Anda di halaman 1dari 21

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 State of The Art


Tabel 2.1 State of The Art
Materi Jendra F.J Dotulong, Lely Istiqomah, 2013 Yuana Septin Anjar
2015 Kusuma, 2017
Judul Hubungan Faktor Hubungan Hubungan
Penelitian Risiko Umur, Jenis Pengetahuan dan Karakateristik Individu,
Kelamin, dan Sikap Pasien Lingkungan Fisik
Tuberkulosis Terhadap Rumah, Dan Sikap
Kepadatan Hunian
Kepatuhan Kunjungan Dengan Kejadian
Dengan Kejadian Di Rumah Sakit Paru Tuberkulosis di
Penyakit TB Paru di Jember Tahun 2013 Puskesmas Gumukmas
Desa Wori Tahun 2017
Kecamatan Wori

Metode Penelitian deskriptif Penelitian deskriptif Penelitian analitik


Penelitian analitik dengan kuantitatif dengan kuantitatif dengan
pendekatan cross pendekatan pendekatan
sectional crossectional crossectional
Objek Masyarakat Desa Pasien TB Paru rawat Pasien rawat jalan
Penelitian Wori jalan
Variabel 1. Umur 1. Pengetahuan Karakteristik Individu:
Penelitian 2. Jenis Kelamin 2. Sikap 1. Umur
3. Kepadatan 2. Jenis kelamin
hunian 3. Pendidikan
Lingkungan fisik rumah:
1. Pencahyaan
2. Kepadatan hunian
3. Ventilasi
Perilaku:
1. Sikap
2. Pengetahun
3. Tindakan
Sumber: Jendra FJ Dotulong (2015) dan Lely Istiqomah (2013).
Keunggulan penelitian ini adalah variabel yang akan diteliti lebih rinci.
Variabel tersebut meliputi, umur, jenis kelamin, pendidikan, pencahayaan,
kepadatan hunian, ventilasi, sikap, pengetahuan, dan tindakan berdasarkan
kuesioner dengan wawancara dan observasi pada responden.

8
9

2.2 Tuberkulosis (TB)


2.2.1 Definisi
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan
bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ,
terutama paru-paru. Penyakit ini bila tidak diobati atau pengobatannya tidak
tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya hingga kematian (Pusdat dan
Infromasi Kemenked RI, 2016). Kuman batang aerobik dan tahan asam ini, dapat
merupakan organisme patogen maupun saprofit. Ada beberapa mikrobakteri
patogen, tetapi hanya strain bovin dan manusia yang patogenik terhadap manusia
(Price dan Wilson, 2006).
2.2.2 Bakteri TB
Kemenkes RI (2014), menyatakan bahwa TB adalah suatu penyakit menular
yang disebabkan oleh kuman dari kelompok Mycobacterium yaitu Mycobacterium
tuberculosis. Terdapat beberapa jenis spesies Mycobacterium, antara lain: M.
tuberculosis, M. africanum, M. bovis, M. leprae dan sebagainya yang juga
diikenal sebagat Bakteri Tahan Asam (BTA). Secara umum sifat kuman TB
(Mycobacterium tuberculosis) antara lain sebagai berikut:
a. Berbentuk batang dengan panjang 1-4 mikron, lebar 0,3-0,6 mikron.
b. Bersifat tahan asam dalam pewarnaan dengan metode Ziehl Neelsen.
c. Memerlukan medis khusus untuk biakan, antara lain Lowenstein Jensen,
Ogawa.
d. Kuman nampak berbentuk batang berwarna merah dalam pemeriksaan
dibawah mikroskop.
e. Tahan terhadap suhu rendah sehingga dapat bertahan hidup dalam jangka
waktu lama pada suhu antara 4ºC sampai minus 7ºC.
f. Kuman sangat peka terhadap panas, sinar matahari, dan sinar ultraviolet.
g. Paparan langsung terhadap sinar ultraviolet, sebagian besar kuman akan
mati dalam waktu beberapa menit.
h. Dalam dahak pada suhu antara 30-37ºC akan mati dalam waktu lebih
kurang 1 minggu.
i. Kuman dapat bersifat dormant (“tidur” / tidak berkembang).
10

