Anda di halaman 1dari 82

KELAINAN GINEKOLOGI

KELAINAN GINEKOLOGI
KELAINAN GINEKOLOGI
KELAINAN GINEKOLOGI
KELAINAN GINEKOLOGI
POLIP SERVIKS
POLIP SERVIKS

Polip serviks merupakan pertumbuhan

massa atau tumor bertangkai

Prevalensi kasus polip serviks berkisar antara 2 hingga 5% wanita 68% gejala berupa “abnormal vaginal
Prevalensi kasus polip serviks berkisar
antara 2 hingga 5% wanita
68% gejala berupa “abnormal vaginal
bleeding”
Anatomi Serviks
Anatomi Serviks
Definisi
Definisi
Definisi  Polip serviks adalah tumor jinak berupa adenoma maupun adenofibroma  Tumbuh menonjol dan

Polip serviks adalah tumor jinak berupa

adenoma maupun

adenofibroma

Tumbuh menonjol

dan bertangkai, tumbuh di mukosa

serviks.

tumor jinak berupa adenoma maupun adenofibroma  Tumbuh menonjol dan bertangkai, tumbuh di mukosa serviks.
tumor jinak berupa adenoma maupun adenofibroma  Tumbuh menonjol dan bertangkai, tumbuh di mukosa serviks.
Etiopatogenesis
Etiopatogenesis

Degenerasi

Hiperplastik

Hormonal

Etiopatogenesis Degenerasi Hiperplastik Hormonal Inflamasi Kongesti Pembuluh Darah Merck Manual Professional. Benign

Inflamasi

Kongesti

Pembuluh

Darah

Merck Manual Professional. Benign Gynecologic Lession: Cervical Polyp.Gynecology and Obstersics, 2008

Faktor Risiko
Faktor Risiko

Hipertensi

Vaginitis dan Servisitis Berulang Peningkatan Usia Obesitas
Vaginitis dan Servisitis Berulang
Peningkatan Usia
Obesitas

Tamoxifen

Morfologi • Polip Endoserviks
Morfologi
• Polip
Endoserviks
• Polip Ektoserviks
Polip
Ektoserviks
• Struktur polip memiliki vaskularisasi yang adekuat
• Struktur polip
memiliki
vaskularisasi
yang adekuat
Morfologi • Polip Endoserviks • Polip Ektoserviks • Struktur polip memiliki vaskularisasi yang adekuat
Morfologi • Polip Endoserviks • Polip Ektoserviks • Struktur polip memiliki vaskularisasi yang adekuat
Intermenstrual bleeding, postcoital bleeding, leukorea, hipermenorrhea
Intermenstrual bleeding, postcoital
bleeding, leukorea, hipermenorrhea

Gejala Tersering

Intermenstrual bleeding, postcoital bleeding, leukorea, hipermenorrhea “ Gejala Tersering ”
DIAGNOSIS
DIAGNOSIS
1. Anamnesa (keluhan)
1. Anamnesa (keluhan)
2. Inspekulum (pemeriksaan ginekologi
2. Inspekulum (pemeriksaan ginekologi
Terlihat : polip bertangkai pada vagina bagian atas (servik ), agak padat, tertutup epitel, bernanah,
Terlihat : polip bertangkai pada vagina bagian atas
(servik ), agak padat, tertutup epitel, bernanah, warna
merah, mudah berdarah, jaringan dapat bertambah.
3. USG transvaginal
3. USG transvaginal
Tatalaksana
Tatalaksana

1. Ekstirpasi & Kuretase Polip dipelintir sampai putus, kemudian tangkainya di kuret.

2. Patologi Anatomi Jaringan polip (jika curiga keganasan).

Kemungkinan ganasnya kecil.

