0 0 1/3 7

Karena nilai-nilai pada baris fs tujuan Zj – Cj sudah positip (≥ 0) semua maka kondisi optimal
dicapai pada :
Z = 190
x1 = 7 s2 = 2 s3 = 0
x2 = 1 s1 = 0

Note : angka penyebut pada satu baris harus sama atau bisa dibagi
dengan angka yang sama.

Teknik Artificial (Metode Dua Phase dan Metode Big M)

a. Metode Dua Phase

Min Z = 4x1 + x2
s/t 3x1 + x2 = 30
4x1 + 3x2 ≥ 60
x1 + 2x2 ≤ 40
x1, x2 ≥ 0

Bentuk baku :
Min r = R1 + R2
s/t 3x1 + x2 + R1 = 30
4x1 + 3x2 – S1 + R2 = 60
x1 + 2x2 + S2 = 40
x1, x2, s1, s2, R1, R2 ≥ 0

Tahap 1 (Perhatikan pembatas-pembatas yang memiliki variabel artificial)


Kendala 1 : 3x1 + x2 + R1 = 30
R1 = 30 - 3x1 - x2
Kendala 2 : 4x1 + 3x2 – S1 + R2 = 60
R2 = 60 - 4x1 - 3x2 + S1

Substitusikan nilai-nilai R1 dan R2 ini ke


Min r = R1 + R2
= 30 - 3x1 - x2 + 60 - 4x1 - 3x2 + S1
= 90 - 7x1 - 4x2 + S1
atau
Min r + 7x1 + 4x2 - S1 = 90
s/t 3x1 + x2 + R1 = 30
4x1 + 3x2 – S1 + R2 = 60
x1 + 2x2 + S2 = 40
x1, x2, s1, s2, R1, R2 ≥ 0
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 46

VD x1 x2 s1 s2 R1 R2 Solusi
Zj - Cj 7 4 -1 0 0 0 90 Rasio

R1 3 1 0 0 1 0 30 30 : 3 = 10
R2 4 3 -1 0 0 1 60 60 : 4 = 15
S2 1 2 0 1 0 0 40 40 : 1 = 40
x1 masuk, R1 keluar

VD x1 x2 s1 s2 R1 R2 Solusi
Zj - Cj 0 5/3 -1 0 -7/3 0 20 Rasio

x1 1 1/3 0 0 1/3 0 10 10 : 1/3 = 30


R2 0 5/3 -1 0 -4/3 1 20 20 : 5/3 = 12
S2 0 5/3 0 1 -1/3 0 30 30 : 5/3 = 18
x2 masuk, R2 keluar

VD x1 x2 s1 s2 R1 R2 Solusi
Zj - Cj 0 0 0 0 -1 -1 0

x1 1 0 1/5 0 3/5 -1/5 6


x2 0 1 -3/5 0 -4/5 3/5 12
s2 0 0 1 1 1 -1 10

Karena nilai-nilai var. dasar (x1, x2) dan var. surplus (s1, s2) pada baris fungsi tujuan Zj – Cj
sudah nol semua maka perhitungan bisa dilanjutkan ke tahap 2. Pada tahap 2, kolom R 1 dan
R2 dibuang sehingga tabelnya menjadi :

VD x1 x2 s1 s2 Solusi
Zj - Cj 0 0 0 0 0

x1 1 0 1/5 0 6
x2 0 1 -3/5 0 12
s2 0 0 1 1 10

Ingat, yang memiliki variable artificial adalah pembatas 1 dan pembatas 2, sehingga dari tabel
diatas diperoleh persamaan berikut :
Pembatas 1 : x1 + 1/5 s1 = 6
x1 = 6 – 1/5 s1

Pembatas 2 : x2 –3/5 s1 = 12
x2 = 12 + 3/5 s1
Substitusikan nilai x1 dan x2 ini ke fungsi tujuan awal :
Min z = 4x1 + x2
= 4 (6 – 1/5 s1) + 12 + 3/5 s1
= 24 – 4/5 s1 + 12 + 3/5 s1
= 36 – 1/5 s1, atau menjadi Min Z + 1/5 s1 = 36 (masukkan fungsi tujuan baru
ini ke dalam tabel), sehingga diperoleh :
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 47

VD x1 x2 s1 s2 Solusi
Zj - Cj 0 0 1/5 0 36 Rasio

x1 1 0 1/5 0 6 6 : 1/5 = 30
x2 0 1 -3/5 0 12 12 : -3/5 = -20
s2 0 0 1 1 10 10 : 1 = 10
s1 masuk, s2 keluar

VD x1 x2 s1 s2 Solusi
Zj - Cj 0 0 0 -1/5 34

x1 1 0 0 -1/5 4
x2 0 1 0 3/5 18
s1 0 0 1 1 10

Karena nilai-nilai pada baris fungsi tujuan Zj – Cj sudah negatif (≤ 0) semua, maka kondisi
optimal dicapai pada Z = 34
x1 = 4 s2 = 0
x2 = 18 R1 = 0
s1 = 10 R2 = 0

b. Metode Big M
Lihat contoh yang sama untuk metode dua phase
Min Z = 4x1 + x2
s/t 3x1 + x2 = 30
4x1 + 3x2 ≥ 60
x1 + 2x2 ≤ 40
x1, x2 ≥ 0
Bentuk baku :
Min Z - 4x1 - x2 – 0s1 – 0s2 – MR1 – MR2 = 0
s/t 3x1 + x2 + R1 = 30
4x1 + 3x2 – S1 + R2 = 60
x1 + 2x2 + S2 = 40
x1, x2, s1, s2, R1, R2 ≥ 0

VD x1 x2 s1 s2 R1 R2 Solusi
Zj - Cj -4 -1 0 0 -M -M 0

R1 3 1 0 0 1 0 30
R2 4 3 -1 0 0 1 60
S2 1 2 0 1 0 0 40

Tambahkan pembatas-pembatas yang memiliki variable artificial, kemudian dikali


dgn M, dan gabungkan dengan nilai-nilai pada baris fungsi tujuan, sehingga menjadi
VD x1 x2 s1 s2 R1 R2 Solusi
Zj - Cj 7M-4 4M-1 -M 0 0 0 90M Rasio
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 48

R1 3 1 0 0 1 0 30 30 : 3 = 10
R2 4 3 -1 0 0 1 60 60 : 4 = 15
S2 1 2 0 1 0 0 40 40 : 1 = 40
x1 masuk, R1 keluar (Pada setiap iterasi, nilai M harus selalu dievaluasi dengan suatu bilangan
konstanta ≥ 1, yang nilainya harus sama atau tidak boleh berubah sampai selesai perhitungan)

