Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA Ny.

DENGAN MASALAH POST PARTUM DENGAN ANEMIA

DI RUANG MAWAR RS ANWAR MEDIKA, SIDOARJO

Disusun Oleh :
Mukti Puji S.P
Nim : 201803050

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES BINA SEHAT PPNI
MOJOKERTO
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktik Klinik Keperawatan Maternitas dengan masalah keperawatan Post


Partum dengan Anemia, mahasiswa program studi Profesi Ners STIKES BINA SEHAT PPNI
MOJOKERTO di RS Anwar Medika, Sidoarjo tanggal 25 Februari 2019 – 23 Maret 2019 ini
telah diteliti, disetujui, dan disahkan pada :

Hari :

Tanggal :

Sidoarjo, Maret 2019


Mahasiswa

(...........................................)
NIM.

Mengetahui,

PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING KLINIK

(............................................................) (...................................................)
Menyetujui
KEPALA RUANGAN

(...........................................................................)
LAPORAN PENDAHULUAN POST PARTUM (NIFAS)

1.Definisi

Masa nifas (puerperium), berasal dari bahasa Latin, yaitu puer yang artinya bayi dan
parous yang artinya melahirkan atau masa sesudah melahirkan (Saleha, 2009,)

Masa nifas atau puerperium adalah dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai
dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu (Hadijono,2008)

Puerperium / nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta
danberakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa
nifasberlangsung selama ± 6 minggu (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002)

2.Klasifikasi

Masa nifas dibagi dalam 3 periode yaitu :

a. Puerperium dini adalah kondisi kepulihan dimana seorang ibu sudah diperbolehkan
berdiri dan berjalan
b. Puerperium Intermedial adalah kondisi kepulihan organ genital secara menyeluruh
dengan lama ± 6-8 minggu
c. Remote Puerperium waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama
bila saat hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi. Waktu yang diperlukan
untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan ataupun tahunan.
3. Perubahan fisiologi post partum
A. Tanda-tanda vitalSuhu
a) Selama 24 jam pertama, mungkin meningkat 38 0 C sebagai suatu akibat dari
dehidrasi persalinan 24 jam wanita tidak boleh demam.
b) Nadi
Bradikardi umumnya ditemukan pada 6 – 8 jam pertama setelah persalinan.
Brandikardi merupakan suatu konsekuensi peningkatan cardiac out put dan stroke
volume. Nadi kembali seperti keadaan cardia output dan stroke volume. Nadi
kembali seperti keadaan sebelum hamil 3 bulan setelah persalinan. Nadi antara 50
sampai 70 x/m dianggap normal.
c) Respirasi
Respirasi akan menurun sampai pada keadaan normal seperti sebelum hamil
d) Tekanan darah
Tekanan darah sedikit berubah atau tidak berubah sama sekali. Hipotensi yang
diindikasikan dengan perasaan pusing atau pening setelah berdiri dapat
berkembang dalam 48 jam pertama sebagai suatu akibat gangguan pada daerah
persarafan yang mungkin terjadi setelah persalinan.
B. Adaptasi sistim cardiovaskuler
Pada dasarnya tekanan darah itu stabil tapi biasanya terjadi penurunan tekanan darah
sistolik 20 mmHg jika ada perubahan dari posisi tidur ke posisi duduk. Hal ini disebut
hipotensi orthostatik yang merupakan kompensasi cardiovaskuler terhadap penurunan
resitensi didaerah panggul. Segera setelah persalinan ibu kadang menggigil disebabkan
oleh instabilitas vasmotor secara klinis, hal ini tidak berarti jika tidak disertai demam.
C. Adaptasi kandung kemih
Selama proses persalinan kandung kemih mengalami trauma akibat tekanan oedema
menurunnya sensifitas terhadap tekanan cairan, perubahan ini menyebabkan tekanan
yang berlebihan dan pengosongan kandung kemih yang tidak tuntas, biasanya ibu
mengalami kesulitan BAK sampai 2 hari pertama post partum.
D. Adaptasi sistem endokrim
Sistem endokrim mulai mengalami perubahan kala Iv persalinan mengikuti lahirnya
placenta, terjadi penurunan yang cepat dari estrogen progesteron dan proaktin. Ibu yang
tidak menyusui akan meningkat secara bertahap dimana produksi ASI mulai disekitar
hari ketiga post partum. Adanya pembesaran payudara terjadi karena peningkatan
sistem vaskulan dan linfatik yang mengelilingi payudara menjadi besar, kenyal,
kencang dan nyeri bila disentuh.
E. Adaptasi sistem gastrointestinal
Pengembangan fungsi defekasi secara normal terjadi lambat dalam minggu pertama
post partum. Hal ini berhubungan dengan penurunan motilitas usus, kehilangan cairan
dan ketidaknyamanan parineal.
F. Adaptasi sistem muskuloskletal
Otot abdomen terus menerus terganggu selama kehamilan yang mengakibatkan
berkurangnya tonus otot yang tampak pada masa post partum dinding perut terasa
lembek, lemah, dan kotor. Selama kehamilan otot abdomen terpisah yang disebut
distasi recti abdominalis, juga terjadi pemisahan, maka uteri dan kandung kemih mudah
dipalpasi melalui dinding bila ibu terlentang.
G. Adaptasi sistem integument
Cloasma gravidrum biasanya tidak akan terlihat pada akhir kehamilan,
hyperpigmenntasi pada areola mammae dan linea nigra, mungkin belum menghilang
sempurna setelah melahirkan.
H. Adaptasi Reproduksi
1) Uterus
Secara berangsur-angsur, kondisi uterus akan membaik dengan pengecilan
ukuran (involusi) dari uterus itu sendiri. Adapun tinggi fundus uteri (TFU) post
partum menurut masa involusi :
Tabel 1. TFU menurut masa involusi

