Anda di halaman 1dari 41

PELATIHAN ROAD DESIGN ENGINEER

(AHLI TEKNIK DESAIN JALAN)

MODUL
RDE - 09: DASAR-DASAR PERENCANAAN
BANGUNAN PELENGKAP JALAN

2005

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA
PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN
KONSTRUKSI (PUSBIN-KPK)

MyDoc/Pusbin-KPK/Draft1
Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Kata Pengantar

KATA PENGANTAR

Dalam rangka menunjang fungsi jalan baik berkaitan dengan keamanan


konstruksi, maupun berkaitan dengan keamanan dan keselamatan pengguna
jalan, maka jalan harus dilengkapi dengan bangunan pelengkap dan perlengkapan
jalan dan merupakan satu kesatuan dari konstruksi jalan secara keseluruhan.
Bangunan pelengkap jalan merupakan bangunan yang dibuat dalam rangka
pengamanan konstruksi jalan dari pengaruh dan kondisi alam sekitarnya terutama
air. Sedangkan perlengkapan jalan berkaitan dengan lalu lintas baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Pengetahuan mengenai pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jalan
merupakan salah satu pengetahuan yang harus dipahami oleh para pengawas
pekerjaan konstruksi guna menunjang pelaksanaan tugas pengawasan pekerjaan
jalan.
Penulisan dan penyusunan modul ini didasarkan pada semua ketentuan berkaitan
dengan konstruksi jalan maupun pengaturan mengenai lalu lintas yang berlaku
dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga.
Penulis menyadari bahwa modul ini masih jauh dari sempurna, oleh karenanya
untuk kesempurnaan modul ini kami sangat mengharapkan masukan yang besifat
kritik membangun dan tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang mendukung penulisan modul ini.
Harapan kami semoga modul ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
membutuhkannya.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) i


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Kata Pengantar

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) ii


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Kata Pengantar

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : Pelatihan Ahli Teknik Desain Jalan


(Road Design Engineer)

MODEL PELATIHAN : Lokakarya terstruktur

TUJUAN UMUM PELATIHAN :


Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu membuat desain jalan mencakup
perencanaan geometrik dan perkerasan jalan termasuk mengkoordinasikan
perencanaan drainase , bangunan pelengkap dan perlengkapan jalan.

TUJUAN KHUSUS PELATIHAN :


Pada akhir pelatihan ini peserta diharapkan mampu:

1. Melaksanakan Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan.


2. Melaksanakan Manajemen K3, RKL dan RPL.
3. Mengenal dan Membaca Peta.
4. Melaksanakan Survei Penentuan Trase Jalan.
5. Melaksanakan Dasar-dasar Pengukuran Topografi
6. Melaksanakan Dasar-dasar Survei dan Pengujian Geoteknik.
7. Melaksanakan Dasar-dasar Perencanaan Drainase.
8. Melaksanakan Rekayasa Lalu-lintas.
9. Melaksanakan Dasar-dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap dan
Perlengkapan Jalan.
10. Melaksanakan Perencanaan Geometrik.
11. Melaksanakan Perencanaan Perkerasan Jalan.
12. Melakukan pemilihan jenis Bahan Perkerasan Jalan.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) iii


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Kata Pengantar

NOMOR : RDE-09

JUDUL MODUL : DASAR-DASAR PERENCANAAN BANGUNAN


PELENGKAP

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU) :


Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu melaksanakan dasar-dasar bangunan
pelengkap untuk diintegrasikan ke dalam penyiapan perencanaan teknis jalan.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)


Pada akhir pelajaran peserta diharapkan mampu :
1. Menjelaskan jenis bangunan pelengkap jalan
2. Menjelaskan jenis bangunan pengaman jalan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) iv


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Kata Pengantar

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................................. i


LEMBAR TUJUAN ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iv
DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN
MODUL PELATIHAN AHLI TEKNIK
PERENCANAAN JALAN (Road Design
Engineer) .......................................................................................... v
DAFTAR MODUL ........................................................................................ vi
PANDUAN INSTRUKTUR ......................................................................... vii

BAB I PENGENALAN JENIS BANGUNAN PELENGKAP JALAN................ I – 1


1.1. Konstruksi Bangunan Pelengkap Jalan......................................... I – 1

BAB II PENGENALAN JENIS BANGUNAN PENGAMAN JALAN............... II – 1


2.1. Tembok Penahan Tanah……………………………………………. II – 1
2.1.1. Tembok Permukaan Tanah………………………………. II – 1
2.1.2. Patok Pengarah ............................................................. II – 3
2.1.3. Patok Kilometer ............................................................. II – 4
2.2. Rel Pengaman ............................................................................ II – 4

RANGKUMAN

DAFTAR PUSTAKA

HAND OUT

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) v


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Kata Pengantar

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL


PELATIHAN AHLI TEKNIK DESAIN JALAN
(Road Design Engineer)

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Ahli Teknik Desain
Jalan (Road Design Engineer) dibakukan dalam Standar Kompetensi
Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit
kerja sehingga dalam Pelatihan Ahli Teknik Desain Jalan (Road Design
Engineer) unit-unit tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan.

2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing


Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang
menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari
setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan
kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan
kompetensi tersebut.

3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka


berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun
seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang
harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Ahli Teknik Desain Jalan
(Road Design Engineer).

