Anda di halaman 1dari 8

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 3, Nomor 3, April 2015 (ISSN: 2356-3346)


http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seks Berisiko HIV/AIDS


pada Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang
Ary Mardalina*)
*)
mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro
Koresponden :arymardalina@gmail.com

ABSTRACT
Based on data from UNAIDS, Indonesia was ranked third in Asia related to the
spread of HIV. Semaranghas a high number cases of HIV / AIDS in Central Java,
especially in the district of North Semarang because there is a Port of Tanjung
Emas as a distribution center of goods through sea lanes, leading to high
absorption of one labor workers unloading and plenty of sex transactions which
trigger high rates of HIV / AIDS. The purpose of this research was to analyze the
factors that associated with sexual risk of HIV / AIDS in the Port of Tanjung Emas
Semarang. The method is quantitative with cross sectional approach. The total
population is 645 people with a total sample of 84 people. A total of 90.5% of
respondents categorized as having sexual risk behavior of HIV/AIDS, while 9.5%
of respondents categorized as does not having sexual risk behavior of HIV/AIDS.
Analyzed using univariate and bivariate statistical test of Chi Square (significance
level at 0.05). Majority of respondents are included in young age category
(57,1%), education level mostly lowcategory (78,6%), the majority of marital
status is married (97.6%), the majority of revenue ≥ IDR1,685 million (75%), lack
of knowledge (58.5%), negative attitude (56%), affordability of sexual
transactions included in the easy category (81%), availability of health care
facilities related to HIV/AIDS are included in the category of less availability
(77.4%), lack of family support (73.8%), the support from colleagues in the
category of supporting (65.5%), and support from cooperatives TKBM in the
category of supporting (76.2%). Results of chi square test obtained age,
education, income, attitude, affordability sexual transactions and support from
colleagues have relationshipwith sexual risk behavior of HIV/AIDS.

Keywords : HIV/AIDS, Sexual Risk Behavior, Stevedoring

PENDAHULUAN di Asia diperkirakan 4,9 juta (3,7 –


Laporan Epidemi AIDS Global 6,3 juta) orang hidup dengan HIV.
(UNAIDS 2012) menunjukkan bahwa Terdapat 12 negara di Asia yang
terdapat 34 juta orang dengan HIV mencapai lebih dari 90% orang
diseluruh dunia.(1)Tahun 2006, di hidup dengan HIV dan infeksi HIV
Asia diperkirakan 8,5 juta (5,66 – baru diantaranya, Kamboja, Cina,
13,2 juta) orang hidup dengan HIV. India, Indonesia, Malaysia,
Sekitar 330.000 – 740.000 orang Myanmar, Nepal, Pakistan, Papua
diperkirakan meninggal karena AIDS Nugini, Filipina, Thailand dan
dan 960.000 (606.000 – 2,6 juta) Vietnam.(2)Berdasarkan data yang
terkena infeksi baru HIV. Pada bersumber dari Direktorat Jenderal
populasi perempuan usia > 15 PP dan PL Kemenkes RI, sejak 1 juli
tahun, 29% dari jumlah populasi 1987 hingga 30 Juni 2014, di
perempuan di Asia menderita HIV. Indonesia secara kumulatif pengidap
Berdasarkan laporan UNAIDS 2013, infeksi HIV berjumlah 142.950 dan

869
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 3, Nomor 3, April 2015 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