Anatomi Jaringan polip (jika curiga keganasan). Kemungkinan ganasnya kecil. 3. Obat2an : ex : Analgetik, AB,

3. Obat2an : ex : Analgetik, AB, Vit, Fe

POLIP ENDOMENTRIUM
POLIP ENDOMENTRIUM
POLIP ENDOMENTRIUM  Polip endometrium = polip rahim = Yaitu massa atau jaringan lunak yang tumbuh

Polip endometrium = polip

rahim = Yaitu massa atau

jaringan lunak yang tumbuh

pada dinding bagian dalam

endometrium dan menonjol ke

dalam rongga endometrium

atau jaringan lunak yang tumbuh pada dinding bagian dalam endometrium dan menonjol ke dalam rongga endometrium

Anatomi & Fisiologi

Endometrium
Endometrium

Uterus :

Korpus

Servik

Endometrium : • kelenjar-kelenjar endometrium • sel-sel stroma mesenkim • pembuluh darah • tempat Implantasi
Endometrium :
• kelenjar-kelenjar
endometrium
• sel-sel stroma mesenkim
• pembuluh darah
• tempat Implantasi
sel-sel stroma mesenkim • pembuluh darah • tempat Implantasi Sensitive  Hormone Estrogen & Progesterone

Sensitive Hormone

Estrogen & Progesterone

Penyebab
Penyebab
1. Faktor hormonal 2. Karena adanya bagian dari endometrium yang sangat sensitif terhadap hormon estrogen
1.
Faktor hormonal
2.
Karena adanya bagian dari endometrium yang sangat
sensitif terhadap hormon estrogen sehingga mengalami
pertumbuhan lebih cepat & besar dibanding bagian
endometrium yg lain
3.
Produksi hormon yg abnormal yaitu hormon estrogen
yang tidak diimbangi hormon progesteron
Morfologi
Morfologi
Morfologi
Gejala
Gejala
Gejala  Perdarahan diluar waktu haid  Perdarahan vagina setelah menopause  Rasa sakit atau dismenore

Perdarahan diluar waktu haid

Perdarahan vagina setelah menopause

Rasa sakit atau dismenore (nyeri pada saat menstruasi)

Perdarahan yang banyak dan lebih lama

Mengalami dispareuni ( nyeri saat berhubungan seksual )

Diagnosa
Diagnosa
 USG transvaginal
USG transvaginal
 Histeroskopi
 Histeroskopi
Tatalaksana
Tatalaksana
1. Terapi Hormon 2. Ekstirpasi & Kuretase : Polip dipelintir sampai putus, kemudian tangkainya di
1.
Terapi Hormon
2.
Ekstirpasi & Kuretase : Polip dipelintir sampai putus,
kemudian tangkainya di kuret.
3.
Kauterusasi, dilakukan melalui histeroskopi atau pada
polip bertangkai
4.
Histerektomi, dilakukan bila hasil pemeriksaan polip
endometrium mengandung sel kanker.
atau pada polip bertangkai 4. Histerektomi, dilakukan bila hasil pemeriksaan polip endometrium mengandung sel kanker.

KISTA PILOSEBASEA Kista yang paling sering ditemukan pada Vulva. Kista yang terbentuk akibat adanya penyumbatan
KISTA PILOSEBASEA
Kista yang paling sering ditemukan pada Vulva.
Kista yang terbentuk akibat adanya penyumbatan yang disebabkan
oleh infeksi pada saluran duktus sekrekotris kelenjar minyak
Kista yang dilapisi oleh epitel skuama dan berisi minyak atau
lemak.
Diameter kecil, soliter, biasanya asimptomatik
Dapat terjadi infeksi (hiperemis, nyeri lokal)
Terapi :
Insisi dan drainase (bila infeksi)
KISTA BARTHOLIN
KISTA BARTHOLIN
Ditemukan pada 1/3 posterior labia minor Terjadi akibat sumbatan kel. Bartolini Infeksi sekunder akan membentuk
Ditemukan pada 1/3 posterior
labia minor
Terjadi akibat sumbatan kel.
Bartolini
Infeksi sekunder akan
membentuk Abses.
Ciri Khas:
Supuratif (hiperemis, permukaan
tegang, dan nyeri)
Eksudatif (ketegangan kista

berkurang, penipisan dinding kista, sekret keputihan)