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) vi


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Kata Pengantar

DAFTAR MODUL

Jabatan Kerja : Road Design Engineer (RDE)

Nomor
Kode Judul Modul
Modul
1 RDE – 01 Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK, dan UU Jalan

2 RDE – 02 Manjemen K3, RKL dan RPL

3 RDE – 03 Pengenalan dan Pembacaan Peta

4 RDE – 04 Survai Penentuan Trase Jalan

5 RDE – 05 Dasar-dasar Pengukuran Topografi

6 RDE – 06 Dasar-dasar Survai dan Pengujian Geoteknik

7 RDE – 07 Dasar-dasar Perencanaan Drainase Jalan

8 RDE – 08 Rekayasa Lalu Lintas


Dasar-dasar Perencanaan Bangunan
9 RDE – 09
Pelengkap
10 RDE – 10 Perencanaan Geometrik

11 RDE – 11 Perencanaan Perkerasan Jalan

12 RDE – 12 Bahan Perkerasan jalan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) vii


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Kata Pengantar

PANDUAN INSTRUKTUR

A. BATASAN

NAMA PELATIHAN : AHLI TEKNIK DESAIN JALAN


(Road Design Engineer )

KODE MODUL : RDE - 09

JUDUL MODUL : DASAR-DASAR PERENCANAAN BANGUNAN


PELENGKAP

DESKRIPSI : Modul ini membicarakan mengenai jenis bangunan


pelengkap jalan dan jenis bangunan pengaman
jalan.

TEMPAT KEGIATAN : Di dalam ruang kelas, lengkap dengan fasilitas


yang diperlukan.

WAKTU PEMBELAJARAN : 4 (Empat) Jam Pelajaran (JP) (1 JP = 45 Menit)

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) viii


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Kata Pengantar

B. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung

1. Ceramah : Pembukaan

 Menjelaskan tujuan instruksional  Mengikuti penjelasan TIU OHT.


(TIU dan TIK) dan TIK dengan tekun dan
 Merangsang motivasi peserta de- aktif
ngan pertanyaan ataupun penga-  Mengajukan pertanyaan a-
lamannya dalam melakukan pe- pabila ada yang kurang jelas
kerjaan jalan

Waktu : 10 menit

2. Ceramah : Bab I, Jenis Bangunan


Pelengkap Jalan

Memberikan gambaran umum tentang  Mengikuti penjelasan atau OHT.


Jenis bangunanpelengkap jalan. bahasan instruktur dengan
tekun dan aktif
Waktu : 90 menit  Mengajukan pertanyaan a-
pabila ada yang kurang jelas

3. Ceramah : Bab II, Jenis Bangunan


Pengaman Jalan
OHT.
Memberikan penjelasan, uraian atau-  Mengikuti penjelasan, uraian
pun bahasan mengenai Pengenalan atau bahasan instruktur
Jenis Bangunan Pengaman Jalan dengan tekun dan aktif
 Mengajukan pertanyaan a-
Waktu : 80 menit pabila ada yang kurang jelas

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) ix


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

BAB I
PENGENALAN JENIS BANGUNAN PELENGKAP JALAN

1.1. KONSTRUKSI BANGUNAN PELENGKAP JALAN

Konstruksi bangunan pelengkap jalan meliputi:

1. Saluran Air Jalan


a. Saluran tepi jalan berupa saluran terbuka.
Konstruksi saluran tepi jalan dapat berupa tanah saja, dibuat dari pasangan
batu atau beton.
Bentuk potongan melintang saluran dapat berupa trapesium, segitiga atau
empat persegi panjang.

Gambar 1.1
Saluran Tepi Jalan Dengan Konstruksi Beton Bertulang

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-1


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

Gambar 1.2
Selokan A.1, A.2,A.3, B, C1 dan C2
Catatan :
1. (i) Ukuran-ukuran W dan H yang diambil sedemikian (ii) Maksimum jarak lubang suling harus 200 cm
rupa sehinngga tinggi banjir 1 tahun harus arah horizontal dan 100 cm arah vertikal
dibawah puncak selokan dan puncak subgrade 3 Lain harus 300 cm, atau dengan panjang tertentu
dan dasar saluran minimum harud dibawah supaya menjamin bahwa kesinambungan
lubang suling sebelah luar timbunan dan lereng galian terhampar di luar
(ii) Kemiringan saluran dicocokan dengan kemiringan dasar saluran
timbunan 4 Semua ukuran dalam centimeter kecuali, ada
ketentuan lain
2. (i) Kecuali ditetapkan lain, lubang filter harus
berdiameter 5 cm

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-2


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

b. Saluran Tertutup
Konstruksi saluran tertutup dari beton bertulang atau pasangan batu.
Bentuk potongan melintang saluran dapat berupa lingkaran atau empat
persegi panjang.

Gambar 1.3
Gorong-Gorong Pipa Bertulang

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-3


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

Catatan : 7. Tulangan haruslah sdari baja structural atau


1. Semua perincian disini tidak menurut skala, struktur kawat sesuai dengan AASHTO m33
semua ukuran dalam meter, kecuali ditentukan dan M33
lain. 8. pemasangan gorong-gorong harus sesuai
2. Tipe lantai landasan (beddeng) untuk tipe dengan spesifikasi
tergantung dari kondisi pondasi tanahnya dan 9. sebelum konstruksi dimulai, engineer harus
harus sesuai denagn petunjuk engineer memeriksa dan menyetujui mengenai lokasi
3. gorong-gorong pipa bertulang ekuavalen dan invert dari inlet dan outlet seperti yang
dengan gorong-gorong R.C.P kelas III menurut disteak out kontraktor
standar AASHTO M12OH Penyesuaian dengan kondisi yang ada harus
4. setiap curuk tulangan lingkar harus disusun sesuai dengan petunjuk engineer
dalam kerangka yang harus memuat tulangan 10. Panjang gorong-gorong harus sesuai dengan
memanjang yang cukup untuk menjaga agar bentuk engineer
tulangan tersebut tetap berbentuk kuat dan 11. semua sambungan harus berbentuk “laki-
dengan posisi yang tepat pada cetakan perempuan” (tangoe and gsove) seperti di
5. selimut beton pada tulangan D kerangka gambar
sebelah dalam untuk R.C.P lebih dari Ø 100 cm 12. semua sambungan harus ditutup adukan. Cara
harus 2.3, untuk Ø 100 cm atau lebih besar penutupan harus sesuai petunjuk Engineer
harus 2.0 cm
6. Jika selimut/timbunan antara bagian atas pipa
dan bagian bawah konstruksi perkiraan kurang
dari 0.30 pipa tersebut harus dapat diberi
selimut beton