AIDS berjumlah 55.623 orang, kerja juga tinggi utamanya laki – laki
sedangkan yang telah meninggal usia produktif.
dunia total berjumlah 9.760 orang.(3) Hasil Assesment Program
Berdasarkan data dari statistik Pencegahan Dan Penanggulangan
kasus HIV dan AIDS di Indonesia HIV & AIDS di Pelabuhan Tanjung
hingga Juni 2014, prevalensi kasus Emas tahun 2014 oleh LSM
HIV/AIDS untuk wilayah Provinsi Kalandara menyebutkan bahwa
Jawa Tengah mencapai peringkat salah satu kontributor utama
ke-enam yaitu sebanyak 12.135 penyebaran global HIV adalah laki-
dengan rincian 8.368 kasus HIV dan laki pekerja dengan kondisi usia
3.767 kasus AIDS.(3) produktif, mobilitas cukup tinggi,
Menurut data dari Surveilans seringkali jauh dari keluarga/
Terpadu Biologis Perilaku (STBP) pasangan tetap (migran), dan
2011 di kalangan kelompok berisiko memiliki cukup sumber daya
tinggi di Indonesia, telah ekonomi. Dimana keadaan ekonomi
memberikan gambaran bahwa tersebut menyebabkan pria muda
terjadi peningkatan prevalensi pada untuk bekerja jauh dari rumah dan
Lelaki Beresiko Tinggi (LBT) dari 0,1 keluarga mereka salah satunya
% pada tahun 2007 menjadi 0,7 % pelabuhan, di tempat kerja tersebut
pada tahun 2011. Hubungan seks terdapat kemungkinan untuk
tanpa kondom dan inkonsistensi melakukan hubungan seksual
penggunaan kondom di kalangan dengan pekerja seks tanpa kondom,
LBT merupakan cara penularan HIV sehingga tidak menutup
yang tinggi di Indonesia. Saat ini kemungkinan memiliki akses untuk
diperkirakan terdapat 4,2 juta laki- bersinggungan terinfeksi IMS dan
laki yang memiliki resiko tinggi di HIV/AIDS.(7)
Indonesia yang akan mempengaruhi Pada kelompok populasi kunci
semakin meningkatnya kasus HIV Lelaki Beresiko Tinggi (LBT) di
dan AIDS.(4) kawasan Pelabuhan Tanjung Emas
Kota Semarang merupakan Kota Semarang terdapat beberapa
kota yang memiliki jumlah kasus HIV jenis pekerjaan didalamnya,
dan AIDS tertinggi di Jawa tengah, diantaranya adalah Tenaga Kerja
sampai dengan tahun 2013 terdapat Bongkar Muat (TKBM), Anak Buah
657 kasus dengan rincian HIV Kapal (ABK), Truckers, dan pekerja
sebanyak 414 kasus dan AIDS lainnya yang terdapat di sekitar
sebanyak 243 kasus.(5) Berdasarkan pelabuhan.(7)
data dari Dinas Kesehatan Kota Menurut data analisa survey
Semarang, sebaran kasus HIV dan Program Pencegahan dan
AIDS Kota Semarang tahun 2011 - Penanggulangan HIV & AIDS di
2014 terbanyak terdapat pada Pelabuhan Tanjung Emas tahun
Kecamatan Semarang Utara, yaitu 2014 oleh LSM Kalandara
sebesar 64 kasus HIV dan AIDS. Hal menerangkan bahwa pekerja
tersebut dikarenakan pada wilayah pelabuhan pernah melakukan
Kecamatan Semarang Utara hubungan seks dengan Wanita
terdapat pelabuhan utama Kota Pekerja Seks (WPS) dengan
Semarang yaitu Pelabuhan Tanjung melakukan pengambilan sample 100
Emas yang merupakan pusat responden pekerja pelabuhan, dari
pergerakan distribusi barang melalui survey tersebut didapatkan hasil
jalur laut.(6)Dengan adanya hal mengenai pekerja pelabuhan yang
tersebut maka daya serap tenaga pernah melakukan hubungan seks
dengan WPS tertinggi yaitu Trucker

870
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 3, Nomor 3, April 2015 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

