Anda di halaman 1dari 10

The Destiny

Satu...

Aku sungguh merasa kepanasan, berkali-kali aku mengelap keringatku yang sejak tadi terus
meleleh di pipiku. Tubuhku serasa terbakar dan sebentar lagi mungkin akan mengeluarkan asap. Sudah
dua jam aku berdiri di halte menunggu bus yang tak muncul-muncul juga. Adikku pun mengirim pesan
singkat kepadaku bahwa ia ingin pulang karna tidak bisa menungguku lebih lama di rumah kontrakanku.
Ya, aku adalah seorang mahasiswi yang tinggal jauh dari orang tua, yang nekat menuntut ilmu di seoul
tanpa ada sanak saudara dan hanya paruh waktu di restoran kecil sebagai pelayan. Beberapa menit
kemudian, datang seorang laki-laki muda yang kemudian duduk disampingku. Ia melirikku sekilas lalu
beralih melihat depan-menatap jalan. Wajahnya kusut dan pucat, seperti orang mati. Lalu ia mulai duduk
mendekatiku, mengibas-ngibaskan tangannya dan meletakkan tangannya dipundakku. Aku pun terkejut
dan secara spontan memarahi laki-laki itu, ia pun melotot, mulutnya ternganga. Ia nampak shock. Laki-
laki itu pun menjawab dengan pertanyaan, "kau bisa melihatku?" aku pun heran mengapa ia
menanyakan hal itu, ya sudah pasti aku bisa melihatnya. Ia pun kembali menanyakan hal tersebut dan
setelah menanyakannya untuk yang ketiga kalinya ia merasa lega karna ada yang bisa melihatnya. Ia
meminta untuk menjadi temanku, namun aku menolaknya karna aku belum mengenalnya, apakah ia
jahat atau baik. Namun, ia terus memohon dan aku pun menolaknya tegas dan berbalik pergi dari halte
menuju rumahku. Akhirnya setelah berjalan dua jam dari halte, aku pun sampai dirumah dan segera
masuk. Setelah didalam aku hendak merebahkan tubuhku dahulu dikasur. Setelah cukup istirahat, aku
segera mandi karna badanku terasa lenket dan bau. Setelah setengah jam aku mandi aku pun keluar
sambil menggosok rambutku yang basah. Tak biasanya aku mandi selama ini, berendam pada cuaca yang
panas seperti ini memang nyaman dan menyegarkan. Biasanya aku selalu mandi terburu-buru karena
bagiku waktu adalah segalanya. Saat aku hendak mengangkat kepalaku aku terkejut, tiba-tiba laki-laki
yang tadi bertemu denganku di halte, sekarang ada didepanku, didalam rumahku, yang padahal pintu
sudah terkunci dan tidak ada jalan masuk lagi, mau lepas rasanya jantungku dibuatnya. Saat itu pun ia
berbisik kepadaku, "aku ini...hantu." Aku teriak histeris dan sontak aku pun mendorongnya hingga ia
jatuh ke lantai. Aku takut ia berbuat macam-macam padaku. Ia pun hanya tersenyum sambil bangkit
berdiri dan berkeliling kamarku untuk melihat-lihat. Aku masih tidak percaya bahwa ia adalah hantu, ia
pun membuktikannya dengan berjalan menembus pintu kamar mandi, aku kembali teriak histeris.
Semalam aku tak bisa tidur dibuatnya karna ia terus memintaku untuk menjadi temannya dan ia terus
saja mengoceh tenteng bagaimana ia bisa menjadi hantu. Aku juga takut kalau ia akan berbuat hal-hal
yang tidak senonoh terhadapku. Dengan lesu aku berjalan di koridor kampus dan memikirkan nama
lelaki itu. Ia tiba-tiba muncul dihadapanku dan berkata "namaku Jung Dae Woo". ia terus mengikutiku
karna aku belum menerimanya menjadi temanku, ia berkata bahwa bertemu denganku sudah menjadi
takdir kami berdua. Aku membalsnya dengan berkata lebih baik aku mati dari pada harus ditakdirkan
dengan hantu. Ia pun menjawab bahwa mati itu tidak enak dan sangat menyakitkan harna hanya bisa
melihat orang yang kita sayang, tetapi tidak bisa berinteraksi dengan mereka. Kata-kata itu seperti
menusuk hatiku. Aku menoleh kebelakang karena merasa ada yang memanggil namaku dan ternyata
sahabat karibku, Park Ji Eun, yang sudah sejak tadi memanggilku namun aku tidak mendengarnya. Aku
pun mengajaknya kekelas sambil berkata dalam hatiku, benarkah mati itu tidak enak? tapi, aku ingin
mati. Mungkin dengan begitu aku tidak perlu lagi mengingatnya, tidak perlu lagi menahan rindu yang
semakin menyesakkan ini. Bisakah kita bertukar tempat, Jung. Dae Woo?

Dua...

