Anda di halaman 1dari 48

Kasus : Erb paralysis

Pengertian
Kerusakan cabang-cabang C5 – C6 dari pleksus biokialis menyebabkan kelemahan dan kelumpuhan
lengan untuk fleksi, abduksi, dan memutar lengan keluar serta hilangnya refleks biseps dan moro.
Lengan berada dalam posisi abduksi, putaran ke dalam, lengan bawah dalam pranasi, dan telapak
tangan ke dorsal.

2. Etiologi
Pada trauma lahir Erb, perlu diperhatikan kemungkinan terbukannya pula serabut saraf frenikus
yang menginervasi otot diafragma. Pada trauma yang ringan yang hanya berupa edema atau
perdarahan ringan pada pangkal saraf, fiksasi hanya dilakukan beberapa hari atau 1 – 2 minggu
untuk memberi kesempatan penyembuhan yang kemudian diikuti program mobilisasi atau latihan.
Secara klinis di samping gejala kelumpuhan Erb akan terlihat pula adanya sindrom gangguan nafas.
Kelumpuhanmenyangkut :
M.supraspinatus, M.infraspinatus, M.subscapularis, M.teres mayor, M.biseps
brachialis, M.brachialis dan M.brachioradialis
3. Patofisiologi
-Ketika persalinan,
-Saat kepala sudah muncul,
-Untuk melahirkan bahu kepala perlu dilakukan lateral flexy.
-Bagi bayi yang tidak terlalu gemuk, ketika lateral flexy, bahu dapat dilahirkan. pada bayi yang
terlalu besar (mis. diabetes), maka saat menarik diperlukan menambah lateral flexi dan tambahan
tenaga, hal ini akan berdampak pada plexus brachialis, yaitu mengalami stretching.
* Inilah yang menyebabkan terjadinya Erb’s palsy.

Jenis trauma pada pleksus brachialis yang mengkibatkan Erb’ palsy:


– Avulsi,
penyebab terbanyak lesi pleksus. Kondisi ini saraf sobek sampai ke medula spinalis.
– Ruptur,
seperti avulsi tetapi tidak mengenai medula spinalis.
– Neuroma,
lesi ini membentuk jaringan parut dan akhirnya akan menekan pleksus brakialis.
– Neurapraxia/stretch,
terjadi lesi tanpa sobekan. sembuh sendiri dalam 3 bulan dengan fungsi yang hampir normal.
4. Penatalaksanan
Penanganan terhadap trauma pleksus brakialis ditujukan untuk mempercepat penyembuhan
serabut saraf yang rusak dan mencegah kemungkinan komplikasi lain seperti kontraksi otot. Upaya
ini dilakukan antara lain dengan jalan imobilisasi pada posisi tertentu selama 1 – 2 minggu yang
kemudian diikuti program latihan. Pada trauma ini imobilisasi dilakukan dengan cara fiksasi lengan
yang sakit dalam posisi yang berlawanan dengan posisi karakteristik kelumpuhan Erb. Lengan yang
sakit difiksasi dalam posisi abduksi 900 disertai eksorotasi pada sendi bahu, fleksi 900.
5. Pengobatan
– Obat
☻Vitamin B1,B6,B12,E
☻Antiedema
☻Vasodilator
☻Corticosteroid
☻Danzen (Takeda)
☻Papase (Warner-Lambert)
☻Neurobion (E.Merck)
☻Fundamine-E (Biomedis)
☻Enico (Eisai)
Sebaiknya konsulkan dulu kepada dokter ahli.
– Fisioterapi :
o Latihan ROM
o Alat – alat
-Terapi panas (IRR)
3. Operasi

5. Saran dan Larangan


o Saran
* Peran aktif orang tua sangat dibutuhkan dalam terapi
* Konsultasi pada dokter khususnya bagi orang-orang beresiko tinggi
o Larangan
* Pembidaian tidak dianjurkan
Sumber :
–http://elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/matkul/Ilmu%20Penyakit%20Saraf/ER
NASKAH PUBLIKASI

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS

ERB’S PARALYSIS DEXTRA

DI RSUP Dr SARDJITO YOGYAKARTA

Diajukan Guna Melengkapi Tugas

dan Memenuhi Sebagian Persyaratan

Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Fisioterapi

Oleh :

Arif Sugiarto

J100110034

PROGRAM STUDI DIPLOMA III FISIOTERAPI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2014MANAGEMENT IN THE CASE OF ERB’S PARALYSIS

DEXTRA PHYSIOTHERAPY IN HOSPITAL Dr SARDJITO

YOGYAKARTA

(Arif Sugiarto, 2014, 52 pages)

ABSTRACT

Background: Erb's paralysis is a brachial plexus lesion on the upper part

due to injuries caused by excessive movement of the head and shoulder

depression on the same side during birth, causing excessive traction even

tearing of the nerve roots C5 and C6 brachial plexus from. This is often

caused when a baby's neck was pulled aside during a difficult birth.

Objective:To determine the implementation of physiotherapy in reducing

pain, increasing range of motion, increase muscle strength and improve


functional activity in conditions Erb's Paralysis modaliatas Dextra using

Infra Red (IR), Muscle Stimulation (MS) and Therapeutic Exercise (TL).

Results: After treatment for 6 times the results obtained pain assessment

on movement pain T1: 6.3 to T6: 5.6, increased range of motion T1: S 30

T6 0-90 becomes: S 40-0-105, the increase in strength elbow flexor

muscles T1: 3 to T6: 4, elbow extensors T1: 2 to T6: 3, wrist flexors T1: 3

to T6: 4, wrist extensors T1: 3 to 4, the increase in the functional activity

of T1: 66 into T6: 70.

Conclusion: Infra Red to reduce pain in conditions Erb's Paralysis,

Muscle Stimulation can improve muscle strength in conditions of Erb's

paralysis, and exercise therapy can improve range of motion in Erb's

Paralysis Dextra conditions.

Keywords: Erb's Paralysis, Infra Red (IR), Muscle Stimulation (MS),

Exercise Therapy (TL)A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Cedera Plexus Brachialis diartikan sebagai suatu cedera pada Plexus

Brachialis yang diakibatkan oleh suatu trauma. Trauma ini sering kali

berupa penarikan berlebihan atau avulsi. Cedera seperti ini menghasilkan

sutu tanda yang sangat khas yang disebut deformitas Waiter’s tip karena

hilangnya otot-otot rotator lateral bahu, fleksor lengan, dan otot ekstensor

lengan (Mahadewa, 2013). Sebagian besar cedera plexus brachialis terjadi

selama proses persalinan. plexus brachialis sering mengalami masalah saat

berada di bawah tekanan, seperti dengan bayi yang besar, presentasi

bokong atau persalinan yang lama. Jika salah satu sisi leher bayi tertarik,

saraf yang terdapat didalamnya juga akan tertarik dan dapat


mengakibatkan cedera. Bayi mungkin tidak dapat menggerakan bahu,

tetapi dapa t memindahkan jari-jari. Jika kedua saraf atas dan bawah yang

meregang, kondisi ini biasanya lebih parah dari sekedar erb’s paralysis.

Sebagian besar rumah sakit melaporkan satu sampai dua bayi yang

lahir dengan plexus brachialis mengalami cedera pada 1000 kelahiran.

Informasi yang cukup tentang insiden cedera plexus brachialis atas (erb’s

paralysis) trumatis sulit ditemukan, insiden pastinya tidak diketahui. Saat

ini, insiden tersebut adalah 0,8 per 1000 kelahiran bayi. Angka ini turun

dari tingkat pada tahun 1900, ketika dilaporkan jumlah penderita yang

mencapai dua kali lipat dari pada saat ini. Penurunan penderita ini

dipengaruhi oleh pelayanan kebidanan yang terus ditingkatkan.

Diperkirakan terjadi 400-450 penderita cedera tertutup supraclavicular di

inggris setiap tahunnya. Laki-laki lebih banyak yang terkena trauma

(Mahadewa, 2013).

Masalah utama yang timbul pada penderita Erb’s Paralysis adalah lesi

pada plexus brachialis yang dapat menyebabkan adanya nyeri pada bahu,

adanya penurunan kekuatan pada otot-otot lengan atas, keterbatasan

lingkup gerak sendi pada lengan dan penurunan aktivitas fungsional.

2. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai pada penulisan Karya Tulis Ilmiah ini

sesuai dengan rumusan masalah, yaitu:

a. Tujuan umum

1) Mengetahui tanda dan gejala klinis yang dialami oleh anak

dengan kondisi Erb’s Paralysis.

2) Mengetetahui dan menerapkan intervensi fisioterapi yang dapat

digunakan pada kasus Erb’s Paralysis.


b. Tujuan khusus

1) Untuk mengetahui apakah penyakit Erb’s Paralysis, faktor

penyebab, serta gejala klinis yang timbul.

2) Untuk mengetahui pengaruh Infra Red, Muscle Stimulation,

Terapi Latihan pada kasus Erb’s Paralysis.

B. KERANGKA TEORI

1. Deskripsi Kasus

a. Erb’s Paralysis

Erb’s paralysis adalah kelumpuhan pada lengan yang disebabkan

oleh adanya cedera pada kelompok saraf lengan atas, khususnya C5-

C6 yang merupakan bagian dari plexus brachialis, cidera ini

menyebabkan kelemahan dan kelumpuhan pada otot deltoid, otot

biceps brachii, otot b rachialis dan otot brakhioradialis, kadang juga

mengenai otot supraspinatus dan otot infraspinatus, sehingga lengan

atas berada dalam posisi ekstensi, adduksi, internal rotasi dan lengan

bawah tampak posisi ekstensi dan pronasi (Sidharta, 1988).

b. Etiologi

Erb’s paralysis biasanya terjadi karena trauma persalinan , dimana

saat proses persalinan terjadi peregangan pada plexus brachialis secara

berlebihan bahkan sampai cidera. Cedera traksi pada plexus brachialis

terjadi selama persalinan yang sulit, menurunkan bahu dengan gerakan

yang berlawanan dengan kemiringan tulang belakang menyebabkan

peregangan pada akar saraf servikal (C5,C6,C7) dari plexus brachialis

(Abbottabad, 2006). Penyebab lain dari kondisi erb’s paralysis adalah lamanya proses persalinan,
pinggul yang sempit atau ukuran bayi yang

terlalu besar sehingga menyebabkan bayi sulit untuk keluar dan pelvis
ibu dapat menekan plexus brachialis (Prawiroharjo, 1996).

c. Patologi Erb’s Paralysis

Peregangan serabut saraf yang terjadi pada plexus brachialis dapat

menimbulkan cedera pada selubung saraf, pembengkakan saraf dan

pendarahan disekelilingnya sampai dengan rusaknya akson sehingga

menyebabkan terganggunya impuls saraf, dimana tingkat gangguan

impuls saraf tergantung kuat ringannya suatu regangan. Peregangan

ringan pada saraf kemungkinan hanya akan menyebabkan neuropraksi

atau aksonotmesis, sedangkan pada ruptur kulit akan menyebabkan

neurotmesis (Campbell, 1991).

d. Tanda dan Gejala Klinis Erb’s Paralysis

Posisi lengan pada posisi ekstensi, adduksi sendishoulder, ekstensi

dan supinasi sendi elbow dan dorsi fleksi sendi wrist. Atrofi bahkan

kotraktur pada otot supraspinatus, otot infraspinatus, otot biceps, otot

brachialis, dan otot brachioradialis jika tidak mendapatkan

penanganan seawal mungkin (Kimberly, 2009). Gejala Klinis menurut

Foster yaitu: nyeri, terutama pada leher dan bahu, paresthesia dan

disesthesia,lemah tubuh atau terasa berat menggerakkan ekstremitas

dan denyut nadi menurun akibat cedera vaskuler mungkin terjadi

bersamaan dengan cedera traksi.

e. Prognosis

Prognosis pada kondisi Erb’s Paralysis sangat bervariasi karena

bergantung tidak hanya pada sifat cidera itu sendiri, tapi juga pada

umur pasien dan jenis prosedur yang dilakukan.

2. Teknologi Intervensi Fisioterapi


a. Infra Red (IR)

Dasarnya generator Infra Red dibagi menjadi dua jenis yaitu

generator non luminous dan luminous, yang mana perbedaan antara

kedua jenis generator tersebut terletak pada jenis sinar yangterkandung pada tiap generator. generator
non luminous, yaitu

generator yang hanya terdiri dari sinar Infra Red saja, sehingga

pengobatan menggunakan jenis ini sering disebut “Infra Red

radiation ” . Generator luminous, yaitu generator yang disamping

mengandung Infra Red, generator ini juga terdiri dari sinar ultra

violet, pengobatan dengan menggunakan generator je nis ini sering

disebut sebagai radiant heating (Sujatno, dkk, 1993).

b. Muscle Stimulation

Arus faradic merupakan arus listrik bolak-balik yang tidak simetris

yang mempunyai durasi 0,01-1ms dengan frekuensi 50-100 cy/detik.

Arus faradic pada umumnya di modifikasi dalam bentuk surged atau

interrupted (terputus-putus) (Sujatno, dkk, 1993). Terapis

menggunakan stimulasi listrik untuk berbagai kondisi yaitu: untuk

menimbulkan kontraksi otot dari saraf yang lesi, menstimulasi saraf

sensorik untuk mengurangi nyeri, membuat medan listrik pada

jaringan lunak untuk merangsang proses penyembuhan, dan membuat

medan listrik pada permukaan kulit untuk mengirim ion bienefical

untuk merangsang proses penyembuhan pada kulit yang lesi (Prentice,

2002).

c. TerapiLatihan

Terapi latihan dalam bentuk relaksasi dapat memberikan efek

pengurangan nyeri, baik secara langsung maupun memutus siklus


nyeri, spasme, dan nyeri. Gerakan ringan dan perlahan merangssang

propioceptor yang merupakan aktivasi dari serabut afferent

berdiameter besar. Hal ini akan mengakibatkan menutupnya spinal

gate ( Mardiman, 2001).

C. PROSES FISIOTERAPI

Terapi pada tanggal 10, 13, 15, 17, 23, 28 Januari 2014 menggunakan

modalitas fisioterapi:

1. Infra Red2. Muscle Stimulation

3. Terapi Latihan

a. Active assisted

b. Hold relax

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil

a. Adanya penurunan nyeri gerak saat pasien menggerakan shoulder

kanan.

b. Adanya peningkatan kekuatan otot pada group otot fleksor elbow,

ekstensor elbow, fleksor wrist dan ekstensor wrist.

c. Adanya peningkatan LGS pada bidang gerak Shoulder.

d. Adanya peningkatan aktivitas fungsional.

2. Pembahasan

a. Pengukuran nyeri menggunakan skala visual analoge scale. Nyeri

yang dievaluasi meliputi nyeri gerak saat gerakan fleksi dan

ekstensi shoulder dan saat gerakan abduksi dan adduksi shoulder.

Pada awal terapi nyeri gerak berada pada nilai 6,3 dan pada akhir

terapi berkurang menjadi 5,6. Dalam penatalaksanaan kasus ini


terbukti pemberian terapi latihan dan pemberian IR efektif dalam

menurunkan nyeri. Efek IR yang memiliki efek sedative dan

me lalui mekanisme vasodilatasi pembuluh darah sehingga zat-zat

pencetus nyeri terangkut dalam aliran darah tersebut.

b. Instrument yang digunakan untuk menilai kekuatan otot adalah

manual muscle testing. Peningkatan kekuatan otot yang dievaluasi

meliputi pada fleksor dan ekstensor e l b o w dan pada fleksor dan

ekstensor wrist pada awal terapi fleksor elbow 3 dan ekstensor

elbow 2, ekstensor wrist 2 dan fleksor wrist 3. Pada akhir terapi ke

enam nilai otot pda ekstensor elbow 3 dan fleksor elbow 4 dan

fleksor wrist 4 dan ekstensor wrist 3. Dalam penatalaksanaan kasus

ini terbukti efektif dalam peningkatan kekuatan otot. Terapi latihan active assisted dan muscle
stimulation memiliki efek dalam

menstimulasi dan menginervasi jaringan otot yang mengalami

paralysis.

c. Penilaian yang digunakan untuk mengukur lingkup gerak sendi

adalah Goneometer. Peningkatan LGS yang dievaluasi meliputi

pada gerakan fleksi-ekstensi shoulder kanan, pada awal terapi S

30

-0-90

. Setelah akhir terapi ke enam menjadi 40

-0-105

0
,

adanya peningkatan LGS pada elbow pada terapi pertama S 0-0-

130

setelah enam kali terapi menjadi S 0-0-135

, adanya

peningkatan LGS pada wrist pada awal terapi S 0-0-40

setelah

menjalani enam kali terapi S 0-0-50

. Hold relax bermanfaat untuk

rileksasi otot dan menambah lingkup gerak sendi. Sedangkan pada

jaringan non kontraksi seperti tulang, tendon dan ligament, terapi

latihan memberikan efek naiknya adaptasi pemeliharaan dan

kekuatan tendon, ligament serta hubungan otot dan tendon (Kisner,

1996).

d. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan aktivitas

fungsional adalah upper extremity functional scale. UEFS terdiri

dari beberapa poin dan tiap tahap memiliki rentang poin dari 0-4.

