Anda di halaman 1dari 32

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Kontrol Daya Aktif dan Kontrol Daya Reaktif


DFIG adalah mesin induksi dengan kumparan rotor dimana stator dan rotor
keduanya terhubung dengan sumber listrik oleh karena itu disebut ‘doubly fed’. Rotor
pada DFIG memiliki kumparan tiga fase yang mana akan membangkitkan arus 3 fase.
Arus 3 fase akan membangkitkan medan magnet rotor. Medan magnet rotor akan
berinteraksi dengan medan magnet stator dan menimbulkan adanya torsi. Besaran torsi
dipengaruhi oleh kekuatan dua medan (medan putar stator dan rotor) dan perpindahan
angular antar kedua medan.
Sebagian besar sistem pada DFIG menggunakan AC-DC-AC konverter atau
back to back konverter yang digunakan pada rotor. Dengan menggunakan konverter
untuk mengontrol arus rotor, dapat memungkinkan untuk menyesuaikan daya aktif dan
reaktif yang akan diberikan ke grid dari stator berdasarkan kecepatan putar generator.
Umumnya konverter dilengkapi dengan sistem kontrol dan pendeteksi frekuensi
sehingga penentuan kapan daya akan dilepas atau diserap dari grid dapat dilakukan
otomatis. Hal ini membuat penggunaan DFIG pada turbin angin lebih efisien karena
frekuensi keluaran yang awalnya sangat bergantung pada penggerak mula sekarang bisa
dikendalikan dengan masukan pada gulungan rotor. Adanya jalur masukan ke rotor
mengakibatkan kendali keluaran tegangan juga bisa dikendalikan.
Konverter AC-DC-AC terdiri dari dua voltage-sourced converters yaitu machine
side converter (MSC) dan line side converter (LSC). Diantara kedua konverter tersebut
ditempatkan kapasitor DC-link sebagai penyimpanan energi yaitu menyediakan energi
yang dibutuhkan antara generator dan jaringan. MSC berfungsi untuk mengendalikan
torsi atau kecepatan dari DFIG dan juga mengendalikan faktor daya pada terminal
stator. Sedangkan tujuan utama LSC adalah untuk menjaga tegangan DC-link konstan
terlepas dari besarnya magnitude dan arah dari daya rotor. MSC bekerja pada frekuensi
yang berbeda tergantung pada kecepatan angin sedangkan LSC bekerja pada yang
leading atau lagging (DFIG menghasilkan atau menyerap magnitude yang terkendali
dari daya reaktif).
Pada praktiknya untuk mengontrol daya aktif dibutuhkan sudut beban (δ)
diantara nilai tegangan LSC (E) dan tegangan jaringan (V) dan untuk mengontrol nilai

34
daya reaktif menggunakan besaran magnitud dari tegangan LSC (E). Sesuai dengan
persamaan rumus di bawah ini :
VE sin δ
PGRID = (4.1)
Xs
V2 VE
QGRID = − sin δ (4.2)
Xs Xs
(Dr John Fletcher dan Jin Yang, 2010)
Keterangan :
P = Daya Aktif Jaringan (W)
Q = Daya Reaktif Jaringan (VaR)
V = Tegangan Generator (V)
E = Tegangan pada LSC (V)
Xs = Reaktansi generator (Ω)
δ = Load angle/sudut beban ( ˚ )

4.2. Pengujian Kontrol Daya Aktif


Pengujian ini dibagi menjadi beberapa sub bagian pengujian yaitu :
1. Pengujian kontrol daya aktif operasi sub sinkron
Pengujian sub sinkron adalah pengujian yang dilakukan dengan mengubah kecepatan
prime mover atau kecepatan rotor dibawah kecepatan putar stator. Kecepatan putar
stator mesin yang digunakan untuk pengujian memiliki spesifikasi kecepatan 1500 rpm.
2. Pengujian kontrol daya aktif operasi super sinkron.
Pengujian super sinkron adalah pengujian yang dilakukan dengan mengubah kecepatan
putar rotor diatas kecepatan putar stator.

4.2.1. Pengujian kontrol daya aktif sub sinkron


Pada pengujian kontrol daya aktif sub sinkron dilakukan pengujian yaitu:
1. Pengujian kontrol daya sub sinkron dengan kecepatan prime mover tetap dan nilai
MSC active (%) berubah.
Pengujian ini bertujuan untuk melihat pengaruh MSC activ (%) terhadap keluaran
generator yaitu dengan frekuensi tetap yang stabil yaitu sebesar 50 Hz dan daya aktif
jaringan/grid yang semakin meningkat.
2. Pengujian kontrol daya aktif sub sinkron dengan kecepatan prime mover meningkat
dengan nilai MSC keluaran daya aktif tetap.

35
Pengujian ini bertujuan untuk melihat pengaruh prime mover terhadap keluaran
generator yaitu dengan frekuensi tetap yang stabil yaitu sebesar 50 Hz dan daya aktif
jaringan/grid yang semakin meningkat.

4.2.1.1. Pengujian kontrol daya aktif sub sinkron dengan kecepatan prime mover tetap
dan nilai MSC active (%) berubah.
A. Perhitungan nilai load angle (sudut beban)
Salah satu cara untuk mengontrol daya aktif pada jaringan dengan sistem DFIG
yaitu dengan cara mengontrol sudut beban (load angle control). Kontrol sudut beban ini
menggunakan angle (δ) diantara nilai tegangan generator (V) dan tegangan LSC (E).
Pada DFIG untuk mengontrol daya aktif pada jaringan adalah dengan cara mengontrol
load angle (sudut beban). Sudut beban dapat diatur dengan mengatur MSC active (%)
pada simulasi DFIG.
Berikut contoh perhitungan load angle (δ) untuk pengujian 1 kontrol daya aktif
sub sinkron dengan prime mover tetap :
Diketahui : PGrid = -71 W
Vs = 292 V
E = 295 V
Penyelesaian :
Vs E sin δ
PGRID =
Xs
Untuk mendapatkan nilai Xs maka dilakukan pengukuran menggunakan
experimental trafo. Pengukuran dibagi menjadi dua bagian yaitu pengukuran dengan
sumber AC untuk mendapatkan nilai Z dan pengukuran menggunakan sumber DC
untuk mendapatkan niai R. Berikut rangkaian percobaan resistansi (R) dan impedansi
(Z) lilitan generator.

