Anda di halaman 1dari 16

Manajemen Keuangan

“Capital Budgeting Techniques”


Dosen pembimbing:
Haris Sunarto

Disusun Oleh:
1. Vinsensius Maharya 1712321062
2. Aqiel Hermansyah 1712321047
3. Gunadi Adiguna 1712321081

UNIVERSITAS BHAYANGKARA
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Surabaya
2018

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah yang Capital Budgeting .

Dalam penulisan makalah ini kami banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
penulisan makalah ini.

kami sadar bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Hal itu di karenakan
keterbatasan kemampuan dan pengetahuan kami. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita.

Akhir kata, kami memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak
kesalahan.

Surabaya, 05 Desember 2018

Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di sebagian besar perusahaan, capital budgeting adalah salah satu sumber utama
keuntungan perusahaan tersebut. Karena dengan adanya capital budgeting mereka dapat
menghitung tingkat keuntungan yang akan mereka dapatkan pada jangka panjangnya
Penganggaran modal adalah istilah yang sering kita dengar pada saat berhubungan dengan
uang. Tapi seringkali istilah penganggaran modal disalah tafsirkan sebagai alat untuk menghitung
keuntungan saja, padahal penganggaran modal (capital budgeting) bukan hanya sekedar itu saja.
Maka dari itu kita harus memahami betul pengertian dari penganggaran modal (capital budgeting)
agar penafsiran tidak hanya terbatas pada mencari keuntungan saja tetapi melakukan keputusan
investasi yang akan berdampak bagus pada jangka panjang maupun jangka pendek bagi perusahaan.
Di suatu perusahaan, seorang manajer keuangan harus paham betul dengan capital budgeting ini
sebab seorang manajerlah yang akan memutuskan investasi atau penanam modal ini dapat
diinvestasikan agar berdampak baik pada perusahaan.

1.2Rumusan Masalah
1.2.1 Pengertian Capital Budgeting ( Penganggaran Modal )

1.2.2 Payback Period

1.2.3 Overview Of Capital Budgetinh Techniques

1.2.4 Net Present Value (NPV)

1.2.5 Comparing NPV & IRR Techniques

1.2.6 Internal Rate Of Return (IRR)

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui Pengertian Capital Budgeting ( Penganggaran Modal )

1.3.2 Untuk mengetahui seberapa Pentingnya Capital Budgeting

1.3.3 Untuk mengetahui pembagian Klasifikasi Proyek

1.3.4 Untuk mengetahui bagaimana Tahapan Capital Budgeting

1.3.5 Untuk mengetahui cara Proses Capital Budgeting

1.3.6 Untuk mengetahui tentang Post Audit


1.4. Manfaat

Setelah membaca dan mempelajari makalah ini, diharapkan agar pembaca dapat lebih
mengetahui dan memahami apa itu capital budgeting dan apa pentingnya bagi sebuah
perusahaan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Capital Budgeting ( Penganggaran Modal ).

Penganggaran Modal ( Capital Budgeting ) Istilah penganggaran modal digunakan untuk


melukiskan tindakan perencanaan dan pembelanjaan pengeluaran modal, seperti untuk pembelian
equipmen baru untuk memperkenalkan produk baru, dan untuk memodernisasi fasilitas pabrik.

Penganggaran Modal ( Capital Budgeting ) adalah Suatu Konsep Investasi Dikatakan sebagai
suatu konsep investasi, sebab penganggaran modal melibatkan suatu pengikatan (penanaman) dana
di masa sekarang dengan harapan memperoleh keuntungan yang dikehendaki di masa mendatang.
Investasi membutuhkan dana yang relatif besar dan keterikatan dana tersebut dalam jangka waktu
yang relatif panjang, serta mengandung resiko.

Capital Budgeting adalah merupakan proses evaluasi dan pemilihan investasi jangka
panjang yang konsisten terhadap maksimalisasi tujuan perusahaan. DefinisiCapital Budgeting
“Capital Budgeting is the Process of evaluating and selecting long-term invesmentsconsistents with
the firm’s goal of owner wealth maximization”. Penganggaran modal (Capital Budgeting) adalah
proses kegiatan yang mencakup seluruh aktivitas perencanaan penggunaan dana dengan tujuan
untuk memperoleh manfaat (benefit) pada waktu yang akan datang. Penganggaran modal berkaitan
dengan penilaian aktivitas investasi yang diusulkan. Aktivitas suatu investasi ditujukan untuk
mencapai tujuan yang diharapkan selama periode tertentu di waktu yang akan datang, yang
mempunyai titik awal (kapan investasi dilaksanakan) dan titik akhir (kapan investasi akan berakhir).