VD x1 x2 s1 s2 R1 R2 Solusi
Zj - Cj 0 5/3M+1/3 -M 0 -7/3M+4/3 0 40 + 20M Rasio

x1 1 1/3 0 0 1/3 0 10 10 : 1/3 = 30


R2 0 5/3 -1 0 -4/3 1 20 20 : 5/3 = 12
S2 0 5/3 0 1 -1/3 0 30 30 : 5/3 = 18
x2 masuk, R2 keluar
VD x1 x2 s1 s2 R1 R2 Solusi
Zj - Cj 0 0 1/5 0 -M+8/5 -M-1/5 36 Rasio

x1 1 0 1/5 0 3/5 -1/5 6 6 : 1/5 = 30


x2 0 1 -3/5 0 -4/5 3/5 12 12 : -3/5 = -20
S2 0 0 1 1 1 -1 10 10 : 1 = 10
s1 masuk, s2 keluar

VD x1 x2 s1 s2 R1 R2 Solusi
Zj - Cj 0 0 0 -1/5 -M+7/5 -M 34

x1 1 0 0 -1/5 2/5 0 4
x2 0 1 0 3/5 -1/5 0 18
s1 0 0 1 1 1 -1 10

Karena nilai-nilai pada baris fungsi tujuan Zj – Cj sudah negatif (≤ 0) semua maka kondisi
optimal dicapai pada Z = 34
x1 = 4 s2 = 0
x2 = 18 R1 = 0
s1 = 10 R2 = 0

Metode Revised Simplex

Contoh 1
Max Z = 3x1 + 2x2 + 5x3
s/t x1 + 2x2 + x3 ≤ 430
3x1 + 2x3 ≤ 460
x1 + 4x2 ≤ 420
x1, x2, x3 ≥ 0

Bentuk baku :
Max Z - 3x1 - 2x2 – 5x3 – 0s1 – 0ss – 0s3 =0
s/t x1 + 2x2 + x3 + s1 = 430
3x1 + 2x3 + s2 = 460
x1 + 4x2 + s3 = 420
x1, x2, x3, s1, s2, s3 ≥ 0
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 49

Cj = 3 2 5 0 0 0

Tabel 1
VD X1 x2 x3 s1 s2 s3 Solusi
Zj - Cj -3 -2 -5 0 0 0 0
s1 1 2 1 1 0 0 430
s2 3 0 2 0 1 0 460
s3 1 4 0 0 0 1 420

Tabel 2 Tabel 4
VD s1 S2 s3 Solusi
W1 0 0 0 0 -5
s1 1 0 0 430 1
s2 0 1 0 460 2
s3 0 0 1 420 0
x3 masuk, s2 keluar
Tabel 3
W1 aj 0 0 0 0 0 0
Cj 3 2 5 0 0 0 -
-3 -2 -5 0 0 0

Tabel 5 Tabel 7
VD s1 S2 s3 Solusi
W2 0 5/2 0 1150 -2
s1 1 -1/2 0 200 2
x3 0 1/2 0 230 0
s3 0 0 1 420 4
x2 masuk, s1 keluar

Tabel 6
W2 aj 15/2 0 5 0 5/2 0
Cj 3 2 5 0 0 0 -
9/2 -2 0 0 5/2 0

Tabel 8
VD s1 S2 s3 Solusi
W3
1 2 0 1350
x2 ½ -1/4 0 100
x3 0 1/2 0 230
s3 -2 1 1 20

Tabel 9
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 50

W3 aj 7 2 5 1 2 0
Cj 3 2 5 0 0 0 -
4 0 0 1 2 0
Karena nilai-nilai pada baris W aj – Cj di atas sudah positip semua ( ≥ 0), maka kondisi
optimal dicapai pada Z = 1350
x2 = 100 x1 = 0 s3 = 20
x3 = 230 s1 = 0 s2 = 0

Contoh 2
Max Z = 30x1 + 40x2 + 60x3
s/t 4x1 + 5x2 + 6x3 ≤ 6000
4x1 + 6x2 + 8x3 ≤ 7500
2x1 + 5x2 + 5x3 ≤ 4500
x1, x2, x3 ≥ 0

Bentuk baku :
Max Z - 30x1 - 40x2 – 60x3 – 0s1 – 0ss – 0s3 =0
s/t 4x1 + 5x2 + 6x3 + s1 = 6000
4x1 + 6x2 + 8x2 + s2 = 7500
2x1 + 5x2 + 5x3 s3 = 4500
x1, x2, x3, s1, s2, s3 ≥ 0

Cj = 30 40 60 0 0 0

Tabel 1
VD X1 x2 x3 s1 s2 s3 Solusi
Zj - Cj -30 -40 -60 0 0 0 0

s1 4 5 6 1 0 0 6000
s2 4 6 8 0 1 0 7500
s3 2 5 5 0 0 1 4500

Tabel 2 Tabel 4
VD s1 S2 s3 Solusi
W1 0 0 0 0 -60

s1 1 0 0 6000 6
s2 0 1 0 7500 8
s3 0 0 1 4500 5
x3 masuk, s3 keluar

Tabel 3
W1 aj 0 0 0 0 0 0
Cj 30 40 60 0 0 0 -
-30 -40 -60 0 0 0

Tabel 5 Tabel 7
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 51

VD s1 S2 s3 Solusi
W2 0 0 12 54.000 -6

s1 1 0 -6/5 600 8/5


s2 0 1 -8/5 300 4/5
x3 0 0 1/5 900 2/5
x1 masuk, s1 keluar

Tabel 6
W2 aj = 24 60 60 0 0 12
Cj = 30 40 60 0 0 0 -
= -6 20 0 0 0 12

Tabel 8
VD s1 S2 s3 Solusi
W3 30/8 0 30/4 56.250

x1 5/8 0 -3/4 375


s3 -1/2 1 -1 0
X3 -1/4 0 ½ 750

Tabel 9
W3 aj 30 56,25 60 30/8 0 30/4
Cj 30 40 60 0 0 0 -
0 16,25 0 30/8 0 30/4
Karena nilai-nilai pada baris W aj – Cj diatas sudah positip semua ( ≥ 0), maka kondisi
optimal dicapai pada Z = 56.250
x1 = 375 x2 = 0
x3 = 750 s1 = 0
s2 = 0 s3 = 0