dan nyeri) Eksudatif (ketegangan kista berkurang, penipisan dinding kista, sekret keputihan)     
ANATOMI
ANATOMI
KELENJAR BARTHOLINI  Homolog kelenjar Cowper (Bulbourethral)  Bilateral di dasar labia minora  Ukuran
KELENJAR BARTHOLINI
 Homolog kelenjar Cowper
(Bulbourethral)
 Bilateral di dasar labia
minora
 Ukuran sebesar kacang (0,5-1 cm)
 Kelenjar dilapisi epitel kuboid, duktus o/ epitel
transisional, muara o/ epitel squamosa
 Fungsi: memberikan kelembaban bagi vestibulum
Etiopatologi
Etiopatologi
Etiopatologi  Sumbatan bagian distal duktus Bartholini -> retensi sekresi -> pelebaran duktus -> kista

Sumbatan bagian distal duktus Bartholini -> retensi sekresi -> pelebaran duktus -> kista -> infeksi sekunder -> abses

duktus Bartholini -> retensi sekresi -> pelebaran duktus -> kista -> infeksi sekunder -> abses
duktus Bartholini -> retensi sekresi -> pelebaran duktus -> kista -> infeksi sekunder -> abses
Gejala Klinis
Gejala Klinis
1) Teraba massa unilateral pada labia minor sebesar telur ayam, lembut, dan berfluktuasi, atau terkadang
1)
Teraba massa unilateral pada labia minor sebesar
telur ayam, lembut, dan berfluktuasi, atau
terkadang tegang dan keras.
2)
Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik, atau
berhubungan seksual.
3)
Tidak disertai demam, kecuali jika terinfeksi.
4)
Biasanya ada sekret di vagina.
5)
Dapat terjadi ruptur spontan.
3) Tidak disertai demam, kecuali jika terinfeksi. 4) Biasanya ada sekret di vagina. 5) Dapat terjadi
TERAPI
TERAPI
 Antibiotik  TINDAKAN OPERATIF  Incisi dan drainase  Marsupialisasi  Bartholinectomy
 Antibiotik
 TINDAKAN OPERATIF
 Incisi dan drainase
 Marsupialisasi
 Bartholinectomy
TERAPI  Antibiotik  TINDAKAN OPERATIF  Incisi dan drainase  Marsupialisasi  Bartholinectomy
TERAPI  Antibiotik  TINDAKAN OPERATIF  Incisi dan drainase  Marsupialisasi  Bartholinectomy
Marsupialisasi
Marsupialisasi
Marsupialisasi
Marsupialisasi
Marsupialisasi
Marsupialisasi
Marsupialisasi
Marsupialisasi
Marsupialisasi
Marsupialisasi
KISTA GARTNER
KISTA GARTNER

Kista gartner adalah tumor kistik

vagina yang bersifat jinak yang

berasal dari sisa kanalis Wolfii

Kista gartner berdinding tipis

dan transulen yang berada di

anterolateral vagina yang tersusun dari epitel gepeng

berlapis atau epitel kolumnar

atau dapat kedua-duanya.

berada di anterolateral vagina yang tersusun dari epitel gepeng berlapis atau epitel kolumnar atau dapat kedua-duanya.
Diagnosa
Diagnosa
Diagnosa  Lokasi kista pada anterolateral puncak vagina dekat urethra dan klitoris  Saat di palpasi

Lokasi kista pada anterolateral puncak vagina dekat

urethra dan klitoris

Saat di palpasi kista bersifat kistik dilapisi oleh dinding

translusen tipis

Rasa tidak nyaman di vagina jika benjolan membesar

Tatalaksana
Tatalaksana
 Insisi dinding anterolateral vagina untuk mengeluarkan kista dan sisa kanalis Wolfii
 Insisi dinding anterolateral vagina untuk mengeluarkan
kista dan sisa kanalis Wolfii
Tatalaksana  Insisi dinding anterolateral vagina untuk mengeluarkan kista dan sisa kanalis Wolfii
KISTA NABOTHI
KISTA NABOTHI

Kista Nabothi atau kista retensi merupakan kista yang bertempat dipermukaan serviks.

Terjadi karena infeksi atau restrukturisasi endoservix sehingga

terjadi metaplasia skuama muara kelenjar endoservix akan

tertutup yang akan membentuk kista.