Investasi adalah pengkaitan sumber-sumber dalam jangka panjang untuk menghasilkan


laba dimasa yang akan datang. Dalam penggantian atau pembahasan kapasitas pabrik misalnya :
dana yang sudah ditanamkan akan terikat dalam jangkawaktu yang panjang, sehingga perputaran
dana tersebut kembali menjadi uang tunai tidak dapat terjadi dalam waktu satu atau dua tahun,
tetapi dalam jangka waktu yanglama..

Sebagai konsekuensinya, perusahaan membutuhkan prosedur tertentu untuk menganalisa


dan menyeleksi beberapa alternatif investasi yang ada. Keputusan mengenai investasi tersebut sulit
dilakukan karena memerlukan penilaian mengenai situasi dimasa yang akan datang, sehingga
dibutuhkan asumsi-asumsi yang mendasari estimasi terhadap situasi yang paling mendekati yang
mungkin terjadi, baik situasi internal maupun eksternal perusahaan. Investasi tersebut harus
dihitung sesuai dengan cash flow perusahaan dan harus merupakan keputusan yang paling tepat
untuk menghindari resiko kerugian atas investasi tersebut. “As time passes, fixed assets may become
obselete or may require an overhaul; at these points, too, financial decisions may be required”.
Perusahaan biasanya membuat berbagai alternative atau variasi untuk berinvestasi dalam jangka
panjang, yakni berupa penambahan asset tetap seperti tanah, mesin dan peralatan. Aset tersebut
merupakan aset yang berpotensi, yang merupakan sumber pendapatan yang potensial dan
mencerminkan nilai dari sebuah perusahaan.Capital budgeting dan keputusan keuangan
diperlakukan secara terpisah. Bila investasi yang diajukan telah ditentukan untuk diterima, manager
keuangan kemudian memilih metoda pembiayaan yang paling baik.
2.2 Pentingnya Capital Budgeting Techniques
1. Keputusan Capital Budgeting akan berpengaruh pada jangka waktu yang lama sehingga akan
kehilangan fleksibilitasnya

Contoh pembelian sebuah aktiva yang memiliki umur ekonomis 10 tahun akan mengunci perusahaan
selama periode 10 tahun, karena perluasan aktiva didasarkan atas penjualan yang diharapkan dimasa
depan. Maka keputusan untuk membeli sebuah aktiva yang akan habis dalam jangka waktu 10 tahun
membutuhkan perencanaan penjualan selama 10 tahun. Akhirnya keputusan penganggaran modal
akan menentukan arah strategis perusahaan karena perusahaan bergerak ke arah produk, jasa atau
pasar baru yang harus didahului dengan pengeluaran modal.

2. Penanggaran modal yg efektif akan menaikkan ketepatan waktu dan kualitas dari penambahan
aktiva

Contoh perusahaan berusaha beroperasi mendekati kapasitas sepanjang waktu , selama 4 tahun, PT
A telah mengalami permintaan secara besar-besaran secara tiba-tiba yang bersifat tidak rutin
sehingga perusahaan terpaksa menolak permintaan tersebut. Oleh karena itu PT A merecanakan
untuk menambah kapasitas produksi dengan menyewa gedung tambahan dan membeli peralatan
produksi yang baru yang diperlukan untuk kegiatan produksi, untuk itu diperlukan waktu 6-8 bulan
agar kapasitas produksi dapat digunakan , namun pada saat itu perminttan mulai menurun, karena
perusahaan lain mempunyai kapasitas yang mencukupi. PT A mulai merencanakan meramalkan
permintaan secara tepat dan merencanakan kebutuhan kapasitasnya satu tahun sebelumnya atau
lebih maka perusahaan mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan pangsa pasar.

3. Pengeluaran Modal sangatlah Penting

Perusahaan dalam mencukupi semua kebutuhan yang diperlukan dalam kegiatan produksi,
perusahaan harus mempunyai dana yang cukup dan memadai karena untuk mencukupi semua
kebutuhan perusahaan mengeluarkan dana yang besar. Jumlah uang yang besar yang dikeluarkan
perusahaan tidak dapat tersedia secara otomatis oleh karena itu, Untuk mencukupi itu semua
perusahaan harus memikirkan program pengeluaran modal yang besar dengan merencanakan
membuat capital budgeting dana jauh-jauh hari sebelum dana itu tersedia.