sebesar 85%, dilanjutkan ABK adalah penelitian survei (survey


sebesar 70%, TKBM sebesar 62%, research method). Rancangan pada
karyawan perusahaan sebesar 55% penelitian ini adalah penelitian
dan persentase terendah yaitu pada analitik dimana bertujuan untuk
nelayan sebesar 50%.(8) mengetahui faktor - faktor yang
Menurut survey pendahuluan berhubungan dengan perilaku seks
dengan Lembaga Swadaya berisiko HIV/AIDS pada Tenaga
Masyarakat Kalandara yang Kerja Bongkar Muat (TKBM) di
menjalankan program pencegahan Pelabuhan Tanjung Emas
dan penanggulangan HIV/AIDS di Semarang.
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Jumlah populasi yang sebanyak 645
tahun 2014, salah satu pekerja orang dan sampel yang diambil
pelabuhan yang memiliki risiko tinggi sebesar 84 orang tenaga kerja
terkena HIV & AIDS yaitu tenaga bongkar muat.
kerja bongkar muat karena akses
membeli jasa seks yang mudah, jam
kerja yang teratur dan sistem
pemberian upah harian.Selain itu Variabel-variabel penelitian:
didukung adanya akses transaksi 1. Variabel Bebas
seksual di sekitar pelabuhan yaitu a. Faktor predisposisi
tempat hiburan di area pelabuhan (predisposing factor) yang
tepatnya di Fly over terdapat 12 cafe meliputi :
dengan jumlah 20 pemandu karaoke 1) Karakteristik individu
yang berjarak sangat dekat 10 menit (umur, pendidikan, status
dari pelabuhan. Ada juga sarana pernikahan dan
hiburan berupa karaoke di kawasan pendapatan)
Jembatan Mberok yang lumayan 2) Pengetahuan
dekat hanya 15 menit dari 3) Sikap
pelabuhan. Jarak Lokalisasi Sunan b. Faktor pemungkin (enabling
Kuning berjarak 5 km, Lokalisasi factor) meliputi :
Gambilangu 10 km, panti pijat plus 1) Keterjangkauan transaksi
juga menjadi pilihan untuk mencari seks
hiburan dan akses transaksi seksual 2) Ketersediaan fasilitas
yang beresiko. Hal tersebut yang pelayanan kesehatan
mempengaruhi perilaku tenaga kerja terkait HIV/AIDS
bongkar muat untuk membeli jasa c. Faktor penguat (reinforcing
seks yang terdapat disekitar factor) meliputi :
Pelabuhan Tanjung Emas setelah 1) Dukungan keluarga
lelah seharian bekerja.(7) 2) Dukungan rekan kerja
Berdasarkan latar belakang 3) Dukungan Koperasi
diatas penulis tertarik untuk TKBM
melakukan penelitian yang berjudul 2. Variabel Terikat
“faktor – faktor yang berhubungan a. Perilaku seks berisiko
dengan perilaku seks HIV/AIDS
berisikoHIV/AIDS pada tenaga kerja HASIL DAN PEMBAHASAN
bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Variabel p-value Keteranga
Emas Semarang? Bebas n
Umur p= 0,010 Ada
MATERI DAN METODE Hubungan
Penelitian ini adalah penelitian Pendidik p= 0,012 Ada
kuantitatif dengan jenis penelitian an Hubungan

871
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 3, Nomor 3, April 2015 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