Transportation Problem
a1 a2 a3 a4 Supply
C11 C12 C13 C14
b1 X11 X12 X13 X14 150

C21 C22 C23 C24


b2 X21 X22 X23 X24 240

C32 C33 C34


C31
b3 X32 X33 X34 60
X31

Demand 50 150 160 90 450


Persamaan Liniernya
Min z = C11 X11 + C12 X12 + C13 X13 + C14 X14 + C21 X21 + C22 X22
+ C23 X23 + C24 X24+ C31 X31+ C32 X32+ C33 X33+ C34 X34
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 52

S/t X11 + X12 + X13 + X14 = b1


X21 + X22 + X23 + X24 = b2
X31 + X32 + X33 + X34 = b3
, X11 + X21 + X31 = a1
X12 + X22 + X32 = a2
X13 + X23 + X33 = a3
X14 + X24 + X34 = a4
Xij ≥ 0

a1 a2 a3 a4 Supply Beda
8 1 18 11
b1 50 100 150

12 7 9 17
b2 50 160 30 240

2 10 12 15
b3 60 60

Demand 50 150 160 90 450

Beda

Solusi dasar awal


Total cost = 50 (8) + 100 (1) + 50 (7) + 160 (9) + 30 (17) + 60 (15)
= 400 + 100 + 350 + 1440 + 510 + 900
= 3700

Solusi optimal dengan Vogel Approximation Method (VAM)


1. Cari dua elemen biaya yang terkecil baik pada baris maupun kolom
2. Pilih beda yang terbesar, jika ada dua nilai beda terbesar yang sama, pilih salah
satunya
3. Alokasikan sebanyak mungkin sesuai kebutuhan, dengan mempertimbangkan nilai
elemen biaya terkecil pada lajur yang sama
4. Jika aj – xij = 0 coret kolom ke j; jika bi – xij = 0 coret baris ke i
5. Ulangi step 1
a1 a2 a3 a4 Supply Beda
8 1 18 11
b1 150 7

12 7 9 17
b2 240 2

2 10 12 15
b3 50 60 8

Demand 50 150 160 90 450


Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 53

Beda 6 6 3 4
a1 – xij = 50 – 50 = 0, coret kolom a1
b3 – xij = 60 – 50 = 10

a2 a3 a4 Supply Beda
1 18 11
b1 150 150 10

7 9 17
B2 240 2

10 12 15
b3 10 2

Demand 150 160 90 400

Beda 6 3 4
a2 – xij = 150 – 150 = 0, coret kolom a2
b1 – xij = 150 – 150 = 0. coret baris b1

a3 a4 Supply Beda
9 17
b2 160 80 240 8

12 15
b3 10 10 3

Demand 160 90 400

Beda 3 2
a3 – xij = 160 – 160 = 0, coret kolom a3
b2 – xij = 240 – 160 = 80
Total cost optimal = 50 (2) + 150 (1) + 160 (9) + 80 (17) + 10 (15)
= 100 + 150 + 1440 + 1360 + 150
= 3200
Dengan demikian, biaya transportasi dapat diturunkan = Rp. 3700 – Rp. 3200= Rp.500

Assignment Problem dan Jawaban Soal-Soal Ujian

Dalam dunia bisnis dan industri, pihak manajemen seringkali menghadapi persoalan
yang berkaitan dengan penugasan yang optimal atas berbagai macam sumber daya
yang dimiliki, atau masalah personalia yang mempunyai tingkat effisiensi berbeda
untuk tugas-tugas yang berbeda pula. Salah satu metode yang bsa digunakan untuk
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 54

menyelesaikan masalah penugasan ini adalah metode Hungarian. Metode ini


dikembangkan oleh D. Konig, pada tahun 1916
Untuk menerapkan metode Hungarian ini, jumlah sumber daya yang ditugaskan harus
dama persis dengan jumlah tugas yang akan diselesaikan. Setiap sumber daya hanya
ditugaskan untuk satu tugas aja. Jadi, masalah penugasan akan mencakup sejumlah n
sumber yang mempunyai n tugas. Dengan demikian ada n! penugasan yang mungkin
bisa dilakukan.
m n
Max / min Z = Σ Σ Cij Xij
i=1 j=1

s/ t Σ Xij = Σ Xij = 1
i=1 i=1

xj ≥ 0

Masalah Minimisasi
Pekerjaan
Memotong Mengamplas Mengebor Mengecat
Karyawan

Badu Rp.18 Rp.23 Rp.21 Rp.25


Bandi Rp.17 Rp.19 Rp.24 Rp.20
Toni Rp.28 Rp.23 Rp.26 Rp.23
Topan Rp.20 Rp.21 Rp.21 Rp. 19

1. Mengubah matrik biaya menjadi matrik opportunity cost. Pilih biaya terkecil
pada setiap baris untuk mengurangi semua elemen biaya pada masing-masing
baris. Pada baris Badu, biaya yang terkecil adalah Rp.18, dan digunakan untuk
mengurangi semua elemen biaya pada baris Badu, . Begitu pula dengan baris-baris
lainnya.

Reduced cost matrix


Pekerjaan
Memotong Mengamplas Mengebor Mengecat
Karyawan
Badu 0 5 3 7
Bandi 0 2 7 3
Toni 5 0 3 0
Topan 1 2 2 0

2. Reduced cost matrix diatas kemudian dikurangi untuk mendapatkan total


opportunity cost matrix. Caranya dengan memilih elemen terkecil dari setiap
kolom untuk mengurangi seluruh elemen pada masing-masing kolom tersebut
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 55

Total Opportunity cost matrix


Pekerjaan
Memotong Mengamplas Mengebor Mengecat
Karyawan

Badu 0 5 1 7
Bandi 0 2 5 3
Toni 5 0 1 0
Topan 1 2 0 0

Test for optimality


Pekerjaan
Memotong Mengamplas Mengebor Mengecat
Karyawan

Badu 0 5 1 7
Bandi 0 2 5 3
Toni 5 0 1 0
Topan 1 2 0 0

Revised matrix dan test for optimality


Pekerjaan
Memotong Mengamplas Mengebor Mengecat
Karyawan

Badu 0 4 0 6
Bandi 0 1 4 2
Toni 6 0 1 0
Topan 2 2 0 0

Dlm tabel revised matrix dan test for optimality diperlukan 4 garis untuk meliput
seluruh nilai nol, atau sama dengan jumlah karyawan (baris) dan jumlah tugas
(kolom). Ini berarti telah bisa dicapai matriks penugasan yang optimal. Skedul
penugasan ini, menghabiskan biaya sebesar 80, dengan alokasi sebagai berikut :
Badu, menangani tugas mengebor Rp.21
Bandi, menangani tugas memotong Rp.17
Toni, menangani tugas mengamplas Rp.23
Topan, menangani tugas mengecat, Rp.19