2.3 Klasifikasi Proyek


Menganalisis usulan pengeluaran modal bukanlah pekerjaan yang gratis-analisis ini
memang bermanfaat tetapi juga membutuhkan biaya yang sangat besar. Untuk jenis proyek tertentu
analisis yang terinci relative lebih terjamin, sementara untuk yang lainnya harus digunakan prosedur
yang lebih sederhana. Perusahaan biasanya mengkategorikan proyek dan kemudian menganalisis
dalam setiap kategori dengan cara yang berbeda

1. Penggantian : pemeliharaan bisnis


Kategori ini terdiri dari pengeluaran untuk mengganti peralatan yang usang atau rusak yang
digunakan dalam membuat produksi yang menguntungkan. Proyek penggantian ini diperlukan jika
perusahaan ingin melanjutkan usahanya. Isu satu-satunya disisni adalah

a. Apakah operasi ini harus dilanjutkan?,


b. haruskah kita melanjutkan pengguankan proses produksi yang sama?
Pada umumnya jawabannya adalah YA, sehingga keputusan pemeliharaan dibuat tanpa melalui
proses keputusan yang rumit

2. Penggantian : pengurangan biaya


Kategori ini termasuk pengurangan untuk mengganti peralatan yang usang, tujuannya adalah untuk
menurunkan biaya tenaga kerja, bahan dan input lannya seperti listrik. Keputusan ini adalah
bijaksana dan secara wajar biasanya menggunakan analisis terperinci

3. Ekspansi produk atau pasar yang ada


Kategori ini termasuk pengeluaran untuk meningkatkan output produk yang sudah ada, atau
memperluas outlet ritel atau fasilitas distribusi dalam pasar yang sekarang dilayani. Keputusan ini
lebih kompleks karena memerlukan peramalan eksplisit tentang pertumbuhan permintaan

4. Ekspansi kedalam produk atau pasar baru


Kategori ini investasi untuk menghasilkan produk baru atau untuk memperluas ke daerah geografi
yang saat ini tidak terlayani. Proyek ini melibatkan keputusan startegis yang dapat mengubah sifat
mendasar bisnis dan biasanya membutuhkan pengeluaran uang dalam jumlah besar dan
pengembalian uang yang lebih lambat. Dalam proyek ini selalu diperlukan analisis yang terperinci
dan keputusan akhir biasanya dibuat oleh pihak direksi sebagai bagian dari rencana strategis
perusahaan

5. Proyek pengamanan dan atau lingkungan


Kategori ini meliputi pengeluaran yang diperlukan untuk memenuhi permintaan pemerintah,
perjanjian tenaga kerja atau polis asuransi. Pengeluaran ini disebut investasi wajib dan
biasanya menyangkut proyek tanpa pendapatan. Bagaimana mereka menangani proyek ini
tergantung pada ukurannya.

6. Lainnya
Kategori ini termasuk gedung perkantoran, tempat parkir, dan sebagainya, bagaimana kategori ini
ditangani bervariasi diantara perusahaan.

2.4 Tahap – tahap Capital Budgeting


1. Biaya proyek harus ditentukan

2. Manajemen harus memperkirakan aliran kas yg diharapkan dari proyek, termasuk nilai akhir aktiva
3. Risiko dari aliran kas proyek harus diestimasi. (memakai distribusi probabilitas aliran kas)
4. Dengan mengetahui risiko dari proyek, manajemen harus menentukan biaya modal (cost of capital)
yg tepat untuk mendiskon aliran kas proyek
5. Dengan menggunakan nilai waktu uang, aliran kas masuk yang diharapkan digunakan untuk
memperkirakan nilai aktiva.
6. Terakhir, nilai sekarang dari aliran kas yg diharapkan dibandingkan dengan biayanya

2.5 Proses Capital Budgeting


Proses Capital Budgeting terdiridari 5 langkah yang salingberkaitan, yakni:

1. Pembuatan Proposal Anggaran Dana


Proposal penganggaran barang modal dibuat di semua tingkat dalam sebuah organisasi bisnis. Untuk
menstimulasi aliran berbagai ide, banyak perusahaan menawarkan penghargaan berupa uang tunai
untuk beberapa proposal yang diadopsi.

