Anda di halaman 1dari 24

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karkas merupakan salah satu dari komoditas penting ditinjau dari aspek

gizi, sosial budaya, dan ekonomi. Industri karkas ayam mempunyai prospek

ekonomi yang cukup cerah, karena usaha peternakan ayam relatif mudah di

kembangkan, cepat menghasilkan, serta usaha pemotongannya sederhana. Untuk

memenuhi permintaan pasar yang cukup tinggi akan karkas ayam, maka selain

kuantitas, produsen diarapkan dapat menyediakan karkas yang berkualitas.

Kelemahan dari produk peternakan adalah mudah cepat rusak (perishable).

Penting untuk diketahui bagaimana mengolah, menyimpan, dan memanfaatkan

karkas yang baik agar kebersihan, kesegaran, dan keempukan karkas terjamin saat

dikonsumsi. Untuk mengetahui bagian bagian dari karkas ayam dan bagaimana cara

mengolahnya saat proses karkasing penting untuk diketahui agar dapat menentukan

kualitas karkas saat membeli. Untuk itulah praktikum poultry grading ini

dilakukan.

1.2 Identifikasi Masalah

1. Bagaimana Pengamatan Ayam Hidup

2. Bagaimana Pengamatan Karkas

3. Berapa Persentase Karkas

1.3 Maksud dan Tujuan Praktikum


2

1. Untuk Mengetahui Pengamatan Ayam Hidup

2. Untuk Mengetahui Pengamatan Karkas

3. Untuk Mengetahui Persentase Karkas

1.4 Waktu dan Tempat

Tanggal : Rabu,25 April

Waktu : 15.30-17.30 WIB

Tempat : Laboratorium Produksi Ternak Unggas, Fakultas

Peternakan Universitas Padjadjaran


3

II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1 Broiler

Broiler adalah istilah untuk menyebutkan strain ayam hasil budidaya

teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas yaitu

pertumbuhan yang cepat, konversi pakan yang baik dan dapat dipotong pada usia

yang relatif muda sehingga sirkulasi pemeliharaannya lebih cepat dan efisien serta

menghasilkandaging yang berkualitas baik (Murtidjo, 1992). Susilorini dan Sawitri

(2009) menyatakan bahwa broiler adalah ayam yang sangat efektif untuk

menghasilkan daging. Menurut Suprijatna (2005), karakteristik broiler bersifat

tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, serta bulu merapat ke tubuh.

Broiler adalah ayam jantan atau betina yang umumnya dipanen pada umur

5--6 minggu dengan tujuan sebagai penghasil daging (Kartasudjana dan Suprijatna,

2005). Menurut Amrullah (2003), broiler mampu menghasilkan bobot badan 1,5-

-1,9 kg/ ekor pada usia 5--6 minggu. Dijelaskan lebih lanjut bahwa broiler pada

minggu ke-4 bobot badan 1,4 kg/ ekor dengan konversi pakannya adalah 1,431

(Nuryanto, 2007).

Ciri-ciri broiler mempunyai tekstur kulit dan daging yang lembut serta tulang dada

merupakan tulang rawan yang fleksibel. Kondisi broiler yang baik dipengaruhi

oleh pembibitan, pakan, dan manajemen (Ensminger, 1992). Menurut kecepatan

pertumbuhannya, maka periode pemeliharaan broiler dapat dibagi menjadi 2 yaitu

periode starter dan finisher. Periode starter dimulai umur 1--21 hari dan periode

finisher dimulai umur 22--35 hari atau sesuai umur dan bobot potong yang

diinginkan (Murwani, 2010).


4

2.2 Bobot Hidup

North dan Bell (1990) menyatakan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi

bobot hidup broiler adalah pakan (nutrisi), genetik, jenis kelamin, suhu, dan tata

laksana. Menurut Soeparno (2005), faktor-faktor yang memengaruhi bobot hidup

broiler yaitu konsumsi ransum, kualitas ransum, jenis kelamin, lama pemeliharaan,

dan aktivitas. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kebutuhan nutrisi broiler pada

umur yang berbeda. Lebih lanjut oleh Soeparno (2005), faktor genetik dan

lingkungan juga memengaruhi laju pertumbuhan komposisi tubuh yang meliputi

distribusi bobot, komposisi kimia, dan komponen karkas.