Gemericik air hujan masih terdengar jelas ditelingaku. Aku hanya bisa memandanginya dari
dalam restoran tempatku bekerja, berharap hujan akan segera reda. Restoran sudah tutup satu jam yang
lalu dan aku terjebak di sini menunggu hujan reda bersama beberapa karyawan yang sekarang
sepertinya sibuk dibelakang. Kuhempaskan kepalaku di meja tempatku duduk saat ini, lalu menghela
napas. Entah sudah berapa kali aku menghela napas, seandainya aku tadi menghitungnya. Teman kerjaku
sekaligus sahabatku, Choi Hyo Min, menegurku dan duduk didepanku. Aku pun menyampaikan keluh
kesahku padanya, aku merasa badanku panas dan tubuhku lemas sekali. Ia pun memegang kening dan
tanganku dan berkata bahwa badanku ini sangat dingin tapi mengapa aku merasa panas sekali. Ia
menawarkanku minuman hangat dan selimut, lalu segera pergi ke dapur. Terdengar suara langkah kaki
mendekat dari arah belakang namun saat aku melihatnya tidak ada siapa siapa. Lalu saat aku menatap
kedepan lagi Jung Dae Woo sudah ada didepanku, aku pun terkejut dan berteriak. Setelah duduk ia terus
menatapku dan berkata bahwa ia pernah melihatku namun ia tidak tahu dimana pernah melihatku. Tapi,
dia merasa tidak mungkin bahwa pernah bertemu denganku dan merasa itu hanya perasaannya saja. Ia
kembali memintaku untuk menjadi temannya dan dengan cuek aku berkata bahwa aku tidak ingin
membahasnya karna aku merasa tidak enak badan. Lalu Hyo Min muncul disampingku dengan
membawa cangkir dan selimut, lalu menyuruhku untuk meminumnya. Tapi, aku menolaknya dan berkata
bahwa aku kepanasan dan meminta diambilkan air dingin. Namun, ia tetap saja berkata bahwa tubuhku
sangat dingin sambil ia menggosok-gosokkan tangannya ke tanganku, lalu tiba-tiba kepalaku sakit dan
perutku melilit seperti ingin muntah. Pandanganku mulai gelap dan terdengar sayup-sayup suara Hyo
Min memanggil namaku. Saat aku terbangun, Jung Dae Woo menyapaku dan itu membuatku terkejut.
Dia pun menyuruhku untuk segera mencuci muka dan menyantap bubur yang telah ia buat, meski sambil
menggerutu aku tetap mengikuti perintahnya untuk mencuci muka dan segera menuju meja makan dan
memakan bubur dengan suiran daging ayam diatasnya, segelas susu, dan bayam bumbu. Aku pun
bertanya bagaimana aku bisa ada dirumah dan ia berkata bahwa Hyo Min yang membawaku pulang dan
ia menungguku sampai dua jam namun pergi saat setelah ia menerima sebuah panggilan. Aku pun
memberanikan diri untuk bertanya lagi tentang bagaimana ia bisa mati. Ia menceritakan bahwa dirinya
mengalami kecelakaan motor di jalan raya Insadong sebulan yang lalu, ia baru datang ke Korea setelah
lima tahun kuliah di Amerika. Dia bermaksud untuk bertemu dengan tunangannya. Namun, belum
sempat ia menemui tunangannya, ia sudah mati. Sudah sebulan ia terkatung-katung menjadi hantu
gentayangan, lalu ia memutuskan untuk pergi sejauh mungkin karna ridak sanggup jika ia tidak bisa
melihat orang yang disayanginya dengan jelas. Apalagi untuk menyentuh dan berbicara dengan mereka
sudah tidak bisa. Begitulah cerita Jung Dae Woo panjang lebar. Aku pun bertanya lagi mengapa ia
menjadi hantu gentayangan apakah ada hal yang belum sempat dilakukannya?. Ia menjawab mungkin
karna dia belum bertemu dengan tunangannya. Aku pun hanya memanggut-manggut menerima
jawaban darinya dan berpikir ternyata kehidupan seperti dia benar terjadi, kupikir hanya ada di drama
televisi saja.