Model Dualitas
Bentuk primal
Max Z = c1 x1 + c2 x2 + c3 x3 ……………….. cn xn
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 56

s/ t a11 x1 + a12 x2 + a13 x3 …………….. a1n xn ≤ b1


a21 x1 + a22 x2 + a23 x3 …..………… a2n xn ≤ b2
: : :
: : :
: : :
am1 x1 + am2 x2 + am3 x3 .………….. amn xn ≤ bm
xj ≥ 0

Bentuk Dual
Min Z = b1 y1 + b2 y2 + b3 y3 ……………….. bn yn

s/ t a11 y1 + a12 y2 + a13 y3 …………….. a1n yn ≥ c1


a21 y1 + a22 y2 + a23 y3 …..………… a2n yn ≥ c2
: .
: .
: .
am1 y1 + am2 y2 + am3 y3 .………….. amn yn ≥ cm
xj ≥ 0

Contoh:
Bentuk Primal
Max Z = 3x1 + 4x2 + 6x3
s/t 4x1 + 5x2 + 6x3 ≤ 60
4x1 + 6x2 + 8x3 ≤ 75
2x1 + 5x2 + 5x3 ≤ 45
x1, x2, x3 ≥ 0

Bentuk Dual
Min Z = 60y1 + 75y2 + 45y3
s/t 4y1 + 4y2 + 2y3 ≥ 3
5y1 + 6y2 + 5y3 ≥ 4
6y1 + 8y2 + 5y3 ≥ 6
y1, y2, y3 ≥ 0

Teori Permainan (Games theory)


Adalah suatu pendekatan matematis untuk merumuskan situasi persaingan dan konflik antara
berbagai kepentingan.
Pemain (players) : yaitu pihak-pihak yang memiliki kepentingan dan saling bersaing dalam
suatu permainan. Dalam kasus ini diasumsikan bahwa setiap pemain (individual atau
kelompok) mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan secara bebas dan rasional.

Dalam teori permainan ada 8 unsur, yaitu :


1. Matriks payoff atau matriks permainan
2. Maximizing player dan minimizing player
3. Strategi permainan
4. Aturan permainan
5. Nilai permainan
6. Aturan dominasi
7. Strategi optimal
8. Tujuan dari model permainan
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 57

Permainan dua pemain jumlah nol (zero zum games)


Adalah permainan yang dilakukan oleh 2 orang atau 2 kelompok yang secara langsung
mempunyai kepentingan yang saling berhadapan. Disebut permainan jumlah nol karena
keuntungan/ kerugian seseorang adalah sama dengan keuntungan/ kerugian orang yang
lainnya, sehingga jumlah total keuntungan dan total kerugian adalah nol

Ada dua tipe permainan, yaitu :


1. Permainan strategi murni, dimana strategi optimal setiap pemain adalah dengan
menggunakan strategi tunggal. Pemain baris (maximizing player) mengidentifikasikan
strategi optimalnya melalui aplikasi kriteria maksimin. Sedangkan pemain kolom
(minimizing player) menggunakan kriteria minimaks untuk mengidentifikasikan strategi
optimalnya.

Perusahaan B Minimum
Kriteria B1 B2 B3 Baris
A1 1 8 2 1
Perusahaan
A2 7 5 3 3 Maximin
Maximum kolom 7 8 3
Minimax
Kriteria maksimin : cari nilai-nilai minimum pada setiap baris. Hasil optimumnya adalah
nilai maksimum diantara nilai-nilai minimum
Kriteria minimaks : cari nilai-nilai maksimum pada setiap kolom. Hasil optimumnya
adalah nilai minimum diantara nilai-nilai maksimum.
Permainan dua pemain jumlah nol di atas adalah permainan strategi murni, dimana titik
pelananya (saddle point) bernilai 3. Strategi optimal perusahaan A adalah A2 dan strategi
optimal perusahaan B adalah B3. Kesimpulan tersebut dicapai dengan menerapkan
kriteria maksimin dan kriteria minimaks.

2. Permainan strategi campuran, dimana kedua pemain memakai campuran dari


berbagai strategi yang berbeda-beda

Matrik permainan
Perusahaan B Minimum
B1 B2 B3 Baris
A1 1 3 2 1
Perusahaan A A2 2 7 5 2 Maximin
A3 6 8 1 1
Maximun kolom 6 8 5
Minimax

Dengan menerapkan aturan dominasi, dapat diketahui bahwa :


 Strategi A1 didominasi oleh strategi A2 dan A3, sehingga baris A1 bisa
dihilangkan, karena strategi A1 memberikan keuntungan dari lebih kecil bagi
perusahaan A
 Strategi B2 didominasi oleh strategi B1 dan B3, sehingga kolom B2 bisa
dihilangkan karena strategi B2 menyebabkan kerugian lebih besar bagi perusahaan B
Nilai maksimin tidak sama dengan () nilai minimaks, berarti tidak ada titik pelana.
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 58

Karena tidak diperoleh titik pelana, maka permainan dapat diselesaikan dengan
menerapkan konsep strategi campuran. Pemecahan masalah permainan strategi campuran
dapat diselesaikan dengan :
1.
2.
3.
4.
5. Metode analisis
Metode analisis ini digunakan untuk menentukan distribusi probabilitas dari strategi
campuran

Perusahaan B Minimum
B1 B3 baris
Perusahaan A A2 2 5 2 maximin
A3 6 1 1
Maximum kolom 6 5
minimax

Untuk perusahaan A
Diasumsikan: strategi A2 dengan probabilitas p; dan strategi A3 dengan probabilitas (1-p)
Jika perusahaan B memilih strategi B1, maka keuntungan yang diharapkan oleh
perusahaan A adalah 2p + 6 (1-p) = 6 - 4p
Jika perusahaan B menggunakan strategi B3, maka keuntungan yang diharapkan oleh
perusahaan A adalah 5p + 1 (1-p) = 1 + 4p
Jadi strategi optimal perusahaan A adalah 6 - 4p = 1 + 4p
6 - 1 = 4p + 4p
p = 0,625
Berarti, perusahaan A harus menggunakan strategi A 2 (0,625) dan strategi A3 (0,375)
Keuntungan yang diharapkan perusahaan A adalah :
(0,625) 2 + (0,375)6 atau (0,625) 5 + (0,375)1
1,25 + 2,25 atau 3,125 + 0,375
= 3,5

Untuk perusahaan B
Diasumsikan: strategi B1 dengan probabilitas q; dan strategi B3 dengan probabilitas (1-q)
Jika perusahaan A memilih strategi A2, maka keuntungan yang diharapkan oleh
perusahaan B adalah 2q + 5 (1-q) = 5 - 3q
Jika perusahaan A menggunakan strategi A3, maka keuntungan yang diharapkan oleh
perusahaan B adalah 6q + 1 (1-q) = 1 + 5q