yaitu sebesar 42,9%. Umur dengan


Status p= 0,818 Tidak Ada kategori muda (22-44 tahun)
marital Hubungan memiliki tingkat libido (dorongan
Pendapat p= 0,000 Ada seksual) lebih tinggi dibandingkan
an Hubungan dengan kategori tua. Selain itu,
Pengetah p= 0,556 Tidak Ada umur pada kategori muda juga
uan Hubungan memiliki tingkat fisik yang masih
Sikap p= 0,012 Ada kuat dan kesehatan yang lebih
Hubungan prima dibandingkan kategori tua.
Keterjang p= 0,000 Ada Maka umur dengan kategori muda
kauan Hubungan lebih besar untuk berperilaku seks
transaksi berisiko HIV/AIDS dibandingkan
seks kategori tua.
Ketersedi p= 0,245 Tidak Sebagian besar responden
aan Ada menempuh pendidikan pada
fasilitas Hubungan kategori rendah (SD dan SMP)
pelayana yaitu sebanyak 78,6%, sedangkan
n responden yang menempuh
kesehata pendidikan tinggi (SMA) sebanyak
n terkait 21,4%.Hal tersebut menunjukkan
HIV/AIDS bahwa pendidikan dengan kategori
Dukunga p= 0,235 Tidak Ada tinggi (SMA) memiliki wawasan
n Hubungan berpikir yang luas dan lebih positif
keluarga untuk melakukan pencegahan
Dukunga p= 0,000 Ada perilaku seks berisiko HIV/AIDS.
n rekan Hubungan Sedangkan pendidikan dengan
kerja kategori rendah (SD dan SMP)
Dukunga p= 0,220 Tidak Ada akan cenderung memiliki
n Hubungan pengetahuan yang rendah dan
Koperasi mudah untuk berperilaku seks
TKBM berisiko HIV/AIDS.
Sebagian besar responden
Berdasarkan tabel diatas dapat memiliki pendapatan ≥ 1.685.000
diketahui bahwa terdapat enam yaitu sebanyak 75,0%. Sedangkan
variabel yang memiliki hubungan responden yang memiliki
dengan perilaku seks berisiko pendapatan < 1.685.000 sebanyak
HIV/AIDS yaitu umur responden, 25,0%. Maka dapat diketahui bahwa
pendidikan responden, pendapatan mayoritas responden memiliki
responden, sikap responden, pendapatan yang tinggi. Semakin
keterjangkauan transaksi seks tinggi pendapatan dari responden
responden dan dukungan rekan maka semakin tinggi pula untuk
kerja responden. Sedangkan lima melakukan perilaku seks berisiko
variabel lainnya tidak ada HIV/AIDS, karena memiliki cukup
hubungan dengan perilaku seks materi untuk transaksi seks yang
berisiko HIV/AIDS karena p-value ≥ ditunjang dengan variabel lain yaitu
α (0,05). Sebagian besar adanya keterjangkauan tansaksi
responden pada kategori umur seks yang secara keseluruhan
muda (22-44 tahun) yaitu sebesar responden mengetahui keberadaan
57,1%, sedangkan responden pada tempat transaksi seks di sekitar
kelompok dewasa tua (44-63 tahun) pelabuhan (tempat karaoke, panti
pijat dan lokalisasi). Selain itu,

872
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 3, Nomor 3, April 2015 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

dipermudah lagi untuk tarif pelacur responden seperti rekan kerja.


kalangan menengah ke bawah Rekan kerja adalah model yang
berkisar antara Rp. 50.000 – Rp. lebih kredibel bagi orang lain.
250.000 dan hal tersebut tidak sulit Interaksi dengan rekan sebaya yang
didapatkan karena sudah ada berhasil mengatasi atau mengalami
tempat tertentu yang menyediakan penyakit cenderung menyebabkan
pelacur kelas bawah.(9) perubahan perilaku yang positif.
Sikap merupakan reaksi atau Dengan berinteraksi dengan orang
respon tertutup dari seseorang lain yang dirasa lebih baik dari
terhadap suatu stimulus atau obyek. mereka, teman sebaya memberikan
Sebagian besar responden perasaan optimis dan memberikan
menunjukkan sikap yang kurang tujuan hidup.(11)Sebesar 84,5%
baik sebanyak 56%, sementara responden dari pihak rekan kerja
responden yang menunjukkan sikap tidak melarang responden untuk
yang baik sebanyak 44%. Maka melakukan transaksi seks dan
dapat diketahui bahwa sebagian sebanyak 83,3% responden tidak
besar responden memiliki sikap pernah diingatkan rekan kerjanya
yang kurang baik.Berdasarkan teori terkait bahaya bekerja di pelabuhan
L.Green, sikap yang baik maka akan dengan adanya berbagai tempat
berdampak pada perilaku yang baik hiburan yang berisiko untuk
pula, tetapi hal tersebut dapat transaksi seks. Dari 100%
sebaliknya. Dalam hal ini sikap yang responden, sebagian besar
kurang baik pada responden akan responden sering diajak rekan
lebih berpeluang untuk berperilaku kerjanya melakukan transaksi seks
seks berisiko HIV/AIDS. Hal ini dengan Wanita Pekerja Seks (WPS)
ditunjang dengan rekan kerja yang sebanyak 81,0% dan 25,0%
mendukung responden untuk responden sering dibiayai rekan
melakukan perilaku seks berisiko kerjanya untuk melakukan transaksi
HIV/AIDS. Bahkan responden sering seks. Hal tersebut menjadi salah
diajak dan ada pula yang dibiayai satu pemicu terjadinya peningkatan
untuk melakukan transaksi seks. penularan HIV/AIDS di Kota
Keterjangkauan berkaitan Semarang.
dengan jarak dan biaya yang Status pernikahan
dikeluarkan. Keterjangkauan menunjukkan apakah seseorang
merupakan salah satu faktor telah menikah atau belum menikah.
pemungkin yang bisa mempengaruhi Pernikahan pada prinsip dasarnya
perilaku seseorang. Transaksi seks adalah meningkatkan hubungan
adalah peristiwa penjualan diri seseorang untuk lebih terikat.
dengan jalan memperjualbelikan Keterikatan tersebut salah satunya
badan, kehormatan dan kepribadian dalam hubungan seksual yang
kepada banyak orang untuk berhubungan dengan fungsi
memuaskan nafsu – nafsu seks reproduksi yaitu menghasilkan
dengan imbalan keturunan.(12)Sebagian besar
pembayaran.(10)Sebagian besar responden sudah menikah yaitu
responden menyatakan mudah sebanyak 82 responden (97,6%).
menjangkau tempat transaksi seks Sedangkan responden yang belum
yaitu sebanyak 81,0%, sedangkan menikah sebanyak 2 responden
19,0% responden menjawab sulit (2,4%).
menjangkau tempat transaksi seks. Pengetahuan responden
Salah satu bentuk dukungan mengenai perilaku seks berisiko
eksternal berasal dari orang sekitar HIV/AIDS pada kategori baik yaitu