Tiga...
Angin malam semakin berhembus kencang. Jung Dae Woo masih berdiri di halaman rumah Hye
Jin, menatap kerlap-kerlip lampu-lampu dari rumah dan gedung yang berada tepat di bawah tempatnya
berdiri, karena kontrakan Hye Jin yang berada di dataran tinggi. Hatinya berkecamuk, rasa sedih, rasa
rindu dan rasa kecewa bergumul menjadi satu. Kemudian ingatannya kembali ke hari pemakamannya
satu bulan yang lalu. Saat pemakamannya, ibunya menangis meraung-raung atas kepergian anak satu-
satunya. Dari kejauhan, arwah Jung Dae Woo menatap kearah kerumunan orang sambil berkata dalam
hatinya "ibu, maafkan aku! aku telah membuatmu menangis". Lalu tiba-tiba muncul laki-laki tua
disampingnya dan berkata "apa kau menyesal, Jung Dae Woo?" dan laki-laki tua itu tenyata adalah hantu
juga seperti dirinya. Jung Dae Woo bingung harus bersedih atau justru harus gembira. Laki-laki tua itu
berkata bahwa suatu saat nanti ia akan mengerti segala yang digariskan Tuhan dan betapa beruntungnya
ia saat ini. Jung Dae Woo akan terus bergentayangan sampai ia menemukan seseorang yang akan ia
jemput di saat kematiannya. Dialah yang akan menjadi takdirnya yang akan menemani Jung Dae Woo
menuju akhirat. Namun, ia hanya punya waktu dua bulan, jika tidak berhasil maka rohmu akan melebur.
Lamunan nya langsung buyar ketika Hye Jin menegurnya dan berdiri disampingnya. Hye Jin ingin tahu
mengapa Jung Dae Woo melamun dan Jung Dae Woo pun menceritakan bahwa dirinya merindukan
tunangannya namunh ia tak bisa menemuinya karena jika ia menemuinya maka ia akan menyesal akan
kematiannya. Ia tak ingin tersiksa oleh perasaan itu dan ia ingin mati dengan tenang. Tiba-tiba ponsel
Hye Jin berdering. Di layar ponselnya tertera nama Hyo Min, ia pun segere menempelkan ponselnya ke
telinga. Terdengar suara isak tangis dari seberang, lalu Hyo Min menceritakan sedikit keluh kesahnya
sebelum panggilannya terputus. Hye Jin setengah berlari menuju restoran tempatnya bekerja, dia baru
mendapat kabar kalau Hyo Min pingsan disana. Hyo Min melihat mantan pacarnya datang ke restoran
bersama pacar barunya dan itu membuatnya shock. Hyo Min menceritakan apa yang menjadi beban
pikirannya kepada Hye Jin yang membuat Hyo Min sampai pingsan. Hye Jin pun menghibur Hyo Min
dengan memberikan motivasi dan semangat kepada Hyo Min. Malam ini begitu dingin, Hye Jin
melangkahkan kakinya perlahan di sepanjang jalan di tepi sungai Han. Pikirannya melayang memikirkan
Hyo Min dan juga seseorang dari masa lalunya, seseorang yang telah mengucapkan janji padanya. Jung
Dae Woo pun datang dan menyapa Hye Jin namun Hye Jin tidak meresponnya. Saat Dae Woo menepuk
pundaknya barulah Hye Jin sadar dan mengomeli Dae Woo. Hye Jin bercerita kepada Dae Woo bahwa
dirinya sedang memikirkan Hyo Min yang sedang patah hati, ia mengerti perasaan Hyo Min karena ia pun
pernah patah hati. Mereka terus berjalan sampai tiba-tiba Dae Woo menghentikan langkahnya dan
mengajak Hye Jin untuk pulang setelah melihat seorang perempuan sedang duduk di bangku di depan
mereka, Hye Jin pun mengikuti Dae Woo untuk pulang namun ia tahu bahwa ada yang disembunyikan
oleh Dae Woo. Hye Jin pun bertanya kepada Dae Woo mengapa sejak semalam ia murung, Dae Woo pun
berkata bahwa dirinya melihat tunangannya. Ia tak ingin menghampirinya karena tak ingin menjadi
pesakitan yang terus gentayangan karena cinta. Tugasnya sekarang adalah menemukan seseorang yang
akan ia jemput untuk pergi bersamanya ke akhirat, jadi ia tidak perlu lagi bergentayangan seperti ini, ia
sudah lelah, waktunya hanya tinggal satu bulan. Dae Woo pun menceritakan pada Hye Jin tentang
pertemuannya dengan laki-laki tua dan apa yang dikatakannya. Hye Jin pun ikut merasakan kesedihan
yang dirasakan oleh Dae Woo. Dae Woo hampir saja menyerah, tapi ketika ia bertemu dengan Hye Jin
entah kenapa semangat nya muncul lagi. Hye Jin bagaikan cahaya dalam gelapnya jalan yang ia lalui. Dae
Woo berterima kasih kepada Hye Jin. Jung Dae Woo berkata bahwa ia pernah melihat Hyo Min. Tapi, ia
lupa di mana dan kapan. Saat Dae Woo hendak mengingatnya, justru malah membuat kepalanya sakit.
Hye Jin pun berkata "Hmm... kau ini benar-benar hantu yang misterius." Hye Jin tersenyum seraya
menepuk pundak Dae Woo. Dae Woo tertawa.

Empat...

