Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kanker Serviks disebut juga “silent kanker” karena perkembangan kanker

ini sangat sulit dideteksi. Perjalanan dari infeksi virus menjadi kanker

membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 10-20 tahun. Kanker serviks

adalah salah satu masalah kesehatan terkemuka yang mencolok bagi

perempuan di seluruh dunia dengan perkiraan 529.409 kasus baru dan sekitar

89% di negara-negara berkembang. (Rahayu, 2015).

World Health Organization (WHO) tahun 2013 menyebutkan,

diperkirakan ada 500.000 pengidap kanker serviks setiap tahunnya di dunia

dan 274.000 atau 54,8% kasus kematian terjadi setiap tahun. Sekitar 80% dari

semua kematian akibat kanker serviks dilaporkan berasal dari negara-negara

berkembang. Kondisi ini mempengaruhi tidak hanya kesehatan dan kehidupan

perempuan, tetapi juga anak-anak mereka, keluarga, dan masyarakat pada

umumnya (Rahayu, 2015).

Berdasarkan Globocan 2012 kanker serviks menduduki urutan ke7 secara

global dalam segi angka kejadian (urutan ke- 6 di negara kurang berkembang)

dan urutan ke-8 sebagai penyebab kematian (menyumbangkan 3,2%

mortalitas, sama dengan angka mortalitas akibat leukemia). Kanker serviks

menduduki urutan tertinggi di negara berkembang, dan urutan ke 10 pada

negara maju atau urutan ke 5 secara global. Di Indonesia kanker serviks

menduduki urutan kedua dari 10 kanker terbanyak berdasar data dari Patologi

Anatomi tahun 2010 dengan insidens sebesar 12,7%.1


Berdasarkan Riskesdas (2013) kejadian kanker di Indonesia sendiri pada

tahun 2012 sebesar 347.792 kasus atau sebesar 1,4 % penduduk. Kejadian

kanker meningkat 11,02 % dan jumlah angka kematian meningkat 7,89 % dari

tahun 2008-2012. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan wilayah

yang mempunyai kasus kanker tertinggi dibandingkan dengan provinsi lain

yang ada di Indonesia yaitu sebesar 4,1 %.2

Data Kesehatan Provinsi DIY tahun 2016 menunjukkan angka kejadian

kanker serviks di Kota Yogyakarta sebanyak 341 kasus, di Kabupaten Sleman

sebanyak 962 kasus, di Kabupaten Gunungkidul sebanyak 105 kasus,

Kabupaten Kulonprogo sebanyak 205 kasus, dan terbanyak berada di

Kabupaten Bantul sebanyak 1.355 kasus (Dinas Kesehatan DIY, 2016)

WHO menyatakan bahwa sepertiga dari seluruh kanker sebenarnya dapat

dicegah, sepertiga dapat disembuhkan, sepertiga sisanya dapat dibebaskan dari

rasa nyeri jika dapat diberikan obat yang tersedia untuk itu. Upaya pencegahan

yang dapat menurunkan angka kematian akibat kanker serviks yang timbul

dengan atau tanpa gejala adalah dengan melakukan penapisan (YKI, 2015).

Penapisan serviks dilakukan untuk mendeteksi perubahan sangat awal sel

serviks, yang jika terlambat diobati dapat menyebabkan karsinoma sel

mukosa. Dengan kata lain penapisan serviks merupakan salah satu cara

memutus riwayat alami penyakit pada tahap awal yang lebih mudah ditangani.

(Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Wanita, 2010)

Ada beberapa metode untuk melakukan deteksi dini lesi pra kanker yaitu

papsmear (konvensional atau liquid-base cytology/LBC), Inspeksi Visual

Asam Asetat (IVA), Inspeksi Visual lugoliodin (VILI) , tes DNA HPV

(genotyping / hybride capture). Sementara diagnosis kanker serviks akan


ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan

penunjang tersebut seperti inspeksi,kolposkopi, biopsi serviks, sitoskopi,

rektoskpi dan CT scan. 1

Deteksi dini kanker serviks yang dikenal umum adalah Papsmear, yang

biasanya dilakukan di rumah sakit dan labolatorium. Namun ada pula cara

alternative untuk melakukan deteksi dini kanker serviks yaitu dengan

pemeriksaan IVA. IVA merupakan pemeriksaan sederhana dengan cara

mengamati inspekulo serviks yang telah dipulas dengan asam asetat atau asam

cuka 3-5% selama 1 menit dan memiliki keakuratan 90% Daerah yang tidak

normal akan berubah warna keputihan (actowhite) yang mengindikasikan

bahaw serviks mungkin memiliki lesi pra kanker. Program screening yang

ideal dan optimal untuk kanker serviks menurut WHO sangat dianjurkan pada

setiap pasangan usia subur yaitu 25-60 tahun.(Kesehatan Reproduksi, 2011).