2.2.3 Etiologi TB
Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit menular yang disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini sejenis kuman berbentuk batang
dengan ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um. Sebagian besar kuman
terdiri dari asam lemak (lipid), kemudian peptidoglikan dan arabinomannan.
Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam (asam alkohol)
sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA). Kuman dapat tahan hidup pada udara
kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari
es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant
ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan penyakit TB menjadi aktif lagi.
Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraselular yakni dalam
sitoplasma makrofag. Makrofag yang semula memfagositasi menjadi disenangi
oleh kuman karena banyak mengandung lipid. Sifat lain kuman ini adalah aerob.
Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi
kandungan oksigennya, termasuk tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru
lebih tinggi dari bagian lain, sehingga bagian apikal merupakan tempat predileksi
penyakit TB (Bahar, 2001).
2.2.4 Cara Penularan TB
Menurut Widoyono (2008), menyatakan penyakit TB yang disebabkan
oleh kuman Mycobacterium tuberculosis ditularkan melalui udara (droplet nucle)
saat seorang penderita TB batuk dan percikan ludah yang mengandung bakteri
tersebut terhirup oleh orang lain saat bernapas. Bila penderita batuk, bersin, atau
berbicara saat berhadapan dengan orang lain, basil TB tersembur dan terhisap ke
dalam paru-paru orang yang sehat. Masa inkubasin selama 3-6 bulan. Bakteri
masuk ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan dan bisa menyebar ke bagian
tubuh melalui peredaran darah, pembuluh limfe, atau langsung ke organ
terdekatnya. Setiap satu BTA positif akan menularkan kepada 10-15 orang
lainnya, sehingga kemungkinan setiap kontak terdekat (mislanya keluarga
serumah) akan dua kali lebih berisiko dibandingkan kontak biasa (tidak serumah).
11

2.2.5 Gejala TB
Menurut Asril Bahar (2001), gejala yang dirasakan pasien TB dapat
bermacam-macam atau tanpa gejala sama sekali dalam pemeriksaan kesehatan.
Gejala yang dirasakan oleh pasien TB adalah sebagai berikut:
a. Demam
Panas badan dapat mencapai 40-41ºC. Serangan demam pertama dapat
sembuh sebentar, tetapi kemudian dapat timbul kembali. Begitulah
seterusnya terjadi berulang kali. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya
tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman TB yang masuk ke
tubuh.
b. Batuk
Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Sifat batuk dimulai
dari batuk kering (non produktif). Tahap selanjutnya timbul peradangan
menjadi produktif (menghasilkan sputum).
c. Batuk Darah
Keadaan lanjutan dari batuk menjadi batuk darah. Hal ini dapat terjadi
ketika terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada
TB terjadi pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding
bronkus.
d. Sesak Napas
Sesak napas baru muncul pada penyakit yang sudah lanjut,
infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.
e. Nyeri Dada
Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura
sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura sewaktu
penderita menarik/melepaskan napasnya.
f. Malaise
Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia (tidak nafsu
makan), badan semakin kurus (berat badan menurun), sakit kepala,
meriang, nyeri otot, keringat malam. Gejala malaise akan semakin lama
semakin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur.
12