Hye Jin akhirnya sapai di sebuah rumah mewah, gadis itu kembali membuka kertas yang
dipegangnya dan mencocokkan kembali alamat yang tertulis di dalam kertas itu dengan apa yang tertera
di tembok pagar rumah mewah itu. Setelah mendapat izin untuk masuk, ia pun masuk dan langsung
berhadapan dengan Shin Chae Rim, gadis itu cantik dan terlihat anggun. Namun, ada kesan angkuh dari
sorot matanya. Kata-kata gadis itu begitu dingin menanyakan maksud kedatangan Hye Jin ke rumahnya.
Hye Jin memberikan surat yang dibuat oleh Jung Dae Woo untuk Chae Rim tunangannya. Namun, tiba-
tiba ekspresi Chae Rim berubah kaku dan puca. Hye Jin bingung akan perubahan ekspresi Chae Rim yang
jangga. Karena seharusnya kalau menerima surat dari orang yang dicintai ia pasti akan berkaca-kaca dan
langsung membacanya. Tapi, kenapa ia tidak membacanya? begitulah pikiran Hye Jin kira-kira. Chae Rim
mengaku tidak mengenali Jung Dae Woo. Setelah didesak oleh Hye Jin, Chae Rim pun keceplosan
mengetahui bahwa Jung Dae Woo telah mati. Namun, Chae Rim tidak ingin membahasnya dan langsung
melangkah pergi tanpa membuka surat yang dibawa Hye Jin. Hye Jin berjalan gontai di sepanjang jalan
taman, ia masih memikirkan Chae Rim yang menunjukkan sikap tak acuh pada Jung Dae Woo. Ia bingung
harus berbicara jujur atau bohong kepada Jung Dae Woo tentang Chae Rim. Hye Jin tiba di rumahnya
pukul sembilan malam, tapi ia tidak buru-buru masuk dan malah tertegun di depan pintu. Ada yang aneh
dengan rumahnya, lampu di rumahnya menyala dan seperti ada suara banyak orang didalamnya. Saat ia
membuka pintu, ia berteriak, dalam sekejap gadis itu pingsan. Saat ia membuka mata, kembali ia terkejut
dan berteriak seraya menjauhi diri dari Dae Woo dan sosok--sosok mengerikan itu. Ada 4 orang dengan
wajah penuh luka dan darah, pucat pasi seperti mayat. Diantaranya dua wanita dan dua pria, tapi lebih
mengerikan yang wanita, karena sebelah wajahnya rusak dan rambut mereka terurai panjang hampir
menutupi seluruh wajah mereka. Hye Jin berteriak menyuruh mereka pergi setelah ia mengetahui bahwa
keempat sosok itu adalah hantu. Hye Jin meminta kepada Jung Dae Woo untuk meninggalkannya sendiri.
Jung Dae Woo pun menurutinya. Pagi harinya Hye Jin memanggil-manggil Dae Woo, tapi laki-laki itu
tidak muncul. Apa dia marah? batin Hye Jin. Tapi malam harinya, ketika Hye Jin pulang dari bekerja, Dae
Woo sudah ada di halaman rumahnya. Hye Jin pun memulai percakapan dengan meminta maaf soal
kemarin, karena wajah mereka begitu menakutkan. Hye Jin menyarakan untuk mempercantik atau
memperganteng wajah mereka seraya tersenyum. Dae Woo mengiyakan saran Hye Jin dan hal itu
membuat Hye Jin merasa lega. Suasana kembali hening. Hye Jin memulai percakapan membahas Chae
Rim. Namun, belum sempat ia berkata, Dae Woo telah memotong perkataannya dan merasa bahwa
kalau Chae Rim sudah melupakannya. Dae Woo merasa kalau Chae Rim sudah tidak mencintainya. Dae
Woo pun menghilang dan berkata dalam pikiran Hye Jin "maaf, aku pergi dulu, sepertinya aku butuh
ketenangan. Aku juga harus menyelesaikan tugasku, jadi untuk beberapa hari ini aku tidak akan muncul
dihadapanmu. Oya, terima kasih karna kau sudah mau membantuku. Kau memang gadis yang baik, aku
sangat beruntung memiliki teman sepertimu. Balas Hye Jin dalam hatinya "ya, semoga kau bisa cepat
menemukannya. Bersemangatlah, aku yakin pasti ada jalan mengatasi semua ini. Takdir memang aneh.
Benar-benar tidak bisa ditebak. Lau bagaimana dengan takdirku? baikkah? atau burukkah?

Lima...
Dae Woo berjalan-jalan sendiri di taman kota, sudah hampir tiga hari ia berusaha mencari gadis
yang dimaksud laki-laki tua yang ia temui saat upacara pemakamannya. Tapi, ia tidak menemukan apa-
apa. Saat ia sedang duduk di bangku taman dan menatap kearah kolam yang ada dihadapannya, ia
melihat sosok gadis dan seorang laki-laki. Ia merasa pernah melihat keduanya. Namun, ia diam membatu
dan tubuhnya bergetar hebat saat wanita itu berkata, "ya, aku sudah melupakannya. Untuk apa aku
menginatnya, dia sudah mati. Justru sejak dulu yang tidak bisa aku lupakan adalah dirimu, Oppa. Karena,
yang kucintai hanyalah dirimu, bukan dia atau laki-laki mana pun" dan ternyata wanita itu adalah Shin
Chae Rim, tunangannya. Ia berusaha berbicara kepada Chae Rim namun Chae Rim tak mendengarnya
dan berjalan begitu saja menembus tubuh Dae Woo seraya menggandeng tangan kekasihnya itu. Hye Jin
terus menerus menggedor pintu kamar mandi Hyo Min dan mulai panik karena setengah jam yang lalu
sahabatnya itu menelepon dirinya dan berkata bahwa ia ingin mati, dari kata-katanya Hyo Min tidak
main-main sehingga Hye Jin buru-buru ke apartemen sahabatnya, ia tak mampu menggedornya sehingga
Hye Jin memanggil Dae Woo melalui pikirannya. Beberapa detik kemudian Dae Woo pun datang dan
membantu Hye Jin mendobrak pintu. Saat berhasil dibuka, Hye Jin langsung merengkuh tubuh Hyo Min
yang sudah hampir mati. Keadaannya benar-benar mengenaskan, matanya tertutup, wajahnya pucat,
dan tampak luka menganga di pergelangan tangan kanannya. Darah segar terus mengalir dari luka itu.
Sepertinya Hyo Min-lah yang melakukannya sendiri. Hye Jin mengajak Dae Woo untuk mengangkat Hyo
Min namun Dae Woo tidak bisa membantunya karna ia tak bisa memegang manusia selain Hye Jin. Lalu
akhirnya Hye Jin pun menelepon rumah sakit dan berhasil membawa Hyo Min ke rumah sakit. Hye Jin
selalu disamping Hyo Min dengan air matanya yang terus menerus mengalir, meleleh di pipinya. Namun,
Dae Woo memandang ke luar jendela, manatap jalan yang ditetesi air hujan sembari ia memikirkan
perkataan Chae Rim. Betapa teganya Chae Rim membohongi Dae woo selama 7 tahun. Tentang laki-laki
itu ia ingat bahwa ia pernah melihatnya bersama Hyo Min. Ia berusaha untuk terus mengingatnya namun
tidak berhasil.