Gambar 4.5 Rangkaian percobaan resistansi lilitan

36
Pada percobaan resistansi lilitan, DC supply dinaikkan nilainya hingga arus pada
ampere meter menunjukkan nilai 1. Dari hasil pengukuran didapatkan nilai voltmeter
yang terhubung dengan fase 1 pada generator yaitu 10 V. Resistansi dapat diukur sesuai
dengan persamaan rumus hukum ohm yaitu : V = IR
𝑉 10
R= = = 10 Ω
𝐼 1

Gambar 4.5 Rangkaian percobaan impedansi


Pada percobaan impedansi, AC supply dinaikkan nilainya hingga arus pada
ampere meter menunjukkan nilai 1. Dari hasil pengukuran didapatkan nilai voltmeter
yang terhubung dengan fase 1 pada generator yaitu 169 V. Impedansi dapat diukur
sesuai dengan persamaan rumus : V = IZ
𝑉 169
Z= = = 169 Ω
𝐼 1
Nilai Xs dapat dicari sesuai dengan persamaan rumus Z = 𝑅 2 + 𝑋𝑠 2
Xs = 𝑍 2 − 𝑅 2
Xs = 1692 − 102
Xs = 168.7 Ω
Vs E sin δ
PGRID =
Xs
PXs −71 x 168.7
Sin δ =
Vs E
=
292 x 297
= - 0.13
δ = sin-1 (sin δ) = sin-1 (-0.13) = -7.47 ˚

Untuk perhitungan pengujian selanjutnya dapat dilihat pada tabel 4.1.

37
Tabel 4.1 Data pengukuran daya aktif pada grid, frekuensi, tegangan stator dan
perhitungan Sin δ dan δ (˚) dengan kenaikan nilai MSC active power (%) dengan prime
mover tetap 1300 rpm.
No PDFIG (W) MSC Active (%) PGrid (W) Vs (Volt) E (Volt) Sin δ δ (˚)
1 0 0 -71 292 295 -0.139 -7.5
2 50 6 -27 295 296 -0.052 -2.9
3 100 13 13 294 297 0.025 1.4
4 150 19 53 300 295 0.101 5.8
5 200 25 93 293 294 0.182 10.5
6 300 37 170 299 292 0.328 19.1
7 400 50 244 300 290 0.473 28.2
8 500 63 314 297 297 0.6005 36.9
Sesuai dengan tabel diatas berikut akan ditampikan grafik pengaruh perubahan
MSC ative (%) terhadap sin δ dan sudut δ (˚).
0.8
0.6
0.4
sin δ

0.2
0
-0.2 0 50 100

MSC active (%)

Gambar 4.1 Grafik pengaruh perubahan MSC active (%) terhadap sin δ
Pada grafik diatas dapat dilihat perubahan nilai MSC active mempengaruhi
nilai sin δ. Semakin meningkatnya nilai MSC maka sin δ semakin besar.
40
30
20
δ (˚)

10
0
-10 0 50 100
MSC active (%)

Gambar 4.2 Grafik pengaruh perubahan MSC active (%) terhadap δ (˚)
Pada grafik diatas dapat dilihat perubahan nilai MSC mempengaruhi nilai sudut
δ. Nilai MSC berbanding lurus dengan sudut δ.

38
B. Data pengukuran kontrol daya aktif operasi sub sinkron dengan kecepatan prime
mover tetap yaitu sebesar 1300 rpm.
Berikut akan ditampilkan data hasil pengujian kontrol daya aktif operasi sub
sinkron dengan nilai MSC active yang diberikan semakin meningkat sesuai dengan
perubahan nilai keluaran daya aktif pada DFIG.
Tabel 4.2 data pengukuran daya aktif pada grid dan LSC, frekuensi dan tegangan stator
terhadap kenaikan nilai MSC active power (%) dengan prime mover tetap 1300 rpm.
No MSC Active (%) PDFIG (W) PGrid (W) PLSC (W) fs (Hz) Vs (V)
1 0 0 -71 -71 49.96 292
2 6 50 -27 -77 49.95 295
3 13 100 13 -87 49.98 294
4 19 150 53 -97 49.99 300
5 25 200 93 -107 49.96 293
6 37 300 170 -130 49.97 299
7 50 400 244 -154 49.97 300
8 63 500 314 -184 50 297

Keterangan :
MSC active = Machine side converter kontrol daya aktif (%)
PDFIG = Daya aktif DFIG (W)
PGrid = Daya aktif grid (W)
PLSC = Daya aktif LSC (W)
fs = frekuensi stator (Hz)
Vs = Tegangan stator (V)

Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa nilai MSC active (%) mempengaruhi
nilai keluaran daya aktif jaringan (PGrid) dengan keluran tegangan maupun frekuensi
yang dihasilkan stabil dan konstan. Bila jaringan membutuhkan daya yang tinggi
dengan tegangan maupun nilai frekuensi yang stabil dan dengan kecepatan putar rotor
yang tetap maka dapat dilakukan dengan menaikkan nilai MSC active (%). Permintaan
daya jaringan yang semakin besar dapat dipenuhi dengan meningkatkan nilai MSC
active. Dengan semakin meningkatnya nilai MSC active (%) maka dapat dilihat bahwa
nilai daya aktif LSC (PLSC) semakin kecil. Hal ini menunjukkan dengan semakin

39
besarnya arus rotor MSC active maka DFIG membutuhkan daya reaktif untuk eksitasi
yang ditunjukkan dengan nilai PLSC yang semakin menurun (semakin besar dengan
tanda minus). Tanda minus menunjukkan bahwa LSC bekerja pada faktor daya yang
lagging (meyerap daya reaktif). Berikut akan ditampilkan grafik pengaruh perubahan
MSC active (%) terhadap daya aktif pada jaringan, daya aktif pada LSC, frekuensi
stator dan tegangan stator.
400
300
PGrid (W)

200
100
0
-100 0 20 40 60 80
MSC active (%)

Gambar 4.3 Grafik pengaruh perubahan MSC Active (%) terhadap Daya aktif Jaringan
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan kenaikan nilai MSC active (%)
mempengaruhi nilai daya aktif pada jaringan. Semakin tinggi nilai MSC active (%)
semakin tinggi pula daya aktif yang dihasilkan pada jaringan hal ini sesuai dengan
pengontrolan yang menggunakan prinsip orientasi-fluks (flux-orientation) stator yaitu
variasi nilai arus rotor akan mencerminkan nilai arus stator yang berarti variasi nilai
arus rotor sama dengan variasi nilai arus stator. Oleh karena itu mengendalikan nilai
arus rotor yaitu nilai arus MSC dapat mengendalikan nilai daya aktif (P) pada jaringan.
0
0 20 40 60 80
-50
PLSC (W)

-100

-150

-200
MSC active (%)

Gambar 4.4 Grafik pengaruh perubahan MSC active (%) terhadap Daya aktif LSC
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan perubahan nilai MSC active (%)
mempengaruhi nilai daya aktif (P) pada LSC. Dengan semakin meningkatnya nilai
MSC active (%) maka dapat dilihat bahwa nilai daya aktif LSC (PLSC) semakin kecil.
Tanda minus menunjukkan bahwa LSC bekerja pada faktor daya yang lagging (DFIG
meyerap daya reaktif).