2) Vagina dan Perineum


Vagina Pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul vugae
(lipatan-lipatan atau kerutan-kerutan) kembali. Perlukaan vagina yang tidak
berhubungan dengan perineum tidak sering dijumpai. Mungkin ditemukan setelah
persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi akibat ekstrasi dengan cunam, terlebih
apabila kepala janin harus diputar, robekan terdapat pada dinding lateral dan baru
terlihat pada pemeriksaan speculum.
Perubahan pada perineum terjadi robekan perineum hampir pada semua
persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan
perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala
janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin
melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar dan pada
sirkumfarensia suboksipito bregmatika. Bila ada laserasi jalan lahir atau luka bekas
episiotomi (penyayatan mulut serambi kemaluan untuk mempermudah
kelahiran bayi) lakukanlah penjahitan dan perawatan dengan baik (Suherni, Hesty
Widyasih, Anita Rahmawati, 2009)
Pada post partum terdapat lochia yaitu cairan/sekret yang berasal dari kavum
uteri dan vagina. Macam – macam lochia :
a). Lochia rubra
Lochea ini berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, selsel darah
desidua (Desidua yakni selaput tenar rahim dalam keadaan hamil), venix
caseosa (yakni palit bayi, zat seperti salep terdiri atas palit atau semacam noda
dan sel-sel epitel yang mnyelimuti kulit janin), lanugo (yakni bulu halus pada
anak yang baru lahir), dan mekonium (yakni isi usus janin cukup bulan yang
terdiri atas getah kelenjar usus dan air ketuban berwarna hijau)
b). Lochia Sanguinolenta: berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, terjadi
hari ke 3 – 7 pasca persalinan
c). Lochia serosa: Keluar cairan tidak berisi darah berwarna kuning. Terjadi hari
ke 7 – 14 hari pasca persalinan
d). Lochia alba: Cairan putih setelah 2 minggu pasca persalinan
3) Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan, ostium
ekstern dapat dimasuki oleh dua hingga tiga tangan : setelah 6 minggu postnatal,
serviks menutup. Karena robekan kecil-kecil yang terjadi selama dilatasi. Serviks
tidak pernah kembali kekeadaan sebelum hamil (nulipara) yang berupa lubang
kecil seperti mata jarum ; serviks hanya kembali pada keadaan tidak hamil yang
berupa lubang yang sudah sembuh, tertutup tapi berbentuk celah. Dengan
demikian, os servisis wanita yang sudah pernah melahirkan merupakan salah satu
tanda yang menunjukkan riwayat kelahiran lewat vagina
4) Payudara
Payudara mencapai maturitas yang penuh selama masa nifas kecuali jika
laktasi disupresi. Payudara akan menjadi lebih besar lebih kencang dan mulamula
lebih nyeri tekan status hormonal serta dimulainya laktasia.
5) Traktus urinarius
Buang air kecil sulit selama 24 jam pertama. Kemungkinan terdapat spasme sfigner
dan edema leher buli-buli sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala
janin dan tulang pubis selama persalinan.
4. Perubahan-perubahan psikis ibu nifas
Perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi yang harus dijalani. Tanggung jawab
bertambah dengan hadirnya bayi yang baru lahir. Dorongan serta perhatian anggota
keluarga lainnya merupakan dukungan positif untuk ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah
melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut (Suherni, Hesty Widyasih,
Anita Rahmawati, 2009)
A. Fase taking in
Yaitu periode ketergantungan. Periode ini berlangsung dari hari pertama sampai kedua
setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu sedang berfokus terutama pada dirinya sendiri.
Ibu akan berulang kali menceritakan proses persalinan yang dialaminya dari awal
sampai akhir.
B. Fase taking hold
Yaitu periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini ibu
timbul rasa kawatir akan ketidakmampuan dan tanggung jawab dalam merawat bayi.
Ibu mempunyai perasaan sangat sensitif mudah tersinggung dan gampang marah.
C. Fase letting go
Yaitu periode menerima tanggung jawab akan peran barunya. Fase ini berlangsung 10
hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan
bayinya.
5. Penanganan Masa Nifas (Puerperium)
A. Kebersihan diri
a) Anjurkan menjaga kebersihan seluruh tubuh
b) Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah alat kelamin dengan sabun dan
air. Pastikan bahwa klien mengerti untuk membersihkan daerah vulva terlebih
dahulu dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus.
Nasehatkan ibu untuk membersihkan vulva setiap kali buang air kecil atau besar.
c) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya 2x sehari.
Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan dibawah
matahari dan disetrika.
d) Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah
membersihkan daerah kelaminnya.
e) Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk
menghindari menyentuh daerah luka.
B. Istirahat
a) Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan berlebihan.
b) Sarankan untuk kembali melakukan kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan
serta untuk tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur.
c) Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam mengurangi jumlah asi yang
diproduksi, Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
dan Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya
sendiri.
C. Latihan
a) Diskusikan pentingnya otot-otot panggul kembali normal. Ibu akan merasa
lebihmkuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi
rasa sakit pada panggul.
b) Jelaskan pentingnya latihan untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar
panggul (kelgel exercise). Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap
gerakan. Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu
ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.
D. Gizi
a) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari.
b) Makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin
yang cukup
c) Minum sedikitnya 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali
menyusui.
d) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari
post partum.
e) Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada
bayi melalui air asinya.
E. Perawatan payudara
a) Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama pada puting susu
b) Menggunakan Bra yang menyokong payudara
c) Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar
puting susu setiap kali menyusui. Tetap menyusui dimulai dari puting susu yang
tidak lecet.
d) Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan
diminumkan menggunakan sendok.
e) Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat minum paracetamol 1 tablet.
f) Urut payudara dari arah pangkal menuju puting susu dan gunakan sisi tangan untuk
mengurut payudara.
g) Keluarkan ASI sebagian dari depan payudara sehingga puting susu menjadi lunak.
h) Susukan bayi setiap 2-3 jam. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI, sisanya
keluarkan dengan tangan. Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.
F. Senggama
a. Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah
berhenti dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jarinya kedalam vagina tanpa rasa
nyeri
b. Banyaknya budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai
pada masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah
persalinan. Keputusan bergantung pada pasangan yang bersangkutan

