Anda di halaman 1dari 29

ANALISIS PRODUKTIVITAS DAN PERMASALAHAN PETANI WORTEL DI

DESA PUJON KIDUL, KECAMATAN PUJON, KABUPATEN MALANG,


PROVINSI JAWA TIMUR

Disusun untuk Memenuhi Ujian Tengah Semester Ganjil


Mata Kuliah Ekonomi Pembangunan
Dosen Pengampu: Bahtiar Fitanto, SE., MT.

Disusun Oleh:

Audika Irsyadinnas 155020101111011

Yulia Octavia Rahmawati 155020101111021

Annisa Retno Ningrum 155020101111030

Nathania Eda Ramadhani 155020101111033

JURUSAN ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017

i
DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................ i


Daftar Isi ...................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan ..................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................... 2
1.3. Tujuan .............................................................................................. 2
1.4. Manfaat ............................................................................................ 2
1.5. Ruang Lingkup ................................................................................. 3
Bab II Tinjauan Pustaka.............................................................................. 4
2.1 Tinjauan Umum Komoditas Wortel .................................................... 4
2.2 Syarat Tumbuh Wortel ...................................................................... 4
2.3 Good Agricultural Practised ............................................................... 4
2.4 Perantara Distribusi Komoditas Pertanian ......................................... 7
Bab III Gambaran Umum ............................................................................ 8
3.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian .................................................. 8
3.2 Gambaran Umum Wotel.................................................................... 8
3.3 Gambaran Umum Pemasaran........................................................... 9
Bab IV Metodologi Penelitian ..................................................................... 11
4.1 Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................... 11
4.2 Data dan Sumber Data...................................................................... 11
4.3 Metode Pengumpulan Data dan Informasi ........................................ 11
4.4 Analisis Keragaan Petani .................................................................. 12
Bab V Pembahasan .................................................................................... 13
5.1 Diskripsi Sektor ................................................................................. 13
5.2 Saluran Tataniaga Komoditas Wortel di Pujon Kidul ......................... 14
5.3 Fungsi Pendukung Prduksi Komoditas Wortel di Pujon Kidul ............ 16
5.4 Regulasi Pemerintah Terhadap Petani .............................................. 18
5.5 Masalah Pertanian Wortel ................................................................. 20
Bab VI Penutup ........................................................................................... 24
6.1 Kesimpulan ....................................................................................... 24
6.2 Saran ................................................................................................ 24
Lampiran ..................................................................................................... 26
Daftar Pustaka ............................................................................................ 27

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Wortel merupakan tumbuhan sayur yang ditanam sepanjang tahun.
Terutama di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab,
kurang lebih pada ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut. Wortel
merupakan salah satu produk hortikultura jenis sayuran yang banyak diminati
oleh masyarakat karena mempunyai nilai gizi dan vitamin yang cukup tinggi.
Wortel adalah sayuran yang kaya akan gizi sebab mengandung serat, vitamin
C, vitamin K, dan beberapa mineral penting lainnya. Warna oranye wortel
berasal dari zat antioksidan yang bernama beta karoten.
Wortel merupakan tanaman sayuran yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Wortel banyak diminati petani karena mudah perawatannya dan biaya yang
dibutuhkan untuk memulai usahatani terjangkau dari kalangan bawah ke atas.
Wortel dapat tumbuh pada semua jenis tanah dan dapat tumbuh baik pada
tanah lempung dan gembur. Indonesia sebagai salah satu negara yang
memiliki tanah yang subur tentu saja menjadikan wortel dapat tumbuh dengan
baik. Oleh sebab itu, wortel merupakan salah satu komoditi pertanian yang
secara masal diproduksi oleh sebagian besar provinsi di Indonesia.
Pada penelitian kali ini, penulis mengambil tempat di Desa Pujon Kidul.
Desa Pujon Kidul berada di Kecamatan Pujon dengan luas wilayah Desa Pujon
Kidul sebesar 323.159 hektar. Jumlah Kepala Keluarga: 1.324 KK dengan
kepadatan penduduk sudah mencapai 4.146 jiwa penduduk tetap. Letak
geografis desa Pujon Kidul berada di wilayah Kabupaten Malang. Keseharian
masyarakat desa Pujonkidul adalah bercocok tanam, bertani, buruh tani, dan
berternak, perikanan, bangunan, buruh bangunan, serta berdagang dan
lainnya. Mengingat keadaan wilayah Desa Pujon Kidul persawahan. Selain
berprofesi sebagai petani, beberapa masyarakat di Desa Pujon Kidul juga
bekerja sebagai peternak sapi perah.
Beberapa permasalahan yang seringkali dihadapi dalam proses produksi
komoditas wortel di Desa Pujon Kidul saat ini antara lain adalah kurang
lancarnya ditribusi pupuk subsidi, cuaca buruk, adanya gangguan hama,
kurangnya penyuluhan dari pemerintah daerah, serta harga jual yang tidak
menentu sehingga menyebabkan pendapatan petani juga tidak menentu.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana deskripsi sektor mengenai permintaan komoditas wortel
dalam lingkup Internasional, Indonesia, Jawa Timur dan Malang?
1.2.2 Bagaimana saluran tataniaga komoditas wortel di Desa Pujon Kidul?
1.2.3 Apa saja fungsi pendukung produksi komoditas wortel di Desa Pujon
Kidul?
1.2.4 Bagaimana regulasi pemerintah mengenai produktivitas komditas
wortel di Desa Pujon Kidul?
1.2.5 Bagaimana solusi dari permasalahan yang dihadapi dalam proses
produksi komoditas wortel di Desa Pujon Kidul?
1.3 Tujuan
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan dari
peneliatian ini adalah sebagai berikut:
1.3.1 Mengetahui deskripsi mengenai permintaan komoditas wortel dalam
lingkup Internasional, Indonesia, Jawa Timur dan Malang.
1.3.2 Mengetahui saluran tataniaga komoditas wortel di Desa Pujon Kidul.
1.3.3 Mengetahui fungsi pendukung produksi komoditas wortel di Desa
Pujon Kidul.
1.3.4 Mengetahui regulasi pemerintah mengenai produktivitas komditas
wortel di Desa Pujon Kidul.
1.3.5 Mengetahui solusi permasalahan yang dihadapi dalam proses
produksi komoditas wortel di Desa Pujon Kidul
1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya penelitian ini antara lain:
1.4.1 Petani dan lembaga tataniaga sebagai bahan pertimbangan dalam
pembentukan sistem tataniaga wortel yang menguntungkan bagi
kedua belah pihak.
1.4.2 Pemerintah sebagai bahan informasi bagi perencanaan kebijaksanaan
guna meningkatkan produktivitas komoditas wortel.
1.4.3 Penulis sebagai penerapan ilmu atau teori yang telah didapat selama
masa perkuliahan terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat
dan dapat memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut.