Pemeriksaan IVA hampir sama efektifnya dengan pemeriksaan Pap

dalam mendeteksi lesi prakanker, dapat dilakukan di fasilitas kesehatan dasar

seperti Puskesmas, Pustu atau Polindes dan fasilitas lebih murah dan mudah.

Hasilnya dapat diketahui pada saat pemeriksaan, sehingga apabila diperlukan

pengobatan dapat segera dilakukan atau dirujuk bila perlu. (buku saku ca

servix)

Deteksi dini kanker serviks mencakup program yang terorganisir dengan

sasaran pada kelompok usia yang tepat dan sistem rujukan yang efektif di

seluruh pelayanan kesehatan. Sesuai dengan peraturan pemerintah yang

tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34

Tahun 2015 tentang penanggulangan kanker payudara dan kanker serviks,

upaya skrining kanker serviks dengan pendekatan komprehensif dilakukan


melalui pemeriksaan inspeksi visual asam asetat (IVA) yang dilanjutkan

dengan cara melihat dan mengobati klien, dapat dilakukan pada saat

kunjungan yang sama. (Kemenkes RI,2015)

Data Nasional cakupan penapisan kanker serviks di Indonesia melalui

IVA masih sangat rendah (sekitar 5%), padahal cakupan penapisan yang

efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan angka kematian karena

kanker serviks adalah 85% (Yayasan Kanker Indonesia, 2012)

Data Dinkes DIY Cakupan deteksi dini kanker leher rahim dengan metode

IVA dan deteksi kanker payudara dengan metode CBE pada tahun 2017 di

Kabupaten Kulon Progo 2,47% , Kabupaten Bantul 1,05% , Kabupaten

Sleman 2% , Kota Yogyakarta 2% sementara kabupaten Gunung Kidul

sebesar 1%. Dalam tahun 2017 di Daerah Istimewa Yogyakarta didapat

sebanyak 8.830 orang melakukan penapisan kanker serviks dengan metode

IVA. Hasil menunjukkan terdapat 101 orang atau 1,14 % dengan hasil IVA

positif. 3

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul tahun 2017.

Dua Puskesmas di Kabupaten Bantul yang memiliki cakupan deteksi dini

kanker leher rahim dengan metode IVA terendah diduduki oleh puskesmas

Pundong dan Puskesmas Sedayu. Puskesmas Pundong sebanyak 2 pasien dan

Puskesmas Sedayu sejumlah 9 pasien yang melakukan pemeriksaan IVA

selama 2017. Cakupan deteksi dini kanker leher rahim tersebut dapat dilihat

pada tabel berikut :


Table 1 Cakupan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dengan metode IVA
di Seluruh Puskesmas Kabupaten Bantul tahun 2017

NO KECAMATAN PUSKESMAS PEMERIKSAAN


IVA
1. Srandakan Srandakan 113
2. Sanden Sanden 38
3. Kretek Kretek 28
4. Pundong Pundong 2
5. Bali Bali 109
6. Pandak Pandak 1 73
Pandak 2 87
7. Bantul Bantul 1 138
Bantul2 13
8. Jetis Jetis 1 194
Jetis 2 30
9. Imogiri Imogiri 1 59
Imogiri 2 47
10. Dlingo Dlingo 1 52
Dlingo 2 24
11. Pleret Pleret 220
12. Piyungan Piyungan 86
13. Banguntapan Banguntapan 1 114
Banguntapan 2 145
Banguntapan 3 85
14. Sewon Sewon 1 14
Sewon 2 11
15. Kasihan Kasihan 1 195
Kasihan 2 61
16. Pajangan Pajangan 98
17 Sedayu Sedayu 1 91
Sedayu 2 9