Jadi strategi optimal perusahaan B adalah 5 - 3q = 1 + 5q


5 - 1 = 5q + 3q
q = 0,50
Berarti, perusahaan B harus menggunakan strategi B 1 (0,50) dan strategi B3 (0,50)
Keuntungan yang diharapkan perusahaan B adalah :
(0,50) 2 + (0,50) 5 atau (0,50) 6 + (0,50) 1
1 + 2,5 atau 3 + 0,50
= 3,5
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 59

Dengan menggunakan probabilitas, dapat diperoleh strategi campuran yang optimal,


dimana nilai keuntungan maximizing player = nilai kerugian minimizing player

6. Metode linier programming

Perusahaan B Minimum
B1 B3 baris
Perusahaan A A2 2 5 2
A3 6 1 1
Maximum kolom 6 5
Notasi yang digunakan :
V = Nilai permainan
X1 = Probabilitas permilihan strategi A2
X2 = Probabilitas pemilihan strategi A3
Y1 = Probabilitas pemilihan strategi B1
Y2 = Probabilitas pemilihan strategi B3

Perusahaan A sebagai maximizing player, mengharapkan keuntungan :


2 x1 + 6 x2  v (Apabila perusahaan B menggunakan strategi B 1)
5 x1 + 1 x2  v (Apabila perusahaan B menggunakan strategi B 3)
x1 + x2 = 1
x1; x2  0

Perusahaan B sebagai minimizing player, mengharapkan kerugian :


2 y1 + 5 y2  v (Apabila perusahaan A menggunakan strategi A2)
6 y1 + 1 y2  v (Apabila perusahaan A menggunakan strategi A3)
y1 + y2 = 1
y1; y2  0

Dengan membagi ketidaksamaan dan pertidaksamaan dengan v, diperoleh :


Perusahaan A Perusahaan B
2 x1 + 6x2  1 2y1 + 5y2  1
v v v v

5x1 + 1x2  1 6y1 + 1y2  1


v v v v

x1 + x2 = 1 y1 + y2 = 1
v v v v

Jika ditentukan variabel-variabel baru :


x1/ v = p1 y1/ v = q1
x2/ v = p2 y2/ v = q2
Maka diperoleh persamaan berikut :
Perusahaan A Perusahaan B
2p1 + 6p2  1 2q1 + 5q2  1
5p1 + 1p2  1 6q1 + 1q2  1
p1 + p2 = 1/ v q1 + q2 = 1/ v
Program linier perusahaan A Program linier perusahaan B
Min z = p1 + p2 Max z = q1 + q2
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 60

s/t : 5p1 + p2  1 s/t 2q1 + 5q2  1


2p1 + 6p2  1 6q1 +1q2  1
p1; p2  0 q1; q2  0
Untuk perusahaan A (Maximizing player)
VD Z P1 P2 S1 S2 Solusi Ratio
Z 1 -1 -1 0 0 0
S1 0 2 6 1 0 1 ½
S2 0 5 1 0 1 1 1/5

VD Z P1 P2 S1 S2 Solusi Ratio
Z 1 0 -4/5 1/5 0 1/5
S1 0 1 1/5 0 1/5 1/5 1
P2 0 0 28/5 1 -2/5 3/5 3/28

VD Z P1 P2 S1 S2 Solusi Ratio
Z 1 0 0 1/7 1/7 8/28
P1 0 1 0 -1/28 13/70 5/28
P2 0 0 1 5/28 -1/14 3/28

Diperoleh : Z = 8/28 P1 = 5/28 P2 = 3/28


Jika : 1/V = P1 + P2
1/V = 5/28 + 3/28
1/V = 8/28
Jadi V = 28/8 = 3,5
X1 = V x P1 = 7/2 x 5/28 = 0,625
X2 = V x P2 = 7/2 x 3/28 = 0,375

Untuk perusahaan B (Minimizing player)


VD Z Q1 Q2 S1 S2 Solusi Ratio
Z 1 -1 -1 0 0 0
S1 0 2 5 1 0 1 ½
S2 0 6 1 0 1 1 1/6

VD Z Q1 Q2 S1 S2 Solusi Ratio
Z 1 0 -5/6 0 1/6 1/6
Q1 0 2 1/6 0 1/6 1/6 1
Q2 0 0 14/3 1 -1/3 2/3 1/7

VD Z Q1 Q2 S1 S2 Solusi Ratio
Z 1 0 0 15/84 9/84 2/7
Q1 0 1 0 -3/84 15/84 1/7
Q2 0 0 1 3/14 -1/14 1/7

Diperoleh : Z = 2/7 Q1 = 1/7 Q2 = 1/7


Jika : 1/V = Q1 + Q2
1/V = 1/7 + 1/7
1/V = 2/7
Jadi V = 7/2 = 3,5
Y1 = V x Q1 = 7/2 x 1/7 = 0,50
Y2 = V x Q2 = 7/2 x 1/7 = 0,50
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 61

Dynamic Programming

 Model ini pertama kali dikembangkan oleh Richard Bellman, dan diaplikasikan oleh
NAVAL US dalam pengaturan strategi perang.
 Program dinamis adalah suatu teknik matematis untuk pembuatan serangkaian
keputusan yang saling berhubungan, akan tetapi tidak ada rumusan matematis yang
standar. Program dinamis ini menyediakan prosedur matematis untuk menentukan
kombinasi keputusan yang optimal. Proses pengambilan keputusan dilakukan secara
bertahap.
 Pada setiap tahap harus diambil keputusan optimal agar diperoleh hasil optimal pada
seluruh tahap berikutnya
 Program dinamis adalah suatu tipe pendekatan pemecahan masalah dengan
persamaan-persamaan tertentu yang digunakan harus dibuat sesuai dengan situasi yang
sifatnya individual. Dengan demikian diperlukan sedikit kecerdikan dan pengetahuan
tentang struktur umum masalah program dinamis untuk mengenali kapan suatu masalah
dapat dipecahkan dengan prosedur program dinamis dan bagaimana menyelesaikannya
 Masalah perjalanan kereta api (lihat contoh 6) adalah bentuk dasar dari masalah
program dinamis, bahkan contoh tersebut khusus dibuat untuk menyediakan interpretasi
fisik dari struktur abstrak masalah-masalah yang serupa. Dengan demikian, salah satu
cara untuk mengenali situasi yang dapat dirumuskan dalam program dinamis adalah
memperhatikan bahwa struktur dasarnya haruslah analog dengan masalah perjalanan
kereta api.