873
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 3, Nomor 3, April 2015 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

41,7%, sedangkan responden yang Keputusan Menteri Tenaga Kerja


pengetahuannya kurang terdapat dan Transmigrasi No.
58,3%. Menurut Bloom, 1908 dalam 68/MEN/IV/2004 tentang
Notoatmodjo (2008) menyebutkan Pencegahan dan Penanggulangan
bahwa pengetahuan itu mempunyai HIV/AIDS di Tempat Kerja, yang
enam tingkatan. Responden yang terdiri dari 7 pasal. Untuk
memiliki informasi cukup tetapi melaksanakan prinsip-prinsip
perilakunya justru berisiko tersebut maka perusahaan wajib
kemungkinan dikarenakan tingkat melakukan upaya pencegahan dan
pengetahuan yang dimilikinya baru penanggulangan HIV dan AIDS
mencapai tahap tahu (know) yang melalui kegiatan-kegiatan
merupakan tingkat pengetahuan sosialisasi, edukasi, dukungan dan
paling rendah sehingga belum fasilitasi pengobatan/perawatan
mampu mendorong responden untuk serta kampanye anti stigma dan
tidak melakukan perilaku berisiko diskriminasi terhadap pekerja
HIV/AIDS.(13) dengan HIV dan AIDS.(16)Sebagian
Sebanyak 22,6% responden besar responden (76,2%)
menyatakan sudah tersedia fasilitas menyatakan pihak Koperasi TKBM
pelayanan kesehatan terkait mendukung responden melakukan
HIV/AIDS, sedangkan 77,4% pencegahan perilaku seks berisiko
responden menjawab kurang HIV/AIDS dan 23,8% responden
tersedianya fasilitas pelayanan menyatakan Koperasi TKBM tidak
kesehatan terkait HIV/AIDS. Menurut mendukung untuk melakukan
penelitian Lucky A. Suryono pencegahan perilaku seks berisiko
menyatakan bahwa kategori HIV/AIDS.
ketersediaan sarana pelayanan
kesehatan yang kurang (77,8%)
lebih besar untuk melakukan SIMPULAN
perilaku berisiko daripada kategori 1. Diperoleh hasil bahwa sebagian
bersedia (17,4%).(14) besar responden dikategorikan
Keluarga merupakan memiliki perilaku seks berisiko
kelompok sosial yang paling kecil HIV/AIDS (90,5%), sedangkan
dalam kehidupan masyarakat. 9,5% responden dikategorikan
Keluarga secara sosiologis tidak memiliki perilaku seks
merupakan kelompok dimana berisiko HIV/AIDS.
anggota – anggotanya saling kenal – 2. Pada karakteristik responden
mengenal dan berinteraksi.(15) terdiri dari umur yang sebagian
Sebanyak 73,8% dari besar (57,1%) responden pada
keluarga tidak mendukung kategori muda (22-44 tahun),
responden melakukan perilaku seks sebagian besar (78,6%)
berisiko HIV/AIDS, sedangkan responden menempuh
26,2% dari keluarga responden pendidikan pada kategori rendah
mendukung melakukan perilaku (SD dan SMP), mayoritas
seks berisiko HIV/AIDS. Hal tersebut (97,6%) responden sudah
menunjukkan sebagian besar dari menikah dan pendapatan
keluarga responden berupaya responden sebagian besar
melakukan pencegahan perilaku (75,0%) yaitu ≥ 1.685.000.
seks berisiko HIV/AIDS. Sedangkan pada variabel
Tempat kerja merupakan pengetahuan responden
tempat yang strategis dalam upaya sebagian besar (58,3%) pada
menerapkan prinsip-prinsip dalam kategori kurang dan sebesar