2.3 Pemeriksaan TB
2.3.1 Pemerikasaan Fisis
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien, mungkin ditemukan
konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu, demam (subfebris),
badan kurus atau berat badan menurun. Tempat kelainan lesi TB adalah bagian
apeks (puncak) paru. Secara anamnese dan pemeriksaan fisis, TB sulit dibedakan
dengan pneumonia biasa (Bahar, 1993).
2.3.2 Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis dada merupakan cara praktis untuk menemukan lesi
TB. Lokasi lesi TB umumnya di daerah apeks (segmen apikal lobus atas atau
segmen apikal lobus bawah), tetapi juga mengenai lobus bawah (bagian inferior)
atau daerah hilus menyerupai tumor paru (misalnya pada TB endobronkial)
(Bahar, 1993).
2.3.3 Pemerikasaan Laboratorium
a. Darah
Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian, karena hasilnya tidak sensitif dan
juga tidak spesifik. TB baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit yang
meningkat, jumlah limfosit masih dibawah normal, laju endapan darah mulai
meningkat. Hasil pemeriksaan darah lain didapatkan juga anemia ringan dengan
gambaran normokrom dan normositer, gama globuli meningkat, kadar natrium
darah menurun (Bahar, 1993).
a. Sputum
Pemeriksaan sputum adalah penting karena ditemukannya kuman BTA,
diagnosis TB sudah dapat dipastikan. Kriteria sputum BTA positif adalah bila
sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan. Dengan
kata lain diperlukan 5.000 kuman dalam 1ml sputum (Bahar, 1993).
Menurut Kemenkes RI (2014), menjelaskan bahwa pemeriksaan dahak untuk
penegakkan diagnosis dilakukan untuk mengumpulkan 3 contoh uji dahak yang
dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa dahak Sewaktu-
Pagi-Sewaktu (SPS):
1) S (sewaktu)
13

Dahak ditampung pada saat terduga pasien TB datang berkunjung pertama


kali ke fasyankes. Pada saat pulang, terduga pasien membawa sebuah pot
dahak untuk menampung dahak pagi pada hari kedua.
2) P (pagi)
Dahak ditampung di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun
tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di fasyankes.
3) S (sewaktu)
Dahak ditampung di fasyankes pada hari kedua, saat menyerahkan dahak
pagi.
b. Tes Tuberkulin
Pemeriksaan ini masih banyak dipakai untuk membantu menegakkan
diagnosis TB terutama pada anak-anak (balita). Biasanya dipakai tes Mantoux
yakni dengan menyuntikkan 0,1 cc tuberkulin P.P.D (Purified Protein Derivative)
intrakutan berkekuatan 5 T.U (Intermediate strength). Tes tuberkulin hanya
menyatakan apakah seseorang individu sedang atau pernah mengalami infeksi
M.tuberculosis, M.bovis, vaksinasi BCG dan Mycobacteria patogen lainnya
(Bahar, 1993).

2.4 Klasifikasi Pasien TB


Tipe penderita TB diklasifikasikan dalam beberapa kategori (Kemenkes
RI, 2014) meliputi:
a. Lokasi anatomi penyakit
1. TB paru:
TB yang terjadi pada parenkim (jaringan) paru. Milier TB dianggap
sebagai TB paru karena adanya lesi pada jaringan paru. Limfadenitis TB
dirongga dada (hilus dan atau mediastinum) atau efusi pleura tanpa
terdapat gambaran radiologis yang mendukung TB pada paru, dinyatakan
sebagai TB ekstra paru.
2. TB ekstra paru:
TB yang terjadi pada organ selain paru, misalnya: pleura, kelenjar
limfe, abdomen, saluran kencing, kulit, sendi, selaput otak, dan tulang.
14

Diagnosis TB ekstra paru dapat ditetapkan berdasarkan hasil pemeriksaan


bakteriologis atau klinis. Diagnosis TB ekstra paru harus diupayakan
berdasarkan penemuaan Mycobacterium tuberculosis. Pasien TB ekstra
paru yang menderita TB pada beberapa organ, diklasifikasikan sebagai
pasien TB ekstra paru pada organ menunjukkan gambaran TB yang
terberat.
b. Riwayat pengobatan sebelumnya
1. Pasien baru TB:
Adalah pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan TB
sebelumnya atau sudah pernah menelan OAT namun kurang dari 1 bulan
(< dari 28 dosis).
2. Pasien yang pernah diobati TB:
Adalah pasien yang sebelumnya pernah menelan OAT selama 1 bulan
atau lebih (≥ dari 28 dosis). Pasien selanjutnya diklasifikasikan
berdasarkan hasil pengobatan TB terakhir, yaittu:
a) Pasien kambuh
Pasien kambuh adalah pasien TB yang pernah dinyatakan sembuh
atau pengobatan lengkap dan saat ini didiagnosis TB berasarkan hasil
pemeriksaan bakteriologis atau klinis (baik karena benar-benar
kambuh atau karena reinfeksi).
b) Pasien yang diobati kembali setelah gagal
Pasien yang diobati kembali setelah gagal adalah pasien TB yang
pernah diobati dan dinyatakan gagal pada pengobatan terakhir.
c) Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat
Pasien yang diobati kembali setalah putus berobat adalah pasien
yang pernah diobati dan dinyatakan lost follow up (klasifikasi ini
sebelumnya dikenal sebagai pengobatan pasien setelah putus berobat /
default).
d) Lain-lain
Pasien TB yang pernah diobati namun hasil akhir pengobatan
sebelumnya tidak diketahui.
15