Bobot hidup adalah bobot yang didapat dengan cara menimbang bobot

ayam setelah dipuasakan selama 12 jam. Bobot hidup perlu diperhatikan kualitas

dan kuantitas dari ransum yang dikonsumsi, sehingga didapatkan pertumbuhan

yang baik (Blakely dan Bade, 1998). Pada hasil penelitian dilaporkan bahwa bobot

hidup broiler umur 24 hari yang dipelihara dengan kepadatan 15 ekor/m2 pada

semi closed house dengan litter sekam padi adalah 1.088--1.144 g.

2.3 Bobot Karkas

Karkas merupakan hasil utama pemotongan ternak yang memiliki nilai

ekonomis tinggi (Soeparno, 1992). Karkas broiler adalah daging bersama tulang

hasil pemotongan, tanpa darah, setelah dipisahkan dari kepala sampai batas pangkal

leher dan dari kaki sampai batas lutut serta dari isi rongga perut ayam. Karkas

adalah bagian tubuh ayam tanpa bulu, darah, leher, kaki bagian bawah (cakar), dan

viscera (Ensminger, 1980). Dewan Standardisasi Nasional (1995) menjelaskan

karkas ayam pedaging adalah bagian tubuh broiler hidup setelah dikurangi bulu,

dikeluarkan darah, jeroan, dan lemak abdominalnya, dipotong kepala dan leher

serta kedua kakinya (ceker). Menurut Yao (2006), karkas broiler adalah bagian
5

tubuh ayam yang disembelih lalu dibuang darah, kaki bagian bawah mulai tarsus

metatarsus ke bawah, kepala, leher, serta dicabut bulu, dan organ dalam kecuali

paru-paru, jantung, dan ginjal. Karkas dihitung setelah dikeluarkan isi perut, kaki,

leher, kepala, bulu, darah, dan kualitas karkas juga ditentukan pada saat

pemotongan (Zuidhof, 2004).

Pertumbuhan komponen karkas diawali dengan pertumbuhan tulang, lalu

pertumbuhan otot yang akan menurun setelah mencapai pubertas selanjutnya diikuti

pertumbuhan lemak yang meningkat (Soeparno, 2005). Pembentukan tubuh yang

terjadi akibat tingkat pertumbuhan jaringan, kemudian akan membentuk karkas

yang terdiri dari 3 jaringan utama yang tumbuh secara teratur dan serasi: jaringan

tulang yang akan membentuk kerangka, selanjutnya pertumbuhan otot atau urat

yang akan membentuk daging yang menyelubungi seluruh kerangka, kemudian

sesuai dengan pertumbuhan jaringan tersebut, lemak tumbuh dan cenderung

meningkat sejalan dengan meningkatnya bobot badan (Anggorodi, 1990).

Broiler yang mengonsumsi protein dan energi metabolis yang sama akan

menghasilkan bobot karkas yang tidak berbeda (Han dan Baker, 1994). Haroen

(2003) menjelaskan pencapaian bobot karkas sangat berkaitan dengan bobot hidup

dan pertambahan bobot badan. Wilson (1977) menyatakan bahwa karkas yang baik

memiliki banyak jaringan otot dan sedikit mungkin jaringan lemak. Soeparno

(1992) menjelaskan faktor yang memengaruhi bobot karkas broiler adalah genetik,

jenis kelamin, fisiologi, umur, berat tubuh, dan nutrisi ransum. Pada hasil penelitian

Bastari (2012) dilaporkan bahwa bobot karkas broiler pada umur 24 hari yang

dipelihara pada semi closed house dengan litter sekam padi adalah 714--756 g.