6. Perawatan post partum

A. Perineum

Luka pada perineum akibat episiotomi, ruptura atau laserasi merupakan daerah yang
tidak mudah untuk dijaga agar tetap bersih dan kering. Pengamatan dan perawatan
khusus diperlukan untuk menjamin agar daerah tersebut sembuh dengan cepat dan
mudah. Pencucian daerah perineum memberikan kesempatan untuk melakukan inspeksi
secara seksama pada daerah tersebut dan mengurangi rasa sakitnya.

B. Mobilisasi

Karena lelah sehabis bersalin ibu harus istirahat tidur terlentang selama 8 jam post
partum, kemudian boleh miring-miring kekiri dan kekanan untuk mencegah terjadinya
trobosis dan tramboemboli. Pada hari kedu duduk-duduk, hari ketiga jalanjalan dan
pada hari keempat atau lima boleh pulang. Mobilisasi diatas mempunyai variasi
tergantung pada adanya komplikasi persalinan nifas dan sembuhnya luka-luka

C. Diet

Makanan harus bermutu dan bergizi cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang
mengandung protein, banyak cairan sayuran-sayuran dan buah-buahan.

D. Miksi
Hendaknya berkemih dapat dilakukan sendiri dngan secepatnya. Kadang-kadang wanita
sulit berkemih karena sphineter uretrae mengalami tekanan oleh kepala janin dan
spasme otot iritasi musculus sphicterani selama persalinan bila kandung kemih penuh
dan wanita sulit berkemih sebaiknya lakukan kateterisasi.

E. Defakasi

Buang air besar harus dilakukan 3 – 4 hari post partum. Bila masih sulit buang air besar
dan terjadi optipasi apabila faeces keras harus diberikan obat laksans atau perectal, jika
masih belum bisa dilakukan klisma.

F. Laktasi

Perawatan mammae telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu tidak keras,
lemas dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Laktasia dapat diartikan
dengan pembentukan dan pengeluaran air susu ibu (ASI). Keuntungan ASI yakni :

1) Bagi ibu

a) Mudah didapatkan
b) Praktis dan murah
c) Memberi kepuasan
2) Bagi bayi

a) ASI mengandung zat ASI yang sesuai dengan kebutuhan


b) ASI mengandung berbagai zat antibody untuk mencegah infeksi
c) ASI mengandung laktoperin untuk mengikat zat gizi
d) Susu tepat dan selalu segar
e) Memperindah gigi dan rahang
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4. Jakarta : EGC

Carpenito, L.J. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta

Carpenito, L. J. 1998. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis. Edisi 6. EGC.
Jakarta

Doengoes, E. Marilyn. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi Edisi 2. Jakarta: EGC

Farrer, H. 2001. Perawatan Maternitas. Edisi 2. EGC. Jakarta

Hadijono, Soerjo. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta:Bina Pustakahttp://www. Us elsevierhealth.


com. Nursing diagnoses. Outcomes and interventionsNANDA. 2001. Nursing Diagnoses:
Definitions & Classification.