Gambar 1.4
Tembok Kepala Untuk Gorong-Gorong Pipa Type B

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-4


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

Catatan : UKURAN DAN BANYAKNYA


1. Tembok Kepala Type B dapat dipakai di DIA UKURAN BANYAKNYA
tempat tembok kepala Type A apabila
ditentukan oleh Direksi Teknik PIPA T H W L ADUKAN
2. Umumnya tembok kepala type B dipakai 0.30 0.045 0.65 1.05 0.53 0.49
dalam kondisi daerah curam dalam kondisi
type A tidak dipakai 0.40 0.05 0.88 1.30 0.65 0.83
3. Semua ukuran dalam meter kecuali jika
0.50 0.055 1.03 1.55 0.77 1.17
ditentukan lain,
Semua detail tidak menurut skala 0.60 0.065 1.14 1.80 0.90 1.51
0.70 0.07 1.27 2.10 1.05 1.76
0.80 0.075 1.39 2.40 1.20 2.01
0.90 0.08 1.49 2.70 1.35 3.78
1.00 0.085 1.64 3.10 1.50 4.37
1.20 0.10 1.90 3.90 1.65 4.96

Tembok sayap

Tembok Utama
Perpanjangan
Outlet
(buangan Apron
Perpanjangan
Inter Apron

Apron Pasangan batu apron


ukuran batang 20 x 30 cm
Kurb pada daerah lembah dan 30
sampai 40 cm pada daerah berbukit

DENAH

Apron

Koker POTONGAN OUTLET


CATATAN :
1. Pasangan batu kosong dari
outlet apron harus disediakan sesuai
Apron
petunjuk Direksi Teknik
2. Ukuran-ukuran yang diperlihatkan
mungkin dapat dirubah untuk di-
sesuaikan dengan keadaan lapangan
3. Seluruh ukuran-ukuran dalam meter
kecuali ditetapkan lain dan seluruh
Koker detail tanpa sekala
POT INLET

OUTLET (PEMBUANGAN) DARI TEMBOK PENAHAN TANAH

Dervariasi Tepi Pasangan

Isi Timbunan Catatan : untuk detail tembok


penahan tanah lihat
lembar 5.20

Tonjolan pipa yang keluar paling


kurang 20 cm dari cuka tembok penahan

Permukaan tanah
yang ada Pasang batu pecah pda bagian
khaki talud untuk mencegah ter-
jadinya pengerusan. Lihat catatan
POTONGAN ELEVASI ukuran batu pasangan batu apron

Gambar 1.5
Inlet Dan Outlet Apron, Outlet Penahan Tanah Tipe Pipa

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-5


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

Bahan penyaring
Sambungan tanpa sambungan tuang

Sambungan konstruksi
panjang lewatan

SOG memanjang

Gambar 1.6
Inlet Dan Outlet Apron, Outlet Penahan Tanah Tipe Box

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-6


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

Keseimbangan
profil

Tembok Sayap pasangan


sayap batu
Apron
Apron
Apron
Pasangan batu Sambungan
celah Lantai kerja dari material
Apron

POT. A-A POT. X-X POT. Y-Y


DENAH

Timbunan
Tulang
melintang

Permukaan
Sayap pasangan
Curb batu

DETAIL KEDUDUKAN ABUTMENT


Celah

Lantai kerja Plat dasar


Dinding
pasangan
batu
POT. B-B

DETAIL CURB
Ukuran dan kuantitas gorong-gorong
Gorong-gorong Ukuran Kuantitas per m gorong-gorong
Tulangan (Kg)
Type SxH T A B L Pas batu Beton m3
HF=0-60 HF=60-100 HF=100-150 HF=150-200
I 70X70 18 30 30 144 1.44 0.36 68 58 56 62
II 90X90 20 30 50 168 1.40 0.44 72 68 68 70
III 100X100 25 30 50 180 1.52 0.56 88 84 83 87
IV 100X150 25 35 65 200 2.30 0.61 91 88 88 90
V 100X200 25 50 90 240 2.52 0.75 164 131 130 133
VI 150X150 30 35 65 250 2.30 0.87 171 138 138 141
VII 150X250 30 50 110 320 5.19 1.12 183 170 170 178
VIII 200X200 30 50 90 340 3.88 1.34 207 186 186 176

Ukuran dan kuantitas dinding sayap termasuk lantai muka dan dinding haling
Gorong-gorong ukuran Kuantitas
Kuantitas batu tepi per m’
Sayap satu sisi
SxH D E F G batu tepi
Type pas batu (m3)
I 70X70 88 65 114 198 3.13
Beton m3 Tulangan kg
II 90X90 110 74 115 223 3.57
III 100X100 125 80 136 256 4.41
0.03 2.69
IV 100X150 175 105 205 305 8.93
V 100X200 225 140 287 427 13.30
VI 150X150 180 107 210 360 9.35
VII 150X250 280 162 383 603 22.70
VIII 200X200 235 144 303 543 15.79

Gambar 1.7
Sistem Penyambungan Pada Gorong-Gorong Kotak Atau Gorong-
Gorong Lingkungan Yang Lama
Catatan :
1. Untuk daftar pembengkokan tulangan lihat tabel
2. Perhitungan dikenal dan kwantitas yang diberikan hanya untuk pedoman dan harus diperiksa oleh kontraktor
3. Pelaksanaan harus dibuat menurut spesifikasi
4. Sebelum dimulai pelaksanaan Direksi akan memeriksa dan menyetujui lokasi dan mengembalikan pengukuran
kontraktor. Keperluan pengaturan untuk mencocokkan dengan kondisi lapangan yang ada akan dibuat atas petunjuk
DIreksi
5. Panjang dan kemiringan gorong-gorong atas petunjuk direksi
6. Semua beton harus klas III/275
7. Sambungan vertikal celah harus diberikan antara sayap dan dinding
8. Pengisian kembali urugan dilaksanakan hanya setelah plat atas telah dibuka dan dipelihara selama 18 hari