Skor maksimal dari keseluruhan poin tersebut adalah 100 yang

menyatakan bahwa aktifitas kemampuan fungsional pasien tidak

mengalami gangguan. Dalam kasus ini pada terapi pertama 66,

serta pada terapi ke enam 70 poin. Tidak adanya peningkatan


kemapuan fungsional juga bisa disebabkan berbagai hal. Sebagai

contoh tidak digunakannya tangan kanan dalam jangka waktu lama

sehingga menyebabkan penurunan fungsi tangan.

E. SIMPULAN DAN SARAN

1. Simpulan

a. Paralisis pada otot deltoid, otot biceps, otot brakhialis, otot

brakhioradialis kadang juga otot supraspinatus dan otot

infraspinatus yang disebabkan karena terganggunya impuls saraf ke otot yang di inervasi sehingga
menyebabkan hilangnya gerakan

abduksi dan eksternal rotasi shoulder dan gerakan fleksi dan

supinasi e lbow dan palmar fleksi wrist, serta sensasi menghilang

pada permukaan deltoideus dan radialis lengan bawah. Posisi

lengan pada posisi ekstensi, adduksi sendi shoulder, ekstensi dan

supinasi sendi e lbow dan dorsi fleksi sendi wrist.

b. Penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi erb’s paralysis dapat

mengurangi nyeri dengan hasil terapi adanya penurunan nyeri

gerak dari T1=6,3, T6=5,6.

c. Penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi erb’s paralysis dapat

meningkatkan kekuatan otot, dengan hasil terapi adanya

peningkatan kekuatan otot pada fleksor dan ekstensor elbow dan

pada fleksor dan ekstensor wrist pada T1= fleksor elbow 3 dan

ekstensor e lbow 2, ekstensor wrist 2 dan fleksor wrist 3. Nilai otot

pada T6= ekstensor elbow 3 dan fleksor e lbow 4 dan fleksor wrist 4

dan ekstensor wrist 3.

d. Penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi erb’s paralysis dapat

meningkatkan lingkup gerak sendi, dengan hasil terapi adanya


peningkatan lingkup gerak sendi pada fleksi-ekstensi shoulder

pada T1= S 30

-0-90

menjadi T6 = 40

-0-105

, adanya

peningkatan LGS pada e l b o w pada T1= S 0-0-130

menjadi T6=

S 0-0-135

, adanya peningkatan LGS pada wrist pada T1=S 0-0-

40

menjadi T6= S 0-0-50

e. Penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi erb’s paralysis dapat

meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional yang diukur

menggunakan UEFS, dengan hasil terapi adanya peningkatan

aktivitas fungsional dari T1= 66 menjadi T6=70.


2. Saran

a. Saran untuk fisioterapis

Fisioterapis merupakan orang yang bertugas pada bidang kesehatan

yang berperan penting dalam kesembuhan pasien. Sebagai fisioterapis dalam memberikan pelayanan
harus memiliki jiwa kemanusiaan dan

penuh tanggung jawab. Pasien yang datang memiliki keinginan dan

keyakinan untuk sembuh. Maka dari itu dalam memberikan tindakan

harus sistematis diwali dari diagnosa, anamnesis, pemeriksaan, tujuan,

dan evaluasi harus dikerjakan dengan teliti dan hati-hati. Pemberian

penjelasan dan pengertian dalam memberikan tindakan dan dosis yang

tepat agar tercapai tujuan yang maksimal dalam memberikan

pelayanan terhadap pasien.

b. Saran untuk pasien

Kesembuhan pasien merupakan tujuan utama dalam memberikan

pelayanan kesehatan. Kesembuhan pasien tergantung kerjasama antar

petugas kesahatan dan antara petugas kesehatan dengan pasien. Maka

dari itu pasien diharapkan memiliki keyakinan untuk sembuh dan

pulih. Semua program- program yang telah diberikan oleh fisioterapis

akan lebih maksimal jika pasien juga melaksanakan saran-saran dari

fisioterapis.

c. Saran untuk keluarga

Keluarga pasien harus terus memberikan dorongan semangat agar

pasien juga lebih termotivasi dalam melawan penyakit yang sedang

dihadapi. DAFTAR PUSTAKA

Abbottabad, J Ayub Med Coll, 2006; Restoration Of Glenohumeral Motion In

Erb’s Paralysis By Tendon Transfers: Department of Surgery, The Aga


Khan University Hospital.

Campbell, K.Sussan, 1991; Pediatric Neurologic Phisicical Therapy: Second

Edition, Churchil Livingstone, Tokyo.

Dalyono, Muhammad, 1992; Pola Penderita Kelumpuhan Pleksus Brakhialis

karena Trauma Lahir: FK. UNAIR, RSUD DR SOETOMO, Surabaya.

Doucet, Barbara M, 2012; Neuromuscular Electrical Stimulation for Skeletal

Muscle Function; Diakses tanggal 5/4/2014, dari

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3375668//.

Kepmenkes RI, 2007; Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 376 Tahun

2007 Tentang Standar Profesi Fisioterapi: Jakarta; Hal 4.

Kimberly, 2009; Obstetrical Brachial Plexus Palsy: Elsevier.

Kisner, Carolyn and Colby, L. A., 1996; Therapeutic Exercise Foundation and

The Technique: Third Edition, F. A. Davis Company, Philadelpia, hal. 47-

49, 160-164.

Mahadewa, Tjokorda Gde Bagus, 2013; Saraf Perifer masalah dan

Penanganannya : Indeks, Jakarta.

Mardiman, Sri, 2001; Fisiologi Latihan: Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan

Fisioterapi, Surakarta.

Paulsen, F and J. Waschke, 2010; Sobotta Jilid 1 Anatomi Umum dan Sistem

Muskuloskeletal: Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Prawiroharjo, Sarwono, 1996; Ilmu Kebidanan: Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.Prentice, William E, 2002;
Therapeutic Modalities for Physical Therapists;

Second Edition, The McGraw Hill Companies, United States, hal. 90-99.

Reiter, jesse, 2012; Plexus Brachialis; Diakses tanggal 2mei 2014, dari

http://www.Abclawcenters.com.

Seddon, 1989; Topical Diagnosis In Neurology: Theme Stratton, New York.


Sidharta, Priguana, 1988; Neurologi Klinis Dasar: Dian Rakyat, Jakarta.

Sujatno, dkk, 1993; Sumber Fisis: Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan

Fisioterapi, Surakarta.

Syaifuddin, 2009; Anatomi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi

2: Salemba Medika, Jakarta.

http://eprints.ums.ac.id/30718/17/02_NASKAH_PUBLIKASI.pdf
This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. Learn
more
Got it!
 About
 Kontak
 Iklan
 Donasi
 Kebijakan Konten
 Privacy Policy
 Disclaimer
 TOS

SECANGKIR TERAPI
 KESEHATAN
 FISIOTERAPI
 PSIKOLOGI
 UGD
 HOSPITAL ADDRESS

Cari artikel lain CARI

SECANGKIR TERAPI Erb's Palsy Pemeriksaan Klinis Erb's Palsy

Pemeriksaan Klinis Erb's Palsy


Sterno Pena Erb's Palsy
DAFTAR ISI[Sembunyikan]
1. Pemeriksaan Kelumpuhan Karena Erb's Palsy
1. Definisi
2. Epidemiologi
3. Anamnesa
4. Pemeriksaan Fisik Dan Penunjang
5. Diagnosa
6. Rencana Penatalaksanaan Terapi
7. Prognosis
8. Kode Penyakit

Sobat secangkir terapi, pasien yang menderita erb's palsy akan mengalami kelumpuhan pada
level saraf tingkat atas yang menghambat gerak fungsional dan aktivitas keseharian penderita.
Dimana hal itu tentu membuat orang tua dari anak kuatir dengan perkembangan fisik dan
pertumbuhannya, sehingga memerlukan pemeriksaan klinis untuk menegakkan diagnosa
penyakit itu.