2
1.5 Ruang Lingkup
Penelitian ini merupakan analisis produktivitas komoditas wortel di Desa
Pujon Kidul, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Harga yang
dijadikan acuan merupakan harga yang berlaku pada saat penelitian.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Komoditi Wortel


Wortel (Daucus carota L) merupakan salah satu tanaman yang termasuk
dalam kelas umbi-umbian yang bisa tumbuh sepanjang tahun. Tanaman ini
dapat tumbuh dengan sempurna baik pada saat musim kemarau maupun pada
saat musim hujan. Wortel mengandung nutrisi vitamin A yang lebih tinggi yang
berguna untuk pemeliharaan mata dan selaput mata. Wortel bukan merupakan
tanaman asli Indonesia, berasal dari negeri yang beriklim sedang (sub-tropis)
yaitu berasal dari asia Timur dan Asia Tengah. Ditemukan tumbuh liar sekitar
6.500 tahun lalu. Budidaya wortel pada mulanya terjadi di daerah sekitar laut
tengah, menyebar luas ke kawasan Eropa, Afrika, Asia dan akhirnya ke seluruh
bagian dunia yang telah terkenal derah pertaniannya (Rukmana, 1995)
2.2 Syarat Tumbuh Wortel
Di Indonesia wortel umumnya ditanam di dataran tinggi pada ketinggian
1000-1200 mdpl. Akan tetapi produksi dan kualitas yang dihasilkan kurang
memuaskan. Untuk dapat tumbuh dengan baik wortel memerlukan beberapa
syarat tumbuh antara lain:
2.2.1 Iklm
Tanaman wortel merupakan sayuran dataran tinggi. Tanaan wortel
pada permulaan tumbuh menghendaki cuaca dingin dan lembab.
2.2.2 Media Tanam
Keadaan tanah yang cocok untuk tanaman wortel adalah subur,
gembur, banyak mengandung bahan organik, tata udara dantata air
yang baik.

Pada umumnya, jumlah produksi sayur-sayuran akan ditentukan dari


proses budidaya sayur-sayuran itu sendiri, begitu pula dengan wortel.
Semakin tepat teknik pertanian yang dilakukan maka semakin besar pula
kemampuan seorang petani untuk menghasilkan komoditi atau output.
2.3 Good Agricultural Practised
Standart Operating Prosedure (SOP) dalam Good Agricultural Practised
sesuai yang diajukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian adalah sebagai
berikut:

4
2.3.1 Pembibitan
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sumber benih yang menjadi
bibit harus memenuhi syarat antara lain tanaman tumbuh subur dan
kuat, bebas hama, bentuknya seragam, dan jenis yang berumur
pendek, berproduksi tinggi.
2.3.2 Penyemaian Benih
Biji wortel di taburkan langsung di tempat penanaman, dapat
disebarkan merata di bedengan atau dengan dicicir memanjang dalam
barisan. Jarak barisan paling tidak 15 cm, kemudian kalau sudah
tumbuh dapat dilakukan penjarangan sehingga tanaman wortel itu
berjarak 3-5 cm satu sama lain. Kebutuhan benih untuk penanaman
setiap are antara 150-200 gram. Para petani sayuran jarang
menggunakan lebih dari 10 kg benih untuk tiap hektar. Biji wortel akan
mulai berkecambah setelah 8-12 hari.
2.3.3 Pemeliharaan dan Pembibitan
Selama ditanam, pemeliharaan wortel relatif mudah, yakni
penyiangan bersamaan dengan pemupukan pada waktu tanaman
berumur 1 bulan sejak tanam. Pupuk yang diberikan berupa ZA 2
kuintal dan ZK 1 kuintal/hektar. Untuk merangsang pembentukkan
umbi yang optimal perlu ditunjang pembubunan dan pengguludan
sekaligus memperjarang tanaman yang tumbuhnya sangat rapat.
Sisakan tanaman yang pertumbuhannya baik dan sehat pada jarak 5-
10 cm.
2.3.4 Persiapan Media Tanam
Mula-mula tanah dicangkul sedalam 40 cm, dan diberi pupuk
kandang atau kompos sebanyak 15 ton setiap hektarnya. Tanah yang
telah diolah itu diratakan dan dibuat alur sedalam 1 cm dan jarak antara
alur 15-20 cm. Areal yang akan 14 dijadikan kebun wortel, tanahnya
diolah cukup dalam dan sempurna, kemudian diberi pupuk kandang 20
ton/ha, baik dicampur maupun menurut larikan sambil meratakan
tanah. Idealnya dipersiapkan dalam bentuk bedengan-bedengan
selebar 100 cm dan langsung dibuat alur-alur/larikan jarak 20 cm,
hingga siap ditanam.

5
2.3.5 Pemupukkan Dasar
1) Sebarkan pupuk kandang yang telah matang (jadi) sebanyak 15-20
ton/ha di permukaan bedengan, kemudian campurkan dengan
lapisan tanah atas secara merata.
2) Ratakan permukaan bedengan hingga tampak datar dan rapi.
2.3.6 Penanaman
Tata cara penanaman (penaburan) benih wortel melalui tahap-
tahap sebagai berikut. Sebarkan (taburkan) benih wortel secara
merata dalam alur-alur/garitangaritan yang tersedia. Tutup benih
wortel dengan tanah tipis sedalam 0,5-1 cm. Buat alur-alur dangkal
sejauh 5 cm dari tempat benih arah barisan (memanjang) untuk
meletakkan pupuk dasar. Jenis pupuk yang diberikan adalah
campuran TSP ± 400 kg (± 200 kg P2 O5/ha) dengan KCl 150 kg (± 75
kg K2O/ha). Sebarkan pupuk tersebut secara merata, kemudian tutup
dengan tanah tipis Tutup tiap garitan (alur) dengan dedaunan kering
atau pelepah daun pisang selama 7-10 hari untuk mencegah
hanyutnya benih wortel oleh guyuran air sekaligus berfungsi menjaga
kestabilan kelembaban tanah. Setelah benih wortel tumbuh di
permukaan tanah, penutup tadi segera di buka kembali.
2.3.7 Pemeliharaan Tanaman
Penjarangan tanaman wortel dilakukan pada saat tanaman
berumur 1 bulan setelah tanam. Rumput-rumput 15 liar (gulma) yang
tumbuh disekitar kebun merupakan pesaing tanaman wortel dalam
kebutuhan air, sinar matahari, unsur hara dan lain-lain, sehingga harus
disiangi. Rumput liar yang tumbuh dalam parit dibersihkan agar tidak
menjadi sarang hama dan penyakit.
2.3.8 Panen
Tanaman wortel yang telah berumur ± 3 bulan sejak sebar benih
atau tergantung varietasnya. Varietas Ideal dipanen pada umur 100-
120 hari setelah tanam.
2.3.9 Pascapanen
Kumpulkan seluruh rumpun (tanaman) wortel yang usai dipanen
pada suatu tempat yang strategis, misalnya di pinggir kebun yang
teduh, atau di gudang penyimpanan hasil. Penyortiran dan
penggolongan dilakukan dengan memisahkan umbi yang rusak, cacat,