2.4 Persentase Karkas Broiler


6

Ensminger (1980) menjelaskan bahwa persentase karkas yaitu jumlah

perbandingan bobot karkas dan bobot hidup dikalikan 100%. Pendapat yang serupa

disampaikan oleh Jull (1992) yang menyatakan bahwa persentase bobot karkas

dapat diperoleh dengan jalan membagi bobot karkas dengan bobot hidup sebelum

dipotong. Hasil penelitian Siswanto (2004), pada umur 6 minggu persentase karkas

broiler yang dipelihara pada kandang postal adalah sebesar 71,78--74,11% dengan

bobot hidup 1.950--2.105 g.

Persentase karkas ditentukan oleh besarnya bagian tubuh yang terbuang

seperti kepala, leher, kaki, jeroan, bulu, dan darah (Jull, 1992). Dijelaskan lebih

lanjut oleh Jull (1992) bahwa persentase bagian tubuh ayam pedaging adalah 65--

75% karkas; 6,41% bulu; 9--10% viscera; 9--10% darah; 7,8% kepala, dan leher

serta 4,40% kaki. Aviagen (2006) menyatakan bobot karkas broiler berkisar antara

1.750--1.800 g atau 71--73% dari bobot badan. Moreng dan Avens (1985),

persentase karkas ayam pedaging berkisar antara 60--70%. Widharti (1987)

melaporkan persentase karkas broiler umur 6 minggu adalah 58,82--63,89%.

Persentase karkas broiler berkisar antara 65--75% berat hidup (Murtidjo, 1992).

Persentase broiler siap potong menurut Bakrie (2003) adalah 58,9%.

Giblet

Menurut Kurtini (2014), giblet adalah hasil ikutan pada unggas, terdiri dari

hati, jantung, dan gizzard (rempela). Menurut Soeparno (2005), bobot hidup

memengaruhi bobot giblet. Bobot giblet meningkat dengan meningkatnya bobot

karkas, walaupun persentase terhadap bobot hidup ayam akan menurun (Rasyaf,

2004). Pada hasil penelitian Bastari (2012) dilaporkan bahwa pada umur 24 hari

bobot giblet broiler yang dipelihara di semi closed house dengan litter sekam padi

yaitu sebesar 45,84-47,87 g. Faktor-faktor yang memengaruhi bobot giblet


7

diantaranya adalah bangsa, umur, bobot tubuh, obat-obatan, dan ransum (Ressang,

1984).
8

III

ALAT BAHAN DAN PROSEDUR

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

1. Baki, berfungsi sebagai tempat preparat

2. Pisau, berfungsi sebagai pemotong karkas dan penyembelih

3. Kompor, berfungsi sebagai alat pemanas air

4. Panci, berfungsi sebagai tempat air panas

5. Ember, berfungsi sebagai tempat pengeluaran darah

6. Kantong Plastik,berfungsi sebagai tempat bulu yang sudah dicabut

3.1.2 Bahan

1. Ayam, berfungsi sebagai preparat

2. Air,berfungsi sebagai pembasuh karkas

3.2 Prosedur

3.2.1 Pengamatan Ayam Hidup


No. Pengamatan Prosedur
1. Health and vigor 1. Tempatkan ayam di atas baki, usahakan ayam
harus dalam keadaan tenang.
2. Amati bagian jengger, mata, oil gland/tungir dan
bulu disekitar vent
3. Sesuaikan dengan standar penilaian ayam hidup.
4. Catat hasilnya pada lembar kerja
2. Feathering 1. Amati perbuluan seluruh tubuh.
2. amati bagian yang tidak ada bulunya, apakah
ada fin feather atau tidak.
3. Sesuaikan dengan standar penilaian ayam hidup.
4. Catat hasilnya pada lembar kerja
3. Comformation 1. Lihat ayam dari depan apakah bentuknya
menunjukan ayam broiler yang baik atau tidak.
2. Amati bagian bagian dada, punggung, sayap
serta kaki, apakah ada penyimpangan atau tidak.
9