Foreward model

U1 U2 UN Un-1 Un

x1 1 x2 2 x3 xN N xN+1 xn-1 n-1 xn n xn+1

R1 R2 RN Rn-1 Rn

Backward model

Un Un-1 UN U2 U1

xn n xn-1 n-1 .... xN N xN-1 ......... x2 2 x1 1 x0

Rn Rn-1 RN R2 R1

Jika : Xi = State variable (bahan baku, bahan pembantu)


Ui = Controll variables (Mesin, tenaga kerja, metode kerja, modal/ dana)
Fi = Keputusan optimal pada tahap ke i (dimana i = 1, 2, 3, ……. n)

Jadi X2 = f (X1; U1)


R1 = g (X1; U1)
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 62

F1* = Opt f (X1; U1)

X3 = f (X2; U2)
R2 = g (X2; U2) + Opt f (X1; U1)
F2* = Opt f (X2; U2) + F1**
:
:
:
:
:
Xn+1 = f (Xn; Un)
Rn = g (Xn; Un) + Opt f (Xn-1; Un-1)

Fn* = Opt f (Xn; Un) + Fn-1**


--------------------------------------

Contoh 1
Max Z = 2 (x1 + 1)2 – 2x1x2 + 3 (x2-1)2
s/t : 2x1 + x2 ≤ 11
x1 + x2 ≤ 7
x1, x2 non negative integer

Jawab :
2x1 + x2 = 11
x1 + x2 = 7
x1 = 4

x1 + x2 = 7
x2 = 3

x2
0 1 2 3
x1
0 5 2 5 14
1 11 6 7 14
2 21 14 13 18
3 35 26 23 26
4 53 42 37 38

Max Z = 2 (x1 + 1)2 – 2x1x2 + 3 (x2-1)2


x1= 0; x2 = 0  2(0+1)2 - 2(0)(0) + 3(0-1)2 = 5
x1= 0; x2 = 1  2(0+1)2 - 2(0)(1) + 3(1-1)2 = 2
x1= 0; x2 = 2  2(0+1)2 - 2(0)(2) + 3(2-1)2 = 5
x1= 0; x2 = 3  2(0+1)2 - 2(0)(3) + 3(3-1)2 = 14
x1= 1; x2 = 0  2(1+1)2 - 2(1)(0) + 3(0-1)2 = 11
x1= 1; x2 = 1  2(1+1)2 - 2(1)(1) + 3(1-1)2 = 6
:
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 63

:
:
x1= 4; x2 = 0  2(4+1)2 - 2(4)(0) + 3(0-1)2 = 53
x1= 4; x2 = 1  2(4+1)2 - 2(4)(1) + 3(1-1)2 = 42
x1= 4; x2 = 2  2(4+1)2 - 2(4)(2) + 3(2-1)2 = 37
x1= 4; x2 = 3  2(4+1)2 - 2(4)(3) + 3(3-1)2 = 38

Jadi, Z optimal = 53
dengan x1 = 4
x2 = 0

Contoh 2
Max Z = 2 (x1 + 1)2 – 2x1x2 + 3 (x2-1)2
s/t : x1 + x2 ≤ 5
x1, x2 non negative integer

Jawab
x1 x2 Z optimal
0 0 5
0 1 2
0 2 5
0 3 14
0 4 29
0 5 50
1 0 11
1 1 6
1 2 7
1 3 14
1 4 27
2 0 21
2 1 14
2 2 13
2 3 18
3 0 35
3 1 26
3 2 23
4 0 53
4 1 42
5 0 75

Max Z = 2 (x1 + 1)2 – 2x1x2 + 3 (x2-1)2


x1= 0; x2 = 0  2(0+1)2 - 2(0)(0) + 3(0-1)2 = 5
x1= 0; x2 = 1  2(0+1)2 - 2(0)(1) + 3(1-1)2 = 2
x1= 0; x2 = 2  2(0+1)2 - 2(0)(2) + 3(2-1)2 = 5
x1= 0; x2 = 3  2(0+1)2 - 2(0)(3) + 3(3-1)2 = 14
:
:
:
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 64

x1= 4; x2 = 0  2(4+1)2 - 2(4)(0) + 3(0-1)2 = 53


x1= 4; x2 = 1  2(4+1)2 - 2(4)(1) + 3(1-1)2 = 42
x1= 5; x2 = 0  2(5+1)2 - 2(5)(0) + 3(0-1)2 = 75

Jadi, Zoptimal = 75
pada x1 = 5
x2 = 0

Contoh 3
Max Z = x1 x22 x33
s/t x1 + 2x2 + 3x3 ≤ 10
dan x1 ≥ 1; x2 ≥ 1; x3 ≥ 1
x1, x2, x3 non negative integer

x1 x2 x3 Z optimal
1 1 1 1
1 2 1 4
1 1 2 8
2 1 1 2
2 1 2 16
2 2 1 8
3 1 1 3
1 3 1 9
3 2 1 12
4 1 1 4
5 1 1 5

Max Z = x1 x22 x33


x1= 1; x2 = 1; x3 = 1  (1)(1)2(1)3 =1
x1= 1; x2 = 2; x3 = 1  (1)(2)2(1)3 =4
x1= 1; x2 = 1; x3 = 2  (1)(1)2(2)3 =8
x1= 2; x2 = 1; x3 = 1  (2)(1)2(1)3 =2
x1= 2; x2 = 1; x3 = 2  (2)(1)2(2)3 =16
:
:
:
x1= 1; x2 = 3; x3 = 1  (1)(3)2(1)3 =9
x1= 3; x2 = 2; x3 = 1  (3)(2)2(1)3 =12
x1= 4; x2 = 1; x3 = 1  (4)(1)2(1)3 =4
x1= 5; x2 = 1; x3 = 1  (5)(1)2(1)3 =5

Jadi, Zoptimal = 16
pada x1 = 2
x2 =1
x3 =2

Contoh 4
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 65

Lima orang dosen FE diminta menangani 4 proyek : penelitian, penataran, konsultasi


bisnis, dan rancangan sistem informasi. Nilai hasil yang diharapkan dari masing-
masing proyek tergantung dari jumlah dosen yang terlibat di dalamnya, dengan nilai
sbb :
Proyek penelitian : R1 = 6√n + 3
Proyek penataran : R2 = 0,6 n² + 4
Proyek konsultasi bisnis : R3 = 3(n + 1)
Proyek rancangan SIM : R4 = 25 [ log n]
dimana n = jumlah dosen yang menangani setiap proyek. Dengan program dinamis,
alokasikan ke lima tenaga dosen tersebut pada masing-masing proyek agar diperoleh
hasil yang optimal, apabila :
a. Dimungkinkan ada proyek yang tidak mendapatkan alokasi tenaga dosen
b. Setiap proyek minimal ditangani satu orang dosen