Berdasarkan teori lawrence Green (1980) faktor perilaku ditentukan atau

dibentuk oleh faktor predisposisi, yang terwujud dalam pengetahuan, sikap,

kepercayaan, keyakinan dan nilai-nilai. Faktor pendukung yang terwujud

dalam lingkungan fisik tersedia atau tidaknya pelayanan kesehatan misalnya

puskesmas, dan obat-obatan. Faktor pemungkin yang memungkinkan atau

yang memfasilitasi perilaku atau tindakan, yang dimaksud dengan factor

pemungkin adalah sarana dan prasarana seperti posyandu,puskesmas,rumah


sakit. Sementara faktor yang terahir adalah faktor penguat , adalah faktor yang

mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku seperti contoh perilaku dari

tokoh masyarakat. 4

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ida Tri di desa Pundong

Kabupaten Bantul (2018) Sebagian besar (52,44%) Wanita Usia Subur (WUS)

dengan usia >35 tahun, memiliki 2-4 orang anak (multipara) sebanyak 64,6%,

tingkat pendidikan menengah sebanyak 60,98% dan sebagian besar (51,22%.)

WUS bekerja. Sebagian besar WUS (52,44%) memiliki tingkat pengetahuan

IVA cukup. Sebagian besar WUS yang tingkat pengetahuannya cukup adalah

multipara (54,7%), tingkat pendidikan dasar (73,1%), dan tidak bekerja

(52,5%). 6

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Elkanah Omenge dkk di

Kenya pada tahun 2014 menyebutkan bahawa pengetahuan tentang bagaimana

wanita diskrining IVA berhubungan dengan rendahnya cakupan IVA ( OR:

0,53 CI: 0,68-0,77) seperti ketakutan screening akan mengungkap kanker (OR:

0,7). Peserta/sample berpikir bahwa yang harus mendapatkan screening adalah

wanita yang sudah memiliki gejala CA servix (OR: 2,21 ; 95% CI 1,24-3,93).7

Hasil penelitan yang dilakukan oleh Zewdie Mulissa Dekissa di Negara

Ethiopia tahun 2013 yaitu klien yang memulai hubungan seksual kurang dari

16 tahun 2,2 kali (AOR [95% CI] 2.2 [1.1, 4.3]) lebih cenderung memiliki VIA

positif dibandingkan dengan mereka yang memulai hubungan seksual pada

usia 16 atau lebih tahun.8

Berdasarkan cara produksinya media promosi kesehatan dikelompokan

menjadi 3 jenis yaitu media cetak, media elektronika, dan media luar ruangan.

Media cetak salah satunya poster,leaflet,brosur. Contoh dari media elektronika


adalah TV, Radio, Film dan video film. Sementara contoh media luar ruang

yaitu papan reklame, spanduk, Banner dan Pameran. Media elektronika yaitu

suatu media bergerak, dinamis dapat dilihat dan didengar dalam

menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronika 4

Upaya preventif dan promotif sangat diperlukan untuk menguragi angka

kesakitan dan kematian akibat kanker. Kementrian Kesehatan

mengembangkan program skrining kanker serviks dengan pendekatan

komprehensif dilakukan melalui IVA yang dilaksanakan di Puskesmas dengan

rujukan ke rumah sakit kabupaten/kota dan rumah sakit provinsi sejak tahun

2007 (Kemenkes RI,2015).

Efektivitas penggunaan media penyuluhan sangat ditentukan oleh

banyaknya indra penerimaan yang terlibat. Semakin banyak yang digunakan

penyampaian pesan akan semakin dimengerti. Media audiovisual merupakan

media yang efektif karena media audiovisual dapat memberikan informasi

secara jelas melalui gambar dan suara. Hal ini sejalan dengan teori yang

menyebutkan bahwa film sebagai suatu media audiovisual memungkinkan

sinyal audio dapat dikombinasikan dengan gambar bergerak. Film dapat

mempermudah penerimaan informasi. tingkat retensi (daya serap dan daya

ingat) peserta didik terhadap materi pembelajaran dapat meningkat secara

signifikan jika proses perolehan informasi melalui indera pendengaran dan

penglihatan (visualisasi). Menurut penelitian, indera paling banyak

menyalurkan pengetahuan ke dalam otak adalah mata. Kurang lebih 75%

sampai 87% dari pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan 13%

sampai 25% dari pengetahuan diperoleh melalui indera lain. Informasi

merupakan kondisi pertama untuk suatu sikap. Bila berdasarkan informasi itu
timbul perasaan positif atau negatif terhadap objek dan menimbulkan

kecenderungan untuk bertingkahlaku tertentu maka terjadilah sikap

(Notoatmodjo, 2007).