3. Pasien yang riwayat pengobatan sebelumnya tidak diketahui.


c. Hasil pemeriksaan uji kepekaan obat
Pengelompokan pasien berdasarkan hasil uji kepekaan contoh uji dari
Mycobacterium tuberculosis terhadap OAT dan dapat berupa:
1. Mono resistan (TB MR)
Resistan terhadap salah satu jenis OAT lini pertama saja.
2. Poli resistan (TB PR)
Resistan terhadap lebih dari satu jenis OAT lini pertama selain Isoniazid
(H) dan Rifampisin (R) secara bersamaan.
3. Multi drug resistan (TB MDR)
Resistan terhadap Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) secara bersamaan.
4. Extensive drug resistan (TB XDR)
TB MDR yang sekaligus juga resistan terhadap salah satu OAT golongan
fluorokuinolon dan minimal salah satu dari OAT lini kedua jenis suntikan
(Kanasimin, Kapreomisin, dan Amikasin).
5. Resistan Rifamisin (TB RR)
Resistan terhadap Rifamisin dengan atau tanpa resistensi terhadap OAT
lain yang terdeteksi menggunakan metode genotip (tes cepat) atau metode
fenotip (konvensional).
d. Status HIV
1. Pasien TB dengan HIV positif (pasien ko-infeksi TB/HIV) adalah pasien
TB dengan:
a) Hasil tes HIV positif sebelumnya atau sedang mendapatkan ART, atau
b) Hasil tes HIV positif pada saat diagnosis TB.
2. Pasien TB dengan HIV negatif adalah pasien TB dengan:
a) Hasil tes HIV negatif sebelumnya, atau
b) Hasil tes HIV negatif pada saat diagnosis TB.
Catatan:
Apabila pada pemeriksaan selanjutnya ternyata hasil tes HIV menjadi
positif, pasien harus disesuaikan kembali klasifikasinya sebagai pasien
TB dengan HIV positif.
16

3. Pasien TB dengan status HIV tidak diketahui adalah pasien TB tanpa ada
bukti pendukung hasil tes HIV saat diagnosis TB ditetapkan.
Catatan:
Apabila pada pemeriksaan selanjutnya dapat diperoleh hasil tes HIV
pasien, pasien harus disesuaikan kembali klasifikasinya berdasarkan hasil
tes HIV terakhir.

2.5 Pengobatan TB
2.5.1 Tujuan
Menurut Kemenkes RI (2014), menyatakan bahwa pengobatan TB
bertujuan untuk menyembuhkan pasien dan memperbaiki produktivitas serta
kualitas hidup, mencegah terjadinya kematian karena TB, mencegah terjadinya
kekambuhan TB, menurunkan penularan TB, dan mencegah terjadinya dan
penularan TB resistan obat.
Tabel 2.2 Jenis dan Dosis OAT Lini Pertama
Dosis
Harian 3x/minggu
OAT
Kisaran dosis Maksimum Kisaran dosis Maksimum/hari
(mg/kg BB) (mg) (mg/kg BB) (mg)
Isoniazid 5(4-6) 300 10 (8-12) 900
Rifampisin 10 (8-12) 600 10 (8-12) 600
Pirazinamid 25 (20-30) - 35 (30-40) -
Etambutol 15 (15-20) - 30 (25-35) -
Streptomisin 15 (12-18) - 15 (12-18) 1000
Sumber: Kemenkes RI (2014)
2.5.2 Prinsip Pengobatan TB
Pengobatan TB merupakan salah satu upaya paling efisien untuk
mencegah penyebaran lebih lanjut dari kuman TB. Pengobatan yang ade kuat
harus memenuhi prinsip:
a. Pengobatan diberikan dalam bentuk paduan OAT yang tepat mengandung
minimal 4 macam obat untuk mencegah terjadinya resistensi.
17

b. Diberikan dalam dosis yang tepat.