874
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 3, Nomor 3, April 2015 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

56,0% responden memiliki sikap e. Dukungan Koperasi TKBM


yang kurang baik. (p-value = 0,220)
3. Pada keterjangkauan transaksi SARAN
seks yang sebagian besar 1. Bagi Kepala KSOP Pelabuhan
(81,0%) responden mudah untuk Tanjung Emas Semarang
menjangkau tempat transaksi - Diharapkan
tersebut dan sebesar 77,4% mengikutsertakan informasi
responden menyatakan kurang tentang pencegahan
tersedianya fasilitas pelayanan HIV/AIDS dalam setiap
kesehatan terkait HIV/AIDS. jadwal penerimaan upah atau
4. Dukungan keluarga yang dalam kegiatan rapat yang
sebagian besar (73,8%) tidak melibatkan tenaga kerja
mendukung responden bongkar muat dan juga
berperilaku seks berisiko penyertaan kurikulum tentang
HIV/AIDS, sedangkan rekan pencegahan HIV/AIDS di
kerja sebagian besar (65,5%) setiap pelatihan atau kursus
mendukung responden sertifikasi tenaga kerja
berperilaku seks berisiko bongkar muat.
HIV/AIDS dan sebagian besar - Memberikan penjelasan dan
(76,2%) responden menyatakan kemudahan pada tenaga
pihak Koperasi TKBM kerja bongkar muat dalam
mendukung responden untun mengakses sarana dan
melakukan pencegahan perilaku prasarana kesehatan
seks berisiko HIV/AIDS. dibidang HIV/AIDS.
5. Variabel yang berhubungan 2. Bagi Institusi Kesehatan (Kantor
dengan perilaku merokok Kesehatan Pelabuhan)
responden : - Sebaiknya dilakukan
a. Umur responden (p-value = pemberian informasi tentang
0,010) pencegahan HIV/AIDS,
b. Pendidikan responden (p- tempat pengobatannya serta
value = 0,012) hal – hal yang dapat
c. Pendapatan responden (p- dikonsultasikan secara
value = 0,000) berkesinambungan dengan
d. Sikap responden (p-value = cara kampanye, penyuluhan,
0,012) atau menggunakan media
e. Keterjangkauan transaksi promosi lainnya seperti
seks (p-value = 0,000) pembagian stiker, leaflet, dan
f. Dukungan rekan kerja (p- pamflet.
value = 0,000) 3. Bagi Tenaga Kerja Bongkar
6. Variabel yang tidak Muat
berhubungan dengan perilaku - Tenaga kerja bongkar muat
merokok responden : yang bekerja jauh dari
a. Status marital responden (p- keluarga maupun pasangan
value = 0,818) sebaiknya tetap menjaga
b. Pengetahuan responden (p- keharmonisan keluarga
value = 0,556) dengan setia pada pasangan.
c. Ketersediaan fasilitas - Tenaga kerja bongkar muat
pelayanan kesehatan terkait diharapkan lebih aktif dalam
HIV/AIDS (p-value = 0,245) mengakses informasi baik
d. Dukungan keluarga (p-value melalui media cetak maupun
= 0,235) elektronik terkait perilaku