Enam...

Aku tiba di Seoul setelah lima tahun kuliah di Amerika. Aku lalu mencoba untuk menelepon
tunanganku Shin Chae Rim namun tak kunjung diangkat dan saat aku mencoba untuk yang kesekian
kalinya, ponselnya malah tidak aktif. Lalu aku segera menghidupkan motorku dan segera pergi untuk
menemui tunanganku. Aku mampir ke sebuah toko bunga untuk membeli sebuah bunga tulip putih
kesukaan tunanganku. Aku bertemu dengan pelayan tokonya yang memiliki senyum yang sangat manis
karena lesung pipi yang ia miliki. Aku tertegun dan jantungku berdegup kencang saat ia tersenyum manis
padaku. Ada apa ini? Aku pun segera membayarnya dan langsung keluar toko. Namun, tiba-tiba wanita
itu berlari keluar tokonya sambil menelepon seseorang. Aku melihat raut wajahnya yang cemas dan
tengang, membuat ku penasaran apa yang sebenernya terjadi pada orang yang ada di seberang telepon
sana. Lalu ia segera pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan aku dan toko bunga itu. Kim Hye Jin nama
wanita itu. Tadi aku sempat membaca papan nama di bajunya. Aku berharap bisa bertemunya lagi dan
menjadi temannya. Hujan tiba-tiba turun di tengah perjalananku dan aku pun memutuskan untuk
meneduh disebuah restoran tradisional. Aku berniat untuk memanjakan perutku didalam namun aku
seseorang yang aku kenal disana. Shin Chae Rim, tunanganku bersama dengan seorang laki-laki. Lalu ada
dua orang gadis dihadapannya. Keduanya menangis. Yang satu berambut panjang dan berkacamata. Yang
satunya lagi berambut pendek, ia tak asing bagiku, ia adalah Kim Hye Jin pelayan toko bunga tadi. Aku
masuk dan hanya beberapa centi saja di antara keempat orang itu yang tidak menyadari kehadiranku
disitu. Tubuhku terasa lemas. Rasanya seluruh energiku terserap habis. Dadaku terasa berat, sulit
bernapas. Tubuhku membeku ketika Chae Rim mengatakan bahwa laki-laki yang ada disampingnya
adalah kekasihnya bernama Dong Hyeon. Hye Jin memarahi Chae Rim dengan mata yang melotot namun
Chae Rim membalas melotot dan hendak menampar Hye Jin. Tapi, aku menahannya dan bertanya apa
yang terjadi dan siapa laki-laki itu. Saat Chae Rim hendak menjelaskan laki-laki itu berkata bahwa ia
adalah kekasih Chae Rim dan langsung menggandeng tangan Chae Rim. Namun, aku langsung menepis
tangannya dari tangan tunanganku dan mengajaknya pergi keluar. Namun, belum sempat keluar Chae
Rim berkata dan membuat ku kembali terpaku dan melepaskan tangan Chae Rim, ia berkata bahwa ia
adalah benar kekasih Dong Hyeon dan orang yang dicintainya adalah dia bukan aku. Lalu Hye Jin
mengajak Hyo Min masuk dan Hye Jin memberikan pernghormatan padaku dengan membungkuk
sedikit.

Tujuh...