PhiladelphiaSarwono, P. 1994. Ilmu Kebidanan. Balai Penerbit UI. JakartaYayasan Bina


Pustaka

Sarwono Prawirohardjo. 2002.Buku Panduan Praktis PelayananKesehatan Maternal dan


Neonatal.
LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA
1. Definisi Anemia
Anemia adalah penyakit kurang darah yang ditandai dengan kadar
hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal
(Soebroto, 2010).
2. Kategori Anemia
Berikut ini kategori tingkat keparahan pada anemia (Soebroto, 2010) :
a. Kadar Hb 10 gr - 8 gr disebut anemia ringan
b. Kadar Hb 8 gr – 5 gr disebut anemia sedang
c. Kadar Hb kurang dari 5 gr disebut anemia berat
Kadar Hb Normal :
Laki – Laki : 13,8 – 17,2 g/dL
Perempuan : 12,1 – 15,1 g/dL
Ibu hamil : 11 -15 g/dL
3. Jenis-Jenis Anemia
Jenis-jenis anemia adalah:
a. Anemia Defisiensi Zat Besi
Anemia akibat kekurangan zat besi. Zat besi merupakan bagian dari molekul
hemoglobin. Kurangnya zat besi dalam tubuh bisa disebabkan karena banyak hal.
Kurangnya zat besi pada orang dewasa hampir selalu disebabkan karena perdarahan
menahun, berulang-ulang yang bisa berasal dari semua bagian tubuh (Soebroto, 2010).
b. Anemia Defisiensi Vitamin C
Anemia yang disebabkan karena kekurangan vitamin C yang berat dalam jangka waktu
lama. Penyebab kekurangan vitamin C adalah kurangnya asupan vitamin C dalam
makanan sehari-hari. Vitamin C banyak ditemukan pada cabai hijau, jeruk, lemon,
strawberry, tomat, brokoli, lobak hijau, dan sayuran hijau lainnya, serta semangka.
Salah satu fungsi vitamin C adalah membantu penyerapan zat besi, sehingga jika terjadi
kekurangan vitamin C, maka jumlah zat besi yang diserap akan berkurang dan bisa
terjadi anemia (Soebroto, 2010).
c. Anemia Makrositik
Anemia yang disebabkan karena kekurangan vitamin B12 atau asam folat yang
diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sel darah merah, granulosit, dan
platelet. Kekurangan vitamin B12 dapat terjadi karena berbagai hal, salah satunya
adalah karena kegagalan usus untuk menyerap vitamin B12 dengan optimal (Soebroto,
2010).
d. Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik terjadi apabila sel darah merah dihancurkan
lebih cepat dari normal. Penyebabnya kemungkinan karena keturunan
atau karena salah satu dari beberapa penyakit, termasuk leukemia dan
kanker lainnya, fungsi limpa yang tidak normal, gangguan kekebalan,
dan hipertensi berat (Soebroto, 2010).
e. Anemia Sel Sabit
Yaitu suatu penyakit keturunan yang ditandai dengan sel darah
merah yang berbentuk sabit, kaku, dan anemia hemolitik kronik
(Soebroto, 2010). Anemia sel sabit merupakan penyakit genetik yang
resesif, artinya seseorang harus mewarisi dua gen pembawa penyakit
ini dari kedua orang tuanya. Gejala utama penderita anemia sel sabit
adalah:
1) Kurang energi dan sesak nafas,
2) Mengalami penyakit kuning (kulit dan mata berwarna kuning),
3) Serangan sakit akut pada tulang dada atau daerah perut akibat
tersumbatnya pembuluh darah kapiler.
f. Anemia Aplastik
Terjadi apabila sumsum tulang terganggu, dimana sumsum
merupakan tempat pembuatan sel darah merah (eritrosit), sel darah
putih (leukosit), maupun trombosit (Soebroto, 2010).

4. Etiologi

Penyebab tersering dari anemia adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan
untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat. Selebihnya
merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik,
penyakit kronik, keracunan obat, dan sebagainya.

Penyebab umum dari anemia:


1. Perdarahan hebat
2. Akut (mendadak)
3. Kecelakaan
4. Pembedahan
5. Persalinan
6. Pecah pembuluh darah
7. Penyakit Kronik (menahun)
8. Perdarahan hidung
9. Wasir (hemoroid)
10. Ulkus peptikum
11. Kanker atau polip di saluran pencernaan
12. Tumor ginjal atau kandung kemih
13. Perdarahan menstruasi yang sangat banyak
14. Berkurangnya pembentukan sel darah merah
15. Kekurangan zat besi
16. Kekurangan vitamin B12
17. Kekurangan asam folat
18. Kekurangan vitamin C
19. Penyakit kronik
20. Meningkatnya penghancuran sel darah merah
21. Pembesaran limpa
22. Kerusakan mekanik pada sel darah merah
23. Reaksi autoimun terhadap sel darah merah
24. Hemoglobinuria nokturnal paroksismal
25. Sferositosis herediter
26. Elliptositosis herediter
27. Kekurangan G6PD
28. Penyakit sel sabit
29. Penyakit hemoglobin C
30. Penyakit hemoglobin S-C
31. Penyakit hemoglobin E
32. Thalasemia ( Price,2005).