Faktor Resiko
Faktor Resiko

1.Penggunaan kondom wanita (cervical cap dan diafragma)

2. Penyangga uterus (Pessarium)

3. Alergi spermisida pada kondom pria

4. Paparan terhadap bahan kimia

Gejala Klinis
Gejala Klinis

Kebanyakan wanita yang menderita kista naboti tidak

bergejala (asimtomatik).

Diameter tumor berkisar

antara 2 - 10 millimeter

Kandungan mukusnya bisa

berwarna kuning pucat

sampai kecoklatan

tumor berkisar antara 2 - 10 millimeter  Kandungan mukusnya bisa berwarna kuning pucat sampai kecoklatan

Anamnesa

Diagnosa
Diagnosa

Adanya infeksi berulang, nyeri panggul, usia ibu,

higienitas ibu, penggunaan cairan pembersih vagina.

Pemeriksaan fisik (Inspekulo)

Secara makroskopik, tampak jaringan tumor yan

g ber!arna putih kekuningan dan terdapat tampakan yang transparan dan mengandung

mukus

Pemeriksaan penunjang

USG transvaginal

Kolposkopi

Biopsi

Tatalaksana
Tatalaksana

Elektrokauter : kauter (pembakaran) pada kista

Cryofreezing : Pembekuan pada tumor

Kista Ovarium
Kista Ovarium

1. Kista Follikel

Kista yang terjadi akibat kegagalan ovulasi yang kemudian cairan

intrafolikel tidak diabsorbsi kembali.

Kista berukuran (3-8cm)

Gejala klinis:

Nyeri pelvic

Dispareneu

Terjadi pendarahan abnormal

Pemeriksaan penunjang:

USG Abdomen

USG Transvaginal

Tatalaksana :

Pungsi kista

Terjadi pendarahan abnormal Pemeriksaan penunjang:  USG Abdomen  USG Transvaginal Tatalaksana :  Pungsi kista
Kista Ovarium
Kista Ovarium

2. Kista Korpus Lutem

Kista yang terjadi akibat pertumbuhan lanjut dari korpus luteum atau pendarahan yang mengisi rongga yang terjadi setelah ovulasi.

Gejala klinis:

Nyeri pelvic

Dispareneu

Terjadi pendarahan abnormal

Pemeriksaan penunjang:

USG Abdomen

USG Transvaginal

Tatalaksana :

Pungsi kista

PCOS (Policystic Ovarium Syndrome)

 Suatu sindrom (Stein-Leventhal Syndrome) dengan karakteristik berupa anovulasi kronis dan hiperandrogenisme yang
 Suatu sindrom (Stein-Leventhal
Syndrome) dengan karakteristik
berupa anovulasi kronis dan
hiperandrogenisme yang dapat
menyebabkan beragam
manifestasi klinis.
dengan karakteristik berupa anovulasi kronis dan hiperandrogenisme yang dapat menyebabkan beragam manifestasi klinis.
Anatomi Ovarium
Anatomi Ovarium
Anatomi Ovarium
Etiologi
Etiologi
Etiologi 1. Hormon Ovarium meningkat   2. Kadar Androgen yang tinggi 3. Kadar Insulin dan
Etiologi 1. Hormon Ovarium meningkat   2. Kadar Androgen yang tinggi 3. Kadar Insulin dan

1.

Hormon Ovarium meningkat

 

2.

Kadar Androgen yang tinggi

3.

Kadar

Insulin

dan

gula

darah

yang meningkat

  2. Kadar Androgen yang tinggi 3. Kadar Insulin dan gula darah yang meningkat
Peningkatan produksi androgen oleh sel theca karena pengaruh LH yang tinggi

Peningkatan produksi androgen oleh sel theca karena pengaruh LH yang tinggi

Patofisiologi
Patofisiologi
Patofisiologi
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Penunjang

Jenis USG

Kriteria Diagnostik

 

-Penebalan Stroma

Transabdominal

- >10 folikel berdiameter 2-9 mm di

subkorteks dalam satu bidang

 