Jumlah dosen 0 1 2 3 4 5
Penelitian (X1) 3 9 11,5 13,4 15 16,4
Penataran (X2) 4 4,6 6,4 9,4 13,6 19
Konslt Bisnis (X3) 3 6 9 12 15 18
Ranc. SIM (X4) 0 0 7,5 11,9 15,1 17,5

Contoh 5
Jalur terpendek : Fj © = Min { Cij + fj [c] }
Jalur terpanjang : Fj © = Max { Cij + fj[c] }

Cari jalur terpendek dan jalur terpanjang dari soal berikut


Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 66

Teori Antrian (Queing Theory)


Konsep Dasar :
1. Tujuan : find optimal solution and efficiency services
2. Struktur antrian terdiri dari : input – sistem – output
3. Disiplin antrian : FIFO and LIFO
4. Tingkat kedatangan = λ, berdistribusi Poisson
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 67

5. Tingkat pelayanan = μ, berdistribusi exponential

6. Komponen biaya menunggu (Cw) meliputi: kursi tamu/ sofa; tape recorder/
radio/ tv; AC/ kipas angin; dekorasi ruangan; minuman/ makanan ringan;
majalah/ koran; dll. Untuk mendapatkan biaya menunggu per unit maka harga
dari semua barang-barang tersebut diatas ditotalkan kemudian dibagi dengan
jumlah pelanggan yang menunggu untuk dilayani
E [ Cw total ] = nt. cw / unit

7. Komponen biaya pelayanan (Cs) meliputi : gaji karyawan (khusus bagian


pelayanan); pakaian seragam; meja kursi kerja; ATK; cash registered; formulir;
listrik; dll. Untuk mendapatkan biaya pelayanan per unit maka semua komponen
biaya tersebut ditotalkan kemudian dibagi dengan jumlah pelanggan yang dilayani
E [ Cs total ] = S. cs / unit

Tipe-tipe antrian
a. Single channel – single phase
o o o o o [s] --

b. Singgle channel – multy phase


o o o o o [s] o o o o o [s] ----

c. Multi channel – single phase


o o o o o [s]
o o o o o [s] ---- ----
o o o o o [s]

d. Multi channel – multi phase


o o o o o [s] o o o o o [s]
o o o o o [s] o o o o o [s] ---- ---
o o o o o [s] o o o o o [s]
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 68

Contoh 1:
Ditempat pembayaran rekening listrik yang memiliki satu loket pembayaran rekening,
pada jam-jam puncak ada sekitar 50 orang yang datang untuk membayar rekening
listriknya. Setiap pelanggan dilayani selama satu menit. Dari data tersebut hitunglah :
a. Tingkat kegunaan dan waktu menganggur fasilitas pelayanan
b. Jumlah rata-rata pelanggan dalam antrian
c. Jumlah rata-rata pelanggan dalam system
d. Waktu menunggu rata-rata dalam antrian
e. Waktu menunggu rata-rata dalam system
f. Probabilitas ada lebih dari 2 pelanggan dalam antrian
g. Jika biaya menunggu Rp. 4200 / unit/ jam, dan biaya pelayanan Rp. 6500/
unit/ jam. Hitung berapa besar biaya untuk sistem antrian tersebut

Jawab :
Tingkat kedatangan λ = 50 org/ jam
Tingkat pelayanan μ = 60 org/ jam (karena waktu pelayanan selama 1 menit/ org)
a. Tingkat kegunaan fasilitas : P = λ/ μ = 50/ 60 = 0,8333
Waktu menganggur fasilitas pelayanan = 1 - λ/ μ = 1 – 0,8333 = 0,1667

b. Jumlah rata-rata pelanggan dalam antrian


λ2 .
nq = μ (μ – λ) = (50)2/ [60 (60-50)] = 2500/ 600 = 4,165 = 4 orang

c. Jumlah rata-rata pelanggan dalam sistem


λ .
nt = μ – λ = 50 / (60 – 50) = 5 orang

d. Waktu menunggu rata-rata dalam antrian


λ .
tq = μ (μ – λ) = 50/ [60 – (60-50) = 50/ 600 = 0.08333 jam = 5 menit

e. Waktu menunggu rata-rata dalam sistem


1 .
tq = μ – λ = 1/ (60-50) = 1/ 10 = 0,1 jam = 6 menit
f. Probabilitas ada n pelanggan dalam sistem antrian
Pn = [1 – λ/μ] (λ/μ)n
Jika n = 0, maka P0 = (0,1667) (0,8333)0 = (0,1667) (1) = 0,1667
Jika n = 1, maka P1 = (0,1667) (0,8333)1 = (0,1667) (0,0833) = 0,1359
Jika n = 2, maka P2 = (0,1667) (0,8333)2 = (0,1667) (0,6721) = 0,1138

Jadi probabilitas ada lebih dari 2 pelanggan dalam sistem antrian


P (n >2) = 1 – ∑ Pi
P (n >2) = 1 - (P0 + P1 + P2)
P (n >2) = 1 - (0,1667 + 0,1359 + 0,1138)
P (n >2) = 1 - 0,5447 = 0, 4553
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 69

g. Jika biaya menunggu Rp. 4200 / unit/ jam, dan biaya pelayanan Rp. 6500/
unit/ jam. Hitung berapa besar biaya untuk sistem antrian tersebut
E [ Ct total ] = E (Cw total) + E (Cs total)
= nt. cw / unit + S. cs / unit
= 5 (4200) + 6500
= 21.000 + 6500
= Rp. 27.500,-
Contoh 2 :
Diketahui rata-rata benang putus adalah 20 / jam. Sedangkan rata-rata seorang
karyawan dapat menyambung benang putus = 40/ jam
Hitung :
a. Tingkat kegunaan fasilitas penyambungan benang, jika yang bertugas
seorang karyawan saja.
b. Besarnya kemungkinan terjadi spindle menunggu : 1, 2, 3, ………. 20
buah
c. Besarnya kemungkinan tidak ada spindle menunggu karena putus
benangnya
d. Jumlah rata-rata spindle yang menunggu (m)
e. Hitung kembali pertanyaan a, b, c, d jika per jam terjadi rata-rata 24
benang putus
f. Hitung waktu rata-rata antar kedatangan (mean time between arrivals)
untuk semua pertanyaan a, b, c, d, dan e tsb dalam jangka pengamatan 1 jam
(anggap semuanya berdistribusi Poisson/ exponential)

