Anda di halaman 1dari 3

Nama : Tyas Dwi Rahmadhani

NIM : 131511133019
Kelas : A2/2015

TUGAS RESUME
T3 – INVASIVE INTRA-ARTERIAL PRESSURE DAN TINDAKAN CARDIOVERSI

A. Monitoring Invasif Tekanan Darah Arteri


 Definisi
Pengukuran tekanan darah arteri secara invasif dilakukan dengan memasukkan kateter
ke lumen pembuluh darah arteri dan disambungkan ke sistem transducer. Tekanan
intra arteri melalui kateter akan dikonversi menjadi sinyal elektrik oleh tranducer lalu
disebar dan diteruskan pada osciloskope, kemudian diubah menjadi gelombang dan
nilai digital yang tertera pada layar monitor.
 Indikasi
1) Monitor tekanan darah invasif diperlukan pada pasien dengan kondisi kritis atau
pada pasien yang akan dilakukan prosedur operasi bedah mayor
a. prosedur operasi bedah mayor seperti : CABG, bedah thorax, bedah saraf,
bedah laparotomy, bedah vascular
b. pasien dengan status hemodinamik tidak stabil
c. pasien yang mendapat terapi vasopressor dan vasodilator
d. pasien yang tekanan intrakranialnya dimonitor secara ketat
e. pasien dengan hipertensi krisis, dengan overdiseksi aneurisma aorta
2) Pemeriksaan serial Analisa Gas Darah
a. pasien dengan gagal napas
b. pasien yang terpasang ventilasi mekanik
c. pasien dengan gangguan asam basa (asidosis/ alkalosis)
d. pasien yang sering dilakukan pengambilan sampel arteri secara rutin
 Kontra Indikasi Relatif
1) Pasien dengan perifer vascular disease
2) Pasien yang mendapat terapi antikoagulan atau terapi trombolitik
3) Penusukan kanulasi arteri kontraindikasi relatif pada area yang mudah terjadi
infeksi, seperti area kulit yang lembab, mudah berkeringat, atau pada area yang
sebelumnya pernah dilakukan bedah vascular
 Persiapan Alat
1. Sistem flushing yang terdiri dari :
Cairan NaCl 0,9% 500 ml yang sudah diberi heparin 500 UI (perbandingan NaCl
0,9% dengan heparin 1:1), masukkan dalam pressure bag dan diberi tekanan 300
mmHg.
2. Basic Element (tranducer holder), tranducer/ pressure cable
3. Monitor, monitoring kit (single, double, triple lumen)
4. Manometer line
5. 3 way
6. Abocath no. 22 – 18
7. Sarung tangan steril
8. Alcohol, betadhine, kassa, lidocain, spuit
 Lokasi Pemasangan Kateter Arteri
Lokasi penempatan kateter intraarteri meliputi arteri radialis, brachialis, femoralis,
dorsalis pedis, dan arteri axilaris. Pertimbangan penting pada penyeleksian lokasi
insersi kateter meliputi, adanya sirkulasi darah kolateral yang adekuat, kenyamanan
pasien, dan menghindari area yang beresiko tinggi mudah terjadi infeksi.
 Teknik Pengukuran
1. Cuci tangan
2. Yakinkan kateter arteri tidak tertekuk
3. Atur posisi tidur yang nyaman untuk pasien
4. Lakukan kalibrasi
5. Membaca nilai yang tertera di layar monitor, pastikan morfologi gelombang tidak
underdamped atau overdamped
6. Mengkorelasi nilai yang tertera pada monitor dengan kondisi klinis pasien
7. Dokumentasikan nilai tekanan dan laporkan bila ada trend perubahan
hemodinamik
 Troubleshooting Monitoring Tekanan Arteri
Tidak selamanya gelombang yang tertangkap di monitor adalah gelombang yang
sempurna. Kelainan bentuk gelombang tekanan darah arteri dipengaruhi oleh
beberapa hal antara lain letak insersi kateter arteri, cairan dan sistem flushing bag.
Beberapa bentuk gelombang yang sering dijumpai adalah :

B. Tindakan Cardioversi
 Definisi
Kardioversi adalah upaya konversi secara eletrik pada aritmia atrial atau ventrikular
memakai DC (Direct Current) shock yang synchronized dan DC shock
nonsynchronized yang juga disebut defibrillation. Saat kejutan yang synchronized
yaitu pada awal gelombang T kira-kira 30 ms sebelum apeks gelombang T. Tujuannya
untuk menghentikan aritmia yang mengancam menjadi irama sinus yang normal
 Indikasi
1. Fibrilasi ventrikular, fluter atrial atau fibrilasi atrial yang menyebabkan gangguan
hemodinamik dan tak responsif dengan terapi farmakologis
2. Takikardia supraventrikular yang menyebabkan gangguan hemodinamik dan tak
responsif dengan obat antiaritmia atau manuver vagal
3. Takikirdia ventrikular yang menyebabkan gangguan hemodinamik dan tak
responsif dengan obat antiaritmia.
 Kontraindikasi
1. Fibrilasi atrial kronik pada stenosis mitral atau regurgitasi mitral dan tirotoksikosis
2. Fibrilasi atrial dengan slow ventricular rate
3. Hipokalemia
4. Keracunan digitalis
 Persiapan
1. Penjelasan seperlunya kepada pasien dan keluarga
2. Alat kardioversi dan monitor jantung berfungsi baik
3. Sebaiknya puasa untuk menghindari regurgitasi/asfiksia
4. Pemakaian digitalis dihentikan 1-2 hari sebelum tindakan
5. Kadar elektrolit serum harus optimal
6. Oksigen terpasang
 Prosedur Tindakan
1. Fluter atrial dimulai dengan dosis 20 Joule bila gagal diulang memakai 50 atau
100 Joule
2. Fibrilasi atrial diawali dengan dosis 100 Joule bila gagal bisa 200-300 Joule.
Sehari sebelumnya pasien diberik kuinidin oral tiap 6 jam kadangkala obat ini
diperlukan untuk jangka waktu lama. Prokainamid dapat dipakai bila pasien tak
toleran dengan kuinidin
3. Takikirdia supraventrikular 10 Juole biasanya efektif. 100 Joule hampir selalu
efektif.
4. Fibrilasi ventrikular dosis awal 200 joule bila gagal segera pakai 360 Joule.
 Komplikasi
a. Bradiaritma atau asistol sehingga perlu disiapkan atropin, isoproterenol, dan pacu
jantung sementara.
b. Takiaritma ventrikular atau fibrasi ventrikular, pasien perlu dimonitor kira-kira 8
jam pasca tindakan.

Referensi:
Boldt J. Hemodynamic monitoring in the intensive care unit. Critical Care 2002, 6: 6:52-59
Gumiwang I. Kardioversi, In: Sumaryono, Alwi I, Sudoyo AW, Simadibrata M, Setiati S,
Gani RA, Mansjoer A, editors. Prosedur Tindakan Di Bidang Penyakit Dalam. Jakarta :
Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI ; 2001. p. 149-50.
Maqder S. Invasive hemodynamic monitoring. Crit Care Clin 2015 Jan;31(1):67-87
Scheer et al. Complications and risk factors of peripheral arterial catheters used for
haemodynamic monitoring in anaesthesia and intensive care medicine. Critical Care
2010, 6:198-204
Vincent et al. Update on hemodynamic monitoring - a consensus of 16. Critical Care 2011,
15:229