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-7


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

9. Inlet pasangan batu dan outlet diberikan atas petunjuk direksi


10. Filter yang diusulkan dan material lantai kerja harus diperiksa dan disetujui oleh Direksi sebelum ditempatkan
11. Timbunan yang berdekatan dengan gorong-gorong harus terdiri dari material berbutir dari dasar sungai dilindungi
oleh lempengan rumput jadi kemiringan 1,5 : 1 dapat digunakan
Apabila volume material berbutir tidak mencukupi hanya diluar 1,0 m timbunan akan dilaksanakan dgn material ini
12. Lereng timbunan pada gorong-gorong kotak dan gorong-gorong plat 1,4 :1 dimana ini berbeda dari lereng timbunan.
13. Semua ukuran dalam meter kecuali ditentukan lain. Semua detail tidak menurut skala.

GORONG-GORONG KOTAK BAR GORONG-GORONG KOTAK ATAU GORONG


YANG ADA
Bersihkan dan kasarkan permukaan Berlubang kedalam slab beton
beton yang ada dan dinding lama untuk mendapat
Panjang barang dowel yang tampak kan jarak pemasangan tulangan
dan tambahan gorong-gorong
(diameter Batang 30)
pasahuan dowel dengan panjang
yang ditentukan ke dalam lubang itu
ikat tulangan baru ke tulangan lama.

Panjang “lap” 40
diameter tulangan
Ujuran dan jarak tulangan
dari sesuai dengan jawaban
gorong-gorong kotak
(lihat lembar 4.20 - 4.23)

GORONG-GORONG KOTAK ATAU LENGKUNG


BUKAN DARI BETON YANG BERTULANG

GORONG-GIORONG KOTAK BARU GORONG-GORONG


GORORNG LENGKUNG
Hancurkan beton lama dan biarkan tampak semua
tulangan diflat dan dinding min. Panjang 50 Hancurkan Bersihkan dan kasarkan permukaan
beton yang ada

Ukuran dan jarak tulangan baru harus


sama dengan yang ada dislab kecuali
Panjang lap
ditentukan lain oleh enginer
diameter tulangan
Catatan :

1.
Kecuali ditunjukan lain diameter tulangan dinyatakan
dalam mm dan ukuran lan dalam centimeter
Gorong-gorong 2. Lokasi dan elevasi gorong-gorong yang tepat harus
Lengkung yang ada disetujui Direksi
Gorong-gorong 3. untuk menambah panjang gorong-gorong yang ada
kotak baru sebagia “titik kerja”
4. sesuaikan sesuai ukuran dalam dari gorong-gorong
kotak dengan gorong-gorong yang ada, dan pilih ukuran
yang paling sesuai dari daftar standar (baku). Lihat
lembar 4.20 sampai 4.23
5. semua penambahan panjang dan perubahan dari
gorong-gorong lama harus dilaksanakan sesuai dengan
PENYAMBUNGAN GORONG-GORONG petunjuk engineer
LENGKUNG LAMA DENGAN 6. penambahan panjang atau perubahan akan
GORONG-GORONG KOTAK BARU dilaksanakan sedemikian rupa sesuai dengan pekerjaan
pelebaran dan perkerasan jalan dan sesuai dengan
petunjuk direksi
7. penambahan panjang atau perubahan akan dilaksanakan pada satu atau dua sisi akan tergantung pada
posisi yang tepat dari as jalan
8. jika diperlukan untuk menambah panjang atau kurb baru harus dibuat dan harus sama dengan yang ada disisi
lain
9. beton yang baru dibuka harus dijaga tetap kelembabannya selama paling sedikit 24 jam sebelum beton baru
dipasang. Sesaat sebelum pemasangan beton baru tersebut, permukaan beton lama harus diolesi pasta
semen
10. abutmen, sayap dan tembok pangkal jembatan harus ditambah atau dibuat sesuai dengan kebutuhan
11. kemiringan urugan pada gorong-gorong kotak harus 1,5 : 1. jika hal ini berbeda dengan kemiringan urugan
normal, kemiringan urugan harus disesuaikan secara berangsur-angsur sepanjang 10 dikedua sisi gorong-
gorong.
Gambar 1.8
Standar Selokan Dan Drainase Beton Untuk Perbaikan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-8


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

Perkerasan

Bervariasi
Pasangan batu III. SALURAN BETON BERTULANG
Tulangan

Tulangan
Hamparan
material

Bervariasi
I. SALURAN PASANGAN BATU DENGAN ADUKAN (JENIS TERBUKA)
Tulangan Tulangan
Tulangan

Bervariasi
pokok
menanjang

Tulangan Tulangan
Tulangan pokok
menanjang

II. SALURAN PASANGAN BATU DENGAN ADUKAN (JENIS TERTUTUP)

CATATAN:

1. Kecuali ditentukan lain, semua ukuran dalam 4. Lokasi dan ukuran yang tepat dari selokan
centimeter, ukuran tulangan dalam mm harus dibicarakan dengan Direksi Teknis
2. Plat penutup pracetak dalam potongan 60 cm 5. Kecuali ditentukan lainpada gambar minimum
3. Pada bagian-bagian menerus dengan panjang penutup yang diberi baja tulangan harus 5 cm
melebihi 40 m harus disediakan plat penutup 6. Detail tidak menurut skala
yang bisa diangkat, penutup bidang
perawatan dari beton atau jeruji baja dengan
jarak antara 40 m