Hye Jin mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Dae Woo yang sedang melamun
memandang ke arah luar jendela. Lalu Dae Woo pun sadar Hye Jin mengajaknya berbicara dan Dae Woo
menjelaskan bahwa ia memikirkan dan mengingat semuanya. Tentang pengkhianat Chae Rim, dan awal
bagaimana Dae Woo mati, itu karna dia. Lalu Dae Woo memancing Hye Jin untuk mengingat
pertemuannya dengan Dae Woo waktu itu. Namun, Hye Jin tidak bisa mengingat apa-apa mengenai
kejadian sebulan yang lalu. Hye Jin hanya mengingat bahwa pernah melihat Dae Woo dan Chae Rim
namun tidak ingat dimana dan kapannya. Lalu Hye Jin meminta maaf karna memberi saran kepada Dae
Woo untuk menulis surat kepada Chae Rim yang sudah berselingkuh darinya. Tiga hari kemudian Hyo
Min tersadar dan melihat Hye Jin tertidur disampingnya dan ia menangis karena merasa selalu saja
menyusahkan Hye Jin bahakn pernah sampai hampir merenggut nyawa Hye jin.Hyo Min lalu mengkap
sosok laki-laki dalam pandangannya dan langsung menutup mulutnya, menggelengkan kepala pelan. Dae
Woo berdiri di samping Hye Jin dan heran karna Hyo Min bisa melihatnya. Lalu Hyo Min meminta maaf
karna atas perbuatannya Dae Woo meninggal. Hye Jin lalu bangun dan langsung memeluk Hyo Mindan
bertanya mengapa ia menangis. Hyo min berkata bahwa ia telah membunuh laki-laki itu lalu menunjuk
ke arah Dae Woo namun Hye Jin dan Dae Woo bingung tentang apa yang terjadi. "bagaimana keadaan
Hyo Min?" tanya Dae Woo kepada Hye Jin dan Hye Jin membalas dengan berkata bahwa seminggu
dirumah sakit membuat Hyo Min bosan sehingga ia keluar dari rumah sakit dan kembali ke rumah orang
tuanya di Incheon. Lalu Hye Jin pindah duduk disamping Dae Woo yang sedang fokus menonton televisi
dan menayakan apakah ia sudah menemukan orang untuk dijemputnya atau belum dan meminta maaf
karna tidak bisa membantunya. Tiba-tiba Hye Jin mengeluh kesakitan pada kepalanya dan saat itu juga
darah segar meleleh dari hidungnya. Saat Hye Jin memeriksanya dengan pungggung tangannya dan
melihat bahwa hidungnya benar berdarah, sedetik kemudian ia pingsan.

Delapan...

Hye Jin sedang duduk dikursi taman dan pikirannya melayang pada hari disaat kekasihnya
memutuskan hubungannya dengan ia. Lalu teguran Ji Eun menyadarkannya kembali dan Hye Jin
keceplosan berkata bahwa ia suka sekali mengagetkannya seperti Jung Dae Woo, Ji Eun pun bertanya
terus menerus siapa Jung Dae Woo namun Hye jin menjawab bahwa ia hanyalah teman. Tapi, Ji Eun tidak
percaya bahwa Jung Dae Woo adalah temannya dan ia pun mengarang cerita tentang Dae Woo namun
teteap saja Ji Eun tahu bahwa ia berbohong. Saat Hye Jin mendorong troli di swalayan ditemani oleh Dae
Woo, lalu Dae Woo memasukkan sunkist. Namun, Hye Jin segera mengembalikannya dan membuat Dae
Woo bertanya-tanya. Lalu saat diluar Hye Jin baru menjawab bahwa sunkist adalah kesukaan mantan
kekasihnya, Hae Jae Min dan ia dulu, namun saat ia putus dengan kekasihnya, ia berusaha untuk
membenci Jae Min dan segala kenangannya duliu. Lalu beberapa saat mereka berjalan, mereka melihat
Shin Chae Rim bersama kekasihnya Han Dong Hyeon mantan Hyo Min. Namun, tetap saja Hye Jin tidak
ingat akan apa yang terjadi saat pertemuan mereka pertama kalinya dan hanya menyisakan rasa
penasaran dalam hati Hye Jin. Saat Hye Jin hendak memejamkan mata, ia kembali terbangun karena
ponselnya berbunyi dan ia tidak buru-buru mengangkatnya karena nomornya tidak ia kenal. Barulah
setelah 15 menit ia mengangkatnya dan ternyata itu adalah Jae Min, mantan kekasihnya. Ia berkata
bahwa ia merindukan Hye Jin. Namun, Hye jin segera mencari alasan untuk menutup teleponnya karena
tak ingin lagi tangisnya pecah, atau sebelum dirinya kehilangan kesadaran karena terlalu shock dan sedih.
Ia pun menangis sesegukkan dan beruntung karena Dae Woo tidak menemaninya, karena kalau ia
menemaninya pasti akan sangat khawatir. Namun, Dae Woo merasa Hye Jin sedang dalam masalah dan
ingin segera ketempatnya. Namun, langkahnya tertahan karena ia ditahan oleh kakek yang pernah
bertemu dengannya, kakek Song namanya. Kakek itu menahannya karna tak ingin Dae Woo mengganggu
Hye Jin yang ingin meluapkan perasaannya. Lalu Dae Woo meminta petunjuk yang dapat membantunya
untuk menemukan orang yang dapat menemaninya dan kakek Song pun memberikan petunjuk yang
merujuk bahwa ia saat ini sudah memiliki hubungan yang dekat dengan orang tersebut. Namun, Dae
Woo masih saja tidak mengerti. Lalu kakek Song menghilang setelah berkata "inilah takdirmu, Nak,
hadapilah!"

Sembilan...