Teori diatas sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Handayani

Lestari tahun (2010) menunjukan hasil bahwa terdapat pengaruh yang

signifikan dari pendidikan kesehatan melalui media audiovisual terhadap

perubahan sikap seseorang (nilai p<0,05). Pada penelitian tersebut menyatakan

bahwa media audiovisual merupakan media yang efektif dan dapat

meningkatkan sikap seseorang (Handayani, 2010).

Penelitian oleh Ayu Ulfah dkk di Padangsipuan Selatan pada tahun 2015

diketahui bahwa terjadi perubahan nilai rata-rata pengetahuan sebelum

diberikan media leaflet dengan sesudah diberikan media leaflet yaitu 10,23

menjadi 14,30 dengan nilai p = 0,001 (p<0,05), maka dapat disimpulkan bahwa

ada pengaruh media leaflet terhadap pengetahuan responden tentang kanker

serviks. Selanjutnya terjadi perubahan nilai rata-rata pengetahuan sebelum

diberikan media pemutaran film dengan sesudah diberikan media pemutaran

film yaitu 10,20 menjadi 15,40 dengan nilai p=0,001 (p<0,05), maka dapat

disimpulkan bahwa ada pengaruh diberikan media pemutaran film terhadap

pengetahuan tentang kanker serviks.9

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nurseto (2011) yaitu pada

pendidikan kesehatan masyarakat dikenal media pendidikan di antaranya film.

Film merupakan media audiovisual yang sangat efektif sebab karakteristik film

yang dapat menyajikan gambar bergerak disamping suara yang menyertainya

yang dapat mempengaruhi sikap seseorang (Nurseto, 2011).


Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk mengetahui “Pengaruh

pemberian video terhadap pengetahuan kanker serviks dan sikap Pasangan

Usia Subur (PUS) terhadap pemeriksaan IVA di Kecamatan Pundong

Kabupaten Bantul Tahun 2018”.

B. Rumusan Masalah

Telah dilaporkan bahwa prevalensi IVA pada PUS di Kabupaten Bantul

tahun 2017 yaitu sebesar 1,05% , sejalan dengan laporan tersebut angka

cakupan IVA di Bantul lebih rendah daripada 3 Kabupaten yang ada di

Provinsi Yogyakarta. Padahal insidensi kanker serviks di Provinsi Yogyakarta

tertinggi ditempati oleh Kabupaten Bantul yaitu sebanyak 1.355 kasus.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Elkanah Omenge dkk di Kenya

pada tahun 2014. Pengetahuan tentang bagaimana wanita diskrining IVA

berhubungan dengan rendahnya cakupan IVA ( OR: 0,53 CI: 0,68-0,77) seperti

ketakutan screening akan mengungkap kanker (OR: 0,7).7 Salah satu media

yang efektif dalam penyerapan materi adalah video karena 82% melibatkan

panca indra pengelihatan dan 11% panca indra pendengaran. Maka pertanyaan

penelitian ini “Bagaimana pengaruh pemberian video terhadap pengetahuan

kanker serviks dan sikap pasangan usia subur (PUS) terhadap deteksi dini

kanker leher rahim di Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul Tahun 2018?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh pemberian video terhadap pengetahuan PUS

mengenai kanker serviks dan sikap PUS dalam melakukan deteksi dini

kanker serviks dengan menggunakan metode IVA di Kecamatan Pundong

Kabupaten Bantul tahun 2018.


2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui gambaran karakteristik Wanita Usia Subur (WUS)

berdasarkan usia, paritas, tingkat pendidikan, dan pekerjaan di desa

Pundong , Kabupaten Bantul Tahun 2018.

b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan kanker serviks pada PUS di

Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul 2018.

c. Untuk mengetahui sikap PUS dalam melakukan penapisan kanker

serviks dengan metode Inspeksi Visual dengan Asam asetat (IVA)

sebelum diberikan video di Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul

Tahun 2018.

D. Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah ilmu kesehatan reproduksi,

khususnya mengenai penapisan kanker serviks dengan lingkup keilmuan

kebidanan. Kesehatan Reproduksi yang dimaksud meliputi kanker serviks dan

penapisan kanker serviks. Deteksi dini kanker leher rahim termasuk upaya

preventif metode deteksi tersebut salah satunya yaitu IVA dan Pap smear.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Dapat menambah ilmu dalam mendukung teori tentang dukungan suami

terhadap perilaku wanita usia subur untuk melakukan deteksi dini kanker

leher rahim.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Kepala Puskesmas

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dan

dalam pembuatan kebijakan dan diharapkan dapat meningkatkan


pelayanan program promosi kesehatan sebagai upaya promotif

khususnya dalam deteksi dini kanker serviks pada Wanita Usia Subur

(WUS) di wilayah kerja Puskesmas Pundong.

b. Bagi Bidan Puskesmas

Dapat digunakan sebagai acuan dalam promosi kesehatan sebagai

upaya promotif dan preventif dengan mempertimbangkan aspek

dukungan suamiterhadap perilaku wus dalam melakukan deteksi dini

kanker leher rahim.

c. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber rujukan dan acuan dalam

melaksanakan penelitian yang relevan dengan topik penelitian ini.