Jawab :
Tingkat kedatangan λ = 20
Tingkat pelayanan μ = 40

a. Tingkat kegunaan fasilitas pelayanan P = λ/ μ = 20/ 40 = 0,5


b. Pn = [1 - λ/ μ] (λ/ μ)n
P0 = [1 – 20/ 40] (20/ 40)0 = [0,50] (1) = 0,50
P1 = [1 – 20/ 40] (20/ 40)1 = [0,50] (0,50)1 = 0,50
P2 = [1 – 20/ 40] (20/ 40)2 = [0,50] (0,50)2 = 0,50
P3 = [1 – 20/ 40] (20/ 40)3 = [0,50] (0,50)3 = 0,50
P4 = [1 – 20/ 40] (20/ 40)4 = [0,50] (0,50)4 = 0,50
:
: :
P20 = [1 – 20/ 40] (20/ 40)20 = [0,50] (0,50)20 = 4,768371582. 10-7

c. Po = [1- 0,50] (0,50)0 = 0,50

P λ/ μ 0,5
d. M = -------- = ------------ = ----- = 1
[1 – P] [ 1 - λ/ μ ] 0,5

e. Apabila ada 24 benang putus per jam maka :


Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 70

Tingkat kegunaan fasilitas : P = λ/ μ = 24/ 40 = 0,6

f. Untuk λ = 20, maka h = 1/λ = 1/20 = 0,05


Untuk λ = 24, maka h = 1/λ = 1/24 = 0,0416667 = 0,0417

Contoh 3 :
Diketahui : Jumlah karyawan yang bekerja = 4 orang. Lama bekerja efektif dalam
sehari = 4 jam. Rata-rata benang putus dalam 4 jam = 44. Seorang karyawan rata-rata
menyambung benang putus selama 15 menit. Benang yang putus lebih dulu,
disambung terlebih dulu (FCFS)
Ditanya :
a. Tingkat kegunaan fasilitas P jika yang bertugas hanya seorang karyawan saja.
b. Berapa besar kemungkinan terjadi spindle menunggu
c. Berapa kemungkinan tidak ada spindle yang menunggu karena benang putus
d. Berapa jumlah rata-rata spindle yang menunggu
e. Hitung besarnya waktu rata-rata antar kedatangan (mean time between
arrivals)

Jawab : S = 4
λ = 44/ 4 = 11/ jam
μ = 4 x (60/15) = 16/ jam
Karena stasiun > 1, maka maka sistem antriannya adalah multi channels

a. Tingkat kegunaan fasilitas Ps = λ/ μs = 11/ (16x4) = 11/ 64 = 0,171875

b. Pso = 1 ,
s-1
[ ∑ 1/ i ! (λ/ μ)i ] + [ 1/ s! (λ/ μ)S [ sμ / μ(s-λ) ]

= 1 .
[1 + 0,6875 + 0,2363 + 0,0542] + [0,0124]

= 1 .
[1,978 + 0,0124]

= 1 / 1,9904
= 0,5024

Psn = 1/ n! [λ/ μ]n . Pso


Ps1 = 1/ 1! [11/ 16]1 . 0,5024 = 0,3454
Ps2 = 1/ 2! [11/ 16]2 . 0,5024 = 0,1187
Ps3 = 1/ 3! [11/ 16]3 . 0,5024 = 0,0272
Ps4 = 1/ 4! [11/ 16]4 . 0,5024 = 0,0047
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 71

c. Pso = 0,5024

λ μ (λ/ μ)s
d. Ms = Ms’ + λ/ μ = [ ------------------- . Pso ] + (λ/ μ)
(s-1)! (s.μ – λ)2

= { 11 (16) [11/ 16]4 x 0,5024 }+ 11/ 16


(4-1)! (4x16–11)
= 39,3191 x 0,5024 + 0,6875
6(2809)
= 0,6887

VAS = μ (λ/ μ) x Pso


(s-1)! [s.μ – λ]2

= Ms’/ λ
= 0,6887/ 11 = 0,0626

Sedangkan WAS = VAS + 1/ μ


= 0,0626 + 1/ 16 = 0,1251

e. Untuk λ = 11, maka h = 1/ λ = 1/ 11 = 0,0909

Keajaiban huruf dan angka….


Menarik untuk disimak!!
Jika, nilai huruf2 ini kita anggap sbb:
Dr. Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Matematika Ekonomi, 2015 72

A-1, B-2, C-3, D-4, E-5, F-6, G-7, H-8, I-9, J-10, K-11, L-12, M-13, N-14, O-15, P-16, Q-17, R-18, S-
19, T-20, U-21, V-22, W-23, X-24, Y-25, Z-26,

Nah skr mari berhitung dlm bhs Inggris menurut kepercayaan orang Inggris.
Kalau kita bekerja dengan modal angka di atas, maka hasilnya adalah…

H -A -R -D -W -O -R -K (kerjakeras)
8 1 18 4 23 15 18 11 = 98% Only

K-N-O-W-L-E-D-G-E (pengetahuan)
11 14 15 23 12 5 4 7 5 = 96% Only

L -O -B -B -Y -I -N -G (pendekatan)
12 15 2 2 25 9 14 7 = 86% Only

L - U - C - K (keberuntungan)
12 21 3 11 = 47% Only

Ternyata.. semua nilai dari usaha2 kita di atas tidak bisa mengalahkan yang satu ini:

A-T-T-I-T-U-D-E (sikap/tingkah laku)


1 20 20 9 20 21 4 5 = 100%

Tetapi rumus ini berlaku hanya di luar negeri, kalau di Indonesia hitungannya menjadi begini:

G -I -G -I -H (Hardwork)
7 9 7 9 8 = 40% Saja

I - L - M - U (Knowledge)
9 12 13 21 = 55% Saja

L - O - B - I (Lobbying)
12 15 2 9 = 38% Saja

M - U - J - U - R (Luck)
13 21 10 21 18 = 83% Saja

S - I - K - A - P (Attitude)
19 9 11 1 16 = 46% Saja

Dan nilai dari usaha2 kita di atas tidak bisa mengalahkan yang satu ini:

K-O-R-U-P-S-I
11 15 18 21 16 19 9 = 109 %

Pantas saja yg ditekuni adalah "KORUPSI", nilai keberhasilannya diatas 100%.


Lebih baik dr "ATTITUDE"nya ORANG BARAT yg hanya 100%... Makanya korupsi susah diberantas
di negara tercinta kita.