40
0
0 20 40 60 80
-50

PLSC (W)
-100

-150

-200
MSC active (%)

Gambar 4.5 Grafik pengaruh perubahan MSC Active (%) terhadap Teganan Stator Vs
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan kenaikan nilai MSC active (%)
menghasilkan nilai tegangan yang stabil. Dari hasil pengamatan didapatkan nilai
tegangan keluaran stator stabil terhadap adanya kenaikan nilai MSC active (%). Hal ini
sesuai dengan persamaan rumus (4.1). Dengan kenaikan nilai MSC active
mempengaruhi nilai sudut beban (δ) dimana nilai kumparan generator (Xs) tetap dengan
nilai tegangan LSC (E) dan tegangan stator (Vs) dijaga tetap namun dengan perubahan
nilai daya aktif jaringan yang semakin meningkat.
60

40
fs (Hz)

20

0
0 20 40 60 80
MSC active (%)
Gambar 4.6 Grafik pengaruh perubahan MSC Active (%) terhadap frekuensi stator (fs)
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan kenaikan nilai MSC active (%)
menghasilkan nilai frekuensi statort stabil. Hal ini sesuai dengan keluaran yang
diinginkan yaitu nilai frekuensi yang dihasilkan stabil terhadap kenaikan MSC active
dan kecepatan putar rotor tetap.

41
4.2.1.2. Pengujian kontrol daya aktif sub sinkron dengan kecepatan prime mover
berubah dan nilai MSC active (%) tetap.
A. Data pengukuran kontrol daya aktif operasi sub sinkron dengan kecepatan prime
mover semakin besar dengan nilai MSC active (%) tetap.
Berikut akan ditampilkan data hasil pengujian kontrol daya aktif operasi sub sinkron
dengan nilai kecepatan prime mover yang diberikan semakin meningkat sesuai dengan
perubahan nilai keluaran daya aktif pada DFIG.
Tabel 4.3 data pengukuran daya aktif pada grid dan LSC, frekuensi dan tegangan stator
terhadap kenaikan nilai kecepatan prime mover N (rpm) dengan nilai MSC active (%)
tetap yaitu 50%.
No N (rpm) PDFIG (W) PGrid (W) PLSC (W) fs (Hz) Vs (V)
1 1200 400 217 -183 49.79 300
2 1250 400 230 -170 49.81 299
3 1300 400 243 -157 49.97 298
4 1350 400 258 -142 49.91 295
5 1400 400 274 -126 49.92 294
6 1450 400 288 -112 50.01 298

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa nilai kecepatan prime mover
mempengaruhi nilai keluaran daya aktif jaringan (PGrid) dengan keluran tegangan
maupun frekuensi yang dihasilkan stabil dan konstan. Dengan semakin meningkatnya
kecepatan prime mover dengan nilai MSC active (%) yang tetap maka dihasilkan nilai
daya aktif pada jaringan semakin meningkat, daya aktif pada DFIG (PDFIG ) tetap, nilai
daya aktif LSC (PLSC) semakin besar (semakin kecil dengaan tanda minus yang
menunjukkan bahwa DFIG menyerap daya reaktif semakin kecil). Semakin
meningkatnya kecepatan prime mover maka daya reaktif yang diserap oleh DFIG untuk
eksitasi semakin kecil, sehingga pada saat DFIG membutuhkan arus eksitasi yang besar
dapat dibantu dengan pengaturan kecepatan prime dengan mengatur besar kecil
kecepatan prime mover tanpa menaikkan nilai MSC active pada panel. Tanda minus
pada PLSC menunjukkan LSC bekerja pada faktor daya yang lagging. Semakin
meningkat kecepatan prime mover maka untuk mencapai frekuensi keluaran tetap
konstan yaitu 50 Hz dan tegangan keluaran konstan yaitu 300 V, yang dibutuhkan yaitu
mengurangi daya reaktif pada LSC untuk eksitasi. Berikut akan ditampilkan grafik

42
pengaruh perubahan MSC active (%) terhadap daya aktif pada jaringan, daya aktif pada
LSC, frekuensi stator dan tegangan stator.
400

300

PGrid (W)
200

100

0
1200 1300 1400 1500
N (rpm)

Gambar 4.7 Grafik pengaruh perubahan kecepatan prime mover N (rpm) terhadap Daya
aktif Jaringan
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan kenaikan nilai kecepatan prime mover
mempengaruhi nilai daya aktif pada jaringan. Semakin tinggi nilai kecepatan prime
mover semakin tinggi pula daya aktif yang dihasilkan pada jaringan. Prime mover
merupakan penggerak mula yang mengubah energi masukan (energi primer) menjadi
energi mekanis. Semakin tinggi kecepatan putar energi mekanis semakin besar energi
listrik yang dihasilkan.
0
1200 1300 1400 1500
-50
PLSC (W)

-100

-150

-200
N (rpm)

Gambar 4.8 Grafik pengaruh perubahan kecepatan prime mover N (rpm) terhadap
PLSC
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan perubahan nilai kecepatan prime mover
mempengaruhi nilai daya aktif (P) pada LSC. Dengan semakin meningkatnya nilai
kecepatan prime mover maka dapat dilihat bahwa nilai daya aktif LSC (PLSC) semakin
besar. Meningkatnya kecepatan prime mover mengakibatkan daya reaktif yang diserap
oleh DFIG semakin kecil, hal ini ditunjukkan dengan kenaikan nilai PLSC/nilai PLSC
semakin kecil dengan tanda minus. Tanda minus menunjukkan bahwa LSC bekerja
pada faktor daya yang lagging (DFIG meyerap daya reaktif).