5. Tanda dan Gejala

Tanda-tanda umum anemia:

a. pucat,

b. tacicardi,
c. bising sistolik anorganik,
d. bising karotis,
e. pembesaran jantung.
2. Manifestasi khusus pada anemia:
a. Anemia aplastik: ptekie, ekimosis, epistaksis, ulserasi oral, infeksi bakteri,
demam, anemis, pucat, lelah, takikardi.
b. Anemia defisiensi: konjungtiva pucat (Hb 6-10 gr/dl), telapak tangan pucat (Hb <
8 gr/dl), iritabilitas, anoreksia, takikardi, murmur sistolik, letargi, tidur meningkat,
tampak lemas, sering berdebar-debar, lekas lelah, pucat, sakit kepala, tampak
pucat pada mukosa bibir, farink,telapak tangan dan dasar kuku. Jantung agak
membesar dan terdengar bising sistolik yang fungsional.
c. Anemia aplastik : ikterus, hepatosplenomegali.

6. Patofisiologi

Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau


kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum tulang
dapt terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan
akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui
perdarahan atau hemolisis (destruksi) pada kasus yang disebut terakhir, masalah dapat
akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah
normal atau akibat beberapa factor diluar sel darah merah yang menyebabkan
destruksi sel darah merah. Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam
system fagositik atau dalam system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa.
Sebagai hasil samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan
masuk dalam aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis)
segera direpleksikan dengan meningkatkan bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1
mg/dl atau kurang ; kadar 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera.
Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya kadar
hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah adalah membawa
makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan
oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting,
Salah satunya otak. Otak terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika kapasitasnya
kurang, maka otak akan seperti komputer yang memorinya lemah, Lambat
menangkap. Dan kalau sudah rusak, tidak bisa diperbaiki (Sjaifoellah, 2010).

\
7. PATHWAY
8. Komplikasi

Anemia juga menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Akibatnya, penderita


anemia akan mudah terkena infeksi. Gampang batuk-pilek, gampang flu, atau
gampang terkena infeksi saluran napas, jantung juga menjadi gampang lelah, karena
harus memompa darah lebih kuat. Pada kasus ibu hamil dengan anemia, jika lambat
ditangani dan berkelanjutan dapat menyebabkan kematian, dan berisiko bagi janin.
Selain bayi lahir dengan berat badan rendah, anemia bisa juga mengganggu
perkembangan organ-organ tubuh, termasuk otak (Sjaifoellah, 2010).

9. Pemeriksaan penunjang
1. Kadar Hb.
Kadar Hb <10g/dl. Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata < 32% (normal: 32-
37%), leukosit dan trombosit normal, serum iron merendah, iron binding capacity
meningkat.

2. Kelainan laborat sederhana untuk masing-masing tipe anemia :


a. Anemia defisiensi asam folat : makro/megalositosis
b. Anemia hemolitik : retikulosit meninggi, bilirubin indirek dan total naik,
urobilinuria.
c. Anemia aplastik : trombositopeni, granulositopeni, pansitopenia, sel patologik
darah tepi ditemukan pada anemia aplastik karena keganasan.

10. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan anemia ditunjukan untuk mencari penyebab dan mengganti


darah yang hilang.

1. Transpalasi sel darah merah.

2. Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi.

3. Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel darah merah.

4. Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen


5. Obati penyebab perdarahan abnormal bila ada.

6. Diet kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau.

Pengobatan (untuk pengobatan tergantung dari penyebabnya) :

1. Anemia defisiensi besi. Mengatur makanan yang mengandung zat besi, usahakan
makanan yang diberikan seperti ikan, daging, telur dan sayur. Pemberian preparat fe,
Perrosulfat 3x 200mg/hari/per oral sehabis makan, Peroglukonat 3x 200 mg/hari /oral
sehabis makan.

2. Anemia pernisiosa : pemberian vitamin B12

3. Anemia asam folat : asam folat 5 mg/hari/oral

4. Anemia karena perdarahan : mengatasi perdarahan dan syok dengan pemberian


cairan dan transfusi darah. (Nugraheny E, 2009).
Anemia Pada Ibu Nifas
Menurut Prawirohardjo (2005), faktor yang mempengaruhi anemia pada masa
nifas adalah persalinan dengan perdarahan, ibu hamil dengan anemia, nutrisi yang
kurang, penyakit virus dan bakteri. Anemia dalam masa nifas merupakan lanjutan dari
pada anemia yang diderita saat kehamilan, yang menyebabkan banyak keluhan bagi
ibu dan mengurangi presentasi kerja, baik dalam pekerjaan rumah sehari-hari maupun
dalam merawat bayi (Wijanarko,2010). Pengaruh anemia pada masa nifas adalah
terjadinya subvolusi uteri yang dapat menimbulkan perdarahan post partum,
memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang dan mudah terjadi
infeksi mamae (Prawirohardjo, 2005). Praktik ASI tidak eksklusif diperkirakan
menjadi salah satu prediktor kejadian anemia setelah melahirkan (Departemen Gizi
dan Kesehatan Masyarakat, 2008). Pengeluaran ASI berkurang, terjadinya
dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan dan mudah terjadi infeksi mamae.
Di masa nifas anemia bisa menyebabkan rahim susah berkontraksi, ini
dikarenakan darah tidak cukup untuk memberikan oksigen ke rahim.

a. Penanganan anemia dalam nifas adalah sebagai berikut:


1) Lakukan pemeriksaan Hb post partum, sebaiknya 3-4 hari setelah anak lahir.
Karena hemodialisis lengkap setelah perdarahan memerlukan waktu 2-3 hari.