-Penebalan Stroma 50%

-Volume ovarium > 8cm 3

Transvaginal

- >15 folikel dengan diameter 2-10 mm dalam satu bidang

Diagnosis Anamnesis dan pemeriksaan fisik  Acanthosis Nigricans  Hirsutisme  Acne  Virilisasi 
Diagnosis
Anamnesis dan
pemeriksaan fisik
 Acanthosis Nigricans
 Hirsutisme
 Acne
 Virilisasi
 Obesitas
 Infertil
Diagnosis Pemeriksaan penunjang: USG : Gambaran Polycistic ovarium
Diagnosis
Pemeriksaan
penunjang:
USG : Gambaran Polycistic
ovarium
Diagnosis Pemeriksaan penunjang: USG : Gambaran Polycistic ovarium
Terapi
Terapi
Terapi  Olahraga secara teratur  Konsumsi makanan sehat  Berhenti kebiasaan merokok  Mengendalikan

Olahraga secara teratur

Konsumsi makanan sehat

Berhenti kebiasaan merokok

Mengendalikan berat badan

Terapi Medikamentosa
Terapi Medikamentosa
Terapi Medikamentosa  Kontrasepsi oral  Progestin sintetis  Antiandrogen  Diuretik  Metformin

Kontrasepsi oral

Progestin sintetis

Antiandrogen

Diuretik

Metformin (Glucophage).

Terapi Pembedahan
Terapi Pembedahan
1. Electrocauter 2. Laparoscopic ovarian drilling
1. Electrocauter
2. Laparoscopic ovarian drilling
Terapi Pembedahan 1. Electrocauter 2. Laparoscopic ovarian drilling
PROLAPS
PROLAPS
PROLAPS
PROLAPS UTERI
PROLAPS UTERI
 Prolaps uteri adalah turunnya uterus dari posisi normal di rongga pelvis kedalam atau keluar
 Prolaps uteri adalah turunnya uterus dari posisi normal
di rongga pelvis kedalam atau keluar vagina oleh
karena kelemahan otot atau fascia menyokongnya.
dari posisi normal di rongga pelvis kedalam atau keluar vagina oleh karena kelemahan otot atau fascia
dari posisi normal di rongga pelvis kedalam atau keluar vagina oleh karena kelemahan otot atau fascia
Penyangga Uterus
Penyangga Uterus
Etiologi
Etiologi
Etiologi 1. Persalinan pervaginam yang sering 2. Menopause 3. Trauma dasar panggul 4. Peningkatan

1.

Persalinan pervaginam yang sering

2.

Menopause

3.

Trauma dasar panggul

4.

Peningkatan tekanan intra abdominal, seperti adanya neoplasma

atau asites, batuk yang kronis, atau gejala mengejan (obstipasi, atau stirktur traktus urinalis).

Patofisiologi
Patofisiologi
Desensus uteri Tingkat 1
Desensus uteri
Tingkat 1

Tingkat 2 Tingkat 3
Tingkat 2
Tingkat 3

Klasifikasi : Uterus turun tetapi serviks masih didalam vagina : Uterus turun paling rendah sampai
Klasifikasi
: Uterus turun tetapi serviks masih didalam vagina
: Uterus turun paling rendah sampai introitus
vagina
: Uterus sebagian keluar dari vagina
inversio vagina.

: Uterus keluar seluruhnya dari vagina disertai dengan

vagina : Uterus sebagian keluar dari vagina inversio vagina. : Uterus keluar seluruhnya dari vagina disertai
vagina : Uterus sebagian keluar dari vagina inversio vagina. : Uterus keluar seluruhnya dari vagina disertai

Gejala Klinis

Gejala Klinis  Pelvis terasa berat dan nyeri pelvis  Protrusi atau penonjolan jaringan  Disfungsi