3. Sesuaikan dengan standar penilaian ayam hidup


4. Catat hasilnya pada lembar kerja.
4. Fleshing 1. Amati dan raba bagian dada dan paha apakah
penuh dengan daging atau tidak.
2. Sesuaikan dengan standar penilaian ayam hidup
3. Catat hasilnya pada lembar kerja
5. Fat 1. Amati perlemakan dibawah kulit
2. Cubit kulit pada bagian perut, sambil dirasakan
apakah terdapat lemak atau tidak
3. Sesuaikan dengan standar
4. Catat hasilnya pada lembar kerja
6. Defect 1. Amati bagian-bagian persendian, lihat apakah
ada yang lepas atau tidak.
2. Amati juga bagian yang ada dagingnya, apakah
ada memar atau tidak.
3. Lihat bagian kulit dada apakah terjadi penebalan
atau tidak.
4. Kemudian lihat pula bagian shank dan telapak
kaki apakah ada penebalan atau tidak.
5. Sesuaikan dengan standarr penilaian
6. Catat hasilnya pada lembar kerja
3.2.2 Pengamatan Karkas
No. Pengamatan Prosedur
1 Conformation Adanya penyimpangan-penyimpangan tertentu dari
struktur, menurunkan daya terik karkas.
Beberapa penyimpangan yang hendaknya diperhatikan
adalah : Dada yang melesak; Bengkok; Berbonggol;
Berbentuk V atau rata sisinya; Punggung sempit, bengkok
atau bungkuk. Kaki dan sayap bentuk menyimpang atau
membengkak, dan tubuh memberi gambaran berbentuk
baji.
2 Fleshing Karkas yang diklasifikasikan sebagai kualitas A,
mempunyai dada yang terisi penuh, lebar dan panjang
dengan perdagingan yang baik.
Drumstiks, thigs dan dada memberi gambaran penuhnya
penimbunan daging. Bagaimanapun terdapat korelasi yang
positif antara perdagingan di daerah punggung dengan
banyaknya daging pada berbagai bagian karkas yang lain.
Penyimpangan-penyimpangan yang ada, seperti pada
penilaian unggas hidup.
3 Fat Pada kulaitas A bagian dada, punggung, pinggul dan tulang
capit (pinbones), harus tertutup oleh lemak secara baik,
kecuali pad chiken broiler or fryer, dan young tom turkey
10

mungkin hanya mempunyai perlemakan yang sedang


(moderate). Hen, stewing chiken atau fowl, walaupun
tertutup oleh lemak secara baik, tetapi bebas dari
penimbunan lemak abdominal yang berlebihan.

4 Freedom from Adanya pinfeather akan menyebabkan tambahan kerja bagi


Pinfeather ibu-ibu rumah tangga untuk menghilangkannya. Oleh
karena itu hal tersebut dipergunakan sebagai salah satu
kriteria untuk menilai kualitas karkas.
Ada 2 tipe pinfeather yang dipertimbangkan dalam
grading, yaitu :
1. Protuding Pinfeather. Pinfeather yang menembus kulit
luar dan dapat/tidak (sudah/belum) terjadi bentuk sikat.

2. Non Protuding Pinfeather. Pinfeather yang belum


menembus kulit luar.
Pada dressed, jumlah total da lokasi dari kedua tipe
pinfeather, dipertimbangkan sebagai satu macam saja.
Pada ready to cook, penilaian adalah terhadap protuding
pinfeather. Sebelum penentuan kualitas, unggas sebaiknya
bebas dari protuding pinfeather. Dalam hubungan ini,
istilah Free from Protuding Pinfeather berarti bebas dari
protuding pinfeather yang ana mempengaruhi penguji atau
grader, sehingga mempercepat pemeriksaan. Namun
demikian, karkas dapat dipertimbangkan bebas dari
protuding pinfeather, jika secara umum memberikan
penampilan yang berseih (terutama pada dada) dan
protuding pinfeather sedikit sekali.
Vestigal feather, rambut, pada ayam, kalkun, guneas dan
merpat, harus dipertimbangkan mengenai down (bulu
halus)
5 Freedom from Irisan, sobekan, kulit yang lepas, patah tulang dan
Cuts, Tears persendian lepas, akan menurunkan daya tarik dari karkas,
and Broken sebagai tambahan kualitas akan menurun karena adanya
Bones memar dan blood clots, yang mana sering terjadi
bersamaan dengan patah tulang.
Sobekan dan kulit lepas, menyebabkan daging menjadi
kering selama pemasakan, jadi merendahkan Eating
Quality dari karkas unggas.
Banyaknya dan adanya penyimpangan-penyimpangan
yang diperbolehkan tergantung pada lokasinya, apakah
pada dada atau tempat lain di karkas. Tidak ada sobekan
yang diperbolehkan dijahit, untuk klasifikasi kualitas
unggas. Namun demikian pembuangan Wing Tip (ujung
11