Pemeriksaan Kelumpuhan Karena Erb's Palsy

Definisi
Erb's Palsy adalah kelumpuhan pada lengan yang disebabkan oleh cedera pada kelompok saraf
lengan atas, khususnya saraf yang berada pada C5 sampai C6 dimana bagian dari plexus
brachialis yang terdiri dari rami ventral saraf spinal C5 sampai C8 dan T1.

Epidemiologi

 Prevalensi di negara Amerika Serikat 4,4 dari 1.000 kelahiran hidup menderita erb's palsy
 Di negara Perancis 8 orang dari 1.000 kelahiran hidup menderita erb's palsy
 Perbandingan kasus laki-laki dan perempuan adalah hampir seimbang
 Lebih banyak disebabkan oleh bayi dengan lahir prematur
 Kasus penyakit ini dapat juga disebabkan oleh proses persalinan yang salah sewaktu ibu
melahirkan anak

Anamnesa
Pasien datang dengan keluhan kesulitan dalam menggunakan tangan kiri, sulit untuk rolling,
posisi duduk mengalami hambatan gerak.
Keluhan lain posisi tangan kiri lurus terus tidak dapat ditekuk dan memutar ke dalam, orang tua
sering menekuk tangan kiri yang lurus terus namun kembali lagi ke posisi semula.

Anak tidak bisa melakukan tengkurap sendiri serta tangan kanan tidak aktif.

Orang tua pasien kuatir jika anak ada gangguan tersebut dan mempengaruhi kemampuan anak di
kemudian hari.

Saat proses persalinan, ibu melahirkan anak itu dengan waktu yang lama dan sulit.

Usia penderita 4,5 tahun, jenis kelamin laki-laki.

Pemeriksaan Fisik dan Penunjang


Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Statis:
 Seluruh tubuh terlihat normal kecuali pada lengan kiri
 Lengan kiri terlihat dalam posisi adduksi bahu
 Forearm pronasi
 Elbow ekstensi
 Wrist fleksi
Dinamis
 Lengan kiri tidak aktif bergerak
 Meraih benda dengan tangan kiri tidak dapat dilakukan
 Tangan kanan aktif bergerak daripada tangan kiri
2. Pemeriksaan Reflek
 Reflek menggenggam masih ada
 Reflek bicep tidak ada pada lengan kiri
 Radial reflek tidak ada pada tangan kiri
3. Tes sensorik
 Lateral fore arm (C6) tidak ada respon
 Lateral lengan (C5) tidak ada respon
 Trisep respon tidak ada
4. Tes Tonus Otot (postural tone test)

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan NCV
 Sistem motorik mengalami kenaikan tonus
 Kecepatan saraf pada latensi distal sinistra meningkat
 Sensorik tidak ada respon
2. Rontgen
 CT Scan normal
 Tidak ada kelainan pada lengan kiri
3. MRI
 Struktur anatomi tubuh penderita bagian lengan kiri mengalami perubahan bentuk
 Jaringan lunak dan saraf perifer mengalami kenaikan grafik respon sensomotorik

Diagnosa
Struktur Tubuh dan Fungsi
 Lesi pada pleksus brachialis bagian kiri
 Kontraktur pada otot lengan atas dan bawah bagian sinistra
 Lengan kiri hiperekstensi
Keterbatasan Aktivitas Keseharian (ADL)
 Penderita tidak dapat Rolling
 Memegang mainan terasa sulit pada tangan kiri
 Penderita kehilangan fungsi gerak tangan kiri
Partisipasi Restriksi
 Penderita tidak dapat bermain dengan baik dengan menggunakan tangan dan lengan kiri
 Kesulitan dalam mengambil mainan
Diagnosa Berdasarkan ICF

Anak kesulitan dalam memainkan gerak lengan kiri dimana fungsi gerak rolling, memegang
mainan, posisi lengan kontraktur karena adanya lesi pada pleksus brachialis bagian atas sisi kiri.
Rencana Penatalaksanaan Terapi
Tujuan
 Meningkatkan fungsi motorik lengan kiri
 Mengembalikan fungsi sensorik pada daerah lengan kiri
 Meningkatkan kemampuan fungsional anak
Prinsip Terapi
 Meningkatkan fungsi motorik lengan kiri
 Mengembalikan sensorik pada daerah lengan kiri
 Membantu dalam tumbuh kembang anak
Edukasi
 Mengajarkan gerak pasif melawan pola lengan penderita
 Memberikan fasilitasi anak untuk rolling dan tidak langsung dibantu rolling
 Mengajak penderita untuk program fisioterapi
Kriteria Rujukan
 Dokter Umum
 Fisioterapi

Prognosis
Prognosis akan membaik dan sembuh apabila penderita mengalami erb's palsy pada tingkat level
saraf C5 dan C6 sekitar 90% sembuh sendiri tanpa melakukan terapi.

Kondisi 53% ekstremitas atas dapat berfungsi dengan normal.

Namun jika penderita mengalami erb's palsy tingkat level saraf C7 ke bawah, maka dipastikan
tidak sembuh dan memerlukan terapi khusus untuk memulihkan kondisi anak itu.

Jika dibiarkan tanpa perawatan, maka prognosis akan memburuk.

Kode Penyakit
 Kode ICD: P14.0
 Kode ICF: b2, S2

Penulis : Sterno Pena

Kirim

INFO TERKAIT
LOAD COMMENTS


APA SIH SECANGKIR TERAPI ITU?

Copyright © 2016 - 2018 SECANGKIR TERAPI All Right Reserved

https://www.secangkirterapi.com/2018/04/pemeriksaan-klinis-erbs-palsy.html
ANATOMI PLEKSUS BRAKIALIS

Ramus anterior saraf spinal C5 sampai T1 bergabung membentuk pleksus brakialis. C5 dan C6
berbgabung membentuk

trunk superior, C7 membentuk trunk medial, dan C8 dan T1 bergabung membentuk trunk inferior. Cord
medial

merupakan divisi anterior dari trunk inferior. Divisi anterior yang berasal dari upper dan middle trunk
membentuk cord

lateral.Divisi posterior berasal 3 trunk membentuk posterior cord. Dari ketiga cord tersebut keluar
cabang saraf yang

menginervasi anggota gerak atas antara lain n muskulokutaneus berasal dari cord lateral, n medianus
berasal dari cord

lateral dan medial, n radialis dari cord posterior, n aksilaris dari cord posterior dan n ulnaris dari cord
medial.

Long thorasic dan dorsal scapular berasal langsung dari root saraf spinal. Hanya n suprascapular (C5 C6)
yang berasal

dari trunk.

Saraf spinal keluar dari foramina vertebralis dan melewati scalenus anterior dan medial, kemudian
antara klavikula dan

rusuk pertama didekat coracoid dan caput humerus. Pleksus pada bagian praosimal bergabung di
prevertebral dan oleh

axillary sheath di mid arm.


i

TINJAUAN PUSTAKA

TRAUMA PLEKSUS BRAKHIALIS

Oleh

dr. I Komang Arimbawa, Sp.S

I Gusti Ayu Ariningrat (1302006031)

Putu Eka Buana Sari (1302006025)

Kogeela Vani Veerasingam (1302006289)

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA

DI BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT SARAF

FK UNUD/RSUP SANGLAH

2017ii

LEMBAR PENGESAHAN

Tinjaua Pustaka ini telah disetujui dan dipresentasikan

Tanggal Agustus 2017

Pembimbing

dr. I Komang Arimbawa, Sp.S

Mengetahui, Kepala Bagian/SMF Neurologi

RSUP Sanglah/FK UNUD

Dr. dr. A.A. Bagus Ngurah Nuartha, Sp.S (K)

NIP. 19540114 198012 1 001iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena

dengan rahmat-Nya maka tinjauan pustaka dengan topik “Trauma Pleksus

Brakhialis” ini dapat selesai pada waktunya.


Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihakpihak yang telah membantu
dalam penyelesaian tinjauan pustaka ini. Laporan ini

disusun sebagai salah satu syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya di

Bagian/SMF Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas

Udayana/RSUP Sanglah. Maka dari itu, kami ingin mengucapkan terima kasih

kepada:

1. dr. Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha, Sp.S(K) selaku kepala Bagian/SMF

beserta dr. Ni Made Susilawathi, Sp.S selaku Koordinator Pendidikan di

Bagian/SMF Ilmu Penyakit Saraf RSUP Sanglah yang telah mengizinkan

kami untuk belajar di bagian ini;

2. dr. I Komang Arimbawa, Sp.S selaku pembimbing yang telah membimbing

kami dalam penyusunan tinjauan pustaka dan selama menjadi KKM di bagian

ini;

3. Dokter residen yang juga turut membimbing dan memberikan saran di dalam

pembuatan laporan ini;

4. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan laporan ini.

Penulis menyadari laporan ini masih jauh dari sempurna, sehingga saran dan

kritik pembaca yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk

kesempurnaan laporan ini. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Denpasar, Agustus 2017

Penulisiv

DAFTAR ISI

Cover .................................................................................................................. i

Lembar Pengesahan ........................................................................................... ii

Kata Pengantar ................................................................................................... iii

Daftar Isi ............................................................................................................ iv


BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 2

2.1 Anatomi Pleksus Brakhialis ............................................................... 2

2.2 Epidemiologi ..................................................................................... 3

2.3 Etiopatogenesis Trauma Pleksus Brakhialis....................................... 4

2.4 Diagnosis ........................................................................................... 7

2.5 Pemeriksaan Penunjang ..................................................................... 8

2.6 Penatalaksanaan ................................................................................. 12

2.7 Prognosis ........................................................................................... 15

BAB III PENUTUP ........................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 17

LAMPIRAN GAMBAR .................................................................................... 181

BAB I

PENDAHULUAN

Pleksus brakhialis dibentuk oleh bagian anterior 4 nervus cervicalis yang

terakhir dan oleh nervus thoracalis pertama. Radiks pleksus brakhialis terdiri atas

C5 dan C6 yang bersatu membentuk truncus bagian atas (upper trunk), C7 yang

menjadi truncus bagian tengah (middle trunk), C8 serta T1 yang bergabung

membentuk truncus bagian bawah (lower trunk).

Trauma berkekuatan tinggi pada ekstremitas atas dan leher bisa

menyebakan berbagai cedera pada Pleksus Brakhialis. Cedera tersebut

mengakibatkan kelemahan otot pada otot-otot yang terinerfasi oleh C5, C6, C7,

C8, dan Th1.Yang tersering adalah kecelakaan saat mengendarai sepeda

motor.Korban jatuh saat mengendarai sepeda motor dengan kepala dan bahu
membentur tanah. Benturan yang terjadi dengan posisi bahu depresi dan kepala

fleksi ke arah yang berlawanan. Gerakan yang sangat tiba-tiba tersebut juga

menyebabkan cedera tarikan pada clavicula dan struktur di bawahnya termasuk

pleksus brakhialis dan vena subclavia. Apabila clavicula sebagai penghubung

paling kuat antara bahu dengan kepala patah, maka semua gaya tarikan berpindah

ke serabut neurovascular. Mekanisme cedera semacam ini menyebabkan

kerusakan yang parah pada serabut saraf bagian atas. Hiperabduksi shoulder atau

tarikan yang kuat yang menyebabkan melebarnya sudut scapulohumeral

kebanyakan mempengaruhi akar saraf C8 dan T1, cedera traksi dengan kecepatan

tinggi bisa menyebabkan avulsi (robek) akar saraf dari medulla.

Menurut Office of Rare Disease of National Institutes of Health informasi

yang didapat mengenai insiden cedera saraf perifer adalah kejadiannya kurang

dari 200.000 jiwa per tahun dihitung pada populasi di Amerika Serikat. Sebagian

besar korbannya adalah pria muda yang berusia 15-25 tahun. Sementara itu cedera

pleksus brakhialis terus meningkat pula di kota-kota besar di Indonesia. Di

Surabaya kebanyakan pasien dengan pleksus brakhialis trauma adalah laki-laki

berusia antara 15 dan 25 tahun.. 70% dari trauma pleksus brakhialis terjadi karena

kecelakaan kendaraan bermotor.

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Pleksus Brakhialis

Pleksus brakhialis adalah pangkal dari serabut-serabut saraf yang berasal

dari medulla spinalis yang mempersarafi ekstremitas superior. Pleksus brakhialis


merupakan serabut saraf yang berasal dari ramus anterior radiks saraf C5-T1. C5

dan C6 bergabung membentuk trunk superior, C7 membentuk trunk medial, dan

C8 dan T1 bergabung membentuk trunk inferior. Trunkus berjalan melewati

klavikula dan disana membentuk divisi anterior dan posterior. Divisi posterior

dari masing-masing trunkus tadi akan membentuk fasikulus posterior. Divisi

anterior dari trunkus-trunkus superior dan media membentuk fasikulus lateral.

Divisi anterior dari trunkus inferior membentuk fasikulus medial. Kemudian

fasikulus posterior membentuk n. radialis dan n. axilaris. Fasikulus lateral terbagi

dua dimana cabang yang satu membentuk n. muskulokutaneus dan cabang lainnya

bergabung dengan fasikulus media untuk membentuk n. medianus. Fasikulus

media terbagi dua dimana cabang pertama ikut membentuk n. medianus dan

cabang lainnya menjadi n. ulnaris.

Gambar 1. Anatomi Pleksus Brakhialis3

Gambar 2. Dermatom Pleksus Brakhialis

2.2 Epidemiologi

Studi epidemiologis pada trauma pleksus brakialis sulit diketahui dengan

pasti dan epidemiologi dapat bervariasi di berbagai negara. Menurut penelitian

yang dilakukan di India Pusat tahun 2012 menyebutkan bahwa kecelakaan lalu

lintas menyumbang 94% pasien dan kecelakaan lalu lintas 90% melibatkan roda

dua. Cedera pleksus brakhialis membentuk bagian multitrauma pada 54%

kelompok penelitian dan 46% telah mengisolasi cedera pleksus brakhialis. Cedera

terkait seperti patah tulang, cedera vaskular dan cedera kepala jauh lebih kecil

kemungkinannya karena kecepatan kendaraan yang lebih rendah dibandingkan

dengan dunia barat. Lima puluh tujuh persen telah bergabung kembali bekerja
rata-rata 8,6 bulan. Diperlukan waktu rata-rata 6,8 bulan untuk pasien trauma

pleksus brakhial global untuk menulis di tangan mereka yang tidak dominan.

Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab trauma pleksus brakhialis pada

kebanyakan kasus (80,7%). Dari kecelakaan lalu lintas, dibagi lagi yaitu

kecelakaan sepeda motor (63,2%) diikuti oleh kecelakaan mobil (23,5%),

kecelakaan sepeda (10,7%) dan tabrakan pejalan kaki (3,1%). Menurut penelitian 4

yang dilakukan di Inggris tahun 2012, dilaporkan 450-500 kasus cedera

supraklavikular tertutup terjadi setiap tahun.

Kejadian trauma pleksus brakhialis juga sering terjadi pada bayi

makrosomia dengan shoulder dystocia. Bayi makrosomia dengan berat badan

antara 4000 gram dan 4500 gram kejadiannya 86,25% kasus dan antara 4.500

gram dan 5000 gram kejadiannya 12,25% kasus. Semua kasus ini terjadi saat

persalinan per vaginam.

2.3 Etiopatogenesis Trauma Pleksus Brakhialis

Trauma adalah salah satu penyebab plexopati brakialis yang paling umum.