c. Ditelan secara teratur dan diawasi secara langsung oleh PMO (Petugas
Menelan Obat) sampai selesai pengobatan.
d. Pengobatan diberikan dalam jangka waktu yang cukup terbagi dalam tahap
awal serta tahap lanjutan untuk mencegah kekambuhan.
1) Tahap Awal
Pada tahap awal pengobatan dilakukan setiap hari, dimaksudkan
untuk secara efektif menurunkan jumlah kuman yang ada dalam tubuh
pasien dan mencegah resistensi obat. Dilakukan pada pasien baru
selama 2 bulan.
2) Tahap Lanjutan
Pada tahap lanjutan merupakan tahap yang penting untuk membunuh
sisa kuman yang masih ada dalam tubuh sehingga pasien dapat sembuh
dan mencegah terjadinya kekambuhan.

2.6 Faktor Risiko TB


Faktor risiko TB menurut PMK Nomor 67 Tahun 2016 Tentang
Penanggulangan Tuberkulosis meliputi:
a. Kuman penyebab TB
b. Faktor individu yang bersangkutan, yaitu:
1) Umur
2) Jenis kelamin
3) Daya tahan tubuh
4) Perilaku
5) Status sosial ekonomi
c. Faktor lingkungan
2.6.1 Karakteristik Individu terhadap Penyakit TB
a. Umur
Umur sebagai salah satu sifat karakteristik tentang orang yang dalam studi
epidemiologi merupakan variabel yang cukup penting karena cukup banyak
penyakit ditemukan dengan berbagai variasi frekuensi yang disebabkan oleh
18

umur. Umur juga merupakan salah satu sifat karakteristik tentang orang yang
sangat utama karena umur mempunyai hubungan yang erat dengan keterpaparan.
Umur mempunyai hubungan dengan besarnya risiko terhadap penyakit tertentu
dan sifat resistensi pada berbagai kelompok umur tertentu. Beberapa penyakit
menular tertentunya misalnya, menunjukkan bahwa umur muda mempunyai risiko
yang tinggi, bukan saja karena tingkat kerentanannya, melainkan juga pengalaman
terhadap penyakit tertentu yang biasanya sudah dialami oleh mereka yang
berumur lebih tinggi. Begitu pula sejumlah penyakit pada umur tua karena
pengaruh tingkat keterpaparan serta proses patogenesisnya yang mungkin
memakan waktu lama (Noor, 2008).
Menurut kelompok umur, kasus baru TB paling banyak pada kelompok umur
25-34 tahun yaitu sebesar 21,40% diikuti kelompok umur 35-44 tahun sebesar
19,41% dan pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 19,39%.3 Sekitar 75%
pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50
tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu
kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan
tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika meninggal akibat TB, maka akan
kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun (Depkes RI, 2011).
b. Jenis Kelamin
Seperti halnya dengan variabel umur, faktor jenis kelamin merupakan salah
satu variabel yang dapat memberikan perbedaan angka/rate kejadian pada pria
dan wanita. Perlu diperhatikan pula bahwa sifat karakteristik jenis kelamin
mempunyai hubungan tersendiri yang cukup erat dengan sifat keterpaparan dan
tingkat kerentanan terhadap penyakit tertentu. Pada berbagai peristiwa penyakit
tertentu, rasio jenis kelamin harus selalu diperhitungkan karena bila suatu
penyakit lebih tinggi frekuensinya pada pria dibanding wanita, tidak selalu berarti
bahwa pria mempunyai risiko yang lebih tinggi, karena hal ini juga dipengaruhi
oleh rasio jenis kelamin pada populasi tersebut (Noor, 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Jendra F.J Dotulong (2015) menyebutkan,
bahwa jumlah kasus TB pada laki-laki sebesar 22 orang dan perempuan sebesar
10 orang dengan OR= 6,212. Sehingga pendetita TB yang dilaporkan 6 kali lebih
19