875
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 3, Nomor 3, April 2015 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkm

seks yang sehat dan tidak Emas Semarang. Semarang;


berisiko HIV/AIDS, sehingga 2014.
menjadi lebih paham, 9. Harahap WS. Pasca
memiliki sikap yang positif Penutupan “Dolly”, Kasus
dan berupaya untuk HIV/AIDS (Akan) Banyak
melakukan pencegahan dan Terdeteksi pada Pegawai,
penanggulangan HIV/AIDS Aparat dan Pengusaha. AIDS
baik bagi diri sendiri, Watch Indones [Internet].
keluarga maupun rekan Available from:
kerja. http://www.aidsindonesia.com
/
10. Kartono K. Perkembangan
KEPUSTAKAAN Psikologi Anak. Jakarta:
1. Kementerian Kesehatan RI. Erlangga; 2007.
Rencana Aksi Nasional 11. Rahmawati FF. Faktor -
Pencegahan Penularan HIV Faktor yang Berhubungan
dari Ibu ke Anak (PPIA). dengan Perilaku Seks
2013. Berisiko HIV/AIDS pada
2. UNAIDS. HIV in Asia and the Karyawan di Perusahaan X.
Pacific. 2013 p. 11–2. Semarang; 2014.
3. Ditjen PP & PL Kementerian 12. Sari A. Faktor - Faktor yang
Kesehatan RI. Statistik Kasus berhubungan dengan Perilaku
HIV/AIDS di Indonesia Dilapor Seksual Berisiko Terinfeksi
s/d Juni 2014. 2014 p. 9–11. HIV/AIDS pada Supir dan
4. Kementerian Kesehatan RI. Kernet Truk Jarak Jauh di
STBP Surveilans Terpadu Jakarta Timur. 2005.
Biologis dan Perilaku 2011. 13. Notoatmodjo S. Ilmu
Jakarta; 2011. Kesehatan Masyarakat (Bab
5. Ditjen PP & PL Kementerian V Pendidikan dan Perilaku).
Kesehatan RI. Laporan Jakarta: Rineka Cipta; 2003.
Perkembangan HIV/AIDS 14. Suryono LA. Faktor - Faktor
Triwulan I Tahun 2013. Ditjen yang Berpengaruh terhadap
PP & PL Kementerian Perilaku Seksual Berisiko
Kesehatan RI, editor. Jakarta: pada Anak Buah Kapal
Ditjen PP & PL Kementerian kaitannya dengan Upaya
Kesehatan RI; 2013. Pencegahan HIV/AIDS dan
6. Dinas Kesehatan Kota Infeksi Menular Seksual.
Semarang. Sebaran kasus 2010. Semarang; 2010.
HIV dan AIDS Per Kecamatan 15. Goode W. Sosiologi Keluarga,
di Kota Semarang Tahun diterjemahkan oleh Lailanoum
2011-2014. 2014; Hasyim. Jakarta: Bumi
7. LSM Kalandara. Hasil Aksara; 1992.
Assesment Program 16. Kementerian Kesehatan RI.
Pencegahan dan Pedoman Pelayanan
Penanggulangan HIV & AIDS Konseling dan Testing
di Pelabuhan Tanjung Emas HIV/AIDS Secara Sukarela
Semarang. Semarang; 2014. (Voluntary Counseling And
8. LSM Kalandara. Analisa Testing). Jakarta; 2005.
Survey Program Pencegahan
dan Penanggulangan HIV &
AIDS di Pelabuhan Tanjung

876