43
400

300

Vs (V)
200

100

0
1200 1300 1400 1500
N (rpm)

Gambar 4.9 Grafik pengaruh perubahan kecepatan prime mover N (rpm) terhadap
Tegangan Stator Vs
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan kenaikan nilai kecepatan prime mover
menghasilkan nilai tegangan yang stabil. Pengujian generator induksi pada umumnya
menghasilkan nilai tegangan yang semakin tinggi sesuai dengan meningkatnya
perubahan kecepatan putar prime mover namun pada percobaan DFIG power control
didapatkan nilai tegangan yang konstan namun dengan perubahan nilai daya aktif pada
jaringan semakin meningkat. Semakin besar nilai prime mover maka nilai tegangan
yang didapatkan konstan dengan perubahan daya aktif jaringan yang semakin
meningkat.
60

40
fs (Hz)

20

0
1200 1300 1400 1500
N (rpm)

Gambar 4.10 Grafik pengaruh perubahan kecepatan prime mover (rpm) terhadap
frekuensi stator (fs)
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan kenaikan nilai kecepatan prime mover
menghasilkan nilai frekuensi yang stabil. Semakin besar nilai prime mover maka nilai
frekuensi yang didapatkan konstan namun dengan perubahan daya aktif jaringan yang
semakin meningkat.

44
4.2.2. Pengujian kontrol daya aktif super sinkron
Pada pengujian kontrol daya aktif super sinkron dilakukan pengujian yaitu:
1. Pengujian kontrol daya aktif super sinkron dengan kecepatan prime mover tetap dan
nilai MSC active (%) dinaikkan
2. Pengujian kontrol daya aktif super sinkron dengan kecepatan prime mover
meningkat dengan nilai MSC keluaran daya aktif tetap.
Pengujian dilakukan untuk melihat pengaruh prime mover dan MSC active power
terhadap keluaran daya aktif pada saat operasi generator super sinkron.

4.2.2.1. Pengujian kontrol daya aktif super sinkron dengan kecepatan prime mover tetap
dan nilai MSC active (%) berubah.
A. Perhitungan nilai load angle (sudut beban)
Berikut contoh perhitungan load angle (δ) untuk pengujian 1 kontrol daya aktif
super sinkron dengan prime mover tetap :
Diketahui : PGrid = -65 W
Vs = 298 V
E = 295 V
Xs = 168.7 Ω

Penyelesaian :
Vs E sin δ
PGrid =
Xs
PXs −65 x 168.7
Sin δ =
Vs E
=
298 x 295
= - 0.125
δ = sin-1 (sin δ) = sin-1 (-0.13) = -7.2 ˚
Untuk perhitungan pengujian selanjutnya dapat dilihat pada tabel 4.4.

45
Tabel 4.4 Data pengukuran daya aktif pada grid, frekuensi, tegangan stator dan
perhitungan Sin δ dan δ (˚) dengan kenaikan nilai MSC active power (%) dengan prime
mover tetap 1650 rpm.
No PDFIG (W) MSC Active (%) PGrid (W) Vs (Volt) E (Volt) Sin δ δ (˚)
1 0 0 -65 298 295 -0.125 -7.2
2 50 6 -10 293 297 -0.019 -1.01
3 100 13 41 295 295 0.079 4.5
4 150 19 94 294 294 0.183 10.5
5 200 25 145 294 298 0.279 16.2
6 300 37 247 297 296 0.473 28.2
7 400 50 346 298 300 0.652 40.7
8 500 63 443 300 298 0.835 56.6
Sesuai dengan tabel diatas berikut akan ditampikan grafik pengaruh perubahan
MSC ative (%) terhadap sin δ dan sudut δ (˚).
0.8
0.6
0.4
sin δ

0.2
0
-0.2 0 50 100
MSC active (%)

Gambar 4.11 Grafik pengaruh perubahan MSC active (%) terhadap sin δ
Pada grafik diatas dapat dilihat perubahan nilai MSC active mempengaruhi
nilai sin δ. Semakin meningkatnya nilai MSC maka sin δ semakin besar.
60

40
δ (˚)

20

0
0 50 100
-20
MSC active (%)

Gambar 4.12 Grafik pengaruh perubahan MSC active (%) terhadap δ (˚)
Pada grafik diatas dapat dilihat perubahan nilai MSC mempengaruhi nilai sudut
δ. Nilai MSC berbanding lurus dengan sudut δ.

46
B. Data pengukuran kontrol daya aktif operasi super sinkron dengan kecepatan prime
mover tetap yaitu sebesar 1650 rpm.
Berikut akan ditampilkan data hasil pengujian kontrol daya aktif operasi super
sinkron dengan nilai MSC active yang diberikan semakin meningkat sesuai dengan
perubahan nilai keluaran daya aktif pada DFIG.
Tabel 4.5 Data pengukuran daya aktif pada grid dan LSC, frekuensi dan tegangan stator
terhadap kenaikan nilai MSC active power (%) dengan prime mover tetap 1650 rpm.
No MSC Active (%) PDFIG (W) PGrid (W) PLSC (W) fs (Hz) Vs (V)
1 0 0 -64 -64 50.03 298
2 6 50 -10 -60 50.04 293
3 13 100 41 -59 49.99 295
4 19 150 94 -56 49.96 294
5 25 200 145 -55 50.03 294
6 37 300 246 -54 50.03 297
7 50 400 347 -53 50.01 298
8 63 500 449 -51 50.01 300
Keterangan :
MSC active = Machine side converter kontrol daya aktif (%)
PDFIG = Daya aktif DFIG (W)
PGrid = Daya aktif grid (W)
PLSC = Daya aktif LSC (W)
fs = frekuensi stator (Hz)
Vs = Tegangan stator (V)
Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa nilai MSC active (%) mempengaruhi
nilai keluaran daya aktif jaringan (PGrid) dengan keluran tegangan maupun frekuensi
yang dihasilkan stabil dan konstan. Bila jaringan membutuhkan daya yang tinggi
dengan tegangan maupun nilai frekuensi yang stabil dan dengan kecepatan putar rotor
yang tetap maka dapat dilakukan dengan menaikkan nilai MSC active (%). Dengan
semakin meningkatnya nilai MSC active (%) maka dapat dilihat bahwa nilai daya aktif
LSC (PLSC) semakin kecil dengan tanda minus yang menunjukkan bahwa LSC bekerja
pada faktor daya yang lagging (DFIG meyerap daya reaktif). Dibandingkan dengan
generator operasi sub sinkron, daya reaktif pada LSC yang diserap untuk kebutuhan
eksitasi lebih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat generator beroperasi dengan

47
kecepatan mekanik diatas kecepatan stator maka dibutuhkan daya reaktif yang sedikit
untuk eksitasi. Berikut akan ditampilkan grafik pengaruh perubahan MSC active (%)
terhadap daya aktif pada jaringan, daya aktif pada LSC, frekuensi stator dan tegangan
stator.