2) Tranfusi darah sangat diperlukan apabila banyak terjadi perdarahan pada waktu
persalinan sehingga menimbulkan penurunan kadar Hb < 5 gr (anemia pasca
perdarahan).

3) Anjurkan ibu makan makanan yang mengandung banyak protein dan zat besi
seperti telur, ikan, dan sayuran.

1. Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Anemia

Penyebab utama anemia pada wanita adalah kurang memadahinya asupan


makanan yang mengandung sumber Fe, meningkatnya kebutuhan Fe saat hamil dan
menyusui (perubahan fisiologi), dan kehilangan banyak darah setelah persalinan.
Anemia yang disebabkan oleh ketiga faktor itu terjadi secara cepat saat cadangan Fe
tidak mencukupi peningkatan kebutuhan Fe. Wanita usia subur (WUS) adalah salah
satu kelompok resiko tinggi terpapar anemia karena mereka tidak memiliki asupan
atau cadangan Fe yang cukup terhadap kebutuhan dan kehilangan Fe. Dari kelompok
WUS tersebut yang paling tinggi beresiko menderita anemia adalah wanita hamil,
wanita nifas, dan wanita yang banyak kehilangan darah saat menstruasi. Pada wanita
yang mengalami menopause dengan defisiensi Fe, yang menjadi penyebabnya adalah
perdarahan gastrointestinal (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2008).
Penyebab tersering anemia adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk sintesis
eritrosit, terutama besi, vitamin B12 dan asam folat. Selebihnya merupakan akibat
dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik, dan penyakit kronik
(Nugraheny E, 2009).

2. Hubungan Anemia Dalam Kehamilan Dengan Kejadian Perdarahan Post Partum

Salah satu penyebab perdarahan post partum adalah karena anemia dalam
kehamilan, akibat dari anemia tersebut maka jumlah oksigen yang dipasok ke uterus
berkurang akibatnya jumlah oksigen yang dipasok ke uterus berkurang yaitu
ketidakmampuan uterus untuk mengadakan kontraksi sebagaimanamestinya.
Anemia dalam kehamilan dapat berpengaruh buruk terutama sat kehamilan ,
persalinan, dan nifas, prevalensi anemia yang tinggi berakibat negatif seperti:
gangguan dan hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak,
kekurangan hb dalam darah mengakibatkan kurangnyaoksigen yang di transfer ke sel
tubuh maupun otak,. Sehingga dapt memberikan efek yang buruk baik pada ibu
maupun bayi yang dilahirkan. (manuaba.2007)
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
I. Pengkajian
1. Identitas klien
Meliputi nama, usia, alamat, agama ,bahasa, status perkawinan, pendidikan,
pekerjaan, golongan darah, tanggal masuk rumah sakit, dan diagnosa medis.
2. Keluhan utama
Dalam kasus Anemia masalah yang banyak dikeluhkan pasien pada umumnya adalah
pusing, keringat dingin, mbliyur
3. Riwayat kesehatan
Riwayat sekarang : Alasan klien dibawa di Rumah Sakit
Klien di bawa ke Rumah sakit karena akan melahirkan secara caesar
Riwayat kesehatan dahulu : (faktor pendukung terjadinya anemia perdarahan) dan
Riwayat Kesehatan Keluarga : (Faktor genetik) riwayat penyakit yang pernah
dialami(misal : hipertensi, DM, typhoid, dll),
Riwayat pembedahan:
(Seksio sesaria atau tidak), riwayat kesehatan reproduksi, riwayat seksual, riwayat
pemakaian obat(misalnya : obat jantung), pola aktivitas sehari – hari.
2. Pemeriksaan fisik
a. B1 (Breath)
1). RR= 20 x/menit
2). Tidak ada suara nafas tambahan
3). Tidak menggunakan alat bantu pernafasan
b. B2 (Blood)
1). Tekanan darah : 120/80 mmHg
2). Nadi : 86x/menit
3). Suhu : 36,6o C
4). Hb : 7,3 gr/Dl
5). Leukosit : 15.000
6). Akral dingin
7). CRT < 2 detik
c. B3 (Brain)
1). Stupor, tidak mengalami gangguan tidur
d. B4 (Bladder) : -
e. B5 (Bowel)
1). Nyeri di daerah perut pasca SC
2). Penurunan nafsu makan
3). Frekuensi BAB 1 x/hari, berbau khas, konsistensi padat
f. B6 (Bone)
1). Turgor kulit baik
2). Pergerakan dalam batas normal

C. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pada data pengkajian , diagnosis keperaatan yang muncul pada klien sbb
1. Perubahan perfusi jaringan b/d penurunan komponen seluler yang diperlukan
untuk mengirimkan oksigen / nutrisi ke sel
2. Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan
kebutuhan
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kegagalan untuk mencerna
4. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak adekuatnya pertahanan sekunder
Intervensi Keperawatan
Diagnosis Keperawatan 1 : Perubahan perkusi jaringan b/d komponen seluler yang
diperlukan untuk pngiriman oksigen atau nutrisi ke sel.