6
atau busuk secara tersendiri dan klasifikasikan umbi wortel yang baik
berdasarkan ukuran dan bentuknya yang seragam. Untuk
penyimpanan, simpan hasil panen wortel dalam wadah atau ruangan
yang suhunya dingin dan berventilasi baik.
2.4 Perantara Distribusi Komoditas Pertanian
Menurut Syafi’i dalam Sutrisno (2009) pelaku atau lembaga perantara yang
ikut terlibat dalam proses distribusi komoditas pertanian dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
2.4.1 Tengkulak adalah pembelian hasil pertanian pada waktu panen
dilakukan oleh perseorangan dengan tidak terorganisir, aktif
mendatangi petani produsen untuk membeli hasil pertanian dengan
harga tertentu.
2.4.2 Pedagang pengumpul yaitu pedagang yang membeli hasil pertanian
dari petani dan tengkulak, baik secara individual maupun secara
langsung.
2.4.3 Pedagang besar adalah pedagang yang membeli hasil pertanian
dalam jumlah besar dari pedagang pengumpul atau langsung dari
petani. Modalnya relatif besar sehingga mampu memproses hasil
pertanian yang dibeli.
2.4.4 Pedagang pengecer adalah pedagang yang membeli hasil pertanian
dari petani atau tengkulak dan pedagang pengumpul kemudian dijual
kepada konsumen akhir (rumah tangga). Pengecer biasanya berupa
toko-toko kecil atau pedagang kecil di pasar.

7
BAB III

GAMBARAN UMUM

Bab ini mendeskripsikan keadaan umum wilayah penelitian. Dalam penelitian


ini, kondisi potensi alam di Desa Pujon Kidul dijadikan tempat untuk penelitian
komoditas wortel yang menjadi produk unggulan Desa Pujon Kidul.

3.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian


Desa Pujon Kidul masuk ke dalam wilayah Kecamatan Pujon dengan luas
wilayah Desa Pujon Kidul 323.159 hektar. Jumlah Kepala Keluarga sebesar
1.324 KK dengan kepadatan penduduk mencapai 4.146 jiwa penduduk tetap.
Walaupun wilayah di Desa Pujon Kidul potensial, tetapi masih banyak sumber
daya alam yang berpotensi belum digali saat ini.
Letak Geografis Desa Pujon kidul berada di wilayah Kabupaten Malang.
Keseharian masyarakat desa Pujonkidul adalah bercocok tanam, bertani,
buruh tani, dan berternak (sapi, Kambing, ayam Itik), Perikanan, bangunan,
buruh bangunan serta berdagang dan lainnya. Dengan keadaan wilayah desa
Pujon kidul yaitu persawahan.
Masyarakat umumnya sudah aktif mengolah lahan pertanian, seperti
menanam wortel. Dengan menggunakan cara yang sederhana dan
menggunakan mesin sederhana. Hasil panen belum seutuhnya menemukan
harga yang sebanding dengan pekerjaan tersebut. Kendala yang utama
adalah naik turunnya harga dan serangan hama.
Jarak tempuh ke Ibukota Kecamatan sejauh 3 Km dengan lama tempuh
sekitar 10 menit. Jalan Raya sebagian sudah bagus karena telah di Perbaiki
di tahun 2015. Sedangkan Jalan Lingkungan Desa kebanyakan masih rusak
dan Jalan Tanah, walaupun di beberapa tempat sudah ada yang telah di
bangun Rabat Beton namun belum mampu untuk menjangkau dari seluruh
wilayah Desa. Sehingga masyarakat tidak kesulitan lagi dalam mengangkut
hasil pertanian. Jarak tempuh ke Ibu Kota Kabupaten Malang sejauh 38 kilo
meter dengan lama tempuh dengan roda dua sekitar 90 Menit.
3.2 Gambaran Umum Wortel
Wortel (Daucus carota L.) telah dikenal sebagai sayuran yang banyak
mengandung vitamin A. Tanaman ini berupa rumput yang menyimpan
cadangan makanan dalam bentuk umbi di dalam tanah Ada tiga golongan
wortel berdasarkan panjang umbinya, diantaranya pertama adalah wortel

8
berumbi pendek yang terdiri dari dua bentuk yaitu umbi bulat dan umbi
memanjang tetapi ujungnya membulat. Kedua wortel berumbi sedang
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu yang ujungnya rumcing, sedang, dan
tumpul serta wortel berumbi panjang biasanya berujung tumpul.
Wortel merupakan tanaman khas dataran tinggi dengan ketinggian 1.200-
1.500 m dpl untuk pertumbuhan terbaiknya. Suhu yang cocok untuk tanaman
ini sekitar 22-24°C dengan kelembapan dan sinar matahari yang cukup.
Wortel dapat tumbuh baik pada tanah dengan pH antara 5,5-6,5 dan untuk
hasil optimal diperlukan pH 6,0-6,8. Keunggulan dari tanaman ini adalah
tanaman ini dapat ditanam sepanjang tahun, baik pada musim kemarau
maupun musim hujan.
3.3 Gambaran Umum Pemasaran
Secara umum terdapat dua metode pemasaran wortel di Desa Pujon Kidul,
yaitu:
3.3.1 Metode Mandiri
Setelah masa tanam petani memanen sendiri wortel selanjutnya
mengantarkan wortel tersebut kepengepul untuk ditimbang kemudian
dicuci. Wortel yang telah dicuci disortir sesuai ukurannya dan di kemas
sesuai dengan ukurannya masing-masing. Dengan metode ini petani
dapat memperoleh harga jual yang lebih tinggi. Wortel dengan kualitas
super dihargai Rp 4.000,- sampai Rp 5.500,- per kilogramnya
sementara untuk wortel dengan kualitas sedang dihargai Rp 3.000,-
sampai Rp 3.000,- per kilogram. Selanjutnya, pengepul membawa
wortel tersebut ke pasar Karangploso untuk dijual eceran kepada para
pedagang di pasar di Malang Raya dan distribusikan ke daerah lain
seperti Jember, Pasuruan dan Surabaya.
3.3.2 Metode Tebas
Dalam metode ini pengepul datang ke lahan petani lalu
menawarkan harga dan terjadi proses tawar menawar antara petani
dengan pengepul. Setelah kesepakatan harga ditentukan maka
pengepul akan memanen semua wortel dilahan petani hal ini yang
menyebabkan metode ini dinamakan metode tebas. Kemudian
pengepul membawa hasil panen untuk dicuci dan ditimbang. Wortel
kualitas super dan kualitas sedang dihargai sama perkilogramnya,
biasanya pengepul membayar Rp 3.000,- sampai Rp 3.500,- per