600

PGrid (W) 400

200

0
0 20 40 60 80
-200
MSC active (%)

Gambar 4.13 Grafik pengaruh perubahan MSC Active (%) terhadap Daya aktif Jaringan
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan kenaikan nilai MSC active (%)
mempengaruhi nilai daya aktif pada jaringan. Semakin tinggi nilai MSC active (%)
semakin tinggi pula daya aktif yang dihasilkan pada jaringan hal ini sesuai dengan
pengontrolan yang menggunakan prinsip orientasi-fluks (flux-orientation) stator yaitu
variasi nilai arus rotor akan mencerminkan nilai arus stator yang berarti variasi nilai
arus rotor sama dengan variasi nilai arus stator. Oleh karena itu mengendalikan nilai
arus rotor yaitu nilai arus MSC dapat mengendalikan nilai daya aktif (P) pada jaringan.

0
0 20 40 60 80
-20
PLSC (W)

-40

-60

-80
MSC active (%)

Gambar 4.14 Grafik pengaruh perubahan MSC active (%) terhadap Daya aktif LSC
Pada grafik 4.16 dapat dilihat dengan perubahan nilai MSC active (%)
mempengaruhi nilai daya aktif (P) pada LSC. Dengan semakin meningkatnya nilai
MSC active (%) maka dapat dilihat bahwa nilai daya aktif LSC (PLSC) semakin

48
meningkat dengan tanda minus yang menunjukkan bahwa LSC bekerja pada faktor daya
yang lagging (DFIG meyerap magnitude daya reaktif).

400

300
Vs (V)
200

100
0 20 40 60 80
MSC active (%)

Gambar 4.15 Grafik pengaruh perubahan MSC Active (%) terhadap Teganan Stator Vs
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan kenaikan nilai MSC active menghasilkan
nilai tegangan yang stabil. Dari hasil pengamatan didapatkan nilai tegangan keluaran
stator stabil terhadap adanya kenaikan nilai MSC active (%). Hal ini sesuai dengan
persamaan rumus (4.1). Dengan kenaikan nilai MSC active mempengaruhi nilai sudut
beban (δ) dimana nilai kumparan generator (Xs) tetap dengan nilai tegangan LSC (E)
dan tegangan stator (Vs) dijaga tetap namun dengan perubahan nilai daya aktif jaringan
yang semakin meningkat.

80

60
fs (Hz)

40

20

0
0 20 40 60 80
MSC active (%)

Gambar 4.16 Grafik pengaruh perubahan MSC Active (%) terhadap frekuensi stator (fs)
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan kenaikan nilai MSC active (%)
menghasilkan nilai frekuensi statort stabil. Hal ini sesuai dengan keluaran yang
diinginkan yaitu nilai frekuensi yang dihasilkan stabil terhadap kenaikan MSC active
dan kecepatan putar rotor tetap.

49
4.2.2.2. Pengujian kontrol daya aktif super sinkron dengan kecepatan prime mover
meningkat dan nilai MSC active (%) tetap.
Berikut akan ditampilkan data hasil pengujian kontrol daya aktif operasi super
sinkron dengan nilai kecepatan prime mover yang diberikan semakin meningkat sesuai
dengan perubahan nilai keluaran daya aktif pada DFIG.
Tabel 4.6 data pengukuran daya aktif pada grid dan LSC, frekuensi dan tegangan stator
terhadap kenaikan nilai kecepatan prime mover N (rpm) dengan nilai MSC active (%)
tetap yaitu 63 %.
No N (rpm) PDFIG (W) PGrid (W) PLSC (W) fs (Hz) Vs (V)
1 1650 500 445 -55 50.1 294
2 1700 500 461 -39 50.02 300
3 1750 500 478 -22 50.02 300
4 1800 500 493 -7 50.05 298
5 1850 500 508 8 50.03 300
6 1900 500 524 24 50.05 300
Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat bahwa nilai kecepatan prime mover
mempengaruhi nilai keluaran daya aktif jaringan (PGrid) dengan keluran tegangan
maupun frekuensi yang dihasilkan stabil dan konstan. Dengan semakin meningkatnya
kecepatan prime mover dengan nilai MSC active (%) yang tetap maka dihasilkan nilai
daya aktif pada DFIG (PDFIG ) tetap, nilai daya aktif LSC (PLSC) semakin kecil dengan
tanda minus yang menunjukkan bahwa LSC bekerja pada yang lagging (DFIG meyerap
daya reaktif). Semakin besar kecepatan prime mover dengan kecepatan mekanik diatas
kecepatan putar stator maka untuk mencapai frekuensi keluaran tetap stabil dan
tegangan kelauaran konstan, yang dibutuhkan adalah dengan DFIG menyerap daya
reaktif pada LSC untuk eksitasi. Namun ketika kecepatan putar rotor diatur sebesar
1850 rpm maka DFIG akan menghasilkan daya reaktif yang ditunjukkan dengan tanda
plus pada nilai daya aktif LSC (PLSC). Berikut akan ditampilkan grafik pengaruh
perubahan MSC active (%) terhadap daya aktif pada jaringan, daya aktif pada LSC,
frekuensi stator dan tegangan stator.

50
550

PGrid (W)
500

450

400
1600 1700 1800 1900 2000
N (rpm)

Gambar 4.17 Grafik pengaruh perubahan kecepatan N (rpm) terhadap PGrid (W)
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan kenaikan nilai kecepatan prime mover
mempengaruhi nilai daya aktif pada jaringan. Semakin tinggi nilai kecepatan prime
mover semakin tinggi pula daya aktif yang dihasilkan pada jaringan. Prime mover
merupakan penggerak mula yang mengubah energi masukan (energi primer) menjadi
energi mekanis. Semakin tinggi kecepatan putar energi mekanis semakin besar energi
listrik yang dihasilkan.

40

20
PLSC (W)

0
1600 1700 1800 1900 2000
-20

-40

-60
N (rpm)

Gambar 4.18 Grafik pengaruh perubahan kecepatan prime mover N (rpm) terhadap
Daya aktif LSC
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan perubahan nilai kecepatan prime mover
mempengaruhi nilai daya aktif (P) pada LSC. Dengan semakin meningkatnya nilai
kecepatan prime mover maka dihasilkan nilai daya aktif LSC pada saat kecepatan prime
mover 1600 sampai 1800 bertanda minus yang menunjukkan bahwa LSC bekerja pada
faktor daya yang lagging (DFIG meyerap daya reaktif) dan pada saat kecepatan 1850
sampai 1900 nilai daya aktif LSC yang dihasilkan semakin besar bertanda positif yang
menunjukkan bahwa LSC bekerja pada faktor daya yang leading (DFIG menghasilkan
daya reaktif).