2. KajiandanAnalisa
Proposal penganggaran barang modal secara formal direview dalam rangka (a) mencapai tujuan dan
rencana utama perusahaan dan yang paling penting (b) untuk mengevaluasi kemampuan
ekonominya.

Biaya yang diajukan dan benefit yang diestimasikan dikonversikan menjadi sebuah cash flow yang
sesuai. Bermacam-macam teknik capital budgeting dapat diaplikasikan untuk cash flow tersebut
untuk menghitung tingkat keuntungan dari investasi.

Berbagai macam aspek resiko diasosiasikan dengan proposal yang akan dievaluasi. Setelah analisis
ekonomi telah dibuat lengkap, diiringi dengan data tambahan dan rekomendasi yang ditujukan untuk
para pengambil keputusan.

3. PengambilanKeputusan
Besarnya sejumlah dana yang dikeluarkan dan pentingnya penganggaran barang modal
menggambarkan tingkat organisasi tertentu yang membuat keputusan penganggaran. Perusahaan
biasanya mendelegasikan kewenangan penganggaran barang modal sesuai dengan jumlah uang yang
dikeluarkan. Secara umum jajaran direksi memberikan keputusan akhir untuk sejumlah tertentu
penganggaran barang modal yang dikeluarkan.

4. Implementasi
Ketika sebuah proposal telah disetujui dan dananya telah siap, tahap implementasi segera dimulai.
Untuk pengeluaran yang kecil, penganggaran dibuat dan pembayaran langsung dilaksanakan. Namun
untuk penganggaran dalam jumlah besar, dibutuhkan pengawasan yang ketat.

5. Follow Up (tindaklanjut)
Setelah diimplementasikan maka perlu dilakukan monitoring selama tahap kegiatan operasi berjalan
dari proyek tersebut. Perbandingan dari biaya yang ada dan keuntungan yang diekspektasikan dari
berbagai proyek sebelumnya adalah sangat vital. Ketika biaya yang dikeluarkan melebihi anggaran
biaya yang ditetapkan, harus segera dilakukan tindakan untuk menghentikannya, apakah dengan
meningkatkan benefit atau mungkin menghentikan proyek tersebut.

Setiap langkah dalam proses tersebut penting dilakukan terutama pada langkah kajian dan analisa,
maupun pengambilan keputusan (langkah 2 dan 3) yang membutuhkan waktu dan tenaga yang
paling besar. Langkah terakhir yakni follow up juga penting namun sering diabaikan. Langkah
tersebut dilakukan untuk menjaga perusahaan untuk dapat meningkatkan akurasi cash flow yang
diestimasi.

2.6 Post Audit


Aspek penting dari proses capital budgeting adalah post audit yang melibatkan
a. Perbandingan hasil aktual dengan hasil yang diprediksikan oleh sponsor proyek
b. Penjelasan mengapa setiap perbedaan ini terjadi

Post audit memiliki 2 tujuan utama yaitu


a. Memperbaiki Ramalan
Ketika pengambilan keputusan dipaksa membandingkan proyeksi mereka terhadap hasil aktual ada
kecenderungan agar estimasi diperbaiki. Bias yang disengaja atau tidak disengaja akan diobservasi
dan dieliminasi , metode peramalan yang baru dilihat sebagai kebutuhan dan orang-orang cenderung
untuk berbuat lebih baik termasuk membuat ramalan, jika mereka mengetahui bahwa tindakannya
dimonitor
b. Meningkatkan operasi
Perusahaan dijalankan oleh manusia dan mereka yang dapat melaksanakan pada tingkat efisiensi
yang lebih tinggi atau lebih rendah. Apabila mengenai investasi maka para anggota mempertaruhkan
reputasinya pada lini ini. Jika biaya berada diatas yang diperkirakan maka penjualan akan berada
dibawah yang diharapkan dan sebaliknya, eksekutif terdorong untuk meningkatkan operasi dan
memberikan hasil mendekati yang diramalkan.

2.7 Peraturan Keputusan Penganggaran Modal


Ada 5 metode yang dapat digunakan untuk memberi peringkat proyek dan memutuskan apakah
suatu proyek itu harus diterima atau di tolak, dan dimasukkan ke dalam anggaran modal atau tidak.
Beberapa metode penilaian itu antara lain :

 Pemulihan (payback)

 Pemulihan yang didiskontokan

 Nilai sekarang bersih ( NPV )

 Tingkat pengembalian internal ( IRR )

 Tingkat pengembalian internal yang dimodifikasi ( MIRR )

2.7.1 Periode pemulihan ( Payback ) dan Pemulihan yang di Diskontokan


Metode ini didefenisikan sebagai ekspetasi jumlah tahun yang diperluakan untuk menutupi
investasi awal, dan merupakan metode formal pertama yang digunakan untuk mengevaluasi proyek
penganggaran modal.