9
kilogram. Wortel tersebut kemudian dikemas lalu didistribusikan ke
pasar Karang Ploso untuk dijual eceran ke pedagang kecil. Selain
dibawa ke pasar, pengepul juga bekerja sama dengan supermarket
atau pasar modern dan rumah makan. Wortel yang dijual ke pasar
modern dan rumah makan adalah wortel dengan kualitas super
biasanya dihargai Rp 8.000,- per kilogram.

10
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Tempat dan Waktu Penelitian


Lokasi penelitian dilakukan di Desa Pujon Kidul,Kecamatan Pujon,
Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini dipilih secara sengaja
karena merupakan sentra produksi wortel terbesar di Malang. Selain itu,
daerah ini juga memiliki potensi yang besar untuk membudidayakan wortel.
Waktu pengumpulan data dilaksanakan pada hari Rabu, 18 Oktober 2017
hingga Jum’at, 20 Oktober 2017.
4.2 Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi langsung ke lapangan yaitu
dengan wawancara. Wawancara dilakukan dengan Kepala Kelompok Tani
Sari Agung 1, para petani wortel, para pengepul wortel, dan pedagang wotel di
Pasar Karang Ploso. Sedangkan data sekunder diperoleh dari informasi tertulis
perusahaan dan dari literatur-literatur yang relevan seperti buku, internet,
Dinas Pertanian, Badan Pusat Statistik (BPS), dll yang dapat membantu untuk
ketersediaan data.
4.3 Metode Pengumpulan Data dan Informasi
Data dan informasi terdiri dari data primer (data utama) dan data sekunder
(data penunjang). Penentuan responden petani wortel dilakukan secara
sensus. Populasi petani sayuran yang tergabung dalam Kelompok Tani Sari
Agung 1 adalah warga Dusun Krajan RT 01 s.d RT 08, Desa Pujon Kidul.
Anggota Kelompok Tani Sari Agung 1 terdiri dari petani sayuran seperti wortel,
kol, bunga kol, terong, sawi, daun bawang, bawang merah, cabai, dan lain-lain.
Setiap petani mayoritas menanam wortel dalam setiap lahannya.
Responden yang merupakan petani wortel dipilih berdasarkan
kedudukannya sebagai anggota dari Kelompok Tani Sari Agung 1. Data primer
diperoleh dari wawancara ketua Kelompok Tani Sari Agung 1, empat petani
wortel, tiga pengepul, dan dua pedagang di pasar. Alasan memilih empat
responden petani wortel karena informasi mengenai petani-petani wortel
sudah dijelaskan secara rinci oleh ketua Kelompok Tani Sari Agung 1. Data
sekunder diperoleh dari data berbagai sumber yang dapat menunjang
penelitian.

11
4.4 Analisis Keragaan Petani
Analisis keragaan petani dianalisis secara deskriptif dengan mengamati
secara langsung proses petani mulai dari persiapan lahan, penanaman, hingga
pemanenan. Analisis ini juga ditunjang dengan data-data primer yang
diperoleh dari proses wawancara langsung terhadap petani responden.
Analisis keragaan petani digunakan untuk mengetahui kegiatan secara detail
petani yang berlangsung mulai dari mempersiapkan bibit wotel hingga wortel
dipasarkan. Keragaan ini dapat memberikan penjelasan mengenai hasil
prosuksi serta biaya-biaya yang dikeluarkan oleh petani.

12
BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Deskripsi Sektor


5.1.1 Kebutuhan Wortel Internasional
Kebutuhan wortel internasional rata-rata per tahun sebanyak 27,5
juta ton. Negara penghasil wortel terbesar di dunia adalah China, (17,3
ton/tahun). Produksi wortel China dapat memenuhi 45% kebutuhan
wortel dunia. Tujuan utama ekspor China adalah Arab Saudi, Kanada,
Thailand, dan Malaysia. Daerah penghasil wortel di China adalah
Mongolia, Shandong, Hebei dan Fujian. Keempat daerah tersebut
memiliki masa panen bergantian sehingga memungkinkan produksi
wortel di China berlangsung sepanjang tahun. Jenis wortel yang paling
populer diproduksi di China adalah Varietas SK4-3. Negara penghasil
wortel peringkat kedua di dunia adalah Uzbekistan (1,8 juta ton/tahun).
Peringkat ketiga penghasil wortel terbesar di dunia adalah Rusia (1,7
juta ton/tahun). Kemudian Amerika Serikat (1,4 juta ton/tahun) dan
Ukraina (0,9 juta ton/tahun).
5.1.2 Kebutuhan Wortel Indonesia
Produksi rata-rata wortel di Indonesia pertahunnya sebesar 367
ribu ton pertahunnya sementara kebutuhan wortel pertahunnya
mencapai 548 ribu ton. Untuk mencukupi kebutuhan wortel Indonesia
mengimpor wortel terbanyak dari China dan Australia. Alasan
mengimpor dari China dan Australia adalah karena harganya yang
lebih murah dan indeks produksi wortel yang tinggi.
Di Indonesia luas lahan yang digunakan dalam memproduksi wortel
mencapai 13.398 ha dan daerah penghasil wortel utama adalah Jawa
Barat, Sumatera Utara, Bengkulu, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Provinsi Jawa Barat pertahunnya dapat memproduksi wortel sebanyak
153 ribu ton. Provinsi Sumatera Utara sebanyak 47 ribu ton
pertahunnya. Provinsi Bengkulu sebanyak 5,2 ribu ton pertahun.
Provinsi Jawa Tengah 26 ribu ton pertahun dan provinsi Jawa Timur
45 ribu ton pertahunnya.