51
400

300

Vs (V)
200

100

0
1600 1700 1800 1900 2000
N (rpm)

Gambar 4.19 Grafik pengaruh perubahan kecepatan prime mover N (rpm) terhadap
Teganan Stator Vs
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan kenaikan nilai kecepatan prime mover
menghasilkan nilai tegangan yang stabil. Dengan semakin menigkatnya kecepatan
prime mover maka nilai daya aktif yang dihasilkan semakin meningkat dengan
konstannya nilai tegangan jaringan.

60
fs (Hz)

40

20

0
1600 1700 1800 1900 2000

N (rpm)

Gambar 4.20 Grafik pengaruh perubahan MSC Active (%) terhadap frekuensi stator (fs)
Pada grafik diatas dapat dilihat dengan kenaikan nilai MSC active (%)
menghasilkan nilai frekuensi statort stabil. Dengan semakin menigkatnya kecepatan
prime mover maka nilai daya aktif yang dihasilkan semakin meningkat dengan
konstannya nilai frekuensi jaringan yaitu 50 Hz.

52
4.2.3. Pengaruh MSC active (%) dan prime mover terhadap output DFIG
a. DFIG operasi sub sinkron
Berikut akan ditampilkan grafik pengaruh MSC active (%) terhadap PDFIG (W),
PLSC (W) dan PGrid (W) pada DFIG operasi sub sinkron.
600
500
400
300
200 PDFIG (W)
100 Pgrid (W)
0 PLSC (W)
-100 0 20 40 60 80
-200
-300
MSC active (%)

Gambar 4.21 Grafik pengaruh perubahan MSC active (%) terhadap PDFIG, PGrid dan PLSC
Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa nilai MSC active (%) mempengaruhi daya
aktif pada DFIG dan jaringan. Semakin meningkatnya nilai MSC yang diberikan
dihasilkan PDFIG yang semakin besar. Dengan semakin meningktanya PDFIG maka PGrid
yang dihasilkan semakin meningkat. MSC active berbanding lurus dengan daya aktif
DFIG karena nilai MSC active (%) dikontrol nilainya untuk mendapatkan keluaran daya
aktif DFIG yang diinginkan dengan DFIG menyerap daya reaktif LSC. Nilai daya aktif
LSC semakin menurun (penyerapan daya reaktif LSC semakin besar dengan
ditingkatkannya nilai MSC active (%) karena dibutuhkannya daya reaktif yang semakin
besar untuk proses eksitasi). Tanda minus menunjukkan LSC bekerja pada faktor daya
lagging(DFIG menyerap daya reaktif).

53
500
400
300
200
PDFIG

P (W)
100
Pgrid (W)
0
PLSC (W)
-1001200 1300 1400 1500
-200
-300
N (rpm)

Gambar 4.22 Grafik pengaruh perubahan kecepatan prime mover N(rpm) terhadap
PDFIG, PGrid dan PLSC
Pada grafik 4.22 dapat dilihat bahwa semakin bertambahnya kecepatan prime
mover dengan nilai MSC active yang tetap maka nilai daya aktif jaringan PGrid semakin
besar dengan nilai PDFIG konstan dikarenakan nilai MSC active yang tetap. Nilai PLSC
semakin meningkat dengan kenaikan prime mover (penyerapan daya reaktif LSC
semakin sedikit dengan ditingkatkannya nilai prime mover) tanda minus menunjukkan
LSC bekerja pada faktor daya lagging/DFIG menyerap daya reaktif. Perubahan
kecepatan prime mover berbanding lurus dengan PLSC.

54
b. DFIG operasi super sinkron
Berikut akan ditampilkan grafik pengaruh MSC active (%) terhadap PDFIG (W), PLSC
(W) dan PGrid (W) pada DFIG operasi super sinkron.

600
500
400
300 PDFIG (W)
200 Pgrid (W)
100
PLSC (W)
0
-100 0 20 40 60 80
MSC active (%)

Gambar 4.23 Grafik pengaruh perubahan MSC active (%) terhadap PDFIG, PGrid dan PLSC
DFIG operasi super sinkron
Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa nilai MSC active (%) mempengaruhi daya
aktif pada DFIG dan jaringan. Meningkatnya nilai MSC menghasilkan PDFIG, PGrid
semakin besar dan nilai PLSC semakin meningkat dengan kenaikan kecil sehingga
terlihat konstan. MSC active (%) dikontrol nilainya untuk mendapatkan keluaran daya
aktif DFIG yang diinginkan dengan DFIG menyerap daya reaktif LSC untuk keperluan
eksitasi. DFIG operasi super sinkron memiliki kecepatan putar rotor yang lebih besar
dibandingkan statorrnya. Kecepatan prime mover yang diatur tinggi yaitu sebesar 1650
rpm membantu proses eksitasi sehingga daya LSC yang diserap kecil. Tanda minus
menunjukkan LSC bekerja pada faktor daya lagging(DFIG menyerap daya reaktif).

55
600
500
400
300 PDFIG (W)
200 Pgrid (W)
100
PLSC (W)
0
-1001600 1700 1800 1900 2000

N (rpm)

Gambar 4.24 Grafik pengaruh perubahan prime mover terhadap PDFIG, PGrid dan PLSC
DFIG operasi super sinkron
Pada grafik 4.22 dapat dilihat bahwa semakin bertambahnya kecepatan prime
mover dengan nilai MSC active yang tetap maka nilai daya aktif jaringan PGrid semakin
besar dengan nilai PDFIG konstan dikarenakan nilai MSC active yang tetap. Nilai PLSC
semakin meningkat dengan kenaikan prime mover (penyerapan daya reaktif LSC
semakin sedikit dengan ditingkatkannya nilai prime mover). Pada kecepatan 1850 DFIG
menghasilkan daya reaktif dan bekerja pada faktor daya leading.

56
4.2.4. Perbandingan DFIG operasi sub sinkron dan super sinkron
Berikut akan ditampilkan data hasil pengujian kontrol daya aktif DFIG operasi
sub sinkron (1300 rpm) dan super sinkron (1650 rpm) dengan nilai MSC active semakin
meningkat.
Tabel 4.7 Data perbandingan DFIG operasi sub sinkron (1300 rpm) dan super sinkron
(1650 rpm) dengan nilai MSC active (%) berubah.