Hye Jin menceritakan semuanya kepada Ji Eun bahwa mantan kekasihnya menelepon dan bilang
merindukannya dan ingin bertemu dengan Hye Jin hari in. Ji Eun memberikan saran untuk menemuinya
dan pada saat menemuinya, Jae Min membuat pengakuan bahwa ia meninggalkannya selama tiga tahun
karena ayahnya yang tidak setuju hubungannya dengan Hye Jin. Iaingin kembali berhubungan dekat lagi
dengan Hye Jin dan Hye Jin pun setuju setelah diyakinkan oleh Jae Min dan ia kembali berhubungan
dekat seperti dulu dengan Hye Jin. Saat Hye Jin membuka pintu rumahnya, ia melihat Dae Woo sedang
duduk dilantai dan Hye Jin pun langsung duduk disebelahnya. Dae Woo berusaha menutupi apa yang
sedang ia pikirkan, yaitu ia memkirkan perkataan kakek itu tadi dan berharap bukan Hye Jin lah takdirnya
karena ia tak ingin merenggut kebahagiaan Hye Jin yang baru saja ia dapatkan. Hye Jin dan Jae Min
sedang makan di restoran yang ia sewa dan menyaksikan indahnya warna-warni kembang api. Namun,
dibelakang mereka ada Dae Woo yang menatap mereka dengan mata berkaca-kaca, tangisnya mulai
pecah. Ia mengerti sekarang, semua yang diucapkan kakek Song merujuk pada Hye Jin. Ia juga teringat
kalau ia pernah meminta pada Tuhan agar dipertemukan lagi dengan Hye Jin. Ia tidak menyangka kalau
kata-katanya itu justru akan menyeret Hye Jin ke dalam takdir dirinya yang begitu rumit. Kecelakaan itu
bukan hanya dia yang mengalami tapi Hye Jin juga mengalami. Bahkan mereka kecelakaan di tempat
yang sama, hari yang sama dan waktu yang sama. Dae Woo berteriak memohon kepada Tuhan untuk
membiarkan Hye Jin menikmati kebahagiaannya lebih lama lagi. Ia menjatuhkan dirinya di tanah dan
menangis. Hye Jin merasakan kesedihan Dae Woo dan mencarinya namun tidak menemukannya karena
ia menyembunyikan dirinya dari mata Hye Jin dan Jae Min bertanya ada apa dan Hye Jin menjawab tidak
ada apa-apa. Hyo min merasa tertekan dengan mimpinya yang terus menghantuinya, yaitu mimpi bahwa
Hye Jin akan pergi meninggalkannya. Ia lalu melepon Hye Jin dan menceritakan bahwa Hye jin
mengalami hilang ingatan sebagian dan penyempitan pembuluh darah otak dan apabila pembuluh darah
itu pecah, maka kau akan meninggal. Ia pun jujur bahwa orang tua Hye jin berkata untuk
menyembunyikannya, namun Hyo Min tak tahan lagi lalu menceritakannya pada Hye Jin dan berkata
bahwa penyebab kecelakaan itu adalah dirinya. Lalu Hyo Min pun menceritakan kronologis
kecelakaannya dan Hye Min tersentak sambil menarik napas dalam dalam untuk menenangkan Hyo min
dan mengundang Hyo Min untuk datang pada ulang tahun restoran di Seoul.

Sepuluh...

Hye Jin terlihat cantik malam ini. Gaun putihnya membuatnya seperti seorang putri. Ia berputar-
putar di depan cermin, lalu berceloteh riang. Aku hanya tersenyum melihatnya. Ini pertama kalinya aku
melihat wajahnya berseri-seri, tawanya pun begitu lepas. Ia pun meminta pendapatku tenteang
dandanannya dan aku berkata bahwa ia cantik, bahkan sangat... Sangat cantik, aku sampai jatuh cinta
padamu. Aku menggodanya mencoba menghibur hatiku sendiri. Aku bimbang, aku bingung. Waktuku
tinggal delapan hari lagi, akan tetapi aku belum menentukan jalan mana yang kupilih. Seandainya saja
ada jalan untuk bisa menyelamatkan Hye jin agar tidak ikut bersamaku, mungkin aku akan memilih itu
meski aku harus mengorbankan diriku. Meski aku harus melebur, aku rela. Aku tidak bisa
menghancurkan kebahagiaan Hye Jin. Sebelum ia benar-benar pergi, ia berkata bahwa ia menyayangiku
dan aku pun membalasnya dengan berkata aku juga menyayangimu, Hye Jin, kau satu-satunya teman
yang kumiliki. Aku duduk tidak jauh dari tempat Hye Jin dan Jae Min duduk. Jae Min mengajak Hye Jin
untuk berdansa namun ia tidak bisa dan hampir terjatuh karena menginjak gaunnya sendiri, lalu ia duduk
dan Jae Min mengikutinya. Lalu Jae min berlutut dan mengeluarkan kotak merah berisi cincin dan
melamar Hye Jin namun hye jin belum mengerti dan setelah bertanya kepada Jae Min yang sebenarnya
untuk memastikannya benar atau tidak, barulah ia yakin dan menerima lamaran itu, lalu Jae Min
memasangkan cincin itu dijari Hye Jin. Lalu aku menyambut hye jin dirumah dan memsakkan masakan
kesukaannya dan aku berkata kepadanya bahwa aku telah menemukan orang yang menjadi takfirku
namun aku merahasiakannya darinya dengan alasan sudah ketetapan Tuhan. Ia bergumam nanti pasti ia
akan merindukanku. Ia pasti akan sangat kehilangan. Aku pun menjawbnya dengan bergumam dalam
hati bahwa aku juga pasti akan merindukanmu, Hye Jin. Aku juga pasti akan sangat kehilangan dirimu.
Lalu ia bertanya kapan aku akan pergi dan aku kembali berbohong bahwa aku akan pergi sehari setelah
ia menikah. Padahal aku akan pergi saat pernikahannya tengah berlangsung. Aku tidak mungkin jujur
padanya, ia pasti akan sangat sedih.