sayap) diperbolehkan. Pada kualitas yang lebih rendah,


persendian kedua atau ketiga mungkin dibuang.
12

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

3.1.1 Tabel Pengamatan Ayam Hidup


Faktor Kualitas A Kualitas B Kualitas C
Health and vigor A - -

Siap siaga
/waspada, mata
bersinar, sehat
dan lincah
(vigorous)
Feathering A - -

Tertutup bulu
secara baik,
terlihat
mengkilap/
bercahaya.
Pinfeater hanya
menyebar
ringan
Comformation : A - -
- Breast Bone Normal
Sedikit
melengkung,
ayam
melengkung
1/8 ‘’ kalkun
- Backs 1/4'’
Normal
(kecuali sedikit
- Leg and wings melengkung)
Normal
Flshing A - -

Pedagingan
baik,dada
cukup luas dan
panjang
13

Fat A - -
Lemak dibawah
kulit
membungkus
rata seluruh
tubuh (Karkas)

Chikens fryer
dan turkey
fryer dan young
tom penutupan
lemak sedang
A - -
Defect : Sedikit sekali
- Tear and broken Bebas
bones
- bruises scratches Kulit sedikit
& memar goresan
- callauses dan penebalan
- shank Scally ringan

Hasil Pengamatan Kelompok 1

3.1.2 Penilaian Karkas


Faktor Kualitas A Kualitas B Kualitas
C
A - -
Comformation
- Breast bone Normal
Sedikit
- Back melengkung
Melengkung
- Legs and wings normal
Normal

Fleshing A - -

Baik, dada
cukup
panjang,
dalam dan
bundar.
14

Fat covering A - -

Membungkus
tubuh dengan
baik tulang
jalur bulu
besar pada
dada
- Pinfeather - - -
- Non protuding pins and
hairs
- Protuding pins
Disjoint bones A - -
satu
Broken bones A - -
Tidak ada
Missing parts A - -
Ujung sayap
dan ekor
Disclororation - - C
- Berat karkas Tidak ada
- < - 1 ½ lbs
- 1 ½ - 6 lbs
- 6- 16 lbs
Ekposhed flosh - - -
Berat karkas
- < - 1 ½ lbs
- 1 ½ - 6 lbs
- 6- 16 lbs
Hasil Pengamatan Kelompok 1

a) Bobot Hidup Ayam = 1150 gram

b) Bobot Darah = 30 gram

c) Bobot Bulu = 66 gram

d) Bagian Karkas

 Sayap Kanan = 39,4 gram

 Sayap Kiri = 39,3 gram

 Paha Kanan = 116,1 gram


15

 Paha Kiri = 117,1 gram

 Punggung = 133 gram

 Dada = 320,5 gram

e) Giblet = 53,3 gram

3.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini mengenai Poultry Grading, ayam yang diamati

karkasnya mempunyai kualitas karakas yang baik, ini dapat diketahui dari

kesehatan dan kelincahan pada ayam tersebut, dari uji standar kualitas untuk

unggas hidup, ayam yang diamati pada praktikum ini memiliki sifat dan sikap yang

siap siaga/waspada, matanya juga bersinar, dan dari penampilannya dapat diketahui

bahwa ayam tersebut sehat dan lincah. Dari perbuluannya, pada ayam ini bulunya

tertutup baik, dan pin feathernya juga sedikit. Bentuk badan ayam yang diamati ini