No N (rpm) MSC active (%) PDFIG(W) PGrid(W) PLSC(W) Vs(V) Fs(Hz)


1 0 0 -71 -71 292 49.96
2 6 50 -27 -77 295 49.95
3 13 100 13 -87 294 49.98
4 19 150 53 -97 300 49.99
1300
5 25 200 93 -107 293 49.97
6 37 300 170 -130 299 49.97
7 50 400 244 -154 300 49.97
8 63 500 314 -184 297 50
9 0 0 -64 -64 298 50.03
10 6 50 -10 -60 293 50.04
11 13 100 41 -59 295 49.99
12 19 150 94 -56 294 49.96
1650
13 25 200 145 -55 294 50.03
14 37 300 246 -54 297 50.03
15 50 400 347 -53 298 50.01
16 63 500 449 -51 300 50.01

Dari tabel diatas dapat dilihat pengaruh MSC active(%) terhadap keluaran
DFIG pada saat operasi sub sinkron dan super sinkron. Semakin besarnya MSC active
(%) maka akan mempengaruhi :
a. Nilai PDFIG yang dihasilkan semakin besar dengan nilai yang sama besarnya baik
pada operasi sub sinkron maupun super sinkron.
b. Nilai PGrid yang dihasilkan semakin meningkat baik pada saat operasi sub sinkron
maupun super sinkron dengan nilai daya jaringan pada operasi super sinkron lebih besar
dibandingkan sub sinkron.
c. Nilai PLSC pada saat opeasi sub sinkron semakin berkurang karena generator
membutuhkan daya reaktif pada LSC untuk proses eksitasi, sedangkan pada saat operasi
super sinkron nilai PLSC semakin bertambah. Pada saat operasi super sinkron kecepatan

57
prime mover yang diatur tinggi yaitu sebesar 1650 rpm membantu proses eksitasi
sehingga daya LSC yang diserap kecil. Tanda minus menunjukkan LSC bekerja pada
faktor daya lagging (DFIG menyerap daya reaktif).
d. Nilai tegangan dan frekuensi stator yang dihasilkan stabil baik pada DFIG operasi
sub sinkron maupun super sikron.
e. Daya aktif jaringan merupakan pengurangan dari Daya aktif DFIG dan Daya aktif
LSC (PGrid = PDFIG + PLSC).

58
4.3.Pengujian Kontrol Daya Reaktif
Mengacu pada generator eksitasi daya reaktif bisa di tarik melalui jaringan atau
menyuplai ke jaringan. Menaikkan nilai eksitasi melalui MSC diatas nilai eksitasi rata-
rata akan menyebabkan generator menyuplai daya reaktif ke jaringan, kemudian
generator akan bertindak sebagai kapasitor. Mengurangi nilai eksitasi dibawah nilai
eksitasi rata-rata menyebabkan generator menggunakan daya reaktif pada jaringan
kemudian generator bertindak sebagai beban.
Pengujian kontrol daya reaktif ini dilakukan dengan cara meneliti respon arus
rotor untuk daya reaktif (MSC reactive) yang bervariasi dengan cara mengubah
kecepatan putar rotor.

59
Tabel 4.8 data pengukuran daya aktif dan daya reaktif jaringan, daya aktif dan
daya reaktif LSC, arus MSC, frekuensi dan tegangan stator terhadap kenaikan nilai
MSC reactive power (%) dengan prime mover tetap 1250 rpm.

MSC QDFIG QGrid QLSC IMSC PGRID PLSC Vs


No fs (Hz)
reactive (%) (VAr) (VAr) (VAr) (A) (W) (W) (V)

1 -38 -300 -300 0 3.97 -120 -124 49.94 290

2 -25 -200 -200 0 3.72 -103 -104 49.94 300

3 -12 -100 -100 0 2.73 -87 -87 49.96 291

4 0 0 0 0 2.34 -72 -73 49.98 290

5 12 100 100 0 1.85 -61 -61 49.97 289

6 25 200 200 0 1.14 -51 -51 50.02 300

7 37 300 300 0 0.6 -44 -42 49.99 294

Tabel 4.9 data pengukuran daya aktif dan daya reaktif jaringan, daya aktif dan
daya reaktif LSC, arus MSC, frekuensi dan tegangan stator terhadap kenaikan nilai
MSC reactive power (%) dengan prime mover tetap 1400 rpm.
MSC
QDFIG QGrid QLSC IMSC PGRID PLSC fs Vs
No reactive
(VAr) (VAr) (VAr) (A) (W) (W) (Hz) (V)
(%)
1 -38 -300 -300 0 4.52 -120 -120 49.96 290
2 -25 -200 -200 0 3.6 -96 -101 49.98 293
3 -12 -100 -100 0 3.35 -82 -84 50.01 300
4 0 0 0 0 2.47 -67 -69 49.96 293
5 12 100 100 0 1.8 -49 -56 49.98 292
6 25 200 200 0 1.19 -40 -46 50.03 291
7 37 300 300 0 0.65 -36 -38 50.01 300

60
Tabel 4.10 data pengukuran daya aktif dan daya reaktif jaringan, daya aktif dan
daya reaktif LSC, arus MSC, frekuensi dan tegangan stator terhadap kenaikan nilai
MSC reactive power (%) dengan prime mover tetap 1600 rpm.
MSC
QDFIG QGrid QLSC IMSC PGRID PLSC fs Vs
No reactive
(VAr) (VAr) (VAr) (A) (W) (W) (Hz) (V)
(%)
1 -38 -300 -300 0 4.03 -109 -115 50.01 300
2 -25 -200 -200 0 3.76 -100 -99 49.98 294
3 -12 -100 -100 0 2.4 -77 -81 50.02 300
4 0 0 0 0 2.17 -64 -66 50.01 300
5 12 100 100 0 1.59 -52 -54 50.02 300
6 25 200 200 0 1.33 -45 -44 50.03 293
7 37 300 300 0 0.61 -32 -33 50.02 300

Tabel 4.11 data pengukuran daya aktif dan daya reaktif jaringan, daya aktif dan
daya reaktif LSC, arus MSC, frekuensi dan tegangan stator terhadap kenaikan nilai
MSC reactive power (%) dengan prime mover tetap 1750 rpm.
MSC
QDFIG QGrid QLSC IMSC PGRID PLSC fs Vs
No reactive
(VAr) (VAr) (VAr) (A) (W) (W) (Hz) (V)
(%)
1 -38 -300 -300 0 3.93 -121 -118 50.04 285
2 -25 -200 -200 0 3.7 -99 -97 50.00 290
3 -12 -100 -100 0 2.77 -77 -80 50.03 289
4 0 0 0 0 2.52 -65 -66 50.04 300
5 12 100 100 0 1.63 -52 -54 50.02 300
6 25 200 200 0 1.26 -44 -44 50.01 300
7 37 300 300 0 0.61 -36 -35 50.00 291

Keterangan :
MSC reactive = Machine Side Converter daya reaktif (%)
QDFIG = Daya reaktif DFIG (VAr)
QGrid = Daya reaktif jaringan (VAr)
IMSC = Arus rotor MSC (A)
61
PGrid = Daya aktif (W)
Vs = Tegangan stator (V)
fs = frekuensi stator (Hz)