Tujuan: perfusi jaringan klien berada pada keadaan normal

Kriteria evaluasi : Klien menunjukkan perkusi jaringan yang adekuat sebagai berikut
1) Tanda vital stabil
2) Membran mukosa warna merah muda
3) Pengisian kapiler baik
4) Urin output adekuat
5) Status mental normal

Intervensi keperawatan

Intervensi Rasional

Mandiri
1. awasi tanda vital, kaj pengisian
kapiler, warna kulit, membran Memberikan informasi tentang derajad /
mukosa, dan dasar kuku keadekuatan perfusi jaringan dan membantu
menentukan kebutuhan intervensi

1. Tinggikan tempat tidur sesuai Meningkatkan ekspansi paru dan


toleransi memaksimalkan oksigenasi untuk
kebutuhan seluler

2. Awasi upaya pernafasan : auskultasi Dipsnea gemericik menunjukan gagal


bunyi nafas jantung kanan regangan jantung lama /
peningkatan konpensasi curah jantung

3. Selidiki peluhan nyeri dada, palpitasi Iskemia seluler memengaruhi jaringan


miokardial

4. Kaji adanya respon verbal yang Dapat mengindikasikan gangguan fungsi


melambat, mudah terangsang, agitasi, serebral karna hipoksia atau defisiensi vit
ganguan memori dan bingung B12

5. Catat keluhan rasa dingin, Vasokontriksi menurunkan sirkulasi perifer.


pertahankan suhu lingkungan dan kenyamanan klien atau kebutuhan rasa
tubu hangat sesuai indikasi hangat harus seimbang dengan kebutuhan
untuk menghindari panas berlebihan
pencetus vasodilatasi

6. Hindari penggunaan bantalan Termoreseptor jaringan dermal dangkal


penghangat atau botol air panas. ukur karna gangguan oksigen.
suhu air mandi dengan termometer
Kolaborasi

7. Awasi pemeriksaan laboratorium Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan


(Hb, ht, jumlah sel darah merah ,dan pengobatan atau respon terhadap terapi
AGD)
8. Berikan sel darah merah lengkap/ Meningkatkan jumlah sel pembawah
packed, produk darah sesuai indikasi, oksigen, memperbaiki defisiensi untuk
dan awasi secara ketat untuk menurunkan resiko perdarahan
komplikasi transfusi
9. Berikan oksigen tambahan sesuai Memaksimalkan transpor oksigen ke
indikasi jaringan

10. Siapkan intrvensi pembedahan sesuai Transplantasi sumsum tulang dilakukan


indikasi pada kegagalan sumsum tulang / anemia
aplastik

Diagnosa Keperawatan 2 : Intoleransi aktifitas b/d ketidakseimbangan suplai oksigen


dan kebutuhan

Tujuan : agar klien dapat beraktifitas kembali.


Kriteria evaluasi : pada klien dengan masalah keterbatasan aktifitas sebagai berikut :
1. Klien melaporkan peningkatan toleransi aktifitas
2. Klien menunujukkan penurunan fisiologis intoleransi, yaitu nadi,
pernafasan dan tekanan darah masih dalam rentan normal klien.

Inrervensi keperawatan

Intervensi Rasional

Mandiri

1. Kaji kemampuan klien untuk melakukan Mempengaruhi pemilihan inervensi


tugas/aktifitas sehari-hari normal, catat
laporan kelelahan, keletihan, dan
kelihan menyelesaikan tugas.
2. Kaji kehilangan/ gangguan Menunjukkan perubahan neurologis
keseimbangan gaya jalan, kelemahan karena defisiensi vitamin B 12
otot. memengaruhi keamanan klien

3. Awasi tekanan darah, nadi, pernafasan Manifestasi kardio pulmonal dari upaya
selama dan sesudah aktifitas, serta catat jantung dan paru untuk membawa jumlah
respon terhadap tingkat aktifitas oksigen ke jaringan

4. Berikan lingkungan yang tenang, Meningkatkan istirahat untuk


pertahankan tira baring bila menurunkan kebutuhan oksigen tubuh
diindikasikan. Pantau dan batasi dan menurunkan regangan jantung dan
pengunjung, telfon, dan gangguan paruh
berulang tindakan yang tidak
direncanakan
5. Ubah posisi klien dengan perlahan dan Hipotensi postural/ hipotensi serebral
pantau terhadap pusing dapat menyebabkan pusing

6. Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan Mempertahankan tingkat energi dan


untuk meningkatkan istirahat meningkatkan regangan pada sistem
jantung dan pernafasan

7. Berikan bantuan dalam aktifitas bila .membantu aktifitas pasien untuk melatih
perlu kebiasaannya bila perlu

8. Anjurkan klien untuk menghentikan Stres kardio pulmonal berlebihan dapat


aktifitas bila palpitasi, nyeri dada, nafas menimbulkan kegagalan/deskompensasi
pendek, dan kelemahan/pusing jika
terjadi

Diagnosis Keperawatan 3 : Peruabahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang


berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna makanan

Tujuan : agar kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi dan tidak terdapat penurunan
berat badan pada klien.