13
5.1.3 Kebutuhan Wortel Jawa Timur
Provinsi Jawa Timur dapat memproduksi wortel 45 ribu ton
pertahunnya, sementara kebutuhan wortel di Jawa Timur sebesar 25
ribu ton pertahunnya. Dari hasil kalkulasi Jawa Timur surpul wortel
sebesar 19 ribu ton yang di distribusikan ke daerah Bali. Jawa Timur
berkontribusi 19,76% untuk produksi wortel di Indonesia. Daerah
penghasil wortel utama di Jawa Timur adalah daerah Malang Raya
meliputi Kota Batu dan Kabupaten Malang. Luas lahan yang digunakan
untuk produksi wortel adalah 1.461 ribu ha..
5.1.4 Kebutuhan Wortel di Kota Malang
Kota Malang memperoleh kebutuhan wortel dari Kota Batu dan
Kabupaten Malang sebab Kota Malang tidak memproduksi wortel
sendiri dikarenakan cuaca di Kota Malang yang tidak memungkinkan
untuk memproduksi wortel sendiri. Kebutuhan wortel di Kota Malang
per tahunnya sebesar 300 ton yang tersebar di seluruh pasar
tradisional maupun pasar modern.
5.2 Saluran Tataniaga Komoditas Wortel di Desa Pujon Kidul
Fungsi Inti

Di Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang terbagi menjadi


tiga kelompok tani. Pertama, Kelompok Tani Sari Agung 1 terdiri atas RT 01
s.d RT 08. Kedua, Kelompok Tani Sari Agung 2 terdiri dari RT 09 s.d RT 16.
Ketiga, Kelompok Tani Sari Agung 3 terdiri dari RT 17 s.d RT 23. Pada
Kelompok tani pertama (Sari Agung 1) terdapat 70 petani dalam setiap RT
dan terdapat 15 petani wortel. Sebagian besar lahan yang digarap adalah milik
pribadi, ukuran lahan yang digunakan untuk menanam wortel rata-rata seluas
2000 m²-7000 m² dengan hasil panen 3-10 ton.

14
Hasil panen wortel petani kemudia dijual ke pengepul kecil yang ada di
Desa Pujon Kidul dengan harga penawaran yang paling tinggi dari pengepul.
Di Desa Pujon Kidul terdapat 9 pengepul kecil, selain pekerjaan mereka
sebagai pengepul mereka juga menanan sayuran seperti wortel. Harga wortel
yang ditawarkan untuk wortel ukuran kecil berkisar dari Rp 2500-Rp 3000 dan
wortel ukuran besar dibeli dengan harga Rp 5000. Pengepul di Desa Pujon
Kidul mampu membeli komoditas wortel 5 ton per hari.
Sistematika penjualan wortel dari petani ke pengepul dengan 2 metode.
Pertama, dengan metode mandiri yaitu setelah wortel siap di panen petani
memanen wortel dan mengantarnya ke rumah pengepul. Kedua, dengan
metode Tebas/Borongan. Dalam metode ini setelah wortel siap dipanen,
pengepul yang memanen wortel tersebut dari lahan. Dengan metode tersebut
biaya petani akan berkurang karena tidak perlu menyewa tenaga kerja untuk
memanen wortel. Tetapi harga jual wortel akan lebih rendah bila dibandingkan
dengan menggunakan metode pertama.
Setelah wortel sampai ditangan pengepul kecil, wortel tersebut dibersihkan
dan ditimbang. Lalu wortel tersebut dibeli oleh pengepul besar yang ada diluar
Desa Pujon Kidul dengan harga Rp 4000 untuk ukuran kecil dan Rp 6000
untuk ukuran besar. Selain dijual ke pengepul besar, sebagian besar wortel
dijual ke rumah makan di sekitar Kecamatan Pujon. Harga jual dari pengepul
kecil ke rumah makan Rp 7000-Rp 8000 dengan perjanjian pemilik rumah
makan dapat memilih sendiri wortelnya. Pengepul kecil menjual wortel ke
pengepul besar dan dibawa ke daerah Porong, Jember, dan Surabaya.
Untuk pengepul besar yang berada di sekitar Kabupaten Malang menjual
wortel tersebut ke pedagang-pedagang kecil di pasar dengan harga jual Rp
4.500-Rp 5.000 untuk wortel ukuran kecil dan untuk wortel ukuran yang besar
harga jualnya sekitar Rp 8.000. Pengepul besar tersebut datang ke pasar
pada dini hari dan pedagang kecil di pasar membeli wortel kepengepul besar
tersebut dengan timbangan 1 karung 10 ton. Kemudian pedagang kecil di
pasar menjual ke konsumen dengan harga Rp 7000-Rp 8000 untuk wortel
ukuran kecil dan Rp 10.000-Rp 12.000 untuk wortel ukuran besar.

15
5.3 Fungsi Pendukung Produksi Komoditas Wortel di Desa Pujon Kidul
Fungsi Pendukung

Dalam fungsi inti ada fungsi pendukung untuk menambah produksi dan
produktivitas komoditas wortel, yaitu:
5.3.1 Penyuluhan
Pada tahun 2015 terdapat agenda penyuluhan di Desa Pujon kidul
untuk petani yang di selenggarakan oleh Dinas Pertanian melalui unit
pelaksana teknis yang di lakukan satu kali dalam tiga bulan. Selain itu,
ada petugas dari dinas terkait yang melakukan pendampingan kepada
petani yang biasanya datang tiga hari sekali untuk mengatasi
permasalahan dari petani contohnya seperti ada hama baru. Jadi
ketika petani di Desa tersebut mengalami kesulitan terkait teknis
penanaman maka petugas dari dinas tersebut dapat membantu petani
untuk memecahkan masalahnya.
5.3.2 Fertilizer
Petani di Desa Pujon Kidul mendapatkan pupuk bersubsidi tiga kali
dalam satu tahun. Dengan jumlah pertahun 179.550 kg pupuk NPK,
179.550 kg pupuk ZA, dan 179.550 pupuk SP. Dengan Luas lahan
yang harus dipupuk adalah seluas 162,75 Ha. Pupuk tersebut
membantu petani dalam menanam wortel dan mengurangi biaya
karena telah ada subsidi dari pemerintah untuk pembelian pupuk.
Petani menggunakan dua jenis pupuk, yaitu pupuk bersubsidi
nonorganik dan pupuk organik yang dibuat oleh warga di Desa Pujon
Kidul. Kedua pupuk tersebut tersedia di rumah ketua kelompok tani 1,
2, dan 3. Selain pupuk, untuk meningkatkan produksi, produktivitas
dan kualitas komoditas wortel warga tersebut menggunakan pestisida
untuk membasmi hama wortel.