Gambar 1.9
Standar Selokan Dan Drainase Beton

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-9


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

2. Saluran bawah permukaan


Konstruksi saluran air bawah permukaan seperti nampak pada gambar dibawah ini

Gar
is ke
mirin Perkerasan Saluran
gan
rata
-rata Profil potongan
1%
(catatan 2) atau kerb

KEMIRINGAN
PERKERASAN W (catatan7)
Dasar
Saluran 1%(catatan 2)
1%(catatan 4)
Pasangan
Batu
Dasar Saluran Lapis
pengikat
tebal
Lapisan perkerasan
Bagian Atas Pasangan
tanah dasar Batu

POTONGAN MEMANJANG GARIS TENGAH SELOKAN


Perkerasan
dibawah saluran
(c atatan 6)

Pasangan Pipa
Batu Drainase
(diperlukan)

Drainase
bawah

Catatan :
1. Saluran pinggir yang digunakan pada bagian yang benar-benar
dibatasi dimana tidak cukup tempat untuk bahu jalan plus saluran
dan pelanggaran batas tertentu oleh lalu lintas terhadap daerah
saluran harus dibolehkan dengan alasan keamaan
2. Pelapisan permukaan perkerasan harus diteruskan sampai pinggir
Catatan : saluran
1. Gambar tidak berskala 3. Pelaburan permukaan harus melebihi pinggiran saluran 75 mm
2. Kemiringan antara bagian-bagian penurunan seperti 4. Bila diperintah oleh Direksi Teknik, kemiringan perkerasan harus
yang diperintahkan oleh Direksi Teknik untuk menghindari dinaikkan minimum 4%
penggerusan 5. Timbunan poros pada saluran penyaring harus mencapai sisi
3. Potongan melintang pada bagian penurunan untuk bawah pasangan batu
memenuhi drainase tanpa pasangan. 6. Kedalaman total dari saluran dan perkerasan di bawah saluran
bisa sama atau lebih besar daripada kedalaman total perkerasan
total
7. V bervariasi, contoh ukuran 1,0 - 1,5 cm

Gambar 1.10
Bagian Permukaan Standar Untuk Saluran Tidak Dengan Pemasangan
Dan Saluran Standar Yang Dapat Dimulai

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 10


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

ALTERNATIF TERHADAP TENUNAN

Catatan : 4 Tujuan dari saluran bawah tanah bukan untuk


1. Ukuran dalam sentimeter, semua detaik tidak membuang air dalam jumlah besar tetapi
menurut skala untuk mengurangi kekuatan dari tekanan
2. Jenis tenunan penjaring plastic dan material resapan dengan menurunkan permukaan air
urugan porous harus disetujui Direksi Teknik tanah.
3. Saluran harus punya kemiringan 1 : 200 atau
lebih tajam dan diteruskan ke posisi keluaran
yang jelas menurut petunjuk Direksi Teknik,
posisi keluaran harus diberi tanda yang jelas
di lapangan dan dicatat di gambar,

Gambar 1.11
Drainase Bawah Permukaan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 11


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

2. Tembok Permukaan Tanah


Konstruksi tembok permukaan tanah dapat dibuat dari pasangan batu kali, pasangan
batu kali, bronjong kawat (gabion), bahkan dapat pula digunakan sheet pile baja
ataupun beton
Beberapa contoh konstruksi nampak pada gambar dibawah ini :

Minimum 75 Minimum 75
Plesteran
½H
(Jarak minimum 150)

Pasangan Batu

0.5 cm Lobang -B uangan air


Minimum 50
Lapis Permukaan Aspal

Lapis Pondasi Bawah


Max 30
50
Lapis pondasi bawah
Minimum

Tinggi minimal tanah


didepan dinding
Bahan timbunan berpori

Beton kelas -K125

H = 500 - 700

Gambar 1.12
Tembok Penahan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 12


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

Gambar 1.13 .
Perkuatan Lereng Tepi Sungai

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 13


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

TIPE URUGAN UNTUK PELEBARAN JALAN

Catatan :
1. Jika tidak ditentukan lain yang terdapat pada gambar atau atas petunjuk Direksi, urugan
kemiringan harus 3 : 1 atau ketinggian urugan lebih dari 1.0 m, 2 : 1 m dan 1,5 : 1 untuk ketinggian
urugan melebihi 2.0 m. pada tanah yang tidak teroresi kemiringan dapat dikurangi 1,5 : 1 atau 2 :
1 atas petunjuk Direksi. LIhat pada table atas untuk tipe urugan yang digunakan
2. semua dimensi dalam meter kecuali ditentukan lain, semua detail tidak menurut skala
3. lubang drainase pada perkuatan lereng 50 mm Ø 2 dan 0,30 as ke as baik memanjang dan dalam
arah lereng
4. ketebalan batu muka 0,20 dan 0,30 seperti terlihat pada rencana jalan raya atau atas petunjuk
Direksi
5. batu muka yang disiar tebal 0.30 harus disiar dengan beton dan tebal 0,20 dengan adukan
6. direksi dapat menetapkan dinding kaki dan dinding cut off dibuat dari beton

Gambar 1.14 Perkuatan Lereng Dari Batu Muka

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 14


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

3. Jembatan
Konstruksi jembatan sangat bervariasi, dapat berupa :
a. Konstruksi jembatan kayu
b. Konstruksi jembatan sederhana
c. Konstruksi jembatan komposit
d. Konstruksi jembatan rangka baja
e. Konstruksi jembatan beton bertulang
Untuk konstruksi jembatan akan dibahas tersendiri

3.2 KONSTRUKSI PERLENGKAPAN JALAN

Telah diuraikan pada Bab I tentang fungsi dan penggunaan bangunan pelengkap jalan. Di
bawah ini akan diberikan beberapa gambar perlengkapan jalan yang sering digunakan
antara lain :