normal, tulang dada dan tulang punggung melengkung dan juga bentuk paha dan

sayap yang normal. Untuk konformasi tubuh dari ayam ini, konformasinya

dianggap normal, karena tulang dada dan tulang punggungnya agak bengkok

sedangkan bentuk dari paha dan sayapnya agak menyimpang. Dan untuk

perdagingan ayam yang diamati meiliki kualitas yang baik karena ayam ini

memiliki dada yang luas dan panjang. Juga pada kecacatan, baik itu kulit yang

sobek dan patah tulang, memar, goresan dan penebalan kulit maupun kaki, ayam

tersebut hampir tidak memiliki kecacatan atau sedikit sekali memiliki kecacatan.

Perlemakan yang terdapat pada ayam baik, lemak dibawah kulit mempungkus rata

seluruh tubuh.

Setelah melakukan penilaian dan pengamatan ayam hidup, ayam ditimbang

terlebih dahulu, berat ayam hidup 1150 gram, setelah itu ayam disembelih lalu

ditunggu untuk pengeluaran darah, lalu ayam ditimbang ulang untuk menapatkan
16

bobot darah namun pada tahap ini praktikan tupa tidak mengenjakannya, sehingga

data yang didapat merupakan data pendugaan yaitu sebesai 30 gram. Tahapan

selanjutnya yaitu pencelupan ayam ke air atau Scalding dengan suhu 60 oC selama

60 detik, hal tersebut sesuai dengan Soeparno (1992), untuk mempermudah

pencabutan bulu, unggas yang telah disembelih dicelupkan ke dalam air hangat,

dengan suhu antara 50 sampai 80OC selama waktu tertentu. Selanjutnya,

pencabutan bulu atau Flucking. Setelah bulu dicabut lalu karkas tanpa bulu

ditimbang untuk mendapatkan berat bulu, berat bulu ayam kelompok kami seberat

66 gram

Setelah pencabutan bulu atau pembersihan bulu, dilakukan pengeluaran

jerohan yang salah satu caranya adalah sebagai berikut, yaitu proses pengeluaran

jerohan dimulai dari pemisahan tembolok dan trachea serta kelenjar minyak bagian

ekor kemudian pembukaan rongga badan dengan membuat irisan dari kloaka ke

arah tulang dada. Kloaka dan visera atau jerohan dikeluarkan kemudian dilakukan

pemisahan organ-organ yaitu hati dan empedu, empedu dan jantung. Isi empedal

harus dikeluarkan, demikian pula empedal dipisahkan dari bawah columna

vertebralis. Kepala, leher dan kaki juga dipisah (Soeparno, 1992).

Tahapan selanjutnya adalah penilaian karkas dan pemotongan karkas ready

to cook. Penilaian karkas yang pertama adalah conformation karkas kelompok kami

tergolong pada kategori A karena Breast bone, Back, Legs and Wings Termasuk

pada kategori A begitupun pada penilaian Fleshing, Disjoint bone, Broken bone dan

Missing part termasuk kedalam kategori A. Tetapi pada penilaian Pinfeater karkas

kelompok kami tegolong karkas No Grade karena masih banyak bulu yang belum

tercabut, selain itu pada penilaian Disclororation karkas kelompok kami tergolong
17

pada kualitas C. Sehingga dapat disimpukan bahwa karkas kelompok kami

tergolong pada karkas No Grade.


18

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Penilaian ayam hidup secara keseluruhan berdasarkan preparat yang telah

diberikan adalah ayam Grade A

2. Penilaian karkas yang telah dilakukan sesuai dengan table penilaian karkas,

preparat yang telah diberikan tergolong kepada No Grade, karena banyak

terdapat Pinfeather.

3. Persentase karkas ditentukan oleh besarnya bagian tubuh yang terbuang

seperti kepala, leher, kaki, jeroan, bulu, dan darah.