Pelvis terasa berat dan

nyeri pelvis

Protrusi atau penonjolan

jaringan

Disfungsi seksual:

dispareunia, penurunan

libido, dan kesulitan

orgasme

Nyeri punggung bawah

Konstipasi

 Kesulitan berkemih  Peningkatan frekuensi, urgensi, dan inkontinensia dalam berkemih  Nausea  Discharge
 Kesulitan berkemih
 Peningkatan frekuensi,
urgensi, dan inkontinensia
dalam berkemih
 Nausea
 Discharge purulen
 Perdarahan
 Ulserasi
 Kesulitan berjalan
dan inkontinensia dalam berkemih  Nausea  Discharge purulen  Perdarahan  Ulserasi  Kesulitan berjalan

Tatalaksana

Terapi non operatif : Latihan latihan otot dasar panggul, (Senam Kegel) Pemasangan dengan pessarium.
Terapi non operatif :
Latihan latihan otot
dasar panggul, (Senam
Kegel)
Pemasangan dengan
pessarium.
dasar panggul, (Senam Kegel) Pemasangan dengan pessarium.    Terapi Operatif : Hysterektomi vaginae

Terapi Operatif : Hysterektomi vaginae Kolporafi anterior
Terapi Operatif :
Hysterektomi vaginae
Kolporafi anterior

SISTOKEL
SISTOKEL

Sistokel adalah melemahnya dinding antara vagina dan kandung kemih yang dapat menyebabkan prolaps kandung

kemih ke dalam vagina

adalah melemahnya dinding antara vagina dan kandung kemih yang dapat menyebabkan prolaps kandung kemih ke dalam
Etiologi
Etiologi

Penyebab terjadinya sistokel antara lain dari :

1. Penegangan otot saat partus

2. Mengangkat beban berat

3. Menopause.

Patofisiologi
Patofisiologi
Patofisiologi
Gejala Klinis
Gejala Klinis

Mengeluh adanya tekanan pada pelvis

Keletihan

Masalah perkemihan : inkontinensia, sering berkemih, jika ada

penekanan intraabdominal meningkat (terutama saat bersin,

batuk,tertawa keras, mengangkat barang berat).

Saat mengejan keras waktu berkemih, sehingga sistokelnya lebih

menonjol, atau bahkan sistokel perlu didorong terlebih dahulu sebelum berkemih.

Klasifikasi
Klasifikasi

Klasifikasi sistokel terdiri dari :

1.

2.

3.

Grade I ( ringan ) : dimana kandung kemih turun sedikit kejalan vagina.

Grade II ( sedang ) : dimana kandung kemih masuk kejalan vagina cukup jauh

kedaerah pintu vagina.

Grade III ( berat ) : dimana kandung kemih menonjol keluar kepintu vagina

vagina cukup jauh kedaerah pintu vagina. Grade III ( berat ) : dimana kandung kemih menonjol
Tatalaksana
Tatalaksana

Pengobatan medis:

Latihan otot-otot dasar panggul (senam Kegel) untuk menguatkanotot-

otot dasar panggul

Stimulasi otot-otot dengan alat listrik untuk memacu kontraksi otot-otot

dasar panggul

Terapi hormon estrogen pada pasien menopause.

Pengobatan operatif:

Kolporafi anterior

REKTOKEL
REKTOKEL
Rektokel adalah herniasi atau penonjolan dinding anterior rektum terhadap dinding vagina posterior sedemikian rupa
Rektokel adalah herniasi atau penonjolan dinding anterior rektum
terhadap dinding vagina posterior sedemikian rupa sehingga dinding
anterior rektum berada tepat berseberangan dengan epitel vagina.
vagina posterior sedemikian rupa sehingga dinding anterior rektum berada tepat berseberangan dengan epitel vagina.
Klasifikasi
Klasifikasi

Secara anatomis rektokel terbagi atas :

Klasifikasi Secara anatomis rektokel terbagi atas :  Rendah (Level III DeLancey): defek pada bagian distal
Klasifikasi Secara anatomis rektokel terbagi atas :  Rendah (Level III DeLancey): defek pada bagian distal

Rendah (Level III DeLancey): defek pada bagian

distal fasia yang melekatkan badan perineum.

pada bagian distal fasia yang melekatkan badan perineum.  Tengah (Level II DeLancey): defek pada fasia
pada bagian distal fasia yang melekatkan badan perineum.  Tengah (Level II DeLancey): defek pada fasia