Berdasarkan tabel 4.8, 4.9, 4.10, 4.11 dapat dilihat bahwa nilai daya daya aktif
dan daya reaktif jaringan, daya aktif dan daya reaktif LSC, arus MSC, frekuensi dan
tegangan stator memiliki nilai yang hampir sama terhadap kenaikan nilai prime mover.
Hal ini menunjukkan bahwa pada saat pengujian kontrol daya reaktif output pada
generator tidak dipengaruhi nilainya dengan perubahan prime mover melainkan hanya
dipengaruhi oleh arus eksitasi. Menaikkan nilai eksitasi melalui MSC reactive diatas
nilai eksitasi rata-rata akan menyebabkan generator menyuplai daya reaktif ke jaringan
menyebabkan generator bertindak sebagai kapasitor. Sedangkan mengurangi nilai
eksitasi dibawah nilai eksitasi rata-rata akan menyebabkan generator menggunakan
daya reaktif pada jaringan dan generator bertindak sebagai beban.
Meningkatnya nilai MSC reactive (%) sesuai dengan perubahan daya reaktif
DFIG (QDFIG) berbanding lurus dengan daya reaktif jaringan (QGrid). Nilai daya reaktif
jaringan memiliki nilai yang sama dengan daya reaktif DFIG. Hal ini sesuai dengan
persamaan rumus jaringan pada DFIG QGrid = QDFIG – QLSC dengan nilai QLSC konstan
yaitu 0. Pada saat DFIG beroperasi dibawah nilai eksitasi rata-rata/dibawah nilai MSC
reactive=0 maka DFIG memiliki daya reaktif yang bertanda minus menunjukkan bahwa
DFIG menarik daya reaktif melalui jaringan. Namun pada saat DFIG beroperasi diatas
nilai eksitasi rata-rata/di atas MSC reactive=0 maka DFIG memiliki nilai daya reaktif
yang bertanda positif menunjukkan bahwa DFIG menyuplai daya reaktif ke jaringan.
Nilai MSC reactive berbanding lurus dengan arus rotor MSC (IMSC) sedangkan
berbanding terbalik dengan nilai daya aktif jaringan (PGrid) dan daya aktif LSC (PLSC).
Nilai daya aktif jaringan (PGrid) memiliki nilai yang sama dengan daya aktif LSC
(PLSC)..Nilai frekuensi stator (fs) dan tegangan stator (Vs) memiliki nilai yang konstan
dan stabil yaitu frekuensi 50 Hz dan tegangan stator 300 V.

62
400

300

200

100 1250 rpm


Qgrid (VaR)
0 1400 rpm
-50 0 50 1600 rpm
-100
1750 rpm
-200

-300

-400
MSC reactive (%)

Gambar 4.25 grafik pengaruh perubahan MSC reactive (%) terhadap QGrid (VAr)
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa MSC reactive berbanding lurus dengan
nilai daya reaktif jaringan. Dengan semakin meningkatnya nilai MSC reactive maka
niai QGrid akan semakin meningkat. Dengan kecepatan putar rotor yang konstan dan
MSC reactive yang diberikan kecil/minus (arus rotor kecil) maka DFIG akan menyerap
daya reaktif pada jaringan (QDFIG dan QGrid bertada minus) dan pada saat MSC reactive
yang diberikan semakin besar/positif maka DFIG akan menghasilkan daya reaktif untuk
jaringan (QDFIG dan QGrid bertanda positif).

5
4.5
4
3.5
IMSC (A)

3
1250 rpm
2.5
2 1400 rpm
1.5
1600 rpm
1
0.5 1750 rpm
0
-50 0 50
MSC reactive (%)

Gambar 4.26 grafik pengaruh perubahan MSC reactive (%) terhadap IMSC (A)
Dari gafik diatas dapat dilihat bahwa MSC reactive dan arus rotor MSC
berbanding lurus. Semakin meningkatnya MSC reactive maka arus rotor MSC yang
mengalir akan semakin besar. Pada saat DFIG beroperasi dibawah nilai eksitasi rata-

63
rata/dibawah nilai MSC reactive=0 maka arus rotor yang mengalir dibawah 2 A dan
menghasilkan daya reaktif yang bertanda minus menunjukkan bahwa DFIG menarik
daya reaktif melalui jaringan. Namun pada saat DFIG beroperasi diatas nilai eksitasi
rata-rata maka arus rotor yang mengalir diatas 2 A dengan menghasilkan daya reaktif
yang bertanda positif menunjukkan bahwa DFIG menyuplai daya reaktif ke jaringan.

0
-50 0 50
-20

-40
1250 rpm
PGrid (W)

-60
1400 rpm
-80
1600 rpm
-100 1750 rpm
-120

-140
MSC reactive (%)

Gambar 4.27 grafik pengaruh perubahan MSC reactive (%) terhadap PGrid (W)
Dari grafik diatas menunjukkan MSC reactive berbanding terbalik dengan daya
aktif jaringan (PGrid). Semakin ditingkatkannya nilai MSC reactive maka daya aktif
jaringan yang dihasilkan semakin kecil.
0
-50 0 50
-20

-40
1250 rpm
PLSC (W)

-60
1400 rpm
-80
1600 rpm
-100 1750 rpm

-120

-140
MSC reactive (%)

Gambar 4.28 grafik pengaruh perubahan MSC reactive (%) terhadap PLSC (W)
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa nilai MSC reactive berbanding terbalik
dengan PLSC. Semakin meningkatnya MSC reactive maka PLSC yang dihasilkan akan

64
semakin kecil. DFIG menyerap daya reaktif pada LSC untuk eksitasi. DFIG menyuplai
daya reaktif ke jaringan saat IMSC => 0 dan menyerap daya reaktif LSC saat IMSC <=0.

59
57
55
fs (Hz) 53 1250 rpm
51 1400 rpm
49 1600 rpm
47 1750 rpm
45
-50 0 50
MSC reactive (%)

Gambar 4.29 grafik pengaruh perubahan MSC reactive (%) terhadap fs (Hz)
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa semakin meningkatnya nilai MSC
reactive maka akan dihasilkan nilai frekunsi stator yang stabil yaitu sebesar 50 Hz.
400
350
300
250
Vs (Hz)

1250 rpm
200
150 1400 rpm
100 1600 rpm
50 1750 rpm
0
-50 0 50
MSC reactive (%)

Gambar 4.30 grafik pengaruh perubahan MSC reactive (%) terhadap Vs (V)
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa semakin meningkatnya nilai MSC
reactive maka akan dihasilkan nilai tegangan stator yang stabil yaitu sebesar 300 V.

65