5.2 Saran

Adapun saran dalam praktikum ini untuk memperbaiki praktikum

selanjutnta antara lain Lebih memperhatikan kebersihan laboratorium saat

menjalankan praktikum ini, mengingat banyak kontak dengan air dan organ ayam

yang menyebabkan bau amis di dalam laboratorium. Keefektifan dosen dalam

menerangkan materi praktikum perlu diperhatikan agar keefektifan dan pencapaian


tujuan praktikum poultry grading dapat tercapai dengan baik.
19

DAFTAR PUSTAKA

Soeparno. 1992. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan ke-1. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Aksi Agraris Kanisius. 2003. Beternak Ayam Pedaging. Cetakan ke-18. Kanisius.
Jakarta.
Amrullah, I. K. 2003. Nutrisi Ayam Broiler. Lembaga Satu Gunung Budi. Bogor.
Anggorodi, R. 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia. Jakarta. . 1995.
Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Cetakan ke-4. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Murtidjo, B. A. 1992. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kanisius. Yogyakarta.
Susilorini, E., Sawitri, M. E., dan Muharlien. 2008. Budidaya 22 Ternak Potensial.
Penebar Swadaya, Jakarta
Suprijatna, E., U. Atmomarsono, dan R. Kartasujana. 2005. Ilmu Dasar Ternak
Unggas. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.
Kartasudjana, R. dan Suprijatna. E. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Amrullah, I. K. 2003. Nutrisi Ayam Petelur. Lembaga Satu Gunung Budi. Bogor.
Nuryanto, 2007. Sexing untuk perfoma optimal. Trobos 90 maret 2007 tahun
VIII, Jakarta.
Ensminger, M. E. 1992. Animal Science. Interstate Publishing, Inc. Danville.
Illionis
Murwani, R. 2010. Broiler Modern. Cetakan Pertama. Widya Karya. Semarang.
North, M. O. and D. D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. 4
thEdition. Van Nostrand Rainhold. New York.
Soeparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging, Ed ke-4. Yogyakarta: Universitas
Gadjah Mada.
Yao, J., X. Tian, H. Xi, J. Han, M. Xu and X. Wu. 2006. Effect of choice feeding
on performance, gastrointestinal development and feed utilization of
broilers, J. Anim.
Sci. 19 : 91-96.
Zuidhof, M. J. R., H. McGovern, B. L. Schneider, J. J. R. Feddes, F. E. Robinson,
20

and D. R. Korver. 2004. Implications of preslaughter feeding cues for


broiler behavior and carcass quality livestock development division, pork,
poultry and dairy branch, alberta agriculture, food and rural development.
Poultry Res. 13:335--341.
21

LAMPIRAN
22

Lampiran 1 Foto Hasil Pengamatan

Gambar 1 Pencucian Karkas Gambar 3 Penimbangan Bagian Karkas

Gambar 2 Pemotongan Karkas


23

Lampiran 2 Hitungan

a. % Bagian Karkas = Bagian Karkas/ Empty Carcass x 100%

 Sayap kanan = 39,4/1000 x 100 % = 3,94 %

 Sayap Kiri = 39,3/1000 x 100% = 3,93 %

 Paha Kanan = 116,1/1000 x 100%=11,61 %

 Paha Kiri = 117,1/1000 x 100% = 11,71%

 Dada = 320,5/1000 x 100% =32,05%

 Punggung = 133/1000 x 100% =13,3%

b. % Bulu = Berat Bulu/Berat Hidup x 100 %


= 66/1150 x 100 % = 5,73 %

c. %Darah = Berat darah/Bobot Hidup x 100 %

= 30/1150 x 100 % = 2,60 %

d. %Empty Carcass = Total Bobot Empty Carcas / Bobot Hidup x 100%

= 1000/1150 x 100% = 86,95 %


24

Lampiran 3 Tabel Distribusi


No. Nama dan NPM Distribusi Kerja
1 Fitri Diana Bab 1 dan Bab 2
200110160046
2 Moch Fariz Ikhsan Editing ,Bab 4 cover daftar isi daftar gambar
200110160100 daftar lampiran daftar tabel
3 Rayhan Znayka P Print
200110160257
4 Salsabila Nazhari Bab 5, Daftar Pustaka, Lampiran
200110160259
5 Clara Enocencia Bab 3
Brenda Sagala
200110160272