Cedera ini biasanya diakibatkan oleh kecelakaan sepeda motor atau kecelakaan

kendaraan bermotor berkecepatan tinggi, jatuh dari ketinggian yang signifikan di

bawah daya tarik atau pukulan langsung. Hal itu bisa terjadi dengan luka tembus

dan luka tembak. Bisa akibat dari cedera iatrogenik, terutama sebagai komplikasi

administrasi blok saraf. Pada cedera pleksus brakialis traksi, kepala dan leher

diregangkan dengan keras dari bahu. Cedera pleksus atas biasanya terlihat jika

lengan berada di samping karena rusuk pertama bertindak sebagai tumpuan untuk
mengarahkan daya traksi secara istimewa sesuai dengan pleksus atas. Lesi pleksus

bawah mendominasi saat lengan diabduksi dan dielevasi dengan keras karena

koraloid bertindak sebagai titik tumpu dengan cara yang sama. Situs cedera praganglionik biasanya
terkait dengan avulsi radiks saraf, dengan radiks robek yang

terlepas dari sumsum tulang belakang, dan dengan demikian membawa prognosis

yang buruk. Cedera supraclavicular lebih sering terjadi dan lebih parah dan

memiliki prognosis yang lebih buruk daripada cedera infraclavicular.

Pasien yang cedera perlu dievaluasi secara menyeluruh, menentukan

cedera kepala, leher, dan bahu. Pada luka terbuka, bisa terjadi kerusakan pada

pembuluh darah besar dan paru-paru, dalam hal ini intervensi operasi

penyelamatan yang mendesak segera diperlukan. Integritas klavikula harus dinilai

dalam kasus tersebut. Seiring dengan defisit motorik dan sensorik di bahu dan

atau tungkai atas, adanya tanda-tanda sindrom Horner menunjukkan plexopati

batang bawah yang lebih rendah karena ganglion simpatis untuk T1 berada di

dekat pleksus brakialis. Dalam cedera peregangan, temuan MRI penebalan 5

asimetris, hiperensensitas T2, dan peningkatan kontras diffuse dari pleksus yang

terluka diamati. MRI pada cedera pra-ganglionik dapat menunjukkan avulsi

radiks, pseudomeningocele (air mata di selubung meningeal di sekitar radiks saraf

dengan ekstravasasi CSF di jaringan tetangga), peningkatan zona keluar radiks,

perubahan intensitas sinyal pada sumsum tulang belakang Pada tingkat avulsi

radiks dan/ atau otot paraspinal dan avulsi sumsum tulang belakang. Pada lesi

pasca ganglionik, peningkatan penebalan nodul (neuroma) dan hematoma di

sekitar pleksus adalah temuan pencitraan umum. Sebagian besar peneliti

berpendapat bahwa dalam situasi akut, intervensi bedah seperti reseksi saraf atau

okulasi akan sulit dilakukan karena sulitnya menilai kontinuitas saraf. Begitu
kondisi umum pasien stabil, penilaian neurologis dilakukan dengan hati-hati.

Prognosis lebih baik bila unsur-unsur pleksus dalam kontinuitas dan serabut saraf

memiliki cedera neuropraxic dengan aksonotmesis minimal. Faktor pembatas

utama adalah jarak antara percepatan akson akson dan organ akhir; Dengan

demikian, otot proksimal pleksus atas pulih lebih banyak daripada otot tangan

yang dipasok oleh batang bawah. Transfer saraf dapat dilakukan untuk

mempercepat pemulihan dari cedera pra-ganglionik. Prosedur seperti itu,

dilakukan secara ideal dalam waktu 6 bulan, mengurangi waktu untuk melakukan

re-innervasi dengan mengurangi jarak ke lokasi cedera saraf. Potensi

membangkitkan motorik intraoperasi membantu dalam menilai status fungsional

akar motor anterior dan serat motor. Rekonstruksi saraf primer, perpindahan sendi

dan transfer tendon dikombinasikan menghasilkan pemulihan fungsi yang layak

pada banyak pasien.

66

Gambar 3. Trauma pleksus brakhialis tipe upper terjadi ketika kepala dan leher

bergerak menjauh dari bahu ipsilateral.

Gambar 4. Trauma pleksus brakhialis tipe lower terjad saat lengan atas

diabduksikan keatas secara maksimal.

77

2.4 Diagnosis

1. Pemeriksaan Fisik

Secara klinis trauma pleksus brakhialis dibagi sesuai lokasi trauma yaitu

pleksus brakhialis tipe upper (Erb`s Palsy) dan pleksus brakhialis tipe

lower (Klumpke`s palsy). Dalam trauma supraklavukula bahu akan


adduksi dan internal rotasi yang akan mengakibatkan pronasi siku. Trauma

nervus supraskapular yang berlokasi di posterior suprascapular notch

akan memberikan gambaran klinis nyeri diatas notch, kelemahan otot saat

abduksi bahu, dan eksternal rotasi. Lesi pada level spinoglenoid notch

memberikan gambaran klinis kelemahan otot infraspinatus. Trauma pada

tingkat infraklavikula mungkin disebabkan oleh mekanisme trauma energi

tinggi pada bahu dan berhubungan dengan rupturnya arteri aksilaris.

Nervus aksilaris, supraskapular, dan muskulokutaneus akan terpengaruh

pada trauma tersebut. Evaluasi nervus medianus, ulnaris, dan radialis

dilakukan pada pemeriksaan pergelangan tangan dan jari tangan. Lesi

nervus muskulokutaneus dan lesi pada nervus medianus diperiksa dengan

fleksi dan ekstensi pada siku. Nervus aksilaris diperiksa dengan abduksi

bahu secara aktif dan peregangan otot deltoid. Latisimus dorsi diinervasi

oleh nervus thorakodorsal yang merupakan cabang bagian posterior dan

berlokasi di dalam dinding posterior fossa aksilaris. Pektoralis mayor

menerima inervasi dari saraf medial dan lateral. Nervus lateral anterior

thoracic menginervasi klavikula, nervus medial anterior thoracic

menginervasi otot sternokostal kepala.

78

Tabel 1. Cabang terminal pleksus brakhialis dan aksinya.

Saraf Otot Aksi

Skapular Dorsal (C5) Rhomboid Stabilisasi Skapula

Long Thoracic (C5) Serratus Anterior Abduksi skapula

Supraskapular (C5) Supraspinatus

Infraspinatus
Abduksi bahu

Eksternal rotasi bahu

Medialis (C8) dan

Pektoralis lateral (C7)

Pektoralis mayor

Pektoralis minor

Adduksi bahu

Stabilisasi skapula

Subskapular (C5) Subskapular dan teres

mayor

Internal rotasi bahu

Thorakodorsal (C7) Latissimus dorsi Adduksi bahu

Muskulokutaneus (C5) Biceps brakhii dan

brakhialis

Fleksi siku

Ulnar (C8,T1) Fleksor karpi ulnaris

Otot instrinsik pada

tangan

Fleksi pergelangan dan

jari

Abduksi jari

Medianus (C6, C7, C8,

T1)

Pronator lengan

Otot fleksi pergelangan


dan jari

Pronasi lengan

Fleksi pergelangan dan

jari

Radial (C6,C7,C8) Supinator

Triceps brachii

Otot ekstensi

pergelangan dan jari

Supinasi lengan

Eleksi siku, pergelangan

dan jari

Aksilari (C5) Deltoid dan teres minor Abduksi bahu

2.5 Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan Imaging

Pencitraan radiografi setelah cedera girdle leher atau bahu dapat

menunjukkan bukti adanya lesi neurologis secara bersamaan. Radiografi

tulang belakang servikal, shoulder girdle, humerus, dan dada seharusnya

diperoleh. Radiografi tulang belakang servikal harus dievaluasi untuk

patah tulang, yang bisa mengindikasikan bahwa sumsum tulang belakang 9

berada dalam bahaya. Terlebih lagi, adanya fraktur transversal pada

servikal menunjukkan kemungkinan avulsi radix pada tingkat yang sama.

Fraktur klavikula juga menunjukkan kemungkinan cedera pleksus

brakialis. Radiografi klavikula dapat menunjukkan fraktur tulang rusuk

pertama atau kedua, yang mungkin menyebabkan cedera pada bagian atas

pleksus brakialis.
6

Selain itu, meticulous inspection pada radiografi dada

dapat menunjukkan fraktur tulang rusuk terakhir, yang sangat penting

dalam hal transfer saraf interkostal, karena saraf interkostal sering cedera

oleh patah tulang rusuk yang sesuai. Ketika trauma saraf frenik,

ditunjukkan dengan adanya hemidiafragma yang tinggi dan lumpuh.

Computed tomography (CT), bersama dengan computed

tomographic myelography (CTM), memberikan kontribusi yang besar

terhadap evaluasi tingkat cedera saraf. Dalam kasus avulsi radiks servikal,

dapat terbentuk pseudomeningocele, dalam proses penyembuhan dura

mater. Segera setelah cedera, bekuan darah muncul di titik avulsi.

