Anda di halaman 1dari 3

THE INTERN

Bukanlah hal yang baru dalam mengangkat tema sebuah age differences. Di mana
biasanya dalam tema semacam ini, seorang yang sudah cukup lanjut usia
diharuskan untuk berhadapan dengan masalah- masalah anak muda, yang
biasanya beriringan dengan perkembangan jaman. Contoh dalam penggunaan
teknologi. Hal ini memang sudah bukan hal yang asing lagi. Kita pun sebenarnya
sudah sering mengalami, di mana sudah sering menjadi joke ketika orang tua kita
menggunakan telepon genggam misalnya. Atau menganggap facebook dan
internet adalah sebuah teknologi mutakhir, layaknya mesin waktu. Hal inilah yang
coba diangkat oleh Nancy Meyers dalam film ini. Perlu diingat bahwa film ini
mungkin akan lebih mudah dinikmati oleh penonton wanita. Pasalnya, memang
Meyers memiliki karakteristik film yang memang mengedepankan permasalahan-
permasalahan wanita.

Seperti halnya dalam film ini. Meskipun di atas kertas dan berbagai macam materi
promosi menggambarkan krisis usia lanjut dan pergulatan orang tua dengan dunia
anak muda, di mana secara gamblang digambarkan seorang manula bekerja
magang di sebuah perusahaan online. Namun pada kenyataannya, fokus
permasalahan di tujukan kepada karakter Jules Ostin. Permasalahan-
permasalahan yang digambarkan di sini memang sudah umum dirasakan oleh
wanita karir. Khususnya di era modern saat ini, di mana kebutuhan ekonomi,
menuntut wanita untuk membagi perannya sebagai seorang istri, ibu, dan karirnya.
Bagaimana mengatur waktu dengan sang anak, renggangnya hubungan dengan
suami, atau keluarga yang seperti dinomor duakan, menjadi momok yang cukup
mengganggu di pikiran wanita- wanita karir saat ini. Mungkin permasalahan-
permasalahan tersebut kurang begitu dipahami oleh para pria, yang memang tugas
utamanya adalah mencari nafkah.

Naskah yang juga ditulis oleh sang sutradara sudah sangat rapi. Alunan cerita
cukup enak dinikmati, dan kisahnya pun cukup warmth dan heartful. Beberapa
momen adegan bisa dihadirkan cukup menyentuh. Hanya saja, dikarenakan
penulis dan sutradaranya seorang wanita, maka humornya pun lebih lembut dan
lebih halus. So, bagi mereka yang menggemari joke- joke ala- ala Adam Sandler,
sudah pasti tidak masuk ke dalam film ini. Dan meskipun ada satu- dua adegan
yang mengarah ke toilet joke, namun itu masih dalam kadar “yang mampu
dimengerti wanita”. Dan yang sangat disayangkan adalah pada bagian ending.
Film yang mengalir begitu bagus ditutup dengan adegan yang terasa menggantung
dan menjadi sebuah anti-klimaks.
HIDDEN FIGURES

Film "Hidden Figures" menampilkan perjuangan tiga perempuan berkulit hitam


(yang merupakan minoritas di Amerika Serikat), di NASA pada tahun 1961 yang
ketika itu masih dikenal akrab dengan iklim segregasi (pemisahan berdasarkan ras
atau warna kulit).

Hidden Figures adalah film drama biografi tahun 2016. Film ini dibintangi oleh
Taraji P. Henson, yang berperan sebagai Katherine Johnson, seorang
matematikawan yang menghitung lintasan penerbangan dalam proyek Merkuri
dan Apollo 11 pada tahun 1969 menuju ke Bulan. Film ini juga dibintangi oleh
Octavia Spencer, Janelle Monáe, Kevin Costner, Kirsten Dunst dan Jim Parsons.
Mary Jackson, salah satu dari perempuan itu, ahli teknik, yang karena warna kulit
dan gendernya mendapatkan penolakan untuk menjadi teknisi di NASA, kecuali
bila dia dapat lulus di pendidikan tinggi yang khusus bagi kulit putih.