Payback =Tahun sebelum penutupan penuh +

Semakin pendek periode pemulihan, maka semakin baik. Dalam metode ini, apabila
perushaan sudah mendapatkan hasil analisinya, maka harus ada pemilihan terhadap proyek yang
akan dipilih. Mutually exclusive berarti, jika satu proyek diplih, maka yang lainnya harus ditolak.
Sedangkan proyek independen merupakan proyek dimana arus kasnya tidak bergantung satu dengan
yang lainnya.

Beberapa perusahaan menggunakan suatu varian pemulihan reguler, yaitu periode pemulihan
yang didiskontokan, yang mana hal ini juga serupa dengan periode pemulihan secara reguler, kecuali
bahwa arus kas yang diharapkan didiskontokasn dengan biaya modal proyek. Jadi, periode
pemulihan yang didiskontokan didefenisikan sebagai jumlah tahun yang dibuthkan untuk menutup
investasi dari arus kas bersih yang didskontokan.
Pada pemulihan ( payback ) adalah jenis perhitungan “impas” ( breakeven ), yang mana artinya
adalah jika arus kas masuk berada pada tingkat yang diharapkan sampai tahun pemulihan, maka
proyek itu akan impas.

Pada pemulihan secara reguler, tidak memperhitungkan adanya biaya modal, tidak ada biaya
utang atau ekuitas yang digunakan untuk menjalankan proyek tercermin dalam arus kas satau
perhitungan. Pemulihan yang didiskontokan memperhitungkan biaya modal, hal ini memperlihatkan
tahun impas setelah tertutupnya biaya utang dan ekuitas.

Kelemahan utama dari metode ini adalah bahwa metode ini mengabaikan arus kas yang
dibayarkan atau yang diterima setelah periode pemulihan. Walaupun metode tersebut memiliki
beberapa kesalahan, namun metode tersebut memberikan informasi tentang berapa lama dana
akan terikat dalam proyek.

Jadi, semakin pendek periode pemulihan, sementara yang lain dianggap konstan, semakin
besar likuiditas proyek. Arus kas yang diharapkan dalam jangka panjang umumnya lebih berisisko
daripada arus kas jangka pendek, maka pemulihan seringkali digunakan sebagai salah satu indikator
dari tingkat risiko proyek.

2.7.2 Nilai Sekarang Bersih (NPV)

Setelah kelemahan metode pemulihan, maka ada metode lain yang di jadikan sebagai alternatif
pilihan dalam mengevaluasi keefektifan proyek. Salah satu metode seperti itu adalah metode nilai
sekarang bersih (net present value = NPV ), dimana metode ini mengandalkan pada teknik arus kas
yang didiskontokan ( discounted cash flow ). Beberapa proses dalam teknik ini antara lain :
 Tentukan nilai sekarang dari setiap arus kas, termasuk arus kas masuk dan arus kas keluar, yang
didiskontokan pada modal proyek.
 Jumlah arus kas yang didiskontokan ini merupakan hasil sebagai NPV proyek.
 Jika NPV adalah positv, maka proyek harus diterima, sementara jika negativ, maka proyek tersebut
harus di tolak.
Persamaan untuk NPV ini adalah:
NPV=CF0+ =

NPV = net present value


CF = arus kas bersih yang di harapkan
t = periode waktu yang ditentukan
k = biaya modal proyek
n = umur proyek
Alasan yang rasional untuk menggunakan metode ini adalah kejelasan yang disediakan oleh
metode ini. NPV sebesar nol menyiratkan bahwa arus kas proyek sudah mencukupi untuk membayar
kembali modal yang diinvestasikan dan memberikan tingkat pengembalian yang dibutuhkan
atas modal.
Apabila NPV yang dihasilkan positiv, maka proyek tersebut akan menghasilkan lebih banyak kas
dari yang dibuthkan untuk menutupi utang dan memberikan pengembalian yang diperlukan kepada
pemegang saham, dan kelebihan kas ini hanya akan bertambah kepada pemegang saham. Oleh
karena itu, jika perusahaan mengambil proyek yang menghasilkan perhitungan NPV positiv, maka
akan memberikan peningkatan terhadap posisi pemegang saham dalam perusahaan.