Gumpalan ini terlihat jelas dalam myelography sebagai titik bayangan pada

lesi dan sekitarnya. Selama hari pertama setelah cedera, temuan positif

mungkin tidak dapat diandalkan, karena duramaternya mungkin telah

pecah tanpa avulsi radiks servikal bersamaan. Untuk alasan ini, CT

myelography harus dilakukan 3 sampai 4 minggu posttrauma untuk

memastikan bahwa ada cukup waktu agar gumpalan darah diserap dan

untuk pembentukan pseudomeningocele yang merupakan tanda indikatif

cedera avulsi radiks pada CTM.

MRI memiliki kelebihan tertentu. MRI adalah metode noninvasif

yang dapat menggambarkan lebih banyak lesi, bagian dari cedera radiks da

pseudomeningocele yang terbentuk. MRI dapat memperlihatkan neuromas

posttraumatik, bersamaan dengan respon inflamasi dan edema jaringan


sekitarnya. Beberapa kekurangan yang dimiliki MRI konvensional yaitu

irisan yang diambil memiliki jarak yang cukup jauh antara keduanya,

untuk meyakinkan digunakan signal to noise ratio (SNRs), dengan resolusi

rendah dan ketidakmampuan untuk mendiagnosis lesi yang mendasari.

Selain itu, adanya artefak yang disebabkan oleh gerak seperti gerakan 10

menelan, tremor, pernapasan, dan jantung dada, serta gangguan aliran

cairan serebrospinal yang bisa menurunkan kualitas pencitraan.

2. Tes Histamin

Tujuan tes ini adalah untuk membedakan lesi preganglionik dan

posganglionik. Injeksi intradermal histamine menyebabkan triple respon

(reaksi memerah oleh karena dilatasi kapiler wheal terjadi karena

ekstravasasi cairan dari permeabilitas tinggi dan flare yang terjadi karena

dilatasi arteriolar dan reflek axon di nervus sensoris). Jika responnya flare

pada region kulit yang tidak diinjeksikan, kemudian lesi di proksimal

dorsal root ganglion, hal tersebut mengindikasikan trauma avulsi.

Sebaliknya, ketika lesi di posganglionik, tes akan negatif saat kontinuitas

antara kulit dan dorsal root ganglion terganggu.

3. Elektrodiagnostik

Tes elektrodiagnostik merupakan bagian integral dari evaluasi pra

operasi dan intraoperatif, dengan ketentuan bahwa konduksi dan evaluasi

hasilnya tepat. Evaluasi elektrodiagnostik dapat mengkonfirmasi

diagnosis, menentukan lesi, menentukan tingkat keparahan diskontinuitas


aksial, dan mengeliminasi entitas klinis lainnya dari diagnosis banding.

Pada luka tertutup, pemeriksaan elektromiografi dan kecepatan konduksi

saraf dapat dilakukan 3-4 minggu setelah cedera, saat potensial konduksi

tersebut berhenti di sepanjang saraf dengan cedera postganglionik akibat

degenerasi Wallerian. Pengujian serial bersamaan dengan pemeriksaan

fisik berulang setiap beberapa bulan dapat mendokumentasikan dan

mengukur reinnervasi atau denervasi yang sedang berlangsung.

Uji elektromiografi (EMG) dilakukan saat istirahat dan selama

aktivitas berlangsung. Perubahan denervasi (potensial fibrilasi) dapat

dilihat pada usia 10 sampai 14 hari setelah cedera pada otot proksimal dan

3 sampai 6 minggu pada otot distal. Pada trauma pleksus brakhial

posttraumatic, amplitudo potensial aksi otot umumnya rendah dan

berhubungan dengan jumlah total serat otot fungsional. Potensi aksi saraf 11

sensorik sangat penting dalam melokalisasi lesi sebagai preganglionik atau

postganglionik.

SNAPs digunakan pada lesi yang proksimal pada dorsal root

ganglia, karena tubuh sel saraf sensoris masih utuh di dalam dorsal root

ganglia. Sehingga pada lesi preganglionik terdapat SNAP normal dalam

dermatom yang tidak memiliki insensat dan potensi aksi otot tidak ada.

SNAPs tidak akan ada dalam lesi postganglionik atau kombinasi pra-dan

postganglionik. Saat inervasi sensorik tumpang tindih, terutama di jari

telunjuk, perhatian harus diberikan ketika lokalisasi lesi preganglionik

berdasarkan pada SNAP eksklusif.


7

Tanda awal pemulihan otot bisa dideteksi pada EMG (terjadinya

potensi baru, penurunan jumlah potensial fibrilasi, peningkatan motor unit

potensial). Tanda-tanda ini berkontribusi terhadap pemulihan klinis yang

diharapkan dalam minggu atau bulan. Namun, pemulihan EMG tidak

selalu memastikan pemulihan klinis yang relevan. Selain itu, pada EMG,

reinnervasi yang sedang berlangsung mungkin tidak terdeteksi pada lesi

dimana organ target akhir lebih distal. Penggunaan tes elektrodiagnostik

intraoperatif merupakan bagian integral dari bedah pleksus brakialis.

Kombinasi teknik elektrodiagnostik seperti nerve action potentials

(NAPs), somatosensory evoked potentials (SSEPs), dan compound muscle

action potentials (CMAPs) dapat memberikan informasi tambahan yang

memadai untuk membantu ahli bedah dalam pengambilan keputusan.

Tabel 2. Temuan neurofisiologikal pada trauma saraf perifer

Neurapraxia Axonotmesis Neurotmesis

Kecepatan

Konduksi

Biasanya

normal

Normal Tidak ada

Frekuensi CMAP Normal/

Menurun

Menururn Tidak ada


Frekuensi SNAP Menurun Menurun Tidak ada

Potensial

Abnormal pada

EMG

Tidak ada Kemungkinan

Ada

Ada12

2.6 Penatalaksanaan

1. Terapi Konservatif

Tujuan perawatan konservatif adalah mempertahankan jangkauan

gerak ekstremitas, untuk memperkuat otot fungsional, yang tersisa, untuk

melindungi denervasi dermatom, dan untuk managemen nyeri.

Edema kronis mungkin muncul sebagai akibat dari hipokinesia,

kehilangan tonus vaskular akibat denervasi simpatik, dan luka jaringan

lunak lainnya. Menjaga ekstremitas terangkat dapat menurunkan edema.

Manajemen nyeri mungkin merupakan prosedur yang sulit. Rasa

sakit yang signifikan diamati pada complete palsy of the brachial terutama

pada radiks avulsi. NSAIDs dan opioid dapat membantu selama tahap

pertama tapi tidak untuk membantu pasien dengan nyeri neuropatik, yang

membutuhkan penggunaan obat antiepilepsi (gabapentin dan

karbamazepin) atau antidepresan seperti amitriptilin secara hati-hati.

Operasi Dorsal Root Entry Zone (DREZ) dilakukan pada pasien dengan

nyeri terus-menerus, operasi ini didasarkan pada usaha untuk menghambat


transmisi sinyal saraf dari pusat sensorik sekunder.

2. Terapi Pembedahan

a. Neurolisis

Terapi ini digunakan pada lesi saraf kontinuitas. Teknik ini penting

untuk memelihara struktur interfascikular dan selubung saraf. Karena

memiliki risiko rusaknya vaskular, tidak disarankan menggunakan

neurolisis interfascikular, sebagai gantinya dapat digunakan

epineurorektomi untuk menghilangkan jaringan fibrous. Penggunaan

stimulasi saraf sebelum dan sesudah neurolisis dapat memperlihatkan

peningkatan konduksi saraf. Hasil klinis neurolisis tidak mudah untuk

diidentifikasi, banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan

funsgsional, selain neurolisis.

b. Nerve grafting

Teknik memotong area yang trauma kemudian menyambungkan

dengan area yang lebih proksimal. Hasilnya akan dipengaruhi oleh 13

panjang saraf yang akan disambung/ dicangkok, munculnya jaringan

skar pada daerah luka.