banyak pada laki-laki dibandingkan perempuan. Banyaknya jumlah kejadian TB


paru yang terjadi pada laki-laki disebabkan karena laki-laki memiliki mobilitas
yang tinggi daripada perempuan sehingga kemungkinan untuk terpapar lebih
besar, selain itu kebiasaan seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol dapat
memudahkan laki-laki terinfeksi TB paru.
c. Pendidikan
Menurut Notoatmodjo (1997), pendidikan adalah suatu proses belajar yang
berarti di dalam pendidikan terjadi proses pertumbuhan, perkembangan, atau
perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik, dan lebih matang dari diri
individu. Tingkat pendidikan penderita akan sangat berpengaruh pada
pengetahuannya dalam mengantisipasi penularan penyakit TB ataupun daya serap
pasien untuk menerima informasi tentang pengobatan TB (Erawatyningsih, 2009
dalam Pambudi, 2013).
2.6.2 Lingkungan Fisik Rumah terhadap Penyakit TB
a. Pencahayaan
Kepmen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2002), menjelaskan bahwa
pencahayaan matahari sebagai potensi terbesar yang dapat digunakan sebagai
pencahayaan alami pada siang hari. Kemenkes RI (1999), menjelaskan bahwa
pencahayaan alam dan atau buatan yang langsung maupun tidak langsung dapat
menerangi seluruh ruangan minimal intensitasnya 60 lux, dan tidak menyilaukan.
Dalam penelitian Suherman, dkk (2014), berdasarkan hasil analisis terdapat
hubungan yang bermakna antara pencahayaan dengan kejadian TB. Kuman TB
hanya dapat mati oleh sinar matahari langsung. Oleh karena itu rumah dengan
pencahayaan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kejadian TB.
b. Kepadatan Hunian
Kemenkes RI (1999), menjelaskan bahwa kepadatan adalah perbandingan
antara luas lantai rumah dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah
tinggal. Persyaratan untuk kepadatan hunian untuk seluruh perumahan biasa
dinyatakan dalam m2 per orang. Luas minimum per orang sangat relatif,
tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk perumahan
sederhana minimum 9 m2 per orang. Untuk kamar tidur di perlukan minimum 3 m2
20

per orang. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni ≥ 2 orang kecuali untuk suami istri
dan anak di bawah 2 tahun. Jarak antara tempat tidur satu dengan lainnya adalah
90 cm. Apabila ada anggota keluarga yang menderita penyakit TB paru sebaiknya
tidak tidur dengan anggota keluarga lainnya.
Kepadatan hunian rumah sehat harus cukup untuk penghuni didalamnya.
Artinya luas lantai bangunan tersebut harus disesuaikan dengan jumlah
penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya
akan menyebabkan berjubel (overcrowded) (Notoatmodjo, 2011).
Dalam penelitian Suherman, dkk (2014) berdasarkan hasil analisis terdapat
hubungan yang bermakna antara kepadatan hunian dengan kejadian TB. Semakin
padat maka perpindahan penyakit, khususnya penyakit menular melalui udara
akan semakin mudah dan cepat, apalagi terdapat anggota keluarga yang menderita
paru dengan BTA (+). Bila dalam satu rumah tangga terdapat satu orang penderita
TB paru aktif dan tidak diobati secara benar maka akan menginfeksi anggota
keluarga lainnya terutama kelompok yang rentan seperti bayi dan balita, semakin
padat hunian suatu rumah tangga maka semakin besar risiko penularan.
c. Ventilasi
Kepmen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2002), menjelaskan bahwa
udara merupakan kebutuhan pokok manusia untuk bernafas sepanjang hidupnya.
Udara akan sangat berpengaruh dalam menentukan kenyamanan pada bangunan
rumah. Kenyamanan akan memberikan kesegaran terhadap penghuni dan
terciptanya rumah yang sehat, apabila terjadi pengaliran atau pergantian udara
secara kontinyu melalui ruangan-ruangan, serta lubang-lubang pada bidang
pembatas dinding atau partisi sebagai ventilasi. Kemenkes RI (1999), menjelaskan
bahwa luas penghawaan atau ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% dari
luas lantai.
Dalam penelitian Fahreza, dkk (2012), menyatakan bahwa kurangnya sinar
yang masuk ke dalam rumah, ventilasi yang buruk cenderung menciptakan
suasana yang lembab dan gelap, kondisi ini menyebabkan kuman dapat bertahan
berhari-hari sampai berbulan-bulan di dalam rumah. Konstruksi rumah dan
lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko
21