1. Patok dan Marka-marka Jalan

Gambar 1.15. Patok dan Marka-marka

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 15


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

2. Rambu-rambu Lalu Lintas

Gambar 1.16 Rambu Peringatan Suatu Bahaya

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 16


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

KETERANGAN GAMBAR 1.16


1. Tikungan ke kiri : Kuning 14b. Awas ! Hewan liar
1a. Tikungan ke kanan : Hitam 15. Perbaikan jalan
1b. Tikungan tajam ke kiri 16. Lampu lalu lintas
1c. Tikungan tajam ke kanan 17. Lapangan terbang
1d. Tikungan ganda 18. Angin dari samping
1e. Tikungan ganda 19. Lalu lintas dua arah
1f. Banyak tikungan 20. Hati-hati
1g. Banyak tikungan 21. Persimpangan
2. Turunan 21a. Persimpangan
2a. Turunan 21b. Persimpangan
3. Tanjakan 21c. Persimpangan
3a. Tanjakan curam 21d. Persimpangan
4. Penyempitan kiri-kanan 21e. Persimpangan
4a. Penyempitan kiri 21f. Persimpangan
4b. Penyempitan kanan 21g. Persimpangan
4c. Jembatan sempit 21h. Persimpangan
5. Jembatan angkat 22. Persimpangan dengan prioritas
6. Tepi air 22a. Persimpangan dengan prioritas
7. Jalan tidak rata 22b. Persimpangan dengan prioritas
7a. Jalan cembung 22.c Persimpangan dengan prioritas
7b. Jalan cekung 22d. Persimpangan dengan prioritas
8. Jalan licin 22e. Bundaran
9. Kerikil lepas 23. Rintangan
10. Jatuhan batu 24. Silang-datar berpintu
11. Penyeberangan orang 25. Silang-datar tanpa pintu
12. Awas ! Anak-anak 26. Rambu tambahan menyatakan
jarak
13. Penyeberangan orang bersepeda 26a. Rambu tambahan menyatakan
jarak
14. Awas ! Ternak 26b. Rambu tambahan menyatakan
jarak

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 17


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

1 1a 1b 1c 1d 1e 2

2a 3 3a 3b 3c 3d 3e

3f 3g 3b 4 4a 4b 4c

4d 5 5a 5b 6 7 8

9 9a 9b 10 11 12 12a

13 14 15 16 17 18 19

20 21 22 23 23a 23b 23c

23d 23e 24 25 25a 26 27

28a 28b 29 29a 30

Gambar 1.17 Rambu Larangan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 18


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

KETERANGAN GAMBAR 1.17

1. Berhenti 5. Sepeda dilarang masuk


1a. Beri kesempatan 5a. Becak dan kereta roda tiga dilarang
masuk
1b. Prioritas bagi lalu lintas dari muka 5b. Sepeda atau becak dan kereta roda
tiga dilarang masuk
1c. Prioritas atas lalu lintas dari muka 6. Pejalan dilarang masuk
1d. Silang datar dengan dua atau lebih jalur rel 7. Dilarang berhenti
1e. Silang datar dengan dua atau lebih jalur rel 8. Dilarang parkir
2. Ditutup untuk semua kendaraan dari kedua 9. Dilarang membelok ke kiri
arah
2a. Dilarang masuk 9a. Dilarang membelok ke kanan
3. Kendaraan bermotor roda empat atau lebih 9b. Dilarang membalik
dilarang masuk
3a. Kendaraan bermotor roda tiga dilarang 10. Dilarang mendahului kendaraan lain
masuk
3b. Kendaraan bermotor roda dua dilarang 11. Dilarang menggunakan isyarat suara
masuk
3c. Semua kendaraan bermotor dilarang masuk 12. Kendaraan bermotor tang seluruh
panjangnya, termasuk muatannya,
melebihi …… meter
3d. Bus dilarang masuk 13. Kendaraan bermotor dilarang
beriringan kurang dari jarak …… meter
3e. Mobil barang dilarang masuk 14. Kendaraan yang seluruh lebarnya
termasuk muatannya melebihi ……
3f. Kendaraan bermotor dengan kereta 15. Kendaraan yang seluruh tingginya
gandeng dilarang masuk termasuk muatannya melebihi ……
3g. Kendaraan bermotor dengan kereta tempel 16. Kendaraan tidak bermotor yang
dilarang masuk seluruh panjangnya, termasuk
muatannya, melebihi ….
3h. Mesin kerja dilarang masuk 17. Kendaraan yang seluruh bobotnya
pada satu sumbu melebihi …. Ton
dilarang masuk
4. Dokar dilarang masuk 18. Batas kecepatan maksimum … km
4a. Gerobak dan pedati dilarang masuk 19. Wajib berhenti
4b. Gerobak dorong dilarang masuk 20. Akhir batas kecepatan
4c. Gerobak dan dokar dilarang masuk 21. Akhir batas kecepatan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 19


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

22. Akhir larangan mendahului 25. Wajib untuk sepeda


23. Arah yang diwajibkan 25a. Wajib untuk becak dan kereta roda
tiga
23a. Arah yang diwajibkan 26. Wajib untuk pengendara kuda
23b. Arah yang diwajibkan 27. Wajib untuk dokar
23c. Arah yang diwajibkan 28. Wajib untuk gerobak dan pedati
23d. Lewat sini 28a. Wajib untuk gerobak, pedati, gerobak-
dorong dan dokar
23e. Arah yang diwajibkan pada bundaran 29. Kecepatan minimum yang diwajibkan
24. Wajib dan khusus untuk pejalan 29a. Akhir kecepatan minimum yang
diwajibkan
30. Wajib memakai rantai ban
Catatan :
Warna dasar : Putih dan/atau merah
Warna petunjuk : Hitam