Pembedahan Saraf menggunakan graft dibagi menjadi:

a. Perbaikan Intra pleksus

Pada kasus trauma postganglionik, dimana terdapat donor radix,

radix stumps akan bergabung dengan target saraf yang lebih distal
dengan bantuan autologous grafts. Hal ini dapat dikerjakan pada

penggunaan graft pendek, yang memungkinkan pengambilan graft

dan vaskularisasinya secara bebas.

b. Perbaikan Ekstra pleksus

Teknik ini menggunakan graft yang berasal dari luar pleksus

seperti nervus intercostal sampai musculokutaneus digunakan

untuk graft pada nervus biseps dan nervus spinal accessory sampai

nervus suprascapular.untuk menginervasi rotatory cuff.

c. Transfer saraf distal

Konsep dasarnya adalah menggunakan fascikula atau cabang saraf

distal yang masih fungsional untuk menginervasi area otot yang

mengalami denervasi. Saraf donor biasanya mengalami sedikit

penurunan fungsional tetapi otot resipien terdekat akan cepat

dipersarafi dan akan menjadi fungsional, sebagai contoh:

- Fascikula nervus ulnaris sampai nervus muskulokutaneus

untuk otot biseps.

- Cabang long head triseps sampai bagian posterior dari nervus

aksillaris untuk otot deltoid.

- Cabang nervus muskulokutaneus sampai otot brakhialis

diberikan kepada nervus medianus untuk fleksi jari-jari

tangan.

c. Transfer kontralateral C7

Tranfer kontralteral C7 digunakan pada kelemahan global atau ketika

pilihan transfer lokal tidak dapat digunakan, namun untuk mengurangi

jarak ke saraf target, graft yang terhubung dengan kontralateral radiks


saraf, telah ditempatkan dibawah otot anterior skalenus dan otot longus 14

colli dan kemudian melewati ruang retroesofagus untuk memberikan

sinya pada saraf resipien. Rata-rata panjang graft yang digunakan

adalah 6.8 ± 1.9 cm.

Tabel 3. Jenis-jenis Saraf yang sering digunakan sebagai Donor dan Resipien

Donor Resipien

Nervus Aksesori spinal Nervus Supraskapular atau muskulokutaneus

Nervus frenikus atau Radix C5 Nervus Aksilaris

Nervus Interkostal Nervus Musculokutaneus, Nervus Medial

dan Radial

Kontralateral Radix C7 Nervus Medial

Nervus untuk biseps Nervus aksilaris cabang anterior15

2.7 Prognosis

Beberapa faktor yang mempengaruhi prognosis pada trauma saraf perifer:

Tabel 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis

No Faktor Prognosis

1 Mekanisme

Trauma

Trauma dengan energi yang tinggi akan mengakibatkan

prognosis yang buruk.

Trauma avulsi memiliki prognosis yang buruk dibandingkan

dengan ruptur akut.


Prognosis buruk berhubungan dengan secera vaskular.

2 Usia Prognosis lebih baik pada pasien usia muda.

3 Tipe nervus Penyembuhan fungsional lebih baik terjadi pada cedera

nervus sensoris atau motorik saja dibandingkan jika terkena

nervus sensoris dan motorik.

4 Level trauma Lesi supraklavikula prognosis lebih buruk dibandingkan

dengan lesi infraklavikula.

Pleksus brakhialis tipe upper memiliki prognosis lebih baik.

5 Nyeri Pasien dengan nyeri yang persisten lebih dari 6 bulan

setelah trauma memiliki kemungkinan yang rendah untuk

pulih.

6 Durasi

pembedahan

Fibrosis dan degenerasi dari organ target saat operasi

berhubungan dengan prognosis yang buruk.

7 Faktor lain Infeksi sekunder berhubungan dengan prognosis yang

buruk.16

BAB III

PENUTUP

Pleksus brakhialis dibentuk oleh bagian anterior 4 nervus servikalis yang

terakhir dan oleh nervus thorakalis pertama. Radiks pleksus brakhialis terdiri atas

C5 dan C6 yang bersatu membentuk truncus bagian atas (upper trunk), C7 yang

menjadi truncus bagian tengah (middle trunk), C8 serta T1 yang bergabung

membentuk truncus bagian bawah (lower trunk).

Pleksus brakhialis adalah pangkal dari serabut-serabut saraf yang berasal


dari medulla spinalis yang mempersarafi ekstremitas superior. Pleksus brakhialis

merupakan serabut saraf yang berasal dari ramus anterior radiks saraf C5-T1.

Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab trauma pleksus brakhialis pada

kebanyakan kasus iaitu (80,7%).Selain itu, Kejadian trauma pleksus brakhialis

juga sering terjadi pada bayi makrosomia dengan shoulder dystocia.Trauma yang

bisa menyebabkan plexopati brakialis adalah luka tembus,luka tembak,cedera

iatrogonik,cedera pleksus brakialis traksi, kepala dan leher serta cedera

supraclavicular.

Secara klinis trauma pleksus brakhialis dibagisesuai lokasi trauma yaitu

pleksus brakhialis tipe upper (Erb`sPalsy) dan pleksus brakhialis tipe lower

(Klumpke`s palsy). Pada trauma supraklavukula akan menjadi pronasi siku

dimana pada trauma nervus nervus supraskapul akan terjadi kelemahan otot saat

abduksi bahu, dan eksternal rotasi. Trauma pada tingkat infraklavikula

menyebabkan rupturnya arteri aksilaris. Nervus aksilaris, supraskapular, dan

muskulokutaneus akan terpengaruh pada trauma tersebut.Pemeriksaan penunjang

pada trauma plexuas brakialis adalah pemeriksaan imaging,tes histamin,

elektrodiagnostik. Seterusnya penalataksanaan pada lesi pleksus brakhialis adalah

terapi kosnservatif dan terapi pembedahan.Faktor-faktor yang menpengaruhi

prognosis cedera pleksus brakhialis adalah mekanisme trauma, usia, tipe nervus,

level trauma, nyeri, durasi pembedahan dan faktor lain.17

DAFTAR PUSTAKA

1. Sandi Putra N, Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Plexus Brachialis

Injury Di Rs Orthopedi Prof Dr Soeharso 2015;52

2. Leffert, Robert. The Anatomy of the Brachial Plexus. Brachial Plexus

Injuries. New York, NY: Churchill Livingstone; 1985.


3. Sabapathy S, Jain D, Bhardwaj P, Venkataramani H. An epidemiological

study of traumatic brachial plexus injury patients treated at an Indian

centre. Indian Journal of Plastic Surgery. 2012;45(3):498.

4. Kaiser R, Waldauf P, Haninec P. Types and severity of operated

supraclavicular brachial plexus injuries caused by traffic accidents. Acta

Neurochirurgica. 2012;154(7):1293-1297.

5. Kehila M, Derouich S, Touhami O, Belqhith S, Abouda HS, Cheour M,

Chanoufi MB. Macrosomia, shoulder dystocia and elongation of the

brachial plexus: what is the role of caesarean section?. The Pan African

medical journal. 2016.

6. Khadilkar S, Khade S. Brachial plexopathy. Annals of Indian Academy of

Neurology. 2013;16(1):12.

7. Sakellariou VI, Badilas NK, Mazis GA, Stavropoulos NA, Kotoulas HK,

Kyriakopoulos S, et al. Brachial Plexus Injuries in Adults : Evaluation and

Diagnostic Approach. Hindawi Publishing Corporation; 2014;2014.

8. Sakellariou VI, Badilas NK, Stavropoulos NA, Mazis G, Kotoulas HK,

Kyriakopoulos S, et al. Treatment Options for Brachial Plexus Injuries.

Hindawi Publishing Corporation; 2014;2014.

9. Thatte MR, Babhulkar S, Hiremath A. Brachial plexus injury in adults :

Diagnosis and surgical treatment strategies. 2013;16(1):26–3318

LAMPIRAN GAMBAR

Berikut contoh gambar teknik transfer saraf.

Gambar 5 Transfer cabang motor otot brakhioradialis menuju saraf anterior

interosseous.

9
Gambar 6 Transfer cabang lateral nervus thoracodorsal menuju nervus long

thoracic

919

Gambar 7 Transfer long head triceps pada nervus radialis menuju cabang

anterior nervus aksilaris

Gambar 8 Transfer biifascikular fascikula nervus medianus dan ulnaris menuju

cabang biseps dan brakhialis

920

Gambar 9 Transfer Spinal Accessory nerve menuju Suprascapular nerve

https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_dir/7ac5946f0e4829f49006c8a483c0757b.pdf