sumber penularan berbagai jenis penyakit. Sejalan dengan pendapat Fahreza dkk.
Menkes (2011), menjelaskan bahwa dampak dari pertukaran udara yang tidak
memenuhi syarat dapat menyebabkan suburnya pertumbuhan mikroorganisme,
yang mengakibatkan gangguan terhadap kesehatan manusia.
2.6.3 Perilaku terhadap Penyakit TB
Perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme, baik dapat diamati
secara langsung atau pun yang dapat diamati secara tidak langsung (Notoatmodjo,
1993). Benyamin Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2014), seorang ahli
psikologi pendidikan membagi perilaku manusia ke dalam 3 domain, sesuai
dengan tujuan pendidikan. Namun dalam perkembangannya, teori Bloom
dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan yaitu sikap,
pengetahuan, dan tindakan.
a. Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi
terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
Selain itu sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek.
Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling
dekat (Notoatmodjo, 1993).
Menurut Notoatmodjo (2014), sikap memiliki beberapa tingkatan, antara lain:
1) Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek).
2) Menanggapi (Responding)
Memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang
dihadapi.
3) Menghargai (Valuing)
Subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap objek atau
stimulus, dalam arti membahasnya dengan oran lain, bahkan mengajak
atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons.
4) Bertanggung jawab (Responsible)
22

Bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakini. Seseorang yang telah
mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, maka harus berani
mengambil risiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya
risiko lain.
b. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga (Notoatmodjo, 1993).
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang
terhadap obyek melalui indera yang dimilikinya. Dengan sendirinya pada waktu
penginderaan sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi
oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek (Notoatmodjo, 2014).
Menurut Notoatmodjo (1993), pengetahuan memiliki 6 tingkatan, antara lain:
1) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa
yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan,
menyatakan, dan sebagainya.
2) Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi
tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi
harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi
di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum,
23

rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang
lain.
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu
struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti
dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,
mengelompokkan, dan sebagainya.
5) Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk
menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilain-
penilaian itu berdasarkan suatu kriteria-kriteria yang telah ada.
c. Tindakan
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Terwujudnya
sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu
kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas (Notoatmodjo, 1993).
Menurut Notoatmodjo (1993), tindakan memiliki beberapa tingakatan, antara lain:
1) Persepsi (Perception)
Mengenal atau memilih berbagai objek sehubung dengan tindakan yang
akan diambil.
2) Respons Terpimpin (Guided Response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan
contoh.
24

3) Mekanisme (Mecanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara
otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan.
4) Adaptasi (Adaptation)
Adaptasi adalah suatu tindakan yang sudah berkembang dengan baik.
Artinya tindakan itu sudah dimodifkasi tanpa mengurangi kebenaran
tindakan tersebut.