F. Keaslian Penelitian

No Peneliti/Tahun/ Tujuan Penelitian Desain Hasil penelitian


Tempat penelitian
1. Elkanah -memahami Penelitian ini -Pengetahuan
Omenge faktor-faktor termasuk jenis tentang bagaimana
Orang’o dkk/ yang penelitian wanita diskrining
2014 Factors berhubungan observasional IVA berhubungan
Associated with dengan metode dengan rendahnya
Uptake of penyerapan crossectional cakupan IVA ( OR:
Visual terbatas layanan 0,53 CI: 0,68-0,77)
Inspection with skrining dalam seperti ketakutan
Acetic Acid program kanker screening akan
(VIA) for skrining serviks mengungkap
Cervical kami di Kenya kanker (OR: 0,7)
Cancer Barat.
Screening in
Western Kenya
2 Ida Tri dkk / Penelitian ini Penelitian ini Sebagian besar
2018/ Tingkat bertujuan untuk termasuk jenis (52,44%) Wanita
Pengetahuan mengetahui penelitian Usia Subur (WUS)
Tentang tingkat observasional dengan usia >35
Penapisan pengetahuan PUS metode tahun, pendidikan
Kanker Servik mengenai deteksi crossectional menengah
dengan Metode dini kanker leher sebanyak 60,98%
Inspeksi Visual rahim dengan dan sebagian besar
Dengan Asam menggunakan (51,22%.) WUS
Asetat (IVA) metode IVA. bekerja. WUS
pada Wanita sebagian besar
Usia Subur (52,44%) memiliki
(WUS) di tingkat
Dusun Grudo pengetahuan cukup.
Desa
Panjangrejo
Kecamatan
Pundong
Kabupaten
Bantul Tahun
2018

3. Lestari Penelitian ini Jenis Penelitian - terdapat


Handayani dkk bertujuan unuk Eksperimen perbedaan nilai
/ 2010 / mengetahui metode kuasi pengetahuan yang
Pengaruh pengaruh eksperimen bermakna antara
Model pemberian video sebelum dan
Pembelajaran terhadap sesudah intervensi
Kesehatan pengetahuan dan pada siswa di Kota
menggunakan sikap siswa Malang (P = 0,000)
Multimedia terhapad PJK dan Yogyakarta (P
Terhadap = 0,000)
Perubahan -Terdapat
Pengetahuan pengaruh yang
dan Sikap siswa signifikan dari
SLTP Terkait pendidikan
Faktor Risiko
kesehatan melalui
Penyakit
media audiovisual
Jantung
Koroner
terhadap
perubahan sikap
seseorang (nilai
p<0,05).
4 Ayu Ulfah Nur Mengetahui Jenis Penelitian -Pada kontrol
Lubis dkk / bagaimana Eksperimen terjadi perubahan
2015 / pengaruh metode kuasi nilai rata-rata
Pengaruh media pemberian leaflet eksperimen pengetahuan pada
leaflet dan film dan film terhadap pengukuran I dan
terhadap pengetahuan dan pengukuran II yaitu
pengetahuan partisipasi dalam 8,63 menjadi 10,60
tentang kanker deeksi dini dengan nilai
serviks dan p<0,085, maka
partisipasi dapat disimpulkan
wanita dalam bahwa tidak ada
deteksi perbedaan
dinikanker pengetahuan
serviks di tentang kanker
Kamoung serviks pada
Derek pengukuran I dan
Kecamatan pengukuran II. -
Padangsidempu Pada kontrol
an Selatan pada diketahui bahwa
tahun 2015 terdapa penigkatan
rata-rata partisipasi
pada pengukuran I
dan pengukuran II
yaitu 1,70 menjadi
2,43 dengan nilai
p= 0,001 (p<0,05),
maka dapat
disimpulkan bahwa
tidak ada perbedaan
partisipasi
pemeriksaan kanker
serviks pada
pengukuran I dan
pengukuran II