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 20


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

1 1a 2

3 4

8 9 10 10a 11 12

12a 13 13a 14 15 16

17 18 19 20 21 22

23 24 25 26 27 28

29 30 31
Gambar 1.18 Petunjuk Arah

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 21


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

KETERANGAN GAMBAR 1.18


1. Contoh rambu ″Pendahulu Penunjuk Jurusan“
1a. Contoh rambu ″Pendahulu Penunjuk Jurusan“
2. Contoh rambu ″Pendahulu Penunjuk Jalan Buntu“
3. Contoh rambu ″Pendahulu Penunjuk Jurusan“ (dalam kota)
4. Contoh rambu ″Pendahulu Pra-Seleksi Pada Persimpangan“
5. Contoh rambu ″Penunjuk Tempat Lewat Jalan Lintas Utama“
5a. Contoh rambu ″Penunjuk Tempat Lewat Jalan Baik untuk Kendaraan Bermotor“
5b. Contoh rambu ″Penunjuk Tempat“Lewat Jalan Kurang Baik untuk Kendaraan Bermotor“
5c. Contoh rambu ″ Penunjuk Jurusan ke Pelabuhan Udara“
5d. Contoh rambu ″ Penunjuk Jurusan ke Tempat Perkemahan“
5e. Contoh rambu ″ Penunjuk Jurusan ke Tempat Pesanggarahan Pemuda“
6. Contoh rambu ″Penegasan“
7. Contoh rambu ″Awal Daerah Kota“
7a. Contoh rambu ″ Akhir Daerah Kota “
8. Tempat Penyeberangan orang
9. Rumah Sakit
10. Jalan Satu Arah
10a. Jalan Satu Arah
11. Jalan Buntu
12. Jalan Raya Lintas Cepat
12a. Akhir Jalan Raya Lintas Cepat
13. Khusus untuk Kendaraan Bermotor
13a. Akhir Jalan Khusus untuk Kendaraan Bermotor
14. Tempat Perhentian Bus
15. Tempat Perhentian Trem
16. Rambu ″Jalan Terbuka Atau Tertutup“
17. Tempat Parkir
18. Balai Pertolongan Pertama
19. Reparasi
20. Telpon
21. Pompa Bahan Bakar
22. Hotel atau Motel
23. Rumah Makan
24. Kedai Kopi
25. Tempat Wisata
26. Tempat Berjalan-jalan
27. Tempat Berkemah
28. Tempat Karavan
29. Tempat berkemah dan Karavan
30. Pasanggarahan Pemuda
Catatan :
Warna dasar : Biru
Warna Petunjuk : Putih dan/atau Merah

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 22


Modul RDE-09 Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab I Konstruksi Bangunan Pelengkap
dan Perlengkap Jalan

3. Rel Pengaman

penempatan
Jarakl pengaman
Re

Rel pengaman

Rel Pengaman pada


Tepi bahu jalan
tikungan
Tanpa skala Tepi perkerasan

DENAH As patok As patok Patok beton As patok


Tanpa skala bertulang As patok
Bantakan

Jarak patok Jarak patok Jarak patok

Pandangan depan Permukaan bahu

Tanpa skala

Pakai adukan Patok beton


semen + pasir bertulang
atau beton

Potongan C - C

Digunakan pada
pemisah daerah /
sisi lalu lintas keluar

Patok beton
Bagian akhir bertulang
Tanpa skala Unsur rel pengam an
Tanpa skala

Potongan A - A
Tanpa skala

Baut pengisi 1. Semua ukuran dalam meter, kecuali


bila ditentukan lain
Dengan c inc in dan ring
dari bahan gulvanis 2. Semua bahan-bahan untuk rel pengaman
harus cari baja galvanizer

3. Harus memakai cat yang memantulkan


sinar pada semua rambu

Gambar 1.19
Rel Pengaman Pada Tikungan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I - 23


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab II: Pengenalan Jenis
Bangunan Pengaman Jalan

BAB II
PENGENALAN JENIS BANGUNAN PENGAMAN JALAN

2.1. TEMBOK PENAHAN TANAH

Tembok penahan tanah / turap adalah bangunan pelengkap jalan yang berfungsi
untuk mencegah terjadinya kelongsoran talud jalan baik pada tebing sebelah atas
muka jalan maupun pada tiang sebelah bawah muka jalan.
Bangunan ini biasanya dibuat pada tempat yang terkena pengaruh gerusan air.

2.1.1. TEMBOK PERMUKAAN TANAH

Konstruksi tembok permukaan tanah dapat dibuat dari pasangan batu kali,
pasangan batu kali, bronjong kawat (gabion), bahkan dapat pula digunakan sheet
pile baja ataupun beton
Beberapa contoh konstruksi nampak pada gambar berikut ini :

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II-1


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab II: Pengenalan Jenis
Bangunan Pengaman Jalan

Minimum 75 Minimum 75
Plesteran
½H
(Jarak minimum 150)

Pasangan Batu

0.5 cm Lobang -B uangan air


Minimum 50
Lapis Permukaan Aspal

Lapis Pondasi Bawah


Max 30
50
Lapis pondasi bawah
Minimum

Tinggi minimal tanah


didepan dinding
Bahan timbunan berpori

Beton kelas -K125

H = 500 - 700

Gambar 2.1. Tembok Penahan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II-2


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab II: Pengenalan Jenis
Bangunan Pengaman Jalan

Gambar 2.2. Perkuatan Lereng Tepi Sungai

2.1.2. PATOK PENGARAH

Pada tempat-tempat tertentu dalam ruas jalan diperlukan patok-patok pengarah


atau (guide post), seperti pada tikungan-tikungan yang relatif berbahaya, jalan
masuk dan keluar pada jalan bebas hambatan, dan lain-lain.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II-3


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab II: Pengenalan Jenis
Bangunan Pengaman Jalan

2.1.3. PATOK KILOMETER

Untuk dapat menentukan suatu tempat yang pasti dalam suatu ruas jalan tertentu,
maka pada ruas jalan tersebut diberi patok-patok kilometer.
Dengan patok kilometer tersebut, maka dapat diketahui letak jarak suatu tempat
diruas jalan tersebut ke tempat lain yang telah ditentukan (biasanya jarak tersebut
diukur ke ibukota kabupaten atau propinsi).
Patok kilometer ini penting juga untuk berbagai kepentingan dan petunjuk.
Di antara patok kilometer, biasanya masih dibantu pula dengan patok-patok
hektometer sehingga akan lebih mudah lagi dalam menentukan letak posisi suatu
tempat pada suatu ruas jalan.