2.7 Uji Chi Square (Q2)


Uji Chi Square dapat digunakan untuk mengevaluasi frekuensi yang diselidiki
atau hasil observasi untuk dianalisis apakah terdapat hubungan atau perbedaan
yang signifikan atau tidak. Data yang digunakan adalah nominal atau diskrit.
Dalam bidang kesehatan sering kali dijumpai suatu penelitian yang menghasilkan
data yang sifatnya kategori. Baik yang berskala pengukuran nominal maupun
ordinal. Ketentuan penggunaan uji Chi-Square:
1. Tidak ada cell dengan nilai frekuensi kenyataan (F0) = 0.
2. Apabila bentuk tabel 2x2, tidak boleh ada satu cell saja yang memiliki
frekuensi harapan (Fh) <5.
3. Apabila bentuk tabel 2x3, jumlah cell dengan Fh <5 tidak boleh lebih dari
20%.
Output SPSS menampilkan semua nilai Chi-square dari berbagai macam uji,
seperti Pearson Chi-square, Continuity Correction, atau Fisher’s Exact Test.
Masing-masing uji tersebut dilengkapi dengan p value untuk test 2 sisi. Untuk
2
memilih nilai Q atau p-value yang paling sesuai, harus berpedoman pada asumsi-
2
asumsi yang terkait dengan uji Q . Antara lain:
1. Pada tabel lebih dari 2x2 (misalnya 3x2 atau 3x3), apabila nilai frekuensi
2
harapan (Fh/expected) yang <5 tidak lebih dari 20%, maka nilai Q atau p
value dari Pearson Chi-square atau Likelihood Ratio.
25

2. Untuk tabel 2 x 2, nilai dari Continuity Correction dapat dijadikan sebagai p


value. Tetapi jika nilai frekuensi harapan kurang dari 5, maka nilai p value
dari Fisher’s Exact Test.
Nilai Fisher’s Exact Test merupakan p value yang cukup valid, sehingga dapat
juga kita laporkan meskipun frekuensi harapan tidak ada yang kurang dari 5
(Besral, 2010).
Dasar pengambilan keputusan uji Chi Square untuk menerima atau menolak
hipotesis menggunakan kriteria sebagai berikut:
a. Jika signifikansi > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak.
b. Jika signifikansi <0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.
26

2.8 Kerangka Konsep


Berdasarkan teori dan tinjauan pustaka, bahwa faktor risiko TB menurut PMK
Nomor 67 Tahun 2016 diantaranya, kuman TB, karakteristik individu (umur, jenis
kelamin, perilaku, daya tahan tubuh) dan lingkungan serta didukung dengan
penelitian terdahulu. Maka peneliti menentukan variabel akan dilakukan
penelitian seperti pada kerangka konsep berikut ini.

Variabel Independent Variabel Dependent

Karakteristik Individu :

Umur

Jenis kelamin

Pendidikan

Lingkungan fisik rumah :


Pencahayaan
Kejadian TB
Kepadatan hunian

Ventilasi

Perilaku :
Sikap
Pengetahuan

Tindakan

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

Sumber: Benyamin Bloom (1908), Depkes RI (2011), Erawatyningsih (2009),


Jendra F.J Dotulong (2015), Kemnekes RI (1999), Noor (2008),
Notoatmodjo (1997), PMK Nomor 67 (2016).
27

2.9 Hipotesis Penelitian


Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian
sebagai berikut:

Ha1 : Ada hubungan antara umur dengan kejadian penyakit Tuberkulosis di


Puskesmas Gumukmas.

Ho1 : Tidak ada hubungan antara umur dengan kejadian penyakit


Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ha2 : Ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian penyakit


Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ho2 : Tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian penyakit
Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ha3 : Ada hubungan antara pendidikan dengan kejadian penyakit


Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ho3 : Tidak ada hubungan antara pendidikan dengan kejadian penyakit


Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ha4 : Ada hubungan antara pencahayaan dengan kejadian penyakit


Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ho4 : Tidak ada hubungan antara pencahayaan dengan kejadian penyakit


Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ha5 : Ada hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian penyakit


Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ho5 : Tidak ada hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian penyakit
Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ha6 : Ada hubungan antara ventilasi dengan kejadian penyakit Tuberkulosis


di Puskesmas Gumukmas.
28

Ho6 : Tidak ada hubungan antara ventilasi dengan kejadian penyakit


Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ha7 : Ada hubungan antara sikap dengan kejadian penyakit Tuberkulosis di


Puskesmas Gumukmas.

Ho7 : Tidak ada hubungan antara sikap dengan kejadian penyakit


Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ha8 : Ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian penyakit


Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ho8 : Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian penyakit


Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.

Ha9 : Ada hubungan antara tindakan dengan kejadian penyakit Tuberkulosis


di Puskesmas Gumukmas.

Ho9 : Tidak ada hubungan antara tindakan dengan kejadian penyakit


Tuberkulosis di Puskesmas Gumukmas.