Tengah (Level II DeLancey): defek pada fasia endopelvik yang meluas pada septum rektovaginal dan fasia pararektal, timbul di atas hiatus levator.

dan fasia pararektal, timbul di atas hiatus levator.  Tinggi (Level I DeLancey): defek pada bagian
dan fasia pararektal, timbul di atas hiatus levator.  Tinggi (Level I DeLancey): defek pada bagian

Tinggi (Level I DeLancey): defek pada bagian

proksimal kompleks ligamen uterosakralis dan kardinal, umumnya timbul sekunder karena

kelemahan septum rektovaginal bagian atas

akibat enterokel.

umumnya timbul sekunder karena kelemahan septum rektovaginal bagian atas akibat enterokel.  Kombinasi ketiganya.

Kombinasi ketiganya.

umumnya timbul sekunder karena kelemahan septum rektovaginal bagian atas akibat enterokel.  Kombinasi ketiganya.
Etiologi
Etiologi
1. Robekan septum rektovaginal 2. Persalinan pervaginam 3. Trauma obstetrik pada vagina dan panggul dapat
1.
Robekan septum rektovaginal
2.
Persalinan pervaginam
3.
Trauma obstetrik pada vagina dan panggul dapat menyebabkan
kelemahan septum rektovaginal, kerusakan nervus perineal dan
kelemahan seluruh fasia endopelvik serta otot dasar panggul.
4.
Peningkatan kronis tekanan intraabdominal,
5.
BMI tinggi, kekurangan estrogen, konstipasi kronis.
6.
Kelemahan kongenital pada sistem penyokong organ panggul.
Gejala Klinis
Gejala Klinis
 

Sering menyebabkan keluhan penekanan pada panggul.

Perasaan ingin mengejan atau perasaan seperti sesuatu akan keluar dari

kemaluan, dirasakan lebih berat jika berdiri atau mengangkat beban dan berkurang jika pasien berbaring.

mengangkat beban dan berkurang jika pasien berbaring.  Keluhan yang berhubungan langsung dengan prolaps:  

Keluhan yang berhubungan langsung dengan prolaps:

    

Perasaan adanya massa atau penonjolan di vagina

Penekanan atau nyeri panggul Nyeri punggung bawah Kesulitan hubungan seksual intravaginal. Disfungsi defekasi

di vagina Penekanan atau nyeri panggul Nyeri punggung bawah Kesulitan hubungan seksual intravaginal. Disfungsi defekasi
Terapi
Terapi
Terapi Pengobatan medis:  Latihan otot-otot dasar panggul (senam Kegel) untuk menguatkan otot- otot dasar panggul

Pengobatan medis:

Latihan otot-otot dasar panggul (senam Kegel) untuk menguatkan otot-

otot dasar panggul

Stimulasi otot-otot dengan alat listrik untuk memacu kontraksi otot-

otot dasar panggul

Terapi hormon estroge pada pasien menopause.

Pengobatan operatif:

Kolporafi posterior

otot dasar panggul  Terapi hormon estroge pada pasien menopause. Pengobatan operatif:  Kolporafi posterior

TUBO OVARIAL ABSCESS (TOA)

TUBO OVARIAL ABSCESS (TOA) Tubo-ovarian abscess (TOA) adalah pembengkakan yang terjadi pada tuba-ovarium yang ditandai

Tubo-ovarian abscess (TOA) adalah pembengkakan yang

terjadi pada tuba-ovarium yang ditandai dengan radang

bernanah, baik di salah satu tuba-ovarium, maupun

keduanya

• TOA dibagi menjadi 2 yaitu - TOA primer, berkembang setelah episode PID - TOA
• TOA dibagi menjadi 2 yaitu
- TOA primer, berkembang setelah episode PID
- TOA sekunder, abses pelvis yang berkembang dari appendiks /
usus yang perforasi atau yang dikaitkan dgn keganasan