16
5.3.3 Teknologi
Petani di Desa Pujon Kidul menggunakan traktor tangan untuk
membajak sawah. Traktor tangan tersebut didapat dari pemerintah
sebagai bantuan. Terdapat tiga traktor tangan yang diberikan oleh
pemerintah. Petani di Desa Pujon Kidul dapat menggunakan traktor
tangan tersebut secara bergantian dengan membayar seseorang
untuk membajak sawah para petani. Dengan menggunakan traktor
tangan hasil membajak sawah lebih bagus dibandingkan dengan hasil
membajak sawah menggunakan tenaga kerbau.
Selain petani, pengepul kecil di Desa Pujon Kidul juga mempunyai
mesin untuk membersihkan sayur-sayuran seperti wortel. Cara kerja
alat tersebut mirip dengan mesin cuci, dengan memasukan komoditas
wortel kedalam mesin tersebut setelah itu diberi air, lalu mesin tersebut
berputar seperti sedang mempersihkan wortel dan batang atau daun
yang diatas wortel terpotong dan secara berulang ulang pengepul kecil
tersebut itu memberikan air dan membuangnya hingga air yang ada di
dalam mesin tersebut jernih. Mesin ini mempermudah pengepul kecil
dalam membersihkan wortel, sehingga waktu yang digunakan untuk
membersihkan wortel cukup singkat.
5.3.4 Bank
Di Desa Pujon Kidul telah ada kerjasama dengan Bank BNI. Jadi
petani yang kekurang modal bisa meminjam uang ke Bank BNI
tersebut dengan bunga yang rendah karena menggunakan KUR
(Kredit Usaha Rakyat) dan biasanya para petani meminjam di Bank
dengan periode 6 bulan. Bunga yang di bebankan ke petani yaitu
0,67% setiap bulan, dengan jaminan BPKB sepeda motor atau
sertifikat tanah.
Selain dapat meminjam di Bank, para petani juga terkadang
meminjam uang untuk modal kepengepul kecil di Desa Pujon Kidul
dengan perjanjian setelah panen pinjaman tersebut dikembalikan dan
hasil panen di beli oleh pengepul yang telah meminjamkan modal.

17
5.4 Regulasi Pemerintah Terhadap Petani
Petani telah memberikan kontribusi dalam pembangunan pertanian dan
pembangunan ekonomi perdesaan. Petani sebagai pelaku pembangunan
pertanian perlu diberikan perlindungan dan pemberdayaan untuk menunjang
pemenuhan kebutuhan pangan yang merupakan hak dasar setiap orang agar
dapat mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan
pangan secara berkelanjutan. Dalam menyelenggarakan pembangunan
pertanian, petani mempunyai peran penting dan memberikan kontribusi besar.
Pelaku utama pembangunan pertanian adalah para petani, umumnya
berusaha dengan skala kecil, yaitu rata-rata luas lahan pertanian kurang dari
0,5 hektare, dan bahkan sebagian dari petani tidak memiliki sendiri lahan
pertanian sehingga disebut petani penggarap, bahkan juga ada buruh tani.
Petani berada pada posisi yang lemah dalam memperoleh sarana produksi,
pembiayaan usaha pertanian, dan akses pasar. Selain itu, petani juga harus
menghadapi permasalahan pada perubahan iklim, kerentanan terhadap
bencana alam dan resiko usaha, globalisasi dan gejolak ekonomi global, serta
sistem pasar yang tidak memberikan keuntungan kepada Petani.
Oleh sebab itu, diperlukan usaha untuk melindungi dan sekaligus
memberdayakan petani. Upaya perlindungan dan pemberdayaan petani
selama ini belum didukung oleh peraturan perundang-undangan, sehingga
kurang bahkan tidak memberikan jaminan kepastian hukum serta keadilan
bagi petani dan pelaku usaha di bidang pertanian. Undang-Undang yang ada
selama ini masih bersifat kurang menyeluruh dan belum mengatur upaya
perlindungan dan pemberdayaan secara jelas, tegas, dan lengkap.
Supaya upaya perlindungan dan pemberdayaan petani mencapai sasaran
yang maksimal maka Pemerintah menetapkan UU Nomor 19 Tahun 2013
tentang perlindungan dan pemberdayaan petani. UU ini ditetapkan oleh
Presiden RI tanggal 6 Agustus 2013. Dalam UU ini mengatur perlindungan
dan pemberdayaan petani yang meliputi perencanaan, perlindungan petani,
pemberdayaan petani, pembiayaan dan pendanaan, pengawasan, dan peran
serta masyarakat, yang diselenggarakan berdasarkan asas kedaulatan,
kemandirian, kebermanfaatan, kebersamaan, keterpaduan, keterbukaan,
efisiensi-berkeadilan, dan berkelanjutan.