Kriteria Hasil :

1. Menunjukkan peningkatan berat badan atau berat badan stabil dengan nilai
laboratorium normal.
2. Memakan makanan tinggi protein, kalori, dan vitamin.
3. Menghindari makanan yang menyebabkan iritasi lambung
4. Mengembangkan rencana makan yang memperbaiki nutrisi optimal.
5. Tidak mengalami tanda malnutrisi
6. Menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk mempertahankan berat badan
yang sesuai.
Intervensi Keperawatan

Intervensi Rasional

Mandiri

1. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan Mengidentifikasi defisiensi dan


yang disukai. menentukan intervensi.

2. Observasi dan catat masukan makanan Mengawasi masukan kalori.


klien.
3. Timbang berat badan tiap hari. Mengawasi penurunan berat badan dan
efektivitas intervensi nutrisi.

4. Berikan makan sedikit-sedikit namun Makan sedikit-sedikit dapat menurunkan


frekuensinya sering. kelemahan dan meningkatkan pemasuka,
juga mencegah distensi gaster.

5. Observasi dan cata kejadian mual Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia
muntah, flatus dan gejala lain yang (hipoksia) pada organ.
berhubungan.
6. Berikan dan bantu hygiene mulut yang Meningkatkan nafsu makan dan
baik sebelum dan sesudah makan. pemasukan oral, menurunkan pertumbuhan
bakteri, dan meminimalkan kemungkinan
infeksi.

Kolaborasi

7. Konsul dengan ahli gizi. Membantu dalam membuat rencana dari


untuk memenuhi kebutuhann individual.

8. Pantau pemeriksaan laboratorium: Meningkatkan efektivitas program


Hb/Ht, BUN, albumin, protein, pengobatan.
transferin, besi serum, B12, asam
folat.
9. Berikan obat sesuai indikasi: Kebutuhan penggantian bergantung pada
 Vitamin dan suplemen mineral; tipe anemia atau adanya masukan oral yang
 Tambahan besi oral buruk.

 Berguna pada anemia defisiensi besi.


10. Beriken diet halus; rendah serat; Bila ada lesi oral, nyeri dapat membatasi
menghindari makanan panas, pedas, tipe makanan yang dapat ditoleransi klien.
atau terlalu asam.
11. Berikan suplemen nutrisi Meningkatkan masukan protein dan kalori

Diagnosa keperawatan 4 : Resiko tinggi infeksi b/d pertahanan sekunder yang tidak
adekuat
Tujuan : Pada klien ini bertujuan agar klien tidak mengalami penyebaran infeksi.
Kriteria evaluasi : pada klien dengan masalah infeksi sebagai berikut :
1. Meningkatnya penyembuhan luka
2. Bebas drainase purulen
3. Tidak ada eritema
4. Tidak demam
Intervensi keperwatan
Intervensi Rasional

Mandiri
1. Tingkatkan cuci tangan yang baik Mencegah kontaminasi silang
oleh pemberi perawat dan klien
2. Pertahankan teknik dan aseptik ketat Menurunkan resiko infeksi
pada prosedur/perawatan luka
3. Pantau tanda vital dengan ketat Deteksi dini adanya tanda-tanda infeksi

4. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat Meningkatkan pertahanan alamiah

5. Batasi pengunjung sesuai indikasi Menurunkan pemajangan terhadap


patogen infeksi lain
DAFTAR PUSTAKA
Betz, Sowden. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 2. Jakarta, EGC
Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. 2013.
Jakarta: Kemenkes RI
Kenetneth J Leveno alih bahasa Brahm U.2009.Obstetri Wiliams. Jakarta : EGC
Mochtar,Rustam. 2011. Sinopsis Obstetr jilid 1. Jakarta : EGC
Marmi. Margiyati. 2013. Pengantar Psikologi Kebidanan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Pitriani,Risa. Andriyani,Rika. 2014. Panduan Lengkap Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Normal.
Yogyakarta: Deepublish
Price, A.Sylvia., Wilson, M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: EGC
Prawirohardjo, S. 2007, Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Rukiyah, ai yeyeh. Dkk. 2010. Asuhan (nifas). Jakarta. Trans info media
Soebroto, I. 2010. Cara Mudah Mengatasi Problem Anemia. Yogyakarta: Bangkit
Sulistyawati,Ari, 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Yogyakarta : Andi
Waryana. 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Rihama
Wiwik handayani ,dkk. 2008. Buku ajar keperawatan pada klien dengan gangguan sistem
hematologi. Jakarta : salemba medika