Selain Mary, terdapat pula Dorothy Vaughan (Octavia Spencer), yang memiliki
peran sebagai pelaksana tugas Supervisor atau pengawas dari Area Barat, namun
jabatan tersebut selalu tidak berhasil diperolehnya secara permanen atau tetap,
lagi-lagi karena warna kulitnya. Di samping Mary dan Dorothy, terdapat pula
Katherine Goble (Taraji Henson), yang sebenarnya merupakan tokoh sentral dari
film berdurasi 127 menit itu.

Dari awal film, diperlihatkan sosok jenius sang Katherine kecil, yang mampu
menyelesaikan soal persamaan aritmetika linear yang nyaris tidak dipahami oleh
anak-anak seusianya. Kecerdasannya yang cemerlang membuatnya mendapatkan
beasiswa, dan dia juga diterima di NASA sebagai salah satu pegawai dalam Area
Barat lembaga antariksawan tersebut. Kesempatan datang kepada Katherine ketika
Kelompok Kerja Luar Angkasa (yang melakukan perhitungan super-njelimet bagi
NASA) membutuhkan satu tenaga matematikawan handal. Lowongan tersebut
juga dipicu oleh Rusia (yang saat itu menjadi rival AS dalam "Space Race" atau
perjuangan menuju luar angkasa), yang berhasil dengan sukses meluncurkan
satelit pertamanya yang mengorbit bumi.

Keunggulan Rusia membuat pemerintahan AS menjadi lebih agresif dalam


menyuruh NASA mempercepat apa saja yang mereka kerjakan, dan Ketua
Kelompok Kerja Luar Angkasa, Al Harrison (Kevin Costner) membutuhkan
tambahan bantuan tenaga kerja. Dorothy sebagai supervisor menunjuk Katherine
yang memang berotak encer. Katherine, ternyata menjadi matematikawan pertama
baik sebagai wanita maupun berkulit hitam, yang masuk ke dalam kelompok kerja
tersebut. Namun, menjadi yang pertama ternyata tidak memudahkan bagi
Katherine, bahkan dia kerap merasakan perlakuan diskriminatif yang didukung
oleh iklim segregasi yang masih terasa saat itu.
Contohnya, di bangunan Kelompok Kerja Luar Angkasa itu ternyata tidak ada
kamar mandi khusus untuk kaum minoritas (saat itu bahkan untuk WC juga masih
harus dipisah antara kulit putih dan berwarna). Akibatnya, Katherine sehari-hari
harus terpaksa berlari ke gedung Area Barat yang berjarak sekitar setengah mil
jauhnya dari tempatnya bekerja, hanya untuk bisa melakukan buang air.

Mary, Dorothy, Katherine, merupakan tokoh nyata yang diangkat berdasarkan isi
dari buku "Hidden Figures" yang ditulis oleh penulis Margot Lee Shetterly pada
2016. Katherine Coleman Goble Johnson, yang saat ini berusia 98 tahun, juga
telah dianugerahi Presidential Medal of Freedom, atau tanda jasa tertinggi dari
Amerika Serikat, oleh Presiden AS Barack Obama pada tahun 2015 lampau.

Katherine memiliki banyak jasa dalam masa-masa awal NASA, dan


perhitungannya juga membantu arah dan lokasi lintasan roket, termasuk dalam
program pesawat angkasa Apollo 11 yang merupakan roket pertama yang tiba di
bulan dengan awak manusia pada tahun 1969. Dorothy Vaughan (1910-2008),
yang belajar bahasa pemrograman secara otodidak, juga selanjutnya diangkat
untuk mengepalai seksi pemrograman di Divisi Analisis dan Komputasi, divisi
yang terbentuk di NASA yang tidak lagi tersegregasi baik oleh warna kulit
maupun jenis kelamin. Mary Winston (1921-2005), setelah berkarier hingga 34
tahun di NASA, juga meraih gelar teknisi paling senior dan sepanjang masa
kerjanya aktif mempromosikan perempuan ke dalam NASA.