2.2. REL PENGAMAN

Rel pengaman atau (guard rail) digunakan selain untuk pengaman, juga sebagai
proteksi terhadap kendaraan agar tidak keluar dari jalur.
Umumnya posisi guard rail diletakkan pada daerah luar jalan yang menikung dan
berbahaya dan dipasang pada tepi luar bahu jalan pada daerah timbunan atau
daerah yang curam dengan kedalaman lebih dari 2 (dua) meter.
Guard rail dapat pula digunakan pada median apabila lebar median kurang dari
1,20 meter sedangkan kecepatan kendaraan rencana lebih besar dari 80 km/jam.
Bahan harus dari baja dengan ketebalan tak kurang 12 „gauge“ dan sifatnya
harus:
 Perpanjangan harus tidak boleh kurang dari 12 persen, apabila diadakan
pengujian tarik pada suatu baut dengan panjang kira-kira 2,5 cm.
 Mempunyai kekuatan tarik maksimum (ultimate) 5.600 kg/m2.
 Mempunyai kekuatan balok termasuk sambungan-sambungan sebesar 680 kg
dan defleksi 5 cm bila diuji pada suatu bentangan bersih sepanjang 345 cm
dengan pembebanan melalui plat datar selebar 8 cm pada tengah-tengahnya.
 Jumlah, jenis dan lokasi dari rel pengaman harus menurut petunjuk Direksi
Teknik.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II-4


Modul RDE-09 : Dasar-Dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Bab II: Pengenalan Jenis
Bangunan Pengaman Jalan

penempatan
Jarakl pengaman
Re

Rel pengaman

Rel Pengaman pada


Tepi bahu jalan
tikungan
Tanpa skala Tepi perkerasan

DENAH As patok As patok Patok beton As patok


Tanpa skala bertulang As patok
Bantakan

Jarak patok Jarak patok Jarak patok

Pandangan depan Permukaan bahu

Tanpa skala

Pakai adukan Patok beton


semen + pasir bertulang
atau beton

Potongan C - C

Digunakan pada
pemisah daerah /
sisi lalu lintas keluar

Patok beton
Bagian akhir bertulang
Tanpa skala Unsur rel pengam an
Tanpa skala

Potongan A - A
Tanpa skala

Baut pengisi 1. Semua ukuran dalam meter, kecuali


bila ditentukan lain
Dengan c inc in dan ring
dari bahan gulvanis 2. Semua bahan-bahan untuk rel pengaman
harus cari baja galvanizer

3. Harus memakai cat yang memantulkan


sinar pada semua rambu

Gambar 2.3. Rel Pengaman Pada Tikungan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II-5


Modul RDE-09 : Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jalan Rangkuman

RANGKUMAN

Beberapa macam bangunan pelengkap jalan yang akan dibahas adalah :

1. Saluran Air Jalan


Saluran air pada hakekatnya adalah bangunan yang berfungsi untuk
mengalirkan air permukaan agar tidak terjadi genangan air pada permukaan
jalan.
Sesuai dengan fungsi dan kondisi yang dijumpai di lapangan, maka saluran air
jalan dapat berupa :
a. Saluran tepi jalan (saluran terbuka)
b. Saluran tertutup
c. Saluran air bawah permukaan

2. Tembok Penahan Tanah


Tembok penahan tanah / turap adalah bangunan pelengkap jalan yang
berfungsi untuk mencegah terjadinya kelongsoran talud jalan baik pada tebing
sebelah atas muka jalan maupun pada tiang sebelah bawah muka jalan.
Bangunan ini biasanya dibuat pada tempat yang terkena pengaruh gerusan air.

3. Jembatan
Konstruksi jembatan suatu proyek jalan biasanya tak dapat dielakkan, karena
jalan terpotong oleh aliran air.

Beberapa macam perlengkapan jalan yang akan dibahas adalah :


1. Marka Jalan
2. Rambuk Jalan
3. Patok Pengarah
4. Patok Kilometer
5. Rel Pengaman
Perlengkapan jalan pada hakekatnya disesuaikan dengan persyaratan jalan
menurut peranannya.
Sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang jalan,
pengelompokkan jalan menurut peranannya dibagi menjadi 7 (tujuh) macam,
yakni :

Pelatihan Road Design Engineer (RDE)) R-1


Modul RDE-09 : Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jalan Rangkuman

1. Jalan Tol
2. Jalan Arteri Primer
3. Jalan Kolektor Primer
4. Jalan Lokal Primer
5. Jalan Arteri Sekunder
6. Jalan Kolektor Sekunder
7. Jalan Lokal Sekunder

Pelatihan Road Design Engineer (RDE)) R-2


Modul RDE-09: Dasar-dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

1. Oglesby, Clarkson.H and Hicks, R. Gary Highways Engineering, 4nd Ed John


Willey & Sons, inc, 1982.

2. Tschebotarioff, Gregory P., Foundations Retaining and Earth Structures,


McGraw HillKogakusha LTD, Tokyo, 1973.

3. Duttenhoeffer, R.,Podwal, B.E., and Kirkyla, V.A., Highway Engineering, Section


16 of Standard Handbook for Civil Engineers, Second Edition, by Frederick S.
Merrit, McGraw-Hill Inc.,New York, 1976

4. Direktorat jenderal Bina Marga, Spesifikasi Umum Jalan, 2005.

Pelatihan Roads Design Engineer (RDE) DP-1