Sebelas...

Inilah hari pernikahan Hye Jin namun saat didepan cermin ia memandang dirinya sambil
memikirkan Dae Woo yang tak kunjung datang. Lalu ia baru tersadar bahwa hari seharusnya ia pergi
adalah hari ini bukan besok. Hye Jin tidak percaya Dae Woo berbohong. Oleh karena itu ia terus mencari
Jung Dae Woo dengan berbicara melalui hatinya. Sementara Jung Dae Woo tengah berdiri di halaman
rumah Hye Jin. Ternyata kebersamaanya bersama Hye Jin begitu membekas. Kakek Song tiba-tiba datang
dan bertanya apakah ia yakin akan melakukannya karena ia akan hancur dan tidak akan bisa
bereinkarnasi lagi. Dan lagi pula ia hanya menunda kematian gadis itu. Bukan menghapusnya dari daftar
kematian. Jung Dae Woo telah yakin dan tidak akan menyesal. Lalu Hye Jin tiba-tiba datang dari
belakangnya dan mulai memarahi Dae Woo sambil menangis karena dirinya berbohong. Namun Dae
Woo menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa membawaHye Jin pergi bersamanya. Karena ia ingin melihat
Hye Jin bahgia, bahagia yang selama ini ia impikan setelah menderita tiga tahun lamanya. Setelah
mengucapkan kata perpisahan tubuh Dae Woo mulai menghilang dari bawah menjalar keatas. Lalu Hye
jin tak rela dan berusaha memeluk Dae Woo namun ia malah menembus tubuhnya. Diakhir kata Jung
Dae Woo berkata "aku menyayangimu, Kim Hye Jin!" seulas senyum terukir manis di bibir Jung Dae Woo.
Akhirnya sisa tubuh laki-laki itu menghilang. Hye Jin menjatuhkan tubuhnya ke tanah-duduk bersimpuh
sambil menangis tersedu-sedu. Hye Jin menggerutu sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak
dan perih. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Tubuhnya lemas. Ingin rasanya die menyusul Jung Dae Woo,
dia juga ingin melebur bersama Jung Dae Woo.

Dua belas...

Setelah kejadian menegangkan antara Hyo Min, Hye Jin, Dong Hyeon kekasih Hyo min dan
wanita yang ternyata adalah Shin Chae Rim membuat Hyo Min begitu emosional. Ia ingin mati saja
namun Hye Jin tak henti-hentinya mencegah perbuatan nekat Hyo Min. Akhirnya Hyo Min lari ke jalan
raya dan pada saat itu ada motor melaju kencang dari arah kanan Hyo Min. Namun,segera Hye Jin berlari
dan mendorong tubuh sahabatnya ke tepi dengan sekuat tenaga. Tubuh Hye Jin tertabrak dan terpental
bebrapa meter. Begitu juga dengan pengendara motor, ia terpental dan terhempas ke aspal tepat
disamping tubuh Hye Jin yang bersimbah darah. Helmnya terlepas. Tampak darah segar mengalir dari
kepalanya. Beberapa saat keduanya masih bernapas dan saling berpandangan. Tatapan mata mereka
mengisyaratkan kalau mereka saling mengenal. Ya, mereka saling mengenal lewat pertemuan singkat di
toko bunga tempat Hye Jin bekerja dulu. Terdengar Jung Dae Woo membisikkan sesuatu, suaranya begitu
pelan, "maafkan aku, Kim Hye Jin" setelah mengucapkan itu, mata Jung Dae Woo tertutup, napasnya
memburu, tapi sedetik kemudian dadanya sudah tak terlihat turun naik lagi. Ia meninggal di tempat. Hye
Jin masih tersadar dan ia menatap Jung Dae Woo tajam lalu ia menangis seakan-akan ia merasakan yang
Jung Dae Woo rasakan. Samar-samar ia mendengar suara Hyo min memanggilnya, semuanya semakin
samar-samar hingga akhirnya ia tidak mendengar dan merasakan apa-apa lagi.

Tiga belas...

Kim Hye Jin membuka matanya dan ia bertanya-tanya apakah ini dirumah sakit. Ia melihat Hyo
Min tidur disampingnya dan ia membangunkannya serta bertanya apa yang terjadi padanya. Hyo Min
berkata bahwa Hye Jin pingsan saat bekerja. Namun, Hye Jin tidak yakin karena Hye Jin yakin tadinya ia
pingsan dihalaman rumahnya, saat Jung Dae Woo menghilang. Dan itu pun ketika ia akan menikah bukan
sedang bekerja. Ia bingung memikirkan semuanya. Ia bingung apakah yang ia alami itu sebuah mimpi
atau kenyataan. Jika itu mimpi, tapi kenapa begitu jelas? Dan jika itu kenyataan, tapi kenapa ketika aku
terbangun hal itu tidak terjadi? Aku benar-benar bingung. Lalu dengan desakan Hyo Min aku pun
menceritakannya padanya.