18
Penerapan UU Nomor 19/2013 adalah bentuk kebijakan yang dapat
diberikan untuk melindungi kepentingan petani, antara lain:
5.4.1 Pengaturan impor komoditas pertanian sesuai dengan musim panen
atau kebutuhan konsumsi di dalam negeri.
5.4.2 Penyediaan sarana produksi pertanian yang tepat waktu, tepat mutu,
dan harga terjangkau bagi petani dan memberikan subsidi sarana
untuk produksi.
5.4.3 Penetapan tarif bea masuk komoditas pertanian.
5.4.4 Penetapan tempat pemasukan komoditas pertanian dari luar negeri
dalam kawasan pabean.
5.4.5 Penetapan kawasan Usaha Tani berdasarkan kondisi dan potensi
sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
5.4.6 Memberikan fasilitasi Asuransi Pertanian untuk melindungi petani dari
kerugian gagal panen akibat bencana alam, wabah penyakit hewan
menular, perubahan iklim atau jenis resiko lain sehingga dapat
memberikan bantuan ganti rugi gagal panen akibat kejadian luar biasa
sesuai dengan kemampuan keuangan negara.
Selain kebijakan perlindungan petani, upaya pemberdayaan memiliki
peran penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Pemberdayaan
dilakukan untuk memajukan dan mengembangkan pola pemikiran petani,
meningkatkan usaha pertanian, serta menumbuhkan dan menguatkan
kualitas petani agar mampu mandiri dan bersaing dalam dunia pertanian.
Beberapa kegiatan yang dilakukan agar dapat meningkatkan mutu petani
adalah memberikan pendidikan, pelatihan, penyuluhan dan pendampingan,
pengembangan sistem dan sarana pemasaran hasil pertanian.
Pemberdayaan petani merupakan kegiatan peningkatan hasil pertanian
dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Melakukan kerja
sama dan memberikan jaminan luas lahan pertanian. Menyediaan fasilitas
pembiayaan dan permodalan. Mempermudah akses ilmu pengetahuan,
teknologi, dan informasi dan penguatan lembaga pertanian. Salah satu
kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani wortel adalah
dengan mengatur masa tanam wortel antar daerah. Tujuan dari kebijakan ini
adalah untuk menjaga persediaan wortel di pasar sehingga harga wortel lebih
cendrung stabil, hal ini tentu akan menguntungkan bagi petani wortel karena
pendapatan petani bergantung pada harga jual wortel.

19
5.5 Masalah Pertanian Wortel

Pohon Masalah

Permasalahan

Produksi Produktivitas

Harga Jual Teknologi


Kurang Lahan
Rendah Sederhana

Harga Lahan
Penyuluhan Bibit Alih Fungsi Lahan
Mahal

Pemasaran Pengolahan

Bagan di atas merupakan pohon masalah yang menggambarkan


permasalahan yang dihadapi oleh para petani di Desa Pujon Kidul.
Permasalahan pertama adalah produksi, yakni harga jual yang rendah karena
kurangnya penyuluhan oleh pemerintah dalam pemasaran dimana
transportasi untuk membawa wortel ke pasar susah maupun pengolahan
produk wortel sehingga menciptakan segmentasi pasar sendiri. Selain
penyuluhan, permasalahan lain dalam produksi adalah varietas bibit yang
kurang unggul sehingga hasil produksinya tidak maksimal.
Permasalahan produktivitas terbagi menjadi dua yakni kurangnya lahan
dan penggunaan teknologi yang sederhana. Kurangnya lahan disebabkan
karena harga lahan yang semakin meningkat sehingga petani tidak mampu
untuk memperluas lahan pertanian mereka, dan terjadinya alih fungsi lahan
seperti pembangunan rumah warga atau fasilitas lain di lahan yang
sebelumnya digunakan untuk memproduksi wortel.
Secara umum permasalahan yang dihadapi oleh petani wortel di Desa
Pujon Kidul adalah susahnya memperoleh pupuk bersubsidi, kurangnya
penyuluhan dari pemerintah, teknologi yang digunakan masih sederhana,
adanya serangan hama, harga jual komoditas wortel yang fluktuatif dan
varietas bibit.

20
5.5.1 Susahnya Memperoleh Pupuk Bersubsidi
Menurut penuturan Pitoyo selaku ketua kelompok tani Sari Agung
1 untuk mendapatkan pupuk bersubsidi dari pemerintah harus
mengajukan kebutuhan pupuk petani selama satu tahun. Jenis pupuk
yang paling banyak dibutuhkan untuk tanaman wortel adalah pupuk
urea. Pupuk disalurkan oleh pemerintah dalam tiga bulan sekali akan
tetapi pada saat mulai masuk bulan bulan akhir seperti Oktober dan
November maka pupuk bersubsidi mulai susah didapatkan karena
berkurangnya jumlah pupuk yang tersimpan digudang pupuk
pemerintah. Biasanya untuk triwulan akhir pupuk bersubsidi akan
datang pada awal tahun.
Akibatnya banyak petani wortel yang menunda masa pemberian
pupuk tanaman mereka, jika petani memiliki banyak modal maka
petani akan membeli pupuk non subsidi yang tersedia di toko pupuk.
Untuk mengatasi hal tersebut kelompok tani Sumber Agung 1 selain
menggunakan pupuk dari pabrik petani menggunakan pupuk organik
atau kompos. Di Desa Pujon Kidul terdapat pengolahan pupuk kompos
untuk mengatasi jika pupuk bersubsidi persediaannya mulai berkurang
ataupun subsidinya akan dicabut oleh pemerintah.
5.5.2 Kurangnya Penyuluhan dari Pemerintah
Pada tahun 2015 lalu terdapat agenda penyuluhan yang dilakukan
oleh Dinas Pertanian melalui Unit Pelaksana Teknis yang dilakukan
dalam satu kali tiga bulan dan ada petugas yang melakukan
pendampingan kepada petani apabila terkendala dalam proses
pertanian yang biasanya datang tiga hari sekali. Namun, menurut para
petani wortel di Desa Pujon Kidul, intensitas penyuluhan sudah mulai
berkurang karena adanya pergantian struktur jabatan pada Dinas
Pertanian Kabupaten Malang. Untuk mengatasi masalah ini
pemerintah terutama dinas terkait harus menjadwalkan penyuluhan
kepada petani, hal ini akan membuka wawasan petani dalam pertanian
selain itu penyuluhan dapat meningkatkan produksi serta produktivitas
wortel.