2.7.3 Tingkat Pengembalian Internal ( IRR )


IRR didefenisiskan sebagai tingkat diskonto yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas masuk
proyek yang diharapkan terhadap nilai sekarang dari arus kas masuk proyek yang diharapkan
terhadap nilai sekarang dari biaya proyek.

PV ( arus masuk ) = PV ( biaya investasi )


CF0+

NPV =

Jika arus kas adalah konstan dari tahun ke tahun, maka kita akna memmiliki anuitas, dan kita
dapat menggunakan faktor anuitas untuk mencari IRR. Namun, apabila arus kas tidak konstan, maka
akan sulit untuk menghitung IRR.

Secara matematis, baik metode NPV maupun IRR akan memberikan keputusan menerima
atau menolak yang sama atas proyek independen, karena jika NPV positiv, maka IRR akan melebihi
k. Namun, NPV dan IRR dapat membuat peringkat yang berbeda untuk proyek mutually excusive .

Ada beberapa alasan rsional mengapa tingkat diskonto tertentu menyamakan biaya proyek
dengan nilai sekarang penerimaannya, antara lain :

 IRR proyek adalah tingkat pengembalian yang diharapakan (expected return)

 Jika IRR melebihi biaya dana yag digunakan untuk membiayai proyek, maka akan terdapat surplus
setelah pembayaran modal, dan surplus ini akan menjadi bagian pemegang saham.

 Oleh karena itu, memilih proyek yang IRR nya melebihi biaya modal meningkatkan kekayaan
pemegang saham.

 Disisi lain, apabila IRR lebih kecil daripada biaya modal, maka memilih proyek ini akna menimbulkan
biaya bagi pemegang saham sekarang.

 Hal ini merupakan karaktertistik breakeven yang mebuat IRR berguna dalam megevaluasi proyek
modal.

2.7.4 Tingkat Pengembalian Internal yang diModifikasi (MIRR)


Para manajer lebih menarik untuk mengevaluasi investasi dalam istilah persentase tingkat
pengembalian dibandingkan dolar NPV. Kita dapat memodifikasi IRR dan menjadikan indikator
profitabilitas yang relatif lebih baik, sehingga lebih baik untuk digunakan dalam penganggaran
modal.
MIRR memiliki keunggulan yang signifikan apabila dibandingkan dengan IRR biasa. MIRR
mengasumsikan bahwa arus kas dari semua proyek direinvestasikan pada biaya modal. Sedangkan
pada IRR reguler mengasumsikan bahwa arus kas dari setiap proyek diinvestasikan pada IRR proyek.
Karena reinvestasi pada biaya modalumumnya lebih benar, maka MIRR adalah indikator yang lebih
baik dari profitabilitas proyek yang sesungguhnya.
Kita dapat menyimpulkan bahwa MIRR lebih unggul daripada IRR reguler sebagai indikator
dari tingkat pengembalian proyek yang sebenarnya atau tingkat pengembalian jangka panjang.
Rumus :
PV Biaya = PV nilai terminal
kasus

Capital Budgeting

CONTOH SOAL

PT. Maju Tak Gentar mengajukan dua proposal proyek untuk di analisis. Data tentang kedua proposal
proyek tersebut adalah sebagai berikut:

Proyek “A” Proyek “B”

Kebutuhan investasi Rp 250.000.000 Rp 200.000.000

Nilai residu Rp 50.000.000 Nihil

Umur ekonomis 5 tahun 5 tahun

Bunga modal 15% 15%

Pola penjualan untuk lima tahun mendatang sebagai berikut :

Proyek “A” Proyek “B”

Tahun 1 Rp 525.000.000 Rp 400.000.000

Tahun 2 Rp 400.000.000 Rp 400.000.000

Tahun 3 Rp 550.000.000 Rp 200.000.000

Tahun 4 Rp 450.000.000 Rp 250.000.000

Tahun 5 Rp 150.000.000 Rp 250.000.000

Biaya dan pajak yang harus diperhitungkan dari masing-masing proyek setiap tahun adalah sebagai
berikut :

Proyek “A” Proyek “B”

Biaya tetap per tahun Rp 100.000.000 RP 75.000.000

Biaya variabel 60% 50%


Pajak keuntungan 40% 40%

Dalam biaya tetap sudah termasuk biaya penyusutan dan biaya bunga baik untuk proyek “A” maupun
proyek “B”.