Uterus, Bilateral Fallopian Tubes, and Ovaries

F U M O C
F
U
M
O
C

U: Uterus

C: Cervix

F: Fallopian Tube

O: Normal Ovary

M: Inflamed Tubo-

Ovarian Mass

Inflamed Fallopian Tubes

Inflamed Fallopian Tubes

Etiologi
Etiologi
Etiologi  Neisseria gonorrhea  Chlamydia trachomatis  Dari kultur : organisme an aerob E coli

Neisseria gonorrhea

Chlamydia trachomatis

Dari kultur : organisme an aerob E coli (37%), B. fragillis (22%)

Patofisiologi
Patofisiologi
Gonorrhea dan Chlamydia trachomatis (menginfeksi Tuba fallopi) penetrasi hancurkan sel epitel nekrosis jaringan desilasi
Gonorrhea dan Chlamydia trachomatis (menginfeksi Tuba fallopi)
penetrasi hancurkan sel epitel nekrosis jaringan desilasi
mukosa lalu membentuk pus  eksudat purulen
Respon inflamasi pada tubuh host
muncul gejala klinis
Pus mengalir dari ujung fimbria tuba ke abdomen, menyebar ke ovarium
dan organ lain di dekatnya (omentum, usus, kandung kemih dan uterus
Faktor Risiko
Faktor Risiko
Faktor Risiko  Adapun faktor risiko adalah sebagai berikut  Multiple partner Sex  Status ekonomi

Adapun faktor risiko adalah sebagai berikut

Multiple partner Sex

Status ekonomi rendah.

Riwayat PID

Menggunakan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)

Gambaran Klinis
Gambaran Klinis
Gambaran Klinis - Demam, ± 38 ° C - Nyeri pelvis - terdapat massa pada pelvis

- Demam, ±38°C

- Nyeri pelvis

- terdapat massa pada pelvis

- Discharge vagina

- Mual dengan atau tanpa muntah

- Perdarahan abnormal dari vagina

- Didahului proses inflamasi pelvis akut

- Sering pada usia 20 40 tahun (20-60% nullipara)

- Menopouse infeksi atau perforasi usus

Diagnosa
Diagnosa
Diagnosa  Klinis:  Riwayat infeksi pelvis  Adanya massa adnexa, biasanya lunak  Produksi pus

Klinis:

 Riwayat infeksi pelvis  Adanya massa adnexa, biasanya lunak  Produksi pus dari kuldesintesis
Riwayat infeksi pelvis
 Adanya massa adnexa, biasanya lunak
 Produksi pus dari kuldesintesis pada ruptur
Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan laboratorium:  USG  CT-Scan  Laparoskopi
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium:
USG
CT-Scan
Laparoskopi

Komplikasi
Komplikasi
Komplikasi  TOA yang utuh: pecah sampai sepsis, reinfeksi di kemudian hari, infertilitas  TOA yang

TOA yang utuh: pecah sampai sepsis, reinfeksi di

kemudian hari, infertilitas

TOA yang pecah: syok sepsis, abses intraabdominal,

abses subkronik, abses paru/otak.

Tatalaksana
Tatalaksana
 Curiga TOA utuh tanpa gejala  Antibotika  Pengawasan lanjut, bila massa tak mengecil
 Curiga TOA utuh tanpa gejala
Antibotika
Pengawasan lanjut, bila massa tak mengecil dalam 14 hari
atau mungkin membesar adalah indikasi untuk penanganan
lebih lanjut dengan kemungkinan untuk laparatomi
penanganan lebih lanjut dengan kemungkinan untuk laparatomi  TOA utuh dengan gejala :  Tirah baring
 TOA utuh dengan gejala :  Tirah baring posisi “semi fowler”  Observasi ketat
 TOA utuh dengan gejala :
 Tirah baring posisi “semi fowler”
 Observasi ketat tanda vital
dan produksi urine, periksa lingkar
abdmen
 Antibiotika
 Jika perlu dilanjutkan (laparatomi, SO unilateral, atau
pengangkatan seluruh organ genetalia interna)
Lanjutan…
Lanjutan…
Lanjutan…  TOA yang pecah (darurat) :  Laparotomi dan pasang drain kultur nanah.

TOA yang pecah (darurat) :

Laparotomi dan pasang drain kultur nanah.