Anda di halaman 1dari 3

Nama: Arini Masri H

Kelas: C Politik Idenitas dan Multikulturalisme.

153507149

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan

membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan

perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu

pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali

merupakan warga sipil.

Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan "teroris" dan

"terorisme", para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang

pembebasan, pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam

pembenaran dimata terrorism : "Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin adalah jauh

dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam

perang". Padahal Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.

Ciri-ciri terorisme

Menurut beberapa literatur dan reference termasuk surat kabar dapat disimpulkan

bahwa ciri-ciri terorisme adalah :

1. Organisasi yang baik, berdisiplin tinggi & militant

2. Mempunyai tujuan politik, ideologi tetapi melakukan kejahatan kriminal untuk

mencapai tujuan.
Bentuk-bentuk Terorisme.

Dilihar dari cara-cara yang digunakan :

 Teror Fisik yaitu teror untuk menimbulkan ketakutan, kegelisahan memalui

sasaran pisik jasmani dalam bentuk pembunuhan, penganiayaan,

pemerkosaan, penyanderaan penyiksaan dsb, sehingga nyata-nyata dapat

dilihat secara pisik akibat tindakan teror.

 Teror Mental, yaitu teror dengan menggunakan segala macam cara yang bisa

menimbulkan ketakutan dan kegelisahan tanpa harus menyakiti jasmani

korban (psikologi korban sebagai sasaran) yang pada tingkat tertentu dapat

menimbulkan tekanan batin yang luar biasa akibatnya bisa gila, bunuh diri,

putus asa dsb.

Seperti yang kita tahu akhir-akhir ini banyak sekali terorisme di Indonesia,

contohnya di Surabaya, Brimop bahkan berita kemarin ada penangkapan teorirsme di

Tasikmalaya, yaitu di perum Mitra Batik. Adanya pengeboman yang terjadi di

Surabaya yaitu di sebuah gereja adalah suatu bom bunuh diri yang di lakukan oleh

satu keluarga. Saya pernah baca di line today keluarga yang melakukan bom bunuh

diri adalah seorang keluarga yang dikenal baik oleh masyarakat dan tetangga, bahkan

memang mereka sering memberikan rezekinya untuk orang yang membutuhkan.

Tetapi saat istrinya dulu menjalani pendidikan perkuliahan memang banyak

perubahan drastis pada dirinya sampai-sampai dia memakai cadar dan menutup diri

dari tetangganya. Menurut keterangan mereka telah di cuci otaknya oleh seorang guru

yang bernama Abu Bakar.

Cara yang di lakukan oleh keluarga Dita untuk melakukan bom bunuh diri adalah

dengan melilitkan bom kepada pinggang anaknya dan seketika bom itu meledak.
Menurut mereka, mereka melakukan hal seperti itu adalah dengan alasan jihad atau

fissabililah. Ada istilah seperti ini “jika bunuh diri adalah jihad mengapa tidak

pemimpinnya saja yang duluan mati?” Seperti yang kita tau bahwa Alloh membenci

orang yang bunuh diri. Banyak orang-orang yang menyimpulkan bahwa orang yang

bercadar itu adalah seorang teroris, tidak semua orang yang bercadar itu menutup

kedok dari kejahatan melainkan kita sebagai muslim itu berkewajiban untuk menutup

aurat kecuali telapak tangan, dan banyak juga yang memandang laki-laki yang celana

di atas mata kaki adalah kaum radikal, kita juga tahu kita wajib menutup aurat tetapi

berpakaian yang sewajarnya tidak melebihi mata kaki (menyapu lantai) maka dari itu

kita jangan berprasangka buruk terhadap orang yang seperti itu. Memang sekarang ini

sudah marak ajaran-ajaran sesat, kitab-kitab yang menyesatkan yang mengajarkan

manusia hilang akal dan lebih parahnya adalah mengatasnamakan islam. Maka dari

itu sebagai mana sebagai warga negara atas hukum positif seperti dalam UU Nomor

52 tahun 2009 tentang Perkembangan Pendudukan dan Pembangunan Keluarga,

pembangunan keluarga adalah upaya mewujudkan keluarga berkulitas yang hidup

dalam lingkungan yang sehat.