Ditanyakan :

1. Menentukan pola EAT untuk kedua proyek

2. menentukan proyek yang dipilih berdasarkan PBP (Pay Back Period)

3. Menentukan proyek yang dipilih berdasarkan NPV (discount rate 15%)

4. Hitunglah profitability indek kedua proyek

5. Kesimpulan yang dapat diambil jika kedua proyek bersifat contigent? dengan asumsi dana cukup
tersedia.

Penyelesaian :
1. Pola EAT proyek “A” (dalam rupiah)

T Penjualan FC (Rp VC (Rp TC (R EBT (R Pajak EAT (R


h (Rp) ) ) p) p) 40% (Rp) p)

1 525.000.0 100.000.0 315.000.0 415.000.0 110.000.00 44.000.0 66.000.000


00 00 00 00 0 00

2 400.000.0 100.000.0 240.000.0 340.000.0 60.000.000 24.000.0 36.000.000


00 00 00 00 00

3 550.000.0 100.000.0 330.000.0 430.000.0 120.000.00 48.000.0 72.000.000


00 00 00 00 0 00

4 450.000.0 100.000.0 270.000.0 370.000.0 80.000.000 32.000.0 48.000.000


00 00 00 00 00

5 150.000.0 100.000.0 90.000.00 190.000.0 (40.000.00 - (40.000.00


00 00 0 00 0) 0)

Pola EAT proyek “B” (dalam rupiah)


T Penjualan FC (Rp VC (Rp TC (R EBT (R Pajak EAT (R
h (Rp) ) ) p) p) 40% (Rp) p)

1 400.000.0 75.000.00 200.000.0 275.000.0 125.000.00 50.000.0 75.000.000


00 0 00 00 0 00

2 400.000.0 75.000.00 200.000.0 275.000.0 125.000.00 50.000.0 75.000.000


00 0 00 00 0 00

3 200.000.0 75.000.00 100.000.0 175.000.0 25.000.000 10.000.0 15.000.000


00 0 00 00 00

4 250.000.0 75.000.00 125.000.0 200.000.0 50.000.000 20.000.0 30.000.000


00 0 00 00 00

5 250.000.0 75.000.00 125.000.0 200.000.0 50000.000 20.000.0 30.000.000


00 0 00 00 00

2. Pola Proceed proyek “A” Pola Proceed proyek “B”

T Penyusuta T Penyusuta
EAT Proceed EAT Proceed
h n h n

1 400.000.00 75.000.000 200.000.00 1 125.000.00 50.000.000 75.000.000


0 0 0

2 400.000.00 75.000.000 200.000.00 2 125.000.00 50.000.000 75.000.000


0 0 0

3 200.000.00 75.000.000 100.000.00 3 25.000.000 10.000.000 15.000.000


0 0

4 250.000.00 75.000.000 125.000.00 4 50.000.000 20.000.000 30.000.000


0 0

5 250.000.00 75.000.000 125.000.00 5 50000.000 20.000.000 30.000.000


0 0

Proceed proyek “A” Proceed proyek “B”

Tahun 1 Rp. 106.000.000 Tahun 1 Rp. 115.000.000

Tahun 2 Rp. 76.000.000 + Total out lay Rp. 200.000.000 -

Jumlah Rp. 182.00.000 Kekurangan Rp. 85.000.000

Total out lay Rp. 250.000.000 -

Kekurangan Rp. 68.000.000

Waktu = x 12 bulan Waktu = x 12 bulan


Waktu = 7,3 bulan Waktu = 8,9 bulan

PBP proyek “A” = 2 tahun PBP proyek “B” = 1 tahun 8,9 bulan

Proyek yang baik di pilih berdasarkan PBP adalah proyek “B”

3. Net present value

Proyek “A” Proyek “B”

Proceed DF 15% PV Proceed DF 15% PV

106.000.00 0,870 92.220.000 115.000.00 0,870 100.050.00


0 0

76.000.000 0,756 57.456.000 115.000.00 0,756 86.940.000


0

112.000.00 0,658 73.696.000 55.000.000 0,658 36.190.000


0

88.000.000 0,572 50.336.000 70.000.000 0,572 40.040.000

50.000.000 0,497 24.850.000 70.000.000 0,497 34.790.000

Total present value 298.558.00 Total present value 298.010.00


0 0

Present value out lay 250.000.00 Present value out lay 200.000.00
0 0

Net present value (NPV) 48.558.000 Net present value (NPV) 98.010.000

Proyek yang baik untuk dipilih berdasarkan NPV adalah proyek “B”