21
5.5.3 Penerapan Teknologi yang Masih Sederhana
Mekanisme produksi wortel di Desa Pujon Kidul masih tradisional.
Salah satu alat yang digunakan adalah traktor kecil yang dipakai untuk
membajak sawah. Traktor tersebut merupakan pemberian dari
pemerintah namun petani harus mengeluarkan biaya untuk operator
traktor tersebut. Untuk meningkatkan hasil produksi wortel di perlukan
tingkat teknologi yang tinggi seperti alat untuk memantau keadaan
kelembapan tanah dan melakukan penyiraman otomatis. Tanaman
wortel membutuhkan air dalam proses tanamnya, jika tanah kering
sampai berkeping-keping maka akan mempengaruhi kualitas wortel
yang dihasilkan. Jadi diperlukan alat untuk mendeteksi kelembapan
tanah kemudian melakukan penyiraman otomatis ketika tanah mulai
kering. Jika tanah dalam keadaan kering sampai berkeping-keping
kemudian disiram maka wortel akan menjadi busuk.
5.5.4 Adanya Serangan Hama
Salah satu hama yang menyerang tanaman wortel adalah Kutu
Kebul atau dalam bahasa Jawa di sebut Cabuk Putih. Hama Cabuk
Putih biasanya bersarang dibawah daun wortel kemudian bertelur dan
berkembang biak. Tanaman wortel yang terkena hama Cabuk Putih
akan mengalami kerusakan pada daun, gugurnya daun dan
terserapnya nutrisi tanaman. Cara mengatasinya adalah dengan
menggunakan Eretmocerus, memanfaatkan tanaman perangkap
seperti tanaman squash, penggunaan Light-Emitting Diode atau LED
CC perangkap dan penggunaan insektisida organik. Para petani wortel
di Desa Pujon Kidul menggunakan metode penyiraman insektisida
organik untuk mengatasi hama Cabuk Putih karena proses yang lebih
cepat dan insektisida organik mudah di peroleh di toko-toko pupuk.
5.5.6 Harga Komoditas Wortel yang Fluktuiatif
Harga wortel di pasar selalu mengalami fluktuasi tergantung dati
jumlah persediaan wortel di pasar. Sebenarnya pemerintah telah
menerapkan kebijakan untuk mengatur penanaman wortel antar
daerah penghasil wortel di Indonesia untuk menjaga stabilitas harga.
Daerah penghasil wortel utama di Indonesia adalah Jawa Barat,
Sumatera Utara, Bengkulu, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

22
Dalam kebijakan ini pemerintah merolling penanaman wotel
diantara lima daerah tersebut akan tetapi kebijakan ini mengalami
kendala dalam pelaksanaannya yaitu kendala cuaca. Seperti saat ini
seharusnya di Jawa Timur memasuki musim hujan tetapi hujan tidak
turun maka petani tidak menanam padi mereka menanam wortel
sampai menunggu hujan turun, penyebab kegagalan kebijakan ini
adalah pengaruh cuaca.
5.5.7 Varietas Bibit
Dalam memperoleh bibit wortel petani dapat langsung membeli di
toko-toko pertanian akan tetapi kualitas bibit yang dijual di toko tidak
selalu bibit yang berkualitas baik atau unggul. Untuk mengatasi
permasalahan ini petani berinisiatif untuk melakukan pembudidayaan
bibit wortel sendiri. Petani memilih wortel yang kualitas super untuk
dijadikan bibit dalam penanaman berikutnya. Dibutuhkan waktu sekitar
4 bulan untuk dapat menghasilkan bibit wortel berkualitas unggul.

23
BAB VI

PENUTUPAN

6.1 Kesimpulan
Untuk meningkatkan produksi dan produktivitas petani wortel di Desa
Pujon Kidul maka hal yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pemerintah lebih aktif memberikan penyuluhan kepada petani wortel
dalam memasarkan wortel dan melakukan pengolahan wortel menjadi
produk lain sehingga menciptakan segmentasi pasar baru dan
meningkatkan kesejahteraan petani wortel.
2. Penerapan teknologi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan
produktivitas petani wortel sebab dengan adanya teknologi dapat
membantu pekerjaan petani dan meningkatkan kualitas wortel yang
dihasilkan.
3. Penerapan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan
petani wortel adalah dengan mengatur masa tanam wortel antar daerah.
Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk menjaga persediaan wortel di
pasar sehingga harga wortel lebih cendrung stabil, hal ini tentu akan
menguntungkan bagi petani wortel karena pendapatan petani bergantung
pada harga jual wortel. Selain itu membatasi kuota impor wortel dari China
dan Vietnam sehingga menjaga stabilitas harga wortel di pasar.
6.2 Saran
1. Usahatani wortel kelompok tani ”Sari Agung 1” masih menguntungkan
bila petani mampu menjual wortel tidak kurang dari harga pokok
produksi/biaya per unit. Petani juga disarankan untuk terus memantau
informasi pasar wortel, agar petani dapat mengetahui kondisi pasar
sehingga petani memiliki posisi tawar yang lebih tinggi.
2. Harga wortel ditingkat petani menjadi tidak menentu ketika panen wortel
melimpah, hal ini mengakibatkan harga wortel menjadi menurun.
Pemerintah harus menentukan harga dasar pembelian pemerintah
terhadap hasil pertanian wortel. Hal ini diperuntukkan menanggulangi
permainan harga oleh saluran tataniaga.
3. Pemerintah seharusnya dapat meningkatkan intensitas penyuluhan dan
pendampingan terhadap petani terkait dengan teknik budidaya wortel
yang efisien misalnya pada penggunaan input dan sarana produksi

24
sehingga biaya produksi yang dikeluarkan petani lebih rendah dari biaya
yang diperoleh petani dari hasil penjualan wortel tersebut.
4. Agar harga jual wortel dari petani tinggi dan tidak terlalu jauh dari harga
yang diterima konsumen, maka alternatif jalur distribusi yang bisa
dibangun antara lain dengan pembentukkan koperasi sehingga daya
tawar terhadap harga jual bisa lebih meningkat dan sama-sama
menguntungkan kedua belah pihak.
5. Untuk meningkatkan harga jual posisi tengkulak atau pengepul dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Pengepul dapat
melakukan kerja sama dengan petani seperti dalam memperoleh bibit
unggul sehingga meningkatkan hasil produksi wortel. Pengepul tidak
hanya mendapatkan keuntungan sendiri tetapi memberikan manfaat juga
kepada para petani.

25
LAMPIRAN

Mesin Pembersih Sayuran Pengolahan Pupuk Organik

Petani I: Selamet Petani II: Sumilah

Petani III: Sukir Pengepul I: Sutardi

Pengepul II: Rohid Pengepul III: Mardi

26
DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Astrid Nur. 2012. “Analisis Tataniaga Wortel (Daucus Carota L), di
Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat”. Skripsi. Fakultas
Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Maulia, Syifa. 2012. “Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-faktor yang


Mempengaruhi Produktivitas Wortel di Desa Cigedug, Kecamatan
Cigedung, Kabupaten Garut. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.
Institut Pertanian Bogor

Badan Pusat Statistik (BPS). Diakses dari http://www.bps.go.id/. Diakses pada


tanggal 20 Oktober 2017 pada pukul 19.43 WIB.

Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Kota Malang (Bapedda


Malang). Diakses dari http://www.bapedda.malangkota.go.id/. Diakses
pada tanggal 20 Oktober 2017 pada pukul 20.07 WIB.

Desa Wisata Pujon Kidul. Diakses dari http://www.pujonkidul.desa.id/. Diakses


pada tanggal 20 Oktober 2017 pukul 20.18 WIB.

27