Anda di halaman 1dari 2

Strategi Penghematan Pajak Melalui Pemilihan Bentuk Usaha

A. Pendahuluan
Tujuan perencanaan pajak yang baik adalah memberikan keuntungan sebesar-
besarnya kepada investor agar return on investment yang diperoleh semakin tinggi.
Entitas hukum bisnis di Indonesia yang diakui UU Perpajakan adalah:
1. Perseroan Terbatas (PT), Koperasi, dan Yayasan
2. Persekutuan (Firma, CV, Kongsi)
3. Perseorangan
Dilihat dari aspek legalitasnya, Perseroan Terbatas (PT), Koperasi, dan Yayasan,
adalah entitas berbadan hukum (karena ada pengesahan pemerintah yakni Menteri
Kehakiman dan HAM atas pendirian dan anggaran dasarnya) sedangkan Persekutuan
(Firma, CV, Kongsi) dan Perseorangan tidak berbadan hukum.
B. Usaha Perseroan Terbatas
Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum yang
merupakan persekutuan modal yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan
usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dalam UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
Ilustrasi perhitungan pajak Perseoran PT dapat kita lihat berikut ini:
Income Tahun 2013 Rp 60.000.000.000
COGS Rp 58.800.000.000
Gross Income Rp 1.200.000.000
Operating Expenses Rp 500.000.000
Net Income Before Tax Rp 700.000.000
Corporate Tax (PPh Badan) 25% Rp 175.000.000
Net Income After Tax Rp 525.000.000
Pada saat penghasilan tersebut ditransfer ke pemegang saham sebagai dividen, maka
atas pembagian tersebut akan dikenakan pajak lagi sebesar 10% (PPh Final untuk WPOP),
sebagai berikut:
Net Income After Tax Rp 525.000.000
Pajak atas Dividen 10% (PPh Final) Rp 52.500.000
Return yang diterima pemegang Saham Rp 472.500.000
% Beban Pajak (Total Tax/Net Income) (Rp 175.000.000+Rp 52.500.000):
Rp 700.000.000 x 100% = 32,5%
Dengan demikian, secara total investor WPOP akan terbebani pajak keuntungan yang
diperoleh dari badan usaha PT tersebut sebesar 32,5%.
C. Usaha Persekutuan (CV, Firma, Kongsi)
Dalam literatur hukum, kita tahu ada 3 (tiga) macam perkumpulan bukan badan
hukum yaitu Persekutuan Perdata, Firma, dan CV. Pengaturan pajak CV diatur dalam
pasal 6 dan pasal 4 ayat 3 huruf i Undang-Undang PPh. Berbeda dengan PT, pengenaan
pajak CV hanya dikenakan sekali pada level net income Perseoran. Ketika didistribusikan
kepada pemegang saham tidak dikenakan pajak dividen lagi.
Dengan asumsi yang sama seperti contoh sebelumnya. Pada saat penghasilan tersebut
ditransfer ke pemegang saham sebagai dividen, maka atas pembagian tersebut tidak akan
dikenai pajak lagi sebagai berikut:
Net Income After Tax Rp 525.000.000
Pajak atas Dividen 10% Rp 0
Return yang Diterima Share Holder Rp 525.000.000
% Beban Pajak (Total Tax/Net (175 juta: 700 juta) x 100% = 25%
Income)
Dengan demikian, secara total, investor akan terbebani pajak keuntungan yang
diperoleh dari badan usaha Firma/CV tersebut sebesar 25%
D. Usaha Perseorangan
Bentuk badan hukum perseorangan dapat berupa wartel, salon, rumah makan, usaha
dagang (UD), waralaba, dan masih banyak lagi. Ada beberapa perbedaan dalam
menghitung pajak perseorangan dengan pajak perseroan, antara lain:
a. Dalam perhitungan pajak perseorangan, ada beberapa faktor pengurang seperti
penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dan biaya jabatan yang dalam perhitungan pajak
Perseroan faktor tersebut tidak ada dalam ketentuannya.
b. Terdapat pembedaan tax rate dan lapisan penghasilan kena pajak (taxable income
bracket) antara PPh Perseorangan dengan Pajak Penghasilan Badan, di mana PPh
Perseorangan menggunakan tarif progresif dari lapisan tarif 5% hingga tarif
maksimum 30%, sedangkan Pajak Penghasilan Badan menggunakan tarif tunggal
25%.
E. Usaha Koperasi
Koperasi adalah badan usaha yang mengorganisasi pemanfataan dan pendayagunaan
sumber daya ekonomi para anggotanya atas dasar prinsip-prinsip koperasi dan kaidah
usaha ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup anggota pada khususnya dan masyarakat
daerah kerja pada umumnya, dengan demikian koperasi merupakan gerakan ekonomi
rakyat dan sokoguru perekonomian nasional (PSAK No. 27). (IAI, SAK Per 1 Juli 2009)
Ilustrasi perhitungan pajak koperasi dapat kita lihat berikut ini:
Income Tahun 2013 Rp 60.000.000.000
COGS Rp 58.800.000.000
Gross Income Rp 1.200.000.000
Operating Expenses Rp 500.000.000
Net Income Before Tax Rp 700.000.000
Corporate Tax (PPh Badan) 25% Rp 175.000.000
Net Income After Tax Rp 525.000.000
Dalam kententuan perpajakan, sesuai pasal 17 UU No. 7 Tahun 1983 yang telah
diubah terakhir kali dengan UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, pajak
koperasi dikenakan pada level net income sebelum pembagian SHU perusahaan kepada
anggota koperasi.
F. Usaha Organisasi Nirlaba (Yayasan)
Karakteristik organisasi atau lembaga nirlaba berbeda dengan organisasi bisnis.
Perbedaan utama terletak pada cara organisasi memperoleh sumber daya yang dibutuhkan
untuk melakukan berbagai aktivitas operasinya. Organisasi nirlaba memperoleh sumber
daya dari sumbangan para anggota dan para penyumbang lain yang tidak mengharapkan
imbalan apapun dari organisasi tersebut (IAI, SAK Per 1 Juli 2009).
Yayasan adalah salah satu bentuk badan hukum entitas bisnis yang cukup banyak
digunakan di Indonesia, yang didirikan dengan payung hukum UU No. 16 Tahun 2001
Tentang Yayasan. Ada beberapa macam jenis yayasan, di antaranya: (1) yayasan
pendidikan, (2) yayasan keagamaan dan sosial, (3) yayasan kesehatan, dan (4) yayasan
bidang penelitian dan pengembangan.
Sebagaimana pada bentuk badan usaha lainnya, pada prinsipnya yayasan dapat
melakukan kegiatan di hampir semua bidang usaha, sehingga atas penghasilan yayasan
yang disebut juga dengan Sisa Hasil Usaha (SHU) merupakan objek pajak penghasilan
yang dikenai tarif PPh Badan dan dengan tarif tunggal 28% (Tahun 2009) dan tarif 25%
(Tahun 2010 dan seterusnya). Pengakuan penghasilan maupun biaya pada yayasan sama
dengan badan usaha lainnya.