4. Profitability indek (PI)

Proyek “A” Proyek “B”

PI = = 1,19 PI = = 1,49

5. PI gabungan = = 1,33

Kesimpulan : kedua proposal proyek dapat diterima karena menghasilkan PI gabungan lebih besar
dari satu.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, Penganggaran Modal (capital budgeting Techniques)


sangatlah penting dalam menentukan alur kas,investasi dan penanaman saham. Dimana bila
perhitungan atau keputusan untuk pengambilan penganggaran modal tepat, maka keuntungan
bagi perusahaan akan meningkat sesuai dengan perhitungan. Dan sangatlah penting bagi
manajer keuangan untuk sangat hati-hati dalam mengambil keputusan dengan keadaan
keuangan suatu perusahaan.
Laporan arus kas (statement of cash flows), yaitu laporan keuangan yang merangkum
informasi mengenai arus kas masuk (penerimaan) dan arus kas keluar (pembayaran) untuk
suatu periode waktu tertentu. Tujuan utama laporan arus kas adalah menyediakan informasi
yang relevan mengenai penerimaan dan pembayaran kas sebuah perusahaan selama suatu
periode.
IFRS dan GAAP menentukan bahwa penerimaan kas dan pembayaran kas selama suatu
periode harus diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Aktivitas operasi meliputi pengaruh kas dari transaksi yang digunakan untuk
menentukan laba bersih.
2. Aktivitas investasi berkaitan dengan pemberian dan penagihan pinjaman, serta
perolehan dan pelepasan investasi (baik hutang maupun ekuitas) seperti properti,
pabrik dan peralatan.
3. Aktivitas pendanaan merupakan aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam
jumlah serta komposisi modal dan pinjaman jangka panjang perusahaan.
Laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pengguna untuk
mengevaluasi perubahan dalam aset bersih entitas, struktur keuangan (termasuk likuiditas,
solvabilitas, dan fleksibilitas keuangan).
DAFTAR PUSTAKA

Buku Gramedia “MANAJEMEN KEUANGAN” edisi 2.


Buku Karangan Kaplan, Robert S, Akuntansi Manajemen, 1982.
Buku Akuntansi Manajemen : konsep, manfaat dan rekayasa,1997.
Donald E. Keiso, J. J. (2007). Akuntansi Intermediate Edisi Keduabelas Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Hendriksen, E. S. (t.thn.). Teori Akuntansi. Jakarta: Erlangga.

Henry, S. (2000). Akuntansi Basic Pengembalian Keputusan Bisnis. Jakarta: Salemba Empat.

Indonesia, I. A. (2009). Exposure Draft Psak 2: Laporan Arus Kas. Jakarta: Dewan Standar Akuntansi
Keuangan.

Jumingan. (2006). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Bumi Aksara.

Kiesno, D. E., Weygandt, J. J., & Warfield, T. D. (2007). Akuntansi Intermediate. Jakarta: Erlangga.

Milia Sepliana Setyowati, T. N. (2016). Pengantar Akuntansi 2. Jakarta: Prenadamedia Group.

Warren, C. S., Reeve, J. M., & Fess, P. E. (2006). Pengantar Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.

Warren, C. S., Reeve, J. M., Duchac, J. E., & dkk. (2016). Pengantar Akuntansi. Jakarta: Salemba
Empat.

Warrent, C. S., Reeve, J. M., & Fess, P. E. (2005). Accounting. Jakarta: Salemba Empat.

Weygandt, J. J., Kieso, D. E., & Kimmel, P. D. (2007). Accounting Principles: Pengantar Akuntansi.
Jakarta: Salemba Empat.
Weygandt, J. J., Kieso, D. E., & Warfield, T. D. (2016). Intermediet Accounting 16th Edition. Unites
State: John Wiley & Sons, Inc.
Wibowo, A. A. (2008). Akuntansi Keuangan Dasar 2 Edisi Ketiga. Jakarta: Grasind

Brigham, Eugene.F Gepenski, Louis C. 2008. Financial Manajemen Theory and Practice

Ross Westerfield Jeff. 2010. Corporate Finance 9th Edition. Irwin, McGraw-Hill